Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 5 February 2026

He Left 30,000 Gold Dinars—What He Found 27 Years Later Changed History Forever


Medina, in the second century of the Hijrah, holds a quiet story about the true meaning of wealth.

In that city lived a Muslim soldier named Faruq. One morning, before the sun had climbed high and while the desert wind was still cool, he prepared to leave his home. The call to jihad was taking him far away, to the lands of Khurasan. At the threshold stood his wife, her belly heavy with child—late in pregnancy, carrying both fear and prayer in her heart.

Before departing, Faruq placed a leather pouch into his wife’s hands. It was heavy: thirty thousand gold dinars, a fortune that, by today’s measure, would be worth billions.

“Use this for your life and for our child,” he said softly. “Until I return.”

Faruq left, convinced his absence would be brief. But destiny had written another path. The journey would last not months, but twenty-seven years.

A few days after his departure, a baby boy was born. In the stillness of the night, the mother cradled him in her arms. By the dim glow of an oil lamp, she gazed at his tiny face and whispered within her heart:

This wealth will not be spent on luxury. I will spend it on knowledge, so that you may grow in the light of learning and faith.

And so the years passed. One by one, the dinars left the pouch—not for jewelry or grand houses, but for the finest teachers in Medina, for books of knowledge, and for a future unseen. The child learned without the burden of worldly concern, for his mother had carried that burden for him.

Time moved slowly, yet relentlessly. From a small boy named Rabiah, he grew into a young man, and then into a great scholar. His voice became known in the Prophet’s Mosque; his knowledge was respected, his character emulated. Students of knowledge gathered around him every day—among them Imam Malik ibn Anas.

Then, one afternoon, twenty-seven years later, Faruq returned to Medina.

His steps faltered as he entered the house he had left behind long ago. The walls were the same, but the air felt different. Inside stood a grown man, his gaze firm and commanding.

“Who are you?” Faruq demanded.

“And who dares enter my house?” the young man replied, equally wary. “I am the one who should ask—who are you, coming in here unannounced?”

Tension hung thick in the air, until an elderly woman emerged from behind the door. Time and long patience were etched upon her face. She looked at them both, then spoke with a trembling voice:

“He is my husband… and he is your son.”

The words fell like a breaking dam. Father and son stared at one another, then embraced tightly. No words could contain a longing stretched over twenty-seven years.

When the tears had subsided, Faruq remembered something he had carried in his heart all that time.

“Where are the thirty thousand dinars I left behind?” he asked quietly.

His wife smiled—a smile filled with serenity.

“I kept them in a safe place,” she said. “If you wish to see them, go now to the Prophet’s Mosque.”

Faruq went to the mosque. There he saw a scholar surrounded by students, imparting knowledge with wisdom and gentleness. His heart trembled. In that moment, he understood: this was his wealth.

Not gold.

Not dinars.

But knowledge—whose value increases the more it is shared.

For gold is exhausted when it is spent,

but knowledge lives on as long as it is taught.

And Allah knows best what is right.


#OneHealthFaith
#IslamicHistory
#KnowledgeOverWealth
#FaithBasedStory
#LegacyOfKnowledge

Virus Nipah: Ancaman Mematikan dari Kelelawar yang Mengintai Asia


Penyakit misterius yang menyebabkan demam dan sakit kepala serta berkembang cepat menjadi ensefalitis akut (dalam beberapa minggu sejak timbulnya gejala) memicu wabah dengan hampir 300 kasus yang dilaporkan dan lebih dari 100 kematian di Malaysia dan Singapura antara September 1998 hingga Mei 1999. Lebih dari 90% kasus tersebut berasal dari kontak dengan babi yang sakit.


Kultur jaringan sistem saraf pusat dari individu yang meninggal mengidentifikasi agen infeksius yang sebelumnya tidak dikenal. Pemeriksaan mikroskop elektron menunjukkan struktur yang konsisten dengan paramiksovirus, dan uji imunofluoresensi mengindikasikan virus yang berkerabat dengan virus Hendra—anggota famili Paramyxoviridae yang kini ditempatkan dalam genus Henipavirus.


Agen penyebab tersebut kemudian dinamai virus Nipah (NiV), diambil dari nama desa di Malaysia, Kampung Sungai Nipah.


Data awal menunjukkan bahwa kelelawar dari genus Pteropus merupakan reservoir virus Nipah di Malaysia. Sumber: CDC Public Health Image Library/Brian W. J. Mahy.

 

Bagaimana Virus Nipah Ditularkan?

Kelelawar pemakan buah, yang juga dikenal sebagai flying foxes, merupakan inang reservoir alami virus Nipah (NiV). Virus ini terdapat dalam urine, feses, dan air liur kelelawar. Pohon buah dapat menarik kelelawar dari habitat sekitarnya. Keberadaan kelelawar di pohon buah dapat menyebabkan kejadian spillover melalui kontaminasi lahan pertanian, tanah, atau buah.


Karena NiV dapat bertahan hidup dalam bahan yang kaya gula, seperti daging buah atau nira aren/kurma, konsumsi buah yang terkontaminasi dapat menyebabkan infeksi. Pada wabah tahun 1998 di Malaysia, buah-buahan yang sebagian dimakan oleh kelelawar yang terinfeksi virus kemudian dimakan oleh babi. Selanjutnya, para pekerja dan peternak babi terinfeksi setelah melakukan kontak erat dengan babi yang sakit.

 

Wabah Nipah di Masa Lalu dan Saat Ini

Beberapa negara telah melaporkan wabah NiV, termasuk Bangladesh, India, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Di India, wabah dilaporkan terjadi di negara bagian Benggala Barat (2001 dan 2007) serta Kerala (2018 dan 2021).


Pada tahun 2014, wabah Nipah di Singapura melibatkan 17 kasus antara Maret hingga Mei. Wabah ini dikaitkan dengan paparan terhadap kuda yang terinfeksi serta kontak dengan cairan tubuh kuda yang sakit selama proses penyembelihan dan/atau konsumsi daging kuda yang terkontaminasi atau kurang matang. Kasus penularan sekunder antarmanusia diduga terjadi akibat kurangnya langkah pencegahan yang memadai dan praktik pengendalian infeksi di rumah penderita serta di fasilitas pelayanan kesehatan.


Beberapa tahun kemudian, wabah Nipah kembali melanda Kerala, India pada tahun 2018 dengan 13 kasus dan 11 kematian. Bukti menunjukkan bahwa sumber wabah ini kemungkinan berasal dari paparan sekresi kelelawar saat aktivitas jelajah hutan, konsumsi buah yang telah digigit kelelawar, atau paparan terhadap kelelawar dan sekresinya yang mencemari sebuah sumur yang tidak digunakan.


Di Bangladesh, konsumsi nira kurma mentah yang terkontaminasi NiV dari ekskresi kelelawar merupakan faktor risiko utama penularan infeksi NiV dan telah menyebabkan wabah berulang. Wabah ini sering mengikuti pola musiman pada musim dingin dan semi (November hingga April), yang bertepatan dengan musim panen nira kurma.


Menurut laporan Maret 2023 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bangladesh Institute of Epidemiology, Disease Control and Research (IEDCR), wabah tahun 2023 telah mencatat 14 kasus dengan 10 kematian. Kasus telah dilaporkan di tujuh distrik di Bangladesh hingga saat ini, meskipun secara historis kasus telah dilaporkan di berbagai distrik di seluruh negeri.


Negara dengan wabah virus Nipah pada manusia yang pernah dilaporkan ditunjukkan dengan warna kuning. Negara tempat spesies kelelawar Pteropus diketahui atau diduga ada ditunjukkan dengan warna merah. Sumber: CDC.

 

Patogenesis dan Diagnosis

Virus Nipah (NiV) merupakan virus RNA beruntai tunggal, tidak bersegmen, dan beramplop. Genom RNA-nya terdiri atas enam gen, yaitu nukleokapsid (N), fosfoprotein (P), matriks (M), glikoprotein fusi (F), glikoprotein perlekatan (G), dan polimerase panjang (L). Protein F dan G berperan penting dalam proses perlekatan virus pada sel serta masuknya virus ke dalam sel inang.


Virus ini menginfeksi sel epitel saluran pernapasan dan sel endotel paru, kemudian masuk ke aliran darah dan menginfeksi berbagai organ, termasuk limpa, ginjal, dan otak. Masuknya virus ke sistem saraf pusat menyebabkan kerusakan sawar darah otak (blood–brain barrier), yang selanjutnya menimbulkan gejala neurologis.


Gejala infeksi NiV meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, gangguan pernapasan, kejang, penglihatan kabur, serta ensefalitis.

 


Citra mikroskop elektron transmisi virus Nipah yang diberi pewarnaan digital, diisolasi dari cairan serebrospinal (CSS) seorang pasien. Sumber: CDC Public Health Image Library/C. S. Goldsmith, P. E. Rollin.


Gejala infeksi virus Nipah (NiV) umumnya muncul dalam waktu 4–14 hari setelah paparan virus. Ensefalitis (pembengkakan otak) dapat menyusul gejala awal, yang menyebabkan kantuk, disorientasi, dan kebingungan mental, serta dapat dengan cepat berkembang menjadi koma dalam waktu 24–48 jam. Angka kematian akibat infeksi NiV berkisar antara 40–75%. Efek jangka panjang pada penyintas infeksi NiV meliputi kejang yang menetap dan perubahan kepribadian. Menariknya, infeksi dorman atau laten yang kemudian menimbulkan gejala atau menyebabkan kematian juga telah dilaporkan terjadi berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, setelah paparan.

Diagnosis infeksi NiV dapat dilakukan selama masa sakit maupun setelah pemulihan melalui berbagai uji laboratorium medis. Pemeriksaan laboratorium pada tahap awal infeksi dapat dilakukan dengan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) menggunakan usap tenggorok dan hidung, cairan serebrospinal, urine, serta darah. Pada akhir fase sakit dan setelah pemulihan, pemeriksaan tidak langsung untuk mendeteksi antibodi terhadap NiV dapat dilakukan dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).


Penetapan algoritme untuk diagnosis dini infeksi NiV merupakan tantangan karena gejala awal penyakit bersifat tidak spesifik. Salah satu pertimbangan penting adalah individu dengan gejala yang konsisten dengan infeksi NiV (misalnya demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorok, dan gangguan pernapasan lainnya) yang pernah berada di wilayah dengan kejadian virus Nipah yang lebih umum, seperti Bangladesh atau India—terutama jika terdapat riwayat paparan yang jelas. Deteksi dan diagnosis dini meningkatkan peluang kelangsungan hidup pasien serta membantu pencegahan penularan dan pengendalian wabah.

 

Pengobatan dan Kandidat Vaksin

Saat ini, belum tersedia pengobatan yang berlisensi untuk infeksi NiV. Penanganan pasien terbatas pada perawatan suportif, termasuk terapi simptomatik. Terapi imun (antibodi monoklonal) saat ini sedang dikembangkan dan dievaluasi untuk pengobatan infeksi NiV. Antibodi monoklonal m102.4 telah menyelesaikan uji klinis fase 1 dan telah digunakan dalam skema compassionate use. Selain itu, obat antivirus remdesivir terbukti efektif pada primata non-manusia ketika diberikan sebagai profilaksis pascapajanan. Efektivitas ribavirin terhadap NiV masih belum jelas, meskipun obat ini pernah digunakan untuk mengobati sejumlah kecil pasien pada wabah awal NiV di Malaysia.


Saat ini belum ada vaksin virus Nipah yang berlisensi di Amerika Serikat, namun penelitian dan pengembangan vaksin NiV masih terus berlangsung. Pada Juli 2022, National Institutes of Health (NIH) melaporkan uji klinis tahap awal untuk kandidat vaksin Nipah berbasis platform messenger RNA (mRNA) yang dikembangkan oleh Moderna, Inc., Cambridge, Massachusetts. Hasil uji klinis ini diharapkan tersedia setelah penelitian selesai; hingga kini belum ada hasil yang dipublikasikan.


Pada Desember 2022, sebuah publikasi di jurnal The Lancet melaporkan bahwa vaksin VSV-EBOV yang mengekspresikan glikoprotein G virus Nipah (VSV-NiVG) mampu menginduksi titer antibodi penetral yang tinggi dan memberikan perlindungan penuh terhadap tantangan homolog dan heterolog dengan virus Nipah genotipe Bangladesh dan Malaysia pada model monyet hijau Afrika. Temuan ini merupakan langkah yang menjanjikan dalam upaya pengembangan vaksin yang memberikan perlindungan luas terhadap NiV.

 

Pendekatan One Health

 



Pendekatan One Health mengakui adanya keterkaitan erat antara manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan tempat mereka hidup bersama. Sumber: CDC.


Setelah virus Nipah (NiV) pertama kali muncul pada babi di Malaysia pada tahun 1998, penularan dari babi ke manusia (zoonosis) yang berkaitan dengan ensefalitis demam berat mulai dilaporkan. Laporan-laporan tersebut memunculkan hipotesis bahwa penularan NiV terjadi melalui kontak erat dengan hewan yang terinfeksi. Meskipun wabah awal belum mengidentifikasi secara jelas hewan perantara, laporan-laporan yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa penularan NiV terutama terjadi dari kelelawar ke manusia serta dari manusia ke manusia.


Mengidentifikasi bagaimana virus baru muncul pada populasi yang sebelumnya belum pernah terpapar (naïve population) serta menentukan sumber penularannya sangat penting untuk memahami epidemiologi suatu penyakit; namun, hal ini merupakan tantangan yang sangat besar. Untuk memahami NiV, penting untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan kejadian spillover antarspesies serta mengkaji pola pergerakan kelelawar yang melintasi batas-batas alam lintas wilayah atau negara (misalnya perbatasan darat maupun perairan seperti sungai).


Virus Nipah telah dengan jelas menunjukkan kemampuannya berpindah dari satu spesies inang ke spesies lain, termasuk manusia. Oleh karena itu, penelitian dan pengendalian Nipah memerlukan pendekatan One Health, yakni pendekatan terpadu yang melibatkan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat yang lebih baik. Sangat penting bagi komunitas kesehatan masyarakat global, peneliti, dan tenaga kesehatan untuk bekerja sama secara interdisipliner di semua tingkat serta melampaui batas politik dan geografis guna mencegah penularan virus Nipah lebih lanjut.

 

SUMBER:

Priya Dhagat & Rodney E. Rohde. April 2023. What You Need to Know About Nipah Virus. https://asm.org/articles/2023/april/what-you-need-to-know-about-nipah-virus.


#VirusNipah
#ZoonosisMematikan
#OneHealth
#PenyakitMenular
#KesehatanGlobal


Wednesday, 4 February 2026

Ancaman Senyap Virus Nipah: Seberapa Siap Indonesia Hadapi Wabah Zoonosis Mematikan?

 


POLICY BRIEF

KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI ANCAMAN WABAH VIRUS NIPAH DI INDONESIA

 

Tanggal: 4 Februari 2026

Isu: Kesehatan Masyarakat & Penyakit Zoonosis

Pendekatan: One Health (Kesehatan Manusia–Hewan–Lingkungan)

 

RINGKASAN EKSEKUTIF

 

Wabah virus Nipah (NiV) yang kembali terjadi di India pada awal 2026 menjadi sinyal peringatan dini bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Dengan tingkat kematian pada manusia yang sangat tinggi (40–75%), ketiadaan vaksin dan pengobatan spesifik, serta karakter penularan yang melibatkan interaksi manusia–hewan–lingkungan, virus Nipah berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi yang signifikan bila tidak diantisipasi secara sistematis. Nipah sebagai salah satu dari 10 infeksi prioritas WHO.

 

Bagi Menteri, DPR, Pemerintah Daerah, dan Otoritas Veteriner, isu virus Nipah perlu diposisikan sebagai ancaman strategis kesehatan nasional berbasis zoonosis. Meskipun penularan antarmanusia relatif terbatas dan tidak seefisien COVID-19, risiko wabah sporadis lintas wilayah tetap nyata, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi, aktivitas peternakan intensif, serta kedekatan dengan habitat satwa liar. Policy brief ini menekankan urgensi penguatan kebijakan pencegahan, deteksi dini, dan kesiapsiagaan lintas sektor melalui pendekatan One Health.

 

LATAR BELAKANG MASALAH


Virus Nipah adalah virus zoonotik dari genus Henipavirus yang pertama kali menyebabkan wabah besar pada tahun 1998 di Malaysia. Virus ini menunjukan tropisme yang kuat di otak dan paru, sehingga dapat menimbulkan pneumonia berat dan ensefalitis. Keterlibatan sistem saraf pusat dapat menyebabkan berbagai gangguan neurologis, termasuk perubahan perilaku, penurunan fungsi kognitif, dan kejang.  Reservoir alaminya adalah kelelawar pemakan buah, dengan penularan yang dapat terjadi melalui:

  1. Kontak langsung dengan kelelawar pteropus yang banyak ditemukan di wilayah pedalaman Kalimantan dan Sumatera  atau dengan cairan tubuhnya.
  2. Konsumsi makanan yang terkontaminasi (misalnya nira atau jus kurma tidak dimasak).
  3. Penularan terbatas antarmanusia melalui kontak erat.

 

Wabah terbaru di India menegaskan kembali bahwa Asia merupakan wilayah berisiko tinggi akibat keberadaan reservoir alami virus, praktik konsumsi pangan tradisional tertentu, serta kepadatan penduduk yang tinggi.

 

ANALISIS RISIKO

 

Aspek Risiko

Uraian Risiko

Dampak Potensial

Risiko Kesehatan

Tingkat fatalitas sangat tinggi (40–75%) dengan dominasi gejala neurologis berat seperti ensefalitis.

Kematian tinggi, beban layanan kesehatan, dan keterbatasan kapasitas perawatan intensif.

Risiko Kesiapsiagaan

Keterbatasan kapasitas diagnostik cepat, termasuk RT-PCR, ELISA, kultur virus, dan uji netralisasi virus, terutama di tingkat lapangan dan fasilitas kesehatan primer. Selain itu, ketersediaan ruang isolasi dan unit perawatan intensif (ICU) masih sangat terbatas dan memerlukan penguatan..

Keterlambatan deteksi dini dan respons wabah.

Risiko Sosial-Ekonomi

Potensi kepanikan publik, gangguan perjalanan dan perdagangan, serta stigma wilayah terdampak.

Kerugian ekonomi, gangguan stabilitas sosial, dan menurunnya kepercayaan publik.

Risiko Lintas Sektor

Keterkaitan erat kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam penularan virus Nipah.

Kegagalan pengendalian bila tidak ada koordinasi lintas sektor.

 

TUJUAN KEBIJAKAN

 

  1. Memberikan dasar pertimbangan strategis bagi Menteri dan DPR dalam penetapan kebijakan nasional dan penganggaran terkait kesiapsiagaan penyakit zoonosis berisiko tinggi.
  2. Memperkuat peran Pemerintah Daerah dalam pencegahan, deteksi dini, dan respons awal terhadap potensi kasus virus Nipah.
  3. Mengoptimalkan fungsi Otoritas Veteriner dalam surveilans penyakit hewan, pengendalian risiko penularan, dan perlindungan kesehatan masyarakat.
  4. Mendorong koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah melalui pendekatan One Health.
  5. Melindungi masyarakat melalui komunikasi risiko yang efektif, proporsional, dan berbasis bukti ilmiah.

 

OPSI DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

 

Bidang Kebijakan

Rekomendasi Utama

Aktor Kunci

Manfaat Strategis

Surveilans Terpadu One Health

Integrasi surveilans manusia–hewan–lingkungan; pemantauan aktif virus Nipah pada kelelawar dan ternak; pelaporan cepat lintas wilayah.

Kemenkes, Kementan, KLHK, Pemda

Deteksi dini wabah dan pencegahan penyebaran lintas wilayah.

Kesiapsiagaan Sistem Kesehatan

Penguatan kapasitas laboratorium; pelatihan tenaga kesehatan; penerapan protokol kewaspadaan standar.

Kemenkes, RS Rujukan, Dinkes

Respons cepat dan penurunan risiko penularan di fasilitas kesehatan.

Pengendalian Risiko Lingkungan & Pangan

Edukasi konsumsi pangan aman; pengamanan pangan tradisional; pengelolaan habitat satwa liar.

Pemda, Otoritas Pangan, KLHK

Penurunan risiko paparan awal dari sumber zoonotik.

Komunikasi Risiko & Edukasi Publik

Informasi akurat dan proporsional; pelibatan tokoh masyarakat dan media berbasis sains.

Kemenkes, Kominfo, Media

Pencegahan kepanikan dan peningkatan kepatuhan masyarakat.

Riset & Kerja Sama Internasional

Dukungan riset terapi dan vaksin; berbagi data dan praktik terbaik secara regional.

BRIN, Kemenlu, Mitra Global

Peningkatan kesiapan jangka panjang dan kapasitas nasional.

 

IMPLIKASI KEBIJAKAN

 

Pendekatan reaktif semata tidak cukup menghadapi ancaman virus Nipah. Investasi berkelanjutan dalam pencegahan zoonosis, kesiapsiagaan wabah, dan pendekatan One Health akan memberikan manfaat jangka panjang dalam mencegah krisis kesehatan di masa depan.

 

KESIMPULAN

 

Wabah virus Nipah di India merupakan peringatan dini bagi Indonesia. Meski tidak berpotensi menjadi pandemi global seperti COVID-19, dampaknya dapat sangat fatal dan merugikan bila tidak ditangani secara serius. Kebijakan yang proaktif, terkoordinasi, dan berbasis sains menjadi kunci untuk melindungi kesehatan masyarakat dan menjaga ketahanan kesehatan regional.

 

Policy brief ini disusun sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan, otoritas kesehatan, dan pemangku kepentingan lintas sektor dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi penyakit zoonosis berisiko tinggi, sehingga Indonesia dapat lebih siap mengantisipasi ancaman tersebut dibandingkan pengalaman penanganan pandemi COVID-19.

 

REFERENSI ILMIAH & LAPORAN RESMI

 

1. WHO Report — Status Terkini Wabah Nipah (30 Jan 2026)

  • Dua kasus - konfirmasi oleh National Institute of Virology, Pune, India.
  • Lebih dari 190 kontak diuji dan semua negatif, menunjukkan wabah terkendali.
  • WHO menilai risiko moderate di tingkat sub-nasional dan low secara nasional, regional, dan global.

2. WHO Fact Sheet — Fakta Dasar Virus Nipah (29 Jan 2026)

  • Virus zoonotik dari genus Henipavirus, ditularkan dari hewan (terutama kelelawar buah) dan antar manusia melalui kontak erat.
  • Tingkat kematian diperkirakan antara 40 %–75 %.
  • Tidak ada vaksin atau terapi yang disetujui hingga saat ini; beberapa kandidat pengobatan sedang dalam pengembangan. Hanya dilakukan pengobatan suportif-simtomatik

3. Laporan Media tentang Tanggapan WHO & Risiko Penyebaran (Reuters, 30 Januari 2026)

  • WHO menyatakan risiko penyebaran virus Nipah dari India rendah dan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan setelah dua kasus dilaporkan, sekalipun beberapa negara tetangga meningkatkan skrining bandara sebagai langkah pencegahan.

4. Situasi di Asia & Respons Negara (Qoo Media, 28 Januari 2026)

  • Sejumlah negara Asia seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Hong Kong, Nepal, dan Tiongkok meningkatkan pemeriksaan kesehatan di pintu masuk dan pengawasan untuk mencegah masuk dan penyebaran virus Nipah setelah India mengonfirmasi dua kasus.

 

SUMBER: CSDS MITI


#VirusNipah

#OneHealth

#KesiapsiagaanWabah

#KesehatanMasyarakat

#Zoonosis

Policy Brief Bukan Milik Pemerintah: Siapa Sebenarnya yang Berhak Menulisnya?


 

Singkatnya: tidak ada satu pihak pun yang “paling berhak” atau diwajibkan secara eksklusif menulis policy brief. Namun, ada pihak-pihak yang lazim, relevan, dan memiliki legitimasi kuat untuk menulisnya.

1. Siapa yang berkewajiban menulis policy brief?

Secara formal, tidak ada kewajiban hukum umum bahwa policy brief harus ditulis oleh pihak tertentu. Namun dalam praktik kebijakan publik, policy brief biasanya disusun oleh:

  • Instansi pemerintah
    Kementerian/lembaga, pemerintah daerah, atau unit perumus kebijakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan.
  • Lembaga penelitian dan think tank
    Baik milik pemerintah maupun independen.
  • Perguruan tinggi dan pusat kajian
    Sebagai bagian dari evidence-based policy dan pengabdian kepada masyarakat.
  • Organisasi internasional dan LSM
    Terutama pada isu kesehatan, lingkungan, pangan, dan pembangunan.

Dalam konteks ini, “kewajiban” lebih bersifat institusional dan fungsional, bukan normatif atau hukum.

2. Apakah pakar di bidang tertentu dapat atau berhak menulis policy brief?

Ya, sangat bisa dan justru sangat dianjurkan.
Seorang pakar/ahli di bidang tertentu tidak hanya berhak, tetapi memiliki legitimasi keilmuan untuk menulis policy brief, dengan beberapa catatan penting:

a. Dasar legitimasi pakar

Pakar memiliki:

  • Keahlian substantif (subject-matter expertise)
  • Penguasaan bukti ilmiah dan data
  • Pemahaman risiko, dampak, dan implikasi kebijakan

Ini menjadikan policy brief yang ditulis lebih kredibel, tajam, dan berbasis bukti.

b. Tidak harus pejabat publik

Policy brief bukan produk regulasi, melainkan:

  • Dokumen rekomendasi kebijakan
  • Alat advokasi berbasis sains
  • Bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan

Karena itu, pakar independen, akademisi, atau praktisi tidak memerlukan jabatan struktural untuk menulisnya.

c. Batasan peran pakar

Pakar:

  • Memberi rekomendasi, bukan menetapkan kebijakan
  • Menyajikan opsi kebijakan dan konsekuensinya
  • Tetap harus menjaga objektivitas dan transparansi konflik kepentingan

3. Siapa yang paling ideal menulis policy brief?

Yang paling ideal adalah:

  • Pakar di bidang terkait
  • Bekerja secara kolaboratif dengan:
    • analis kebijakan,
    • pemangku kepentingan,
    • dan (jika memungkinkan) institusi pemerintah.

Kombinasi ini membuat policy brief:

  • ilmiah,
  • aplikatif,
  • dan relevan secara politis.

4. Kesimpulan ringkas

  • Policy brief bukan monopoli pemerintah
  • Pakar berhak dan layak menulis policy brief
  • Nilai policy brief ditentukan oleh kualitas analisis, bukti, dan relevansi, bukan oleh jabatan penulisnya


#PolicyBrief
#KebijakanPublik
#EvidenceBasedPolicy
#PeranPakar
#ThinkTank

Sunday, 1 February 2026

1,3 Miliar Ton Makanan Terbuang! Saat Dunia Kenyang, Jutaan Masih Kelaparan

 


Saat ratusan juta orang di dunia tidur dalam keadaan lapar, miliaran ton makanan justru berakhir di tempat sampah. Setiap suapan yang terbuang bukan sekadar sisa makan, melainkan simbol ketimpangan pangan global yang masih kita abaikan hingga hari ini.


Mengapa Setiap Butir Pangan Itu Berarti


Bayangkan bila setiap makanan yang dibuat di dunia bisa dimanfaatkan sepenuhnya. Sayangnya, kenyataannya sangat berbeda. Menurut laporan global dari badan-badan PBB, setiap tahun sekitar 1,3 miliar ton makanan yang layak dikonsumsi terbuang sia-sia — itu adalah sekitar sepertiga dari total produksi pangan dunia! Sementara itu, ratusan juta orang masih menghadapi kelaparan dan ketidakpastian tentang makanan setiap hari.

 

Sebuah kampanye global dari World Food Programme bahkan menekankan paradoks ini: cukup makanan yang hilang atau terbuang setiap tahun untuk memberi makan semua orang di dunia — namun satu dari sembilan orang masih tidur dengan perut kosong setiap malam.

 

Fenomena mubazir makanan bukan saja masalah “tidak enak dipandang”, tetapi berdampak luas terhadap:

  • Ketahanan pangan global — mengurangi pasokan makanan yang tersedia bagi mereka yang paling membutuhkan.
  • Lingkungan hidup — makanan yang terbuang menyia-nyiakan sumber alam seperti air, energi, dan lahan, serta berkontribusi pada emisi gas rumah kaca.
  • Ekonomi rumah tangga dan masyarakat — setiap makanan yang terbuang adalah biaya yang sia-sia.

 

Stop Membuang Makanan Secara Sia-sia!

 

Perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di rumah kita sendiri. Berikut beberapa cara mudah yang bisa kita lakukan:

1. Belilah Porsi Makanan yang Lebih Kecil

Banyak dari kita membeli atau menyajikan makanan lebih banyak dari yang bisa kita habiskan. Dengan memilih porsi sesuai kebutuhan, kita bisa secara langsung mengurangi jumlah sisa makanan yang tidak terpakai.

2. Jangan Sisakan Makanan di Piring Kita

Makan dengan sadar (mindful eating) dan habiskan apa yang sudah diambil. Sisanya sering berakhir di tempat sampah — padahal setiap kali kita membuang makanan, kita juga membuang tenaga, biaya, dan sumber daya yang dipakai untuk memproduksinya.

3. Berbagilah Makanan dengan Orang Lain

Jika kamu punya makanan lebih, sebarkan kepada tetangga, teman, atau mereka yang sedang membutuhkan. Aksi sederhana berbagi tak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menguatkan hubungan sosial dan membantu mengatasi rasa lapar di komunitas kita.

 

Lebih dari Sekadar Menghemat Makanan


Mengurangi pemborosan makanan bukan hanya soal efisiensi. Ini adalah ekspresi empati dan solidaritas, terutama di tengah ketimpangan akses pangan yang masih sangat nyata di banyak negara.

 

Bayangkan jika setiap keluarga dan komunitas berkomitmen untuk lebih bijak dalam mengelola makanan mereka — dampaknya tak hanya mengurangi jumlah pangan terbuang, tetapi juga membantu jutaan orang mendapatkan makanan yang mereka butuhkan setiap hari.

 

Ingat: setiap tindakan kita, betapapun kecil, memiliki energi kolektif yang besar — terutama jika dilakukan bersama-sama.

 

Sumber Referensi


  • Global food waste: sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahunnya — angka ini setara dengan sepertiga produksi pangan dunia.
  • Kampanye #StopTheWaste menunjukkan bahwa cukup makanan yang hilang/terbuang untuk memberi makan semua orang dunia, tetapi satu dari sembilan orang masih kelaparan.

 

#StopFoodWaste
#KetahananPangan
#AmankanPangan
#BerbagiMakanan
#PeduliSesama