Prinsip Keluarga Sakinah:
Membangun Rumah Tangga dalam Naungan Cinta, Kasih Sayang, dan Ridha Allah
Keluarga adalah tempat pertama manusia belajar tentang
cinta. Di dalam keluarga kita belajar mengenal kasih sayang, kesabaran,
tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, dan ketulusan. Keluarga juga menjadi
tempat pertama seorang anak mengenal dunia, mengenal nilai-nilai kehidupan,
bahkan mengenal bagaimana seharusnya seorang manusia berhubungan dengan
sesamanya.
Karena itu, membangun keluarga yang sakinah bukan hanya
tugas suami atau istri. Ia merupakan tanggung jawab seluruh anggota keluarga.
Rumah tangga yang sakinah tidak hadir dengan sendirinya. Ia dibangun sedikit demi sedikit
melalui kesetiaan, komunikasi, kesabaran, saling menghormati, dan terutama
melalui ketundukan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri,
supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa
kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa
tujuan pernikahan bukan sekadar hidup bersama, memiliki keturunan, memenuhi
kebutuhan lahiriah, atau membangun kehidupan ekonomi. Di dalamnya terdapat
tujuan yang jauh lebih mulia, yaitu menghadirkan sakinah, mawaddah,
dan rahmah.
Sakinah adalah ketenteraman.
Mawaddah adalah cinta yang diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sedangkan rahmah
adalah kasih sayang yang membuat seseorang tetap peduli, bahkan ketika
pasangannya berada dalam keadaan lemah, sakit, kecewa, atau melakukan kesalahan.
Keluarga sakinah bukan berarti
keluarga yang tidak pernah menghadapi persoalan. Tidak ada rumah tangga yang
sepenuhnya bebas dari perbedaan, kesalahpahaman, kekurangan, dan ujian.
Keluarga sakinah adalah keluarga yang ketika masalah datang, mereka memilih
untuk saling memahami, saling menguatkan, memperbaiki kesalahan, dan kembali
kepada Allah SWT.
Ada beberapa prinsip yang perlu kita
jaga bersama.
1. Jadikan Pernikahan sebagai Ibadah
dan Amanah
Pernikahan bukan sekadar hidup
bersama antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pernikahan adalah
amanah sekaligus ibadah.
Ketika seseorang menikah, ia tidak
hanya mendapatkan pasangan hidup, tetapi juga menerima amanah untuk menjaga
hati, kehormatan, hak, dan kebahagiaan pasangannya. Suami dan istri bukan dua
orang yang harus selalu memenangkan perdebatan. Mereka adalah dua insan yang
sedang belajar berjalan bersama menuju ridha Allah.
Karena itu, pertanyaan dalam rumah
tangga seharusnya tidak selalu, “Siapa yang benar?” tetapi juga, “Apa
yang paling baik bagi keluarga kita?”
Tidak semua perdebatan harus
dimenangkan. Terkadang mengalah bukan berarti kalah. Diam pada saat yang tepat
bukan berarti lemah. Meminta maaf bukan berarti kehilangan harga diri. Justru
orang yang mampu menundukkan egonya demi kebaikan keluarga menunjukkan
kedewasaan dan kekuatan jiwa.
2. Bangun Komunikasi yang Terbuka
dan Penuh Kasih Sayang
Banyak persoalan rumah tangga bukan
karena tidak ada cinta, tetapi karena cinta tidak dikomunikasikan dengan baik.
Ada pasangan yang sebenarnya saling
menyayangi, tetapi tidak terbiasa mengungkapkan perasaan. Ada yang merasa
kecewa tetapi memilih diam. Ada yang membutuhkan perhatian tetapi tidak mampu
mengatakannya. Akhirnya, persoalan kecil yang seharusnya dapat diselesaikan
dengan percakapan sederhana berubah menjadi jarak emosional.
Karena itu, belajarlah berbicara
dengan lembut. Ungkapkan apa yang dirasakan tanpa merendahkan. Dengarkan
pasangan tanpa tergesa-gesa menghakimi. Berbicaralah tentang masalah sebelum
masalah tersebut menjadi semakin besar.
Terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat yang
panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di sampingnya dan
berkata, “Aku mendengarkanmu.”
Komunikasi yang baik bukan hanya kemampuan berbicara,
tetapi juga kemampuan mendengarkan.
3. Belajar Saling Menghargai
Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Suami dan
istri dapat berbeda dalam cara berpikir, kebiasaan, latar belakang, cara
menyelesaikan masalah, bahkan dalam cara menunjukkan kasih sayang.
Perbedaan tersebut tidak selalu harus dihilangkan. Yang
perlu dibangun adalah kemampuan untuk saling memahami.
Jangan memaksa pasangan menjadi
persis seperti diri kita. Jangan menjadikan kelemahan pasangan sebagai bahan
untuk merendahkan. Jangan pula terus-menerus membandingkan pasangan dengan
orang lain.
Rumah tangga bukan tempat untuk
mencari manusia yang sempurna. Rumah tangga adalah tempat dua manusia yang
memiliki kekurangan belajar menjadi lebih baik bersama-sama.
Menghargai pasangan berarti menerima
bahwa ia adalah manusia yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kita pun
demikian.
4. Jangan Menjadikan Kemarahan
sebagai Cara Menyelesaikan Masalah
Tidak semua masalah harus
diselesaikan dengan suara keras. Tidak semua kesalahan harus diungkit kembali. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pertengkaran.
Allah SWT berfirman:
“...orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.”
(QS. Ali 'Imran: 134)
Menahan amarah bukan berarti tidak
boleh merasa marah. Marah adalah bagian dari sifat manusia. Namun, seorang
mukmin belajar mengendalikan kemarahannya agar kemarahan tidak berubah menjadi
perkataan dan tindakan yang melukai orang yang dicintainya.
Memaafkan juga bukan berarti
membenarkan kesalahan. Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan sebuah
kesalahan menghancurkan seluruh hubungan.
Ada kata-kata yang diucapkan hanya
beberapa detik, tetapi luka yang ditinggalkannya dapat bertahan bertahun-tahun.
Karena itu, jagalah lisan terutama kepada orang-orang yang paling dekat dengan
kita.
5. Hadirlah untuk Keluarga
Kehadiran tidak hanya berarti berada secara fisik di
dalam rumah.
Seseorang bisa duduk bersama
keluarganya setiap hari, tetapi hatinya jauh. Sebaliknya, seseorang yang
memiliki kesibukan dapat tetap menghadirkan kasih sayang melalui perhatian,
komunikasi, dan kepedulian.
Hadir berarti mau mendengarkan cerita pasangan. Hadir
berarti bermain bersama anak. Hadir berarti makan bersama ketika ada
kesempatan. Hadir berarti membantu ketika anggota keluarga mengalami kesulitan.
Hadir berarti memberikan perhatian ketika seseorang di rumah sedang membutuhkan
kita.
Jangan sampai kita begitu baik kepada orang lain, tetapi
justru keluarga di rumah mendapatkan versi diri kita yang paling mudah marah,
paling kasar, dan paling tidak sabar.
Orang lain mungkin hanya melihat
keramahan kita sesekali. Keluarga melihat diri kita setiap hari. Maka, akhlak
terbaik seharusnya juga hadir di dalam rumah.
6. Bangun Ibadah Bersama
Keluarga yang kuat membutuhkan
fondasi spiritual yang kuat.
Biasakan saling mengingatkan untuk
mendirikan shalat, membaca Al-Qur'an, berdoa, bersyukur, bersedekah, dan
melakukan kebaikan. Luangkan waktu untuk berdoa bersama dan mengajarkan
anak-anak mencintai Allah SWT.
Rumah yang dipenuhi ibadah akan
memiliki suasana yang berbeda. Ketika anggota keluarga sama-sama berusaha
mendekat kepada Allah, masalah kehidupan tidak selalu terasa sebagai akhir dari
segalanya.
Mereka belajar bersabar ketika diuji. Mereka belajar bersyukur ketika
mendapatkan nikmat. Mereka belajar bertawakal ketika menghadapi sesuatu yang
berada di luar kemampuan mereka.
Keluarga yang dekat dengan Allah
bukan berarti tidak memiliki masalah. Namun, mereka memiliki tempat untuk
kembali ketika masalah datang.
7. Jangan Mengukur Kebahagiaan
Keluarga Hanya dengan Harta
Harta memang penting. Kebutuhan
ekonomi harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Namun, keluarga tidak hanya
membutuhkan uang.
Keluarga juga membutuhkan waktu,
perhatian, penghargaan, kasih sayang, keteladanan, dan rasa aman.
Rumah yang sederhana dapat terasa
sangat nyaman ketika di dalamnya ada cinta dan penghormatan. Sebaliknya, rumah
yang penuh kemewahan dapat terasa kosong apabila kehilangan kasih sayang.
Anak-anak tidak hanya mengingat apa yang dibelikan orang
tuanya. Mereka juga mengingat
apakah mereka didengarkan, dipeluk, dihargai, dan merasa aman ketika berada di
rumah.
Pasangan juga tidak hanya
membutuhkan nafkah. Ia membutuhkan keyakinan bahwa dirinya dihargai dan tidak
sendirian dalam menjalani kehidupan.
8. Jadikan Rumah sebagai Tempat
untuk Pulang, Bukan Tempat untuk Saling Menyerang
Dunia di luar rumah sudah cukup
melelahkan.
Setiap orang menghadapi persoalan,
tekanan, kegagalan, dan berbagai tuntutan kehidupan. Karena itu, rumah
semestinya menjadi tempat untuk mendapatkan ketenangan.
Jadikan rumah sebagai tempat
seseorang boleh merasa lelah tanpa langsung dihakimi. Tempat seseorang dapat
bercerita tanpa takut diremehkan. Tempat kesalahan dapat diperbaiki dengan
kasih sayang. Tempat setiap anggota keluarga merasa diterima dan dicintai.
Bukan berarti rumah harus bebas dari
aturan dan nasihat. Justru keluarga membutuhkan batasan, pendidikan, dan
koreksi. Namun semuanya dilakukan dengan hikmah, kasih sayang, dan niat
memperbaiki, bukan mempermalukan.
Rumah seharusnya menjadi tempat hati
menemukan ketenteraman.
9. Tumbuhkan Kebiasaan Saling
Berterima Kasih
Jangan menganggap kebaikan pasangan
sebagai sesuatu yang otomatis sehingga tidak perlu dihargai.
Ucapan sederhana seperti “Terima
kasih,” “Maaf,” “Aku menghargaimu,” dan “Aku bersyukur bersamamu”
dapat memiliki kekuatan besar dalam menjaga kehangatan rumah tangga.
Sering kali kita mengucapkan terima
kasih kepada orang lain atas bantuan kecil, tetapi lupa mengucapkannya kepada
pasangan yang setiap hari mendampingi kehidupan kita.
Padahal, apresiasi yang sederhana dapat membuat seseorang
merasa dilihat dan dihargai.
Jangan menunggu kehilangan untuk
menyadari nilai seseorang. Hargailah orang-orang yang Allah tempatkan di sisi
kita selama mereka masih bersama kita.
10. Jadikan Keluarga sebagai Tempat
Bertumbuh
Keluarga bukan sekadar tempat
tinggal bersama. Keluarga adalah tempat manusia bertumbuh.
Suami bertumbuh menjadi pribadi yang
lebih bertanggung jawab. Istri bertumbuh menjadi pribadi yang semakin kuat dan
bijaksana. Anak-anak bertumbuh menjadi manusia yang memiliki akal sehat, emosi
yang matang, spiritualitas yang baik, tubuh yang sehat, keterampilan sosial,
serta kemampuan untuk mandiri secara ekonomi.
Karena itu, dukunglah anggota
keluarga untuk belajar dan memperbaiki diri.
Jangan takut ketika pasangan
berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan merasa tersaingi oleh
keberhasilan anak. Justru kebahagiaan keluarga adalah ketika keberhasilan satu
anggota menjadi kebahagiaan bagi seluruh keluarga.
Saling dukunglah dalam belajar,
bekerja, beribadah, mengejar cita-cita, menghadapi kegagalan, dan memperbaiki
kesalahan.
Dengan demikian, keluarga tidak
hanya menjadi tempat seseorang dilahirkan dan tinggal, tetapi menjadi tempat
seseorang menemukan kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Keluarga Sakinah Bukan Keluarga
Tanpa Masalah
Pada akhirnya, kita perlu memahami
bahwa keluarga sakinah bukanlah keluarga yang tidak pernah bertengkar, tidak
pernah kecewa, dan tidak pernah menghadapi ujian.
Keluarga sakinah adalah keluarga
yang ketika masalah datang, mereka tidak mudah menyerah.
Ketika marah, mereka belajar menahan
diri.
Ketika berbeda, mereka belajar
memahami.
Ketika salah, mereka berani meminta
maaf.
Ketika terluka, mereka belajar
memaafkan.
Ketika mendapatkan nikmat, mereka
bersyukur.
Ketika menghadapi kesulitan, mereka
bersabar.
Dan ketika tidak mengetahui harus
berbuat apa, mereka kembali kepada Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, manusia hanya
mampu berusaha. Hati pasangan kita berada dalam kekuasaan Allah. Anak-anak kita
berada dalam penjagaan Allah. Masa depan keluarga kita pun berada dalam
ketetapan Allah.
Maka, jangan hanya sibuk membangun rumah yang indah.
Bangunlah juga hati-hati yang tinggal di dalamnya.
Jangan hanya mengejar keluarga yang terlihat bahagia di
hadapan manusia. Bangunlah keluarga yang memiliki ketenteraman di hadapan
Allah.
Jangan hanya mengajarkan anak-anak
bagaimana menjadi orang sukses. Ajarkan pula kepada mereka bagaimana menjadi
manusia yang jujur, penyayang, bertanggung jawab, beriman, dan bermanfaat bagi
sesama.
Sebab keluarga yang paling indah
bukanlah keluarga yang tidak pernah menangis, melainkan keluarga yang ketika
menangis dapat saling menguatkan.
Bukan keluarga yang tidak pernah
berbeda pendapat, tetapi keluarga yang mampu berbeda tanpa kehilangan kasih
sayang.
Bukan keluarga yang tidak pernah
melakukan kesalahan, tetapi keluarga yang selalu menyediakan ruang untuk
memperbaiki diri.
Dan bukan keluarga yang hidup tanpa ujian, tetapi
keluarga yang menghadapi setiap ujian dengan iman, kesabaran, ikhtiar, dan
tawakal.
Semoga Allah SWT menjadikan rumah-rumah kita sebagai
tempat tumbuhnya iman, cinta, kasih sayang, ketenangan, dan akhlak mulia.
Semoga Allah menjadikan suami dan istri sebagai pasangan
yang saling menguatkan dalam ketaatan, saling menutupi kekurangan, saling
mengingatkan dalam kebaikan, dan saling menggenggam tangan hingga akhir
kehidupan.
Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang saleh
dan salehah, berilmu, berakhlak, sehat, mandiri, serta bermanfaat bagi agama,
keluarga, bangsa, dan kemanusiaan.
Dan semoga keluarga kita menjadi keluarga sakinah,
mawaddah wa rahmah; keluarga yang saling mencintai di dunia, saling
mendoakan dalam kebaikan, dan dipertemukan kembali oleh Allah SWT dalam
kebahagiaan di akhirat.
Aamiin ya Rabbal'alamiin.
#KeluargaSakinah
#RumahTanggaIslami
#CintaKarenaAllah
#KeluargaBahagia
#RidhaAllah

