Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 30 March 2026

Rahasia Pakan Ikan Super Efisien! Terobosan Nutrisi Akuakultur Brasil yang Mengubah Masa Depan Budidaya


Peran Kunci Nutrisi dan Pemberian Pakan Ikan: Kemajuan Terkini dan Prospek Masa Depan untuk Budidaya Ikan di Brasil

 

ABSTRAK

 

Industri pakan akuakultur berkembang seiring dengan kemajuan budidaya ikan, dengan memanfaatkan inovasi ilmiah dan teknologi untuk mengintegrasikan berbagai aditif pakan, suplemen, serta bahan alternatif dalam nutrisi dan pemberian pakan ikan. Kemajuan ini berperan penting dalam meningkatkan produksi, kesehatan, dan kesejahteraan ikan budidaya.

 

Penelitian terbaru di Brasil menyoroti pentingnya penggunaan aditif pakan, seperti vitamin, mineral, dan asam amino, guna memastikan bahwa ikan budidaya memperoleh seluruh nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan yang optimal. Aditif fungsional diketahui mampu meningkatkan sistem imun, sehingga memperkuat ketahanan terhadap penyakit serta mendukung kesehatan ikan secara menyeluruh. Aditif antimikroba dan antiparasit berperan dalam mencegah dan mengobati infeksi serta infestasi, sehingga menurunkan risiko terjadinya wabah penyakit.

 

Selain itu, beberapa aditif dapat meningkatkan kecernaan pakan, yang berdampak pada peningkatan penyerapan nutrien serta penurunan kebutuhan pakan. Secara keseluruhan, strategi nutrisi memegang peranan penting dalam mengoptimalkan praktik budidaya ikan di Brasil maupun secara global, serta dalam meningkatkan kesehatan ikan dan keberlanjutan industri.

 

Tinjauan ini menekankan pentingnya berbagai aditif, suplemen, dan bahan pakan yang diintegrasikan secara strategis dalam formulasi pakan eksperimental untuk penelitian budidaya ikan di Brasil. Selain itu, kajian ini juga menegaskan perlunya penelitian berkelanjutan. Saat ini, terdapat tren yang semakin kuat menuju pengembangan pakan yang lebih berkelanjutan dan efisien, yang menjadi kunci bagi masa depan akuakultur berkelanjutan. Tujuan utamanya adalah meminimalkan dampak lingkungan tanpa mengorbankan kelayakan ekonomi dalam operasional budidaya.

Kata kunci: akuakultur; ikan; pakan fungsional; keberlanjutan; Brasil

 

1. PENDAHULUAN

 

Budidaya ikan memainkan peran penting dalam akuakultur global, dengan menghasilkan lapangan kerja, pendapatan, mendiversifikasi sumber penghidupan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai negara [1]. Seiring dengan perkembangan budidaya ikan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong evolusi industri pakan akuakultur serta penggunaan aditif pakan, suplemen, dan bahan alternatif, yang memiliki peran penting dan kompleks dalam mendukung pertumbuhan sektor ini, serta memungkinkan peningkatan signifikan dalam produksi, kesehatan, dan kesejahteraan ikan budidaya [2–9].

 

Terobosan terbaru menunjukkan bahwa aditif pakan seperti vitamin, mineral, dan asam amino digunakan untuk memastikan bahwa pakan menyediakan seluruh nutrien esensial yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan kesehatan ikan budidaya [2,10–12]. Selain itu, beberapa aditif berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoters) [13–17], karena terbukti meningkatkan kinerja pertumbuhan dan efisiensi konversi pakan, sehingga ikan dapat mencapai ukuran komersial dalam waktu yang lebih singkat. Aditif pakan seperti prebiotik, probiotik [18–22], ekstrak tanaman (fitobiotik) [22–27], serta ekstrak alga (fikobiotik) [28–31] dapat memperkuat sistem imun ikan, sehingga meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dan infeksi.

 

Lebih lanjut, beberapa aditif mampu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan organisme akuatik [5,18,21]. Aditif yang memiliki potensi antimikroba dan antiparasit dapat memperbaiki gejala akibat infeksi dan infestasi oleh patogen atau parasit, sehingga menurunkan kejadian wabah penyakit [6,8]. Di sisi lain, sejumlah aditif juga dikenal sebagai agen pendukung (adjuvan) yang mampu meningkatkan kecernaan pakan, meningkatkan efisiensi penyerapan nutrien, serta pada akhirnya menurunkan kebutuhan pakan [7,8,10,32]. Saat ini, strategi pemberian pakan telah menjadi faktor kunci dalam mengoptimalkan budidaya ikan, baik di Brasil maupun secara global, serta berperan dalam meningkatkan kesehatan ikan dan keberlanjutan sistem produksi.

 

Senyawa bioaktif yang berasal dari hewan, tumbuhan, alga, maupun mikroorganisme merupakan kelompok aditif pakan yang paling banyak diteliti untuk meningkatkan kesehatan ikan budidaya [11]. Sebagai contoh, penggunaan enzim pencernaan (amilase, lipase, protease, selulase, dan hemiselulase) serta enzim non-pencernaan (fitase, glukosa oksidase, dan lisozim) dalam suplementasi pakan dapat meningkatkan kecernaan bahan pakan dan penyerapan nutrien, yang berdampak positif terhadap performa pertumbuhan [12].

 

Penggunaan mikroalga sebagai bahan pakan akuakultur berpotensi menggantikan tepung ikan atau minyak ikan, karena kandungannya yang kaya akan asam lemak tak jenuh ganda omega-3 (ω-3 PUFA), karotenoid, vitamin, dan β-glukan. Komponen tersebut diketahui mampu meningkatkan laju pertumbuhan, pigmentasi kulit, sistem imun, morfofisiologi usus, serta tingkat kelangsungan hidup organisme akuatik [10,13,31,33–36]. Sementara itu, makroalga juga merupakan bahan pakan fungsional yang potensial karena selain memiliki nilai nutrisi tinggi, juga mengandung protein dengan komposisi asam amino esensial lengkap, taurin, lipid, karotenoid, serta senyawa bioaktif yang dapat memberikan efek positif terhadap pertumbuhan, fisiologi, ketahanan terhadap stres, sistem imun, dan kualitas fillet ikan budidaya [28,29,37,38].

 

Senyawa aktif yang berasal dari tanaman merupakan alternatif alami terhadap bahan kimia sintetis untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap penyakit dalam akuakultur. Suplementasi minyak atsiri, seperti jahe (0,5%), terbukti meningkatkan pertumbuhan, respons imun, serta ketahanan terhadap penyakit (streptokokosis) pada ikan nila (Oreochromis niloticus) [23]. Demikian pula, minyak atsiri Lippia sidoides (0,25%) meningkatkan respons inflamasi dan kondisi histologis pada ikan zebra (Danio rerio) [25]. Tanaman milk thistle (Silybum marianum) pada dosis 0,1% (mengandung 16% silymarin fosfatida) menunjukkan efek hepatoprotektif dan imunomodulator pada ikan nila [24], sedangkan minyak atsiri Lippia origanoides, L. sidoides, dan Mentha piperita efektif dalam pengobatan infestasi Neobenedenia melleni pada ikan belanak (Mugil liza) [26]. Dengan demikian, senyawa berbasis tanaman berpotensi meningkatkan kesehatan ikan secara menyeluruh, menciptakan lingkungan budidaya yang lebih sehat, serta menurunkan insiden penyakit.

 

Di sisi lain, probiotik, prebiotik, dan postbiotik memiliki peran penting dalam akuakultur karena memberikan berbagai manfaat kesehatan bagi ikan serta meningkatkan efisiensi sistem produksi. Pemberian Saccharomyces cerevisiae (200 g ton⁻¹ pakan) terbukti meningkatkan tingkat kelangsungan hidup setelah uji stres termal dan osmotik pada fase pembalikan kelamin larva ikan nila [18]. Demikian pula, pemberian S. cerevisiae atau kombinasi Bacillus amyloliquefaciens dan B. subtilis mampu meningkatkan komunitas mikrobiota usus serta kelangsungan hidup ikan nila yang diuji tantang dengan Aeromonas hydrophila [15]. Aditif pakan berbasis multi-strain Bacillus juga terbukti memodulasi mikrobioma usus ikan nila, menghasilkan perubahan komposisi mikrobiota yang menguntungkan, meningkatkan populasi bakteri bermanfaat, serta menekan keberadaan patogen [19].

 

Peningkatan kinerja pencernaan akibat penggunaan prebiotik dan probiotik telah dilaporkan melalui peningkatan efisiensi penyerapan nutrien. Penggunaan natrium butirat dalam bentuk terlindungi (0,25% atau 0,5%) terbukti memberikan manfaat bagi perkembangan dan kesehatan usus ikan nila selama periode pembalikan kelamin [39]. Selain itu, penguatan sistem imun (misalnya peningkatan parameter darah dan protein plasma) serta pengendalian patogen juga telah banyak diteliti pada ikan asli Brasil, seperti surubim hibrida (Pseudoplatystoma corruscans × P. reticulatum) [14], dourado (Salminus brasiliensis) [20], tambaqui (Colossoma macropomum) [40], serta ikan lele hibrida (P. reticulatum ♀ × Leiarius marmoratus ♂) [21].

 

Kondisi ini menunjukkan pentingnya formulasi pakan yang dirancang secara strategis dalam akuakultur, serta menegaskan perlunya penelitian berkelanjutan, mengingat adanya tren yang semakin meningkat menuju pengembangan pakan yang lebih berkelanjutan dan efisien. Penelitian terbaru berfokus pada penggunaan bahan berbasis nabati atau senyawa alami sebagai substituen bahan pakan konvensional tanpa mengurangi pertumbuhan dan kualitas ikan budidaya. Kemajuan ini sangat penting bagi masa depan akuakultur berkelanjutan, yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus menjamin keberlanjutan ekonomi usaha budidaya.

 

Akuakultur di Brasil berkembang pesat dan memiliki potensi besar untuk terus tumbuh, khususnya melalui kemajuan teknologi dalam budidaya dan pemberian pakan pada spesies lokal. Penelitian di bidang nutrisi berperan penting dalam meningkatkan kinerja budidaya ikan di Brasil. Meskipun tinjauan ini berfokus pada akuakultur di Brasil, bukti ilmiah yang disajikan dalam bagian berikutnya tidak terbatas pada konteks tersebut dan memiliki relevansi yang luas bagi praktik akuakultur di seluruh dunia.

 

2. Peran Kunci Aditif Pakan dalam Budidaya Ikan

 

Aditif pakan ikan merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam pakan untuk meningkatkan kualitas pakan, mendukung kesehatan dan kesejahteraan ikan, serta mengoptimalkan kinerja produksi dan nilai nutrisi (Gambar 1). Aditif ini dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi spesifik dan mekanisme kerjanya [2].

Gambar 1. Diagram yang menggambarkan fungsi-fungsi utama strategi pemberian pakan dalam budidaya ikan.

 

2.1. Peningkatan Kecernaan dan Penyerapan Nutrien

 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aditif pakan seperti enzim proteolitik, lipolitik, dan karbohidrase berperan dalam memecah komponen pakan yang sulit dicerna, seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Selain itu, enzim eksogen dapat membantu mengompensasi kekurangan enzim endogen, khususnya pada ikan muda. Hal ini meningkatkan proses pencernaan dan penyerapan nutrien, sehingga berdampak pada peningkatan efisiensi pakan dan pertumbuhan ikan [41–45].

 

Sebagai contoh, Cavero et al. [42] melaporkan bahwa penambahan enzim pencernaan eksogen berupa protease dan lipase pada pakan ikan pirarucu (Arapaima gigas) dengan dosis 0,1%, 0,2%, atau 0,4% mampu meningkatkan pertumbuhan spesies karnivora tersebut. Demikian pula, penambahan kompleks enzim yang berasal dari jamur Aspergillus niger (0,0; 0,25; 0,50; 0,75; dan 1,0 g kg⁻¹), yang mengandung pektinase (4000 IU kg⁻¹), protease (700 IU kg⁻¹), fitase (300 IU kg⁻¹), β-glukanase (200 IU kg⁻¹), xilanase (100 IU kg⁻¹), selulase (40 IU kg⁻¹), dan amilase (30 IU kg⁻¹), terbukti meningkatkan kecernaan nutrien serta kinerja produksi ikan pirarucu. Peneliti juga mencatat bahwa aktivitas spesifik enzim pencernaan seperti protease alkalin, amilase, dan lipase menurun secara linier seiring dengan peningkatan dosis kompleks enzim dalam perlakuan [43].

 

Fitase merupakan enzim yang memiliki pengaruh signifikan dalam pakan ikan, terutama yang berbasis bahan nabati seperti kedelai, jagung, dan terutama gandum. Lipase berperan dalam pemecahan lemak, sehingga meningkatkan pencernaan dan penyerapan lipid, sedangkan protease membantu pemecahan protein secara lebih efisien, sehingga meningkatkan penyerapan asam amino esensial serta mengurangi protein yang tidak tercerna [41,44]. Seiring dengan upaya industri pakan akuakultur untuk mencari alternatif berkelanjutan pengganti tepung ikan, penggunaan enzim dalam formulasi pakan menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan nutrisi dan efisiensi pakan ikan.

 

Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ikan nila (Oreochromis niloticus) memperoleh manfaat dari pakan yang mengandung hidrolisat protein hati unggas pada tingkat 0, 10, 20, dan 40 g kg⁻¹ [45]. Demikian pula, ikan lele Amerika Selatan (Rhamdia quelen) menunjukkan peningkatan kinerja produksi dan efisiensi nutrisi ketika diberi pakan yang disuplementasi dengan hidrolisat protein sarden (Sardinella spp.) pada tingkat 0, 2, 5, dan 10% [46].

 

Peningkatan kecernaan dan penyerapan nutrien dalam budidaya ikan memberikan berbagai keuntungan, antara lain peningkatan efisiensi pakan, optimalisasi pertumbuhan, peningkatan kesehatan ikan, pengurangan dampak lingkungan, penghematan biaya, serta peningkatan keberlanjutan. Hal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas budidaya ikan, tetapi juga mendukung lingkungan yang lebih sehat dan sistem produksi pangan yang lebih efisien.

 

2.2. Peningkatan Imunitas dan Kesehatan


Dalam beberapa tahun terakhir, pakan fungsional semakin banyak digunakan dalam akuakultur di Brasil untuk meningkatkan sistem imun dan mendukung kesehatan ikan. Pakan ini mampu meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dengan memperkuat sistem imun serta mendukung kesejahteraan ikan secara menyeluruh.

 

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan di Brasil bertujuan untuk memberikan manfaat khusus bagi sektor akuakultur nasional, sekaligus memberikan wawasan yang berpotensi diterapkan secara global dalam praktik akuakultur (Tabel 1).

 

Tabel 1. Kemajuan terkini dan prospek masa depan dalam nutrisi dan pemberian pakan pada budidaya ikan di Brasil

Studi-studi yang tercantum berfokus pada aspek pemberian pakan ikan dan dilakukan pada spesies ikan asli Brasil yang juga ditemukan di negara lain, seperti genus Pseudoplatystoma, Mugil, Centropomus, Colossoma, Sardinella, Arapaima, Seriola, Elacatinus, dan Rhamdia.

 

Nama Umum (di Brasil)

Spesies

Strategi Berbasis Pakan

Lama Uji

Dosis

Temuan Utama

Referensi

Nila

O. niloticus

Minyak atsiri kemangi cengkeh (Ocimum gratissimum)

55 hari

0,5%; 1,0%; 1,5%

Dosis 0,5% secara signifikan meningkatkan rasio konversi pakan (FCR)

Brum et al. [23]

Nila

O. niloticus

Minyak atsiri jahe (Zingiber officinale)

55 hari

0,5%; 1,0%; 1,5%

Semua perlakuan meningkatkan aktivitas fagositik; dosis 0,5% memberikan tingkat kelangsungan hidup relatif 100% setelah uji tantang S. agalactiae

Brum et al. [23]

Paulistinha

Danio rerio

Minyak atsiri rosemary-pepper (Lippia sidoides)

15 hari

0,25%

Meningkatkan respons inflamasi dan kondisi histologis; bermanfaat bagi kesehatan ikan yang diinjeksi karsinoma asites Ehrlich

Cardoso et al. [25]

Pirarucu

Arapaima gigas

Protease dan lipase

37 hari

0,1%; 0,2%; 0,4%

Meningkatkan pertambahan bobot, laju pertumbuhan, dan efisiensi konversi pakan

Cavero et al. [42]

Ikan badut

Amphiprion clarkii

Triiodotironin

13 hari

0; 0,01; 0,1 mg L⁻¹

Dosis 0,01 mg L⁻¹ meningkatkan kelangsungan hidup dan mempercepat metamorfosis larva

Contrera et al. [47]

Nila

O. niloticus

Natrium butirat, ragi terhidrolisis kering, dan seng proteinate

60 hari

0; 0,60; 1,20; 2,40; 4,80 g kg⁻¹

Memberikan efek positif terhadap kesehatan usus

De Oliveira et al. [48]

Neon goby

Elacatinus figaro

Triiodotironin

14 hari

0; 0,01; 0,025; 0,05 mg L⁻¹

Dosis 0,025 dan 0,05 mg L⁻¹ mempercepat metamorfosis

Eugênio et al. [49]

Nila

O. niloticus

Saccharomyces cerevisiae

20 hari

200 g ton⁻¹

Meningkatkan bobot akhir, ketahanan terhadap stres suhu, dan toleransi osmotik

Faust et al. [18]

Nila

O. niloticus

Probiotik multi-strain (Bacillus subtilis dan B. licheniformis)

50 hari

100 mL kg pakan⁻¹

Mengubah mikrobiota usus secara menguntungkan

Ferrarezi et al. [19]

Nila

O. niloticus

Hidrolisat protein hati unggas

45 hari

10; 20; 40 g kg⁻¹

Menurunkan protein karbonil insang dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan

Gomes et al. [45]

Jundiá

Rhamdia quelen

Hidrolisat protein sarden

56 hari

2%; 5%; 10%

Dosis 5% meningkatkan aktivitas enzim pencernaan dan bakteri asam laktat usus

Ha et al. [46]

Nila

O. niloticus

Kombinasi hidrolat Curcuma longa dan Lactobacillus plantarum

70 hari

LP = 100 mL kg⁻¹; CL = 2,5%

Meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup ikan

Jatobá et al. [22]

Nila

O. niloticus

Natrium butirat

28 hari

0,25%; 0,5%

Mengurangi aktivitas protease alkalin dan meningkatkan kesehatan usus

Jesus et al. [39]

Seriola

Seriola dorsalis

Ulva fasciata

48 hari

0; 5; 10; 20 g kg⁻¹

Meningkatkan kualitas jaringan otot

Legarda et al. [50]

Nila

O. niloticus

Asam benzoat

54 hari

0,1%; 0,2%; 0,3%

Dosis 0,1% meningkatkan pertambahan bobot, menurunkan mortalitas, dan meningkatkan respons imun

Libanori et al. [51]

Pirarucu

Arapaima gigas

Kompleks enzim

30 hari

0,25–1 g kg⁻¹

Dosis 1 g kg⁻¹ meningkatkan kecernaan dan performa produksi

Lima et al. [43]

Sarden

Sardinella brasiliensis

Sitral

20 hari

0,5–2,0 mL kg⁻¹

Meningkatkan kelangsungan hidup, aktivitas enzim pencernaan, dan morfologi usus

Michelotti et al. [52]

Nila

O. niloticus

Probiotik mikroenkapsulasi

45 hari

0,02%

Meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup setelah paparan A. hydrophila

Moraes et al. [15]

Tambaqui

Colossoma macropomum

Ekstrak anggur

60 hari

20–80 g kg⁻¹

Dosis 80 g kg⁻¹ meningkatkan pertumbuhan dan imunitas

Morante et al. [4]

Robalo

Centropomus undecimalis

Pakan dengan sitral

45 hari

0–1,76 g kg⁻¹

Sitral meningkatkan stres oksidatif; tidak direkomendasikan

Mori et al. [53]

Tainha

Mugil liza

Pakan dengan sitral

45 hari

0,5–2,0 mL kg⁻¹

Meningkatkan pertumbuhan, fungsi enzim pencernaan, dan kesehatan

Mori et al. [17]

Dourado

Salminus brasiliensis

Lactobacillus rhamnosus (probiotik + prebiotik)

45 hari

0,02%; 2,0%

Meningkatkan fungsi imun usus dan efisiensi pakan

Oliveira et al. [20]

Tambaqui

C. macropomum

Minyak atsiri Croton conduplicatus

60 hari

0–1,50 mL kg⁻¹

Meningkatkan pertumbuhan dan respons hematobiokimia

Pereira et al. [54]

Nila

O. niloticus

Kompleks β-glukan + premiks vitamin

30 hari

1,5–2,0 kg ton⁻¹

Meningkatkan parameter produksi, tetapi ditemukan gangguan patologis

Pereira et al. [55]

Tambaqui

C. macropomum

Minyak atsiri jeruk (Citrus sinensis)

40 hari

200–800 mg L⁻¹

Meningkatkan pertumbuhan, kesehatan, dan ketahanan terhadap A. hydrophila

Pereira Júnior et al. [56]

Tainha

Mugil liza

Enzim eksogen

75 hari

50–200 g ton⁻¹

Mencegah enteritis akibat tepung kedelai

Ramos et al. [57]

Nila

O. niloticus

Campuran imunomodulator

50 hari

40 kg ton⁻¹

Meningkatkan pertumbuhan dan menurunkan FCR

Sá et al. [58]

Nila

O. niloticus

Bacillus spp. + asam benzoat

54 hari

0,1%

Meningkatkan pertambahan bobot

Santos et al. [59]

Nila

O. niloticus

Produk berbasis seng (nano & organik)

60 hari

15 mg kg⁻¹

Meningkatkan sistem pertahanan bawaan

Silva et al. [60]

Tambaqui

C. macropomum

Probiotik multi-strain + prebiotik

45 hari

0–8 g kg⁻¹

Dosis 2 g paling optimal dalam kondisi stres

Souza et al. [40]

Surubim hibrida

Pseudoplatystoma spp.

Bacillus subtilis C-3102

10 hari

10–40 g kg⁻¹

Dosis 30 g kg⁻¹ meningkatkan performa produksi dan parameter hematologi

Veiga et al. [14]

 

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup, umumnya berupa bakteri menguntungkan seperti dari genus Lactobacillus dan Bacillus [19,20], yang secara sengaja diberikan kepada ikan melalui pakan. Probiotik berperan dalam menyeimbangkan mikrobiota usus, sehingga meningkatkan kesehatan pencernaan, penyerapan nutrien, kinerja pertumbuhan, serta ketahanan terhadap infeksi. Probiotik juga bersaing secara langsung dengan mikroorganisme patogen untuk mendapatkan tempat perlekatan di saluran pencernaan, sehingga membatasi pertumbuhan patogen. Selain itu, probiotik menghasilkan senyawa antimikroba seperti bakteriosin dan asam organik yang dapat menghambat pertumbuhan patogen. Probiotik juga mampu meningkatkan sistem imun ikan dengan merangsang produksi sel imun serta mengurangi stres oksidatif, sehingga melindungi ikan dari kerusakan seluler [15,18,40].

 

Sebaliknya, prebiotik merupakan senyawa yang tidak dapat dicerna, seperti serat tanaman, mannan oligosakarida (MOS), dan fruktooligosakarida (FOS), yang ditambahkan ke dalam pakan untuk mendukung pertumbuhan dan aktivitas bakteri probiotik di usus ikan. Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan probiotik, sehingga meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan ikan budidaya [2,40].

 

Imunomodulator, termasuk asam lemak seperti asam arakidonat (ARA; 20:4n-6), asam eikosapentaenoat (EPA, C20:5), dan asam dokosaheksaenoat (DHA, C22:6, ω-3), nukleotida, serta ekstrak tanaman, dapat memengaruhi respons imun ikan dengan merangsang atau mengatur produksi sel imun seperti limfosit dan makrofag [23–25]. Senyawa-senyawa ini membantu meningkatkan ketahanan ikan terhadap patogen dan penyakit, serta memperbaiki kemampuan ikan dalam melawan infeksi bakteri [21,51]. Asam lemak esensial seperti omega-3 (EPA dan DHA) dan omega-6 (ARA) berperan penting dalam pembentukan dan pemeliharaan membran sel serta regulasi respons inflamasi [61]. Selain itu, senyawa ini juga berperan dalam modulasi sistem imun melalui peningkatan produksi prostaglandin dan leukotrien yang mengatur proses inflamasi dan respons imun.

 

Asam organik, seperti asam butirat, asam sitrat, asam laktat, asam propionat, dan asam format, memiliki sifat antimikroba dan kemampuan mengasamkan lingkungan, sehingga dapat meningkatkan kondisi saluran pencernaan ikan. Senyawa ini membantu menekan keberadaan patogen, seperti bakteri dan jamur berbahaya, baik di saluran pencernaan maupun di lingkungan perairan, serta meningkatkan proses pencernaan dan penyerapan nutrien [2,39,51].

 

Antioksidan, termasuk vitamin (A, D, dan E), mineral (seng, selenium, dan tembaga), serta beta-karoten, memiliki peran penting dalam mengurangi stres oksidatif pada ikan [2]. Antioksidan bekerja dengan menetralisir radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan melemahkan sistem imun. Dengan meningkatkan ketahanan ikan terhadap kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, seperti fluktuasi suhu, stres lingkungan, dan infeksi, antioksidan membantu menjaga kesehatan ikan secara keseluruhan [18]. Vitamin dan mineral tersebut juga penting untuk fungsi imun, pertumbuhan, dan perkembangan ikan [2,60]. Selain itu, antioksidan mencegah peroksidasi lipid pada jaringan otot ikan, sehingga menjaga kualitas daging [61]. Kekurangan nutrien dapat menurunkan fungsi sistem imun dan meningkatkan kerentanan ikan terhadap penyakit. Oleh karena itu, vitamin antioksidan seperti vitamin C dan E, serta mineral seperti seng, selenium, dan besi, sangat penting dalam mengurangi stres oksidatif dan mendukung respons imun ikan [11,12,60].

 

Peptida bioaktif yang berasal dari protein diketahui mampu meningkatkan sistem imun ikan dengan merangsang aktivasi sel imun seperti makrofag dan limfosit. Beberapa peptida juga memiliki sifat antimikroba yang membantu mencegah infeksi dengan menargetkan patogen. Selain itu, penambahan enzim pencernaan dalam pakan ikan dapat meningkatkan proses pencernaan dan penyerapan nutrien, mengurangi beban kerja sistem pencernaan, serta mendukung kesehatan usus. Peningkatan efisiensi pencernaan ini berkontribusi pada kesehatan ikan yang lebih baik dan sistem imun yang lebih kuat [6,8,12,46].

 

3. Pendekatan Nutrisi dalam Budidaya Ikan Laut di Brasil


Meskipun budidaya ikan laut di Brasil masih dalam tahap awal perkembangan [62], penggunaan pakan yang diformulasikan secara khusus dan diperkaya semakin penting dalam akuakultur, dengan tujuan meningkatkan kinerja produksi, kesehatan, dan kesejahteraan ikan budidaya. Penelitian di bidang ini mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, dengan fokus pada pengembangan alternatif yang berkelanjutan dan efisien untuk meningkatkan produksi spesies ikan laut bernilai ekonomi, seperti belanak, kakap putih (common snook), dan sarden.

 

Sebagai contoh, suatu penelitian mengevaluasi pengaruh penambahan guar gum (galaktomanan), yaitu polisakarida non-pati yang berasal dari Cyamopsis tetragonolobus, dalam pakan juvenil ikan belanak (Mugil liza). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan guar gum di atas 4% tidak direkomendasikan. Ikan yang diberi pakan dengan kandungan guar gum sebesar 8% dan 12% menunjukkan penurunan bobot akhir, pertambahan bobot, laju pertumbuhan, konsumsi pakan, serta asupan protein dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, pakan yang mengandung guar gum juga menurunkan kadar bahan kering, protein kasar, dan lemak karkas. Kadar glikogen hati meningkat dengan suplementasi guar gum, sementara kadar kolesterol menurun pada ikan yang diberi 4% dan 8% guar gum [63].

 

Demikian pula, Ramos et al. [64] tidak merekomendasikan penggunaan pektin jeruk pada tingkat 4%, 8%, atau 12% dalam pakan juvenil M. liza. Ikan yang diberi pektin menunjukkan penurunan kadar bahan kering, protein kasar, dan abu. Kadar glikogen hati meningkat pada perlakuan 12% pektin, tanpa pengaruh signifikan terhadap kadar kolesterol dan trigliserida. Pektin jeruk juga tidak menunjukkan dampak yang nyata terhadap komunitas mikroba.

 

Sebaliknya, Mori et al. [17] melaporkan bahwa penambahan sitral dalam pakan memberikan efek positif pada juvenil M. liza. Ikan yang menerima sitral (2,0 mL kg⁻¹ pakan) menunjukkan peningkatan pertambahan bobot dan efisiensi retensi protein, serta peningkatan aktivitas enzim pencernaan seperti pepsin dan amilase di lambung dan usus dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, suplementasi sitral menurunkan peroksidasi lipid hati serta meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti glutathione peroksidase, glutathione-S-transferase, dan superoksida dismutase pada insang, hati, dan otak. Sitral juga memberikan efek positif pada tingkat kelangsungan hidup ikan sarden Brasil (Sardinella brasiliensis), di mana dosis 2,0 mL kg⁻¹ pakan meningkatkan aktivitas enzim pencernaan lipase dan amilase. Selain itu, sitral meningkatkan jumlah vili dan kedalaman kripta usus, sedangkan dosis 0,5 mL kg⁻¹ meningkatkan diameter usus ikan [27]. Namun demikian, Mori et al. [53] dan Michelotti et al. [52] tidak merekomendasikan penggunaan sitral sebagai aditif pakan untuk juvenil kakap putih (Centropomus undecimalis).

 

Noffs et al. [65] meneliti pengaruh penambahan probiotik Bacillus subtilis (5,0 × 10⁹ CFU kg⁻¹ pakan) pada pakan benih kakap putih (C. undecimalis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak meningkatkan laju pertumbuhan, probiotik tersebut memberikan efek imunostimulan ketika diberikan secara berselang.

 

Penambahan garam organik dalam pakan juga terbukti memberikan manfaat bagi juvenil kakap putih (Centropomus parallelus). Silva et al. [66] melaporkan bahwa penambahan 3% natrium asetat dan natrium sitrat dalam pakan meningkatkan bobot akhir, panjang tubuh, dan hasil panen dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, ikan yang menerima perlakuan tersebut menunjukkan jumlah bakteri heterotrofik laut yang lebih rendah dibandingkan kontrol, sehingga menunjukkan potensi penggunaan garam organik sebagai bidang penelitian yang menjanjikan.

 

Suplementasi asam askorbat pada pakan M. liza tidak berpengaruh terhadap parameter pertumbuhan, tetapi dosis 107 dan 216 mg kg⁻¹ memberikan hasil terbaik terhadap kualitas sperma ikan jantan [67]. Kualitas sperma merupakan faktor penting dalam keberhasilan reproduksi ikan dalam akuakultur, karena berperan dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan stok ikan.

 

Selain itu, suplementasi enzim eksogen dalam pakan juga terbukti efektif pada ikan belanak. Kompleks enzim eksogen, seperti xilanase, β-glukanase, pektinase, mannanase, fitase, dan enzim pemecah polisakarida non-pati lainnya, mampu mencegah enteritis usus akibat penggunaan tepung kedelai pada juvenil M. liza [57].

 

Berbeda dengan ikan air tawar, ikan laut menghadapi tantangan spesifik akibat lingkungan salin dan karakteristik fisiologi pencernaan yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan dan evaluasi aditif pakan yang lebih spesifik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan fisiologis ikan laut.

 

Strategi Nutrisi untuk Ikan Hias Laut Budidaya di Brasil

 

Perdagangan organisme akuatik hias mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir dan telah berkembang menjadi industri internasional bernilai miliaran dolar [68,69,70]. Ikan merupakan kelompok yang paling banyak diperdagangkan dan paling populer dalam industri ini. Dengan jutaan ikan diperdagangkan setiap tahun untuk keperluan akuarium, ikan air tawar masih mendominasi pasar ikan hias, mewakili sebagian besar perdagangan ikan global. Meskipun ikan laut hanya menyumbang kurang dari 10% dari volume perdagangan, harga yang lebih tinggi menjadikan nilai ekonominya secara keseluruhan lebih besar dibandingkan ikan air tawar [69].

 

Industri akuarium sangat bergantung pada ikan hias laut yang ditangkap dari alam, dengan perkiraan bahwa 90–99% ikan tersebut berasal dari populasi liar [69]. Ketergantungan ini menimbulkan kekhawatiran terkait keberlanjutan dan dampak lingkungan, termasuk penangkapan berlebih (overfishing), metode penangkapan yang merusak, kerusakan habitat, serta eksploitasi spesies yang terancam punah. Upaya untuk mendorong praktik berkelanjutan terus dilakukan melalui regulasi dan sertifikasi dalam perdagangan ikan hias laut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dan mengurangi tekanan terhadap populasi liar, perhatian semakin diarahkan pada pengembangan budidaya ikan hias laut secara terkontrol.

 

Namun demikian, pembenihan spesies ikan hias laut menghadapi berbagai tantangan khusus, antara lain kompleksitas lingkungan laut, rendahnya tingkat keberhasilan reproduksi pada beberapa spesies, pengelolaan penyakit, stres dalam kondisi penangkaran, kebutuhan nutrisi spesifik, pengelolaan kualitas air, pemeliharaan warna tubuh, serta tingginya biaya pakan [5,71,72]. Perlu dicatat bahwa berbagai penelitian melaporkan adanya penambahan zat ke dalam air pada sistem air tawar yang tidak termasuk sebagai aditif pakan atau suplemen. Akan tetapi, pada ikan laut yang memerlukan asupan air laut untuk osmoregulasi, penambahan zat ke dalam air dapat dikategorikan sebagai bentuk aditif pakan.

 

Pakan eksperimental telah diuji dalam produksi ikan hias di Brasil untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, dengan peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan, kesehatan, warna, serta kesejahteraan ikan secara keseluruhan. Penelitian saat ini difokuskan pada pengembangan teknologi produksi spesies ikan hias laut asli, khususnya yang rentan atau hampir terancam punah, seperti kuda laut (Hippocampus reidi). Fokus utama adalah meningkatkan tingkat kelangsungan hidup serta mengembangkan teknologi budidaya spesies eksotik, seperti ikan badut, termasuk upaya memperpendek periode larvikultur dan meningkatkan kualitas warna tubuh.

 

Sebagai contoh, hormon tiroid (thyroid hormones/THs), termasuk T3 (triiodotironin) dan T4 (tiroksin), memiliki peran penting dalam fisiologi ikan dan sangat krusial pada tahap perkembangan awal [73]. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon tiroid pada ikan dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, perkembangan otot rangka, pengembangan gelembung renang pada larva, pengurangan kanibalisme, serta percepatan metamorfosis [74,75]. Selain itu, hormon ini juga berperan dalam diferensiasi jaringan, termasuk sistem pencernaan pada larva ikan [76,77].

 

Penambahan triiodotironin (T3) pada fase perkembangan larva ikan barber goby (Elacatinus figaro), spesies endemik Brasil yang rentan dan berisiko tinggi mengalami kepunahan di alam, telah diuji sejak 14 hingga 40 hari setelah menetas (hingga seluruh larva menyelesaikan metamorfosis). Larva yang direndam dalam konsentrasi T3 sebesar 0,025 mg L⁻¹ dan 0,05 mg L⁻¹ menunjukkan percepatan metamorfosis hingga 11 hari dibandingkan kelompok kontrol (tanpa penambahan T3) dan perlakuan 0,01 mg L⁻¹ [49]. Hal ini berkontribusi pada pemendekan periode larvikultur spesies tersebut.

 

Hasil serupa dilaporkan oleh Contrera et al. [47] pada larvikultur ikan badut ekor kuning (Amphiprion clarkii). Penambahan T3 dengan konsentrasi 0,01 mg L⁻¹ dan 0,1 mg L⁻¹ ke dalam media pemeliharaan memberikan pengaruh signifikan. Perlakuan 0,01 mg L⁻¹ meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan mempercepat metamorfosis larva hingga 4 hari, dengan 81% larva telah bermetamorfosis pada hari ke-13, dibandingkan kelompok tanpa suplementasi hormon. Namun, dosis T3 yang lebih tinggi menyebabkan penurunan laju pertumbuhan dan metamorfosis yang tidak sempurna, dengan munculnya kelainan seperti deformitas rangka, kelainan sirip, perubahan warna, serta perilaku berenang yang tidak normal.

 

Probiotik merupakan salah satu aditif pakan fungsional yang menunjukkan efek signifikan terhadap pertumbuhan, kesehatan, dan kesejahteraan ikan. Dalam penelitian oleh Ferreira [78], produk pengkayaan pakan hidup komersial yang mengandung mikroalga, minyak ikan mikroenkapsulasi, dan minyak asam arakidonat diuji pada Artemia sp. sebagai pakan tunggal bagi juvenil H. reidi pada umur 30 hari setelah menetas. Mikroalga Nannochloropsis oculata juga diuji secara tunggal maupun dikombinasikan dengan probiotik komersial yang mengandung Bacillus subtilis, Enterococcus faecium, Pediococcus acidilactici, dan Lactobacillus reuteri dengan konsentrasi 3 × 10⁹ CFU g⁻¹. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 45 hari, performa pertumbuhan meningkat pada perlakuan Artemia yang diperkaya dengan produk komersial tersebut, terlepas dari penambahan probiotik. Selain itu, pada fase awal larvikultur H. reidi, penggunaan kopepoda dalam kombinasi dengan rotifera dan Artemia, serta aplikasi probiotik yang sama dalam media pemeliharaan, berhasil meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan larva [79].

 

Karotenoid berperan penting dalam meningkatkan dan mempertahankan warna cerah pada ikan hias. Ikan dan organisme akuatik lainnya tidak mampu mensintesis karotenoid secara alami, sehingga senyawa ini perlu ditambahkan ke dalam pakan untuk meningkatkan warna sekaligus mendukung sistem imun. Astaxantin dan karotenoid lainnya dapat diperoleh dari sumber sintetis maupun alami, seperti ragi, alga, jagung, dan bakteri. Dalam penelitian oleh Hoffmann [80], efektivitas astaxantin sintetis (3,3′-dihidroksi-β,β-karoten-4,4′-dion) dibandingkan dengan astaxantin alami dari Haematococcus pluvialis dievaluasi terhadap warna, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup juvenil ikan badut (Amphiprion ocellaris). Hasilnya menunjukkan bahwa astaxantin dalam pakan meningkatkan pigmentasi ikan, dengan sumber alami memberikan hasil paling optimal dalam menghasilkan warna merah khas spesies tersebut.

 

Pendekatan lain, seperti suplementasi enzim eksogen dalam pakan, juga menunjukkan hasil yang menjanjikan pada ikan hias laut. Penambahan enzim eksogen dapat meningkatkan efisiensi pakan dan mendukung pertumbuhan ikan dalam sistem budidaya. Pemberian Artemia sp. yang diperkaya dengan 75 mg L⁻¹ pankreatin porcine (kompleks enzim pankreas yang terdiri atas tripsin, amilase, lipase, ribonuklease, dan protease) sejak menetas hingga umur 30 hari pada kuda laut H. reidi menyebabkan perubahan signifikan pada mukosa usus, yang berdampak pada peningkatan kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa suplementasi enzim pencernaan merupakan inovasi penting dalam pengembangan protokol pemberian pakan yang lebih efisien dan praktis (menggunakan Artemia sebagai pakan tunggal) bagi juvenil kuda laut [81].

 

Demikian pula, pada ikan badut A. ocellaris, pemberian Artemia yang diperkaya dengan pankreatin porcine pada konsentrasi 75 mg L⁻¹ terbukti meningkatkan performa zooteknis, termasuk panjang tubuh dan laju pertumbuhan harian larva [82].

 

Asam organik telah menunjukkan potensi yang menjanjikan pada spesies ikan hias laut, serupa dengan efektivitasnya dalam budidaya ikan air tawar. Suatu campuran komersial asam organik (126,5 g kg⁻¹ amonium format, 115,5 g kg⁻¹ asam format, 82,5 g kg⁻¹ asam lemak nabati, 66,0 g kg⁻¹ asam propionat, dan 55,0 g kg⁻¹ asam asetat) diuji dalam pakan juvenil ikan badut A. ocellaris pada umur 21 hari setelah menetas (DAH). Setelah 77 hari, kinerja zooteknis dan aktivitas enzim pencernaan (tripsin, kimotripsin, dan amilase) tidak terpengaruh oleh penambahan campuran tersebut dalam pakan. Namun demikian, kelompok yang menerima dosis 15 g kg⁻¹ menunjukkan perubahan positif pada morfologi usus, yang mengindikasikan peningkatan penyerapan nutrien serta menunjukkan bahwa periode suplementasi yang lebih lama berpotensi meningkatkan performa pertumbuhan dan kesehatan A. ocellaris [83].

 

Asam organik terbukti memberikan manfaat yang signifikan bagi ikan budidaya, khususnya dalam meningkatkan pencernaan dan kesehatan usus melalui sifat antimikroba yang mampu menghambat proliferasi mikroorganisme patogen. Meskipun demikian, di Brasil masih diperlukan penelitian lebih lanjut, khususnya pada sektor ikan hias laut, untuk mendorong pemanfaatan suplemen ini secara lebih luas.

 

Mikroalga memiliki peran penting sebagai sumber pakan bagi larva berbagai organisme akuatik seperti moluska bivalvia, ikan, dan udang, karena nilai nutrisinya yang tinggi serta ukuran sel yang sesuai. Selain itu, mikroalga juga berfungsi sebagai sumber pakan atau suplemen nutrien bagi pakan hidup sekunder seperti rotifera, Artemia, dan kopepoda. Mélo et al. [84] melaporkan bahwa penambahan mikroalga Nannochloropsis oculata ke dalam media pemeliharaan (green water) meningkatkan tingkat kelangsungan hidup larva baru menetas H. reidi.

 

Sousa et al. [85] melakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh berbagai mikroalga hidup (Tisochrysis lutea–ISO dan Chaetoceros muelleri–CHO), baik secara tunggal (TISO dan TCHO) maupun kombinasi (TIC 1:1), dalam media pemeliharaan, serta perlakuan tanpa mikroalga (TWM), selama 15 hari awal pemeliharaan H. reidi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mikroalga, khususnya T. lutea, memberikan berbagai keuntungan dalam budidaya kuda laut. Keberadaannya dalam media pemeliharaan meningkatkan luas permukaan vili usus larva, yang berimplikasi pada peningkatan performa bobot serta kandungan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA), DHA, total n−3, dan rasio n−3/n−6 dibandingkan perlakuan tanpa mikroalga. Sales et al. [86] juga melaporkan bahwa kuda laut H. reidi (15 DAH) yang diberi pakan berupa pasta flokulasi dan kultur segar mikroalga N. oculata menunjukkan tinggi dan panjang tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan yang diberi pasta komersial, yang kemungkinan disebabkan oleh keberadaan sel hidup serta kandungan tinggi asam lemak tak jenuh.

 

Selain itu, penambahan ekstrak asam lemak dan karotenoid dari mikroalga N. gaditana ke dalam pakan juvenil ikan badut A. ocellaris menghasilkan bobot yang lebih tinggi pada hari ke-30 untuk perlakuan ekstrak asam lemak, serta panjang tubuh yang lebih besar pada perlakuan ekstrak asam lemak maupun karotenoid. Namun, pada hari ke-60, performa pertumbuhan relatif sama antarperlakuan, yang menunjukkan bahwa substitusi minyak ikan dengan ekstrak mikroalga tidak menurunkan produksi [87]. Industri akuakultur terus mencari bahan baku yang lebih ekonomis dan berkelanjutan [88,89]. Mikroalga terbukti menjadi pilihan yang sangat baik sebagai suplemen pakan ikan hias karena memberikan berbagai manfaat. Selain itu, mikroalga kaya akan nutrien penting seperti protein, vitamin, mineral, dan asam lemak yang esensial bagi kesehatan dan perkembangan ikan.

 

Beberapa mikronutrien, seperti yodium, memiliki peran penting dalam kesehatan dan kesejahteraan ikan karena terlibat dalam berbagai proses biologis. Araújo-Silva et al. [90] merekomendasikan suplementasi yodium melalui air atau pakan untuk mengatasi gondok tiroid pada ikan Gramma brasiliensis yang dipelihara dalam kondisi penangkaran. Meskipun penyebab pasti kondisi ini belum sepenuhnya dipahami, penulis menyarankan untuk menjaga kadar nitrat tetap rendah serta memantau kadar yodium dalam air secara berkala. Menurut Araújo-Silva [91] (komunikasi pribadi), ikan dari spesies ini menunjukkan penurunan ukuran gondok yang signifikan setelah diberi perlakuan yodium dalam pakan.

 

Pencarian metode budidaya yang berkelanjutan untuk spesies ikan hias laut sangat penting guna mengurangi tekanan terhadap populasi liar. Penelitian di bidang nutrisi, termasuk penggunaan aditif pakan, telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dan menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi akuakultur sekaligus meminimalkan dampak lingkungan.

 

4. Penggunaan Rumput Laut sebagai Strategi Pakan dalam Penelitian Budidaya Ikan di Brasil

 

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan makroalga sebagai strategi pakan semakin mendapat perhatian karena kandungan nutrisi serta sifat imunostimulan, antivirus, antibakteri, dan pemacu pertumbuhan yang dimilikinya. Penambahan makroalga seperti Ulva ohnoi [92], Sargassum filipendula [93], Undaria pinnatifida [94], Chaetomorpha clavata [95], dan Kappaphycus alvarezii [96] dalam pakan terbukti memberikan efek signifikan terhadap pertumbuhan dan sistem imun udang vaname (Penaeus vannamei). Produk biologi turunan rumput laut juga berpotensi memberikan manfaat bagi organisme akuatik lainnya, termasuk ikan. Namun demikian, penelitian mengenai penggunaan makroalga dalam pakan ikan di Brasil masih tergolong terbatas.

 

Costa dan Miranda-Filho [97] menekankan pentingnya penelitian terkait sumber pigmen dari makroalga laut bagi masa depan akuakultur di Brasil. Mereka menyoroti bahwa karotenoid tidak hanya berperan dalam pewarnaan, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan, reproduksi, dan kesehatan ikan. Pontes et al. [98] meneliti pengaruh penambahan makroalga laut Ulva fasciata dalam pakan juvenil nila (O. niloticus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 10% tepung Ulva dalam pakan tidak memengaruhi waktu transit gastrointestinal dibandingkan kelompok kontrol, sehingga dinilai aman dan tidak memberikan efek negatif secara nutrisional.

 

Demikian pula, Costa et al. [99] melaporkan bahwa penambahan 20 g kg⁻¹ rumput laut cokelat Ascophyllum nodosum dalam pakan memberikan manfaat bagi nila. Terjadi peningkatan linier pada nilai konversi pakan semu dan rendemen karkas seiring dengan meningkatnya tingkat inklusi dalam pakan.

 

Dalam penelitian oleh Mendonça et al. [100] ditemukan bahwa penambahan berbagai tingkat makroalga Gracilaria domingensis (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%) dalam pakan ikan belanak juvenil (Mugil liza) mampu meningkatkan respons imun. Namun demikian, pertumbuhan ikan mengalami penurunan yang signifikan ketika tingkat makroalga melebihi 10%. Selain itu, ikan belanak yang diberi pakan mengandung makroalga laut menunjukkan kadar antibodi anti-CD3 dan anti-CD4 yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Penambahan makroalga sebesar 5% dalam pakan terbukti meningkatkan kompetensi imun tanpa memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ikan.

 

Rumput laut memiliki potensi bioteknologi yang signifikan dalam budidaya ikan, karena dapat berperan sebagai pengatur pertumbuhan, respons imun dan antioksidan, serta mikrobiota usus ikan [101]. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Cian et al. [102], sifat antioksidan alga merah Pyropia columbina diuji pada ikan pacu juvenil (Piaractus mesopotamicus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada bobot akhir, laju pertumbuhan spesifik, faktor kondisi, maupun indeks somatik hati antar perlakuan. Namun, ikan yang diberi P. columbina menunjukkan tingkat peroksidasi lipid, aktivitas superoksida dismutase, serta rasio SOD/CAT yang lebih rendah pada usus, hati, dan otot putih, yang mengindikasikan adanya efek sistemik dari alga tersebut.

 

Sebaliknya, penambahan Ulva fasciata dalam pakan Seriola dorsalis pada berbagai tingkat (0, 5, 10, dan 20 g kg⁻¹) tidak memengaruhi performa pertumbuhan maupun parameter somatik. Namun, pada tingkat inklusi 20 g kg⁻¹, terjadi perubahan signifikan pada parameter hematologi dibandingkan kelompok kontrol. Selain itu, suplementasi U. fasciata menurunkan kadar asam linoleat sekitar 20% dan meningkatkan kadar DHA pada jaringan otot, sehingga meningkatkan kualitas fillet ikan [50].

 

Calheiros et al. [103] menyatakan bahwa genus Ulva berpotensi sebagai sumber alami fenilalanin dan triptofan yang dapat digunakan sebagai agen ansiolitik dalam budidaya ikan. Kandungan triptofan dan fenilalanin yang tinggi pada Ulva spp. diduga mampu membantu mengurangi stres pada ikan. Selain itu, produk turunan Ulva spp. juga berpotensi meningkatkan kesehatan ikan dalam sistem akuakultur multitrofik terintegrasi.

 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa makroalga dapat dimanfaatkan sebagai aditif pakan dalam akuakultur untuk meningkatkan pertumbuhan, imunitas, dan kesehatan ikan secara keseluruhan. Meskipun penelitian terkait penggunaan makroalga dalam budidaya ikan di Brasil masih terbatas, hasil yang ada menunjukkan potensi bioteknologi yang menjanjikan. Sifat antioksidan dan anti-stres dari makroalga berpotensi meningkatkan kesehatan ikan serta kualitas produk perikanan.

 

5. Kemajuan Terkini dalam Pemberian Pakan pada Budidaya Ikan di Brasil

 

Akuakultur di Brasil saat ini mengalami pertumbuhan yang pesat dan menjanjikan. Pada tahun 2024, budidaya ikan—khususnya produksi nila—semakin mengukuhkan posisinya sebagai sektor utama dalam agribisnis Brasil, menjadikan negara tersebut sebagai salah satu produsen nila terkemuka di dunia. Meskipun demikian, masih terdapat potensi besar untuk ekspansi lebih lanjut, yang didorong oleh kemajuan teknologi dalam budidaya dan pemberian pakan pada spesies asli seperti tambaqui dan pirarucu. Selain itu, ekspor produk perikanan juga terus meningkat, dengan pasar utama seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa menjadi tujuan penting [1,104]. Oleh karena itu, penelitian di bidang nutrisi memiliki peran strategis dalam meningkatkan kinerja budidaya ikan di Brasil.

 

Pengembangan pakan yang lebih efektif melalui penggunaan bahan alternatif atau aditif dapat meningkatkan penyerapan nutrien dan kesejahteraan ikan budidaya, sehingga berpotensi menurunkan biaya produksi. Penelitian terbaru berfokus pada formulasi pakan yang ramah lingkungan, mengurangi pencemaran, serta memanfaatkan sumber daya berkelanjutan. Selain itu, pemanfaatan produk samping agroindustri juga dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.

 

Romaneli et al. [105] melaporkan bahwa pakan dengan profil asam amino yang seimbang, meskipun memiliki kadar protein lebih rendah, tidak menghambat pertumbuhan ikan nila juvenil, serta mampu menurunkan protein tercerna dari 32% menjadi 29%, yang berdampak pada penurunan ekskresi limbah nitrogen sebesar 12%. Sementara itu, Gandolpho et al. [106] mengkaji komposisi nutrisi, profil fenolik, serta sifat antioksidan dari trub (produk samping industri bir) dan menemukan bahwa bahan tersebut berpotensi sebagai sumber antioksidan alami untuk suplementasi pakan ikan, seperti pada nila.

 

Di sisi lain, penelitian di Brasil banyak berfokus pada peningkatan kesehatan dan pertumbuhan ikan melalui penggunaan aditif tertentu. Oliveira et al. [20] menemukan bahwa Lactobacillus rhamnosus, yang digunakan sebagai probiotik, prebiotik, maupun dalam bentuk sinbiotik, memberikan manfaat pada ikan karnivora asli Brasil, yaitu dourado (Salminus brasiliensis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 0,02% probiotik, 2,0% prebiotik, maupun kombinasi sinbiotik mampu meningkatkan performa produksi, dengan pertambahan bobot yang setara dengan kontrol namun dengan konsumsi pakan yang lebih rendah.

 

Selain itu, ikan yang diberi perlakuan dan terpapar Aeromonas hydrophila menunjukkan peningkatan signifikan pada parameter imunohistokimia usus. Pemeriksaan anatomopatologi menunjukkan bahwa sel-sel penyusun jaringan vilus dan serosa lebih utuh, serta terjadi peningkatan jumlah sel goblet.

 

Penelitian mengenai kebutuhan nutrisi spesifik pada berbagai spesies ikan juga penting untuk merancang pakan yang mendukung kesehatan dan pertumbuhan optimal. De Oliveira et al. [48] melaporkan bahwa kombinasi natrium butirat, ragi terhidrolisis kering, dan proteinate seng pada berbagai konsentrasi (0,00; 0,60; 1,20; 2,40; dan 4,80 g kg⁻¹) memberikan manfaat bagi ikan nila juvenil. Pemberian kombinasi tersebut pada dosis 2,40 g kg⁻¹ meningkatkan aktivitas tripsin di usus, memperbaiki integritas jaringan usus, mengurangi fusi lipatan usus, serta meningkatkan perkembangan dan tinggi mikrovili, yang menunjukkan perbaikan kesehatan usus melalui modulasi mikrobiota usus.

 

Demikian pula, Ferrarezi et al. [19] melaporkan bahwa probiotik multi-strain Bacillus memberikan efek positif pada nila melalui perubahan komposisi mikrobioma usus, dengan peningkatan keragaman spesies dan penurunan kelimpahan Aeromonas sp.. Sementara itu, Pereira Júnior et al. [56] melaporkan bahwa suplementasi minyak atsiri jeruk (Citrus sinensis) pada dosis 200, 400, dan 800 mg L⁻¹ sangat efektif pada ikan tambaqui (Colossoma macropomum), dengan peningkatan pertumbuhan, imunitas bawaan, serta penurunan mortalitas setelah paparan A. hydrophila.

 

Penelitian nutrisi berperan penting dalam mengidentifikasi senyawa pakan yang dapat meningkatkan sistem imun ikan, sehingga menurunkan kejadian penyakit dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup. Sebagai contoh, suplementasi vitamin dan imunomodulator (β-glukan dan nukleotida) selama 60 hari pada ikan nila juvenil terbukti meningkatkan respons hematoimunologis serta ketahanan terhadap stres fisik dan termal [107].

 

Selain itu, kemajuan teknologi memungkinkan pengembangan pakan ikan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Sá et al. [58] meneliti efek suplementasi imunomodulator (β-glukan, nukleotida, asam askorbat, dan alfa-tokoferol) pada pakan dengan kandungan protein hewani lebih rendah (11,5%) dan tepung kedelai lebih tinggi (43,5%). Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan, yaitu kenaikan bobot akhir sebesar 59,95%, pertambahan bobot 64%, pertumbuhan harian 66%, penurunan rasio konversi pakan sebesar 21,31%, serta peningkatan retensi protein tubuh hingga dua kali lipat.

 

Selain itu, suplementasi tersebut juga memperbaiki morfologi usus dan memodulasi mikrobioma usus, yang menunjukkan potensi besar dalam mengurangi ketergantungan terhadap protein hewani dalam pakan ikan.

 

Dalam penelitian terbaru, Pereira et al. [54] melaporkan bahwa suplementasi minyak atsiri Croton conduplicatus dalam pakan (dengan dosis 0; 0,25; 0,50; 1,00; atau 1,50 mL kg⁻¹ pakan) dapat memberikan efek positif pada ikan tambaqui. Ikan yang diberi pakan dengan dosis 0,85 mL kg⁻¹ menunjukkan peningkatan parameter pertumbuhan, sedangkan rasio konversi pakan lebih rendah pada kelompok dengan dosis 0,25 mL kg⁻¹. Namun, kelompok yang menerima dosis 1,00 mL kg⁻¹ mengalami gangguan hematologis dan serum. Hal ini menegaskan sifat ganda minyak atsiri dalam pakan ikan, yang di satu sisi memberikan manfaat, tetapi di sisi lain berpotensi menimbulkan efek toksik dan gangguan fisiologis. Oleh karena itu, penggunaan minyak atsiri harus dilakukan secara hati-hati dan pada dosis yang tepat untuk mencegah efek merugikan.

 

Pemanfaatan teknologi seperti bioteknologi dan nanoteknologi berpotensi menghasilkan formulasi pakan baru yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Silva et al. [60] meneliti pengaruh berbagai suplemen berbasis seng terhadap pertumbuhan dan kesehatan ikan nila. Penelitian tersebut menggunakan seng dalam berbagai ukuran (nanopartikel atau bentuk bulk) dan bentuk (anorganik atau organik) sebagai suplemen pakan pada dosis 15 mg kg⁻¹ pakan selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai produk berbasis seng tidak memengaruhi performa pertumbuhan, namun memberikan efek positif yang signifikan terhadap parameter hemato-imunologis. Selain itu, seng organik dalam bentuk nanopartikel maupun bulk meningkatkan pertahanan alami ikan nila setelah paparan Streptococcus agalactiae.

 

Hasil penelitian terkini tersebut sangat penting untuk memastikan bahwa budidaya ikan di Brasil dapat terus berkembang secara berkelanjutan dan kompetitif. Produk yang lebih berkualitas dan berkelanjutan berpotensi membuka pasar baru serta menarik konsumen yang semakin peduli terhadap aspek keberlanjutan dan kesehatan.

 

6. Prospek Masa Depan Nutrisi dan Pemberian Pakan dalam Budidaya Ikan di Brasil

 

Prospek masa depan nutrisi dan pemberian pakan dalam budidaya ikan di Brasil sangat menjanjikan. Seiring dengan terus berkembangnya industri budidaya ikan di negara tersebut, diharapkan terjadi peningkatan signifikan dalam kegiatan penelitian serta peluncuran produk-produk baru ke pasar. Sektor budidaya ikan di Brasil saat ini mengalami pertumbuhan pesat, didukung oleh investasi dalam teknologi pengelolaan sumber daya air serta pengembangan pakan spesifik untuk spesies lokal, yang akan membantu menjamin keberlanjutan sektor ini. Perkembangan tersebut menunjukkan masa depan yang dinamis dengan peluang pertumbuhan yang besar bagi industri budidaya ikan di Brasil.

 

Beberapa perkembangan terbaru dalam upaya mencari alternatif berkelanjutan untuk industri pakan akuakultur di Brasil meliputi penggunaan berbagai aditif pakan, seperti sitral [17,27], kompleks yang diperkaya β-glukan [55], minyak atsiri Ocimum basilicum [108], Bacillus spp. dan asam benzoat organik [59], asam propionat [109], hidrolat Curcuma longa dan Lactobacillus plantarum [22], inulin [21], minyak atsiri Lippia sidoides [25], serta Lactobacillus rhamnosus [20].

 

Meskipun kemajuan penelitian di Brasil yang dilaporkan dalam kajian ini cukup signifikan, integrasi hasil penelitian tersebut ke dalam industri pakan akuakultur menjadi langkah yang sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan keberlanjutan sektor ini. Bahan baku berkualitas tinggi diperlukan dalam formulasi pakan ikan, meskipun sering kali berbiaya tinggi. Pemilihan bahan pakan dan aditif yang tepat sangat menentukan kesehatan dan pertumbuhan ikan.

 

Nutrisi untuk spesies lokal masih menjadi tantangan dalam industri akuakultur Brasil. Dukungan pemerintah serta kebijakan publik yang terarah pada sektor pakan ikan dapat mendorong pengembangan dan inovasi lebih lanjut. Tantangan ini sekaligus membuka peluang bagi inovasi dan ekspansi dalam industri pakan ikan di Brasil.

 

REFERENSI

 

  1. FAO—Food and Agriculture Organization of the United Nations. The State of World Fisheries and Aquaculture 2024; Blue Transformation in Action; FAO: Rome, Italy, 2024; p. 264. [Google Scholar] [CrossRef]
  2. Encarnação, P. Functional feed additives in aquaculture feeds. In Aquafeed Formulation; Nates, S.F., Ed.; Academic Press: Amsterdam, The Netherlands, 2016; pp. 217–237. [Google Scholar] [CrossRef]
  3. Naiel, M.A.; Shehata, A.M.; Negm, S.S.; Abd El-Hack, M.E.; Amer, M.S.; Khafaga, A.F.; Bin-Jumah, M.; Allam, A.A. The new aspects of using some safe feed additives on alleviated imidacloprid toxicity in farmed fish: A review. Rev. Aquac. 202012, 2250–2267. [Google Scholar] [CrossRef]
  4. Morante, V.H.P.; Copatti, C.E.; Souza, A.R.L.; da Costa, M.M.; Braga, L.G.T.; Souza, A.M.; Melo, F.V.S.T.; Camargo, A.C.S.; Melo, J.F.B. Assessment the crude grape extract as feed additive for tambaqui (Colossoma macropomum), an omnivorous fish. Aquaculture 2021544, 737068. [Google Scholar] [CrossRef]
  5. Hoseinifar, S.H.; Maradonna, F.; Faheem, M.; Harikrishnan, R.; Devi, G.; Ringø, E.; Van Doan, H.; Ashouri, G.; Gioacchini, G.; Carnevali, O. Sustainable ornamental fish aquaculture: The implication of microbial feed additives. Animals 202313, 1583. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  6. Bu, X.; Li, Y.; Lai, W.; Yao, C.; Liu, Y.; Wang, Z.; Han, S.; Zhao, Z.; Du, J.; Yao, S.; et al. Innovation and development of the aquaculture nutrition research and feed industry in China. Rev. Aquac. 202416, 759–774. [Google Scholar] [CrossRef]
  7. Hossain, M.S.; Small, B.C.; Kumar, V.; Hardy, R. Utilization of functional feed additives to produce cost-effective, ecofriendly aquafeeds high in plant-based ingredients. Rev. Aquac. 202416, 121–153. [Google Scholar] [CrossRef]
  8. Kuebutornye, F.K.A.; Roy, K.; Folorunso, E.A.; Mraz, J. Plant-based feed additives in Cyprinus carpio aquaculture. Rev. Aquac. 202416, 309–336. [Google Scholar] [CrossRef]
  9. Turchini, G.M.; Hardy, R.W. Research in Aquaculture Nutrition: What Makes an Experimental Feeding Trial Successful? Rev. Fish. Sci. Aquac. 202433, 1–9. [Google Scholar] [CrossRef]
  10. Gong, Y.; Sørensen, S.L.; Dahle, D.; Nadanasabesan, N.; Dias, J.; Valente, L.M.; Sørensen, M.; Kiron, V. Approaches to improve utilization of Nannochloropsis oceanica in plant-based feeds for Atlantic salmon. Aquaculture 2020522, 735122. [Google Scholar] [CrossRef]
  11. Vijayaram, S.; Sun, Y.Z.; Zuorro, A.; Ghafarifarsani, H.; Van Doan, H.; Hoseinifar, S.H. Bioactive immunostimulants as health-promoting feed additives in aquaculture: A review. Fish Shellfish Immunol. 2022130, 294–308. [Google Scholar] [CrossRef]
  12. Liang, Q.; Yuan, M.; Xu, L.; Lio, E.; Zhang, F.; Mou, H.; Secundo, F. Application of enzymes as a feed additive in aquaculture. Mar. Life Sci. Technol. 20224, 208–221. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  13. Xu, W.; Gao, Z.; Qi, Z.; Qiu, M.; Peng, J.Q.; Shao, R. Effect of dietary Chlorella on the growth performance and physiological parameters of gibel carp, Carassius auratus gibelio. Turk. J. Fish. Aquat. Sci. 201414, 53–57. [Google Scholar] [CrossRef]
  14. Veiga, P.T.D.N.; Owatari, M.S.; Nunes, A.L.; Rodrigues, R.A.; Kasai, R.Y.D.; Fernandes, C.E.; De Campos, C.M. Short communication: Bacillus subtilis C-3102 improves biomass gain, innate defense, and intestinal absorption surface of native Brazilian hybrid Surubim (Pseudoplatystoma corruscans x P. reticulatum). Aquac. Int. 202028, 1183–1193. [Google Scholar] [CrossRef]
  15. Moraes, A.V.; Owatari, M.S.; Silva, E.; Pereira, M.O.; Piola, M.; Ramos, C.; Farias, D.R.; Schleder, D.D.; Jesus, G.F.A.; Jatobá, A. Effects of microencapsulated probiotics-supplemented diet on growth, non-specific immunity, intestinal health and resistance of juvenile Nile tilapia challenged with Aeromonas hydrophilaAnim. Feed Sci. Technol. 2022287, 115286. [Google Scholar] [CrossRef]
  16. Van Doan, H.; Prakash, P.; Hoseinifar, S.H.; Ringø, E.; El-Haroun, E.; Faggio, C.; Olsen, R.E.; Tran, H.Q.; Stejskal, V.; Abdel-Latif, H.M.R.; et al. Marine-derived products as functional feed additives in aquaculture: A review. Aquac. Rep. 202331, 101679. [Google Scholar] [CrossRef]
  17. Mori, N.C.; Michelotti, B.T.; Magnotti, C.C.; Bressan, C.A.; Bianchin, L.B.; Sutili, F.J.; Almeida, A.P.G.; Kreutz, L.C.; Pavanato, M.A.; Cerqueira, V.R.; et al. Growth, Metabolic, Hepatic and Redox Parameters, Digestive Enzymes and Innate Immunity in Mugil liza Fed a Citral-Supplemented Diet. Fishes 20249, 240. [Google Scholar] [CrossRef]
  18. Faust, M.; Owatari, M.S.; Almeida, M.V.S.; Santos, A.L.; Martins, W.; Vicente, L.R.M.; Jatobá, A. Dietary Saccharomyces cerevisiae improves survival after thermal and osmotic challenge during sexual reversal of postlarval Nile Tilapia. N. Am. J. Aquac. 202385, 271–276. [Google Scholar] [CrossRef]
  19. Ferrarezi, J.V.S.; Owatari, M.S.; Martins, M.A.; Sá, L.S.; Dutra, S.A.P.; Oliveira, H.M.; Soligo, T.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. Effects of a multi-strain Bacillus probiotic on the intestinal microbiome, haemato-immunology, and growth performance of Nile tilapia. Vet. Res. Commun. 202448, 2357–2368. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  20. Oliveira, F.C.; Almeida, P.R.; Almeida, R.G.S.; Owatari, M.S.; Pilarski, F.; Fernandes, C.E.S.; Campos, C.M. Lactobacillus rhamnosus improves feed intake, condition factors, hepatic and intestinal histomorphometric indexes of dourado Salminus brasiliensisAquac. Int. 202432, 4757–4772. [Google Scholar] [CrossRef]
  21. Veiga, P.T.N.; Rodrigues, T.A.R.; Fantini-Hoag, L.; Rodrigues, R.A.; Pilarski, F.; Owatari, M.S.; Martins, M.L.; Campos, C.M. Inulin dietary supplementation attenuates the stress induced by pursuit/capture/atmospheric exposure and improves innate immune response in hybrid catfish (Pseudoplatystoma reticulatum♀ × Leiarius marmoratus♂) after exposure to Aeromonas hydrophilaAquac. Int. 202432, 1771–1784. [Google Scholar] [CrossRef]
  22. Jatobá, A.; Pereira, M.D.O.; Jesus, G.F.A.; Dutra, S.A.P.; Mouriño, J.L.P.; Owatari, M.S.; Schleder, D.D. Effects of Blending Curcuma longa Hydrolate and Lactobacillus plantarum on the Growth and Health of Nile Tilapia. Fishes 20249, 503. [Google Scholar] [CrossRef]
  23. Brum, A.; Pereira, S.A.; Owatari, M.S.; Chagas, E.C.; Chaves, F.C.M.; Mouriño, J.L.P.; Martins, M.L. Effect of dietary essential oils of clove basil and ginger on Nile tilapia (Oreochromis niloticus) following challenge with Streptococcus agalactiaeAquaculture 2017468, 235–243. [Google Scholar] [CrossRef]
  24. Owatari, M.S.; Jesus, G.F.A.; Brum, A.; Pereira, S.A.; Lehmann, N.B.; Pereira, U.P.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. Sylimarin as hepatic protector and immunomodulator in Nile tilapia during Streptococcus agalactiae infection. Fish Shellfish Immunol. 201882, 565–572. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  25. Cardoso, L.; Owatari, M.S.; Chaves, F.C.M.; Furtado, W.E.; Honorato, L.A.; Agnes, J.P.; Santos, D.C.; Pedrosa, R.C.; Fontes, S.T.; Mouriño, J.L.P.; et al. Lippia sidoides essential oil (Verbenaceae) improves inflammatory response and histological condition in Danio rerioAquac. Int. 202331, 2665–2685. [Google Scholar] [CrossRef]
  26. Silva, C.S.D.; Brasil, E.M.; Cipriano, F.D.S.; Magnotti, C.; Rocha, V.M.D.; Furtado, W.E.; Chagas, E.C.; Chaves, F.C.M.; Owatari, M.S.; Martins, M.L.; et al. Antiparasitic efficacy of essential oils for Neobenedenia melleni infecting farmed Lebranche mullet (Mugil liza). Int. Aquat. Res. 202416, 187–194. [Google Scholar] [CrossRef]
  27. Michelotti, B.T.; Owatari, M.S.; Magnotti, C.; Klinger, A.C.K.; Palma, U.S.; Santos, M.C.; Descovi, S.N.; Cerqueira, V.R.; Costa, S.T.; Bianchin, L.B.; et al. Functional assessment of citral dietary supplementation on growth performance, intestinal parameters, and specific activity of the digestive enzymes of Sardinella brasiliensis reared in recirculating aquaculture system. Bol. Inst. Pesca 202450, 1–9. [Google Scholar] [CrossRef]
  28. García-Vaquero, M.; Hayes, M. Red and green macroalgae for fish and animal feed and human functional food development. Food Rev. Int. 201632, 15–45. [Google Scholar] [CrossRef]
  29. Naiel, M.A.; Alagawany, M.; Patra, A.K.; El-Kholy, A.I.; Amer, M.S.; Abd El-Hack, M.E. Beneficial impacts and health benefits of macroalgae phenolic molecules on fish production. Aquaculture 2021534, 736186. [Google Scholar] [CrossRef]
  30. Galafat, A.; Vizcaíno, A.J.; Sáez, M.I.; Martínez, T.F.; Arizcun, M.; Chaves-Pozo, E.; Alarcón, F.J. Assessment of dietary inclusion of crude or hydrolysed Arthrospira platensis biomass in starter diets for gilthead seabream (Sparus aurata). Aquaculture 2022548, 737680. [Google Scholar] [CrossRef]
  31. Ma, M.; Hu, Q. Microalgae as feed sources and feed additives for sustainable aquaculture: Prospects and challenges. Rev. Aquacult. 202416, 818–835. [Google Scholar] [CrossRef]
  32. Shah, M.R.; Lutzu, G.A.; Alam, A.; Sarker, P.; Kabir Chowdhury, M.A.; Parsaeimehr, A.; Liang, Y.; Daroch, M. Microalgae in aquafeeds for a sustainable aquaculture industry. J. Appl. Phycol. 201830, 197–213. [Google Scholar] [CrossRef]
  33. Vizcaíno, A.J.; López, G.; Sáez, M.I.; Jiménez, J.A.; Barros, A.; Hidalgo, L.; Camacho-Rodríguez, J.; Martínez, T.F.; Cerón-García, M.C.; Alarcón, F.J. Effects of the microalga Scenedesmus almeriensis as fishmeal alternative in diets for gilthead sea bream, Sparus aurata, juveniles. Aquaculture 2014431, 34–43. [Google Scholar] [CrossRef]
  34. Abdel-Tawwab, M.; Gewida, A.G.; Abdelghany, M.F.; Mousa, M.A.; Abdel-Razek, N.; Abdel-Hamid, E.A.; Shady, S.H.H.; Mamoon, A. The green microalga Scenedesmus quadricauda modulates the performance, immune indices, and disease resistance of Nile tilapia fingerlings. Aquaculture 2022560, 738550. [Google Scholar] [CrossRef]
  35. Galafat, A.; Vizcaíno, A.J.; Sáez, M.I.; Martínez, T.F.; Jérez-Cepa, I.; Mancera, J.M.; Alarcón, F.J. Evaluation of Arthrospira sp. enzyme hydrolysate as dietary additive in gilthead seabream (Sparus aurata) juveniles. J. Appl. Phycol. 202032, 3089–3100. [Google Scholar] [CrossRef]
  36. Sáez, M.I.; Galafat, A.; Vizcaíno, A.J.; Chaves-Pozo, E.; Ayala, M.D.; Arizcun, M.; Alarcón, F.J.; Suárez, M.D.; Martínez, T.F. Evaluation of Nannochloropsis gaditana raw and hydrolysed biomass at low inclusion level as dietary functional additive for gilthead seabream (Sparus aurata) juveniles. Aquaculture 2022556, 738288. [Google Scholar] [CrossRef]
  37. Wassef, E.A.; Saleh, N.E.; Abdel-Latif, H.M. Beneficial effects of some selected feed additives for European seabass (Dicentrarchus labrax L.): A review. Int. Aquat. Res. 202315, 271–288. [Google Scholar] [CrossRef]
  38. Garnica-Gómez, L.A.; Mata-Sotres, J.A.; Lazo, J.P. Effect of macroalgae as a functional ingredient in grow-out diets on the biological performance, digestive capacity, and immune response of totoaba, Totoaba macdonaldiAquac. Int. 202432, 979–998. [Google Scholar] [CrossRef]
  39. Jesus, G.F.; Pereira, S.A.; Owatari, M.S.; Addam, K.; Silva, B.C.; Sterzelecki, F.C.; Sugai, J.K.; Cardoso, L.; Jatobá, A.; Mouriño, J.L.P.; et al. Use of protected forms of sodium butyrate benefit the development and intestinal health of Nile tilapia during the sexual reversion period. Aquaculture 2019504, 326–333. [Google Scholar] [CrossRef]
  40. Souza, R.J.F.; Matos, E.R.; Souza, A.L.S.; Fazzi-Gomes, P.F.; Melo, N.F.A.C.; Owatari, M.S.; Palheta, G.D.A.; Takata, R.; Sterzelecki, F.C. Dietary effect of multi-strain prebiotics and probiotics on growth, hemato-biochemical parameters, intestinal histomorphometry, and resistance to hypoxia in juvenile tambaqui (Colossoma macropomum). Vet. Res. Commun. 202448, 1061–1072. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  41. Novelli, P.K.; Barros, M.M.; Pezzato, L.E.; Araujo, E.P.; Botelho, R.M.; Fleuri, L.F. Enzymes produced by agro-industrial co-products enhance digestible values for Nile tilapia (Oreochromis niloticus): A significant animal feeding alternative. Aquaculture 2017481, 1–7. [Google Scholar] [CrossRef]
  42. Cavero, B.A.S.; Ituassú, D.R.; Gandra, A.L.; Marinho-Pereira, T.; da Fonseca, F.A.L.; Pereira-Filho, M. Exogenous enzymes on the feeding of pirarucu Arapaima gigas Schinz. 1822 (Osteoglossiformes. Arapaimidae). Rev. Bras. Ciênc. Agrár. 201914, 1–7. [Google Scholar] [CrossRef]
  43. Lima, J.D.C.; Schorer, M.; Melo, J.F.B.; Braga, L.G.T. Effect of enzymatic complex in the diet of pirarucu, Arapaima gigas juveniles. Acta Amazon. 202151, 207–213. [Google Scholar] [CrossRef]
  44. Velázquez-De Lucio, B.S.; Hernández-Domínguez, E.M.; Villa-Garcia, M.; Diaz-Godinez, G.; Mandujano-Gonzalez, V.; Mendoza-Mendoza, B.; Álvarez-Cervantes, J. Exogenous enzymes as zootechnical additives in animal feed: A review. Catalysts 202111, 851. [Google Scholar] [CrossRef]
  45. Gomes, J.R.; Cardoso, A.J.S.; Hisano, H.; Freitas, R.M.P.; Martins, K.V.B.; Azevedo, F.S.; Freitas, M.B.; Ferreira, P.M.F.; Salaro, A.L.; Zuanon, J.A.S. Redox status of juvenile Nile tilapia, Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758), fed diets supplemented with poultry liver protein hydrolysate as feed aditive. Anim. Feed Sci. Technol. 2023303, 115711. [Google Scholar] [CrossRef]
  46. Ha, N.; Jesus, G.F.A.; Gonçalves, A.F.N.; Oliveira, N.S.; Sugai, J.K.; Pessatti, M.L.; Mouriño, J.L.P.; Fabregat, T.E.H.P. Sardine (Sardinella spp.) protein hydrolysate as growth promoter in South American catfish (Rhamdia quelen) feeding: Productive performance, digestive enzymes activity, morphometry and intestinal microbiology. Aquaculture 2019500, 99–106. [Google Scholar] [CrossRef]
  47. Contrera, Y.M.B.; Eugênio, R.M.C.; Damasceno, D.Z.; Bombardelli, R.A.; Tsuzuki, M.Y. The effect of triiodothyronine on survival, growth and metamorphosis of yellowtail clownfish Amphiprion clarkii (Bennett, 1830) larvae. J. Appl. Ichthyol. 201632, 960–962. [Google Scholar] [CrossRef]
  48. De Oliveira, V.D.; Pessini, J.E.; Fracalossi, D.M.; Mattioni, B.; Mattos, J.J.; Bainy, A.C.D.; Rios, C.; Silva, C.P.; Pettigrew, J.E.; Schleder, D.D. Gut health improvement as a result of dietary supplementation of VILIGEN™ in juvenile Nile tilapia. Aquac. Int. 202432, 10231–10252. [Google Scholar] [CrossRef]
  49. Eugênio, R.M.D.C.; Rodrigues, R.V.; Romano, L.A.; Tsuzuki, M.Y. Effect of triiodothyronine (T3) in the larval development of the barber goby Elacatinus figaroAquac. Res. 201950, 581–587. [Google Scholar] [CrossRef]
  50. Legarda, E.C.; Viana, M.T.; Zaragoza, O.B.D.R.; Skrzynska, A.K.; Braga, A.; Lorenzo, M.A.; Vieira, F.N. Effects on fatty acids profile of Seriola dorsalis muscle tissue fed diets supplemented with different levels of Ulva fasciata from an Integration Multi-Trophic Aquaculture system. Aquaculture 2021535, 736414. [Google Scholar] [CrossRef]
  51. Libanori, M.C.M.; Santos, G.G.; Pereira, S.A.; Lopes, G.R.; Owatari, M.S.; Soligo, T.A.; Yamashita, E.; Pereira, U.P.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. Dietary supplementation with benzoic organic acid improves the growth performance and survival of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) after challenge with Streptococcus agalactiae (Group B). Aquaculture 2021545, 737204. [Google Scholar] [CrossRef]
  52. Michelotti, B.T.; Mori, N.C.; Magnotti, C.C.F.; Heinzmann, B.M.; Almeida, A.P.G.; Cerqueira, V.R.; Baldisserotto, B. Citral as food additive for common snook-zootechnical parameters and digestive enzymes. Cienc. Rural 202050, e20190577. [Google Scholar] [CrossRef]
  53. Mori, N.C.; Michelotti, B.T.; Pês, T.S.; Bressan, C.A.; Sutili, F.; Kreutz, L.C.; Garlet, K.; Baldisserotto, B.; Pavanato, M.A.; Cerqueira, V.R.; et al. Citral as a dietary additive for Centropomus undecimalis juveniles: Redox, immune innate profiles, liver enzymes and histopathology. Aquaculture 2019501, 14–21. [Google Scholar] [CrossRef]
  54. Pereira, G.A.; Copatti, C.E.; Rocha, A.D.S.; Marchão, R.S.; de Santana, A.S.; Rocha, D.R.; Costa, M.M.; Almeida, J.R.G.S.; Figueiredo, R.A.C.R.; Souza, A.M.; et al. Physiological and growth responses of tambaqui (Colossoma macropomum) fed Croton conduplicatus essential oil and challenged with Aeromonas hydrophilaVet. Res. Commun. 202549, 58. [Google Scholar] [CrossRef]
  55. Pereira, I.L.; Costa, D.S.; Dutra, S.A.P.; Cardoso, L.; Brasil, E.M.; Libanori, M.C.M.; Souza, A.P.; Owatari, M.S.; Soligo, T.; Mouriño, J.L.P.; et al. Effects of dietary supplementation with β-glucan-enriched complex and vitamin premix on the growth performance, organ integrity, and intestinal histomorphometric parameters of Nile tilapia. Aquac. Int. 202432, 9587–9605. [Google Scholar] [CrossRef]
  56. Pereira Júnior, J.D.A.; Costa, D.S.; Silva, A.D.S.D.; Santos, G.G.D.; Santos, A.F.L.D.; Silva, A.D.C.D.; Couto, M.V.S.; Cordeiro, C.A.M.; Martins, M.L.; Sousa, N.D.C. Enriched diet with orange essential oil Citrus sinensis for tambaqui Colossoma macropomum promotes growth performance and resistance against Aeromonas hydrophilaJ. Fish Dis. 202548, e14039. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  57. Ramos, L.R.; Pedrosa, V.F.; Mori, A.; Andrade, C.F.D.; Romano, L.A.; Abreu, P.C.; Tesser, M.B. Exogenous enzyme complex prevents intestinal soybean meal-induced enteritis in Mugil liza (Valenciennes, 1836) juvenile. An. Acad. Bras. Ciênc. 201789, 341–353. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  58. Sá, L.S.D.; Jerônimo, G.T.; Soligo, T.; Yamashita, E.; Machado Fracalossi, D.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. The zootechnical performance, health state modulation, morphology, and intestinal microbiome of nile tilapia juveniles fed with a functional blend of immunostimulants associated with a diet high in soybean meal. Fishes 20249, 212. [Google Scholar] [CrossRef]
  59. Santos, G.G.; Libanori, M.C.M.; Pereira, S.A.; Ferrarezi, J.V.S.; Ferreira, M.B.; Soligo, T.A.; Yamashita, E.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. Probiotic mix of Bacillus spp. and benzoic organic acid as growth promoter against Streptococcus agalactiae in Nile tilapia. Aquaculture 2023566, 739212. [Google Scholar] [CrossRef]
  60. Silva, V.F.; Tedesco, M.; Fontes, S.T.; Owatari, M.S.; Gatto, Y.M.G.; Ferreira, M.B.; Santos, P.C.; Costa, G.A.C.; Palmieri, A.F.; Santos, G.G.; et al. Effects of supplementation with different zinc-based products on the growth and health of Nile tilapiaFish Shellfish Immunol. 2024149, 109534. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  61. Scheuer, F.; Owatari, M.S.; Brasil, E.M.; Sterzelecki, F.C.; Wagner, R.; Xavier, A.C.; Soiza, M.P.; Monteiro, C.R.; Magnotti, C.; Fracalossi, D.M.; et al. Dietary enrichment with fish oil improved n–3 LC-PUFA profile in aquacultured Sardinella brasiliensis fillet. J. Food Compos. Anal. 2024127, 105978. [Google Scholar] [CrossRef]
  62. Valenti, W.C.; Barros, H.P.; Moraes-Valenti, P.; Bueno, G.W.; Cavalli, R.O. Aquaculture in Brazil: Past, present and future. Aquac. Rep. 202119, 100611. [Google Scholar] [CrossRef]
  63. Ramos, L.R.V.; Romano, L.A.; Monserrat, J.M.; Abreu, P.C.; Verde, P.E.; Tesser, M.B. Biological responses in mullet Mugil liza juveniles fed with guar gum supplemented diets. Anim. Feed Sci. Technol. 2015205, 98–106. [Google Scholar] [CrossRef]
  64. Ramos, L.R.V.; Monserrat, J.M.; Romano, L.A.; Sampaio, L.A.; Abreu, P.C.; Tesser, M.B. Effects of supplementing the diets of Mugil liza Valenciennes, 1836 juveniles with citrus pectin. J. Appl. Ichthyol. 201531, 362–369. [Google Scholar] [CrossRef]
  65. Noffs, A.P.; Tachibana, L.; Santos, A.A.; Ranzani-Paiva, M.J.T. Common snook fed in alternate and continuous regimens with diet supplemented with Bacillus subtilis probiotic. Pesqui. Agropecu. Bras. 201550, 267–272. [Google Scholar] [CrossRef]
  66. Silva, B.C.; Dutra-Mourino, S.; Mourino, J.L.P.; Carvalho, C.; Cerqueira, V.R. Performance of Centropomus parallelus fingerlings fed a diet supplemented with citrate and acetate. Bol. Inst. Pesca 201642, 65–72. [Google Scholar] [CrossRef]
  67. Castro, J.; Magnotti, C.; Angelo, M.; Sterzelecki, F.; Pedrotti, F.; Oliveira, M.F.; Soligo, T.; Fracalossi, D.; Cerqueira, V.R. Effect of ascorbic acid supplementation on zootechnical performance, haematological parameters and sperm quality of lebranche mullet Mugil lizaAquac. Res. 201950, 3267–3274. [Google Scholar] [CrossRef]
  68. Cohen, F.P.; Valenti, W.C.; Calado, R. Traceability issues in the trade of marine ornamental species. Rev. Fish. Sci. 201321, 98–111. [Google Scholar] [CrossRef]
  69. Calado, R.; Olivotto, I.; Oliver, M.P.; Holt, G.J. (Eds.) Marine Ornamental Species Aquaculture; Wiley Blackwell: Hoboken, NJ, USA, 2017; p. 720. [Google Scholar] [CrossRef]
  70. Biondo, M.V.; Burki, R.P. A systematic review of the ornamental fish trade with emphasis on coral reef fishes—An impossible task. Animals 202010, 2014. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  71. Conceição, L.E.; Aragão, C.; Richard, N.; Engrola, S.; Gavaia, P.; Mira, S.; Dias, J. Novel methodologies in marine fish larval nutrition. Fish Physiol. Biochem. 201036, 1–16. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  72. Moorhead, J.A.; Zeng, C. Development of captive breeding techniques for marine ornamental fish: A review. Rev. Fish. Sci. 201018, 315–343. [Google Scholar] [CrossRef]
  73. Blanton, M.L.; Specker, J.L. The hypothalamic-pituitary-thyroid (HPT) axis in fish and its role in fish development and reproduction. Crit. Rev. Toxicol. 200737, 97–115. [Google Scholar] [CrossRef]
  74. De Jesus, E.G.T.; Toledo, J.D.; Simpas, M.S. Thyroid hormones promote early metamorphosis in grouper (Epinephelus coioides) larvae. Gen. Comp. Endocrinol. 1998112, 10–16. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  75. Brown, C.L.; Urbinati, E.C.; Zhang, W.; Brown, S.B.; McComb-Kobza, M. Maternal thyroid and glucocorticoid hormone interactions in larval fish development, and their applications in aquaculture. Rev. Fish. Sci. Aquac. 201422, 207–220. [Google Scholar] [CrossRef]
  76. Huang, L.; Specker, J.L.; Bengtson, D.A. Effect of triiodothyronine on the growth and survival of larval striped bass (Morone saxatilis). Fish Physiol. Biochem. 199615, 57–64. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  77. Power, D.M.; Llewellyn, L.; Faustino, M.; Nowell, M.A.; Bjornsson, B.T.H.; Einarsdottir, I.E.; Canario, A.V.M.; Sweeney, G.E. Thyroid hormones in growth and development of fish. Comp. Biochem. Physiol. Part C Toxicol. Pharmacol. 2001130, 447–459. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  78. Ferreira, D.R. Effect of the Use of Probiotics and Different Enrichments on Artemia sp. in the Cultivation of Juvenile Seahorses Hippocampus reidi. Master’s Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina, Florianópolis, Brazil, 2017; p. 68. Available online: https://repositorio.ufsc.br/xmlui/handle/123456789/179668 (accessed on 10 October 2024).
  79. Massucatto, A. Influence of the Copepod Acartia sp. and Use of Probiotics in the Early Stages of Cultivation of the Seahorse Hippocampus reidi. Master’s Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina, Florianópolis, Brazil, 2016; p. 60. Available online: https://repositorio.ufsc.br/xmlui/handle/123456789/174138 (accessed on 10 October 2024).
  80. Hoffmann, H. Pigmentation and Growth of Amphiprion ocellaris Using Natural and Synthetic Astaxanthin. Master’s Thesis, Federal University of Santa Catarina, Florianópolis, Brazil, 2016; p. 60. Available online: https://repositorio.ufsc.br/xmlui/handle/123456789/175304 (accessed on 10 October 2024).
  81. Souza, A.P.L.; Ferreira, T.H.; Mouriño, J.L.P.; Martins, M.L.; Magalhaes, A.R.M.; Tsuzuki, M.Y. Use of Artemia supplemented with exogenous digestive enzymes as sole live food increased survival and growth during the larviculture of the longsnout seahorse Hippocampus reidiAquac. Nutr. 202026, 964–977. [Google Scholar] [CrossRef]
  82. Moraes, H.R.L. Effect of Porcine Pancreatin Supplementation in Live Feed (Artemia sp.) on Zootechnical Performance and Digestive Enzyme Activity of Larvae of the Clownfish Amphiprion ocellaris (Cuvier, 1830). Master’s Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina, Florianópolis, Brazil, 2020; p. 53. Available online: https://repositorio.ufsc.br/handle/123456789/216513 (accessed on 10 October 2024).
  83. Ricardo, A.C.A. Blend of Organic Acids on Zootechnical Performance, Intestinal Histomorphology and Digestive Enzyme Activity of Juvenile Clownfish Amphiprion ocellaris (CUVIER, 1830). Master’s Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina, Florianópolis, Brazil, 2020; p. 48. Available online: https://repositorio.ufsc.br/handle/123456789/216550 (accessed on 10 October 2024).
  84. Mélo, R.C.S.; Santos, L.P.D.S.; Brito, A.P.M.; Gouveia, A.D.A.; Marçal, C.; Cavalli, R.O. Use of the microalga Nannochloropsis occulata in the rearing of newborn longsnout seahorse Hippocampus reidi (Syngnathidae) juveniles. Aquac. Res. 201647, 3934–3941. [Google Scholar] [CrossRef]
  85. Sousa, E.M.O.; de Oliveira, N.Y.; da Silva, I.A.; Ozório, R.Á.; Lopes, E.M.; Martins, M.L.; Tsuzuki, M.Y. Use of the microalgae Tisochrysis lutea in a “green water” system increases the absorption area in the intestine of larvae of the seahorse Hippocampus reidi Ginsburg, 1933. Fish Physiol. Biochem. 202551, 20. [Google Scholar] [CrossRef]
  86. Sales, R.; Mélo, R.C.S.; Moraes Junior, R.M.; Silva, R.C.S.; Cavalli, R.O.; Navarro, D.M.D.A.F.; Santos, L.P.S. Production and use of a flocculated paste of Nannochloropsis oculata for rearing newborn seahorse Hippocampus reidiAlgal Res. 201617, 142–149. [Google Scholar] [CrossRef]
  87. Rodrigues, G.D. Effect of the Inclusion of Microalgae Extracts Rich in Fatty Acids and Carotenoids in Diets on the Zootechnical Performance and Coloration of Clownfish (Amphiprion ocellaris). Master’s Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina, Florianópolis, Brazil, 2022; p. 55. Available online: https://repositorio.ufsc.br/handle/123456789/247498 (accessed on 10 October 2024).
  88. Lanes, C.F.; Pedron, F.A.; Bergamin, G.T.; Bitencourt, A.L.; Dorneles, B.E.; Villanova, J.C.; Dias, K.C.; Riolo, K.; Oliva, S.; Savastano, D.; et al. Black Soldier Fly (Hermetia illucens) larvae and prepupae defatted meals in diets for zebrafish (Danio rerio). Animals 202111, 720. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  89. Gomes, J.G.C.; Okano, M.T.; Ursini, E.L.; Santos, H.D.C.L.D. Insect production for animal feed: A multiple case study in Brazil. Sustainability 202315, 11419. [Google Scholar] [CrossRef]
  90. Araújo-Silva, S.L.; Castro, M.A.M.; Mendes, R.E.; Pelisser, G.; Rocha, V.M.; Ferrarezi, J.V.S.; Ozório, R.Á.; Tsuzuki, M.Y. First report of thyroid goiter in the marine ornamental fish Gramma brasiliensisBraz. J. Vet. Med. 202446, e003624. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  91. Araújo-Silva, S.L. (Federal University of Santa Catarina, Florianópolis, SC, Brazil). Personal communication, 2025.
  92. Santos, I.L.; Carneiro, R.F.S.; de Morais, A.P.M.; Martins, M.A.; Seiffert, W.Q.; Vieira, F.N. Ulva ohnoi as a feed additive for Pacific white shrimp post-larvae cultured in a biofloc system. Aquac. Int. 202432, 8809–8822. [Google Scholar] [CrossRef]
  93. Rezende, P.C.; Miranda, C.; Fracalossi, D.M.; Hayashi, L.; Seiffert, W.Q.; Vieira, F.N.; Schleder, D.D. Brown seaweeds as a feed additive for Litopenaeus vannamei reared in a biofloc system improved resistance to thermal stress and white spot disease. J. Appl. Phycol. 202234, 2603–2614. [Google Scholar] [CrossRef]
  94. Rezende, P.C.; Soares, M.; Guimarães, A.M.; Coelho, J.R.; Seiffert, W.Q.; Schleder, D.D.; Vieira, F.N. Brown seaweeds added in the diet improved the response to thermal shock and reduced Vibrio spp. in pacific white shrimp post-larvae reared in a biofloc system. Aquac. Res. 202152, 2852–2861. [Google Scholar] [CrossRef]
  95. Borges, E.P.; Machado, L.P.; Louzã, A.C.; Ramaglia, A.C.; Santos, M.R.; Augusto, A. Physiological effects of feeding whiteleg shrimp (Penaeus vannamei) with the fresh macroalgae Chaetomorpha clavataAquac. Rep. 202437, 102222. [Google Scholar] [CrossRef]
  96. Mariot, L.V.; Bolívar, N.; Coelho, J.D.R.; Goncalves, P.; Colombo, S.M.; Vieira, F.N.; Schleder, D.D.; Hayashi, L. Diets supplemented with carrageenan increase the resistance of the Pacific white shrimp to WSSV without changing its growth performance parameters. Aquaculture 2021545, 737172. [Google Scholar] [CrossRef]
  97. Costa, D.P.; Miranda-Filho, K.C. The use of carotenoid pigments as food additives for aquatic organisms and their functional roles. Rev. Aquac. 202012, 1567–1578. [Google Scholar] [CrossRef]
  98. Pontes, M.D.; Campelo, D.A.V.; Takata, R.; Oshiro, L.M.Y.; Castelar, B. Digestibility and gastrointestinal transit of Ulva fasciata seaweed meal in tilapia (Oreochromis niloticus) juveniles: Basis for the inclusion of a sustainable ingredient in aquafeeds. Res. Soc. Dev. 20209, e3889108497. [Google Scholar] [CrossRef]
  99. Costa, M.M.; Oliveira, S.T.L.; Balen, R.E.; Bueno Junior, G.; Baldan, L.T.; Silva, L.C.R.; Santos, L.D. Brown seaweed meal to Nile tilapia fingerlings. Arch. Zootec. 201362, 101–109. [Google Scholar] [CrossRef]
  100. Mendonça, A.J.C.D.; Rosas, V.T.; Monserrat, J.M.; Romano, L.A.; Tesser, M.B. The inclusion of algae Gracilaria domingensis in the diet of mullet juveniles (Mugil liza) improves the immune response. J. Appl. Aquac. 201931, 210–223. [Google Scholar] [CrossRef]
  101. Siddik, M.A.; Francis, P.; Rohani, M.F.; Azam, M.S.; Mock, T.S.; Francis, D.S. Seaweed and Seaweed-Based Functional Metabolites as Potential Modulators of Growth, Immune and Antioxidant Responses, and Gut Microbiota in Fish. Antioxidants 202312, 2066. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  102. Cian, R.E.; Bacchetta, C.; Rossi, A.; Cazenave, J.; Drago, S.R. Red seaweed Pyropia columbina as antioxidant supplement in feed for cultured juvenile Pacú (Piaractus mesopotamicus). J. Appl. Phycol. 201931, 1455–1465. [Google Scholar] [CrossRef]
  103. Calheiros, A.C.; Reis, R.P.; Castelar, B.; Cavalcanti, D.N.; Teixeira, V.L. Ulva spp. as a natural source of phenylalanine and tryptophan to be used as anxiolytics in fish farming. Aquaculture 2019509, 171–177. [Google Scholar] [CrossRef]
  104. Peixe BR—Brazilian Association of Pisciculture. Brazilian Pisciculture Yearbook; Edition 2024; Peixe BR: São Paulo, Brazil, 2024; p. 63. Available online: https://www.peixebr.com.br/anuario/ (accessed on 4 January 2025).
  105. Romaneli, R.D.S.; Silva, M.F.O.D.; Masagounder, K.; Fernandes, J.B.K.; Fracalossi, D.M. Formulation strategy to reach a balance among dietary essential amino acids for Nile tilapia juveniles. Sci. Agric. 202481, e20230137. [Google Scholar] [CrossRef]
  106. Gandolpho, B.C.G.; Almeida, A.D.R.; Gandolpho, G.D.M.; Gasparini, O.C.; Ferreira, B.L.; Zanetti, M.B.R.; Vitali, L.; Block, J.M.; Owatari, M.S.; Mouriño, J.L.P.; et al. Trub, a Brewing Byproduct, Is an Innovative and Valuable Source of Nutrients and Natural Antioxidants Viable for Fish Dietary Supplementation. J. Am. Soc. Brew. Chem. 202583, 1–11. [Google Scholar] [CrossRef]
  107. Costa, D.S.; Dutra, S.A.P.; Pereira, I.L.; Cardoso, L.; Medeiros, P.B.; Riofrio, L.V.P.; Libanori, M.C.M.; Soligo, T.; Yamashita, E.; Pereira, U.P.; et al. Hematoimmunological responses of juvenile Nile tilapia (Oreochromis niloticus) receiving the dietary supplementation of immunomodulators and different levels of vitamins after challenge with physical stress. Braz. J. Vet. Med. 202446, e001124. [Google Scholar] [CrossRef] [PubMed]
  108. Ventura, A.S.; Corrêa Filho, R.A.C.; Cardoso, C.A.L.; Stringhetta, G.R.; Oliveira Brasileiro, L.; Ribeiro, J.S.; Pereira, S.A.; Jerônimo, G.T.; Povh, J.A. Ocimum basilicum essential oil in pacu Piaractus mesopotamicus: Anesthetic efficacy, distribution, and depletion in different tissues. Vet. Res. Commun. 202448, 685–694. [Google Scholar] [CrossRef]
  109. Pereira, S.A.; Jesus, G.F.; Pereira, G.V.; Silva, B.C.; Sá, L.S.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. The chelating mineral on organic acid salts modulates the dynamics and richness of the intestinal microbiota of a silver catfish Rhamdia quelenCurr. Microbiol. 202077, 1483–1495. [Google Scholar] [CrossRef]

 

SUMBER:

Aline Brum, Caio Magnotti, Mônica Yumi Tsuzuki, Elen Monique de Oliveira Sousa, José Luiz Pedreira Mouriño, Maurício Laterça Martins, Rafael Garcia Lopes, Roberto Bianchini Derner and Marco Shizuo Owatari. 2025. Pivotal Roles of Fish Nutrition and Feeding: Recent Advances and Future Outlook for Brazilian Fish Farming.

Fishes2025,10(2), 47;https://doi.org/10.3390/fishes10020047

 

#Akuakultur 

#PakanIkan 

#NutrisiIkan 

#BudidayaIkan 

#PerikananBerkelanjutan