Siang
itu matahari bersinar terik menjelang salat Dhuhur. Dengan mengayuh sepeda
sekitar satu kilometer, Alhamdulillah dapat tiba di Masjid Al-Hakim tepat
waktu. Salat sunnah qabliyah tertunaikan, dilanjutkan salat
Dhuhur berjamaah dan ba’diyah. Tentang kekhusyukan, kita hanya bisa bertawakal
kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Usai salat, kajian bakda Dhuhur
terasa menyejukkan. Seorang ustadz muda menyampaikan tausiyah tentang keutamaan
membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan. Beliau bertanya, “Sudah berapa kali khatam
sampai hari ke-8 ini?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi menggugah. Membaca
Al-Qur’an, kata beliau, bukan sekadar mengejar khatam. Yang lebih penting
adalah menikmati, mentadabburi, lalu mengamalkannya. Ada orang yang tidak
beranjak dari satu ayat sebelum ia mampu menerapkannya dalam kehidupan. Bahkan
ada ayat yang membuat air mata menetes karena begitu dalam menyentuh hati.
Dari suasana itulah muncul sebuah
renungan besar: bagaimana reaksi kaum Quraisy ketika pertama kali mendengar
Al-Qur’an?
Keindahan
Bahasa yang Melampaui Zaman
Kaum Quraisy dikenal sebagai
masyarakat yang sangat menguasai bahasa Arab. Mereka memiliki tradisi sastra
yang kuat, bahkan pasar-pasar syair seperti di ‘Ukaz menjadi ajang adu
keindahan bahasa. Namun ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, mereka
terdiam.
Al-Qur’an menantang mereka:
“Dan jika kamu (tetap) dalam
keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad),
maka buatlah satu surah saja yang semisal dengannya…”
(QS. Al-Baqarah: 23)
Tantangan ini tidak pernah mampu
mereka jawab. Bahkan Allah menegaskan:
“Katakanlah: Sesungguhnya jika
manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang semisal Al-Qur’an ini, mereka
tidak akan mampu membuat yang semisal dengannya…”
(QS. Al-Isra’: 88)
Ketika kemampuan bahasa mereka
tidak sanggup menandinginya, sebagian dari mereka memilih jalan penolakan.
Mereka menuduh Al-Qur’an sebagai sihir. Dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 24
disebutkan, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari.”
Tuduhan itu justru menunjukkan
ketidakberdayaan mereka menghadapi kemukjizatan Al-Qur’an.
Daya Sentuh
yang Menggetarkan Jiwa
Al-Qur’an bukan hanya indah
secara struktur bahasa, tetapi juga memiliki daya pengaruh yang kuat pada jiwa
manusia. Allah berfirman:
“Allah telah menurunkan
perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya)
lagi berulang-ulang; gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada
Tuhannya…”
(QS. Az-Zumar: 23)
Sejarah mencatat, sebagian tokoh
Quraisy diam-diam mendengarkan bacaan Nabi pada malam hari. Mereka takut
masyarakat terpengaruh karena banyak orang yang berubah sikap setelah mendengar
ayat-ayat suci. Bahkan mereka saling mengingatkan:
“Janganlah kamu mendengarkan
Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya…”
(QS. Fussilat: 26)
Artinya, mereka sadar bahwa
Al-Qur’an memiliki kekuatan yang tidak biasa. Ia mampu mengetuk hati, bahkan
hati yang keras sekalipun.
Pengakuan yang
Tertahan oleh Kesombongan
Salah
satu tokoh Quraisy yang terkenal cerdas dan ahli sastra adalah Walid bin
al-Mughirah. Ia mengakui keindahan Al-Qur’an dengan ungkapan yang penuh
kekaguman. Namun demi mempertahankan kedudukan dan pengaruhnya, ia tetap
menolak dan menyebutnya sebagai sihir. Sikapnya diabadikan dalam Surah
Al-Muddatstsir ayat 18–25.
Kasus
ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap Al-Qur’an bukan karena mereka tidak
memahami keindahannya, tetapi karena kesombongan dan kepentingan duniawi.
Strategi
Menghalangi Dakwah
Label
“sihir” juga digunakan sebagai strategi propaganda. Mereka ingin menakut-nakuti
orang luar Makkah agar tidak mendekati Rasulullah ﷺ. Dalam Surah Al-Furqan ayat
8 disebutkan bahwa mereka menuduh Nabi sebagai orang yang terkena sihir.
Padahal sebelum diangkat menjadi rasul, beliau dikenal dengan gelar
Al-Amin—orang yang paling terpercaya.
Tuduhan
itu lebih merupakan upaya mempertahankan tradisi dan kekuasaan daripada
penilaian objektif terhadap isi Al-Qur’an.
Mukjizat
yang Abadi
Mukjizat
para nabi terdahulu bersifat indrawi dan terjadi pada masa tertentu. Adapun
mukjizat Nabi Muhammad ﷺ adalah Al-Qur’an, wahyu yang terus hidup hingga kini. Rasulullah
ﷺ bersabda bahwa setiap nabi diberi mukjizat agar manusia beriman, dan mukjizat
beliau adalah wahyu yang Allah turunkan (HR. Bukhari dan Muslim).
Keistimewaan
Al-Qur’an tidak hanya pada keindahan bahasanya, tetapi juga pada konsistensi
pesan, kedalaman makna, serta relevansinya sepanjang zaman.
Renungan
bagi Kita
Jika
kaum Quraisy yang ahli bahasa saja tercengang, bagaimana dengan kita hari ini?
Mungkin kita tidak memahami seluruh maknanya secara langsung, tetapi Al-Qur’an
tetap memiliki kekuatan yang menembus hati.
Allah
berfirman:
“Maka
apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS. Muhammad: 24)
Membaca
adalah langkah awal. Mentadabburi adalah proses memahami. Mengamalkan adalah
tujuan akhirnya.
Rasulullah ﷺ juga
bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia
akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”
(HR. Muslim)
Jika hari ini hati kita belum
tersentuh, jangan berhenti. Teruslah membaca. Teruslah merenung. Hati yang
dilatih untuk dekat dengan Al-Qur’an akan perlahan menjadi lembut.
Penutup
Al-Qur’an adalah mukjizat yang
mencengangkan kaum Quraisy. Mereka yang ahli bahasa tidak mampu menandinginya.
Mereka yang keras hati tidak mampu mengabaikan pengaruhnya. Tuduhan “sihir”
justru menjadi bukti bahwa mereka tidak sanggup menjelaskan kemukjizatannya
dengan logika biasa.
Hari ini, Al-Qur’an yang sama ada
di tangan kita. Pertanyaannya sederhana namun mendalam: sudahkah kita
menjadikannya sebagai pedoman hidup?
Semoga Allah menjadikan kita
bagian dari ahli Al-Qur’an—yang membacanya, memahami maknanya, meneteskan air
mata karenanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Aamiin
ya Rabbal ‘Alamin.



