Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 22 April 2026

Pemotongan Hewan Kurban yang Benar Menurut Syariat dan Prosedurnya

 

Pemotongan Hewan Kurban yang Benar Menurut Syariat dan Prosedurnya


Pemotongan Hewan Kurban merupakan bagian paling sakral dalam pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan umat Islam setiap tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah). Ibadah ini bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga bentuk ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami tata cara Pemotongan Hewan Kurban yang benar menurut syariat Islam dan prosedur teknis pelaksanaannya.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas secara mendalam mengenai syarat sah pemotongan, adab dan sunnah saat menyembelih, serta prosedur teknis yang harus diperhatikan agar pelaksanaan Pemotongan Hewan Kurban sesuai dengan tuntunan syariat. Dengan memahami hal ini, diharapkan ibadah kurban dapat dilaksanakan dengan penuh keberkahan dan sesuai dengan kaidah Islam.

Makna dan Tujuan Pemotongan Hewan Kurban dalam Islam

Pemotongan Hewan Kurban bukanlah sekadar rutinitas tahunan, melainkan ibadah yang memiliki makna spiritual dan sosial yang sangat dalam. Ibadah kurban merupakan perwujudan dari keteladanan Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan anaknya demi menaati perintah Allah. Namun Allah menggantinya dengan seekor domba sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan terhadap pengorbanan tersebut.

Melalui Pemotongan Hewan Kurban, seorang Muslim belajar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Daging kurban yang dibagikan menjadi bentuk nyata solidaritas sosial, terutama kepada kaum fakir miskin dan dhuafa. Maka dari itu, pemahaman akan prosedur dan tata cara kurban menjadi sangat penting.

Tujuan utama dari Pemotongan Hewan Kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub). Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37:

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya."

Ayat tersebut menegaskan bahwa ruh dari Pemotongan Hewan Kurban bukan terletak pada dagingnya semata, melainkan pada niat, ketakwaan, dan kepatuhan terhadap perintah Allah.

Selain itu, Pemotongan Hewan Kurban juga mengajarkan nilai tanggung jawab dan profesionalitas. Menyembelih hewan dengan cara yang baik, tidak menyakiti, serta memperhatikan kebersihan dan keamanan adalah bagian dari adab Islam dalam memperlakukan makhluk hidup.

Dalam konteks sosial, Pemotongan Hewan Kurban menjadi momentum untuk berbagi rezeki dan mempererat ukhuwah islamiyah. Daging yang dibagikan merata kepada masyarakat menciptakan keadilan sosial dan menghapus kesenjangan ekonomi antarwarga.

Syarat dan Ketentuan Pemotongan Hewan Kurban yang Sah

Agar Pemotongan Hewan Kurban dinilai sah menurut syariat, terdapat sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi. Pertama, dari sisi hewan kurban, syaratnya harus merupakan hewan ternak yaitu unta, sapi, kambing, atau domba. Usia hewan pun menjadi syarat sah; kambing minimal berumur 1 tahun, domba 6 bulan (jika sudah cukup gemuk), dan sapi 2 tahun.

Kesehatan hewan juga sangat penting dalam pelaksanaan Pemotongan Hewan Kurban. Hewan tidak boleh cacat seperti buta, pincang parah, sakit, atau sangat kurus. Rasulullah SAW bersabda:

"Empat hal yang tidak sah pada hewan kurban: buta yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan kurus yang tidak berdaging." (HR. Abu Daud)

Dari sisi pelaksana, Pemotongan Hewan Kurban harus dilakukan oleh seorang Muslim yang baligh dan berakal. Pelaku penyembelihan juga harus mengetahui tata cara penyembelihan dalam Islam, termasuk menyebut nama Allah saat menyembelih.

Waktu pelaksanaan Pemotongan Hewan Kurban juga telah ditentukan, yaitu dimulai setelah salat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah. Menyembelih sebelum salat Id tidak dianggap sebagai kurban, melainkan hanya sembelihan biasa.

Penting pula memperhatikan niat. Niat harus tulus karena Allah. Niat ini bisa diucapkan atau cukup dalam hati. Proses Pemotongan Hewan Kurban tidak akan bernilai ibadah jika niatnya untuk pamer atau riya’.

Adab dan Sunnah dalam Pemotongan Hewan Kurban

Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang terhadap makhluk hidup. Oleh karena itu, Pemotongan Hewan Kurban pun memiliki adab dan sunnah yang harus dijaga. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar proses penyembelihan dilakukan dengan cara yang baik, tidak menyiksa hewan, serta dilakukan dengan cepat dan efektif.

Salah satu adab utama dalam Pemotongan Hewan Kurban adalah menajamkan pisau. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kamu membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Tajamkanlah pisaumu dan tenangkanlah hewan sembelihanmu.” (HR. Muslim)

Penyembelih juga disunnahkan menghadap kiblat, begitu pula hewan yang akan disembelih. Sebelum menyembelih, hendaknya membaca Bismillah, Allahu Akbar dan berdoa:

“Allahumma hadzihi minka wa laka. Taqabbal minni yaa arhamar rahimin.”

Saat melaksanakan Pemotongan Hewan Kurban, sangat dianjurkan untuk tidak memperlihatkan alat potong kepada hewan sebelum disembelih, dan tidak menyembelih di hadapan hewan lain. Ini sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan terhadap makhluk Allah.

Jika memungkinkan, bagi yang berkurban dianjurkan untuk menyaksikan langsung Pemotongan Hewan Kurban. Bahkan, bagi laki-laki, lebih utama jika ia sendiri yang menyembelih hewan kurbannya, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Prosedur Teknis Pemotongan Hewan Kurban yang Profesional

Dalam praktiknya, Pemotongan Hewan Kurban kini juga melibatkan aspek teknis dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan penyembelihan harus memenuhi standar kebersihan, keamanan, dan kenyamanan, baik bagi pelaksana maupun lingkungan sekitar.

Prosedur pertama dalam Pemotongan Hewan Kurban adalah pemeriksaan kondisi hewan oleh dokter hewan sebelum dan sesudah disembelih. Ini penting untuk memastikan daging layak dikonsumsi dan tidak membahayakan masyarakat.

Lokasi penyembelihan sebaiknya dilakukan di tempat yang sesuai standar, seperti rumah potong hewan (RPH) atau tempat khusus yang telah disiapkan panitia. Pemotongan Hewan Kurban sebaiknya tidak dilakukan di tempat sembarangan, agar tidak menimbulkan bau tak sedap, pencemaran, atau risiko penyakit.

Setelah disembelih, proses pengulitan dan pemotongan bagian-bagian daging dilakukan secara higienis. Daging hasil Pemotongan Hewan Kurban kemudian dibagikan secara merata kepada fakir miskin, tetangga, dan keluarga yang membutuhkan, sesuai dengan aturan pembagian yang disyariatkan.

Penting juga untuk memperhatikan penggunaan alat yang bersih dan tajam serta melibatkan tenaga yang sudah terlatih. Dengan begitu, proses Pemotongan Hewan Kurban bisa berjalan dengan lancar, efisien, dan sesuai prinsip Islam.

Menjadikan Ibadah Kurban Lebih Bermakna dengan Pemotongan Hewan Kurban yang Syari
Akhirnya, pelaksanaan Pemotongan Hewan Kurban bukanlah sekadar ritual penyembelihan, tetapi sebuah ibadah agung yang harus dijaga dari awal hingga akhir. Ketepatan waktu, niat yang lurus, perlakuan yang baik terhadap hewan, hingga proses distribusi yang adil menjadi unsur penting dalam menyempurnakan ibadah ini.

Dengan pemahaman yang baik mengenai Pemotongan Hewan Kurban, umat Islam dapat melaksanakan kurban dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Kurban bukan hanya bentuk pengorbanan harta, tetapi juga latihan untuk mengendalikan hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mampu menjalankan Pemotongan Hewan Kurban sesuai syariat, serta menjadikannya sebagai wasilah untuk menggapai ridha dan keberkahan dari Allah SWT.

Deadly Alert! New Human Case of Avian Influenza A(H5N1) Detected in Cambodia—What You Need to Know

 

Avian Influenza A(H5N1) in Cambodia

 

Sub-Locations Affected

Svay Rieng (Romduol District)

 

EVENT DESCRIPTION

 

On April 21, 2026, the National Institute of Public Health confirmed a human case of avian influenza A(H5N1) in a 66-year-old woman from Svay Rieng Province. This represents Cambodia’s fourth reported human H5N1 case in 2026. The Ministry of Health subsequently issued a statement noting that the patient is receiving intensive medical care while in isolation.

 

EPIDEMIOLOGICAL INFORMATION

 

● On April 21, 2026, the National Institute of Public Health confirmed case of avian influenza A(H5N1) in a 66-year-old woman from Rumduol district, Svay Rieng Province. The patient has been isolated at the hospital and is receiving intensive care from medical professionals.

● Field investigation indicated that there were sick and dying chickens in the village and at the patient's home from April 2 to 13 which were subsequently cooked for food.

● In Cambodia, 18 human infections and nine deaths were reported in 2025, corresponding to a case fatality rate of 50%.

● As of 2026, four confirmed human cases of avian influenza A(H5N1) have been identified, with no fatalities reported to date. Figure 1. Cases of Avian Influenza A(H5N1) in 2026 as of April 22

 

RESPONSE MEASURES

 

● The Ministry of Health’s emergency response teams at national and sub-national levels are working jointly with provincial agriculture departments and local authorities to investigate the outbreak in accordance with established technical protocols. Efforts are focused on identifying the source of transmission in both animals and humans, as well as tracing suspected cases and contacts to limit further community spread.

● Antiviral prophylaxis is being administered to close contacts to reduce infection risk. In parallel, health education campaigns are being implemented in affected areas to strengthen community awareness and prevention.

● The Ministry of Health advises the public to remain vigilant and adhere to preventive measures against avian influenza A(H5N1). Individuals presenting with fever, cough, runny nose, or respiratory symptoms following exposure to sick or dead poultry within the previous 14 days are advised to avoid crowded settings and seek prompt medical attention to reduce the risk of severe outcomes.

● Regular updates are disseminated through the Department of Communicable Disease Control’s official website and Facebook page.

 

RECOMMENDATIONS


● The World Health Organization advises both travelers and residents in countries experiencing avian influenza outbreaks to avoid exposure to poultry farms, live bird markets, slaughtering areas, and any surfaces potentially contaminated with poultry or animal feces. Individuals returning from affected areas who develop respiratory symptoms and suspect of zoonotic influenza infection are encouraged to promptly report to local health authorities.

 

● The Ministry of Health of Cambodia underscored the following key preventive measures to reduce the risk of H5N1 infection:

a) Avoid contact with sick or dead poultry,

b) Use protective measures (gloves and a mask) when handling poultry for food,

c) Wash hands frequently, especially before handling food and after contact with poultry or potentially contaminated surfaces,

d) Ensure thorough cooking before consumption, and

e) Seek medical attention promptly.

 

Sources:

1. Ministry of Health of Cambodia (2026, April 22) សេចក្តីប្រកាេព័ត៌មាន េតីពីក្រណីជំងឺផ្តតសាយរក្សីស ើស្ត្រ ីអាយុ៦៦ឆ្ន , Ministry of Health of Cambodia. Retrieved April 23, 2026 from https://www.cdcmoh.gov.kh/968-h5n1-21042026

2. WHO (2026, January 21). Influenza (avian and other zoonotic). WHO. Retrieved April 23, 2026, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(avian-andother-zoonotic)


#H5N1 

#AvianInfluenza 

#GlobalHealth 

#OutbreakAlert 

#ZoonoticDiseases

Global FMD Alert 2026: New Serotypes, Vaccine Gaps, and Rising Outbreak Risks

 

Current Global Situation and Emerging Risks for Foot-and-Mouth Disease

GF-TADs Webinar, 20 April 2026

SUMMARY

 

The current global situation of foot-and-mouth disease (FMD) reflects an increasingly complex and dynamic landscape, driven by the emergence and spread of new viral serotypes that challenge existing control strategies. While serotype O continues to dominate globally and serotype C has not been detected since 2004, recent years have seen significant incursions of SAT1 and SAT2 into previously unaffected regions, including the Middle East, Europe, and parts of Asia. The spread of the SA2018 lineage of serotype O from Pool 2 into Pool 3 countries has further complicated the epidemiological picture, contributing to a substantial proportion of cases in countries such as India and triggering outbreaks across multiple regions. At the same time, repeated introductions of SAT1 and SAT2 viruses from East Africa into the Middle East suggest critical gaps in quarantine systems and animal movement controls. Of particular concern is the emergence of SAT1 topotype 3, which may be associated with vaccine escape or failures in biocontainment, and has already caused widespread outbreaks across Europe, the Middle East, and more recently China.

These evolving dynamics have also led to significant consequences for disease status in several regions. In Southern Africa, multiple countries have lost their FMD-free status due to outbreaks involving SAT1, SAT2, and SAT3 serotypes. The increasing detection of SAT1 topotype 3 in this region, including circulation of wild-type viruses, raises serious concerns about transmission between wildlife and domestic livestock, as well as the growing risk of transboundary spread. This situation highlights the fragile nature of disease-free status and underscores the importance of sustained vigilance, particularly in regions where wildlife reservoirs play a critical epidemiological role.

Efforts to control FMD are further complicated by challenges related to vaccine efficacy and matching. Current vaccine matching studies indicate that existing vaccines can provide reasonable protection against circulating SAT1 topotype 1 strains. However, the emergence of SAT1 topotype 3 presents a new and significant challenge due to its distinct genetic and antigenic characteristics, which may reduce the effectiveness of available vaccines. These developments emphasize the urgent need for continuous evaluation of vaccine performance, rapid updating of vaccine strains, and stronger global coordination to ensure vaccine availability and suitability in affected regions.

The introduction of new viral strains into previously unexposed, or naïve, populations significantly increases the risk of rapid disease spread and complicates control efforts. In such contexts, enhanced surveillance systems, timely vaccine matching, and strong cross-border collaboration become essential components of effective disease management. Without these measures, the potential for widespread outbreaks and substantial economic losses remains high.

A robust FMD risk monitoring and control framework is therefore critical to support timely and informed decision-making. This framework relies on the integration of multiple data sources, surveillance systems, and analytical tools to detect early warning signals and translate them into prioritized actions. The approach emphasizes strengthening and utilizing existing systems rather than creating parallel structures, ensuring that risk information is effectively communicated and operationalized. Semi-quantitative tools, such as those developed by EUFMD, enable the assessment of various risk pathways by analyzing factors such as connectivity between countries, disease prevalence, transmission efficiency, and the effectiveness of mitigation measures. These tools draw on diverse data sources, including FAO’s EMPRES-i, WOAH’s WAHIS, and global trade and livestock databases, providing a comprehensive basis for risk assessment.

Practical applications of these tools have demonstrated their value in identifying high-risk scenarios and guiding targeted interventions. For example, risk assessments have shown that informal livestock movements and shared grazing practices represent some of the most significant pathways for disease spread. Rapid assessments conducted for emerging strains, such as SAT1, have revealed moderate to high levels of impact and uncertainty, with several high-risk countries subsequently reporting outbreaks shortly after being identified. Seasonal and cultural factors, including periods of increased animal movement associated with religious festivals, further amplify these risks and must be incorporated into risk management strategies.

Translating risk signals into effective operational measures is a critical step in controlling FMD. This includes implementing targeted border controls, adapting surveillance strategies, and aligning vaccination programs with evolving risk profiles. Countries experiencing incursions of new serotypes must enhance the sensitivity of case definitions and strengthen frontline veterinary guidance to ensure early detection. Scaling up mitigation and monitoring efforts is particularly important in naïve populations, where the introduction of new strains can lead to rapid and extensive outbreaks. Looking ahead, the integration of emerging technologies, such as machine learning, offers promising opportunities to enhance risk prediction and surveillance capabilities, although these must be complemented by strong field-level intelligence and expertise.

Early detection and thorough outbreak investigation remain fundamental to minimizing the scale and impact of FMD epidemics. Prompt identification of suspected cases enables rapid implementation of control measures, reducing the likelihood of secondary spread and limiting production losses. This process depends heavily on effective passive surveillance systems, which in turn rely on the awareness and engagement of farmers and veterinarians. Immediate reporting of suspected cases triggers official investigations and laboratory confirmation, forming the basis for timely and coordinated responses.

However, detecting FMD is not always straightforward, particularly in species where clinical signs may be mild or atypical. While cattle and pigs often exhibit clear symptoms, small ruminants may show only subtle signs, allowing the disease to spread undetected. In high-risk areas, even minor signs such as lameness or small lesions in these species should be treated with suspicion and investigated promptly. Although detection in wildlife remains challenging, targeted surveillance and reports from hunters can provide valuable information in certain contexts.

Comprehensive outbreak investigations involve detailed epidemiological analysis, including establishing timelines, assessing lesion development, tracing animal movements, and conducting laboratory testing. Increasingly, full genome sequencing is being used to better understand virus evolution and transmission pathways, thereby informing more effective control strategies and vaccine selection. Regional coordination and data sharing play a crucial role in enhancing the overall understanding of outbreaks and improving response effectiveness.

Equally important is the role of communication and trust in ensuring the success of surveillance and control efforts. Clear and consistent communication with all stakeholders, particularly smallholder farmers, encourages timely reporting and compliance with control measures. Providing transparent information about the implications of reporting, as well as the consequences of failing to do so, helps build cooperation and strengthens the overall response system. Capacity building in veterinary services, including training in epidemiology and outbreak investigation, remains a key priority to improve detection and response capabilities, especially in challenging contexts such as small ruminant populations.

Transparency and timely sharing of risk information are foundational to effective global FMD control and the stability of international trade. Open and accurate reporting reduces uncertainty, supports science-based decision-making, and enables rapid deployment of control measures such as diagnostics and movement restrictions. It also fosters trust among trading partners and stakeholders, minimizing misinformation and speculation. International standards require countries to report animal disease events promptly and comprehensively, including relevant epidemiological details and control actions, and to provide follow-up reports until outbreaks are resolved.

Despite these obligations, challenges in timely reporting persist in some regions, often due to complex circumstances such as conflict or limited resources. Delays in reporting can undermine global surveillance efforts and hinder timely responses. To address this, international organizations increasingly rely on supplementary information sources, including media monitoring and intelligence gathering, to identify potential unreported events and engage with countries for clarification. Ultimately, transparency must be viewed as a shared responsibility, requiring commitment from all stakeholders to ensure effective disease control and rapid mobilization of support when needed.

Looking forward, the evolving epidemiology of FMD underscores the need for stronger cross-sector collaboration, adaptive risk management, and the integration of new technologies. Current evidence suggests that many recent outbreaks are driven not by environmental factors but by failures in quarantine systems and uncontrolled animal movements, particularly along established trade routes. Improving surveillance in naïve populations remains a priority, as diagnostic challenges such as serological cross-reactivity can complicate early detection, making clinical vigilance even more important.

Efforts are also underway to strengthen global coordination through initiatives such as the Global Partnership Program for Transboundary Animal Diseases, which aims to enhance country-driven prevention, early warning, and response capacities. Continued dialogue, knowledge sharing, and innovation will be essential to address emerging challenges, including vaccine security and genomic surveillance. In this context, sustained commitment from the global community is crucial to effectively manage FMD risks and protect both animal health and livelihoods worldwide.


#FMD 

#AnimalHealth 

#GlobalOutbreak 

#VeterinaryScience 

#DiseaseControl

20 Kunci Rahasia Menuju Ridha Allah: Nomor 20 Paling Berbahaya!

 


Kalam Kunci: Jalan Menuju Ridha Allah SWT

 

Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, setiap amal memiliki pintu, dan setiap pintu memiliki kunci. Siapa yang memegang kunci yang benar, ia akan dimudahkan memasuki pintu-pintu kebaikan. Para ulama menyebutkan bahwa memahami “kunci-kunci amal” ini akan menuntun seorang hamba menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

1. Kunci Sholat adalah Bersuci

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu...” (QS. Al-Ma’idah: 6)

Rasulullah bersabda:

Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim)

Bersuci (thaharah) bukan hanya syarat sah sholat, tetapi juga bentuk penyucian lahir dan batin.

 

2. Kunci Pembuka Haji adalah Ihram

Allah berfirman:

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji...” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ihram adalah gerbang masuk ibadah haji, yang menandai dimulainya kesucian dan larangan-larangan tertentu.

 

3. Kunci Kebajikan adalah Kejujuran

Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran (ṣidq) adalah fondasi seluruh amal saleh.

 

4. Kunci Surga adalah Tauhid

Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah, maka ia masuk surga.” (HR. Muslim)

Tauhid adalah inti seluruh risalah para nabi.

 

5. Kunci Ilmu adalah Bertanya dan Mendengar

Allah berfirman:

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ilmu diperoleh dengan kerendahan hati untuk bertanya dan kesungguhan untuk mendengar.

 

6. Kunci Kemenangan adalah Kesabaran

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu...” (QS. Ali Imran: 200)

Kesabaran adalah sebab turunnya pertolongan Allah.

 

7. Kunci Ditambahnya Nikmat adalah Syukur

Allah berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu...” (QS. Ibrahim: 7)

Syukur menjaga nikmat dan menarik nikmat yang baru.

 

8. Kunci Kewalian adalah Mahabbah dan Dzikir

Allah berfirman:

“Ingatlah, wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut...” (QS. Yunus: 62)

Dan firman-Nya:

“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Cinta kepada Allah dan dzikir adalah jalan menuju kedekatan dengan-Nya.

 

9. Kunci Keberuntungan adalah Takwa

Allah berfirman:

“Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Takwa adalah penjaga diri dari murka Allah dan kunci falah (keberuntungan sejati).

 

10. Kunci Taufik adalah Harap dan Cemas kepada Allah

Allah berfirman:

“Mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap...” (QS. As-Sajdah: 16)

Seorang mukmin hidup antara raja’ (harap) dan khauf (takut).

 

11. Kunci Dikabulkan adalah Doa

Allah berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60)

Doa adalah senjata orang beriman.

 

12. Kunci Akhirat adalah Zuhud di Dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Zuhud bukan meninggalkan dunia, tetapi tidak menjadikannya tujuan.

 

13. Kunci Keimanan adalah Tafakkur

Allah berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi... terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir.” (QS. Ali Imran: 190)

Tafakkur menguatkan iman.

 

14. Kunci Hidupnya Hati adalah Tadabbur Al-Qur’an

Allah berfirman:

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. Muhammad: 24)

Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan hati.

 

15. Kunci Didapatkannya Rahmat adalah Ihsan

Rasulullah ﷺ bersabda:

Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya...” (HR. Muslim)

Ihsan menghadirkan kualitas tertinggi dalam ibadah.

 

16. Kunci Rezeki adalah Usaha, Istighfar, dan Takwa

Allah berfirman:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Dan:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu...” (QS. Nuh: 10–12)

 

17. Kunci Kemuliaan adalah Ketaatan

Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan bukan pada harta, tetapi pada ketaatan.

 

18. Kunci Persiapan Akhirat adalah Pendeknya Angan-Angan

Rasulullah ﷺ bersabda:

Jadilah engkau di dunia seperti orang asing...” (HR. Bukhari)

Pendeknya angan membuat seseorang fokus pada akhirat.

 

19. Kunci Semua Kebaikan adalah Menginginkan Allah dan Akhirat

Allah berfirman:

“Barang siapa menghendaki akhirat dan berusaha ke arah itu...” (QS. Al-Isra: 19)

Niat yang lurus adalah akar segala kebaikan.

 

20. Kunci Semua Keburukan adalah Cinta Dunia dan Panjang Angan

Rasulullah bersabda:

Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” (HR. Baihaqi – makna didukung oleh atsar)

Ketika dunia menguasai hati, akhirat dilupakan.

 

Penutup: Memegang Kunci-Kunci Kehidupan

Kunci-kunci ini bukan sekadar teori, tetapi jalan praktik menuju keselamatan. Barang siapa mengamalkannya, ia akan dibimbing menuju:

  • ketenangan hati
  • keberkahan hidup
  • dan kebahagiaan abadi di akhirat

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memegang kunci-kunci kebaikan dan dijauhkan dari kunci-kunci keburukan.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


#KalamKunci 

#RidhaAllah 

#IlmuIslam 

#TazkiyatunNafs 

#MotivasiIslam

Kisah Prof. Andi Hakim Nasution: Dari Rumah Tua ke Rektor Legendaris IPB!



Di sebuah rumah tua yang tenang, di kawasan Ciwaringin, Bogor, Andi Hakim Nasution seperti selalu kembali ke masa lalu. Di rumah itu, ayahnya, Anwar Nasoetion Gelar Mangaraja Pidoli—seorang dokter hewan pada zaman Belanda—membesarkan Andi Hakim. Di antara ruang-ruang rumah yang penuh kenangan, Andi seperti tak henti menyimak kembali ajaran-ajaran ayahnya yang adalah juga seorang peneliti. Salah satu wasiat Anwar kepada Andi adalah: tekunilah ilmu pertanian agar cepat mendapat kerja. Anak sulung dari lima bersaudara itu menjalankan wasiat sang ayah dengan patuh. Hasilnya? Ia bukan cuma cepat bekerja selepas kuliah. Lebih dari itu, “ilmu pertanian” ternyata mengantarkan Andi ke tingkat kemasyhuran yang layak diperoleh seorang cendekiawan.

 

Pria yang lahir pada 30 Maret 1932 ini melewatkan masa kanak-kanaknya di Bogor. Di sana pula ia meraih gelar insinyur pertanian dari IPB pada 1958 dengan predikat cum laude. Sedangkan gelar doktor diraihnya dari North Carolina State University, AS, pada 1964. Setahun kemudian, Andi kembali ke Tanah Air dan resmi menjadi dosen IPB justru ketika kampusnya sedang bergolak gara-gara perang ideologi—menjelang peristiwa berdarah G30S. Pada 1965, Andi diangkat menjadi dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB hingga 1969.

 

Ayah tiga anak ini sempat menjadi direktur pendidikan sarjana (1971) dan direktur sekolah pascasarjana di kampus tersebut sebelum menjadi rektor IPB selama dua periode (1978-1987). Sebagai dosen, keberhasilannya tak diragukan lagi. Namun, yang mengangkat nama Andi Hakim begitu tinggi adalah karirnya sebagai guru besar statistika dan genetika kuantitatif—dua ilmu yang selalu ada dalam pikirannya dan karya-karya ilmiahnya.

 

Ia adalah satu dari amat sedikit ahli statistika dan matematika yang hebat di negeri ini. Ia mendesain dan merintis pengajaran statistika dan matematika dengan cara yang seharusnya: membuat orang berpikir logis, bukan sekadar memahami perihal hitung-menghitung. Tulisan ilmiahnya tersebar di berbagai buku dan artikel, antara lain Daun-Daun Berserakan, Reaching The Best, Landasan Matematik, Aljabar Matrik, dan Teori Statistika. Metode Statistika ditulisnya dalam edisi Indonesia dan Inggris. Menulis memang bukan hal baru baginya. Pada usia 18 tahun, ia menulis buku fiksi berjudul Anak-Anak Bintang Pari.

 

Dalam usia 67, kegiatan Andi masih padat. Ia kini menjabat rektor Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung dan masih mengajar di IPB. Ia juga tetap menulis artikel dan buku, termasuk sebuah buku dakwah. Salah satu keunggulan Andi Hakim adalah ingatannya yang numerik dan kognitif. Ia lektor luar biasa pertama IPB untuk matematika. Tak mengherankan, guru besar ini masih menjadi Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja sejak 23 tahun lalu, serta membimbing anggota Tim Olimpiade Matematika Indonesia.

 

Namanya juga mengingatkan orang pada berbagai inovasi dalam dunia pendidikan, seperti pembagian pendidikan tinggi dalam tiga strata dan seleksi masuk ke universitas tanpa melalui ujian masuk.

 

Dua pekan lalu, di rumah tua yang penuh jejak masa lalu itu, Andi Hakim, yang tampak sehat dan awet muda, menerima wartawan TEMPO I Gusti Gede M.S. Adi untuk sebuah wawancara khusus.

 

Petikannya:

 

Anda merintis penerimaan mahasiswa tanpa tes di IPB sejak 1976. Bagaimana awal lahirnya ide tersebut?

 

Ide itu sudah ada sebelumnya. Tapi calon mahasiswa yang dikirim memakai rekomendasi dari mana-mana, seperti gubernur. Ini berbahaya karena bisa menumbuhkan kolusi. Ketika itu saya diangkat menjadi ketua program penerimaan mahasiswa baru IPB 1975. Rektor IPB ketika itu memerintahkan agar IPB menerima seribu mahasiswa untuk tahun ajaran baru.

 

Kenapa jumlahnya sedemikian melonjak? Kan, IPB biasanya hanya menerima 200 mahasiswa.

 

Itu permintaan DPR. Menurut mereka, menerima 200 orang tidak seimbang dengan subsidi pemerintah. Tapi saya bilang kepada rektor, calon itu tidak bisa diambil begitu saja karena kita akan menjadi tempat sampah. Tapi rektornya ngotot: pokoknya harus seribu. Akhirnya, saya ajukan kenaikan bertahap, 500 orang tahun pertama dan terus naik sampai 1.000 orang. Saya minta otoritas untuk mengerjakan semua itu menurut cara saya.

 

Bagaimana menentukan SMA yang layak mengirim siswa terbaik?

 

Begini. Setiap ujian, mahasiswa saya minta mencantumkan asal dan alamat sekolah di bagian bawah kertas ujian. Kalau sampai ke tingkat empat mahasiswa itu nilainya bagus terus, saya tinggal mengundang sekolah itu untuk mencalonkan siswanya ke IPB—dengan harapan para siswa itu mengikuti jejak kakak-kakaknya. Metode ini berkembang sampai sekarang.

 

Jika dibandingkan dengan calon yang masuk lewat Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), bagaimana prestasi mereka?

 

Kalau di IPB, rata-rata lebih bagus. Dari data, kita bisa melihat bahwa siswa yang masuk tanpa tes biasanya dari ibu kota kecamatan. Sedangkan para siswi berasal dari kota-kota besar. Rupanya, di kota kecamatan, menyekolahkan anak perempuan belum jadi prioritas utama.

 

Apakah ada pejabat yang pernah menitipkan anaknya di IPB melalui program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan, program masuk tanpa tes) kepada Anda?

 

Ada. Tapi saya lihat dulu. Kalau nilainya bagus, ya, boleh masuk. Terus terang, pernah ada peristiwa di Akademi Pertanian Ciawi yang melahirkan ide program masuk tanpa tes ke IPB. Sekali waktu, saya mendapat surat dari bupati Kabupaten Curup, Bengkulu. Dalam surat itu, ia mengajukan calon yang katanya satu-satunya calon terbaik kabupaten. Ternyata, nilai anak itu jelek sekali. Sehari sesudah penutupan, seorang siswa berbaju lusuh menemui saya. Ia ingin melamar ke Akademi Pertanian. Pendaftaran sudah tutup. Tapi saya sempatkan melihat rapornya. Bagus. Dan anak ini berasal dari Kabupaten Curup, Bengkulu.

 

Ha-ha-ha…, jadi bupati itu ternyata “keliru” merekomendasi. Lalu apa yang Anda lakukan pada siswa berbaju lusuh itu?

 

 Saya bilang ke dia supaya melamar dengan mencantumkan tanggal sebelum penutupan. Saya suruh dia agar mengotori sedikit amplopnya dan saya beri catatan surat itu diterima dalam keadaan rusak. Untung, ia mau berbohong dan akhirnya diterima.

 

Jadi, Anda berdua sama-sama berbohong?

 

 Ya, saya juga berbohong. Dan Anda tahu siapa anak itu? Profesor Mahfuddin Syakhranie. Sekarang ia guru besar kelautan di Universitas Diponegoro, Semarang.

 

Apakah Anda kerap mengalami kejadian seperti ini?

 

Ada saja. Peristiwa lain terjadi saat ujian saringan masuk IPB pada 1974. Seseorang datang kepada saya dan bilang, “Pak, saya ini orang jauh dan tidak bermaksud jadi mahasiswa. Bapak saya pensiunan kepala SD, ibu saya pensiunan guru SD. Jadi, mereka tidak akan kuat membiayai saya. Saya cuma ingin tahu apakah otak saya termasuk kelas yang bisa masuk IPB. Saya membiayai sendiri pendaftaran dari tabungan hasil menulis di majalah berbahasa daerah.”

 

Apa jawab Anda?

 

Saya pikir, kalau karangannya sudah pernah dimuat di majalah, berarti anak ini punya pikiran yang runtun dan logikanya bagus. Saya buka-buka dokumen yang dia bawa. Ternyata dia seorang pelajar teladan dari Jawa Barat. Saya lantas meminta rektor membebaskan SPP-nya. Lalu saya tulis surat ke bupatinya agar membiayai perjalanan siswa tersebut ke Bogor serta memberikan biaya selama 3 bulan pertama. Selanjutnya, IPB yang akan mencarikan beasiswa buat dia.

 

Bagaimana hasilnya?

 

Dia lulus cum laude dalam waktu empat tahun. Setelah itu, ia mengambil gelar master di Amerika. Tadinya, saya pikir dia tidak ingat saya lagi. Ternyata, begitu selesai program doktor, ia datang ke saya sembari membawakan disertasinya. Sekarang anak ini menjadi eselon satu di salah satu departemen dan menjadi pejabat tinggi termuda yang pernah diangkat departemen.

 

Mengapa Anda berani “potong kompas” untuk menolong anak-anak cerdas seperti ini?

 

Ini cara saya membayar utang kepada profesor dan dosen-dosen saya. Profesor Boudoin, misalnya, adalah salah satu guru saya. Dulu, ia tukang kebun yang bekerja di Hugo de Vreis, peraih Hadiah Nobel biologi dari Utrecht, Belanda. Sewaktu De Vreis mengajar, si Boudoin mengintip setiap hari dan ikut mencatat di luar jendela. Catatan tukang kebun yang cuma lulus SD itu ternyata lebih rapi ketimbang catatan para mahasiswa. Akhirnya, De Vreis mendidiknya secara pribadi hingga mencapai guru besar.

 

Mamiek Soeharto, putri mantan presiden Soeharto, barangkali model “kasus” yang lain. Dia masuk Jurusan Statistika IPB—saat Anda masih menjabat rektor—padahal ada pendapat, kemampuannya sangat tidak layak masuk statistika. Apa komentar Anda?

 

Ha-ha-ha…, yang saya tahu, Mamiek biasanya tidak akan menyelesaikan soal-soal ujian berhitungnya. Tapi logika berpikirnya tetap bagus. Ia menulis skripsi yang membandingkan anatomi tungkai kaki orang Irian, Pengalengan, dan Siantar, memakai metode statistika.

 

Anda menerima tawaran menjadi rektor IPB pada 1978. Apakah ini juga cara “membalas jasa” kepada para guru besar?

 

Begini ceritanya. Suatu ketika, menjelang pemilihan rektor, saya dipanggil Daoed Joesoef (Menteri P dan K 1978-1983). Ia meminta saya menjadi kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di P dan K, bukan rektor IPB.

 

Dan Anda menolak?

 

Saya bilang, banyak yang bisa jadi kepala Bagian Litbang tapi tidak banyak yang bisa jadi guru besar statistika. Saat itu, saya satu-satunya guru besar statistika. Kalau tidak jadi rektor pun, tidak apa-apa.

 

 Anda, toh, tetap dicalonkan dan berhasil menjadi rektor IPB, bahkan dalam dua periode.

 

Ya. Saya tidak melihat prosesnya karena sedang mengantar anak saya ke dokter gigi ketika pemilihan itu berlangsung. Sjarifudin Baharsjah (Menteri Pertanian 1993-1998) yang pertama menyalami saya karena terpilih sebagai rektor IPB.

 

Bukankah Anda menang dengan suara telak?

 

Kemenangan saya sangat besar, 250 : 40 suara. Lama-lama saya tahu apa alasannya. Ketika itu keadaan sedang kacau. Mereka mengangkat saya sebagai rektor saat dunia kampus Indonesia bergolak karena program NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) 1978-79 yang mensterilkan kampus dari politik. Jadi, ini seperti tahun 1966, saat saya diangkat sebagai dekan Faperta, selepas ribut-ribut G30S-PKI.

 

Sebagai rektor IPB, apa sikap Anda terhadap penerapan NKK/BKK?

 

Saya katakan pada mahasiswa-mahasiswa itu, silakan ngomong apa saja tapi yang bisa diterima logika. Kalau enggak ada logikanya, buat apa? Saya harus keras sama mereka dan jangan sampai “membakar rumah sendiri”.

 

Maksud Anda?

 

Kalau IPB ditutup, mereka mau apa? Banyak yang protes. Dalam acara pelantikan sarjana, mereka mengusung keranda bertuliskan “Demokrasi Sudah Mati di Kampus Ini.” Saya katakan kepada mereka, demokrasi sudah mati di Indonesia, bukan di kampus ini. Kampus tidak lagi bisa menjadi suaka di tengah-tengah keadaan seperti itu.

 

Anda juga melarang mahasiswa memakai cat kuning di kampus IPB. Apa karena jengkel dengan Golkar?

 

Waktu itu, Lawalata IPB (kelompok mahasiswa pencinta alam) memang saya larang pakai warna kuning karena asosiasinya, kan, Golkar. Pokoknya, pada zaman saya, semua partai politik tidak boleh masuk ke kampus.

 

 Jadi, Anda berusaha agar kegiatan akademis tetap berlangsung. Tapi, apakah tidak ada yang protes?

 

Tentu ada. Suatu ketika, ada yang datang kepada saya dan menanyakan, setelah sekian lama menjadi birokrat, apakah saya masih seorang ilmuwan. Saya jawab, soal ilmuwan atau tidak itu orang lain yang menilai. Tapi menjaga agar kegiatan akademis tetap berlangsung secara optimal adalah tugas saya sebagai rektor.

 

 Tampaknya, itu memang periode yang kacau. Bagaimana menurut Anda?

 

Memang. Suatu siang seorang menteri—lulusan IPB—menelepon ke kantor saya. Mula-mula ia memuji melulu sehingga saya langsung waspada. Eh, benar. Buntutnya, dia menyuruh saya agar menekan Aunu Rauf, seorang dosen di Faperta, agar tidak bicara soal hama kutu loncat lagi. Waktu itu Aunu diwawancarai Kompas soal kutu loncat.

 

Anda mengabulkan permintaannya?

 

Tentu tidak. Saya katakan kepadanya, dosen itu hanya menjalankan kewajibannya sebagai ilmuwan. Dan kalau ia terus memaksakan kehendak, mau dikemanakan integritas akademik almamaternya? Akhirnya, ia minta maaf.

 

Mengapa menteri itu sedemikian memaksa?

 

Masalahnya, wereng cokelat itu kan dibawa ke Indonesia oleh mantan Presiden Soeharto tanpa vektornya dan tanpa karantina. Ketika terjadi wabah, kita tidak tahu apa obatnya.

 

Omong-omong soal menteri, benarkah Anda dicalonkan menggantikan almarhum Nugroho Notosusanto (Menteri P dan K 1983- 1985), tapi ditolak karena punya friksi dengan penguasa saat itu?

 

Tidak. Tapi, kalau Anda punya musuh besar dan ingin ia tersiksa di dunia, doakanlah dia menjadi menteri pendidikan.

 

Kenapa begitu?

 

Sebab, siapa pun yang jadi menteri, pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kondisi pendidikan kita sudah seperti benang kusut yang kita tidak tahu lagi harus diurai dari mana. Kita ini menganggap orang Indonesia paling pintar di dunia, jadi semuanya harus masuk ke perguruan tinggi.

 

Mengapa? Karena kita tidak pernah mengajarkan alternatif lain di luar perguruan tinggi?

 

Persis. Di Vietnam saja, hanya lulusan SMU yang nilainya baik yang boleh masuk perguruan tinggi. Sebagai gantinya, mereka menyediakan sekolah kejuruan yang bagus sehingga keluar dari situ bisa bekerja. Contoh lain adalah Amerika. Masuk perguruan tinggi bukan lagi jadi cita-cita utama. Banyak juga yang ingin menjadi manajer pompa bensin atau sopir bus.

 

Mengapa anak-anak muda Amerika tertarik dengan “pekerjaan kasar”?

 

Untuk apa dia capek-capek kuliah kalau penghasilannya sama dengan orang sekolahan? Pada 1964, misalnya, gaji seorang sopir trailer adalah US$ 30 ribu per tahun tapi naiknya agak lambat. Sedangkan gaji permulaan seorang doktor US$ 10 ribu per tahun dengan dua bulan libur dan naiknya cepat, tergantung juga proyek yang mereka kerjakan. Kalau keduanya kita integralkan, gaji total selama hidup keduanya akan sama.

 

Tapi ini bukan tanpa akibat jelek: bukankah mahasiswa yang pintar di AS sekarang adalah orang-orang asing?

 

Betul. Tapi lihat juga akibat dari tidak adanya pendidikan alternatif. Di Indonesia, bus akan disopiri orang yang tidak mengerti fisika. Sudah jelas kecepatan maksimumnya 100 kilometer per jam—artinya jarak amannya 100 kilometer—tetap saja ia mengebut. Atau, ketika pesawat mendarat, orang Indonesia sudah berdiri ambil koper, walau tanda sabuk pengaman masih menyala. Kalau kita tahu kaidah fisika, kita akan paham massa kita relatif kecil dan velositasnya besar. Dan semua akan terpelanting kalau pilot mengerem kendati pesawatnya berjalan lambat.

 

Tentang pengajaran matematika. Pernah terjadi perdebatan di DPR agar matematika tidak boleh diajarkan di SD dan hanya berhitung. Apa pendapat Anda?

 

Ada dua kesalahan dalam pemikiran itu. Pertama, berhitung adalah bagian dari matematika. Kedua, mereka menganggap berhitung bagian dari pengajaran kemampuan penilaian kuantitatif. Itu tidak benar. Karena kemampuan kuantitatif adalah kemampuan menafsirkan apa yang ada di balik angka. Jadi, guru harus tahu apa yang mereka ajarkan.

 

Seburuk apa pengalaman Anda dalam mengajar matematika?

 

Saya kasih Anda satu contoh. Sekali waktu, saya memberikan materi matematika untuk para dosen fakultas pertanian di sebuah universitas negeri di Malang. Saya ajukan pertanyaan, “Satu dibagi nol hasilnya berapa?” Semuanya menjawab, “Tak terhingga.” Bayangkan, mereka dosen tapi tidak tahu satu dibagi nol jawabannya adalah tidak didefinisikan. Itu teori dasar matematika tetapi tak ada yang tahu.

 

Sebetulnya, apa perlunya memahami matematika?

 

Dengan matematika, orang bisa diajak berpikir logis. Dan, karena berpikir logis, orang tidak akan menjadi papan selancar politik, tidak akan bisa dijadikan massa mengambang oleh pihak lain.

 

Minat Anda pada matematika begitu besar. Tapi, tatkala belajar ke Amerika pada 1961, mengapa justru memilih statistika?

 

Kalau saya ambil matematika, itu artinya matematika murni. Mau ngapain saya di Bogor kalau jadi dosen matematika murni? Matematika saya pelajari untuk memberikan landasan pemikiran dan analisa kuantitatif. Jadi, bidang yang saya pilih di North Carolina University adalah statistika untuk pemuliaan tanaman. Dengan statistika, saya bisa mendidik orang menjadi ahli matematika. Itu terjadi pada angkatan di bawah saya. Sarjana statistika ternyata relatif mudah meraih gelar doktornya di luar negeri.

 

Adakah materi kuliah di IPB yang Anda ubah setelah masuk ke lembaga itu pada 1965?

 

Saya mengubah pengajaran matematika yang tadinya hanya terdiri dari kalkulus. Ilmu kalkulus itu hanya matematika yang mengabdi kepada perhitungan. Padahal, matematika seharusnya mendidik cara berpikir yang betul.

 

Perubahan yang Anda lakukan itu apakah tidak ditentang?

 

La, cuma saya sendiri yang ahli statistika waktu itu. Tapi memang ada yang bilang IPB tidak usah ada matematikanya. Saya diam saja tapi saya tetap mengajarkan matematika kepada mahasiswa saya. Di tingkat dua, mereka belajar statistika, perancangan percobaan, dan aljabar matriks. Di tingkat tiga, saat mau mengadakan penelitian, para mahasiswa itu mulai mengkritik kesalahan yang diajarkan dosen-dosennya. Lalu datanglah para dosen itu kepada saya, minta diajarkan statistika. Kursus-kursus bersertifikat itulah awal progam pascasarjana di IPB.

 

Bidang matematika apa lagi yang Anda ajarkan?

 

Pra-kalkulus. Namanya landasan matematika, yang mengajarkan matematika bukan sebagai alat hitung, tapi alat berpikir kuantitatif. Landasan matematika dapat dipakai untuk membuktikan kebenaran sebuah pernyataan.

 

Benarkah model- model pengajaran matematika di atas adalah ciptaan Anda sendiri?

 

Saya mengadopsi ilmu itu dari pencipta bahasa pemrograman komputer Basic. Saya bikin dua macam: matematika untuk berpikir atau queen of science dan matematika untuk melayani perhitungan semata-mata atau the servant of science. Dengan model itu, IPB yang pertama mengajarkan matematika itu di tingkat satu.

 

Sampai sekarang Anda masih mengajar di IPB. Tapi mengapa memilih mengajar tingkat satu?

 

Sebab, di tingkat satu, kita mengajarkan dasar-dasar. Di Massachusetts Institute of Technology, dosen biologi tingkat satu adalah pemenang hadiah Nobel biologi, Salvador Lorea. Lalu Linus Pauling, pemenang Nobel kimia, pernah mengajar kimia di tingkat satu di Berkeley. Menurut saya, harus lebih banyak lagi guru besar yang mengajar di tingkat satu.

 

Dulu Anda rektor IPB, kini rektor Sekolah Tinggi Telkom Bandung. Kok, suka benar jadi rektor?

 

Terus terang saja, saya butuh tambahan penghasilan. Salah seorang anak saya diputus beasiswanya, jadi harus dibantu. Di IPB saya merasa sudah tidak dipakai lagi, mungkin karena sudah terlalu tua.

 

Apa kegiatan Anda di luar urusan akademis?

 

Kalau Minggu, saya masih menyempatkan jalan kaki bersama Istri keliling Kota Bogor—sembari hunting foto dengan kamera Olympus kesayangan saya. Memotret segala sesuatu, terutama tanaman dengan lensa mikro. Di luar itu mengasuh cucu. Memandang dan memiliki mereka adalah kebahagiaan paling besar.


SumberWawancara Andi Hakim Nasution: Dengan Matematika Orang Tak Jadi Papan Selancar Politik, Majalah Tempo Senin 3 Januari 2000


#AndiHakim 

#IPB 

#Pendidikan 

#Inspirasi 

#Statistika