Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Sunday, 16 March 2025

Kehidupan Sosial dan Keagamaan di Jepang

 

A. Letak Geografis Jepang dan Pengaruhnya

 

Jepang, sebuah negara kepulauan yang terletak di lepas pantai timur Asia, terdiri dari empat pulau utama—Kyushu, Shikoku, Honshu, dan Hokkaido—serta ribuan pulau kecil. Kepulauan ini membentang sepanjang 3.800 kilometer dari utara ke selatan, dengan total luas sekitar 337.748 kilometer persegi, kurang dari 0,3% dari luas daratan bumi. Negara ini terletak di zona yang rawan aktivitas geologis, dengan 71% daratannya berupa pegunungan yang membentuk garis alami pemisah antara sisi Pasifik dan Laut Jepang. Selain itu, Jepang juga dikenal dengan banyaknya gunung berapi aktif, termasuk Gunung Fuji, yang meskipun sudah tidak aktif, tetap menjadi simbol negara.

 

Jepang terletak di atas Lingkaran Api Pasifik, menyebabkan negara ini sering dilanda gempa bumi dan letusan gunung berapi. Salah satu bencana besar yang paling dikenang adalah Gempa Hanshin pada tahun 1995. Keadaan geografis ini juga mengakibatkan banyaknya mata air panas yang digunakan sebagai tujuan wisata. Selain gempa, Jepang juga rutin menghadapi taifu (angin taufan), terutama di daerah Ryukyu dan Kyushu. Meskipun menimbulkan kerusakan, taifu juga membawa manfaat berupa curah hujan yang melimpah, yang penting bagi sektor pertanian dan industri.

 

Musim di Jepang cukup variatif, dengan musim panas yang lembap dan musim dingin yang bersalju di sisi Laut Jepang. Hal ini memberikan dampak besar pada kehidupan sehari-hari, termasuk pola konsumsi dan pertanian. Keberagaman kondisi cuaca dan geografi menjadikan Jepang sebagai negara dengan ekonomi yang kuat, terutama berkat pelabuhan-pelabuhan alami di sepanjang pantai, yang mempermudah transportasi bahan mentah dan energi.

 

B. KEADAAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT JEPANG

 

Masyarakat Jepang memiliki keyakinan agama yang kuat meskipun tidak bersifat dogmatis. Kepercayaan terhadap amakudari—rahmat yang turun dari surga—mencerminkan keyakinan mereka bahwa bangsa Jepang akan selalu bertahan dan berkembang. Selain itu, agama Shinto, yang berasal dari alam, menjadi bagian inti dari kehidupan masyarakat Jepang. Shinto menghormati berbagai elemen alam seperti gunung, batu, dan air terjun, serta menghargai leluhur. Dalam praktiknya, ajaran Shinto bersifat terbuka dan fleksibel, memungkinkan pengikutnya untuk menerima kepercayaan lain, seperti agama Budha yang masuk ke Jepang pada abad ke-6 melalui Cina dan Korea.

 

Kehidupan keagamaan di Jepang sangat menarik karena masyarakat umumnya menganut lebih dari satu agama. Banyak orang Jepang yang mempraktikkan kedua agama Shinto dan Budha secara bersamaan. Misalnya, pernikahan biasanya dilakukan dengan upacara Shinto, sementara upacara kematian mengikuti tradisi Budha. Bahkan di rumah-rumah, terutama di daerah pedesaan, sering ditemukan altar untuk Shinto dan Budha bersama-sama. Selain itu, agama Kristen mulai dikenal di Jepang setelah Perang Dunia II, meskipun pengaruhnya tidak sebesar Shinto atau Budha.

 

Menurut Dr. Hisanori Kato, kehidupan agama di Jepang lebih berfokus pada niat dan perbuatan baik daripada formalitas agama. Banyak orang Jepang percaya bahwa yang terpenting dalam kehidupan adalah bertindak baik terhadap sesama, daripada sekadar pergi ke tempat ibadah. Dalam pandangan mereka, agama bukan hanya soal ritual, melainkan bagaimana seseorang menjalani kehidupan dengan baik dan benar.

 

Fenomena unik dalam kehidupan keagamaan Jepang adalah perpaduan antara Shinto dan Budha, yang dikenal dengan istilah Shinbutsu Shuugo. Shinto, yang percaya pada banyak dewa atau "kami", berfokus pada kekuatan alam dan leluhur, sementara agama Budha mengajarkan tentang pemahaman diri dan pencapaian spiritual. Di banyak tempat di Jepang, kuil Shinto dan Budha sering kali berdampingan, dan masyarakat mengunjungi keduanya sesuai dengan kebutuhan spiritual mereka.

 

Meskipun agama-agama ini memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat Jepang, tidak semua orang Jepang memegang teguh tradisi agama. Di kota-kota besar, generasi muda cenderung lebih mengabaikan agama dan lebih fokus pada kehidupan modern dan industrialisasi. Namun, masyarakat Jepang tetap menunjukkan toleransi tinggi terhadap agama-agama lain, termasuk Islam, meskipun pengaruh agama-agama besar seperti Budha dan Shinto masih dominan.

 

Selain agama Shinto dan Budha, Jepang juga memiliki sejumlah agama lain yang mempengaruhi masyarakatnya. Salah satu agama yang berkembang adalah agama-agama baru, yang sering disebut sebagai "agama rakyat" atau "agama baru". Agama-agama ini muncul terutama pada abad ke-19 dan ke-20, mengusung ajaran yang sering kali menggabungkan elemen-elemen dari agama tradisional Jepang dengan pemikiran modern. Beberapa di antaranya berkembang pesat, meskipun jumlah pengikutnya tidak sebesar agama-agama utama.

 

Selain itu, meskipun jumlahnya tidak besar, Islam juga memiliki pengikut di Jepang. Islam pertama kali diperkenalkan ke Jepang melalui hubungan perdagangan dengan dunia Timur Tengah pada abad ke-8, tetapi perkembangan yang lebih signifikan baru terjadi pada abad ke-20, seiring dengan meningkatnya jumlah pekerja migran dan interaksi internasional. Di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, terdapat beberapa masjid yang menjadi pusat kegiatan bagi umat Muslim. Meskipun demikian, umat Islam di Jepang masih merupakan kelompok minoritas yang relatif kecil.

 

Keberadaan agama-agama baru dan Islam di Jepang menunjukkan bagaimana masyarakat Jepang terus beradaptasi dengan berbagai ajaran agama yang masuk, sambil tetap mempertahankan kepercayaan tradisional mereka seperti Shinto dan Budha. Agama-agama baru sering kali menggabungkan nilai-nilai Shinto dan Budha dengan ajaran-ajaran yang lebih berorientasi pada kehidupan sehari-hari, memperkuat pandangan bahwa agama di Jepang lebih berkaitan dengan tindakan nyata dan hubungan sosial daripada doktrin atau ajaran yang ketat.

 

Secara umum, masyarakat Jepang memiliki sikap yang sangat toleran terhadap agama-agama lain, termasuk Islam. Hal ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari, di mana umat Islam dapat menjalankan ibadah mereka dengan damai di masjid-masjid yang ada, sementara masyarakat Jepang yang tidak beragama juga menunjukkan rasa hormat terhadap keberagaman ini. Meskipun agama bukanlah aspek utama dalam kehidupan sosial mereka, nilai-nilai seperti kedamaian, kesopanan, dan saling menghormati tetap menjadi bagian penting dari budaya Jepang.

 

Kehidupan beragama di Jepang menunjukkan bahwa meskipun agama tidak lagi menjadi fokus utama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, keberagaman agama tetap diterima dan dihormati. Orang Jepang cenderung menggabungkan berbagai pengaruh agama dalam kehidupan mereka, menciptakan suatu dinamika sosial yang unik dan penuh toleransi. Sikap ini dipengaruhi oleh filosofi hidup Jepang yang lebih menekankan pada perbuatan baik dan keharmonisan sosial daripada pemahaman dogmatis terhadap agama tertentu.

 

C. Sikap Pemerintahan terhadap Agama-agama

 

Sejak zaman kuno, agama Shinto telah memainkan peran penting dalam struktur kekaisaran Jepang. Shinto mengajarkan bahwa bangsa Jepang berasal dari Dewi Matahari, Amaterasu Omikami, yang merupakan leluhur Kaisar Jepang. Pemujaan terhadap leluhur dan dewa-dewa alam menjadi bagian dari kehidupan sosial dan politik Jepang. Ajaran Konfusius juga memperkuat sistem kekaisaran Jepang dengan menekankan hubungan antara pemimpin dan rakyat yang seperti hubungan keluarga besar.

 

Pada era Meiji (1868-1912), pemerintahan Jepang berusaha memperkuat identitas nasional dengan mengaitkan agama Shinto dengan negara. Shinto dipromosikan sebagai agama negara, dan upacara-upacara keagamaan, seperti pemujaan terhadap Kaisar, menjadi bagian dari ritual negara. Pemerintah Meiji juga mengatur tempat-tempat suci Shinto dan menciptakan sistem administratif yang terorganisir untuk mengelola kuil-kuil. Upacara Shinto digunakan untuk memperkuat semangat nasionalisme, terutama selama Perang Dunia II, ketika Shinto menjadi simbol kekuatan militer Jepang.

 

Pemerintahan Jepang telah lama mengakui pentingnya agama dalam kehidupan masyarakat, meskipun tidak mengizinkan agama untuk mengganggu tatanan politik negara. Sebagai contoh, Konstitusi Jepang yang disusun setelah Perang Dunia II tidak membahas agama secara khusus, tetapi lebih menekankan pada kebebasan beragama dan menghormati keragaman. Kebijakan ini menciptakan atmosfer yang lebih toleran terhadap agama-agama lain, termasuk Islam, di Jepang.

 

Secara keseluruhan, kehidupan keagamaan di Jepang sangat dipengaruhi oleh sejarah panjang interaksi antara agama Shinto, Budha, dan agama-agama lain. Meskipun agama tidak lagi menjadi pusat kehidupan sehari-hari bagi banyak orang Jepang, nilai-nilai spiritual dan budaya yang terkandung dalam agama-agama ini tetap memengaruhi cara hidup mereka, baik dalam hubungan sosial maupun dalam kehidupan politik negara.

Saturday, 15 March 2025

Perjalanan Spiritual Seorang Wanita Jepang

 

Perjalanan Spiritual Megumi Sakai: Quran Memberi Saya Rasa Aman!

 

Alhamdulillah, satu lagi saudara baru kita dari Jepang telah memeluk Islam, yakni Megumi Sakai. Megumi, seorang warga Jepang yang baru bersyahadat dua pekan lalu, mengungkapkan pengalamannya yang sangat menginspirasi. Ia dibimbing langsung oleh Sugimoto Sensei dalam momen yang penuh makna tersebut. Setelah mengucapkan syahadat, Megumi yang namanya berarti naima atau berkat ini, mengirimkan pesan kepada Sugimoto Sensei mengenai alasan mengapa ia memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Testimoni Megumi menggambarkan betapa Al-Quran telah memberi kedamaian dan rasa aman dalam dirinya, sesuatu yang sebelumnya sulit ia temukan dalam kehidupan.

 

Al-Quran, Pencari Kedamaian yang Membimbing Hati

 

Dalam pernyataan yang menyentuh, Megumi bercerita tentang perasaan terperangkap dalam inferiority complex—perasaan selalu merasa lebih rendah dari orang lain yang seringkali membebani dirinya. Hal ini membuatnya kesulitan membangun hubungan yang baik dengan orang di sekitarnya. Namun, ketika ia mulai membaca terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jepang, ia menemukan ayat yang sangat menggugah hatinya. Surat Al-Ma'idah (5:105) yang berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu sendiri. Jika kamu mengikuti petunjuk yang benar, maka kesesatan orang lain tidak akan membahayakanmu. Kepada Allah kamu semua akan kembali; dan Dia akan memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Ayat ini memberi Megumi rasa aman dan menenangkan, karena ia merasa Allah selalu mengawasi dan menjaga setiap langkah hidupnya. Rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, seperti yang dijelaskan dalam ayat tersebut, menjadi sumber kekuatan dan ketenangan dalam dirinya.

 

Keputusan yang Berdasarkan Tanggung Jawab Diri Sendiri

 

Megumi juga mengungkapkan pandangannya mengenai perbedaan Islam dengan agama lain. Bagi Megumi, dalam Islam, keputusan selalu berada di tangan kita sendiri. Islam mengajarkan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas pilihan hidupnya, dan Al-Quran memberi petunjuk yang jelas mengenai apa yang benar dan salah. Sebelumnya, ia sering merasa bingung dan berkonsultasi dengan banyak orang mengenai berbagai masalah hidup, namun itu justru semakin membingungkan dirinya. Dengan membaca Al-Quran, ia merasa bahwa Islam memberinya kepastian dan rasa damai, yang tidak ia dapatkan dari pendapat orang lain. Keputusan untuk memeluk Islam menjadi titik balik dalam hidupnya, di mana ia merasa mendapatkan dukungan emosional yang sejati, bukan dari manusia, melainkan dari Allah SWT.

 

Iman yang Membawa Kedamaian Hati

 

Saat Megumi berbicara tentang keyakinannya kepada Allah, ia merasa bahwa sejauh mana ia percaya kepada-Nya, sebanding dengan perhatian dan kasih sayang yang Allah berikan kepadanya. “Seberapa besar iman yang saya miliki kepada Allah, sebanding dengan seberapa Allah memperhatikan saya,” ujarnya. Bagi Megumi, hidup dalam Islam adalah tentang menjalani kehidupan dengan cinta, bukan dengan egoisme. Ia menganggap bahwa cinta adalah inti dari ajaran Islam, dan Allah sendiri adalah cinta itu sendiri. Islam mengajarkan bahwa meskipun manusia melakukan kesalahan, Allah selalu memberi pengampunan. Megumi merasa bahwa kepercayaan Allah kepada umat-Nya adalah bentuk cinta yang tak terhingga. Ini adalah pemahaman yang mendalam bagi dirinya yang terus ia pelajari sepanjang hidupnya.

 

Cinta Allah yang Mengarahkan Hidup Menuju Kebenaran

 

Pemahaman Megumi terhadap Islam semakin mendalam seiring berjalannya waktu. Ia merasa bahwa Islam adalah jalan hidup yang memberi cinta, kedamaian, dan arah yang jelas. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Ma'idah ayat 16: “Dengan kitab ini Allah memberi petunjuk kepada siapa yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan...” Megumi merasa bahwa melalui Islam, ia telah menemukan hidup yang lebih bahagia, tidak lagi berfokus pada ego dan perbandingan dengan orang lain, tetapi pada pencapaian kedamaian batin yang sesungguhnya. Cinta Allah yang dia rasakan ini membawa ketenangan yang mendalam dan memotivasi dirinya untuk terus mempelajari makna yang lebih dalam dari kehidupan yang telah dipilihnya.

 

Harapan untuk Keistiqomahan dan Pahala Jariyah

 

Kini, Megumi Sakai berada di Vietnam untuk melanjutkan pekerjaannya. Meski jauh dari tanah air, ia tetap berkomitmen untuk menjalani hidup sebagai seorang Muslim. Semoga Allah memberikan istiqomah dalam menjalankan ajaran Islam dan menjaga imannya. Setiap ayat yang dibaca dari Al-Quran, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang melalui program wakaf Quran, akan menjadi pahala jariyah yang mengalir tak terputus bagi mereka yang mewakafkan Al-Quran tersebut. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim: “Orang yang mengajarkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengamalkannya.” Testimoni Megumi adalah bukti nyata bahwa Al-Quran adalah cahaya yang bisa membimbing siapapun menuju kedamaian hati, tanpa melihat latar belakang dan asal usulnya. Semoga perjalanan spiritual Megumi menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus mencari kedamaian melalui Al-Quran dan Islam. Aamiin.

 

SUMBER:

Budi Nugraha. Perjalanan Spiritual Megumi Sakai : Quran Memberi Saya Rasa Aman!. Suara Merdeka 3 September 2024

Bersyahadat Setelah Baca Quran Terjemah Jepang

 

Mantap Bersyahadat, Setelah Membaca Quran Terjemah Jepang

 

Pada Jumat, 26 Juli 2024, sebuah momen bersejarah terjadi di Chiba Islamic Cultural Center, Jepang, ketika Eichi Koinuma, seorang pria Jepang, mengucapkan dua kalimat syahadat dengan penuh keyakinan. Di tengah keluarga yang lebih dahulu memeluk Islam, Koinuma mengucapkan syahadat yang dipandu oleh Sugimoto Sensei. Momen ini bukan hanya menjadi titik balik dalam hidup Koinuma, tetapi juga menjadi kabar gembira bagi komunitas Muslim di Jepang. Kehadiran anak dan istrinya yang juga telah memeluk Islam menjadi saksi perjalanan spiritual yang penuh makna ini. Setelah menerima banyak ucapan selamat baik di dunia nyata maupun melalui media sosial, Koinuma merasa bahagia dan bersyukur. Perjalanan spiritualnya dimulai dengan sebuah pencarian dalam diri, yang akhirnya membawanya pada petunjuk dalam bentuk Al-Quran terjemah Jepang yang diterjemahkan oleh Sensei Sugimoto.

 

Al-Quran: Sumber Hidayah yang Menerangi Jalan Hidup

 

Bagi Koinuma, perjalanan menuju Islam tidaklah mudah. Setelah kehilangan anak tercinta, ia merasa kehidupan semakin tidak memiliki arah. Rasa kesedihan itu membawanya mencari kedamaian dalam hidup yang lebih mendalam. Dalam pencarian tersebut, ia mulai membaca Al-Quran terjemah Jepang yang diterjemahkan oleh Sensei Sugimoto. Dengan penuh kesungguhan, ia membaca Quran ini berulang kali hingga setiap kata dalam Al-Quran terasa menggetarkan hatinya. "Saya membawa Quran ini ke mana pun saya pergi," katanya. Bagi Koinuma, Al-Quran bukan hanya sekadar kitab yang terjaga dalam bentuknya, tetapi juga sebagai wahyu yang memberikan petunjuk hidup yang abadi. Al-Quran, meskipun diturunkan lebih dari 1.400 tahun yang lalu, tetap relevan dan abadi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hijr ayat 9, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami-lah yang benar-benar memeliharanya.” Dengan keyakinan ini, Koinuma merasa bahwa Al-Quran adalah sumber hidayah yang tak tergantikan dan mampu memberi petunjuk bagi setiap orang yang mencari kebenaran.

 

Hidayah yang Mengalir Melalui Program Wakaf Quran Terjemah Jepang

 

Program Wakaf Quran Terjemah Jepang yang digagas oleh Cinta Quran Foundation (CQF) memiliki peranan penting dalam menyebarkan dakwah Islam di Jepang. Program ini berhasil mencetak dan mendistribusikan lebih dari 3.000 Al-Quran terjemah Jepang dalam waktu kurang dari enam bulan. Hal ini memberi dampak besar dalam membawa banyak orang Jepang memeluk Islam. Rhianah, Project Manager Program Wakaf Quran Terjemah Jepang, merasa terharu melihat perubahan hidup banyak orang yang menerima hidayah melalui Al-Quran ini. “MasyaAllah, Quran ini disambut dengan baik oleh masyarakat Jepang. Mereka datang dengan penuh kesadaran untuk memeluk Islam, bukan karena paksaan, tetapi karena keyakinan yang mereka temukan dalam Al-Quran,” ujarnya dengan penuh kebahagiaan. Program wakaf ini menjadi sarana yang sangat efektif dalam menyebarkan dakwah Islam, mengingat betapa pentingnya pembacaan Al-Quran dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat setempat.

 

Islam Mengajarkan Tujuan Hidup yang Jelas

 

Keputusan Koinuma untuk memeluk Islam adalah hasil dari pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama ini. Ia merasa bahwa Islam memberikan arah yang jelas dan tujuan hidup yang lebih berarti. Islam mengajarkan lima rukun utama yang harus diyakini dan dijalani setiap Muslim, yakni syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Islam juga mengajarkan untuk menghargai keluarga, membantu sesama, serta hidup dengan kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain. Hal ini selaras dengan pesan yang terkandung dalam Al-Quran, seperti yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 2: "Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." Dengan mengikuti ajaran-ajaran ini, Koinuma merasa bahwa ia telah menemukan hidup yang lebih manusiawi dan penuh makna. Rasulullah SAW bersabda dalam Hadits riwayat Muslim, "Islam itu adalah perdamaian, siapa yang mengikuti Islam, maka dia akan mendapatkan kedamaian dalam hidupnya."

 

Hidayah yang Datang Tanpa Paksaan

 

Kisah perjalanan spiritual Koinuma menunjukkan bahwa hidayah dapat datang kapan saja, tanpa mengenal batasan dan tanpa paksaan. Ketika hati terbuka untuk mencari kebenaran, Allah SWT akan membimbingnya menuju cahaya Islam. Al-Quran yang diterjemahkan dengan penuh kasih sayang menjadi alat yang sangat efektif dalam membuka hati-hati yang mencari kebenaran. Sebagaimana tertulis dalam Surah Al-Isra ayat 9: "Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk ke jalan yang lurus..." Melalui program Wakaf Quran Terjemah Jepang, semakin banyak orang Jepang yang menemukan jalan mereka menuju Islam. Perjalanan ini bermula dari rasa ingin tahu tentang kehidupan dan berakhir dengan kedamaian sejati yang hanya dapat ditemukan dalam Islam.

 

Kini, Koinuma merasa bahwa ia telah menemukan tujuan hidup yang lebih jelas dan lebih baik. Ia bertekad untuk terus memperdalam pengetahuan tentang Islam dan berbagi kebaikan tersebut kepada orang lain. Ia menyadari bahwa hidup ini tidak hanya tentang pencarian materi, tetapi tentang pencarian kedamaian sejati yang hanya diberikan Allah melalui Islam.

 

SUMBER

Mantap Bersyahadat, Setelah Membaca Quran Terjemah Jepang. Cinta Quran Foundation. cqfoundation.or.id.

Wednesday, 12 March 2025

Dakwah di Bulan Ramadhan di Negeri Sakura Jepang


Pemeluk agama Islam di Jepang mengalami peningkatan yang signifikan selama dua dekade terakhir, dibuktikan dengan jumlah masjid yang berkembang hingga tujuh kali lipat.

 

Menurut profesor emeritus sosiologi di Universitas Waseda di Tokyo, Hirofumi Tanada, perkembangan itu terjadi karena tingginya angka pernikahan antara warga Muslim dan warga negara Jepang serta orang-orang yang berpindah agama.

 

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Profesor Emiretus Tanada dan rekan-rekannya, terdapat 113 masjid di seluruh Jepang pada Maret 2021, naik tujuh kali lipat dari hanya 15 pada tahun 1999.

 

Studi Tanada dan rekannya juga menunjukkan bahwa sekitar 230.000 Muslim menyebut Jepang sebagai rumah mereka pada akhir tahun 2020.

 

Bulan Ramadhan adalah waktu yang penuh berkah dan kesempatan emas bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan meningkatkan keimanan. Di negara seperti Jepang, yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, dakwah di bulan suci ini memiliki tantangan dan kesempatan tersendiri. Berikut adalah berbagai aspek terkait dakwah di Jepang selama bulan Ramadhan yang dapat membantu masyarakat memahami lebih jauh tentang kegiatan umat Islam di sana.

 

1. Penentuan 1 Ramadhan dan Hari Idul Fitri di Jepang

Di Jepang, penentuan tanggal 1 Ramadhan dan Idul Fitri tidak dilakukan secara langsung berdasarkan pengamatan hilal (bulan sabit) seperti di negara-negara dengan mayoritas Muslim. Sebagai gantinya, ada tim yang mengadakan rapat untuk mendengarkan laporan dari beberapa negara, seperti Indonesia atau Malaysia, mengenai apakah hilal terlihat atau tidak. Jika hilal tidak terlihat, Jepang akan merujuk kepada negara Muslim terdekat, seperti Malaysia. Sejauh ini, hilal di Jepang sendiri hampir tidak pernah terlihat, sehingga perayaan Ramadhan dan Idul Fitri di Jepang selalu mengacu pada keputusan yang diambil di Malaysia.

 

2. Sholat Tarawih di Masjid KBRI

Sholat Tarawih di Jepang biasanya dilakukan di Masjid Indonesia Tokyo (MIT), yang terletak di bagian kanan gedung SRIT. Dulu, lokasi ini dikenal sebagai tempat sampah dan jalur keluar-masuk para pejabat, namun kini telah disulap menjadi tempat ibadah yang nyaman. Setiap malam selama Ramadhan, jamaah hadir untuk melaksanakan sholat Tarawih.

 

Terkait dengan pengisi ceramah, biasanya pihak KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) mengirimkan ustadz untuk memberikan ceramah di MIT. Selain ustadz dari KBRI, ada juga ustadz dari lembaga lain seperti Huma Inisiatif (HI), yang sebelumnya dikenal sebagai PKPU, dan Dompet Dhuafa (DD). Para ustadz ini bergiliran memberikan ceramah dan workshop di berbagai tempat, termasuk di MIT, untuk memberikan pemahaman dan mendekatkan masyarakat kepada ajaran Islam.

 

3. Kegiatan Buka Bersama di Masjid

Buka bersama menjadi salah satu tradisi khas Ramadhan yang sangat dinantikan. Di Masjid Indonesia Tokyo (MIT), buka bersama diadakan setiap hari, namun yang paling istimewa adalah acara buka bersama yang diselenggarakan pada akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu. Selain itu, masjid Jami Turki juga mengadakan buka bersama yang mewah setiap hari. Kegiatan buka bersama ini menjadi ajang untuk mempererat ukhuwah antar umat Islam dan mengenalkan keindahan Islam kepada masyarakat non-Muslim yang ingin tahu lebih banyak tentang Ramadhan.

 

4. Sholat Tahajud di Masjid

Sholat Tahajud adalah ibadah malam yang sangat dianjurkan, terutama di 10 hari terakhir Ramadhan. Di Jepang, kegiatan sholat Tahajud biasanya hanya dilaksanakan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjil di mana umat Islam percaya bahwa malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar. Kegiatan ini sangat mendalam maknanya, terutama bagi mereka yang berusaha mencari keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.

 

5. Mempersiapkan dan Pelaksanaan Sahur di Rumah-rumah Muslim Jepang / Asing

Pelaksanaan sahur di Jepang tidak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Para Muslim di Jepang biasanya melaksanakan sahur di rumah masing-masing bersama keluarga atau teman-teman. Beberapa komunitas juga menyediakan sahur bersama di masjid. Walaupun suasana Ramadhan di Jepang tidak seramai di negara-negara dengan mayoritas Muslim, umat Islam di sana tetap menjaga kekhusyukan dalam menjalankan ibadah puasa dan sahur.

 

6. Pandangan Non-Muslim Jepang Terhadap Puasa, Sholat Tarawih, dan Idul Fitri

Bagi banyak orang Jepang yang belum familiar dengan praktik Islam, puasa di bulan Ramadhan sering kali menjadi hal yang sulit dipahami. Banyak dari mereka yang mengira bahwa umat Islam tidak makan dan minum sepanjang hari selama sebulan penuh. Namun, setelah penjelasan lebih lanjut bahwa puasa hanya dilakukan pada siang hari dan ada waktu untuk makan di malam hari, mereka mulai mengerti. Mengenai sholat Tarawih dan Idul Fitri, pemahaman mereka masih terbatas, namun beberapa di antara mereka tertarik untuk mengenal lebih jauh melalui kegiatan-kegiatan seperti buka bersama dan dialog antar agama yang diadakan di masjid-masjid.

 

7. Peluang Dakwah kepada Orang Jepang / Asing di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan memberikan peluang yang sangat besar untuk berdakwah, khususnya kepada orang Jepang dan warga asing lainnya yang berada di Jepang. Selain buka bersama yang menjadi ajang interaksi sosial, momen Ramadhan adalah kesempatan untuk menunjukkan nilai-nilai Islam yang penuh dengan kedamaian, kasih sayang, dan kepedulian sosial. Melalui kegiatan-kegiatan seperti buka bersama dan ceramah di masjid, dakwah dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat non-Muslim. Dengan pendekatan yang santai namun mendalam, banyak orang Jepang yang akhirnya tertarik dan lebih terbuka untuk mempelajari lebih lanjut tentang Islam.

 

Bulan Ramadhan di Jepang adalah waktu yang penuh berkah bagi umat Islam untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat luas, termasuk non-Muslim. Melalui kegiatan ibadah, seperti sholat Tarawih, buka bersama, dan sholat Tahajud, serta kesempatan untuk berdialog dengan orang non-Muslim, dakwah di bulan suci ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Dengan pendekatan yang penuh hikmah dan kasih sayang, diharapkan masyarakat Jepang dapat semakin memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam dan membangun hubungan yang lebih harmonis antar umat beragama.

 

SUMBER:

1.     Wawancara dengan Dr. Endrijanto Djajadi Muslim di Jepang

2.     rmol.id republik merdeka