Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Keamanan Pangan. Show all posts
Showing posts with label Keamanan Pangan. Show all posts

Thursday, 27 February 2025

Pangan Produk Rekayasa Genetik (PRG)

 

Apa Saja Kelebihan dan Kekurangan Pangan Produk Rekayasa Genetik?

 

Para insinyur merancang tanaman menggunakan organisme produk rekayasa genetika (PRG) atau GMO untuk meningkatkan rasa, kandungan gizi, dan ketahanannya. Namun, masyarakat memiliki kekhawatiran mengenai keamanannya, dan terdapat banyak perdebatan tentang kelebihan dan kekurangan penggunaan GMO.

 

Para ilmuwan menciptakan pangan GMO dengan memperkenalkan materi genetik, atau DNA, dari organisme lain melalui rekayasa genetika. Sebagian besar pangan GMO yang tersedia saat ini berupa tanaman, seperti buah-buahan dan sayuran.

 

Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Pangan (FDA) mengatur semua pangan yang berasal dari tanaman yang direkayasa secara genetik. Pangan tersebut harus memenuhi persyaratan keamanan yang sama dengan pangan non-GMO.

 

Pangan GMO kemungkinan akan menjadi alat yang penting dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi populasi dunia yang terus berkembang, terutama di daerah dengan iklim yang keras. Namun, ada kekhawatiran tentang kemungkinan risiko yang ditimbulkan.

 

Artikel ini membahas kelebihan dan kekurangan tanaman GMO, termasuk potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

 

Kelebihan GMO

 

Para produsen menggunakan rekayasa genetika untuk memberikan sifat-sifat yang diinginkan pada pangan. Potensi kelebihan dari tanaman GMO antara lain daya tarik bagi konsumen, ketahanan, nilai gizi, dan pengurangan pemborosan.

 

Daya Tarik

 

Tanaman GMO mungkin semakin menarik bagi konsumen. Contohnya adalah apel dan kentang yang lebih kecil kemungkinannya untuk memar atau berubah warna menjadi cokelat. Beberapa orang percaya bahwa pangan GMO memiliki rasa yang lebih baik dibandingkan dengan pangan non-GMO. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa rekayasa genetika mempengaruhi rasa, bau, atau penampilan pangan di AS. Bahkan, kebanyakan orang tidak dapat membedakan antara pangan GMO dan non-GMO.

 

Ketahanan dan Pengurangan Pemborosan

 

Sebagian besar tanaman GMO di AS dikembangkan untuk membantu para petani. Tanaman ini lebih tahan terhadap gangguan dan membantu mencegah kerugian hasil panen dan pangan. Beberapa alasan mengapa petani memilih menanam tanaman GMO antara lain:

  • Toleransi yang lebih tinggi terhadap herbisida, sehingga lebih mudah untuk mengendalikan gulma.
  • Ketahanan yang lebih besar terhadap beberapa virus tanaman, yang dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan dengan mengurangi pemborosan pangan.
  • Ketahanan yang lebih besar terhadap serangga merusak, yang dapat membantu mengurangi penggunaan pestisida.

Tanaman GMO juga mungkin lebih tahan terhadap iklim yang keras, seperti kekeringan, panas, dan tanah yang asin. Ini dapat membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman di daerah yang menghadapi masalah ketahanan pangan. Beberapa gen dalam pangan GMO juga dapat membantu memperpanjang umur simpan pangan, yang sekali lagi mengurangi pemborosan pangan.

 

Nilai Gizi

 

Jenis-jenis GMO tertentu dapat menambah nilai gizi pada pangan. Salah satunya adalah nasi emas, sebuah produk yang direkayasa untuk memberikan tingkat vitamin A yang lebih tinggi bagi konsumen. Meskipun ini dapat memberikan nilai gizi bagi mereka yang mengonsumsinya, terutama di daerah yang menghadapi kekurangan vitamin A, pertumbuhannya belum meluas. Produk ini saat ini tidak menjadi bagian dari sistem pangan di AS.

 

Menanam tanaman yang lebih tahan terhadap penyakit yang ditularkan oleh serangga atau virus kemungkinan akan menghasilkan hasil panen yang lebih tinggi bagi petani dan produk yang lebih menarik. Semua faktor ini dapat berkontribusi pada penurunan biaya bagi konsumen dan memastikan lebih banyak orang dapat mengakses pangan berkualitas.

 

Kekurangan GMO

 

Rekayasa genetika pada pangan adalah praktik yang relatif baru, yang berarti dampak jangka panjang terhadap keselamatan belum dapat dipastikan. Banyak kekhawatiran terkait kekurangan GMO berkaitan dengan kesehatan manusia. Para ilmuwan belum menunjukkan bahwa pangan GMO berbahaya bagi kesehatan, tetapi penelitian masih terus berlangsung.

 

Reaksi Alergi

 

Ada sedikit risiko bahwa pangan GMO dapat memicu reaksi alergi, tetapi ini hanya akan terjadi jika perubahan genetik memicu produksi alergen. Misalnya, jika ilmuwan menggabungkan gen dari kacang Brazil dengan kedelai, ada sedikit kemungkinan bahwa seseorang yang memiliki alergi terhadap kacang dapat mengalami reaksi alergi terhadap produk yang dibuat dari kedelai tersebut.

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar para insinyur genetik tidak menggunakan DNA dari alergen kecuali mereka dapat membuktikan bahwa protein yang dihasilkan oleh gen tersebut tidak menyebabkan alergi.

 

Para ilmuwan menilai kemungkinan pangan GMO menyebabkan reaksi alergi pada manusia sebelum produk tersebut diluncurkan ke pasar dan dapat mencegah peluncurannya jika diperlukan.

 

Kanker

 

Ada kekhawatiran bahwa mengonsumsi pangan GMO dapat berkontribusi pada perkembangan kanker dengan meningkatkan kadar zat yang berpotensi karsinogenik dalam tubuh. American Cancer Society menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa pangan GMO yang tersedia saat ini dapat meningkatkan atau mengurangi risiko kanker.

 

Meskipun angka kanker telah berubah seiring waktu di AS, tidak ada bukti bahwa perubahan ini berkaitan dengan pengenalan pangan GMO. Jika ada hubungan, mungkin perlu beberapa tahun lagi sebelum tren ini terlihat.

 

Resistensi Terhadap Antibakteri

 

Beberapa GMO mengandung perubahan yang membuatnya tahan terhadap antibiotik tertentu. Secara teori, gen dari tanaman ini bisa masuk ke tubuh manusia atau hewan saat mereka mengonsumsinya. Akibatnya, orang atau hewan tersebut bisa mengembangkan resistensi terhadap antibiotik.

 

Kemungkinan hal ini terjadi sangat kecil, tetapi WHO dan otoritas kesehatan lainnya memiliki pedoman untuk mencegahnya.

 

Perubahan DNA Manusia

 

Dalam penelitian lama dari tahun 2009, beberapa ilmuwan pangan mencatat bahwa DNA pangan dapat bertahan hingga mencapai usus, dan ada kekhawatiran bahwa hal ini dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Beberapa orang juga mengkhawatirkan bahwa mengonsumsi pangan GMO dapat menyebabkan perubahan genetik pada manusia. Namun, sebagian besar DNA dalam pangan—baik GMO maupun bukan—akan dihancurkan oleh proses memasak atau akan terurai sebelum mencapai usus besar.

 

Potongan kecil DNA dari pangan memang bisa masuk ke dalam aliran darah dan organ tubuh, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hal ini memiliki dampak pada susunan genetik atau kesehatan manusia.

 

Toksisitas untuk Organ Tubuh

 

Dalam penelitian lama dari tahun 2009, beberapa peneliti mengemukakan bahwa pangan GMO mungkin dapat memengaruhi hati, ginjal, pankreas, dan sistem reproduksi. Namun, mereka tidak memiliki bukti untuk mengonfirmasi hal ini dan meminta agar dilakukan penelitian lebih lanjut.

Penggunaan tanaman GMO bahkan dapat mengurangi risiko toksisitas dari beberapa zat, karena para petani mungkin dapat mengurangi penggunaan pestisida.

 

Apakah Pangan GMO Baik atau Buruk untuk Lingkungan?

 

Perubahan iklim dan kejadian cuaca ekstrim sedang mengganggu produksi dan pasokan pangan. Pangan GMO dapat membantu menjaga pasokan pangan di tengah kondisi lingkungan yang berubah dan populasi yang terus berkembang.

 

Kelebihan

 

Rekayasa genetika pada beberapa pangan dapat membuatnya:

  • Lebih mudah disimpan dan diangkut.
  • Lebih sedikit terbuang karena penyakit dan penuaan.
  • Lebih mungkin tumbuh di daerah dengan tanah berkualitas rendah.
  • Lebih tinggi kandungan nutrisinya.

Selain itu, sebuah penelitian pada tahun 2022 menyarankan bahwa pangan GMO dapat membantu memperlambat perubahan iklim dengan mengurangi gas rumah kaca.

 

Kekurangan

 

Kekhawatiran lingkungan termasuk:

  • Risiko terjadinya outcrossing, yaitu gen dari pangan GMO yang berpindah ke tanaman liar dan tanaman lain.
  • Dampak negatif pada serangga dan spesies lainnya.
  • Pengurangan jenis tanaman lainnya, yang mengarah pada hilangnya keanekaragaman hayati.

Risiko-risiko ini akan bervariasi tergantung pada kondisi lokal.

 

Cara Mengidentifikasi Pangan GMO

 

Di AS, FDA tidak mengharuskan pelabelan khusus untuk pangan GMO. Hal ini karena pangan tersebut harus memenuhi standar keselamatan yang sama dengan pangan lainnya, dan tidak diperlukan peraturan tambahan.

 

Namun, sebuah pangan GMO memerlukan label khusus jika pangan tersebut "berbeda secara substansial" dari produk konvensionalnya. Misalnya:

  • Minyak kanola GMO yang mengandung lebih banyak asam laurat daripada minyak kanola tradisional akan diberi label "minyak kanola laurat."
  • Minyak kedelai GMO yang mengandung lebih banyak asam oleat daripada minyak kedelai non-GMO harus diberi label "minyak kedelai tinggi oleat."

 

Namun, dalam Standar Pengungkapan Pangan Bioengineered Nasional 2018, semua pangan yang mengandung bahan rekayasa genetik kini harus mencantumkan label "diperoleh dari rekayasa bioteknologi" atau "bioengineered." Simbol tertentu menunjukkan apakah pangan tersebut telah direkayasa secara bioteknologi.

 

Jenis-Jenis Pangan GMO

 

Berikut adalah tanaman GMO yang paling umum diproduksi dan dijual di AS:

  • Bit gula
  • Canola
  • Jagung
  • Kentang
  • Labu musim panas
  • Kedelai
  • Pepaya
  • Apel
  • Alfalfa

 

Turunan dari pangan ini, seperti pati jagung dan gula, juga digunakan dalam pangan olahan lainnya. Perlu dicatat bahwa 99,9% dari bit gula yang dipanen di AS adalah GMO, serta lebih dari 90% dari semua canola, jagung, kedelai, dan kapas.

 

Cara Menemukan Pangan Non-GMO

 

Pangan yang direkayasa secara bioteknologi dan produk yang mengandung pangan bioengineered harus mencantumkan label tertentu. Jika suatu produk tidak memiliki label ini, maka produk tersebut tidak mengandung bahan rekayasa bioteknologi.

 

Pangan yang kemungkinan besar adalah GMO meliputi:

  • Bit gula, karena 99,9% bit gula di AS adalah GMO.
  • Produk canola, karena 95% di antaranya adalah GMO di AS.
  • Produk kedelai, karena 94% kedelai di AS adalah GMO.
  • Jagung, karena 92% jagung yang ditanam di AS adalah GMO.
  • Minyak biji kapas, karena 96% kapas adalah GMO.

 

Banyak tanaman GMO juga menjadi bahan dalam pangan lain, misalnya:

  • Pati jagung dalam sup dan saus.
  • Sirup jagung, digunakan sebagai pemanis.
  • Minyak jagung, canola, dan kedelai dalam mayones, saus salad, dan roti.
  • Gula yang diperoleh dari bit gula.

 

Bagaimana Ilmuwan Membuat Pangan GMO?

 

Rekayasa genetika adalah ketika ilmuwan memasukkan DNA baru ke dalam kolam gen tanaman yang ada.

 

Untuk proses ini, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:

1.     Ilmuwan mentransfer DNA baru ke dalam sel tanaman.

2.     Mereka menumbuhkan sel-sel tersebut dalam kultur jaringan, dan tanaman berkembang.

3.     Tanaman baru menghasilkan biji.

4.     Seseorang menanam tanaman dari biji-biji baru tersebut.

5.     Tanaman baru akan memiliki ciri genetik yang membuatnya, misalnya, lebih bergizi atau lebih tahan terhadap hama, penyakit, atau faktor iklim.

 

Selama ribuan tahun, manusia telah menggunakan proses seperti pemuliaan selektif atau perkawinan silang untuk menghasilkan tanaman yang lebih viabel. Namun, perubahan tersebut memakan waktu yang lama untuk dicapai, dan sulit untuk membuat perubahan yang spesifik.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan dalam rekayasa genetika telah memungkinkan ilmuwan untuk membuat perubahan spesifik dengan lebih cepat. Tanaman yang dihasilkan dengan cara ini disebut tanaman GMO. Pangan GMO pertama yang muncul di pasaran adalah tomat pada tahun 1994.

 

Di bawah ini, kami menjawab beberapa pertanyaan yang sering diajukan orang tentang pangan GMO.

 

Pangan apa saja yang umum merupakan GMO?

 

Kemungkinan bahwa pangan yang berasal dari jagung, biji kapas, kedelai, canola, atau bit gula akan menjadi pangan GMO di AS adalah 90% atau lebih.

 

Pangan GMO mana yang harus dihindari?

 

Tidak ada pangan GMO tertentu yang perlu dihindari. Pangan GMO menjalani pengujian yang ketat sebelum dapat dipasarkan. Selain itu, ini justru bisa membuatnya lebih aman daripada pangan lain yang tidak melalui pengujian.

 

Apakah pangan GMO aman?

 

Saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pangan GMO menyebabkan kanker, alergi, atau kondisi kesehatan lainnya. Namun, penelitian masih terus berlangsung.

 

Apa saja risiko pangan GMO?

 

Otoritas kesehatan memeriksa semua GMO dan pangan lainnya untuk keselamatan sebelum produsen dapat menjualnya, dan penelitian masih terus berlangsung.

 

Hingga saat ini, ilmuwan belum menemukan bukti bahwa pangan GMO yang tersedia di pasaran berbahaya bagi kesehatan. Kekhawatiran lingkungan termasuk risiko gen yang berubah dapat memasuki spesies liar.

 

RINGKASAN

 

Rekayasa genetika dapat membuat tanaman lebih tahan terhadap penyakit dan toleran terhadap herbisida, sehingga proses ini dapat meningkatkan jumlah pangan yang dapat ditanam oleh petani. Hal ini pada gilirannya dapat mengurangi harga pangan dan berkontribusi pada ketahanan pangan.

 

Tanaman GMO relatif baru, dan para peneliti masih menyelidiki keselamatan dan dampak kesehatan jangka panjangnya, namun belum ada bukti yang menunjukkan bahwa pangan GMO yang tersedia saat ini berbahaya bagi kesehatan manusia.

 

SUMBER:

Genetically modified food: What are the pros and cons? Direview oleh Amy Ritcher, RD Nutrition, ditulis oleh Ammanda Barrel dan Mandy French diupdate 5 Januari 2024. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324576#faq