Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Vaksin. Show all posts
Showing posts with label Vaksin. Show all posts

Friday, 11 July 2025

Fakta Mengejutkan! Inilah Tantangan Terbesar Produksi Vaksin Skala Besar yang Jarang Diketahui Publik.


Fakta Mengejutkan tentang Tantangan Produksi Vaksin Skala Besar!

 

Semua orang bicara soal pentingnya vaksin—tapi tahukah Anda betapa rumit dan penuh tantangan proses pembuatannya? Efektivitas vaksin sebagai alat kesehatan masyarakat sangat bergantung pada distribusi luas ke jutaan orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Namun, di balik kemudahan satu kali suntik, tersembunyi proses produksi yang kompleks dan penuh hambatan: mulai dari teknologi canggih, penyimpanan ekstrem, hingga risiko kontaminasi. Artikel ini akan membongkar seluk-beluk produksi vaksin, dari tahap isolasi antigen hingga tantangan global rantai pasok—yang semuanya menentukan apakah vaksin bisa menyelamatkan jutaan nyawa atau gagal di tengah jalan.

 

Efektivitas vaksin sebagai alat kesehatan masyarakat bergantung pada pemberiannya secara luas kepada populasi besar, yang mencakup anak-anak dan dewasa. Hal ini memerlukan produksi vaksin dalam skala besar, suatu proses yang seringkali menghadirkan tantangan yang signifikan.

 

Tahapan Produksi Vaksin

 

Produksi vaksin melibatkan beberapa tahapan utama. Proses manufaktur ini meliputi:

• Persiapan Antigen (inaktivasi/atenuasi): Tahap ini berfokus pada pembuatan komponen antigen vaksin. Ini dapat melibatkan inaktivasi/pembunuhan patogen (misalnya, Hepatitis A, flu), pelemahannya, atau produksi komponen antigenik spesifik.

• Pemurnian: Antigen yang telah disiapkan kemudian dimurnikan untuk menghilangkan bahan yang tidak diinginkan dan memastikan kualitas serta keamanannya.

• Formulasi: Antigen yang telah dimurnikan dikombinasikan dengan bahan-bahan lain, seperti adjuvan (untuk meningkatkan respons imun), stabilisator (untuk mempertahankan potensi vaksin), dan pengawet (untuk mencegah kontaminasi bakteri), untuk membuat sediaan vaksin akhir.

 

Tantangan dalam produksi vaksin skala besar

 

Produksi vaksin menggunakan beragam teknologi yang beragam dan terus berkembang, mulai dari metode tradisional hingga pendekatan mutakhir seperti partikel mirip virus, vaksin mRNA, dan sistem berbasis tanaman.

 

Pengembangan vaksin modern memanfaatkan teknologi-teknologi baru ini untuk menciptakan vaksin yang lebih aman dan lebih efektif sekaligus meningkatkan stabilitas, formulasi, dan pengiriman [1].

 

Teknologi vaksin baru, seperti vaksin berbasis vektor virus dan asam nukleat, sangat penting untuk memungkinkan pengembangan yang cepat dan produksi skala besar guna memerangi ancaman pandemi dan bakteri yang resistan antibiotik [2] secara efektif.

 

Masing-masing teknologi baru ini menghadirkan tantangan dan keunggulan unik terkait keamanan, biaya, dan skalabilitas. Tantangan utama meliputi kompleksitas manufaktur, optimalisasi pengujian, dan keterbatasan kapasitas manufaktur global [3].

 

Misalnya, penggunaan vaksin berbasis mRNA secara global (misalnya, Pfizer, Moderna) saat ini dibatasi oleh persyaratan penyimpanan ultradingin. Hal ini menyoroti perlunya strategi untuk meningkatkan stabilitas pada suhu yang lebih tinggi, terutama untuk negara-negara dengan sumber daya terbatas [4]. Kegagalan dalam menangani masalah rantai pasokan vaksin secara memadai dapat secara signifikan mengurangi dampak dari vaksin yang paling efektif sekalipun [5].

 

Produksi antigen mikroba

 

Tahap awal produksi vaksin melibatkan pembuatan antigen dari mikroba target. Hal ini dapat dicapai melalui berbagai metode.

 

Virus, misalnya, dapat dikultur dalam sel primer, seperti telur ayam (seperti dalam produksi vaksin influenza), atau dalam galur sel atau sel manusia yang dikultur (misalnya, untuk Hepatitis A). Antigen bakteri, seperti yang digunakan dalam vaksin Haemophilus influenzae tipe b, seringkali diproduksi dalam bioreaktor.

 

Atau, antigen tersebut dapat berupa toksin atau toksoid yang berasal dari organisme (misalnya, difteri atau tetanus), atau dapat terdiri dari komponen spesifik mikroorganisme. Komponen-komponen ini, termasuk protein atau bagian lain, dapat diproduksi menggunakan teknologi rekombinan dalam sistem seperti khamir, bakteri, atau kultur sel. Vaksin hidup yang dilemahkan dibuat dengan melemahkan bakteri atau virus menggunakan metode seperti perlakuan kimia atau panas (misalnya, MMR, demam kuning).

 

Isolasi antigen

 

Setelah pembuatan antigen, antigen diisolasi dari sel atau media tempat antigen tersebut diproduksi. Virus hidup yang dilemahkan mungkin memerlukan pemurnian lebih lanjut yang minimal.

 

Namun, protein rekombinan biasanya menjalani prosedur pemurnian yang ekstensif, seringkali melibatkan ultrafiltrasi dan berbagai bentuk kromatografi kolom, sebelum layak untuk diberikan.

 

Adjuvan, penstabil, dan pengawet vaksin

 

Proses pengembangan dan produksi vaksin dapat menjadi tantangan karena potensi inkompatibilitas dan interaksi antara berbagai antigen dan komponen vaksin lainnya.

 

Setelah produksi dan pemurnian antigen, vaksin diformulasikan dengan menggabungkan antigen dengan adjuvan, penstabil, dan pengawet.

 

Adjuvan ditambahkan untuk meningkatkan respons imun terhadap antigen. Misalnya, adjuvan aluminium mencapai peningkatan ini dengan memodulasi fungsi sel sentinel, seperti makrofag dan sel dendritik, yang menginduksi polarisasi dan aktivasinya [6]. Stabilisator seperti laktalbumin hidrolisat-sukrosa (LS) atau trehalosa dihidrat (TD) memperpanjang masa simpan vaksin dengan mempertahankan titer virus yang dibutuhkan untuk periode yang lebih lama selama rekonstitusi [7].

 

Pengawet juga penting untuk meningkatkan masa simpan produk. Selain itu, pengawet seperti 2-fenoksietanol sangat penting untuk mencegah kontaminasi mikroba dalam vial vaksin multidosis [8].

 

Kontrol kualitas dan keamanan dalam pembuatan vaksin

 

Produk harus dilindungi dari kontaminasi udara, air, dan manusia. Sebaliknya, lingkungan harus dilindungi dari tumpahan antigen.

Oleh karena itu, perhatian yang cermat terhadap integritas produk dan keamanan lingkungan sangat penting dalam seluruh proses pembuatan vaksin.

 

REFERENSI

1.     Josefsberg, J., & Buckland, B. (2012). Vaccine process technology. Biotechnology and Bioengineering, 109. https://doi.org/10.1002/bit.24493.

2.     Rauch, S., Jasny, E., Schmidt, K., & Petsch, B. (2018). New Vaccine Technologies to Combat Outbreak Situations. Frontiers in Immunology, 9. https://doi.org/10.3389/fimmu.2018.01963.

3.     Ejeta, F. (2022). Challenges of Developing Novel Vaccines and Large Scale Production Issues. J Drug Res Dev, 8(2), 2470-1009. https://doi.org/10.16966/2470-1009.171.

4.     Uddin, M., & Roni, M. (2021). Challenges of Storage and Stability of mRNA-Based COVID-19 Vaccines. Vaccines, 9. https://doi.org/10.3390/vaccines9091033.

5.     Lee, B., & Haidari, L. (2017). The importance of vaccine supply chains to everyone in the vaccine world. Vaccine, 35 35 Pt A, 4475-4479. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2017.05.096.

6.     Danielsson, R., & Eriksson, H. (2021). Aluminium adjuvants in vaccines - A way to modulate the immune response. Seminars in cell & developmental biology. https://doi.org/10.1016/j.semcdb.2020.12.008.

7.     Sarkar, J., Sreenivasa, B., Singh, R., Dhar, P., & Bandyopadhyay, S. (2003). Comparative efficacy of various chemical stabilizers on the thermostability of a live-attenuated peste des petits ruminants (PPR) vaccine. Vaccine, 21 32, 4728-35. https://doi.org/10.1016/S0264-410X(03)00512-7.

8.     Khandke, L., Yang, C., Krylova, K., Jansen, K., & Rashidbaigi, A. (2011). Preservative of choice for Prev(e)nar 13™ in a multi-dose formulation. Vaccine, 29 41, 7144-53. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2011.05.074.

 

SUMBER:

Dr. Luis Vaschetto, Ph.D. Vaccine Production. https://www.news-medical.net/health/Vaccine-Production.aspx


#ProduksiVaksin 

#TeknologiVaksin 

#IndustriFarmasi 

#KesehatanGlobal 

#Bioteknologi

Saturday, 21 June 2025

Respons Imun Vaksin DNA



Vaksin DNA bekerja dengan cara mengirimkan DNA yang mengode antigen tertentu ke dalam tubuh, sehingga sel-sel tubuh memproduksi antigen tersebut. Antigen ini kemudian memicu respons imun, mirip seperti vaksin tradisional

 

Respons imun vaksin DNA yang mirip dengan vaksin konvensional, berikut adalah penjabaran lebih rinci:


1.Penghantaran dan Penyerapan:

  • Vaksin DNA biasanya diberikan melalui injeksi intramuskular (i.m.), alat tembak gen (gene gun), atau metode lainnya.
  • DNA, yang umumnya berbentuk plasmid, masuk ke dalam sel-sel jaringan tempat injeksi.
  • DNA ini diserap oleh berbagai jenis sel, termasuk sel otot dan sel penyaji antigen (APC) seperti sel dendritik dan makrofag.


2.Ekspresi Gen dan Produksi Antigen:

  • Setelah berada di dalam sel, DNA plasmid ditranskripsi menjadi messenger RNA (mRNA).
  • mRNA kemudian diterjemahkan menjadi protein antigen target, yaitu protein spesifik yang dirancang untuk memicu respons imun.
  • Antigen ini diproduksi di dalam sel inang.


3.Penyajian Antigen:

  • Antigen yang telah diproduksi kemudian diproses dan disajikan di permukaan sel, umumnya oleh molekul MHC (major histocompatibility complex).
  • Molekul MHC kelas I, yang ditemukan pada semua sel berinti, menyajikan antigen kepada sel T sitotoksik, yang dapat membunuh sel-sel yang terinfeksi antigen target.
  • Molekul MHC kelas II, yang terutama terdapat pada APC, menyajikan antigen kepada sel T penolong, yang membantu mengaktifkan sel imun lainnya.


4.Respons Imun:

  • Kompleks antigen-MHC di permukaan sel berinteraksi dengan sel T (baik penolong maupun sitotoksik).
  • Interaksi ini mengaktifkan sistem imun, yang menghasilkan antibodi dan mengaktifkan sel T yang dapat mengenali dan menghancurkan antigen.
  • Respons imun ini juga dapat melibatkan aktivasi sel B, yang memproduksi antibodi untuk menetralkan antigen target.


5.Respons Memori:

  • Respons imun terhadap vaksin DNA juga dapat menghasilkan sel memori, yang memberikan perlindungan jangka panjang terhadap paparan antigen di masa mendatang.
  • Sel memori ini dapat segera aktif dan memulai respons imun jika tubuh kembali mengalami paparan antigen tersebut.

 

Kesimpulan:

Vaksin DNA bekerja dengan memberikan cetak biru kepada tubuh untuk memproduksi antigen tertentu, yang kemudian memicu respons imun yang kuat dan tahan lama terhadap antigen tersebut.

Sunday, 8 June 2025

Vaksin DNA Terungkap! Teknologi Genetik yang Mengajari Tubuh Melawan Penyakit dari Dalam!



Vaksin DNA bekerja dengan cara mengantarkan DNA yang mengkode antigen tertentu ke dalam tubuh, sehingga mendorong sel-sel tubuh untuk memproduksi antigen tersebut. Antigen ini kemudian memicu respons imun, serupa dengan vaksin tradisional.

 

Berikut ini penjelasan rinci mengenai mekanismenya:

 

  1. Pengantaran dan Penyerapan:
  • Vaksin DNA umumnya diberikan melalui injeksi intramuskular (i.m.), alat penembak gen (gene gun), atau metode lainnya.
  • DNA, biasanya dalam bentuk plasmid, masuk ke dalam sel-sel jaringan tempat injeksi dilakukan.
  • DNA ini diserap oleh berbagai jenis sel, termasuk sel otot dan sel penyaji antigen (APC) seperti sel dendritik dan makrofag.
  1. Ekspresi Gen dan Produksi Antigen:
  • Setelah berada di dalam sel, DNA plasmid ditranskripsi menjadi RNA duta (mRNA).
  • mRNA tersebut kemudian diterjemahkan menjadi protein antigen target, yaitu protein spesifik yang dirancang untuk memicu respons imun.
  • Antigen ini diproduksi di dalam sel inang.
  1. Penyajian Antigen:
  • Antigen yang dihasilkan kemudian diproses dan disajikan di permukaan sel, biasanya oleh molekul MHC (major histocompatibility complex).
  • MHC kelas I, yang terdapat pada semua sel berinti, menyajikan antigen kepada sel T sitotoksik, yang dapat menghancurkan sel-sel yang mengandung antigen target.
  • MHC kelas II, yang terutama terdapat pada APC, menyajikan antigen kepada sel T helper, yang akan membantu mengaktifkan sel-sel imun lainnya.
  1. Respons Imun:
  • Kompleks antigen-MHC di permukaan sel akan berinteraksi dengan sel T (baik T helper maupun T sitotoksik).
  • Interaksi ini mengaktifkan sistem imun, yang kemudian menghasilkan antibodi dan mengaktifkan sel T yang dapat mengenali serta menghancurkan antigen.
  • Respons imun juga dapat melibatkan aktivasi sel B, yang memproduksi antibodi untuk menetralkan antigen target.
  1. Pembentukan Memori Imun:
  • Respons imun terhadap vaksin DNA juga dapat menghasilkan sel memori, yang memberikan perlindungan jangka panjang terhadap paparan antigen di masa depan.
  • Sel memori ini dapat dengan cepat diaktifkan dan memulai respons imun bila tubuh kembali menemukan antigen yang sama.


Kesimpulan:

Secara sederhana, vaksin DNA bekerja dengan memberikan "cetak biru" kepada tubuh untuk memproduksi antigen tertentu, yang kemudian akan memicu respons imun yang kuat dan tahan lama terhadap antigen tersebut.

 

#VaksinDNA 

#TeknologiVaksin 

#SistemImun 

#Bioteknologi 

#KesehatanModern

Vaksin Inaktif


Vaksin inaktif (atau vaksin mati) adalah jenis vaksin yang mengandung patogen (seperti virus atau bakteri) yang telah dimatikan atau diinaktivasi, sehingga tidak dapat bereplikasi atau menyebabkan penyakit. Sebaliknya, vaksin hidup menggunakan patogen yang masih hidup (namun hampir selalu dilemahkan atau attenuated). Patogen untuk vaksin inaktif dikembangkan dalam kondisi yang terkontrol dan dimatikan sebagai upaya untuk mengurangi infektivitas, sehingga mencegah infeksi akibat vaksin tersebut (1).

 

Vaksin inaktif pertama kali dikembangkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 untuk penyakit kolera, pes, dan tifus (2). Pada tahun 1897, ilmuwan Jepang mengembangkan vaksin inaktif untuk penyakit pes. Pada tahun 1950-an, Jonas Salk menciptakan vaksin inaktif untuk virus polio, yang menjadi vaksin pertama yang aman dan efektif melawan penyakit polio. Saat ini, vaksin inaktif tersedia untuk berbagai patogen, termasuk influenza, polio (IPV), rabies, hepatitis A, CoronaVac, Covaxin, dan pertusis (3)(4).

 

Karena patogen yang diinaktivasi cenderung menghasilkan respons imun yang lebih lemah dibandingkan patogen hidup, beberapa vaksin inaktif memerlukan adjuvan imunologis serta suntikan penguat (booster) berulang untuk menghasilkan respons imun yang efektif terhadap patogen tersebut (1)(5)(6). Vaksin hidup yang dilemahkan umumnya lebih disukai untuk individu yang sehat, karena satu dosis biasanya cukup aman dan sangat efektif. Namun, beberapa orang tidak dapat menerima vaksin hidup karena patogen masih terlalu berisiko bagi mereka (misalnya, lansia atau individu dengan imunodefisiensi). Bagi kelompok ini, vaksin inaktif dapat memberikan perlindungan [butuh referensi].

 

Mekanisme

Partikel patogen dimusnahkan dan tidak dapat bereplikasi, namun tetap mempertahankan sebagian integritasnya agar dapat dikenali oleh sistem imun dan memicu respons imun adaptif (7)(8). Bila diproduksi dengan benar, vaksin ini tidak menimbulkan infeksi, namun proses inaktivasi yang tidak sempurna dapat menyebabkan partikel patogen tetap utuh dan infeksius.

 

Ketika vaksin disuntikkan, antigen akan diambil oleh sel penyaji antigen (antigen-presenting cell/APC) dan dibawa ke kelenjar getah bening regional pada individu yang divaksinasi. APC akan menampilkan bagian dari antigen tersebut (epitop) di permukaannya bersama molekul kompleks histokompatibilitas utama (MHC). APC kemudian dapat berinteraksi dengan dan mengaktivasi sel T. Sel T penolong (helper T cell) yang dihasilkan akan merangsang respons imun yang dimediasi antibodi atau sel, dan membentuk respons adaptif yang spesifik terhadap antigen (9)(10). Proses ini membentuk memori imunologis terhadap patogen tertentu dan memungkinkan sistem imun merespons lebih cepat dan efektif saat terpapar kembali (7)(9)(10).

 

Vaksin inaktif cenderung menghasilkan respons imun yang terutama dimediasi oleh antibodi (3)(11). Namun, pemilihan adjuvan yang tepat dapat memungkinkan vaksin inaktif untuk merangsang respons imun yang lebih kuat yang dimediasi oleh sel (1)(8).

 

Dampak Sosial

Penggunaan vaksin inaktif telah membantu mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat penyakit seperti tetanus, difteri, dan pertusis, sehingga menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan stabil. Kesehatan masyarakat meningkat, terutama di negara maju yang memiliki cakupan vaksinasi tinggi, sehingga tercapai kekebalan kelompok (herd immunity) (12).

 

Penurunan angka kejadian penyakit seperti polio, hepatitis A, dan influenza mengurangi jumlah penderita penyakit yang melemahkan, sehingga meningkatkan produktivitas sosial. Keluarga tidak lagi harus merawat anggota keluarga yang menderita penyakit berat, dan anak-anak dapat bersekolah tanpa ketakutan tertular penyakit. Vaksin inaktif turut meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan masyarakat, sehingga vaksinasi menjadi praktik yang normal, seperti vaksin flu tahunan dan imunisasi anak rutin, terutama di negara-negara maju (12).

 

Jenis

Vaksin inaktif dapat dibedakan berdasarkan metode yang digunakan untuk mematikan patogen (5)(1):

  • Vaksin patogen utuh yang diinaktivasi, diproduksi dengan mematikan seluruh patogen menggunakan panas, bahan kimia, atau radiasi (6), meskipun hanya formaldehida dan beta-propiolakton yang secara luas digunakan dalam vaksin manusia (13)(14).
  • Vaksin virus terpecah (split virus), diproduksi dengan menggunakan deterjen untuk mengganggu selubung virus (5)(15). Teknik ini umum digunakan dalam pengembangan banyak vaksin influenza (16).

 

Sebagian kecil sumber menggunakan istilah vaksin inaktif secara luas untuk mencakup semua vaksin non-hidup. Berdasarkan definisi ini, vaksin inaktif juga mencakup vaksin subunit dan vaksin toksoid (3)(9).

 

Contoh

Jenis vaksin inaktif meliputi (17):

  • Viral:
    • Vaksin polio suntik (vaksin Salk)
    • Vaksin hepatitis A
    • Vaksin rabies
    • Sebagian besar vaksin influenza
    • Vaksin ensefalitis akibat gigitan kutu (tick-borne encephalitis)
    • Beberapa vaksin COVID-19: CoronaVac, Covaxin, QazVac, Sinopharm BIBP, Sinopharm WIBP, TURKOVAC, CoviVac
  • Bakterial:
    • Vaksin tifus suntik
    • Vaksin kolera
    • Vaksin pes
    • Vaksin pertusis sel utuh (whole-cell pertussis)

 

Kelebihan dan Kekurangan

 

Kelebihan:

  • Patogen yang diinaktivasi lebih stabil dibandingkan patogen hidup. Stabilitas ini memudahkan penyimpanan dan distribusi vaksin inaktif (9)(18)(19).
  • Tidak seperti vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin inaktif tidak dapat kembali menjadi bentuk virulen dan menyebabkan penyakit (7)(11). Misalnya, terdapat beberapa kasus langka di mana virus polio hidup dalam vaksin oral polio (OPV) menjadi virulen kembali, sehingga vaksin polio inaktif (IPV) menggantikan OPV di banyak negara yang telah mengendalikan transmisi virus polio liar (7)(10).
  • Tidak seperti vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin inaktif tidak bereplikasi dan tidak dikontraindikasikan untuk individu dengan gangguan sistem imun (7)(8)(9).
  • Tidak seperti vaksin hidup yang dilemahkan, vaksin inaktivasi tidak dapat bereplikasi dan tidak dikontraindikasikan bagi individu dengan gangguan sistem imun (7)(8)(9).

 

Kekurangan

·    Vaksin inaktivasi memiliki kemampuan yang lebih rendah dalam menghasilkan respons imun yang kuat untuk memberikan kekebalan jangka panjang dibandingkan dengan vaksin hidup yang dilemahkan. Oleh karena itu, adjuvan dan suntikan penguat (booster) sering kali diperlukan untuk membentuk dan mempertahankan kekebalan yang protektif (3)(11)(18).

·   

P   Ada pembuatan vaksin yang berasal dari organisme utuh yang dimatikan, patogen harus dikultur terlebih dahulu dan kemudian diinaktivasi. Proses ini memperlambat produksi vaksin jika dibandingkan dengan vaksin genetik (7)(10)(9).

·  

    Vaksin inaktivasi cenderung menghasilkan kekebalan yang kurang tahan lama, sehingga sering kali membutuhkan beberapa dosis, yang dapat menjadi tantangan dalam kesehatan masyarakat. Sebagai contoh, vaksin influenza memerlukan pembaruan dan pemberian ulang setiap tahun, sementara vaksin hepatitis A biasanya memerlukan dua dosis yang diberikan dalam rentang waktu enam bulan.

 

 

Referensi

  1. Petrovsky N, Aguilar JC (October 2004). "Vaccine adjuvants: current state and future trends". Immunology and Cell Biology. 82 (5): 488–496. doi:10.1111/j.0818-9641.2004.01272.xPMID 15479434S2CID 154670.
  2. Plotkin SA, Plotkin SL (October 2011). "The development of vaccines: how the past led to the future". Nature Reviews. Microbiology. 9 (12) (published 2011-10-03): 889–893. doi:10.1038/nrmicro2668PMID 21963800S2CID 32506969.
  3.  Wodi AP, Morelli V (2021). "Chapter 1: Principles of Vaccination" (PDF). In Hall E, Wodi AP, Hamborsky J, Morelli V, Schilllie S (eds.). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (14th ed.). Washington, D.C.: Public Health Foundation, Centers for Disease Control and Prevention.
  4. Brown, Jonathan (1997). The History of Medicine: A Scandalously Short Introduction (1st ed.). W.W. Norton & Company. pp. 1–530. ISBN 978-0-393-31611-7.
  5.  WHO Expert Committee on Biological Standardization (19 June 2019). "Influenza". World Health Organization (WHO). Retrieved 22 October 2021.
  6.  "Types of Vaccines". Vaccines.gov. U.S. Department of Health and Human Services. 23 July 2013. Archived from the original on 9 June 2013. Retrieved 16 May 2016.
  7.  Vetter V, Denizer G, Friedland LR, Krishnan J, Shapiro M (March 2018). "Understanding modern-day vaccines: what you need to know". Annals of Medicine. 50 (2): 110–120. doi:10.1080/07853890.2017.1407035PMID 29172780S2CID 25514266.
  8.  Slifka MK, Amanna I (May 2014). "How advances in immunology provide insight into improving vaccine efficacy". Vaccine. 32 (25): 2948–2957. doi:10.1016/j.vaccine.2014.03.078PMC 4096845PMID 24709587.
  9.  Pollard AJ, Bijker EM (February 2021). "A guide to vaccinology: from basic principles to new developments". Nature Reviews. Immunology. 21 (2): 83–100. doi:10.1038/s41577-020-00479-7PMC 7754704PMID 33353987.
  10.  Karch CP, Burkhard P (November 2016). "Vaccine technologies: From whole organisms to rationally designed protein assemblies". Biochemical Pharmacology. 120: 1–14. doi:10.1016/j.bcp.2016.05.001PMC 5079805PMID 27157411.
  11.  Pecetta, Simone; Ahmed, S. Sohail; Ellis, Ronald; Rappuoli, Rino (2023). "Technologies for Making New Vaccines". Plotkin's Vaccines. pp. 1350–1373.e9. doi:10.1016/B978-0-323-79058-1.00067-0ISBN 978-0-323-79058-1.
  12.  Oshinsky, David M. (2005). Polio: An American Story. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-515294-4.[page needed]
  13. Sanders B, Koldijk M, Schuitemaker H (2015). "Inactivated Viral Vaccines". Vaccine Analysis: Strategies, Principles, and Control. pp. 45–80. doi:10.1007/978-3-662-45024-6_2ISBN 978-3-662-45023-9PMC 7189890S2CID 81212732.
  14. Hotez, Peter J.; Bottazzi, Maria Elena (27 January 2022). "Whole Inactivated Virus and Protein-Based COVID-19 Vaccines". Annual Review of Medicine. 73 (1): 55–64. doi:10.1146/annurev-med-042420-113212ISSN 0066-4219PMID 34637324S2CID 238747462.
  15. Chen J, Wang J, Zhang J, Ly H (2021). "Advances in Development and Application of Influenza Vaccines". Frontiers in Immunology. 12: 711997. doi:10.3389/fimmu.2021.711997PMC 8313855PMID 34326849.
  16. Gemmill I, Young K, et al. (National Advisory Committee on Immunization (NACI)) (May 2018). "Summary of the NACI literature review on the comparative effectiveness and immunogenicity of subunit and split virus inactivated influenza vaccines in older adults". Can Commun Dis Rep. 44 (6): 129–133. doi:10.14745/ccdr.v44i06a02PMC 6449119.
  17. Ghaffar A, Haqqi T. "Immunization". Immunology. The Board of Trustees of the University of South Carolina. Archived from the original on 26 February 2014. Retrieved 2009-03-10.
  18.  Clem AS (January 2011). "Fundamentals of vaccine immunology". Journal of Global Infectious Diseases. 3 (1): 73–78. doi:10.4103/0974-777X.77299PMC 3068582PMID 21572612.
  19. "Inactivated whole-cell (killed antigen) vaccines - WHO Vaccine Safety Basics". vaccine-safety-training.org. World Health Organization (WHO). Retrieved 2021-11-11.

 

Vaksin hidup yang dilemahkan


Vaksin hidup yang dilemahkan bekerja dengan cara memasukkan bentuk virus atau bakteri yang telah dilemahkan dan dimodifikasi (disebut antigen) yang menyebabkan penyakit. Antigen ini memicu respons imun dalam tubuh, sehingga tubuh belajar mengenali dan melawan penyakit yang sebenarnya jika suatu saat terpapar. Bentuk patogen yang dilemahkan memungkinkan sistem imun membentuk memori yang kuat tanpa menyebabkan penyakit secara utuh.

 

Berikut penjelasan lebih rinci mengenai mekanismenya:

 

1.     Pelemahan patogen:

Vaksin hidup yang dilemahkan dibuat dengan mengambil virus atau bakteri tipe liar dan melemahkannya di laboratorium, biasanya melalui proses pengkulturan berulang. Proses pelemahan ini disebut atenuasi, yang bertujuan agar vaksin aman untuk diberikan, namun tetap mampu merangsang respons imun.

 

2.     Replikasi dan penyajian antigen:

Patogen yang dilemahkan akan bereplikasi di dalam tubuh orang yang divaksinasi, tetapi tidak menyebabkan penyakit berat. Selama proses replikasi ini, sel-sel imun tubuh mengenali antigen dari patogen yang dilemahkan, baik yang ditampilkan di permukaan sel yang terinfeksi maupun yang dilepaskan ke dalam aliran darah.

 

3.     Respons sistem imun:

Sistem imun mengenali antigen tersebut sebagai benda asing dan mulai merespons. Respons ini mencakup produksi antibodi dan aktivasi sel T, yang sangat penting untuk membentuk kekebalan jangka panjang.

 

4.     Pembentukan sel memori:

Sistem imun juga membentuk sel memori yang "mengingat" antigen spesifik dari patogen yang dilemahkan. Sel memori ini dapat dengan cepat mengenali dan menetralisasi patogen jika sewaktu-waktu masuk kembali ke dalam tubuh, sehingga memberikan perlindungan yang tahan lama terhadap penyakit.

 

5.     Kekebalan jangka panjang:

Sel memori dapat bertahan dalam tubuh selama bertahun-tahun, memungkinkan terjadinya respons imun yang cepat dan kuat saat terjadi paparan ulang terhadap patogen penyebab penyakit yang sebenarnya. Inilah prinsip dasar vaksinasi, yaitu melatih tubuh untuk melindungi diri dari penyakit tertentu tanpa harus mengalami gejala penyakit yang sebenarnya.

 

x