Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Brain Rot. Show all posts
Showing posts with label Brain Rot. Show all posts

Saturday, 15 March 2025

Brain Rot Penyebab Motivasi Belajar Menurun

 



Motivasi Belajar Siswa Menurun Akibat Brain Rot, Psikolog IPB University Beberkan Solusinya

 

Fenomena brain rot akibat paparan konten digital berlebihan semakin menjadi perhatian serius, terutama di kalangan siswa. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini berkorelasi signifikan dengan penurunan motivasi belajar. Paparan informasi digital yang terus-menerus, terutama yang bersifat instan, telah mengubah cara siswa berinteraksi dengan materi pembelajaran. Fenomena ini semakin diperparah dengan kecenderungan siswa untuk memilih hiburan instan daripada menjalani proses belajar yang memerlukan usaha dan ketekunan.

 

Psikolog dari IPB University, Nur Islamiah M. Psi., PhD, menjelaskan bahwa penurunan motivasi belajar pada siswa tidak terlepas dari perubahan pola belajar yang disebabkan oleh konsumsi konten digital secara berlebihan. "Siswa yang terbiasa dengan informasi yang cepat dan instan cenderung kehilangan minat dalam tugas akademik yang memerlukan usaha lebih, seperti membaca materi panjang atau memecahkan soal yang kompleks," ucap Mia, yang biasa dipanggil dengan sebutan 'Ibu Mia'. Menurutnya, kecenderungan ini membuat siswa lebih memilih aktivitas yang memberikan kepuasan seketika, seperti berselancar di media sosial, daripada menjalani proses pembelajaran yang memerlukan ketekunan dan fokus dalam jangka waktu yang lebih lama.

 

Lebih jauh lagi, Mia menambahkan bahwa overstimulasi digital dapat menyebabkan kelelahan mental yang membuat siswa enggan untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. "Ketika otak terus-menerus menerima rangsangan dari media sosial atau konten hiburan, aktivitas belajar yang lebih statis terasa membosankan dan kurang menarik," paparnya. Dampak lainnya adalah berkurangnya kemampuan reflektif siswa, yang semakin sulit untuk melihat tujuan jangka panjang dari belajar. Akibatnya, mereka lebih fokus pada kepuasan jangka pendek daripada pemahaman yang mendalam terhadap materi pelajaran.

 

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berlanjut pada rendahnya keterlibatan dalam proses belajar, kesulitan memahami materi, serta penurunan prestasi akademik yang signifikan. Selain itu, stres dan kecemasan yang berkaitan dengan tugas akademik juga cenderung meningkat. Oleh karena itu, Mia menekankan pentingnya metode pembelajaran yang menarik dan mampu melibatkan siswa secara aktif untuk mengatasi dampak negatif brain rot terhadap fokus dan daya tahan berpikir mereka.

 

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Mia adalah penerapan metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Metode ini mengajak siswa untuk menyelesaikan masalah nyata dan mencari solusi secara mandiri, yang tidak hanya membantu mereka memahami materi lebih dalam, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis dan kemampuan untuk menghubungkan ide-ide. "Dengan metode ini, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses pembelajaran yang memicu rasa ingin tahu dan kreativitas," tuturnya.

 

Selain itu, Mia juga menyarankan penggunaan diskusi terbuka dan refleksi untuk membantu siswa memilah dan menganalisis informasi dengan lebih cermat. Hal ini penting agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh segala informasi yang beredar di internet. Untuk menambah daya tarik dalam proses belajar, Mia merekomendasikan penerapan gamifikasi, yang mengintegrasikan elemen permainan seperti tantangan, sistem poin, atau penghargaan. Dengan cara ini, motivasi siswa bisa ditingkatkan tanpa bergantung pada kepuasan instan dari media sosial.

 

Metode lain yang juga sangat berguna adalah latihan fokus, seperti teknik mindfulness dan manajemen waktu. "Mindfulness membantu siswa untuk lebih sadar terhadap apa yang sedang mereka lakukan, misalnya dengan fokus pada satu tugas dalam satu waktu atau menggunakan teknik Pomodoro—belajar selama 25 menit, diikuti dengan istirahat 5 menit. Teknik ini bisa dilakukan beberapa sesi sesuai kebutuhan," ujar Mia. Selain itu, manajemen waktu yang efektif dapat membantu siswa mengatur jadwal belajar, menentukan prioritas tugas, serta membatasi gangguan dari media sosial, sehingga mereka bisa lebih fokus dan produktif dalam belajar.

 

Dengan berbagai pendekatan ini, diharapkan siswa dapat kembali menemukan motivasi intrinsik mereka untuk belajar, serta mengurangi dampak negatif dari paparan digital berlebihan yang berisiko mengganggu perkembangan kognitif dan emosional mereka.

 

SUMBER REFERENSI

Motivasi Belajar Siswa Menurun Akibat Brain Rot, Psikolog IPB University Beberkan Solusinya. Berita/Riset. IPB University 14 Maret 2025

Bahaya Konsumsi Konten Kualitas Rendah



Waspada Brain Rot:

Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan

 

Data menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 5,7 jam per hari menggunakan gadget, menjadikan negara kita sebagai pengguna perangkat digital terlama di dunia pada tahun 2024 menurut laporan “State of Mobile” dari Data.AI. Terlalu banyak menatap layar gadget, menurut Laurie Ann Manwell, seorang Psikolog di Kanada yang mempelajari kecanduan dan kesehatan mental, dapat berdampak negatif pada perhatian, konsentrasi, pembelajaran, memori, pengaturan emosi, dan fungsi sosial.

 

Dengan durasi penggunaan gadget yang begitu tinggi, pola konsumsi konten online masyarakat pun mengalami lonjakan signifikan. Sayangnya, tingginya intensitas ini tidak selalu diiringi dengan kualitas konten yang dikonsumsi. Sebaliknya, konten singkat, dangkal, dan sensasional semakin mendominasi, menciptakan tantangan baru bagi kesehatan mental dan kemampuan berpikir manusia.

 

Di tengah realitas ini, istilah ‘Brain Rot’ mendapat perhatian khusus. Bahkan, istilah ini dinobatkan sebagai kata terpopuler oleh Oxford setelah melalui voting publik yang melibatkan 37.000 orang. Awalnya, Brain Rot digunakan oleh Henry David Thoreau dalam bukunya Walden pada 1854 untuk mengkritik masyarakat yang cenderung menghindari pemikiran mendalam dan lebih memilih hal-hal dangkal. Thoreau melihat fenomena ini sebagai tanda penurunan daya mental dan intelektual. Kini, istilah tersebut mengalami evolusi makna di era digital.

 

Dalam konteks modern, Brain Rot merujuk pada kondisi penurunan mental akibat konsumsi konten berkualitas rendah atau receh secara berlebihan di dunia maya. Fenomena ini sering ditemukan di platform seperti TikTok, yang sangat populer di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. Konten singkat yang dangkal, paparan visual berlebihan, judul menyesatkan, informasi tidak valid, tayangan mengejutkan, hingga konten berbahaya yang mudah ditiru semuanya berkontribusi pada terbentuknya kondisi ini. Akibatnya, otak menjadi terbiasa dengan stimulasi instan dan kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis serta mendalam.

 

Bahaya dan Gejala Brain Rot

 

Fenomena Brain Rot di era digital tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga berpotensi merusak fungsi otak secara keseluruhan. Brain Rot dapat menjadi pemicu disfungsi kognitif dan emosional, yang berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup. Berikut beberapa bahaya yang mengancam:

 

·   Kemunduran Kognitif

Paparan konten instan secara berlebihan menurunkan kemampuan otak untuk memproses informasi kompleks. Ini mengurangi daya analisis, pemecahan masalah, dan kreativitas.

 

·   Gangguan Regulasi Emosi

Overstimulasi dari konten visual dan auditori memperburuk pengaturan emosi. Pengguna menjadi lebih mudah cemas, depresi, atau bahkan agresif. Paparan berulang terhadap konten yang merangsang adrenalin membuat otak sulit mengatur ulang kondisi tenang.

 

·   Ketergantungan pada Dopamin Instan

Konten berkualitas rendah sering kali dirancang untuk memicu pelepasan dopamin sesaat, menciptakan efek kecanduan. Ini mengurangi motivasi untuk mencari sumber kesenangan yang lebih bermakna, seperti belajar atau berinteraksi sosial nyata.

 

·   Pengaruh pada Perkembangan Anak dan Remaja

Otak yang sedang berkembang sangat rentan terhadap dampak negatif Brain Rot. Anak-anak dan remaja yang terlalu banyak terpapar konten instan mungkin mengalami gangguan perkembangan sosial, kesulitan membentuk identitas diri, dan penurunan kemampuan belajar.

 


Berikut gejala Brain Rot yang perlu dikenali agar bisa segera diatasi:

·Kesulitan berkonsentrasi: sulit fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan perhatian mendalam, sering kali disertai kebiasaan multitasking yang kurang efektif.

·Disorientasi mental: kesulitan memahami konteks situasi atau lingkungan, sehingga mudah merasa bingung.

·Gangguan memori: menurunnya kemampuan untuk menyimpan informasi jangka pendek, terutama untuk hal-hal yang baru terjadi.

·Penurunan perawatan diri: rutinitas dasar seperti makan teratur, menjaga kebersihan tubuh, atau tidur cukup menjadi terabaikan.

·Perubahan emosi yang tidak stabil: mudah tersinggung, merasa cemas tanpa alasan jelas, atau bahkan kehilangan motivasi terhadap hal-hal yang dulu disukai.

·Kesulitan bersosialisasi: mengurangi interaksi tatap muka, merasa canggung saat berada di lingkungan sosial, hingga berisiko mengalami isolasi sosial.

·Kemampuan pengambilan keputusan melemah: sulit mempertimbangkan pilihan secara rasional dan cenderung mengambil keputusan secara impulsif tanpa pertimbangan matang.

 

Bagaimana cara mencegahnya?

 


Untuk mencegah Brain Rot, penting untuk mengambil langkah-langkah yang tepat. Batasi durasi penggunaan layar setiap hari sesuai rekomendasi, yaitu tidak lebih dari 2 jam untuk anak-anak dan maksimal 4 jam untuk orang dewasa di luar keperluan pekerjaan. Langkah ini dapat membantu mengurangi kelelahan mata dan mental.

 

Selanjutnya, pilihlah konten dengan bijak dengan cara menghindari aplikasi atau konten yang memicu stres atau adiksi, dan fokuslah pada konten yang edukatif, inspiratif, atau membantu pengembangan diri. Detoksifikasi digital secara berkala juga sangat penting. Kurangi penggunaan perangkat digital selama beberapa waktu untuk melakukan refleksi diri atau menikmati aktivitas tanpa interaksi dengan perangkat digital.

 

Ciptakan lingkungan digital yang sehat dengan mengatur notifikasi agar tidak mengganggu, mengkurasi media sosial untuk hanya menampilkan konten yang mendukung kesejahteraan, dan memanfaatkan fitur pembatasan waktu pada aplikasi tertentu. Komitmen untuk menetapkan waktu bebas layar, seperti sebelum tidur atau saat makan, dapat membantu menciptakan kebiasaan yang lebih sehat.

 

Selain itu, isi waktu dengan aktivitas yang lebih bermakna. Alihkan perhatian dari perangkat digital dengan kegiatan seperti meditasi, olahraga, membaca buku, atau belajar keterampilan baru seperti memainkan alat musik atau mempelajari bahasa asing. Berinteraksi dengan keluarga, bermain dengan hewan peliharaan, atau menghabiskan waktu di alam juga efektif untuk menjaga keseimbangan emosional.

 

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, kita dapat menciptakan gaya hidup digital yang lebih seimbang. Selain melindungi kesehatan mental dan fisik, ini juga meningkatkan fokus, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan di tengah derasnya arus informasi yang terus berkembang.

 

SUMBER

Elsi Yuliyanti. Waspada Brain Rot, Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan. DKIS Cirebon. 6 Januari 2025