Virus Flu Burung H5N1 “Bersembunyi” dari Sistem
Kekebalan: Peran Protein NS1 dalam Sequestrasi RNA dan Penghindaran Imunitas
Bawaan
Abstrak
Virus influenza A, khususnya virus influenza unggas
berpatogenisitas tinggi (highly pathogenic avian influenza/HPAI) H5N1,
memiliki berbagai mekanisme molekuler untuk menghindari respons antivirus
inang. Salah satu protein terpenting dalam proses tersebut adalah non-structural
protein 1 (NS1), suatu protein multifungsi yang berperan sebagai antagonis
utama respons interferon dan merupakan salah satu determinan virulensi
influenza A. Penelitian struktural yang dilakukan oleh Zachary A. Bornholdt dan
B. V. Venkataram Prasad dari Baylor College of Medicine dan diterbitkan dalam Nature
pada 2008 menunjukkan bahwa NS1 dari virus H5N1 dapat membentuk organisasi
oligomerik berbentuk tabung (tubular organization) dengan saluran
sentral berdiameter sekitar 20 Å. Struktur tersebut memberikan mekanisme yang
masuk akal bagi NS1 untuk melakukan sequestration atau “menyembunyikan”
RNA untai ganda (double-stranded RNA/dsRNA) yang terbentuk selama
replikasi virus.
Penyembunyian dsRNA penting karena RNA tersebut merupakan
salah satu tanda molekuler infeksi virus yang dapat dikenali oleh sistem
penginderaan asam nukleat intraseluler. Pengenalan RNA virus oleh pattern
recognition receptors (PRR), terutama RIG-I dan sistem terkait, dapat
mengaktifkan jalur MAVS–IRF3/IRF7–interferon sehingga sel memasuki keadaan
antivirus. NS1 tidak hanya mengikat dsRNA, tetapi juga mengganggu sejumlah
komponen lain dalam sistem pertahanan inang, termasuk TRIM25, PKR, OAS/RNase L,
serta pemrosesan mRNA melalui CPSF30.
Temuan struktural mengenai NS1 membuka peluang untuk
pengembangan strategi antivirus berbasis struktur, termasuk inhibitor yang
mengganggu oligomerisasi NS1 atau interaksi NS1–dsRNA. Namun, mekanisme
“persembunyian” dsRNA bukanlah satu-satunya mekanisme immune evasion influenza
A. Karena NS1 merupakan protein multifungsi, pengembangan terapi harus
mempertimbangkan keseluruhan jaringan interaksi virus–inang.
Kata kunci: influenza
A, H5N1, NS1, dsRNA, immune evasion, interferon, RIG-I, innate immunity, viral
virulence.
1. Pendahuluan
Influenza A merupakan virus RNA bersegmen yang mampu
menginfeksi berbagai spesies unggas dan mamalia. Beberapa subtipe virus
influenza A pada unggas dapat menyebabkan penyakit dengan mortalitas sangat
tinggi pada populasi unggas, sedangkan sebagian virus tertentu juga mempunyai
kemampuan menginfeksi manusia. H5N1 menjadi salah satu virus influenza unggas
yang paling mendapat perhatian karena karakteristik patogenisitasnya dan
kemampuannya menyebabkan penyakit berat pada manusia pada kasus-kasus zoonotik.
Keberhasilan virus dalam menginfeksi sel inang tidak
hanya ditentukan oleh kemampuannya memasuki sel dan memperbanyak genom, tetapi
juga oleh kemampuannya menghindari deteksi sistem imun. Sel yang
terinfeksi virus sebenarnya mempunyai sistem pengawasan molekuler yang sangat
sensitif. Salah satu tanda keberadaan virus adalah munculnya RNA dengan
karakteristik yang berbeda dari RNA seluler normal, termasuk RNA untai ganda (double-stranded
RNA/dsRNA) yang dapat terbentuk sebagai produk antara selama replikasi
virus.
Dalam keadaan normal, keberadaan RNA
virus akan mengaktifkan sensor imun bawaan. RIG-I, misalnya, merupakan salah
satu sensor utama yang mengenali RNA influenza dan menginisiasi rangkaian
sinyal menuju produksi interferon tipe I dan respons antivirus. Aktivasi PRR
kemudian dapat menyebabkan ekspresi berbagai interferon-stimulated genes
(ISGs) yang membentuk keadaan antivirus pada sel yang terinfeksi maupun sel di
sekitarnya.
Namun, influenza A telah berevolusi dengan berbagai
strategi untuk menghambat sistem tersebut. Salah satu pemain terpenting adalah
protein NS1.
2. Protein NS1: “Pusat Komando” Penghindaran Imunitas
Virus Influenza A
Genom influenza A terdiri atas delapan segmen RNA. Salah
satu segmen tersebut, yaitu segmen 8, mengode protein NS1. Protein ini
mempunyai ukuran relatif kecil, tetapi memiliki fungsi biologis yang sangat
luas.
Secara struktural, NS1 terutama terdiri atas:
- RNA-binding
domain (RBD);
- daerah linker
yang fleksibel; dan
- effector
domain (ED).
RBD mempunyai kemampuan berinteraksi dengan RNA,
sedangkan ED berinteraksi dengan berbagai protein sel inang. Struktur NS1 dari
H5N1 menunjukkan bahwa kedua domain tersebut dapat berpartisipasi dalam
interaksi oligomerik yang menghasilkan organisasi struktural yang lebih tinggi
daripada sekadar dimer.
Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa NS1
merupakan antagonis respons imun inang. Struktur effector domain NS1
bahkan telah dipelajari sebelum struktur protein lengkap H5N1 diperoleh. Hasil
tersebut membantu menjelaskan bagaimana domain NS1 berkontribusi terhadap
fungsi protein dalam infeksi influenza.
Dengan demikian, NS1 dapat dipandang bukan hanya sebagai
protein tambahan virus, melainkan sebagai protein regulator yang membantu
virus mengendalikan lingkungan seluler agar lebih menguntungkan bagi replikasi
virus.
3. Mengapa RNA Untai Ganda Menjadi
Masalah bagi Virus?
Replikasi influenza A menghasilkan
berbagai bentuk RNA yang dapat dikenali oleh sistem imun bawaan. Bagi sel
inang, keberadaan struktur RNA tertentu merupakan indikasi bahwa proses infeksi
sedang berlangsung.
Sistem imun bawaan menggunakan pattern recognition
receptors untuk mendeteksi pola molekuler tersebut. RIG-I merupakan salah
satu sensor utama influenza A, sementara TLR3 juga dapat berperan dalam
pengenalan RNA pada kompartemen tertentu. Aktivasi sensor-sensor ini
menghasilkan sinyal yang berujung pada aktivasi faktor transkripsi seperti
IRF3, IRF7 dan NF-κB. Selanjutnya, sel menghasilkan interferon dan berbagai
mediator antivirus.
Secara sederhana, mekanismenya dapat digambarkan sebagai:
RNA virus → sensor RNA → MAVS dan jalur pensinyalan →
IRF3/IRF7 dan NF-κB → interferon → ISGs → keadaan antivirus.
Karena itu, dari sudut pandang
virus, RNA yang mudah terlihat oleh sistem imun merupakan suatu kelemahan.
Di sinilah NS1 memperoleh keuntungan biologis.
4. NS1 Membentuk “Terowongan” untuk Menyembunyikan dsRNA
Temuan paling menarik dari penelitian Bornholdt dan
Prasad adalah struktur tiga dimensi NS1 dari virus H5N1 yang sangat patogen.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan struktural,
termasuk kristalografi sinar-X dan informasi dari mikroskopi elektron, untuk
mempelajari NS1 secara utuh. Para peneliti menemukan bahwa interaksi
antar-domain NS1 tidak sekadar menghasilkan dimer, tetapi dapat membentuk rantai
molekul NS1 yang kemudian berasosiasi menjadi struktur seperti tabung.
Yang sangat menarik adalah keberadaan saluran sentral
berukuran sekitar 20 Å pada struktur tubular tersebut. Residu-residu NS1
yang berperan dalam pengikatan dsRNA menghadap ke bagian dalam saluran.
Struktur tersebut memberikan penjelasan molekuler yang masuk akal mengenai
bagaimana NS1 dapat melakukan sequestration terhadap dsRNA.
Dengan kata lain, daripada membiarkan dsRNA berada bebas
di dalam lingkungan seluler sehingga mudah dikenali oleh sistem imun, NS1 dapat
berfungsi seperti “selubung molekuler” yang mengikat dan mengisolasi RNA
tersebut.
Analogi sederhananya
Bayangkan sel yang terinfeksi memiliki sistem keamanan
yang mencari “jejak kriminal”. dsRNA merupakan salah satu jejak tersebut.
NS1 dapat dianalogikan sebagai kotak
penyimpanan molekuler:
dsRNA virus → ditangkap NS1 →
ditempatkan dalam organisasi tubular NS1 → akses sensor imun terhadap dsRNA
berkurang.
Namun, istilah “bersembunyi” harus dipahami sebagai
analogi biologis. Struktur tersebut bukan berarti virus benar-benar menghilang
dari tubuh atau menjadi tidak terlihat oleh seluruh sistem imun. Yang terjadi
adalah pengurangan akses sensor tertentu terhadap RNA virus.
5. Struktur NS1 H5N1 dan Mekanisme Sequestrasi dsRNA
Hasil penelitian Bornholdt dan Prasad sangat penting
karena menghubungkan struktur protein dengan fungsi immune evasion.
NS1 mempunyai dua domain utama yang dapat berinteraksi
secara oligomerik. Dalam struktur H5N1, interaksi tersebut menghasilkan susunan
molekul yang memanjang dan kemudian membentuk organisasi tubular. Bagian yang
mengikat dsRNA menghadap ke saluran internal.
Hal tersebut menghasilkan model berikut:
NS1 monomer → dimerisasi → oligomerisasi → struktur
tubular → dsRNA masuk/terikat pada permukaan internal → dsRNA terlindung dari
sebagian sensor inang.
Temuan ini memberikan dasar struktural terhadap hipotesis
bahwa NS1 dapat mengisolasi dsRNA selama infeksi.
Yang penting, penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa
mekanisme tersebut merupakan satu-satunya cara H5N1 menghindari sistem imun. Bahkan laporan asli menekankan bahwa
NS1 mempunyai berbagai fungsi lain dalam mengganggu mekanisme pertahanan sel.
6. NS1 Tidak Hanya Menyembunyikan RNA
Pemahaman modern mengenai NS1 menunjukkan bahwa kemampuan
protein tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar pengikatan dsRNA.
6.1 Gangguan terhadap RIG-I
RIG-I merupakan sensor penting terhadap RNA influenza.
Aktivasi RIG-I melibatkan modifikasi dan interaksi dengan sejumlah protein
regulator, termasuk TRIM25.
NS1 dapat berinteraksi dengan TRIM25 dan menghambat
proses yang diperlukan untuk aktivasi RIG-I. Dengan demikian, NS1 dapat
menghambat produksi interferon melalui mekanisme yang tidak sepenuhnya
bergantung pada sequestrasi dsRNA.
Hal ini menunjukkan bahwa NS1 mempunyai strategi
berlapis:
mengurangi sinyal RNA + menghambat
mesin pensinyalan RNA.
6.2 Penghambatan PKR
PKR (protein kinase R)
merupakan protein antivirus yang dapat diaktifkan oleh dsRNA. Setelah aktif,
PKR dapat memfosforilasi eIF2α dan menyebabkan penghambatan
translasi, sehingga lingkungan sel menjadi kurang menguntungkan bagi sintesis
protein virus.
NS1 dapat berinteraksi dengan dsRNA dan PKR sehingga
menghambat aktivitas antivirus tersebut. Dengan demikian, NS1 membantu
mempertahankan kapasitas translasi yang dibutuhkan virus untuk memperbanyak
komponennya.
6.3 Penghambatan Jalur OAS/RNase L
Sistem OAS/RNase L merupakan
mekanisme antivirus lain yang dipicu oleh RNA. OAS dapat mendeteksi dsRNA dan
menghasilkan molekul yang mengaktifkan RNase L, yang kemudian mendegradasi RNA.
Sequestrasi dsRNA oleh NS1 dapat
mengurangi akses OAS terhadap substratnya sehingga menghambat aktivasi jalur
OAS/RNase L.
Dengan demikian, satu aktivitas
NS1—yaitu pengikatan dsRNA—dapat memberikan keuntungan terhadap lebih dari satu
jalur pertahanan inang.
7. NS1 dan Penghambatan Produksi
Interferon
Interferon merupakan salah satu
komponen utama pertahanan antivirus.
Setelah RNA virus terdeteksi, jalur
pensinyalan akan mengaktifkan faktor transkripsi seperti IRF3 dan IRF7.
Interferon kemudian dilepaskan dan bekerja melalui reseptornya untuk
mengaktifkan ekspresi ISGs.
ISGs menghasilkan berbagai protein
antivirus yang menghambat tahapan berbeda dari siklus hidup virus.
NS1 dapat menghambat proses tersebut
pada beberapa tingkat. Selain memengaruhi RIG-I dan TRIM25, NS1 juga dapat
memengaruhi faktor transkripsi serta pemrosesan RNA seluler. Salah satu target
penting yang telah banyak dipelajari adalah CPSF30, yang berperan dalam
pemrosesan dan poliadenilasi mRNA seluler. Interaksi
NS1 dengan CPSF30 dapat mengganggu ekspresi gen inang, termasuk gen yang
berhubungan dengan respons antivirus.
Oleh karena itu, efek NS1 dapat dirangkum sebagai:
mengurangi deteksi → mengurangi produksi interferon →
mengurangi ekspresi ISGs → meningkatkan peluang replikasi virus.
8. Mengapa Mekanisme Ini Penting
pada H5N1?
Patogenisitas virus influenza
merupakan hasil interaksi kompleks antara sifat virus dan respons inang. NS1
merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap virulensi.
Pada penelitian struktur H5N1 yang
dilakukan Bornholdt dan Prasad, virus yang dipelajari adalah
A/Vietnam/1203/2004, suatu strain H5N1 yang sangat patogen. Penelitian tersebut
menunjukkan bahwa struktur NS1 H5N1 mempunyai karakteristik tertentu pada interaksi
antardomain dibandingkan struktur domain yang sebelumnya dipelajari pada strain
lain.
Hal tersebut menunjukkan bahwa variasi
struktural NS1 dapat mempunyai konsekuensi fungsional.
Namun, penting untuk menghindari
kesimpulan terlalu sederhana bahwa “NS1 tubular = H5N1 sangat ganas”. Virulensi
influenza merupakan sifat multigenik yang melibatkan hemaglutinin,
neuraminidase, polimerase, NS1, faktor virus lainnya, serta faktor inang.
9. NS1 sebagai Target Pengembangan Antivirus
Salah satu implikasi terbesar dari temuan struktural
tersebut adalah kemungkinan menggunakan NS1 sebagai target terapi.
Secara konseptual terdapat beberapa strategi.
9.1 Menghambat interaksi NS1–dsRNA
Jika NS1 tidak dapat mengikat dsRNA secara efektif, RNA
virus akan menjadi lebih mudah diakses oleh sistem imun bawaan.
Konsekuensinya secara teoritis:
inhibitor NS1 → dsRNA lebih terekspos → sensor RNA lebih
aktif → interferon meningkat → replikasi virus terhambat.
Pendekatan ini telah lama dipandang sebagai salah satu
kemungkinan strategi antivirus berbasis NS1.
9.2 Menghambat oligomerisasi NS1
Karena organisasi tubular bergantung pada interaksi
antarmolekul NS1, molekul yang mengganggu antarmuka oligomerisasi berpotensi
mengurangi pembentukan struktur yang diperlukan untuk sequestrasi RNA.
9.3 Mengganggu interaksi NS1–TRIM25
Pendekatan lain adalah menghambat interaksi NS1 dengan
TRIM25 sehingga aktivasi RIG-I dapat dipulihkan. Struktur kompleks NS1–TRIM25
telah memberikan informasi mekanistik mengenai bagaimana NS1 mengganggu proses
ubiquitinasi RIG-I.
9.4 Mengganggu interaksi NS1–CPSF30
Pendekatan ini berpotensi memulihkan sebagian proses
ekspresi gen antivirus seluler yang terganggu oleh NS1.
10. Tantangan Pengembangan Obat Berbasis NS1
Walaupun sangat menjanjikan, NS1
bukan target yang mudah.
Pertama, NS1 merupakan protein yang dinamis dan
multifungsi. Studi struktural dan biokimia menunjukkan adanya fleksibilitas
konformasi dan kemampuan membentuk berbagai keadaan oligomerik.
Kedua, inhibitor yang hanya mengganggu satu fungsi NS1
belum tentu sepenuhnya menghentikan replikasi virus karena NS1 mempunyai banyak
mekanisme immune evasion.
Ketiga, interaksi protein–RNA sering melibatkan permukaan
yang luas dan bersifat elektrostatis sehingga pencarian molekul kecil yang
sangat spesifik dapat menjadi tantangan.
Karena itu, pengembangan obat berbasis NS1 memerlukan
integrasi:
struktur → komputasi → biokimia → virologi → model sel →
model hewan → uji klinis.
11. Peluang Molecular Docking dan Struktur-Based Drug
Discovery
Pengetahuan struktur NS1 membuka peluang bagi pendekatan structure-based
drug discovery.
Tahap awal dapat berupa identifikasi kantong atau
permukaan protein yang secara fungsional penting. Kandidat senyawa kemudian
dapat dianalisis menggunakan molecular docking untuk memperkirakan mode
interaksi.
Namun, docking tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa
suatu senyawa merupakan inhibitor NS1.
Validasi harus dilakukan melalui
beberapa tahapan:
- struktur
protein NS1 yang tervalidasi;
- preparasi
struktur protein dan ligan;
- redocking ligan
referensi bila tersedia;
- validasi
RMSD;
- ensemble
docking
bila protein menunjukkan fleksibilitas;
- analisis
interaksi residu;
- molecular
dynamics;
- estimasi energi bebas atau MM-GBSA/MM-PBSA sebagai
tahap penyaringan;
- uji biokimia interaksi NS1–RNA;
- uji aktivitas
antivirus pada sistem biologis yang sesuai.
Dengan demikian, hasil docking sebaiknya diposisikan
sebagai hipotesis interaksi, bukan sebagai bukti efikasi antivirus.
12. Perspektif Sistem Imun: Virus Tidak Benar-Benar “Tak
Terlihat”
Istilah “virus bersembunyi dari sistem kekebalan” sangat
menarik untuk komunikasi ilmiah, tetapi secara biologis perlu diberi batasan.
NS1 tidak membuat virus menjadi sepenuhnya tidak
terlihat.
Sebaliknya, NS1:
- mengurangi
paparan dsRNA terhadap sensor tertentu;
- menghambat
aktivasi RIG-I;
- mengganggu
TRIM25;
- menghambat
PKR;
- menghambat
OAS/RNase L;
- mengganggu
produksi interferon;
- dan memodulasi pemrosesan RNA sel inang.
Dengan demikian, immune evasion influenza merupakan strategi
multifaktor dan bertingkat. Sistem imun tetap mempunyai berbagai mekanisme
lain untuk mendeteksi dan merespons infeksi.
Kajian tentang imunitas bawaan influenza menunjukkan
bahwa sejumlah PRR dan jalur antivirus bekerja secara paralel. Karena itu, kegagalan satu mekanisme
penginderaan tidak otomatis berarti virus bebas dari seluruh pengawasan imun.
13. Model Konseptual Mekanisme “Persembunyian” NS1
Secara ringkas, mekanisme yang dapat ditarik dari
berbagai penelitian adalah:
Infeksi H5N1
↓
Replikasi RNA virus
↓
Terbentuk RNA virus/dsRNA
↓
Seharusnya dikenali PRR
↓
RIG-I/MDA5 dan sistem penginderaan RNA
↓
MAVS → IRF3/IRF7 → interferon
↓
ISGs → keadaan antivirus
Namun virus melakukan:
H5N1 → NS1
↓
NS1 mengikat dsRNA
↓
Oligomerisasi NS1
↓
Organisasi tubular
↓
Sequestrasi dsRNA
↓
Akses sensor tertentu terhadap RNA berkurang
Secara paralel:
NS1 → TRIM25 ↓ → aktivasi RIG-I ↓
NS1 → PKR ↓ → hambatan translasi antivirus ↓
NS1 → OAS/RNase L ↓ → degradasi RNA antivirus ↓
NS1 → CPSF30 ↓ → pemrosesan mRNA inang terganggu
Hasil akhirnya adalah terciptanya lingkungan seluler yang
lebih menguntungkan bagi replikasi virus.
14. Implikasi bagi Penelitian Influenza di Indonesia
Temuan mengenai NS1 mempunyai relevansi yang lebih luas
bagi penelitian influenza di Indonesia karena negara ini memiliki populasi
unggas yang besar dan sistem produksi unggas yang sangat beragam.
Dalam penelitian epidemiologi
molekuler, karakterisasi virus sebaiknya tidak berhenti pada identifikasi
subtipe HA dan NA. Analisis gen NS1 juga dapat memberikan
informasi mengenai:
- variasi
genetik;
- perubahan
residu penting;
- kemungkinan perubahan interaksi dengan RNA;
- perubahan interaksi dengan protein inang;
- hubungan
antara variasi genetik dan fenotipe biologis;
- serta potensi perubahan karakteristik immune
evasion.
Pendekatan tersebut dapat
dikombinasikan dengan surveilans molekuler, epidemiologi, pengujian serologi
dan kajian patogenesis untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif
mengenai dinamika influenza A.
15. Arah Penelitian Masa Depan
Penelitian berikutnya dapat
diarahkan pada beberapa pertanyaan penting.
Pertama, apakah semua NS1 H5N1
membentuk organisasi tubular dengan karakteristik yang sama?
Variasi urutan asam amino dapat
memengaruhi stabilitas, oligomerisasi dan interaksi NS1 dengan RNA.
Kedua, seberapa penting struktur
tubular tersebut dalam sel hidup?
Struktur yang diamati melalui
pendekatan struktural perlu dikaitkan dengan bukti fungsional pada konteks
infeksi seluler.
Ketiga, apakah gangguan terhadap
struktur tubular benar-benar meningkatkan aktivasi interferon?
Pertanyaan tersebut membutuhkan eksperimen fungsional
yang menghubungkan perubahan struktur dengan respons imun.
Keempat, apakah permukaan
oligomerisasi NS1 dapat menjadi target obat?
Ini merupakan salah satu peluang menarik bagi structure-based
drug discovery.
Kelima, apakah kombinasi inhibitor NS1 dengan antivirus
lain lebih efektif?
Karena NS1 bekerja pada beberapa jalur, strategi
kombinasi yang menargetkan replikasi virus sekaligus immune evasion dapat
menjadi bidang penelitian yang menarik.
16. Kesimpulan
Penemuan mengenai kemampuan protein NS1 influenza A H5N1
membentuk struktur tubular merupakan salah satu contoh penting bagaimana struktur
tiga dimensi protein dapat menjelaskan strategi penghindaran sistem imun virus.
Penelitian Bornholdt dan Prasad yang dipublikasikan dalam
Nature pada 2008 menunjukkan bahwa NS1 H5N1 dapat membentuk organisasi
oligomerik tubular dengan saluran internal sekitar 20 Å yang memungkinkan
terjadinya sequestrasi dsRNA. Struktur tersebut memberikan mekanisme yang masuk
akal mengenai bagaimana RNA yang terbentuk selama infeksi dapat dilindungi dari
sebagian sistem penginderaan antivirus sel.
Namun, NS1 tidak bekerja melalui
satu mekanisme saja. Protein ini merupakan antagonis imun multifungsi yang
dapat mengganggu RIG-I/TRIM25, PKR, OAS/RNase L, CPSF30 dan sejumlah jalur
lainnya.
Dengan demikian, istilah “Virus
AI Sembunyi dari Sistem Kekebalan” secara populer menggambarkan fenomena
yang nyata, tetapi secara ilmiah lebih tepat dipahami sebagai kemampuan
influenza A menggunakan NS1 untuk mengurangi deteksi dan efektivitas respons
imun bawaan melalui sequestrasi RNA serta gangguan berbagai jalur antivirus.
Temuan ini sekaligus membuka
perspektif baru bahwa NS1 bukan hanya faktor virulensi, tetapi juga calon
target strategis dalam pengembangan antivirus generasi berikutnya.
Penggabungan struktur NS1, biologi RNA, imunologi molekuler, molecular
docking, molecular dynamics, biokimia dan virologi eksperimental
dapat menjadi pendekatan yang kuat untuk mengembangkan inhibitor yang mampu
“membuka kembali” RNA virus terhadap sistem pertahanan sel.
Daftar Pustaka
- Bornholdt, Z.
A., & Prasad, B. V. V. (2008). X-ray structure of NS1 from a highly
pathogenic H5N1 influenza virus. Nature, 456, 985–988.
https://doi.org/10.1038/nature07444.
- Bornholdt, Z.
A., & Prasad, B. V. V. (2006). X-ray structure of influenza virus
NS1 effector domain. Nature Structural & Molecular Biology, 13,
559–560. https://doi.org/10.1038/nsmb1099.
- Iwasaki, A., & Pillai, P. S. (2014). Innate immunity to influenza virus infection. Nature
Reviews Immunology, 14, 315–328.
- Gack, M. U., et al. (2009). Influenza A
virus NS1 targets the ubiquitin ligase TRIM25 to evade recognition by the
host viral RNA sensor RIG-I. Cell Host & Microbe, 5, 439–449.
Mekanisme NS1–TRIM25 selanjutnya diperdalam melalui studi struktural.
- Rehwinkel,
J., & Gack, M. U. (2020). RIG-I-like receptors: their
regulation and roles in RNA sensing. Nature Reviews Immunology, 20,
537–551.
- Hale, B. G.,
Randall, R. E., Ortín, J., & Jackson, D. (2008). The
multifunctional NS1 protein of influenza A viruses. Journal of General
Virology, 89, 2359–2376.
- Ayllon, J.,
& García-Sastre, A. (2015). The influenza A virus NS1 protein: a
multifaceted antagonist of host defenses. Future Microbiology.
- Morales, D.
J., & Lenschow, D. J. (2013). The antiviral activities of ISG15. Journal
of Molecular Biology, 425, 4995–5008.
- García-Sastre,
A. (2004).
Identification and characterization of viral antagonists of interferon in
influenza A virus and other viruses. Journal of Interferon &
Cytokine Research.
- Ehrhardt, C.,
et al. (2007).
Interplay between influenza A virus and the innate immune signaling. Microbes
and Infection.
- Haye, K.,
Burmakina, S., Moran, T., García-Sastre, A., & Fernandez-Sesma, A.
(2009).
The NS1 protein of influenza A virus inhibits the induction of interferon
by interacting with the cellular ubiquitin ligase TRIM25. Journal of
Virology.
- Kochs, G.,
García-Sastre, A., & Martínez-Sobrido, L. (2007). Multiple
anti-interferon actions of the influenza A virus NS1 protein. Journal
of Virology.
- Carrillo, B.,
Choi, J.-M., Bornholdt, Z. A., Sankaran, B., Rice, A. P., & Prasad, B.
V. V. (2014).
The influenza A virus protein NS1 displays structural polymorphism. Journal
of Virology, 88, 4113–4122. https://doi.org/10.1128/JVI.03692-13.
- Nogales, A.,
Martínez-Sobrido, L., & DeDiego, M. L. (2019). Modulation
of innate immune responses by the influenza A NS1 and PA-X proteins. Viruses.
- Marc, D.
(2014).
Influenza virus non-structural protein NS1: interferon antagonism and
beyond. Journal of General Virology.
- Palese, P.,
& Shaw, M. L. (2007). Orthomyxoviridae: the viruses and
their replication. Dalam Fields Virology.
- Hatada, E.,
& Fukuda, R. (1992). Binding of influenza A virus NS1
protein to dsRNA in vitro. Journal of General Virology, 73,
3325–3329. Referensi ini merupakan salah satu dasar awal yang menunjukkan
kemampuan NS1 berinteraksi dengan dsRNA.
- Donelan, N.
R., Basler, C. F., & García-Sastre, A. (2003). A
recombinant influenza A virus expressing an RNA-binding-defective NS1
protein induces high levels of β-interferon and is attenuated in mice. Journal
of Virology, 77, 13257–13266.
- Morrison, J.,
et al. (2024).
Research progress on the nonstructural protein 1 (NS1) of influenza A
virus. Virulence. https://doi.org/10.1080/21505594.2024.2359470.
#VirusAI
#H5N1
#FluBurung
#NS1
#SistemImun
