Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, 15 August 2022

Bagaimana Cara Membuat Tulisan Ilmiah Populer ?

 

Tulisan Ilmiah Populer adalah tulisan ilmiah yang disampaikan di media massa untuk dibacai masyarakat non-ilmiah alias orang awam. Di bawah akan disampiakan Cara Menulis Tulisan Ilmiah Populer.

Tulisan ilmiah populer –disebut juga karya ilmiah populer– merupakan karya tulis dengan menggunakan bahasa populer yang mudah dipahami oleh masyarakat awam berisi hasil kajian, penelitian, atau studi.

Prinsipnya, cara menulis tulisan ilmiah populer sama dengan menulis tulisan populer biasa –proses kerja intelektual yang membutuhkan keahlian menulis, latihan, kejelian, daya nalar, wawasan, referensi, etika, waktu, dan kesabaran.

Tulisan ilmiah populer yaitu tulisan yang berisi hasil kajian, pandangan, atau opini penulis disertai argumentasi ilmiah dan disajikan dalam bahasa populer sehingga mudah dipahami orang awam.

 

Pengertian Tulisan Ilmiah Populer

Istilah tulisan ilmiah populer terdiri dari tiga kata: tulisan, ilmiah, populer. Berikut ini pengertiannya secara bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI):

  • Tulisan –karya tulis seperti misalnya laporan berita atau esai dalam majalah, surat kabar, dsb.
  • Ilmiah –bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan.
  • Populer –dikenal dan disukai orang banyak (umum); sesuai dengan kebutuhan
  • masyarakat pada umumnya; mudah dipahami orang banyak; disukai orang banyak.
  • Ilmiah Populer –bersifat ilmu, tetapi menggunakan bahasa umum sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam (tentang tulisan, gaya penulisan karya ilmiah).
  • Karya Ilmiah –tulisan yang memuat dan mengkaji suatu masalah dengan menggunakan kaidah-kaidah keilmuan, seperti objektif, logis, empiris (berdasarkan fakta), sistematis, lugas, jelas, dan konsisten.
  • Ilmiah murni –skripsi, tesis, desertasi– ditampilkan dalam bahasa baku dan sangat terikat dengan kaidah bahasa Indonesia resmi. Topik: bidang keilmuan spesifik.
  • Ilmiah populer –ditampilkan dengan bahasa yang lebih luwes sehingga dapat dipahami masyarakat awam. Topik: permasalahan aktual masyarakat.
  •  

Jadi, secara bahasa, tulisan ilmiah populer adalah tulisan berisi pendapat subjektif penulis tentang suatu masalah atau peristiwa berdasarkan kajian, analisis, penelitian, dan memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan yang disajikan dalam bahasa populer sehingga mudah dipahami masyarakat luas.

Bahasa populer adalah bahasa yang mudah dicerna orang awam. Di media massa, bahasa populer yang dimaksud adalah bahasa jurnalistik atau bahasa pers.

 

Karakteristik Tulisan Ilmiah Populer

  1. Opini tentang suatu masalah atau peristiwa disertai fakta empiris dan teori pendukung.
  2. Sarana komunikasi antara ilmuwan dan masyarakat (orang awam).
  3. Gaya bahasa populer atau bahasa media (bahasa jurnalistik) –sederhana, mudah dipahami orang awam, singkat, dan efektif (hemat kata).
  4. Ringkasan hasil penelitian –fakta terpenting & penting (model piramida terbalik).
  5. Menerjemahkan bahasa iptek yang njelimet ke dalam bahasa yang dimengerti secara umum.
  6. Mudah dicerna karena berkaitan erat dengan kejadian sehari-hari.
  7. Memperkenalkan ilmu atau temuan baru serta mengaitkan dengan kebutuhan masyarakat.

 

Cara Menulis Tulisan Ilmiah Populer

Secara praktis, tulisan ilmiah populer adalah karya ilmiah yang ditulis dengan gaya bahasa populer (bahasa media/bahasa jurnalistik) untuk dimuat di media massa (surat kabar, majalah, tabloid, media online).

Berbeda dengan tulisan ilmiah atau karya ilmiah (scientific writing), tulisan ilmiah popular tidak terikat secara ketat dengan aturan penulisan ilmiah

Tulisan ilmiah ditulis lebih bersifat umum, untuk konsumsi publik. Dinamakan ilmiah populer karena ditulis bukan untuk keperluan akademik, tetapi untuk “dikomunikasikan” kepada publik melalui media massa. Tulisan ilmiah populer bisa hasil penelitian ilmiah, namun disajikan dengan lebih ringkas dan lugas.

Paragraf disajikan dengan kalimat-kalimat pendek. Penggunaan kata sederhana dan hindari kata sulit dimengerti. Penggunaan istilah yang mudah digambarkan pembaca.

 

Struktur Tulisan Ilmiah Populer

  1. Head – judul.
  2. By Line – nama penulis.
  3. Intro – pendahuluan (lead).
  4. Bridging – penghubung intro dengan isi tulisan, berupa identifikasi masalah atau pertanyaan.
  5. Body – isi tulisan atau uraian yang biasanya terdiri atas sub-subjudul,
  6. Closing – penutup; biasanya berupa kesimpulan, ajakan berbuat sesuatu, atau pertanyaan tanpa jawaban

 

Tahapan Menulis Tulisan Ilmiah Populer

  1. Ide, Tema/Topik
  2. Pengembangan Tema (Referensi, Observasi, Riset)
  3. Outlining
  4. First Draft/Free Writing
  5. Editing

 

Memilih Objek Tulisan

  1. Isu Aktual.
  2. Aktivitas Sehari-hari.
  3. Perkenalkan Ilmu atau Temuan Baru

 

Urutan Penulisan: Bahasan

  1. Kronologis –satuan waktu –jam, hari, bulan, atau tahun.
  2. Proses –tahapan berurutan seperti tutorial.
  3. Deduksi –umum ke khusus, teori ke empiri, rumus ke penerapan, dalil ke fakta.
  4. Induksi –kebalikan dari deduksi.
  5. Reportase –menceritakan peristiwa seperti laporan observasi atau eksperimen ilmiah.

Sumber:

https://romeltea.com/teknik-menulis-artikel-ilmiah-populer/

Friday, 12 August 2022

Belajar Pengkajian Keamanan Lingkungan Produk Rekayasa Genetik: Vaksin Hewan

Ringkasan Pengkajian Keamanan Lingkungan Produk Rekayasa Genetik Vaksin Innovax™-ND-IBD

 

I. Pendahuluan

Vaksin Innovax™–ND–IBD merupakan produk rekayasa genetik (PRG) dengan kandungan Herpesvirus of Turkey (HVT) strain FC-126 yang disisipi gen F dari Newcastle Disease Virus (NDV) strain Clone 30 dan gen VP2 dari virus Infectious Bursal Disease (IBDV) strain F52/70. Oleh karena itu, vaksin Innovax™–ND–IBD ini dapat mengendalikan penyakit Marek’s Disease (MD), Newcastle Disease (ND), dan Infectious Bursal Disease (IBD). Dibanding dengan vaksin konvensional, vaksin ini memiliki keunggulan lain yaitu memungkinkan pemberian vaksinasi dini, vaksin multivalen, aman dan tidak menimbulkan efek samping pasca vaksinasi, mampu memberikan perlindungan silang yang cukup baik, durasi kekebalan lama, dan kompatibel dengan vaksin lain (1Registration files. 2016. Part 1. Summary of Product Characteristics INNOVAXTM-ND-IBD, Hal. 1 dari 8, No.1). 

 

Vaksin Innovax™–ND–IBD yang diproduksi oleh Intervet International BV (MSD Animal Health), Belanda dan yang akan dipasarkan oleh PT Intervet Indonesia ini telah terdaftar serta memperoleh Certificate of Free Sales di 58 negara, diantaranya beberapa negara maju seperti Belanda (2017), Denmark (2017), Perancis (2017), Jerman (2017), Italia (2017), Filipina (2017), Spanyol (2017), Swedia (2017), Thailand (2018), dan Inggris (2018). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik, dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 25 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Risiko Lingkungan Produk Rekayasa Genetik, maka Tim Teknis Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (TTKH PRG) telah melakukan pengkajian keamanan lingkungan vaksin Innovax™–ND–IBD. Pengkajian didasarkan pada informasi jasad renik PRG dan informasi keamanan lingkungan sebagaimana diuraikan di bawah ini. 

 

II. Informasi Jasad Renik PRG

 

 II.1. Deskripsi Umum Jasad Renik PRG

Jasad renik dalam vaksin Innovax™–ND–IBD adalah HVT avirulen serotipe 3 strain FC126 yang disisipi gen penyandi protein F (fusion) dari virus ND strain Clone 30 dan gen VP2 dari virus IBD strain F52/70 sebagai gen donor. 

 

II.2. Informasi Sifat Genetik Jasad Renik

Jasad renik tetua dari vaksin Innovax™–ND–IBD adalah Herpesvirus of Turkey (HVT) strain FC-126 yang telah digunakan sebagai vaksin hidup untuk pengendalian penyakit Marek’s selama kurang lebih 48 tahun dalam industri perunggasan komersial (2Witter, 2001). 

 

Donor gen dari vaksin Innovax™–ND–IBD adalah gen penyandi protein F (fusion) dari virus ND strain Clone 30 yang telah biasa digunakan sebagai gen donor dalam produksi jasad renik PRG untuk vaksin unggas (3Reddy et al., 1996; 4Palya et al., 2014) dan gen VP2 dari virus IBD yang telah biasa digunakan dalam ekspresi vaksin rekombinan yang merupakan protein struktural pembentuk kapsid virus IBD dan terkandung epitop dari antibodi netralisasi (5Fahey et al., 1991; 6Darteil et al., 1995). 

 

Lokasi penyisipan dari kaset ekspresi yang mengandung gen F dari virus ND dan gen VP2 dari virus IBD beserta dengan regulatornya adalah pada posisi nukleotida 140,541, yaitu pada tapak restriksi StuI yang terletak dalam ORF 088 (regio US2) dari virus HVT (GenBank accession number AF291866) (10Scheme and flow chart HVP360 construction). Jumlah kopi yang disisipkan adalah satu kopi untuk masing-masing gen (11Registration files. 2016. Part 2.C.2.1.a. Starting Material Not Listed in a Pharmacopoeia – Genetic Engineering). 

 

Sekuen gen F dan gen VP2 yang disisipkan dalam genom HVT FC-126 bersifat stabil secara genetik. Hal ini telah dibuktikan dengan pasase sebanyak lima kali, memiliki kesamaan sekuens dengan Master Seed Virus (MSV) (7Trial files. 2016. Report 16R/0091. Sequence Analysis of HVP360 MSV, Passage 5 and Final Product Batches – Inserted Cassete and Flanking HVT Vector Regions, Hal 2). 

 

II.3. Metode Konstruksi Genetik

Jasad renik sebagai Master Seed Innovax™-ND-IBD adalah HVP360 yang dihasilkan dari rekombinasi antara genom HVT strain FC-126 dengan gen F dari virus ND strain Clone 30 dan gen VP2 dari virus IBD strain F52/70 pada tapak restriksi StuI yang terletak dalam ORF 088 (regio US2) dari virus HVT. Metode konstruksi genetik HVP360 adalah sebagai berikut: 

 

A. Penyusunan pustaka genomik HVT:

Uraian tentang penyusunan pustaka genomik HVT FC-126 dapat dilihat pada 8Trial files. 2015. Report 15R/0123: Construction of HVT vector vaccine Innovax-ND-IBD (HVP360) yang pada prinsipnya adalah sebagai berikut: 

 

(1) Klon Subgenomik 407-32.2C3, 407-32.1C1, dan 407-32.5G6:

Genom HVT FC-126 dipotong secara acak dan fragmen yang berukuran 40-50 kbp diseleksi dengan metode gradien gliserol (9van Zijl et al.,1988). Fragmen DNA terpilih dibuat menjadi ujung papak (blunt ends), dan diligasi dengan vektor kosmid pWE15 (Stratagene©) yang sebelumnya telah dibuat linear dengan BamHI dan dibuat menjadi ujung papak. Koloni rekombinan diseleksi menggunakan probe spesifik (P1, P2, P3 yang merupakan fragmen BamHI, dan P4 yang merupakan fragmen XbaI dari genom HVT). Pemakaian vektor kosmid pWE15 ini memungkinkan insert dapat diisolasi kembali dengan enzim restriksi NotI, oleh karena itu fragmen subgenom HVT yang mengandung tapak restriksi NotI tidak dipilih dalam seleksi ini. Dari hasil seleksi rekombinan diperoleh tiga kosmid rekombinan yang tidak mengandung tapak restriksi NotI, yaitu 407-32.2C3 (membawa fragmen genom HVT FC-126 dari ujung 5’ sampai dengan posisi 39.745) yang terseleksi dengan probe P1 dan P2, 407- 32.5G6 (membawa fragmen genom HVT FC-126 posisi 61.852-101.255) yang terseleksi dengan probe P2 dan P3, dan 407-32.1C1 (membawa fragmen genom HVT FC-126 posisi 96.095-133.538) yang terseleksi dengan probe P1 dan P4 (8Trial files. 2015. Report 15R/0123: Construction of HVT vector vaccine Innovax-ND-IBD (HVP360)). 

 

(2) Klon Subgenomik 172-07.BA2 dan 415-09.BA1:

Bagian genom HVT yang mengadung tapak restriksi NotI adalah fragmen BamHI#2 dan BamHI#1 yang diperoleh melalui pemotongan genom HVT dengan BamHI. Fragmen BamHI#2 (fragmen berukuran 26 kbp) di klon langsung ke pSP64 (Promega©), sehingga diperoleh klon 172-07.BA2 (membawa fragmen genom HVT FC-126 posisi 37.663-63.593). Fragmen BamHI#1 adalah fragmen berukuran 29 kbp dan yang mengandung regio unique short (US), pertama-tama diklon ke vektor pWE15 menjadi klon 378-50.BA1. Klon ini kemudian dipotong dengan enzim BamHI dan insert nya di klon kembali ke tapak restriksi BamHI dari vektor pSY1005 (vektor ini berasal dari cosmid pHC79 (Boehringer Ingelheim) yang mengandung MCS/fragmen EcoRI-EcoRI dari pWE15) untuk menjadi klon 415-09.BA1 (membawa fragmen genom HVT FC-126 posisi 126.848-140.540) (8Trial files. 2015. Report 15R/0123: Construction of HVT vector vaccine Innovax-ND-IBD (HVP360)). 

 

B. Subgenomik yang diperlukan dalam penyusunan HVP360:

Bahan yang dipakai untuk rekonstruksi HVP360 adalah pustaka genom HVT yang saling overlapping, yaitu terdiri dari:

(1) Subgenomik 407-32.2C3 (membawa fragmen genom HVT FC-126 dari ujung sampai dengan posisi 39.745).

(2) Subgenomik 172-07.BA2 (membawa fragmen genom HVT FC-126 posisi 37.663-63.593)

(3) Subgenomik 407-32.5G6 (membawa fragmen genom HVT FC-126 posisi 61.852- 101.255)

(4) Subgenomik 407-32.1C1 (membawa fragmen genom HVT FC-126 posisi 96.095- 133.538)

(5) Subgenomik 415-09.BA1 (posisi 126.848-155.744), yang merupakan hasil subkloning dari 378-50.BA1.

(5A) Subgenomik pSY640: merupakan subklon dari cosmid 415-09.BA1, fragmen insert BamHI-StuI (fragmen genom HVT FC-126 posisi 126.848-140.540) diklon ke vektor pSP64 (Promega).

(5B) Subgenomik 556-60.6: merupakan subklon dari 415-09.BA1, fragmen insert SacI-BamHI (fragmen genom HVT FC-126 posisi 142.997-155.744) diklon ke vektor pBR322.

(5C) Insertion vector 435-47: Pada prinsipnya disusun dari subklon 415-09.BA1, fragmen insert EcoRI-EcoRI sebesar 7,3 kbp (fragmen genom HVT posisi 136.880-144.190) yang mencakup sebagian besar regio US dari FC-126 diklon ke tapak restriksi EcoRI dari vektor pSP64 (Promega) menjadi vektor insersi 435-47. (8Trial files. 2015. Report 15R/0123: Construction of HVT vector vaccine Innovax-ND-IBD (HVP360)). 

 

Dengan teknik penyisipan linker maka tapak restriksi StuI (pada posisi sekitar 140.541) dari vektor ini diganti dengan tapak restriksi HindIII, sehingga diperoleh vektor 435VEC1 (dipergunakan untuk kloning gen VP2-IBDV) dan 435VEC2 (dipergunakan untuk kloning gen F-NDV). Kaset ekspresi gen VP2-IBDV (terdiri dari MCMV-IE promoter, gen VP2-IBDV, dan terminator polyA SV40) diisolasi dari virus rekombinan dalam vaksin Vaxxitek® HVT-IBD (Merial).

Kaset ekspresi gen VP2-IBDV ini diklon ke vektor 435VEC1 pada posisi NotI-HindIII sehingga diperoleh vektor 435VEC6.

Donor gen F-NDV diisolasi dari virus NDV strain Clone 30 dalam vaksin Nobilis® ND Clone 30 (MSD). Gen F-NDV ini dikombinasikan dengan promoter IE dan terminator dari HCMV strain AD169 (Genbank X17403) menjadi kaset ekspresi gen F-NDV. 

 

Kaset ekspresi ini diklon ke vektor 435VEC2 pada posisi HindIII-NotI sehingga diperoleh vektor 435VEC26. Kaset ekspresi gen VP2 dari vektor 435VEC6 diisolasi kembali dengan enzim restriksi PasI dan HindIII, kemudian diinsersikan ke posisi PasI-HindIII dari vektor 435VEC26, sehingga diperoleh plasmid rekombinan yang mengandung kaset ekspresi gen VP2-IBDV dan kaset ekspresi gen F-NDV. Konstruksi akhir dari vektor ini diberi nama vektor plasmid homolog 435VEC60 ( 10Scheme and flow chart HVP360 construction). 

 

C. Penyusunan HVP360:

Konstruksi virus rekombinan dilakukan melalui transfeksi kultur sel CEF dengan campuran DNA plasmid/kosmid sebagai berikut:

1. 407-32.2C3 dipotong dengan NotI

2. 172-07.BA2 dipotong dengan BamHI

3. 407-32.5G6 dipotong dengan NotI

4. 407-32.1C1 dipotong dengan NotI

5. pSY640 dipotong dengan HindIII dan BamHI

6. 435VEC60 dipotong dengan PmII

7. 556-60.6 dipotong dengan BamHI 

 

Campuran fragmen DNA ini ditransfeksikan dengan sistem lipofection ke dalam sel CEF. Melalui prinsip rekombinasi homolog, dari hasil kotransfeksi ini akan diperoleh virus rekombinan. Seleksi virus rekombinan dilakukan dengan mengisolasi plak yang terbentuk. Rekombinan yang mengekspresikan protein VP2 dan protein F dideteksi dengan immunofluorescense assay (IFA), dan rekombinan yang terseleksi dipurifikasi 3 kali untuk memperoleh HVP360 (virus rekombinan HVT-ND-IBD).

Meskipun ada bagian kecil pada ujung genom HVT yang tidak terjangkau dari fragmenfragmen overlapping, yaitu regio sekuen berulang terminal (TRL & TRS), akan tetapi hal ini tidak berpengaruh pada pembentukan rekombinan virus lengkap, dikarenakan semua informasi genetik HVT telah tercakup dan bagian kecil tersebut terulang pada regio sekuen berulang internal (IRL & IRS). 

 

II.4 Karakter Modifikasi Genetik

Secara genotip, penyisipan gen F virus ND Clone 30 dan gen VP2 virus IBD strain F52/70 ke dalam genom HVT strain FC-126 tidak memberikan dampak yang merugikan atau tidak mempengaruhi virulensi virus tetuanya (11Registration files. 2016. Part 2.C.2.1.a. Starting Material not Listed in Pharmacopoeia - Genetic Engineering, Hal. 3 dari 6).

Secara fenotip, selain memberikan perlindungan terhadap MD, ekspresi dari gen F dan VP2 memberikan nilai tambah berupa perlindungan terhadap ND dan IBD (12Sondermeijer et al., 1993). 

 

II.5 Kemungkinan Terjadinya Gen yang Disisipkan pada Jasad Renik PRG untuk Vaksin Hewan Dipindahkan ke Organisme Lain

Sekuen gen F virus ND Clone 30 dan gen VP2 virus IBD strain F52/70 dalam genom HVT strain FC-126 tidak dapat dipindahkan ke organisme lain. Hal tersebut dikarenakan tidak ada kesesuaian sekuen dengan genom ayam berdasarkan hasil analisis BLAST yang mungkin menyebabkan munculnya rekombinasi homolog.

Gen yang disisipkan pada PRG vaksin Innovax™–ND–IBD tidak dapat dipindahkan ke inang/organisme lain, dikarenakan HVT rekombinan tidak berintegrasi dengan genom ayam, melainkan mempertahankan materi genetiknya dalam bentuk DNA sirkuler ekstra kromosomal di dalam sel target (13Morissette dan Flamand, 2010). Selain itu, HVT secara alamiah bukan merupakan herpesvirus yang menyebabkan tumor pada kalkun dan tidak ditransmisikan secara vertikal dari kalkun yang terinfeksi kepada telurnya.

Jasad renik PRG ini adalah virus HVT yang disisipi gen F dari NDV dan gen VP2 dari IBDV. Virus HVT adalah kelompok virus Marek yang tidak menular ke manusia (14Tischer dan Osterrieder, 2010). 

 

II.6. Kesimpulan Pengkajian Informasi Genetik

Berdasarkan hasil pengkajian informasi genetik dapat disimpulkan bahwa:

a. Virus vaksin Innovax™-ND-IBD mengandung Herpesvirus of Turkey (HVT) strain FC126 yang disisipi gen F dari NDV strain Clone 30 dan gen VP2 dari virus IBDV strain F52/70 yang bersifat stabil secara genotip dan fenotip.

b. Penyisipan gen F dari NDV dan gen VP2 dari IBDV pada HVT FC-126, dibandingkan dengan vaksin konvensional dapat memberikan nilai tambah berupa memungkinkan pemberian vaksinasi dini, vaksin multivalen, aman dan tidak menimbulkan efek samping pasca vaksinasi, mampu memberikan perlindungan silang yang cukup baik, durasi kekebalan lama, dan kompatibel dengan vaksin lain

c. Gen F dari NDV dan gen VP2 dari IBDV yang disisipkan dalam jasad renik PRG (HVP360) tidak menyebar atau pindah ke organisme lain.

d. Vaksin PRG Innovax™-ND-IBD tidak berpotensi menyebar pada manusia karena virus HVT bukan virus yang bersifat zoonotik. 

 

III. Informasi Keamanan Lingkungan

III.1 Kemampuan Penyebaran Jasad Renik

Jasad renik PRG Innovax™-ND-IBD memiliki sifat yang sama dengan virus HVT tetuanya yaitu tidak dapat bertahan hidup di lingkungan dan di luar sel. Virus tidak dapat diisolasi dari ekskreta ayam dan hampir tidak dapat terdeteksi di folikel bulu ayam pasca vaksinasi dengan InnovaxTM-ND-IBD sehingga tidak mencemari lingkungan (15Registration files. 2016. Part 5.B.4. Report 15R/0154: Dissemination of HVT-ND-IBD MSV+2 in SPF chickens vaccinated by the in ovo route, Hal 2 dari 49). Jasad renik PRG Innovax™-ND-IBD mudah diinaktivasi secara fisik dan kimiawi seperti pengaturan pH, pemanasan, dan pemberian desinfektan (16Schat dan Nair, 2008). 

 

III.2 Informasi Cakupan Inang Organisme Tetua Virus PRG untuk Vaksin

Jasad renik tetua vaksin PRG Innovax™-ND-IBD ini adalah Herspesvirus of Turkey (HVT) strain FC-126. Inang alami dari HVT adalah kalkun (17Witter dan Solomon, 1971). 

 

III.3 Informasi Kajian Molekuler

Modifikasi genetik rekombinan HVT strain FC-126 dilakukan dengan penyisipan gen F dari virus ND strain Clone 30 dan gen VP2 dari virus IBD strain F52/70 beserta dengan sekuen regulatornya pada genom HVT. Lokasi penyisipan kaset ekspresi terletak di tapak StuI pada posisi nukleotida 140,541 dari genom HVT (nomor akses NCBI: AF291866). Tempat penyisipan terletak di regio US2 (Open Reading Frame 088 HVT) yang tidak esensial bagi HVT (11Registration files. 2016. Part 2.C.2.1.a. Starting Material Not Listed in a Pharmacopoeia – Genetic Engineering, Hal 3 dari 6).

Secara genotip, penyisipan gen F virus ND Clone 30 dan gen VP2 virus IBD strain F52/70 pada regio US2 (non essentials) virus HVT FC-126 tidak memberikan dampak yang merugikan atau tidak mempengaruhi virulensi virus tetuanya (11Registration files. 2016. Part 2.C.2.1.a. Starting Material Not Listed in a Pharmacopoeia – Genetic Engineering, Hal 3 dari 6). 

 

Secara fenotip, penyisipan gen tersebut mengekspresikan protein F dari virus ND dan protein VP2 dari virus IBD sehingga memberikan nilai tambah berupa perlindungan terhadap ND dan IBD selain MD (12Sondermeijer et. al., 1993).

Penanda yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi jasad renik PRG ini adalah sekuens gen F dari virus ND strain Clone 30 dan sekuens gen VP2 dari virus IBD strain F52/70. Teknik untuk mengidentifikasi sekuens ini dapat menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan sekuensing DNA dengan menggunakan primer yang dapat mengidentifikasi gen F dan gen VP2 yang disisipkan pada genom HVT (7Trial files. 2016. Report 16R/0091 Sequence Analysis of HVP360 MSV, Passage 5 and Final Product Batches –Inserted Cassette and Flanking HVT Vector Regions, Hal 6-8). 

 

III.4 Kemungkinan Dampak Negatif Jasad Renik PRG Vaksin terhadap Lingkungan

Sekuen gen F virus ND Clone 30 dan gen VP2 virus IBD strain F52/70 dalam genom HVT strain FC-126 tidak dapat berpindah ke organisme lain. Hal tersebut dikarenakan tidak ada homologi sekuens antara genom HVT-PRG dengan genom ayam berdasarkan hasil analisis BLAST.

Pencarian blast (BLAST; http://blast.ncbi.nlm.nih.gov/Blast.cgi) di GenBank untuk genom HVT dan sekuen sisipan NDV dan IBDV dibandingkan genom ayam membuktikan bahwa tidak ada regio yang homolog antara genom HVT-PRG dengan genom ayam yang mungkin menyebabkan munculnya rekombinasi homolog.

HVT rekombinan (HVP360) tidak memiliki potensi penyebaran ke hewan nontarget (18Registration files. Part 5.B.2. Report 15R/0276. Spreading of HVT-ND-IBD to chickens and turkeys after subcutaneous administration of an overdose of HVT-ND-IBD to day old chickens, Hal 20 dari 34), serta ke manusia dan lingkungan (14Tischer dan Oesterrieder, 2010). 

 

III.5 Rencana Pengelolaan dan Pemantauan

Pemantauan dan evaluasi keamanan jasad renik PRG dalam vaksin hewan setelah peredaran (post market surveillance) akan dilakukan berdasarkan panduan Veterinary International Conference on Harmonization (VICH) dari Committee for Medicinal Products for Veterinary Use (CVMP), European Medicines Agency (EMA) mengenai penanganan laporan adverse event terkait dengan penggunaan produk obat hewan.

Pada dasarnya vaksin InnovaxTM-ND-IBD tidak memiliki risiko bahaya terhadap manusia dan lingkungan. Virus vaksin dapat dengan mudah diinaktivasi menggunakan disinfektan umum. Jika vaksin tertumpah atau terjadi kebocoran pada kemasan, dilakukan segera eliminasi dengan penyemprotan disinfektan untuk menginaktifkan virus vaksin. Jika terjadi kecelakaan pada saat penggunaan, vaksin tertumpah atau terkena tubuh/bagian tubuh pelaksana vaksinasi, maka segera dibilas air dan disinfeksi dengan disinfektan umum.

 

 IV. Kesimpulan

1. TTKH PRG Bidang Keamanan Lingkungan memberikan rekomendasi bahwa vaksin Innovax™-ND-IBD yang diajukan adalah aman terhadap lingkungan. Berdasarkan kajian stabilitas genotip dan fenotip, master seed vaksin virus rekombinan HVP360 bersifat stabil.

2. Vaksin Innovax™-ND-IBD tidak boleh digunakan sebagai vaksin ayam sebelum memperoleh Sertifikat Keamanan Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

3. Apabila produk tersebut terbukti menimbulkan risiko terhadap kesehatan manusia dan hewan maka pemohon wajib melakukan tindakan pengendalian dan penanggulangan serta pemusnahan vaksin Innovax™-ND-IBD yang berada di wilayah teritori Indonesia.

4. Apabila kemudian ditemukan data dan informasi baru yang tidak sesuai dengan data keamanan lingkungan yang diperoleh hingga saat ini, maka status keamanan lingkungan terhadap vaksin Innovax™-ND-IBD perlu dikaji ulang. 

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Registration files. 2016. Part 1. Summary of Product Characteristics INNOVAXTM-ND-IBD. Hal: 1-8.

2. Witter RL. 2001. Protective efficacy of Marek’s disease vaccines. Curr. Top. Microbiol. Immunol. 255:57-90.

3. Reddy SK, Sharma JM, Ahmad J, Reddy DN, McMillen JK, Cook SM, Wild MA, Schwartz RD. 1996. Protective efficacy of a recombinant herpesvirus of turkeys as an in ovo vaccine against Newcastle and Marek’s diseases in specific-pathogen-free chickens. Vaccine. 14(6):469-477.

4. Palya V, Tatár-Kis T, Mató T, Felfoldi B, Kovacs E, Gardin Y. 2014. Onset and long-term duration of immunity provided by a single vaccination with a turkey herpesvirus vector ND vaccine in commercial layers. Vet. Immunol. Immunopathol. 158(1-2):105-115.

5. Fahey KJ, Chapman AJ, Macreadie IG, Vaughan PR, McKern NM, Skicko JI, Ward CW, Azad AA. 1991. A recombinant subunit vaccine that protects progeny chickens from infectious bursal disease. Avian. Pathol. 20: 447-460.

6. Darteil R, Bublot M, Laplace E, Bouquet JF, Audonnet JC, Riviere M. 1995. Herpesvirus of turkey recombinant viruses expressing infectious bursal disease virus (IBDV) VP2 immunogen induce protection against an IBDV virulent challenge in chickens. Virology. 211(2): 481–490.

7. Trial files. 2016. Report 16R/0091. Sequence Analysis of HVP360 MSV, Passage 5 and Final Product Batches – Inserted Cassete and Flanking HVT Vector Regions. Hal: 1-39.

8. Trial files. 2015. Report 15R/0123: Construction of HVT vector vaccine Innovax-ND-IBD (HVP360). Hal: 1-33.

9. Van Zijl M, Quint W, Briaire J, Rover T, Gielkens A, Berns A. 1988. Regeneration of herpesviruses from molecularly cloned subgenomic fragments. J Virol 62(6):2191-2195.

10. MSD Animal Health. Scheme and flow chart of HVP360 construction.

11. Registration files. 2016. Part 2.C.2.1.a. Starting Material not Listed in Pharmacopoeia - Genetic Engineering, Hal. 1-6.

12. Sondermeijer PJA, Claessens JAJ, Jenniskens PE, Mockett APA, Thijssen RAJ, Willemse MJ, Morgan RW. 1993. Avian herpesvirus as a live viral vector for the expression of heterologous antigens. Vaccine. 11(3):349-358.

13. Morissette G, Flamand L. 2010. Minireview: Herpesvirus and chromosomal integration. J. Virol. 84(23):12100-12109.

14. Tischer BK, Osterrieder N. 2010. Herpesviruses – a zoonotic threat?. Vet. Microbiol. 140(3- 4):1-8.

15. Registration files. 2016. Part 5.B.4. Report 15R/0154: Dissemination of HVT-ND-IBD MSV+2 in SPF chickens vaccinated by the in ovo route, Hal 1-49.

16. Schat KA, Nair V. 2008. Marek’s Disease. Di dalam: Disease of Poultry. Saif YM, editor. Blackwell Publishing Ltd: Ames. Hal: 452–514.

17. Witter RL, Solomon JJ. 1971. Epidemiology of a herpesvirus of turkey: possible sources and spread of infection in turkey flocks. Infect. Immun. 4(4):356-361. 11

18. Registration files. Part 5.B.2. Report 15R/0276. Spreading of HVT-ND-IBD to chickens and turkeys after subcutaneous administration of an overdose of HVT-ND-IBD to day old chickens, Hal 1-34.

 

SUMBER:

https://indonesiabch.menlhk.go.id/wp-content/uploads/2020/04/FINAL-Resume-Innovax-ND-IBD-13-Mar-2020-Balai-Kliring.pdf

Wednesday, 3 August 2022

Hak atas Pangan di Seluruh Dunia

 

Pengakuan Konstitusional Hak atas Pangan yang Layak


Perlindungan hak asasi manusia melalui konstitusi merupakan bentuk perlindungan hukum yang paling kuat karena konstitusi dianggap sebagai hukum dasar atau hukum tertinggi negara. Memberikan perlindungan konstitusional atas hak atas pangan yang cukup merupakan pernyataan kuat yang dapat dibuat oleh suatu negara dalam kemajuan menuju perwujudan hak atas pangan yang layak bagi warganya. Ketika melihat konstitusi dengan maksud untuk menggarisbawahi pasal atau ketentuan yang mungkin relevan untuk hak atas pangan yang layak, ada beberapa hal khusus yang harus diingat. Meskipun setiap situasi nasional adalah unik, untuk tujuan keseragaman dan kelayakan, kita akan mencari empat cara yang dengannya suatu Negara dapat mengkristalkan komitmennya terhadap realisasi hak atas pangan yang layak. Selain itu, meskipun tidak lengkap, ada kategori kelima untuk ketentuan yang tidak termasuk dalam kategori yang disebutkan, tetapi tetap relevan untuk realisasi hak atas pangan yang layak.


a. Perlindungan eksplisit atas hak atas makanan yang layak atau kebebasan dari kelaparan


Selama beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan penting dalam jumlah Negara yang telah mengadopsi ketentuan yang memuat pengakuan eksplisit atas hak atas pangan atau kebebasan dari kelaparan. Dalam praktiknya, ada dua jenis utama jaminan eksplisit: baik untuk seluruh penduduk atau hanya untuk kelompok tertentu (seperti anak-anak, dll).


b. Perlindungan implisit atas hak atas pangan yang layak melalui beberapa hak asasi manusia yang lebih luas


Meskipun metode ini mungkin lebih ambigu daripada yang pertama, ada beberapa hak asasi manusia terpilih yang umumnya dianggap secara implisit memasukkan hak atas pangan yang layak, seperti hak atas: standar hidup yang layak; kesejahteraan dan pembangunan. Juga, interpretasi konstitusi nasional yang berbeda dapat memberikan perlindungan implisit atas hak atas pangan yang layak melalui hak-hak lain yang lebih luas; sayangnya kasus per kasus seperti itu tidak dapat diberikan di sini. Terakhir, harus dicatat bahwa perlindungan hak terkait, seperti hak atas pekerjaan atau hak atas jaminan sosial tidak dihitung sebagai perlindungan implisit atas hak atas pangan di bawah metodologi ini dan masuk dalam kategori “Ketentuan lain yang relevan”.


c. Ketentuan yang secara tegas mengakui hak atas pangan atau standar gizi dalam bentuk prinsip-prinsip Arahan kebijakan Negara


Ketentuan semacam ini menunjukkan komitmen suatu Negara terhadap perwujudan hak atas pangan yang layak. Dalam hal ini, ketentuan-ketentuan tersebut dipahami tidak dapat dilaksanakan secara tidak langsung oleh pengadilan dan lebih sesuai dengan janji, tetapi ketentuan-ketentuan tersebut mewakili tujuan menyeluruh Negara. Demi alat ini, interpretasi sempit digunakan dan hanya ketentuan yang secara eksplisit mengakui hak atas pangan atau standar gizi yang dimasukkan. Prinsip-prinsip Arahan yang Lebih Luas yang berdampak pada perwujudan hak atas pangan muncul dalam kategori “Ketentuan lain yang relevan”.


 d. Status kewajiban internasional dalam tatanan legislatif nasional


Baik melalui penerapan langsung instrumen internasional di tingkat nasional, melalui pengakuan komitmen internasional yang memiliki status yang sama dengan ketentuan konstitusional atau melalui keunggulan kewajiban internasional di atas hukum nasional, semua ini merupakan sarana penting untuk lebih melindungi hak atas pangan yang memadai. di tingkat nasional. Dalam alat tersebut, semua ketentuan yang terkait dengan instrumen internasional dikelompokkan dalam kategori ini.


e. Ketentuan lain yang berkaitan dengan perwujudan hak atas pangan yang layak.


Mengingat metodologi yang digunakan untuk mengkategorikan perlindungan implisit dan prinsip-prinsip Arahan kebijakan Negara, ketentuan yang relevan yang tidak termasuk dalam dua kategori tersebut dapat ditemukan di sini. Perlu dicatat bahwa kategori ini bukanlah daftar lengkap dari ketentuan relevan yang berada di luar cakupan kategori lainnya, karena interpretasi ketentuan tersebut bersifat spesifik untuk setiap konteks nasional.


Sumber: FAO

https://www.fao.org/right-to-food-around-the-globe/methodology/en/

Saturday, 30 July 2022

Motif Suatu Negara Memberikan Bantuan Luar Negeri

 

Bantuan luar negeri merupakan salah satu instrumen yang sering digunakan untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri suatu negara. Bantuan luar negeri sebagai piranti dalam diplomasi, propaganda, maupun aksi militer yang ditujukan oleh suatu negara terhadap negara lain. Seperti yang diungkapkan oleh Weisman bahwa bantuan luar negeri adalah komponen diplomasi dan dapat dikatakan sebagai alat pengontrol yang efektif, setidaknya untuk mempengaruhi tindakan negara lain.


Motif Bantuan Luar Negeri

Motif merupakan atribut yang sangat penting dalam bantuan luar negeri. Motif bantuan luar negeri menjadi dorongan bagi negara donor untuk memberikan bantuan luar negerinya kepada negara penerima yang sekaligus merefleksikan tujuan dari negara donor dalam memberikan bantuan tersebut kepada negara penerima.

Menurut Alan rix dalam bukunya Japan’s Foreign Aid Challenge; Policy Reform and Aid Leadership, pemberian bantuan luar negeri antara negara pendonor dan negara penerima bantuan tidak terlepas dari maksud dan motif para negara donor.

Menurut Sogge, dalam bukunya yang berjudul “Motives Behind the Allocation of Aid” bahwasannya dibalik bantuan bantuan luar negeri selalu terdapat motif, yaitu : (A) Motif Kemanusiaan; (B) Motif Ekonomi; (C) Motif Sosial Politik.


A. Motif Kemanusiaan

Mengekspresikan belas kasih kepada korban konflik dan pemberian bantuan terhadap kemiskinan dengan tujuan membantu masyarakat miskin di negara berkembang sebagai landasan utamanya.

Dalam motif kemanusiaan terdapat dua indikator:

1. Mengurangi kemiskinan, kemiskinan merupakan permasalahan yang dihadapi oleh setiap negara yang dapat ditanggulangi agar negara tersebut mendapatkan hak untuk hidup. Motif ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan lapangan kerja

2. Memperlihatkan Kepedulian, dapat dilihat jika adanya pemberian bantuan kepada korban konflik dalam upaya pengentasan kemiskinan dan memperlihatkan kepeduliannya kepada negara lain.

 

B. Motif ekonomi

Motif ini ditandai dengan adanya kegiatan yang merujuk terhadap perdagangan, kegiatan ekspor impor dan investasi yang dapat mempengaruhi keadaan ekonomi negara, maka dapat dipahami sebagai motif ekonomi. Dalam Motif ekonomi terdapat tiga indikator:

 

1. Perdagangan: Motif ini berbicara tentang perdagangan internasional dan bagaimana membantu negara-negara agar masuk ke pasar internasional. Karena ketidak ikut sertaan negara tersebut dalam perdagangan internasional yang akan membuat mereka bertahan dalam kemiskinan.

2. Investasi: Motif ini dapat dilihat dari adanya bantuan luar negeri melalui investasi, maka akam menguntungkan negara pemberi dan penerima, dan terciptalah lapangan pekerjana, perusahaan negara bisa go international, meningkatnya pertumbuhan ekonomi, dan menjalin hubungan baik antar negara.

3. Ekspor: Motif ini ditandai dengan adanya, kegiatan ekspor dimana banntuan luar negeri menciptakan peluang bagi negara untuk menambah pendapatan yang didapat dari ekspor negara yang dibantu, dengan harapan adanya kegiatan ekspor berkelanjutan walaupun tidak lagi memberi bantuan luar negeri

4. Impor: Motif ini ditandai dengan adanya, kegiatan Impor dimana bantuan luar negeri menciptakan peluang bagi negara untuk menambah pendapatan yang didapat dari Impor untuk negara yang dibantu, dengan harapan adanya kegiatan Impor berkelanjutan walaupun tidak lagi memberi bantuan luar negeri.

 

C. Motif Sosial Politik

Motif ini ditandai dengan adanya kegiatan sosial politik antar negara pendonor dan negara penerima donor yang mana akan mempengaruhi keadaan politik masing masing negara, yang ditandai dengan adanya beberapa indikator:

 

1. Ikatan: Motif Ikatan atau dapat disebut Bonding adalah dimana negara bertujuan untuk mempererat hubungannya dengan negara lain. Maka jika kita lihat dari segi bantuan luar negeri sebuah negara, maka bantuan tersebut bertujuan untuk mempererat hubungan si negara pemberi bantuan dengan negara yang menerima bantuan. Motif ikatan juga berhubungan dengan motif kemanusiaan, dimana motif tersebut bertujuan untuk membantu negara yang sedang membutuhkan bantuan, maka akan menciptakan rasa untuk saling membantu kedepannya dan menunjukan bahwa kedua negara tersebut dapat percaya dengan satu sama lain dan akan siap membantu jika butuh bantuan. Bisa dilihat dengan adanya framework agreement atau kerjasama.

 

2. Embassies: Keberadaan sebuah embasi adalah agar dapat memperlancar kepentingan negara tersebut dimana embasi itu berada, misalnya kepentingan ekonomi. Keberadaan embasi tersebut akan sangat membantu dalam proses mendapatkan kepentingan negara yang bersangkutan.

 

3. Keamanan Aliansi: Kerjasama keamanan bisa termasuk militer agar memperkuat keamanan kedua negara. Keamanan aliansi disini bisa termasuk memberi pasukan untuk keamanan negara, melatih, atau bantu mengalahkan kelompok/regime yang membuat kerusakan.

 

4. Perdamaian dan keamanan: Jika motif di atas berfokus kepada militer, motif perdamaian dan keamanan tidak harus melibatkan militer. Namun bisa dikatakan upaya untuk mempertahankan keamanan negara dan internasional. Bantuan Luar Negeri tersebut dapat memperlancar upaya negara pemberi bantuan untuk menciptakan perdamaian.

 

5. Ideology: ditafsirkan mengenai paham politik dan nilai kebersamaan yang bertujuan untuk membantu sebuah negara yang membutuhkan otoritas yang lebih demokratis. Maka, kepatuhan terhadap hak asasi manusia dipahami sebagai ideologi yang memotivasi.

 

6. Demokrasi: adanya dorongan bagi negara pendonor agar negara penerima terbebas dari penindasan dan mencegah adanya konflik agar menguntungkan semua orang, tak terkecuali mereka yang hari ini hidup dalam kemiskinan yang berada dalam pengucilan dunia. Demokrasi adalah landasan dalam mengurangi kemiskinan dan mencegah konflik.

 

7. Hak asasi manusia (HAM): Hak asasi manusia adalah kebutuhan masyarakat untuk dapat menjalani kehidupan yang bebas dari penindasan dan adanya kesetaraan untuk mendapatkan hak. Adanya tindakan internasional untuk mempromosikan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Penghormatan terhadap hak asasi manusia dan prinsip demokrasi adalah prioritas yang dijalankan melalui setiap aspek.

 

8. Tujuan Politik: Bantuan luar negeri bertujuan untuk mengemukakan tujuan politik sebuah negara. Adanya kebijakan dan kepentingan nasional yang ingin dicapai.

 

9. Pengakuan internasional: Bantuan luar negeri bertujuan untuk negara pemberi mendapatkan pengakuan di level internasional atau oleh organisasi internasional, dimana jika negara dapat pengakuan di level internasional maka negara tersebut akan dapat ikut serta dalam tahap pembangunan atau kerjasama di level internasional. Juga akan mendapatkan apresiasi dari negara lain, dan power untuk mendapatkan kepentingan negara tersebut dengan lebih lancar mengemukakan kebijakan domestiknya melalui kebijakan internasional negara tersebut.