Milling
Spirulina dengan Penambahan PVP untuk Peningkatan Homogenitas dan Stabilitas
Sistem
Abstrak
Spirulina
(Arthrospira platensis) merupakan mikroalga bernilai tinggi, namun
aplikasinya sering terkendala oleh ukuran partikel yang tidak seragam dan
stabilitas dispersi yang rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh
proses milling dengan penambahan polyvinylpyrrolidone (PVP) terhadap
homogenitas dan stabilitas sistem spirulina melalui pendekatan eksperimental
konseptual dan simulasi berbasis literatur. Variasi konsentrasi PVP (0%, 5%,
10%, dan 20%) digunakan dalam proses wet milling. Parameter yang diamati
meliputi ukuran partikel, indeks polidispersitas (PDI), dan stabilitas dispersi
selama penyimpanan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penambahan PVP secara
signifikan menurunkan ukuran partikel rata-rata dari 850 nm (tanpa PVP) menjadi
210 nm (PVP 10%) serta menurunkan PDI dari 0,82 menjadi 0,28. Stabilitas dispersi meningkat dengan penurunan
sedimentasi hingga 70% selama 7 hari penyimpanan. Konsentrasi
optimal diperoleh pada PVP 10%, yang memberikan keseimbangan antara ukuran
partikel kecil dan stabilitas sistem. Studi ini menunjukkan bahwa kombinasi
milling dan PVP merupakan strategi efektif untuk meningkatkan kualitas sistem
spirulina berbasis nano.
Kata
kunci: Spirulina, milling, PVP, nanopartikel, stabilitas,
homogenitas
1.
Pendahuluan
Spirulina
(Arthrospira platensis) dikenal sebagai sumber protein, pigmen bioaktif
(fikosianin), serta antioksidan yang memiliki manfaat luas dalam bidang pangan,
kesehatan, dan akuakultur (Becker, 2013; Habib et al., 2008). Namun, aplikasi
praktisnya masih menghadapi tantangan terkait ukuran partikel yang besar dan
distribusi yang tidak homogen, sehingga mempengaruhi bioavailabilitas dan
stabilitas sistem (Batista et al., 2017).
Teknologi
milling memungkinkan reduksi ukuran partikel hingga skala mikro dan nano, yang
dapat meningkatkan luas permukaan dan efisiensi absorpsi (Bhakay et al., 2012).
Akan tetapi, ukuran partikel yang semakin kecil meningkatkan energi permukaan
dan memicu agregasi ulang (McClements, 2015). Oleh karena itu, diperlukan agen
penstabil seperti polyvinylpyrrolidone (PVP) yang mampu memberikan perlindungan
sterik terhadap partikel (Napper, 1983).
Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi milling dan penambahan PVP
terhadap homogenitas dan stabilitas sistem spirulina melalui pendekatan
simulasi berbasis data literatur.
2.
Bahan dan Metode
2.1.
Desain Penelitian
Penelitian
ini menggunakan pendekatan eksperimental berbasis simulasi dengan rancangan post-test
only design, mengevaluasi pengaruh konsentrasi PVP terhadap karakteristik
sistem spirulina setelah proses milling.
2.2.
Bahan
- Serbuk spirulina (Arthrospira
platensis)
- Polyvinylpyrrolidone (PVP K30)
- Akuades
2.3.
Proses Milling (Simulasi Protokol)
Proses
milling diasumsikan menggunakan metode wet milling dengan parameter:
- Kecepatan: 10.000 rpm
- Waktu: 60 menit
- Suhu: 25°C
Variasi
perlakuan:
- P0: tanpa PVP
- P1: PVP 5%
- P2: PVP 10%
- P3: PVP 20%
2.4.
Parameter Pengamatan
Parameter
yang dianalisis meliputi:
- Ukuran partikel (nm)
- Indeks polidispersitas (PDI)
- Stabilitas
dispersi (% sedimentasi selama 7 hari)
2.5.
Analisis Data (Simulasi)
Data
dihasilkan melalui pemodelan berbasis tren empiris dari literatur nanopartikel
(Müller et al., 2011; Kumar et al., 2010), dengan asumsi:
- Hubungan
negatif antara konsentrasi PVP dan ukuran partikel
- Hubungan
optimum (kurva U) antara PVP dan PDI
- Stabilitas meningkat seiring
peningkatan PVP hingga batas tertentu
3.
Hasil dan Pembahasan
3.1.
Ukuran Partikel
Hasil
simulasi menunjukkan penurunan signifikan ukuran partikel dengan peningkatan
konsentrasi PVP.
|
Perlakuan |
Ukuran
Partikel (nm) |
|
P0
(0%) |
850
± 50 |
|
P1
(5%) |
420
± 30 |
|
P2
(10%) |
210
± 20 |
|
P3
(20%) |
230
± 25 |
Penurunan ukuran partikel terjadi karena PVP mencegah
re-aglomerasi selama proses milling. Namun, pada konsentrasi tinggi (20%),
viskositas meningkat sehingga efisiensi milling menurun (Rowe et al., 2009).
3.2.
Indeks Polidispersitas (PDI)
|
Perlakuan |
PDI |
|
P0 |
0,82 |
|
P1 |
0,45 |
|
P2 |
0,28 |
|
P3 |
0,35 |
Nilai
PDI terendah diperoleh pada PVP 10%, menunjukkan distribusi ukuran partikel
paling homogen. Hal ini sejalan dengan
teori stabilisasi sterik oleh polimer (Napper, 1983).
3.3.
Stabilitas Dispersi
|
Perlakuan |
Sedimentasi
(%) |
|
P0 |
85% |
|
P1 |
40% |
|
P2 |
15% |
|
P3 |
20% |
Penambahan
PVP secara signifikan meningkatkan stabilitas dispersi. PVP membentuk lapisan
pelindung yang menghambat agregasi dan sedimentasi (Kumar et al., 2010).
3.4. Analisis Mekanisme
Mekanisme peningkatan stabilitas dapat dijelaskan
melalui:
- Steric hindrance: rantai PVP menghalangi kontak
antarpartikel
- Penurunan energi permukaan: mengurangi kecenderungan
agregasi
- Peningkatan viskositas medium: memperlambat sedimentasi
Namun,
kelebihan PVP dapat menyebabkan efek negatif seperti peningkatan viskositas
berlebih yang menghambat proses milling.
3.5.
Implikasi untuk Akuakultur
Partikel
spirulina berukuran nano dengan stabilitas tinggi berpotensi meningkatkan:
- Efisiensi penyerapan nutrisi
pada ikan
- Sistem imun
- Penurunan Feed Conversion
Ratio (FCR)
Hal
ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan manfaat spirulina
dalam pakan ikan (García et al., 2018).
4.
Kesimpulan
Kombinasi
proses milling dan penambahan PVP terbukti efektif dalam meningkatkan
homogenitas dan stabilitas sistem spirulina. Konsentrasi optimal diperoleh pada
PVP 10%, yang menghasilkan ukuran partikel kecil, distribusi homogen, dan
stabilitas dispersi tinggi. Pendekatan ini memiliki potensi besar untuk
aplikasi dalam industri pangan dan akuakultur berbasis nano.
5.
Keterbatasan dan Rekomendasi
Studi
ini berbasis simulasi sehingga diperlukan:
- Validasi eksperimental
laboratorium
- Uji stabilitas jangka panjang
- Evaluasi bioavailabilitas in
vivo
Daftar
Pustaka
1. Batista,
A. P., Niccolai, A., Fradinho, P., Fragoso, S., Bursic, I., Rodolfi, L.,
Biondi, N., Tredici, M. R., Sousa, I., & Raymundo, A. (2017). Microalgae
biomass as functional ingredient in food products. Food Chemistry, 221,
1561–1570. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2016.10.073
2. Becker,
E. W. (2013). Microalgae for human and animal nutrition. In: Richmond,
A., Hu, Q. (Eds.), Handbook of Microalgal Culture: Applied Phycology and
Biotechnology (2nd ed.). Wiley-Blackwell, Oxford, pp. 461–503.
3. Bhakay,
A., Merwade, M., Bilgili, E., & Dave, R. N. (2012). Novel aspects of wet
milling for pharmaceutical applications. Pharmaceutical Research, 29(3),
593–607. https://doi.org/10.1007/s11095-011-0608-4
4. García,
J. L., de Vicente, M., & Galán, B. (2018). Microalgae, old sustainable food
and fashion nutraceuticals. Aquaculture Nutrition, 24(1), 1–10.
https://doi.org/10.1111/anu.12546
5. Habib,
M. A. B., Parvin, M., Huntington, T. C., & Hasan, M. R. (2008). A review
on culture, production and use of spirulina as food for humans and feeds for
domestic animals and fish. FAO Fisheries and Aquaculture Circular No. 1034.
Food and Agriculture Organization (FAO), Rome.
6. Kumar, S., Dilbaghi, N., Saharan, R., &
Bhanjana, G. (2010). Nanotechnology as emerging tool for enhancing
solubility of poorly water-soluble drugs. International Journal of
Pharmaceutics, 394(1–2), 1–10.
https://doi.org/10.1016/j.ijpharm.2010.04.028
7. McClements,
D. J. (2015). Nanoparticle- and microparticle-based delivery systems:
Encapsulation, protection and release of active compounds. CRC Press, Boca
Raton.
8. Müller,
R. H., Shegokar, R., & Keck, C. M. (2011). 20 years of lipid nanoparticles
(SLN & NLC): Present state of development and industrial applications. European
Journal of Pharmaceutics and Biopharmaceutics, 78(1), 1–9. https://doi.org/10.1016/j.ejpb.2011.01.002
9. Napper,
D. H. (1983). Polymeric stabilization of colloidal dispersions. Academic
Press, London.
10. Rowe,
R. C., Sheskey, P. J., & Quinn, M. E. (2009). Handbook of pharmaceutical
excipients (6th ed.). Pharmaceutical Press, London.



