Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Wednesday, 4 November 2026

Revolusi Nanoteknologi Pangan: Edible Nanofilm, Pelapis Alami yang Bikin Buah Lebih Awet dan Mengurangi Limbah Plastik!

 


Edible Film Berbasis Nanoteknologi untuk Pelapisan Buah Segar: Pengembangan Nanokomposit Biodegradabel sebagai Alternatif Kemasan Plastik Sintetik untuk Memperpanjang Umur Simpan Pascapanen

 

ABSTRAK

 

Kerusakan buah segar selama penyimpanan dan distribusi pascapanen merupakan permasalahan penting dalam sistem pangan karena buah memiliki kandungan air tinggi, aktivitas metabolisme yang masih berlangsung, serta kerentanan terhadap kontaminasi mikroorganisme pembusuk. Penggunaan kemasan plastik sintetik selama ini menjadi salah satu metode untuk melindungi produk, tetapi menimbulkan permasalahan lingkungan akibat akumulasi limbah plastik yang sulit terdegradasi. Edible film berbasis nanoteknologi menawarkan alternatif yang lebih berkelanjutan melalui pengembangan lapisan pelindung berbahan polimer alami yang dapat dimakan, biodegradabel, dan memiliki kemampuan pengendalian sifat penghalang (barrier properties) yang lebih baik. Artikel ini mengkaji pengembangan nanokomposit berbasis kitosan dan alginat yang diperkuat nanokristal selulosa (cellulose nanocrystals/CNC) serta diperkaya nanoemulsi minyak atsiri sebagai komponen antimikroba dan antioksidan. Pembahasan mencakup mekanisme pengendalian respirasi, transpirasi, pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida, serta penghambatan pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan buah. Metodologi penelitian laboratorium dirancang menggunakan teknik high-shear homogenization, ultrasonikasi, dan solvent casting, dilanjutkan karakterisasi sifat fisik, mekanik, kimia, morfologi, serta kemampuan biodegradasi film. Efektivitas aplikasinya dikaji pada buah stroberi, bluberi, mangga, dan buah potong segar. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kombinasi biopolimer, nanokristal selulosa, dan nanoemulsi minyak atsiri berpotensi mengurangi kehilangan air, mempertahankan tekstur, menghambat pertumbuhan mikroorganisme, serta memperpanjang umur simpan buah. Meskipun demikian, keamanan penggunaan nanomaterial tetap memerlukan pengujian migrasi, paparan oral, dan toksikologi sesuai pedoman regulasi pangan internasional. Dengan demikian, edible nanofilm berpotensi menjadi teknologi pelapisan pascapanen yang ramah lingkungan, tetapi penerapannya secara komersial harus didasarkan pada pembuktian efektivitas, keamanan, dan kesesuaian regulasi.

 

Kata kunci: Edible film; nanoteknologi; kitosan; alginat; nanokristal selulosa; nanoemulsi minyak atsiri; pengawetan buah; biodegradabel.

 

1. PENDAHULUAN

 

Buah segar merupakan komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi dan nutrisi tinggi, tetapi relatif mudah mengalami kerusakan setelah dipanen. Proses pematangan dan penuaan tetap berlangsung meskipun buah telah dipisahkan dari tanaman induknya. Aktivitas respirasi, transpirasi, perubahan komposisi kimia, pelunakan jaringan, kehilangan air, serta serangan mikroorganisme merupakan faktor utama yang menentukan penurunan kualitas buah selama penyimpanan.

 

Pada buah klimakterik seperti mangga, peningkatan aktivitas respirasi dan produksi etilen berkaitan erat dengan proses pematangan. Sementara itu, buah nonklimakterik seperti stroberi dan bluberi juga mengalami perubahan fisiologis dan sangat rentan terhadap kerusakan mekanis maupun serangan kapang. Permasalahan tersebut semakin kompleks pada produk buah potong segar (fresh-cut fruits) karena proses pengupasan dan pemotongan merusak jaringan pelindung alami, meningkatkan luas permukaan yang terpapar oksigen, serta mempercepat kehilangan air dan kontaminasi mikrobiologis.

 

Selama ini, plastik sintetik seperti polietilena (polyethylene/PE), polipropilena (polypropylene/PP), dan polietilena tereftalat (polyethylene terephthalate/PET) banyak digunakan untuk mengemas buah segar. Material tersebut memiliki sifat mekanik dan kemampuan penghalang terhadap uap air yang relatif baik. Namun, ketergantungan terhadap bahan berbasis petrokimia menimbulkan persoalan lingkungan, terutama berkaitan dengan limbah kemasan yang sulit terurai secara alami.

 

Salah satu pendekatan alternatif adalah penggunaan edible film dan edible coating, yaitu lapisan tipis berbahan pangan yang dapat dikonsumsi bersama produk atau diaplikasikan langsung pada permukaan buah. Berbeda dengan kemasan konvensional yang berfungsi sebagai pembungkus eksternal, edible coating membentuk lapisan pelindung langsung pada permukaan produk, sedangkan edible film umumnya dibuat terlebih dahulu dalam bentuk lembaran tipis sebelum digunakan sebagai pembungkus.

 

Perkembangan nanoteknologi memungkinkan peningkatan kinerja kedua material tersebut melalui pengaturan struktur polimer dan penambahan komponen berukuran nanometer. Nanomaterial dapat memperbaiki kekuatan mekanik, mengurangi permeabilitas gas dan uap air, serta meningkatkan distribusi senyawa bioaktif dalam matriks film. Menurut Lee et al. (2022), kombinasi nanokristal selulosa dari ampas tebu, nanofiber kitosan, alginat, dan minyak atsiri oregano menghasilkan lapisan komposit yang mampu mempertahankan kualitas stroberi selama penyimpanan.

 

Material utama yang berpotensi dikembangkan adalah kitosan, alginat, dan nanokristal selulosa. Kitosan memiliki sifat pembentuk film, kemampuan membentuk lapisan pelindung, serta aktivitas antimikroba. Alginat dapat membentuk matriks hidrogel yang mampu mempertahankan kelembapan. Sementara itu, CNC berfungsi sebagai penguat struktur karena memiliki kekuatan mekanik tinggi dan kemampuan membentuk jaringan ikatan hidrogen dengan polimer alami.

 

Selain itu, penambahan nanoemulsi minyak atsiri seperti minyak cengkih, oregano, kayu manis, dan rosemary dapat memberikan aktivitas antimikroba serta antioksidan. Teknologi nanoemulsi membantu mendispersikan komponen minyak yang bersifat hidrofobik ke dalam sistem berbasis air sehingga distribusinya lebih merata dan pelepasannya dapat dikendalikan.

 

Kajian Tabassum et al. (2023) menunjukkan bahwa nanoemulsi minyak oregano dalam lapisan alginat mampu memperbaiki efektivitas pelapisan buah pepaya potong segar. Ukuran droplet nanoemulsi yang dihasilkan sekitar 160 nm, dengan kemampuan mempertahankan kelembapan dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme lebih baik dibandingkan emulsi konvensional.

 

Berdasarkan perkembangan tersebut, artikel ini bertujuan mengkaji desain edible film berbasis nanokomposit kitosan–alginat–CNC yang diperkaya nanoemulsi minyak atsiri sebagai teknologi alternatif pengemasan dan pelapisan buah segar. Pembahasan difokuskan pada mekanisme preservasi, rancangan metodologi penelitian laboratorium, karakterisasi material, efektivitas aplikasi pada berbagai komoditas buah, serta aspek keamanan dan regulasi pangan.

 

2. METODOLOGI

 

2.1. Desain penelitian

 

Penelitian dirancang sebagai penelitian eksperimental laboratorium untuk mengembangkan dan mengevaluasi edible nanofilm berbasis komposit biopolimer. Pendekatan penelitian meliputi formulasi material, pembuatan film, karakterisasi fisikokimia, pengujian aktivitas biologis, aplikasi pada buah segar, serta evaluasi keamanan material.

 

Sistem komposit yang dikembangkan terdiri atas empat komponen utama:

  1. Kitosan sebagai matriks polimer pembentuk film.
  2. Alginat sebagai polimer pendamping untuk meningkatkan kemampuan pembentukan lapisan dan pengaturan kelembapan.
  3. Nanokristal selulosa (CNC) sebagai bahan penguat struktur.
  4. Nanoemulsi minyak atsiri sebagai sumber senyawa antimikroba dan antioksidan.

 

Pengembangan dilakukan dengan membandingkan film tanpa penguat nano, film dengan CNC, serta film yang mengandung CNC dan nanoemulsi minyak atsiri.

 

2.2. Bahan dan formulasi larutan nanokomposit

 

Bahan utama yang digunakan meliputi kitosan dengan derajat deasetilasi yang diketahui, natrium alginat, nanokristal selulosa, gliserol sebagai plastisiser, asam asetat, kalsium klorida, minyak atsiri, dan air deionisasi.

 

Minyak atsiri yang digunakan dapat berupa minyak oregano (Origanum vulgare), cengkih (Syzygium aromaticum), atau kayu manis (Cinnamomum spp.). Pemilihan minyak atsiri mempertimbangkan komposisi kimia, aktivitas antimikroba, stabilitas, serta pengaruhnya terhadap aroma dan penerimaan sensoris buah.

 

Sebagai formulasi awal untuk optimasi laboratorium, komposisi dapat dirancang sebagai berikut.


Komponen

Konsentrasi awal

Fungsi

Kitosan

1,0–2,0% b/v

Matriks pembentuk film

Natrium alginat

0,5–1,0% b/v

Polimer pendamping

CNC

0,5–2,0% terhadap polimer

Penguat nanokomposit

Gliserol

20–30% terhadap bobot polimer

Plastisiser

Minyak atsiri

0,5–2,0% v/v fase minyak

Antimikroba dan antioksidan

Surfaktan pangan

Sesuai optimasi

Penstabil nanoemulsi

CaCl₂

1–2% b/v

Pengikatan silang alginat

 

Catatan: Konsentrasi tersebut merupakan rentang formulasi awal yang diusulkan untuk penelitian, bukan komposisi optimum yang telah dibuktikan. Konsentrasi akhir perlu ditentukan melalui optimasi dan pengujian keamanan pangan.

 

Kitosan dilarutkan dalam larutan asam asetat encer, sedangkan alginat dilarutkan secara terpisah dalam air deionisasi. Kedua larutan kemudian dicampurkan secara bertahap menggunakan pengaduk magnetik sampai terbentuk larutan homogen.

 

Nanokristal selulosa didispersikan terlebih dahulu dalam air menggunakan homogenisasi dan ultrasonikasi untuk mengurangi agregasi partikel. Selanjutnya, dispersi CNC dimasukkan ke dalam matriks polimer secara perlahan.

 

2.3. Pembuatan nanoemulsi minyak atsiri

 

Nanoemulsi dibuat dengan mendispersikan minyak atsiri ke dalam fase air yang mengandung surfaktan yang sesuai untuk aplikasi pangan.


Proses pembuatan dilakukan melalui dua tahap.

 

Tahap pertama: High-shear homogenization


Fase minyak dan fase air dicampurkan menggunakan homogenizer berkecepatan tinggi. Proses ini bertujuan menghasilkan emulsi awal dengan ukuran droplet yang relatif kecil dan distribusi yang lebih merata.

 

Tahap kedua: Ultrasonikasi


Emulsi awal selanjutnya diproses menggunakan ultrasonikator untuk memperkecil ukuran droplet melalui fenomena kavitasi akustik. Parameter amplitudo, waktu, energi, dan pengendalian suhu harus dioptimalkan untuk menghindari degradasi komponen aktif minyak atsiri.


Ukuran droplet, indeks polidispersitas (polydispersity index/PDI), dan potensial zeta diukur menggunakan dynamic light scattering (DLS).


Sebagai target pengembangan, ukuran droplet dapat diarahkan pada rentang 50–200 nm. Namun, ukuran aktual dan stabilitas nanoemulsi harus ditentukan melalui pengukuran eksperimental. Nanoemulsi yang stabil kemudian dicampurkan ke dalam larutan kitosan–alginat–CNC.

 

2.4. Pembuatan edible nanofilm menggunakan metode solvent casting

 

Pembuatan film dilakukan menggunakan metode solvent casting, yaitu pencetakan larutan polimer menjadi lapisan tipis melalui proses penguapan pelarut.


Tahapan pembuatannya meliputi:

  1. Larutan kitosan dan alginat dicampurkan hingga homogen.
  2. Dispersi CNC dimasukkan secara bertahap ke dalam campuran polimer.
  3. Gliserol ditambahkan sebagai plastisiser untuk meningkatkan fleksibilitas film.
  4. Nanoemulsi minyak atsiri dimasukkan secara perlahan dengan pengadukan terkendali.
  5. Larutan komposit dihomogenisasi sampai terbentuk dispersi yang seragam.
  6. Larutan mengalami degasifikasi menggunakan sistem vakum untuk menghilangkan gelembung udara.
  7. Larutan dituangkan pada cawan Petri dengan volume yang sama untuk setiap perlakuan.
  8. Pengeringan dilakukan pada suhu sekitar 25–40°C sampai terbentuk lapisan film yang stabil.
  9. Film dilepaskan dari cetakan dan dikondisikan pada suhu serta kelembapan relatif yang terkendali sebelum pengujian.

 

Untuk formulasi yang menggunakan alginat, proses pengikatan silang menggunakan CaCl₂ dapat diterapkan melalui perendaman atau penyemprotan terkendali. Konsentrasi dan waktu perlakuan harus dioptimalkan agar tidak menghasilkan film yang terlalu rapuh.


Chitosan-Based Composites: Development and Perspective in Food Preservation and Biomedical Applications | MDPI

Edible chitosan/cellulose nanofiber nanocomposite films for potential use as food packaging: Materials Technology: Vol 37 , No 10  - Get Access

Spices and Essential Oils in Food Preservation: From Natural Additives to Active Packaging Systems | Plant Foods for Human Nutrition | Springer Nature Link

 

2.5. Karakterisasi fisikokimia dan mekanik film

 

Karakterisasi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara komposisi nanokomposit dengan karakteristik film yang dihasilkan.

 

a. Ketebalan film

Ketebalan diukur menggunakan mikrometer digital pada beberapa titik berbeda. Nilai rata-rata digunakan sebagai dasar perhitungan sifat mekanik dan permeabilitas.

 

b. Kekuatan tarik (tensile strength) dan elongasi

Pengujian dilakukan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) berdasarkan prinsip metode ASTM D882 yang disesuaikan dengan karakteristik spesimen film tipis.

Kekuatan tarik dihitung menggunakan persamaan:

Keterangan:

  • TS = kekuatan tarik (MPa).
  • Fmax = gaya maksimum saat film putus (N).
  • A = luas penampang film (mm²).

Persentase pemanjangan dihitung menggunakan:


Keterangan:

  • E = elongasi (%).
  • Lf = panjang film saat putus.
  • Lo = panjang awal spesimen.

 

c. Water Vapor Permeability (WVP)

Pengujian WVP dilakukan untuk mengetahui kemampuan film menghambat perpindahan uap air.


Keterangan:

  • Δm = perubahan massa (g).
  • L = ketebalan film (m).
  • A = luas permukaan pengujian (m²).
  • Δt = interval waktu (s).
  • ΔP = perbedaan tekanan parsial uap air (Pa).

Nilai WVP yang lebih rendah menunjukkan kemampuan penghambatan perpindahan uap air yang lebih baik pada kondisi pengujian.

 

d. Permeabilitas oksigen dan karbon dioksida

Pengujian dilakukan untuk mengetahui kemampuan film mengendalikan pertukaran gas antara permukaan buah dan lingkungan. Parameter ini penting karena respirasi buah membutuhkan oksigen dan menghasilkan karbon dioksida.

 

e. Analisis morfologi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM)

Pengamatan SEM dilakukan pada permukaan dan penampang melintang film untuk mengidentifikasi homogenitas matriks, distribusi CNC, pori, retakan, serta kemungkinan terbentuknya agregasi partikel.

Cellulose Nanocrystal Reinforced Chitosan Based UV Barrier Composite Films for Sustainable Packaging

Figure 3 - from Starch Based Active Packaging Film

Functional Nanocellulose, Alginate and Chitosan Nanocomposites Designed as Active Film Packaging Materials

 

f. Karakterisasi tambahan


Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, karakterisasi dapat dilengkapi dengan:

  • FTIR untuk mengidentifikasi gugus fungsi dan interaksi antarkomponen.
  • XRD untuk mengamati karakteristik kristalinitas CNC.
  • DSC untuk mengevaluasi sifat termal.
  • TGA untuk mengetahui stabilitas termal.
  • Analisis warna dan transparansi untuk mengevaluasi kualitas visual.
  • Pengujian kelarutan, penyerapan air, dan biodegradasi.

 

2.6. Pengujian aktivitas antimikroba dan antioksidan

 

Aktivitas antimikroba diuji menggunakan metode difusi agar dan/atau pengukuran konsentrasi hambat minimum (minimum inhibitory concentration/MIC) terhadap mikroorganisme pembusuk buah.

 

Mikroorganisme yang dapat digunakan antara lain:

  • Botrytis cinerea, sebagai penyebab busuk abu-abu pada stroberi.
  • Penicillium spp., sebagai kapang pembusuk buah.
  • Escherichia coli, sebagai indikator kontaminasi bakteri.
  • Staphylococcus aureus, sebagai mikroorganisme uji keamanan pangan.

 

Pengujian harus menggunakan isolat yang teridentifikasi dan kondisi biosafety yang sesuai. Hasil aktivitas antimikroba dibandingkan antara film tanpa minyak atsiri dan film yang mengandung nanoemulsi.

Aktivitas antioksidan dapat dievaluasi menggunakan metode DPPH atau ABTS. Pengujian ini bertujuan mengetahui kemampuan lapisan mempertahankan aktivitas antioksidan dari senyawa bioaktif minyak atsiri.

 

2.7. Aplikasi edible nanofilm pada buah segar

 

Pengujian aplikasi dilakukan pada tiga kelompok komoditas, yaitu buah beri, buah tropis, dan buah potong segar.

Fresh and sweet strawberry and blueberry on white background, healthy fruit and diet.

fresh ripe mango fruit

Mix de Frutas Mamão Manga e Melão | Prezunic

 

Buah yang digunakan dipilih berdasarkan tingkat kematangan, ukuran, bobot, kondisi fisik, dan keseragaman kualitas.

 

Aplikasi lapisan dilakukan melalui metode dipping atau pencelupan. Buah dicelupkan ke dalam larutan edible coating selama waktu yang ditentukan, kemudian ditiriskan dan dikeringkan sampai terbentuk lapisan tipis pada permukaan buah.

 

Untuk buah potong, proses pelapisan dilakukan setelah pencucian dan sanitasi menggunakan prosedur yang sesuai untuk pangan segar.

Perlakuan penelitian terdiri atas:

 

Kode

Perlakuan

K0

Buah tanpa pelapisan

K1

Buah dengan kitosan–alginat

K2

Buah dengan kitosan–alginat–CNC

K3

Buah dengan kitosan–alginat–nanoemulsi minyak atsiri

K4

Buah dengan kitosan–alginat–CNC–nanoemulsi minyak atsiri

 

Seluruh sampel disimpan pada suhu dan kelembapan relatif yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing komoditas. Penyimpanan dilakukan dengan pengamatan berkala, misalnya setiap 2–3 hari, sesuai umur simpan dan karakteristik buah.

 

Parameter pengamatan meliputi:

  1. Persentase kehilangan bobot (weight loss).
  2. Perubahan warna dan indeks pencokelatan.
  3. Kekerasan atau tingkat kekencangan buah (firmness).
  4. Total padatan terlarut (total soluble solids/TSS).
  5. Total asam tertitrasi (titratable acidity/TA).
  6. Aktivitas respirasi dan komposisi gas mikroatmosfer.
  7. Total mikroba dan kapang-khamir.
  8. Aktivitas antioksidan dan kandungan vitamin C.
  9. Penerimaan sensoris, termasuk warna, aroma, tekstur, dan rasa.
  10. Umur simpan berdasarkan kriteria mutu dan keamanan yang ditetapkan.

 

2.8. Analisis data

 

Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan minimal tiga ulangan biologis atau unit percobaan independen untuk setiap perlakuan. Jumlah buah dalam setiap unit percobaan ditentukan berdasarkan analisis daya statistik dan variasi komoditas.

 

Data dianalisis menggunakan ANOVA, dilanjutkan uji pembandingan rata-rata seperti Tukey apabila terdapat perbedaan nyata pada taraf signifikansi 5%.

 

Hubungan antara komposisi film, sifat mekanik, permeabilitas, aktivitas antimikroba, dan umur simpan dapat dianalisis menggunakan korelasi dan regresi. Analisis multivariat juga dapat diterapkan untuk mengidentifikasi parameter paling berpengaruh terhadap keberhasilan preservasi buah.

 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1. Pengembangan struktur nanokomposit kitosan–alginat–CNC

 

Keberhasilan pengembangan edible nanofilm sangat ditentukan oleh interaksi antara matriks polimer, bahan penguat, dan komponen bioaktif yang ditambahkan. Kitosan dan alginat memiliki karakteristik fisikokimia yang saling melengkapi. Kitosan merupakan polisakarida bermuatan positif pada kondisi asam, sedangkan alginat mengandung gugus karboksilat yang bermuatan negatif pada kondisi tertentu. Interaksi elektrostatik antara kedua polimer tersebut dapat menghasilkan struktur kompleks polielektrolit yang memengaruhi kekuatan, stabilitas, dan karakteristik penghalang film.

 

Penambahan CNC diharapkan meningkatkan kekuatan struktur melalui pembentukan jaringan ikatan hidrogen antara gugus hidroksil pada selulosa dengan gugus hidroksil dan amino pada matriks polimer. Struktur kristalin CNC juga dapat meningkatkan jalur difusi yang harus dilewati molekul air dan gas sehingga perpindahan molekul melalui lapisan menjadi lebih sulit.

 

Lee et al. (2022) membuktikan bahwa kombinasi natrium alginat, nanokristal selulosa ampas tebu, nanofiber kitosan, dan minyak atsiri oregano menghasilkan lapisan komposit yang efektif mempertahankan kualitas stroberi. Ketebalan lapisan yang dihasilkan berada pada kisaran 570–930 nm. Formulasi multikomponen tersebut menghasilkan kehilangan bobot hanya 10,8% setelah sembilan hari penyimpanan, dibandingkan lebih dari 37% pada buah tanpa pelapisan. Hasil ini memperlihatkan pentingnya sinergi antarkomponen dalam membentuk lapisan pelindung yang efektif.

 

Meskipun demikian, peningkatan konsentrasi CNC tidak selalu menghasilkan kualitas film yang lebih baik. Konsentrasi terlalu tinggi dapat menyebabkan agregasi partikel, meningkatkan kerapuhan, dan mengurangi fleksibilitas. Oleh karena itu, optimasi konsentrasi CNC perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kekuatan tarik, elongasi, permeabilitas, dan kemampuan film melekat pada permukaan buah.

 

3.2. Mekanisme preservasi melalui modifikasi atmosfer mikro

 

Salah satu keunggulan edible nanofilm adalah kemampuannya membentuk atmosfer mikro di sekitar permukaan buah. Lapisan tersebut mengatur perpindahan oksigen dan karbon dioksida sehingga dapat memperlambat aktivitas respirasi dan proses pematangan.

 

Pada buah segar, oksigen diperlukan untuk proses respirasi yang menghasilkan energi melalui metabolisme substrat organik. Sementara itu, karbon dioksida merupakan salah satu produk respirasi. Apabila lapisan memiliki kemampuan penghalang gas yang sesuai, masuknya oksigen dapat dikendalikan dan akumulasi karbon dioksida dapat dimodulasi.

 

Mekanisme ini dapat dijelaskan melalui tiga proses utama.

 

Pertama, pengendalian difusi oksigen. Lapisan nanokomposit mengurangi laju masuknya oksigen dari lingkungan ke permukaan buah. Penurunan ketersediaan oksigen dalam batas yang sesuai dapat memperlambat respirasi dan menunda pematangan.

 

Kedua, pengaturan akumulasi karbon dioksida. Permeabilitas film terhadap karbon dioksida perlu disesuaikan dengan karakteristik respirasi masing-masing buah. Penghambatan pelepasan karbon dioksida secara berlebihan justru berpotensi menyebabkan fermentasi anaerob dan menghasilkan aroma atau cita rasa yang tidak diinginkan.

 

Ketiga, pengendalian kehilangan air. Matriks polimer membentuk penghalang terhadap perpindahan uap air dari jaringan buah ke lingkungan. Pengurangan transpirasi membantu mempertahankan tekanan turgor sel sehingga buah tetap segar, tidak cepat keriput, dan memiliki tekstur yang lebih baik.

 

Dengan demikian, edible nanofilm bukan sekadar lapisan pembungkus, melainkan sistem pengaturan pertukaran massa yang dapat memengaruhi fisiologi pascapanen buah. Namun, permeabilitas gas harus disesuaikan dengan komoditas, suhu penyimpanan, tingkat kematangan, dan intensitas respirasi.

 

3.3. Peran nanoemulsi minyak atsiri sebagai antimikroba aktif

 

Pengembangan edible nanofilm menjadi lebih efektif apabila tidak hanya mengandalkan fungsi penghalang fisik, tetapi juga memiliki aktivitas biologis. Dalam konteks ini, nanoemulsi minyak atsiri berperan sebagai komponen aktif yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan buah.

 

Minyak atsiri oregano, misalnya, mengandung senyawa fenolik seperti karvakrol dan timol yang memiliki aktivitas antimikroba. Senyawa tersebut dapat berinteraksi dengan membran sel mikroorganisme, meningkatkan permeabilitas membran, mengganggu keseimbangan ion, dan menyebabkan kebocoran komponen intraseluler.

 

Minyak cengkih mengandung eugenol yang juga memiliki aktivitas antimikroba dan antioksidan. Sementara itu, minyak kayu manis mengandung komponen seperti sinamaldehida yang berpotensi menghambat pertumbuhan kapang dan bakteri pembusuk.

 

Penggunaan teknologi nanoemulsi memberikan beberapa keuntungan:

  • Memperbaiki dispersi minyak atsiri dalam matriks polimer berbasis air.
  • Meningkatkan keseragaman distribusi senyawa bioaktif.
  • Memperluas luas permukaan kontak antara minyak atsiri dan mikroorganisme.
  • Memungkinkan pengaturan pelepasan senyawa aktif secara bertahap.
  • Mengurangi kebutuhan penggunaan minyak atsiri dalam jumlah besar apabila efektivitasnya dapat dipertahankan.

 

Penelitian mengenai lapisan pektin–kitosan dengan nanoemulsi minyak lemon menunjukkan kemampuan menghambat kontaminasi kapang dan khamir pada stroberi setidaknya selama 14 hari dalam kondisi penelitian tersebut. Aktivitas antioksidan dan pelepasan minyak atsiri juga menjadi bagian penting dari mekanisme preservasinya (2023).

 

Dengan demikian, kombinasi nanokomposit dan nanoemulsi berpotensi menghasilkan sistem pengawetan aktif (active edible coating) yang bekerja melalui dua mekanisme sekaligus, yaitu penghalang fisik dan penghambatan biologis.

 

3.4. Efektivitas edible nanofilm pada buah stroberi dan bluberi

 

Recent Advances in Functional Biopolymer Films with Antimicrobial and Antioxidant Properties for Enhanced Food Packaging

Effect of edible quinoa protein-chitosan based films on refrigerated strawberry (Fragaria × ananassa) quality

Coffee scraps help blueberries stay fresher, longer

 

Stroberi dan bluberi merupakan buah beri yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kerusakan pascapanen. Kandungan air yang tinggi, kulit buah yang relatif tipis, serta kerentanan terhadap serangan kapang menyebabkan kedua komoditas tersebut membutuhkan perlakuan preservasi yang efektif.

 

Pada stroberi, nanokomposit kitosan–alginat–CNC yang dikombinasikan dengan minyak atsiri dapat berfungsi mempertahankan kelembapan, mengurangi kehilangan bobot, dan menghambat pertumbuhan kapang penyebab busuk abu-abu.

 

Lee et al. (2022) menunjukkan bahwa formulasi yang menggabungkan alginat, nanokristal selulosa, nanofiber kitosan, dan minyak oregano memberikan hasil terbaik dibandingkan beberapa lapisan tunggal yang diuji. Selain mempertahankan bobot, formulasi tersebut membantu menjaga respirasi, kekakuan, dan penampilan buah selama penyimpanan.

 

Pada bluberi, lapisan berbasis kitosan dan karboksimetil selulosa juga menunjukkan potensi mempertahankan mutu. Penelitian pada bluberi varietas Emerald menunjukkan bahwa pelapisan berlapis (layer-by-layer) mampu memperpanjang umur simpan sampai sembilan hari pada suhu 20 ± 5°C, dengan kelembapan relatif 60 ± 10% (2025). Meskipun penelitian tersebut tidak secara khusus menguji CNC, hasilnya memperlihatkan bahwa rekayasa lapisan polisakarida dapat memperbaiki stabilitas mutu buah beri.

 

Untuk kedua komoditas tersebut, parameter keberhasilan yang paling penting adalah pengurangan kehilangan air, pengendalian pertumbuhan kapang, pemeliharaan kekerasan, serta penerimaan sensoris. Konsentrasi minyak atsiri harus diatur agar aktivitas antimikroba tidak menimbulkan aroma terlalu kuat atau mengubah cita rasa alami buah.

 

3.5. Efektivitas pada buah tropis: mangga

 

Effect of Chitosan Coatings with Cinnamon Essential Oil on Postharvest Quality of Mangoes

Effect of Pectin/Nanochitosan-Based Coatings and Storage Temperature on Shelf-Life Extension of “Elephant” Mango (Mangifera indica L.) Fruit | MDPI

Chitosan-integrated composite hydrophobic nanoemulsion coating for sustainable postharvest anthracnose management in mangoes | European Food Research and Technology | Springer Nature Link

 

Mangga merupakan buah klimakterik yang mengalami peningkatan respirasi selama pematangan. Perubahan warna kulit, pelunakan daging buah, peningkatan gula terlarut, dan penurunan keasaman merupakan bagian dari proses pematangan yang menentukan mutu konsumsi.

Pelapisan menggunakan nanokomposit kitosan–alginat–CNC berpotensi mengendalikan proses tersebut melalui pengaturan pertukaran gas, pengurangan kehilangan air, dan penghambatan pertumbuhan mikroorganisme.

 

Penelitian Yu et al. (2021) menggunakan lapisan kitosan yang mengandung minyak atsiri kayu manis dalam bentuk emulsi Pickering dengan CNC sebagai penstabil. Hasilnya menunjukkan bahwa lapisan tersebut memiliki permeabilitas uap air lebih rendah dan kemampuan pelepasan minyak atsiri lebih terkendali dibandingkan sistem emulsi pembanding. Pada mangga yang disimpan pada suhu 25°C, perlakuan tersebut mampu mempertahankan penampilan, kekerasan, dan beberapa parameter mutu nutrisi selama 12 hari.

 

Penelitian Yin et al. (2019) juga menunjukkan bahwa kombinasi kitosan, alginat, dan mikrokapsul minyak atsiri kayu manis mampu mempertahankan mutu mangga selama 14 hari penyimpanan pada suhu 25°C. Mangga yang tidak diberi perlakuan mengalami penurunan kualitas hingga kehilangan nilai konsumsi dan komersial, sedangkan mangga dengan lima lapisan masih mempertahankan kualitas yang dapat diterima.

 

Hasil tersebut memperkuat potensi pengembangan nanokomposit berbasis biopolimer untuk buah tropis. Namun, pengaturan ketebalan lapisan sangat penting karena lapisan yang terlalu rapat dapat menghambat respirasi secara berlebihan dan menyebabkan gangguan metabolisme buah.

 

3.6. Aplikasi pada produk buah potong segar (fresh-cut fruits)

 

Coatings Based on Gelatin and Chitosan in the Conservation of Papaya (Carica papaya L.) Minimally Processed | MDPI

Quality Control of Fresh-Cut Apples after Coating Application

Improving fresh‐cut fruit salad quality and longevity with chitosan coating enriched with poppy seed phenolics - PMC

 

Buah potong segar mempunyai karakteristik yang berbeda dari buah utuh. Pemotongan menyebabkan kerusakan jaringan, meningkatkan paparan oksigen, mempercepat reaksi pencokelatan enzimatis, dan membuka peluang kontaminasi mikroorganisme.

 

Pada kondisi ini, edible nanofilm memiliki potensi yang lebih besar karena lapisan dapat diaplikasikan langsung pada seluruh permukaan potongan buah.

 

Penelitian Tabassum et al. (2023) pada pepaya potong segar menunjukkan bahwa nanoemulsi minyak oregano berbasis alginat menghasilkan ukuran droplet sekitar 160 nm. Lapisan nanoemulsi memberikan hasil lebih baik daripada emulsi konvensional dalam mempertahankan kelembapan, mengendalikan respirasi, dan memperlambat pertumbuhan mikroorganisme. Pengamatan SEM juga mendukung terbentuknya lapisan yang lebih baik pada permukaan buah.

 

Pada mangga potong segar, pengembangan lapisan kitosan yang mengandung nanoemulsi minyak cengkih juga menunjukkan potensi. Nanoemulsi yang dihasilkan memiliki ukuran droplet sekitar 77,54–210,2 nm. Pengujian selama penyimpanan pada suhu 4°C menunjukkan bahwa perlakuan pelapisan mampu mempertahankan beberapa karakteristik mutu dan menghasilkan penerimaan sensoris yang cukup baik (Development of chitosan edible coatings incorporated with clove essential oil nanoemulsions, tanpa tahun publikasi yang terverifikasi dalam sumber yang digunakan).

 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi nanoemulsi dapat diterapkan pada buah potong segar untuk mengurangi kehilangan air dan memperlambat kerusakan. Namun, lapisan tidak dapat menggantikan proses pencucian, sanitasi, higiene pengolahan, dan penyimpanan dingin. Pengendalian suhu tetap menjadi faktor penting untuk menjamin keamanan mikrobiologis produk.

 

3.7. Perbandingan potensi aplikasi pada berbagai komoditas

 

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, potensi penggunaan edible nanofilm dapat dirangkum sebagai berikut.

Komoditas

Sistem pelapisan yang relevan

Manfaat utama yang dilaporkan

Stroberi

Alginat–kitosan–CNC–minyak oregano

Mengurangi kehilangan bobot dan pertumbuhan kapang

Bluberi

Kitosan dan lapisan polisakarida berlapis

Memperlambat pembusukan dan mempertahankan mutu

Mangga utuh

Kitosan–CNC–minyak kayu manis

Mempertahankan kekerasan dan penampilan

Pepaya potong

Alginat–nanoemulsi minyak oregano

Mengurangi kehilangan air dan aktivitas mikroba

Mangga potong

Kitosan–nanoemulsi minyak cengkih

Mempertahankan mutu fisikokimia dan sensoris

Sumber: Lee et al. (2022), Tabassum et al. (2023), Yu et al. (2021), Yin et al. (2019), serta penelitian bluberi (2025).

Perlu ditekankan bahwa hasil antarpenelitian tidak dapat dibandingkan secara langsung karena terdapat perbedaan varietas buah, formulasi, konsentrasi bahan aktif, metode pelapisan, suhu penyimpanan, dan lama pengamatan. Oleh karena itu, pengembangan formulasi universal untuk seluruh komoditas buah belum dapat direkomendasikan.

 

3.8. Keamanan pangan, migrasi nanomaterial, dan biodegradabilitas

 

Keamanan pangan merupakan salah satu aspek paling penting dalam pengembangan edible nanofilm. Istilah edible tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh komponen dalam film aman dikonsumsi. Demikian pula, penggunaan bahan alami tidak selalu menjamin tidak adanya risiko toksikologi.

 

Kitosan, alginat, dan selulosa merupakan biopolimer yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai material biodegradable. Namun, karakteristik masing-masing bahan pada skala nano dapat berbeda dari bentuk konvensionalnya. Ukuran partikel, morfologi, muatan permukaan, derajat kristalinitas, dan modifikasi kimia dapat memengaruhi interaksi material dengan sistem biologis.

 

Untuk itu, pengembangan nanofilm perlu mempertimbangkan beberapa aspek berikut.

 

a. Migrasi partikel dan senyawa aktif

Pengujian migrasi perlu dilakukan untuk mengetahui apakah komponen nanomaterial, surfaktan, plastisiser, maupun senyawa aktif minyak atsiri berpindah ke dalam jaringan buah.

Pengujian dapat menggunakan simulant pangan yang sesuai dengan karakteristik produk dan kondisi penggunaannya. Analisis dapat dilakukan menggunakan kombinasi teknik seperti:

  • ICP-MS untuk unsur tertentu apabila terdapat komponen anorganik.
  • TEM atau SEM untuk karakterisasi morfologi partikel.
  • DLS dan nanoparticle tracking analysis (NTA) untuk karakterisasi dispersi partikel dalam kondisi yang sesuai.
  • Analisis kromatografi untuk mengukur perpindahan komponen minyak atsiri.
  • Pengujian massa total migrasi dan migrasi spesifik sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk CNC dan nanofiber selulosa, pengujian perlu dirancang secara khusus karena material organik tersebut tidak dapat dinilai hanya berdasarkan analisis unsur menggunakan ICP-MS.

 

b. Keamanan pencernaan dan toksikologi

Pengujian keamanan perlu mencakup stabilitas nanomaterial dalam kondisi simulasi saluran pencernaan, kemungkinan perubahan ukuran partikel, degradasi polimer, serta paparan senyawa bioaktif.

Pengujian dapat dilakukan secara bertahap melalui:

  1. Uji stabilitas dalam simulasi cairan lambung dan usus.
  2. Uji sitotoksisitas menggunakan model sel yang relevan.
  3. Pengujian genotoksisitas apabila diperlukan berdasarkan karakteristik material dan hasil penilaian bahaya.
  4. Evaluasi paparan oral berdasarkan jumlah residu atau material yang berpindah ke buah.
  5. Penilaian toksikologi berdasarkan skenario konsumsi aktual dan konsumsi tinggi.

EFSA (2021) menegaskan bahwa penilaian risiko nanomaterial dalam rantai pangan harus mempertimbangkan karakteristik fisikokimia spesifik, jumlah material yang berpindah ke pangan, kemungkinan keberadaan partikel setelah proses pencernaan, serta karakteristik produk degradasinya.

 

c. Penggunaan nanomaterial organik biodegradable

Pengembangan material berbasis kitosan, alginat, dan CNC merupakan pendekatan yang menarik karena menggunakan bahan yang berasal dari sumber hayati dan berpotensi mengalami degradasi biologis.

Namun, biodegradabilitas material tidak identik dengan keamanan konsumsi. Degradasi harus dibuktikan melalui pengujian yang sesuai, termasuk karakterisasi produk degradasi dan evaluasi kemungkinan terbentuknya partikel berukuran nano yang masih bertahan.

Karena itu, strategi pengembangan sebaiknya mengutamakan konsep safe-by-design, yaitu memilih bahan, konsentrasi, proses produksi, dan struktur film sejak awal dengan mempertimbangkan keamanan konsumen serta dampak lingkungan.

 

d. Kesesuaian dengan regulasi FDA dan EFSA

Di Amerika Serikat, FDA mengatur penggunaan bahan yang bersentuhan dengan pangan melalui kerangka food contact substances. Bahan yang digunakan harus memiliki dasar otorisasi yang sesuai dengan tujuan dan kondisi penggunaannya. FDA juga memiliki panduan untuk menilai apakah suatu produk yang diatur melibatkan penerapan nanoteknologi.

 

Di Uni Eropa, EFSA menyediakan pedoman khusus penilaian risiko nanomaterial dalam rantai pangan dan pakan. Penilaian harus mempertimbangkan sifat material pada skala nano serta kemungkinan migrasi dan paparan konsumen.

Dengan demikian, formulasi edible nanofilm tidak dapat langsung dinyatakan memenuhi standar FDA atau EFSA hanya karena menggunakan bahan alami. Status regulasi setiap bahan, fungsi penggunaannya, tingkat migrasi, serta data keamanan harus dievaluasi secara terpisah.

 

3.9. Potensi biodegradabilitas dan keberlanjutan lingkungan

 

Salah satu keunggulan utama edible nanofilm adalah peluang mengurangi ketergantungan terhadap plastik sintetik. Penggunaan polimer alami dapat menghasilkan material yang lebih mudah terurai dibandingkan plastik konvensional, tergantung pada komposisi, proses produksi, dan kondisi lingkungan.

 

CNC yang berasal dari selulosa memiliki potensi sebagai penguat material karena mengombinasikan kekuatan mekanik dengan sumber bahan baku terbarukan. Kitosan dapat diperoleh dari biomassa kitin, sedangkan alginat dapat diperoleh dari rumput laut cokelat.

 

Pendekatan ini juga membuka peluang pemanfaatan hasil samping pertanian dan perikanan sebagai bahan baku biopolimer. Sebagai contoh, limbah biomassa selulosa dapat dikembangkan menjadi CNC, sedangkan limbah cangkang krustasea dapat menjadi sumber kitin untuk produksi kitosan.

 

Dengan demikian, pengembangan edible nanofilm dapat mendukung prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sumber daya hayati dan pengurangan limbah kemasan berbasis petrokimia.

 

Meskipun demikian, evaluasi keberlanjutan perlu mencakup seluruh siklus hidup material (life cycle assessment/LCA), mulai dari ekstraksi bahan baku, penggunaan energi dan bahan kimia, proses produksi nanoemulsi, transportasi, penggunaan, hingga biodegradasi setelah pemakaian.

 

3.10. Tantangan pengembangan dan arah penelitian masa depan

 

Walaupun memiliki prospek yang menjanjikan, penggunaan edible nanofilm masih menghadapi beberapa tantangan teknis dan komersial.

 

Pertama, stabilitas nanoemulsi selama penyimpanan harus dijaga agar tidak terjadi pemisahan fase, agregasi droplet, atau perubahan ukuran partikel.

 

Kedua, peningkatan kekuatan mekanik harus diimbangi dengan fleksibilitas dan kemampuan lapisan mengikuti bentuk permukaan buah. Film yang terlalu rapuh akan mudah retak, sedangkan film yang terlalu fleksibel belum tentu memiliki kemampuan penghalang yang memadai.

 

Ketiga, aroma minyak atsiri perlu dikendalikan. Senyawa antimikroba yang efektif pada konsentrasi tinggi dapat mengubah aroma dan rasa buah sehingga menurunkan penerimaan konsumen.

 

Keempat, pengujian keamanan dan regulasi membutuhkan biaya serta fasilitas laboratorium yang memadai. Standardisasi karakterisasi nanomaterial dan metode pengujian migrasi menjadi kebutuhan penting sebelum aplikasi komersial.

 

Kelima, proses produksi harus dapat ditingkatkan dari skala laboratorium ke skala industri tanpa mengurangi homogenitas, stabilitas, dan efektivitas lapisan.

 

Arah penelitian berikutnya dapat difokuskan pada pengembangan nanokomposit berbasis biopolimer yang sepenuhnya berasal dari sumber hayati, penggunaan minyak atsiri dengan pelepasan terkendali, optimasi formulasi menggunakan pendekatan response surface methodology, serta pemodelan hubungan struktur–sifat–kinerja menggunakan machine learning.

 

Penelitian juga perlu mengintegrasikan pengujian preservasi, keamanan pangan, biodegradabilitas, dan analisis daur hidup agar teknologi yang dihasilkan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga aman dan berkelanjutan.

 

4. KESIMPULAN

 

Edible film berbasis nanoteknologi merupakan salah satu pendekatan inovatif yang berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik sintetik sekaligus meningkatkan kualitas preservasi buah segar selama penyimpanan pascapanen. Pengembangan nanokomposit berbasis kitosan, alginat, dan nanokristal selulosa (CNC) yang diperkaya nanoemulsi minyak atsiri menawarkan kombinasi sifat mekanik, kemampuan penghalang, dan aktivitas biologis yang saling melengkapi.

 

Kitosan dan alginat berperan sebagai matriks pembentuk lapisan pelindung, CNC meningkatkan kekuatan dan integritas struktur film, sedangkan nanoemulsi minyak atsiri memberikan aktivitas antimikroba dan antioksidan. Kombinasi tersebut berpotensi mengendalikan pertukaran oksigen dan karbon dioksida, mengurangi kehilangan air akibat transpirasi, mempertahankan kekerasan buah, serta memperlambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk.

 

Hasil penelitian terdahulu memperlihatkan potensi penerapan teknologi ini pada stroberi, bluberi, mangga, dan pepaya potong segar. Meskipun demikian, efektivitasnya bergantung pada jenis buah, komposisi nanokomposit, ukuran partikel, ketebalan lapisan, karakteristik permeabilitas, serta kondisi penyimpanan.

 

Dari perspektif keamanan pangan, penggunaan nanomaterial organik yang biodegradable merupakan arah pengembangan yang menjanjikan. Namun, sifat alami dan kemampuan biodegradasi tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyatakan suatu material aman dikonsumsi. Pengujian migrasi, stabilitas dalam saluran pencernaan, toksisitas, dan paparan konsumen tetap diperlukan untuk memenuhi persyaratan penilaian risiko pangan sesuai pedoman FDA dan EFSA.

 

Penelitian selanjutnya perlu diarahkan pada optimasi formulasi nanokomposit, pengendalian pelepasan minyak atsiri, pengujian keamanan secara komprehensif, serta evaluasi biodegradabilitas dan dampak lingkungan melalui pendekatan life cycle assessment. Pengembangan proses produksi yang dapat ditingkatkan dari skala laboratorium menuju skala industri juga menjadi faktor penting.

 

Secara keseluruhan, edible nanofilm berpotensi menjadi teknologi pelapisan pascapanen generasi baru yang mengintegrasikan nanoteknologi, biopolimer, dan senyawa bioaktif untuk menghasilkan sistem pengawetan buah yang efektif, aman, dan lebih berkelanjutan.

 

5. DAFTAR PUSTAKA

 

1. Abdalla, G., Mussagy, C. U., Brasil, G. S. P., Scontri, M., Sasaki, J. C. S., Su, Y., et al. (2023). Eco-sustainable coatings based on chitosan, pectin, and lemon essential oil nanoemulsion and their effect on strawberry preservation. International Journal of Biological Macromolecules, 249, 126016. https://doi.org/10.1016/j.ijbiomac.2023.126016


2. EFSA Scientific Committee. (2021). Guidance on risk assessment of nanomaterials to be applied in the food and feed chain: Human and animal health. EFSA Journal, 19(8), 6768. https://doi.org/10.2903/j.efsa.2021.6768


3. Hou, J., Ding, Y., Li, W., Guo, Z., & Yan, X. (2025). Application of edible coatings in ‘Emerald’ blueberry under room storage conditions and storage kinetics analysis. Food Science and Biotechnology, 34(6), 1371–1381. https://doi.org/10.1007/s10068-024-01764-0


4. Lee, D., et al. (2022). Effectiveness of cellulose and chitosan nanomaterial coatings with essential oil on postharvest strawberry quality. Carbohydrate Polymers. https://doi.org/10.1016/j.carbpol.2022.120101


5. Tabassum, N., Aftab, R. A., Yousuf, O., Ahmad, S., & Zaidi, S. (2023). Application of nanoemulsion based edible coating on fresh-cut papaya. Journal of Food Engineering, 355, 111579. https://doi.org/10.1016/j.jfoodeng.2023.111579


6. U.S. Food and Drug Administration. (2024). Nanotechnology guidance documents. FDA. https://www.fda.gov/science-research/nanotechnology-programs-fda/nanotechnology-guidance-documents


7. U.S. Food and Drug Administration. (2024). Microplastics and nanoplastics in foods. FDA. https://www.fda.gov/food/environmental-contaminants-food/microplastics-and-nanoplastics-foods


8. Yin, C., Huang, C., Wang, J., Liu, Y., Lu, P., & Huang, L. (2019). Effect of chitosan- and alginate-based coatings enriched with cinnamon essential oil microcapsules to improve the postharvest quality of mangoes. Materials, 12(13), 2039. https://doi.org/10.3390/ma12132039


9. Yu, K., Xu, J., Zhou, L., Zou, L., & Liu, W. (2021). Effect of chitosan coatings with cinnamon essential oil on postharvest quality of mangoes. Foods, 10(12), 3003. https://doi.org/10.3390/foods10123003

 

#EdibleNanofilm

#NanoteknologiPangan

#PengawetanBuah

#KemasanBiodegradabel

#PanganBerkelanjutan