POLICY BRIEF
PERCEPATAN SWASEMBADA DAGING SAPI DAN KERBAU
2026–2029
Transformasi Peternakan Nasional Berbasis
Genetik, Reproduksi Presisi, Pakan, Digitalisasi, Integrasi Lahan, Pembiayaan,
dan Rantai Nilai Dingin
1.
RINGKASAN EKSEKUTIF
Indonesia masih
menghadapi kesenjangan struktural antara kebutuhan dan kemampuan produksi
domestik daging sapi dan kerbau. Peternakan Dalam Angka 2025 menunjukkan
bahwa statistik peternakan nasional mencakup populasi ternak, produksi dan
konsumsi daging sapi serta kerbau, neraca supply-demand, perdagangan, dan
harga, sehingga dapat digunakan sebagai basis penyusunan kebijakan swasembada
daging (Badan Pusat Statistik [BPS], 2026).
Proyeksi Kementerian
Pertanian menunjukkan bahwa defisit daging sapi dan kerbau masih menjadi
persoalan dalam beberapa tahun ke depan. Outlook Komoditas Peternakan Daging
Sapi 2024 memperkirakan defisit sebesar 296,4 ribu ton pada 2026, 247,5
ribu ton pada 2027, dan 239,7 ribu ton pada 2028. Defisit tersebut diperkirakan
perlu diantisipasi melalui kombinasi peningkatan produksi domestik,
pengembangan populasi sapi potong dan kerbau, impor sapi bakalan, serta impor
daging dan jeroan beku (Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2024).
Sementara itu, Outlook
Komoditas Peternakan Daging Sapi Tahun 2025 memperbarui basis proyeksi
menggunakan data nasional 1984–2025 dan menerapkan beberapa pendekatan
pemodelan, termasuk ARIMA, Transfer Function, dan Neural Network, untuk
mengestimasi produksi dan konsumsi hingga 2030 (Kementerian Pertanian Republik
Indonesia, 2025).
Oleh karena itu,
kebijakan 2026–2029 tidak sebaiknya hanya berorientasi pada penghentian impor
secara administratif, tetapi pada pengurangan ketergantungan impor melalui
peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, dan daya saing industri daging
domestik.
Policy brief ini
mengusulkan enam mesin transformasi:
- Precision Reproductive Breeding
melalui IATF dan seleksi genetik;
- National Livestock Identification and
Traceability System;
- Feed Security Revolution;
- Integrated Crop–Livestock–Forest dan
SISKA;
- Modern RPH, Meat Processing and Cold
Chain;
- Cluster-Based Financing dan Off-Taker
Model.
Transformasi tersebut
harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas per indukan, mempercepat
pertumbuhan ternak, menekan mortalitas, meningkatkan efisiensi pakan,
mengurangi biaya logistik, meningkatkan nilai tambah domestik, dan secara
bertahap menurunkan ketergantungan terhadap impor.
2.
MASALAH KEBIJAKAN
2.1
Produktivitas reproduksi
Produktivitas
reproduksi merupakan salah satu titik kritis dalam pengembangan sapi potong.
Rendahnya tingkat kebuntingan, interval beranak yang panjang, mortalitas pedet,
dan rendahnya keberhasilan reproduksi menyebabkan pertumbuhan populasi
produktif berlangsung lambat.
Karena itu,
keberhasilan program reproduksi tidak boleh hanya diukur berdasarkan jumlah
pelayanan inseminasi buatan. Indikator harus mencakup:
IATF →
pregnancy rate → calving rate → calf survival → weaning rate → replacement
rate.
Pendekatan berbasis
outcome tersebut memungkinkan pemerintah mengukur apakah investasi reproduksi
benar-benar menghasilkan tambahan pedet dan peningkatan produktivitas indukan.
2.2
Genetik dan adaptasi tropis
Perbaikan genetik
harus menjadi bagian integral dari strategi peningkatan produktivitas. Namun,
introduksi genetik tidak boleh hanya didasarkan pada popularitas suatu breed.
Brasil memberikan
pengalaman penting mengenai pengembangan sapi potong tropis, khususnya melalui
seleksi genetik dan pemanfaatan sapi Bos indicus. Dalam konteks Indonesia, sapi
Nelore dapat dipertimbangkan sebagai salah satu sumber genetik, tetapi penggunaannya
harus melalui pengujian performa dan evaluasi adaptasi lingkungan.
Kriteria seleksi
harus mencakup:
- fertility;
- heat tolerance;
- parasite resistance;
- maternal ability;
- growth rate;
- feed efficiency;
- carcass quality.
Dengan demikian,
strategi Indonesia harus mengikuti prinsip:
Adopt the
technology, adapt the genetics, localize the production system.
2.3 Pakan dan pertumbuhan ternak
Produktivitas sapi potong sangat dipengaruhi oleh
ketersediaan dan kualitas pakan. Karena itu, peningkatan Average Daily Gain
(ADG) harus dipandang sebagai hasil interaksi antara genetik, nutrisi,
kesehatan, dan manajemen.
Strategi pakan perlu mencakup pemanfaatan hijauan,
silase, hay, legume forage, limbah pertanian, produk samping agroindustri, feed
block, complete feed, dan precision feeding.
Integrasi sistem tanaman dan ternak juga dapat
meningkatkan efisiensi pemanfaatan biomassa dan memperkuat sirkularitas sistem
pertanian.
2.4
Ketergantungan terhadap distribusi ternak hidup
Distribusi ternak
hidup antarpulau berpotensi menimbulkan biaya transportasi, kehilangan bobot,
stres, risiko penyakit, dan inefisiensi rantai pasok.
Namun, penghentian
total perdagangan ternak hidup dalam tiga tahun juga tidak realistis. Ternak
hidup tetap dibutuhkan untuk pembibitan, distribusi indukan, penggemukan, dan
pengaturan keseimbangan pasokan antarwilayah.
Karena itu, strategi
yang lebih rasional adalah transformasi bertahap dari live-animal logistics
menuju meat logistics, sementara perdagangan ternak hidup tetap dipertahankan
untuk kebutuhan yang secara biologis dan ekonomi memang memerlukannya.
3.
PELAJARAN INTERNASIONAL
3.1
Brasil: genetika, reproduksi, dan integrasi lahan
Brasil memiliki
pengalaman luas dalam pengembangan sistem Integrasi Lahan Tanaman–Ternak–Hutan
atau Integração Lavoura-Pecuária-Floresta (ILPF). Studi Embrapa
menunjukkan bahwa sistem ILPF telah berkembang pada skala jutaan hektare di
Brasil dan menjadi salah satu pendekatan untuk mengintegrasikan produksi
tanaman, ternak, dan kehutanan secara lebih efisien (Skorupa & Manzatto,
2019).
Pengalaman tersebut
relevan bagi Indonesia, tetapi tidak dapat disalin secara langsung. Sistem
harus disesuaikan dengan agroekosistem, kepemilikan lahan, ketersediaan pakan,
kelembagaan petani, dan kondisi pasar Indonesia.
3.2
Australia: identifikasi dan ketertelusuran
Sistem identifikasi
dan ketertelusuran ternak merupakan fondasi penting bagi biosecurity,
pengendalian penyakit, manajemen pergerakan ternak, dan keamanan pangan.
WOAH menempatkan
identifikasi dan traceability sebagai bagian penting dari pengelolaan kesehatan
hewan dan sistem produksi ternak (World Organisation for Animal Health [WOAH],
2021).
Karena itu,
penggunaan RFID/e-ear tag di Indonesia harus dipandang sebagai instrumen dari
sistem yang lebih besar, yaitu:
Peternak
→ Ternak → Kesehatan → Reproduksi → Pergerakan → RPH → Produk Daging.
Tujuan akhirnya bukan
sekadar pemasangan ear tag, tetapi pembentukan National Livestock
Identification and Traceability Platform.
4.
STRATEGI KEBIJAKAN NASIONAL
Pilar 1 —
Precision Breeding & Reproductive Acceleration
Program IATF
diterapkan secara bertahap pada klaster indukan produktif.
Intervensi mencakup:
- sinkronisasi estrus;
- IATF;
- pemeriksaan kebuntingan;
- recording reproduksi;
- seleksi indukan;
- penggunaan semen genetik unggul;
- sexed semen secara selektif;
- embryo transfer pada nucleus breeding
herd.
Indikator utama:
- conception rate;
- pregnancy rate;
- calving rate;
- calving interval;
- calf survival;
- weaning rate.
Target 2029 harus
ditetapkan berdasarkan baseline masing-masing klaster, dengan sasaran indikatif
peningkatan reproductive performance sebesar 15–25%.
Pilar 2 —
National Digital Livestock ID & Traceability
Setiap ternak yang
masuk program nasional memperoleh identitas digital individual.
Sistem tersebut harus
mencatat:
- identitas;
- breed;
- umur;
- lokasi;
- pemilik;
- vaksinasi;
- pengobatan;
- status reproduksi;
- perpindahan;
- status kesehatan;
- pemotongan.
Prinsip ini sejalan
dengan kerangka internasional WOAH mengenai identifikasi dan ketertelusuran
hewan hidup (WOAH, 2021).
Pilar 3 —
Feed Security Revolution
Pemerintah perlu
membangun sistem ketahanan pakan melalui:
- forage bank;
- silase;
- hay;
- legume forage;
- limbah pertanian;
- produk samping agroindustri;
- feed block;
- complete feed;
- precision feeding.
Pengembangan sistem
pakan lokal juga penting untuk mengurangi biaya transportasi bahan baku dan
meningkatkan margin peternak.
Pilar 4 —
SISKA dan Integrated Livestock Landscape
Integrasi sapi-kelapa
sawit dikembangkan pada perkebunan yang memenuhi persyaratan agroekologi,
biosecurity, kesejahteraan ternak, dan keekonomian.
Pengalaman ILPF
Brasil menunjukkan bahwa integrasi tanaman, ternak, dan kehutanan dapat menjadi
pendekatan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, meskipun
keberhasilannya sangat bergantung pada pengelolaan, investasi, keterampilan,
dan kondisi lokal (Skorupa & Manzatto, 2019; Cordeiro et al., 2026).
Prinsip sistem:
Sawit
menghasilkan biomassa → sapi menghasilkan pupuk organik → lahan menghasilkan
pakan → sapi menghasilkan daging.
Pilar 5 —
Pemanfaatan Lahan Pascatambang
Lahan pascatambang
tidak dapat langsung dianggap sebagai padang penggembalaan.
Sebelum digunakan
perlu dilakukan:
- audit status hukum;
- evaluasi reklamasi;
- pemulihan kualitas tanah;
- analisis logam berat;
- analisis kualitas hijauan;
- evaluasi kualitas air;
- penetapan carrying capacity.
Pendekatan ini penting untuk mencegah risiko kontaminasi
rantai pangan.
Pilar 6 —
Modern RPH, Meat Processing & Cold Chain
Indonesia perlu mengubah paradigma dari:
“mengirim sapi ke konsumen”
menjadi:
“mengirim
produk daging ke konsumen.”
RPH modern perlu
memiliki:
- ante-mortem inspection;
- post-mortem inspection;
- halal assurance;
- carcass grading;
- deboning;
- chilling;
- freezing;
- vacuum packaging;
- cold storage;
- digital traceability.
Modernisasi tersebut
harus berjalan seiring dengan sistem identifikasi ternak sehingga asal-usul
produk daging dapat ditelusuri dari RPH hingga peternakan.
5.
KLASTER PILOT PROJECT 2026–2029
Klaster A
— Sulawesi Selatan
Bone –
Sinjai – Enrekang
Fokus:
- nucleus breeding;
- IATF;
- genetic improvement;
- digital livestock ID;
- feedlot;
- RPH modern;
- cold chain.
Sulawesi Selatan
diposisikan sebagai breeding and production hub Indonesia Timur.
Klaster B — Sumatra
Riau – Sumatra Utara
Fokus:
- SISKA;
- feed integration;
- agroindustrial by-product;
- commercial cattle cluster;
- feed mill;
- digital traceability;
- off-taker.
Sumatra diposisikan
sebagai integrated plantation-livestock hub.
Klaster C — Kalimantan
Kalimantan Timur – Kalimantan Utara
Fokus:
- pasture development;
- land rehabilitation;
- feed production;
- cattle ranching;
- digital monitoring;
- carbon-smart livestock.
Kalimantan
diposisikan sebagai pasture and livestock development hub.
6. ROADMAP
2026–2029
|
Tahap |
Periode |
Fokus |
Output |
|
I |
2026–2027 |
Baseline, genetic
improvement, IATF, digital ID |
Database dan
reproductive acceleration |
|
II |
2027–2028 |
Feed security,
SISKA, pasture development |
Peningkatan ADG dan efisiensi pakan |
|
III |
2028–2029 |
RPH, processing,
cold chain |
Peningkatan meat yield dan efisiensi logistik |
|
IV |
Akhir 2029 |
Scale-up |
Replikasi nasional |
7. TARGET
INDIKATIF 2029
Target kuantitatif
final harus ditetapkan setelah baseline nasional dan baseline masing-masing
klaster disahkan.
Reproduksi
- minimal 2 juta indukan masuk program
reproduksi presisi secara kumulatif;
- reproductive performance meningkat
15–25% dari baseline klaster;
- interval beranak menurun;
- mortalitas pedet turun minimal 20%.
Produktivitas
- ADG meningkat minimal 15–20%;
- efisiensi pakan meningkat;
- mortalitas ternak menurun;
- proporsi ternak produktif meningkat.
Digitalisasi
- 100% ternak dalam pilot project
memiliki identitas digital;
- seluruh perpindahan ternak tercatat;
- data kesehatan, reproduksi, dan
pemotongan terintegrasi.
Hilirisasi
- utilisasi RPH modern meningkat;
- distribusi daging melalui cold chain
meningkat;
- ketergantungan terhadap transportasi
ternak hidup untuk pasar antarpulau berkurang secara bertahap.
Impor
Keberhasilan tidak
diukur dengan “nol impor” secara administratif, tetapi dengan penurunan import
dependency ratio akibat peningkatan produksi dan produktivitas domestik.
8. REFORMASI PEMBIAYAAN
8.1 KUR untuk peternak rakyat
KUR tetap menjadi instrumen penting untuk pembiayaan
peternak rakyat dan klaster usaha.
KUR Khusus diperuntukkan bagi penerima yang tergabung
dalam kelompok dan memiliki mitra usaha, termasuk pada sektor peternakan
rakyat. Plafonnya sampai dengan Rp500 juta per penerima KUR, sehingga usulan
plafon Rp5 miliar tidak tepat jika tetap diberi label KUR Khusus (Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, 2026).
8.2
Livestock Cluster Investment Facility
Untuk proyek Rp5–50
miliar, pemerintah perlu membentuk instrumen pembiayaan investasi yang berbeda
dari KUR.
Sasarannya:
- koperasi;
- integrator;
- feedlot;
- feed mill;
- RPH;
- perusahaan perkebunan;
- BUMN/BUMD;
- badan usaha peternakan.
Instrumen dapat
terdiri atas:
- kredit investasi;
- credit guarantee;
- interest subsidy;
- blended finance;
- equity;
- green finance;
- Islamic finance.
Dengan demikian:
KUR =
peternak rakyat
Investment Facility =
proyek peternakan skala menengah-besar
9. GRACE
PERIOD
Peternakan memiliki biological
production cycle, sehingga struktur pembiayaan perlu menyesuaikan periode
investasi dan waktu menghasilkan arus kas.
Untuk pembiayaan
investasi tertentu, dapat dipertimbangkan:
Grace
period 12–18 bulan
khusus untuk:
- breeding herd;
- kandang;
- feed infrastructure;
- RPH;
- cold chain.
Grace period harus
ditentukan berdasarkan jenis investasi, cash-flow, risiko biologis, dan
kemampuan debitur, bukan diberlakukan seragam.
10.
OFF-TAKER MODEL
Struktur rantai
nilai:
Peternak
→ Koperasi/Integrator → Off-taker → RPH → Cold Chain → Retail/Food Service
Off-taker
menyediakan:
- kontrak pembelian;
- standar bobot;
- standar kualitas;
- formula harga;
- pembayaran digital;
- data performa.
Kontrak off-take
dapat menjadi instrumen mitigasi risiko pembiayaan.
11. RACI
MATRIX
|
Program |
Kementan |
Kemenkeu |
Bappenas |
Kemenko Pangan |
BUMN/Holding Pangan |
OJK |
Pemda |
|
Genetic improvement
& IATF |
A/R |
C |
C |
I |
C |
I |
R |
|
Livestock digital
ID |
A/R |
I |
C |
C |
C |
I |
R |
|
Feed security |
A/R |
C |
C |
A/C |
R |
I |
R |
|
SISKA |
A/R |
C |
C |
A |
R |
I |
R |
|
Lahan rehabilitasi |
R |
I |
C |
A |
C |
I |
A/R |
|
KUR peternakan |
C |
A |
C |
C |
I |
R |
C |
|
Investment
financing |
C |
A/C |
C |
C |
R |
R |
I |
|
RPH modern |
C |
C |
C |
A |
R |
I |
R |
|
Cold chain |
C |
C |
C |
A |
R |
I |
R |
|
Off-taker |
C |
I |
I |
A |
R |
I |
C |
|
Monitoring &
evaluation |
R |
C |
A |
A/C |
C |
C |
R |
Keterangan
RACI:
- R (Responsible) = pihak yang
bertanggung jawab langsung melaksanakan kegiatan atau pekerjaan.
- A (Accountable) = pihak yang memiliki
tanggung jawab akhir dan kewenangan pengambilan keputusan serta memastikan
kegiatan mencapai target.
- C
(Consulted) = pihak yang dikonsultasikan atau dimintai masukan/keahlian
sebelum atau selama pelaksanaan kegiatan.
- I
(Informed) = pihak yang diberikan informasi mengenai perkembangan,
keputusan, atau hasil kegiatan, tetapi tidak terlibat langsung dalam
pelaksanaannya.
Untuk kombinasi:
- A/R = pihak yang sekaligus
bertanggung jawab atas pelaksanaan (R) dan memegang tanggung jawab akhir
(A).
- A/C = pihak yang memegang tanggung
jawab akhir (A) sekaligus berperan sebagai pemberi konsultasi/masukan (C).
12.
MONITORING DAN EVALUASI
Program membutuhkan
National Beef & Buffalo Dashboard yang diperbarui secara berkala.
Indikator utama:
Populasi
- breeding herd;
- productive cows;
- calves;
- feeder cattle.
Reproduksi
- service rate;
- conception rate;
- pregnancy rate;
- calving rate.
Produksi
- ADG;
- mortality;
- weaning rate;
- meat yield.
Kesehatan
- disease incidence;
- vaccination;
- treatment;
- antimicrobial use.
Ekonomi
- cost/kg gain;
- feed cost;
- farmer margin;
- RPH utilization;
- cold-chain utilization.
Perdagangan
- live cattle movement;
- domestic beef production;
- beef imports;
- import dependency ratio.
13.
RISIKO DAN MITIGASI
|
Risiko |
Dampak |
Mitigasi |
|
Kegagalan
reproduksi |
Pertumbuhan
populasi rendah |
Pregnancy
diagnosis, nutrition, veterinary support |
|
Genetik tidak cocok |
Produktivitas
rendah |
Local performance
testing |
|
Kekurangan pakan |
ADG turun |
Feed bank dan
forage reserve |
|
Penyakit |
Mortalitas |
Biosecurity dan
surveillance |
|
Harga sapi turun |
Margin peternak
turun |
Off-take contract |
|
Kredit bermasalah |
Risiko perbankan |
Guarantee dan
cash-flow based lending |
|
Konflik lahan |
Program terhenti |
Legal due diligence |
|
Kontaminasi
eks-tambang |
Food safety risk |
Soil/feed/heavy-metal
testing |
|
Cold chain lemah |
Kerusakan produk |
Regional cold-chain
hub |
|
Data terfragmentasi |
Kebijakan tidak
akurat |
National livestock
data platform |
14. REKOMENDASI KEBIJAKAN
Pemerintah perlu menetapkan tujuh keputusan strategis:
1. Menjadikan produktivitas per indukan sebagai KPI utama
Keberhasilan tidak lagi dinilai hanya dari populasi
ternak, tetapi dari jumlah pedet hidup, bobot sapih, ADG, meat yield, dan
margin peternak.
2.
Membangun National Livestock Identification and Traceability Platform
Sistem harus
mengintegrasikan identitas, kesehatan, reproduksi, pergerakan, dan pemotongan
ternak sesuai prinsip traceability internasional (WOAH, 2021).
3.
Membentuk Livestock Cluster Investment Facility
Instrumen ini
diperlukan untuk membiayai investasi yang berada di luar kapasitas KUR.
4.
Menetapkan tiga National Demonstration Livestock Clusters
Sulawesi Selatan, Sumatra, dan Kalimantan menjadi lokasi
awal pengujian model.
5.
Membangun feed security system
Program harus
menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun.
6.
Mengembangkan RPH–cold chain corridor
Prioritas diberikan
kepada sentra produksi yang mempunyai akses pasar nasional.
7.
Membangun off-taker mechanism
Tidak boleh ada
ekspansi produksi tanpa kepastian pasar dan mekanisme harga yang transparan.
15.
KESIMPULAN
Swasembada daging
sapi dan kerbau tidak dapat dicapai hanya dengan menambah populasi atau
membatasi impor.
Persoalan Indonesia
merupakan persoalan sistem: genetik, reproduksi, pakan, kesehatan, data,
pembiayaan, logistik, hilirisasi, dan pasar harus bekerja secara terintegrasi.
Pengalaman Brasil
memberikan pelajaran mengenai genetika tropis, reproduksi, dan integrasi
tanaman–ternak–hutan, sedangkan pengalaman Australia memberikan pelajaran
penting mengenai identifikasi, traceability, biosecurity, dan pengelolaan
rantai nilai.
Indonesia
perlu membangun modelnya sendiri:
Genetik unggul +
reproduksi presisi + pakan berkelanjutan + kesehatan hewan + digital
traceability + integrasi lahan + RPH modern + cold chain + pembiayaan +
off-taker.
Dengan pendekatan
tersebut, tujuan kebijakan tidak berhenti pada slogan “swasembada daging”,
tetapi berkembang menjadi pembangunan industri sapi dan kerbau nasional yang
produktif, kompetitif, berkelanjutan, menguntungkan peternak, dan mampu
mengurangi ketergantungan impor secara struktural.
DAFTAR
PUSTAKA
Badan Pusat
Statistik. (2026). Peternakan dalam angka 2025. BPS-Statistics
Indonesia.
Cordeiro, L. A. M.,
Oliveira, P. de, Borghi, E., Moraes, S. A. de, Oliveira, T. K. de, Fontaneli,
R. S., Behling, M., Almeida, R. G. de, & Paciullo, D. S. C. (2026).
Integração lavoura-pecuária-floresta no Brasil. In A. C. de C. Bernardi, A. R.
Garcia, J. A. B. Portugal, & J. R. M. Pezzopane (Eds.), Integração
lavoura-pecuária-floresta: Cultivando o futuro. Cubo Multimídia.
Empresa Brasileira de
Pesquisa Agropecuária. (2019). Sistemas de integração
lavoura-pecuária-floresta no Brasil: Estratégias regionais de transferência de
tecnologia, avaliação da adoção e de impactos. Embrapa Meio Ambiente.
Food and Agriculture
Organization of the United Nations. (2023). Pathways towards lower
emissions: A global assessment of the greenhouse gas emissions and mitigation
options from livestock agrifood systems. FAO.
Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2026). Kebijakan Kredit
Usaha Rakyat (KUR). Pemerintah Republik Indonesia.
Kementerian Pertanian
Republik Indonesia. (2024). Outlook komoditas peternakan daging sapi 2024.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal, Kementerian
Pertanian Republik Indonesia.
Kementerian Pertanian
Republik Indonesia. (2025). Outlook komoditas peternakan daging sapi tahun
2025. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal,
Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Kementerian Pertanian
Republik Indonesia. (2026). Buku statistik pertanian 2025. Pusat Data
dan Sistem Informasi Pertanian, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pertanian
Republik Indonesia.
Organisation for
Economic Co-operation and Development, & Food and Agriculture Organization
of the United Nations. (2025). OECD-FAO agricultural outlook 2025–2034.
OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/601276cd-en
Skorupa, L. A., & Manzatto, C. V. (Eds.). (2019). Sistemas de integração
lavoura-pecuária-floresta no Brasil: Estratégias regionais de transferência de
tecnologia, avaliação da adoção e de impactos. Embrapa Meio Ambiente.
World Organisation
for Animal Health. (2021). Terrestrial animal health code: Chapter
4.2—General principles on identification and traceability of live animals.
WOAH.
World Bank. (2022). Indonesia
country climate and development report. World Bank.
#SwasembadaDaging
#SapiIndonesia
#PeternakanModern
#KetahananPangan
#Agribisnis
