PROPOSAL KEGIATAN
AKSELERASI TRANSFORMASI LAYANAN PRIMER DAN SISTEM ONE HEALTH MELALUI PROGRAM KITA SEHAT DI PROVINSI JAWA BARAT
“Dari Desa Sehat, Hewan Sehat, Lingkungan Sehat Menuju Jawa Barat Sehat”
I. RINGKASAN EKSEKUTIF
Kemitraan Indonesia–Australia untuk Transformasi Kesehatan atau KITA SEHAT (Australia–Indonesia Partnership for Health Transformation) merupakan program kerja sama strategis Indonesia dan Australia periode 2025–2033 yang diarahkan untuk memperkuat transformasi sistem kesehatan Indonesia, terutama layanan kesehatan primer, gizi dan pencegahan stunting, tenaga kesehatan, serta ketahanan kesehatan. Program ini dilaksanakan pada tingkat nasional dan pada tahap awal di tiga provinsi percontohan, yaitu Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat Daya.
Jawa Barat mempunyai posisi strategis sebagai salah satu provinsi dengan populasi besar, kepadatan penduduk tinggi, keragaman wilayah perkotaan dan perdesaan, mobilitas manusia yang tinggi, serta aktivitas peternakan dan perdagangan hewan yang beragam. Kondisi tersebut memberikan peluang besar untuk mempercepat transformasi layanan primer, tetapi sekaligus membutuhkan sistem surveilans dan respons kesehatan yang mampu melihat keterkaitan antara manusia, hewan, dan lingkungan.
Proposal ini menawarkan model implementasi “Kita Sehat Jawa Barat” yang praktis dan bertahap melalui integrasi lima komponen utama:
1. penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP);
2. pemberdayaan Posyandu dan kader berbasis siklus hidup;
3. penguatan jejaring Puskesmas–Puskeswan–petugas kesehatan hewan;
4. pengembangan sistem kewaspadaan dini One Health;
5. pemanfaatan interoperabilitas digital antara sistem kesehatan manusia dan sistem kesehatan hewan sesuai standar dan kewenangan masing-masing.
Pendekatan tersebut sejalan dengan transformasi layanan primer Kementerian Kesehatan yang menekankan edukasi masyarakat, pencegahan primer, pencegahan sekunder, serta peningkatan kapasitas Puskesmas, Posyandu dan pelayanan berbasis kunjungan rumah.
Program diusulkan dilaksanakan secara 12 bulan sebagai tahap implementasi awal, kemudian diperluas secara bertahap. Seluruh 27 kabupaten/kota menjadi cakupan program, sedangkan implementasi intensif pada tahun pertama dapat dimulai pada sejumlah lokus prioritas yang dipilih berdasarkan beban penyakit, risiko zoonosis, karakteristik peternakan, kesenjangan akses layanan primer, kesiapan digital, dan komitmen pemerintah daerah.
Hasil yang diharapkan adalah terbentuknya model layanan primer Jawa Barat yang lebih proaktif, terintegrasi, digital, berbasis risiko, serta mampu mendeteksi dan merespons ancaman kesehatan manusia–hewan–lingkungan secara lebih cepat.
II. LATAR BELAKANG
Transformasi kesehatan Indonesia menempatkan layanan kesehatan primer sebagai fondasi penting pembangunan sistem kesehatan. Kementerian Kesehatan menempatkan Transformasi Layanan Primer sebagai salah satu pilar utama transformasi kesehatan dengan orientasi pada penguatan promotif dan preventif, peningkatan skrining, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kapasitas layanan primer.
Dalam perkembangan kebijakan tersebut, Integrasi Layanan Primer (ILP) diarahkan untuk mengubah pendekatan pelayanan dari model yang terfragmentasi berdasarkan penyakit menjadi pelayanan yang lebih terintegrasi berdasarkan siklus hidup masyarakat. Pendekatan tersebut mencakup pelayanan sejak bayi dan anak, usia produktif, hingga lanjut usia dengan dukungan Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu, kunjungan rumah dan jejaring pelayanan di masyarakat.
Pada saat yang sama, ancaman kesehatan masyarakat semakin kompleks. Penyakit zoonosis, resistansi antimikroba, perubahan iklim, mobilitas manusia dan hewan, serta perubahan ekosistem menunjukkan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Karena itu, pendekatan One Health menjadi semakin penting sebagai pendekatan lintas sektor dan lintas disiplin.
Program KITA SEHAT dirancang untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam mencegah, mendeteksi dan merespons penyakit menular serta keadaan darurat kesehatan pada manusia dan hewan, sekaligus membangun sistem kesehatan primer yang lebih tangguh, inklusif dan merata.
Pemerintah Indonesia dan Australia secara resmi menandatangani kemitraan KITA SEHAT pada Agustus 2025. Program ini kemudian diluncurkan secara nasional pada Juli 2026 dengan pelaksanaan pada tingkat nasional dan tiga provinsi percontohan, yaitu Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat Daya.
Kementerian Pertanian juga telah menegaskan bahwa KITA SEHAT akan memperkuat pendekatan One Health melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk peningkatan kapasitas kesehatan hewan, surveilans zoonosis, kesiapsiagaan kedaruratan kesehatan hewan, penguatan Puskeswan dan peran Otoritas Veteriner.
Jawa Barat karena itu perlu mengembangkan model implementasi daerah yang konkret. Program tidak cukup berhenti pada forum koordinasi atau pelatihan, tetapi harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan langsung di tingkat desa, Puskesmas, Posyandu, Puskeswan, peternakan dan masyarakat.
Proposal ini mengusulkan Kita Sehat Jawa Barat sebagai model operasional untuk menghubungkan layanan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kewaspadaan lingkungan dalam satu ekosistem koordinasi daerah.
III. DASAR PEMIKIRAN DAN LANDASAN KEBIJAKAN
Program ini berpedoman pada:
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengatur penyelenggaraan kesehatan, sistem informasi kesehatan, kejadian luar biasa dan wabah, pendanaan kesehatan, koordinasi serta penguatan sistem kesehatan.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis sebagai salah satu dasar penyelenggaraan rekam medis elektronik.
3. Kebijakan Transformasi Kesehatan Nasional, khususnya Transformasi Layanan Primer dan Integrasi Layanan Primer.
4. Kebijakan dan arsitektur interoperabilitas SATUSEHAT yang menggunakan standardisasi pertukaran data kesehatan dan HL7 FHIR.
5. Australia–Indonesia Partnership for Health Transformation/KITA SEHAT periode 2025–2033.
6. Kebijakan One Health dan penguatan surveilans penyakit zoonosis Indonesia.
7. Kebijakan dan sistem informasi kesehatan hewan nasional, termasuk iSIKHNAS. iSIKHNAS dirancang untuk mengumpulkan data kesehatan hewan dari lapangan secara cepat serta menyediakan analisis dan sistem peringatan bagi petugas yang perlu melakukan respons.
8. Kebijakan pembangunan kesehatan daerah Provinsi Jawa Barat dan dokumen perencanaan pembangunan daerah yang relevan.
IV. NAMA KEGIATAN
“Kita Sehat Jawa Barat: Akselerasi Transformasi Layanan Primer dan Sistem One Health melalui Integrasi Puskesmas, Posyandu, Puskeswan, Dokter Desa, dan Digitalisasi Kesehatan.”
Nama singkat: KITA SEHAT JABAR
Tagline: “Sehat Manusianya, Sehat Hewannya, Sehat Lingkungannya.”
V. MAKSUD DAN TUJUAN
5.1 Maksud
Membangun model implementasi daerah yang praktis, terintegrasi dan berkelanjutan untuk mempercepat transformasi layanan kesehatan primer serta memperkuat sistem One Health di Provinsi Jawa Barat.
5.2 Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan Jawa Barat dalam mencegah, mendeteksi dan merespons masalah kesehatan masyarakat melalui integrasi layanan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan faktor lingkungan.
5.3 Tujuan Khusus
Program bertujuan:
1. memperkuat Puskesmas sebagai pusat koordinasi pelayanan kesehatan primer berbasis wilayah;
2. meningkatkan fungsi promotif dan preventif Posyandu;
3. memperkuat skrining penyakit tidak menular dan penyakit menular;
4. meningkatkan cakupan imunisasi;
5. mempercepat pencegahan dan penurunan stunting;
6. meningkatkan kemampuan deteksi dini zoonosis;
7. memperkuat koordinasi Puskesmas dan Puskeswan;
8. meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan manusia dan hewan;
9. membangun mekanisme peringatan dini One Health;
10. mengembangkan interoperabilitas data kesehatan sesuai standar SATUSEHAT dan sistem kesehatan hewan;
11. meningkatkan literasi kesehatan masyarakat;
12. membangun model yang dapat direplikasi di seluruh Jawa Barat dan provinsi lainnya.
VI. SASARAN PROGRAM
Sasaran program terdiri atas:
A. Sasaran langsung
· Puskesmas;
· Puskesmas Pembantu;
· Posyandu;
· kader kesehatan;
· dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lainnya;
· dokter hewan;
· petugas Puskeswan;
· penyuluh peternakan;
· petugas surveilans;
· pengelola data dan sistem informasi;
· pemerintah desa/kelurahan;
· peternak;
· pekerja rumah potong hewan;
· pedagang dan pekerja yang mempunyai kontak erat dengan hewan.
B. Sasaran tidak langsung
· bayi dan balita;
· ibu hamil;
· anak sekolah;
· remaja;
· kelompok usia produktif;
· lansia;
· masyarakat umum;
· kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah berisiko zoonosis.
VII. LOKASI KEGIATAN
Program mencakup:
27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.
Namun, agar mudah dilaksanakan dan dapat dievaluasi secara objektif, pelaksanaan dibagi menjadi dua tingkat:
Tingkat I – Pilot Intensif
Pada tahap awal dipilih 6–9 kabupaten/kota prioritas berdasarkan:
· risiko zoonosis;
· kepadatan penduduk;
· sentra peternakan;
· keberadaan pasar hewan atau RPH;
· kesenjangan akses layanan kesehatan;
· kesiapan Puskesmas;
· kesiapan sistem digital;
· prevalensi masalah gizi/stunting;
· komitmen pemerintah daerah.
Tingkat II – Scale-up
Model yang terbukti efektif diperluas ke seluruh 27 kabupaten/kota.
Dengan demikian, program tetap mencakup seluruh Jawa Barat tetapi tidak membebani pelaksana dengan implementasi penuh pada 27 kabupaten/kota sejak hari pertama.
VIII. PRINSIP PELAKSANAAN
Program menggunakan prinsip:
1. locally led;
2. berbasis kebutuhan daerah;
3. promotif-preventif;
4. berbasis siklus hidup;
5. One Health;
6. berbasis risiko;
7. digital tetapi tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi;
8. inklusif terhadap kelompok rentan;
9. sensitif gender dan disabilitas;
10. berbasis bukti;
11. melibatkan masyarakat;
12. menggunakan sistem pemerintah yang sudah ada sebanyak mungkin;
13. menghindari duplikasi aplikasi;
14. berorientasi pada hasil;
15. berkelanjutan setelah dukungan proyek berakhir.
Pendekatan locally led, gender equality, disability and social inclusion (GEDSI), serta ketahanan iklim juga merupakan bagian dari pendekatan KITA SEHAT.
IX. KOMPONEN PROGRAM
Program terdiri atas 7 komponen utama.
KOMPONEN 1
PENGUATAN INTEGRASI LAYANAN PRIMER
Kegiatan meliputi:
1. pemetaan kapasitas Puskesmas;
2. penguatan ILP;
3. penguatan pelayanan berdasarkan siklus hidup;
4. peningkatan kunjungan rumah;
5. penguatan skrining;
6. peningkatan fungsi Puskesmas sebagai koordinator jejaring kesehatan desa;
7. penguatan Posyandu;
8. penguatan rujukan;
9. peningkatan mutu pencatatan.
Transformasi layanan primer Kementerian Kesehatan memang diarahkan pada edukasi penduduk, pencegahan primer, pencegahan sekunder dan peningkatan kapasitas Puskesmas, Posyandu serta kunjungan rumah.
Output
· Puskesmas memiliki rencana kerja ILP;
· tersedia pemetaan wilayah risiko;
· meningkatnya kunjungan rumah;
· meningkatnya cakupan skrining;
· meningkatnya pemanfaatan Posyandu.
KOMPONEN 2
POSYANDU SEHAT DAN KELUARGA SEHAT
Posyandu dikembangkan menjadi pusat pemberdayaan kesehatan masyarakat.
Kegiatan:
A. Posyandu Balita
· penimbangan;
· pengukuran panjang/tinggi badan;
· pemantauan pertumbuhan;
· pemantauan perkembangan;
· imunisasi;
· edukasi ASI dan MPASI;
· edukasi sanitasi;
· deteksi risiko stunting.
B. Posyandu Remaja
· anemia;
· kesehatan reproduksi;
· kesehatan mental;
· aktivitas fisik;
· gizi;
· perilaku hidup bersih dan sehat.
C. Posyandu Usia Produktif
· tekanan darah;
· gula darah sesuai indikasi;
· indeks massa tubuh;
· risiko penyakit kardiovaskular;
· edukasi berhenti merokok;
· aktivitas fisik.
D. Posyandu Lansia
· hipertensi;
· diabetes;
· risiko jatuh;
· status gizi;
· kesehatan mental;
· kepatuhan pengobatan.
KOMPONEN 3
PROGRAM “HARI KITA SEHAT”
Program ini menjadi kegiatan unggulan yang mudah dilihat masyarakat.
Dilaksanakan secara berkala di desa/kelurahan.
Dalam satu kegiatan terdapat:
Layanan manusia
· cek tekanan darah;
· skrining diabetes;
· pemeriksaan status gizi;
· imunisasi;
· pemeriksaan ibu dan anak;
· edukasi kesehatan;
· konseling.
Layanan hewan
Dilaksanakan oleh Dinas Peternakan/Puskeswan sesuai kewenangan:
· pemeriksaan kesehatan hewan;
· vaksinasi hewan/ternak sesuai program;
· pemeriksaan risiko zoonosis;
· edukasi biosekuriti;
· edukasi penggunaan obat hewan secara tepat;
· pelaporan kejadian penyakit hewan.
Lingkungan
· pemeriksaan sanitasi sederhana;
· pengelolaan limbah;
· air bersih;
· kebersihan kandang;
· pengendalian vektor;
· edukasi lingkungan sehat.
Dengan demikian, masyarakat melihat One Health bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai kegiatan nyata dalam satu hari pelayanan.
KOMPONEN 4
ONE HEALTH DESA
Setiap desa lokus pilot membentuk Tim One Health Desa.
Struktur minimal
· Kepala Desa/Lurah;
· bidan/kader kesehatan;
· Puskesmas;
· Puskeswan/dokter hewan;
· penyuluh peternakan;
· kader masyarakat;
· unsur lingkungan;
· tokoh masyarakat;
· unsur pendidikan bila diperlukan.
Tugas
1. memetakan risiko zoonosis;
2. mendata populasi hewan berisiko;
3. memantau kejadian penyakit;
4. melaporkan kejadian luar biasa;
5. melakukan edukasi masyarakat;
6. membantu investigasi awal;
7. menghubungkan masyarakat dengan Puskesmas dan Puskeswan;
8. menyusun peta risiko desa.
KOMPONEN 5
JOINT TRAINING TENAGA KESEHATAN MANUSIA DAN HEWAN
Pelatihan lintas sektor menjadi bagian penting karena KITA SEHAT sendiri menempatkan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan manusia dan hewan serta health security sebagai bagian dari hasil program.
Modul pelatihan
Modul 1 – One Health
· konsep One Health;
· hubungan manusia-hewan-lingkungan;
· zoonosis;
· spillover.
Modul 2 – Surveilans
· passive surveillance;
· active surveillance;
· community-based surveillance;
· event-based surveillance.
Modul 3 – Zoonosis Prioritas
Contoh:
· rabies;
· avian influenza;
· anthrax;
· leptospirosis;
· brucellosis;
· zoonosis emerging/re-emerging sesuai analisis risiko daerah.
Modul 4 – Investigasi Lapangan
· definisi kasus;
· wawancara;
· penelusuran paparan;
· pengambilan spesimen sesuai kewenangan;
· biosafety;
· komunikasi risiko.
Modul 5 – Digital Health
· SATUSEHAT;
· RME;
· interoperabilitas;
· kualitas data;
· keamanan data.
Modul 6 – Antimicrobial Resistance
· penggunaan antibiotik yang rasional;
· stewardship;
· hubungan kesehatan manusia dan hewan.
Modul 7 – Komunikasi Risiko
· komunikasi saat terjadi wabah;
· melawan hoaks;
· komunikasi dengan peternak;
· komunikasi dengan masyarakat.
KOMPONEN 6
DIGITAL ONE HEALTH JAWA BARAT
Komponen digital tidak dimaksudkan untuk membuat aplikasi baru yang berdiri sendiri.
Prinsipnya adalah:
“Integrasikan sistem yang sudah ada, jangan menambah aplikasi yang tidak diperlukan.”
SATUSEHAT telah dikembangkan sebagai platform pertukaran data kesehatan nasional dengan standardisasi interoperabilitas, termasuk penggunaan HL7 FHIR.
Sementara itu, iSIKHNAS telah digunakan sebagai sistem informasi kesehatan hewan yang mampu mengumpulkan laporan lapangan dan menghasilkan peringatan bagi petugas kesehatan hewan.
Arsitektur yang diusulkan
DATA KESEHATAN MANUSIA
Puskesmas – Posyandu – RME
↓
SATUSEHAT
↓
ONE HEALTH DATA LAYER / DASHBOARD DAERAH
↑
iSIKHNAS – DATA KESEHATAN HEWAN
↑
Puskeswan – Petugas Lapangan – Laboratorium Veteriner
Catatan penting
Interoperabilitas antara sistem kesehatan manusia dan kesehatan hewan harus dilakukan melalui mekanisme, standar, otorisasi dan persetujuan kelembagaan yang ditetapkan oleh kementerian/lembaga terkait.
Karena itu, proposal ini mengusulkan uji coba interoperabilitas dan dashboard One Health, bukan mengasumsikan bahwa seluruh data individu atau seluruh data iSIKHNAS dapat langsung dipindahkan ke SATUSEHAT.
SATUSEHAT sendiri telah memiliki panduan interoperabilitas dan use case zoonosis, termasuk Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR)/rabies.
KOMPONEN 7
EARLY WARNING SYSTEM ONE HEALTH
Dibangun mekanisme:
“Animal Alert → Human Alert → Rapid Response”
Contoh:
iSIKHNAS mendeteksi peningkatan kasus penyakit hewan
↓
Analisis risiko oleh Dinas Peternakan/Otoritas Veteriner
↓
One Health Alert
↓
Puskesmas di wilayah terkait menerima informasi risiko
↓
Puskesmas melakukan peningkatan kewaspadaan
↓
Skrining kelompok berisiko
↓
Investigasi bersama
↓
Respons kesehatan manusia dan hewan
↓
Monitoring
Pendekatan ini konsisten dengan prinsip One Health yang mendorong sistem surveilans kolaboratif, identifikasi hotspot dan penguatan teknologi untuk deteksi dini serta respons cepat terhadap ancaman zoonosis.
X. MEKANISME “ONE HEALTH ALERT”
Agar mudah diterapkan, digunakan sistem tiga tingkat.
LEVEL HIJAU
Tidak ada peningkatan risiko.
Kegiatan:
· surveilans rutin;
· edukasi;
· vaksinasi;
· monitoring.
LEVEL KUNING
Ada peningkatan kasus atau sinyal epidemiologis.
Kegiatan:
· peningkatan surveilans;
· investigasi lapangan;
· komunikasi risiko;
· skrining kelompok berisiko;
· peningkatan koordinasi.
LEVEL MERAH
Terjadi kejadian luar biasa atau ancaman serius.
Kegiatan:
· aktivasi respons cepat;
· investigasi bersama;
· koordinasi laboratorium;
· pengendalian sumber penularan;
· perlindungan tenaga kesehatan;
· komunikasi publik;
· koordinasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
XI. PROGRAM “DOKTER DESA” SEBAGAI INOVASI PENDUKUNG
Dalam proposal ini, istilah Dokter Desa digunakan sebagai model penguatan akses pelayanan kesehatan berbasis desa dan bukan sebagai pengganti struktur resmi Puskesmas.
Model tersebut dapat berupa:
· kunjungan dokter secara berkala;
· telekonsultasi;
· kunjungan rumah;
· supervisi kasus;
· skrining masyarakat;
· pendampingan kader;
· edukasi kesehatan;
· koordinasi dengan Puskesmas.
Untuk wilayah yang sulit dijangkau, dokter dapat didukung oleh:
· bidan desa;
· perawat;
· kader;
· telemedicine;
· kendaraan layanan bergerak.
Dengan demikian, inovasi Dokter Desa menjadi jejaring ekstensi Puskesmas, bukan sistem layanan yang berjalan sendiri.
XII. PROGRAM IMUNISASI
Program diarahkan untuk meningkatkan cakupan imunisasi sesuai target nasional dan kondisi masing-masing kabupaten/kota.
Target operasional awal:
· pemetaan anak yang belum lengkap imunisasinya;
· pelacakan anak drop-out;
· kunjungan rumah;
· penguatan Posyandu;
· penguatan komunikasi dengan orang tua;
· integrasi pencatatan imunisasi sesuai sistem nasional.
Target program daerah dapat diarahkan menuju cakupan ≥90% pada lokus prioritas, dengan baseline dan target tahunan ditetapkan berdasarkan data aktual masing-masing wilayah.
XIII. PROGRAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING
Strategi:
1. pemetaan balita berisiko;
2. pemantauan pertumbuhan;
3. pemantauan perkembangan;
4. konseling ibu;
5. edukasi pemberian makan bayi dan anak;
6. pemantauan ibu hamil;
7. intervensi gizi;
8. sanitasi;
9. air bersih;
10. kunjungan rumah;
11. rujukan kasus;
12. monitoring berbasis keluarga.
Program tidak hanya mengejar penurunan angka stunting, tetapi juga meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak.
XIV. PROGRAM CEK KESEHATAN MASYARAKAT
Program skrining meliputi:
Penyakit tidak menular
· hipertensi;
· diabetes;
· obesitas;
· risiko penyakit kardiovaskular;
· gangguan kesehatan terkait gaya hidup.
Penyakit menular
· tuberkulosis sesuai pedoman;
· penyakit saluran pernapasan;
· penyakit berbasis lingkungan;
· zoonosis prioritas sesuai risiko wilayah.
Kelompok prioritas
· peternak;
· pekerja kandang;
· pekerja RPH;
· pedagang hewan;
· dokter hewan;
· petugas kesehatan hewan;
· masyarakat yang tinggal di hotspot zoonosis.
XV. MODEL SURVEILANS ZOONOSIS
Surveilans dilakukan melalui tiga sumber:
1. Surveilans kesehatan manusia
Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan.
2. Surveilans kesehatan hewan
Puskeswan, petugas kesehatan hewan, laboratorium dan iSIKHNAS.
3. Surveilans masyarakat
Kader, desa, peternak dan masyarakat.
Ketiganya kemudian dipertemukan melalui mekanisme koordinasi One Health.
XVI. ALUR RESPONS ZOONOSIS
Tahap 1 – Deteksi
Kasus ditemukan pada manusia atau hewan.
Tahap 2 – Verifikasi
Petugas melakukan verifikasi informasi.
Tahap 3 – Risk Assessment
Tim One Health menilai:
· lokasi;
· jumlah kasus;
· jenis hewan;
· paparan manusia;
· pola penularan;
· potensi penyebaran.
Tahap 4 – Alert
Jika memenuhi kriteria, diterbitkan One Health Alert.
Tahap 5 – Investigasi
Tim kesehatan manusia dan kesehatan hewan melakukan investigasi sesuai kewenangan.
Tahap 6 – Response
Dilakukan tindakan pengendalian.
Tahap 7 – Monitoring
Kasus dipantau hingga situasi kembali terkendali.
XVII. KEGIATAN UTAMA DAN OUTPUT
No. | Kegiatan | Output |
1 | Pemetaan risiko | Peta risiko One Health |
2 | Baseline Puskesmas | Profil layanan primer |
3 | Pelatihan | Tenaga terlatih |
4 | Penguatan Posyandu | Posyandu aktif |
5 | Hari Kita Sehat | Layanan terpadu |
6 | Surveilans zoonosis | Data risiko |
7 | Joint investigation | Tim respons |
8 | Dashboard | Dashboard One Health |
9 | Uji interoperabilitas | Prototype konektivitas |
10 | Komunikasi risiko | Masyarakat teredukasi |
11 | Monitoring | Laporan berkala |
12 | Evaluasi | Model replikasi |
XVIII. INDIKATOR KINERJA UTAMA
Input
· anggaran tersedia;
· SDM tersedia;
· perangkat digital tersedia;
· SOP tersedia.
Proses
· jumlah tenaga kesehatan dilatih;
· jumlah Puskesmas berpartisipasi;
· jumlah Puskesmas–Puskeswan melakukan koordinasi;
· jumlah Posyandu melaksanakan kegiatan;
· jumlah kegiatan Hari Kita Sehat.
Output
· cakupan skrining meningkat;
· cakupan imunisasi meningkat;
· balita berisiko teridentifikasi;
· kasus zoonosis terdeteksi lebih cepat;
· alert One Health berjalan;
· data lebih lengkap dan tepat waktu.
Outcome
· peningkatan akses layanan primer;
· peningkatan kualitas surveilans;
· waktu respons zoonosis lebih cepat;
· peningkatan perilaku hidup sehat;
· peningkatan koordinasi lintas sektor.
Impact
· peningkatan derajat kesehatan masyarakat;
· penurunan beban penyakit yang dapat dicegah;
· peningkatan ketahanan kesehatan Jawa Barat.
XIX. TARGET AWAL 12 BULAN
Target berikut merupakan target program yang dapat disesuaikan setelah baseline:
1. 27 kabupaten/kota terlibat dalam koordinasi program;
2. 6–9 kabupaten/kota menjadi lokus implementasi intensif;
3. minimal 90% Puskesmas di lokus pilot mengikuti pelatihan;
4. minimal 80% Posyandu lokus pilot menjalankan paket kegiatan KITA SEHAT;
5. seluruh lokus pilot memiliki focal point One Health;
6. seluruh lokus pilot memiliki mekanisme koordinasi Puskesmas–Puskeswan;
7. minimal 1 simulasi respons zoonosis di setiap lokus pilot;
8. dashboard One Health prototipe tersedia;
9. uji interoperabilitas dilakukan sesuai standar dan kewenangan;
10. laporan evaluasi akhir tersedia.
Target cakupan imunisasi, skrining, stunting dan indikator kesehatan lainnya ditetapkan berdasarkan baseline masing-masing kabupaten/kota, sehingga target tidak bersifat seragam dan tidak menciptakan insentif pelaporan yang tidak realistis.
XX. TAHAPAN PELAKSANAAN 12 BULAN
Tahap 1 – Persiapan
Bulan 1–2
Kegiatan:
· pembentukan tim;
· koordinasi lintas sektor;
· penyusunan SOP;
· pemetaan lokus;
· baseline;
· pemetaan sistem digital;
· pemetaan risiko zoonosis.
Output:
Provincial One Health Action Plan.
Tahap 2 – Penguatan Kapasitas
Bulan 3–4
Kegiatan:
· joint training;
· pelatihan surveilans;
· pelatihan digital;
· pelatihan komunikasi risiko;
· simulasi kasus.
Output:
Tim One Health terlatih.
Tahap 3 – Implementasi
Bulan 5–9
Kegiatan:
· Hari Kita Sehat;
· penguatan Posyandu;
· skrining;
· kunjungan rumah;
· surveilans zoonosis;
· joint investigation;
· pengembangan dashboard.
Output:
Model KITA SEHAT JABAR berjalan di lokus pilot.
Tahap 4 – Evaluasi dan Scale-up
Bulan 10–12
Kegiatan:
· evaluasi;
· pengukuran indikator;
· audit kualitas data;
· studi pembelajaran;
· penyusunan rekomendasi;
· rencana perluasan.
Output:
Jawa Barat One Health Replication Model.
XXI. RENCANA KERJA SEDERHANA
Bulan | Kegiatan |
1 | Koordinasi dan pembentukan tim |
2 | Baseline dan pemetaan risiko |
3 | Penyusunan SOP |
4 | Joint training |
5 | Peluncuran pilot |
6 | Hari Kita Sehat |
7 | Surveilans zoonosis |
8 | Digitalisasi |
9 | Simulasi respons |
10 | Monitoring |
11 | Evaluasi |
12 | Finalisasi model scale-up |
XXII. TATA KELOLA PROGRAM
Tingkat Provinsi
Dibentuk:
Provincial One Health Steering Committee
Melibatkan:
· Pemerintah Provinsi Jawa Barat;
· Dinas Kesehatan;
· Dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan;
· Bappeda;
· unsur lingkungan;
· perguruan tinggi;
· organisasi profesi;
· instansi terkait;
· mitra pembangunan sesuai mekanisme KITA SEHAT.
Tingkat Kabupaten/Kota
Dibentuk:
District One Health Coordination Team
Tingkat Kecamatan
One Health Coordination Forum
Tingkat Desa
Tim One Health Desa
Dengan struktur bertingkat ini, koordinasi tidak harus menunggu keputusan tingkat pusat untuk masalah operasional sehari-hari.
XXIII. PEMBAGIAN PERAN
Institusi | Peran |
Pemerintah Provinsi | Koordinasi dan kebijakan |
Dinas Kesehatan | Layanan kesehatan manusia |
Dinas Peternakan/Kesehatan Hewan | Kesehatan hewan dan zoonosis |
Bappeda | Integrasi perencanaan dan anggaran |
Puskesmas | Pelayanan dan surveilans manusia |
Puskeswan | Pelayanan dan surveilans hewan |
Desa | Mobilisasi masyarakat |
Posyandu | Pemberdayaan masyarakat |
Perguruan Tinggi | Riset dan evaluasi |
Organisasi profesi | Penguatan kompetensi |
Mitra pembangunan | Dukungan teknis sesuai kesepakatan |
XXIV. STRATEGI DIGITAL
Pengembangan digital mengikuti prinsip:
Tidak membuat aplikasi baru apabila fungsi tersebut sudah tersedia.
Sistem yang digunakan dapat mencakup:
· SATUSEHAT;
· RME;
· SIMPUS;
· iSIKHNAS;
· sistem kesehatan hewan;
· dashboard pemerintah daerah.
SATUSEHAT menyediakan mekanisme registrasi fasilitas kesehatan dan sistem RME serta mekanisme interoperabilitas melalui API dan standar FHIR.
Dengan demikian, pengembangan digital KITA SEHAT JABAR difokuskan pada:
1. standardisasi data;
2. data quality;
3. data exchange;
4. dashboard;
5. alert;
6. analitik;
7. keamanan data.
XXV. DASHBOARD ONE HEALTH JAWA BARAT
Dashboard minimal menampilkan:
Indikator manusia
· kasus penyakit;
· skrining;
· imunisasi;
· stunting;
· kelompok rentan.
Indikator hewan
· kejadian penyakit;
· populasi berisiko;
· vaksinasi;
· lokasi kasus;
· hasil surveilans.
Indikator lingkungan
· sanitasi;
· air;
· hotspot;
· kondisi lingkungan tertentu yang relevan.
Indikator respons
· tanggal laporan;
· tanggal verifikasi;
· tanggal investigasi;
· tindakan;
· status kasus.
Dashboard harus menggunakan prinsip minimum necessary data, terutama untuk data individu, serta menerapkan tata kelola, keamanan dan perlindungan privasi sesuai ketentuan yang berlaku.
XXVI. KOMUNIKASI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Program menggunakan pendekatan:
“Kenali – Cegah – Laporkan”
Masyarakat diajarkan:
Kenali
· gejala;
· risiko;
· cara penularan.
Cegah
· vaksinasi;
· kebersihan;
· biosekuriti;
· perilaku hidup sehat.
Laporkan
· sakit pada manusia;
· kematian atau penyakit tidak normal pada hewan;
· kejadian lingkungan yang berpotensi menimbulkan risiko.
Media komunikasi:
· Posyandu;
· sekolah;
· masjid;
· kelompok peternak;
· media sosial;
· WhatsApp komunitas;
· radio lokal;
· penyuluhan desa.
XXVII. PELIBATAN PERGURUAN TINGGI
Perguruan tinggi di Jawa Barat dapat berperan sebagai:
1. technical advisory;
2. baseline survey;
3. evaluasi program;
4. analisis epidemiologi;
5. pengembangan dashboard;
6. pelatihan;
7. penelitian implementasi;
8. economic evaluation;
9. publikasi ilmiah;
10. pengembangan model replikasi.
Pendekatan ini penting agar KITA SEHAT tidak hanya menghasilkan kegiatan, tetapi juga menghasilkan evidence yang dapat digunakan untuk kebijakan.
XXVIII. MONITORING DAN EVALUASI
Monitoring dilakukan pada tiga tingkat:
Bulanan
Monitoring aktivitas:
· jumlah kegiatan;
· jumlah peserta;
· jumlah layanan;
· kelengkapan data.
Triwulanan
Evaluasi:
· capaian indikator;
· masalah;
· kualitas data;
· respons zoonosis;
· koordinasi lintas sektor.
Tahunan
Evaluasi:
· outcome;
· efisiensi;
· efektivitas;
· keberlanjutan;
· kesiapan scale-up.
Metode evaluasi dapat menggunakan pendekatan:
Baseline → Intervention → Endline
serta membandingkan indikator antara lokus implementasi intensif dan wilayah pembanding apabila secara metodologis memungkinkan.
XXIX. INDIKATOR EVALUASI UTAMA
Beberapa indikator prioritas:
1. cakupan imunisasi;
2. cakupan skrining;
3. cakupan Posyandu;
4. cakupan kunjungan rumah;
5. prevalensi/indikator stunting;
6. jumlah kejadian zoonosis;
7. waktu dari laporan hingga verifikasi;
8. waktu dari verifikasi hingga respons;
9. jumlah investigasi bersama;
10. kualitas dan kelengkapan data;
11. jumlah tenaga kesehatan terlatih;
12. jumlah desa dengan Tim One Health aktif.
XXX. RISIKO DAN MITIGASI
Risiko | Mitigasi |
Ego sektoral | Tim One Health lintas sektor |
Duplikasi aplikasi | Memanfaatkan sistem yang sudah ada |
Kualitas data rendah | Data quality assurance |
Internet terbatas | Offline-first/manual backup |
SDM terbatas | Training of Trainers |
Pergantian petugas | SOP dan dokumentasi |
Keterbatasan anggaran | Integrasi dengan program rutin |
Resistensi masyarakat | Komunikasi risiko |
Alert terlalu banyak | Risk-based threshold |
Pelanggaran privasi | Data governance |
Program berhenti setelah proyek | Integrasi ke APBD dan program rutin |
XXXI. STRATEGI KEBERLANJUTAN
Keberlanjutan program menjadi prinsip sejak awal.
Program tidak boleh bergantung sepenuhnya pada pendanaan eksternal.
Strateginya:
Tahun pertama
Pilot dan pembuktian model.
Tahun kedua–ketiga
Scale-up dan integrasi ke program daerah.
Tahun berikutnya
Pembiayaan dominan melalui sistem pemerintah daerah dan program nasional.
Komponen yang harus menjadi bagian dari sistem rutin:
· pelatihan;
· surveilans;
· Posyandu;
· kunjungan rumah;
· koordinasi Puskesmas–Puskeswan;
· dashboard;
· monitoring.
XXXII. RENCANA ANGGARAN BIAYA INDIKATIF
Anggaran berikut merupakan estimasi awal untuk penyusunan proposal, bukan pagu resmi. Nilainya perlu disesuaikan dengan standar biaya pemerintah, jumlah lokus dan mekanisme pendanaan KITA SEHAT.
Komponen | Estimasi |
Koordinasi dan persiapan | Rp750 juta |
Baseline dan pemetaan risiko | Rp1,50 miliar |
Joint training | Rp2,00 miliar |
Penguatan Posyandu | Rp2,50 miliar |
Hari Kita Sehat | Rp3,00 miliar |
Surveilans One Health | Rp2,00 miliar |
Digitalisasi dan dashboard | Rp3,00 miliar |
Simulasi respons zoonosis | Rp1,00 miliar |
Komunikasi risiko | Rp750 juta |
Monitoring dan evaluasi | Rp1,50 miliar |
Riset implementasi | Rp1,00 miliar |
Manajemen program | Rp1,50 miliar |
TOTAL INDIKATIF | Rp20,50 miliar |
Anggaran dapat diturunkan secara signifikan apabila menggunakan infrastruktur, SDM, kegiatan Posyandu, Puskesmas, Puskeswan dan sistem digital yang sudah tersedia.
Prinsip pembiayaan adalah:
“Additional funding for additional impact, not funding for activities that already have government financing.”
XXXIII. SUMBER PEMBIAYAAN
Sumber pembiayaan dapat berasal dari:
1. KITA SEHAT;
2. APBN;
3. APBD Provinsi Jawa Barat;
4. APBD Kabupaten/Kota;
5. Dana desa sesuai ketentuan;
6. perguruan tinggi;
7. mitra pembangunan;
8. dunia usaha melalui skema yang sesuai;
9. sumber pendanaan lain yang sah dan tidak mengikat.
KITA SEHAT sendiri merupakan kemitraan delapan tahun Indonesia–Australia dengan dukungan hingga AUD100 juta menurut informasi resmi peluncuran program.
XXXIV. HASIL YANG DIHARAPKAN
Pada akhir tahap awal program diharapkan tersedia:
1. Provincial One Health Action Plan;
2. peta risiko One Health Jawa Barat;
3. jejaring Puskesmas–Puskeswan;
4. Tim One Health kabupaten/kota;
5. Tim One Health Desa;
6. tenaga kesehatan manusia dan hewan terlatih;
7. Posyandu yang diperkuat;
8. kegiatan Hari Kita Sehat;
9. sistem alert One Health;
10. dashboard One Health;
11. model interoperabilitas yang sesuai regulasi;
12. SOP respons zoonosis;
13. laporan evaluasi;
14. model scale-up Jawa Barat.
XXXV. DAMPAK STRATEGIS
Program diharapkan memberikan lima dampak strategis.
1. Dampak kesehatan
Masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih dekat, cepat dan preventif.
2. Dampak ketahanan kesehatan
Jawa Barat memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi ancaman penyakit menular dan zoonosis.
3. Dampak ekonomi
Pencegahan penyakit dapat mengurangi biaya pengobatan, kehilangan produktivitas, kematian ternak dan kerugian ekonomi akibat wabah.
4. Dampak sosial
Masyarakat lebih aktif menjaga kesehatan diri, keluarga, hewan dan lingkungan.
5. Dampak kebijakan
Jawa Barat menghasilkan model One Health yang dapat direplikasi secara nasional.
XXXVI. POSISI PROGRAM TERHADAP TARGET ANGKA HARAPAN HIDUP
Program ini berkontribusi terhadap peningkatan derajat kesehatan dan umur harapan hidup melalui pencegahan penyakit, peningkatan deteksi dini, pengendalian faktor risiko dan peningkatan akses layanan primer.
Namun, Angka Harapan Hidup tidak sebaiknya diperlakukan sebagai indikator yang dapat diklaim semata-mata sebagai hasil KITA SEHAT JAWA BARAT, karena AHH dipengaruhi banyak faktor sosial, ekonomi, lingkungan dan kesehatan.
Karena itu, AHH ditempatkan sebagai indikator dampak jangka panjang, sedangkan indikator program yang lebih langsung adalah cakupan imunisasi, skrining, stunting, akses layanan, kualitas surveilans dan kecepatan respons.
XXXVII. MODEL REPLIKASI
Setelah satu tahun pilot, model akan dievaluasi menggunakan kriteria:
1. efektif;
2. efisien;
3. mudah dilaksanakan;
4. diterima masyarakat;
5. dapat dibiayai pemerintah;
6. dapat diintegrasikan dengan sistem yang sudah ada;
7. dapat direplikasi.
Jika memenuhi kriteria, model dikembangkan menjadi:
“Jawa Barat One Health Replication Package”
yang terdiri atas:
· SOP;
· modul pelatihan;
· dashboard;
· indikator;
· toolkit desa;
· toolkit Puskesmas;
· toolkit Puskeswan;
· model pembiayaan;
· model monitoring;
· model komunikasi risiko.
XXXVIII. RENCANA OUTPUT PUBLIKASI DAN KNOWLEDGE MANAGEMENT
Untuk memastikan pengalaman Jawa Barat menjadi pengetahuan yang dapat dimanfaatkan daerah lain, program menghasilkan:
1. policy brief;
2. implementation report;
3. technical guideline;
4. One Health dashboard;
5. modul pelatihan;
6. success story;
7. policy paper;
8. artikel ilmiah;
9. dokumentasi praktik baik.
Dengan demikian, program bukan hanya menghasilkan pelayanan, tetapi juga menghasilkan knowledge product.
XXXIX. STRATEGI KOMUNIKASI PUBLIK
Pesan utama:
“KITA SEHAT DIMULAI DARI DESA.”
Pesan turunan:
· Manusia sehat dimulai dari pencegahan.
· Hewan sehat melindungi masyarakat.
· Lingkungan sehat mencegah penyakit.
· Penyakit lebih baik dicegah daripada diobati.
· Laporkan penyakit sedini mungkin.
· Puskesmas dan Puskeswan adalah mitra masyarakat.
· Data yang baik menghasilkan keputusan yang baik.
XL. PENUTUP
KITA SEHAT merupakan peluang strategis untuk mempercepat transformasi sistem kesehatan Indonesia melalui kemitraan Indonesia–Australia. Program ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas layanan kesehatan, tetapi juga pada penguatan ketahanan kesehatan, tenaga kesehatan, sistem surveilans dan koordinasi lintas sektor.
Jawa Barat sebagai salah satu provinsi pilot memiliki peluang untuk menjadi laboratorium implementasi transformasi layanan primer dan One Health yang berskala besar. Keberhasilan program tidak ditentukan oleh banyaknya kegiatan atau aplikasi yang dibuat, tetapi oleh kemampuan program menghubungkan Puskesmas, Posyandu, Puskeswan, pemerintah desa, masyarakat, sistem kesehatan manusia dan sistem kesehatan hewan dalam satu mekanisme kerja yang sederhana dan efektif.
Karena itu, KITA SEHAT JAWA BARAT dirancang dengan prinsip sederhana:
Satu wilayah, satu peta risiko, satu mekanisme koordinasi, satu sistem peringatan dini, dan satu tujuan: masyarakat yang sehat, hewan yang sehat, serta lingkungan yang sehat.
Pelaksanaan program secara bertahap, dimulai dari 6–9 lokus prioritas dan kemudian diperluas ke seluruh 27 kabupaten/kota, memungkinkan Jawa Barat memperoleh bukti nyata mengenai pendekatan yang paling efektif sebelum dilakukan scale-up.
Dengan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemerintah kabupaten/kota, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Bappenas, Pemerintah Australia/DFAT, perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi salah satu model unggulan implementasi KITA SEHAT dan menghasilkan blueprint transformasi layanan primer dan One Health Jawa Barat yang dapat direplikasi di tingkat nasional menuju Indonesia Emas 2045.
XLI. DAFTAR PUSTAKA
Australian Government Department of Foreign Affairs and Trade. (2025). Investment design document: Australia Indonesia Partnership for Health Transformation (KITA SEHAT). Canberra: DFAT.
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Digitalisasi permudah akses layanan kesehatan primer. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026a). KITA SEHAT diluncurkan, Kemenkes perkuat transformasi layanan kesehatan hingga pelosok. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026b). Transformasi layanan primer. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026c). Layanan primer berdasarkan siklus hidup: Ujung tombak layanan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (2026a). Kementan dorong kolaborasi One Health melalui Program KITA SEHAT di tiga provinsi. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (2026b). Ditjen PKH perkuat transformasi kesehatan melalui integrasi One Health bersama Program KITA SEHAT. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (n.d.). iSIKHNAS: Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Kementerian PPN/Bappenas. (2025). Indonesia dan Australia resmikan Kemitraan KITA SEHAT dengan total investasi AUD 100 juta. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas.
Kementerian PPN/Bappenas. (2026). Indonesia–Australia luncurkan KITA SEHAT wujudkan agenda kesehatan untuk semua. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas.
SATUSEHAT Platform. (2026a). Panduan interoperabilitas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
SATUSEHAT Platform. (2026b). Interoperabilitas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
SATUSEHAT Platform. (2026c). Panduan registrasi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
SATUSEHAT Platform. (2026d). Validasi interoperabilitas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
World Health Organization. (2022). One Health Joint Plan of Action (2022–2026): Working together for the health of humans, animals, plants and the environment. WHO, FAO, UNEP, & WOAH.
World Health Organization. (2025). Indonesia, Australia and WHO partner to transform health care. WHO Indonesia.
World Health Organization. (2026). WHO Indonesia health emergency and One Health activities. WHO Regional Office for South-East Asia.
LAMPIRAN 1. KERANGKA LOGIS PROGRAM
Tingkat | Indikator | Sumber Verifikasi |
Impact | Peningkatan derajat kesehatan | BPS/Kemenkes |
Outcome | Akses dan kualitas layanan primer meningkat | Dinkes |
Outcome | Respons zoonosis lebih cepat | Dinkes/Dinas Peternakan |
Output | Tenaga terlatih | Sertifikat/laporan |
Output | Posyandu diperkuat | Laporan Posyandu |
Output | Puskesmas–Puskeswan terhubung | Laporan koordinasi |
Output | Dashboard tersedia | Dashboard |
Output | Alert One Health berjalan | Log alert |
Activity | Joint training | Laporan kegiatan |
Activity | Hari Kita Sehat | Dokumentasi |
Activity | Surveilans | Data surveilans |
LAMPIRAN 2. SOP SINGKAT ONE HEALTH ALERT
1. DETEKSI
Kasus dilaporkan oleh masyarakat, Puskesmas, Puskeswan atau petugas lapangan.
2. VERIFIKASI
Informasi diperiksa oleh petugas berwenang.
3. PENILAIAN RISIKO
Ditentukan tingkat risiko.
4. ALERT
Informasi disampaikan kepada sektor terkait.
5. INVESTIGASI
Tim lintas sektor melakukan investigasi.
6. RESPONS
Dilakukan tindakan pengendalian.
7. MONITORING
Situasi dipantau.
8. PENUTUPAN
Alert ditutup setelah risiko terkendali.
LAMPIRAN 3. INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM
Indikator layanan primer
· cakupan imunisasi;
· cakupan skrining;
· cakupan Posyandu;
· kunjungan rumah;
· deteksi stunting.
Indikator One Health
· jumlah alert;
· waktu deteksi;
· waktu verifikasi;
· waktu respons;
· jumlah investigasi bersama.
Indikator digital
· kelengkapan data;
· ketepatan waktu;
· interoperabilitas;
· jumlah fasilitas terhubung;
· kualitas data.
Indikator masyarakat
· pengetahuan;
· perilaku pencegahan;
· partisipasi;
· pelaporan kejadian.
LAMPIRAN 4. KONSEP BESAR PROGRAM
MASYARAKAT
↓
POSYANDU – DESA – KADER
↓
PUSKESMAS
↔
PUSKESWAN – DOKTER HEWAN – PETUGAS KESEHATAN HEWAN
↓
DATA KESEHATAN MANUSIA + DATA KESEHATAN HEWAN
↓
SATUSEHAT + iSIKHNAS + SISTEM DAERAH
↓
ONE HEALTH DASHBOARD
↓
EARLY WARNING
↓
JOINT RESPONSE
↓
JAWA BARAT SEHAT
INDONESIA SEHAT
INDONESIA EMAS 2045
#KitaSehatJabar
#OneHealth
#LayananPrimer
#CegahZoonosis
#JawaBaratSehat