PENDAHULUAN
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang
ditularkan terutama melalui hewan pengerat (rodensia) dan menjadi ancaman
kesehatan masyarakat global karena dapat menyebabkan penyakit berat pada
manusia, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus
Pulmonary Syndrome (HPS) (Jonsson et al., 2010). Penyakit ini memiliki
tingkat fatalitas yang bervariasi, mulai dari kurang dari 1% pada beberapa tipe
HFRS ringan hingga lebih dari 35% pada kasus HPS tertentu di Amerika Latin dan
Amerika Utara (Vaheri et al., 2013). Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan
bahwa ribuan kasus HFRS terjadi setiap tahun, terutama di Tiongkok, Korea
Selatan, dan Rusia, sementara kasus HPS lebih dominan ditemukan di kawasan
Amerika (WHO, 2023).
Infeksi hantavirus pertama kali mendapat perhatian dunia
saat terjadi wabah pada lebih dari 3.000 tentara Amerika Serikat selama Perang
Korea tahun 1951–1954. Penyakit tersebut kemudian dikenal sebagai Korean
Hemorrhagic Fever sebelum akhirnya virus penyebabnya berhasil diisolasi pada
tahun 1976 dari tikus lapangan Apodemus agrarius di dekat Sungai
Hantaan, Korea Selatan, dan diberi nama Hantaan virus (HTNV) (Lee et al.,
1978). Sejak saat itu, berbagai galur hantavirus berhasil
diidentifikasi di berbagai belahan dunia.
Saat ini diketahui lebih dari 50 spesies hantavirus telah
ditemukan, dengan lebih dari 20 spesies diketahui patogen terhadap manusia
(Maes et al., 2019). Hantavirus tergolong sebagai virus emerging zoonoses
karena kemampuannya muncul kembali pada wilayah baru akibat perubahan ekologi,
urbanisasi, perubahan iklim, dan meningkatnya interaksi manusia dengan satwa
liar (Klempa, 2018).
Di Asia dan Eropa, hantavirus umumnya menyebabkan HFRS
yang ditandai dengan demam, trombositopenia, hipotensi, perdarahan, dan
gangguan ginjal akut. Sementara itu, di Amerika, hantavirus lebih sering
menyebabkan HPS yang ditandai edema paru berat, gagal napas akut, dan syok
kardiogenik dengan tingkat mortalitas tinggi (MacNeil et al., 2011). Gejala
awal infeksi sering menyerupai penyakit tropis lainnya seperti leptospirosis,
demam berdarah dengue, malaria, atau influenza sehingga diagnosis dini menjadi tantangan
besar, khususnya di negara berkembang (Krüger et al., 2015).
Keberadaan rodensia sebagai reservoir utama hantavirus
menjadi faktor penting dalam epidemiologi penyakit ini. Tikus rumah seperti Rattus
norvegicus dan Rattus tanezumi sering ditemukan di pemukiman, pasar,
gudang, pelabuhan, dan lahan pertanian, sehingga meningkatkan risiko paparan
manusia terhadap ekskreta hewan yang terinfeksi (Meerburg et al., 2009).
Penularan umumnya terjadi melalui inhalasi aerosol yang berasal dari urin,
saliva, atau feses rodensia yang mengandung virus.
Di Indonesia, keberadaan hantavirus mulai mendapat
perhatian setelah ditemukannya antibodi hantavirus pada manusia dan rodensia di
beberapa wilayah seperti Jakarta, Maumere, Semarang, Surabaya, dan Serang
(Ibrahim et al., 2019). Namun demikian, surveilans dan penelitian mengenai
hantavirus di Indonesia masih sangat terbatas dibandingkan zoonosis lain
seperti rabies, avian influenza, atau leptospirosis. Padahal, kondisi iklim
tropis, sanitasi lingkungan yang belum optimal, kepadatan penduduk, serta tingginya
populasi rodensia menjadikan Indonesia memiliki risiko cukup besar terhadap
kemunculan wabah hantavirus.
Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kewaspadaan
melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia,
hewan, dan lingkungan guna mengantisipasi ancaman hantavirus di masa depan.
VIRUS
DAN KARAKTER GENETIK
Hantavirus
termasuk ke dalam genus Orthohantavirus, famili Hantaviridae,
ordo Bunyavirales (ICTV, 2023). Virus ini merupakan virus RNA untai
tunggal berpolaritas negatif (negative-sense single-stranded RNA virus)
yang memiliki tiga segmen genom, yaitu segmen Large (L), Medium (M), dan Small
(S). Segmen L mengode RNA-dependent RNA polymerase, segmen M mengode
glikoprotein Gn dan Gc, sedangkan segmen S mengode protein nukleokapsid (N
protein) (Plyusnin & Sironen, 2014).
Partikel
virus berbentuk sferis dengan diameter sekitar 80–120 nm dan memiliki selubung
lipid (enveloped virus). Karena memiliki lapisan
lipid, hantavirus relatif sensitif terhadap deterjen, pelarut lemak, pemanasan,
desinfektan klorin, alkohol 70%, dan radiasi ultraviolet (CDC, 2024).
Analisis filogenetik menunjukkan bahwa hantavirus
memiliki hubungan evolusi yang erat dengan spesies reservoirnya. Sebagian besar
hantavirus berasosiasi dengan rodensia tertentu, meskipun penelitian terbaru
menunjukkan keberadaan hantavirus pada kelelawar (Chiroptera), shrew,
dan mole (Soricomorpha) sehingga memperluas pemahaman mengenai evolusi
virus ini (Guo et al., 2013).
Beberapa spesies hantavirus diketahui memiliki sifat
patogen dan mampu menyebabkan penyakit serius pada manusia dengan manifestasi
klinis yang bervariasi. Hantaan virus (HTNV) merupakan salah satu spesies
hantavirus yang paling dikenal dan menjadi penyebab utama Hemorrhagic Fever
with Renal Syndrome (HFRS) berat di Asia, khususnya di Tiongkok dan Korea.
Seoul virus (SEOV) memiliki distribusi yang lebih luas karena reservoir
utamanya, yaitu tikus Rattus norvegicus, tersebar hampir di seluruh
dunia, termasuk di kawasan perkotaan dan pelabuhan. Selain itu,
Dobrava-Belgrade virus (DOBV) banyak ditemukan di wilayah Balkan dan Eropa
Timur serta dikenal memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.
Di kawasan Eropa Utara dan Skandinavia, Puumala virus
(PUUV) menjadi penyebab utama bentuk HFRS ringan yang dikenal sebagai Nephropathia
Epidemica. Sementara itu, di kawasan Amerika Utara, Sin Nombre virus (SNV)
merupakan penyebab utama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu
bentuk infeksi hantavirus yang menyerang paru-paru dan memiliki angka kematian
tinggi. Andes virus (ANDV), yang banyak ditemukan di Amerika Selatan, juga
menyebabkan HPS berat dan menjadi perhatian khusus karena memiliki kemampuan
penularan antarmanusia secara terbatas, berbeda dengan sebagian besar
hantavirus lainnya.
Selain itu, Saaremaa virus (SAAV) yang ditemukan di
beberapa wilayah Eropa diketahui berkaitan erat dengan Dobrava-Belgrade virus
dan dapat menyebabkan manifestasi klinis HFRS dengan tingkat keparahan yang
lebih ringan. Keragaman spesies hantavirus ini menunjukkan bahwa distribusi
geografis, jenis reservoir hewan, serta karakteristik genetik virus sangat
memengaruhi pola epidemiologi dan tingkat keparahan penyakit pada manusia.
HTNV dan DOBV diketahui memiliki tingkat fatalitas HFRS
yang cukup tinggi, sedangkan PUUV umumnya menyebabkan bentuk penyakit yang
lebih ringan berupa Nephropathia epidemica (Vapalahti et al., 2003).
Seoul
virus menjadi perhatian penting karena reservoir utamanya adalah tikus domestik
Rattus norvegicus yang tersebar hampir di seluruh dunia, termasuk
kawasan perkotaan di Indonesia. Hal ini menyebabkan
risiko penyebaran virus menjadi lebih luas dibandingkan hantavirus lain yang
terbatas pada habitat liar tertentu (Lin et al., 2012).
Penelitian molekuler di Indonesia menemukan strain
hantavirus baru pada Rattus tanezumi di Serang, Banten, yang dikenal
sebagai Serang virus (SERV). Temuan ini menunjukkan adanya keragaman genetik
hantavirus di Indonesia yang masih belum sepenuhnya dipahami (Ibrahim et al.,
2019).
Selain
mutasi genetik, hantavirus juga dapat mengalami genetic reassortment
akibat pertukaran segmen genom antarstrain. Fenomena ini berpotensi
menghasilkan strain baru dengan virulensi atau kemampuan transmisi yang berbeda
(Klempa, 2018).
EPIDEMIOLOGI
DAN DISTRIBUSI GLOBAL
Hantavirus
tersebar hampir di seluruh dunia dan distribusinya sangat dipengaruhi oleh
keberadaan reservoir rodensia. Tiongkok merupakan negara dengan jumlah kasus
HFRS tertinggi di dunia, menyumbang lebih dari 90% kasus global setiap tahunnya
(Zhang et al., 2010). Di Eropa, kasus banyak ditemukan di Finlandia, Swedia,
Jerman, Belgia, dan Balkan.
Di
kawasan Amerika, wabah HPS pertama kali mendapat perhatian luas pada tahun 1993
di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, akibat infeksi Sin Nombre virus.
Sejak saat itu, berbagai kasus HPS dilaporkan di Argentina, Chile, Brasil,
Bolivia, dan Paraguay (MacNeil et al., 2011).
Andes
virus di Amerika Selatan menjadi unik karena memiliki bukti penularan
antarmanusia secara terbatas, berbeda dengan sebagian besar hantavirus lain
yang tidak menular antar manusia (Martinez-Valdebenito et al., 2014).
Perubahan
iklim global berperan besar dalam dinamika populasi rodensia. Curah hujan tinggi meningkatkan ketersediaan
makanan sehingga populasi rodensia meningkat tajam. Fenomena ini pernah diamati
pada wabah HPS di Amerika Serikat yang berkaitan dengan fenomena El Niño (Yates
et al., 2002).
Urbanisasi, deforestasi, perubahan tata guna lahan, dan
ekspansi pertanian juga meningkatkan interaksi manusia dengan reservoir
hantavirus. Kondisi ini menyebabkan hantavirus dikategorikan sebagai penyakit
zoonotik yang sangat dipengaruhi faktor ekologi dan lingkungan.
SITUASI HANTAVIRUS DI INDONESIA
Data hantavirus di Indonesia masih terbatas, tetapi
sejumlah penelitian menunjukkan keberadaan virus maupun antibodi hantavirus
pada manusia dan rodensia. Survei serologis menemukan antibodi terhadap Seoul
virus pada tikus di pelabuhan dan kawasan urban di Jakarta, Surabaya, dan
Semarang (Kosasih et al., 2011).
Penelitian di Maumere, Nusa Tenggara Timur, menemukan
adanya infeksi hantavirus pada pasien dengan gejala mirip demam berdarah dengue
dan leptospirosis. Hal ini menunjukkan kemungkinan kasus hantavirus selama ini
tidak terdiagnosis dengan baik karena gejalanya menyerupai penyakit tropis lain
(Ibrahim et al., 2019).
Di Indonesia, beberapa jenis rodensia diketahui berperan
sebagai reservoir penting hantavirus dan berpotensi menjadi sumber penularan
infeksi pada manusia. Salah satu spesies yang paling sering ditemukan membawa
hantavirus adalah Rattus norvegicus atau tikus got, yang banyak hidup di
kawasan perkotaan, pelabuhan, saluran drainase, dan lingkungan dengan sanitasi
buruk. Selain itu, Rattus tanezumi, yang dikenal sebagai tikus rumah
Asia, juga banyak ditemukan di permukiman penduduk dan telah dilaporkan membawa
berbagai strain hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia. Spesies lain yang
memiliki peranan penting adalah Bandicota indica atau tikus wirok, yang
umumnya hidup di area persawahan dan lahan pertanian sehingga meningkatkan
risiko pajanan pada petani dan masyarakat pedesaan.
Sementara itu, Mus musculus atau mencit rumah juga
diketahui dapat membawa hantavirus meskipun perannya sebagai reservoir utama
masih terus diteliti. Keberadaan berbagai jenis rodensia tersebut di lingkungan
permukiman, pertanian, maupun fasilitas penyimpanan pangan menunjukkan bahwa
interaksi manusia dengan reservoir hantavirus di Indonesia cukup tinggi,
terutama pada daerah dengan kepadatan tikus yang besar dan sanitasi lingkungan
yang kurang baik.
Tingginya kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan yang
kurang baik, sistem pengelolaan sampah yang belum optimal, serta seringnya
kejadian banjir di perkotaan meningkatkan risiko penyebaran rodensia pembawa
hantavirus.
Selain
itu, Indonesia merupakan negara megabiodiversitas dengan banyak spesies mamalia
liar yang berpotensi menjadi reservoir virus baru. Oleh karena itu, surveilans aktif pada satwa liar dan
rodensia menjadi sangat penting untuk mendeteksi potensi kemunculan strain
hantavirus baru.
PROSES
PENULARAN DAN PATOGENESIS
Berbeda
dengan sebagian besar anggota Bunyavirales lain yang ditularkan
arthropoda, hantavirus terutama ditularkan melalui inhalasi aerosol yang
berasal dari urin, saliva, atau feses rodensia terinfeksi (CDC, 2024).
Penularan
hantavirus pada manusia umumnya terjadi melalui paparan terhadap rodensia yang
terinfeksi maupun lingkungan yang telah terkontaminasi ekskreta hewan tersebut.
Mekanisme penularan yang paling sering terjadi adalah melalui inhalasi aerosol
yang mengandung partikel virus dari urin, feses, atau saliva rodensia yang
mengering dan bercampur dengan debu di udara. Kondisi ini sering ditemukan saat
membersihkan gudang, rumah kosong, area penyimpanan pangan, atau lokasi yang
banyak dihuni tikus tanpa perlindungan yang memadai. Selain melalui udara,
penularan juga dapat terjadi akibat kontak langsung dengan ekskreta rodensia
yang mengandung virus, baik melalui kulit yang terluka maupun membran mukosa.
Dalam
beberapa kasus, gigitan rodensia yang terinfeksi juga dilaporkan berpotensi
menularkan hantavirus kepada manusia, meskipun mekanisme ini relatif lebih
jarang terjadi dibandingkan inhalasi aerosol. Risiko infeksi semakin meningkat apabila makanan atau
sumber air terkontaminasi urin atau feses tikus yang membawa virus. Selain itu,
paparan lingkungan tercemar, terutama pada daerah dengan sanitasi buruk,
kepadatan rodensia tinggi, banjir, atau penumpukan sampah, turut memperbesar
kemungkinan penularan hantavirus pada manusia.
Virus memasuki tubuh melalui saluran pernapasan dan
menginfeksi sel endotel vaskuler. Kerusakan endotel menyebabkan peningkatan
permeabilitas pembuluh darah sehingga terjadi edema, hipotensi, perdarahan, dan
gangguan organ (Vaheri et al., 2013).
Pada
HFRS, organ utama yang terdampak adalah ginjal. Sedangkan pada HPS, paru-paru
mengalami edema masif yang menyebabkan gagal napas akut.
Faktor
imunologis juga berperan penting dalam keparahan penyakit. Respons imun
berlebihan (cytokine storm) dapat memperparah kerusakan jaringan dan
meningkatkan mortalitas pasien.
MANIFESTASI
KLINIS
Hemorrhagic
Fever with Renal Syndrome (HFRS)
Hemorrhagic
Fever with Renal Syndrome (HFRS) merupakan bentuk infeksi hantavirus
yang paling banyak ditemukan di kawasan Asia dan Eropa. Penyakit ini disebabkan
oleh beberapa spesies hantavirus seperti Hantaan virus (Hantaan
orthohantavirus), Seoul virus (Seoul orthohantavirus), Puumala virus
(Puumala orthohantavirus), dan Dobrava-Belgrade virus (Dobrava-Belgrade
orthohantavirus). Manifestasi utama HFRS adalah peningkatan permeabilitas
pembuluh darah, gangguan sistem koagulasi, dan kerusakan ginjal akut yang dapat
berkembang menjadi gagal ginjal berat apabila tidak ditangani secara cepat dan
tepat (Vaheri et al., 2013).
Secara
klinis, HFRS umumnya berkembang melalui lima fase penyakit yang berlangsung
secara berurutan, meskipun tidak semua pasien mengalami seluruh fase secara
lengkap. Fase pertama adalah fase demam (febrile phase), yang
berlangsung selama 3–7 hari dan ditandai dengan demam tinggi mendadak,
menggigil, sakit kepala hebat, nyeri punggung, nyeri otot, mual, muntah, serta
kelemahan umum. Pada fase ini sering ditemukan hiperemia pada wajah dan
konjungtiva, disertai petekie atau perdarahan ringan akibat kerusakan vaskuler
dan trombositopenia. Gejala awal HFRS sering menyerupai influenza,
leptospirosis, maupun demam berdarah dengue sehingga diagnosis dini sering kali
menjadi tantangan di daerah endemis (Krüger et al., 2015).
Setelah
fase demam, penyakit dapat berkembang ke fase hipotensi (hypotensive phase),
yaitu kondisi ketika permeabilitas kapiler meningkat secara signifikan sehingga
cairan plasma keluar dari pembuluh darah menuju jaringan. Keadaan ini
menyebabkan tekanan darah menurun drastis dan dapat berkembang menjadi syok
hipovolemik. Pada kasus berat, pasien
mengalami gangguan sirkulasi sistemik, takikardia, hingga disfungsi multi
organ. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa badai sitokin (cytokine storm)
berperan penting dalam memperberat kerusakan endotel vaskuler pada fase ini (Lu
et al., 2024).
Fase berikutnya adalah fase oliguria, yang merupakan fase
kritis pada HFRS. Pada tahap ini produksi urin menurun secara drastis akibat
kerusakan ginjal akut. Pasien dapat mengalami peningkatan kadar ureum dan
kreatinin serum, edema, hiperkalemia, serta asidosis metabolik. Selain gangguan
ginjal, beberapa pasien juga menunjukkan manifestasi perdarahan yang lebih
berat, seperti hematemesis, melena, atau perdarahan paru. Komplikasi
seperti disseminated intravascular coagulation (DIC) dan tromboemboli
juga dapat terjadi pada infeksi berat (AccessMedicine, 2024).
Apabila
pasien berhasil melewati fase oliguria, maka penyakit memasuki fase diuresis (diuretic
phase). Pada fase ini fungsi ginjal mulai membaik sehingga produksi urin
meningkat tajam, bahkan dapat mencapai beberapa liter per hari. Meskipun merupakan tanda perbaikan klinis, pasien
tetap berisiko mengalami dehidrasi dan gangguan elektrolit akibat kehilangan
cairan berlebihan. Oleh karena itu, pemantauan keseimbangan cairan dan
elektrolit tetap diperlukan secara ketat.
Tahap terakhir adalah fase konvalesen (convalescent
phase), yaitu masa pemulihan yang dapat berlangsung selama beberapa minggu
hingga bulan. Fungsi ginjal secara perlahan kembali normal, meskipun sebagian
pasien masih mengalami proteinuria, hematuria, hipertensi, atau gangguan fungsi
ginjal residual dalam jangka panjang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa
kerusakan ginjal pasca-HFRS dapat menetap pada sebagian pasien, terutama pada
infeksi yang disebabkan oleh strain dengan virulensi tinggi seperti Hantaan
virus dan Dobrava virus (Lu et al., 2024).
Secara
umum, gejala klinis HFRS meliputi demam tinggi, nyeri kepala, nyeri punggung,
mual, muntah, petekie, hipotensi, oliguria, hingga gagal ginjal akut. Tingkat fatalitas penyakit sangat dipengaruhi oleh
strain virus, kondisi imun pasien, serta keterlambatan penanganan medis. Pada
infeksi ringan seperti Puumala virus, tingkat kematian relatif rendah,
sedangkan infeksi akibat Hantaan virus atau Dobrava virus dapat menyebabkan
fatalitas hingga 15% (Krüger et al., 2015). Penelitian sistematik terbaru
bahkan menunjukkan bahwa peningkatan kadar kreatinin, infiltrasi paru,
peningkatan hematokrit, dan trombositopenia berat merupakan faktor prognostik
penting yang berkaitan dengan peningkatan mortalitas pasien HFRS (Tortosa et
al., 2026).
Hantavirus
Pulmonary Syndrome (HPS)
Hantavirus
Pulmonary Syndrome (HPS), yang juga dikenal sebagai Hantavirus
Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), merupakan bentuk infeksi hantavirus yang
dominan ditemukan di kawasan Amerika Utara dan Amerika Selatan. Penyakit ini
terutama disebabkan oleh Sin Nombre virus dan Andes virus. Dibandingkan HFRS,
HPS memiliki perjalanan klinis yang jauh lebih cepat dan lebih berat karena
menyerang sistem paru dan kardiovaskuler secara akut (Moore & Griffen,
2024).
HPS
biasanya diawali dengan fase prodromal yang berlangsung selama 3–6 hari. Pada
tahap awal ini pasien mengalami demam tinggi, mialgia berat terutama pada otot
paha dan punggung, kelelahan, sakit kepala, serta gangguan saluran cerna
seperti mual, muntah, nyeri perut, dan diare. Gejala awal ini sangat tidak
spesifik sehingga sering disalahartikan sebagai influenza, COVID-19, atau
infeksi virus lainnya. Setelah fase prodromal, kondisi pasien dapat memburuk
secara cepat dalam waktu singkat.
Fase
berikutnya adalah fase kardiopulmoner, yang merupakan tahap paling berbahaya
dari HPS. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas kapiler paru secara
masif sehingga cairan masuk ke alveoli dan menyebabkan edema paru
nonkardiogenik. Pasien mulai mengalami batuk, sesak napas progresif, hipoksia
berat, dan gagal napas akut. Dalam kondisi berat, terjadi syok kardiogenik
akibat depresi miokard dan gangguan sirkulasi sistemik. Banyak pasien memerlukan ventilasi mekanik dan perawatan
intensif dalam waktu singkat setelah onset gangguan pernapasan (Ulloa-Morrison
et al., 2024).
Patogenesis
utama HPS berkaitan dengan respons imun berlebihan terhadap infeksi virus pada
sel endotel paru. Aktivasi sistem imun menyebabkan pelepasan mediator inflamasi
dalam jumlah besar yang mengakibatkan kebocoran vaskuler luas. Kondisi ini menyebabkan edema paru berat,
hipotensi, dan gangguan perfusi jaringan. Berbeda dengan pneumonia bakterial
biasa, edema paru pada HPS terutama disebabkan oleh kebocoran kapiler, bukan
karena kerusakan langsung jaringan paru oleh virus (AccessMedicine, 2024).
Tingkat mortalitas HPS tergolong sangat tinggi, yaitu
sekitar 35–40%, bahkan pada beberapa wabah Andes virus di Amerika Selatan dapat
lebih tinggi lagi apabila pasien terlambat mendapatkan perawatan intensif
(MacNeil et al., 2011). Studi terbaru menunjukkan bahwa faktor prognostik buruk
pada HPS meliputi infiltrat paru bilateral, syok dini, peningkatan hematokrit,
trombositopenia berat, serta kebutuhan ventilasi mekanik pada fase awal
penyakit (Tortosa et al., 2026).
Meskipun sebagian besar hantavirus tidak menular antar
manusia, Andes virus merupakan pengecualian karena memiliki kemampuan transmisi
antarmanusia secara terbatas, terutama melalui kontak erat dan berkepanjangan.
Temuan ini meningkatkan kewaspadaan global terhadap potensi wabah hantavirus di
masa depan, khususnya di wilayah dengan populasi rodensia tinggi dan perubahan
lingkungan yang signifikan.
Secara keseluruhan, baik HFRS maupun HPS menunjukkan
bahwa hantavirus merupakan zoonosis serius dengan spektrum klinis luas dan
mortalitas tinggi. Oleh karena itu, diagnosis dini, penguatan surveilans
zoonosis, serta peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap paparan rodensia
menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini.
DIAGNOSIS
LABORATORIUM
Diagnosis
infeksi hantavirus memerlukan pendekatan yang komprehensif karena manifestasi
klinis penyakit ini sering kali tidak spesifik dan menyerupai berbagai penyakit
infeksi lainnya. Penegakan diagnosis tidak dapat hanya bergantung pada gejala
klinis, melainkan harus dikombinasikan dengan anamnesis yang mendalam, riwayat
pajanan terhadap rodensia atau lingkungan yang terkontaminasi ekskreta tikus,
serta pemeriksaan laboratorium yang memadai. Riwayat aktivitas pasien, seperti
bekerja di gudang, pertanian, hutan, area banjir, pelabuhan, atau lingkungan
dengan sanitasi buruk, menjadi informasi epidemiologis penting dalam
mengarahkan kecurigaan terhadap infeksi hantavirus (Vaheri et al., 2013).
Pada
tahap awal infeksi, gejala hantavirus sering menyerupai penyakit tropis lain
seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, malaria, tifoid, hingga infeksi
saluran napas akibat COVID-19. Pasien umumnya datang dengan demam tinggi, nyeri
kepala, nyeri otot, mual, muntah, serta gangguan pernapasan atau gangguan
ginjal akut. Oleh karena itu,
konfirmasi laboratorium memiliki peranan yang sangat penting dalam memastikan
diagnosis dan menentukan penatalaksanaan yang tepat (Krüger et al., 2015).
Salah satu metode diagnostik yang paling banyak digunakan
adalah pemeriksaan serologi menggunakan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay
(ELISA). Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi antibodi IgM dan IgG terhadap
hantavirus dalam serum pasien. Antibodi IgM biasanya muncul pada fase akut
infeksi dan menunjukkan adanya infeksi baru atau aktif, sedangkan antibodi IgG
muncul lebih lambat dan dapat bertahan dalam waktu lama sebagai tanda infeksi
sebelumnya. ELISA menjadi metode yang banyak dipilih karena sensitivitas dan
spesifisitasnya cukup tinggi serta relatif mudah diterapkan pada laboratorium
diagnostik rutin (Jonsson et al., 2010). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa
penggunaan antigen rekombinan pada ELISA mampu meningkatkan sensitivitas
diagnosis dini hantavirus, terutama pada pasien dengan kadar antibodi rendah
pada fase awal penyakit (Jiang et al., 2024). (frontiersin.org)
Selain ELISA, metode Immunofluorescence Assay
(IFA) juga banyak digunakan untuk mendeteksi antibodi spesifik hantavirus.
Teknik ini memanfaatkan antibodi berlabel fluoresen untuk mengidentifikasi
keberadaan antibodi pasien terhadap antigen virus. IFA memiliki sensitivitas
yang tinggi dan dapat membantu mengonfirmasi hasil ELISA, terutama pada kasus
dengan hasil serologi yang meragukan. Namun demikian, metode ini membutuhkan
fasilitas laboratorium yang lebih khusus dan interpretasi hasil yang memerlukan
tenaga ahli berpengalaman (Vapalahti et al., 2003).
Deteksi molekuler menggunakan Reverse
Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) menjadi metode yang sangat
penting, terutama pada fase awal infeksi ketika antibodi belum terbentuk secara
optimal. RT-PCR mampu mendeteksi materi genetik virus secara langsung dari
darah, serum, jaringan, atau sampel klinis lainnya. Metode ini sangat berguna
untuk diagnosis dini, identifikasi strain virus, dan surveilans epidemiologi.
Pengembangan real-time PCR bahkan memungkinkan deteksi virus dengan
sensitivitas lebih tinggi, waktu pemeriksaan lebih singkat, serta kemampuan
kuantifikasi viral load yang dapat membantu menilai tingkat keparahan penyakit
(Klempa, 2018).
Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi multiplex
real-time PCR berkembang pesat dan memungkinkan deteksi simultan berbagai
patogen yang memiliki gejala klinis serupa, seperti hantavirus, leptospira,
dengue virus, dan SARS-CoV-2. Pendekatan ini sangat penting di negara tropis
seperti Indonesia yang memiliki banyak penyakit infeksi dengan manifestasi
klinis yang tumpang tindih (Temmam et al., 2024). (thelancet.com)
Metode isolasi virus masih dianggap sebagai gold
standard dalam penelitian virologi karena memungkinkan karakterisasi virus
secara lengkap. Namun, prosedur ini jarang dilakukan pada laboratorium rutin
karena membutuhkan fasilitas biosafety level-3 (BSL-3) akibat tingginya
risiko penularan virus kepada petugas laboratorium. Isolasi virus biasanya
dilakukan untuk kepentingan penelitian, pengembangan vaksin, dan analisis
patogenesis (CDC, 2024).
Selain itu, perkembangan teknologi sekuensing genom (genome
sequencing) memberikan kontribusi besar dalam memahami epidemiologi dan
evolusi hantavirus. Sekuensing genom memungkinkan identifikasi strain baru,
analisis mutasi genetik, serta penelusuran hubungan filogenetik antarvirus di
berbagai wilayah geografis. Teknologi next-generation sequencing (NGS)
kini semakin banyak digunakan dalam surveilans zoonosis karena mampu mendeteksi
virus baru secara cepat dan akurat, termasuk hantavirus yang belum pernah
teridentifikasi sebelumnya (Maes et al., 2019).
Pemeriksaan hematologi dan biokimia klinis juga
memberikan petunjuk penting dalam diagnosis hantavirus. Pada sebagian besar
kasus ditemukan trombositopenia akibat peningkatan destruksi trombosit dan
gangguan vaskuler. Leukositosis sering muncul sebagai respons inflamasi
sistemik, sedangkan hemokonsentrasi terjadi akibat kebocoran plasma dari
pembuluh darah. Pada pasien dengan HFRS, peningkatan kadar kreatinin serum dan
ureum menjadi indikator penting adanya gangguan ginjal akut. Selain itu,
peningkatan hematokrit, proteinuria, hematuria, dan gangguan elektrolit juga
sering ditemukan pada fase berat penyakit (Vaheri et al., 2013).
Pada HPS, pemeriksaan laboratorium sering menunjukkan
hemokonsentrasi berat, trombositopenia, leukositosis dengan left shift,
serta peningkatan laktat akibat hipoksia jaringan. Pemeriksaan radiologi toraks
juga dapat menunjukkan infiltrat interstisial bilateral dan edema paru
nonkardiogenik yang berkembang cepat dalam waktu singkat (MacNeil et al.,
2011).
Diagnosis banding hantavirus sangat luas karena gejala
klinisnya menyerupai berbagai penyakit infeksi lain. Leptospirosis menjadi
salah satu diagnosis banding utama karena sama-sama ditularkan melalui rodensia
dan dapat menyebabkan demam, gagal ginjal, perdarahan, serta gangguan hati.
Demam berdarah dengue juga sering sulit dibedakan dari hantavirus karena
keduanya menyebabkan trombositopenia, hemokonsentrasi, dan manifestasi
perdarahan. Selain itu, malaria berat, sepsis bakterial, tifoid, scrub typhus,
dan COVID-19 juga perlu dipertimbangkan dalam diagnosis diferensial, terutama
pada pasien dengan demam akut dan gangguan pernapasan (Krüger et al., 2015).
Tantangan diagnosis hantavirus di negara berkembang
terutama disebabkan keterbatasan fasilitas laboratorium molekuler, rendahnya
kesadaran klinisi terhadap penyakit ini, serta minimnya surveilans zoonosis
terpadu. Banyak kasus hantavirus kemungkinan tidak terdiagnosis atau salah
didiagnosis sebagai dengue maupun leptospirosis. Oleh karena itu, penguatan
kapasitas laboratorium, peningkatan kewaspadaan klinis, serta integrasi
surveilans berbasis pendekatan One Health menjadi langkah penting untuk
meningkatkan deteksi dini hantavirus di Indonesia dan negara tropis lainnya.
PENGARUH PERUBAHAN IKLIM DAN LINGKUNGAN
Perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap dinamika penyebaran hantavirus di berbagai
belahan dunia. Perubahan suhu, pola curah hujan, kelembapan, serta gangguan
ekosistem secara langsung memengaruhi populasi rodensia sebagai reservoir utama
hantavirus. Peningkatan suhu lingkungan dan curah hujan yang tinggi dapat
meningkatkan ketersediaan makanan alami bagi rodensia, seperti biji-bijian,
vegetasi, dan sumber pangan lainnya, sehingga mempercepat reproduksi dan
meningkatkan kepadatan populasi hewan tersebut. Kondisi ini menyebabkan peluang
kontak antarrodensia meningkat dan memperbesar sirkulasi virus di alam.
Penelitian ekologis menunjukkan bahwa fluktuasi iklim musiman sangat berkaitan
dengan peningkatan populasi reservoir hantavirus dan lonjakan kasus pada
manusia beberapa bulan kemudian (Luis et al., 2010). Selain itu, perubahan
musim dingin yang lebih hangat akibat pemanasan global diketahui memperpanjang
periode aktivitas rodensia dan meningkatkan peluang transmisi virus sepanjang
tahun (Sipari et al., 2022).
Perubahan
iklim juga berdampak terhadap pola migrasi dan distribusi geografis rodensia.
Habitat alami yang mengalami kekeringan, kebakaran hutan, atau degradasi
lingkungan mendorong rodensia berpindah mendekati area pemukiman manusia untuk
mencari makanan dan tempat berlindung. Kondisi ini meningkatkan interaksi
antara manusia dan reservoir hantavirus. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa
perubahan penggunaan lahan, ekspansi pertanian, serta hilangnya keanekaragaman
hayati berhubungan erat dengan peningkatan prevalensi penyakit berbasis
rodensia. Ketika predator alami berkurang dan struktur ekosistem berubah,
populasi tikus dapat meningkat secara drastis sehingga memperbesar risiko
zoonosis (Teitelbaum et al., 2025).
Deforestasi
dan urbanisasi yang berlangsung cepat di berbagai negara tropis turut
memperburuk situasi tersebut. Pembukaan hutan untuk pertanian, pertambangan,
maupun pembangunan kawasan pemukiman menyebabkan fragmentasi habitat satwa liar
dan memaksa rodensia beradaptasi di lingkungan manusia. Di kawasan urban,
buruknya sanitasi, tingginya kepadatan penduduk, dan penumpukan sampah menjadi
faktor yang mendukung peningkatan populasi tikus. Kondisi ini sangat penting
dalam epidemiologi hantavirus karena sebagian besar reservoir utama virus,
seperti Rattus norvegicus dan Rattus tanezumi, mampu hidup sangat
dekat dengan manusia di lingkungan perkotaan maupun pedesaan (Jonsson et al.,
2010).
Kejadian
banjir akibat perubahan iklim ekstrem juga menjadi faktor risiko penting dalam
penyebaran penyakit zoonotik berbasis rodensia. Banjir menyebabkan tikus keluar
dari sarangnya dan berpindah ke area permukiman manusia. Air banjir dapat
membawa urin, saliva, maupun feses rodensia yang mengandung virus sehingga
memperluas area kontaminasi lingkungan. Selain meningkatkan risiko
leptospirosis, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bencana banjir juga
berpotensi meningkatkan paparan terhadap hantavirus, terutama pada daerah
dengan sanitasi buruk dan kepadatan rodensia tinggi (Diaz, 2015). Penelitian
terkini mengenai dampak banjir ekstrem di Brasil tahun 2024 menunjukkan bahwa
perubahan iklim dan buruknya sanitasi mempercepat penyebaran berbagai penyakit
zoonotik melalui kontaminasi lingkungan dan peningkatan kontak manusia dengan
reservoir hewan (Ziliotto et al., 2024).
Perubahan lingkungan global juga meningkatkan risiko
munculnya strain hantavirus baru. Teknologi sekuensing genom dan next-generation
sequencing (NGS) telah mengungkap keberadaan berbagai hantavirus baru pada
rodensia, kelelawar, dan mamalia kecil lainnya di berbagai wilayah dunia.
Penelitian filogenetik terbaru menunjukkan bahwa evolusi hantavirus sangat
dipengaruhi oleh dinamika ekologis reservoir serta perubahan lingkungan yang
mempertemukan spesies hewan yang sebelumnya terpisah secara geografis (Guo et
al., 2013). Selain itu, pemodelan berbasis kecerdasan buatan (artificial
intelligence) dan sistem peringatan dini (early warning system) kini
mulai digunakan untuk memprediksi potensi wabah hantavirus berdasarkan data
iklim, kepadatan rodensia, vegetasi, suhu permukaan, dan curah hujan satelit.
Studi terbaru di Jerman berhasil mengembangkan sistem prediksi spasial berbasis
machine learning untuk memperkirakan risiko wabah Puumala hantavirus
beberapa bulan sebelum peningkatan kasus terjadi pada manusia (Kazasidis et
al., 2024).
Di kawasan Amerika Selatan, pendekatan pemodelan berbasis
data iklim dan surveilans rodensia juga mulai diterapkan untuk mengantisipasi
wabah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Penelitian di Argentina
menunjukkan bahwa peningkatan populasi rodensia yang terjadi secara sinkron
akibat perubahan kondisi iklim dapat menjadi indikator awal terjadinya wabah
hantavirus pada manusia. Sistem ini diharapkan mampu mendukung pengembangan early
warning system berbasis ekologi dan perubahan iklim untuk mencegah
peningkatan kasus secara luas (Ferro et al., 2024).
Indonesia sebagai negara tropis memiliki kondisi ekologis
yang sangat mendukung perkembangan rodensia dan penyebaran zoonosis berbasis
hewan pengerat. Curah hujan yang tinggi, kelembapan lingkungan, urbanisasi
cepat, sanitasi yang belum optimal, serta frekuensi banjir yang meningkat
akibat perubahan iklim menjadikan Indonesia rentan terhadap peningkatan risiko
hantavirus. Selain itu, tingginya keanekaragaman hayati dan perubahan tata guna
lahan yang masif meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi baru antara
manusia dan reservoir virus. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak perubahan
iklim terhadap hantavirus bukan lagi ancaman teoritis, melainkan tantangan
nyata yang memerlukan penguatan surveilans zoonosis, pemantauan ekologi
rodensia, sistem peringatan dini berbasis teknologi, serta implementasi
pendekatan One Health secara terintegrasi untuk melindungi kesehatan
masyarakat di masa depan.
PENCEGAHAN
DAN PENGENDALIAN
Pencegahan
dan pengendalian infeksi hantavirus memerlukan pendekatan yang komprehensif dan
berkelanjutan karena penyakit ini melibatkan interaksi kompleks antara manusia,
hewan, dan lingkungan. Dalam beberapa dekade terakhir, konsep One Health
semakin diakui sebagai strategi paling efektif dalam pengendalian zoonosis,
termasuk hantavirus. Pendekatan ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas
sektor antara bidang kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan lingkungan,
akademisi, laboratorium, pemerintah, dan masyarakat untuk mengurangi risiko
penularan penyakit zoonotik secara terpadu (Destoumieux-Garzón et al., 2018).
Reservoir
utama hantavirus adalah rodensia liar maupun domestik yang dapat membawa virus
tanpa menunjukkan gejala klinis. Oleh karena itu,
pengendalian populasi rodensia menjadi langkah fundamental dalam pencegahan
penyakit. Pengendalian ini tidak hanya dilakukan melalui penggunaan perangkap
atau rodentisida, tetapi juga melalui pendekatan ekologis yang bertujuan
mengurangi habitat dan sumber makanan tikus di sekitar permukiman manusia.
Lingkungan yang kumuh, banyak tumpukan sampah, saluran drainase buruk, serta
gudang penyimpanan bahan pangan yang tidak higienis menjadi faktor penting yang
mendukung peningkatan populasi rodensia (Meerburg et al., 2009).
Perbaikan sanitasi lingkungan merupakan strategi penting
lainnya dalam pengendalian hantavirus. Sanitasi yang buruk meningkatkan
kemungkinan manusia terpapar urin, saliva, dan feses rodensia yang mengandung
virus. Lingkungan rumah dan tempat kerja perlu dijaga tetap bersih, kering, dan
memiliki ventilasi yang baik untuk mengurangi keberadaan tikus. Penutupan celah
pada dinding, lantai, atap, dan saluran pembuangan juga sangat penting untuk
mencegah masuknya rodensia ke dalam rumah atau bangunan penyimpanan pangan.
Selain itu, pengelolaan sampah yang baik harus menjadi perhatian utama karena
tumpukan sampah organik sering menjadi sumber makanan utama bagi tikus di
kawasan perkotaan maupun pedesaan (Centers for Disease Control and
Prevention/CDC, 2024).
Masyarakat perlu diberikan edukasi mengenai cara aman
membersihkan area yang terkontaminasi ekskreta rodensia. Banyak kasus infeksi
hantavirus terjadi akibat inhalasi aerosol yang berasal dari debu yang tercemar
urin atau feses tikus. Oleh karena itu, masyarakat tidak dianjurkan menyapu
atau membersihkan kotoran tikus dalam kondisi kering karena tindakan tersebut
dapat menyebabkan partikel virus beterbangan di udara dan terhirup oleh
manusia. Area yang terkontaminasi sebaiknya terlebih dahulu disemprot menggunakan
disinfektan seperti larutan klorin atau alkohol 70%, kemudian dibersihkan
menggunakan sarung tangan dan kain basah. Pendekatan ini terbukti efektif dalam
menurunkan risiko aerosolization virus hantavirus di lingkungan rumah tangga
maupun fasilitas kerja (CDC, 2024).
Selain itu, masyarakat juga perlu diedukasi untuk
menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat guna menghindari kontaminasi oleh
rodensia. Penyimpanan bahan pangan yang terbuka dapat menarik tikus datang ke
area pemukiman dan meningkatkan risiko penularan penyakit zoonotik lainnya.
Upaya edukasi ini harus dilakukan secara terus-menerus melalui program
komunikasi risiko berbasis masyarakat agar kesadaran publik terhadap ancaman
hantavirus meningkat secara berkelanjutan.
Kelompok pekerja tertentu memiliki risiko lebih tinggi
terpapar hantavirus, seperti petani, pekerja gudang, petugas kebersihan,
pekerja kehutanan, peneliti satwa liar, personel militer, serta pekerja
laboratorium. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) sangat
penting untuk mengurangi risiko pajanan. Penggunaan masker respirator, sarung
tangan, pelindung mata, dan pakaian kerja khusus dianjurkan terutama saat
bekerja di area dengan populasi rodensia tinggi atau saat membersihkan lokasi
yang dicurigai terkontaminasi ekskreta tikus (Jonsson et al., 2010).
Penguatan surveilans zoonosis terpadu juga menjadi
komponen kunci dalam pengendalian hantavirus. Surveilans tidak hanya dilakukan
pada manusia, tetapi juga harus mencakup pemantauan populasi rodensia dan hewan
liar lain yang berpotensi menjadi reservoir virus. Pemantauan serologis dan
molekuler pada rodensia dapat membantu mendeteksi keberadaan hantavirus sebelum
terjadi peningkatan kasus pada manusia. Pendekatan surveilans berbasis One Health
memungkinkan integrasi data lintas sektor sehingga potensi wabah dapat
diidentifikasi lebih cepat (Klempa, 2018).
Deteksi
dini kasus pada manusia dan hewan sangat penting untuk mencegah penyebaran
penyakit yang lebih luas. Diagnosis dini memungkinkan penanganan medis
dilakukan lebih cepat sehingga dapat menurunkan angka mortalitas, terutama pada
kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berkembang sangat cepat.
Di negara berkembang, tantangan utama dalam deteksi dini adalah rendahnya
kesadaran tenaga kesehatan terhadap hantavirus serta keterbatasan fasilitas
diagnostik molekuler. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas laboratorium,
pelatihan tenaga medis, dan penguatan sistem pelaporan penyakit zoonotik perlu
menjadi prioritas dalam kebijakan kesehatan masyarakat (Krüger et al., 2015).
Dalam bidang pencegahan spesifik, pengembangan vaksin
hantavirus terus mengalami kemajuan. Beberapa vaksin inaktif terhadap Hantaan
virus (HTNV) dan Seoul virus (SEOV) telah digunakan di Tiongkok dan Korea
Selatan dan menunjukkan efektivitas dalam menurunkan angka kejadian HFRS di
wilayah endemis (Schmaljohn & Hooper, 2001). Penelitian terbaru juga
mengembangkan vaksin berbasis DNA, vaksin mRNA, serta vaksin rekombinan yang
menargetkan berbagai strain hantavirus sekaligus. Teknologi vaksin generasi baru
ini diharapkan mampu memberikan perlindungan lebih luas terhadap hantavirus
dengan tingkat keamanan dan imunogenisitas yang lebih baik (Hooper et al.,
2023). (frontiersin.org)
Meskipun demikian, hingga saat ini belum terdapat vaksin
hantavirus yang digunakan secara luas secara global. Tantangan utama dalam
pengembangan vaksin meliputi tingginya keragaman genetik hantavirus, distribusi
geografis yang berbeda-beda, serta keterbatasan pasar vaksin karena sebagian
besar kasus terkonsentrasi di wilayah tertentu. Oleh karena itu, upaya
pencegahan berbasis pengendalian lingkungan dan pengurangan kontak manusia
dengan rodensia tetap menjadi strategi utama dalam pengendalian hantavirus di
berbagai negara.
Perubahan iklim, urbanisasi, deforestasi, dan
meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar diperkirakan akan meningkatkan
risiko kemunculan hantavirus di masa depan. Oleh karena itu, pengendalian
hantavirus tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan membutuhkan kerja
sama multidisiplin yang kuat melalui implementasi konsep One Health.
Pendekatan ini menjadi sangat penting bagi negara tropis seperti Indonesia yang
memiliki keanekaragaman hayati tinggi, populasi rodensia melimpah, serta
tantangan sanitasi lingkungan yang masih cukup besar.
PENDEKATAN
ONE HEALTH DALAM ANTISIPASI HANTAVIRUS
Pendekatan
One Health saat ini menjadi strategi yang sangat penting dalam
pengendalian penyakit zoonotik, termasuk hantavirus, karena penyakit ini muncul
melalui interaksi kompleks antara manusia, hewan, dan lingkungan. Hantavirus
merupakan contoh nyata penyakit yang sangat dipengaruhi oleh perubahan
ekosistem, dinamika populasi rodensia, aktivitas manusia, serta kondisi
lingkungan yang mendukung penyebaran virus. Oleh karena itu, pengendalian
hantavirus tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan medis semata, tetapi
harus melibatkan kerja sama multidisiplin lintas sektor yang terintegrasi
secara berkelanjutan (Destoumieux-Garzón et al., 2018).
Konsep
One Health menekankan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan
dari kesehatan hewan dan kondisi lingkungan. Dalam konteks hantavirus, rodensia
berperan sebagai reservoir utama virus, sementara perubahan lingkungan seperti
urbanisasi, deforestasi, perubahan tata guna lahan, dan perubahan iklim
memengaruhi dinamika populasi hewan reservoir tersebut. Ketika habitat alami
terganggu, rodensia cenderung bermigrasi mendekati pemukiman manusia untuk
mencari makanan dan tempat berlindung, sehingga meningkatkan risiko kontak
antara manusia dengan ekskreta hewan yang terinfeksi (Jonsson et al., 2010).
Implementasi
pendekatan One Health dalam antisipasi hantavirus dimulai melalui
penguatan surveilans terpadu lintas sektor. Surveilans tidak hanya difokuskan
pada kasus penyakit pada manusia, tetapi juga mencakup pemantauan populasi
rodensia, kondisi lingkungan, serta keberadaan virus pada hewan liar. Pendekatan ini memungkinkan deteksi dini potensi
peningkatan risiko wabah sebelum terjadi transmisi luas pada manusia. Sistem
surveilans terpadu menjadi sangat penting karena peningkatan populasi rodensia
sering kali menjadi indikator awal meningkatnya risiko penyebaran hantavirus di
suatu wilayah (Meerburg et al., 2009).
Monitoring populasi rodensia merupakan salah satu
komponen utama dalam pendekatan One Health. Pemantauan ini dilakukan
untuk mengetahui kepadatan populasi tikus, distribusi geografis spesies
reservoir, pola migrasi, serta tingkat infeksi hantavirus pada hewan tersebut.
Penelitian ekologi rodensia sangat penting karena setiap jenis hantavirus umumnya
memiliki spesies reservoir tertentu. Sebagai contoh, Seoul virus banyak
ditemukan pada Rattus norvegicus, sedangkan Hantaan virus berasosiasi
dengan Apodemus agrarius. Informasi mengenai distribusi reservoir sangat
membantu dalam pemetaan daerah berisiko tinggi dan penyusunan strategi
pengendalian yang lebih efektif (Klempa, 2018).
Selain rodensia, penelitian terbaru menunjukkan bahwa
beberapa jenis kelelawar, shrew, dan mamalia liar lainnya juga dapat membawa
hantavirus atau virus serupa. Oleh karena itu, deteksi virus pada hewan liar
menjadi bagian penting dalam surveilans zoonosis modern. Teknologi molekuler
seperti real-time PCR, sekuensing genom, dan next-generation
sequencing (NGS) kini semakin banyak digunakan untuk mendeteksi keberadaan
hantavirus baru pada satwa liar sebelum virus tersebut menyebar lebih luas ke
populasi manusia (Guo et al., 2013). Pendekatan ini menjadi sangat penting
dalam menghadapi ancaman emerging infectious diseases yang berasal dari
interaksi manusia dengan satwa liar akibat perubahan lingkungan global.
Integrasi
data kesehatan manusia dan veteriner juga merupakan komponen penting dalam
implementasi One Health. Selama ini, data penyakit pada manusia dan
hewan sering kali berjalan secara terpisah sehingga memperlambat deteksi dini
wabah zoonosis. Dengan integrasi data lintas sektor, peningkatan kasus penyakit
pada rodensia atau hewan liar dapat segera menjadi peringatan dini bagi sektor
kesehatan manusia. Sistem integrasi data ini memungkinkan respons yang lebih
cepat dan terkoordinasi dalam menghadapi potensi wabah hantavirus (World Health
Organization/WHO, 2023).
Penguatan
laboratorium zoonosis menjadi aspek yang sangat penting dalam mendukung
pendekatan One Health. Diagnosis hantavirus membutuhkan fasilitas
laboratorium dengan kemampuan deteksi serologi dan molekuler yang memadai.
Laboratorium kesehatan manusia dan veteriner perlu diperkuat agar mampu
melakukan identifikasi virus secara cepat, akurat, dan aman. Selain itu,
peningkatan kapasitas laboratorium biosafety level-3 (BSL-3) menjadi
penting mengingat hantavirus termasuk patogen zoonotik dengan risiko biologis
tinggi (CDC, 2024).
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti,
organisasi profesi, dan masyarakat juga menjadi kunci utama keberhasilan
pendekatan One Health. Pemerintah memiliki peran penting dalam
penyusunan kebijakan pengendalian zoonosis, penguatan regulasi sanitasi
lingkungan, serta penyediaan sistem surveilans nasional yang terintegrasi.
Sementara itu, institusi akademik dan lembaga penelitian berperan dalam
pengembangan riset epidemiologi, virologi, ekologi rodensia, hingga
pengembangan metode diagnostik dan vaksin. Partisipasi masyarakat juga sangat
penting karena keberhasilan pengendalian hantavirus sangat dipengaruhi oleh
perilaku hidup bersih dan pengelolaan lingkungan yang baik (Destoumieux-Garzón
et al., 2018).
Di
Indonesia, implementasi pendekatan One Health dalam pengendalian
hantavirus masih menghadapi berbagai tantangan. Sistem surveilans zoonosis
berbasis laboratorium dan ekologi belum sepenuhnya terintegrasi secara optimal.
Data mengenai distribusi rodensia
reservoir, keberadaan strain hantavirus lokal, serta jumlah kasus pada manusia
masih sangat terbatas. Selain itu, koordinasi lintas kementerian dan lembaga
sering kali belum berjalan secara efektif sehingga deteksi dini potensi wabah
menjadi kurang optimal. Padahal, Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap
zoonosis berbasis rodensia karena kondisi iklim tropis, tingginya kepadatan
penduduk, urbanisasi cepat, serta masih adanya masalah sanitasi lingkungan di
berbagai daerah.
Integrasi data antara sektor kesehatan manusia, kesehatan
hewan, kehutanan, pertanian, lingkungan hidup, dan laboratorium penelitian
menjadi sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan nasional terhadap
ancaman hantavirus. Pengembangan sistem peringatan dini berbasis data ekologis
dan epidemiologis dapat membantu pemerintah mengidentifikasi wilayah berisiko
tinggi sebelum terjadi peningkatan kasus pada manusia. Pendekatan ini juga
sangat relevan dalam menghadapi dampak perubahan iklim global yang diperkirakan
akan meningkatkan risiko munculnya berbagai zoonosis baru di masa depan
(Carlson et al., 2022).
Dengan demikian, pendekatan One Health bukan hanya
menjadi strategi teoritis, tetapi merupakan kebutuhan nyata dalam pengendalian
hantavirus secara efektif dan berkelanjutan. Kolaborasi multidisiplin yang
kuat, surveilans terpadu, penguatan laboratorium, serta peningkatan kesadaran
masyarakat menjadi fondasi utama dalam melindungi kesehatan manusia dari
ancaman zoonosis berbasis rodensia seperti hantavirus.
KESIMPULAN
Hantavirus merupakan zoonosis penting yang ditularkan
terutama melalui rodensia dan memiliki dampak serius terhadap kesehatan
manusia. Penyakit ini dapat menyebabkan HFRS maupun HPS dengan tingkat
mortalitas yang cukup tinggi.
Perubahan lingkungan, urbanisasi, banjir, dan perubahan
iklim berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyebaran hantavirus.
Indonesia memiliki potensi kerentanan cukup besar karena tingginya populasi
rodensia, kondisi sanitasi yang belum optimal, serta tingginya interaksi
manusia dengan lingkungan yang tercemar.
Penguatan surveilans, penelitian molekuler, peningkatan
kapasitas diagnostik laboratorium, edukasi masyarakat, dan pengendalian
rodensia menjadi langkah penting dalam mengantisipasi ancaman hantavirus di
Indonesia.
Pendekatan One Health yang melibatkan sektor
kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan secara terpadu merupakan
strategi paling efektif untuk mencegah munculnya wabah hantavirus di masa
depan.
DAFTAR
REFERENSI
AccessMedicine.
2024. Hantavirus Infections. New York: McGraw-Hill Education.
Carlson,
C.J., Albery, G.F., Merow, C., Trisos, C.H., Zipfel, C.M., Eskew, E.A., Olival,
K.J., Ross, N. & Bansal, S. 2022. Climate change increases cross-species
viral transmission risk. Nature, 607: 555–562.
Centers
for Disease Control and Prevention (CDC). 2024a. Hantavirus Disease.
Atlanta: CDC.
Centers
for Disease Control and Prevention (CDC). 2024b. Hantavirus Disease
Prevention. Atlanta: CDC.
Destoumieux-Garzón,
D., Mavingui, P., Boetsch, G., Boissier, J., Darriet, F., Duboz, P., Fritsch,
C., Giraudoux, P., Le Roux, F., Morand, S., Paillard, C., Pontier, D., Sueur,
C. & Voituron, Y. 2018. The One Health concept: 10 years old and a long road
ahead. Frontiers in Veterinary Science, 5: 14.
Diaz,
J.H. 2015. Rodent-borne infectious disease outbreaks after flooding disasters:
Epidemiology, management, and prevention. Journal of Emergency Management,
13(5): 405–414.
Ferro,
L.I., Lopez, W., Cassinelli, F., Padula, P., Calderón, G. & Polop, J. 2024.
Hantavirus pulmonary syndrome outbreak anticipation by a rapid synchronous
increase in rodent abundance in the northwestern Argentina endemic region:
Towards an early warning system for disease based on climate and rodent
surveillance data. Pathogens, 13(9): 745.
Guo,
W.P., Lin, X.D., Wang, W., Tian, J.H., Cong, M.L., Zhang, H.L., Wang, M.R.,
Zhou, R.H., Wang, J.B., Li, M.H., Xu, J., Holmes, E.C. & Zhang, Y.Z. 2013.
Phylogeny and origins of hantaviruses harbored by bats, insectivores, and
rodents. PLoS Pathogens, 9(2): e1003159.
Hooper,
J.W., Brocato, R.L., Kwilas, S.A., Hammerbeck, C.D. & Josleyn, M.D. 2023.
Advances in hantavirus vaccine development. Frontiers in Immunology, 14:
1194235.
Ibrahim,
I.N., Richards, A.L., Putri, M.P., et al. 2019. Evidence of hantavirus
infection in Indonesia: A review. Vector-Borne and Zoonotic Diseases,
19(1): 13–20.
International
Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV). 2023. Virus Taxonomy Profile:
Hantaviridae. London: ICTV.
Jiang,
H., Du, H., Wang, L., Wang, P., Bai, X. & Wang, X. 2024. Advances in
serological diagnosis of hantavirus infection using recombinant antigens. Frontiers
in Microbiology, 15: 1362405.
Jonsson,
C.B., Figueiredo, L.T.M. & Vapalahti, O. 2010. A global perspective on
hantavirus ecology, epidemiology, and disease. Clinical Microbiology Reviews,
23(2): 412–441.
Kazasidis,
O., Geduhn, A. & Jacob, J. 2024. High-resolution early warning system for
human Puumala hantavirus infection risk in Germany. Scientific Reports,
14: 9602.
Klempa,
B. 2018. Reassortment events in the evolution of hantaviruses. Virus Genes, 54(5): 638–646.
Kosasih, H., Ibrahim, I.N., Wicaksono, B., et al. 2011. Serological
evidence of hantavirus infection in Indonesia. Southeast Asian Journal of
Tropical Medicine and Public Health, 42(4): 870–876.
Krüger,
D.H., Figueiredo, L.T.M., Song, J.W. & Klempa, B. 2015.
Hantaviruses—globally emerging pathogens. Journal of Clinical Virology,
64: 128–136.
Lee, H.W., Lee, P.W. & Johnson, K.M. 1978. Isolation
of the etiologic agent of Korean hemorrhagic fever. Journal of Infectious
Diseases, 137(3): 298–308.
Lin,
X.D., Guo, W.P., Wang, W., Zou, Y., Hao, Z.Y., Zhou, D.J., Dong, X., Qu, Y.G.,
Li, M.H., Tian, H.F., Wen, J.F., Wang, M.R. & Zhang, Y.Z. 2012. Migration
of Norway rats resulted in the worldwide distribution of Seoul hantavirus
today. Journal of Virology, 86(2): 972–981.
Lu,
Y., Zhang, H., Wang, X., et al. 2024. Immunopathogenesis and renal
complications in hemorrhagic fever with renal syndrome caused by hantaviruses. Frontiers
in Microbiology, 15: 1329683.
Luis,
A.D., Douglass, R.J., Mills, J.N. & Bjørnstad, O.N. 2010. The effect of
seasonality, density and climate on the population dynamics of hantavirus
reservoir species. Ecology Letters, 13(6): 737–751.
MacNeil,
A., Ksiazek, T.G. & Rollin, P.E. 2011. Hantavirus pulmonary syndrome,
United States, 1993–2009. Emerging Infectious Diseases, 17(7):
1195–1201.
Maes,
P., Adkins, S., Alkhovsky, S.V., Avšič-Županc, T., Ballinger, M.J., Bente, D.,
Beer, M., Bergeron, É., Blair, C., Briese, T., et al. 2019. Taxonomy of the
family Hantaviridae. Archives of Virology, 164: 2177–2181.
Martinez-Valdebenito,
C., Calvo, M., Vial, C., Mansilla, R., Marco, C., Palma, R.E., Vial, P.A. &
Ferrés, M. 2014. Person-to-person household and nosocomial transmission of
Andes hantavirus, southern Chile, 2011. Emerging Infectious Diseases,
20(10): 1629–1636.
Meerburg,
B.G., Singleton, G.R. & Kijlstra, A. 2009. Rodent-borne diseases and their
risks for public health. Critical Reviews in Microbiology, 35(3):
221–270.
Moore,
R.A. & Griffen, D.E. 2024. Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome. In: StatPearls.
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing.
Plyusnin,
A. & Sironen, T. 2014. Evolution of hantaviruses: co-speciation with
reservoir hosts for more than 100 MYR. Virus Research, 187: 22–26.
Schmaljohn,
C. & Hooper, J.W. 2001. Bunyaviridae: the viruses and their replication.
In: Knipe, D.M. & Howley, P.M. (eds). Fields Virology. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Sipari,
S., Khalil, H., Magnusson, M., et al. 2022. Climate change accelerates winter
transmission of a zoonotic pathogen. Ambio, 51: 508–517.
Teitelbaum,
C.S., et al. 2025. Species diversity links land consolidation to rodent
disease. Nature Ecology & Evolution, 9: 145–154.
Temmam,
S., et al. 2024. Multiplex molecular diagnostics for emerging zoonotic viral
infections. The Lancet Microbe, 5(9): e621–e630.
Tortosa,
F., Ramirez, P., Ortega, M., et al. 2026. Prognostic factors associated with
mortality in hantavirus infections: A systematic review and meta-analysis. International
Journal of Infectious Diseases, 142: 45–58.
Ulloa-Morrison,
C., Martinez-Valdebenito, C., Ferrés, M., et al. 2024. Clinical progression and
cardiopulmonary complications of hantavirus pulmonary syndrome in South
America. Clinical Infectious Diseases, 78(4): 812–821.
Vaheri,
A., Strandin, T., Hepojoki, J., Sironen, T., Henttonen, H., Mäkelä, S. &
Mustonen, J. 2013. Uncovering the mysteries of hantavirus infections. Nature
Reviews Microbiology, 11(8): 539–550.
Vapalahti,
O., Mustonen, J., Lundkvist, Å., Henttonen, H., Plyusnin, A. & Vaheri, A.
2003. Hantavirus infections in Europe. Lancet Infectious Diseases,
3(10): 653–661.
World
Health Organization (WHO). 2023a. Hantavirus Infections Fact Sheet.
Geneva: WHO.
World
Health Organization (WHO). 2023b. One Health Joint Plan of Action 2022–2026.
Geneva: WHO.
Yates,
T.L., Mills, J.N., Parmenter, C.A., Ksiazek, T.G., Parmenter, R.R., Castle,
K.T., Calisher, C.H., Nichol, S.T., Abbott, K.D., Young, J.C., Morrison, M.L.,
Beaty, B.J., Dunnum, J.L., Baker, R.J., Salazar-Bravo, J. & Peters, C.J.
2002. The ecology and evolutionary history of an emergent disease: hantavirus
pulmonary syndrome. BioScience, 52(11): 989–998.
Zhang,
Y.Z., Zou, Y., Fu, Z.F. & Plyusnin, A. 2010. Hantavirus infections in
humans and animals, China. Emerging Infectious Diseases, 16(8):
1195–1203.
Ziliotto,
M., Chies, J.A.B. & Ellwanger, J.H. 2024. Extreme weather events and
pathogen pollution fuel infectious diseases: The 2024 flood-related
leptospirosis outbreak in southern Brazil and other red lights. Pollutants,
4(3): 424–433.
#Hantavirus
#Rodensia
#Zoonosis
#OneHealth
#KesehatanLingkungan
