Impor
Kakao RI Meledak, Masalahnya Memang Rumit
Ketergantungan
Indonesia terhadap kakao impor disorot Presiden Prabowo Subianto. Dibalik sorotan Prabowo, terdapat persoalan struktural
dalam industri dan pertanian kakao Indonesia, mulai dari penyempitan lahan, stagnasi
ekspor, dan lonjakan impor.
Dalam
diskusi bersama jurnalis dan ekonom di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor,
Jawa Barat, Prabowo mempertanyakan fenomena banyaknya impor kakao.
Indonesia
diperkirakan mengimpor kakao senilai US$ 1,1 miliar per tahun meski mampu memproduksi
600.000 ton per tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor lebih
besar. Menyempitnya lahan menjadi
salah satu faktornya.
Lahan Luas, Tapi Mulai Menyusut
Selama dua dekade terakhir, data luas areal perkebunan kakao
Indonesia yang dicatat oleh BPS menunjukkan tren yang tidak stabil. Setelah mencapai
puncaknya sekitar 2012 dengan luas lebih dari 1,7 juta hektare, angka ini terus
mengalami penurunan hingga sekitar 1,36 juta hektare pada 2024.
Sumber:
BPS
Penurunan
ini mencerminkan masalah klasik sektor perkebunan, seperti minimnya peremajaan yang
menyebabkan rendahnya produktivitas tanaman.
Yang menarik, lebih dari 90% kebun kakao dikelola oleh perkebunan
rakyat. Hal ini memberi sinyal bahwa tantangan utama berada di level petani kecil.
Ekspor Stagnan, Impor
Makin Dominan
Dari sisi perdagangan, Indonesia masih tercatat sebagai eksportir
kakao. Namun, jika dilihat lebih dalam, volumenya cenderung stagnan
di kisaran 330-609 ribu ton selama 20 tahun terakhir.
Sebaliknya,
impor menunjukkan tren yang jauh lebih agresif, terutama pada 2014 di mana impor
kakao melonjak tajam sebesar 121.6% dari impor 2013. Bahkan pada 2023, volume impor
hampir menyamai ekspor dengan selisih 462 ton saja, menandai titik kritis di mana
Indonesia nyaris kehilangan status sebagai eksportir bersih.
Tren Ekspor-Impor Kakao
2003–2024
Tren
perdagangan kakao Indonesia menunjukkan stagnasi ekspor dalam dua dekade terakhir,
sementara impor meningkat signifikan dan mendekati volume ekspor.
Meski
demikian, kakao yang diekspor Indonesia secara konsisten memiliki harga yang sedikit
lebih tinggi dibandingkan kakao impor.
Berdasarkan
perhitungan nilai terhadap volume, harga ekspor kakao Indonesia selama 2003-2023
berada di kisaran US$1,4-US$3,7 per kg, dengan rata-rata sekitar US$2,8 per kg.
Sementara
itu, harga kakao impor berada pada kisaran US$1,5-US$4,0 per kg, dengan rata-rata
sekitar US$2,66 per kg.
Perkembangan Harga Kakao
Ekspor dan Impor Indonesia (2003–2024)
Harga
kakao Indonesia cenderung lebih tinggi pada ekspor dibanding impor, namun selisih
keduanya semakin menyempit. Lonjakan tajam pada 2024 mencerminkan tekanan global
di pasar kakao.
Sumber:
BPS diolah.
Pada
2024, baik harga ekspor maupun impor mengalami lonjakan signifikan masing-masing
menjadi sekitar US$7,6 per kg dan US$6,1 per kg, mencerminkan tekanan global di
pasar kakao.
Tingginya
harga kakao Indonesia menunjukkan bahwa posisinya dalam rantai nilai global masih
ditopang oleh kualitas produk. Namun, peningkatan impor dengan harga yang semakin
mendekati harga ekspor mengindikasikan adanya kerentanan dalam daya saing tersebut.
Dari Produsen ke Import-Dependent?
Data
terbaru memperkuat arah pergeseran ini. Pada 2025, impor kakao Indonesia mencapai
hampir 195 ribu ton dengan nilai US$1,7 miliar atau sekitar Rp 28,7 triliun. Pasokan utamanya berasal dari negara-negara produsen
besar seperti Ekuador dan kawasan Afrika Barat.
Impor
Kakao Indonesia Menurut Negara Asal, 2025
Fenomena
ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia masih kuat di sektor hulu, posisinya masih
tertinggal dalam pengolahan serta penguasaan pasar produk akhir.
Di
sisi lain, pasar domestik justru dibanjiri produk cokelat dan olahan dari merek
global. Ini menegaskan bahwa nilai tambah terbesar tidak dinikmati di dalam negeri,
melainkan di negara pengolah.
SUMBER:
Amalia
Zahira, CNBC Indonesia. 26 March 2026 14:25. Impor Kakao RI Meledak, Masalahnya
Memang Rumit.
