Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Obat Alami. Show all posts
Showing posts with label Obat Alami. Show all posts

Friday, 19 December 2025

Uji pirogen dan uji endotoksin saling berkaitan, tetapi tidak sepenuhnya sama.



 

Berikut penjelasan teknis, dan baku agar tidak rancu dalam penulisan dokumen ilmiah atau standar.

 

1. PENGERTIAN DASAR

 

A. Apa itu Pirogen?

Pirogen adalah zat yang dapat menyebabkan demam (peningkatan suhu tubuh) bila masuk ke dalam tubuh.

Pirogen dapat berasal dari:

  1. Endotoksin bakteri (terutama dari bakteri Gram-negatif)
  2. Pirogen non-endotoksin, seperti:
    • komponen dinding sel bakteri Gram-positif,
    • fragmen jamur atau ragi,
    • zat biologis tertentu.

 

Endotoksin adalah salah satu jenis pirogen, tetapi tidak semua pirogen adalah endotoksin.

 

2. UJI PIROGEN VS UJI ENDOTOKSIN

 

A. Uji Pirogen

Uji pirogen bertujuan untuk:

  • mendeteksi semua zat yang dapat menyebabkan demam, baik endotoksin maupun non-endotoksin.

Contoh metode:

  • Uji pirogen kelinci (Rabbit Pyrogen Test, RPT)
    → mengukur kenaikan suhu tubuh kelinci setelah penyuntikan sampel.

Karakteristik:

  • mendeteksi pirogen secara biologis/fungsional,
  • bersifat non-spesifik,
  • kini penggunaannya semakin dibatasi karena alasan etika.

 

B. Uji Endotoksin

Uji endotoksin adalah uji spesifik untuk mendeteksi:

  • endotoksin bakteri Gram-negatif (lipopolisakarida/LPS).

Contoh metode:

  • LAL test (Limulus Amebocyte Lysate),
  • metode turunan: gel-clot, turbidimetri, kromogenik.

Karakteristik:

  • sangat spesifik untuk endotoksin,
  • tidak mendeteksi pirogen non-endotoksin,
  • lebih cepat dan sensitif dibanding uji pirogen kelinci.

 

3. HUBUNGAN KEDUANYA (INTINYA)

 

Aspek

Uji Pirogen

Uji Endotoksin

Apa yang dideteksi

Semua pirogen

Endotoksin saja

Termasuk endotoksin?

Ya

Ya

Termasuk pirogen non-endotoksin?

Ya

Tidak

Metode umum

Kelinci

LAL

Status etika

Mulai ditinggalkan

Direkomendasikan

 

4. APAKAH PIROGEN TERMASUK UJI ENDOTOKSIN?

 

🔹 Tidak sepenuhnya.

  • Uji endotoksin adalah bagian dari pengujian pirogen, tetapi
  • uji pirogen tidak selalu sama dengan uji endotoksin.

Dengan kata lain:

Semua endotoksin adalah pirogen, tetapi tidak semua pirogen adalah endotoksin.

 

5. RELEVANSI UNTUK OBAT ALAMI DAN OBAT HEWAN

  • Untuk obat alami non-injeksi, uji endotoksin/pirogen umumnya tidak diwajibkan.
  • Untuk sediaan steril atau parenteral, uji endotoksin (LAL) lebih disukai daripada uji pirogen kelinci.
  • Pengujian dipilih berdasarkan:
    • rute pemberian,
    • tingkat risiko,
    • persyaratan regulasi.

 

#UjiEndotoksin

#UjiPirogen

#EndotoksinPirogen

#ObatAlamiHewan

#JamuHerbalTerstandarFitofarmaka

Wednesday, 17 December 2025

Mengapa Jamu, Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka Berbeda? Ini Dasar Klasifikasi Obat Alami Berbasis Bukti Ilmiah

 


Dasar Klasifikasi Obat Alami

1. Ruang Lingkup dan Tujuan

Klasifikasi obat alami bertujuan untuk memberikan kerangka yang jelas, objektif, dan berbasis bukti ilmiah dalam pengelompokan obat alami. Klasifikasi ini digunakan sebagai dasar penetapan persyaratan mutu, keamanan, khasiat, klaim, serta pengawasan peredaran obat alami, termasuk obat alami untuk hewan, guna menjamin perlindungan pengguna, hewan, dan kepastian regulasi.

2. Prinsip Umum Klasifikasi

Klasifikasi obat alami didasarkan pada pendekatan bertahap (stepwise atau evidence-based approach), yaitu pengelompokan berdasarkan tingkat pembuktian ilmiah terhadap khasiat, keamanan, dan mutu. Semakin tinggi tingkat pembuktian ilmiah yang dimiliki, semakin tinggi pula klasifikasi obat alami tersebut.

3. Tingkat Pembuktian Khasiat

Pembagian klasifikasi obat alami dilakukan berdasarkan cara dan kekuatan pembuktian khasiat sebagai berikut:

a. Jamu
Khasiat jamu didasarkan pada pengalaman empiris dan penggunaan tradisional yang telah berlangsung lama serta diwariskan secara turun-temurun. Pembuktian khasiat bersumber dari praktik penggunaan masyarakat dan literatur etnomedisin, tanpa didukung oleh uji praklinik atau uji klinik terkontrol.

b. Herbal Terstandar
Khasiat herbal terstandar dibuktikan melalui uji praklinik, antara lain uji farmakologi dan uji toksisitas menggunakan hewan uji. Pembuktian ini memberikan dasar ilmiah awal mengenai aktivitas biologis dan potensi khasiat bahan atau sediaan herbal.

c. Fitofarmaka
Khasiat fitofarmaka dibuktikan melalui uji klinik yang terkontrol dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Untuk obat hewan, uji klinik dilakukan pada hewan target, sehingga efektivitas terapeutiknya terbukti secara ilmiah dan dapat dievaluasi secara objektif.

4. Tingkat Pembuktian Keamanan

Selain khasiat, klasifikasi obat alami juga mempertimbangkan tingkat jaminan keamanan:

a. Jamu
Keamanan jamu didasarkan pada riwayat penggunaan tradisional dalam jangka waktu lama serta rasionalitas pemilihan bahan, dengan asumsi bahwa bahan tersebut relatif aman apabila digunakan sesuai dengan cara dan dosis tradisional.

b. Herbal Terstandar
Keamanan herbal terstandar diperkuat melalui uji toksisitas, yang dapat meliputi uji toksisitas akut, subkronik, dan/atau kronik, sehingga risiko efek merugikan dapat diidentifikasi lebih dini.

c. Fitofarmaka
Keamanan fitofarmaka dievaluasi secara menyeluruh melalui uji praklinik dan uji klinik, termasuk pemantauan efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan, sehingga profil keamanannya terdokumentasi secara sistematis.

5. Tingkat Standardisasi Mutu

Aspek mutu merupakan pembeda penting dalam klasifikasi obat alami:

a. Jamu
Bahan baku dan produk jamu belum seluruhnya distandarkan secara ketat. Pengendalian mutu umumnya masih terbatas pada identitas bahan dan persyaratan dasar keamanan.

b. Herbal Terstandar
Herbal terstandar menggunakan bahan baku dan produk jadi yang telah melalui proses standardisasi, termasuk penetapan parameter mutu, konsistensi proses produksi, serta penentuan senyawa penanda (marker compounds).

c. Fitofarmaka
Fitofarmaka dikendalikan mutunya secara konsisten dengan standar yang tinggi, setara dengan obat konvensional, mencakup pengendalian bahan baku, proses produksi, produk jadi, serta jaminan konsistensi antar-batch.

6. Tingkat Klaim Khasiat yang Diperbolehkan

Klasifikasi obat alami menentukan batas klaim khasiat yang dapat dicantumkan:

a. Jamu
Klaim bersifat umum dan non-spesifik, terutama terkait pemeliharaan kesehatan atau membantu menjaga kondisi tubuh.

b. Herbal Terstandar
Klaim khasiat lebih spesifik dibanding jamu, namun tetap terbatas dan harus sesuai dengan hasil uji praklinik yang telah dilakukan.

c. Fitofarmaka
Klaim terapeutik yang spesifik diperbolehkan karena didukung oleh bukti uji klinik, sehingga dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sesuai indikasi yang telah disetujui.

7. Kerangka Regulasi dan Pengawasan

Klasifikasi obat alami digunakan oleh otoritas berwenang sebagai dasar untuk:

  • menetapkan persyaratan pengujian khasiat, keamanan, dan mutu;

  • mengatur perizinan edar, pelabelan, dan promosi produk;

  • menjamin perlindungan pengguna dan hewan melalui pengawasan yang proporsional sesuai tingkat risikonya.

8. Ringkasan

Secara prinsip, klasifikasi jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka didasarkan pada pendekatan bertahap berbasis bukti ilmiah. Semakin tinggi tingkat pembuktian khasiat, keamanan, dan standardisasi mutu, semakin tinggi pula klasifikasi obat alami tersebut. Pendekatan ini memastikan keseimbangan antara pemanfaatan kearifan lokal, pengembangan ilmu pengetahuan, dan perlindungan kesehatan manusia serta hewan.


#ObatAlami
#JamuHerbalFitofarmaka
#KlasifikasiObat
#StandarSNI
#EvidenceBasedMedicine

Sunday, 19 July 2020

Terungkap! Keajaiban Pohon Bidara: ‘Si Permata Gurun’ yang Kaya Manfaat, Disebut dalam Al-Qur’an, dan Bernilai Ekonomi Tinggi!




Bidara
atau widara (Ziziphus mauritiana) adalah sejenis pohon kecil penghasil buah  yang tumbuh di daerah kering. Tanaman ini dikenal pula dengan pelbagai nama daerah seperti widara (Sd. Jw) atau dipendekkan menjadi dara (Jw.); bukol (Md.); bĕkul (Bali); ko (Sawu); kok (Rote); kom, kon (Timor); bĕdara (Alor); bidara (Makasar, Bug.); rangg (Bima); serta kalangga (Sumba) [1].
 
Sebutan di negara-negara lain di antaranya: bidara, jujub, epal siam (Mal.); manzanitas (Fil.); zee-pen (Burma); putrea (Kamboja); than (Laos); phutsaa, ma tan (Thai); tao, tao nhuc (Vietnam) [2]. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Jujube, Indian Jujube, Indian plum, atau Chinese Apple; serta Jujubier dalam bahasa Peramcis.

 
KLASIFIKASI ILMIAH

Kerajaan : Plantae       
Divisi : Magnoliophyta           
Kelas : Magnoliopsida              
Ordo : Rosales              
Famili : Rhamnaceae            
Genus : Ziziphus              
Spesies: Z. mautitiana            
Nama binomial: Ziziphus mauritiana  

 
PENGENALAN
 
Perdu atau pohon kecil biasanya bengkok, tinggi hingga 15 m dan gemang batang hingga 40 cm. Cabang-cabang menyebar dan acap menjuntai, dengan ranting-ranting tumbuh simpang siur dan berambut pendek. Selalu hijau atau semi menggugurkan daun.[2]
Daun-daun penumpu berupa duri, sendirian dan lurus (5–7 mm), atau berbentuk pasangan dimorfis, di mana yang kedua lebih pendek dan melengkung, kadang-kadang tanpa duri.[2]
 
Daun-daun tunggal terletak berseling. Helai daun bundar telur menjorong atau jorong lonjong, 2–9 cm x 1.5–5 cm; bertepi rata atau sedikit menginggit; gundul dan mengkilap di sisi atas, dan rapat berambut kempa keputihan di sisi bawahnya; dengan tiga tulang daun utama yang tampak jelas membujur sejajar; bertangkai pendek 8–15 mm.[2]

Perbungaan bernentuk payung menggarpu tumbuh di ketiak daun, panjang 1–2 cm, berisi 7–20 kuntum. Bunga-bunga berukuran kecil, bergaris tengah antara 2–3 mm, kekuningan, sedikit harum, bertangkai 3–8 mm; kelopak bertaju 5 bentuk delta (menyegitiga), berambut di luarnya dan gundul di sisi dalam; mahkota 5, agak seperti sudip, cekung dan melengkung.[2]
 
Buah batu berbentuk bulat hingga bulat telur, hingga 6 cm × 4 cm pada kultivar-kultivar yang dibudidayakan, tetapi kebanyakan berukuran jauh lebih kecil pada pohon-pohon yang meliar; berkulit halus atau kasar, mengkilap, tipis namun liat, kekuningan, kemerahan hingga kehitaman jika masak; daging buahnya putih, mengeripik, dengan banyak sari buah yang agak masam hingga manis rasanya, menjadi menepung pada buah yang matang penuh. Biji terlindung dalam tempurung yang berbingkul dan beralur tak teratur, berisi 1–2 inti biji yang coklat bentuk jorong.[2]
 
KEGUNAAN
 
Buah bidara kultivar unggul diperjual belikan sebagai buah segar, untuk dimakan langsung atau dijadikan minuman segar. Di beberapa tempat, buah ini juga dikeringkan, dijadikan manisan, atau disetup. Buah muda dimakan dengan garam atau dirujak.[2] Buah dari pohon yang meliar kecil-kecil dan agak pahit rasanya[1]. Buah bidara merupakan sumber karoten, vitamin A, dan C dan Lemak.[4]
 
Daunnya yang muda dapat dijadikan sayuran. Daunnya yang tua untuk pakan ternak.[2] Rebusan daunnya diminum sebagai jamu. Daun-daun ini membusa seperti sabun apabila diremas dengan air, dan digunakan untuk memandikan orang yang sakit demam.[1] Di Jakarta, daun-daun bidara digunakan untuk memandikan mayat.
Selain daun, buah, biji, kulit kayu, dan akarnya juga berkhasiat obat, untuk membantu pencernaan dan sebagai tapal obat luka. Di Jawa, kulit kayu ini digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan; dan di Malaysia, kulit kayu yang dihaluskan dipakai sebagai obat sakit perut.[2] Kulit kayu bidara diyakini memiliki khasiat sebagai tonikum, meski tidak terlalu kuat, dan dianjurkan untuk penyakit lambung dan usus. Kulit akarnya, dicampur dengan sedikit pucuk, pulasari, dan bawang putih, diminum untuk mengatasi kencing yang nyeri dan berdarah.[1]
 
Kayunya berwarna kemerahan, bertekstur halus, keras, dan tahan lama. Kayu ini dijadikan barang bubutan, perkakas rumah tangga, dan peralatan lain.[2] Di Bali, kayu bidara dimanfaatkan untuk gagang kapak, pisau, pahat, dan perkakas tukang kayu lainnya.[1] Berat jenis kayu bidara berkisar antara 0,54-1,08. Kayu terasnya yang bervariasi dalam warna kuning kecokelatan, merah pucat atau cokelat hingga cokelat gelap, tidak begitu jelas terbedakan dari kayu gamal. Kayu ini dapat dikeringkan dengan baik, tetapi kadang-kadang sedikit pecah. Di samping penggunaan di atas, kayu bidara juga cocok digunakan untuk konstruksi, furnitur dan almari, peti pengemas, venir dan kayu lapis.[4]
 
Bidara menghasilkan kayu bakar yang berkualitas baik; nilai kalori dari kayu gubalnya adalah 4.900 kkal/kg. Kayu ini juga baik dijadikan arang. Ranting-rantingnya yang menjuntai mudah dipangkas dan dipanen sebagai kayu bakar.[4]
Kulit kayu dan buah bidara juga menghasilkan bahan pewarna[2]. Bahan-bahan ini menghasilkan tanin dan pewarna coklat kemerahan atau keabuan dalam air[4]. Di India, pohon bidara juga digunakan dalam pemeliharaan kutu lak; ranting-rantingnya yang terbungkus kotoran kutu lak itu dipanen untuk menghasilkan sirlak (shellac)[2].
 
EKOLOGI DAN PENYEBARANNYA
 
Tanaman ini terutama tumbuh baik di wilayah yang memiliki musim kering yang jelas. Kualitas buahnya paling baik jika tumbuh pada lingkungan yang panas, kaya cahaya matahari, dan cukup kering; namun hendaknya mengalami musim hujan yang memadai untuk menumbuhkan ranting, daun dan bunga, serta untuk mempertahankan kelembaban tanah selama mematangkan buah. Bidara berkembang luas pada wilayah dengan curah hujan 300–500 mm pertahun. Untuk keperluan komersial, pohon bidara dapat dikembangkan hingga ketinggian 1.000 m dpl.; akan tetapi di atas ketinggian ini pertumbuhannya kurang baik.[4]
 
Tahan iklim kering dan penggenangan, bidara mudah beradaptasi dan kerap tumbuh meliar di lahan-lahan yang kurang terurus dan di tepi jalan. Tumbuh di pelbagai jenis tanah: laterit, tanah hitam yang berdrainase baik, tanah berpasir, tanah liat, tanah aluvial di sepanjang aliran sungai (Riparian).[5]
 
Bidara diperkirakan memiliki asal u sul dari Asia Tengah, dan menyebar alami di wilayah yang luas mulai dari Aljazair, Tunisia, Libia, Mesir, Uganda, dan Kenya di Afrika; Afganistan, Pakistan, India Utara, Nepal, Bangladesh, Tiongkok, Selatan, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaya, Indonesia, hingga Australia. Kini bidara telah ditanam di banyak negara di Afrika, dan juga di Madagaskar.[4] Namun yang mengembangkannya secara komersial hanyalah India, Tiongkok, dan sedikit di Thailand[2].
 
JENIS SERUPA
 
Bidara acap dipertukarkan identitasnya dengan bidara cina (Ziziphus zizyphus; sinonim Z. jujuba Miller, Z. vulgaris Lamk.). Bidara yang terakhir ini dibudidayakan di Tiongkok bagian utara.[2]
 
DALAM AGAMA ISLAM
 
Bidara atau Sidr (bahasa Arab), atau Lote tree (Bahas Inggris) memiliki kedudukan di dalam agama Islam. Pohon ini disebutkan di beberapa surah dalam Al-Qur'an, yaitu:
·         Sebagai Pohon bidara yang sedikit jumlahnya (sidrin qolil) (QS.34. Saba':16),
·         Sebagai Pohon bidara yang tak berduri (sidr makhdud) (QS.56. Al-Waqiah:28),
·         Sebagai Pohon bidara perbatasan akhir (sidratul muntaha) dan Pohon bidara yang diliputi (sidrata ma yaghsya) (QS.53. An-Najm: 13-16)
 
Pohon ini selain disebutkan di dalam Al-Qur'an juga terdapat anjuran penggunaannya di dalam hadits. Dia digunakan dalam berbagai prosesi ibadah, misalnya daunnya disunnahkan untuk digunakan ketika mandi wajib bagi wanita yang baru suci daripada haid.[7] Juga ketika memandikan jenazah dan menghilangkan najis dari tubuh mayat, jenazah disarankan dimandikan dengan air yang dicampur daun bidara.[8] Daun bidara juga kadang kala dipergunakan dalam proses ruqyah untuk mengobati orang yang kesurupan.
 
REFERENSI
 
1.   Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3: 1270. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. (sebagai Zizyphus Jujuba Lamk.)
2.    Latiff, A.M.. 1991. Ziziphus mauritiana Lamk. In: Verheij, E.W.M. and Coronel, R.E. (Editors). Plant Resources of South-East Asia No. 2: Edible fruits and nuts. Pudoc, Wageningen, The Netherlands, pp. 310-312
4. ICRAF AgroForestryTree Database. Ziziphus mauritiana. Diakses pada 30/09/2011.
7.   Dari ‘Aisyah bahwa Asma’ binti Syakal bertanya kepada Rasulullah tentang mandi haidh: “Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dan sidrahnya (daun pohon bidara) kemudian dia bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya, kemudian dia menyiramkan air ke seluruh badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dengannya. Maka Asma’ berkata: “Bagaimana aku bersuci dengannya?” Dia bersabda: “Maha Suci Allah” maka ‘Aisyah berkata kepada Asma’: “Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dengan kain/kapas itu).” (HR. Muslim)
8. Telah berkata Ummu 'Athiyyah: Rasulullah Description: S.A.W. masuk (menengok) anak perempuannya yang wafat, lalu berkata: "Mandikanlah ia tiga kali, lima kali, atau lebih --kalau kau fikir perlu-- dengan air dan bidara, dan diakhir sekali campurlah dengan kapur barus. Maka apabila selesai, beritahukanlah kepadaku." Sesudah selesai lantas kami beritahukan kepadanya. Lalu ia berikan kepada kami kainnya, sambil berkata: "Pakaikanlah kain ini di badannya." (SR. Bukhari - Muslim)
 
Sumber : Wikipedia

#PohonBidara 

#ZiziphusMauritiana 

#ManfaatBidara 

#TanamanHerbal 

#IslamicBotany