Kekuatan Doa di Kala Genting: Saat
Kepasrahan Menggetarkan Arsy Allah.
Pernahkah kita berada dalam keadaan
ketika tidak ada seorang pun yang mampu menolong? Saat harta tidak lagi
berguna, jabatan tidak mampu menyelamatkan, kepandaian kehilangan daya, dan
semua jalan yang selama ini kita andalkan seakan tertutup? Pada saat seperti
itu, manusia biasanya baru menyadari satu kenyataan yang sangat sederhana: kita
ternyata sangat lemah.
Di tengah keadaan genting, hati yang
sebelumnya sibuk mengejar dunia tiba-tiba mencari tempat untuk bergantung.
Lisan yang mungkin selama ini jarang berdoa mendadak menyebut nama Allah.
Dengan penuh harap, manusia memohon, “Ya Allah, selamatkanlah aku.”
Menariknya, Al-Qur'an menggambarkan
keadaan seperti ini bukan hanya terjadi pada orang-orang yang sejak awal
dikenal sebagai ahli ibadah. Bahkan orang-orang yang mengingkari Allah pun,
ketika benar-benar berada dalam bahaya dan merasa tidak ada lagi makhluk yang
mampu menolong, dapat berdoa kepada Allah dengan penuh ketulusan.
Allah mengabadikan fenomena tersebut
dalam beberapa ayat Al-Qur'an melalui gambaran manusia yang berada di tengah
lautan, kemudian diterjang angin kencang dan gelombang besar. Dalam keadaan
demikian, segala sesuatu yang sebelumnya mereka andalkan tiba-tiba menjadi
tidak berarti.
Ketika Semua Jalan Tertutup, Hati
Mengenal Allah
Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 22:
“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu
dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Hingga apabila kamu berada
di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di
dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya,
datanglah angin badai dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya,
dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa
kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka
berkata): 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini,
pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur'.”
Bayangkan suasananya.
Sebuah kapal sedang berlayar. Semula semuanya berjalan
baik. Angin bertiup dengan tenang. Para penumpang merasa aman dan bergembira.
Namun tiba-tiba keadaan berubah. Angin badai datang. Gelombang menerjang dari
berbagai arah. Kapal terombang-ambing. Tidak ada tempat untuk berlari.
Pada saat itulah mereka menyadari
bahwa mereka benar-benar terkepung bahaya.
Mereka tidak lagi meminta
pertolongan kepada benda-benda yang sebelumnya mereka andalkan. Mereka tidak
lagi bergantung kepada kekuatan manusia. Mereka berdoa kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya.
Inilah salah satu gambaran paling
kuat tentang bagaimana manusia ketika seluruh sebab duniawi terasa tidak
berdaya. Pada titik tersebut, kesombongan runtuh. Kepasrahan muncul. Hati
kembali kepada Penciptanya.
Namun, Al-Qur'an kemudian memberikan
peringatan yang sangat tajam.
Allah melanjutkan dalam Surah Yunus
ayat 23:
“Maka tatkala Allah menyelamatkan
mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa alasan yang
benar.”
Masalahnya bukan karena mereka tidak
mengenal Allah ketika berada dalam bahaya. Mereka mengenal-Nya. Mereka memohon
kepada-Nya. Bahkan mereka berjanji akan menjadi orang-orang yang bersyukur.
Masalahnya adalah ketika bahaya
telah berlalu, janji itu dilupakan.
Ketika Ombak Berhenti, Doa Pun
Dilupakan
Gambaran yang sama kembali disebutkan dalam Surah
Al-'Ankabut ayat 65:
“Maka apabila mereka naik kapal
mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala
Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali
mempersekutukan (Allah).”
Ayat ini memperlihatkan sebuah
paradoks manusia.
Ketika berada di tengah laut dan
keselamatan terasa sangat jauh, manusia mampu berdoa dengan begitu khusyuk.
Tetapi ketika kaki telah menginjak daratan dan keadaan kembali aman, sebagian
manusia justru kembali kepada kebiasaan lama.
Seolah-olah Allah hanya diperlukan
ketika keadaan darurat.
Seolah-olah doa hanya penting ketika
penyakit datang.
Seolah-olah sujud hanya terasa perlu
ketika masalah menghimpit.
Seolah-olah Allah hanya dicari
ketika manusia tidak lagi mempunyai pilihan.
Padahal, bukankah Allah yang
memberikan keselamatan ketika kita berada dalam bahaya? Bukankah Dia pula yang
memberikan kesehatan ketika kita sembuh, rezeki ketika kita membutuhkan,
keluarga ketika kita kesepian, dan kesempatan hidup setiap hari?
Karena itu, ayat-ayat tersebut bukan
hanya menceritakan manusia yang berada di lautan. Ayat-ayat itu sedang
bercermin kepada kita.
Lautan Badai Itu Bisa Berupa
Kehidupan Kita
Tidak semua manusia akan mengalami
badai di tengah lautan. Tetapi hampir setiap manusia akan mengalami “lautan
badai” dalam kehidupannya.
Ada yang diterpa kehilangan
pekerjaan.
Ada yang menghadapi penyakit.
Ada yang mengalami masalah rumah
tangga.
Ada yang terlilit utang.
Ada yang menghadapi kegagalan.
Ada yang kehilangan orang yang dicintai.
Ada pula yang tiba-tiba menghadapi masalah yang tidak
pernah dibayangkan sebelumnya.
Pada saat seperti itu, manusia
sering kali baru memahami betapa terbatasnya kekuatan dirinya.
Kita boleh mempunyai banyak teman,
tetapi ada keadaan yang hanya bisa kita hadapi seorang diri. Kita boleh
mempunyai harta, tetapi ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya
dengan uang. Kita boleh mempunyai jabatan, tetapi ada musibah yang tidak mengenal
pangkat. Kita boleh memiliki ilmu dan pengalaman, tetapi ada saat ketika
semuanya terasa tidak cukup.
Di situlah doa menemukan maknanya
yang sangat dalam.
Doa bukan sekadar rangkaian kata
yang keluar dari lisan. Doa adalah pengakuan bahwa Allah adalah Al-Qadir,
Dzat Yang Mahakuasa, sedangkan manusia adalah makhluk yang lemah dan
membutuhkan pertolongan-Nya.
Allah Mendengar Doa Hamba-Nya
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 186:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang
Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia
berdoa kepada-Ku.”
Perhatikan bagaimana Allah menyebut “hamba-hamba-Ku”.
Ada kedekatan yang sangat indah
antara seorang hamba dan Rabb-nya. Ketika seseorang berdoa, ia tidak sedang
berbicara kepada Dzat yang jauh dan tidak mendengar. Ia sedang menghadap kepada
Allah Yang Maha Mendengar, Yang mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada,
bahkan sebelum air mata jatuh dari kedua matanya.
Karena itu, jangan pernah menganggap
doa sebagai sesuatu yang sia-sia.
Bisa jadi jawaban doa datang dalam
bentuk yang kita harapkan.
Bisa jadi Allah menundanya karena
waktu yang kita inginkan bukan waktu yang terbaik.
Bisa jadi Allah menggantinya dengan
perlindungan dari sebuah keburukan yang tidak pernah kita ketahui.
Yang terpenting, seorang mukmin
tidak berhenti mengetuk pintu Allah hanya karena jawabannya belum terlihat.
Allah Mengingatkan Kita tentang
Sifat Manusia
Surah Al-Isra’ ayat 67 kembali
menggambarkan keadaan manusia ketika berada dalam bahaya di laut:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di
lautan, niscaya lenyaplah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia
menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu
tidak berterima kasih (kufur).”
Ayat ini seharusnya membuat kita
berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita hanya mengingat Allah
ketika sedang membutuhkan-Nya?
Ketika usaha berjalan lancar, apakah
kita masih bersyukur?
Ketika tubuh sehat, apakah kita
masih mengingat Allah?
Ketika keluarga baik-baik saja,
apakah kita masih bersujud dengan penuh kesadaran?
Ketika rezeki datang tanpa
kesulitan, apakah kita masih mengucapkan hamdalah dengan hati yang benar-benar
sadar bahwa semua itu berasal dari Allah?
Sebab sering kali manusia bukan lupa
berdoa karena tidak mengenal Allah. Manusia lupa karena merasa sudah aman.
Dan rasa aman yang berlebihan dapat
membuat hati kembali lalai.
Ombak Besar Seperti Gunung
Gambaran yang sangat kuat juga terdapat dalam Surah
Luqman ayat 32:
“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti
gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala
Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, lalu ebagian mereka tetap menempuh
jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain
orang-orang yang tidak setia lagi pengingkar nikmat.”
Al-Qur'an menggambarkan ombak itu seperti gunung.
Kita dapat membayangkan betapa kecilnya manusia ketika
berhadapan dengan kekuatan alam yang begitu dahsyat. Kapal yang tampak besar
dari kejauhan dapat menjadi sangat kecil ketika berhadapan dengan gelombang
raksasa.
Namun justru dalam keadaan seperti
itulah manusia menyadari kebesaran Allah.
Menariknya, ayat tersebut juga
menyebutkan bahwa setelah diselamatkan, sebagian dari mereka tetap menempuh
jalan yang lurus.
Ini memberikan pelajaran penting.
Tidak semua orang yang mengalami
kesulitan kemudian melupakan Allah. Ada orang yang justru semakin dekat setelah
melewati badai kehidupan.
Musibah membuatnya lebih rendah hati.
Kesulitan membuatnya lebih rajin berdoa.
Kehilangan membuatnya lebih menghargai nikmat.
Penderitaan membuatnya lebih dekat
kepada Allah.
Inilah perubahan yang seharusnya
terjadi setelah sebuah “badai” berlalu.
Jangan Tunggu Badai untuk Mengenal
Allah
Ada pelajaran besar yang dapat kita
ambil dari rangkaian ayat tersebut: jangan menunggu badai datang untuk
kembali kepada Allah.
Jangan menunggu sakit untuk rajin
berdoa.
Jangan menunggu kehilangan untuk
belajar bersyukur.
Jangan menunggu masalah
menghancurkan kehidupan untuk kembali bersujud.
Jangan menunggu kematian mendekat
untuk menyadari bahwa dunia ini hanya sementara.
Ketika hidup sedang tenang, itulah
kesempatan terbaik untuk memperkuat hubungan dengan Allah.
Sebab orang yang terbiasa berdoa
ketika lapang akan lebih mudah bersandar kepada Allah ketika menghadapi
kesulitan. Hatinya telah mengenal kepada siapa ia harus meminta pertolongan.
Nabi Muhammad ﷺ juga mengajarkan pentingnya mengenal Allah dalam keadaan lapang agar
mendapatkan pertolongan-Nya dalam keadaan sulit.
Karena itu, jangan hanya menjadi
hamba yang mengingat Allah ketika berada di ujung kesulitan. Jadilah hamba yang
mengingat Allah sebelum kesulitan datang, ketika kesulitan datang, dan
setelah Allah mengangkat kesulitan tersebut.
Setelah Doa Dikabulkan, Jangan
Lupakan Allah
Ada satu kesalahan yang sangat halus
dalam kehidupan manusia.
Ketika menghadapi masalah, kita
berkata:
“Ya Allah, jika Engkau selamatkan
aku, aku akan berubah.”
Kemudian Allah memberikan jalan
keluar.
Masalah selesai.
Kesulitan berlalu.
Kita kembali tersenyum.
Tetapi perlahan-lahan janji kepada
Allah mulai dilupakan.
Shalat kembali ditunda.
Doa kembali jarang.
Al-Qur'an kembali ditinggalkan.
Sedekah kembali dilupakan.
Dosa yang dahulu ingin ditinggalkan
perlahan dilakukan kembali.
Padahal keselamatan yang kita
rasakan hari ini adalah nikmat Allah yang seharusnya melahirkan rasa syukur,
bukan kelalaian.
Karena itu, setelah Allah mengangkat
kesulitan, jangan hanya berkata, “Masalah saya sudah selesai.”
Katakanlah:
“Alhamdulillah, Allah telah
menyelamatkan saya. Apa yang harus saya lakukan agar menjadi hamba yang lebih
dekat kepada-Nya?”
Itulah perbedaan antara seseorang
yang hanya melewati musibah dan seseorang yang belajar dari musibah.
Kepasrahan Bukan Berarti Menyerah
Kepasrahan kepada Allah bukan
berarti meninggalkan usaha.
Kita tetap bekerja.
Kita tetap berobat ketika sakit.
Kita tetap mencari solusi.
Kita tetap meminta bantuan kepada
manusia dalam perkara yang memang dapat dibantu manusia.
Namun hati tidak menggantungkan
keselamatan kepada makhluk.
Kita menggunakan sebab, tetapi
meyakini bahwa Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Inilah tawakal.
Tangan tetap bekerja, pikiran tetap
berusaha, tetapi hati tetap bersandar kepada Allah.
Ketika berhasil, kita bersyukur.
Ketika gagal, kita bersabar.
Ketika mendapatkan apa yang kita
inginkan, kita memuji Allah.
Ketika doa belum terwujud seperti
yang kita harapkan, kita tetap percaya kepada hikmah dan ketetapan-Nya.
Jangan Sampai Kita Hanya Mengenal
Allah di Tengah Badai
Badai kehidupan pada akhirnya akan
berlalu.
Gelombang akan mereda.
Langit yang gelap akan kembali
cerah.
Kesulitan yang terasa tidak berujung
pada akhirnya akan menemukan jalan keluar—entah melalui jalan yang kita
perkirakan ataupun melalui jalan yang sama sekali tidak kita bayangkan.
Namun setelah semuanya berlalu, di
situlah ujian yang sebenarnya dimulai:
Apakah kita masih mengingat Allah?
Jangan sampai ketika berada di
tengah badai kita menjadi orang yang sangat dekat kepada Allah, tetapi ketika
sampai di daratan kita kembali menjadi orang yang lalai.
Jangan sampai doa kita hanya panjang
ketika membutuhkan sesuatu, tetapi pendek ketika mendapatkan nikmat.
Jangan sampai air mata kita hanya
jatuh ketika musibah datang, tetapi tidak pernah jatuh karena rasa syukur
kepada Allah.
Allah telah memperlihatkan kepada
kita melalui kisah manusia di tengah lautan bahwa dalam keadaan genting,
manusia dapat kembali kepada fitrahnya: mengakui bahwa hanya Allah tempat
bergantung yang hakiki.
Maka marilah kita belajar melakukan
hal itu sebelum badai datang.
Ketika sehat, ingatlah Allah.
Ketika kaya, ingatlah Allah.
Ketika sukses, ingatlah Allah.
Ketika keluarga bahagia, ingatlah
Allah.
Ketika hidup terasa mudah, ingatlah
Allah.
Dan ketika badai kehidupan datang,
jangan pernah berhenti mengetuk pintu-Nya.
Sebab kita tidak pernah benar-benar
sendirian selama hati masih bersandar kepada Allah.
Semoga setiap doa yang keluar dari
hati kita menjadi jalan untuk semakin mengenal kebesaran-Nya. Semoga setiap
kesulitan membuat kita semakin dekat kepada-Nya, bukan justru menjauh. Dan
semoga ketika Allah mengangkat kesulitan kita, kita tidak menjadi manusia yang
lupa kepada Dzat yang telah menyelamatkan kita.
Jangan hanya menjadi hamba yang mencari Allah ketika terdesak. Jadilah hamba yang tetap mengingat Allah ketika hidup sedang lapang. Karena boleh jadi, badai yang paling besar bukanlah badai yang mengguncang kapal di tengah lautan, melainkan badai kelalaian yang membuat hati lupa kepada Allah ketika kita telah kembali berada di daratan.
Aamiin ya Rabbal’alamiin.
Wallahu a’lam.
#KekuatanDoa
#Doa
#Kepasrahan
#Allah
#DakwahIslam

