”BUKAN UNTUK KAMI, TAPI UNTUK PARA PEMUDA:
Kepemimpinan, Keteladanan, dan Masa
Depan Indonesia yang Harus Kita Wariskan
“Children have never been very good at listening to their
elders, but they have never failed to imitate them.”
— James Baldwin
PENDAHULUAN
Ada saatnya sebuah generasi harus berhenti bertanya, “Apa yang akan kami dapatkan?”, lalu mulai bertanya, “Apa yang akan kami wariskan?”
Pertanyaan kedua jauh lebih berat. Ia tidak lagi
berbicara tentang jabatan, kekuasaan, popularitas, atau keuntungan yang dapat
dinikmati hari ini. Ia berbicara tentang masa depan orang-orang yang bahkan
belum tentu kita kenal: anak-anak muda Indonesia yang kelak akan mengambil alih
tanggung jawab negeri ini.
Soal pemimpin, barangkali, memang
bukan lagi terutama untuk kami. Kami telah terlalu lama hidup bersama berbagai
kompromi. Kami tahu sesuatu keliru, tetapi memilih diam. Kami memahami bahwa
sebuah keputusan tidak sepenuhnya benar, tetapi tetap mengangguk. Kami melihat
kebohongan, tetapi memilih tersenyum karena keadaan dianggap lebih nyaman jika
tidak dipersoalkan.
Begitulah kompromi bekerja. Pada
awalnya tampak kecil. Lama-kelamaan ia menjadi kebiasaan. Dan ketika sebuah
kebiasaan berlangsung terlalu lama, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk
membedakan antara sesuatu yang benar-benar benar dan sesuatu yang sekadar
sudah biasa dilakukan.
Matahari kami pun perlahan condong
ke barat. Padi, setelah berisi, tahu kapan harus menunduk. Maka apabila kita
masih berbicara tentang kepemimpinan, sesungguhnya yang sedang kita bicarakan
bukan semata-mata tentang masa depan kami. Kita sedang membicarakan masa depan
mereka.
PARA PEMUDA INDONESIA
Mereka yang matanya masih berbinar
ketika memandang langit. Mereka yang masih memiliki keberanian untuk bermimpi.
Mereka yang belum terlalu lelah untuk percaya bahwa Indonesia dapat menjadi
bangsa yang lebih adil, lebih maju, lebih bermartabat, dan lebih dihormati
dunia.
Dan kepada merekalah estafet
kepemimpinan akhirnya harus diserahkan.
ANAK
MUDA TIDAK HANYA MENDENGAR, MEREKA MENIRU
James Baldwin mengingatkan bahwa anak-anak mungkin tidak
selalu pandai mendengarkan orang-orang yang lebih tua, tetapi mereka hampir
tidak pernah gagal meniru mereka.
Kalimat tersebut mengandung pelajaran kepemimpinan yang
sangat dalam.
Generasi muda tidak hanya belajar dari buku, pidato,
kurikulum, seminar, atau nasihat. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat
setiap hari. Mereka mengamati bagaimana seseorang menggunakan kekuasaan,
bagaimana seseorang memperlakukan orang yang lebih lemah, bagaimana seseorang
merespons kritik, bagaimana seseorang menghadapi kegagalan, dan bagaimana
seseorang bersikap ketika tidak ada kamera yang mengawasi.
Dalam psikologi sosial, pembelajaran
melalui pengamatan merupakan mekanisme penting dalam pembentukan perilaku.
Bandura melalui teori social learning menjelaskan bahwa manusia dapat
belajar dengan mengamati perilaku orang lain serta konsekuensi yang mengikuti
perilaku tersebut (Bandura, 1977).
Karena itu, seorang pemimpin
sebenarnya selalu sedang mengajar.
Ketika pemimpin berlaku jujur, ia
sedang mengajarkan kejujuran.
Ketika pemimpin berani mengakui
kesalahan, ia sedang mengajarkan tanggung jawab.
Ketika pemimpin menerima kritik
dengan lapang dada, ia sedang mengajarkan kedewasaan demokratis.
Sebaliknya, ketika seorang pemimpin
menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, mencari pembenaran atas
kesalahan, menghindari pertanggungjawaban, atau menganggap aturan hanya berlaku
bagi orang lain, ia juga sedang mengajar.
Ia sedang mengajarkan bahwa
kekuasaan boleh digunakan tanpa batas.
Dan itulah pelajaran yang paling berbahaya.
PEMIMPIN HARUS MENJADI TELADAN SEBELUM MENJADI PEMBICARA
Kita hidup dalam zaman ketika
kata-kata dapat diproduksi dengan sangat mudah.
Sebuah pidato dapat disusun dalam
hitungan menit. Sebuah slogan dapat menjadi viral dalam beberapa jam. Sebuah
citra dapat dibangun melalui media sosial. Namun, karakter tidak dapat dibangun
secepat citra.
Karakter membutuhkan waktu.
Pemimpin yang baik tidak cukup
pandai berbicara tentang integritas. Ia harus memperlihatkan integritas ketika
integritas itu mahal.
Ia tidak cukup berbicara tentang
pengorbanan. Ia harus bersedia kehilangan sesuatu demi
kepentingan yang lebih besar.
Ia tidak cukup berbicara tentang pendidikan. Ia harus menghormati ilmu dan proses
akademik.
Ia tidak cukup berbicara tentang keadilan. Ia harus
bersedia menerima keputusan yang adil bahkan ketika keputusan itu tidak
menguntungkan dirinya sendiri.
Inilah perbedaan antara retorika kepemimpinan dan keteladanan kepemimpinan.
Konsep transformational leadership juga
menempatkan keteladanan dan nilai sebagai unsur penting dalam memengaruhi
pengikut. Pemimpin bukan sekadar orang yang memberikan instruksi, tetapi figur
yang memengaruhi cara orang lain memandang tujuan, tanggung jawab, dan dirinya
sendiri (Bass & Riggio, 2006).
Maka, sebelum bertanya apakah seorang pemimpin pandai
berbicara, kita perlu bertanya:
Apakah hidupnya layak menjadi pelajaran bagi anak muda?
INDONESIA MEMBUTUHKAN MILITANSI YANG BERKELAS
Kita ingin membangun militansi di
dada para pemuda.
Tetapi militansi yang kita maksud
bukanlah militansi yang gaduh. Bukan sekadar kemampuan meneriakkan slogan.
Bukan fanatisme kepada tokoh. Bukan pula keberanian menyerang orang yang
berbeda pandangan.
Militansi yang dibutuhkan Indonesia
adalah keteguhan karakter.
Keteguhan untuk mencintai negeri
tanpa harus membenci bangsa lain.
Keteguhan untuk bekerja keras ketika
tidak ada yang memuji.
Keteguhan untuk mempertahankan
prinsip ketika prinsip itu tidak populer.
Keteguhan untuk berkata tidak
terhadap korupsi ketika orang lain mengatakan, “Semua orang juga melakukannya.”
Keteguhan untuk terus belajar ketika
jalan pintas terlihat jauh lebih mudah.
Keteguhan untuk mengakui kekurangan
dan memperbaikinya.
Itulah militansi yang sesungguhnya.
Pemuda Indonesia tidak membutuhkan
generasi tua yang hanya berkata, “Dulu kami juga mengalami kesulitan.” Mereka
membutuhkan contoh bahwa kesulitan bukan alasan untuk menyerah.
Mereka membutuhkan orang-orang yang
dapat berkata:
“Kami pernah gagal, tetapi kami
bangkit.”
“Kami pernah salah, tetapi kami
berani mengakuinya.”
“Kami pernah berada dalam keadaan
sulit, tetapi kami tidak menjual prinsip.”
Pesan seperti itu jauh lebih kuat
daripada ribuan slogan.
Jangan Wariskan Jalan Pintas
kepada Generasi Muda
Salah satu bahaya terbesar bagi
generasi muda bukanlah kegagalan.
Bahaya yang jauh lebih besar adalah
ketika mereka belajar bahwa jalan pintas lebih menguntungkan daripada proses yang
benar.
Anak muda yang melihat kerja keras
dihargai akan belajar bekerja keras.
Anak muda yang melihat kompetensi
dihargai akan terdorong meningkatkan kompetensinya.
Anak muda yang melihat integritas dihargai akan belajar
menjaga integritas.
Tetapi jika mereka melihat
manipulasi menghasilkan keuntungan, kepalsuan menghasilkan status, dan
kedekatan dengan kekuasaan mengalahkan kompetensi, mereka juga akan belajar.
Mereka akan mengambil kesimpulan
sederhana:
“Kalau ingin berhasil, tidak perlu menjadi hebat. Cukup
menjadi dekat dengan orang yang tepat.”
Kesimpulan seperti itu sangat berbahaya bagi masa depan
bangsa.
Karena itu, isu mengenai keaslian dokumen akademik,
kredibilitas gelar, validitas riwayat pendidikan, atau bentuk pengakuan
kesetaraan tidak boleh dilihat semata-mata sebagai persoalan administratif atau
pertarungan politik.
Dalam perspektif pendidikan dan etika publik, kredibilitas merupakan bagian dari modal sosial.
Institusi pendidikan dibangun atas kepercayaan. Gelar
akademik memperoleh maknanya karena masyarakat percaya bahwa gelar tersebut
diperoleh melalui proses pendidikan dan evaluasi yang dapat
dipertanggungjawabkan. Jika proses itu dirusak, yang terancam bukan hanya
reputasi seseorang, tetapi juga kepercayaan terhadap institusi pengetahuan itu
sendiri.
OECD menempatkan kepercayaan terhadap institusi publik
sebagai salah satu unsur penting dalam kapasitas pemerintahan yang efektif dan
legitimasi demokratis (OECD, 2024).
Karena itu, generasi muda harus
diajarkan bahwa prestasi tidak sama dengan pengakuan, dan pengakuan tidak boleh
menggantikan prestasi.
Mereka harus tahu bahwa perjalanan
panjang memiliki nilai.
Belajar memiliki nilai.
Bekerja keras memiliki nilai.
Gagal dan mencoba kembali memiliki
nilai.
INDONESIA
TERLALU BESAR UNTUK DIPIMPIN DENGAN MENTALITAS KECIL
Indonesia bukan negeri kecil.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan wilayah yang
luas, lebih dari 17.000 pulau, keragaman budaya, bahasa, adat istiadat, agama,
kondisi geografis, serta tingkat pembangunan yang sangat beragam. Data
kependudukan juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 280 juta
penduduk.
Negeri sebesar ini membutuhkan kepemimpinan dengan
cakrawala yang besar.
Pemimpin Indonesia harus mampu melihat desa dan kota,
Jawa dan luar Jawa, pusat dan daerah, generasi tua dan generasi muda, kelompok
mayoritas dan minoritas, kepentingan ekonomi dan lingkungan, pertumbuhan dan
pemerataan.
Ia harus mampu melihat Indonesia
bukan hanya dari jendela ibu kota.
Indonesia membutuhkan kepala
yang jernih dan dada yang lapang.
Kepala yang jernih untuk mengambil keputusan berdasarkan
pengetahuan, data, dan kepentingan jangka panjang.
Dada yang lapang untuk menerima
perbedaan.
Kepemimpinan semacam itu penting
karena pembangunan berkelanjutan tidak hanya bergantung pada pertumbuhan
ekonomi, tetapi juga pada kualitas institusi, keadilan, pendidikan, kesehatan,
lingkungan, dan kemampuan masyarakat bekerja bersama (United Nations, 2015).
Karena itu, kursi kepemimpinan tidak
boleh dipahami hanya sebagai tempat untuk duduk.
Ia adalah tempat untuk memikul beban.
PEMIMPIN BUKAN PEMILIK NEGERI
Ada kesalahpahaman yang perlu
diluruskan.
Seorang pemimpin bukan pemilik
negeri.
Ia adalah penjaga amanah sementara.
Jabatan datang dan pergi.
Pemerintahan berganti. Generasi berganti. Bahkan nama-nama besar pada akhirnya
akan menjadi bagian dari sejarah.
Yang bertahan adalah institusi,
nilai, dan akibat dari keputusan yang pernah dibuat.
Karena itu, pemimpin yang baik
seharusnya tidak bertanya:
“Bagaimana agar nama saya dikenang?”
Melainkan:
“Bagaimana agar negeri ini menjadi lebih baik setelah
saya selesai memimpin?”
Perbedaan kedua pertanyaan itu
sangat besar.
Pertanyaan pertama berpusat pada
ego.
Pertanyaan kedua berpusat pada
warisan.
Di sinilah konsep stewardship atau
kepemimpinan sebagai amanah menjadi relevan.
Seorang pemimpin bertindak sebagai pengelola sumber daya dan kepercayaan yang
bukan sepenuhnya miliknya. Orientasinya bukan sekadar keuntungan saat ini,
tetapi keberlanjutan bagi generasi berikutnya.
Dalam konteks Indonesia, prinsip
tersebut sejalan dengan gagasan bahwa pembangunan harus memenuhi kebutuhan
generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri (United Nations, 2015).
BERIKAN KEPADA ANAK MUDA KEBANGGAAN, BUKAN KULTUS
Anak-anak muda Indonesia berhak
memiliki kebanggaan terhadap pemimpinnya.
Tetapi kebanggaan tidak sama dengan
kultus.
Kultus membuat seseorang tidak boleh
dikritik.
Kebanggaan justru memungkinkan
kritik karena kita ingin melihat sesuatu menjadi lebih baik.
Kita ingin generasi muda dapat
mengatakan dengan kepala tegak:
“Itulah pemimpin negeri kami.”
Bukan karena ia sempurna.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Tetapi karena ia memiliki integritas
yang dapat dipercaya.
Ketika ia berbicara tentang
pengorbanan, ia telah lebih dahulu berkorban.
Ketika ia meminta rakyat jujur,
kehidupan pribadinya tidak bertentangan dengan kejujuran yang ia tuntut.
Ketika ia berbicara tentang
pendidikan, ia menghormati ilmu.
Ketika ia berbicara tentang hukum,
ia tidak menempatkan dirinya di atas hukum.
Ketika ia kalah dalam perdebatan, ia
tidak menganggap lawannya sebagai musuh bangsa.
Dan ketika ia melakukan kesalahan,
ia memiliki keberanian untuk mengatakan:
“Saya salah.”
Kalimat sederhana itu mungkin justru
menjadi salah satu bentuk keberanian terbesar seorang pemimpin.
PEMUDA
TIDAK MEMBUTUHKAN PEMIMPIN YANG SEMPURNA
Kita tidak boleh menuntut pemimpin
menjadi manusia tanpa kesalahan.
Yang kita perlukan adalah pemimpin
yang bertanggung jawab
atas kesalahannya.
Pemimpin yang tidak sempurna tetapi
mau belajar masih memiliki ruang untuk memperbaiki diri.
Sebaliknya, pemimpin yang merasa
selalu benar dapat menjadi ancaman bagi organisasi maupun negara karena tidak
menyediakan ruang bagi koreksi.
Demokrasi membutuhkan mekanisme
pengawasan, kritik, transparansi, dan akuntabilitas. Dalam demokrasi yang
sehat, loyalitas kepada bangsa tidak boleh disamakan dengan loyalitas buta
kepada seseorang.
Justru karena mencintai negeri, kita
harus berani mengatakan bahwa sesuatu yang salah adalah salah.
Anak muda perlu belajar bahwa
patriotisme bukan berarti selalu mengatakan “iya”.
Kadang-kadang patriotisme justru berarti mengatakan:
“Tidak. Ini tidak benar.”
Dengan cara yang santun, argumentatif, berbasis bukti,
dan bertanggung jawab.
Itulah kedewasaan demokratis.
KEPEMIMPINAN
ADALAH ESTAFET
Tidak ada generasi yang memiliki Indonesia selamanya.
Kita hanya memegangnya untuk
sementara.
Generasi sebelum kita menerima
Indonesia dari generasi sebelumnya. Mereka bekerja, berkorban, membangun
sekolah, jalan, rumah sakit, universitas, institusi, dan berbagai fondasi
kehidupan nasional.
Sekarang giliran kita.
Dan setelah itu, giliran mereka.
Karena itu, pertanyaan terbesar bagi
sebuah generasi bukanlah:
“Seberapa lama kami dapat memegang
kekuasaan?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Seberapa siap generasi setelah
kami menerima kekuasaan itu?”
Di sinilah pendidikan kepemimpinan
menjadi sangat penting.
Pemuda tidak boleh hanya
dipersiapkan menjadi pencari pekerjaan. Mereka harus dipersiapkan menjadi pencipta nilai, pemecah masalah, penjaga integritas,
ilmuwan, pengusaha, teknolog, guru, birokrat, pemimpin masyarakat, dan
negarawan.
World Economic Forum juga menekankan pentingnya berbagai
keterampilan seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, kepemimpinan,
dan kemampuan belajar berkelanjutan dalam menghadapi perubahan dunia kerja
(World Economic Forum, 2025).
Namun keterampilan saja tidak cukup.
Indonesia membutuhkan pemuda yang kompeten sekaligus berkarakter.
KEPADA PARA PEMUDA INDONESIA: JANGAN MENUNGGU DIPERCAYA
Para pemuda Indonesia tidak harus
menunggu menjadi pejabat untuk menjadi pemimpin.
Kepemimpinan dimulai dari hal-hal kecil.
Datang tepat waktu.
Mengerjakan tugas dengan jujur.
Tidak mencontek.
Tidak memalsukan data.
Tidak mengambil karya orang lain.
Menghormati guru.
Menghargai orang tua.
Menjaga lingkungan.
Membantu teman.
Berani mengakui kesalahan.
Belajar ketika orang lain sedang
bersantai.
Membangun kompetensi ketika orang
lain sibuk membangun citra.
Semua itu adalah latihan
kepemimpinan.
Sebab kepemimpinan bukan
pertama-tama tentang kemampuan mengatur orang lain.
Kepemimpinan dimulai dari
kemampuan mengatur diri sendiri.
Pemuda yang tidak mampu
mengendalikan waktunya akan kesulitan mengelola organisasi.
Pemuda yang tidak mampu menjaga
integritasnya dalam perkara kecil akan menghadapi ujian yang jauh lebih berat
ketika memegang kekuasaan besar.
Pemuda yang tidak mampu menerima
kritik akan kesulitan memimpin orang yang berbeda pendapat.
Maka jangan menunggu kursi untuk
mulai memimpin.
Pimpinlah dirimu hari ini.
YANG HARUS KITA WARISKAN BUKAN KURSI, TETAPI KARAKTER
Pada akhirnya, mungkin bukan jabatan
yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Bukan pula gedung-gedung tinggi.
Bukan kendaraan mewah.
Bukan foto bersama orang-orang
berkuasa.
Yang paling penting adalah karakter bangsa.
Jika kita mewariskan kepada mereka
budaya kejujuran, mereka akan memiliki keberanian.
Jika kita mewariskan penghormatan
terhadap ilmu, mereka akan memiliki kemampuan.
Jika kita mewariskan budaya kerja
keras, mereka akan memiliki daya tahan.
Jika kita mewariskan keberanian
mengoreksi kesalahan, mereka akan memiliki kedewasaan.
Tetapi jika kita mewariskan budaya
kompromi terhadap kebohongan, mereka akan belajar bahwa kebenaran dapat
dinegosiasikan.
Jika kita mewariskan budaya pemujaan
terhadap kekuasaan, mereka akan belajar bahwa jabatan lebih penting daripada
integritas.
Jika kita mewariskan budaya jalan
pintas, mereka akan kehilangan penghargaan terhadap proses.
Itulah sebabnya kepemimpinan hari
ini sesungguhnya bukan hanya urusan hari ini.
Ia sedang menulis buku pelajaran
bagi generasi yang belum lahir.
BUKAN UNTUK KAMI, TETAPI UNTUK PARA PEMUDA
Mungkin suatu hari nanti nama kita
tidak lagi disebut.
Foto kita akan menguning.
Tulisan kita akan berdebu.
Jabatan kita akan menjadi catatan
sejarah.
Bahkan orang-orang yang pernah
berdiri bersama kita mungkin sudah tidak ada.
Tetapi anak-anak muda Indonesia akan
tetap hidup.
Mereka akan meneruskan negeri ini.
Mereka akan mengelola sawah, pabrik,
laboratorium, sekolah, rumah sakit, perusahaan, pemerintahan, teknologi, laut,
hutan, dan ruang-ruang kehidupan yang belum kita bayangkan hari ini.
Merekalah yang akan menghadapi dunia
yang semakin kompleks.
Mereka membutuhkan pemimpin yang
dapat dipercaya.
Mereka membutuhkan institusi yang
bersih.
Mereka membutuhkan pendidikan yang
bermutu.
Mereka membutuhkan ruang untuk
bermimpi.
Dan yang paling penting, mereka
membutuhkan contoh bahwa menjadi baik tidak berarti menjadi bodoh, menjadi jujur
tidak berarti menjadi kalah, dan memegang prinsip tidak berarti kehilangan masa
depan.
Karena itu, jangan padamkan api yang
ada di dada mereka demi ambisi dinasti, transaksi kekuasaan, pencitraan, gelar
yang diragukan, legitimasi yang dipaksakan, atau tepuk tangan yang dibeli.
Terlalu mahal ongkosnya.
Sebab yang sedang kita pertaruhkan
bukan sekadar sebuah kursi.
Yang sedang kita pertaruhkan adalah kepercayaan satu generasi terhadap
masa depan negerinya sendiri.
Maka, apabila hari ini kita masih
memiliki kesempatan untuk memilih, mendidik, membimbing, mengoreksi, dan
memberi teladan, lakukanlah dengan sebaik-baiknya.
Sebab suatu hari nanti kita akan
turun dari panggung.
Dan ketika itu terjadi, semoga
anak-anak muda Indonesia tidak bertanya:
“Mengapa mereka meninggalkan kami
negeri seperti ini?”
Semoga mereka justru berkata:
“Mereka mungkin tidak sempurna,
tetapi mereka telah berusaha meninggalkan Indonesia yang lebih baik kepada
kami.”
Itulah warisan kepemimpinan yang
sesungguhnya.
Bukan untuk kami.
Tetapi untuk para pemuda.
Dan pada akhirnya, bukan kita yang
akan menentukan apakah warisan itu berhasil.
Sejarah akan menjawabnya melalui
kehidupan generasi setelah kita.
Wallahu a'lam bish-shawab.
DAFTAR
PUSTAKA
Bandura, A. (1977). Social learning theory.
Prentice Hall.
Bass, B. M., & Riggio, R. E. (2006). Transformational
leadership (2nd ed.). Lawrence Erlbaum Associates.
Baldwin, J. (1963). The fire next time. Dial
Press.
OECD. (2024). OECD survey on drivers of trust in
public institutions – 2024 results: Building trust in a changing world.
OECD Publishing.
United Nations. (2015). Transforming our world: The
2030 agenda for sustainable development. United Nations.
World Economic Forum. (2025). The future of jobs
report 2025. World Economic Forum.
#PemudaIndonesia
#Kepemimpinan
#Keteladanan
#Integritas
#MasaDepan

No comments:
Post a Comment