Peran Kunci
Nutrisi dan Pemberian Pakan Ikan: Kemajuan Terkini dan Prospek Masa Depan untuk
Budidaya Ikan di Brasil
ABSTRAK
Industri pakan
akuakultur berkembang seiring dengan kemajuan budidaya ikan, dengan
memanfaatkan inovasi ilmiah dan teknologi untuk mengintegrasikan berbagai
aditif pakan, suplemen, serta bahan alternatif dalam nutrisi dan pemberian
pakan ikan. Kemajuan ini berperan penting dalam meningkatkan produksi,
kesehatan, dan kesejahteraan ikan budidaya.
Penelitian
terbaru di Brasil menyoroti pentingnya penggunaan aditif pakan, seperti
vitamin, mineral, dan asam amino, guna memastikan bahwa ikan budidaya
memperoleh seluruh nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan yang
optimal. Aditif fungsional diketahui mampu meningkatkan sistem imun, sehingga
memperkuat ketahanan terhadap penyakit serta mendukung kesehatan ikan secara
menyeluruh. Aditif antimikroba dan antiparasit berperan dalam mencegah dan
mengobati infeksi serta infestasi, sehingga menurunkan risiko terjadinya wabah
penyakit.
Selain itu,
beberapa aditif dapat meningkatkan kecernaan pakan, yang berdampak pada
peningkatan penyerapan nutrien serta penurunan kebutuhan pakan. Secara
keseluruhan, strategi nutrisi memegang peranan penting dalam mengoptimalkan
praktik budidaya ikan di Brasil maupun secara global, serta dalam meningkatkan
kesehatan ikan dan keberlanjutan industri.
Tinjauan ini
menekankan pentingnya berbagai aditif, suplemen, dan bahan pakan yang
diintegrasikan secara strategis dalam formulasi pakan eksperimental untuk
penelitian budidaya ikan di Brasil. Selain itu, kajian ini juga menegaskan
perlunya penelitian berkelanjutan. Saat ini, terdapat tren yang semakin kuat
menuju pengembangan pakan yang lebih berkelanjutan dan efisien, yang menjadi
kunci bagi masa depan akuakultur berkelanjutan. Tujuan utamanya adalah
meminimalkan dampak lingkungan tanpa mengorbankan kelayakan ekonomi dalam
operasional budidaya.
Kata
kunci: akuakultur; ikan; pakan fungsional; keberlanjutan;
Brasil
1. PENDAHULUAN
Budidaya ikan memainkan peran
penting dalam akuakultur global, dengan menghasilkan lapangan kerja,
pendapatan, mendiversifikasi sumber penghidupan, serta mendorong pertumbuhan
ekonomi di berbagai negara [1]. Seiring dengan perkembangan budidaya ikan, kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong evolusi industri pakan
akuakultur serta penggunaan aditif pakan, suplemen, dan bahan alternatif, yang
memiliki peran penting dan kompleks dalam mendukung pertumbuhan sektor ini,
serta memungkinkan peningkatan signifikan dalam produksi, kesehatan, dan
kesejahteraan ikan budidaya [2–9].
Terobosan terbaru menunjukkan
bahwa aditif pakan seperti vitamin, mineral, dan asam amino digunakan untuk
memastikan bahwa pakan menyediakan seluruh nutrien esensial yang dibutuhkan
bagi pertumbuhan dan kesehatan ikan budidaya [2,10–12]. Selain itu, beberapa
aditif berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoters) [13–17], karena
terbukti meningkatkan kinerja pertumbuhan dan efisiensi konversi pakan,
sehingga ikan dapat mencapai ukuran komersial dalam waktu yang lebih singkat.
Aditif pakan seperti prebiotik, probiotik [18–22], ekstrak tanaman (fitobiotik)
[22–27], serta ekstrak alga (fikobiotik) [28–31] dapat memperkuat sistem imun
ikan, sehingga meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dan infeksi.
Lebih lanjut, beberapa aditif
mampu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan organisme akuatik
[5,18,21]. Aditif yang memiliki potensi antimikroba dan antiparasit dapat
memperbaiki gejala akibat infeksi dan infestasi oleh patogen atau parasit, sehingga
menurunkan kejadian wabah penyakit [6,8]. Di sisi lain, sejumlah aditif juga
dikenal sebagai agen pendukung (adjuvan) yang mampu meningkatkan kecernaan
pakan, meningkatkan efisiensi penyerapan nutrien, serta pada akhirnya
menurunkan kebutuhan pakan [7,8,10,32]. Saat ini, strategi pemberian pakan
telah menjadi faktor kunci dalam mengoptimalkan budidaya ikan, baik di Brasil
maupun secara global, serta berperan dalam meningkatkan kesehatan ikan dan
keberlanjutan sistem produksi.
Senyawa bioaktif yang berasal
dari hewan, tumbuhan, alga, maupun mikroorganisme merupakan kelompok aditif
pakan yang paling banyak diteliti untuk meningkatkan kesehatan ikan budidaya
[11]. Sebagai contoh, penggunaan enzim pencernaan (amilase, lipase, protease,
selulase, dan hemiselulase) serta enzim non-pencernaan (fitase, glukosa
oksidase, dan lisozim) dalam suplementasi pakan dapat meningkatkan kecernaan
bahan pakan dan penyerapan nutrien, yang berdampak positif terhadap performa
pertumbuhan [12].
Penggunaan mikroalga sebagai
bahan pakan akuakultur berpotensi menggantikan tepung ikan atau minyak ikan,
karena kandungannya yang kaya akan asam lemak tak jenuh ganda omega-3 (ω-3 PUFA),
karotenoid, vitamin, dan β-glukan.
Komponen tersebut diketahui mampu meningkatkan laju pertumbuhan, pigmentasi
kulit, sistem imun, morfofisiologi usus, serta tingkat kelangsungan hidup
organisme akuatik [10,13,31,33–36]. Sementara itu, makroalga juga merupakan
bahan pakan fungsional yang potensial karena selain memiliki nilai nutrisi
tinggi, juga mengandung protein dengan komposisi asam amino esensial lengkap,
taurin, lipid, karotenoid, serta senyawa bioaktif yang dapat memberikan efek
positif terhadap pertumbuhan, fisiologi, ketahanan terhadap stres, sistem imun,
dan kualitas fillet ikan budidaya [28,29,37,38].
Senyawa aktif yang berasal dari
tanaman merupakan alternatif alami terhadap bahan kimia sintetis untuk
meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap penyakit dalam akuakultur.
Suplementasi minyak atsiri, seperti jahe (0,5%), terbukti meningkatkan pertumbuhan,
respons imun, serta ketahanan terhadap penyakit (streptokokosis) pada ikan nila
(Oreochromis niloticus) [23]. Demikian pula, minyak atsiri Lippia
sidoides (0,25%) meningkatkan respons inflamasi dan kondisi histologis pada
ikan zebra (Danio rerio) [25]. Tanaman milk thistle (Silybum marianum)
pada dosis 0,1% (mengandung 16% silymarin fosfatida) menunjukkan efek
hepatoprotektif dan imunomodulator pada ikan nila [24], sedangkan minyak atsiri
Lippia origanoides, L. sidoides, dan Mentha piperita
efektif dalam pengobatan infestasi Neobenedenia melleni pada ikan
belanak (Mugil liza) [26]. Dengan demikian, senyawa berbasis tanaman
berpotensi meningkatkan kesehatan ikan secara menyeluruh, menciptakan
lingkungan budidaya yang lebih sehat, serta menurunkan insiden penyakit.
Di sisi lain, probiotik,
prebiotik, dan postbiotik memiliki peran penting dalam akuakultur karena
memberikan berbagai manfaat kesehatan bagi ikan serta meningkatkan efisiensi
sistem produksi. Pemberian Saccharomyces cerevisiae (200 g ton⁻¹ pakan)
terbukti meningkatkan tingkat kelangsungan hidup setelah uji stres termal dan
osmotik pada fase pembalikan kelamin larva ikan nila [18]. Demikian pula,
pemberian S. cerevisiae atau kombinasi Bacillus amyloliquefaciens
dan B. subtilis mampu meningkatkan komunitas mikrobiota usus serta
kelangsungan hidup ikan nila yang diuji tantang dengan Aeromonas hydrophila
[15]. Aditif pakan berbasis multi-strain Bacillus juga terbukti
memodulasi mikrobioma usus ikan nila, menghasilkan perubahan komposisi
mikrobiota yang menguntungkan, meningkatkan populasi bakteri bermanfaat, serta
menekan keberadaan patogen [19].
Peningkatan kinerja pencernaan
akibat penggunaan prebiotik dan probiotik telah dilaporkan melalui peningkatan
efisiensi penyerapan nutrien. Penggunaan natrium butirat dalam bentuk
terlindungi (0,25% atau 0,5%) terbukti memberikan manfaat bagi perkembangan dan
kesehatan usus ikan nila selama periode pembalikan kelamin [39]. Selain itu,
penguatan sistem imun (misalnya peningkatan parameter darah dan protein plasma)
serta pengendalian patogen juga telah banyak diteliti pada ikan asli Brasil,
seperti surubim hibrida (Pseudoplatystoma corruscans × P. reticulatum)
[14], dourado (Salminus brasiliensis) [20], tambaqui (Colossoma
macropomum) [40], serta ikan lele hibrida (P. reticulatum ♀ × Leiarius
marmoratus ♂) [21].
Kondisi ini menunjukkan
pentingnya formulasi pakan yang dirancang secara strategis dalam akuakultur,
serta menegaskan perlunya penelitian berkelanjutan, mengingat adanya tren yang
semakin meningkat menuju pengembangan pakan yang lebih berkelanjutan dan efisien.
Penelitian terbaru berfokus pada penggunaan bahan berbasis nabati atau senyawa
alami sebagai substituen bahan pakan konvensional tanpa mengurangi pertumbuhan
dan kualitas ikan budidaya. Kemajuan ini sangat penting bagi masa depan
akuakultur berkelanjutan, yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan
sekaligus menjamin keberlanjutan ekonomi usaha budidaya.
Akuakultur di Brasil berkembang
pesat dan memiliki potensi besar untuk terus tumbuh, khususnya melalui kemajuan
teknologi dalam budidaya dan pemberian pakan pada spesies lokal. Penelitian di
bidang nutrisi berperan penting dalam meningkatkan kinerja budidaya ikan di
Brasil. Meskipun tinjauan ini berfokus pada akuakultur di Brasil, bukti ilmiah
yang disajikan dalam bagian berikutnya tidak terbatas pada konteks tersebut dan
memiliki relevansi yang luas bagi praktik akuakultur di seluruh dunia.
2. Peran Kunci
Aditif Pakan dalam Budidaya Ikan
Aditif pakan ikan merupakan bahan
yang ditambahkan ke dalam pakan untuk meningkatkan kualitas pakan, mendukung
kesehatan dan kesejahteraan ikan, serta mengoptimalkan kinerja produksi dan
nilai nutrisi (Gambar 1). Aditif ini dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi
spesifik dan mekanisme kerjanya [2].
Gambar 1. Diagram yang
menggambarkan fungsi-fungsi utama strategi pemberian pakan dalam budidaya ikan.
2.1. Peningkatan Kecernaan dan
Penyerapan Nutrien
Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa aditif pakan seperti enzim proteolitik, lipolitik, dan karbohidrase
berperan dalam memecah komponen pakan yang sulit dicerna, seperti protein,
lemak, dan karbohidrat. Selain itu, enzim eksogen dapat membantu mengompensasi
kekurangan enzim endogen, khususnya pada ikan muda. Hal ini
meningkatkan proses pencernaan dan penyerapan nutrien, sehingga berdampak pada
peningkatan efisiensi pakan dan pertumbuhan ikan [41–45].
Sebagai
contoh, Cavero et al. [42] melaporkan bahwa penambahan enzim pencernaan eksogen
berupa protease dan lipase pada pakan ikan pirarucu (Arapaima gigas)
dengan dosis 0,1%, 0,2%, atau 0,4% mampu meningkatkan pertumbuhan spesies
karnivora tersebut. Demikian pula, penambahan kompleks enzim yang berasal dari
jamur Aspergillus niger (0,0; 0,25; 0,50; 0,75; dan 1,0 g kg⁻¹), yang
mengandung pektinase (4000 IU kg⁻¹), protease (700 IU kg⁻¹), fitase (300 IU
kg⁻¹), β-glukanase
(200 IU kg⁻¹), xilanase (100 IU kg⁻¹), selulase (40 IU kg⁻¹), dan amilase (30
IU kg⁻¹), terbukti meningkatkan kecernaan nutrien serta kinerja produksi ikan
pirarucu. Peneliti juga mencatat bahwa aktivitas spesifik enzim pencernaan
seperti protease alkalin, amilase, dan lipase menurun secara linier seiring
dengan peningkatan dosis kompleks enzim dalam perlakuan [43].
Fitase
merupakan enzim yang memiliki pengaruh signifikan dalam pakan ikan, terutama
yang berbasis bahan nabati seperti kedelai, jagung, dan terutama gandum. Lipase
berperan dalam pemecahan lemak, sehingga meningkatkan pencernaan dan penyerapan
lipid, sedangkan protease membantu pemecahan protein secara lebih efisien,
sehingga meningkatkan penyerapan asam amino esensial serta mengurangi protein
yang tidak tercerna [41,44]. Seiring dengan upaya industri pakan akuakultur
untuk mencari alternatif berkelanjutan pengganti tepung ikan, penggunaan enzim
dalam formulasi pakan menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan nutrisi dan
efisiensi pakan ikan.
Selain itu,
beberapa penelitian menunjukkan bahwa ikan nila (Oreochromis niloticus)
memperoleh manfaat dari pakan yang mengandung hidrolisat protein hati unggas
pada tingkat 0, 10, 20, dan 40 g kg⁻¹ [45]. Demikian pula, ikan lele Amerika
Selatan (Rhamdia quelen) menunjukkan peningkatan kinerja produksi dan
efisiensi nutrisi ketika diberi pakan yang disuplementasi dengan hidrolisat
protein sarden (Sardinella spp.) pada tingkat 0, 2, 5, dan 10% [46].
Peningkatan
kecernaan dan penyerapan nutrien dalam budidaya ikan memberikan berbagai
keuntungan, antara lain peningkatan efisiensi pakan, optimalisasi pertumbuhan,
peningkatan kesehatan ikan, pengurangan dampak lingkungan, penghematan biaya,
serta peningkatan keberlanjutan. Hal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas
budidaya ikan, tetapi juga mendukung lingkungan yang lebih sehat dan sistem
produksi pangan yang lebih efisien.
2.2.
Peningkatan Imunitas dan Kesehatan
Dalam beberapa
tahun terakhir, pakan fungsional semakin banyak digunakan dalam akuakultur di
Brasil untuk meningkatkan sistem imun dan mendukung kesehatan ikan. Pakan ini
mampu meningkatkan ketahanan terhadap penyakit dengan memperkuat sistem imun
serta mendukung kesejahteraan ikan secara menyeluruh.
Penelitian
terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan di Brasil bertujuan untuk memberikan
manfaat khusus bagi sektor akuakultur nasional, sekaligus memberikan wawasan
yang berpotensi diterapkan secara global dalam praktik akuakultur (Tabel 1).
Tabel 1. Kemajuan terkini dan prospek masa depan dalam
nutrisi dan pemberian pakan pada budidaya ikan di Brasil
Studi-studi yang tercantum berfokus pada aspek pemberian
pakan ikan dan dilakukan pada spesies ikan asli Brasil yang juga ditemukan di
negara lain, seperti genus Pseudoplatystoma, Mugil, Centropomus,
Colossoma, Sardinella, Arapaima, Seriola, Elacatinus,
dan Rhamdia.
|
Nama Umum (di Brasil) |
Spesies |
Strategi Berbasis Pakan |
Lama Uji |
Dosis |
Temuan Utama |
Referensi |
|
Nila |
O. niloticus |
Minyak atsiri kemangi cengkeh (Ocimum
gratissimum) |
55 hari |
0,5%; 1,0%; 1,5% |
Dosis 0,5%
secara signifikan meningkatkan rasio konversi pakan (FCR) |
Brum et al. [23] |
|
Nila |
O. niloticus |
Minyak atsiri jahe (Zingiber
officinale) |
55 hari |
0,5%; 1,0%; 1,5% |
Semua perlakuan meningkatkan aktivitas
fagositik; dosis 0,5% memberikan tingkat kelangsungan hidup relatif 100%
setelah uji tantang S. agalactiae |
Brum et al. [23] |
|
Paulistinha |
Danio rerio |
Minyak
atsiri rosemary-pepper (Lippia sidoides) |
15 hari |
0,25% |
Meningkatkan respons inflamasi dan
kondisi histologis; bermanfaat bagi kesehatan ikan yang diinjeksi karsinoma
asites Ehrlich |
Cardoso et al. [25] |
|
Pirarucu |
Arapaima gigas |
Protease dan lipase |
37 hari |
0,1%; 0,2%; 0,4% |
Meningkatkan
pertambahan bobot, laju pertumbuhan, dan efisiensi konversi pakan |
Cavero et al. [42] |
|
Ikan badut |
Amphiprion clarkii |
Triiodotironin |
13 hari |
0; 0,01; 0,1 mg L⁻¹ |
Dosis 0,01
mg L⁻¹ meningkatkan kelangsungan hidup dan mempercepat metamorfosis larva |
Contrera et al. [47] |
|
Nila |
O. niloticus |
Natrium butirat, ragi terhidrolisis
kering, dan seng proteinate |
60 hari |
0; 0,60; 1,20; 2,40; 4,80 g kg⁻¹ |
Memberikan efek positif terhadap
kesehatan usus |
De Oliveira et al. [48] |
|
Neon goby |
Elacatinus figaro |
Triiodotironin |
14 hari |
0; 0,01; 0,025; 0,05 mg L⁻¹ |
Dosis 0,025 dan 0,05 mg L⁻¹ mempercepat
metamorfosis |
Eugênio et al. [49] |
|
Nila |
O. niloticus |
Saccharomyces cerevisiae |
20 hari |
200 g ton⁻¹ |
Meningkatkan
bobot akhir, ketahanan terhadap stres suhu, dan toleransi osmotik |
Faust et al. [18] |
|
Nila |
O. niloticus |
Probiotik multi-strain (Bacillus
subtilis dan B. licheniformis) |
50 hari |
100 mL kg pakan⁻¹ |
Mengubah
mikrobiota usus secara menguntungkan |
Ferrarezi et al. [19] |
|
Nila |
O. niloticus |
Hidrolisat protein hati unggas |
45 hari |
10; 20; 40 g kg⁻¹ |
Menurunkan
protein karbonil insang dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan |
Gomes et al. [45] |
|
Jundiá |
Rhamdia quelen |
Hidrolisat protein sarden |
56 hari |
2%; 5%; 10% |
Dosis 5%
meningkatkan aktivitas enzim pencernaan dan bakteri asam laktat usus |
Ha et al. [46] |
|
Nila |
O. niloticus |
Kombinasi hidrolat Curcuma longa
dan Lactobacillus plantarum |
70 hari |
LP = 100 mL kg⁻¹; CL = 2,5% |
Meningkatkan
kesehatan dan kelangsungan hidup ikan |
Jatobá et al. [22] |
|
Nila |
O. niloticus |
Natrium butirat |
28 hari |
0,25%; 0,5% |
Mengurangi
aktivitas protease alkalin dan meningkatkan kesehatan usus |
Jesus et al. [39] |
|
Seriola |
Seriola dorsalis |
Ulva fasciata |
48 hari |
0; 5; 10; 20 g kg⁻¹ |
Meningkatkan kualitas jaringan otot |
Legarda et al. [50] |
|
Nila |
O. niloticus |
Asam benzoat |
54 hari |
0,1%; 0,2%; 0,3% |
Dosis 0,1%
meningkatkan pertambahan bobot, menurunkan mortalitas, dan meningkatkan
respons imun |
Libanori et al. [51] |
|
Pirarucu |
Arapaima gigas |
Kompleks enzim |
30 hari |
0,25–1 g kg⁻¹ |
Dosis 1 g kg⁻¹ meningkatkan kecernaan
dan performa produksi |
Lima et al. [43] |
|
Sarden |
Sardinella brasiliensis |
Sitral |
20 hari |
0,5–2,0 mL kg⁻¹ |
Meningkatkan
kelangsungan hidup, aktivitas enzim pencernaan, dan morfologi usus |
Michelotti et al. [52] |
|
Nila |
O. niloticus |
Probiotik mikroenkapsulasi |
45 hari |
0,02% |
Meningkatkan
kesehatan dan kelangsungan hidup setelah paparan A. hydrophila |
Moraes et al. [15] |
|
Tambaqui |
Colossoma macropomum |
Ekstrak anggur |
60 hari |
20–80 g kg⁻¹ |
Dosis 80 g
kg⁻¹ meningkatkan pertumbuhan dan imunitas |
Morante et al. [4] |
|
Robalo |
Centropomus undecimalis |
Pakan dengan sitral |
45 hari |
0–1,76 g kg⁻¹ |
Sitral meningkatkan stres oksidatif;
tidak direkomendasikan |
Mori et al. [53] |
|
Tainha |
Mugil liza |
Pakan dengan sitral |
45 hari |
0,5–2,0 mL kg⁻¹ |
Meningkatkan
pertumbuhan, fungsi enzim pencernaan, dan kesehatan |
Mori et al. [17] |
|
Dourado |
Salminus brasiliensis |
Lactobacillus rhamnosus (probiotik +
prebiotik) |
45 hari |
0,02%; 2,0% |
Meningkatkan
fungsi imun usus dan efisiensi pakan |
Oliveira et al. [20] |
|
Tambaqui |
C. macropomum |
Minyak atsiri Croton conduplicatus |
60 hari |
0–1,50 mL kg⁻¹ |
Meningkatkan pertumbuhan dan respons
hematobiokimia |
Pereira et al. [54] |
|
Nila |
O. niloticus |
Kompleks β-glukan + premiks vitamin |
30 hari |
1,5–2,0 kg ton⁻¹ |
Meningkatkan
parameter produksi, tetapi ditemukan gangguan patologis |
Pereira et al. [55] |
|
Tambaqui |
C. macropomum |
Minyak atsiri jeruk (Citrus sinensis) |
40 hari |
200–800 mg L⁻¹ |
Meningkatkan
pertumbuhan, kesehatan, dan ketahanan terhadap A. hydrophila |
Pereira Júnior et al. [56] |
|
Tainha |
Mugil liza |
Enzim eksogen |
75 hari |
50–200 g ton⁻¹ |
Mencegah enteritis akibat tepung kedelai |
Ramos et al. [57] |
|
Nila |
O. niloticus |
Campuran imunomodulator |
50 hari |
40 kg ton⁻¹ |
Meningkatkan
pertumbuhan dan menurunkan FCR |
Sá et al. [58] |
|
Nila |
O. niloticus |
Bacillus spp. + asam benzoat |
54 hari |
0,1% |
Meningkatkan pertambahan bobot |
Santos et al. [59] |
|
Nila |
O. niloticus |
Produk berbasis seng (nano &
organik) |
60 hari |
15 mg kg⁻¹ |
Meningkatkan sistem pertahanan bawaan |
Silva et al. [60] |
|
Tambaqui |
C. macropomum |
Probiotik multi-strain + prebiotik |
45 hari |
0–8 g kg⁻¹ |
Dosis 2 g paling optimal dalam kondisi
stres |
Souza et al. [40] |
|
Surubim hibrida |
Pseudoplatystoma spp. |
Bacillus subtilis C-3102 |
10 hari |
10–40 g kg⁻¹ |
Dosis 30 g kg⁻¹ meningkatkan performa
produksi dan parameter hematologi |
Veiga et al. [14] |
Probiotik
merupakan mikroorganisme hidup, umumnya berupa bakteri menguntungkan seperti
dari genus Lactobacillus dan Bacillus [19,20], yang secara
sengaja diberikan kepada ikan melalui pakan. Probiotik berperan dalam
menyeimbangkan mikrobiota usus, sehingga meningkatkan kesehatan pencernaan,
penyerapan nutrien, kinerja pertumbuhan, serta ketahanan terhadap infeksi.
Probiotik juga bersaing secara langsung dengan mikroorganisme patogen untuk
mendapatkan tempat perlekatan di saluran pencernaan, sehingga membatasi
pertumbuhan patogen. Selain itu, probiotik menghasilkan senyawa antimikroba
seperti bakteriosin dan asam organik yang dapat menghambat pertumbuhan patogen.
Probiotik juga mampu meningkatkan sistem imun ikan dengan merangsang produksi
sel imun serta mengurangi stres oksidatif, sehingga melindungi ikan dari
kerusakan seluler [15,18,40].
Sebaliknya,
prebiotik merupakan senyawa yang tidak dapat dicerna, seperti serat tanaman,
mannan oligosakarida (MOS), dan fruktooligosakarida (FOS), yang ditambahkan ke
dalam pakan untuk mendukung pertumbuhan dan aktivitas bakteri probiotik di usus
ikan. Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan probiotik,
sehingga meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan ikan budidaya [2,40].
Imunomodulator,
termasuk asam lemak seperti asam arakidonat (ARA; 20:4n-6), asam
eikosapentaenoat (EPA, C20:5), dan asam dokosaheksaenoat (DHA, C22:6, ω-3),
nukleotida, serta ekstrak tanaman, dapat memengaruhi respons imun ikan dengan
merangsang atau mengatur produksi sel imun seperti limfosit dan makrofag
[23–25]. Senyawa-senyawa ini membantu meningkatkan ketahanan ikan terhadap
patogen dan penyakit, serta memperbaiki kemampuan ikan dalam melawan infeksi
bakteri [21,51]. Asam lemak esensial seperti omega-3 (EPA dan DHA) dan omega-6
(ARA) berperan penting dalam pembentukan dan pemeliharaan membran sel serta
regulasi respons inflamasi [61]. Selain itu, senyawa ini juga berperan dalam
modulasi sistem imun melalui peningkatan produksi prostaglandin dan leukotrien
yang mengatur proses inflamasi dan respons imun.
Asam organik,
seperti asam butirat, asam sitrat, asam laktat, asam propionat, dan asam
format, memiliki sifat antimikroba dan kemampuan mengasamkan lingkungan,
sehingga dapat meningkatkan kondisi saluran pencernaan ikan. Senyawa ini
membantu menekan keberadaan patogen, seperti bakteri dan jamur berbahaya, baik
di saluran pencernaan maupun di lingkungan perairan, serta meningkatkan proses
pencernaan dan penyerapan nutrien [2,39,51].
Antioksidan,
termasuk vitamin (A, D, dan E), mineral (seng, selenium, dan tembaga), serta
beta-karoten, memiliki peran penting dalam mengurangi stres oksidatif pada ikan
[2]. Antioksidan bekerja dengan menetralisir radikal bebas yang dapat
menyebabkan kerusakan sel dan melemahkan sistem imun. Dengan meningkatkan
ketahanan ikan terhadap kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, seperti
fluktuasi suhu, stres lingkungan, dan infeksi, antioksidan membantu menjaga
kesehatan ikan secara keseluruhan [18]. Vitamin dan mineral tersebut juga
penting untuk fungsi imun, pertumbuhan, dan perkembangan ikan [2,60]. Selain
itu, antioksidan mencegah peroksidasi lipid pada jaringan otot ikan, sehingga
menjaga kualitas daging [61]. Kekurangan nutrien dapat menurunkan fungsi sistem
imun dan meningkatkan kerentanan ikan terhadap penyakit. Oleh karena itu,
vitamin antioksidan seperti vitamin C dan E, serta mineral seperti seng,
selenium, dan besi, sangat penting dalam mengurangi stres oksidatif dan
mendukung respons imun ikan [11,12,60].
Peptida
bioaktif yang berasal dari protein diketahui mampu meningkatkan sistem imun
ikan dengan merangsang aktivasi sel imun seperti makrofag dan limfosit.
Beberapa peptida juga memiliki sifat antimikroba yang membantu mencegah infeksi
dengan menargetkan patogen. Selain itu, penambahan enzim pencernaan dalam pakan
ikan dapat meningkatkan proses pencernaan dan penyerapan nutrien, mengurangi
beban kerja sistem pencernaan, serta mendukung kesehatan usus. Peningkatan
efisiensi pencernaan ini berkontribusi pada kesehatan ikan yang lebih baik dan
sistem imun yang lebih kuat [6,8,12,46].
3.
Pendekatan Nutrisi dalam Budidaya Ikan Laut di Brasil
Meskipun
budidaya ikan laut di Brasil masih dalam tahap awal perkembangan [62],
penggunaan pakan yang diformulasikan secara khusus dan diperkaya semakin
penting dalam akuakultur, dengan tujuan meningkatkan kinerja produksi,
kesehatan, dan kesejahteraan ikan budidaya. Penelitian di bidang ini mengalami
peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, dengan fokus pada pengembangan
alternatif yang berkelanjutan dan efisien untuk meningkatkan produksi spesies
ikan laut bernilai ekonomi, seperti belanak, kakap putih (common snook), dan
sarden.
Sebagai
contoh, suatu penelitian mengevaluasi pengaruh penambahan guar gum
(galaktomanan), yaitu polisakarida non-pati yang berasal dari Cyamopsis
tetragonolobus, dalam pakan juvenil ikan belanak (Mugil liza). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penggunaan guar gum di atas 4% tidak
direkomendasikan. Ikan yang diberi pakan dengan kandungan guar gum sebesar 8%
dan 12% menunjukkan penurunan bobot akhir, pertambahan bobot, laju pertumbuhan,
konsumsi pakan, serta asupan protein dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Selain itu, pakan yang mengandung guar gum juga menurunkan kadar bahan kering,
protein kasar, dan lemak karkas. Kadar glikogen hati meningkat dengan
suplementasi guar gum, sementara kadar kolesterol menurun pada ikan yang diberi
4% dan 8% guar gum [63].
Demikian pula,
Ramos et al. [64] tidak merekomendasikan penggunaan pektin jeruk pada tingkat
4%, 8%, atau 12% dalam pakan juvenil M. liza. Ikan yang diberi pektin
menunjukkan penurunan kadar bahan kering, protein kasar, dan abu. Kadar
glikogen hati meningkat pada perlakuan 12% pektin, tanpa pengaruh signifikan
terhadap kadar kolesterol dan trigliserida. Pektin jeruk juga tidak menunjukkan
dampak yang nyata terhadap komunitas mikroba.
Sebaliknya,
Mori et al. [17] melaporkan bahwa penambahan sitral dalam pakan memberikan efek
positif pada juvenil M. liza. Ikan yang menerima sitral (2,0 mL kg⁻¹
pakan) menunjukkan peningkatan pertambahan bobot dan efisiensi retensi protein,
serta peningkatan aktivitas enzim pencernaan seperti pepsin dan amilase di
lambung dan usus dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, suplementasi
sitral menurunkan peroksidasi lipid hati serta meningkatkan aktivitas enzim
antioksidan seperti glutathione peroksidase, glutathione-S-transferase, dan
superoksida dismutase pada insang, hati, dan otak. Sitral juga memberikan efek
positif pada tingkat kelangsungan hidup ikan sarden Brasil (Sardinella
brasiliensis), di mana dosis 2,0 mL kg⁻¹ pakan meningkatkan aktivitas enzim
pencernaan lipase dan amilase. Selain itu, sitral meningkatkan jumlah vili dan
kedalaman kripta usus, sedangkan dosis 0,5 mL kg⁻¹ meningkatkan diameter usus
ikan [27]. Namun demikian, Mori et al. [53] dan Michelotti et al. [52] tidak
merekomendasikan penggunaan sitral sebagai aditif pakan untuk juvenil kakap
putih (Centropomus undecimalis).
Noffs et al.
[65] meneliti pengaruh penambahan probiotik Bacillus subtilis (5,0 × 10⁹
CFU kg⁻¹ pakan) pada pakan benih kakap putih (C. undecimalis). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak meningkatkan laju pertumbuhan,
probiotik tersebut memberikan efek imunostimulan ketika diberikan secara
berselang.
Penambahan
garam organik dalam pakan juga terbukti memberikan manfaat bagi juvenil kakap
putih (Centropomus parallelus). Silva et al. [66] melaporkan bahwa
penambahan 3% natrium asetat dan natrium sitrat dalam pakan meningkatkan bobot
akhir, panjang tubuh, dan hasil panen dibandingkan dengan kontrol. Selain itu,
ikan yang menerima perlakuan tersebut menunjukkan jumlah bakteri heterotrofik
laut yang lebih rendah dibandingkan kontrol, sehingga menunjukkan potensi
penggunaan garam organik sebagai bidang penelitian yang menjanjikan.
Suplementasi
asam askorbat pada pakan M. liza tidak berpengaruh terhadap parameter
pertumbuhan, tetapi dosis 107 dan 216 mg kg⁻¹ memberikan hasil terbaik terhadap
kualitas sperma ikan jantan [67]. Kualitas sperma merupakan faktor penting
dalam keberhasilan reproduksi ikan dalam akuakultur, karena berperan dalam
menjaga kualitas dan keberlanjutan stok ikan.
Selain itu,
suplementasi enzim eksogen dalam pakan juga terbukti efektif pada ikan belanak.
Kompleks enzim eksogen, seperti xilanase, β-glukanase,
pektinase, mannanase, fitase, dan enzim pemecah polisakarida non-pati lainnya,
mampu mencegah enteritis usus akibat penggunaan tepung kedelai pada juvenil M.
liza [57].
Berbeda dengan
ikan air tawar, ikan laut menghadapi tantangan spesifik akibat lingkungan salin
dan karakteristik fisiologi pencernaan yang berbeda. Oleh karena itu,
diperlukan pengembangan dan evaluasi aditif pakan yang lebih spesifik untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi dan fisiologis ikan laut.
Strategi
Nutrisi untuk Ikan Hias Laut Budidaya di Brasil
Perdagangan
organisme akuatik hias mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa
dekade terakhir dan telah berkembang menjadi industri internasional bernilai
miliaran dolar [68,69,70]. Ikan
merupakan kelompok yang paling banyak diperdagangkan dan paling populer dalam
industri ini. Dengan jutaan ikan diperdagangkan setiap tahun untuk keperluan
akuarium, ikan air tawar masih mendominasi pasar ikan hias, mewakili sebagian
besar perdagangan ikan global. Meskipun ikan laut hanya menyumbang kurang dari
10% dari volume perdagangan, harga yang lebih tinggi menjadikan nilai
ekonominya secara keseluruhan lebih besar dibandingkan ikan air tawar [69].
Industri akuarium sangat bergantung
pada ikan hias laut yang ditangkap dari alam, dengan perkiraan bahwa 90–99%
ikan tersebut berasal dari populasi liar [69]. Ketergantungan ini menimbulkan
kekhawatiran terkait keberlanjutan dan dampak lingkungan, termasuk penangkapan
berlebih (overfishing), metode penangkapan yang merusak, kerusakan habitat,
serta eksploitasi spesies yang terancam punah. Upaya untuk mendorong praktik
berkelanjutan terus dilakukan melalui regulasi dan sertifikasi dalam
perdagangan ikan hias laut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dan
mengurangi tekanan terhadap populasi liar, perhatian semakin diarahkan pada
pengembangan budidaya ikan hias laut secara terkontrol.
Namun demikian, pembenihan spesies
ikan hias laut menghadapi berbagai tantangan khusus, antara lain kompleksitas
lingkungan laut, rendahnya tingkat keberhasilan reproduksi pada beberapa
spesies, pengelolaan penyakit, stres dalam kondisi penangkaran, kebutuhan
nutrisi spesifik, pengelolaan kualitas air, pemeliharaan warna tubuh, serta
tingginya biaya pakan [5,71,72]. Perlu dicatat bahwa berbagai penelitian
melaporkan adanya penambahan zat ke dalam air pada sistem air tawar yang tidak
termasuk sebagai aditif pakan atau suplemen. Akan tetapi, pada ikan laut yang
memerlukan asupan air laut untuk osmoregulasi, penambahan zat ke dalam air
dapat dikategorikan sebagai bentuk aditif pakan.
Pakan eksperimental telah diuji
dalam produksi ikan hias di Brasil untuk mengatasi berbagai permasalahan
tersebut, dengan peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan, kesehatan,
warna, serta kesejahteraan ikan secara keseluruhan. Penelitian saat ini difokuskan
pada pengembangan teknologi produksi spesies ikan hias laut asli, khususnya
yang rentan atau hampir terancam punah, seperti kuda laut (Hippocampus reidi).
Fokus utama adalah meningkatkan tingkat kelangsungan hidup serta mengembangkan
teknologi budidaya spesies eksotik, seperti ikan badut, termasuk upaya
memperpendek periode larvikultur dan meningkatkan kualitas warna tubuh.
Sebagai contoh, hormon tiroid
(thyroid hormones/THs), termasuk T3 (triiodotironin) dan T4 (tiroksin),
memiliki peran penting dalam fisiologi ikan dan sangat krusial pada tahap
perkembangan awal [73]. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon
tiroid pada ikan dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan,
kelangsungan hidup, perkembangan otot rangka, pengembangan gelembung renang
pada larva, pengurangan kanibalisme, serta percepatan metamorfosis [74,75]. Selain
itu, hormon ini juga berperan dalam diferensiasi jaringan, termasuk sistem
pencernaan pada larva ikan [76,77].
Penambahan
triiodotironin (T3) pada fase perkembangan larva ikan barber goby (Elacatinus
figaro), spesies endemik Brasil yang rentan dan berisiko tinggi mengalami
kepunahan di alam, telah diuji sejak 14 hingga 40 hari setelah menetas (hingga
seluruh larva menyelesaikan metamorfosis). Larva yang direndam dalam
konsentrasi T3 sebesar 0,025 mg L⁻¹ dan 0,05 mg L⁻¹ menunjukkan percepatan
metamorfosis hingga 11 hari dibandingkan kelompok kontrol (tanpa penambahan T3)
dan perlakuan 0,01 mg L⁻¹ [49]. Hal
ini berkontribusi pada pemendekan periode larvikultur spesies tersebut.
Hasil serupa dilaporkan oleh
Contrera et al. [47] pada larvikultur ikan badut ekor kuning (Amphiprion
clarkii). Penambahan T3 dengan konsentrasi 0,01 mg L⁻¹ dan 0,1 mg L⁻¹ ke
dalam media pemeliharaan memberikan pengaruh signifikan. Perlakuan 0,01 mg L⁻¹
meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan mempercepat metamorfosis larva
hingga 4 hari, dengan 81% larva telah bermetamorfosis pada hari ke-13,
dibandingkan kelompok tanpa suplementasi hormon. Namun, dosis T3 yang lebih
tinggi menyebabkan penurunan laju pertumbuhan dan metamorfosis yang tidak
sempurna, dengan munculnya kelainan seperti deformitas rangka, kelainan sirip,
perubahan warna, serta perilaku berenang yang tidak normal.
Probiotik merupakan salah satu
aditif pakan fungsional yang menunjukkan efek signifikan terhadap pertumbuhan,
kesehatan, dan kesejahteraan ikan. Dalam penelitian oleh Ferreira [78], produk
pengkayaan pakan hidup komersial yang mengandung mikroalga, minyak ikan
mikroenkapsulasi, dan minyak asam arakidonat diuji pada Artemia sp.
sebagai pakan tunggal bagi juvenil H. reidi pada umur 30 hari setelah
menetas. Mikroalga Nannochloropsis oculata juga diuji secara tunggal
maupun dikombinasikan dengan probiotik komersial yang mengandung Bacillus
subtilis, Enterococcus faecium, Pediococcus acidilactici, dan
Lactobacillus reuteri dengan konsentrasi 3 × 10⁹ CFU g⁻¹. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada umur 45 hari, performa pertumbuhan meningkat
pada perlakuan Artemia yang diperkaya dengan produk komersial tersebut,
terlepas dari penambahan probiotik. Selain itu, pada fase awal larvikultur H.
reidi, penggunaan kopepoda dalam kombinasi dengan rotifera dan Artemia,
serta aplikasi probiotik yang sama dalam media pemeliharaan, berhasil
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan larva [79].
Karotenoid
berperan penting dalam meningkatkan dan mempertahankan warna cerah pada ikan
hias. Ikan dan organisme akuatik lainnya tidak mampu mensintesis karotenoid
secara alami, sehingga senyawa ini perlu ditambahkan ke dalam pakan untuk
meningkatkan warna sekaligus mendukung sistem imun. Astaxantin dan karotenoid
lainnya dapat diperoleh dari sumber sintetis maupun alami, seperti ragi, alga,
jagung, dan bakteri. Dalam penelitian oleh Hoffmann [80], efektivitas
astaxantin sintetis (3,3′-dihidroksi-β,β-karoten-4,4′-dion)
dibandingkan dengan astaxantin alami dari Haematococcus pluvialis
dievaluasi terhadap warna, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup juvenil ikan
badut (Amphiprion ocellaris). Hasilnya menunjukkan bahwa astaxantin
dalam pakan meningkatkan pigmentasi ikan, dengan sumber alami memberikan hasil
paling optimal dalam menghasilkan warna merah khas spesies tersebut.
Pendekatan
lain, seperti suplementasi enzim eksogen dalam pakan, juga menunjukkan hasil
yang menjanjikan pada ikan hias laut. Penambahan enzim eksogen dapat
meningkatkan efisiensi pakan dan mendukung pertumbuhan ikan dalam sistem
budidaya. Pemberian Artemia sp. yang diperkaya dengan 75 mg L⁻¹
pankreatin porcine (kompleks enzim pankreas yang terdiri atas tripsin, amilase,
lipase, ribonuklease, dan protease) sejak menetas hingga umur 30 hari pada kuda
laut H. reidi menyebabkan perubahan signifikan pada mukosa usus, yang
berdampak pada peningkatan kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Hal ini
menunjukkan bahwa suplementasi enzim pencernaan merupakan inovasi penting dalam
pengembangan protokol pemberian pakan yang lebih efisien dan praktis
(menggunakan Artemia sebagai pakan tunggal) bagi juvenil kuda laut [81].
Demikian pula,
pada ikan badut A. ocellaris, pemberian Artemia yang diperkaya
dengan pankreatin porcine pada konsentrasi 75 mg L⁻¹ terbukti meningkatkan
performa zooteknis, termasuk panjang tubuh dan laju pertumbuhan harian larva
[82].
Asam organik
telah menunjukkan potensi yang menjanjikan pada spesies ikan hias laut, serupa
dengan efektivitasnya dalam budidaya ikan air tawar. Suatu campuran komersial
asam organik (126,5 g kg⁻¹ amonium format, 115,5 g kg⁻¹ asam format, 82,5 g
kg⁻¹ asam lemak nabati, 66,0 g kg⁻¹ asam propionat, dan 55,0 g kg⁻¹ asam
asetat) diuji dalam pakan juvenil ikan badut A. ocellaris pada umur 21
hari setelah menetas (DAH). Setelah 77 hari, kinerja zooteknis dan aktivitas
enzim pencernaan (tripsin, kimotripsin, dan amilase) tidak terpengaruh oleh
penambahan campuran tersebut dalam pakan. Namun demikian, kelompok yang
menerima dosis 15 g kg⁻¹ menunjukkan perubahan positif pada morfologi usus,
yang mengindikasikan peningkatan penyerapan nutrien serta menunjukkan bahwa
periode suplementasi yang lebih lama berpotensi meningkatkan performa
pertumbuhan dan kesehatan A. ocellaris [83].
Asam organik
terbukti memberikan manfaat yang signifikan bagi ikan budidaya, khususnya dalam
meningkatkan pencernaan dan kesehatan usus melalui sifat antimikroba yang mampu
menghambat proliferasi mikroorganisme patogen. Meskipun demikian, di Brasil
masih diperlukan penelitian lebih lanjut, khususnya pada sektor ikan hias laut,
untuk mendorong pemanfaatan suplemen ini secara lebih luas.
Mikroalga
memiliki peran penting sebagai sumber pakan bagi larva berbagai organisme
akuatik seperti moluska bivalvia, ikan, dan udang, karena nilai nutrisinya yang
tinggi serta ukuran sel yang sesuai. Selain itu, mikroalga juga berfungsi
sebagai sumber pakan atau suplemen nutrien bagi pakan hidup sekunder seperti
rotifera, Artemia, dan kopepoda. Mélo et al. [84] melaporkan bahwa
penambahan mikroalga Nannochloropsis oculata ke dalam media pemeliharaan
(green water) meningkatkan tingkat kelangsungan hidup larva baru menetas H.
reidi.
Sousa et al.
[85] melakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh berbagai mikroalga hidup
(Tisochrysis lutea–ISO dan Chaetoceros muelleri–CHO), baik secara
tunggal (TISO dan TCHO) maupun kombinasi (TIC 1:1), dalam media pemeliharaan,
serta perlakuan tanpa mikroalga (TWM), selama 15 hari awal pemeliharaan H.
reidi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mikroalga, khususnya T.
lutea, memberikan berbagai keuntungan dalam budidaya kuda laut.
Keberadaannya dalam media pemeliharaan meningkatkan luas permukaan vili usus
larva, yang berimplikasi pada peningkatan performa bobot serta kandungan asam
lemak tak jenuh ganda (PUFA), DHA, total n−3, dan rasio n−3/n−6 dibandingkan
perlakuan tanpa mikroalga. Sales et al. [86] juga melaporkan bahwa kuda laut H.
reidi (15 DAH) yang diberi pakan berupa pasta flokulasi dan kultur segar
mikroalga N. oculata menunjukkan tinggi dan panjang tubuh yang lebih
besar dibandingkan dengan yang diberi pasta komersial, yang kemungkinan
disebabkan oleh keberadaan sel hidup serta kandungan tinggi asam lemak tak
jenuh.
Selain itu,
penambahan ekstrak asam lemak dan karotenoid dari mikroalga N. gaditana
ke dalam pakan juvenil ikan badut A. ocellaris menghasilkan bobot yang
lebih tinggi pada hari ke-30 untuk perlakuan ekstrak asam lemak, serta panjang
tubuh yang lebih besar pada perlakuan ekstrak asam lemak maupun karotenoid.
Namun, pada hari ke-60, performa pertumbuhan relatif sama antarperlakuan, yang
menunjukkan bahwa substitusi minyak ikan dengan ekstrak mikroalga tidak
menurunkan produksi [87]. Industri
akuakultur terus mencari bahan baku yang lebih ekonomis dan berkelanjutan
[88,89]. Mikroalga terbukti menjadi pilihan yang sangat baik sebagai suplemen
pakan ikan hias karena memberikan berbagai manfaat. Selain itu,
mikroalga kaya akan nutrien penting seperti protein, vitamin, mineral, dan asam
lemak yang esensial bagi kesehatan dan perkembangan ikan.
Beberapa
mikronutrien, seperti yodium, memiliki peran penting dalam kesehatan dan
kesejahteraan ikan karena terlibat dalam berbagai proses biologis. Araújo-Silva
et al. [90] merekomendasikan suplementasi yodium melalui air atau pakan untuk
mengatasi gondok tiroid pada ikan Gramma brasiliensis yang dipelihara
dalam kondisi penangkaran. Meskipun penyebab pasti kondisi ini belum sepenuhnya
dipahami, penulis menyarankan untuk menjaga kadar nitrat tetap rendah serta
memantau kadar yodium dalam air secara berkala. Menurut Araújo-Silva [91]
(komunikasi pribadi), ikan dari spesies ini menunjukkan penurunan ukuran gondok
yang signifikan setelah diberi perlakuan yodium dalam pakan.
Pencarian
metode budidaya yang berkelanjutan untuk spesies ikan hias laut sangat penting
guna mengurangi tekanan terhadap populasi liar. Penelitian di bidang nutrisi,
termasuk penggunaan aditif pakan, telah menunjukkan kemajuan yang signifikan
dan menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi akuakultur sekaligus
meminimalkan dampak lingkungan.
4.
Penggunaan Rumput Laut sebagai Strategi Pakan dalam Penelitian Budidaya Ikan di
Brasil
Dalam beberapa
tahun terakhir, penggunaan makroalga sebagai strategi pakan semakin mendapat
perhatian karena kandungan nutrisi serta sifat imunostimulan, antivirus,
antibakteri, dan pemacu pertumbuhan yang dimilikinya. Penambahan makroalga
seperti Ulva ohnoi [92], Sargassum filipendula [93], Undaria
pinnatifida [94], Chaetomorpha clavata [95], dan Kappaphycus
alvarezii [96] dalam pakan terbukti memberikan efek signifikan terhadap
pertumbuhan dan sistem imun udang vaname (Penaeus vannamei). Produk
biologi turunan rumput laut juga berpotensi memberikan manfaat bagi organisme
akuatik lainnya, termasuk ikan. Namun demikian, penelitian mengenai penggunaan
makroalga dalam pakan ikan di Brasil masih tergolong terbatas.
Costa dan
Miranda-Filho [97] menekankan pentingnya penelitian terkait sumber pigmen dari
makroalga laut bagi masa depan akuakultur di Brasil. Mereka menyoroti bahwa
karotenoid tidak hanya berperan dalam pewarnaan, tetapi juga memberikan dampak
signifikan terhadap pertumbuhan, reproduksi, dan kesehatan ikan. Pontes et al.
[98] meneliti pengaruh penambahan makroalga laut Ulva fasciata dalam
pakan juvenil nila (O. niloticus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penambahan 10% tepung Ulva dalam pakan tidak memengaruhi waktu transit
gastrointestinal dibandingkan kelompok kontrol, sehingga dinilai aman dan tidak
memberikan efek negatif secara nutrisional.
Demikian pula,
Costa et al. [99] melaporkan bahwa penambahan 20 g kg⁻¹ rumput laut cokelat Ascophyllum
nodosum dalam pakan memberikan manfaat bagi nila. Terjadi peningkatan
linier pada nilai konversi pakan semu dan rendemen karkas seiring dengan
meningkatnya tingkat inklusi dalam pakan.
Dalam
penelitian oleh Mendonça et al. [100] ditemukan bahwa penambahan berbagai
tingkat makroalga Gracilaria domingensis (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%)
dalam pakan ikan belanak juvenil (Mugil liza) mampu meningkatkan respons
imun. Namun demikian, pertumbuhan ikan mengalami penurunan yang signifikan
ketika tingkat makroalga melebihi 10%. Selain itu, ikan belanak yang diberi
pakan mengandung makroalga laut menunjukkan kadar antibodi anti-CD3 dan anti-CD4
yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Penambahan makroalga sebesar
5% dalam pakan terbukti meningkatkan kompetensi imun tanpa memberikan dampak
negatif terhadap pertumbuhan ikan.
Rumput laut
memiliki potensi bioteknologi yang signifikan dalam budidaya ikan, karena dapat
berperan sebagai pengatur pertumbuhan, respons imun dan antioksidan, serta
mikrobiota usus ikan [101]. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Cian et al.
[102], sifat antioksidan alga merah Pyropia columbina diuji pada ikan
pacu juvenil (Piaractus mesopotamicus). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada bobot akhir, laju pertumbuhan
spesifik, faktor kondisi, maupun indeks somatik hati antar perlakuan. Namun,
ikan yang diberi P. columbina menunjukkan tingkat peroksidasi lipid,
aktivitas superoksida dismutase, serta rasio SOD/CAT yang lebih rendah pada
usus, hati, dan otot putih, yang mengindikasikan adanya efek sistemik dari alga
tersebut.
Sebaliknya,
penambahan Ulva fasciata dalam pakan Seriola dorsalis pada
berbagai tingkat (0, 5, 10, dan 20 g kg⁻¹) tidak memengaruhi performa
pertumbuhan maupun parameter somatik. Namun, pada tingkat inklusi 20 g kg⁻¹,
terjadi perubahan signifikan pada parameter hematologi dibandingkan kelompok
kontrol. Selain itu, suplementasi U. fasciata menurunkan kadar asam
linoleat sekitar 20% dan meningkatkan kadar DHA pada jaringan otot, sehingga
meningkatkan kualitas fillet ikan [50].
Calheiros et
al. [103] menyatakan bahwa genus Ulva berpotensi sebagai sumber alami
fenilalanin dan triptofan yang dapat digunakan sebagai agen ansiolitik dalam
budidaya ikan. Kandungan triptofan dan fenilalanin yang tinggi pada Ulva
spp. diduga mampu membantu mengurangi stres pada ikan. Selain itu, produk
turunan Ulva spp. juga berpotensi meningkatkan kesehatan ikan dalam
sistem akuakultur multitrofik terintegrasi.
Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa makroalga dapat dimanfaatkan sebagai aditif pakan
dalam akuakultur untuk meningkatkan pertumbuhan, imunitas, dan kesehatan ikan
secara keseluruhan. Meskipun penelitian terkait penggunaan makroalga dalam
budidaya ikan di Brasil masih terbatas, hasil yang ada menunjukkan potensi
bioteknologi yang menjanjikan. Sifat antioksidan dan anti-stres dari makroalga
berpotensi meningkatkan kesehatan ikan serta kualitas produk perikanan.
5.
Kemajuan Terkini dalam Pemberian Pakan pada Budidaya Ikan di Brasil
Akuakultur di
Brasil saat ini mengalami pertumbuhan yang pesat dan menjanjikan. Pada tahun
2024, budidaya ikan—khususnya produksi nila—semakin mengukuhkan posisinya
sebagai sektor utama dalam agribisnis Brasil, menjadikan negara tersebut
sebagai salah satu produsen nila terkemuka di dunia. Meskipun demikian, masih
terdapat potensi besar untuk ekspansi lebih lanjut, yang didorong oleh kemajuan
teknologi dalam budidaya dan pemberian pakan pada spesies asli seperti tambaqui
dan pirarucu. Selain itu, ekspor produk perikanan juga terus meningkat, dengan
pasar utama seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa menjadi tujuan penting
[1,104]. Oleh karena itu, penelitian di bidang nutrisi memiliki peran strategis
dalam meningkatkan kinerja budidaya ikan di Brasil.
Pengembangan
pakan yang lebih efektif melalui penggunaan bahan alternatif atau aditif dapat
meningkatkan penyerapan nutrien dan kesejahteraan ikan budidaya, sehingga
berpotensi menurunkan biaya produksi. Penelitian terbaru berfokus pada
formulasi pakan yang ramah lingkungan, mengurangi pencemaran, serta
memanfaatkan sumber daya berkelanjutan. Selain itu, pemanfaatan produk samping
agroindustri juga dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber
daya.
Romaneli et
al. [105] melaporkan bahwa pakan dengan profil asam amino yang seimbang,
meskipun memiliki kadar protein lebih rendah, tidak menghambat pertumbuhan ikan
nila juvenil, serta mampu menurunkan protein tercerna dari 32% menjadi 29%,
yang berdampak pada penurunan ekskresi limbah nitrogen sebesar 12%. Sementara
itu, Gandolpho et al. [106] mengkaji komposisi nutrisi, profil fenolik, serta
sifat antioksidan dari trub (produk samping industri bir) dan menemukan
bahwa bahan tersebut berpotensi sebagai sumber antioksidan alami untuk
suplementasi pakan ikan, seperti pada nila.
Di sisi lain,
penelitian di Brasil banyak berfokus pada peningkatan kesehatan dan pertumbuhan
ikan melalui penggunaan aditif tertentu. Oliveira et al. [20] menemukan bahwa Lactobacillus
rhamnosus, yang digunakan sebagai probiotik, prebiotik, maupun dalam bentuk
sinbiotik, memberikan manfaat pada ikan karnivora asli Brasil, yaitu dourado (Salminus
brasiliensis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 0,02%
probiotik, 2,0% prebiotik, maupun kombinasi sinbiotik mampu meningkatkan
performa produksi, dengan pertambahan bobot yang setara dengan kontrol namun
dengan konsumsi pakan yang lebih rendah.
Selain itu,
ikan yang diberi perlakuan dan terpapar Aeromonas hydrophila menunjukkan
peningkatan signifikan pada parameter imunohistokimia usus. Pemeriksaan
anatomopatologi menunjukkan bahwa sel-sel penyusun jaringan vilus dan serosa
lebih utuh, serta terjadi peningkatan jumlah sel goblet.
Penelitian
mengenai kebutuhan nutrisi spesifik pada berbagai spesies ikan juga penting
untuk merancang pakan yang mendukung kesehatan dan pertumbuhan optimal. De
Oliveira et al. [48] melaporkan bahwa kombinasi natrium butirat, ragi
terhidrolisis kering, dan proteinate seng pada berbagai konsentrasi (0,00;
0,60; 1,20; 2,40; dan 4,80 g kg⁻¹) memberikan manfaat bagi ikan nila juvenil.
Pemberian kombinasi tersebut pada dosis 2,40 g kg⁻¹ meningkatkan aktivitas
tripsin di usus, memperbaiki integritas jaringan usus, mengurangi fusi lipatan
usus, serta meningkatkan perkembangan dan tinggi mikrovili, yang menunjukkan
perbaikan kesehatan usus melalui modulasi mikrobiota usus.
Demikian pula,
Ferrarezi et al. [19] melaporkan bahwa probiotik multi-strain Bacillus
memberikan efek positif pada nila melalui perubahan komposisi mikrobioma usus,
dengan peningkatan keragaman spesies dan penurunan kelimpahan Aeromonas sp..
Sementara itu, Pereira Júnior et al. [56] melaporkan bahwa suplementasi minyak
atsiri jeruk (Citrus sinensis) pada dosis 200, 400, dan 800 mg L⁻¹
sangat efektif pada ikan tambaqui (Colossoma macropomum), dengan
peningkatan pertumbuhan, imunitas bawaan, serta penurunan mortalitas setelah
paparan A. hydrophila.
Penelitian
nutrisi berperan penting dalam mengidentifikasi senyawa pakan yang dapat
meningkatkan sistem imun ikan, sehingga menurunkan kejadian penyakit dan
meningkatkan tingkat kelangsungan hidup. Sebagai contoh, suplementasi vitamin
dan imunomodulator (β-glukan
dan nukleotida) selama 60 hari pada ikan nila juvenil terbukti meningkatkan
respons hematoimunologis serta ketahanan terhadap stres fisik dan termal [107].
Selain itu,
kemajuan teknologi memungkinkan pengembangan pakan ikan yang lebih efisien dan
berkelanjutan. Sá et al. [58] meneliti efek suplementasi imunomodulator (β-glukan,
nukleotida, asam askorbat, dan alfa-tokoferol) pada pakan dengan kandungan
protein hewani lebih rendah (11,5%) dan tepung kedelai lebih tinggi (43,5%).
Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan, yaitu kenaikan bobot akhir sebesar
59,95%, pertambahan bobot 64%, pertumbuhan harian 66%, penurunan rasio konversi
pakan sebesar 21,31%, serta peningkatan retensi protein tubuh hingga dua kali
lipat.
Selain itu,
suplementasi tersebut juga memperbaiki morfologi usus dan memodulasi mikrobioma
usus, yang menunjukkan potensi besar dalam mengurangi ketergantungan terhadap
protein hewani dalam pakan ikan.
Dalam
penelitian terbaru, Pereira et al. [54] melaporkan bahwa suplementasi minyak
atsiri Croton conduplicatus dalam pakan (dengan dosis 0; 0,25; 0,50;
1,00; atau 1,50 mL kg⁻¹ pakan) dapat memberikan efek positif pada ikan
tambaqui. Ikan yang diberi pakan dengan dosis 0,85 mL kg⁻¹ menunjukkan
peningkatan parameter pertumbuhan, sedangkan rasio konversi pakan lebih rendah
pada kelompok dengan dosis 0,25 mL kg⁻¹. Namun, kelompok yang menerima dosis
1,00 mL kg⁻¹ mengalami gangguan hematologis dan serum. Hal ini menegaskan sifat
ganda minyak atsiri dalam pakan ikan, yang di satu sisi memberikan manfaat,
tetapi di sisi lain berpotensi menimbulkan efek toksik dan gangguan fisiologis.
Oleh karena itu, penggunaan minyak atsiri harus dilakukan secara hati-hati dan
pada dosis yang tepat untuk mencegah efek merugikan.
Pemanfaatan
teknologi seperti bioteknologi dan nanoteknologi berpotensi menghasilkan
formulasi pakan baru yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Silva et al. [60]
meneliti pengaruh berbagai suplemen berbasis seng terhadap pertumbuhan dan
kesehatan ikan nila. Penelitian tersebut menggunakan seng dalam berbagai ukuran
(nanopartikel atau bentuk bulk) dan bentuk (anorganik atau organik) sebagai
suplemen pakan pada dosis 15 mg kg⁻¹ pakan selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
berbagai produk berbasis seng tidak memengaruhi performa pertumbuhan, namun
memberikan efek positif yang signifikan terhadap parameter hemato-imunologis.
Selain itu, seng organik dalam bentuk nanopartikel maupun bulk meningkatkan
pertahanan alami ikan nila setelah paparan Streptococcus agalactiae.
Hasil penelitian terkini tersebut
sangat penting untuk memastikan bahwa budidaya ikan di Brasil dapat terus
berkembang secara berkelanjutan dan kompetitif. Produk yang lebih berkualitas
dan berkelanjutan berpotensi membuka pasar baru serta menarik konsumen yang
semakin peduli terhadap aspek keberlanjutan dan kesehatan.
6. Prospek Masa Depan Nutrisi dan
Pemberian Pakan dalam Budidaya Ikan di Brasil
Prospek masa depan nutrisi dan
pemberian pakan dalam budidaya ikan di Brasil sangat menjanjikan. Seiring
dengan terus berkembangnya industri budidaya ikan di negara tersebut,
diharapkan terjadi peningkatan signifikan dalam kegiatan penelitian serta peluncuran
produk-produk baru ke pasar. Sektor budidaya ikan di Brasil saat ini mengalami
pertumbuhan pesat, didukung oleh investasi dalam teknologi pengelolaan sumber
daya air serta pengembangan pakan spesifik untuk spesies lokal, yang akan
membantu menjamin keberlanjutan sektor ini. Perkembangan tersebut menunjukkan
masa depan yang dinamis dengan peluang pertumbuhan yang besar bagi industri
budidaya ikan di Brasil.
Beberapa perkembangan terbaru dalam
upaya mencari alternatif berkelanjutan untuk industri pakan akuakultur di
Brasil meliputi penggunaan berbagai aditif pakan, seperti sitral [17,27],
kompleks yang diperkaya β-glukan [55], minyak atsiri Ocimum basilicum
[108], Bacillus spp. dan asam benzoat organik [59], asam propionat
[109], hidrolat Curcuma longa dan Lactobacillus plantarum [22],
inulin [21], minyak atsiri Lippia sidoides [25], serta Lactobacillus
rhamnosus [20].
Meskipun kemajuan penelitian di
Brasil yang dilaporkan dalam kajian ini cukup signifikan, integrasi hasil
penelitian tersebut ke dalam industri pakan akuakultur menjadi langkah yang
sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan keberlanjutan sektor ini.
Bahan baku berkualitas tinggi diperlukan dalam formulasi pakan ikan, meskipun
sering kali berbiaya tinggi. Pemilihan bahan pakan dan aditif yang tepat sangat
menentukan kesehatan dan pertumbuhan ikan.
Nutrisi untuk
spesies lokal masih menjadi tantangan dalam industri akuakultur Brasil.
Dukungan pemerintah serta kebijakan publik yang terarah pada sektor pakan ikan
dapat mendorong pengembangan dan inovasi lebih lanjut. Tantangan ini sekaligus
membuka peluang bagi inovasi dan ekspansi dalam industri pakan ikan di Brasil.
REFERENSI
- FAO—Food and Agriculture
Organization of the United Nations. The State of World Fisheries
and Aquaculture 2024; Blue Transformation in Action; FAO: Rome, Italy,
2024; p. 264. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Encarnação, P. Functional feed
additives in aquaculture feeds. In Aquafeed Formulation;
Nates, S.F., Ed.; Academic Press: Amsterdam, The Netherlands, 2016; pp.
217–237. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Naiel, M.A.; Shehata, A.M.;
Negm, S.S.; Abd El-Hack, M.E.; Amer, M.S.; Khafaga, A.F.; Bin-Jumah, M.;
Allam, A.A. The new aspects of using some safe feed additives on
alleviated imidacloprid toxicity in farmed fish: A review. Rev.
Aquac. 2020, 12, 2250–2267. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Morante, V.H.P.; Copatti,
C.E.; Souza, A.R.L.; da Costa, M.M.; Braga, L.G.T.; Souza, A.M.; Melo,
F.V.S.T.; Camargo, A.C.S.; Melo, J.F.B. Assessment the crude grape extract
as feed additive for tambaqui (Colossoma macropomum), an omnivorous
fish. Aquaculture 2021, 544, 737068. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Hoseinifar, S.H.; Maradonna,
F.; Faheem, M.; Harikrishnan, R.; Devi, G.; Ringø, E.; Van Doan, H.;
Ashouri, G.; Gioacchini, G.; Carnevali, O. Sustainable ornamental fish
aquaculture: The implication of microbial feed additives. Animals 2023, 13,
1583. [Google
Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Bu,
X.; Li, Y.; Lai, W.; Yao, C.; Liu, Y.; Wang, Z.; Han, S.; Zhao, Z.; Du,
J.; Yao, S.; et al. Innovation
and development of the aquaculture nutrition research and feed industry in
China. Rev. Aquac. 2024, 16, 759–774.
[Google
Scholar] [CrossRef]
- Hossain, M.S.; Small, B.C.;
Kumar, V.; Hardy, R. Utilization of functional feed additives to produce
cost-effective, ecofriendly aquafeeds high in plant-based
ingredients. Rev. Aquac. 2024, 16,
121–153. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Kuebutornye, F.K.A.; Roy, K.;
Folorunso, E.A.; Mraz, J. Plant-based feed additives in Cyprinus
carpio aquaculture. Rev. Aquac. 2024, 16,
309–336. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Turchini, G.M.; Hardy, R.W.
Research in Aquaculture Nutrition: What Makes an Experimental Feeding
Trial Successful? Rev. Fish. Sci. Aquac. 2024, 33,
1–9. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Gong, Y.; Sørensen, S.L.;
Dahle, D.; Nadanasabesan, N.; Dias, J.; Valente, L.M.; Sørensen, M.;
Kiron, V. Approaches to improve utilization of Nannochloropsis
oceanica in plant-based feeds for Atlantic salmon. Aquaculture 2020, 522,
735122. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Vijayaram, S.; Sun, Y.Z.;
Zuorro, A.; Ghafarifarsani, H.; Van Doan, H.; Hoseinifar, S.H. Bioactive
immunostimulants as health-promoting feed additives in aquaculture: A
review. Fish Shellfish Immunol. 2022, 130,
294–308. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Liang, Q.; Yuan, M.; Xu, L.;
Lio, E.; Zhang, F.; Mou, H.; Secundo, F. Application of enzymes as a feed
additive in aquaculture. Mar. Life Sci. Technol. 2022, 4,
208–221. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Xu, W.; Gao, Z.; Qi, Z.; Qiu,
M.; Peng, J.Q.; Shao, R. Effect of dietary Chlorella on
the growth performance and physiological parameters of gibel carp, Carassius
auratus gibelio. Turk. J. Fish. Aquat. Sci. 2014, 14,
53–57. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Veiga, P.T.D.N.; Owatari,
M.S.; Nunes, A.L.; Rodrigues, R.A.; Kasai, R.Y.D.; Fernandes, C.E.; De
Campos, C.M. Short communication: Bacillus subtilis C-3102
improves biomass gain, innate defense, and intestinal absorption surface
of native Brazilian hybrid Surubim (Pseudoplatystoma corruscans x P.
reticulatum). Aquac. Int. 2020, 28,
1183–1193. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Moraes, A.V.; Owatari, M.S.;
Silva, E.; Pereira, M.O.; Piola, M.; Ramos, C.; Farias, D.R.; Schleder,
D.D.; Jesus, G.F.A.; Jatobá, A. Effects of microencapsulated
probiotics-supplemented diet on growth, non-specific immunity, intestinal
health and resistance of juvenile Nile tilapia challenged with Aeromonas
hydrophila. Anim. Feed Sci. Technol. 2022, 287,
115286. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Van Doan, H.; Prakash, P.;
Hoseinifar, S.H.; Ringø, E.; El-Haroun, E.; Faggio, C.; Olsen, R.E.; Tran,
H.Q.; Stejskal, V.; Abdel-Latif, H.M.R.; et al. Marine-derived products as
functional feed additives in aquaculture: A review. Aquac. Rep. 2023, 31,
101679. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Mori, N.C.; Michelotti, B.T.;
Magnotti, C.C.; Bressan, C.A.; Bianchin, L.B.; Sutili, F.J.; Almeida,
A.P.G.; Kreutz, L.C.; Pavanato, M.A.; Cerqueira, V.R.; et al. Growth,
Metabolic, Hepatic and Redox Parameters, Digestive Enzymes and Innate
Immunity in Mugil liza Fed a Citral-Supplemented
Diet. Fishes 2024, 9, 240. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Faust, M.; Owatari, M.S.;
Almeida, M.V.S.; Santos, A.L.; Martins, W.; Vicente, L.R.M.; Jatobá, A.
Dietary Saccharomyces cerevisiae improves survival after
thermal and osmotic challenge during sexual reversal of postlarval Nile
Tilapia. N. Am. J. Aquac. 2023, 85,
271–276. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Ferrarezi, J.V.S.; Owatari,
M.S.; Martins, M.A.; Sá, L.S.; Dutra, S.A.P.; Oliveira, H.M.; Soligo, T.;
Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. Effects of a multi-strain Bacillus probiotic
on the intestinal microbiome, haemato-immunology, and growth performance
of Nile tilapia. Vet. Res. Commun. 2024, 48,
2357–2368. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Oliveira, F.C.; Almeida, P.R.;
Almeida, R.G.S.; Owatari, M.S.; Pilarski, F.; Fernandes, C.E.S.; Campos,
C.M. Lactobacillus rhamnosus improves feed intake,
condition factors, hepatic and intestinal histomorphometric indexes of
dourado Salminus brasiliensis. Aquac. Int. 2024, 32,
4757–4772. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Veiga, P.T.N.; Rodrigues,
T.A.R.; Fantini-Hoag, L.; Rodrigues, R.A.; Pilarski, F.; Owatari, M.S.;
Martins, M.L.; Campos, C.M. Inulin dietary supplementation attenuates the
stress induced by pursuit/capture/atmospheric exposure and improves innate
immune response in hybrid catfish (Pseudoplatystoma reticulatum♀
× Leiarius marmoratus♂) after exposure to Aeromonas
hydrophila. Aquac. Int. 2024, 32,
1771–1784. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Jatobá, A.; Pereira, M.D.O.;
Jesus, G.F.A.; Dutra, S.A.P.; Mouriño, J.L.P.; Owatari, M.S.; Schleder,
D.D. Effects of Blending Curcuma longa Hydrolate
and Lactobacillus plantarum on the Growth and Health of
Nile Tilapia. Fishes 2024, 9, 503. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Brum, A.; Pereira, S.A.;
Owatari, M.S.; Chagas, E.C.; Chaves, F.C.M.; Mouriño, J.L.P.; Martins,
M.L. Effect of dietary essential oils of clove basil and ginger on Nile
tilapia (Oreochromis niloticus) following challenge with Streptococcus
agalactiae. Aquaculture 2017, 468,
235–243. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Owatari, M.S.; Jesus, G.F.A.;
Brum, A.; Pereira, S.A.; Lehmann, N.B.; Pereira, U.P.; Martins, M.L.;
Mouriño, J.L.P. Sylimarin as hepatic protector and immunomodulator in Nile
tilapia during Streptococcus agalactiae infection. Fish
Shellfish Immunol. 2018, 82, 565–572. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Cardoso, L.; Owatari, M.S.;
Chaves, F.C.M.; Furtado, W.E.; Honorato, L.A.; Agnes, J.P.; Santos, D.C.;
Pedrosa, R.C.; Fontes, S.T.; Mouriño, J.L.P.; et al. Lippia
sidoides essential oil (Verbenaceae) improves inflammatory
response and histological condition in Danio rerio. Aquac.
Int. 2023, 31, 2665–2685. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Silva, C.S.D.; Brasil, E.M.;
Cipriano, F.D.S.; Magnotti, C.; Rocha, V.M.D.; Furtado, W.E.; Chagas,
E.C.; Chaves, F.C.M.; Owatari, M.S.; Martins, M.L.; et al. Antiparasitic
efficacy of essential oils for Neobenedenia melleni infecting
farmed Lebranche mullet (Mugil liza). Int. Aquat. Res. 2024, 16,
187–194. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Michelotti, B.T.; Owatari,
M.S.; Magnotti, C.; Klinger, A.C.K.; Palma, U.S.; Santos, M.C.; Descovi,
S.N.; Cerqueira, V.R.; Costa, S.T.; Bianchin, L.B.; et al. Functional
assessment of citral dietary supplementation on growth performance,
intestinal parameters, and specific activity of the digestive enzymes
of Sardinella brasiliensis reared in recirculating
aquaculture system. Bol. Inst. Pesca 2024, 50,
1–9. [Google
Scholar] [CrossRef]
- García-Vaquero, M.; Hayes, M.
Red and green macroalgae for fish and animal feed and human functional
food development. Food Rev. Int. 2016, 32,
15–45. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Naiel, M.A.; Alagawany, M.;
Patra, A.K.; El-Kholy, A.I.; Amer, M.S.; Abd El-Hack, M.E. Beneficial
impacts and health benefits of macroalgae phenolic molecules on fish
production. Aquaculture 2021, 534,
736186. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Galafat, A.; Vizcaíno, A.J.;
Sáez, M.I.; Martínez, T.F.; Arizcun, M.; Chaves-Pozo, E.; Alarcón, F.J.
Assessment of dietary inclusion of crude or hydrolysed Arthrospira
platensis biomass in starter diets for gilthead seabream (Sparus
aurata). Aquaculture 2022, 548,
737680. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Ma, M.; Hu, Q. Microalgae as
feed sources and feed additives for sustainable aquaculture: Prospects and
challenges. Rev. Aquacult. 2024, 16,
818–835. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Shah, M.R.; Lutzu, G.A.; Alam,
A.; Sarker, P.; Kabir Chowdhury, M.A.; Parsaeimehr, A.; Liang, Y.; Daroch,
M. Microalgae in aquafeeds for a sustainable aquaculture industry. J.
Appl. Phycol. 2018, 30, 197–213. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Vizcaíno, A.J.; López, G.;
Sáez, M.I.; Jiménez, J.A.; Barros, A.; Hidalgo, L.; Camacho-Rodríguez, J.;
Martínez, T.F.; Cerón-García, M.C.; Alarcón, F.J. Effects of the
microalga Scenedesmus almeriensis as fishmeal alternative
in diets for gilthead sea bream, Sparus aurata,
juveniles. Aquaculture 2014, 431,
34–43. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Abdel-Tawwab, M.; Gewida,
A.G.; Abdelghany, M.F.; Mousa, M.A.; Abdel-Razek, N.; Abdel-Hamid, E.A.;
Shady, S.H.H.; Mamoon, A. The green microalga Scenedesmus
quadricauda modulates the performance, immune indices, and
disease resistance of Nile tilapia fingerlings. Aquaculture 2022, 560,
738550. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Galafat, A.; Vizcaíno, A.J.;
Sáez, M.I.; Martínez, T.F.; Jérez-Cepa, I.; Mancera, J.M.; Alarcón, F.J.
Evaluation of Arthrospira sp. enzyme hydrolysate as
dietary additive in gilthead seabream (Sparus aurata)
juveniles. J. Appl. Phycol. 2020, 32,
3089–3100. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Sáez, M.I.; Galafat, A.;
Vizcaíno, A.J.; Chaves-Pozo, E.; Ayala, M.D.; Arizcun, M.; Alarcón, F.J.;
Suárez, M.D.; Martínez, T.F. Evaluation of Nannochloropsis
gaditana raw and hydrolysed biomass at low inclusion level as
dietary functional additive for gilthead seabream (Sparus aurata)
juveniles. Aquaculture 2022, 556,
738288. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Wassef, E.A.; Saleh, N.E.;
Abdel-Latif, H.M. Beneficial effects of some selected feed additives for
European seabass (Dicentrarchus labrax L.): A review. Int.
Aquat. Res. 2023, 15, 271–288. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Garnica-Gómez, L.A.;
Mata-Sotres, J.A.; Lazo, J.P. Effect of macroalgae as a functional
ingredient in grow-out diets on the biological performance, digestive
capacity, and immune response of totoaba, Totoaba macdonaldi. Aquac.
Int. 2024, 32, 979–998. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Jesus, G.F.; Pereira, S.A.;
Owatari, M.S.; Addam, K.; Silva, B.C.; Sterzelecki, F.C.; Sugai, J.K.;
Cardoso, L.; Jatobá, A.; Mouriño, J.L.P.; et al. Use of protected forms of
sodium butyrate benefit the development and intestinal health of Nile
tilapia during the sexual reversion period. Aquaculture 2019, 504,
326–333. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Souza, R.J.F.; Matos, E.R.;
Souza, A.L.S.; Fazzi-Gomes, P.F.; Melo, N.F.A.C.; Owatari, M.S.; Palheta,
G.D.A.; Takata, R.; Sterzelecki, F.C. Dietary effect of multi-strain
prebiotics and probiotics on growth, hemato-biochemical parameters,
intestinal histomorphometry, and resistance to hypoxia in juvenile
tambaqui (Colossoma macropomum). Vet. Res. Commun. 2024, 48,
1061–1072. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Novelli, P.K.; Barros, M.M.;
Pezzato, L.E.; Araujo, E.P.; Botelho, R.M.; Fleuri, L.F. Enzymes produced
by agro-industrial co-products enhance digestible values for Nile tilapia
(Oreochromis niloticus): A significant animal feeding
alternative. Aquaculture 2017, 481,
1–7. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Cavero, B.A.S.; Ituassú, D.R.;
Gandra, A.L.; Marinho-Pereira, T.; da Fonseca, F.A.L.; Pereira-Filho, M.
Exogenous enzymes on the feeding of pirarucu Arapaima gigas Schinz.
1822 (Osteoglossiformes. Arapaimidae). Rev. Bras. Ciênc. Agrár. 2019, 14,
1–7. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Lima, J.D.C.; Schorer, M.;
Melo, J.F.B.; Braga, L.G.T. Effect of enzymatic complex in the diet of
pirarucu, Arapaima gigas juveniles. Acta Amazon. 2021, 51,
207–213. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Velázquez-De Lucio, B.S.;
Hernández-Domínguez, E.M.; Villa-Garcia, M.; Diaz-Godinez, G.;
Mandujano-Gonzalez, V.; Mendoza-Mendoza, B.; Álvarez-Cervantes, J.
Exogenous enzymes as zootechnical additives in animal feed: A
review. Catalysts 2021, 11, 851. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Gomes, J.R.; Cardoso, A.J.S.;
Hisano, H.; Freitas, R.M.P.; Martins, K.V.B.; Azevedo, F.S.; Freitas,
M.B.; Ferreira, P.M.F.; Salaro, A.L.; Zuanon, J.A.S. Redox status of
juvenile Nile tilapia, Oreochromis niloticus (Linnaeus,
1758), fed diets supplemented with poultry liver protein hydrolysate as
feed aditive. Anim. Feed Sci. Technol. 2023, 303,
115711. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Ha, N.; Jesus, G.F.A.;
Gonçalves, A.F.N.; Oliveira, N.S.; Sugai, J.K.; Pessatti, M.L.; Mouriño,
J.L.P.; Fabregat, T.E.H.P. Sardine (Sardinella spp.) protein
hydrolysate as growth promoter in South American catfish (Rhamdia
quelen) feeding: Productive performance, digestive enzymes activity,
morphometry and intestinal microbiology. Aquaculture 2019, 500,
99–106. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Contrera, Y.M.B.; Eugênio,
R.M.C.; Damasceno, D.Z.; Bombardelli, R.A.; Tsuzuki, M.Y. The effect of
triiodothyronine on survival, growth and metamorphosis of yellowtail
clownfish Amphiprion clarkii (Bennett, 1830)
larvae. J. Appl. Ichthyol. 2016, 32,
960–962. [Google
Scholar] [CrossRef]
- De Oliveira, V.D.; Pessini,
J.E.; Fracalossi, D.M.; Mattioni, B.; Mattos, J.J.; Bainy, A.C.D.; Rios,
C.; Silva, C.P.; Pettigrew, J.E.; Schleder, D.D. Gut health improvement as
a result of dietary supplementation of VILIGEN™ in juvenile Nile tilapia. Aquac.
Int. 2024, 32, 10231–10252. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Eugênio, R.M.D.C.; Rodrigues,
R.V.; Romano, L.A.; Tsuzuki, M.Y. Effect of triiodothyronine (T3) in the
larval development of the barber goby Elacatinus figaro. Aquac.
Res. 2019, 50, 581–587. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Legarda, E.C.; Viana, M.T.;
Zaragoza, O.B.D.R.; Skrzynska, A.K.; Braga, A.; Lorenzo, M.A.; Vieira,
F.N. Effects on fatty acids profile of Seriola dorsalis muscle
tissue fed diets supplemented with different levels of Ulva
fasciata from an Integration Multi-Trophic Aquaculture
system. Aquaculture 2021, 535, 736414.
[Google
Scholar] [CrossRef]
- Libanori, M.C.M.; Santos,
G.G.; Pereira, S.A.; Lopes, G.R.; Owatari, M.S.; Soligo, T.A.; Yamashita,
E.; Pereira, U.P.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. Dietary supplementation
with benzoic organic acid improves the growth performance and survival of
Nile tilapia (Oreochromis niloticus) after challenge with Streptococcus
agalactiae (Group B). Aquaculture 2021, 545,
737204. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Michelotti, B.T.; Mori, N.C.;
Magnotti, C.C.F.; Heinzmann, B.M.; Almeida, A.P.G.; Cerqueira, V.R.;
Baldisserotto, B. Citral as food additive for common snook-zootechnical
parameters and digestive enzymes. Cienc. Rural 2020, 50,
e20190577. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Mori, N.C.; Michelotti, B.T.;
Pês, T.S.; Bressan, C.A.; Sutili, F.; Kreutz, L.C.; Garlet, K.;
Baldisserotto, B.; Pavanato, M.A.; Cerqueira, V.R.; et al. Citral as a
dietary additive for Centropomus undecimalis juveniles:
Redox, immune innate profiles, liver enzymes and histopathology. Aquaculture 2019, 501,
14–21. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Pereira, G.A.; Copatti, C.E.;
Rocha, A.D.S.; Marchão, R.S.; de Santana, A.S.; Rocha, D.R.; Costa, M.M.;
Almeida, J.R.G.S.; Figueiredo, R.A.C.R.; Souza, A.M.; et al. Physiological
and growth responses of tambaqui (Colossoma macropomum) fed Croton
conduplicatus essential oil and challenged with Aeromonas
hydrophila. Vet. Res. Commun. 2025, 49,
58. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Pereira, I.L.; Costa, D.S.;
Dutra, S.A.P.; Cardoso, L.; Brasil, E.M.; Libanori, M.C.M.; Souza, A.P.;
Owatari, M.S.; Soligo, T.; Mouriño, J.L.P.; et al. Effects of dietary
supplementation with β-glucan-enriched complex and vitamin premix on the
growth performance, organ integrity, and intestinal histomorphometric
parameters of Nile tilapia. Aquac. Int. 2024, 32,
9587–9605. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Pereira Júnior, J.D.A.; Costa,
D.S.; Silva, A.D.S.D.; Santos, G.G.D.; Santos, A.F.L.D.; Silva, A.D.C.D.;
Couto, M.V.S.; Cordeiro, C.A.M.; Martins, M.L.; Sousa, N.D.C. Enriched
diet with orange essential oil Citrus sinensis for
tambaqui Colossoma macropomum promotes growth performance
and resistance against Aeromonas hydrophila. J. Fish
Dis. 2025, 48, e14039. [Google
Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Ramos, L.R.; Pedrosa, V.F.;
Mori, A.; Andrade, C.F.D.; Romano, L.A.; Abreu, P.C.; Tesser, M.B.
Exogenous enzyme complex prevents intestinal soybean meal-induced
enteritis in Mugil liza (Valenciennes, 1836)
juvenile. An. Acad. Bras. Ciênc. 2017, 89,
341–353. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Sá, L.S.D.; Jerônimo, G.T.;
Soligo, T.; Yamashita, E.; Machado Fracalossi, D.; Martins, M.L.; Mouriño,
J.L.P. The zootechnical performance, health state modulation, morphology,
and intestinal microbiome of nile tilapia juveniles fed with a functional
blend of immunostimulants associated with a diet high in soybean
meal. Fishes 2024, 9, 212. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Santos, G.G.; Libanori,
M.C.M.; Pereira, S.A.; Ferrarezi, J.V.S.; Ferreira, M.B.; Soligo, T.A.;
Yamashita, E.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. Probiotic mix of Bacillus spp.
and benzoic organic acid as growth promoter against Streptococcus
agalactiae in Nile tilapia. Aquaculture 2023, 566,
739212. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Silva, V.F.; Tedesco, M.;
Fontes, S.T.; Owatari, M.S.; Gatto, Y.M.G.; Ferreira, M.B.; Santos, P.C.;
Costa, G.A.C.; Palmieri, A.F.; Santos, G.G.; et al. Effects of
supplementation with different zinc-based products on the growth and
health of Nile tilapia. Fish Shellfish Immunol. 2024, 149,
109534. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Scheuer, F.; Owatari, M.S.;
Brasil, E.M.; Sterzelecki, F.C.; Wagner, R.; Xavier, A.C.; Soiza, M.P.;
Monteiro, C.R.; Magnotti, C.; Fracalossi, D.M.; et al. Dietary enrichment
with fish oil improved n–3 LC-PUFA profile in aquacultured Sardinella
brasiliensis fillet. J. Food Compos. Anal. 2024, 127,
105978. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Valenti, W.C.; Barros, H.P.;
Moraes-Valenti, P.; Bueno, G.W.; Cavalli, R.O. Aquaculture in Brazil:
Past, present and future. Aquac. Rep. 2021, 19,
100611. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Ramos, L.R.V.; Romano, L.A.;
Monserrat, J.M.; Abreu, P.C.; Verde, P.E.; Tesser, M.B. Biological
responses in mullet Mugil liza juveniles fed with guar
gum supplemented diets. Anim. Feed Sci. Technol. 2015, 205,
98–106. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Ramos, L.R.V.; Monserrat,
J.M.; Romano, L.A.; Sampaio, L.A.; Abreu, P.C.; Tesser, M.B. Effects of
supplementing the diets of Mugil liza Valenciennes, 1836
juveniles with citrus pectin. J. Appl. Ichthyol. 2015, 31,
362–369. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Noffs, A.P.; Tachibana, L.;
Santos, A.A.; Ranzani-Paiva, M.J.T. Common snook fed in alternate and
continuous regimens with diet supplemented with Bacillus subtilis probiotic. Pesqui.
Agropecu. Bras. 2015, 50, 267–272. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Silva, B.C.; Dutra-Mourino,
S.; Mourino, J.L.P.; Carvalho, C.; Cerqueira, V.R. Performance of Centropomus
parallelus fingerlings fed a diet supplemented with citrate and
acetate. Bol. Inst. Pesca 2016, 42,
65–72. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Castro, J.; Magnotti, C.;
Angelo, M.; Sterzelecki, F.; Pedrotti, F.; Oliveira, M.F.; Soligo, T.;
Fracalossi, D.; Cerqueira, V.R. Effect of ascorbic acid supplementation on
zootechnical performance, haematological parameters and sperm quality of
lebranche mullet Mugil liza. Aquac. Res. 2019, 50,
3267–3274. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Cohen, F.P.; Valenti, W.C.;
Calado, R. Traceability issues in the trade of marine ornamental
species. Rev. Fish. Sci. 2013, 21,
98–111. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Calado, R.; Olivotto, I.;
Oliver, M.P.; Holt, G.J. (Eds.) Marine Ornamental Species
Aquaculture; Wiley Blackwell: Hoboken, NJ, USA, 2017; p. 720. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Biondo, M.V.; Burki, R.P. A
systematic review of the ornamental fish trade with emphasis on coral reef
fishes—An impossible task. Animals 2020, 10,
2014. [Google
Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Conceição, L.E.; Aragão, C.;
Richard, N.; Engrola, S.; Gavaia, P.; Mira, S.; Dias, J. Novel
methodologies in marine fish larval nutrition. Fish Physiol.
Biochem. 2010, 36, 1–16. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Moorhead, J.A.; Zeng, C.
Development of captive breeding techniques for marine ornamental fish: A
review. Rev. Fish. Sci. 2010, 18,
315–343. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Blanton, M.L.; Specker, J.L.
The hypothalamic-pituitary-thyroid (HPT) axis in fish and its role in fish
development and reproduction. Crit. Rev. Toxicol. 2007, 37,
97–115. [Google
Scholar] [CrossRef]
- De Jesus, E.G.T.; Toledo,
J.D.; Simpas, M.S. Thyroid hormones promote early metamorphosis in grouper
(Epinephelus coioides) larvae. Gen. Comp. Endocrinol. 1998, 112,
10–16. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Brown, C.L.; Urbinati, E.C.;
Zhang, W.; Brown, S.B.; McComb-Kobza, M. Maternal thyroid and
glucocorticoid hormone interactions in larval fish development, and their
applications in aquaculture. Rev. Fish. Sci. Aquac. 2014, 22,
207–220. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Huang, L.; Specker, J.L.;
Bengtson, D.A. Effect of triiodothyronine on the growth and survival of
larval striped bass (Morone saxatilis). Fish Physiol.
Biochem. 1996, 15, 57–64. [Google
Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Power, D.M.; Llewellyn, L.;
Faustino, M.; Nowell, M.A.; Bjornsson, B.T.H.; Einarsdottir, I.E.;
Canario, A.V.M.; Sweeney, G.E. Thyroid hormones in growth and development
of fish. Comp. Biochem. Physiol. Part C Toxicol. Pharmacol. 2001, 130,
447–459. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Ferreira, D.R. Effect of the
Use of Probiotics and Different Enrichments on Artemia sp.
in the Cultivation of Juvenile Seahorses Hippocampus reidi.
Master’s Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina, Florianópolis,
Brazil, 2017; p. 68. Available online: https://repositorio.ufsc.br/xmlui/handle/123456789/179668 (accessed on 10 October
2024).
- Massucatto, A. Influence of
the Copepod Acartia sp. and Use of Probiotics in the
Early Stages of Cultivation of the Seahorse Hippocampus reidi.
Master’s Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina, Florianópolis,
Brazil, 2016; p. 60. Available online: https://repositorio.ufsc.br/xmlui/handle/123456789/174138 (accessed on 10 October
2024).
- Hoffmann, H. Pigmentation and
Growth of Amphiprion ocellaris Using Natural and
Synthetic Astaxanthin. Master’s Thesis, Federal University of Santa
Catarina, Florianópolis, Brazil, 2016; p. 60. Available online: https://repositorio.ufsc.br/xmlui/handle/123456789/175304 (accessed on 10 October
2024).
- Souza, A.P.L.; Ferreira, T.H.;
Mouriño, J.L.P.; Martins, M.L.; Magalhaes, A.R.M.; Tsuzuki, M.Y. Use of
Artemia supplemented with exogenous digestive enzymes as sole live food
increased survival and growth during the larviculture of the longsnout
seahorse Hippocampus reidi. Aquac. Nutr. 2020, 26,
964–977. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Moraes, H.R.L. Effect of
Porcine Pancreatin Supplementation in Live Feed (Artemia sp.)
on Zootechnical Performance and Digestive Enzyme Activity of Larvae of the
Clownfish Amphiprion ocellaris (Cuvier, 1830). Master’s
Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina, Florianópolis, Brazil,
2020; p. 53. Available online: https://repositorio.ufsc.br/handle/123456789/216513 (accessed on 10 October
2024).
- Ricardo, A.C.A. Blend of
Organic Acids on Zootechnical Performance, Intestinal Histomorphology and
Digestive Enzyme Activity of Juvenile Clownfish Amphiprion
ocellaris (CUVIER, 1830). Master’s Thesis, Universidade Federal
de Santa Catarina, Florianópolis, Brazil, 2020; p. 48. Available
online: https://repositorio.ufsc.br/handle/123456789/216550 (accessed on 10 October
2024).
- Mélo, R.C.S.; Santos,
L.P.D.S.; Brito, A.P.M.; Gouveia, A.D.A.; Marçal, C.; Cavalli, R.O. Use of
the microalga Nannochloropsis occulata in the rearing of
newborn longsnout seahorse Hippocampus reidi (Syngnathidae)
juveniles. Aquac. Res. 2016, 47,
3934–3941. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Sousa, E.M.O.; de Oliveira,
N.Y.; da Silva, I.A.; Ozório, R.Á.; Lopes, E.M.; Martins, M.L.; Tsuzuki,
M.Y. Use of the microalgae Tisochrysis lutea in a “green
water” system increases the absorption area in the intestine of larvae of
the seahorse Hippocampus reidi Ginsburg, 1933. Fish
Physiol. Biochem. 2025, 51, 20. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Sales, R.; Mélo, R.C.S.;
Moraes Junior, R.M.; Silva, R.C.S.; Cavalli, R.O.; Navarro, D.M.D.A.F.;
Santos, L.P.S. Production and use of a flocculated paste of Nannochloropsis
oculata for rearing newborn seahorse Hippocampus reidi. Algal
Res. 2016, 17, 142–149. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Rodrigues, G.D. Effect of the
Inclusion of Microalgae Extracts Rich in Fatty Acids and Carotenoids in
Diets on the Zootechnical Performance and Coloration of Clownfish (Amphiprion
ocellaris). Master’s Thesis, Universidade Federal de Santa Catarina,
Florianópolis, Brazil, 2022; p. 55. Available online: https://repositorio.ufsc.br/handle/123456789/247498 (accessed on 10 October
2024).
- Lanes, C.F.; Pedron, F.A.;
Bergamin, G.T.; Bitencourt, A.L.; Dorneles, B.E.; Villanova, J.C.; Dias,
K.C.; Riolo, K.; Oliva, S.; Savastano, D.; et al. Black Soldier Fly (Hermetia
illucens) larvae and prepupae defatted meals in diets for zebrafish (Danio
rerio). Animals 2021, 11, 720. [Google
Scholar] [CrossRef] [PubMed]
- Gomes, J.G.C.; Okano, M.T.;
Ursini, E.L.; Santos, H.D.C.L.D. Insect production for animal feed: A
multiple case study in Brazil. Sustainability 2023, 15,
11419. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Araújo-Silva, S.L.; Castro,
M.A.M.; Mendes, R.E.; Pelisser, G.; Rocha, V.M.; Ferrarezi, J.V.S.;
Ozório, R.Á.; Tsuzuki, M.Y. First report of thyroid goiter in the marine
ornamental fish Gramma brasiliensis. Braz. J. Vet.
Med. 2024, 46, e003624. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Araújo-Silva, S.L. (Federal
University of Santa Catarina, Florianópolis, SC, Brazil). Personal
communication, 2025.
- Santos, I.L.; Carneiro,
R.F.S.; de Morais, A.P.M.; Martins, M.A.; Seiffert, W.Q.; Vieira,
F.N. Ulva ohnoi as a feed additive for Pacific white
shrimp post-larvae cultured in a biofloc system. Aquac. Int. 2024, 32,
8809–8822. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Rezende, P.C.; Miranda, C.;
Fracalossi, D.M.; Hayashi, L.; Seiffert, W.Q.; Vieira, F.N.; Schleder,
D.D. Brown seaweeds as a feed additive for Litopenaeus vannamei reared
in a biofloc system improved resistance to thermal stress and white spot
disease. J. Appl. Phycol. 2022, 34,
2603–2614. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Rezende, P.C.; Soares, M.;
Guimarães, A.M.; Coelho, J.R.; Seiffert, W.Q.; Schleder, D.D.; Vieira,
F.N. Brown seaweeds added in the diet improved the response to thermal
shock and reduced Vibrio spp. in pacific white shrimp
post-larvae reared in a biofloc system. Aquac. Res. 2021, 52,
2852–2861. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Borges, E.P.; Machado, L.P.;
Louzã, A.C.; Ramaglia, A.C.; Santos, M.R.; Augusto, A. Physiological
effects of feeding whiteleg shrimp (Penaeus vannamei) with the
fresh macroalgae Chaetomorpha clavata. Aquac. Rep. 2024, 37,
102222. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Mariot, L.V.; Bolívar, N.;
Coelho, J.D.R.; Goncalves, P.; Colombo, S.M.; Vieira, F.N.; Schleder,
D.D.; Hayashi, L. Diets supplemented with carrageenan increase the
resistance of the Pacific white shrimp to WSSV without changing its growth
performance parameters. Aquaculture 2021, 545,
737172. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Costa, D.P.; Miranda-Filho,
K.C. The use of carotenoid pigments as food additives for aquatic
organisms and their functional roles. Rev. Aquac. 2020, 12,
1567–1578. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Pontes, M.D.; Campelo, D.A.V.;
Takata, R.; Oshiro, L.M.Y.; Castelar, B. Digestibility and
gastrointestinal transit of Ulva fasciata seaweed meal in
tilapia (Oreochromis niloticus) juveniles: Basis for the inclusion
of a sustainable ingredient in aquafeeds. Res. Soc. Dev. 2020, 9,
e3889108497. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Costa, M.M.; Oliveira, S.T.L.;
Balen, R.E.; Bueno Junior, G.; Baldan, L.T.; Silva, L.C.R.; Santos, L.D.
Brown seaweed meal to Nile tilapia fingerlings. Arch. Zootec. 2013, 62,
101–109. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Mendonça, A.J.C.D.; Rosas,
V.T.; Monserrat, J.M.; Romano, L.A.; Tesser, M.B. The inclusion of
algae Gracilaria domingensis in the diet of mullet
juveniles (Mugil liza) improves the immune response. J.
Appl. Aquac. 2019, 31, 210–223. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Siddik, M.A.; Francis, P.;
Rohani, M.F.; Azam, M.S.; Mock, T.S.; Francis, D.S. Seaweed and
Seaweed-Based Functional Metabolites as Potential Modulators of Growth,
Immune and Antioxidant Responses, and Gut Microbiota in Fish. Antioxidants 2023, 12,
2066. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Cian, R.E.; Bacchetta, C.;
Rossi, A.; Cazenave, J.; Drago, S.R. Red seaweed Pyropia columbina as
antioxidant supplement in feed for cultured juvenile Pacú (Piaractus
mesopotamicus). J. Appl. Phycol. 2019, 31,
1455–1465. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Calheiros, A.C.; Reis, R.P.;
Castelar, B.; Cavalcanti, D.N.; Teixeira, V.L. Ulva spp.
as a natural source of phenylalanine and tryptophan to be used as
anxiolytics in fish farming. Aquaculture 2019, 509,
171–177. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Peixe BR—Brazilian Association
of Pisciculture. Brazilian Pisciculture Yearbook; Edition
2024; Peixe BR: São Paulo, Brazil, 2024; p. 63. Available online: https://www.peixebr.com.br/anuario/ (accessed on 4 January
2025).
- Romaneli, R.D.S.; Silva,
M.F.O.D.; Masagounder, K.; Fernandes, J.B.K.; Fracalossi, D.M. Formulation
strategy to reach a balance among dietary essential amino acids for Nile
tilapia juveniles. Sci. Agric. 2024, 81,
e20230137. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Gandolpho, B.C.G.; Almeida,
A.D.R.; Gandolpho, G.D.M.; Gasparini, O.C.; Ferreira, B.L.; Zanetti,
M.B.R.; Vitali, L.; Block, J.M.; Owatari, M.S.; Mouriño, J.L.P.; et al.
Trub, a Brewing Byproduct, Is an Innovative and Valuable Source of
Nutrients and Natural Antioxidants Viable for Fish Dietary
Supplementation. J. Am. Soc. Brew. Chem. 2025, 83,
1–11. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Costa, D.S.; Dutra, S.A.P.;
Pereira, I.L.; Cardoso, L.; Medeiros, P.B.; Riofrio, L.V.P.; Libanori,
M.C.M.; Soligo, T.; Yamashita, E.; Pereira, U.P.; et al.
Hematoimmunological responses of juvenile Nile tilapia (Oreochromis
niloticus) receiving the dietary supplementation of immunomodulators
and different levels of vitamins after challenge with physical
stress. Braz. J. Vet. Med. 2024, 46,
e001124. [Google
Scholar] [CrossRef]
[PubMed]
- Ventura, A.S.; Corrêa Filho,
R.A.C.; Cardoso, C.A.L.; Stringhetta, G.R.; Oliveira Brasileiro, L.;
Ribeiro, J.S.; Pereira, S.A.; Jerônimo, G.T.; Povh, J.A. Ocimum
basilicum essential oil in pacu Piaractus mesopotamicus:
Anesthetic efficacy, distribution, and depletion in different
tissues. Vet. Res. Commun. 2024, 48,
685–694. [Google
Scholar] [CrossRef]
- Pereira, S.A.; Jesus, G.F.;
Pereira, G.V.; Silva, B.C.; Sá, L.S.; Martins, M.L.; Mouriño, J.L.P. The
chelating mineral on organic acid salts modulates the dynamics and
richness of the intestinal microbiota of a silver catfish Rhamdia
quelen. Curr. Microbiol. 2020, 77,
1483–1495. [Google
Scholar] [CrossRef]
SUMBER:
Aline
Brum, Caio Magnotti, Mônica Yumi Tsuzuki, Elen Monique de Oliveira Sousa, José
Luiz Pedreira Mouriño, Maurício Laterça Martins, Rafael Garcia Lopes, Roberto
Bianchini Derner and Marco Shizuo Owatari. 2025. Pivotal Roles of Fish
Nutrition and Feeding: Recent Advances and Future Outlook for Brazilian Fish
Farming.
Fishes2025,10(2),
47;https://doi.org/10.3390/fishes10020047
