Gema Peringatan di Surat
Al-Mursalat: Rahasia Ayat yang Diulang 10 Kali
Mengapa Allah mengulang kalimat “Wailuy
Yauma’idzin Lil-Mukadzdzibin” sebanyak sepuluh kali dalam Surat
Al-Mursalat? Pengulangan itu bukan sekadar pengulangan kata. Di baliknya
terdapat peringatan yang sangat kuat tentang hari kiamat, akibat mendustakan
kebenaran, dan hati manusia yang sering kali baru tersadar setelah berkali-kali
diingatkan.
Surat Al-Mursalat seakan
menghadirkan sebuah ketukan yang terus menggema. Setiap kali manusia dihadapkan
pada bukti kekuasaan Allah dan kepastian hari pembalasan, kembali terdengar
peringatan: “Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”
Semakin sering ayat itu dibaca,
semakin terasa bahwa sasaran peringatan tersebut bukan hanya manusia pada masa
turunnya Al-Qur’an. Ia juga mengetuk hati kita hari ini.
Barangkali persoalannya bukan karena
kita belum pernah mendengar peringatan Allah. Barangkali
kita sudah terlalu sering mendengarnya, tetapi hati kita belum juga benar-benar
berubah.
Wailuy yauma’idzin lil-mukadzdzibīn.
Artinya: “Celakalah pada hari itu bagi orang-orang
yang mendustakan.”
Kalimat tersebut diulang sepuluh kali dalam Surat
Al-Mursalat. Bagi manusia yang membaca Al-Qur’an sekilas, pengulangan itu
mungkin tampak sederhana. Namun bagi hati yang mau berhenti sejenak dan
merenung, pengulangan tersebut terasa seperti sebuah alarm yang terus berbunyi.
Sekali terdengar, mungkin kita masih
mengabaikannya.
Dua kali terdengar, mungkin kita
masih sibuk dengan urusan dunia.
Tetapi ketika peringatan itu datang
berulang-ulang, sepuluh kali, seakan-akan Allah sedang mengetuk kesadaran kita
dengan sangat kuat: jangan abaikan kebenaran yang sudah sampai kepadamu.
Bukan Sekadar Pengulangan Kata
Dalam kajian bahasa Arab dan
balaghah, pengulangan semacam ini dikenal sebagai tikrar. Dalam
Al-Qur’an, pengulangan bukanlah pemborosan kata. Setiap pengulangan mempunyai
fungsi retoris, penekanan, dan keterkaitan dengan konteks ayat-ayat di
sekitarnya.
Surat Al-Mursalat sendiri merupakan
surat yang kuat dalam menggambarkan kepastian hari kebangkitan dan hari
keputusan. Manusia diingatkan tentang kekuasaan Allah, penciptaan manusia,
kehancuran orang-orang yang mendustakan, serta datangnya hari ketika seluruh
manusia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka lakukan.
Setelah suatu rangkaian peringatan
atau gambaran tentang kekuasaan Allah disampaikan, ayat “Wailuy yauma’idzin
lil-mukadzdzibīn” kembali terdengar.
Seolah-olah Al-Qur’an berkata kepada
kita: Setelah semua bukti ini engkau lihat, masihkah engkau memilih untuk
mendustakan?
Karena itu, pengulangan ayat
tersebut justru membuat pesan Al-Qur’an semakin kuat. Ia bukan sekadar
mengulang kalimat, tetapi mengulang peringatan setelah manusia dihadapkan
kepada bukti yang berbeda-beda.
Ketika Peringatan Datang
Berkali-kali
Para mufasir klasik memberikan
perhatian besar terhadap susunan dan keindahan bahasa Al-Qur’an. Pengulangan
dalam Surat Al-Mursalat dipahami dalam kaitannya dengan taukid, yaitu
penegasan yang kuat terhadap ancaman bagi mereka yang mendustakan kebenaran.
Yang menarik, setiap pengulangan
muncul setelah konteks pembicaraan yang berbeda.
Manusia diajak melihat tanda-tanda
kekuasaan Allah. Mereka diingatkan tentang penciptaan. Mereka dihadapkan pada
nasib orang-orang terdahulu yang mendustakan. Mereka diperingatkan tentang
bumi, gunung, kehidupan dan kematian, hingga hari ketika manusia tidak lagi
memiliki tempat untuk bersembunyi dari keputusan Allah.
Lalu kembali terdengar:
“Celakalah pada hari itu bagi
orang-orang yang mendustakan.”
Di sinilah kekuatan retorikanya
terasa.
Yang diulang memang kalimatnya,
tetapi konteks peringatannya berkembang. Seakan-akan setiap bukti melahirkan
satu pertanyaan baru kepada manusia: setelah melihat semua ini, apa lagi
yang membuatmu berpaling?
Al-Qur’an Mengetuk Hati yang Mulai
Lalai
Ada sesuatu yang sangat manusiawi
dalam pengulangan ini.
Manusia sering kali bukan tidak
mengetahui kebenaran. Masalahnya, manusia mudah lupa.
Kita tahu kematian itu pasti. Tetapi
kita sering hidup seolah-olah masih mempunyai waktu yang tidak terbatas.
Kita tahu rezeki berasal dari Allah.
Tetapi kita bisa begitu sibuk mengejar dunia hingga lupa bersyukur kepada-Nya.
Kita tahu shalat adalah kewajiban.
Tetapi kesibukan sering membuat kita menunda, melalaikan, bahkan merasa biasa
ketika kewajiban itu ditinggalkan.
Kita tahu halal dan haram. Tetapi
ketika kepentingan dunia berbicara lebih keras daripada suara iman, pengetahuan
itu terkadang tidak lagi menjadi pedoman.
Mungkin karena itulah peringatan
dalam Al-Mursalat terasa begitu kuat.
Allah tidak hanya memberi tahu.
Allah mengulanginya.
Seakan-akan hati manusia memang
perlu diketuk berkali-kali.
Dari Kaum Pendusta hingga Manusia
Modern
Pada masa turunnya Al-Qur’an, ayat
ini berbicara dengan sangat keras kepada orang-orang yang menolak kebenaran
yang dibawa Rasulullah ﷺ. Namun pesan Al-Qur’an tidak berhenti pada masyarakat
Arab abad ketujuh.
Ia berbicara kepada manusia
sepanjang zaman.
Pendustaan terhadap kebenaran dapat mengambil banyak
bentuk.
Tidak selalu berupa ucapan, “Saya tidak percaya kepada
Allah.”
Kadang-kadang pendustaan justru muncul dalam bentuk
kehidupan.
Seseorang mengetahui bahwa sesuatu itu haram, tetapi
tetap melakukannya karena keuntungan.
Seseorang mengetahui bahwa shalat
itu wajib, tetapi terus-menerus menundanya karena pekerjaan.
Seseorang membaca perintah Allah,
tetapi hanya mengambil bagian yang sesuai dengan keinginannya dan meninggalkan
bagian yang terasa berat.
Seseorang mengetahui bahwa dunia ini
sementara, tetapi seluruh hidupnya dihabiskan seolah-olah dunia adalah tujuan
terakhir.
Di sinilah ayat tersebut menjadi
sangat dekat dengan kita.
“Wailuy yauma’idzin lil-mukadzdzibīn.”
Jangan buru-buru menunjuk orang lain.
Mungkin ayat itu justru sedang
mengetuk pintu hati kita.
Sepuluh Ketukan untuk Kesadaran
Bayangkan jika setiap pengulangan
ayat itu menjadi satu ketukan.
Ketukan pertama mengingatkan kita
bahwa Allah adalah benar.
Ketukan berikutnya mengingatkan
bahwa kehidupan ini tidak berhenti pada dunia.
Ketukan berikutnya mengingatkan
bahwa kematian akan datang.
Ketukan berikutnya mengingatkan
bahwa manusia akan dibangkitkan.
Ketukan berikutnya mengingatkan
bahwa setiap amal akan diperhitungkan.
Ketukan berikutnya mengingatkan
bahwa kekayaan tidak dapat menyelamatkan orang yang jauh dari Allah.
Ketukan berikutnya mengingatkan
bahwa jabatan tidak akan kekal.
Ketukan berikutnya mengingatkan
bahwa kesenangan dunia akan berakhir.
Ketukan berikutnya mengingatkan
bahwa kesempatan bertobat tidak boleh disia-siakan.
Dan ketukan terakhir seakan berkata:
Jangan tunggu sampai hari keputusan
itu datang untuk menyadari bahwa selama ini kita sedang berjalan menuju
kepadanya.
Mengapa Hati Perlu Diperingatkan
Berulang Kali?
Hati manusia mudah berubah.
Hari ini kita bisa menangis ketika
mendengar ayat tentang kematian. Besok kita kembali tenggelam dalam kesibukan
dunia.
Hari ini kita berjanji untuk
memperbaiki shalat. Beberapa hari kemudian kita kembali lalai.
Hari ini kita merasa sangat dekat
dengan Allah. Beberapa waktu kemudian dunia kembali memenuhi hati kita.
Karena itu, nasihat yang baik bukan
hanya perlu didengar sekali.
Ia perlu diingat.
Ia perlu direnungkan.
Ia perlu diulang.
Bukan karena kebenaran itu lemah,
tetapi karena manusia sering lupa.
Al-Qur’an memahami manusia dengan
sangat dalam. Ia tidak hanya memberikan informasi kepada akal, tetapi juga
menggugah hati, mengguncang kesadaran, dan mengajak manusia berhenti dari
kelalaian.
Pengulangan “Wailuy yauma’idzin
lil-mukadzdzibīn” dapat kita rasakan sebagai salah satu bentuk kuatnya
peringatan tersebut.
Jangan Sampai Kita Menjadi Orang
yang Tahu, tetapi Tidak Tunduk
Ada bahaya yang lebih halus daripada
tidak mengetahui kebenaran.
Bahaya itu adalah mengetahui
kebenaran tetapi tidak mau tunduk kepadanya.
Ilmu bertambah, tetapi ketakwaan
tidak.
Pengetahuan agama bertambah, tetapi
kesombongan juga bertambah.
Ayat semakin banyak dibaca, tetapi
perilaku tidak berubah.
Ceramah semakin sering didengar,
tetapi hati semakin keras.
Kita harus berhati-hati.
Sebab tujuan ilmu dalam Islam bukan
sekadar membuat manusia mampu berbicara tentang kebenaran. Ilmu seharusnya
membawa manusia semakin mengenal Allah, semakin takut kepada-Nya, semakin
rendah hati, dan semakin taat.
Karena itu, ketika membaca Surat
Al-Mursalat dan sampai pada ayat yang berulang itu, mungkin pertanyaan yang
paling penting bukanlah:
“Mengapa ayat ini diulang sepuluh
kali?”
Tetapi:
“Mengapa setelah sepuluh kali
diperingatkan, hati saya masih belum berubah?”
Pertanyaan kedua jauh lebih berat.
Dan mungkin justru itulah pertanyaan
yang harus kita bawa pulang.
Jangan Menunggu Ketukan Terakhir
Dunia sering membuat manusia merasa
aman.
Kita memiliki rumah, pekerjaan,
tabungan, kendaraan, jabatan, keluarga, rencana, dan berbagai cita-cita. Semua
itu boleh dimiliki. Islam tidak melarang manusia menikmati karunia Allah.
Namun jangan sampai kenyamanan
membuat kita lupa bahwa semuanya sementara.
Ada kehidupan setelah kehidupan ini.
Ada hari ketika harta tidak lagi
menjadi kebanggaan.
Ada hari ketika jabatan tidak lagi
mempunyai arti.
Ada hari ketika manusia berdiri di
hadapan Rabb semesta alam.
Dan pada hari itu, yang kita
perlukan bukan lagi kesempatan untuk membeli waktu.
Kita membutuhkan amal.
Kita membutuhkan rahmat Allah.
Kita membutuhkan iman yang benar.
Maka selama napas masih diberikan,
jangan abaikan ketukan peringatan yang datang melalui Al-Qur’an.
Jika hari ini kita masih diberi
kesempatan untuk memperbaiki shalat, perbaikilah.
Jika masih ada dosa yang dapat
ditinggalkan, tinggalkanlah.
Jika masih ada kesalahan yang dapat
ditaubati, bertaubatlah.
Jika masih ada hak manusia yang
harus dikembalikan, kembalikanlah.
Jika masih ada orang tua yang dapat
kita bahagiakan, bahagiakanlah.
Jika masih ada kesempatan untuk
berbuat baik, jangan ditunda.
Karena kita tidak pernah tahu kapan
ketukan terakhir akan terdengar.
Sebuah Alarm Kasih Sayang
Sepuluh kali ayat itu bergema dalam Surat Al-Mursalat.
Sepuluh kali kita mendengar
peringatan tentang akibat mendustakan kebenaran.
Namun jangan hanya melihatnya
sebagai ancaman.
Lihatlah juga sebagai kesempatan
untuk sadar sebelum terlambat.
Allah memperingatkan manusia sebelum
hari keputusan datang. Al-Qur’an memberi tahu kita sebelum kematian menutup
kesempatan beramal. Peringatan itu sendiri adalah bentuk rahmat: manusia diberi
kesempatan untuk kembali.
Maka ketika membaca:
“Wailuy yauma’idzin
lil-mukadzdzibīn.”
jangan hanya bertanya, “Siapa yang
dimaksud oleh ayat ini?”
Tanyakan pula kepada diri sendiri:
“Apakah dalam hidup saya ada
kebenaran yang sudah saya ketahui, tetapi masih saya abaikan?”
Mungkin itulah rahasia terbesar dari
sepuluh kali pengulangan tersebut.
Bukan agar kita sibuk menghitung
berapa kali ayat itu disebut.
Tetapi agar setelah mendengarnya
berkali-kali, sekali saja hati kita benar-benar terbangun.
Sebab yang paling berbahaya bukanlah orang yang belum
pernah mendengar peringatan.
Yang paling mengkhawatirkan adalah orang yang sudah
berkali-kali mendengarnya, tetapi tetap memilih berjalan menuju arah yang sama.
Semoga gema peringatan Surat Al-Mursalat tidak berhenti
di telinga kita, tetapi turun ke hati, menggerakkan langkah, memperbaiki amal,
dan mengembalikan kita kepada Allah sebelum hari ketika semua alasan tidak lagi
berguna.
Aamiin ya Rabbal’alamiin.
Wallahu a’lam.
#SuratAlMursalat
#TadabburQuran
#AyatAlQuran
#DakwahIslam
#RenunganIslam

