Kapang pada Babal (Buah Nangka Muda): Karakteristik,
Penyebab, Mekanisme Infeksi, Risiko Mikologis, dan Strategi Pengendaliannya
Abstrak
Babal, yaitu buah nangka (Artocarpus heterophyllus
Lam.) yang masih berukuran sangat kecil dan berada pada fase perkembangan awal,
merupakan bagian dari tanaman nangka yang secara fisiologis masih aktif
mengalami pertumbuhan dan perubahan komposisi kimia. Pada kondisi lingkungan
yang lembap, terdapat luka mekanis, atau terjadi gangguan fisiologis, babal
dapat mengalami kolonisasi mikroorganisme, termasuk kapang penyebab penyakit
dan kapang pembusuk. Pertumbuhan kapang pada buah nangka telah dilaporkan
berasosiasi dengan beberapa kelompok fungi, antara lain Rhizopus, Lasiodiplodia,
Penicillium, Aspergillus, Colletotrichum, Pestalotiopsis,
dan kelompok fungi lainnya. Studi terbaru pada nangka pascapanen juga
menunjukkan bahwa Gilbertella hainanensis, Penicillium kongii,
dan Penicillium citrinum dapat menjadi fungi pembusuk dominan pada
nangka segar yang mengalami kerusakan. Sementara itu, Rhizopus stolonifer
telah lama diketahui menyebabkan busuk lunak pada nangka, yang ditandai dengan
pelunakan jaringan, perubahan warna, pertumbuhan miselium, dan pembentukan
spora. Artikel ini membahas kemungkinan sumber inokulum kapang pada babal,
faktor predisposisi, mekanisme kolonisasi jaringan, karakteristik visual,
potensi risiko keamanan pangan, serta pendekatan pengendalian yang meliputi
sanitasi, pengurangan luka mekanis, pengelolaan kelembapan, perlakuan fisik,
ozon, kalsium klorida, dan pengendalian biologis. Pemahaman mengenai ekologi
kapang pada fase awal perkembangan buah penting untuk menentukan apakah kapang
merupakan penyebab utama kerusakan atau hanya kolonisasi sekunder.
Kata kunci: babal,
nangka muda, Artocarpus heterophyllus, kapang, Rhizopus, Penicillium,
busuk buah, pascapanen, mikologi pangan
1. Pendahuluan
Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) merupakan
tanaman buah tropis yang mempunyai nilai ekonomi dan pangan penting di berbagai
negara Asia, termasuk Indonesia. Buah nangka memiliki karakteristik fisiologis
yang kompleks karena mengalami perubahan ukuran, tekstur, kadar air, komposisi karbohidrat,
senyawa fenolik, serta aktivitas metabolik sejak pembentukan buah hingga
mencapai kematangan.
Pada tahap perkembangan awal, buah nangka berukuran
sangat kecil sering disebut secara lokal sebagai babal. Babal mempunyai
jaringan yang masih muda dan aktif berkembang. Pada kondisi normal, buah
tersebut akan mengalami pembesaran secara bertahap. Namun, sebagian buah muda
dapat mengalami kerusakan, menghitam, mengering, membusuk, atau ditumbuhi
lapisan seperti kapas yang secara visual menunjukkan kemungkinan adanya
pertumbuhan kapang.
Fenomena tersebut menarik secara ilmiah karena keberadaan
kapang pada babal tidak selalu berarti bahwa satu spesies fungi tertentu
merupakan penyebab utama. Kapang dapat berperan sebagai patogen primer,
organisme oportunistik yang masuk melalui luka, atau mikroorganisme sekunder
yang berkembang setelah jaringan buah mengalami kerusakan fisiologis.
Pada nangka, sejumlah fungi telah dilaporkan berhubungan
dengan penyakit busuk buah. Rhizopus stolonifer, misalnya, telah
diisolasi dari buah nangka yang mengalami busuk dan diketahui mampu
menghasilkan enzim pektinase yang membantu degradasi jaringan tanaman. Gejala
yang dilaporkan meliputi munculnya bercak lunak berwarna cokelat yang kemudian
berkembang menjadi jaringan busuk dengan pertumbuhan miselium dan spora
berwarna gelap.
Penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa komunitas
fungi pada nangka dapat lebih kompleks. Pada nangka segar yang telah dipotong, Gilbertella
hainanensis, Penicillium kongii, dan Penicillium citrinum
ditemukan sebagai fungi pembusuk dominan.
Oleh karena itu, kapang pada babal perlu dipahami bukan
sekadar sebagai fenomena permukaan, tetapi sebagai bagian dari interaksi antara
fisiologi buah, kondisi mikroklimat, luka jaringan, komunitas mikroba, dan
kemampuan fungi dalam memanfaatkan substrat tanaman.
2. Babal sebagai Substrat bagi Pertumbuhan Kapang
Babal merupakan buah nangka pada fase perkembangan awal.
Pada fase ini, jaringan buah masih relatif lunak dan memiliki kandungan air
yang tinggi. Permukaan buah juga dapat mengalami berbagai bentuk kerusakan
akibat gesekan dengan daun, ranting, serangga, hujan, angin, atau aktivitas
manusia.
Secara ekologis, kondisi tersebut dapat menciptakan microenvironment
yang sesuai bagi perkembangan fungi. Air bebas pada permukaan buah, kelembapan
relatif tinggi, suhu tropis, dan keberadaan senyawa organik dapat memberikan
kondisi yang mendukung perkecambahan spora.
Kapang pada dasarnya membutuhkan sumber karbon dan
nitrogen untuk pertumbuhan. Jaringan tanaman menyediakan berbagai substrat,
termasuk gula sederhana, polisakarida, pektin, asam organik, dan komponen
struktural lainnya.
Masalah menjadi lebih serius ketika
integritas permukaan buah terganggu. Lapisan pelindung alami tanaman berfungsi
sebagai penghalang fisik terhadap masuknya mikroorganisme. Luka mekanis dapat
menghilangkan fungsi tersebut sehingga spora kapang yang berada di udara,
tanah, air hujan, serangga, atau permukaan tanaman mempunyai peluang lebih
besar untuk melakukan kolonisasi.
Kajian mengenai Aspergillus pada
tanaman buah tropis juga menunjukkan pentingnya meminimalkan memar dan luka
selama pemanenan serta penanganan karena jaringan yang terluka lebih mudah
mengalami infeksi selama penyimpanan.
3. Kapang yang Berpotensi Berasosiasi dengan Babal
3.1 Rhizopus
Salah satu kelompok kapang yang penting dalam penyakit
busuk buah nangka adalah Rhizopus. Rhizopus stolonifer telah
dilaporkan sebagai penyebab busuk buah nangka dan mampu menghasilkan enzim
pektinase yang berperan dalam degradasi jaringan.
Pada kondisi tertentu, infeksi dapat menghasilkan bercak
cokelat yang berkembang menjadi jaringan lunak dan berair. Selanjutnya,
permukaan jaringan dapat ditutupi miselium putih yang kemudian menghasilkan
struktur reproduktif dengan spora berwarna gelap.
Pada buah yang masih sangat muda, proses tersebut dapat
menyebabkan buah berhenti berkembang. Babal kemudian dapat menghitam, mengalami
pelunakan, mengering, atau mengalami mumifikasi.
3.2 Penicillium
Kapang dari genus Penicillium juga mempunyai
relevansi dalam pembusukan buah. Penelitian tahun 2025 terhadap nangka segar
yang dipotong mengidentifikasi P. kongii dan P. citrinum sebagai
bagian dari fungi pembusuk dominan.
Secara visual, Penicillium dapat membentuk koloni
berwarna hijau, hijau kebiruan, atau warna lain bergantung pada spesies dan
kondisi pertumbuhannya. Namun, warna koloni tidak cukup untuk menentukan
spesies.
3.3 Aspergillus
Aspergillus merupakan kelompok kapang yang
secara luas ditemukan pada berbagai komoditas pertanian. Kapang ini dapat menjadi pembusuk primer maupun sekunder
pada buah yang mengalami kerusakan.
Keberadaan Aspergillus pada
buah tropis perlu diperhatikan karena beberapa spesies mempunyai kemampuan
menghasilkan metabolit sekunder tertentu, termasuk mikotoksin. Namun, tidak
semua Aspergillus menghasilkan mikotoksin dan keberadaan kapang secara
visual tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya mikotoksin.
Karena itu, apabila babal telah
mengalami pertumbuhan kapang yang nyata, terutama jika akan digunakan sebagai
bahan pangan, diperlukan pendekatan keamanan pangan yang lebih hati-hati.
3.4 Lasiodiplodia
Lasiodiplodia theobromae juga mempunyai arti penting dalam
penyakit nangka. Penelitian terbaru mengidentifikasi L. theobromae dan L.
brasiliense sebagai penyebab busuk buah dan dieback pada tanaman nangka di
Brasil.
Infeksi dapat ditandai oleh
perubahan warna menjadi gelap atau hitam dan perkembangan jaringan busuk. Fungi
kelompok ini juga dapat berasosiasi dengan jaringan tanaman yang mengalami
stres atau luka.
3.5 Colletotrichum dan Pestalotiopsis
Kelompok Colletotrichum dan Pestalotiopsis
juga perlu dipertimbangkan dalam investigasi penyakit buah nangka. Penelitian
mengenai busuk buah nangka pascapanen menunjukkan bahwa beberapa kelompok
fungi, termasuk Colletotrichum, Pestalotiopsis, dan Lasiodiplodia,
dapat berasosiasi dengan penyakit busuk.
Dengan demikian, identifikasi kapang
pada babal sebaiknya tidak hanya didasarkan pada warna atau bentuk miselium.
4. Mekanisme Terjadinya Infeksi
Infeksi kapang pada babal dapat
dipahami melalui beberapa tahapan.
Pertama, spora fungi mencapai
permukaan buah. Spora dapat berasal dari udara, tanah, air hujan, serangga,
alat pertanian, daun, ranting, atau buah lain yang telah terinfeksi.
Kedua, spora berkecambah ketika kondisi lingkungan
mendukung. Ketersediaan air dan kelembapan permukaan merupakan faktor penting
dalam proses tersebut.
Ketiga, tabung kecambah berkembang menjadi hifa. Hifa kemudian dapat menembus
jaringan melalui luka atau bagian permukaan yang secara fisiologis lebih
rentan.
Keempat, fungi menghasilkan berbagai
enzim ekstraseluler. Enzim seperti pektinase, selulase, dan enzim hidrolitik
lainnya dapat membantu fungi memperoleh nutrien sekaligus menyebabkan kerusakan
struktur jaringan.
Pada kasus Rhizopus stolonifer,
kemampuan menghasilkan pektinase telah dikaitkan dengan proses pembusukan buah
nangka.
Kelima, jaringan yang rusak menjadi
semakin lunak dan kaya nutrien sehingga mempercepat perkembangan koloni fungi.
5. Mengapa Babal yang Berkapang Dapat Berhenti
Berkembang?
Pertumbuhan buah merupakan proses fisiologis yang
membutuhkan koordinasi pembelahan sel, pembesaran sel, transportasi air,
fotosintat, hormon tanaman, dan aktivitas metabolik.
Ketika jaringan buah muda mengalami infeksi fungi,
sebagian sumber daya fisiologis tanaman dialihkan untuk mempertahankan jaringan
dari serangan. Pada saat yang sama,
fungi dapat merusak sel melalui aktivitas enzimatik.
Akibatnya, jaringan yang seharusnya
mengalami pembesaran mengalami kerusakan struktural. Pada infeksi berat, buah
muda dapat mengalami aborsi buah, kemudian mengering atau menjadi buah
yang mengalami mumifikasi.
Dengan demikian, babal yang
berkapang tidak selalu sekadar "buah kecil yang kebetulan ditumbuhi
jamur". Dalam kondisi tertentu, pertumbuhan kapang dapat menjadi bagian
dari proses penyakit yang menyebabkan kegagalan perkembangan buah.
6. Faktor Lingkungan yang Mendukung
Kapang
Beberapa faktor yang dapat
meningkatkan risiko pertumbuhan kapang pada babal meliputi:
- Kelembapan tinggi, terutama ketika permukaan buah sering basah.
- Curah hujan tinggi, yang meningkatkan kelembapan dan penyebaran spora.
- Suhu hangat, terutama pada lingkungan tropis.
- Luka mekanis akibat gesekan ranting atau serangga.
- Kepadatan buah yang tinggi pada satu bagian tanaman.
- Sirkulasi
udara buruk.
- Sanitasi kebun yang kurang baik.
- Buah atau
jaringan tanaman yang telah membusuk di sekitar tanaman.
- Stres tanaman, termasuk kekurangan atau ketidakseimbangan air dan nutrien.
Interaksi faktor tersebut sangat
penting. Kapang yang secara normal hanya menjadi mikroorganisme permukaan dapat
berubah menjadi agen pembusuk ketika jaringan tanaman mengalami luka dan
kondisi mikroklimat mendukung.
7. Kapang pada Babal: Patogen Primer
atau Kolonisasi Sekunder?
Pertanyaan ini merupakan salah satu
aspek terpenting dalam penelitian mikologi babal.
Tidak semua kapang yang ditemukan
pada buah merupakan penyebab awal penyakit. Kapang dapat muncul setelah
jaringan terlebih dahulu mengalami kerusakan fisiologis.
Sebagai contoh, buah yang mengalami
luka akibat serangga dapat mengalami kematian jaringan lokal. Jaringan mati
tersebut kemudian menjadi substrat yang sangat sesuai untuk pertumbuhan kapang
saprofit.
Karena itu, diperlukan pendekatan
eksperimental untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.
Identifikasi yang kuat sebaiknya
melibatkan:
- isolasi fungi dari jaringan sakit;
- pengamatan
morfologi koloni;
- pengamatan
mikroskopis;
- ekstraksi
DNA;
- analisis gen
ITS;
- perbandingan
dengan database seperti GenBank;
- uji
patogenisitas;
- dan, apabila memungkinkan, pemenuhan prinsip Koch
atau pendekatan molekuler modern yang ekuivalen.
Pendekatan tersebut jauh lebih dapat
diandalkan daripada menyatakan bahwa suatu kapang adalah penyebab penyakit
hanya berdasarkan warna koloninya.
8. Risiko Keamanan Pangan
Keberadaan kapang pada babal perlu
dibedakan antara kerusakan biologis dan risiko toksikologis.
Kapang dapat menyebabkan:
- perubahan
aroma;
- perubahan
warna;
- pelunakan
jaringan;
- kehilangan
nilai nutrisi;
- pembentukan
metabolit sekunder;
- dan kemungkinan produksi mikotoksin oleh spesies
tertentu.
Namun, keberadaan satu jenis kapang
tidak secara otomatis berarti bahwa mikotoksin pasti terbentuk.
Produksi mikotoksin bergantung pada
spesies atau strain fungi serta kondisi lingkungan seperti suhu, aktivitas air,
substrat, dan lama kolonisasi.
Oleh sebab itu, apabila babal telah
menunjukkan pertumbuhan kapang yang jelas, bagian yang berkapang sebaiknya
tidak dianggap aman hanya dengan menghilangkan lapisan kapang secara visual,
terutama jika terdapat pembusukan yang telah masuk ke jaringan.
9. Strategi Pengendalian
Pengendalian kapang pada babal
sebaiknya menggunakan pendekatan terpadu.
9.1 Sanitasi kebun
Buah yang telah membusuk sebaiknya
segera dikeluarkan dari lingkungan tanaman. Jaringan tanaman yang terinfeksi
dapat menjadi sumber inokulum bagi buah lainnya.
9.2 Mengurangi luka mekanis
Penanganan buah muda harus dilakukan
secara hati-hati. Luka kecil sekalipun dapat menjadi pintu masuk fungi.
9.3 Pengelolaan kelembapan
Pemangkasan dan pengaturan kanopi
dapat membantu meningkatkan sirkulasi udara serta mengurangi periode permukaan
buah dalam kondisi basah.
9.4 Pengendalian biologis
Pendekatan biologis merupakan salah
satu arah penelitian yang menarik. Studi terbaru menunjukkan bahwa Meyerozyma
caribbica dan Meyerozyma guilliermondii dapat menunjukkan aktivitas
antagonistik terhadap patogen nangka, termasuk Rhizopus stolonifer dan Lasiodiplodia
theobromae. Kombinasi kedua yeast tersebut bahkan menunjukkan efektivitas
yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan kultur tunggal dalam kondisi
penelitian.
9.5 Perlakuan kalsium klorida dan
panas
Penelitian tahun 2025 menunjukkan
bahwa kombinasi kalsium klorida 2% dan perlakuan panas pada nangka potong dapat
menekan beberapa fungi pembusuk, termasuk Gilbertella hainanensis, Penicillium
kongii, dan P. citrinum. Mekanisme yang diamati antara lain
berkaitan dengan gangguan integritas membran fungi.
9.6 Ozon
Ozon juga menjadi salah satu
teknologi pascapanen yang menarik. Penelitian pada nangka menunjukkan bahwa
perlakuan ozon dapat menekan penyakit busuk sekaligus memengaruhi sistem
pertahanan buah, kandungan fenolik, respirasi, dan biosintesis etilen.
Namun, konsentrasi dan lama
perlakuan harus dikendalikan secara ketat karena perlakuan yang berlebihan
dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada jaringan buah.
10. Kerangka Penelitian untuk
Identifikasi Kapang pada Babal
Penelitian khusus mengenai kapang
pada babal dapat dirancang menggunakan pendekatan berikut:
Babal sehat → Babal dengan bercak →
Babal berkapang → Isolasi fungi → Kultur → Identifikasi morfologi →
Identifikasi molekuler → Uji patogenisitas → Analisis faktor lingkungan →
Evaluasi pengendalian.
Sampel dapat dikelompokkan
berdasarkan tingkat kerusakan:
- kelompok A:
babal sehat;
- kelompok B:
babal dengan bercak;
- kelompok C:
babal dengan pembusukan;
- kelompok D:
babal dengan pertumbuhan kapang yang jelas.
Parameter yang dapat dianalisis meliputi diameter lesi,
luas koloni kapang, warna koloni, kecepatan pertumbuhan miselium, sporulasi,
kadar air, pH jaringan, suhu, kelembapan relatif, serta identitas molekuler
fungi.
Pendekatan ini memungkinkan penelitian menjawab
pertanyaan yang lebih fundamental: apakah kapang merupakan penyebab utama
kematian babal atau hanya memanfaatkan jaringan babal yang sebelumnya telah
mengalami kerusakan?
11. Perspektif Mikologi dan Ekologi Mikroba
Babal dapat dipandang sebagai suatu ekosistem mikro yang
dihuni oleh komunitas mikroorganisme. Di dalamnya terdapat kemungkinan interaksi antara fungi
patogen, fungi saprofit, yeast, bakteri, serta mikroorganisme antagonistik.
Penelitian terbaru terhadap nangka
menunjukkan bahwa perlakuan pascapanen dapat mengubah struktur komunitas
mikroba pada permukaan buah. Perlakuan tertentu bahkan dapat meningkatkan
proporsi yeast antagonistik sekaligus menurunkan kelimpahan fungi pembusuk.
Perspektif ini penting karena
pengendalian kapang masa depan tidak harus selalu diarahkan pada eliminasi
seluruh mikroorganisme. Strategi yang lebih berkelanjutan dapat berupa rekayasa
mikrobioma permukaan buah untuk mempertahankan komunitas mikroba yang mampu
menghambat fungi patogen.
12. Kesimpulan
Kapang pada babal atau buah nangka yang masih sangat muda
merupakan fenomena yang dapat berkaitan dengan infeksi fungi, pembusukan
pascapanen, kerusakan mekanis, maupun kolonisasi sekunder pada jaringan yang
telah mati. Sejumlah fungi telah dilaporkan berasosiasi dengan penyakit dan
pembusukan nangka, termasuk Rhizopus, Lasiodiplodia, Penicillium,
Aspergillus, Colletotrichum, dan Pestalotiopsis.
Rhizopus stolonifer merupakan
salah satu fungi yang telah lama diketahui berhubungan dengan busuk buah
nangka, sedangkan penelitian terbaru menunjukkan kompleksitas komunitas fungi
pembusuk dengan ditemukannya Gilbertella hainanensis, Penicillium
kongii, dan P. citrinum pada nangka segar yang mengalami pembusukan.
Namun demikian, identifikasi kapang pada babal tidak
dapat dilakukan secara akurat hanya berdasarkan warna atau bentuk pertumbuhan.
Identifikasi morfologi yang dilanjutkan dengan analisis molekuler dan uji
patogenisitas diperlukan untuk menentukan agen penyebab secara ilmiah.
Dari perspektif pengendalian, sanitasi kebun, pengurangan
luka mekanis, pengelolaan kelembapan, serta teknologi pascapanen seperti
perlakuan ozon, kalsium klorida-panas, dan agen biokontrol berbasis yeast
menunjukkan prospek yang menjanjikan.
Dengan demikian, penelitian mengenai “kapang pada
babal” bukan hanya relevan untuk memahami penyakit nangka, tetapi juga
dapat menjadi model menarik untuk mempelajari hubungan antara perkembangan buah
muda, mikrobioma tanaman, patogenesis fungi, keamanan pangan, dan teknologi
pengendalian penyakit berbasis biologis.
Daftar
Pustaka
Ghosh, R., Barman, S., Mukhopadhyay, A., & Mandal, N.
C. (2015). Biological control of fruit-rot of jackfruit by rhizobacteria and
food grade lactic acid bacteria. Biological Control, 83, 29–36. https://doi.org/10.1016/j.biocontrol.2014.12.020
Kartika, Y., Uthairatanakij, A., Laohakunjit, N.,
Kaisangsri, N., & Jitareerat, P. (2025). Ozone gas induces plant defense
enzymes and mitigates ethylene biosynthesis to control fruit rot disease and
maintain harvested jackfruit quality. Postharvest Biology and Technology,
226, 113539. https://doi.org/10.1016/j.postharvbio.2025.113539
Wu, S., Li, Y., Zhang, H., Pan, Y., Yang, H., & Tan,
Y. (2025). Microbial community reshaping: Calcium chloride-heat treatment
synergy in fresh-cut jackfruit preservation via antagonistic yeast enrichment. Food
Research International, 221, 117558.
Wu, S., et al. (2025). Antagonistic effect of co-cultures
involving Meyerozyma caribbica and Meyerozyma guilliermondii
against postharvest pathogens of jackfruit: Understanding the mechanisms behind
their action. Physiological and Molecular Plant Pathology, 136, 102528. https://doi.org/10.1016/j.pmpp.2024.102528
Penelitian mengenai Lasiodiplodia pada nangka juga
menunjukkan bahwa identifikasi patogen secara morfologi dan molekuler penting
untuk membedakan agen penyebab busuk buah secara akurat.