Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, 27 March 2026

Impor Kakao RI Meledak hingga Rp26 Triliun! Alarm Keras dari Presiden Prabowo untuk Masa Depan Industri Nasional

 

Impor Kakao Indonesia Meledak: Mengurai Masalah Struktural dan Arah Kebijakan

 

RINGKASAN EKSEKUTIF

 

Sorotan Presiden Prabowo Subianto terhadap lonjakan impor kakao menegaskan adanya persoalan struktural dalam industri kakao nasional. Meskipun Indonesia masih memproduksi sekitar 600.000 ton kakao per tahun, impor justru meningkat tajam hingga mencapai US$1,7 miliar pada 2025. Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan antara sektor hulu dan hilir, stagnasi produktivitas, serta lemahnya daya saing industri pengolahan domestik. Tanpa intervensi kebijakan yang komprehensif, Indonesia berisiko beralih dari eksportir bersih menjadi negara yang bergantung pada impor kakao.

 

LATAR BELAKANG

 

Indonesia merupakan salah satu produsen kakao utama dunia. Namun, dalam dua dekade terakhir, industri kakao nasional menghadapi tantangan serius:

  • Penyusutan lahan perkebunan kakao
  • Dominasi perkebunan rakyat dengan produktivitas rendah
  • Stagnasi ekspor
  • Lonjakan impor yang signifikan

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan luas areal kakao menurun dari lebih dari 1,7 juta hektare (2012) menjadi sekitar 1,36 juta hektare (2024). Sementara itu, impor terus meningkat dan hampir menyamai ekspor.

 

PERMASALAHAN UTAMA

 

1. Penyusutan Lahan dan Produktivitas Rendah

  • Penurunan luas lahan mencerminkan minimnya peremajaan tanaman
  • Tanaman tua menyebabkan produktivitas menurun
  • 90% kebun dikelola petani kecil sehingga keterbatasan akses modal, teknologi, dan pendampingan

2. Stagnasi Ekspor

  • Volume ekspor relatif stagnan (330–609 ribu ton selama 20 tahun)
  • Ketergantungan pada ekspor bahan mentah (raw beans)

3. Lonjakan Impor

  • Impor melonjak signifikan sejak 2014
  • Tahun 2025: ±195 ribu ton (US$1,7 miliar)
  • Sumber utama: Ekuador dan Afrika Barat

4. Ketimpangan Hulu–Hilir

  • Indonesia kuat di produksi (hulu), lemah di pengolahan (hilir)
  • Nilai tambah dinikmati negara pengolah
  • Pasar domestik didominasi produk cokelat impor

5. Tekanan Harga Global

  • Harga kakao global melonjak (2024):
    • Ekspor: ±US$7,6/kg
    • Impor: ±US$6,1/kg
  • Selisih harga menyempit → indikasi penurunan daya saing

 

ANALISIS KEBIJAKAN

 

Fenomena meningkatnya impor kakao bukan sekadar masalah produksi, tetapi mencerminkan:

  • Kegagalan transformasi struktural dari ekonomi berbasis komoditas mentah ke industri bernilai tambah
  • Fragmentasi rantai pasok, khususnya antara petani dan industri
  • Keterbatasan industrialisasi sektor agro

Indonesia menghadapi “middle trap” dalam industri kakao: kuat sebagai produsen bahan baku, namun lemah sebagai produsen produk olahan bernilai tinggi.

 

OPSI KEBIJAKAN

 

1. Revitalisasi Perkebunan Kakao

  • Program peremajaan tanaman (replanting) berbasis klon unggul
  • Insentif fiskal bagi petani kecil
  • Penguatan penyuluhan dan pendampingan teknis

2. Penguatan Industri Hilir

  • Insentif investasi industri pengolahan kakao domestik
  • Pengembangan kawasan industri kakao terpadu
  • Kebijakan hilirisasi berbasis nilai tambah

3. Reformasi Tata Niaga

  • Penguatan kemitraan petani–industri
  • Transparansi harga dan rantai distribusi
  • Pengendalian impor berbasis kebutuhan industri

4. Diversifikasi Produk dan Pasar

  • Pengembangan produk turunan kakao (cokelat premium, kosmetik, farmasi)
  • Promosi ekspor produk olahan bernilai tinggi

5. Peningkatan Daya Saing Petani

  • Akses pembiayaan (KUR sektor perkebunan)
  • Digitalisasi pertanian
  • Sertifikasi mutu dan keberlanjutan

 

REKOMENDASI UTAMA

 

  1. Prioritaskan program nasional peremajaan kakao untuk meningkatkan produktivitas
  2. Dorong hilirisasi industri kakao secara agresif melalui insentif fiskal dan regulasi
  3. Batasi impor secara selektif untuk melindungi produksi domestik tanpa mengganggu industri
  4. Bangun ekosistem kemitraan petani–industri yang berkelanjutan
  5. Perkuat riset dan inovasi dalam pengolahan kakao dan diversifikasi produk

 

IMPLIKASI KEBIJAKAN

 

Tanpa reformasi struktural, Indonesia berisiko:

  • Kehilangan status sebagai eksportir bersih kakao
  • Meningkatnya ketergantungan impor
  • Hilangnya potensi nilai tambah ekonomi domestik

Sebaliknya, dengan kebijakan yang tepat, Indonesia berpotensi menjadi pusat industri kakao bernilai tambah tinggi di kawasan Asia.

 

DAFTAR REFERENSI

 

  1. Zahira A. Impor kakao RI meledak, masalahnya memang rumit. CNBC Indonesia. 2026 Mar 26.
  2. Badan Pusat Statistik. Statistik kakao Indonesia 2003–2024. Jakarta: BPS; 2025.
  3. Badan Pusat Statistik. Statistik perdagangan luar negeri Indonesia: ekspor dan impor kakao. Jakarta: BPS; 2024.
  4. Food and Agriculture Organization. FAOSTAT: Crops and livestock products—cocoa beans. Rome: FAO; 2025.
  5. International Cocoa Organization. Quarterly bulletin of cocoa statistics. London: ICCO; 2024.
  6. International Cocoa Organization. Cocoa market report 2024. London: ICCO; 2024.
  7. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Statistik perkebunan Indonesia: kakao 2023–2025. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan; 2025.
  8. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Laporan kinerja perdagangan komoditas kakao. Jakarta: Kemendag; 2024.
  9. Neilson J, Pritchard B. Value chain struggles: institutions and governance in the plantation districts of South Sulawesi, Indonesia. World Dev. 2009;37(8):1296–1312.
  10. Fold N, Neilson J. Global value chains and producer livelihoods: the case of Indonesian cocoa. Dev Policy Rev. 2016;34(3):357–379.
  11. Akiyama T, Nishio Z. Indonesia’s cocoa sector: challenges and policy options. World Bank Policy Note. Washington DC: World Bank; 2019.
  12. World Bank. Commodity markets outlook: cocoa. Washington DC: World Bank; 2024.


#ImporKakao 
#IndustriKakao 
#KebijakanPublik 
#Hilirisasi 
#EkonomiIndonesia

Waspada! SFTS Sudah Menyebar di Asia Timur—Apakah Indonesia Benar-Benar Aman?

 

Sebaran Negara Terdampak SFTS dan Situasi di Indonesia

 

Penyakit Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) pertama kali diidentifikasi di China pada tahun 2009, dan sejak itu dilaporkan menyebar ke beberapa negara di kawasan Asia Timur. Hingga saat ini, negara-negara yang telah melaporkan kasus SFTS pada manusia meliputi:

  • China → negara dengan jumlah kasus terbanyak dan pusat awal identifikasi penyakit
  • Japan → melaporkan kasus dengan tingkat fatalitas yang cukup tinggi
  • South Korea → kasus meningkat sejak pertama kali dilaporkan pada 2013


Selain ketiga negara utama tersebut, keberadaan virus SFTS (SFTSV) atau antibodinya juga pernah terdeteksi pada hewan atau vektor di beberapa wilayah lain di Asia, seperti:

  • Vietnam
  • Taiwan
  • Thailand

Namun, penting dicatat bahwa tidak semua negara tersebut telah melaporkan kasus klinis pada manusia secara luas—sebagian masih berupa temuan surveilans atau penelitian.

 

Bagaimana dengan Indonesia?


Hingga saat ini, Indonesia belum secara resmi melaporkan kasus konfirmasi SFTS pada manusia. Artinya, penyakit ini belum dinyatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Namun demikian, ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian:


  1. Potensi Risiko Tetap Ada

Indonesia memiliki iklim tropis yang mendukung keberadaan berbagai jenis caplak, termasuk yang secara ekologis berkerabat dengan vektor SFTS seperti Haemaphysalis longicornis. Meskipun spesies ini belum dilaporkan luas di Indonesia, keberadaan caplak lain membuka kemungkinan adanya siklus virus serupa.


  1. Mobilitas Global dan Perdagangan Hewan

Pergerakan manusia, hewan, dan produk hewan antarnegara dapat menjadi jalur masuk penyakit baru. Dalam konteks ini, Indonesia tetap berisiko terhadap introduksi SFTS dari negara endemik.


  1. Perlu Penguatan Surveilans

Karena gejala SFTS (demam, trombositopenia) mirip dengan penyakit lain seperti dengue, ada kemungkinan kasus tidak terdeteksi jika tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium spesifik.


Kesimpulan


Saat ini, SFTS masih terbatas terutama di kawasan Asia Timur, khususnya China, Japan, dan South Korea. Meskipun Indonesia belum melaporkan kasus, kewaspadaan tetap diperlukan melalui pendekatan One Health, termasuk penguatan surveilans, monitoring vektor, dan edukasi masyarakat.


Daftar Pustaka


  1. World Health Organization. Severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS) [Internet]. Geneva: WHO; 2023 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.who.int
  2. Centers for Disease Control and Prevention. Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) [Internet]. Atlanta: CDC; 2024 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.cdc.gov
  3. European Centre for Disease Prevention and Control. Severe fever with thrombocytopenia syndrome: factsheet [Internet]. Stockholm: ECDC; 2022 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.ecdc.europa.eu
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI; 2023 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.kemkes.go.id
  5. World Organisation for Animal Health. Emerging zoonotic diseases: SFTS situation reports [Internet]. Paris: WOAH; 2023 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.woah.org
  6. Yu Xue-jie, Liang MF, Zhang SY, Liu Y, Li JD, Sun YL, et al. Fever with thrombocytopenia associated with a novel bunyavirus in China. N Engl J Med. 2011;364(16):1523–32.
  7. Takahashi Tomohiko, Maeda K, Suzuki T, Ishido A, Shigeoka T, Tominaga T, et al. The first identification and retrospective study of severe fever with thrombocytopenia syndrome in Japan. J Infect Dis. 2014;209(6):816–27.
  8. Kim Ki-Joon, Yi J, Kim G, Choi SJ, Jun KI, Kim NH, et al. Severe fever with thrombocytopenia syndrome, South Korea, 2012. Emerg Infect Dis. 2013;19(11):1892–4.
  9. Food and Agriculture Organization. Ticks and tick-borne diseases in Asia: emerging threats [Internet]. Rome: FAO; 2022 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.fao.org
  10. National Institute of Infectious Diseases Japan. SFTS surveillance updates in Japan [Internet]. Tokyo: NIID; 2023 [cited 2026 Mar 27]. Available from: https://www.niid.go.jp

 

#SFTS 

#Zoonosis 

#OneHealth 

#KesehatanGlobal 

#WaspadaPenyakit

Mengkhawatirkan! 20% Sapi Betina di Indonesia Terinfeksi Chlamydophila abortus, Ini Temuan Lengkapnya

 

Kajian Serologis Chlamydophila abortus pada Sapi Betina di Beberapa Wilayah Indonesia Tahun 2011

 

Meutia Hayati¹, Neneng Atikah¹, Ahmad Maizir¹, dan Syaefurrosad¹

¹Unit Uji Bakteriologi, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH), Gunungsindur, Bogor 16340

 

ABSTRAK

 

Pada tahun 2010–2011, Unit Uji Bakteriologi BBPMSOH melakukan kajian untuk mengetahui tingkat kejadian Chlamydophila abortus pada sapi betina di beberapa provinsi di Indonesia. Kajian seroprevalensi tahun 2011 dilakukan di 18 kabupaten yang tersebar pada 9 provinsi. Dari setiap kabupaten diambil 10 sampel serum sapi betina, sehingga total sampel sebanyak 180. Pengambilan sampel dilakukan pada periode Juni hingga Agustus 2011.

Pengujian dilakukan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil pengujian menunjukkan bahwa 36 sampel (20%) positif, 8 sampel (4,4%) suspect, dan 136 sampel (75,6%) negatif terhadap antibodi C. abortus. Prevalensi positif pada masing-masing kabupaten berkisar antara 0–50%.

Kata kunci: Chlamydophila abortus, sapi betina, ELISA, abortus

 

ABSTRACT

 

The seroprevalence of Chlamydophila abortus in cows was investigated by the Bacteriology Unit of BBPMSOH in several provinces of Indonesia during 2010–2011. In 2011, the study was conducted in 18 districts across 9 provinces, with 10 serum samples collected from cows in each district between June and August 2011.

A total of 180 serum samples were tested using the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method. The results showed that 36 samples (20%) were positive, 8 samples (4.4%) were suspected, and 136 samples (75.6%) were negative for C. abortus antibodies. The proportion of positive cases ranged from 0% to 50% among districts.

Keywords: Chlamydophila abortus, cows, ELISA, abortion

 

PENDAHULUAN

 

Chlamydophila abortus merupakan bakteri anggota famili Chlamydiaceae yang bersifat intraseluler obligat, Gram negatif, berukuran 250–300 nm, dan tidak motil (Everett et al., 1999). Bakteri ini dikenal sebagai penyebab epizootic bovine abortion pada ruminansia, termasuk sapi, kambing, dan domba.

 

Gejala klinis infeksi meliputi vaginitis, endometritis, repeat breeding, abortus pada kebuntingan 4–9 bulan, kelahiran mati (stillbirth), serta retensi plasenta (Dian et al., 2007). Selain itu, juga dilaporkan adanya manifestasi lain seperti pneumonia, enteritis, poliarthritis, dan ensefalitis (Godin et al., 2008).

 

Kasus abortus akibat C. abortus telah dilaporkan di berbagai negara. Di Belgia, bakteri ini menjadi salah satu penyebab abortus selain Brucella, Toxoplasma, dan Neospora (Vercammen et al., 2004). Temuan serupa juga dilaporkan di Turki dan Swiss, di mana C. abortus merupakan salah satu agen penting penyebab abortus pada ruminansia (Otlu et al., 2007).

 

Di Indonesia, kajian awal seroprevalensi C. abortus dilakukan pada tahun 2010 di enam provinsi menggunakan metode ELISA, dengan hasil 25% positif, 15% suspect, dan 60% negatif. Kajian tersebut merupakan laporan awal keberadaan C. abortus di Indonesia.

 

Sebagai tindak lanjut, pada tahun 2011 dilakukan pengkajian lanjutan untuk mengetahui distribusi seroprevalensi C. abortus di wilayah lain, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai sebaran infeksi di Indonesia.

 

MATERI DAN METODE

 

Sampel Serum


Sampel berupa serum darah sapi betina, baik sapi potong maupun sapi perah, yang berasal dari peternakan rakyat di 18 kabupaten pada 9 provinsi. Dari setiap kabupaten diambil 10 sampel, sehingga total sampel sebanyak 180. Pengambilan sampel dilakukan pada periode Juni–Agustus 2011.

 

Uji Serologis


Uji Serologis Pengujian ELISA dilakukan di Laboratorium Bakteriologi terhadap seratus delapan puluh sampel serum sapi. Pengujian serologis dengan menggunakan uji serologis ELISA kit komersial dari Idexx, Laboratories Inc, USA. Metode yang digunakan adalah indirect ELISA, dimana prosedur yang dilakukan sesuai dengan petunjuk pada kit ELISA. Sampel serum dan kontrol diencerkan dengan wash solution dengan perbandingan 1:400. Kemudian 100 µl sampel serum dan kontrol yang telah diencerkan diteteskan pada micro plate wells. Plate diinkubasi selama 60 menit (± 5 menit) pada suhu 37°C. Setelah diinkubasi, plate dibilas dengan wash solution 300 µl sebanyak 3 kali. Chekit-Chlamydia-Anti ruminat IgG-PO konjugat diteteskan sebanyak 100 µl setiap well dan inkubasikan selama 60 menit (± 5 menit) pada suhu 37°C. Lalu plate dibilas dengan wash solution 300 µl sebanyak 3x. Chekit TMB-Substrat diteteskan sebanyak 100 µl pada setiap well dan diinkubasikan pada suhu ruang selama 15 menit. Hentikan reaksi warna dengan penambahan 100 µl Chekit stop solution pada setiap well. Hasil pembacaan ELISA reader dengan panjang gelombang 450 nm dianalisis dengan rumus sebagai berikut:

S/P (Sampel ke positif) ratio (%)= OD sampel-OD negatif x 100 % OD positif- OD negative

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Interpretasi hasil pembacaan ELISA Reader dilakukan dengan cara sebagai berikut: sampel dinyatakan positif jika S/P ratio (dalam persen) ≥ 40%, jika S/P ratio antara ≥ 30 - ≤ 40%dinyatakan suspect dan sampel dinyatakan negatif apabila S/P ratio < 30%.

 

Hasil dari pengujian terhadap 180 sampel darah sapi dapat dilihat pada Tabel 1. Dari tabel tersebut terlihat bahwa Kabupaten Samarinda di Kalimantan Timur memiliki kasus positif dan suspect yang tertinggi yaitu sebanyak 50%, dan kasus terendah ditemukan di Kabupaten Alawahu, Gorontalo; Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan; Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat; dan Kabupaten Tidore, Maluku Utara yaitu sebanyak 0%. Akan tetapi terlihat bahwa semua propinsi memiliki kasus positif C. abortus dan jika dilihat dari keseluruhan populasi diperoleh hasil yang cukup besar yaitu sebanyak 20%.

 

Tabel 1. Hasil Uji Serologis Serum Darah Sapi

No

Provinsi

Kabupaten

Positif

Suspect

Negatif

Jumlah

1

Gorontalo

Bone Bulango

3

0

7

10

2

Gorontalo

Alawahu

0

0

10

10

3

Sulawesi Selatan

Pinrang

2

1

7

10

4

Sulawesi Selatan

Sidrap

0

0

10

10

5

Kalimantan Barat

Kuburaya

1

0

9

10

6

Kalimantan Barat

Pontianak

0

0

10

10

7

Kalimantan Timur

Kutai

4

1

5

10

8

Kalimantan Timur

Samarinda

5

1

4

10

9

Kalimantan Tengah

Katingan

3

1

6

10

10

Kalimantan Tengah

Palangkaraya

4

1

5

10

11

Sulawesi Tenggara

Konawe

3

0

7

10

12

Sulawesi Tenggara

Kolaka

1

1

8

10

13

Sulawesi Utara

Minahasa Selatan

1

0

9

10

14

Sulawesi Utara

Minahasa

4

0

6

10

15

Sulawesi Tengah

Peridi Montong

1

2

7

10

16

Sulawesi Tengah

Donggala

2

0

8

10

17

Maluku Utara

Tidore

0

0

10

10

18

Maluku Utara

Ternate

2

0

8

10

Total (%)

36 (20%)

8 (4,4%)

136 (75,6%)

180

 

Selama ini kasus C. abortus di Indonesia masih jarang diteliti, akan tetapi dari hasil yang diperoleh dari pengkajian Laboratorium Bakteriologi BBPMSOH 2010-2011, diperoleh hasil yang cukup signifikan akan keberadaan kasus C. abortus di Indonesia. Pertumbuhan bakteri C. abortus dapat dihambat oleh antibiotik seperti tetrasiklin dan erithromisin. Sampai sekarang informasi tentang resistensi C. abortus terhadap antibiotik belum banyak diamati (6).

 

Sampel serum sapi yang diambil juga dilakukan pengujian terhadap Brucella abortus dan Coxiella burnetti menggunakan ELISA kit. Dari pengujian serum tersebut diperoleh hasil bahwa keberadaan penyakit tersebut pada sampel serum yang diuji adalah negatif. Terhadap kedua penyakit tersebut, sama-sama mengakibatkan kasus abortus dan gangguan reproduksi pada sapi. Fakta tersebut perlu dikaji lebih lanjut sehingga dapat diambil kebijakan yang lebih baik terhadap manajemen kesehatan peternakan sapi di Indonesia, dimana selama ini B. abortus masih dianggap sebagai penyebab kasus abortus terbesar.

 

SARAN


Dari studi yang dilakukan tahun 2010-2011 dapat disimpulkan bahwa tingkat kejadian C. abortus seharusnya sudah diperhatikan dengan serius, mengingat penyakit ini mempunyai gejala yang hampir sama dengan penyakit gangguan reproduksi lainnya. Perlu juga dipertimbangkan adanya vaksin untuk pencegahan penyakit C. abortus, disamping sanitasi di lingkungan kandang yang tetap dijaga kebersihannya. Adanya arus keluar masuk hewan dari dalam dan luar peternakan, penggunaan pejantan yang terinfeksi, pemisahan individu dalam satu kelompok kandang yang tidak sempurna, kondisi kandang dan sapi yang kotor, diidentifikasi meningkatkan resiko penularan C. abortus.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Chanton-Greutmann, H., Thoma, R., Corboz, L., Borel, N., & Pospichii, A. (2002). Abortion in small ruminants in Switzerland. Schweiz Arch Tierheilkd, 144(9), 483–492.


2.      Dian, R., Wulan, C. P., & Lukman, A. (2007). Petunjuk teknis penanganan gangguan reproduksi pada sapi potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.


3.      Everett, K. D. E., Bush, R. M., & Andersen, A. A. (1999). Emended description of the order Chlamydiales. International Journal of Systematic Bacteriology, 49, 415–440.


4.      Godin, A., Bjorkman, C., Englund, S., Niskanen, R. K., & Alenius, S. (2008). Investigation of Chlamydophila spp. in dairy cows. Acta Veterinaria Scandinavica, 50(1), 39.


5.      Kaltenboeck, B., Heard, D., DeGraves, F. J., & Schmeer, N. (1997). ELISA detection of antibodies against abortigenic Chlamydia psittaci. Journal of Clinical Microbiology, 2293–2298.


6.      Kemmerling, K., Muller, U., Mielenz, M., & Sauerwein. (2003). Chlamydophila species in dairy farms. Journal of Dairy Science, 92(9), 4347–4354.


7.      McOrist, S. (2000). Obligate intracellular bacteria and antibiotic resistance. Trends in Microbiology, 8, 483.


8.      Otlu, S., Sahin, M., Unver, A., & Celebi, O. (2007). Detection of Brucella and Chlamydophila abortus. Bull Veterinary Institute Pulawy, 51, 493–495.


9.      Setiyono, A. (2005). Chlamydiosis sebagai zoonosis di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis.


10.  Vercammen, F., De Deken, R., & Brandt, J. (2004). Seroprevalence of abortive infectious agents. EAZWV Scientific Meeting.

 

#ChlamydophilaAbortus 

#Seroprevalensi 

#ELISA 

#KesehatanHewan 

#Zoonosis