8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal
Keikhlasan adalah salah satu syarat utama diterimanya
amal seorang hamba. Tanpa keikhlasan, ibadah yang dilakukan dengan susah payah
dapat hilang nilainya di sisi Allah. Karena itu, menjaga hati agar tetap ikhlas
merupakan perjuangan sepanjang hidup seorang mukmin.
Allah mencontohkan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam
bagaimana orang yang ikhlas akan dijaga dari keburukan. Dalam QS. Yusuf ayat 24
Allah menjelaskan bahwa Yusuf termasuk hamba yang ikhlas sehingga Allah
melindunginya dari perbuatan buruk. Dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan
bahwa siapa pun yang memanjangkan umur dalam ketaatan sambil terus mengharap
keridaan Allah, maka derajat dan kemuliaannya akan terus ditingkatkan.
Keikhlasan juga membuat jiwa tenang. Fudhail bin ‘Iyadh
mengatakan bahwa siapa yang memahami hakikat manusia–bahwa mereka tidak dapat
memberi manfaat atau mudarat tanpa izin Allah–maka ia tidak akan sibuk mencari
perhatian dan pujian manusia.
Namun, mengikhlaskan amal bukan perkara mudah. Sejak
dahulu, hingga kiamat nanti, manusia selalu digoda oleh Iblis untuk merusak
niat. Karena itu, seorang mukmin perlu usaha sungguh-sungguh untuk menjaga
hatinya. Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim memberikan delapan cara untuk menjaga
keikhlasan.
1.
Memperbanyak doa
Keikhlasan
adalah hidayah, dan hidayah berada sepenuhnya di tangan Allah. Hati manusia berada di antara dua jari Allah, sehingga
Allah bisa membolak-balikkan hati dalam sekejap. Karena itu, mintalah pada
Allah agar setiap amal kita bernilai ikhlas. Umar bin Khattab sering berdoa
agar amalnya menjadi baik, bersih, dan tidak tercampur oleh kepentingan siapa
pun selain Allah.
2.
Menyembunyikan amal
Semakin
tersembunyi sebuah amalan, semakin besar kemungkinan ia diterima Allah. Nabi
menyebutkan salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah adalah
orang yang bersedekah secara diam-diam hingga tangan kirinya tidak mengetahui
apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Para ulama juga menasihati agar amal baik disembunyikan sebagaimana kita
menyembunyikan kesalahan.
Karena itu, banyak ibadah sunah dianjurkan dilakukan
secara sembunyi, seperti salat malam atau istigfar di waktu sahur.
Ibadah-ibadah ini lebih mudah dilakukan jauh dari pandangan manusia, sehingga
lebih dekat kepada keikhlasan.
3.
Mencontoh orang yang lebih mulia
Saat
beramal, jangan menggunakan manusia di sekitar kita sebagai ukuran, apalagi
jika kualitas ibadah mereka lebih rendah. Allah memerintahkan agar kita
menjadikan para nabi sebagai teladan. Membaca sirah dan kisah para salihin
dapat menguatkan iman dan memperbaiki niat, karena kita terdorong mengikuti
keteladanan mereka.
4.
Merasa kecil atas amal yang dilakukan
Perasaan
bangga dan kagum pada diri sendiri dapat menghapus keikhlasan dan bahkan
menggugurkan pahala. Said bin Jubair menjelaskan bahwa seseorang bisa masuk
surga karena kemaksiatan yang membuat ia takut kepada Allah, sementara ada pula
yang masuk neraka karena amal baik yang ia banggakan. Artinya, yang terpenting
bukan besar atau kecilnya amal, melainkan hati yang rendah dan takut tidak
diterima oleh Allah.
5.
Takut amal tidak diterima
Aisyah
pernah bertanya tentang orang-orang yang disebut dalam QS. Al-Mukminun ayat 60,
yaitu mereka yang beramal namun hatinya penuh rasa takut. Nabi menjelaskan
bahwa mereka bukan para pelaku maksiat, tetapi orang yang shalat, berpuasa, dan
bersedekah namun takut amalnya tidak diterima. Inilah sifat seorang hamba yang
ikhlas: ia tidak pernah merasa puas, dan selalu khawatir amalnya tidak cukup
untuk kembali menghadap Allah Swt.
6.
Tidak terpengaruh ucapan manusia
Ibnu
Al-Jauzi menekankan bahwa sangat sedikit orang yang benar-benar beramal ikhlas
karena banyak yang senang menampilkan ibadah mereka. Ia mengingatkan bahwa
meninggalkan penilaian manusia, tidak mencari gengsi, dan tidak peduli pada
pujian atau komentar orang lain adalah ciri orang yang memiliki derajat tinggi.
Ucapan manusia tidak akan menambah atau mengurangi nilai
amal di sisi Allah.
7. Yakin bahwa manusia tidak menentukan surga dan neraka
Tidak seorang pun manusia yang mampu menjamin dirinya
masuk surga, apalagi menjamin orang lain. Tidak ada manusia yang mampu
mengeluarkan seseorang dari neraka. Karena itu, mengapa harus mengejar
penilaian manusia dalam beramal? Ibnu Rajab berkata bahwa apabila seseorang
beribadah untuk keuntungan dunia, maka amalnya tidak membawa manfaat bahkan
menjadi dosa.
8. Mengingat bahwa kita akan sendirian di kubur
Saat berada di alam kubur, kita sendirian tanpa teman,
keluarga, atau sanjungan manusia. Yang menemani hanyalah amal baik yang ikhlas.
Ibnu Al-Qayyim menyatakan bahwa orang yang siap bertemu Allah akan melepaskan
diri dari hiruk pikuk dunia dan fokus pada apa yang benar-benar
menyelamatkannya.
Keikhlasan
adalah perjuangan mulai dari sebelum beramal, saat beramal, hingga setelahnya.
Namun siapa yang bersungguh-sungguh, Allah akan memudahkan jalannya. Semoga
Allah menjaga hati kita agar selalu ikhlas.
Wallahu
a’lam.





