POLICY
BRIEF
Paradox
Pertumbuhan: Mengapa Angka Ekonomi Naik, tapi Kemiskinan Bergeming?
Menuju
Pertumbuhan Inklusif dan Berkeadilan di Indonesia
1. Ringkasan Eksekutif
Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia mencatat
pertumbuhan ekonomi relatif stabil di kisaran 5% per tahun. Pada 2023, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,05%, dan
pada 2024 tetap berada di kisaran 5% (Badan Pusat Statistik).
Namun, penurunan angka
kemiskinan berlangsung sangat lambat. Per September 2024, tingkat kemiskinan
berada di sekitar 9%, dengan jumlah penduduk miskin lebih dari 25 juta jiwa.
Sementara itu, rasio gini masih bertahan di kisaran 0,38, menunjukkan
ketimpangan distribusi pendapatan yang relatif tinggi (BPS, 2024).
Fenomena ini menunjukkan
bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif. Pertumbuhan terkonsentrasi
pada sektor padat modal seperti keuangan, pertambangan, dan perkebunan skala
besar, yang menyerap tenaga kerja terbatas dan cenderung menguntungkan pemilik
kapital besar.
2. Masalah Kebijakan
2.1 Pertumbuhan Tidak
Otomatis Mengurangi Kemiskinan
Secara teori,
pertumbuhan ekonomi meningkatkan pendapatan nasional dan memperluas kesempatan
kerja. Namun dalam praktik, efek “trickle-down” tidak berjalan
optimal.
Menurut World Bank (Indonesia Economic Prospects, 2024),
pertumbuhan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir lebih didorong oleh:
- Konsumsi
rumah tangga kelas menengah
- Ekspor
komoditas (batu bara, sawit, nikel)
- Sektor
keuangan dan jasa modern
Sektor-sektor tersebut memiliki nilai tambah tinggi,
tetapi elastisitas tenaga kerja rendah.
2.2 Konsentrasi
Pertumbuhan pada Sektor Padat Modal
(a) Sektor Keuangan dan
Perbankan
Industri perbankan
mencatat pertumbuhan laba dua digit pada 2023–2024. Namun kontribusi sektor
keuangan terhadap penyerapan tenaga kerja nasional relatif kecil (kurang dari
5% total angkatan kerja menurut BPS).
Artinya, keuntungan
besar tidak sebanding dengan penciptaan lapangan kerja luas.
(b) Komoditas: Batu Bara
dan Sawit
Lonjakan harga komoditas
global pada 2022–2023 meningkatkan surplus perdagangan Indonesia hingga rekor
lebih dari USD 50 miliar (BPS).
Namun manfaatnya terkonsentrasi pada:
- Korporasi
besar pemegang konsesi
- Pemilik
modal dan investor
Buruh tambang dan pekerja perkebunan tetap berada pada
tingkat upah minimum regional.
3. Ironi Sektor
Pertanian: “Tinggi di Atas, Keropos di Bawah”
Sektor pertanian
menyerap sekitar 29% tenaga kerja nasional, tetapi kontribusinya terhadap PDB
hanya sekitar 12–13% (BPS, 2024).
Ketimpangan Sub-Sektor
|
Sub-Sektor |
Karakteristik |
Dampak Kesejahteraan |
|
Perkebunan (sawit, karet) |
Skala besar, ekspor, padat modal |
Dinikmati korporasi |
|
Tanaman pangan (padi, jagung) |
Skala kecil, padat karya |
Pendapatan petani stagnan |
Mayoritas petani
Indonesia adalah petani gurem dengan kepemilikan lahan <0,5 hektare.
Menurut data Kementerian
Pertanian Republik Indonesia, produktivitas tanaman pangan meningkat lambat,
sementara biaya pupuk, benih, dan tenaga kerja naik signifikan dalam lima tahun
terakhir.
Akibatnya:
- Nilai
Tukar Petani (NTP) sering fluktuatif.
- Petani tetap menjadi kelompok rentan miskin.
- Urbanisasi tenaga kerja pertanian meningkat.
4. Struktur Ekonomi dan Ketimpangan
Menurut Organisation for Economic Co-operation and
Development (OECD Economic Survey Indonesia, 2023):
Ketimpangan struktural di Indonesia berkaitan dengan
dualisme ekonomi—antara sektor modern padat modal dan sektor informal padat
karya berproduktivitas rendah.
Sebanyak sekitar 59–60% tenaga kerja Indonesia berada di
sektor informal (BPS, 2024).
Ini berarti mayoritas pekerja:
- Tidak
memiliki perlindungan sosial memadai
- Upah
rendah
- Rentan
terhadap guncangan ekonomi
Pertumbuhan PDB tidak
otomatis menaikkan produktivitas mereka.
5. Implikasi Kebijakan
Jika pola ini berlanjut:
- Pertumbuhan
akan tetap stabil secara makro
- Ketimpangan
tetap tinggi
- Kemiskinan
turun sangat lambat
- Potensi
instabilitas sosial meningkat
Pertumbuhan yang tidak inklusif berisiko menciptakan “middle-income
trap sosial”: negara tumbuh, tetapi mobilitas sosial stagnan.
6. Rekomendasi Kebijakan
1. Revitalisasi
Sub-Sektor Tanaman Pangan
- Reformasi
distribusi pupuk subsidi berbasis data digital.
- Investasi irigasi dan mekanisasi skala kecil.
- Penguatan koperasi petani dan akses pasar langsung.
- Insentif
harga minimum yang stabil.
Fokus pada petani kecil
sebagai target utama pengentasan kemiskinan pedesaan.
2. Pemerataan Akses Modal bagi UMKM
- Reformulasi
kredit usaha rakyat (KUR) agar benar-benar menjangkau usaha mikro.
- Integrasi
pembiayaan dengan pendampingan manajemen.
- Insentif
pajak untuk UMKM produktif padat karya.
UMKM menyerap lebih dari 97% tenaga kerja nasional,
tetapi kontribusi terhadap nilai tambah masih rendah.
3. Industrialisasi Padat Karya Berbasis
Daerah
- Penguatan
sektor manufaktur tekstil, alas kaki, dan agroindustri.
- Insentif investasi untuk industri yang memiliki
rasio tenaga kerja tinggi.
- Integrasi hilirisasi dengan kewajiban penciptaan
lapangan kerja lokal.
Manufaktur padat karya
terbukti menjadi mesin pengentasan kemiskinan di negara Asia Timur.
4. Reformasi Distribusi dan Perlindungan
Sosial
- Integrasi
data kemiskinan nasional berbasis single registry.
- Skema
perlindungan sosial adaptif terhadap inflasi pangan.
- Peningkatan kualitas pendidikan vokasi untuk
mobilitas tenaga kerja.
7. Kesimpulan
Pertumbuhan ekonomi
Indonesia bukanlah ilusi—angka 5% itu nyata. Namun pertumbuhan tersebut belum
cukup inklusif untuk menurunkan kemiskinan secara signifikan.
Masalahnya bukan pada
kecepatan pertumbuhan, tetapi pada struktur dan distribusinya.
Jika pertumbuhan terus
didominasi sektor finansial dan ekstraktif, maka ekonomi akan melaju tanpa
membawa serta rakyat miskin di dalamnya.
Transformasi menuju pertumbuhan
inklusif berbasis produktivitas rakyat kecil bukan sekadar pilihan
kebijakan—melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas sosial dan
keberlanjutan pembangunan jangka panjang.
Referensi
- Badan
Pusat Statistik. 2024. Statistik Kemiskinan dan Ketimpangan Indonesia.
- World
Bank. 2024. Indonesia Economic Prospects.
- Organisation
for Economic Co-operation and Development. 2023. OECD Economic Survey:
Indonesia.
- Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2024. Data Sektor Pertanian dan Tanaman Pangan.
#KemiskinanIndonesia
#KetimpanganSosial
#KebijakanPublik
#EkonomiInklusif
