Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Al Qur'an Mukjizat Allah Swt. Show all posts
Showing posts with label Al Qur'an Mukjizat Allah Swt. Show all posts

Thursday, 26 February 2026

Al-Qur’an: Mukjizat yang Mencengangkan Kaum Quraisy

 


Siang itu matahari bersinar terik menjelang salat Dhuhur. Dengan mengayuh sepeda sekitar satu kilometer, Alhamdulillah dapat tiba di Masjid Al-Hakim tepat waktu. Salat sunnah qabliyah tertunaikan, dilanjutkan salat Dhuhur berjamaah dan ba’diyah. Tentang kekhusyukan, kita hanya bisa bertawakal kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Usai salat, kajian bakda Dhuhur terasa menyejukkan. Seorang ustadz muda menyampaikan tausiyah tentang keutamaan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan. Beliau bertanya, “Sudah berapa kali khatam sampai hari ke-8 ini?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi menggugah. Membaca Al-Qur’an, kata beliau, bukan sekadar mengejar khatam. Yang lebih penting adalah menikmati, mentadabburi, lalu mengamalkannya. Ada orang yang tidak beranjak dari satu ayat sebelum ia mampu menerapkannya dalam kehidupan. Bahkan ada ayat yang membuat air mata menetes karena begitu dalam menyentuh hati.

Dari suasana itulah muncul sebuah renungan besar: bagaimana reaksi kaum Quraisy ketika pertama kali mendengar Al-Qur’an?

Keindahan Bahasa yang Melampaui Zaman

Kaum Quraisy dikenal sebagai masyarakat yang sangat menguasai bahasa Arab. Mereka memiliki tradisi sastra yang kuat, bahkan pasar-pasar syair seperti di ‘Ukaz menjadi ajang adu keindahan bahasa. Namun ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad , mereka terdiam.

Al-Qur’an menantang mereka:

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah saja yang semisal dengannya…”
(QS. Al-Baqarah: 23)

Tantangan ini tidak pernah mampu mereka jawab. Bahkan Allah menegaskan:

Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang semisal Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang semisal dengannya…”
(QS. Al-Isra’: 88)

Ketika kemampuan bahasa mereka tidak sanggup menandinginya, sebagian dari mereka memilih jalan penolakan. Mereka menuduh Al-Qur’an sebagai sihir. Dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 24 disebutkan, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari.”

Tuduhan itu justru menunjukkan ketidakberdayaan mereka menghadapi kemukjizatan Al-Qur’an.

Daya Sentuh yang Menggetarkan Jiwa

Al-Qur’an bukan hanya indah secara struktur bahasa, tetapi juga memiliki daya pengaruh yang kuat pada jiwa manusia. Allah berfirman:

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang; gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya…
(QS. Az-Zumar: 23)

Sejarah mencatat, sebagian tokoh Quraisy diam-diam mendengarkan bacaan Nabi pada malam hari. Mereka takut masyarakat terpengaruh karena banyak orang yang berubah sikap setelah mendengar ayat-ayat suci. Bahkan mereka saling mengingatkan:

Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya…
(QS. Fussilat: 26)

Artinya, mereka sadar bahwa Al-Qur’an memiliki kekuatan yang tidak biasa. Ia mampu mengetuk hati, bahkan hati yang keras sekalipun.

Pengakuan yang Tertahan oleh Kesombongan

Salah satu tokoh Quraisy yang terkenal cerdas dan ahli sastra adalah Walid bin al-Mughirah. Ia mengakui keindahan Al-Qur’an dengan ungkapan yang penuh kekaguman. Namun demi mempertahankan kedudukan dan pengaruhnya, ia tetap menolak dan menyebutnya sebagai sihir. Sikapnya diabadikan dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 18–25.

Kasus ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap Al-Qur’an bukan karena mereka tidak memahami keindahannya, tetapi karena kesombongan dan kepentingan duniawi.

Strategi Menghalangi Dakwah

Label “sihir” juga digunakan sebagai strategi propaganda. Mereka ingin menakut-nakuti orang luar Makkah agar tidak mendekati Rasulullah ﷺ. Dalam Surah Al-Furqan ayat 8 disebutkan bahwa mereka menuduh Nabi sebagai orang yang terkena sihir. Padahal sebelum diangkat menjadi rasul, beliau dikenal dengan gelar Al-Amin—orang yang paling terpercaya.

Tuduhan itu lebih merupakan upaya mempertahankan tradisi dan kekuasaan daripada penilaian objektif terhadap isi Al-Qur’an.

Mukjizat yang Abadi

Mukjizat para nabi terdahulu bersifat indrawi dan terjadi pada masa tertentu. Adapun mukjizat Nabi Muhammad ﷺ adalah Al-Qur’an, wahyu yang terus hidup hingga kini. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap nabi diberi mukjizat agar manusia beriman, dan mukjizat beliau adalah wahyu yang Allah turunkan (HR. Bukhari dan Muslim).

Keistimewaan Al-Qur’an tidak hanya pada keindahan bahasanya, tetapi juga pada konsistensi pesan, kedalaman makna, serta relevansinya sepanjang zaman.

Renungan bagi Kita

Jika kaum Quraisy yang ahli bahasa saja tercengang, bagaimana dengan kita hari ini? Mungkin kita tidak memahami seluruh maknanya secara langsung, tetapi Al-Qur’an tetap memiliki kekuatan yang menembus hati.

Allah berfirman:

Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS. Muhammad: 24)

Membaca adalah langkah awal. Mentadabburi adalah proses memahami. Mengamalkan adalah tujuan akhirnya.

Rasulullah juga bersabda:

Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”
(HR. Muslim)

Jika hari ini hati kita belum tersentuh, jangan berhenti. Teruslah membaca. Teruslah merenung. Hati yang dilatih untuk dekat dengan Al-Qur’an akan perlahan menjadi lembut.

Penutup

Al-Qur’an adalah mukjizat yang mencengangkan kaum Quraisy. Mereka yang ahli bahasa tidak mampu menandinginya. Mereka yang keras hati tidak mampu mengabaikan pengaruhnya. Tuduhan “sihir” justru menjadi bukti bahwa mereka tidak sanggup menjelaskan kemukjizatannya dengan logika biasa.

Hari ini, Al-Qur’an yang sama ada di tangan kita. Pertanyaannya sederhana namun mendalam: sudahkah kita menjadikannya sebagai pedoman hidup?

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ahli Al-Qur’an—yang membacanya, memahami maknanya, meneteskan air mata karenanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.