Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts

Saturday, 6 September 2025

Ledakan Emosi Warganet Saat Protes Agustus 2025


Polarisasi kelas dan sentimen anti-elit politik yang mencuat dalam protes publik Agustus 2025 bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Fenomena ini mencerminkan ketegangan sosial yang sudah lama terpendam. Analisis terbaru dari Monash Data & Democracy Research Hub menunjukkan bagaimana emosi, toksisitas, dan polarisasi berkembang dalam percakapan digital seputar aksi protes yang berlangsung pada 25–31 Agustus 2025.

 

Dari hampir 10 juta percakapan di media sosial dan pemberitaan, peneliti mengkaji 13.780 unggahan asli (bukan retweet atau share) untuk menangkap suara warganet yang autentik. Hasilnya cukup menarik: sebagian besar unggahan (70,9%) bersifat non-toksik, sementara 29,1% lainnya mengandung ujaran toksik. Lonjakan percakapan toksik terutama terjadi pada 28–30 Agustus 2025, bertepatan dengan eskalasi kekerasan di lapangan, khususnya setelah peristiwa tragis yang menewaskan pengemudi ojek online, Affan Kurniawan.

 

Selain toksisitas, sekitar 20% percakapan juga mengandung unsur polarisasi. Namun, penting dicatat bahwa polarisasi ini tidak sepenuhnya lahir dari ujaran toksik, melainkan berakar pada ketegangan kelas sosial. Pola serupa sudah terdeteksi sejak Pemilu 2024 dan Pilkada, ketika narasi publik kerap membelah antara kelompok yang mempunyai hak istimewa atau privilese (elit politik, pejabat, pemilik akses ekonomi) dan kelompok pekerja atau masyarakat menengah bawah (buruh, ojek online, kelas rentan). Protes Agustus 2025 kembali mempertegas gambaran ini: elit digambarkan hidup penuh privilese, sementara masyarakat bawah menjadi korban kebijakan maupun kekerasan aparat.

 

Dari sisi emosi, percakapan publik didominasi oleh rasa marah (47,3%). Namun ada juga emosi percaya (11,3%) dan antisipasi (10,8%) yang menunjukkan bahwa polarisasi bisa menjadi sarana mobilisasi solidaritas, bukan sekadar perpecahan. Artinya, polarisasi di ruang digital tidak selalu negatif. Ia juga bisa berfungsi sebagai perekat komunitas rentan yang mencari jalan keluar bersama.

 

Emosi publik sendiri bergerak dinamis. Pada awal aksi, warga lebih banyak mengekspresikan antisipasi. Puncaknya, kemarahan meledak pada 28–30 Agustus, bercampur dengan rasa sedih, takut, dan terkejut. Media sosial berperan sebagai ruang utama artikulasi emosi kolektif, memperkuat narasi “rakyat versus elit,” sekaligus memperluas basis protes. Dalam konteks Gerakan 17+8, misalnya, kemarahan yang sebelumnya mendominasi justru berubah menjadi rasa gembira (joy) dan sentimen netral, ketika aksi diarahkan pada solusi konkret dan solidaritas simbolik. Inilah bukti bahwa emosi kolektif bisa dikelola menjadi energi positif.

 

Jika dilihat dalam rentang waktu lebih panjang, sejak September 2023 hingga Agustus 2025, tampak dua sumbu utama polarisasi: pertama, ketegangan kelas antara kelompok berprivilese dan kelas pekerja; kedua, sentimen anti-elit atau anti-dinasti politik. Pola ini konsisten muncul sejak Pemilu dan Pilkada 2024 hingga akhirnya mencapai puncaknya dalam protes terbaru. Akar masalahnya jelas: gaya hidup mewah sebagian elit politik yang dipertontonkan di tengah kesulitan ekonomi rakyat.

 

Dengan demikian, protes Agustus 2025 bukanlah anomali atau gerakan yang digerakkan pihak asing. Ia merupakan akumulasi frustrasi yang sudah lama tumbuh di masyarakat, setidaknya dalam dua tahun terakhir. Mengabaikan sinyal ini hanya akan memperlebar jurang legitimasi dan memperdalam krisis kepercayaan antara rakyat dan pemerintah.

 

Karena itu, ada beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan. Pertama, pemerintah harus berani mengakui adanya masalah: ketegangan kelas sosial dan jarak antara rakyat dengan elit politik. Kedua, berikan respons nyata dan transparan, bukan sekadar janji atau represi. Tindakan konkret jauh lebih mampu memulihkan kepercayaan. Ketiga, hentikan simbolisme kemewahan di ruang publik. Di saat rakyat menghadapi kesulitan ekonomi, glorifikasi gaya hidup pejabat hanya memperburuk luka sosial. Keempat, sediakan saluran aspirasi yang aman dan akuntabel agar masyarakat merasa suaranya didengar dan tidak lagi menumpuk dalam bentuk frustrasi.

 

Jika langkah-langkah ini ditempuh, protes publik bisa menjadi cermin berharga untuk memperbaiki relasi negara dan rakyat, sekaligus membangun ruang digital yang lebih sehat dan konstruktif.

 

Kesimpulan


Protes publik Agustus 2025 seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ledakan kemarahan, tetapi juga sebagai panggilan hati rakyat yang ingin didengar. Di balik riuhnya emosi dan polarisasi di ruang digital, terdapat kerinduan akan keadilan, transparansi, dan kepedulian. Polarisasi yang muncul bukan semata-mata perpecahan, tetapi juga tanda bahwa masyarakat masih peduli dan mau bersuara demi perubahan.

 

Bagi pemerintah, momentum ini adalah kesempatan untuk merangkul, bukan menjauh. Mengakui adanya masalah bukanlah kelemahan, melainkan wujud kebijaksanaan. Dengan keterbukaan dan langkah nyata, kepercayaan yang sempat retak bisa kembali pulih. Bagi masyarakat, suara kritis yang disampaikan dengan cara damai akan lebih kuat dalam menggerakkan perubahan dibandingkan dengan ekspresi marah yang mudah disalahartikan.

 

Pada akhirnya, baik pemerintah maupun rakyat memiliki tujuan yang sama: kehidupan yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat. Jika kemarahan bisa diubah menjadi dialog, dan kritik bisa diterima sebagai masukan, maka polarisasi justru bisa menjadi energi yang menyatukan. Protes ini bukanlah akhir dari perpecahan, melainkan awal dari kemungkinan baru—sebuah kesempatan untuk memperbaiki relasi antara rakyat dan pemimpinnya.

 

Sumber Referensi:

Derry Wijaya & Ika Idris dkk. Jejak Emosi dan Polarisasi Sosial di Ruang Digital: Analisis Protes Publik Agustus 2025. Monash Data & Democracy Research Hub.

Tuesday, 2 September 2025

Strategi Jitu Dakwah Digital Yang Efektif

 


Di era digital, dakwah tak lagi terbatas pada mimbar masjid atau majelis taklim. Jutaan orang kini menghabiskan waktunya di ruang maya—berselancar di YouTube, menggulir TikTok, hingga berdiskusi di Instagram. Fakta terbaru mencatat lebih dari 170 juta penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial, mayoritas adalah generasi muda berusia 15–34 tahun. Angka ini menunjukkan satu hal: ladang dakwah terbesar hari ini bukan hanya di lapangan terbuka, melainkan di layar-layar gawai. Allah SWT pun berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik...” (QS. An-Nahl: 125). Maka, siapa yang mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak, dialah yang bisa menyampaikan Islam secara lebih efektif, efisien, dan tetap menebarkan kasih sayang sebagai rahmatan lil‘alamin.

 

1. Dakwah Digital di Era Sekarang: Efektivitas dan Keunggulan

Di zaman sekarang, dakwah tak lagi sekadar berdiri di atas mimbar masjid. Teknologi membuka kemungkinan menyebarkan pesan Islam ke seluruh dunia—cepat, murah, fleksibel—mengubah dakwah menjadi lebih efektif dan efisien. Allah SWT mengamanatkan dalam Qur’an:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik...” (QS. An-Nahl: 125)

 

2. “Pasar Pengaruh” Media Sosial—Ladang Subur Dakwah Digital

Data terbaru menunjukkan: Indonesia memiliki lebih dari 170 juta pengguna aktif media sosial, dan lebih dari 60% di antaranya adalah generasi muda berusia 15–34 tahun. Ini menjadikan ruang digital sebagai ladang strategis untuk dakwah.

Selama Ramadan 2024, Populix mencatat peningkatan konsumsi data internet sekitar 40%, utamanya untuk narsip, pesan, dan akses konten digital. Ini memperlihatkan bagaimana masyarakat makin bergantung pada media digital, termasuk untuk konten keagamaan.

 

3. Konten Interaktif & Intelijen: Menarik dan Mencerahkan

Dalam kalangan mahasiswa, konten dakwah favorit adalah yang singkat, visual, dan interaktif. Pendekatan ini mendukung gaya belajar generasi muda yang cepat dan visual.

Sebuah survei kuantitatif-kualitatif terhadap remaja dan pemuda (18–30 tahun) menunjukkan korelasi yang kuat: semakin sering konsumsi konten dakwah digital, semakin meningkat pengetahuan dan sikap keagamaan mereka (r = 0,68; p < 0,01).

 

4. Dampak pada Keagamaan—Data Nyata di Lapangan

Skripsi dari UIN SUSKA Riau menyebut: 60,73% intensitas menonton dakwah di TikTok termasuk ‘cukup kuat’, sementara 85,76% keagamaan mahasiswa termasuk ‘sangat kuat’, menunjukkan pengaruh signifikan konsumsi konten dakwah digital terhadap keagamaan.

Di SMK Negeri Gudo, korelasi penggunaan media sosial konten dakwah dengan pemahaman agama sangat tinggi (r = 0,859), dengan kontribusi penjelasan terhadap pemahaman hingga 73,7%.

 

5. Tantangan: Literasi Digital dan Etika Dakwah

Meski membawa banyak manfaat, dakwah digital tidak lepas dari tantangan. Banyak konten keagamaan yang beredar tanpa dasar ilmiah kuat—potensi hoaks dan misinformasi tinggi.

Etika dakwah menjadi krusial. Rasulullah SAW mengingatkan:

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, diperlukan tim dakwah digital: penyusun materi, editor, fact-checker, dan moderator, agar pesan tetap akurat dan bertanggung jawab.

 

6. Kolaborasi dan Sinergi: Memperkuat Pesan Dakwah

Kolaborasi antara dai digital, influencer, dan komunitas adalah strategi efektif. Hal ini sesuai prinsip Islam:

“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan...” (QS. Al-Maidah: 2)

Kolaborasi menciptakan sinergi yang memperluas jangkauan pesan dakwah dengan tetap bersahabat dengan kultur generasi muda.

 

7. Teknologi vs Kehadiran Manusia: Keseimbangan yang Harmonis

Meski AI dan guru digital semakin menjanjikan, sentuhan manusia—empati, keteladanan, rasa—tak tergantikan. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21)

Dakwah modern terbaik adalah yang menggabungkan kehangatan insan dan kecanggihan teknologi.

 

8. Kesimpulan: Dakwah Digital sebagai Keniscayaan Strategis

  • Efektif: Platform digital menjangkau luas dengan biaya minim dan fleksibilitas maksimal.
  • Efisien: Konten singkat dan visual menaikkan engagement dan pemahaman.
  • Berbasis Data: Survei membuktikan: konsistensi konsumsi konten berdakwah mendongkrak pemahaman dan keyakinan keagamaan dengan signifikan.
  • Tata Kelola: Harus diimbangi dengan literasi digital, kredibilitas konten, dan etika dakwah.


Sebagai penutup, firman Allah:

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (QS. Fussilat: 33)

Dengan strategi yang tepat—menggabungkan teknologi dan sentuhan hati—dakwah modern dapat menjadi sarana transformasi umat, menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil‘alamin di era digital. Islam hadir untuk menebarkan kedamaian, menumbuhkan kasih sayang, serta membawa manfaat bagi seluruh manusia dan alam semesta.

Terungkap! Kisah Heroik Penaklukan Khaibar


Bayangkan sebuah benteng kokoh yang berdiri megah di tengah padang pasir, dijaga oleh pasukan bersenjata lengkap dan terkenal sulit ditaklukkan. Namun, dengan izin Allah, benteng itu akhirnya runtuh di hadapan pasukan Muslim yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Inilah kisah Penaklukan Khaibar, sebuah peristiwa bersejarah yang bukan hanya mengisahkan kemenangan militer, tetapi juga memperlihatkan kebijaksanaan Nabi dalam menegakkan keadilan, menjaga keamanan umat, dan mengokohkan dakwah Islam di jazirah Arab. Dari strategi yang matang hingga peran heroik Ali bin Abi Thalib, peristiwa ini menyimpan pelajaran berharga bagi umat Islam sepanjang zaman.

 

Penaklukan Khaibar adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Peristiwa ini terjadi pada tahun 7 Hijriah (628 M) ketika Rasulullah SAW memimpin kaum Muslimin menaklukkan benteng-benteng Yahudi di Khaibar. Kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan militer, tetapi juga menjadi tonggak dakwah Islam dalam menegakkan keadilan, menepis ancaman, dan meneguhkan kekuatan umat di Jazirah Arab.

 

Latar Belakang

 

Pengkhianatan dan Ancaman

Kaum Yahudi yang tinggal di Khaibar sebenarnya pernah menjalin perjanjian damai dengan Rasulullah SAW. Namun, mereka kemudian melakukan pengkhianatan. Mereka terlibat dalam Perang Ahzab dengan memberikan dukungan kepada musuh Islam dan berusaha memprovokasi suku-suku Arab agar menyerang Madinah. Pengkhianatan ini jelas menjadi ancaman besar bagi kaum Muslimin, karena bisa meruntuhkan stabilitas keamanan di Madinah yang baru tumbuh sebagai pusat dakwah Islam.

 

Penegasan Kekuatan Islam

 

Rasulullah SAW memahami bahwa ancaman ini tidak bisa dibiarkan. Penaklukan Khaibar menjadi langkah penting untuk menundukkan musuh yang berulang kali melanggar perjanjian. Selain itu, penaklukan ini juga berfungsi untuk mengamankan wilayah Madinah dari potensi serangan di masa depan, sekaligus memperlihatkan bahwa Islam adalah kekuatan baru yang harus dihormati di Jazirah Arab.

 

Jalannya Pertempuran

 

Strategi dan Kejutan Musuh

Rasulullah SAW memimpin sekitar 1.600 pasukan menuju Khaibar dengan strategi penuh kerahasiaan. Tujuannya adalah mengejutkan pasukan Yahudi sebelum mereka sempat meminta bantuan dari kabilah lain. Kehadiran pasukan Muslim yang tiba-tiba membuat kaum Yahudi kelabakan, sehingga mereka tidak memiliki cukup waktu untuk memperkuat pertahanan benteng mereka.

 

Pengepungan Benteng

Pasukan Muslim kemudian mengepung benteng-benteng Khaibar yang terkenal kokoh. Pertempuran berlangsung sengit, karena setiap benteng memiliki persediaan makanan dan air yang cukup, sehingga musuh dapat bertahan lama. Namun, dengan keteguhan hati, kesabaran, serta strategi yang matang, pasukan Muslim mampu mempersempit ruang gerak lawan hingga akhirnya benteng demi benteng mulai ditaklukkan.

 

Peran Ali bin Abi Thalib

Puncak pertempuran terjadi ketika Ali bin Abi Thalib RA memimpin serangan terhadap benteng utama. Ali yang saat itu sedang dalam keadaan matanya sakit, disembuhkan oleh Rasulullah SAW dengan doanya, lalu diberi panji perang. Dengan keberanian luar biasa, Ali memimpin pasukan Muslim dan berhasil menaklukkan benteng utama Khaibar. Peristiwa ini menjadi titik balik kemenangan besar kaum Muslimin.

 

Hasil dan Perjanjian

 

Kemenangan Umat Islam

Akhirnya, kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Mereka berhasil merebut harta rampasan perang berupa senjata, tanah, dan kekayaan yang sangat membantu memperkuat umat Islam di Madinah. Namun, kemenangan ini tidak diikuti dengan dendam atau kebengisan. Rasulullah SAW tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

 

Perjanjian Damai

Kaum Yahudi Khaibar akhirnya menyerah dan meminta perdamaian. Rasulullah SAW menyetujui perjanjian dengan syarat mereka diperbolehkan tetap tinggal di Khaibar, namun harus menyerahkan sebagian hasil pertanian mereka dan membayar jizyah (pajak) kepada kaum Muslimin. Dengan perjanjian ini, keamanan umat Islam lebih terjamin, sementara kaum Yahudi tetap bisa melanjutkan hidup dengan syarat tunduk pada aturan Islam.

 

Dampak Perang Khaibar

 

Penegasan Kekuatan Islam

Penaklukan Khaibar menjadi bukti nyata bahwa Islam semakin kuat dan tidak bisa diremehkan. Posisi umat Islam di Jazirah Arab semakin kokoh, sehingga banyak suku lain yang mulai mempertimbangkan untuk menjalin hubungan baik dengan Rasulullah SAW.

 

Ketenangan Masyarakat Madinah

Dengan berkurangnya ancaman dari musuh, masyarakat Madinah menjadi lebih tenang dan stabil. Rasulullah SAW pun dapat lebih fokus mengembangkan dakwah Islam, memperluas ajaran, dan mempersiapkan langkah-langkah besar berikutnya dalam misi kerasulannya.

 

Pelajaran Penting dari Penaklukan Khaibar

 

Kisah ini mengajarkan bahwa setiap pengkhianatan harus dihadapi dengan tegas, namun tetap dengan menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada senjata, tetapi juga pada kebijakan, strategi, dan akhlak mulia.

 

Sunday, 6 July 2025

Jepang Terkagum Sumbangsih Mohammad Natsir



Kisah Pak Natsir yang Tidak Pernah Diceritakan dalam Sejarah.

 

Tak ada yang menyangka, wafatnya Mohammad Natsir, ulama sederhana dan mantan Perdana Menteri RI, meninggalkan duka yang begitu dalam bagi bangsa Jepang. Bahkan, Perdana Menteri Jepang saat itu menyebut kepergiannya sebagai "ledakan bom atom ketiga yang jatuh tepat di Tokyo." Apa sebenarnya hubungan tersembunyi antara Pak Natsir dan penyelamatan industri Jepang yang nyaris runtuh akibat embargo minyak dunia? Generasi Melineal dan Z perlu mengetahui sejarah ini.

 

Mohammad Natsir atau Pak Natsir, begitu orang sering memanggil beliau, adalah sebuah nama panggilan yang biasa untuk siapa saja, menunjukkan kesederhanaan hidup beliau. Saya mungkin termasuk generasi paling akhir dari da’i Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang masih mendapatkan didikan langsung dari beliau walau tidak lama, sejak 1991, dan beliau meninggal Februari 1993.

 

Saat mendengar mantan Perdana Menteri RI kelima meninggal kesedihan mendalam bagi seluruh kader dan da’i Dewan Da’wah. Saat itu sayapun langsung pergi ka kantor Dewan Dakwah Jawa Timur Jalan Purwodadi, dekat kuburan Mbah Ratu.

 

Sudah cukup banyak warga Dewan Dakwah berkumpul untuk mengkonfirmasi berita meninggalnya Pak Natsir. Saat itu, saya duduk di dekat telepon yang berfungsi sebagai faksimile, mode teknologi paling canggih pada waktu itu untuk mengirim dokumen.

 

Telepon berdering tak henti-henti dari berbagai daerah menanyakan kabar meninggalnya Pak Natsir kala itu. Tiba-tiba  adalah sebuah faksimile masuk. Pesan tersebut datang dari Perdana Menteri Jepang Keiici Miyazawa.

 

“Wah Perdana Menteri Jepang nampaknya telah mendengar juga berita meninggalnya Pak Natsir dan mengirimkan ucapan duka,” demikian guman saya dalam hati.

 

Semua pesan faksimile itu nampak tercetak. Saya tidak sabar membaca ucapan dukanya.

 

“Mendengar Muhammad Natsir meninggal, serasa Jepang mendapatkan serangan Bom Atom ke-3 yang tepat jatuh di tengah Kota Tokyo. Duka yang sangat mendalam bagi kami seluruh bangsa Jepang,” demikian bunyi ucapan tersebut.

 

Saya kaget sekali saya mebaca ucapan itu. Saya segera memotong kertas faks yang lembek itu dan saya sampaikan pada Ketua DDII Jatim (alm) H. Tamat Anshori Ismail.

 

Namun Pak Tamat meminta saya membacakan dengan keras pesan tersebut di hadapan jamaah agar semua mendengar. “Maksum kamu baca lagi supaya semua yang berkumpul di situ mendengar,” katanya.

 

Semua orang terdiam setelah pesan dari Keiici Miyazawa saya baca. Saya bertanya kepada Pak Tamat, ada cerita dan hubungan apa antara Pak Natsir dengan Bangsa Jepang, Pak?

 

Pak Tamat menjawab datar saja. “Pak Natsir kan mantan perdana menteri, jadi ya mungkin pernah ada hubungan diplomatik yang spesial dengan Jepang, “ begitu gitu saja jawabnya.

 

Saya kurang puas dengan jawaban Pak Tamat. Saya lanjutkan rasa penasaran ini kepada banyak tokoh yang lebih senior dan lebih sepuh.

 

Salah satunya adalah Ketua Dewan Syura Dewan Da’wah Jatim yang juga Ketua MUI Jatim kala itu, KH Misbach. Sayangnya, Kiai Misbach juga tidak bisa menjelaskan maksud di balik ucapan PM Miyazawa.

 

Sungguh aneh ini, ucapan duka yang luar biasa, dan tidak biasa, pasti ada kisah yang luar biasa, begitu guman saya dalam hati.  Akhirnya saya menyimpan pertanyaan itu lebih dari 10 tahun dan tidak ada satupun tokoh yang bisa menjelaskan makna ucapan itu.

 

Embargo, Raja Faisal dan M. Natsir

 

Tahun 2003, saya berkenalan dengan diplomat Jepang di Jakarta. Namanya Hamada San.

 

Saya sering nggobrol dan ngopi bersama dia. Suatu ketika, sampailah obrolan pada aktivitas saya dll.

 

Saya bercerita jika aktif di organisasi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang didirikan Pak Natsir, namun saya generasi terakhir yang pernah dididik langsung Pak Natsir.

 

Tanpa saya duga, Hamada San berdiri tegak di samping saya, lalu membungkuk-bungkuk memberi hormat. Tentu saya kaget, ada apa Hamada San sampai berbuat seperti itu?

 

Setelah itu ia duduk dan lama terdiam, sambil matanya menerawang. “Apakah kamu tahu nama Laksamana Maeda?” katanya.

“Ya, saya tahu.”

“Apakah kamu tahu namanya Nakasima San?”

“Wah saya tidak tahu.”

“Apakah kamu pernah mengdengar nama Raja Faisal dari Saudi?”

“Ya saya tahu.”

“Mereka adalah nama-nama yang punya hubungan spesial dengan (alm) Mohammad Natsir,” ujar Hamada San.

 

Hamada San adalah diplomat senior Jepang yang sudah puluhan tahun bertugas di Indonesia. Dia sangat mencintai Indonesia, salah satunya adalah karena kisah yang akan dia ceritakan kepada saya.

Karena itulah dia tidak mau pindah-pindah tugas dan tetap berada di Indonesia hingga puluhan tahun.

 

Sebelum Hamada San bercerita dengan beberapa bekal nama Laksamana Maeda, Nakasima (Nakajima San), Raja Faisal dan Muhammad Natsir, saya teringat peristiwa 10 tahun lampau, tentang faksimil PM Jepang Keiici Miyazawa.

 

Kepada Hamada San, saya ceritakan tentang bunyi faks ucapan duka cita dari PM Jepang Miyazawa tersebut. “Ada cerita apa sehingga PM Miyazawa sampai membuat ucapan duka sedemikan dramatis dan dahsyat begitu”?

 

Hamada San semakin tajam memandang saya, lalu sedikit meninggikan suaranya. “Kamu baca ucapan duka cita PM Miyazawa itu? Kamu benar-benar murid Pak Natsir kalau gitu, tidak salah dan kamu tidak bohong bahwa kamu adalah murid Pak Natsir, karena tidak banyak yang tahu hingga menyimpan memori selama itu hingga 10 tahun kamu masih ingat  bunyi ucapan duka cita itu,” demikian kata dia.

 

Akhirnya, Hamada San bercerita. Jepang pada waktu itu mengalami situasi sulit akibat embargo minyak bumi.

 

Industri Jepang hampir kolaps. Semua industri butuh bahan bakar dari minyak bumi, tapi Jepang di embargo oleh Amerika Serikat (AS).

 

Berbagai upaya dilakukan pemerintah Jepang untuk mendapatkan pasokan minyak bumi, tapi embargo Amerika membuat semua negara tidak ada yang berani menjual minyak ke Jepang.

 

Untuk mendapatkan pasokan minyak bumi, Laksamana Maeda menyarankan melakukan melakukan lobi internasional.

 

Namun bagi bangsa Jepang, Laksamana Maeda adalah pengkhianat dan tidak menjalankan perintah Kaisar Jepang. Dia dianggap telah memberikan ruang untuk Bung Karno yang telah membuat teks proklamasi kemerdekaan, juga menyerahkan senjata-senjata Nippon pada para pejuang kemerdekaan RI.

 

Karena itu kehidupan Laksmana Maeda setelah kembali ke Jepang sangat menyedihkan. Selain mendapat hukuman, dia juga dicopot dari dinas militer serta tidak mendapatkan pensiun, demikian kata Hamada.

 

Namun melihat kondisi Industri Jepang yang hampir kolaps, Laksmana Maeda memberikan usul dan nasehat pada pemerintah dan menyarankan untuk mengirim utusan ke Indonesia.

 

Laksamana Maeda mengusulkan agar pemerintah Dai Nippon mengirim utusan ke Indonesia dan menemui seseorang yang sedang di penjara. Namanya Muhammad Natsir, yang tidak lain tokoh Partai Masyumi.

 

Laksamana Maeda meminta utusan Jepang menceritakan kesulitan ini dan meminta agar Pak Natsir bersedia melobi Raja Arab Saudi (Raja Faisal kala itu), agar bersedia mengirim minyaknya ke Jepang, kata Hamada.

 

Menurut Hamada, sebenarnya pemerintah Jepang tidak begitu percaya dengan usulan Maeda. Namun karena berbagai cara telah ditempuh dan tidak mendapatkan hasil, apapun upaya yang masih bisa di lakukan akan dicoba.

 

Akhirnya pemerintah Jepang menugaskan orang yang namanya Nakajima  San untuk menyampaikan pesan PM Jepang pada Pak Natsir. Menurut Hamada San, misi ini sebenarnya tidak terlalu diharapkan berhasil, sebab menemui orang di dalam penjara untuk melakukan sesuatu hal besar tidaklah mungkin.

 

Nakajima pun terbang ke Indonesia dan atas bantuan banyak pihak akhirnya ia bisa bertemu Pak Natsir di penjara. Nakajima menyampaikan pesan Pemerintah Jepang agar Pak Natsir bisa membantu Jepang mendapatkan pasokan minyak dari Arab Saudi.

 

Kala itu Pak Natsir tidak menanggapi dan tidak berkata apa-apa terhadap permintaan pemerintah Jepang itu. Beliau, katanya cuma bertanya apakah Nakajima San membawa kertas dan pulpen.

 

Lalu tidak lama, Nakajima menyerahkan selembar kertas dan pulpen kepada Pak Natsir. Lalu Pak Natsir menulis dalam kertas itu pesan berbahasa Arab yang tidak panjang, kurang lebih hanya setengah halaman, dan melipatnya.

 

Pak Natsir menyampaikan pada Nakajima agar membawa surat ini pada Raja Arab Saudi, Raja Faisal. Nakajima tidak tahu apa isi surat tersebut,  apalagi itu berbahasa Arab.

 

Namun berbekal secarik kertas dari Pak Natsir, PM Jepang mengabarkan pada diplomat Jepang di Arab Saudi bahwa ada utusan Pak Natsir dari Indonesia yang akan menghadap Raja Faisal.

 

Arab Saudi yang sangat menghormati (alm) Mohammad Natsir menyambut baik serta menunggu kehadiran orang Jepang yang membawa pesan dari Pahlawan Nasional tersebut.  Nakajima San sampai di Arab Saudi disambut baik bak tamu negara dan dengan mudah bisa bertemu Raja Faisal dan menyerahkan surat dari Pak Natsir.

 

Raja Faisal membaca surat Pak Natsir dan langsung memenuhi permintaan dalam surat itu, yakni mengirim minyak ke Jepang. Kepada Nakajima, Pemerintah Arab Saudi berjanji segera mengirimkan minyak melalui Indonesia, yang akan melibatkan Pertamina.

 

Nakajima terperangah tidak percaya, kata Hamada San. Hanya sepucuk surat yang dia tidak tahu isinya dari seseorang yang mendekam di penjara dan Jepang akan mendapatkan pasokan minyak dari “Raja Minyak Dunia”.

 

Cerita kemudian berlanjut pada realisasi pengiriman minyak dari Arab Saudi  melalui Pertamina. Karena itulah sebabnya Pertamina menjadi perusahaan yang sangat besar di Jepang, pernah menjadi pembayar pajak terbesar di Jepang, karena Pertamina menjadi pensuplai minyak bagi Industri Jepang atas jasa Pak Natsir.

 

Selanjutnya Industri Jepang bangkit berbagai industri otomotif merajaii pasar dunia sebut saja Honda, Toyota, Suzuki, Mitsubishi dll. Industri Jepang bangkit atas jasa baik Pak Natsir, kata Hamada.

 

Menolak Hadiah Jepang

 

Yang tidak kalah menarik, yang membuat bangsa Jepang sangat menaruh hormat pada Pak Natsir, tidak ada satupun hadiah dari pemerintah Jepang yang diterima Pak Natsir, semua hadiah yang diberikan Jepang dikembalikan, (ndah neo kalo pimpinan jaman now) hingga negara itu kesulitan untuk bisa memberikan imbal balas jasanya.

 

Hal ini  karena beliau (M Natsir) telah berpesan pada keluarganya untuk tidak menerima apapun dari pemerintah Jepang. Beliau bahkan tidak pernah bercerita tentang surat penting itu pada siapapun di Indonesia.

 

Itulah sebabnya tidak ada tokoh Indonesia atau tokoh Dewan Da’wah sekalipun yang tahu tentang kisah itu.

 

Karena itu pulalah pemerintah Jepang sangat berduka yang sangat dalam saat Pak Natsir meninggal dunia. Bukan hanya pemerintah, tapi bangsa Jepang merasa ada “ledakan bom atom ke 3” yang di jatuhkan tepat di Kota Tokyo mendengar Mohammad Natsir, yang juga pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi ini meninggal dunia.

 

“Itu bukan ucapan dramatis seperti kamu bilang. Itulah perasaan hati kami bangsa Jepang atas meninggalnya Mohammad Natsir waktu itu, “ kata Hamada San mengakhiri cerita.

 

Saya mendengarkan kisah itu tanpa sedikitpun menyela. Saya hanya diam terpaku, mendengarkan penjelasan yang tertunda selama 10 tahun lamanya.

 

Mohammad Natsir, adalah seorang ulama, politikus, pejuang kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional. Mantan sebagai presiden Liga Muslim Dunia (World Muslim League) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia ini mungkin agak kurang dikenal di kalangan generasi milenial.

 

Yang tidak kalah penting, pemegang 3 gelar Doktor (HC.) adalah orang di balik gagasan kembalinya Indonesia menjadi Negara Kesatuan, 73 tahun yang lalu, sebelum banyak orang berteriak “Saya NKRI” dan ‘saya Pancasila’.

 

Kala itu, tokoh Partai Masyumi ini mengajukan gagasan penting, yakni kembalinya Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), setelah sebelumnya Indonesia hidup dalam Republik Indonesia Serikat (RIS).

 

Setelah berbulan-bulan melakukan pembicaraan dengan pemimpin fraksi, sekaligus melakukan lobi untuk menyelesaikan berbagai krisis di daerah, Mohammad Natsir berpidato mengajak seluruh negara bagian bersama-sama mendirikan negara kesatuan melalui prosedur parlementer, yakni melalui Mosi Integral pada 3 April 1950.

 

Berkat perjuangan Pak Natsir, Parlemen RIS menerima mosi dan meminta pemerintah segera melakukan langkah-langkah untuk membentuk negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR). Pidatonya kemudian dikenal dengan “Mosi Integral M Natsir”.

 

SUMBER:

Agus Maksum (Pengurus DDII, Jawa Timur). 2023. Kisah Pak Natsir yang Tidak Pernah Diceritakan dalam Sejarah. Dewandakwahjatim.com.


Monday, 23 June 2025

Tanamkan Tauhid ke Anak VS Gempuran Konten Digital


Anak Kita Terancam! Konten Digital Merajalela, Saatnya Tanamkan Tauhid Sejak Dini


Di tengah derasnya arus informasi dan gempuran konten digital yang tidak semuanya mendidik, para orang tua milenial dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menanamkan nilai-nilai akidah Islam yang lurus kepada anak-anak sejak dini? Jawabannya adalah tauhid, inti dari ajaran Islam yang wajib ditanamkan sejak anak masih kecil, bahkan sejak mereka mulai bisa berbicara dan memahami.

 

Tauhid adalah Pondasi Kehidupan Seorang Muslim


Tauhid bukan sekadar pelajaran di sekolah atau materi hafalan. Tauhid adalah keyakinan dasar yang menjadi fondasi bagi seluruh ibadah dan perilaku seorang Muslim. Tanpa tauhid yang lurus, amal sebesar apapun bisa tertolak. Allah Swt berfirman: "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Makna dari "beribadah kepada-Ku" adalah mentauhidkan Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam setiap bentuk peribadatan.

 

Anak Perlu Tahu: Siapa Allah dan Di Mana Allah?


Pertanyaan mendasar yang harus kita tanamkan kepada anak adalah: dari mana kita mengambil akidah kita? Jawabannya adalah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan dari budaya, mimpi, atau logika semata. Kita perlu menanamkan dengan bahasa sederhana bahwa Allah itu berada di atas ‘Arsy, sebagaimana firman-Nya: "Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy." (QS. Thaha: 5)

Kata istiwa' dalam ayat tersebut bermakna "berada di ketinggian", menunjukkan keagungan dan kekuasaan Allah yang Maha Tinggi, tidak sama dengan makhluk-Nya.

 

Ajarkan Makna Kalimat Tauhid Sejak Dini


Anak-anak harus sejak awal mengenal kalimat Laa ilaaha illallah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Kalimat ini bukan sekadar ucapan, tapi makna yang perlu dijelaskan: bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya.

 

Ibadah yang paling agung adalah bertauhid dan menjauhkan diri dari syirik, yaitu menyekutukan Allah. Syirik adalah dosa paling besar yang tidak diampuni jika tidak bertaubat. Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. An-Nisa: 48)

 

Mengenalkan Jenis-Jenis Tauhid dengan Bahasa Anak


Tauhid terbagi menjadi tiga:


1.Tauhid Rububiyah: meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta.

2.Tauhid Uluhiyah: mengesakan Allah dalam ibadah yaitu doa, shalat, berkurban, bersujud hanya kepada-Nya.

3.Tauhid Asma’ wa Shifat: menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya.


"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

 

Jangan Ajarkan Konsep yang Keliru tentang Allah


Banyak anak hari ini lebih mengenal karakter fiksi daripada mengenal Allah. Maka orang tua harus menjelaskan bahwa Allah tidak serupa dengan apapun, tidak bisa dibayangkan bentuk-Nya, dan hanya dapat dikenali melalui wahyu-Nya. Jauhkan anak dari kisah-kisah dongeng atau animasi yang bisa mengaburkan konsep ketuhanan yang benar.

 

Tanamkan Makna Hari Akhir dan Rasa Tanggung Jawab


Anak juga harus memahami bahwa setelah mati akan ada hari kebangkitan, ketika manusia dihidupkan kembali untuk dihisab amalnya. Ini akan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Allah Swt berfirman: "Katakanlah: ‘Justru demi Rabbku, sungguh kamu akan benar-benar dibangkitkan’." (QS. At-Taghabun: 7)

 

Ajak Anak Mencintai Islam, Iman, dan Ihsan


Ajarkan kepada anak bahwa Islam adalah tunduk dan taat kepada Allah dengan penuh ketauhidan, Iman adalah keyakinan yang hidup dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Ihsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah. "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihatmu." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Waspadai Syirik Modern di Era Digital


Di zaman digital ini, bentuk-bentuk syirik bisa tersamar: mempercayai ramalan online, menggantungkan nasib pada zodiak, memakai jimat digital, hingga kultus terhadap tokoh. Semua ini adalah bentuk penyimpangan dari tauhid. Tanamkan bahwa menyembelih hewan kurban atau sujud hanya boleh untuk Allah, dan melakukannya kepada selain-Nya adalah syirik besar.

 

Penutup: Tugas Mulia Orang Tua Milenial


Menanamkan tauhid sejak dini adalah bentuk cinta sejati orang tua kepada anak. Bukan hanya mempersiapkan mereka untuk sukses dunia, tetapi juga untuk selamat di akhirat. Mulailah dengan mengenalkan Allah, ajarkan doa-doa pendek, cerita para nabi, dan bacakan Al-Qur’an bersama. Gunakan media digital dengan bijak untuk memperkuat akidah, bukan merusaknya.


Ingatlah, masa depan anak tidak di tangan teknologi, tapi di tangan orang tua yang paham pentingnya tauhid.