Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Hari Sejuta Pohon. Show all posts
Showing posts with label Hari Sejuta Pohon. Show all posts

Saturday, 5 September 2026

Bukan Sekadar Tanam Pohon! Rahasia Hari Sejuta Pohon Menyelamatkan Iklim dan Masa Depan Bumi!

 

Hari Sejuta Pohon Sedunia: Menanam Pohon, Menjaga Iklim, dan Merawat Masa Depan Bumi.

 

Pendahuluan

 

Setiap tanggal 10 Januari, Indonesia memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon, sebuah momentum yang mengingatkan kita bahwa pohon bukan sekadar bagian dari lanskap yang membuat lingkungan terlihat hijau dan indah. Pohon merupakan komponen penting ekosistem yang menopang kehidupan manusia, satwa, tanah, air, dan atmosfer. Karena itu, gerakan menanam dan merawat pohon sesungguhnya bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun lingkungan yang sehat, sejuk, nyaman, produktif, dan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.

 

Di Indonesia, gerakan ini memiliki sejarah penting. Gerakan Satu Juta Pohon dicanangkan oleh Presiden Soeharto di Jakarta pada 10 Januari 1993, dengan ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menanam pohon dalam jumlah besar, bahkan melampaui satu juta pohon di setiap provinsi. Semangat tersebut relevan hingga sekarang karena tantangan lingkungan telah berkembang dari sekadar kerusakan hutan menjadi persoalan yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, degradasi tanah, krisis air, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga meningkatnya suhu perkotaan.

 

Lebih dari tiga dekade setelah gerakan tersebut dicanangkan, pesan dasarnya tetap sama: menanam pohon berarti menanam kehidupan. Namun, ilmu pengetahuan modern memberikan pemahaman yang lebih luas. Kita sekarang mengetahui bahwa keberhasilan penghijauan tidak cukup diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam. Yang jauh lebih penting adalah berapa banyak pohon yang mampu tumbuh sehat, bertahan dalam jangka panjang, membentuk ekosistem yang berfungsi, menyimpan karbon, menjaga tata air, menyediakan habitat, serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

 

Pohon dan Mesin Kehidupan di Bumi

 

Pohon dapat dipandang sebagai salah satu "mesin biologis" paling penting di planet ini. Melalui fotosintesis, tumbuhan menggunakan energi cahaya matahari untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi bahan organik yang digunakan untuk membangun tubuh tumbuhan, sekaligus menghasilkan oksigen.

Secara sederhana, proses tersebut dapat digambarkan melalui persamaan:

6CO₂ + 6H₂O + energi cahaya → C₆H₁₂O₆ + 6O₂

 

Karbon dioksida dari atmosfer menjadi sumber karbon bagi pembentukan biomassa. Sebagian karbon kemudian disimpan dalam batang, cabang, daun, akar, dan bahan organik tanah. Dengan demikian, ekosistem hutan berperan sebagai salah satu penyimpan karbon alami.

 

Namun, penting dipahami bahwa pohon bukan satu-satunya solusi perubahan iklim. Penanaman pohon tidak dapat menggantikan kebutuhan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, meningkatkan efisiensi energi, mengembangkan energi terbarukan, mengendalikan deforestasi, serta mengurangi emisi dari industri dan transportasi. Hutan dan ekosistem daratan merupakan bagian dari strategi mitigasi yang harus berjalan bersama pengurangan emisi dari sumbernya.

 

IPCC menempatkan perlindungan, pengelolaan berkelanjutan, dan restorasi hutan sebagai bagian penting dari pilihan mitigasi berbasis lahan. Langkah tersebut juga dapat memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati, kualitas air, kesuburan tanah, ketahanan terhadap bencana, dan kesejahteraan masyarakat apabila dirancang dengan tepat.

 

Pohon Tidak Hanya Menghasilkan Oksigen

 

Sering kali manfaat pohon disederhanakan menjadi "menghasilkan oksigen". Pernyataan tersebut benar, tetapi sebenarnya baru sebagian kecil dari fungsi ekologis pohon.

 

Pohon juga berperan dalam menyerap karbon, mengatur siklus air, melindungi tanah, menyediakan habitat, mengurangi suhu lingkungan, serta membentuk mikroklimat. Kanopi pohon dapat mengurangi radiasi matahari yang langsung mencapai permukaan tanah. Proses evapotranspirasi juga membantu mendinginkan lingkungan.

 

Di wilayah perkotaan, pepohonan menjadi semakin penting. Permukaan beton, aspal, dan bangunan menyerap serta memancarkan kembali panas sehingga menciptakan fenomena urban heat island. Penanaman pohon yang tepat dapat membantu mengurangi panas lokal dan meningkatkan kenyamanan termal masyarakat. IPCC menyatakan bahwa penghijauan perkotaan dengan pohon dan vegetasi dapat memberikan efek pendinginan lokal.

 

Pohon juga membantu mengendalikan limpasan air hujan. Tajuk menahan sebagian air hujan, sementara akar dan bahan organik tanah meningkatkan kemampuan tanah menyerap air. Karena itu, kawasan dengan vegetasi yang baik dapat membantu memperlambat aliran permukaan dan mengurangi tekanan terhadap sistem drainase.

 

Ekosistem hutan di daerah hulu memiliki fungsi yang lebih besar lagi. Hutan membantu mengatur aliran air dan, dalam banyak kondisi, mengurangi risiko banjir dengan menyimpan air dan memperlambat alirannya.

 

Pohon sebagai Pelindung Tanah dari Erosi

 

Tanah merupakan sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan, tetapi mudah mengalami degradasi apabila kehilangan tutupan vegetasi.

 

Ketika hujan turun pada lahan terbuka, energi butir hujan dapat memecah agregat tanah. Air kemudian membawa partikel tanah menuju sungai, saluran, dan akhirnya ke wilayah hilir. Proses tersebut dapat menyebabkan erosi, sedimentasi, pendangkalan sungai, dan penurunan produktivitas lahan.

 

Akar pohon memiliki fungsi penting dalam memperkuat struktur tanah. Jaringan akar membantu mengikat partikel tanah, sementara serasah daun dan bahan organik meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air. Karena itu, penghijauan daerah aliran sungai, lereng, kawasan hulu, dan lahan kritis merupakan bagian penting dari konservasi tanah dan air.

 

Tetapi sekali lagi, menanam pohon tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Jenis tanaman, kesesuaian lahan, kemiringan, curah hujan, karakteristik tanah, tata air, serta kebutuhan masyarakat harus dipertimbangkan.

 

Permasalahan Besar: Emisi Karbon dan Perubahan Iklim

 

Salah satu alasan mengapa gerakan menanam pohon tetap relevan adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida menahan sebagian radiasi panas di atmosfer dan berkontribusi terhadap pemanasan global.

 

Indonesia menghadapi persoalan emisi dari berbagai sektor. Sumbernya tidak hanya berasal dari industri, tetapi juga dari energi, transportasi, pertanian, limbah, kehutanan, dan penggunaan lahan.

 

Data dalam Enhanced NDC Indonesia menunjukkan bahwa target pengurangan emisi nasional telah ditingkatkan menjadi 31,89% secara unconditional dibandingkan skenario business as usual pada 2030, dan dapat mencapai 43,20% secara conditional apabila tersedia dukungan internasional berupa pendanaan, teknologi, dan peningkatan kapasitas.

 

Dengan demikian, persoalan perubahan iklim tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu program. Diperlukan kombinasi antara pengurangan emisi dan peningkatan penyerapan karbon.

 

Pembangkit Listrik dan Tantangan Transisi Energi

 

Sektor energi menjadi salah satu sumber utama emisi karena masih bergantung pada bahan bakar fosil. Pembangkit listrik berbasis batu bara, misalnya, menghasilkan emisi CO₂ dalam jumlah besar karena proses pembakaran bahan bakar fosil.

 

Pointer yang digunakan dalam naskah ini menggambarkan tiga kemungkinan skenario menuju 2050, yaitu Business as Usual (BAU), Market Driven (MD), dan Green Transition (GT). Dalam ilustrasi tersebut, skenario BAU menghasilkan emisi sekitar 1,3 miliar ton CO₂, dengan sekitar 651 juta ton berasal dari pembangkit listrik. Skenario MD menurunkan emisi menjadi sekitar 936 juta ton, sedangkan skenario GT sekitar 634 juta ton.

 

Angka tersebut harus diperlakukan sebagai angka skenario/model, bukan sebagai kondisi aktual yang berlaku secara otomatis pada 2050. Besarnya emisi masa depan sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi, bauran energi, teknologi, kebijakan, elektrifikasi transportasi, efisiensi energi, perkembangan energi terbarukan, dan perubahan perilaku masyarakat.

 

Dokumen NDC Indonesia juga menunjukkan besarnya peran sektor energi dan FOLU dalam strategi mitigasi. Dalam skenario NDC yang terdokumentasi, FOLU memiliki kontribusi mitigasi yang sangat besar, bersama sektor energi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa transisi energi dan perlindungan ekosistem harus berjalan bersamaan.

 

Mengapa Hutan Menjadi Sangat Strategis?

 

Hutan memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassa serta tanah. Tetapi nilai hutan jauh lebih besar daripada sekadar jumlah ton karbon yang dapat diserap.

 

Hutan merupakan rumah bagi berbagai jenis tumbuhan, mamalia, burung, serangga, mikroorganisme, dan organisme lainnya. Hutan juga menjadi bagian dari sistem tata air dan menyediakan berbagai sumber pangan, bahan baku, obat-obatan, serta mata pencaharian masyarakat.

 

IPCC menegaskan bahwa hutan tropis merupakan pengatur penting siklus karbon dan air serta merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Kerusakan hutan tropis karena itu bukan hanya persoalan kehilangan pohon, tetapi juga kehilangan fungsi ekologis dan sosial yang jauh lebih luas.

 

Karena itu, menjaga pohon yang sudah tumbuh sering kali sama pentingnya, bahkan lebih penting, daripada sekadar menanam pohon baru.

 

Pohon besar yang telah tumbuh puluhan tahun menyimpan karbon dalam biomassa yang tidak dapat langsung digantikan oleh bibit baru. Ketika hutan alam ditebang, proses pemulihan fungsi ekologisnya dapat membutuhkan waktu sangat panjang.

 

Indonesia's FOLU Net Sink 2030

 

Dalam konteks kebijakan nasional, perlindungan dan pemulihan ekosistem menjadi semakin strategis melalui program Indonesia's FOLU Net Sink 2030.

 

FOLU merupakan singkatan dari Forestry and Other Land Use. Konsep net sink berarti sektor kehutanan dan penggunaan lahan diharapkan mampu menyerap emisi lebih besar daripada emisi yang dilepaskannya.

 

Kebijakan Indonesia's FOLU Net Sink 2030 bertumpu pada tiga prinsip utama, yaitu pengelolaan hutan berkelanjutan, tata kelola lingkungan, dan tata kelola karbon. Programnya tidak hanya berupa penanaman pohon, tetapi juga mencakup pengurangan deforestasi dan degradasi hutan, pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan, restorasi gambut, konservasi keanekaragaman hayati, perhutanan sosial, serta peningkatan serapan karbon.

 

Pemerintah menargetkan kondisi FOLU Net Sink pada 2030 dengan kontribusi sektor kehutanan dan penggunaan lahan sebagai penyerap bersih emisi. Strateginya antara lain menghindari deforestasi, melakukan konservasi dan pengelolaan hutan secara lestari, melindungi serta merestorasi gambut, dan meningkatkan penyerapan karbon.

 

Dengan demikian, Gerakan Satu Juta Pohon dapat dipahami sebagai gerakan masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan agenda konservasi, restorasi ekosistem, dan mitigasi perubahan iklim nasional.

 

Dari "Menanam Pohon" Menjadi "Menumbuhkan Ekosistem"

 

Inilah perubahan cara berpikir yang sangat penting.

Gerakan penghijauan seharusnya tidak berhenti pada kegiatan: ambil bibit → buat lubang → tanam → foto → selesai.

 

Pendekatan seperti itu berisiko menghasilkan tingkat kematian bibit yang tinggi. Penanaman yang tidak memperhatikan kondisi ekologis juga dapat menyebabkan jenis tanaman tidak tumbuh optimal, membutuhkan biaya pemeliharaan besar, atau bahkan mengganggu ekosistem lokal.

 

Pendekatan yang lebih baik adalah:

pilih lokasi → identifikasi ekosistem → pilih spesies yang sesuai → tanam → pelihara → pantau → ukur keberhasilan → lakukan penyulaman → pastikan keberlanjutan.

 

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak lagi dihitung hanya berdasarkan jumlah bibit yang masuk ke tanah, tetapi berdasarkan tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan, peningkatan tutupan vegetasi, fungsi ekologis, karbon yang tersimpan, dan manfaat bagi masyarakat.

 

IPCC juga mengingatkan bahwa restorasi dan penghijauan dapat memiliki trade-off apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan pangan, keanekaragaman hayati, air, dan penggunaan lahan. Restorasi hutan alami dan ekosistem yang sesuai kondisi setempat pada umumnya memberikan manfaat ekologis yang lebih luas dibandingkan pendekatan penanaman yang hanya mengejar jumlah pohon.

 

Pohon Lokal untuk Ekosistem Lokal

 

Salah satu prinsip penting dalam gerakan penghijauan modern adalah "right tree, right place"—jenis pohon yang tepat pada tempat yang tepat.

 

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sehingga pemilihan spesies perlu memperhatikan karakteristik ekosistem. Hutan mangrove, misalnya, memerlukan pendekatan berbeda dengan hutan pegunungan, hutan rawa gambut, hutan dataran rendah, kawasan pesisir, maupun ruang terbuka perkotaan.

 

Untuk restorasi ekosistem, penggunaan jenis asli atau spesies yang sesuai dengan kondisi ekologis setempat dapat membantu mempertahankan karakter biodiversitas lokal. Pada saat yang sama, jenis pohon produktif dapat dipertimbangkan dalam sistem agroforestri apabila tujuannya juga meningkatkan pendapatan masyarakat.

 

Pendekatan seperti agroforestri memungkinkan pohon, tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan bahkan ternak dikelola dalam satu sistem yang saling mendukung. Dengan demikian, konservasi tidak harus diposisikan berlawanan dengan ekonomi masyarakat.

 

Hutan dan Keanekaragaman Hayati

 

Pohon merupakan fondasi penting bagi kehidupan satwa liar. Batang, cabang, daun, bunga, buah, dan akar menyediakan berbagai sumber makanan serta tempat berlindung.

 

Satu pohon dengan struktur tajuk yang kompleks dapat menyediakan habitat bagi berbagai organisme. Ketika pohon-pohon membentuk hutan, terbentuk jaringan ekologis yang jauh lebih kompleks.

 

Karena itu, penghijauan yang hanya menggunakan satu jenis pohon dalam jumlah sangat besar tidak selalu identik dengan restorasi ekosistem. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon; hutan adalah komunitas kehidupan.

 

Restorasi yang baik harus berupaya membangun kembali struktur dan fungsi ekosistem, termasuk interaksi antara tumbuhan, hewan, mikroorganisme, tanah, air, dan manusia.

 

Pohon dan Ketahanan terhadap Banjir serta Kekeringan

 

Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kejadian ekstrem di berbagai wilayah. Hujan sangat lebat dapat meningkatkan risiko banjir, sementara periode kering yang panjang dapat memperbesar risiko kekeringan dan kebakaran.

 

Ekosistem yang sehat membantu meningkatkan ketahanan terhadap kondisi tersebut. Hutan dan vegetasi dapat memperlambat aliran air, meningkatkan infiltrasi, mengurangi erosi, dan membantu mempertahankan kelembapan tanah.

 

Pada daerah aliran sungai, rehabilitasi vegetasi di bagian hulu dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan risiko banjir. Di wilayah perkotaan, pepohonan dan ruang hijau dapat dikombinasikan dengan infrastruktur drainase dan blue-green infrastructure.

 

Namun, vegetasi bukan pengganti infrastruktur pengendalian banjir. Solusi terbaik adalah kombinasi antara konservasi ekosistem, tata ruang, drainase yang baik, pengelolaan sungai, sistem peringatan dini, dan pengurangan risiko berbasis masyarakat.

 

Gerakan Satu Juta Pohon sebagai Gerakan Kesehatan

 

Lingkungan hijau juga memiliki hubungan dengan kualitas hidup manusia.

 

Pepohonan membantu menyaring sebagian partikulat dan polutan udara, menyediakan keteduhan, mengurangi panas, serta menciptakan ruang untuk aktivitas fisik dan rekreasi. Kawasan hijau yang dirancang dengan baik juga dapat meningkatkan kualitas ruang publik.

 

Dengan demikian, pohon bukan hanya instrumen lingkungan, tetapi juga bagian dari infrastruktur kesehatan masyarakat.

 

Kota yang memiliki taman, koridor hijau, jalur pejalan kaki yang dinaungi pepohonan, serta ruang publik yang nyaman pada dasarnya sedang membangun lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat.

 

Menanam Pohon sebagai Investasi Ekonomi

 

Gerakan menanam pohon juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi hijau.

Pohon produktif dapat menghasilkan buah, kayu, rempah, bahan obat, madu, pakan, dan berbagai produk non-kayu. Sistem agroforestri dapat memberikan pendapatan sambil menjaga fungsi ekologis.

 

Ekowisata juga dapat berkembang ketika hutan dan lanskap alami dipelihara dengan baik. Masyarakat dapat memperoleh pendapatan melalui jasa pemandu, produk lokal, penginapan, kuliner, kerajinan, dan jasa lingkungan.

 

Dengan demikian, paradigma yang perlu dibangun bukan:

lingkungan versus ekonomi,

melainkan:

lingkungan yang sehat sebagai fondasi ekonomi yang berkelanjutan.

 

Apa yang Dapat Dilakukan Masyarakat?

 

Peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon dapat diubah menjadi gerakan nyata yang sederhana tetapi konsisten.

 

Masyarakat dapat memulai dengan menanam pohon di halaman rumah, sekolah, kampus, kantor, fasilitas umum, kawasan ibadah, bantaran sungai yang sesuai, lahan desa, dan ruang publik. Tetapi kegiatan tersebut harus disertai pemeliharaan.

 

Satu pohon yang ditanam dan dirawat selama sepuluh tahun jauh lebih bernilai daripada puluhan bibit yang ditanam lalu mati beberapa minggu kemudian.

 

Sekolah dapat membuat "adopsi pohon", yaitu setiap siswa tidak hanya menanam satu pohon tetapi bertanggung jawab memantau pertumbuhannya. Desa dapat membuat peta pohon dan menetapkan kawasan prioritas penghijauan. Pemerintah daerah dapat mengembangkan koridor hijau dan ruang terbuka hijau berbasis ekologi.

 

Perusahaan dapat mengintegrasikan penghijauan ke dalam program keberlanjutan dan tanggung jawab sosial dengan sistem pemantauan yang transparan. Perguruan tinggi dapat mengembangkan metode pengukuran biomassa, karbon, biodiversitas, kualitas tanah, dan keberhasilan restorasi.

 

Dari Gerakan Seremonial Menjadi Gerakan Berbasis Data

 

Salah satu kelemahan program penghijauan adalah keberhasilan sering kali hanya dilaporkan berdasarkan jumlah bibit yang ditanam.

 

Padahal indikator yang lebih bermakna antara lain:

  1. jumlah bibit yang ditanam;
  2. persentase kelangsungan hidup;
  3. pertambahan diameter dan tinggi pohon;
  4. peningkatan tutupan vegetasi;
  5. peningkatan karbon biomassa;
  6. perbaikan kualitas tanah;
  7. perbaikan tata air;
  8. peningkatan keanekaragaman hayati;
  9. pengurangan suhu mikro;
  10. manfaat ekonomi bagi masyarakat.

 

Teknologi penginderaan jauh, citra satelit, drone, GPS, remote sensing, GIS, dan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk memantau perkembangan tutupan vegetasi.

Dengan demikian, gerakan satu juta pohon dapat dikembangkan menjadi sistem pemantauan ekologi nasional berbasis data.

 

Lima Langkah Implementasi Gerakan Pohon yang Lebih Efektif

 

Agar Gerakan Satu Juta Pohon benar-benar memberikan dampak, pendekatannya dapat disederhanakan menjadi lima tahap.

 

1. Petakan lokasi

Tentukan lahan prioritas berdasarkan tingkat degradasi, risiko erosi, kekurangan tutupan vegetasi, daerah tangkapan air, kebutuhan ruang hijau, dan kepentingan konservasi.

2. Pilih spesies yang sesuai

Gunakan spesies yang sesuai dengan ekosistem, kondisi tanah, ketersediaan air, tujuan rehabilitasi, serta kebutuhan masyarakat.

3. Tanam dengan teknik yang benar

Waktu penanaman, jarak tanam, kualitas bibit, lubang tanam, pemupukan awal, perlindungan dari gangguan ternak, dan pengendalian gulma perlu diperhatikan.

4. Rawat dan sulam

Bibit yang mati harus diganti. Pemeliharaan pada tahun-tahun awal sangat menentukan keberhasilan program.

5. Ukur hasilnya

Program harus memiliki indikator keberhasilan yang dapat diverifikasi. Pohon yang hidup adalah output; ekosistem yang pulih adalah outcome.

 

Tantangan yang Harus Diwaspadai

 

Gerakan penghijauan juga mempunyai sejumlah risiko apabila dilakukan secara tidak tepat.

Penanaman monokultur dalam skala besar dapat mengurangi keragaman habitat. Penanaman pada lokasi yang sebenarnya merupakan ekosistem terbuka alami juga dapat mengubah karakter ekosistem tersebut. Sementara itu, penggunaan jenis yang tidak sesuai dapat meningkatkan kebutuhan air atau pemeliharaan.

 

Karena itu, prinsip pentingnya adalah restorasi berbasis ekosistem, bukan sekadar penghijauan berbasis jumlah bibit.

 

IPCC menekankan bahwa manfaat mitigasi berbasis lahan sangat bergantung pada konteks lokal. Intervensi yang tepat dapat memberikan manfaat bagi biodiversitas, air, tanah, dan kesejahteraan, tetapi desain yang keliru dapat menimbulkan konflik penggunaan lahan dan dampak negatif terhadap ekosistem.

 

Agenda Gerakan Satu Juta Pohon 2026 dan Seterusnya

 

Memasuki dekade 2020-an, Gerakan Satu Juta Pohon perlu mendapatkan bentuk baru yang lebih ilmiah dan terukur.

 

Gerakan tersebut dapat diarahkan menjadi Gerakan Pohon Indonesia Berbasis Ekosistem, dengan lima agenda utama.

 

Pertama, melindungi pohon dan hutan yang masih ada. Pohon yang sudah besar tidak boleh dipandang sama dengan bibit yang baru ditanam.

 

Kedua, memulihkan ekosistem yang rusak. Kawasan hutan terdegradasi, daerah aliran sungai, mangrove, gambut, lahan kritis, dan ruang terbuka perkotaan memerlukan pendekatan yang berbeda.

 

Ketiga, memperluas agroforestri. Sistem produksi yang menggabungkan pohon dan pertanian dapat menjadi jembatan antara konservasi dan ekonomi masyarakat.

 

Keempat, membangun kota hijau. Penanaman pohon harus diintegrasikan dengan tata ruang, transportasi, drainase, kesehatan, dan ruang publik.

 

Kelima, membangun sistem monitoring karbon dan biodiversitas. Setiap program penghijauan harus dapat diketahui lokasinya, jenis tanamannya, tingkat keberhasilannya, serta manfaat ekologisnya.

 

Pendekatan ini sejalan dengan arah FOLU Net Sink Indonesia yang tidak hanya menekankan penanaman, tetapi juga pengurangan deforestasi, rehabilitasi, restorasi gambut, konservasi biodiversitas, perhutanan sosial, dan peningkatan serapan karbon.

 

Kesimpulan

 

Hari Gerakan Satu Juta Pohon bukan sekadar hari untuk menanam pohon. Hari ini adalah momentum untuk mengevaluasi hubungan manusia dengan alam.

 

Pohon membantu menyerap karbon, menghasilkan oksigen melalui fotosintesis, mengatur tata air, mengurangi erosi, menyediakan habitat, membantu mendinginkan lingkungan, dan mendukung kehidupan manusia serta satwa. Hutan dan ekosistem daratan juga mempunyai peran penting dalam mitigasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

 

Namun, menghadapi perubahan iklim tidak cukup dengan menanam pohon. Emisi harus dikurangi dari sumbernya, terutama melalui transformasi sistem energi, peningkatan efisiensi, pengembangan energi rendah karbon, transportasi berkelanjutan, pengelolaan industri yang lebih bersih, serta perlindungan hutan dan ekosistem.

 

Karena itu, pesan Hari Sejuta Pohon perlu diperluas dari:

"Mari menanam satu juta pohon."

menjadi:

"Mari melindungi pohon yang ada, menanam pohon yang tepat, merawatnya sampai tumbuh, memulihkan ekosistem, dan memastikan manfaatnya dirasakan generasi mendatang."

 

Pada akhirnya, keberhasilan gerakan ini bukan ditentukan oleh seberapa banyak bibit yang pernah ditanam, melainkan oleh seberapa banyak kehidupan yang berhasil kita pulihkan.

 

Satu pohon mungkin tampak kecil jika berdiri sendirian. Namun jutaan pohon yang tumbuh sehat, terhubung dalam ekosistem yang berfungsi, dapat menjadi benteng alami bagi tanah, air, keanekaragaman hayati, masyarakat, dan iklim. Itulah sebabnya menanam pohon hari ini pada hakikatnya adalah investasi untuk kehidupan Indonesia dan masa depan bumi.

 

Daftar Pustaka

 

  1. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change, Chapter 7—Agriculture, Forestry and Other Land Uses.
  2. IPCC. Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability—Cross-Chapter Paper 7: Tropical Forests.
  3. IPCC. Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability—Summary for Policymakers.
  4. IPCC. Climate Change 2023: Synthesis Report.
  5. Pemerintah Indonesia. Enhanced Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia.
  6. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Indonesia's FOLU Net Sink 2030.
  7. Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan. Indonesia's FOLU Net Sink 2030 dan Strategi Mitigasi Sektor Kehutanan.

 

#HariSejutaPohon

#Pohon

#PerubahanIklim

#FOLUNetSink

#Lingkungan