Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 28 September 2026

3 Kebiasaan Sederhana yang Diam-Diam Menentukan Kesehatan Usus: Serat, Probiotik, dan Air Putih.

 

Zažívací potíže a špatné trávení: jak podpořit zdravé trávení a cítit se lépe | Alza.cz

 

ABSTRAK

 

Kesehatan usus merupakan bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Saluran pencernaan tidak hanya berfungsi mengolah makanan dan menyerap zat gizi, tetapi juga menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme yang berperan dalam metabolisme, pemeliharaan fungsi kekebalan tubuh, dan keseimbangan lingkungan usus. Infografis “Best 3 Tips for Gut Health” menyoroti tiga kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu meningkatkan konsumsi serat, mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik, dan mencukupi kebutuhan air putih. Ketiga kebiasaan tersebut memiliki mekanisme yang saling melengkapi. Serat membantu melancarkan buang air besar sekaligus menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme usus tertentu. Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan dalam jumlah dan kondisi yang sesuai. Sementara itu, air membantu mempertahankan keseimbangan cairan tubuh dan mendukung konsistensi tinja. Penerapan ketiganya secara teratur, disertai pola makan beragam dan gaya hidup sehat, dapat menjadi langkah praktis untuk memelihara kesehatan pencernaan.

 

Kata kunci: kesehatan usus, serat pangan, probiotik, mikrobiota usus, hidrasi.

 

1. PENDAHULUAN

 

Pernahkah kita mengalami perut terasa kembung, sulit buang air besar, atau merasa tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan tertentu? Keluhan semacam ini sering dianggap sebagai gangguan ringan yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, kebiasaan makan dan minum sehari-hari turut menentukan bagaimana sistem pencernaan bekerja.

 

Usus merupakan bagian penting dari saluran pencernaan yang menjalankan berbagai fungsi, mulai dari melanjutkan proses pencernaan, menyerap zat gizi dan air, hingga membantu mengatur pembuangan sisa makanan. Di dalam usus juga terdapat komunitas mikroorganisme yang dikenal sebagai mikrobiota usus. Komunitas ini terdiri atas bakteri, virus, jamur, dan mikroorganisme lainnya yang berinteraksi dengan makanan serta tubuh manusia.

 

Mikrobiota usus berperan dalam fermentasi komponen makanan yang tidak sepenuhnya dicerna oleh tubuh, menghasilkan senyawa metabolit tertentu, dan mendukung fungsi pertahanan tubuh. Komposisinya dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pola makan, lingkungan, usia, dan penggunaan obat-obatan. Oleh karena itu, kesehatan usus tidak cukup dipahami hanya sebagai keadaan ketika seseorang dapat buang air besar secara teratur. Kesehatan usus juga berkaitan dengan fungsi pencernaan dan keseimbangan ekosistem mikroorganisme di dalamnya (Harvard T.H. Chan School of Public Health, n.d.-a).

 

Kabar baiknya, menjaga kesehatan usus tidak selalu memerlukan produk mahal atau suplemen khusus. Infografis yang menjadi dasar artikel ini menawarkan tiga langkah praktis: memperbanyak serat, mengonsumsi probiotik, dan minum air yang cukup. Ketiganya dapat dimulai dari pilihan makanan dan minuman yang tersedia sehari-hari.

 

2. SERAT PANGAN: BAHAN PENTING UNTUK MELANCARKAN PENCERNAAN

 

Alimentos Fonte de Fibras: Como Garantir a Ingestão Adequada no Dia a Dia

        – Mahta

 

Serat pangan merupakan bagian dari bahan pangan nabati yang tidak sepenuhnya dicerna oleh enzim pencernaan manusia. Meskipun tidak memberikan energi dengan cara yang sama seperti karbohidrat yang mudah dicerna, serat mempunyai fungsi penting dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan.

 

Salah satu manfaat serat yang paling mudah dirasakan adalah membantu melancarkan buang air besar. Serat tidak larut, yang banyak ditemukan pada biji-bijian utuh, sayuran, dan kulit buah yang dapat dimakan, membantu menambah massa tinja sehingga lebih mudah bergerak melalui usus. Sementara itu, serat larut dapat menyerap air dan membentuk struktur menyerupai gel. Jenis serat ini dapat membantu melunakkan tinja serta memengaruhi penyerapan zat gizi tertentu.

 

Manfaat serat tidak berhenti pada kelancaran buang air besar. Sebagian serat dapat difermentasi oleh mikroorganisme di usus besar. Proses tersebut menghasilkan berbagai metabolit, termasuk asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids (SCFA). Senyawa seperti asetat, propionat, dan butirat terlibat dalam berbagai proses biologis, termasuk pemeliharaan lingkungan usus dan fungsi sel-sel yang melapisi usus.

 

Penelitian Lancaster et al. (2022) menunjukkan bahwa dampak serat terhadap mikrobiota dan penanda kesehatan manusia dapat berbeda menurut jenis serat, jumlah yang dikonsumsi, dan karakteristik individu. Temuan ini mengingatkan kita bahwa serat bukanlah satu zat tunggal dengan efek yang selalu sama. Keragaman sumber serat dalam makanan sehari-hari menjadi pendekatan yang masuk akal untuk memperoleh manfaat yang lebih luas.

 

Lalu, dari mana kita dapat memperoleh serat? Pilihannya cukup beragam. Oat, beras merah, roti gandum utuh, kacang-kacangan, lentil, sayuran, serta buah-buahan seperti apel, pir, dan pisang dapat menjadi bagian dari menu harian. Mengganti sebagian makanan berbahan tepung olahan dengan biji-bijian utuh atau menambahkan sayuran pada setiap waktu makan merupakan langkah sederhana yang mudah dilakukan.

 

Namun, peningkatan konsumsi serat sebaiknya dilakukan secara bertahap. Menambahkan serat dalam jumlah besar secara mendadak dapat menyebabkan gas dan perut kembung, terutama pada orang yang sebelumnya terbiasa mengonsumsi sedikit serat. Asupan cairan yang cukup juga perlu diperhatikan, khususnya ketika meningkatkan konsumsi serat.

 

Dengan demikian, pesan “eat more fiber” dalam infografis bukan sekadar anjuran untuk makan lebih banyak sayuran. Pesan tersebut mengajak kita membangun pola makan yang lebih beragam, mengutamakan bahan pangan nabati, dan memberikan kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beradaptasi.

 

3. PROBIOTIK: MIKROORGANISME HIDUP YANG MENDUKUNG KESEHATAN USUS

 

Thực phẩm lên men có lợi gì cho sức khỏe tim mạch? - Phòng khám Siêu âm Tim mạch BS Phạm Xuân Hậu

 

Jika serat merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme tertentu di dalam usus, probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang memadai dan sesuai dengan kondisi penggunaannya. Definisi ini penting karena tidak semua mikroorganisme, makanan fermentasi, atau produk yang dipasarkan sebagai probiotik otomatis memberikan manfaat kesehatan yang sama.

 

Di dalam saluran pencernaan, mikroorganisme berinteraksi dengan makanan, sel-sel usus, dan mikroorganisme lainnya. Sejumlah mikroorganisme yang bermanfaat dapat membantu mempertahankan keseimbangan komunitas mikroba, mendukung fungsi penghalang usus, serta memengaruhi proses metabolisme. Namun, efek tersebut bergantung pada jenis dan galur mikroorganisme, jumlah yang dikonsumsi, serta kondisi kesehatan seseorang (National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements, n.d.).

 

MAKANAN APA SAJA YANG MENGANDUNG PROBIOTIK?

 

Probiotik dapat ditemukan pada sejumlah makanan fermentasi. Beberapa contohnya adalah yoghurt, kefir, dan produk fermentasi tertentu yang mengandung mikroorganisme hidup. Dalam konteks pangan Indonesia, tempe juga menarik untuk diperhatikan sebagai produk fermentasi kedelai yang memiliki nilai gizi dan menjadi sumber protein nabati.

 

Meskipun demikian, makanan fermentasi tidak selalu identik dengan probiotik. Proses fermentasi dapat melibatkan mikroorganisme yang berbeda-beda, sedangkan pemanasan atau pasteurisasi setelah fermentasi dapat mengurangi atau menghilangkan mikroorganisme hidup. Karena itu, jenis produk, proses pengolahan, dan keberadaan kultur hidup perlu diperhatikan ketika memilih makanan yang ditujukan sebagai sumber probiotik (Marco et al., 2021; Harvard T.H. Chan School of Public Health, n.d.-b).

 

Bagi kebanyakan orang yang sehat, memulai kebiasaan mengonsumsi makanan fermentasi yang sesuai dengan kebutuhan dan toleransi tubuh dapat menjadi pilihan praktis. Yoghurt tanpa tambahan gula berlebihan, misalnya, dapat dikombinasikan dengan buah dan oat untuk menghasilkan makanan yang menyediakan protein, serat, dan kultur mikroorganisme hidup apabila produk tersebut memang mengandung kultur aktif.

 

Akan tetapi, terdapat hal yang perlu dipahami: mengonsumsi probiotik tidak berarti semua masalah pencernaan akan otomatis teratasi. Bukti ilmiah mengenai manfaat probiotik berbeda-beda menurut galur mikroorganisme dan kondisi yang diteliti. Suplemen probiotik juga tidak selalu diperlukan oleh setiap orang sehat. Harvard T.H. Chan School of Public Health (2025) menekankan bahwa bukti mengenai manfaat suplemen probiotik masih bervariasi, sehingga pemilihannya perlu mempertimbangkan tujuan penggunaan dan bukti klinis yang relevan.

 

Dengan demikian, pesan “eat probiotic” sebaiknya dipahami sebagai ajakan untuk mengenali dan memilih makanan yang mengandung mikroorganisme hidup yang sesuai, bukan dorongan untuk mengonsumsi suplemen sebanyak-banyaknya.

 

4. AIR PUTIH: MENJAGA KESEIMBANGAN CAIRAN DAN MEMBANTU KERJA SERAT

 

Il soft reset comincia da un bicchiere d’acqua

 

Air putih sering dianggap sebagai bagian paling sederhana dari pola hidup sehat. Kita meminumnya ketika merasa haus, setelah beraktivitas, atau saat cuaca panas. Namun, kecukupan cairan juga penting bagi fungsi saluran pencernaan, terutama dalam membantu mempertahankan konsistensi tinja dan mendukung kerja serat pangan.

 

Serat tertentu mampu menyerap air. Ketika asupan serat meningkat, kecukupan cairan membantu serat menjalankan fungsinya dengan lebih baik. Kombinasi keduanya dapat membantu menghasilkan tinja yang lebih lunak dan lebih mudah dikeluarkan. Sebaliknya, kekurangan cairan dapat berkontribusi terhadap terjadinya konstipasi atau sembelit.

 

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menganjurkan konsumsi cairan yang cukup, terutama ketika seseorang meningkatkan asupan serat, untuk membantu melunakkan tinja dan mempermudah proses buang air besar.

 

Namun, anjuran untuk minum lebih banyak air tidak berarti setiap orang harus mengonsumsi volume yang sama. Kebutuhan cairan dipengaruhi oleh usia, ukuran tubuh, tingkat aktivitas, kondisi kesehatan, suhu lingkungan, serta kehilangan cairan melalui keringat. Orang yang memiliki kondisi medis tertentu, seperti penyakit ginjal atau jantung, mungkin perlu mengikuti pembatasan cairan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

 

Air putih dapat dijadikan pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Membiasakan diri menyediakan air minum saat bekerja, membawa botol minum ketika bepergian, dan minum secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kecukupan cairan.

 

Hal yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa air putih bukan obat untuk semua gangguan pencernaan. Minum dalam jumlah berlebihan tidak otomatis membuat usus lebih sehat. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan cairan tubuh, bukan memaksakan konsumsi air di luar kebutuhan.

 

5. SERAT, PROBIOTIK, DAN AIR PUTIH: TIGA KEBIASAAN YANG SALING MELENGKAPI

 

Ketiga anjuran dalam infografis tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tetapi dapat diterapkan secara bersamaan. Serat membantu memperbaiki karakteristik tinja dan menjadi substrat bagi mikroorganisme tertentu. Makanan yang mengandung probiotik dapat menyediakan mikroorganisme hidup yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan. Sementara itu, air membantu mempertahankan hidrasi dan mendukung fungsi serat dalam saluran pencernaan.

 

Hubungan antara serat dan mikrobiota usus juga menjelaskan mengapa pola makan tidak cukup dinilai hanya dari jumlah kalori. Jenis makanan yang dikonsumsi ikut menentukan zat yang tersedia bagi mikroorganisme di dalam usus. Beragam bahan pangan nabati menyediakan beragam jenis serat, sehingga pola makan yang bervariasi dapat memberikan substrat bagi komunitas mikroba yang berbeda.

 

Penelitian Lancaster et al. (2022) memperlihatkan bahwa jenis serat yang berbeda dapat menghasilkan respons biologis yang berbeda pula. Karena itu, pendekatan yang mengutamakan keragaman pangan lebih relevan daripada hanya mengandalkan satu jenis serat atau satu produk tertentu.

 

Di sisi lain, mengonsumsi makanan probiotik tanpa memperhatikan keseluruhan pola makan juga bukan jaminan kesehatan usus. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi serat, membatasi makanan ultra-proses yang berlebihan, mencukupi cairan, dan melakukan aktivitas fisik secara teratur merupakan bagian dari pendekatan yang lebih menyeluruh.

 

Penting pula untuk menghindari anggapan bahwa mikrobiota usus yang sehat harus memiliki komposisi yang persis sama pada setiap orang. Komunitas mikroorganisme setiap individu memiliki karakteristik tersendiri. Tujuan pola hidup sehat bukanlah mengejar satu komposisi mikrobiota yang dianggap ideal untuk semua orang, melainkan mendukung fungsi pencernaan dan kesehatan tubuh melalui kebiasaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

 

6. CARA PRAKTIS MENERAPKAN TIGA TIPS DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 

Ketiga tips dalam infografis dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan yang sederhana dan realistis. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih mudah dipertahankan daripada perubahan besar yang hanya berlangsung beberapa hari.


Understanding and relieving bloating | TISSO Natural Products

 

Pagi: mulai dengan sumber serat

Sarapan dengan oat, roti gandum utuh, atau buah. Tambahkan air putih sesuai kebutuhan tubuh.


7 chiêu ăn cơm trắng giảm cân cho nàng công sở

 

Siang: lengkapi menu dengan sayuran

Pilih menu yang memadukan sumber karbohidrat, protein, dan sayuran. Tempe dapat menjadi salah satu pilihan protein nabati.


Creamy Greek Yogurt Bowl with Sliced Banana and Frozen Berries

 

Sore: pilih makanan fermentasi

Yoghurt dengan kultur hidup dapat menjadi pilihan selingan, jika sesuai dengan toleransi tubuh.


Obiceiuri de dimineață care te ajută la slăbit

 

Sepanjang hari: cukupi cairan dan bergerak

Minum secara berkala, sesuaikan dengan aktivitas dan kondisi tubuh, serta sempatkan berjalan kaki atau melakukan aktivitas fisik.

 

Penerapan kebiasaan tersebut tidak harus dilakukan secara sempurna sejak hari pertama. Jika sebelumnya jarang mengonsumsi sayuran dan buah, mulailah dengan menambah satu porsi. Jika belum terbiasa makan biji-bijian utuh, gantilah sebagian sumber karbohidrat secara bertahap. Jika ingin mengonsumsi yoghurt atau makanan fermentasi, pilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan toleransi tubuh.

 

Bagi orang yang memiliki sindrom iritasi usus (irritable bowel syndrome), penyakit pencernaan tertentu, intoleransi terhadap bahan pangan tertentu, atau sedang menjalani diet khusus, pilihan dan jumlah serat maupun makanan fermentasi mungkin perlu disesuaikan. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan pendekatan yang tepat.

 

7. HAL YANG PERLU DIWASPADAI

 

Meskipun tiga kebiasaan ini umumnya dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

 

Pertama, peningkatan serat secara mendadak dapat menyebabkan kembung, gas, atau rasa tidak nyaman. Penambahan secara bertahap memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi.

 

Kedua, produk yang mencantumkan kata “probiotik” belum tentu memiliki manfaat klinis yang telah terbukti untuk semua kondisi. Efek probiotik bersifat spesifik terhadap galur dan tujuan penggunaannya. Suplemen sebaiknya tidak digunakan sembarangan, terutama pada orang dengan gangguan kekebalan tubuh atau kondisi medis kompleks.

 

Ketiga, kebutuhan cairan setiap orang berbeda. Anjuran umum untuk mencukupi cairan perlu disesuaikan pada orang yang mempunyai pembatasan cairan berdasarkan kondisi medis.

 

Keempat, perubahan pola makan bukan pengganti pemeriksaan medis apabila terdapat gejala yang mengkhawatirkan. Sembelit yang menetap, darah dalam tinja, nyeri perut yang terus-menerus, muntah, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas memerlukan perhatian medis. NIDDK menyarankan pemeriksaan apabila konstipasi tidak membaik dengan perawatan mandiri atau disertai tanda bahaya tertentu.


8. KESIMPULAN

 

Kesehatan usus merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Infografis “Best 3 Tips for Gut Health” menyampaikan tiga pesan sederhana yang memiliki dasar ilmiah dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari: memperbanyak serat, memilih makanan yang mengandung probiotik, dan mencukupi kebutuhan air putih.

 

Serat membantu melancarkan buang air besar sekaligus menyediakan bahan yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme tertentu di usus. Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan dalam kondisi dan jumlah yang sesuai. Air putih membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh serta mendukung fungsi serat dalam proses pencernaan.

 

Ketiganya bukan solusi instan untuk seluruh gangguan pencernaan, tetapi merupakan bagian dari pola hidup sehat yang lebih luas. Keragaman makanan, peningkatan serat secara bertahap, kecukupan cairan, aktivitas fisik, dan perhatian terhadap gejala yang tidak biasa merupakan langkah yang saling melengkapi.

 

Pada akhirnya, menjaga kesehatan usus tidak harus dimulai dari perubahan yang rumit. Kita dapat memulainya dengan memilih makanan yang lebih beragam, menambahkan sayuran dan buah ke dalam menu, mengonsumsi makanan fermentasi yang sesuai, serta membiasakan diri minum air putih secara cukup. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi fondasi penting bagi kesehatan pencernaan dalam jangka panjang.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Harvard T.H. Chan School of Public Health. (n.d.-a). The microbiome. The Nutrition Source. https://nutritionsource.hsph.harvard.edu/microbiome/ 

 

Harvard T.H. Chan School of Public Health. (n.d.-b). Probiotics for gut health. The Nutrition Source. https://nutritionsource.hsph.harvard.edu/probiotics/ 

 

Harvard T.H. Chan School of Public Health. (n.d.-c). Fiber. The Nutrition Source. https://nutritionsource.hsph.harvard.edu/carbohydrates/fiber/ 

 

Harvard Health Publishing. (2025, November 24). How to feed your gut. Harvard Medical School. https://www.health.harvard.edu/digestive-health/how-to-feed-your-gut 

 

Lancaster, S. M., Lee-McMullen, B., Abbott, C. W., Quijada, J. V., Hornburg, D., Park, H., Perelman, D., Peterson, D. J., Tang, M., Robinson, A., Ahadi, S., Contrepois, K., Hung, C. J., Ashland, M., McLaughlin, T., Boonyanit, A., Horning, A., Snyder, M. P., & Sonnenburg, J. L. (2022). Global, distinctive, and personal changes in molecular and microbial profiles by specific fibers in humans. Cell Host & Microbe. https://doi.org/10.1016/j.chom.2022.03.036 

 

Marco, M. L., Sanders, M. E., Gänzle, M., Arrieta, M. C., Cotter, P. D., De Vuyst, L., Hill, C., Holzapfel, W., Lebeer, S., Merenstein, D., Reid, G., Wolfe, B. E., & Hutkins, R. (2021). The International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) consensus statement on fermented foods. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 18, 196–208. https://doi.org/10.1038/s41575-020-00390-5 

 

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (n.d.). Eating, diet, & nutrition for constipation. National Institutes of Health. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/constipation/eating-diet-nutrition 

 

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (n.d.). Symptoms & causes of constipation. National Institutes of Health. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/constipation/symptoms-causes 

 

National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. (n.d.). Probiotics: Fact sheet for consumers. https://ods.od.nih.gov/factsheets/Probiotics-Consumer/ 

 

#KesehatanUsus

#Serat

#Probiotik

#AirPutih

#Mikrobiota

Standar ISO Nanoteknologi 2026 Terbaru: Inilah Perubahannya untuk Kesehatan Hewan dan Medis!

 



Perkembangan Terkini Standar ISO Nanoteknologi dalam Bidang Kesehatan Hewan dan Medis: Karakterisasi Nano-Objek, Biosafety, Toksikologi, dan Harmonisasi Regulasi hingga 2026

 

ABSTRAK

 

Nanoteknologi telah berkembang menjadi salah satu platform penting dalam inovasi kesehatan manusia dan kedokteran hewan melalui pemanfaatan material dengan karakteristik pada skala nano. Sifat fisikokimia yang bergantung pada ukuran, luas permukaan tinggi, kemampuan membawa molekul aktif, serta kemampuan berinteraksi dengan sistem biologis menjadikan nanomaterial berpotensi digunakan dalam penghantaran obat, vaksin, diagnostik molekuler, biosensor, pencitraan, terapi bertarget, rekayasa jaringan, dan berbagai aplikasi biomedis lainnya. Namun, karakteristik yang memberikan keunggulan tersebut sekaligus dapat menghasilkan pola distribusi, degradasi, bioakumulasi, dan toksisitas yang berbeda dari material berukuran makro atau mikro.


Artikel ini bertujuan mengkaji perkembangan standardisasi internasional nanoteknologi yang relevan terhadap kesehatan hewan dan medis hingga September 2026, dengan fokus pada ISO/TC 229 Nanotechnologies dan keterkaitannya dengan ISO/TC 194 Biological and clinical evaluation of medical devices. Metodologi yang digunakan berupa telaah dokumen standar dan kajian literatur terhadap standar ISO yang telah diterbitkan, standar yang sedang dikembangkan, serta literatur ilmiah dan dokumen regulator terkait. Perhatian khusus diberikan pada ISO 80004-1:2023 mengenai kosakata inti nanoteknologi, ISO/TR 13014:2012 mengenai karakterisasi fisikokimia nanomaterial untuk penilaian toksikologi, ISO 21362:2026 mengenai analisis nano-objek menggunakan field-flow fractionation, ISO/TS 20787:2017 mengenai toksisitas akuatik menggunakan Artemia sp. nauplii, ISO/TS 23359:2025 mengenai karakterisasi kimia material 2D terkait grafena, ISO/TS 9651:2025 mengenai klasifikasi material 2D terkait grafena, serta ISO/TS 12901-2:2026 mengenai control banding untuk pengelolaan risiko pajanan kerja terhadap nano-objek.


Hasil kajian menunjukkan bahwa standardisasi nanoteknologi telah bergeser dari harmonisasi terminologi menuju sistem yang lebih terintegrasi meliputi identitas material, karakterisasi ukuran dan distribusi ukuran, komposisi kimia, sifat permukaan, agregasi/aglomerasinya, toksikologi, paparan pekerja, risiko lingkungan, serta evaluasi produk. Dalam konteks perangkat medis, ISO/TR 10993-22:2017 memberikan kerangka khusus untuk evaluasi biologis perangkat medis yang mengandung, menghasilkan, atau tersusun atas nanomaterial, sementara ISO 10993-1:2025 memperkuat pendekatan evaluasi biologis dalam kerangka manajemen risiko.


Dalam kesehatan hewan, penerapan prinsip-prinsip tersebut relevan untuk pengembangan nanovaksin, sistem penghantaran obat, diagnostik, antimikroba, nutrisi, serta pengendalian paparan lingkungan dan residu. Pendekatan One Health menjadi semakin penting karena risiko nanomaterial pada hewan tidak hanya menyangkut keamanan pasien hewan, tetapi juga pekerja, konsumen produk pangan asal hewan, mikroorganisme lingkungan, dan ekosistem. Dengan demikian, perkembangan standar ISO hingga 2026 menunjukkan semakin kuatnya kebutuhan terhadap pendekatan berbasis karakterisasi, critical quality attributes, paparan, hazard identification, dan risk management sepanjang siklus hidup produk nano.


Kata kunci: nanoteknologi, ISO/TC 229, nanomaterial, kesehatan hewan, nanomedisin, biosafety, toksikologi, ISO 21362, One Health.

 

1. PENDAHULUAN

 

Nanoteknologi merupakan bidang multidisiplin yang berfokus pada pemahaman dan pengendalian materi serta proses pada skala nano, ketika fenomena yang bergantung pada ukuran dapat menghasilkan sifat yang berbeda dari material dalam bentuk massalnya. ISO/TC 229 menggunakan konsep skala nano sebagai bagian penting dalam ruang lingkup standardisasinya dan mengembangkan standar yang mencakup terminologi, metrologi, metode pengujian, karakterisasi, spesifikasi material, serta aspek kesehatan, keselamatan, dan lingkungan.


Dalam bidang kesehatan, perubahan ukuran partikel dapat memengaruhi kelarutan, luas permukaan, stabilitas, distribusi biologis, interaksi dengan membran sel, protein corona, internalisasi seluler, serta jalur eliminasi. Oleh karena itu, ukuran bukan sekadar parameter fisik, tetapi dapat menjadi critical quality attribute yang berhubungan dengan keamanan dan performa produk. FDA, misalnya, menekankan bahwa ukuran dan distribusi ukuran nanomaterial perlu dikaitkan dengan atribut mutu, keamanan, dan efektivitas produk yang dikembangkan.


Dalam kedokteran manusia, platform nano telah digunakan dan dikembangkan untuk drug delivery, diagnostik, pencitraan, terapi bertarget, rekayasa jaringan, serta sistem theranostic. Literatur terbaru menunjukkan bahwa liposom, nanopartikel polimer, nanopartikel protein, dendrimer, material berbasis logam, karbon, dan material hibrida memiliki potensi meningkatkan bioavailability, mengendalikan pelepasan zat aktif, dan meningkatkan penghantaran ke jaringan sasaran.


Kecenderungan yang sama berkembang dalam kedokteran hewan. Nanoteknologi digunakan dalam pengembangan vaksin, penghantaran obat dan gen, diagnostik, nutrisi, serta teknologi antimikroba. Kajian tentang nanovaksin veteriner menunjukkan bahwa nanopartikel dapat mendukung pengambilan antigen oleh sel penyaji antigen, aktivasi sel B, dan distribusi antigen menuju jaringan limfoid. Literatur veteriner mutakhir juga menempatkan nanomedisin hewan dalam perspektif One Health karena teknologi tersebut mempunyai hubungan dengan keamanan hewan, kesehatan manusia, lingkungan, dan pengembangan teknologi translasi.


Namun, keunggulan biologis nanomaterial sekaligus menciptakan tantangan. Dua material dengan komposisi kimia sama dapat menghasilkan respons biologis berbeda apabila ukuran, morfologi, muatan permukaan, luas permukaan spesifik, agregasi, pelapisan, atau bentuk kristalnya berbeda. Karena itu, evaluasi keamanan tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan identitas kimia material.


Dalam konteks tersebut, standardisasi internasional menjadi penting. ISO/TC 229, yang dibentuk pada 2005, telah mengembangkan standar untuk terminologi, pengukuran dan karakterisasi, aspek kesehatan-keselamatan-lingkungan, spesifikasi material, serta produk dan aplikasi. Pada 2026, ISO mencatat 118 standar ISO yang telah diterbitkan dan 36 standar yang sedang dikembangkan dalam ISO/TC 229, meskipun angka tersebut mencakup pembaruan dan seluruh ruang lingkup nanoteknologi, bukan hanya bidang kesehatan.


Dengan demikian, perkembangan standardisasi tidak dapat dipandang sebagai penyusunan satu “standar nanomedis” tunggal. Sistemnya lebih menyerupai ekosistem standar yang saling melengkapi: terminologi → karakterisasi → pengukuran → toksikologi → paparan → manajemen risiko → spesifikasi material → evaluasi produk.

 

2. METODOLOGI

 

2.1 Desain kajian


Artikel ini menggunakan pendekatan narrative review berbasis telaah dokumen standar (standards-based review). Kajian difokuskan pada perkembangan standardisasi internasional yang mempunyai relevansi langsung atau tidak langsung terhadap kesehatan hewan, kedokteran manusia, farmasi, perangkat medis, toksikologi, biosafety, dan lingkungan.


2.2 Sumber informasi

Sumber utama terdiri atas:

  1. katalog dan laman resmi ISO/TC 229;
  2. dokumen standar ISO yang telah diterbitkan;
  3. dokumen ISO yang sedang dikembangkan;
  4. standar ISO/TC 194 yang berkaitan dengan evaluasi biologis perangkat medis;
  5. dokumen regulator, terutama FDA dan EMA;
  6. artikel ilmiah peer-reviewed mengenai nanomedisin dan nanoteknologi veteriner.

Prioritas diberikan kepada dokumen resmi ISO untuk menentukan status, tahun penerbitan, ruang lingkup, dan nomor standar. Literatur ilmiah digunakan untuk memberikan konteks aplikasi biomedis dan veteriner.


2.3 Kriteria analisis


Setiap standar dianalisis berdasarkan:

  • identitas dan terminologi nanomaterial;
  • ukuran dan distribusi ukuran;
  • morfologi;
  • komposisi kimia;
  • sifat permukaan;
  • agregasi dan aglomerasi;
  • stabilitas;
  • metode pengujian;
  • toksisitas;
  • paparan manusia;
  • risiko lingkungan;
  • relevansi terhadap produk medis;
  • relevansi terhadap kesehatan hewan;
  • keterkaitan dengan prinsip One Health.


2.4 Pembaruan status standar

Status standar ditentukan berdasarkan katalog ISO yang tersedia hingga September 2026. Hal ini penting karena beberapa dokumen telah mengalami revisi, penggantian, konfirmasi, atau perubahan status.

Sebagai contoh, ISO/TS 21362:2018 telah ditarik dan digantikan oleh ISO 21362:2026, yang diterbitkan pada Februari 2026.

 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1 Evolusi standardisasi ISO/TC 229


ISO/TC 229 tidak hanya mengembangkan standar untuk menentukan apakah suatu material berukuran nano, tetapi membangun infrastruktur standardisasi yang memungkinkan material tersebut dapat dibandingkan, diukur, diuji, dan dinilai risikonya secara konsisten.


Struktur ISO/TC 229 hingga 2026 mencakup:


Kelompok

Fokus utama

JWG 1

Terminology and nomenclature

JWG 2

Measurement and characterization bersama IEC/TC 113

WG 3

Health, Safety and Environmental Aspects

WG 4

Material specifications

WG 5

Products and Applications

AHG 1

Advanced materials

AHG 2

Nano-bio

TG 2

Sustainability, consumer and societal dimensions

TG 4

Nano-bio


Struktur tersebut menunjukkan bahwa aspek kesehatan bukan berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan pengukuran, karakterisasi, spesifikasi material, aplikasi produk, serta keberlanjutan.

Pada 2025, ANSI menandai 20 tahun aktivitas ISO/TC 229 dan menegaskan bahwa komite tersebut telah mengembangkan standar yang mencakup terminologi, pengukuran dan karakterisasi, keberlanjutan, dimensi konsumen dan masyarakat, aspek kesehatan-keselamatan-lingkungan, spesifikasi material, serta produk dan aplikasi.

 

3.2 ISO 80004-1:2023 dan harmonisasi terminologi


Salah satu fondasi terpenting adalah ISO 80004-1:2023 Nanotechnologies — Vocabulary — Part 1: Core vocabulary.

Standar ini menyediakan kosakata inti nanoteknologi untuk memfasilitasi komunikasi antara industri, lembaga penelitian, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya.

Harmonisasi terminologi sangat penting dalam kesehatan karena istilah seperti nano-object, nanoparticle, nanofibre, nanoplate, nanomaterial, agregat, dan aglomerat memiliki implikasi berbeda dalam desain pengujian.

Tanpa definisi yang konsisten, dua laboratorium dapat menguji material yang disebut dengan istilah sama tetapi sebenarnya mempunyai karakteristik fisikokimia berbeda.

Dalam konteks regulasi, hal ini juga penting karena definisi “nanomaterial” tidak selalu identik di seluruh yurisdiksi. FDA, misalnya, menyatakan bahwa mereka tidak menetapkan satu definisi regulatori tunggal untuk nanomaterial dan dalam konteks tertentu dapat mempertimbangkan produk dengan dimensi hingga 1.000 nm apabila sifatnya direkayasa untuk menghasilkan fenomena atau karakteristik bergantung ukuran.

 

3.3 ISO/TR 13014:2012: karakterisasi fisikokimia sebagai dasar toksikologi


ISO/TR 13014:2012 memberikan panduan karakterisasi fisikokimia nanomaterial buatan untuk penilaian toksikologi. Dokumen ini masih tercantum sebagai standar yang berlaku dalam katalog ISO.

Karakterisasi tersebut penting karena respons biologis nanomaterial dapat dipengaruhi oleh:

  • ukuran primer;
  • distribusi ukuran;
  • morfologi;
  • luas permukaan;
  • komposisi;
  • kristalinitas;
  • aglomerasi/agregasi;
  • muatan permukaan;
  • karakteristik permukaan;
  • kelarutan;
  • stabilitas;
  • kemampuan menghasilkan spesies reaktif.

Konsekuensinya, evaluasi toksikologi sebaiknya tidak hanya mencantumkan konsentrasi massa, tetapi mempertimbangkan dose metrics yang relevan dengan mekanisme toksisitas.

Dalam pengembangan obat nano untuk manusia maupun hewan, pendekatan ini membantu menghubungkan karakteristik material → paparan → interaksi biologis → efek → risiko.

 

3.4 Perkembangan penting: ISO 21362:2026


Salah satu perkembangan paling relevan pada 2026 adalah terbitnya ISO 21362:2026 Nanotechnologies — Analysis of nano-objects using asymmetrical flow and centrifugal field-flow fractionation.

Standar ini diterbitkan pada Februari 2026 dan menggantikan ISO/TS 21362:2018.

ISO 21362:2026 menjelaskan prinsip umum field-flow fractionation serta parameter, kondisi, dan persyaratan pelaporan minimum untuk pengembangan dan validasi metode menggunakan:

  • asymmetrical flow field-flow fractionation (AF4);
  • centrifugal field-flow fractionation (CF3).

Metode tersebut dapat digunakan untuk analisis nano-objek dan agregat/aglomerasinya dalam media berair.

Dalam konteks kesehatan, perkembangan ini penting karena formulasi nanopartikel tidak selalu berada sebagai partikel tunggal dengan ukuran konstan. Agregasi atau aglomerasi dapat mengubah:

  • distribusi biologis;
  • stabilitas formulasi;
  • interaksi dengan protein;
  • internalisasi sel;
  • sedimentasi;
  • farmakokinetik;
  • toksisitas.

Oleh karena itu, penggunaan FFF dapat mendukung karakterisasi yang lebih informatif dibandingkan hanya menggunakan satu angka ukuran rata-rata.

 

3.5 ISO/TS 20787:2017 dan ekotoksikologi nanomaterial


ISO/TS 20787:2017 menetapkan metode untuk menilai toksisitas nanomaterial buatan terhadap organisme akuatik, khususnya Artemia sp. nauplii dalam lingkungan air laut buatan. Standar ini telah ditinjau dan dikonfirmasi pada 2024 sehingga masih berstatus berlaku.

Relevansinya terhadap kesehatan hewan sangat besar.

Nanomaterial dapat memasuki lingkungan melalui:

  • limbah industri;
  • limbah laboratorium;
  • residu formulasi farmasi;
  • penggunaan produk antimikroba;
  • fasilitas peternakan;
  • air limbah rumah sakit;
  • pembuangan produk veteriner.

Karena itu, biosafety tidak dapat dibatasi pada pasien manusia atau hewan yang menerima produk. Evaluasi harus mempertimbangkan pula kemungkinan pelepasan material ke lingkungan.

 

3.6 ISO/TS 23359:2025 dan material graphene-related 2D


Perkembangan penting lainnya adalah ISO/TS 23359:2025, yang diterbitkan pada Agustus 2025.

Standar ini mengatur karakterisasi kimia material 2D terkait grafena dari bentuk serbuk dan dispersi cair. Metodenya mencakup antara lain:

  • X-ray photoelectron spectroscopy (XPS);
  • thermogravimetric analysis (TGA);
  • inductively coupled plasma mass spectrometry (ICP-MS);
  • Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR).

Pendekatan tersebut penting karena material grafena dan turunannya bukan merupakan satu kelompok material yang homogen. Perbedaan oksidasi, gugus fungsi, kontaminan logam, komposisi unsur, dan karakteristik permukaan dapat menghasilkan perbedaan interaksi biologis.

Dalam pengembangan biosensor, smart scaffold, penghantaran obat, atau material implan, identifikasi kimia yang rinci menjadi dasar untuk menentukan hubungan antara struktur dan fungsi.

 

3.7 ISO/TS 9651:2025: kerangka klasifikasi material 2D


ISO/TS 9651:2025 menyediakan classification framework for graphene-related 2D materials.

Standar ini tidak sekadar memberikan nama material, tetapi menghubungkan karakteristik material dengan metode pengukuran, rentang nilai karakteristik apabila berlaku, sintaks penamaan/deskripsi, dan template lembar data teknis.

Implikasinya terhadap kesehatan cukup penting. Material 2D yang diberi label “graphene” dapat memiliki perbedaan substansial dalam:

  • ketebalan;
  • ukuran lateral;
  • jumlah lapisan;
  • komposisi;
  • kandungan oksigen;
  • gugus fungsi;
  • kontaminan;
  • sifat permukaan.

Standardisasi klasifikasi membantu mengurangi masalah material ambiguity dalam penelitian biomedis.

 

3.8 ISO/TS 12901-2:2026 dan perlindungan pekerja


Pada 2026 ISO juga menerbitkan ISO/TS 12901-2:2026 Nanotechnologies — Occupational risk management applied to engineered nanomaterials — Part 2: Use of the control banding approach.

Dokumen ini memberikan pendekatan control banding untuk mengendalikan risiko pajanan kerja terhadap nano-objek dan agregat/aglomerasinya, terutama melalui pengendalian inhalasi.

Dalam laboratorium farmasi, rumah sakit, fasilitas produksi vaksin, laboratorium veteriner, dan industri pakan, perlindungan pekerja merupakan komponen biosafety yang tidak boleh dipisahkan dari keselamatan produk.

Hal ini menunjukkan bahwa standardisasi nano pada 2026 tidak hanya berorientasi pada “apakah produk aman bagi pasien”, tetapi juga:

material → pekerja → pasien/hewan → konsumen → lingkungan.

 

3.9 ISO/TC 194 dan perangkat medis berbasis nanomaterial


Untuk aplikasi perangkat medis, standardisasi ISO/TC 229 harus dibaca bersama standar ISO/TC 194.

Dokumen yang sangat relevan adalah ISO/TR 10993-22:2017 Biological evaluation of medical devices — Part 22: Guidance on nanomaterials.

Dokumen tersebut secara khusus membahas perangkat medis yang tersusun dari atau mengandung nanomaterial, termasuk evaluasi:

  • karakterisasi nanomaterial;
  • preparasi sampel;
  • pelepasan nano-objek;
  • toksikokinetik;
  • evaluasi biologis;
  • penilaian risiko;
  • pelaporan evaluasi biologis.

Hal yang sangat penting adalah bahwa nano-objek dapat muncul bukan hanya karena suatu perangkat memang dibuat dari nanomaterial. Nano-objek juga dapat terbentuk akibat:

  • keausan;
  • degradasi;
  • penggerindaan;
  • pemolesan;
  • proses mekanis lainnya.

Dengan demikian, evaluasi life cycle perangkat medis menjadi penting.

 

3.10 ISO 10993-1:2025 memperkuat pendekatan berbasis risiko


Pada 2025 diterbitkan edisi keenam ISO 10993-1:2025, yang menempatkan evaluasi biologis perangkat medis dalam kerangka manajemen risiko yang selaras dengan ISO 14971.

Pendekatan tersebut memperkuat paradigma bahwa biokompatibilitas tidak seharusnya dipahami sebagai sekumpulan uji toksisitas yang berdiri sendiri.

Sebaliknya, evaluasi perlu mempertimbangkan:

intended use → sifat material → jenis kontak → durasi pajanan → bahaya biologis → paparan → risiko → kebutuhan pengujian.

Untuk material nano, pendekatan ini sangat penting karena pengujian standar terhadap material bulk belum tentu sepenuhnya menggambarkan perilaku nano-objek.

 

3.11 ISO 10993-18 dan ISO 10993-17


ISO 10993-18:2020 memberikan kerangka karakterisasi kimia material perangkat medis dalam proses manajemen risiko. Standar ini membantu mengidentifikasi dan, jika diperlukan, mengkuantifikasi konstituen material untuk mengidentifikasi bahaya biologis dan memperkirakan risiko.

Sementara itu, ISO 10993-17:2023 mengatur penilaian risiko toksikologis terhadap konstituen perangkat medis.

Bagi produk nano, ketiganya dapat dipandang sebagai rangkaian konseptual:

characterization → constituent identification → exposure → toxicological assessment → biological risk management.

 

3.12 Relevansi standardisasi ISO terhadap kesehatan hewan


A. Nanovaksin veteriner


Nanopartikel dapat digunakan sebagai carrier antigen atau adjuvan dalam pengembangan vaksin hewan. Keuntungannya dapat berupa peningkatan stabilitas antigen, penghantaran antigen ke sel target, dan modulasi respons imun.

Namun, karakteristik nanopartikel perlu dikendalikan secara konsisten agar perubahan ukuran, agregasi, muatan permukaan, atau stabilitas tidak menghasilkan perubahan respons biologis.

Kajian mengenai nanovaksin veteriner menunjukkan potensi penggunaan nanopartikel protein, nanopartikel yang berasal dari virus, bakteriofag, maupun tanaman dalam pengembangan vaksin hewan.

 

B. Sistem penghantaran obat


Nanocarrier dapat digunakan untuk mengendalikan pelepasan obat, meningkatkan kelarutan, dan mengarahkan bahan aktif ke jaringan tertentu.

Pada hewan produksi, isu keselamatan mempunyai dimensi tambahan karena produk nano dapat berhubungan dengan:

  • residu obat;
  • jaringan yang dapat dikonsumsi;
  • susu;
  • daging;
  • telur;
  • organ target;
  • lingkungan peternakan.

Oleh karena itu, pendekatan standardisasi perlu diperluas dari patient safety menuju food-chain safety.

 

C. Diagnostik veteriner


Nanobiosensor mempunyai potensi digunakan untuk mendeteksi:

  • antigen patogen;
  • antibodi;
  • asam nukleat;
  • biomarker inflamasi;
  • metabolit;
  • toksin.

Namun, performa diagnostik harus dikaitkan dengan karakteristik nanomaterial yang digunakan.

Perubahan ukuran atau aglomerasi dapat memengaruhi luas permukaan, jumlah situs pengikatan, transport analit, serta sensitivitas dan spesifisitas sistem.

 

D. Nanomaterial antimikroba


Nanopartikel perak merupakan salah satu contoh nanomaterial yang telah memiliki standar karakteristik dan metode pengukuran melalui ISO/TS 20660:2019. Dokumen tersebut ditujukan untuk spesifikasi karakteristik dan metode pengukuran nanopartikel perak yang digunakan dalam aplikasi antibakteri.

Menariknya, pada 2026 ISO sedang mengembangkan revisi melalui ISO/AWI TS 20660, yang akan menggantikan ISO/TS 20660:2019. Dokumen yang sedang dikembangkan tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa fokusnya adalah karakteristik dan metode pengukuran, sedangkan isu keselamatan kesehatan dan keselamatan selama produksi atau penggunaan tidak menjadi cakupan dokumen tersebut.

Hal ini merupakan pengingat penting bahwa standar karakterisasi tidak sama dengan standar keamanan. Data karakterisasi harus dikombinasikan dengan standar toksikologi, paparan, dan manajemen risiko.

 

3.13 Perspektif One Health


Dalam konteks veteriner, standardisasi nanoteknologi idealnya ditempatkan dalam kerangka One Health.

Sebuah produk nano yang digunakan pada hewan dapat memiliki setidaknya empat kelompok penerima risiko:

  1. hewan sebagai pasien;
  2. manusia sebagai dokter hewan, pekerja, pemilik hewan, atau konsumen;
  3. lingkungan sebagai media penerima residu;
  4. populasi mikroorganisme yang dapat terpapar material antimikroba.


Karena itu, penilaian keamanan tidak cukup berhenti pada acute toxicity.

Kerangka evaluasi ideal mencakup:

material identity → physicochemical characterization → exposure → hazard → toxicokinetics → biological effects → environmental fate → food-chain implications → risk management.

Pendekatan seperti ini konsisten dengan perkembangan nanomedisin veteriner yang semakin menekankan keselamatan spesies, nasib lingkungan, keamanan rantai pangan, dan integrasi One Health.

 

3.14 Perbandingan standar utama yang relevan hingga 2026

 

Standar

Tahun/status

Fokus

Relevansi kesehatan

ISO 80004-1

2023

Kosakata inti nanoteknologi

Harmonisasi istilah

ISO/TR 13014

2012, berlaku

Karakterisasi fisikokimia untuk toksikologi

Dasar evaluasi keamanan

ISO/TS 20787

2017, dikonfirmasi 2024

Toksisitas akuatik Artemia

Environmental safety

ISO/TS 80004-13

2024

Terminologi grafena dan material 2D

Material 2D untuk biomedis

ISO/TS 23359

2025

Karakterisasi kimia material 2D terkait grafena

Biosensor/scaffold/material medis

ISO/TS 9651

2025

Klasifikasi material 2D terkait grafena

Identitas dan konsistensi material

ISO 21362

2026

AF4/CF3 untuk analisis nano-objek

Ukuran, distribusi, agregasi

ISO/TS 12901-2

2026

Control banding pajanan kerja

Biosafety pekerja

ISO/TS 20660

2019; revisi sedang dikembangkan

Nanopartikel perak antibakteri

Antimikroba

ISO/TR 10993-22

2017

Evaluasi biologis nanomaterial pada perangkat medis

Biokompatibilitas

ISO 10993-1

2025

Prinsip evaluasi biologis berbasis risiko

Medical devices

ISO 10993-17

2023

Risiko toksikologis konstituen

Toxicological risk assessment

ISO 10993-18

2020

Karakterisasi kimia material perangkat medis

Chemical characterization

 

Sumber utama untuk status standar: katalog resmi ISO/TC 229 dan ISO/TC 194.

 

3.15 Tantangan standardisasi hingga 2030


Meskipun perkembangan standardisasi berlangsung cepat, terdapat sejumlah tantangan.


1. Variabilitas material

Istilah “nanopartikel” dapat mencakup material yang sangat berbeda. Bahkan material dengan komposisi kimia sama dapat menghasilkan respons biologis berbeda akibat variasi ukuran, morfologi, permukaan, atau agregasi.


2. Perbedaan definisi regulatori

Definisi nanomaterial dan pendekatan regulatori belum sepenuhnya seragam antarnegara. FDA, misalnya, menerapkan pendekatan berbasis karakteristik dan fungsi material dalam konteks produk yang diregulasi.


3. Produk kombinasi

Nanoteknologi sering menghasilkan produk yang berada pada batas antara:

  • obat;
  • biologik;
  • perangkat medis;
  • diagnostik;
  • bahan implan.

Hal tersebut membutuhkan integrasi beberapa rezim standardisasi dan regulasi.


4. Toksikologi jangka panjang

Pengetahuan mengenai toksisitas akut relatif lebih berkembang dibandingkan pemahaman tentang:

  • akumulasi kronis;
  • transformasi biologis;
  • degradasi;
  • interaksi dengan protein;
  • perubahan protein corona;
  • efek multigenerasi;
  • dampak ekosistem.


5. Standardisasi in vitro dan in vivo

Tidak semua metode yang valid untuk material bulk dapat langsung digunakan untuk nanomaterial. ISO/TR 10993-22 secara khusus mengingatkan bahwa nanomaterial memiliki tantangan tersendiri dalam penerapan metode evaluasi biologis.


6. Kesenjangan antara karakterisasi dan risiko

Data ukuran, zeta potential, FTIR, XPS, TEM, DLS, atau ICP-MS tidak otomatis membuktikan keamanan. Data tersebut merupakan bagian dari evidence chain yang harus dihubungkan dengan paparan dan efek biologis.

 

3.16 Arah perkembangan standardisasi 2026–2030


Berdasarkan perkembangan standar yang telah diterbitkan dan sedang dikembangkan, arah standardisasi nanoteknologi dapat diperkirakan bergerak menuju lima pendekatan utama:


A. From size-based to property-based characterization

Tidak cukup hanya mengetahui apakah material berada pada skala nano. Yang semakin penting adalah memahami sifat yang menentukan perilaku biologisnya.


B. From material characterization to lifecycle characterization

Material perlu dikarakterisasi bukan hanya sebelum digunakan, tetapi selama:

manufacturing → formulation → administration → biological transformation → degradation → excretion → environmental release.


C. From isolated toxicity to integrated risk assessment

Penilaian risiko akan semakin menggabungkan:

hazard × exposure × susceptibility × duration × route of exposure.


D. From human health to One Health

Untuk aplikasi veteriner, keselamatan hewan, manusia, pangan, dan lingkungan perlu dipertimbangkan dalam satu kerangka.


E. From laboratory innovation to regulatory readiness

Standardisasi menjadi jembatan antara hasil penelitian dan produk yang dapat dievaluasi secara konsisten oleh regulator.

 

4. KESIMPULAN

 

Perkembangan standar ISO nanoteknologi hingga 2026 menunjukkan perubahan yang signifikan dari pendekatan awal yang terutama berorientasi pada terminologi dan definisi menuju ekosistem standardisasi yang lebih komprehensif, mencakup karakterisasi fisikokimia, pengukuran nano-objek, klasifikasi material, toksikologi, ekotoksikologi, paparan kerja, spesifikasi material, dan evaluasi produk.


Perkembangan ISO 21362:2026 merupakan salah satu kemajuan penting karena menyediakan kerangka analisis nano-objek menggunakan asymmetrical flow dan centrifugal field-flow fractionation, termasuk analisis agregat dan aglomerat. Sementara itu, ISO/TS 23359:2025 dan ISO/TS 9651:2025 memperkuat standardisasi material 2D terkait grafena melalui karakterisasi kimia dan kerangka klasifikasi.


Pada sisi biosafety, ISO/TR 13014:2012, ISO/TS 20787:2017, dan ISO/TS 12901-2:2026 memberikan kontribusi pada karakterisasi untuk toksikologi, pengujian ekotoksisitas, serta pengendalian risiko pajanan kerja.


Dalam bidang medis, perkembangan tersebut perlu diintegrasikan dengan seri ISO 10993, khususnya ISO/TR 10993-22 mengenai nanomaterial dan ISO 10993-1:2025 mengenai evaluasi biologis berbasis manajemen risiko.


Untuk kesehatan hewan, implikasinya bahkan lebih luas karena produk nanoteknologi dapat memasuki hubungan antara hewan–manusia–pangan–lingkungan. Nanovaksin, nanocarrier obat, nanobiosensor, nanopartikel antimikroba, dan aplikasi nutrisi berpotensi meningkatkan efektivitas teknologi veteriner, tetapi harus disertai karakterisasi material yang dapat direproduksi, evaluasi toksikologi yang sesuai, pengendalian paparan, serta penilaian risiko sepanjang siklus hidup.


Dengan demikian, arah standardisasi nanoteknologi yang paling penting menuju dekade berikutnya bukan sekadar memperbanyak jumlah standar, tetapi membangun rantai bukti yang dapat ditelusuri dari identitas material hingga konsekuensi biologis dan lingkungan. Dalam perspektif One Health, pendekatan tersebut merupakan fondasi penting agar inovasi nanoteknologi dapat bergerak dari laboratorium menuju aplikasi medis dan veteriner dengan tingkat keselamatan, konsistensi, dan keterterimaan regulatori yang lebih tinggi.

 

5. DAFTAR PUSTAKA

 

European Medicines Agency. (2006). Reflection paper on nanotechnology-based medicinal products for human use. European Medicines Agency.

 

Fortune, A., Aime, A., Raymond, D., et al. (2025). Nanotechnology in medicine: A double-edged sword for health outcomes. Health Nanotechnology, 1, 9.

 

International Organization for Standardization. (2012). ISO/TR 13014:2012 Nanotechnologies — Guidance on physico-chemical characterization of engineered nanoscale materials for toxicologic assessment. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2017). ISO/TR 10993-22:2017 Biological evaluation of medical devices — Part 22: Guidance on nanomaterials. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2017). ISO/TS 20787:2017 Nanotechnologies — Aquatic toxicity assessment of manufactured nanomaterials in saltwater lakes using Artemia sp. nauplii. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2020). ISO 10993-18:2020 Biological evaluation of medical devices — Part 18: Chemical characterization of medical device materials within a risk management process. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2020). ISO/TS 10993-19:2020 Biological evaluation of medical devices — Part 19: Physico-chemical, morphological and topographical characterization of materials. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2021). ISO 10993-12:2021 Biological evaluation of medical devices — Part 12: Sample preparation and reference materials. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2023). ISO 80004-1:2023 Nanotechnologies — Vocabulary — Part 1: Core vocabulary. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2023). ISO 10993-17:2023 Biological evaluation of medical devices — Part 17: Toxicological risk assessment of medical device constituents. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2024). ISO/TS 80004-13:2024 Nanotechnologies — Vocabulary — Part 13: Graphene and other two-dimensional (2D) materials. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2025). ISO 10993-1:2025 Biological evaluation of medical devices — Part 1: Requirements and general principles for the evaluation of biological safety within a risk management process. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2025). ISO/TS 23359:2025 Nanotechnologies — Chemical characterization of graphene-related two-dimensional materials from powders and liquid dispersions. ISO.

International Organization for Standardization. (2025). ISO/TS 9651:2025 Nanotechnologies — Classification framework for graphene-related 2D materials. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2026). ISO 21362:2026 Nanotechnologies — Analysis of nano-objects using asymmetrical flow and centrifugal field-flow fractionation. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2026). ISO/TS 12901-2:2026 Nanotechnologies — Occupational risk management applied to engineered nanomaterials — Part 2: Use of the control banding approach. ISO.

 

International Organization for Standardization. (2026). ISO/TC 229 — Nanotechnologies: Standards and projects. ISO.

 

Khan, T. (2025). The role of nanomaterials in diagnosis and targeted drug delivery. Chemistry & Biodiversity.

 

Sun, M., Pratama, A. C., Qiu, H., Liu, Z., & He, F. (2024). Toward innovative veterinary nanoparticle vaccines. Animal Diseases, 4, 14.

 

Zhou, Q., et al. (2025). Transforming medicine: Cutting-edge applications of nanoscale materials in drug delivery. ACS Nano, 19(4), 4011–4038.

 

#Nanoteknologi 

#ISO 

#Nanomedis 

#KesehatanHewan 

#OneHealth