Menanam Pohon, Menanam Pahala:
Sedekah yang Terus Mengalir hingga Akhir Zaman
Kebaikan Kecil yang Menghidupkan Bumi
Pernahkah kita membayangkan bahwa sebatang pohon yang
kita tanam hari ini dapat menjadi sumber pahala yang terus mengalir, bahkan
ketika kita telah meninggalkan dunia? Sebuah pohon mungkin terlihat sederhana.
Kita hanya perlu menggali tanah, menanam bibit, menyiramnya, kemudian
merawatnya dengan penuh kesabaran. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan
manfaat yang begitu luas bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, dan
lingkungan.
Dalam Islam, kebaikan tidak selalu harus diwujudkan
melalui harta yang besar atau tindakan yang luar biasa. Kebaikan juga dapat
dimulai dari sesuatu yang sederhana, tetapi memberikan manfaat berkelanjutan
bagi sesama makhluk Allah. Salah satunya adalah menanam dan merawat pohon.
Pohon tidak pernah meminta imbalan atas manfaat yang
diberikannya. Ia tumbuh, menghijaukan lingkungan, menyerap karbon dioksida,
menghasilkan oksigen, menyediakan makanan, memberi keteduhan, serta membantu
menjaga tanah dan air. Manfaatnya dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa
membedakan agama, kedudukan, kekayaan, maupun asal-usul.
Ketika kita menanam pohon dengan niat yang baik karena
Allah, kemudian merawatnya agar memberikan manfaat bagi makhluk hidup, kegiatan
tersebut dapat menjadi bagian dari amal saleh yang bernilai sedekah. Bahkan,
ketika penanamnya telah tiada, pohon yang masih hidup dan memberikan manfaat
tetap dapat menjadi jalan kebaikan yang pahalanya diharapkan terus mengalir.
Inilah keindahan ajaran Islam. Kebaikan tidak berhenti
pada diri sendiri, tetapi dapat diwariskan kepada generasi berikutnya melalui
manfaat yang terus dirasakan.
Menanam Pohon sebagai Sedekah yang
Pahalanya Berkelanjutan
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa menanam tanaman dapat menjadi sedekah bagi orang yang
menanamnya. Dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim,
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang muslim menanam
pohon atau menanam tanaman, lalu tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia,
atau binatang, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.”
Hadis ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Sedekah
tidak hanya berupa uang yang diberikan kepada orang miskin, makanan yang
dibagikan kepada orang yang membutuhkan, atau bantuan yang disalurkan kepada
mereka yang tertimpa musibah. Menanam tanaman yang memberikan manfaat bagi
makhluk hidup pun termasuk perbuatan yang bernilai sedekah.
Perhatikan betapa luasnya cakupan
kebaikan tersebut. Seseorang menanam pohon buah di halaman rumah. Beberapa
tahun kemudian, pohon itu menghasilkan buah yang dinikmati keluarganya,
tetangganya, bahkan burung yang hinggap di dahannya. Selama buah itu memberikan
manfaat, terdapat kebaikan yang diharapkan menjadi pahala bagi orang yang
menanamnya.
Demikian pula seseorang yang menanam
pohon di sekolah, masjid, kebun, lahan pertanian, atau ruang terbuka hijau.
Ketika pohon itu tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta makhluk
hidup, usahanya tidak sekadar menghasilkan tanaman, tetapi juga menghadirkan
kesempatan untuk bersedekah.
Tentu, besarnya pahala merupakan
urusan Allah Yang Maha Mengetahui. Kita tidak dapat menetapkan jumlah pahala
untuk setiap daun, buah, atau embusan napas. Namun, hadis tersebut memberikan
harapan yang kuat bahwa kebaikan yang menghadirkan manfaat bagi makhluk Allah
memiliki nilai sedekah di sisi-Nya.
Karena itu, jangan meremehkan satu
bibit pohon yang kita tanam hari ini. Bisa jadi, dari bibit kecil itulah tumbuh
manfaat besar yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Satu: Menghasilkan Oksigen,
Menghadirkan Manfaat bagi Kehidupan
Salah satu manfaat penting pohon
adalah membantu menjaga kualitas udara dan keseimbangan lingkungan. Melalui
proses fotosintesis, tumbuhan menyerap karbon dioksida dan menggunakan energi
cahaya matahari untuk menghasilkan senyawa organik. Dalam proses tersebut,
oksigen juga dilepaskan ke atmosfer.
Oksigen dibutuhkan oleh manusia dan
sebagian besar hewan untuk menjalankan proses pernapasan. Dengan demikian,
pepohonan menjadi bagian penting dari sistem kehidupan yang menopang
keberlangsungan makhluk hidup di bumi.
Bayangkan sebuah pohon rindang yang
tumbuh selama puluhan tahun. Setiap hari, pohon itu menjalankan fungsi
ekologisnya. Daunnya menangkap cahaya matahari, batang dan akarnya menopang
pertumbuhan, sementara tajuknya membantu membentuk lingkungan yang lebih sejuk.
Manfaatnya tidak hanya dirasakan
oleh orang yang menanamnya. Anak-anak yang bermain di bawah naungannya, orang
yang berjalan melewatinya, serta berbagai makhluk hidup yang memanfaatkan
lingkungan di sekitarnya turut memperoleh manfaat.
Apabila pohon itu ditanam dengan
niat beribadah kepada Allah dan memberikan kemaslahatan bagi kehidupan, semoga
setiap manfaat yang dihasilkannya menjadi bagian dari amal kebaikan penanamnya.
Namun, kita juga perlu memahami
bahwa oksigen di atmosfer berasal dari berbagai sumber, termasuk tumbuhan darat
dan organisme fotosintetik di perairan. Karena itu, tidak tepat menghitung
setiap embusan napas sebagai pahala dalam jumlah tertentu. Yang dapat kita
pegang adalah prinsipnya: menanam dan memelihara pohon yang bermanfaat
merupakan ikhtiar nyata untuk menjaga kehidupan sekaligus membuka jalan bagi
sedekah yang berkelanjutan.
Dua: Memberi Makan Burung, Lebah,
Kupu-Kupu, dan Makhluk Lain
Pohon bukan hanya menjadi penopang
kehidupan manusia. Ia juga menjadi sumber makanan bagi banyak
makhluk hidup.
Bunga menghasilkan nektar yang dimanfaatkan lebah dan
berbagai serangga penyerbuk. Serangga tersebut berperan membantu penyerbukan
tanaman, sehingga mendukung terbentuknya buah dan biji pada banyak jenis
tumbuhan.
Buah-buahan menjadi sumber makanan bagi manusia, burung,
kelelawar pemakan buah, tupai, dan berbagai satwa lainnya. Sementara itu, daun,
ranting, kulit batang, dan bagian pohon lainnya dapat mendukung kehidupan
organisme yang berbeda-beda.
Satu pohon yang tampak biasa bagi manusia dapat menjadi
pusat kehidupan bagi berbagai makhluk. Di antara rantingnya, burung membangun
sarang. Pada bunganya, lebah mencari nektar. Di sekitar batangnya, serangga dan
organisme lain menjalankan perannya dalam ekosistem.
Di sinilah kita dapat merenungkan
keluasan rahmat Allah. Kehidupan tidak dibangun hanya untuk kepentingan satu
spesies. Setiap makhluk memiliki peran dalam tatanan alam yang saling
terhubung.
Ketika seorang muslim menanam pohon
buah dan membiarkan sebagian buahnya dinikmati burung atau satwa lain, ia
sedang membuka jalan bagi kebaikan yang disebutkan dalam hadis Rasulullah ﷺ.
Tidak harus menunggu memiliki kebun
yang luas. Pohon jambu, mangga, rambutan, atau tanaman berbunga yang sesuai
dengan kondisi lingkungan dapat menjadi pilihan. Jika lahan terbatas, kita
dapat menanam dalam pot atau ikut merawat tanaman di lingkungan bersama.
Yang terpenting bukanlah seberapa
besar pohon yang kita tanam, melainkan kesungguhan dalam menghadirkan manfaat
dan menjaganya agar tetap hidup.
Tiga: Memberikan Keteduhan dan
Kenyamanan bagi Sesama
Pernahkah kita merasa lega ketika
menemukan tempat berteduh di bawah pohon setelah berjalan cukup lama di bawah
terik matahari? Barangkali kita hanya singgah beberapa menit, lalu melanjutkan
perjalanan. Namun, keteduhan itu memberikan kenyamanan yang nyata.
Daun dan ranting membentuk tajuk yang dapat mengurangi
paparan langsung sinar matahari. Pepohonan juga membantu menurunkan suhu lingkungan
melalui pemberian naungan dan proses evapotranspirasi, bergantung pada jenis
pohon serta kondisi setempat.
Manfaat tersebut semakin terasa di
kawasan perkotaan yang dipenuhi bangunan, jalan beraspal, dan permukaan yang
menyerap panas. Pepohonan yang ditanam dan dipelihara dengan tepat dapat
membantu mengurangi dampak panas perkotaan serta menciptakan ruang yang lebih
nyaman bagi masyarakat.
Selain memberikan keteduhan bagi
manusia, pohon juga menjadi habitat bagi burung, serangga, dan satwa lainnya.
Tajuknya dapat menjadi tempat berlindung, sedangkan batang dan cabangnya dapat
menyediakan ruang untuk bersarang bagi jenis satwa tertentu.
Bukankah indah jika pohon yang kita
tanam menjadi tempat berteduh bagi seseorang yang tidak kita kenal, atau
menjadi tempat berlindung bagi seekor burung yang tidak pernah kita perhatikan?
Kita mungkin tidak mengetahui siapa
saja yang kelak memperoleh manfaatnya. Kita pun mungkin tidak pernah mendengar
ucapan terima kasih dari mereka. Akan tetapi, kebaikan tidak selalu membutuhkan
pengakuan manusia.
Ketika kita menanam pohon dengan
niat tulus untuk memberikan manfaat, kita sedang belajar berbuat baik tanpa
menuntut balasan. Semoga Allah menerima usaha tersebut sebagai amal saleh dan
melimpahkan keberkahan kepadanya.
Empat: Menjaga Tanah dan Air demi
Kehidupan Generasi Mendatang
Manfaat pohon tidak berhenti pada
udara, makanan, dan keteduhan. Akar pohon juga berperan penting dalam menjaga
kestabilan tanah dan membantu mengatur pergerakan air di lingkungan.
Akar dapat mengikat tanah dan
membantu mengurangi erosi. Tajuk serta serasah daun dapat mengurangi energi
tumbukan air hujan pada permukaan tanah, sementara struktur tanah yang baik
membantu air meresap ke dalam tanah. Pada kondisi tertentu, pepohonan juga
mendukung pengisian kembali cadangan air tanah.
Peran tersebut sangat penting,
terutama di wilayah yang menghadapi erosi, degradasi lahan, atau berkurangnya
tutupan vegetasi. Pada lereng yang rentan, vegetasi yang sesuai dapat membantu
menjaga kestabilan tanah. Meskipun demikian, pencegahan longsor tetap
memerlukan penilaian kondisi geologi, kemiringan lereng, drainase, dan faktor
lainnya. Menanam pohon saja tidak menjamin semua risiko bencana dapat
dihilangkan.
Begitu pula dengan ketersediaan air. Pepohonan dapat
membantu memperbaiki fungsi hidrologis suatu kawasan, tetapi dampaknya
bergantung pada jenis pohon, kondisi tanah, iklim, dan pengelolaan lahan. Karena itu, pemilihan spesies yang
sesuai dengan lingkungan setempat menjadi sangat penting.
Dari sudut pandang keislaman, upaya
menjaga tanah, air, dan lingkungan merupakan wujud tanggung jawab manusia
sebagai khalifah di bumi. Allah memberikan bumi beserta berbagai sumber dayanya
bukan untuk dirusak, melainkan untuk dikelola secara bijaksana.
Dalam Surah Al-A'raf ayat 56, Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah
(diciptakan) dengan baik.”
Ayat ini mengingatkan kita agar
tidak melakukan tindakan yang merusak keseimbangan kehidupan. Menanam dan
merawat pohon yang sesuai dengan kondisi lingkungan merupakan salah satu
ikhtiar sederhana untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.
Ketika kita menjaga tanah agar tidak
mudah tererosi, membantu mempertahankan fungsi daerah resapan, dan memelihara
vegetasi yang bermanfaat, kita turut berusaha mewariskan lingkungan yang lebih
baik kepada anak cucu.
Kita mungkin tidak sempat menikmati
seluruh manfaat pohon yang kita tanam. Namun, generasi setelah kita bisa jadi
akan merasakan keteduhan, memperoleh buah, menikmati lingkungan yang lebih
hijau, dan hidup di kawasan yang fungsi ekologisnya lebih terjaga.
Itulah salah satu bentuk kebaikan
yang melampaui usia manusia.
Lima: Menanam Pohon sebagai Wujud
Syukur dan Amanah
Allah menciptakan manusia bukan
tanpa tujuan. Kita diberi akal, kemampuan, dan kesempatan untuk berbuat baik.
Semua itu merupakan amanah yang harus dipergunakan secara bertanggung jawab.
Menanam pohon dapat menjadi salah
satu bentuk rasa syukur atas nikmat kehidupan. Kita tidak sekadar menikmati
buah yang tersedia di pasar atau berteduh di bawah pohon milik orang lain,
tetapi juga ikut menanam dan merawat sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.
Syukur bukan hanya ucapan alhamdulillah.
Syukur juga tercermin dalam tindakan yang menggunakan nikmat Allah untuk
kebaikan.
Jika memiliki halaman rumah, kita
dapat memanfaatkannya untuk menanam pohon yang sesuai dengan luas lahan. Jika
tinggal di lingkungan padat, kita dapat memilih tanaman dalam pot atau
berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan. Jika memiliki kebun atau lahan yang
lebih luas, kita dapat merencanakan penanaman yang mempertimbangkan jenis
tanah, kebutuhan air, keanekaragaman hayati, dan manfaat bagi masyarakat.
Kita juga dapat mendukung penanaman
pohon melalui sedekah bibit, kegiatan gotong royong, penghijauan sekolah, atau
perawatan pohon di sekitar masjid dan fasilitas umum.
Namun, jangan sampai semangat
menanam hanya berhenti pada kegiatan seremonial. Bibit yang ditanam tanpa
perawatan dapat layu dan mati. Karena itu, keberhasilan penghijauan tidak cukup
diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari jumlah pohon yang
bertahan hidup dan memberikan manfaat.
Pilihlah jenis pohon yang sesuai
dengan lingkungan. Hindari menanam pohon besar di lokasi yang dapat merusak
fondasi bangunan, mengganggu jaringan utilitas, atau membahayakan pengguna
jalan. Perhatikan pula kebutuhan air dan pemeliharaannya.
Dengan cara itu, niat baik dapat
diwujudkan menjadi manfaat yang benar-benar dirasakan.
Enam: Mengapa Menanam Pohon Dapat
Menjadi Amal Jariyah?
Amal jariyah dikenal sebagai amal
yang manfaat atau pahalanya terus berlanjut. Dalam hadis sahih riwayat Muslim,
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia,
amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat,
dan anak saleh yang mendoakannya.
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa
manusia dapat meninggalkan warisan kebaikan yang tetap bermanfaat setelah
kematiannya.
Dalam konteks menanam pohon, ada hal
yang perlu dipahami secara cermat. Hadis tentang tanaman yang dimakan manusia,
burung, atau hewan secara tegas menyebutnya sebagai sedekah. Adapun apakah
setiap penanaman pohon secara otomatis tergolong sedekah jariyah dalam
pengertian khusus, hal itu bergantung pada sifat manfaat, keberlanjutan, niat,
dan penjelasan para ulama.
Meskipun demikian, pohon yang terus
hidup dan memberikan manfaat dalam waktu panjang dapat menjadi sarana amal yang
berkelanjutan. Selama manfaatnya masih dirasakan, seorang muslim boleh berharap
kepada kemurahan Allah agar kebaikan tersebut tetap bernilai pahala.
Bayangkan seseorang menanam pohon
buah di halaman sekolah. Bertahun-tahun kemudian, murid-murid menikmati
buahnya, burung memakan sebagian hasilnya, dan orang-orang berteduh di bawah
tajuknya. Bahkan setelah penanamnya meninggal dunia, pohon tersebut masih
memberikan manfaat.
Atau seseorang yang membantu
menghijaukan lahan di sekitar sumber air. Vegetasi yang tumbuh dapat mendukung
kehidupan berbagai organisme dan membantu menjaga fungsi lingkungan. Manfaatnya
mungkin dirasakan oleh orang-orang yang tidak pernah mengenal nama penanamnya.
Kita tidak mengetahui secara pasti
bagaimana Allah mencatat setiap amal dan berapa besar ganjarannya. Namun, kita
memiliki alasan untuk berharap kepada rahmat-Nya, karena Allah Maha Mengetahui
niat, usaha, dan manfaat dari setiap kebaikan yang dilakukan hamba-Nya.
Oleh sebab itu, jangan menunda
kebaikan hanya karena merasa belum mampu melakukan sesuatu yang besar. Bisa
jadi, satu pohon yang kita tanam dengan ikhlas dan kita rawat dengan
sungguh-sungguh menjadi bagian penting dari warisan kebaikan kita.
Tujuh: Menanam Pohon dengan Ikhlas,
Bukan Sekadar Mengikuti Tren
Dalam setiap amal, niat memiliki
kedudukan yang sangat penting. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sesungguhnya
amal-amal itu bergantung pada niatnya. Hadis ini
diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
Karena itu, menanam pohon hendaknya tidak hanya dilakukan
untuk memperoleh pujian, mendapatkan pengakuan, atau memperindah citra diri.
Kita boleh saja memublikasikan kegiatan penghijauan untuk mengajak orang lain
berbuat baik, tetapi jangan sampai keinginan untuk dipuji mengalahkan ketulusan
dalam beramal.
Tanamlah pohon dengan niat bersyukur kepada Allah,
memberikan manfaat bagi makhluk-Nya, menjaga lingkungan, dan mewariskan
kehidupan yang lebih baik. Rawatlah pohon tersebut meskipun tidak ada orang
yang melihat. Sirami ketika membutuhkan air, lindungi ketika masih muda, dan
pastikan pertumbuhannya tidak membahayakan lingkungan sekitar.
Jika pohon itu menghasilkan buah, kita dapat
membagikannya kepada tetangga, kerabat, orang yang membutuhkan, atau membiarkan
sebagian buahnya menjadi makanan satwa. Jika pohon itu tumbuh besar, biarkan manfaatnya dirasakan
selama tidak menimbulkan bahaya.
Kita juga perlu menjaga pohon yang
telah ditanam orang lain. Tidak semua kebaikan harus dimulai dari menanam bibit
baru. Menyiram tanaman yang kekeringan, melindungi pohon dari kerusakan, dan
merawat ruang hijau yang sudah ada merupakan tindakan yang patut dihargai.
Islam mengajarkan kita untuk
memperhatikan manfaat nyata dari suatu perbuatan. Oleh karena itu, penghijauan
yang baik harus disertai pengetahuan, perencanaan, pemeliharaan, dan kepedulian
terhadap seluruh makhluk hidup.
Delapan: Mulailah dari Rumah,
Sekolah, Masjid, dan Lingkungan Sekitar
Ada kalanya kita merasa bahwa
persoalan lingkungan terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang.
Perubahan iklim, pencemaran, erosi, berkurangnya ruang hijau, dan kerusakan
habitat tampak seperti persoalan yang membutuhkan biaya serta kebijakan besar.
Memang, berbagai persoalan tersebut
memerlukan kerja bersama. Namun, kerja bersama selalu dapat dimulai dari
langkah sederhana.
Kita dapat memulai dengan menanam
satu pohon di rumah, apabila lahannya memungkinkan. Kita dapat mengajak
keluarga merawat tanaman bersama. Kita dapat mengusulkan penghijauan di
sekolah, menghidupkan kembali kebun masjid, atau bergotong royong menanam pohon
di tempat yang sesuai.
Bagi orang tua, kegiatan menanam
pohon dapat menjadi pendidikan karakter bagi anak-anak. Mereka belajar bersabar
karena pohon tidak tumbuh besar dalam semalam. Mereka belajar bertanggung jawab
karena tanaman harus dirawat. Mereka juga belajar menyayangi makhluk hidup dan
memahami bahwa manusia tidak hidup sendirian di bumi.
Bagi pengurus masjid, kegiatan
penghijauan dapat menjadi sarana dakwah yang nyata. Masjid tidak hanya menjadi
tempat beribadah, tetapi juga pusat pendidikan, kepedulian sosial, dan
pemeliharaan lingkungan.
Bagi sekolah dan lembaga pendidikan,
penanaman pohon dapat dipadukan dengan pembelajaran sains, agama, dan tanggung
jawab sosial. Anak-anak tidak hanya membaca tentang pelestarian lingkungan,
tetapi juga mengalami sendiri proses menanam, mengamati pertumbuhan, dan
menjaga kehidupan.
Sementara itu, bagi masyarakat,
kegiatan penghijauan dapat memperkuat gotong royong. Setiap orang dapat
berkontribusi sesuai kemampuannya, baik melalui tenaga, bibit, penyediaan air,
maupun perawatan rutin.
Jangan menunggu memiliki lahan luas
atau dana besar. Mulailah dari sesuatu yang dapat dilakukan hari ini. Satu
pohon yang benar-benar tumbuh dan terawat jauh lebih bermanfaat daripada banyak
bibit yang ditanam tanpa rencana dan kemudian mati.
Tinggalkan Pohon, Tinggalkan
Kebaikan
Pada akhirnya, kehidupan manusia di
dunia sangat terbatas. Jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, dan
tubuh akan kembali menjadi tanah. Namun, selama hidup, kita memiliki kesempatan
untuk menanam kebaikan yang manfaatnya dapat melampaui usia kita sendiri.
Menanam pohon mengajarkan bahwa
kebaikan tidak harus selalu terlihat besar pada awalnya. Sebuah bibit kecil
memerlukan waktu, kesabaran, air, dan perhatian. Perlahan-lahan, ia tumbuh
menjadi pohon yang memberi buah, keteduhan, habitat, serta manfaat ekologis
bagi lingkungan.
Demikian pula amal saleh. Kita tidak
selalu mengetahui kapan manfaatnya akan terasa atau seberapa luas pengaruhnya.
Tugas kita adalah menjaga niat, melakukan kebaikan dengan benar, dan tidak
meremehkan kesempatan untuk memberikan manfaat.
Marilah kita menjadikan kegiatan
menanam dan merawat pohon sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada
Allah. Tanamlah dengan ikhlas, rawatlah dengan sabar, dan biarkan manfaatnya
dinikmati oleh manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Semoga pohon yang kita tanam menjadi
saksi atas kepedulian kita terhadap kehidupan. Semoga buahnya menjadi sedekah,
keteduhannya menjadi manfaat, dan keberadaannya membantu menjaga bumi yang
Allah amanahkan kepada kita.
Jangan hanya meninggalkan harta
untuk generasi berikutnya. Tinggalkan pula lingkungan yang lebih hijau, udara
yang lebih baik, tanah yang terjaga, dan kebiasaan berbuat baik yang dapat
diteruskan oleh anak cucu kita.
Sebab, terkadang, salah satu warisan
terbaik yang dapat kita tinggalkan bukanlah sesuatu yang kita bawa ketika
meninggal dunia, melainkan sesuatu yang tetap memberikan manfaat setelah kita
tiada.
Mari menanam pohon hari ini. Semoga
dapat menghijaukan bumi, menumbuhkan kepedulian, menebarkan manfaat, dan
menjemput rida Allah. Aamiin ya Rabbal’alamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
#MenanamPohon
#SedekahJariyah
#PahalaMengalir
#IslamPeduliLingkungan
#AmalSaleh

No comments:
Post a Comment