Penyakit Kuru:
Perspektif Epidemiologi, Biomedis, dan Sosio-Kultural
1. Pendahuluan
Penyakit kuru merupakan salah satu
penyakit prion yang paling terkenal dalam sejarah kedokteran dan antropologi
medis. Penyakit ini pernah menjadi endemik di kalangan suku Fore di Papua Nugini pada
pertengahan abad ke-20 dan menjadi perhatian dunia internasional karena
mekanisme penularannya yang unik, yakni melalui kanibalisme ritual dalam upacara pemakaman. Penelitian
tentang kuru memberikan kontribusi besar dalam memahami prion sebagai agen
infeksi non-konvensional yang tidak memiliki DNA atau RNA, tetapi mampu
menyebabkan kerusakan saraf progresif yang fatal (Gajdusek, 1977; Collinge,
2008).
Kuru kemudian menjadi model penting
dalam memahami penyakit prion lain seperti Creutzfeldt–Jakob Disease (CJD), Variant CJD (vCJD), Gerstmann–Sträussler–Scheinker
syndrome (GSS), dan Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE). Oleh karena itu, kajian
terhadap kuru tidak hanya bersifat historis, tetapi juga relevan dalam konteks
kesehatan masyarakat modern dan One Health.
2. Sejarah Epidemiologi Kuru
2.1 Awal Kejadian dan Penyebaran
Kejadian kuru pertama kali
terdokumentasi pada awal abad ke-20, tetapi mencapai puncaknya pada 1940–1950-an. Dalam kurun waktu
tersebut, penyakit ini menyebabkan tingkat kematian yang luar biasa tinggi,
terutama di desa-desa suku Fore. Beberapa laporan lapangan menyebutkan bahwa
dalam satu generasi, hampir seluruh perempuan dewasa di beberapa komunitas
meninggal akibat kuru (Zigas & Gajdusek, 1959).
2.2 Penurunan Kasus
Penurunan kasus terjadi setelah otoritas Australia secara resmi melarang
praktik kanibalisme pada akhir 1950-an. Karena prion ditularkan melalui
konsumsi jaringan saraf manusia, penghentian ritual tersebut menghentikan jalur
transmisi secara efektif. Namun, kasus kuru tetap dilaporkan hingga tahun
1990-an karena prion memiliki masa inkubasi sangat panjang (hingga 50 tahun atau lebih) (Collinge, 2008).
3. Etiologi
dan Patogenesis
3.1 Prion
sebagai Agen Penyakit
Kuru disebabkan oleh prion, yaitu protein prion abnormal PrPSc yang mengalami misfolding dan memicu perubahan pada protein prion normal PrpC. Prion menumpuk dalam sistem saraf pusat dan menimbulkan degenerasi pada jaringan otak dengan karakteristik spongiform encephalopathy (Prusiner, 1998).
Keunikan prion antara lain:
- tidak memiliki
materi genetik,
- resisten terhadap
panas, radiasi, dan disinfektan,
- replikasi melalui konversi protein, bukan mekanisme
biologis klasik.
3.2 Jalur Penularan
Penularan kuru erat kaitannya dengan
kanibalisme ritual, khususnya konsumsi
otak kerabat yang meninggal. Perempuan dan anak-anak lebih sering terinfeksi
karena merekalah yang mempersiapkan dan mengonsumsi jaringan otak dalam ritual
pemakaman (Alodokter, 2023). Prion kemudian masuk melalui mukosa oral, limfoid,
dan akhirnya bermigrasi ke sistem saraf pusat.
4. Gambaran
Klinis
4.1 Tahap
Awal
- gangguan koordinasi,
- ataksia berjalan,
- tremor ringan,
- nyeri kepala dan
sendi.
4.2 Tahap
Ataksia
- tidak mampu
berjalan,
- tremor hebat dan
gerakan koreiform,
- perubahan emosional
seperti euforia atau depresi,
- gangguan bicara
(disartria).
4.3 Tahap
Terminal
- imobilisasi total,
- disfagia dan kehilangan kemampuan bicara,
- demensia,
- malnutrisi,
- kematian dalam 6–12
bulan setelah onset.
Kata “kuru” dalam bahasa Fore berarti menggigil karena takut, mencerminkan gejala tremor dan kejang otot yang menonjol.
5. Implikasi Ilmiah dan Kontribusi terhadap Ilmu
Pengetahuan
Penelitian kuru, terutama oleh D. Carleton Gajdusek, yang kemudian meraih Hadiah Nobel 1976, membuktikan bahwa agen
infeksi dapat berupa protein
abnormal, bukan hanya virus atau bakteri. Temuan ini menjadi
fondasi bagi konsep “protein misfolding diseases” yang kini diketahui berperan pada
Alzheimer, Parkinson, dan Huntington’s disease.
Penelitian kuru juga membuka wawasan baru dalam:
- epidemiologi
berbasis perilaku budaya,
- hubungan antropologi
dan penyakit menular,
- dinamika penularan penyakit dengan masa inkubasi
panjang.
6.
Pencegahan
6.1
Penghapusan Praktik Kanibalisme
Ini merupakan langkah paling efektif dan menjadi bukti bahwa pendekatan
berbasis budaya dapat menghentikan epidemi pada tingkat populasi.
6.2 Pengawasan Produk Hewani
Pencegahan penularan penyakit prion
pada hewan dan manusia dilakukan melalui:
- pelarangan pakan
ternak berbasis jaringan ruminansia,
- pengawasan ketat
rumah potong hewan,
- kontrol ketat produk
hewani impor.
6.3
Peningkatan Biosekuriti Laboratorium
Laboratorium yang menangani jaringan otak harus mengikuti protokol
inaktivasi prion, termasuk sterilisasi suhu tinggi dan denaturasi kimia khusus.
6.4 Edukasi
Budaya dan Kesehatan
Edukasi dilakukan dengan pendekatan antropologis untuk menghormati nilai
budaya lokal tanpa mengabaikan keselamatan kesehatan masyarakat.
7. Pengobatan
Hingga saat ini tidak ada terapi yang dapat menghentikan
atau membalikkan efek prion. Seluruh
penyakit prion bersifat progresif dan fatal. Penanganan hanya bersifat
suportif, meliputi:
- perawatan nutrisi,
- bantuan mobilisasi,
- pencegahan infeksi
sekunder,
- terapi paliatif,
- pendampingan
psikososial keluarga.
Keterbatasan terapi disebabkan oleh:
1.
prion
sangat resisten,
2.
protein
abnormal sulit ditargetkan oleh obat,
3.
kerusakan
otak yang terjadi bersifat permanen,
4.
hambatan penetrasi obat ke sistem saraf pusat.
8.
Relevansi dan Rekomendasi bagi Indonesia
Fenomena penyakit kuru memberikan
pelajaran penting bagi kebijakan kesehatan nasional dan One Health.
8.1
Memperkuat Surveilans Penyakit Prion
Indonesia perlu membangun sistem pelaporan untuk:
- CJD,
- penyakit prion hewan
seperti BSE,
- gangguan neurologis
progresif yang tidak dikenal.
8.2 Penguatan Kebijakan Keamanan Pangan Hewan
Pemerintah perlu memastikan:
- tidak ada pakan ternak berbahan limbah tulang/otak
ruminansia,
- pemantauan ketat
impor hewan dan produknya,
- peningkatan kapasitas uji laboratorium veteriner.
8.3
Pengembangan Riset Nasional tentang Prion
Perlu mendorong:
- penelitian molekuler
prion,
- studi etnoantropologi terkait kebiasaan berisiko,
- integrasi prion dalam kurikulum kedokteran,
kedokteran hewan, dan kesehatan masyarakat.
8.4
Memperkuat Pendekatan One Health
Koordinasi lintas sektor antara Kemenkes,
Kementan, KLHK, BRIN, dan pemerintah daerah sangat diperlukan karena penyakit prion berada pada
persimpangan manusia-hewan-lingkungan.
9. Kesimpulan
Kuru merupakan contoh klasik
hubungan kompleks antara budaya, biologi, dan kesehatan masyarakat. Penyakit
ini menegaskan bahwa perilaku budaya dapat memiliki dampak epidemiologis besar
dan bahwa agen infeksi non-konvensional seperti prion mampu menyebabkan epidemi
mematikan. Pembelajaran dari kuru harus menjadi bahan refleksi bagi pemerintah
dan masyarakat Indonesia untuk memperkuat sistem kesehatan, keamanan pangan,
dan edukasi budaya melalui pendekatan ilmiah dan One Health.
Daftar Pustaka
4. Prusiner, S. B. (1998). Prions. Proceedings
of the National Academy of Sciences.
7. Zigas, V., & Gajdusek, D. C. (1959). Kuru
in the Eastern Highlands of New Guinea.

