Perlunya Da’i Abad ke-21 yang Kompatibel untuk Gen Z dan Alpha
Dakwah Islam sejatinya adalah
proses menyampaikan risalah Allah agar manusia semakin mengenal Tuhannya dan
mampu hidup sesuai tuntunan-Nya. Namun, di tengah perubahan zaman yang begitu
cepat, dakwah menghadapi tantangan serius. Banyak pendakwah seolah terhalang
oleh sebuah “tembok kaca”: merasa telah cukup dengan literasi teks
keagamaan (ayat qauliyah), tetapi kurang memberi perhatian pada literasi
alam dan realitas sosial (ayat kauniyah). Akibatnya, dakwah yang
seharusnya menjadi cahaya justru kehilangan daya relevansinya dalam kehidupan
umat, khususnya bagi generasi muda.
Padahal Allah Swt. berulang kali
mengajak manusia untuk membaca dua kitab sekaligus: wahyu dan semesta. “Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap
penjuru alam dan pada diri mereka sendiri…” (QS. Fushshilat: 53). Ayat ini menegaskan
bahwa memahami Islam tidak cukup hanya dengan teks, tetapi juga dengan membaca
realitas kehidupan.
Jebakan
“Merasa Cukup”: Intelektualisme yang Tertutup
Salah satu
titik lemah dakwah hari ini adalah munculnya jebakan merasa cukup. Ada
sebagian dai yang beranggapan bahwa penguasaan bahasa Arab dan kitab-kitab
klasik otomatis menjadikannya otoritatif dalam semua persoalan. Padahal
Al-Qur’an dan Hadits hadir sebagai sumber hikmah dan prinsip kehidupan, yang
memerlukan pemahaman, ijtihad, dan konteks dalam penerapannya.
Kesalahan ini
berdampak serius. Ketika umat menghadapi persoalan kesehatan mental, krisis
ekonomi, atau penyakit kompleks, jawaban dakwah sering kali menjadi terlalu
simplistik: “kurang dzikir”, “kurang ikhlas”, atau “kurang iman”. Padahal Islam
tidak pernah mengajarkan sikap menyederhanakan masalah secara tidak
proporsional. Rasulullah ﷺ
sendiri bersabda, “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak
menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. Abu
Dawud). Hadits ini menunjukkan bahwa ikhtiar ilmiah dan pendekatan profesional
adalah bagian dari ajaran Islam.
Gagap Ayat Kauniyah dan Sains
Modern
Alam semesta dan masyarakat
berjalan dengan hukum-hukum Allah (Sunnatullah) yang dapat dipelajari
melalui ilmu pengetahuan. Ketika dunia membicarakan Artificial Intelligence,
perubahan iklim, dan revolusi bioteknologi, sebagian mimbar dakwah masih
berkutat pada tema-tema lama tanpa kontekstualisasi.
Padahal Al-Qur’an justru mendorong
umatnya untuk berpikir dan meneliti. “Sesungguhnya pada penciptaan langit
dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190). Ayat ini menegaskan bahwa sains dan
iman bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua jalan untuk mengenal
kebesaran Allah.
Karena itu, dakwah abad ke-21 perlu
bersifat kolaboratif. Dai berperan memberikan kerangka nilai dan etika Islam,
sementara para pakar menjelaskan mekanisme teknisnya. Dengan demikian, dakwah
menjadi relevan tanpa kehilangan ruh spiritualnya.
Kerentanan Dakwah di Era Post-Truth
Di era post-truth, ketika
emosi sering mengalahkan fakta, dakwah menghadapi ujian berat. Ironisnya, ada
pendakwah yang tanpa sadar justru menjadi saluran hoaks karena lemahnya
literasi media dan tabayyun digital. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan, “Wahai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat:
6).
Otoritas
seorang dai di mata umat sangat besar. Apa yang diucapkan sering diterima tanpa
kritik. Karena itu, kesalahan kecil yang disampaikan dari mimbar bisa berdampak
sistemik terhadap citra Islam. Rasulullah ﷺ
bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan semua
yang ia dengar.” (HR. Muslim). Hadits ini adalah peringatan keras agar
dakwah dibangun di atas validitas, bukan sekadar viralitas.
Segmentasi
dan Pendekatan Akar Rumput
Tantangan lain
dakwah adalah persoalan segmentasi. Dakwah sering kali “salah alamat”: bahasa
akademik disampaikan kepada masyarakat awam, atau sebaliknya. Padahal
Rasulullah ﷺ
selalu berdakwah sesuai konteks audiensnya. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Berbicaralah
kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.” (HR. Bukhari,
secara makna).
Dakwah masa
kini harus hadir di tengah komunitas: komunitas hobi, profesi, dunia digital,
hingga kelompok marginal. Pendekatannya bukan menghakimi, melainkan
memanusiakan. Selain itu, kaderisasi dakwah perlu diarahkan secara berjenjang
dan spesifik: dai yang memahami pertanian untuk desa, dai yang melek teknologi
untuk generasi digital, dan dai yang paham psikologi untuk persoalan kesehatan
mental.
Catatan
Penting
Dai abad ke-21
bukanlah mereka yang paling keras suaranya, tetapi yang paling relevan pesan
dan paling jujur ilmunya. Dai yang mampu membaca teks wahyu sekaligus membaca
zaman, menggabungkan iman dengan akal, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat
bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah Swt., “Dan tidaklah Kami
mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS.
Al-Anbiya: 107).
Semoga dakwah
kita tidak terhenti pada kata-kata, tetapi menjelma menjadi solusi yang
membumi, mencerahkan, dan menenangkan umat—khususnya bagi Gen Z dan Alpha yang
sedang mencari makna hidup di tengah hiruk-pikuk dunia modern.








