Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Professional Leadership Education. Show all posts
Showing posts with label Professional Leadership Education. Show all posts

Sunday, 25 January 2026

8 Rahasia Menjaga Keikhlasan Beramal yang Jarang Diketahui Umat Islam!

 


8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal

 

Keikhlasan adalah salah satu syarat utama diterimanya amal seorang hamba. Tanpa keikhlasan, ibadah yang dilakukan dengan susah payah dapat hilang nilainya di sisi Allah. Karena itu, menjaga hati agar tetap ikhlas merupakan perjuangan sepanjang hidup seorang mukmin.

 

Allah mencontohkan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam bagaimana orang yang ikhlas akan dijaga dari keburukan. Dalam QS. Yusuf ayat 24 Allah menjelaskan bahwa Yusuf termasuk hamba yang ikhlas sehingga Allah melindunginya dari perbuatan buruk. Dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan bahwa siapa pun yang memanjangkan umur dalam ketaatan sambil terus mengharap keridaan Allah, maka derajat dan kemuliaannya akan terus ditingkatkan.

 

Keikhlasan juga membuat jiwa tenang. Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan bahwa siapa yang memahami hakikat manusia–bahwa mereka tidak dapat memberi manfaat atau mudarat tanpa izin Allah–maka ia tidak akan sibuk mencari perhatian dan pujian manusia.

 

Namun, mengikhlaskan amal bukan perkara mudah. Sejak dahulu, hingga kiamat nanti, manusia selalu digoda oleh Iblis untuk merusak niat. Karena itu, seorang mukmin perlu usaha sungguh-sungguh untuk menjaga hatinya. Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim memberikan delapan cara untuk menjaga keikhlasan.

 

1. Memperbanyak doa

Keikhlasan adalah hidayah, dan hidayah berada sepenuhnya di tangan Allah. Hati manusia berada di antara dua jari Allah, sehingga Allah bisa membolak-balikkan hati dalam sekejap. Karena itu, mintalah pada Allah agar setiap amal kita bernilai ikhlas. Umar bin Khattab sering berdoa agar amalnya menjadi baik, bersih, dan tidak tercampur oleh kepentingan siapa pun selain Allah.

 

2. Menyembunyikan amal

Semakin tersembunyi sebuah amalan, semakin besar kemungkinan ia diterima Allah. Nabi menyebutkan salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah adalah orang yang bersedekah secara diam-diam hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Para ulama juga menasihati agar amal baik disembunyikan sebagaimana kita menyembunyikan kesalahan.

 

Karena itu, banyak ibadah sunah dianjurkan dilakukan secara sembunyi, seperti salat malam atau istigfar di waktu sahur. Ibadah-ibadah ini lebih mudah dilakukan jauh dari pandangan manusia, sehingga lebih dekat kepada keikhlasan.

 

3. Mencontoh orang yang lebih mulia

Saat beramal, jangan menggunakan manusia di sekitar kita sebagai ukuran, apalagi jika kualitas ibadah mereka lebih rendah. Allah memerintahkan agar kita menjadikan para nabi sebagai teladan. Membaca sirah dan kisah para salihin dapat menguatkan iman dan memperbaiki niat, karena kita terdorong mengikuti keteladanan mereka.

 

4. Merasa kecil atas amal yang dilakukan

Perasaan bangga dan kagum pada diri sendiri dapat menghapus keikhlasan dan bahkan menggugurkan pahala. Said bin Jubair menjelaskan bahwa seseorang bisa masuk surga karena kemaksiatan yang membuat ia takut kepada Allah, sementara ada pula yang masuk neraka karena amal baik yang ia banggakan. Artinya, yang terpenting bukan besar atau kecilnya amal, melainkan hati yang rendah dan takut tidak diterima oleh Allah.

 

5. Takut amal tidak diterima

Aisyah pernah bertanya tentang orang-orang yang disebut dalam QS. Al-Mukminun ayat 60, yaitu mereka yang beramal namun hatinya penuh rasa takut. Nabi menjelaskan bahwa mereka bukan para pelaku maksiat, tetapi orang yang shalat, berpuasa, dan bersedekah namun takut amalnya tidak diterima. Inilah sifat seorang hamba yang ikhlas: ia tidak pernah merasa puas, dan selalu khawatir amalnya tidak cukup untuk kembali menghadap Allah Swt.

 

6. Tidak terpengaruh ucapan manusia

Ibnu Al-Jauzi menekankan bahwa sangat sedikit orang yang benar-benar beramal ikhlas karena banyak yang senang menampilkan ibadah mereka. Ia mengingatkan bahwa meninggalkan penilaian manusia, tidak mencari gengsi, dan tidak peduli pada pujian atau komentar orang lain adalah ciri orang yang memiliki derajat tinggi. Ucapan manusia tidak akan menambah atau mengurangi nilai amal di sisi Allah.

 

7. Yakin bahwa manusia tidak menentukan surga dan neraka

Tidak seorang pun manusia yang mampu menjamin dirinya masuk surga, apalagi menjamin orang lain. Tidak ada manusia yang mampu mengeluarkan seseorang dari neraka. Karena itu, mengapa harus mengejar penilaian manusia dalam beramal? Ibnu Rajab berkata bahwa apabila seseorang beribadah untuk keuntungan dunia, maka amalnya tidak membawa manfaat bahkan menjadi dosa.

 

8. Mengingat bahwa kita akan sendirian di kubur

Saat berada di alam kubur, kita sendirian tanpa teman, keluarga, atau sanjungan manusia. Yang menemani hanyalah amal baik yang ikhlas. Ibnu Al-Qayyim menyatakan bahwa orang yang siap bertemu Allah akan melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia dan fokus pada apa yang benar-benar menyelamatkannya.

 

Keikhlasan adalah perjuangan mulai dari sebelum beramal, saat beramal, hingga setelahnya. Namun siapa yang bersungguh-sungguh, Allah akan memudahkan jalannya. Semoga Allah menjaga hati kita agar selalu ikhlas.

 

Wallahu a’lam.

 

#keikhlasan 

#amalsholeh 

#nawaitulillah 

#ibadahikhlas 

#islamicguidance

Wednesday, 21 January 2026

Dialog Laut dengan Allah: Rahasia Besar Ketaatan Alam yang Membuat Manusia Tersentak!

 


Percakapan Air Laut dan Allah: Pelajaran Agung tentang Ketaatan dan Amanah

 

Di antara makhluk Allah yang paling besar dan menakjubkan adalah lautan. Hamparannya yang luas, ombaknya yang gagah, dan kedalamannya yang tak terhingga menjadi tanda kebesaran Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Dalam sebuah kisah perenungan, digambarkan seakan-akan air laut berdialog dengan Rabb-nya, dan dari kisah ini kita belajar makna ketaatan, ketundukan, dan amanah sebagai manusia.

 

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

“Wahai laut, Aku menciptakanmu luas dan kuat. Apakah engkau siap menjalankan perintah-Ku?”

Maka seakan-akan air laut menjawab,

“Ya Allah, kami tunduk dan patuh kepada-Mu. Tidak ada yang kami lakukan kecuali atas izin-Mu.”

Sebagaimana firman Allah:

“Dan kepada Allah bersujud segala yang di langit dan di bumi, baik makhluk bergerak maupun para malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (QS. An-Naḥl 16:49–50)

 

Laut yang Gagah, Namun Tetap Taat

 

Allah kemudian berfirman:

“Aku berikan kepadamu ombak yang gagah. Aku tetapkan batas antara kamu dan daratan. Maka janganlah kamu melampaui batas itu tanpa perintah-Ku.

Laut pun seolah menjawab:

“Kami taat, ya Rabb. Di Arab kami berzikir dengan deburan ombak, terus memuji-Mu siang dan malam.”

Sebagaimana Allah berfirman:

“Di antara keduanya (laut air tawar dan asin) ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Raḥmān 55:20)

Deburan ombak yang tidak pernah berhenti adalah tasbih yang terus mengagungkan-Nya. Tidak ada satu pun dari makhluk Allah yang ingkar, kecuali manusia dan jin yang diberi pilihan.

 

Keluhan Laut tentang Maksiat Manusia

 

Namun laut berkata dengan sedih:

“Ya Allah, manusia telah banyak bermaksiat di sisi kami. Mereka menumpahkan dosa dan kerusakan ke dalam tubuh kami.”

Allah menjawab:

“Wahai laut, bersabarlah. Aku lebih mengetahui apa yang mereka perbuat. Bila Aku kehendaki, air seperti dirimu dapat menjadi azab bagi mereka.”

Sebagaimana firman-Nya:

“Maka masing-masing (umat yang zalim) Kami azab karena dosa-dosa mereka….” (QS. Al-‘Ankabūt 29:40)

Kerusakan di laut dan di bumi tidak lain adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Polusi, limbah, penangkapan ikan yang merusak, semuanya menjadi bagian dari kemaksiatan yang tampak di hadapan lautan.

 

Laut Mampu Menenggelamkan Daratan, Tetapi Menahan Diri

 

Air laut kemudian berkata:

“Jika Engkau perintahkan, kami mampu menenggelamkan seluruh daratan.”

Ini sesuai dengan firman Allah:

“Katakanlah, Dia-lah yang berkuasa menimpakan azab dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian….” (QS. Al-Mulk 67:30)

Dengan izin Allah, lautan bisa menjadi nikmat, namun juga bisa menjadi azab sebagaimana kaum-kaum terdahulu.

 

Allah Maha Penyayang: Mengajak Manusia Bertaubat

 

Namun Allah menjawab:

“Aku Maha Penyayang. Aku beri mereka waktu untuk bertaubat. Doakan agar mereka kembali kepada-Ku dan menjaga bumi yang Aku titipkan.”

Allah telah menjelaskan bahwa amanah ini diberikan kepada manusia:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikulnya dan takut mengkhianatinya; lalu manusia yang memikulnya….” (QS. Al-Aḥzāb 33:72)

Laut berkata:

“Ampuni mereka, ya Rabb. Kami akan terus menjaga batas kami hingga Engkau memerintahkan kami bertindak.”

 

Pelajaran Moral: Makhluk Allah Taat, Manusia Justru Lalai

 

Semua makhluk Allah bertasbih, tunduk, dan taat. Hanya manusia yang sering lupa, bermaksiat, dan membuat kerusakan di bumi maupun di lautan. Padahal Allah telah memberi mereka amanah, akal, dan waktu untuk kembali kepada-Nya.

Rasulullah bersabda:

“Setiap anak Adam melakukan dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

 

Mari Kembali kepada Allah dan Menjaga Alam sebagai Amanah

 

Selagi belum terlambat, marilah kita:

  • kembali kepada Allah dengan hati yang tunduk,
  • memperbanyak istighfar dan taubat,
  • menjaga bumi dan lautan dari kerusakan,
  • serta menghormati ciptaan Allah yang selalu taat kepada-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang menjaga amanah, bukan yang merusaknya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


#RenunganIslam 

#KisahLaut 

#AmanahManusia 

#DzikirAlam 

#KetaatanMakhluk

Tuesday, 20 January 2026

Kisah Azzam: Anak Kecil yang Tembus Umrah Berkat Doa yang Tak Pernah Padam!

 



Azzam, Anak Kecil yang Mengajarkan Kita Hebatnya Kekuatan Doa

 

Namanya Azzam. Usianya baru dua belas tahun, tubuhnya kecil, wajahnya polos, dan ia berasal dari sebuah kampung sederhana di Indonesia. Tidak ada yang menyangka bahwa anak seusianya bisa melaksanakan ibadah umrah, sebuah impian yang bahkan banyak orang dewasa belum mampu mencapainya.

 

Ayah Azzam hanyalah seorang buruh harian. Ibunya penjahit rumahan. Hidup mereka jauh dari kata berlebih; untuk makan saja, kadang mereka harus menghitung hari. Namun di balik kesederhanaan itu, ada satu kebiasaan Azzam yang membuat banyak orang dewasa tertegun—sebuah kebiasaan yang menjadi kunci dari sebuah perjalanan tak terduga.

 

Setiap selesai shalat, Azzam selalu menengadahkan tangan kecilnya dan berdoa, “Ya Allah, izinkan aku melihat Ka’bah sebelum aku besar.”

Doa itu bukan sekadar ucapan. Ia ulangi bertahun-tahun. Dalam sujudnya. Dalam malamnya. Dalam setiap harapannya.

 

Doa Anak Kecil yang Menggetarkan Arsy

Allah berfirman:

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60)

 

Azzam percaya pada ayat itu. Ketika teman-temannya sibuk bermain gawai, ia memilih membantu ayahnya atau mengaji di mushala. Ia menabung receh di kaleng biskuit—bukan untuk mainan, tapi untuk mimpi yang bahkan orang dewasa pun sering takut menjaganya.

 

Sampai suatu hari, ustadz di kampungnya mengumumkan program umrah hasil patungan jamaah dan donatur. Satu kursi diperuntukkan bagi anak yatim atau dhuafa yang istiqamah menjaga shalat dan akhlak.

Nama Azzam disebut.

Ibunya menangis tersedu. Ayahnya terduduk lama, tak percaya. Mereka tahu bahwa ini bukan kebetulan.

 Ini adalah jawaban doa.

Rasulullah bersabda:

“Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.” —HR. Tirmidzi

 

Perjalanan yang Mengubah Hati

 

Perjalanan itu tidak mudah. Itu kali pertama Azzam naik pesawat. Namun tekad dan syukur membuat hatinya teguh.

Di Madinah, ia menangis ketika berada di Raudhah—taman surga di muka bumi.

Di Makkah, ketika pertama kali melihat Ka’bah, kakinya gemetar. Bibirnya tak mampu membentuk kalimat panjang. Air matanya jatuh tanpa suara.

Ia hanya berbisik:“Ya Allah… terima kasih. Engkau tidak menertawakanku.”

Betapa indahnya keyakinan seorang anak kecil yang percaya bahwa Allah mendengar setiap bisikan hatinya.

 

Hati yang Semakin Lembut Setelah Umrah

 

Sepulang dari umrah, Azzam bukan menjadi sombong, tapi justru semakin rendah hati. Ia semakin rajin shalat, menjaga lisannya, membantu orang tua, dan sering mengingatkan orang dewasa dengan lembut.

Kalau Allah mau, tidak ada yang mustahil, katanya lirih setiap kali seseorang meragukan harapan mereka.

Benar adanya firman Allah:

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu.” (QS. Ali ‘Imran: 160)

Dan juga janji-Nya:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

 


Mimpi yang Disertai Doa Tidak Pernah Sia-Sia

 

Kisah Azzam bukan dongeng. Ia nyata, terjadi di Indonesia. Azzam mengajarkan kita bahwa mimpi yang disertai doa, akhlak, dan kesabaran tidak akan pernah sia-sia. Kadang Allah mengabulkan bukan karena kita mampu, tapi karena kita bersungguh-sungguh berharap kepada-Nya.

Rasulullah bersabda:

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa itu akan dikabulkan.” —HR. Tirmidzi

 

Azzam mungkin masih kecil, tetapi keyakinannya lebih besar daripada banyak orang dewasa. Ia menunjukkan bahwa yang terpenting bukan siapa kita, seberapa kaya kita, atau seberapa kuat kita—melainkan seberapa teguh kita beriman kepada Allah.

Karena pada akhirnya, doa yang penuh kesungguhan adalah pintu yang selalu Allah buka bagi hamba-hamba-Nya yang tulus.


#kisahislam

#doamustajab

#umrah

#inspirasimuslim

#anakshaleh

Monday, 19 January 2026

Mengapa Tahajud Harus Tidur Dulu? Fakta Syariat & Temuan Sains yang Jarang Diungkap!

 


Sholat tahajud adalah ibadah sunnah yang memiliki kedudukan sangat mulia. Banyak orang merasakan bahwa doa-doa di waktu tahajud terasa lebih khusyuk, lebih dalam, dan seolah lebih “terhubung” dengan Allah Swt. Namun muncul pertanyaan penting:

Mengapa tahajud harus tidur dulu?

Apa benar ada hubungan dengan gelombang otak seperti gelombang teta?

 

Artikel ini mengulasnya dengan seimbang berdasarkan syariat dan sains modern.

 

1. Penjelasan Syariat: Mengapa Tahajud Harus Tidur Terlebih Dahulu?

 

Dalam syariat, tahajud adalah sholat malam yang dilakukan setelah tidur, berbeda dengan qiyamul lail yang boleh dilakukan tanpa tidur.

 

Dalil Al-Qur’an

Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 79:

Dan pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

Ayat ini menggunakan kata tahajjud dari akar kata hajada yang berarti “bangun dari tidur”.

 

Dalil Hadits

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim)

Dan mengenai tidur sebelum tahajud, terdapat hadits:

“Siapa yang sholat di malam hari lalu tertidur hingga pagi hari, maka ditulis baginya pahala qiyamul lail, tetapi ia tidak dianggap melakukan tahajud.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah – hasan)


Ini menunjukkan bahwa tidur adalah syarat definisi tahajud, bukan karena alasan biologis atau gelombang otak tertentu. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dan Imam Ibn Hajar juga sepakat bahwa tidur menjadi pembeda utama antara tahajud dan qiyamul lail.

 

2. Perspektif Sains: Apakah Ada Hubungan dengan Gelombang Teta?

 

Beberapa ceramah menghubungkan tahajud dengan gelombang teta, namun secara ilmiah penjelasannya lebih luas dan tidak sesederhana itu.

 

Fase Gelombang Otak Saat Tidur

 

Menurut penelitian neurofisiologi (Walker & Stickgold, 2006; Carskadon & Dement, 2017), otak manusia melewati beberapa fase:

  • Alpha → rileks, menjelang tidur
  • Teta → tidur ringan / awal tidur
  • Delta → tidur sangat dalam (deep sleep)

Ketika seseorang bangun untuk tahajud pada akhir malam, tubuh biasanya baru melewati fase delta, lalu naik menuju kondisi yang lebih waspada namun masih sangat tenang.

 

Mengapa Doa Saat Tahajud Lebih Khusyuk?

 

Bangun di akhir malam memunculkan kondisi biologis yang unik:

Hormon stres (kortisol) sangat rendah

Kadar prolaktin tinggi, membuat hati lebih lembut dan reflektif (Saper, 2010)

Pembuluh darah otak lebih stabil

Gangguan eksternal hampir tidak ada

Otak berada pada kondisi high-focus namun lembut

 

Inilah yang menyebabkan seseorang:

  • lebih mudah menangis dalam doa
  • lebih jernih berpikir
  • lebih cepat merenung
  • lebih mudah merasa dekat dengan Allah Swt

Jadi bukan karena gelombang teta “mengirim doa ke langit”, melainkan karena neurobiologi manusia pada akhir malam berada pada titik ketenangan paling optimal.

 

3. Harmoni Antara Syariat dan Sains

 

Ketika digabungkan, tahajud menjadi istimewa karena dua alasan besar:

 

A. Secara Syariat

  • Allah memuliakan ibadah yang dilakukan setelah tidur, sebagai bentuk kesungguhan.
  • Rasulullah SAW dan para sahabat terbiasa bangun setelah tidur untuk tahajud.
  • Waktu akhir malam adalah waktu Allah paling dekat dengan hamba-Nya.

Rasulullah bersabda:

“Tuhan kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir… lalu berkata: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan kabulkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

B. Secara Sains

Kondisi otak dan hormon setelah tidur memiliki karakter:

  • fokus tinggi
  • emosi stabil
  • pikiran jernih
  • refleksi mendalam
  • relaksasi maksimal

Semua ini membuat ibadah malam menjadi pengalaman spiritual yang sangat kuat.

 

KESIMPULAN

 

Sholat tahajud harus diawali dengan tidur karena ketentuan syariat dan definisinya memang demikian. Namun secara ilmiah, tidur sebelum tahajud menempatkan otak dan jiwa manusia pada kondisi paling tenang, jernih, dan fokus—sehingga doa terasa lebih khusyuk dan hubungan spiritual terasa lebih dalam.

Tahajud adalah ibadah yang memadukan:

  • keistimewaan spiritual (syariat)
  • ketenangan biologis alami (sains)

Bersama-sama, keduanya menjadikan tahajud sebagai salah satu ibadah paling menyentuh di dalam Islam.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Syariat

1.     Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 79.

2.     HR. Bukhari no. 1145; HR. Muslim no. 758 – Keutamaan sholat malam.

3.     HR. Abu Dawud no. 1303; Ibnu Majah no. 1340 – definisi tahajud setelah tidur.

4.     Hajar al-Asqalani. Fathul Bari.

5.     An-Nawawi. Syarah Shahih Muslim.

 

Sumber Ilmiah

1.     Stickgold, R., & Walker, M. (2006). Sleep, memory and plasticity. Annual Review of Psychology.

2.     Carskadon, M., & Dement, W. (2017). Normal Human Sleep. Principles and Practice of Sleep Medicine.

3.     Saper, C. (2010). Hypothalamic regulation of sleep and circadian rhythms. Nature.

 

#Tahajud

#SholatMalam

#KeajaibanDoa

#IslamDanSains

#Spiritualitas

Friday, 9 January 2026

Hati-Hati! Nikmat yang Kamu Nikmati Bisa Jadi Istidraj Tanpa Disadari

 


Bahaya Istidraj – Nikmat yang Menipu.

 

Pernahkah Anda melihat seseorang yang hidupnya tampak begitu mulus? Rezekinya lancar, bisnisnya sukses, semua yang diinginkannya seolah mudah ia dapatkan padahal ia jauh dari ibadah, jarang shalat, bahkan terang-terangan bermaksiat. Lalu muncul pertanyaan dalam hati, “Kenapa orang seperti itu tetap diberi kenikmatan oleh Allah?”

 

Jawabannya bisa jadi itu merupakan istidraj. Istidraj adalah bentuk ujian dari Allah SWT dalam wujud yang tampak seperti nikmat, tapi sejatinya adalah jalan menuju kehancuran perlahan-lahan. Nikmat yang diberikan terus-menerus pada orang yang durhaka bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan bentuk teguran yang tersembunyi yang bisa membuat seseorang semakin jauh dari Allah tanpa ia sadari.

Lantas, bagaimana sebenarnya apa itu istidraj dalam Islam? Apa tanda-tanda terkena istidraj? Mari, kita bahas lebih dalam berikut ini!

 

Istidraj merupakan bentuk pemberian kenikmatan dari Allah SWT kepada orang-orang yang sebenarnya sedang dimurkai-Nya. Kenikmatan tersebut bisa berupa harta melimpah, kedudukan tinggi, keberhasilan duniawi, atau kehidupan yang tampak sempurna di mata manusia. Namun, semua itu bukanlah tanda cinta atau ridha dari Allah, melainkan jebakan halus agar mereka semakin tenggelam dalam kelalaian dan maksiat.

 

Orang yang mengalami istidraj sering merasa dirinya baik-baik saja. Ia tidak merasa bersalah meskipun meninggalkan shalat, melakukan kebohongan, atau menzalimi orang lain, karena hidupnya tetap terasa enak dan nyaman. Inilah titik paling berbahaya, ketika hati tidak lagi merasa bersalah, padahal ia sedang jauh dari jalan Allah.

 

Hingga pada akhirnya, di saat mereka sedang larut dalam dunia dan tidak lagi memiliki kesadaran untuk bertobat, Allah mencabut seluruh kenikmatan tersebut secara tiba-tiba. Ketika itu terjadi, barulah mereka sadar, namun penyesalan yang datang sudah terlambat. Nikmat berubah menjadi azab dan kelalaian berubah menjadi kesengsaraan.

 

Allah SWT berfirman dalam QS. al-Qalam ayat 44 sebagai berikut:

 

Artinya: “Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,” (QS. al-Qalam: 44)

 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang berasal dari sahabat Rasulullah SAW, ‘Uqbah bin Amir, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau lihat Allah memberikan sebagian keduniaan kepada hamba-Nya, apa saja yang diingininya dengan serba-serbi kemaksiatannya maka pemberian yang demikian adalah istidraj.” (HR. Ahmad)


1. Bergelimang Nikmat Dunia, Namun Jauh dari Nilai Keimanan

Orang yang berada dalam keadaan istidraj sering kali diberikan kenikmatan dunia yang melimpah, seperti kekayaan, jabatan, atau popularitas, tetapi hidupnya jauh dari nilai-nilai keimanan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-An’am: 44 sebagai berikut :

 

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S. Al-An’am: 44).

 

2. Lalai dan Malas Beribadah

 

Salah satu ciri dari istidraj adalah hilangnya semangat untuk beribadah. Seseorang merasa nyaman dengan kehidupan dunianya dan tidak merasa butuh untuk mendekat kepada Allah. Menurut Ibnu Katsir, istidraj membuat seseorang tidak diberi taufik untuk melakukan amal baik, meskipun diberi banyak kenikmatan duniawi. Rasulullah SAW bersabda :

 

Apabila engkau melihat Allah Swt. memberikan nikmat kepada seorang hamba yang masih berbuat maksiat, ketahuilah bahwa itu adalah istidraj.” (H.R. Ahmad).

 

3. Bermaksiat Terus-Menerus Namun Terhindar dari Musibah

Seseorang yang selalu melakukan kemaksiatan, tetapi hidupnya tampak mulus tanpa gangguan, patut waspada. Itu bisa jadi tanda bahwa Allah SWT tengah menangguhkan azab-Nya. Dalam hadist riwayat Ahmad dan Ath-Thabrani disebutkan bahwa Rasulullah bersabda :

 

Jika kamu melihat bahwa Allah Swt. memberikan nikmat kepada seorang yang suka berbuat maksiat, ketahuilah bahwa itu adalah istidraj. Sebab, Allah membiarkan orang itu bergelimang dosa hingga akhirnya Dia mencabut segala kenikmatannya secara tiba-tiba.” (H.R. Ahmad dan Ath-Thabrani).

 

4. Tidak Mensyukuri Nikmat

Orang yang mengalami istidraj kerap kali tidak menyadari bahwa nikmat yang ia miliki dari Allah SWT, sehingga ia tidak bersyukur. Ia merasa bahwa semua keberhasilannya adalah hasil usahanya semata. Menurut Ibnu Qayyim, saat seseorang merasa cukup dengan dunia tanpa merasa butuh pada Allah, itu bisa menjadi sinyal bahwa nikmat tersebut justru membawa kepada kesesatan. Dalam QS. An-Nahl: 83, Allah SWT berfirman :

 

Dan mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir” (Q.S. An-Nahl: 83).

 

5. Selalu Terjerumus dalam Dosa Tanpa Penyesalan

 

Mereka yang terkena istidraj terus-menerus melakukan dosa yang sama tanpa pernah merasa bersalah atau berusaha bertobat. Imam Al-Qurtubi menafsirkan bahwa istidraj membuat orang terlena dan semakin jauh dari petunjuk, sampai akhirnya binasa tanpa sempat menyadarinya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 182 sebagai berikut :

 

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, Kami akan menarik mereka sedikit demi sedikit (ke arah kebinasaan), dari arah yang tidak mereka ketahui” (Q.S. Al-A’raf: 182).

[

6. Nikmat Tidak Membawa Kebahagiaan atau Kebaikan

 

Kenikmatan yang datang dari istidraj tidak membawa ketenangan atau keberkahan dalam hidup. Meskipun tampak sukses, namun jiwanya gelisah, hidupnya bermasalah, dan tidak ada ketenangan batin. Para ulama pun menjelaskan bahwa ketika nikmat tidak mengarah kepada kebaikan akhirat, maka itu bisa jadi adalah bentuk istidraj. Rasulullah SAW pernah bersabda :

 

“Sesungguhnya harta kekayaan yang diberikan kepada seseorang bisa menjadi fitnah (ujian) baginya, jika harta itu membuatnya lalai dari mengingat Allah Swt.” (H.R. Bukhari).

 

7. Terlalu Sibuk Mengejar Dunia

 

Ciri lain dari istidraj adalah ketika seseorang terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Fokus hidupnya hanya untuk duniawi, seperti uang, jabatan, dan kenikmatan fisik, tanpa peduli pada bekal untuk akhirat. Menurut tafsir Ibnu Jarir, nikmat dunia yang diberikan kepada orang yang lalai justru akan menjadi penyebab kehancurannya di akhirat. Dalam QS. At-Taubah: 55 diperingatkan bahwa :

 

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya Allah Swt. menghendaki untuk menyiksa mereka dengan harta benda dan anak-anak itu dalam kehidupan dunia, dan kelak akan melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (Q.S. At-Taubah: 55).

 

Nah, setelah mengetahui apa itu istidraj dan tanda-tanda seseorang terkena istidraj, kini Anda harus berhati-hati dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.


#Istidraj 

#RenunganIslam 

#NikmatAllah 

#BahayaMaksiat 

#JagaHati