Analisis Kritis Urgensi Revisi
ISO/PWI TS 25402: Evaluasi Keandalan Aktivitas Antivirus pada Permukaan
Berlapisan Nano Non-Poros
ABSTRAK
Pandemi COVID-19 telah mengubah
paradigma pengendalian penyakit menular dengan menempatkan permukaan benda
(fomite) sebagai salah satu komponen penting dalam strategi mitigasi transmisi
patogen. Walaupun penularan melalui aerosol diakui sebagai jalur dominan untuk
berbagai virus respiratori, keberadaan virus infeksius pada permukaan yang
sering disentuh tetap menjadi perhatian karena dapat berkontribusi terhadap
transmisi tidak langsung, terutama di rumah sakit, fasilitas transportasi
publik, sekolah, industri pangan, dan ruang publik dengan intensitas kontak
tinggi (WHO, 2024; CDC, 2024). Kondisi tersebut mendorong berkembangnya
teknologi pelapis nano (nanocoating) yang memanfaatkan nanopartikel logam,
oksida logam, karbon dua dimensi, maupun material hibrida untuk menghasilkan
aktivitas antivirus yang bersifat pasif maupun aktif. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa material berbasis perak (Ag), tembaga (Cu), titanium dioksida (TiO₂),
seng oksida (ZnO), serta graphene dan turunannya mampu menginaktivasi virus
melalui mekanisme pelepasan ion logam, pembentukan reactive oxygen species
(ROS), kerusakan protein kapsid atau amplop virus, hingga degradasi materi
genetik virus (Rai et al., 2021; Sportelli et al., 2020; Weiss et al., 2021).
Perkembangan pesat teknologi
tersebut memunculkan kebutuhan akan metode evaluasi yang tidak hanya mengukur
efektivitas antivirus pada kondisi laboratorium, tetapi juga mampu menilai
keandalan (reliability), daya tahan (durability), serta keamanan material
selama siklus hidup penggunaannya. Sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut,
ISO/TC 229 Nanotechnologies mengembangkan dokumen ISO/PWI TS 25402 mengenai
evaluasi keandalan aktivitas antivirus pada permukaan non-poros berlapis nano.
Meskipun merupakan langkah strategis menuju harmonisasi metode pengujian
internasional, status dokumen yang masih berada pada tahap Preliminary Work
Item (PWI) menunjukkan bahwa berbagai aspek metodologis masih memerlukan
penyempurnaan sebelum diadopsi sebagai Technical Specification (TS)
maupun standar internasional yang lebih mapan.
Artikel ini bertujuan melakukan
kajian kritis terhadap urgensi revisi ISO/PWI TS 25402 dengan menelaah
kesenjangan metodologis yang masih terdapat dalam rancangan standar tersebut.
Analisis difokuskan pada tiga isu utama, yaitu belum diintegrasikannya simulasi
penuaan lingkungan (environmental weathering), keterbatasan representasi
virus uji yang masih didominasi virus surrogate tertentu, serta belum adanya
protokol kuantitatif mengenai pelepasan nano-objek (nanoparticle leaching)
selama masa penggunaan. Selain itu, artikel ini membahas pentingnya pendekatan
evaluasi berbasis surface life-cycle reliability yang mengombinasikan
karakterisasi fisik, kimia, biologis, dan toksikologis sehingga mampu
merepresentasikan kondisi penggunaan nyata (real-world application).
Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan reproduksibilitas antar
laboratorium, memperkuat validitas ilmiah, mendukung keselamatan lingkungan dan
kesehatan manusia, serta mempercepat harmonisasi regulasi global bagi
komersialisasi teknologi pelapis nano antivirus.
Kata Kunci: ISO/PWI
TS 25402; nanocoating; aktivitas antivirus; reliability evaluation;
environmental weathering; nanoparticle leaching; ISO/TC 229; standardisasi
nanoteknologi.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pandemi dan Pentingnya Permukaan
Antivirus
Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan
salah satu peristiwa kesehatan masyarakat terbesar dalam sejarah modern yang
mengubah secara fundamental paradigma pengendalian penyakit infeksi. Selain
menyebabkan jutaan kematian di seluruh dunia, pandemi juga mengungkap
pentingnya pendekatan multidisiplin dalam mengendalikan penyebaran patogen
melalui udara, kontak langsung, maupun kontak tidak langsung dengan permukaan
benda (fomites) (WHO, 2024). Pengalaman selama pandemi menunjukkan bahwa
fasilitas pelayanan kesehatan, transportasi umum, sekolah, bandar udara, pusat
perbelanjaan, industri pangan, dan berbagai ruang publik memiliki kepadatan
interaksi manusia yang tinggi sehingga menjadi lokasi dengan potensi paparan
patogen yang signifikan (Prather et al., 2020; Morawska & Cao, 2020).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa virus mampu
bertahan pada permukaan non-poros selama beberapa jam hingga beberapa hari
bergantung pada jenis virus, suhu, kelembapan relatif, paparan cahaya
ultraviolet, komposisi permukaan, serta keberadaan bahan organik di lingkungan
(van Doremalen et al., 2020; Riddell et al., 2020). Walaupun berbagai otoritas
kesehatan internasional saat ini menyatakan bahwa transmisi melalui aerosol
merupakan jalur utama bagi SARS-CoV-2, keberadaan virus infeksius pada
permukaan tetap menjadi perhatian dalam konteks pengendalian infeksi, khususnya
pada lingkungan dengan tingkat kontaminasi tinggi seperti ruang isolasi rumah
sakit, laboratorium diagnostik, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
(CDC, 2024; WHO, 2024).
Pendekatan konvensional untuk mengurangi kontaminasi
permukaan masih didominasi oleh penggunaan disinfektan kimia seperti etanol,
natrium hipoklorit, hidrogen peroksida, senyawa amonium kuartener, maupun
kombinasi surfaktan. Walaupun efektif, strategi tersebut memiliki sejumlah
keterbatasan. Efektivitasnya sangat bergantung pada frekuensi aplikasi,
konsentrasi bahan aktif, waktu kontak, keterampilan operator, dan kepatuhan
terhadap prosedur pembersihan. Setelah proses disinfeksi selesai, permukaan kembali
rentan mengalami rekontaminasi hanya dalam hitungan menit akibat kontak manusia
secara terus-menerus (Kampf et al., 2020; Otter et al., 2013).
Kondisi tersebut mendorong
berkembangnya konsep permukaan aktif antivirus (self-disinfecting antiviral
surfaces), yaitu material yang secara intrinsik mampu menghambat,
menonaktifkan, atau menghancurkan virus tanpa memerlukan intervensi kimia
berulang. Teknologi ini dipandang sebagai lapisan perlindungan tambahan (supplementary
intervention) yang dapat melengkapi praktik kebersihan konvensional tanpa
menggantikannya (WHO, 2024; EPA, 2024). Dengan demikian, pelapis antivirus
tidak hanya dipandang sebagai inovasi material, tetapi juga sebagai bagian dari
strategi mitigasi risiko biologis yang berkelanjutan.
Perkembangan teknologi tersebut
memperoleh momentum besar selama pandemi karena meningkatnya kebutuhan akan
material yang mampu mempertahankan aktivitas antivirus dalam jangka panjang.
Berbagai industri mulai mengembangkan pegangan pintu, panel lift, meja operasi,
rel tempat tidur pasien, layar sentuh, perangkat elektronik, kemasan pangan,
hingga sistem filtrasi udara yang dilapisi material nano antivirus. Nilai pasar
global untuk pelapis antimikroba dan antivirus diproyeksikan terus meningkat
seiring meningkatnya perhatian terhadap biosekuriti, kesiapsiagaan pandemi, dan
pembangunan fasilitas publik yang lebih higienis (Grand View Research, 2024;
MarketsandMarkets, 2024).
Namun demikian, peningkatan adopsi
komersial juga memunculkan tantangan baru. Klaim aktivitas antivirus yang
diajukan oleh produsen sering kali didasarkan pada hasil pengujian laboratorium
dengan kondisi yang sangat terkontrol, sedangkan performa material di lapangan
dapat dipengaruhi oleh abrasi mekanis, paparan sinar ultraviolet, perubahan
suhu dan kelembapan, penggunaan bahan pembersih, serta degradasi kimia akibat
pemakaian jangka panjang. Oleh karena itu,
evaluasi terhadap keandalan aktivitas antivirus (reliability of
antiviral activity) menjadi aspek yang semakin penting dalam pengembangan
standar internasional (ISO/TS 23302:2021; OECD, 2022).
1.2 Perkembangan Nanocoating Antivirus
Kemajuan nanoteknologi selama dua dekade terakhir telah
membuka peluang baru dalam rekayasa permukaan fungsional. Berbeda dengan
pelapis konvensional, nanocoating memanfaatkan material berukuran 1–100 nm yang
memiliki luas permukaan spesifik tinggi, sifat elektronik unik, serta
reaktivitas kimia yang meningkat sehingga mampu menghasilkan aktivitas biologis
yang lebih efektif dibandingkan material dalam skala mikro (ISO 80004-1:2023;
ISO/TS 80004-2:2015).
Material berbasis nanopartikel logam merupakan kelompok
yang paling banyak dipelajari. Nanopartikel perak (AgNPs) diketahui memiliki
aktivitas antivirus yang luas melalui pelepasan ion Ag⁺ yang berinteraksi
dengan gugus sulfhidril protein virus, mengganggu integritas amplop virus,
menghambat proses pelekatan (attachment), serta menghambat replikasi
materi genetik virus (Rai et al., 2021; Jeremiah et al., 2020). Demikian pula,
nanopartikel tembaga (Cu dan CuO) mampu menghasilkan spesies oksigen reaktif
yang mempercepat inaktivasi virus melalui oksidasi lipid membran, denaturasi
protein, serta degradasi RNA virus (Warnes et al., 2015; Grass et al., 2011).
Titanium dioksida (TiO₂) menjadi salah satu material
fotokatalitik yang banyak dikembangkan karena mampu menghasilkan radikal
hidroksil (•OH) dan superoksida (O₂•⁻) ketika terpapar cahaya ultraviolet
maupun cahaya tampak setelah dilakukan modifikasi struktur kristal atau doping
unsur tertentu. ROS yang dihasilkan mampu merusak protein struktural virus,
mengoksidasi lipid amplop, dan menginaktivasi materi genetik secara simultan
(Nakano et al., 2012; Foster et al., 2011). Selain TiO₂, seng oksida (ZnO) juga
menunjukkan aktivitas antivirus melalui kombinasi pelepasan ion Zn²⁺ dan
pembentukan ROS, dengan efektivitas yang dilaporkan terhadap berbagai virus
respiratori maupun enterik (Sirelkhatim et al., 2015).
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian peneliti juga
beralih pada material karbon dua dimensi seperti graphene oxide (GO), reduced
graphene oxide (rGO), carbon quantum dots, serta nanokomposit berbasis
graphene-logam. Material tersebut memiliki kemampuan merusak membran virus
melalui mekanisme kontak langsung, adsorpsi permukaan, maupun efek fototermal
sehingga memberikan alternatif baru terhadap penggunaan logam berat dalam
pelapis antivirus (Palmieri & Papi, 2020; Weiss et al., 2021).
Selain material tunggal, perkembangan terbaru mengarah
pada sistem nanokomposit multifungsi yang menggabungkan beberapa mekanisme
antiviral sekaligus. Kombinasi Ag/TiO₂, Cu/ZnO, graphene-Ag, maupun struktur core-shell
nanoparticles memungkinkan peningkatan efisiensi antivirus, stabilitas
kimia, dan daya tahan mekanis dibandingkan material tunggal (Sportelli et al.,
2020; Talebian et al., 2023). Strategi ini juga memungkinkan optimasi aktivitas
pada kondisi pencahayaan rendah maupun lingkungan dengan kelembapan tinggi yang
sering dijumpai pada fasilitas pelayanan kesehatan.
Walaupun demikian, efektivitas biologis bukan
satu-satunya parameter keberhasilan nanocoating. Dalam konteks aplikasi dunia
nyata, keberhasilan suatu pelapis antivirus juga ditentukan oleh stabilitas
adhesi terhadap substrat, ketahanan terhadap abrasi, resistensi terhadap bahan
kimia pembersih, kestabilan fotokimia, serta rendahnya pelepasan nanopartikel
ke lingkungan selama masa pakai. Dengan demikian, evaluasi performa material
harus dilakukan secara komprehensif sepanjang siklus hidup produk, bukan hanya
pada kondisi awal setelah fabrikasi (Nowack et al., 2023; OECD, 2022).
1.3 Peran Standardisasi Internasional dalam Evaluasi
Aktivitas Antivirus
Perkembangan pesat nanoteknologi telah melahirkan ribuan
formulasi material baru dengan karakteristik fisik, kimia, dan biologis yang
sangat beragam. Tanpa adanya metode evaluasi yang terstandarisasi, hasil
pengujian aktivitas antivirus yang diperoleh dari berbagai laboratorium menjadi
sulit dibandingkan secara ilmiah. Perbedaan jenis virus uji, metode inokulasi,
waktu kontak, kondisi lingkungan, teknik enumerasi virus, hingga metode
analisis statistik dapat menghasilkan variasi hasil yang sangat besar sehingga
menghambat interpretasi ilmiah maupun proses regulasi (OECD, 2022; ISO
80004-1:2023).
Dalam konteks tersebut, standardisasi internasional
memiliki peran strategis untuk menyediakan bahasa teknis yang seragam,
meningkatkan reproduksibilitas hasil penelitian, memfasilitasi perdagangan
internasional, dan melindungi konsumen dari klaim produk yang tidak dapat
diverifikasi. Standar internasional juga menjadi fondasi penting dalam proses
penilaian kesesuaian (conformity assessment), sertifikasi produk, serta
harmonisasi regulasi antarnegara (ISO, 2023).
Untuk pengujian aktivitas antivirus
pada permukaan, ISO 21702:2019 telah menjadi salah satu acuan utama
dalam menentukan aktivitas antivirus pada plastik dan permukaan non-poros.
Standar ini memberikan kerangka dasar untuk membandingkan jumlah virus
infeksius sebelum dan sesudah kontak dengan permukaan uji menggunakan virus
surrogate tertentu. Meskipun demikian, ISO 21702 terutama berfokus pada
pengukuran efektivitas antivirus pada kondisi laboratorium yang relatif ideal
dan belum secara khusus mengevaluasi bagaimana performa tersebut berubah
setelah material mengalami degradasi selama penggunaan jangka panjang.
Kesenjangan inilah yang mendorong
berkembangnya inisiatif baru di bawah ISO/TC 229 untuk mengembangkan metodologi
yang lebih komprehensif dalam mengevaluasi keandalan aktivitas antivirus
(reliability evaluation of antiviral activity), khususnya bagi material
berlapis nano yang memiliki karakteristik degradasi dan mekanisme kerja yang
berbeda dibandingkan material konvensional.
1.4 Urgensi ISO/TC 229 dan
Pengembangan ISO/PWI TS 25402
Sejak dibentuk pada tahun 2005, ISO/TC
229 Nanotechnologies berperan sebagai komite teknis internasional yang
mengembangkan standar terkait terminologi, karakterisasi, pengukuran,
keselamatan, serta aplikasi nanoteknologi. Hingga saat ini, komite tersebut
telah menghasilkan berbagai standar penting, termasuk ISO 80004 mengenai
kosakata nanoteknologi, ISO/TS 23302 mengenai karakterisasi nano-objek, dan
berbagai dokumen teknis mengenai keselamatan, metrologi, serta evaluasi risiko
material nano (ISO, 2023).
Dalam perkembangan terbaru, ISO/TC
229 menginisiasi ISO/PWI TS 25402: Nanotechnologies—Reliability evaluation
of antiviral activity on non-porous nanocoated surfaces sebagai respons
terhadap meningkatnya kebutuhan industri dan regulator akan metode evaluasi
yang mampu menilai ketahanan aktivitas antivirus selama masa pakai material.
Berbeda dengan standar efikasi konvensional, dokumen ini diarahkan untuk
mengevaluasi apakah suatu pelapis nano tetap mempertahankan aktivitas
antivirusnya setelah mengalami berbagai tekanan lingkungan dan operasional.
Inisiatif tersebut sangat relevan
mengingat semakin banyak negara yang memasukkan teknologi pelapis antivirus ke
dalam strategi kesiapsiagaan pandemi (pandemic preparedness),
pembangunan fasilitas kesehatan modern, serta pengembangan infrastruktur publik
yang lebih higienis. Di sisi lain, regulator juga membutuhkan dasar ilmiah yang
kuat untuk memastikan bahwa klaim aktivitas antivirus yang dicantumkan pada
produk benar-benar mencerminkan performa material selama penggunaan nyata,
bukan hanya pada kondisi laboratorium yang ideal.
Namun demikian, karena masih berada
pada tahap Preliminary Work Item (PWI), ISO/PWI TS 25402 masih membuka
ruang luas bagi penyempurnaan metodologi. Beberapa aspek penting seperti
simulasi penuaan lingkungan, variasi virus uji, pengaruh abrasi mekanis,
kompatibilitas dengan prosedur disinfeksi rutin, serta pengukuran pelepasan
nano-objek belum sepenuhnya terintegrasi dalam kerangka evaluasi yang
komprehensif. Kondisi ini menunjukkan bahwa revisi substansial diperlukan agar
standar yang dihasilkan nantinya benar-benar mampu menjawab kebutuhan ilmiah,
industri, regulator, dan masyarakat global. Pembahasan mengenai kesenjangan
metodologis tersebut akan diuraikan secara lebih mendalam pada bagian
berikutnya.
1.5 Tantangan Reliabilitas Jangka
Panjang Pelapis Nano Antivirus
Keberhasilan suatu pelapis nano
antivirus tidak hanya ditentukan oleh besarnya aktivitas antivirus yang
diperoleh pada saat material baru diproduksi (as-prepared surface),
tetapi juga oleh kemampuannya mempertahankan fungsi tersebut selama masa
penggunaan di lingkungan nyata (real-world service conditions). Dalam
praktiknya, hampir seluruh permukaan yang diaplikasikan di rumah sakit,
laboratorium, transportasi publik, sekolah, industri pangan, maupun bangunan
komersial mengalami paparan berbagai faktor degradasi secara simultan, seperti
abrasi mekanis akibat sentuhan berulang, fluktuasi suhu dan kelembapan, paparan
radiasi ultraviolet, bahan pembersih kimia, kontaminan organik, serta proses
oksidasi alami (Nowack et al., 2023; OECD, 2022).
Sebagian besar penelitian mengenai
nanocoating antivirus masih berfokus pada evaluasi efikasi awal (initial
antiviral efficacy), yaitu membandingkan jumlah virus sebelum dan sesudah
kontak dengan permukaan dalam kondisi laboratorium yang sangat terkendali (ISO
21702:2019). Pendekatan tersebut memang penting sebagai tahap awal
karakterisasi, namun belum cukup untuk menjelaskan bagaimana performa material
berubah setelah digunakan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Akibatnya, terdapat kesenjangan yang cukup besar antara
hasil laboratorium dan performa aktual di lapangan (laboratory-to-field
performance gap) (Sportelli et al., 2020; Talebian et al., 2023).
Konsep reliability dalam ilmu rekayasa material
mengacu pada probabilitas suatu sistem mempertahankan fungsi yang diharapkan
selama periode waktu tertentu di bawah kondisi operasional yang telah
ditentukan (ISO 9000:2015). Jika konsep tersebut diterapkan pada pelapis nano
antivirus, maka reliabilitas tidak hanya berarti kemampuan membunuh virus pada
waktu tertentu, tetapi juga kemampuan mempertahankan aktivitas tersebut setelah
mengalami degradasi fisik, kimia, maupun biologis selama siklus hidup produk.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep performance
durability, yaitu evaluasi performa berdasarkan perubahan karakteristik
material akibat penggunaan berulang. Dalam konteks nanocoating, parameter yang
perlu dievaluasi meliputi perubahan morfologi permukaan, distribusi
nanopartikel aktif, ketebalan lapisan, adhesi terhadap substrat, perubahan
sifat fotokatalitik, hingga penurunan efisiensi antivirus dari waktu ke waktu
(ISO/TS 23302:2021; Nowack et al., 2023).
Pentingnya evaluasi reliabilitas semakin meningkat karena
produk nanocoating antivirus mulai diaplikasikan pada berbagai infrastruktur
publik yang memiliki masa pakai panjang. Sebagai contoh, pegangan pintu rumah
sakit dapat disentuh ribuan kali setiap hari, sedangkan panel tombol lift, rel
transportasi umum, meja pelayanan, maupun layar sentuh otomatis mengalami
frekuensi kontak yang sangat tinggi. Pada kondisi tersebut, degradasi material
hampir tidak dapat dihindari sehingga pengujian hanya pada kondisi awal tidak
lagi mencerminkan performa sebenarnya (EPA, 2024).
Selain itu, produsen sering kali mengklaim efektivitas
antivirus hingga bertahun-tahun tanpa adanya metode standar yang dapat
memverifikasi klaim tersebut secara ilmiah. Ketidakhadiran metode evaluasi
reliabilitas yang terharmonisasi berpotensi menimbulkan variasi kualitas produk
di pasar, ketidakpastian regulator, serta berkurangnya kepercayaan masyarakat
terhadap teknologi nanocoating. Oleh karena itu, pengembangan ISO/PWI TS 25402
menjadi langkah strategis untuk mengisi kekosongan metodologis tersebut.
1.6 Pentingnya Simulasi Environmental Weathering
Salah satu kelemahan utama berbagai metode pengujian
aktivitas antivirus saat ini adalah belum dimasukkannya simulasi environmental
weathering, yaitu proses yang meniru degradasi material akibat pengaruh
lingkungan selama masa penggunaan. Dalam ilmu material, proses weathering
melibatkan kombinasi berbagai faktor fisik, kimia, dan biologis yang secara
bertahap mengubah struktur maupun sifat permukaan suatu material (ASTM G154;
ISO 4892).
Pada pelapis nano antivirus, paparan
radiasi ultraviolet merupakan salah satu penyebab utama degradasi matriks
polimer maupun bahan pengikat (binder). Radiasi UV dapat menyebabkan
pemutusan rantai polimer (chain scission), oksidasi permukaan, perubahan
kekasaran (surface roughness), serta penurunan kekuatan adhesi
nanopartikel terhadap substrat (Foster et al., 2011). Akibatnya, densitas
nanopartikel aktif yang berada di permukaan secara bertahap menurun sehingga
aktivitas antivirus juga mengalami penurunan.
Selain radiasi UV, fluktuasi suhu
dan kelembapan relatif turut mempercepat proses degradasi. Siklus pemuaian dan
penyusutan termal dapat menghasilkan retakan mikro (microcracks) pada
lapisan pelindung sehingga mempercepat pelepasan nanopartikel maupun penetrasi
kontaminan ke dalam lapisan material (ISO 4892-2; OECD, 2022). Pada lingkungan
tropis dengan kelembapan tinggi seperti Indonesia, proses ini dapat berlangsung
lebih cepat dibandingkan pada daerah beriklim sedang.
Faktor lain yang sering diabaikan
adalah abrasi mekanis akibat kontak berulang dengan tangan manusia maupun benda
lain. Gesekan tersebut menyebabkan hilangnya lapisan permukaan secara bertahap
sehingga mengurangi jumlah situs aktif yang berinteraksi dengan virus. Standar
seperti ISO 1518 mengenai uji gores (scratch test) dan berbagai metode
abrasi lainnya sebenarnya telah lama digunakan dalam industri pelapis, namun
belum diintegrasikan secara sistematis ke dalam evaluasi aktivitas antivirus.
Di sisi lain, penggunaan rutin bahan
disinfektan seperti etanol 70%, natrium hipoklorit, hidrogen peroksida, maupun
senyawa amonium kuartener juga dapat memengaruhi stabilitas kimia nanocoating.
Interaksi kimia antara disinfektan dengan matriks polimer dapat menyebabkan
perubahan struktur permukaan maupun degradasi bahan aktif, terutama pada
pelapis berbasis logam yang rentan terhadap korosi (Kampf et al., 2020).
Dengan demikian, evaluasi aktivitas antivirus yang
dilakukan tanpa simulasi environmental weathering berisiko menghasilkan
estimasi performa yang terlalu optimistis (overestimation of long-term
efficacy). Oleh karena itu, revisi ISO/PWI TS 25402 perlu memasukkan siklus
penuaan akselerasi (accelerated weathering) yang mengombinasikan paparan
UV-A/UV-B, perubahan suhu, kelembapan tinggi, abrasi mekanis, dan paparan bahan
kimia pembersih agar kondisi pengujian lebih mendekati penggunaan nyata.
1.7 Variabilitas Virus dan Tantangan
Pemilihan Surrogate Virus
Aspek penting lain yang memerlukan
perhatian dalam evaluasi aktivitas antivirus adalah pemilihan virus uji (test
virus). Karena alasan keselamatan biologis (biosafety), sebagian
besar standar internasional menggunakan virus surrogate sebagai pengganti virus
patogen yang memerlukan fasilitas laboratorium dengan tingkat keamanan hayati
tinggi (BSL-3 atau BSL-4). Pendekatan ini telah diterapkan secara luas dalam
ISO 21702 maupun berbagai protokol pengujian antivirus lainnya.
Namun demikian, virus memiliki
keragaman biologis yang sangat besar. Berdasarkan struktur morfologinya, virus
secara umum dibedakan menjadi virus beramplop (enveloped viruses) dan
virus tanpa amplop (non-enveloped viruses). Virus beramplop, seperti
SARS-CoV-2, Influenza A, Respiratory Syncytial Virus (RSV), dan virus campak,
memiliki membran lipid yang relatif rentan terhadap oksidasi maupun kerusakan
akibat surfaktan dan ROS (Prather et al., 2020).
Sebaliknya, virus tanpa amplop,
seperti norovirus, adenovirus, enterovirus, dan poliovirus, hanya memiliki
kapsid protein yang jauh lebih stabil terhadap berbagai kondisi lingkungan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa virus tanpa amplop cenderung lebih resisten
terhadap berbagai agen antivirus maupun disinfektan dibandingkan virus
beramplop (Tuladhar et al., 2012; Gerba, 2015).
Perbedaan karakteristik tersebut
menyebabkan suatu material dapat menunjukkan aktivitas yang sangat tinggi
terhadap virus beramplop tetapi relatif rendah terhadap virus tanpa amplop.
Oleh karena itu, penggunaan hanya satu jenis virus surrogate dapat menghasilkan
interpretasi yang menyesatkan mengenai spektrum aktivitas antivirus suatu
produk.
Selain itu, evolusi virus akibat
mutasi juga menjadi tantangan tersendiri. Meskipun mekanisme kerja nanomaterial
umumnya bersifat non-spesifik dan menargetkan struktur fisik virus, perubahan
protein permukaan maupun stabilitas amplop akibat mutasi dapat memengaruhi
sensitivitas virus terhadap mekanisme inaktivasi tertentu (Harvey et al.,
2021). Oleh karena itu, standar masa depan perlu dirancang cukup fleksibel agar
tetap relevan terhadap munculnya virus baru dengan karakteristik biologis yang
berbeda.
Dalam konteks tersebut, ISO/PWI TS
25402 sebaiknya mengadopsi pendekatan panel virus representatif, yaitu
kombinasi virus surrogate yang mewakili kelompok virus beramplop dan tanpa
amplop. Pendekatan ini akan meningkatkan validitas ilmiah sekaligus mengurangi
risiko overestimated efficacy yang dapat muncul apabila suatu produk
hanya diuji terhadap virus yang relatif mudah diinaktivasi.
1.8 Nanoparticle Leaching sebagai
Tantangan Keselamatan Lingkungan dan Kesehatan
Keunggulan utama nanocoating
antivirus berasal dari keberadaan nano-objek aktif yang berada pada permukaan
material. Namun, seiring bertambahnya usia penggunaan, degradasi mekanis maupun
kimia dapat menyebabkan sebagian nano-objek tersebut terlepas ke lingkungan (nanoparticle
leaching). Fenomena ini menjadi perhatian utama dalam bidang Environmental
Health and Safety (EHS) karena berpotensi memengaruhi kesehatan manusia
maupun ekosistem (ISO/TS 12025:2021; OECD, 2022).
Pelepasan nanopartikel dapat terjadi
melalui berbagai mekanisme, termasuk abrasi mekanis, pelarutan ion logam,
korosi, pencucian (washing), maupun degradasi matriks polimer. Setelah terlepas, nanopartikel dapat terdispersi ke
udara, air, atau tanah dan berpotensi berinteraksi dengan organisme hidup.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nanopartikel logam tertentu dapat
memengaruhi mikroorganisme lingkungan, mengganggu keseimbangan ekosistem, atau
menimbulkan efek sitotoksik pada konsentrasi tertentu (Fadeel et al., 2018;
Nowack et al., 2023).
Dalam konteks regulasi, penilaian risiko terhadap
pelepasan nano-objek telah menjadi perhatian OECD Working Party on Manufactured
Nanomaterials (WPMN), European Chemicals Agency (ECHA), serta ISO/TC 229.
ISO/TS 12025:2021 telah memberikan pedoman mengenai kuantifikasi pelepasan
nano-objek dari material serbuk, sedangkan berbagai dokumen OECD menekankan
pentingnya karakterisasi paparan (exposure assessment) sepanjang siklus
hidup produk.
Ironisnya, sebagian besar metode
evaluasi aktivitas antivirus masih memisahkan pengujian efikasi dengan
pengujian keselamatan. Padahal, dari perspektif safe and
sustainable by design, kedua aspek tersebut seharusnya dievaluasi secara
bersamaan. Suatu pelapis yang sangat efektif membunuh virus tetapi melepaskan
nanopartikel dalam jumlah besar selama penggunaan tidak dapat dianggap sebagai
solusi yang sepenuhnya berkelanjutan.
Oleh karena itu, revisi ISO/PWI TS 25402 perlu memasukkan
pengukuran laju pelepasan nano-objek (leaching rate) sebagai salah satu
parameter wajib. Teknik analisis seperti Inductively Coupled Plasma Mass
Spectrometry (ICP-MS), Single Particle ICP-MS (spICP-MS), Nanoparticle
Tracking Analysis (NTA), serta Transmission Electron Microscopy (TEM)
dapat digunakan untuk mengidentifikasi konsentrasi, ukuran, distribusi, dan
karakteristik nano-objek yang terlepas selama proses simulasi penggunaan.
1.9 Research Gap
Meskipun penelitian mengenai material antivirus
berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kesenjangan
yang nyata antara pengembangan material, metode pengujian, dan kebutuhan
standardisasi internasional. Sebagian besar publikasi ilmiah masih berorientasi
pada peningkatan efikasi antivirus di laboratorium, sedangkan aspek
reliabilitas jangka panjang, reproduksibilitas antar laboratorium (interlaboratory
reproducibility), degradasi akibat lingkungan, serta keselamatan sepanjang
siklus hidup produk masih relatif sedikit dikaji secara sistematis (OECD, 2022;
Nowack et al., 2023).
Di sisi lain, standar internasional yang tersedia,
seperti ISO 21702, telah memberikan dasar metodologi untuk mengukur aktivitas
antivirus, tetapi belum mengakomodasi evaluasi perubahan performa setelah
material mengalami penuaan fisik, kimia, dan mekanis. Inisiatif pengembangan
ISO/PWI TS 25402 merupakan langkah penting untuk mengisi kekosongan tersebut,
namun rancangan awalnya masih memerlukan penyempurnaan agar mampu
mengintegrasikan aspek durabilitas, keselamatan, dan relevansi biologis secara
lebih komprehensif.
Selain itu, hingga saat ini belum terdapat kerangka
evaluasi internasional yang secara terpadu menghubungkan karakterisasi material
nano, simulasi environmental weathering, evaluasi aktivitas antivirus
kinetik, serta kuantifikasi pelepasan nano-objek dalam satu alur pengujian yang
konsisten. Kekosongan metodologis ini berpotensi menghasilkan variasi
interpretasi antar laboratorium, menghambat harmonisasi regulasi, dan menurunkan
kepercayaan terhadap klaim performa produk di pasar global.
1.10 Tujuan Artikel
Berdasarkan berbagai tantangan tersebut, artikel ini
bertujuan untuk melakukan analisis kritis terhadap urgensi revisi ISO/PWI TS
25402 sebagai landasan pengembangan standar internasional mengenai evaluasi
keandalan aktivitas antivirus pada permukaan non-poros berlapis nano. Secara
khusus, artikel ini bertujuan untuk:
- mengevaluasi
kesenjangan metodologis dalam rancangan ISO/PWI TS 25402 dibandingkan
dengan kebutuhan aplikasi di dunia nyata (real-world performance);
- menganalisis
pentingnya integrasi simulasi environmental weathering, abrasi
mekanis, dan degradasi kimia dalam evaluasi reliabilitas aktivitas
antivirus;
- mengkaji
perlunya pemilihan panel virus uji yang lebih representatif, mencakup
virus beramplop dan tanpa amplop, guna meningkatkan validitas ilmiah hasil
pengujian;
- menelaah
urgensi pengukuran pelepasan nano-objek (nanoparticle leaching)
sebagai bagian integral dari evaluasi keamanan lingkungan dan kesehatan (Environmental
Health and Safety);
- mengusulkan
kerangka evaluasi berbasis Surface Life-Cycle Reliability yang
mengintegrasikan karakterisasi fisikokimia, pengujian durabilitas,
evaluasi aktivitas antivirus kinetik, serta analisis pelepasan nano-objek
untuk mendukung penyusunan ISO/PWI TS 25402 yang lebih komprehensif,
terharmonisasi, dan siap diadopsi sebagai standar internasional.
Dengan pendekatan tersebut, artikel ini diharapkan tidak
hanya memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan standar ISO/TC 229,
tetapi juga menjadi rujukan ilmiah bagi peneliti, industri, regulator, dan
lembaga standardisasi dalam merancang sistem evaluasi pelapis nano antivirus
yang lebih andal, aman, dan berkelanjutan. Pada bagian selanjutnya akan
diuraikan metodologi kajian yang digunakan untuk menganalisis dokumen standar,
literatur ilmiah, serta praktik terbaik (best practices) dalam evaluasi
keandalan material nano antivirus.
II. METODOLOGI
2.1 Desain Penelitian
Artikel ini disusun menggunakan pendekatan kajian
literatur kritis (critical literature review) yang dipadukan
dengan analisis komparatif standar internasional (comparative
standards analysis). Berbeda dengan systematic review yang
berorientasi pada sintesis kuantitatif hasil penelitian primer, pendekatan critical
review bertujuan mengevaluasi secara mendalam kekuatan, keterbatasan,
konsistensi, serta implikasi ilmiah dan regulatif dari suatu dokumen standar
yang masih berada pada tahap pengembangan (Grant & Booth, 2009; Snyder,
2019).
Dalam penelitian ini, objek utama yang dianalisis adalah
dokumen ISO/PWI TS 25402: Nanotechnologies—Reliability evaluation of
antiviral activity on non-porous nanocoated surfaces yang masih berada pada
tahap Preliminary Work Item (PWI) di bawah koordinasi ISO/TC 229
Nanotechnologies. Status PWI menunjukkan bahwa dokumen tersebut masih terbuka
terhadap masukan teknis, validasi ilmiah, dan penyempurnaan metodologi sebelum
berkembang menjadi Technical Specification (TS) ataupun International
Standard (IS) (ISO, 2023).
Pendekatan kajian kritis dipilih karena tujuan utama
penelitian bukan untuk menguji hipotesis eksperimental, melainkan untuk
mengevaluasi sejauh mana rancangan standar telah mampu mengakomodasi
perkembangan mutakhir ilmu nanoteknologi, virologi, ilmu material, toksikologi
lingkungan, serta kebutuhan harmonisasi regulasi internasional. Oleh karena
itu, pembahasan difokuskan pada identifikasi kesenjangan metodologis (methodological
gaps), analisis risiko ilmiah, serta penyusunan rekomendasi berbasis bukti
(evidence-based recommendations).
Secara konseptual, penelitian ini
mengintegrasikan perspektif dari lima disiplin ilmu, yaitu:
- Nanoteknologi, khususnya karakterisasi nano-objek,
mekanisme aktivitas antivirus, dan stabilitas nanomaterial.
- Virologi, terutama mengenai karakteristik virus
surrogate, virus beramplop dan tanpa amplop, serta mekanisme inaktivasi
virus.
- Ilmu material,
yang mencakup degradasi material, ketahanan mekanis, adhesi lapisan, dan environmental
weathering.
- Environmental
Health and Safety (EHS), yang membahas pelepasan nano-objek, paparan
lingkungan, dan keamanan manusia.
- Ilmu
standardisasi, yang mencakup prinsip harmonisasi metode uji,
reproduksibilitas antar laboratorium (interlaboratory reproducibility),
validasi metode, dan pengembangan standar internasional.
Dengan pendekatan multidisiplin tersebut, artikel ini
diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya relevan secara
akademik, tetapi juga dapat diterapkan oleh organisasi standardisasi internasional,
regulator, industri, maupun laboratorium pengujian.
2.2 Strategi Penelusuran Literatur
Literatur ilmiah dikumpulkan melalui penelusuran
sistematis terhadap berbagai basis data internasional yang memiliki reputasi
tinggi dalam bidang nanoteknologi, material maju, virologi, toksikologi,
kesehatan lingkungan, dan standardisasi. Basis data yang digunakan meliputi:
- Scopus
- Web of
Science Core Collection
- PubMed/MEDLINE
- ScienceDirect
(Elsevier)
- SpringerLink
- Wiley Online
Library
- IEEE Xplore
- ACS
Publications
- Nature
Portfolio
- Taylor &
Francis Online
Selain literatur akademik, penelitian ini juga
menggunakan berbagai sumber regulasi dan dokumen teknis internasional, antara
lain:
- International
Organization for Standardization (ISO)
- Organisation
for Economic Co-operation and Development (OECD)
- World Health
Organization (WHO)
- United States
Environmental Protection Agency (US EPA)
- European
Chemicals Agency (ECHA)
- ASTM
International
- European
Committee for Standardization (CEN)
- International
Electrotechnical Commission (IEC)
Penggunaan berbagai sumber tersebut bertujuan memperoleh
gambaran yang komprehensif mengenai perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus
perkembangan regulasi internasional yang berkaitan dengan evaluasi aktivitas
antivirus pada material nano.
2.3 Strategi Pencarian Literatur
Pencarian literatur dilakukan menggunakan kombinasi kata
kunci (Boolean search strategy) sebagai berikut:
- "antiviral
nanocoating"
- "antiviral
surface"
- "nanotechnology
antiviral materials"
- "surface
reliability"
- "environmental
weathering"
- "accelerated
aging"
- "nanoparticle
leaching"
- "nano-object
release"
- "virus
surrogate"
- "ISO
21702"
- "ISO TC
229"
- "ISO/PWI
TS 25402"
- "surface
durability"
- "photocatalytic
antiviral"
- "silver
nanoparticle antiviral"
- "copper
antiviral coating"
- "graphene
antiviral"
- "environmental
health and safety nanomaterials"
Kombinasi operator Boolean digunakan
untuk meningkatkan sensitivitas pencarian, misalnya:
("antiviral coating" OR "antiviral
surface") AND (reliability OR durability)
("nanoparticle leaching" AND environmental
safety)
("ISO 21702" OR "ISO TC229")
("accelerated weathering" AND nanocoating)
Penelusuran literatur dibatasi terutama pada publikasi
tahun 2015–2026, dengan penekanan khusus pada hasil penelitian terbaru
setelah pandemi COVID-19 karena periode tersebut menunjukkan perkembangan
paling pesat dalam teknologi pelapis antivirus.
2.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi Literatur
Untuk menjaga kualitas ilmiah kajian, literatur diseleksi
menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.4.1 Kriteria Inklusi
Literatur dimasukkan apabila
memenuhi salah satu atau lebih kriteria berikut:
- artikel
penelitian asli (original research);
- artikel
tinjauan (review article);
- dokumen
standar internasional;
- laporan
teknis organisasi internasional;
- pedoman
regulator;
- artikel yang
membahas aktivitas antivirus material nano;
- penelitian
mengenai durability atau reliability material;
- penelitian
mengenai environmental weathering;
- penelitian mengenai pelepasan nano-objek;
- publikasi
berbahasa Inggris.
2.4.2 Kriteria Eksklusi
Literatur tidak dimasukkan apabila:
- hanya berupa
abstrak konferensi;
- tidak
tersedia teks lengkap;
- membahas aktivitas antibakteri tanpa komponen
antivirus;
- membahas nanomaterial yang tidak diaplikasikan
sebagai pelapis permukaan;
- tidak memiliki metodologi yang jelas;
- merupakan
publikasi duplikat.
Melalui proses seleksi tersebut diperoleh literatur yang
memiliki kualitas metodologi tinggi dan relevan dengan fokus penelitian.
2.5 Analisis Dokumen Standar
Selain melakukan kajian terhadap artikel ilmiah,
penelitian ini juga menganalisis berbagai dokumen standardisasi internasional
yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan evaluasi aktivitas
antivirus material nano.
Dokumen utama yang dianalisis
meliputi:
- ISO/PWI TS
25402
- ISO 21702
- ISO 80004-1
- ISO/TS 23302
- ISO/TS 12025
- ISO 10993
(biological evaluation)
- ISO 1518
(scratch resistance)
- ISO 4892
(accelerated weathering)
Selanjutnya dilakukan analisis komparatif terhadap
pedoman internasional lain seperti:
- OECD Test
Guidelines
- OECD Working
Party on Manufactured Nanomaterials (WPMN)
- ASTM
International
- US EPA
Guidance
- ECHA Guidance
on Nanomaterials
Analisis dilakukan terhadap beberapa aspek penting,
yaitu:
- ruang lingkup
standar;
- definisi
istilah teknis;
- metode
karakterisasi material;
- metode
evaluasi aktivitas antivirus;
- simulasi
degradasi material;
- validasi
metode;
- reproduksibilitas
antar laboratorium;
- evaluasi
keselamatan;
- pendekatan
siklus hidup (life-cycle approach);
- kesesuaian
terhadap prinsip safe and sustainable by design.
Pendekatan komparatif tersebut memungkinkan identifikasi
area yang belum terakomodasi secara memadai dalam ISO/PWI TS 25402.
2.6 Kerangka Analisis Kritis
Analisis kritis dilakukan menggunakan pendekatan Gap
Analysis Framework, yaitu membandingkan kondisi metodologi yang terdapat
pada rancangan ISO/PWI TS 25402 dengan kebutuhan ilmiah berdasarkan
perkembangan mutakhir literatur.
Empat dimensi evaluasi utama yang
digunakan adalah:
A. Scientific Validity
Menilai apakah metode yang diusulkan
benar-benar mampu merepresentasikan mekanisme aktivitas antivirus pada kondisi
nyata.
B. Reliability Assessment
Menilai apakah metode mampu
mengevaluasi perubahan aktivitas antivirus setelah material mengalami degradasi
selama penggunaan.
C. Environmental Health and Safety (EHS)
Menilai apakah standar telah
mengintegrasikan aspek keselamatan manusia dan lingkungan melalui evaluasi
pelepasan nano-objek.
D. Regulatory Applicability
Menilai sejauh mana metode dapat diterapkan secara
internasional oleh laboratorium, regulator, maupun industri.
Keempat dimensi tersebut digunakan sebagai dasar dalam
menyusun rekomendasi revisi metodologi pada bagian pembahasan.
2.7 Kerangka Konseptual Penelitian
Kajian ini mengembangkan suatu kerangka konseptual yang
menempatkan Surface Life-Cycle Reliability sebagai paradigma baru dalam
evaluasi pelapis nano antivirus.
Kerangka tersebut terdiri atas lima tahapan yang saling
berhubungan:
- Karakterisasi
Awal Material
- ukuran
nanopartikel;
- morfologi;
- komposisi
kimia;
- ketebalan
lapisan;
- adhesi.
- Simulasi
Penuaan Akselerasi
- paparan UV;
- siklus
temperatur;
- kelembapan;
- abrasi
mekanis;
- paparan
disinfektan.
- Evaluasi
Aktivitas Antivirus
- virus
beramplop;
- virus tanpa
amplop;
- kinetika
penurunan virus;
- reproduksibilitas
hasil.
- Evaluasi
Pelepasan Nano-Objek
- ICP-MS;
- spICP-MS;
- TEM;
- SEM-EDS;
- nanoparticle
tracking analysis.
- Penilaian
Risiko
- performa
jangka panjang;
- keamanan
lingkungan;
- keamanan
manusia;
- kepatuhan
terhadap regulasi internasional.
Kerangka ini menjadi dasar penyusunan usulan revisi
ISO/PWI TS 25402 yang akan dibahas pada bagian hasil dan pembahasan.
2.8 Metode Sintesis dan Penyusunan Rekomendasi
Seluruh bukti ilmiah yang diperoleh selanjutnya
disintesis secara naratif (narrative synthesis) dengan mempertimbangkan
tingkat konsistensi hasil penelitian, kualitas metodologi, serta relevansi
terhadap pengembangan standar internasional. Pendekatan sintesis ini dipilih
karena memungkinkan integrasi bukti yang berasal dari berbagai disiplin ilmu,
termasuk nanoteknologi, virologi, toksikologi, ilmu material, dan
standardisasi.
Rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya didasarkan pada
frekuensi kemunculan suatu temuan dalam literatur, tetapi juga pada kekuatan
bukti ilmiah, kesesuaian dengan prinsip metrologi internasional, kompatibilitas
dengan standar ISO yang telah ada, serta potensi implementasinya oleh industri
dan laboratorium pengujian. Dengan demikian, usulan revisi ISO/PWI TS 25402
yang disampaikan dalam artikel ini diharapkan mampu meningkatkan validitas
ilmiah, reproduksibilitas hasil, keselamatan lingkungan, dan harmonisasi
regulasi internasional bagi evaluasi keandalan aktivitas antivirus pada
permukaan berlapis nano.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengabaian Simulasi Environmental Weathering
dan Stres Mekanis: Kesenjangan Fundamental dalam Evaluasi Keandalan Pelapis
Nano Antivirus
Salah satu temuan utama dari kajian ini adalah bahwa
rancangan ISO/PWI TS 25402 masih berorientasi pada pengukuran aktivitas
antivirus pada kondisi awal material (initial performance) dan belum
secara memadai mengakomodasi perubahan performa akibat degradasi selama masa
pakai (service life degradation). Padahal, dari perspektif ilmu material
dan rekayasa keandalan (materials reliability engineering), suatu
material fungsional tidak hanya dinilai berdasarkan efektivitasnya pada saat
baru diproduksi (as-prepared), tetapi juga berdasarkan kemampuannya
mempertahankan fungsi tersebut setelah mengalami paparan berbagai tekanan
lingkungan dan operasional dalam jangka panjang (ISO 9000:2015; Nowack et al.,
2023).
Konsep ini menjadi semakin penting karena sebagian besar
aplikasi pelapis nano antivirus ditujukan untuk permukaan dengan frekuensi
kontak yang tinggi (high-touch surfaces), seperti pegangan pintu, panel
lift, rel transportasi publik, meja pelayanan, tempat tidur pasien, sakelar
listrik, layar sentuh, serta peralatan medis. Permukaan-permukaan tersebut
mengalami kombinasi paparan mekanis, kimia, termal, dan biologis yang
berlangsung secara simultan sepanjang umur pakainya. Oleh karena itu, pengujian
yang hanya dilakukan pada permukaan baru tidak dapat menggambarkan kondisi
penggunaan sebenarnya (real-world performance) (OECD, 2022; ISO/TS
23302:2021).
3.1.1 Konsep Environmental Weathering dalam Ilmu
Material
Dalam ilmu material, istilah environmental
weathering mengacu pada seluruh proses degradasi fisik, kimia, maupun
fotokimia yang terjadi akibat paparan lingkungan selama masa penggunaan
material. Berbeda dengan kerusakan akibat kegagalan struktural mendadak, weathering
berlangsung secara perlahan dan kumulatif melalui interaksi berbagai faktor
lingkungan, seperti radiasi ultraviolet (UV), fluktuasi temperatur, kelembapan
relatif, oksigen atmosfer, polutan udara, hujan, aerosol garam, bahan kimia
pembersih, dan abrasi mekanis (ISO 4892; ASTM G154).
Fenomena tersebut telah lama menjadi perhatian dalam
pengembangan cat industri, pelapis otomotif, material konstruksi, serta polimer
teknik. Namun, dalam bidang nanocoating antivirus, konsep weathering
relatif baru memperoleh perhatian setelah pandemi COVID-19 mendorong penggunaan
pelapis antivirus secara luas pada fasilitas publik. Banyak penelitian awal
lebih berfokus pada peningkatan efikasi antivirus dibandingkan evaluasi
ketahanan material setelah mengalami degradasi lingkungan (Sportelli et al.,
2020; Talebian et al., 2023).
Padahal, mekanisme aktivitas
antivirus dari berbagai nanomaterial sangat bergantung pada kondisi permukaan.
Sebagai contoh, nanopartikel perak (AgNPs) menghasilkan aktivitas antivirus
melalui pelepasan ion Ag⁺ yang berinteraksi dengan protein virus dan materi
genetiknya. Jika proses weathering mengurangi jumlah nanopartikel yang
terekspos di permukaan atau mengubah laju pelepasan ion, maka aktivitas
antivirus akan menurun secara signifikan (Jeremiah et al., 2020; Rai et al.,
2021).
Demikian pula pada material
fotokatalitik berbasis titanium dioksida (TiO₂), kemampuan menghasilkan reactive
oxygen species (ROS) sangat dipengaruhi oleh luas permukaan aktif, struktur
kristal, tingkat kontaminasi permukaan, serta intensitas cahaya yang diterima.
Degradasi lapisan akibat abrasi maupun perubahan morfologi permukaan dapat
menurunkan efisiensi fotokatalitik sehingga kemampuan inaktivasi virus menjadi
berkurang (Foster et al., 2011; Nakano et al., 2012).
Dengan demikian, evaluasi aktivitas
antivirus tanpa mempertimbangkan environmental weathering hanya
memberikan gambaran mengenai potensi biologis awal, bukan keandalan fungsional
jangka panjang.
3.1.2 Mekanisme Degradasi Pelapis
Nano di Dunia Nyata
Berdasarkan sintesis berbagai
penelitian, degradasi pelapis nano antivirus berlangsung melalui interaksi
beberapa mekanisme utama yang saling memengaruhi (Gambar konseptual akan
disajikan pada bagian selanjutnya).
a. Fotodegradasi akibat Radiasi
Ultraviolet
Paparan sinar ultraviolet merupakan
salah satu faktor paling dominan dalam menurunkan stabilitas pelapis nano,
terutama pada aplikasi luar ruang (outdoor applications) maupun ruang
dengan intensitas pencahayaan tinggi.
Radiasi UV mampu memicu:
- pemutusan rantai polimer (chain scission);
- oksidasi
matriks pengikat (binder oxidation);
- pembentukan
retakan mikro (microcracking);
- perubahan
warna (photo-yellowing);
- penurunan
kekuatan adhesi lapisan.
Akibatnya, nanopartikel aktif menjadi lebih mudah
terlepas dari permukaan atau bahkan tertutup oleh produk degradasi sehingga
aktivitas antivirus menurun secara bertahap (ISO 4892-2; ASTM G154; Foster et
al., 2011).
Selain itu, pada beberapa sistem
nanokomposit, paparan UV jangka panjang dapat menyebabkan aglomerasi
nanopartikel. Aglomerasi ini mengurangi luas permukaan spesifik yang tersedia
untuk berinteraksi dengan virus sehingga efektivitas biologis ikut menurun
(Nowack et al., 2023).
b. Fluktuasi Temperatur dan Kelembapan
Perubahan temperatur harian menyebabkan proses pemuaian (thermal
expansion) dan penyusutan (thermal contraction) berulang pada
lapisan pelindung.
Jika koefisien ekspansi termal antara lapisan nano dan
substrat berbeda, maka akan muncul tegangan internal (interfacial stress)
yang secara perlahan menghasilkan:
- delaminasi,
- retakan
mikro,
- kehilangan
adhesi,
- deformasi
permukaan.
Kelembapan tinggi mempercepat proses tersebut melalui
mekanisme difusi air ke dalam matriks polimer.
Air yang masuk ke dalam lapisan mampu:
- melarutkan
sebagian ion logam,
- mempercepat
korosi,
- meningkatkan
hidrolisis,
- mempercepat
degradasi ikatan kimia.
Fenomena ini sangat relevan bagi
negara tropis seperti Indonesia yang memiliki kelembapan relatif tahunan di
atas 70%. Oleh karena itu, simulasi kelembapan tinggi (high humidity
exposure) seharusnya menjadi bagian wajib dalam evaluasi keandalan pelapis
nano antivirus (OECD, 2022).
c. Abrasi Mekanis akibat Sentuhan
Berulang
Faktor yang paling sering diabaikan dalam pengujian
laboratorium adalah abrasi mekanis.
Pada kenyataannya, pegangan pintu
rumah sakit dapat disentuh ribuan kali setiap hari.
Panel lift dapat mengalami:
- gesekan kuku,
- cincin logam,
- kunci,
- troli,
- alat medis.
Setiap kontak menghasilkan kehilangan material dalam
jumlah sangat kecil (micro-wear), namun bersifat kumulatif.
Dalam beberapa bulan penggunaan,
lapisan permukaan dapat mengalami:
- penurunan
ketebalan,
- hilangnya
nanopartikel aktif,
- perubahan
kekasaran permukaan,
- berkurangnya luas kontak dengan virus.
Padahal aktivitas antivirus sangat
bergantung pada keberadaan nanopartikel aktif yang berada tepat di lapisan
paling luar permukaan.
Oleh karena itu, evaluasi sebelum
dan sesudah abrasi mekanis menjadi sangat penting.
Standar industri seperti ISO 1518,
ASTM D4060 (Taber Abrasion Test), maupun metode abrasi reciprocating
sebenarnya telah lama digunakan pada industri pelapis, tetapi hingga kini belum
menjadi bagian integral dalam evaluasi aktivitas antivirus (ASTM International,
2023).
d. Paparan Bahan Disinfektan
Paradoks menarik muncul pada
aplikasi pelapis antivirus di rumah sakit.
Semakin sering suatu permukaan
dibersihkan menggunakan alkohol, natrium hipoklorit, maupun hidrogen peroksida,
justru semakin besar kemungkinan lapisan pelindung mengalami degradasi.
Banyak formulasi nanocoating
menggunakan matriks polimer organik sebagai pengikat nanopartikel.
Paparan disinfektan berulang dapat
menyebabkan:
- pembengkakan
(swelling);
- ekstraksi
aditif;
- pelunakan
matriks;
- oksidasi;
- penurunan
kekuatan adhesi.
Konsekuensinya adalah meningkatnya pelepasan nanopartikel
serta berkurangnya densitas partikel aktif pada permukaan.
Ironisnya, sebagian besar metode uji aktivitas antivirus
belum memasukkan simulasi pembersihan rutin sebagai bagian dari prosedur
evaluasi.
Akibatnya, produk yang menunjukkan aktivitas antivirus
tinggi di laboratorium belum tentu mampu mempertahankan performa tersebut
setelah mengalami ratusan siklus pembersihan selama penggunaan nyata (Kampf et
al., 2020).
3.1.3 Kelemahan ISO/PWI TS 25402 dalam Mengakomodasi Weathering
Berdasarkan analisis terhadap rancangan ISO/PWI TS 25402,
terdapat beberapa kelemahan metodologis yang berpotensi menurunkan validitas
hasil evaluasi keandalan.
Pertama, rancangan standar masih berorientasi pada
pengujian permukaan baru tanpa mensyaratkan simulasi penuaan akselerasi (accelerated
weathering) sebelum dilakukan uji aktivitas antivirus. Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa sifat permukaan tetap konstan sepanjang masa pakai, padahal
berbagai penelitian menunjukkan bahwa karakteristik fisikokimia pelapis nano
berubah secara progresif akibat paparan lingkungan (Nowack et al., 2023;
Sportelli et al., 2020).
Kedua, standar belum menetapkan parameter kuantitatif
mengenai perubahan sifat permukaan sebelum dan sesudah proses penuaan.
Idealnya, evaluasi tidak hanya mengukur penurunan aktivitas antivirus, tetapi
juga mengaitkannya dengan perubahan ketebalan lapisan, kekasaran permukaan,
distribusi nanopartikel, sudut kontak air (water contact angle), energi
permukaan, dan kekuatan adhesi. Hubungan antara perubahan karakteristik fisik
tersebut dengan penurunan efikasi biologis akan memberikan pemahaman mekanistik
yang lebih kuat serta meningkatkan reproduksibilitas antar laboratorium.
Ketiga, belum terdapat ketentuan mengenai jumlah siklus
penuaan yang harus dilalui sampel sebelum pengujian. Dalam disiplin ilmu
material, pengujian akselerasi umumnya dinyatakan dalam jumlah jam paparan UV,
jumlah siklus kelembapan, atau jumlah siklus abrasi yang dikorelasikan dengan
masa pakai aktual. Tanpa parameter tersebut, setiap laboratorium dapat
menerapkan kondisi yang berbeda sehingga hasil pengujian sulit dibandingkan
secara langsung.
Keempat, belum ada integrasi antara pengujian weathering
dengan evaluasi keamanan material. Padahal, degradasi yang menurunkan aktivitas antivirus
sering kali juga meningkatkan risiko pelepasan nano-objek ke lingkungan. Oleh
karena itu, pengujian durabilitas dan keselamatan seharusnya dilakukan secara
terpadu dalam satu rangkaian metodologi.
3.1.4 Usulan Integrasi Simulasi Accelerated
Environmental Weathering
Berdasarkan hasil kajian ini, evaluasi keandalan dalam
ISO/PWI TS 25402 sebaiknya mengadopsi pendekatan Accelerated Environmental
Weathering Protocol (AEWP) yang mengintegrasikan faktor-faktor degradasi
utama secara berurutan sebelum pengujian aktivitas antivirus dilakukan.
Kerangka yang diusulkan meliputi:
- Paparan UV-A
dan UV-B sesuai ISO 4892 atau ASTM G154 untuk mensimulasikan
fotodegradasi.
- Siklus temperatur dan kelembapan yang
merepresentasikan variasi iklim tropis maupun subtropis.
- Uji abrasi mekanis menggunakan ISO 1518, ASTM D4060,
atau metode setara untuk mensimulasikan kontak berulang.
- Paparan berulang terhadap disinfektan (misalnya
etanol 70%, natrium hipoklorit, dan hidrogen peroksida) guna mengevaluasi
ketahanan kimia lapisan.
- Karakterisasi ulang fisikokimia menggunakan scanning
electron microscopy (SEM), atomic force microscopy (AFM), X-ray
photoelectron spectroscopy (XPS), pengukuran sudut kontak, dan uji
adhesi untuk menghubungkan perubahan struktur permukaan dengan perubahan
aktivitas antivirus.
- Pengujian aktivitas antivirus pasca-penuaan
menggunakan panel virus yang representatif, sehingga diperoleh gambaran
mengenai penurunan efikasi selama siklus hidup material.
Pendekatan ini tidak hanya
meningkatkan relevansi hasil uji terhadap kondisi penggunaan nyata, tetapi juga
memungkinkan pengembangan indikator Surface Life-Cycle Reliability,
yaitu parameter yang menggambarkan kemampuan suatu pelapis nano mempertahankan
fungsi antivirus sepanjang masa pakainya. Paradigma tersebut diharapkan menjadi
fondasi utama bagi revisi ISO/PWI TS 25402 sehingga standar yang dihasilkan
tidak sekadar mengukur efikasi awal, melainkan juga memberikan jaminan ilmiah
mengenai durabilitas, keamanan, dan keberlanjutan material dalam berbagai
kondisi operasional.
3.2 Keterbatasan Representasi Virus
Uji (Surrogate Virus) dan Implikasinya terhadap Validitas Evaluasi
Aktivitas Antivirus
Keandalan suatu metode pengujian
aktivitas antivirus tidak hanya ditentukan oleh kualitas karakterisasi material
atau ketepatan prosedur laboratorium, tetapi juga oleh representativitas virus
uji (test virus) yang digunakan. Dalam konteks standardisasi
internasional, pemilihan virus merupakan salah satu keputusan metodologis yang
paling krusial karena akan memengaruhi interpretasi efikasi suatu material,
reproduksibilitas hasil antar laboratorium, serta validitas klaim produk di
pasar global. Oleh karena itu, evaluasi kritis terhadap strategi pemilihan surrogate
virus dalam rancangan ISO/PWI TS 25402 menjadi aspek yang sangat penting
sebelum dokumen tersebut ditetapkan sebagai Technical Specification
(TS).
Sebagian besar standar internasional, termasuk ISO
21702:2019 (Measurement of antiviral activity on plastics and other
non-porous surfaces), menggunakan virus surrogate sebagai pengganti
virus patogen yang memerlukan fasilitas laboratorium dengan tingkat keamanan
hayati tinggi (Biosafety Level atau BSL-3 dan BSL-4). Pendekatan ini didasarkan pada
pertimbangan keselamatan biologis, kemudahan reproduksi hasil, ketersediaan
kultur virus, serta efisiensi operasional laboratorium (ISO 21702:2019; ASTM
E1053). Meskipun demikian, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan mendasar
karena tidak semua virus memiliki karakteristik biologis, fisikokimia, maupun
sensitivitas terhadap agen antivirus yang sama.
Dalam praktiknya, aktivitas
antivirus suatu nanomaterial sering kali dipengaruhi oleh struktur virus yang
diuji. Virus beramplop (enveloped viruses) memiliki membran lipid yang
relatif rentan terhadap oksidasi, gangguan surfaktan, maupun pembentukan reactive
oxygen species (ROS), sedangkan virus tanpa amplop (non-enveloped
viruses) memiliki kapsid protein yang jauh lebih stabil terhadap berbagai
tekanan lingkungan. Oleh sebab itu, hasil pengujian menggunakan satu jenis
virus tidak dapat secara otomatis digeneralisasikan untuk seluruh kelompok
virus yang mungkin ditemui pada aplikasi dunia nyata (Tuladhar et al., 2012;
Gerba, 2015).
Kajian ini menunjukkan bahwa salah
satu kelemahan konseptual dalam pendekatan yang masih banyak digunakan saat ini
adalah kecenderungan mengevaluasi aktivitas antivirus berdasarkan satu atau dua
virus surrogate saja. Pendekatan tersebut memang memberikan kemudahan
dalam standardisasi, namun berpotensi menghasilkan bias biologis (biological
bias) yang menyebabkan klaim efikasi menjadi terlalu optimistis (overestimated
efficacy) atau justru terlalu konservatif (underestimated efficacy)
bergantung pada karakteristik virus yang dipilih.
3.2.1 Konsep Surrogate Virus dalam Standardisasi
Internasional
Dalam ilmu virologi, surrogate virus didefinisikan
sebagai virus yang digunakan untuk mewakili karakteristik biologis virus target
karena alasan keselamatan, kemudahan kultur, atau keterbatasan fasilitas
laboratorium. Penggunaan virus surrogate telah menjadi praktik umum
dalam berbagai standar internasional, terutama ketika virus target memerlukan
laboratorium BSL-3 atau BSL-4, seperti SARS-CoV-2, virus Ebola, atau virus
Nipah.
Idealnya, suatu surrogate virus harus memiliki
kesamaan dengan virus target dalam beberapa aspek penting, yaitu:
- struktur
morfologi (beramplop atau tanpa amplop);
- ukuran
partikel;
- komposisi protein kapsid atau amplop;
- stabilitas
lingkungan;
- mekanisme
infeksi;
- sensitivitas
terhadap agen antivirus.
Namun demikian, sangat sulit
menemukan satu virus yang mampu merepresentasikan seluruh karakteristik
tersebut secara bersamaan. Akibatnya, virus surrogate yang dipilih
sering kali hanya merepresentasikan sebagian sifat biologis virus target.
Sebagai contoh, bakteriofag Phi6
banyak digunakan sebagai surrogate bagi SARS-CoV-2 karena sama-sama
memiliki amplop lipid. Akan tetapi, Phi6 merupakan virus RNA yang menginfeksi
bakteri Pseudomonas syringae dan memiliki komposisi protein amplop,
mekanisme adsorpsi, serta stabilitas lingkungan yang berbeda dibandingkan
coronavirus. Demikian pula, bakteriofag MS2, yang sering digunakan dalam
penelitian desinfeksi, merupakan virus tanpa amplop yang memiliki ketahanan
lingkungan jauh lebih tinggi daripada sebagian besar virus respiratori manusia.
Oleh karena itu, penggunaan satu virus surrogate tidak selalu mampu
menggambarkan respons seluruh kelompok virus terhadap suatu material antivirus
(Fedorenko et al., 2020; Aquino de Carvalho et al., 2017).
Dalam konteks standardisasi,
penggunaan surrogate virus tetap merupakan pilihan yang rasional dan
praktis. Akan tetapi, pemilihannya harus didasarkan pada prinsip
representativitas biologis yang jelas, serta disertai penjelasan mengenai ruang
lingkup interpretasi hasil uji. Tanpa batasan tersebut, terdapat risiko bahwa
hasil pengujian akan digunakan secara berlebihan untuk mendukung klaim
efektivitas terhadap virus lain yang belum pernah diuji secara langsung.
3.2.2 Keterbatasan Pendekatan ISO
21702 terhadap Variabilitas Virus
ISO 21702:2019 merupakan tonggak
penting dalam harmonisasi metode pengujian aktivitas antivirus pada permukaan
non-poros. Standar ini menyediakan prosedur yang relatif seragam mengenai
inokulasi virus, waktu kontak, pemulihan virus, dan perhitungan nilai aktivitas
antivirus (antiviral activity value). Dengan
adanya prosedur yang terstandarisasi, hasil pengujian dari berbagai
laboratorium menjadi lebih mudah dibandingkan.
Meskipun demikian, ISO 21702 pada dasarnya dirancang
untuk mengevaluasi aktivitas antivirus, bukan keandalan aktivitas antivirus
setelah material mengalami degradasi. Selain itu, standar ini tidak menetapkan
suatu panel virus representatif yang mencakup keragaman biologis virus secara
luas. Pemilihan virus uji diserahkan kepada tujuan penelitian atau kebutuhan
pengguna standar, sehingga terdapat variasi yang cukup besar dalam praktik
laboratorium.
Variasi tersebut menimbulkan
beberapa konsekuensi ilmiah.
Pertama, hasil pengujian dari dua
laboratorium dapat berbeda secara signifikan meskipun menggunakan material yang
sama, hanya karena virus yang digunakan berbeda. Sebagai contoh, suatu pelapis
fotokatalitik berbasis TiO₂ mungkin menunjukkan penurunan titer virus lebih
dari 99,9% terhadap virus beramplop dalam kondisi pencahayaan tertentu, tetapi
hanya memberikan penurunan terbatas terhadap virus tanpa amplop yang lebih
resisten terhadap mekanisme oksidasi.
Kedua, tidak adanya klasifikasi
virus berdasarkan karakteristik biologis menyebabkan interpretasi terhadap
nilai aktivitas antivirus menjadi kurang informatif. Sebuah nilai reduksi log (log
reduction) yang tinggi belum tentu mencerminkan spektrum aktivitas yang
luas apabila pengujian hanya dilakukan terhadap virus yang relatif mudah
diinaktivasi.
Ketiga, pendekatan ini menyulitkan
regulator dalam mengevaluasi klaim produk. Apabila suatu produsen menguji
produknya hanya terhadap satu jenis virus surrogate, regulator perlu
mempertimbangkan apakah hasil tersebut cukup untuk mendukung klaim efektivitas
terhadap virus lain yang memiliki karakteristik berbeda. Tanpa pedoman yang
jelas, interpretasi dapat bervariasi antarnegara sehingga menghambat
harmonisasi regulasi internasional.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
ISO/PWI TS 25402 memiliki peluang strategis untuk melengkapi ISO 21702 dengan
mengembangkan pendekatan evaluasi yang lebih komprehensif, khususnya dalam
aspek representasi biologis virus uji.
3.2.3 Perbedaan Fundamental antara Virus Beramplop dan
Tanpa Amplop
Dari perspektif virologi, pembagian virus menjadi
kelompok beramplop (enveloped viruses) dan tanpa amplop (non-enveloped
viruses) merupakan salah satu klasifikasi yang paling relevan dalam
evaluasi aktivitas antivirus material nano.
Virus beramplop memiliki membran lipid yang berasal dari
membran sel inang selama proses pelepasan (budding). Membran ini
mengandung glikoprotein yang berfungsi sebagai reseptor untuk proses infeksi.
Karena tersusun atas lipid, amplop virus relatif mudah mengalami kerusakan
akibat oksidasi, deterjen, alkohol, maupun ROS yang dihasilkan oleh material
fotokatalitik seperti TiO₂ atau ZnO. Oleh sebab itu, kelompok virus ini umumnya
lebih sensitif terhadap berbagai teknologi pelapis antivirus (Prather et al.,
2020; Rai et al., 2021).
Sebaliknya, virus tanpa amplop hanya memiliki kapsid
protein yang melindungi materi genetiknya. Struktur tersebut jauh lebih stabil
terhadap perubahan suhu, kekeringan, variasi pH, maupun berbagai agen kimia.
Norovirus, adenovirus, enterovirus, dan poliovirus merupakan contoh virus tanpa
amplop yang dikenal memiliki persistensi tinggi pada permukaan lingkungan serta
relatif lebih sulit diinaktivasi dibandingkan virus beramplop (Gerba, 2015;
Tuladhar et al., 2012).
Perbedaan mendasar ini menyebabkan efektivitas suatu
pelapis nano tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu kelompok virus. Sebagai
ilustrasi, pelapis berbasis nanopartikel perak yang bekerja terutama melalui
pelepasan ion Ag⁺ mungkin sangat efektif terhadap virus beramplop, tetapi
menunjukkan efikasi yang lebih rendah terhadap virus tanpa amplop yang memiliki
kapsid protein sangat stabil. Sebaliknya, beberapa mekanisme fotokatalitik
dengan pembentukan ROS yang tinggi dapat memberikan aktivitas lebih luas
apabila kondisi pencahayaan memadai.
Dengan demikian, pengujian terhadap satu kategori virus
saja berpotensi menghasilkan interpretasi yang tidak mencerminkan spektrum
aktivitas antivirus sebenarnya. Dari sudut pandang standardisasi, hal ini
menegaskan perlunya pendekatan evaluasi yang mempertimbangkan keragaman
biologis virus sebagai bagian integral dari penilaian keandalan pelapis nano
antivirus.
3.2.4 Dampak Evolusi dan Mutasi
Virus terhadap Validitas Standar
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan standar
internasional untuk evaluasi aktivitas antivirus adalah sifat virus yang terus
berevolusi. Berbeda dengan bakteri yang memiliki organisasi seluler relatif
kompleks, virus bereplikasi melalui mekanisme yang sangat bergantung pada mesin
biologis sel inang. Selama proses replikasi tersebut terjadi mutasi genetik yang menghasilkan
perubahan pada protein struktural, protein permukaan, maupun karakteristik
biologis lainnya. Pada virus RNA, laju mutasi umumnya lebih tinggi dibandingkan
virus DNA karena enzim RNA-dependent RNA polymerase memiliki kemampuan koreksi
kesalahan (proofreading) yang terbatas, meskipun terdapat pengecualian
pada kelompok coronavirus yang memiliki sistem koreksi parsial melalui enzim
ExoN (Harvey et al., 2021; Domingo, 2020).
Pandemi COVID-19 memberikan contoh nyata bagaimana
evolusi virus dapat berlangsung sangat cepat. Dalam kurun waktu kurang dari
tiga tahun sejak pertama kali diidentifikasi pada akhir 2019, SARS-CoV-2 telah
menghasilkan berbagai Variants of Concern (VOC) seperti Alpha, Beta,
Gamma, Delta, dan Omicron beserta berbagai subvariannya. Perubahan tersebut
terutama terjadi pada protein Spike yang berperan dalam pengikatan terhadap
reseptor ACE2, sehingga memengaruhi kemampuan transmisi, afinitas terhadap sel
inang, serta sensitivitas terhadap antibodi (WHO, 2024; Harvey et al., 2021).
Walaupun sebagian besar mekanisme kerja pelapis nano
antivirus bersifat non-spesifik—misalnya melalui pembentukan reactive oxygen
species (ROS), pelepasan ion logam, gangguan integritas membran, atau
oksidasi protein—perubahan struktur virus tetap dapat memengaruhi tingkat
sensitivitas terhadap mekanisme inaktivasi tertentu. Variasi komposisi lipid amplop,
glikosilasi protein permukaan, stabilitas kapsid, maupun kemampuan virus
bertahan pada permukaan dapat menyebabkan perbedaan respons terhadap material
antivirus (Weiss et al., 2021; Rai et al., 2021).
Sebagai contoh, virus dengan amplop
yang kaya kolesterol atau memiliki glikoprotein yang lebih padat dapat
menunjukkan stabilitas lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan virus lain
yang masih berada dalam kelompok beramplop. Demikian pula, perubahan pada
struktur kapsid virus tanpa amplop dapat meningkatkan ketahanan terhadap
oksidasi atau denaturasi protein. Oleh karena itu, penggunaan satu virus surrogate
secara terus-menerus selama bertahun-tahun berpotensi mengurangi relevansi
ilmiah suatu standar terhadap perkembangan virus di masa depan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa standar internasional
tidak boleh bersifat statis. Sebaliknya, standar harus dirancang sebagai
dokumen yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam konteks
ISO/PWI TS 25402, adaptasi tersebut dapat diwujudkan melalui mekanisme
pembaruan berkala terhadap daftar virus uji berdasarkan perkembangan
epidemiologi global, rekomendasi WHO, serta hasil kajian ilmiah terbaru
mengenai karakteristik virus yang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.
Selain aspek evolusi virus, munculnya penyakit infeksi
baru (emerging infectious diseases) juga perlu dipertimbangkan. Sejarah
kesehatan global menunjukkan bahwa dalam dua dekade terakhir dunia menghadapi
berbagai wabah yang disebabkan oleh virus baru, antara lain SARS-CoV, MERS-CoV,
SARS-CoV-2, virus Zika, virus Nipah, virus Monkeypox (Mpox), hingga berbagai
virus influenza zoonotik. Tidak ada jaminan bahwa ancaman pandemi berikutnya
akan berasal dari kelompok virus yang sama. Oleh karena itu, standar evaluasi
aktivitas antivirus sebaiknya tidak dikembangkan hanya berdasarkan satu virus
target, melainkan berdasarkan karakteristik biologis yang mewakili kelompok
virus secara lebih luas.
Pendekatan berbasis karakteristik biologis (biology-based
standardization) akan menghasilkan standar yang jauh lebih tahan terhadap
perubahan zaman dibandingkan pendekatan berbasis nama virus tertentu. Dengan
demikian, ketika muncul virus baru, standar tidak perlu disusun ulang secara
menyeluruh, melainkan hanya memperbarui panel virus representatif yang
digunakan dalam pengujian.
3.2.5 Kritik terhadap Penggunaan Bacteriophage
sebagai Virus Tunggal
Penggunaan bakteriofag (bacteriophage) sebagai
virus uji telah menjadi praktik umum dalam berbagai penelitian antivirus maupun
standar internasional. Bakteriofag memiliki sejumlah keunggulan praktis, antara
lain mudah diperoleh, mudah diperbanyak dalam kultur bakteri, biaya operasional
rendah, tidak bersifat patogen bagi manusia, serta dapat digunakan di
laboratorium dengan tingkat keamanan hayati rendah (BSL-1). Faktor-faktor
tersebut menjadikan bakteriofag sebagai model yang sangat menarik dalam pengembangan
metode pengujian awal (Aquino de Carvalho et al., 2017).
Di antara berbagai jenis bakteriofag, Phi6 sering
digunakan sebagai model virus beramplop karena memiliki membran lipid yang
secara umum menyerupai virus respiratori manusia. Sementara itu, MS2 dan Qβ
banyak digunakan sebagai model virus tanpa amplop karena memiliki kapsid
protein yang relatif stabil terhadap lingkungan (Fedorenko et al., 2020).
Penggunaan model tersebut telah memberikan kontribusi besar terhadap
perkembangan penelitian mengenai desinfeksi, filtrasi udara, pengolahan air,
serta evaluasi aktivitas antivirus material nano.
Namun demikian, hasil kajian ini menunjukkan bahwa
penggunaan bakteriofag sebagai satu-satunya virus uji memiliki sejumlah
keterbatasan ilmiah yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan ISO/PWI TS
25402.
Keterbatasan pertama adalah perbedaan
struktur molekuler. Meskipun Phi6 memiliki amplop lipid, komposisi lipid,
protein membran, serta mekanisme infeksi virus tersebut sangat berbeda dengan
coronavirus, influenza, maupun virus respiratori manusia lainnya. Dengan demikian, respons Phi6 terhadap suatu material
tidak selalu identik dengan respons virus target.
Keterbatasan kedua berkaitan dengan mekanisme
adsorpsi virus. Bakteriofag secara alami berinteraksi dengan reseptor pada
permukaan bakteri, sedangkan virus manusia mengenali reseptor spesifik pada sel
mamalia. Perbedaan ini dapat memengaruhi stabilitas virus pada permukaan maupun
interaksi awal dengan material pelapis nano.
Keterbatasan ketiga adalah perbedaan
sensitivitas terhadap mekanisme inaktivasi. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa laju inaktivasi Phi6 oleh sinar ultraviolet, ozon, maupun fotokatalisis
tidak selalu sebanding dengan SARS-CoV-2. Demikian pula, bakteriofag MS2
diketahui memiliki ketahanan yang jauh lebih tinggi terhadap berbagai metode
desinfeksi dibandingkan sebagian besar virus respiratori. Akibatnya,
interpretasi efektivitas material menjadi sangat bergantung pada jenis
bakteriofag yang dipilih.
Keterbatasan berikutnya berkaitan dengan
keragaman virus patogen manusia. Virus yang menjadi perhatian kesehatan
masyarakat sangat beragam, mencakup virus respiratori, enterik, arbovirus,
hingga virus zoonotik. Masing-masing memiliki karakteristik morfologi, ukuran
partikel, stabilitas lingkungan, serta mekanisme infeksi yang berbeda. Oleh
karena itu, tidak realistis mengharapkan satu jenis bakteriofag mampu
merepresentasikan seluruh spektrum tersebut.
Dari perspektif standardisasi,
penggunaan satu virus surrogate juga meningkatkan risiko false
confidence, yaitu kondisi ketika suatu produk dinyatakan sangat efektif
berdasarkan hasil pengujian terhadap satu virus model, tetapi ternyata
memberikan aktivitas yang jauh lebih rendah terhadap virus lain yang memiliki
karakteristik berbeda. Risiko ini menjadi semakin penting ketika hasil
pengujian digunakan sebagai dasar klaim komersial atau persetujuan regulator.
Kajian ini tidak bermaksud menolak
penggunaan bakteriofag. Sebaliknya, bakteriofag tetap memiliki peran
penting sebagai model biologis yang aman dan ekonomis. Akan tetapi,
penggunaannya sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu komponen dalam sistem
evaluasi yang lebih komprehensif, bukan sebagai satu-satunya dasar penilaian
aktivitas antivirus.
3.2.6 Usulan Sistem Multi-Panel
Virus untuk Revisi ISO/PWI TS 25402
Berdasarkan berbagai keterbatasan
tersebut, penelitian ini mengusulkan agar ISO/PWI TS 25402 mengadopsi
pendekatan Multi-Panel Virus Evaluation Framework sebagai paradigma baru
dalam evaluasi keandalan aktivitas antivirus.
Konsep utama pendekatan ini adalah
bahwa satu jenis virus tidak dapat mewakili seluruh variasi biologis virus yang
relevan terhadap kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengujian perlu
dilakukan menggunakan panel virus yang dipilih berdasarkan karakteristik
struktural dan biologis, bukan semata-mata berdasarkan kemudahan kultur.
Panel yang diusulkan terdiri atas
empat kelompok utama.
Kelompok pertama adalah virus beramplop (enveloped
viruses) yang mewakili virus respiratori dengan sensitivitas tinggi terhadap
oksidasi lipid. Contoh virus yang dapat digunakan antara lain influenza A
virus, human coronavirus 229E, atau virus surrogate lain yang direkomendasikan
oleh WHO dan memiliki tingkat keamanan hayati yang sesuai.
Kelompok kedua adalah virus tanpa amplop (non-enveloped
viruses), seperti murine norovirus, adenovirus tipe tertentu, atau virus
surrogate lain yang memiliki ketahanan lingkungan tinggi. Kelompok ini
berfungsi untuk mengevaluasi apakah material tetap efektif terhadap virus yang
secara alami lebih resisten terhadap berbagai agen antivirus.
Kelompok ketiga adalah bakteriofag representatif,
misalnya Phi6 sebagai model virus beramplop dan MS2 sebagai model virus tanpa
amplop. Kehadiran bakteriofag tetap penting karena memberikan kemudahan
reproduksibilitas antar laboratorium serta memungkinkan validasi metode dengan
biaya yang relatif rendah.
Kelompok keempat adalah virus target opsional (application-specific
virus). Kelompok ini disesuaikan dengan tujuan penggunaan material. Sebagai
contoh, pelapis yang ditujukan untuk fasilitas pelayanan kesehatan dapat diuji
menggunakan coronavirus manusia atau influenza. Sebaliknya, pelapis untuk
industri pangan dapat menggunakan surrogate norovirus atau virus enterik lain
yang relevan.
Pendekatan multi-panel memberikan beberapa keuntungan
strategis. Pertama, hasil pengujian menjadi lebih representatif terhadap
berbagai kelompok virus yang mungkin ditemui pada kondisi nyata. Kedua,
regulator memperoleh dasar ilmiah yang lebih kuat dalam mengevaluasi klaim produk.
Ketiga, produsen dapat mengidentifikasi spektrum aktivitas produknya secara
lebih akurat sehingga mengurangi risiko klaim yang menyesatkan. Keempat,
penggunaan panel yang terstandarisasi akan meningkatkan reproduksibilitas hasil
antar laboratorium di berbagai negara.
Pendekatan ini juga sejalan dengan
prinsip One Health, yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia,
hewan, dan lingkungan. Dengan menggunakan panel virus yang lebih beragam,
standar tidak hanya relevan terhadap pandemi saat ini, tetapi juga memiliki
kapasitas adaptif untuk menghadapi ancaman penyakit infeksi baru pada masa
mendatang.
3.2.7 Usulan Panel Virus
Terstandarisasi untuk Revisi ISO/PWI TS 25402
Berdasarkan hasil analisis terhadap
berbagai standar internasional, publikasi ilmiah, dan perkembangan virologi
modern, penelitian ini mengusulkan agar ISO/PWI TS 25402 tidak lagi menggunakan
pendekatan single-surrogate virus, melainkan mengadopsi Multi-Panel
Virus Evaluation Framework. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan validitas
biologis, memperluas cakupan representasi virus, serta meningkatkan
reproduksibilitas antar laboratorium.
Panel virus yang diusulkan disusun
berdasarkan lima prinsip utama:
- Representativitas biologis, yaitu mewakili kelompok
virus beramplop dan tanpa amplop yang memiliki karakteristik fisikokimia
berbeda.
- Keamanan laboratorium, sehingga sebagian besar
pengujian dapat dilakukan pada laboratorium BSL-1 atau BSL-2 menggunakan
virus surrogate yang telah divalidasi.
- Reproduksibilitas
internasional, melalui penggunaan virus yang tersedia secara luas di
berbagai laboratorium pengujian.
- Fleksibilitas
aplikasi, sehingga panel dapat disesuaikan dengan sektor penggunaan,
misalnya rumah sakit, transportasi publik, industri pangan, atau fasilitas
pendidikan.
- Kemampuan
adaptasi terhadap ancaman penyakit baru, dengan mekanisme pembaruan panel
virus secara berkala berdasarkan rekomendasi WHO dan perkembangan
epidemiologi global.
Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan ISO
21702, melainkan melengkapinya dengan menyediakan kerangka pemilihan virus yang
lebih sistematis bagi evaluasi reliabilitas aktivitas antivirus.
Tabel 3.1. Usulan Panel Virus untuk
Evaluasi Keandalan Aktivitas Antivirus pada ISO/PWI TS 25402
|
Kelompok Virus |
Contoh Virus yang Direkomendasikan |
Tingkat Biosafety |
Alasan Pemilihan |
Kelebihan |
Keterbatasan |
Peran dalam ISO/PWI TS 25402 |
|
Virus beramplop (Respiratori) |
Human Coronavirus 229E, Influenza A (H1N1) |
BSL-2 |
Mewakili virus respiratori yang memiliki membran lipid |
Relevan terhadap
aplikasi rumah sakit dan fasilitas publik |
Memerlukan kultur sel mamalia dan prosedur biosafety
lebih ketat |
Evaluasi utama
terhadap efektivitas pelapis antivirus pada virus beramplop |
|
Virus tanpa amplop (Enterik) |
Murine Norovirus, Adenovirus tipe tertentu |
BSL-2 |
Mewakili virus yang lebih resisten terhadap desinfeksi
dan lingkungan |
Menguji batas
kemampuan material terhadap virus yang sulit diinaktivasi |
Kultur relatif lebih kompleks dibanding bakteriofag |
Mengukur spektrum aktivitas antivirus yang lebih luas |
|
Bakteriofag beramplop |
Phi6 |
BSL-1 |
Surrogate aman bagi coronavirus atau virus respiratori beramplop |
Murah, mudah diperbanyak, reproduksibilitas tinggi |
Tidak identik secara biologis dengan virus manusia |
Validasi rutin metode
dan uji kendali mutu laboratorium |
|
Bakteriofag tanpa amplop |
MS2, Qβ |
BSL-1 |
Model virus dengan stabilitas lingkungan tinggi |
Sangat mudah dikultur dan digunakan pada uji
interlaboratorium |
Respons terhadap material tidak selalu sama dengan
virus manusia |
Evaluasi awal dan harmonisasi antar laboratorium |
|
Virus target spesifik (Opsional) |
Disesuaikan dengan
tujuan aplikasi (misalnya RSV, MPXV surrogate, enterovirus) |
BSL-2/BSL-3 sesuai virus |
Menyesuaikan kebutuhan industri tertentu |
Sangat relevan
terhadap aplikasi spesifik |
Membutuhkan fasilitas dan biaya lebih tinggi |
Pengujian tambahan
untuk klaim produk khusus |
Tabel tersebut menunjukkan bahwa
tidak ada satu virus pun yang mampu mewakili seluruh karakteristik biologis
virus patogen manusia. Oleh karena itu, pendekatan berbasis panel lebih sesuai
dibandingkan penggunaan satu virus tunggal. Selain meningkatkan validitas
ilmiah, pendekatan ini juga memungkinkan interpretasi hasil berdasarkan
spektrum aktivitas antivirus, bukan sekadar nilai reduksi virus terhadap satu
model biologis.
Selain pemilihan virus, standar juga
perlu menetapkan kriteria minimal bagi setiap panel, antara lain jumlah
replikasi biologis, batas variasi antar ulangan, metode enumerasi virus, serta
prosedur validasi kultur. Harmonisasi parameter tersebut akan mengurangi
variasi metodologis yang selama ini menjadi salah satu sumber utama perbedaan
hasil antar laboratorium.
3.2.8 Implikasi terhadap Harmonisasi
Regulasi Internasional dan Reproduksibilitas Antar Laboratorium
Pengembangan standar internasional
tidak hanya bertujuan menyediakan metode pengujian yang seragam, tetapi juga
membangun kepercayaan ilmiah (scientific confidence) terhadap
hasil pengujian yang dihasilkan oleh laboratorium di berbagai negara. Dalam
konteks nanoteknologi, kepercayaan tersebut sangat penting karena hasil
pengujian sering digunakan sebagai dasar sertifikasi produk, pengambilan
keputusan regulator, serta perdagangan internasional.
Keterkaitan dengan ISO 21702
ISO 21702:2019 telah menjadi standar
internasional utama untuk mengukur aktivitas antivirus pada plastik dan
permukaan non-poros. Namun, standar tersebut berfokus pada efikasi antivirus
awal (initial antiviral activity) tanpa mengevaluasi perubahan performa
akibat penuaan material, abrasi mekanis, atau degradasi kimia.
ISO/PWI TS 25402 memiliki peluang
untuk melengkapi ISO 21702 dengan menambahkan dimensi reliabilitas, sehingga
kedua dokumen dapat berfungsi secara komplementer:
- ISO 21702 → Apakah permukaan memiliki aktivitas
antivirus?
- ISO/PWI TS 25402 → Apakah aktivitas tersebut
tetap bertahan setelah mengalami penggunaan dan degradasi?
Dalam kerangka ini, penggunaan panel
virus yang terstandarisasi akan meningkatkan konsistensi antara kedua dokumen
serta mengurangi variasi interpretasi terhadap klaim aktivitas antivirus.
Keterkaitan dengan ISO/TC 229
Sebagai komite teknis yang
bertanggung jawab terhadap standardisasi nanoteknologi, ISO/TC 229 memiliki
mandat untuk memastikan bahwa setiap standar yang dikembangkan memenuhi prinsip
ilmiah, metrologi, dan keselamatan. Pendekatan Multi-Panel Virus Evaluation
Framework mendukung mandat tersebut karena memperkuat hubungan antara
karakterisasi material nano (misalnya ISO/TS 23302), evaluasi aktivitas
biologis, dan penilaian keandalan selama siklus hidup produk.
Selain itu, integrasi panel virus
yang representatif akan memperkuat konsistensi internal di antara berbagai
standar ISO yang berkaitan dengan nanoteknologi, sehingga memudahkan pengguna
standar dalam menerapkan pendekatan yang harmonis.
Keterkaitan dengan OECD Working Party on Manufactured
Nanomaterials (WPMN)
OECD WPMN telah lama menekankan pentingnya harmonisasi
metode pengujian, validasi antar laboratorium, serta pendekatan berbasis siklus
hidup (life-cycle approach) dalam evaluasi keamanan nanomaterial.
Meskipun fokus utama OECD adalah aspek keselamatan dan penilaian risiko,
prinsip-prinsip tersebut juga relevan bagi evaluasi aktivitas antivirus.
Penggunaan panel virus yang baku memungkinkan hasil
pengujian aktivitas antivirus diintegrasikan dengan data mengenai karakterisasi
material, degradasi, dan pelepasan nano-objek. Dengan demikian, data yang
dihasilkan tidak hanya bermanfaat untuk membuktikan efikasi produk, tetapi juga
dapat mendukung penilaian risiko lingkungan dan kesehatan yang lebih
komprehensif.
Keterkaitan dengan WHO dan Kesiapsiagaan Pandemi
WHO secara konsisten menekankan pentingnya kesiapsiagaan
terhadap penyakit infeksi yang baru muncul (emerging infectious diseases).
Dalam konteks ini, standar yang terlalu bergantung pada satu virus model
berisiko kehilangan relevansi ketika muncul patogen baru dengan karakteristik
biologis yang berbeda.
Pendekatan berbasis panel memberikan fleksibilitas yang
lebih tinggi karena memungkinkan pembaruan daftar virus representatif
berdasarkan perkembangan epidemiologi global tanpa harus mengubah keseluruhan
metodologi pengujian. Dengan demikian, standar menjadi lebih adaptif terhadap
dinamika ancaman kesehatan masyarakat.
Keterkaitan dengan ASTM International
ASTM telah mengembangkan berbagai metode pengujian
aktivitas antivirus dan desinfeksi permukaan, termasuk ASTM E1053 dan standar
lain yang berkaitan dengan efektivitas agen antimikroba. Walaupun terdapat
perbedaan prosedur dibandingkan ISO, kedua organisasi memiliki tujuan yang
sama, yaitu menyediakan metode yang dapat direproduksi secara internasional.
Apabila ISO/PWI TS 25402 mengadopsi panel virus yang
memiliki kesetaraan dengan model biologis yang digunakan dalam ASTM, maka
peluang harmonisasi lintas organisasi akan semakin besar. Hal ini penting mengingat banyak
perusahaan multinasional harus memenuhi persyaratan regulator di berbagai
kawasan seperti Eropa, Amerika Utara, dan Asia-Pasifik.
3.2.8.1 Peningkatan Interlaboratory Reproducibility
Salah satu indikator utama kualitas suatu standar
internasional adalah tingkat reproduksibilitas antar laboratorium (interlaboratory
reproducibility). Variasi hasil yang terlalu besar akan mengurangi
kepercayaan terhadap standar, mempersulit proses sertifikasi, dan meningkatkan
biaya pengujian ulang.
Pendekatan Multi-Panel Virus Evaluation Framework
berpotensi meningkatkan reproduksibilitas melalui beberapa mekanisme:
- penggunaan
virus referensi yang sama di berbagai laboratorium;
- karakterisasi biologis virus yang terdokumentasi
secara rinci;
- prosedur kultur, inokulasi, dan enumerasi yang
terharmonisasi;
- penggunaan
kontrol positif dan kontrol negatif yang seragam;
- penetapan
batas variasi antar ulangan (acceptance criteria);
- pelaksanaan
uji profisiensi (proficiency testing) secara berkala di bawah
koordinasi laboratorium rujukan internasional.
Implementasi langkah-langkah tersebut akan memperkuat
validitas data yang dihasilkan dan mengurangi ketidakpastian pengukuran (measurement
uncertainty), yang merupakan prinsip fundamental dalam ilmu metrologi.
3.2.8.2 Kontribusi terhadap Global Mutual Recognition
Dalam perdagangan internasional, hasil pengujian yang
dilakukan di satu negara idealnya dapat diterima oleh regulator di negara lain
tanpa perlu dilakukan pengujian ulang. Prinsip ini dikenal sebagai global
mutual recognition dan menjadi salah satu tujuan utama harmonisasi standar
internasional.
Apabila ISO/PWI TS 25402 berhasil mengintegrasikan panel
virus yang representatif, prosedur pengujian yang tervalidasi, serta
persyaratan reproduksibilitas yang ketat, maka hasil evaluasi aktivitas
antivirus akan memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi di tingkat
global. Hal ini akan memberikan
manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan, antara lain:
- industri, melalui percepatan komersialisasi produk
dan pengurangan biaya pengujian;
- regulator,
melalui tersedianya dasar ilmiah yang konsisten untuk evaluasi klaim
produk;
- laboratorium, melalui peningkatan kesetaraan metode
dan kompetensi teknis;
- masyarakat, melalui jaminan bahwa produk pelapis
nano antivirus yang beredar telah dievaluasi menggunakan metode yang
andal, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Secara keseluruhan, hasil kajian ini
menunjukkan bahwa integrasi Multi-Panel Virus Evaluation Framework ke
dalam revisi ISO/PWI TS 25402 akan memberikan kontribusi penting terhadap
peningkatan validitas biologis, harmonisasi regulasi internasional,
reproduksibilitas antar laboratorium, serta pengakuan global terhadap hasil
pengujian aktivitas antivirus. Pendekatan ini sekaligus memperkuat posisi
ISO/PWI TS 25402 sebagai standar yang tidak hanya relevan untuk kondisi saat
ini, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan ilmu virologi dan ancaman
penyakit infeksi pada masa depan.
3.3 Risiko Pelepasan Nano-Objek (Nanoparticle Leaching)
dan Integrasi Aspek Environmental Health and Safety (EHS) dalam ISO/PWI
TS 25402
Selain mempertahankan aktivitas
antivirus selama masa pakai, pelapis nano (nanocoatings) juga harus
memenuhi persyaratan keselamatan terhadap manusia dan lingkungan. Dalam konteks
ini, efektivitas biologis tidak dapat dipisahkan dari aspek Environmental
Health and Safety (EHS), karena mekanisme yang menghasilkan aktivitas
antivirus—misalnya pelepasan ion logam atau degradasi permukaan—dapat pula
meningkatkan risiko pelepasan nano-objek (nanoparticle leaching) ke
lingkungan. Oleh karena itu, suatu material yang menunjukkan aktivitas
antivirus sangat tinggi belum tentu layak digunakan apabila selama
penggunaannya melepaskan nanopartikel atau ion logam dalam jumlah yang
berpotensi menimbulkan dampak toksik.
Kajian terhadap rancangan ISO/PWI
TS 25402 menunjukkan bahwa fokus utama dokumen masih berada pada evaluasi
keandalan aktivitas antivirus, sementara aspek pelepasan nano-objek belum
diintegrasikan secara eksplisit sebagai parameter evaluasi. Padahal, pendekatan
life-cycle assessment dalam nanoteknologi modern menempatkan pelepasan
material sebagai salah satu indikator utama keselamatan produk (OECD, 2022;
ISO/TS 12025:2021). Dengan demikian, revisi ISO/PWI TS 25402 perlu memperluas
ruang lingkupnya agar mencakup hubungan antara durabilitas, efikasi antivirus,
dan keselamatan lingkungan secara terpadu.
3.3.1 Konsep Nanoparticle Leaching dalam Pelapis
Nano
Nanoparticle leaching
adalah proses terlepasnya nano-objek, aglomerat, agregat, atau ion yang berasal
dari nanomaterial menuju lingkungan sekitar selama siklus hidup produk.
Pelepasan tersebut dapat terjadi pada tahap produksi, penggunaan, pemeliharaan,
maupun pembuangan akhir (end-of-life). Dalam aplikasi pelapis antivirus,
mekanisme pelepasan terutama dipengaruhi oleh degradasi matriks pengikat,
abrasi mekanis, paparan sinar ultraviolet, fluktuasi suhu dan kelembapan, serta
kontak berulang dengan bahan pembersih atau disinfektan.
Pada pelapis berbasis nanopartikel perak (AgNP),
misalnya, pelepasan dapat berupa ion Ag⁺ hasil oksidasi maupun partikel nano
utuh yang terlepas akibat kerusakan matriks. Pada sistem berbasis Cu atau Cu₂O,
proses korosi menghasilkan ion Cu²⁺ yang berkontribusi terhadap aktivitas
antivirus, tetapi pada saat yang sama meningkatkan paparan logam terhadap
lingkungan. Demikian pula pada material fotokatalitik TiO₂ atau ZnO, abrasi
mekanis dapat menghasilkan fragmen lapisan yang mengandung nano-objek aktif.
Dengan demikian, mekanisme yang memberikan manfaat biologis sering kali
berkaitan langsung dengan potensi pelepasan material.
Konsep ini menunjukkan adanya hubungan yang bersifat
paradoks. Pelepasan ion dalam jumlah kecil dapat menjadi bagian dari mekanisme
inaktivasi virus, sedangkan pelepasan partikel secara berlebihan justru
menurunkan umur pakai pelapis dan meningkatkan risiko terhadap kesehatan maupun
ekosistem. Oleh sebab itu, evaluasi keandalan tidak boleh hanya mengukur
kemampuan membunuh virus, tetapi juga harus mengukur stabilitas material selama
fungsi tersebut berlangsung.
3.3.2 Mekanisme Pelepasan Nano-Objek
Selama Siklus Hidup Produk
Secara umum, pelepasan nano-objek
dari pelapis antivirus dapat terjadi melalui beberapa mekanisme utama.
Pertama, abrasi mekanis. Kontak
berulang akibat sentuhan tangan, gesekan benda keras, proses pembersihan,
maupun penggunaan sehari-hari menyebabkan pengikisan lapisan permukaan secara
bertahap. Setiap siklus abrasi dapat melepaskan sejumlah kecil nanopartikel
atau fragmen lapisan yang mengandung nano-objek aktif. Walaupun pelepasan pada
setiap kejadian relatif kecil, akumulasi selama ribuan siklus penggunaan dapat
menjadi signifikan.
Kedua, degradasi fotokimia. Paparan
radiasi ultraviolet mengakibatkan pemutusan rantai polimer (chain scission),
oksidasi matriks, dan pembentukan retakan mikro. Kerusakan tersebut memperlemah
ikatan antara nanopartikel dan matriks sehingga meningkatkan kemungkinan
pelepasan ke lingkungan.
Ketiga, degradasi kimia. Alkohol,
natrium hipoklorit, hidrogen peroksida, senyawa amonium kuarterner, maupun
deterjen dapat menyebabkan pembengkakan (swelling), hidrolisis, atau
pelarutan sebagian matriks polimer. Proses ini meningkatkan mobilitas
nanopartikel serta mempercepat pelepasannya.
Keempat, korosi dan pelarutan ion.
Pada nanomaterial logam, terutama Ag dan Cu, kontak dengan air, kelembapan
tinggi, atau cairan biologis dapat memicu pelepasan ion logam. Walaupun ion
tersebut berkontribusi terhadap aktivitas antivirus, konsentrasi yang
berlebihan dapat meningkatkan risiko toksisitas terhadap organisme non-target.
Kelima, degradasi biologis.
Mikroorganisme tertentu mampu menghasilkan metabolit yang mengubah struktur
kimia matriks polimer, sehingga mempercepat pelepasan nano-objek. Walaupun
mekanisme ini relatif lebih lambat dibandingkan abrasi atau fotodegradasi,
pengaruhnya menjadi penting pada aplikasi jangka panjang.
Kelima mekanisme tersebut sering berlangsung secara
simultan. Oleh karena itu, evaluasi pelepasan nano-objek sebaiknya dilakukan
setelah material mengalami simulasi accelerated environmental weathering,
sehingga hasil pengujian lebih mencerminkan kondisi penggunaan nyata.
3.3.3 Implikasi Nanoparticle Leaching terhadap
Environmental Health and Safety (EHS)
Pelepasan nano-objek memiliki implikasi yang melampaui
aspek performa material. Dari perspektif EHS, nano-objek yang terlepas dapat
memasuki berbagai kompartemen lingkungan melalui udara, air limbah, tanah,
maupun limbah padat. Setelah berada di lingkungan, nanopartikel dapat mengalami
transformasi fisikokimia seperti aglomerasi, pelarutan, adsorpsi pada bahan
organik, atau perubahan valensi, yang selanjutnya memengaruhi mobilitas,
bioavailabilitas, dan toksisitasnya.
Paparan terhadap manusia dapat
terjadi melalui inhalasi aerosol, kontak kulit, maupun tertelannya partikel
yang mencemari tangan atau makanan. Meskipun sebagian besar pelapis nano
dirancang agar nanopartikelnya tetap terikat pada permukaan, degradasi selama
masa pakai dapat mengubah kondisi tersebut. Oleh karena itu, evaluasi EHS harus
mempertimbangkan seluruh siklus hidup produk, bukan hanya kondisi awal setelah
manufaktur.
OECD melalui Working Party on Manufactured
Nanomaterials (WPMN) menekankan pentingnya pendekatan berbasis siklus hidup
(life-cycle approach) dalam penilaian risiko nanomaterial. Pendekatan serupa juga tercermin
dalam berbagai dokumen ISO/TC 229 yang menekankan karakterisasi material,
pelepasan nano-objek, serta hubungan antara sifat fisikokimia dan potensi
paparan. Dengan demikian, integrasi parameter pelepasan ke dalam ISO/PWI TS
25402 akan memperkuat keselarasan standar tersebut dengan prinsip-prinsip
internasional mengenai keselamatan nanoteknologi.
3.3.4 Metode Kuantifikasi Pelepasan
Nano-Objek
Pengukuran nanoparticle leaching
memerlukan kombinasi teknik analisis karena tidak ada satu metode pun yang
mampu memberikan seluruh informasi mengenai jumlah, ukuran, morfologi,
komposisi, dan bentuk kimia nano-objek secara bersamaan.
Inductively Coupled Plasma–Mass Spectrometry (ICP–MS)
ICP–MS merupakan teknik yang sangat sensitif untuk
mengukur konsentrasi unsur logam dalam filtrat hasil pencucian atau media
simulasi. Metode ini sangat sesuai untuk menentukan jumlah total ion Ag, Cu,
Zn, atau unsur lain yang terlepas dari pelapis nano hingga tingkat jejak (trace
level). Namun, ICP–MS konvensional tidak mampu membedakan apakah unsur
tersebut berasal dari ion terlarut atau nanopartikel utuh.
Single Particle ICP–MS (spICP–MS)
Pengembangan spICP–MS memungkinkan identifikasi
nanopartikel secara individual berdasarkan pulsa sinyal yang dihasilkan setiap
partikel ketika memasuki plasma. Teknik ini mampu memberikan informasi mengenai ukuran
partikel, distribusi ukuran, konsentrasi partikel, serta fraksi ion terlarut.
Dibandingkan ICP–MS konvensional, spICP–MS memberikan informasi yang jauh lebih
relevan untuk evaluasi pelepasan nano-objek.
Transmission Electron Microscopy (TEM)
TEM digunakan untuk mengamati morfologi, ukuran primer,
bentuk partikel, serta tingkat aglomerasi dengan resolusi nanometer bahkan
subnanometer. Dalam studi pelepasan, TEM sangat berguna untuk memastikan bahwa partikel
yang terdeteksi memang merupakan nano-objek, bukan presipitat atau artefak
analisis.
Scanning Electron Microscopy dengan Energy Dispersive
X-ray Spectroscopy (SEM–EDS)
SEM–EDS memungkinkan evaluasi perubahan morfologi
permukaan sebelum dan sesudah pengujian weathering. Selain
mengidentifikasi retakan, abrasi, atau delaminasi, EDS memberikan informasi
mengenai distribusi unsur pada permukaan sehingga dapat digunakan untuk
menghubungkan kehilangan material dengan penurunan aktivitas antivirus.
Nanoparticle Tracking Analysis (NTA)
NTA mengukur ukuran hidrodinamik dan konsentrasi partikel
yang tersuspensi dalam cairan berdasarkan gerak Brown. Teknik ini sangat
berguna untuk mengevaluasi pelepasan nanopartikel ke media cair selama simulasi
pencucian atau paparan lingkungan. Walaupun tidak memberikan informasi
komposisi unsur secara langsung, NTA melengkapi data yang diperoleh dari ICP–MS
dan TEM.
Pendekatan yang paling kuat adalah menggunakan strategi
analisis multimodal, yaitu mengombinasikan ICP–MS/spICP–MS untuk kuantifikasi
unsur, TEM atau SEM–EDS untuk karakterisasi morfologi, serta NTA untuk
distribusi ukuran partikel dalam media cair. Strategi ini menghasilkan data
yang lebih komprehensif dan meningkatkan kepercayaan terhadap hasil pengujian.
3.3.5 Integrasi Pendekatan Safe and Sustainable by
Design (SSbD)
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep Safe and
Sustainable by Design (SSbD) berkembang sebagai paradigma baru dalam
pengembangan material maju di berbagai yurisdiksi, khususnya di Eropa.
Pendekatan ini menekankan bahwa aspek keselamatan dan keberlanjutan harus
dipertimbangkan sejak tahap perancangan material, bukan hanya dievaluasi
setelah produk selesai dikembangkan.
Dalam konteks pelapis nano antivirus, prinsip SSbD
mencakup beberapa aspek, yaitu:
- pemilihan
nanomaterial dengan profil bahaya yang lebih rendah tanpa mengurangi
aktivitas antivirus;
- desain matriks pengikat yang mampu meminimalkan
pelepasan nano-objek selama masa pakai;
- optimasi
ukuran, bentuk, dan distribusi nanopartikel untuk memperoleh efikasi
tinggi dengan dosis minimal;
- evaluasi
keberlanjutan sepanjang siklus hidup produk, mulai dari manufaktur hingga
pembuangan akhir;
- integrasi
aspek paparan manusia dan lingkungan ke dalam proses pengembangan produk.
Dengan mengadopsi prinsip SSbD, evaluasi keandalan tidak
hanya berorientasi pada performa, tetapi juga memastikan bahwa peningkatan
aktivitas antivirus tidak dicapai dengan mengorbankan keselamatan pengguna
maupun kualitas lingkungan.
3.3.6 Usulan Integrasi Evaluasi Nanoparticle Leaching
ke dalam ISO/PWI TS 25402
Berdasarkan analisis kritis terhadap standar yang ada,
kajian ini mengusulkan agar revisi ISO/PWI TS 25402 memasukkan evaluasi
pelepasan nano-objek sebagai komponen wajib dalam kerangka pengujian keandalan.
Integrasi tersebut dapat dilakukan melalui tahapan berikut:
- Karakterisasi awal pelapis nano, meliputi komposisi,
ketebalan, distribusi partikel, dan morfologi permukaan.
- Simulasi accelerated environmental weathering
yang menggabungkan paparan UV, siklus suhu–kelembapan, abrasi mekanis,
serta paparan disinfektan.
- Pengumpulan
filtrat dari setiap tahap simulasi untuk analisis pelepasan.
- Kuantifikasi
ion dan nanopartikel menggunakan kombinasi ICP–MS, spICP–MS, TEM, SEM–EDS,
dan NTA sesuai karakteristik material.
- Evaluasi
aktivitas antivirus pasca-penuaan menggunakan panel virus representatif
sebagaimana diusulkan pada Subbab 3.2.
- Analisis hubungan antara laju pelepasan nano-objek,
perubahan karakteristik permukaan, dan penurunan aktivitas antivirus.
- Pelaporan terstandarisasi yang mencakup
ketidakpastian pengukuran, kondisi simulasi, karakteristik media uji,
serta parameter statistik untuk mendukung reproduksibilitas antar
laboratorium.
3.3.7 Usulan Kriteria Evaluasi yang
Selaras dengan ISO/TC 229 dan OECD WPMN
Mengingat belum terdapat ambang
batas internasional yang berlaku universal untuk seluruh jenis nano-objek dan
seluruh skenario penggunaan, artikel ini tidak mengusulkan nilai batas numerik
baru. Sebaliknya, revisi ISO/PWI TS 25402 sebaiknya menetapkan kriteria
evaluasi berbasis kinerja dan pelaporan, yang selaras dengan prinsip ISO/TC 229
dan OECD WPMN, meliputi:
- kewajiban
mengukur pelepasan nano-objek setelah simulasi environmental weathering
yang terstandarisasi;
- pelaporan terpisah antara fraksi ion terlarut dan
fraksi nanopartikel;
- penggunaan sedikitnya dua teknik analisis yang
saling melengkapi untuk memverifikasi hasil;
- dokumentasi lengkap mengenai ukuran partikel,
distribusi ukuran, morfologi, dan komposisi unsur;
- evaluasi hubungan antara laju pelepasan, penurunan
aktivitas antivirus, dan perubahan sifat fisikokimia permukaan;
- penyajian ketidakpastian pengukuran, batas deteksi,
serta validasi metode sesuai prinsip metrologi internasional;
- pelaksanaan
uji banding (interlaboratory comparison) untuk memastikan
keterulangan dan reproduksibilitas metode.
Pendekatan berbasis kinerja ini lebih fleksibel
dibandingkan penetapan satu ambang batas universal, karena mempertimbangkan
keragaman jenis nanomaterial, mekanisme kerja, serta konteks aplikasi. Selain
itu, pendekatan ini konsisten dengan filosofi ISO sebagai organisasi
standardisasi yang menyediakan kerangka metodologis, sementara penetapan batas
regulatori spesifik tetap menjadi kewenangan otoritas nasional atau regional
berdasarkan bukti ilmiah dan penilaian risiko yang berlaku.
3.4 Usulan Kerangka Baru Surface Life-Cycle
Reliability Framework untuk Revisi ISO/PWI TS 25402
Analisis pada Subbab 3.1 hingga 3.3 menunjukkan bahwa
rancangan ISO/PWI TS 25402 masih berorientasi pada evaluasi aktivitas antivirus
dalam kondisi laboratorium yang terkendali dan belum sepenuhnya
merepresentasikan perilaku material selama seluruh siklus hidupnya. Ketiadaan
simulasi environmental weathering, penggunaan virus surrogate
yang terbatas, belum terintegrasinya evaluasi pelepasan nano-objek, serta belum
adanya mekanisme harmonisasi antar laboratorium menyebabkan kemampuan standar
untuk memprediksi performa jangka panjang masih terbatas.
Berdasarkan kesenjangan tersebut, artikel ini mengusulkan
suatu paradigma baru yang disebut Surface Life-Cycle Reliability
Framework (SLRF). Kerangka ini memandang pelapis nano antivirus sebagai
suatu sistem fungsional yang harus dievaluasi secara menyeluruh sejak
karakterisasi awal hingga akhir masa pakainya. Dengan demikian, reliabilitas
tidak lagi diartikan sebagai kemampuan material menginaktivasi virus pada saat
pertama kali diproduksi, tetapi sebagai kemampuan mempertahankan fungsi
tersebut secara konsisten setelah mengalami paparan mekanis, kimia, termal,
biologis, dan lingkungan selama periode penggunaan yang realistis.
Konsep SLRF mengadopsi pendekatan life-cycle thinking,
risk-based standardization, dan Safe and Sustainable by Design (SSbD),
sehingga menghasilkan sistem evaluasi yang tidak hanya menilai efikasi
biologis, tetapi juga mempertimbangkan aspek keselamatan, keberlanjutan,
reproduksibilitas, dan penerimaan regulasi internasional.
3.4.1 Prinsip Dasar Surface Life-Cycle Reliability
Framework
Kerangka yang diusulkan dibangun berdasarkan enam prinsip
fundamental.
Pertama, evaluasi harus bersifat berbasis siklus hidup
(life-cycle based). Seluruh parameter diukur sebelum, selama, dan sesudah
material mengalami simulasi penggunaan nyata.
Kedua, pengujian harus multidisiplin,
mengintegrasikan ilmu material, nanoteknologi, virologi, toksikologi,
metrologi, dan rekayasa keandalan.
Ketiga, evaluasi dilakukan secara multivariat,
sehingga perubahan aktivitas antivirus dianalisis bersamaan dengan perubahan
karakteristik fisikokimia dan pelepasan nano-objek.
Keempat, seluruh prosedur harus memenuhi prinsip traceability
dan measurement uncertainty sebagaimana diterapkan dalam sistem metrologi
internasional.
Kelima, standar harus bersifat adaptif, sehingga panel
virus, metode analisis, maupun parameter tambahan dapat diperbarui sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan tanpa mengubah struktur utama standar.
Keenam, hasil pengujian harus memiliki global
comparability, sehingga data yang dihasilkan laboratorium di berbagai
negara dapat dibandingkan secara langsung melalui prosedur yang seragam.
Prinsip-prinsip tersebut menempatkan
reliabilitas sebagai kombinasi antara efektivitas biologis, ketahanan material,
dan keamanan lingkungan, bukan sekadar nilai reduksi virus sesaat.
3.4.2 Arsitektur Surface Life-Cycle Reliability Framework
Kerangka yang diusulkan terdiri atas tujuh tahapan
evaluasi yang saling berurutan dan saling bergantung.
Tahap 1. Karakterisasi Awal Material
Tahap pertama bertujuan memperoleh kondisi dasar (baseline
characterization) sebelum material mengalami perlakuan apa pun.
Parameter yang dievaluasi meliputi:
- komposisi
kimia,
- ukuran dan
distribusi nanopartikel,
- morfologi
permukaan,
- ketebalan
lapisan,
- kekasaran
permukaan (surface roughness),
- energi
permukaan,
- sudut kontak
air,
- kekuatan
adhesi,
- homogenitas
distribusi nanopartikel,
- kandungan unsur menggunakan teknik spektroskopi.
Karakterisasi awal menjadi acuan
untuk seluruh evaluasi berikutnya sehingga setiap perubahan yang terjadi dapat
dianalisis secara kuantitatif.
Tahap ini sejalan dengan rekomendasi
ISO/TS 23302 mengenai identifikasi measurands yang mengarakterisasi
nano-objek dan material yang mengandung nano-objek.
Tahap 2. Accelerated Environmental Weathering
Tahap kedua merupakan inti dari evaluasi reliabilitas.
Material mengalami simulasi penggunaan nyata melalui
kombinasi berbagai tekanan lingkungan yang dilakukan secara terintegrasi.
Komponen yang direkomendasikan meliputi:
- paparan UV-A
dan UV-B,
- fluktuasi
temperatur,
- kelembapan
tinggi,
- siklus
kondensasi,
- abrasi
mekanis,
- goresan
terkontrol,
- paparan
disinfektan,
- pencucian
berulang,
- paparan
kontaminan organik.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang mengevaluasi
setiap faktor secara terpisah, SLRF menekankan kombinasi beberapa jenis tekanan
(combined stress testing) karena degradasi material di lapangan hampir
selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor secara simultan.
Tahap 3. Karakterisasi Pasca-Weathering
Setelah simulasi selesai dilakukan, seluruh parameter
fisikokimia diukur kembali.
Evaluasi meliputi:
- perubahan
ketebalan lapisan,
- retakan
mikro,
- delaminasi,
- perubahan
morfologi,
- perubahan
distribusi nanopartikel,
- perubahan
sudut kontak,
- perubahan
kekuatan adhesi,
- perubahan
komposisi permukaan.
Dengan demikian, penurunan aktivitas antivirus nantinya
dapat dikaitkan secara langsung dengan perubahan struktur material.
Pendekatan mekanistik seperti ini
jauh lebih informatif dibandingkan sekadar melaporkan nilai reduksi virus.
Tahap 4. Evaluasi Aktivitas
Antivirus Menggunakan Multi-Panel Virus
Tahap berikutnya menggunakan konsep Multi-Panel
Virus Evaluation Framework sebagaimana telah dibahas pada Subbab 3.2.
Panel minimal yang diusulkan terdiri atas:
- virus
beramplop,
- virus tanpa
amplop,
- bakteriofag
beramplop,
- bakteriofag
tanpa amplop.
Apabila aplikasi produk bersifat khusus, dapat
ditambahkan virus target yang relevan.
Evaluasi dilakukan pada beberapa interval waktu kontak
sehingga diperoleh kinetika inaktivasi virus, bukan hanya hasil
pengukuran pada satu titik waktu.
Parameter yang dianjurkan meliputi:
- nilai reduksi
log (log reduction),
- konstanta
laju inaktivasi,
- waktu paruh virus pada permukaan,
- kurva
kinetika inaktivasi.
Pendekatan kinetik memungkinkan perbandingan performa
material secara lebih objektif.
Tahap 5. Evaluasi Nanoparticle Leaching dan
Environmental Health and Safety
Tahap kelima mengintegrasikan
evaluasi keselamatan sebagai bagian dari reliabilitas.
Filtrat hasil simulasi weathering dianalisis menggunakan
kombinasi:
- ICP–MS,
- spICP–MS,
- TEM,
- SEM–EDS,
- NTA.
Parameter yang dianjurkan meliputi:
- konsentrasi
ion,
- jumlah
nanopartikel,
- distribusi
ukuran,
- perubahan
morfologi,
- laju
pelepasan,
- perubahan
komposisi unsur.
Selanjutnya dilakukan analisis
hubungan antara:
- degradasi
material,
- pelepasan
nano-objek,
- penurunan
aktivitas antivirus.
Dengan demikian dapat diketahui apakah peningkatan
efikasi antivirus diperoleh melalui mekanisme yang tetap aman terhadap
lingkungan.
Tahap 6. Analisis Statistik dan Pemodelan Reliabilitas
Salah satu kelemahan banyak
penelitian mengenai pelapis antivirus adalah terbatasnya penggunaan analisis
statistik.
SLRF mengusulkan agar seluruh hasil
dianalisis menggunakan pendekatan statistik yang lebih komprehensif.
Analisis yang direkomendasikan
antara lain:
- ANOVA atau
General Linear Model,
- analisis mixed-effects
untuk data multi-laboratorium,
- regresi
nonlinier,
- analisis
reliabilitas,
- pemodelan
degradasi,
- survival
analysis
terhadap umur fungsi material,
- analisis
sensitivitas,
- analisis
ketidakpastian (uncertainty analysis).
Selain itu, hubungan antara
perubahan struktur material dengan aktivitas antivirus dapat dimodelkan
menggunakan pendekatan multivariat seperti:
- Principal
Component Analysis (PCA),
- Partial Least
Squares Regression (PLSR),
- Structural
Equation Modeling (SEM), apabila jumlah data memadai.
Pendekatan statistik tersebut memungkinkan pengembangan
indikator baru yang disebut:
Surface Reliability Index (SRI)
Indeks ini menggabungkan berbagai parameter menjadi satu
nilai komposit yang menggambarkan kemampuan suatu pelapis mempertahankan
aktivitas antivirus selama masa pakainya.
Sebagai konsep, SRI dapat dibangun
dari komponen seperti:
- retensi
aktivitas antivirus,
- stabilitas
fisikokimia,
- laju
pelepasan nano-objek,
- ketahanan
terhadap weathering,
- konsistensi
antar ulangan.
Namun demikian, pengembangan rumus matematis dan
pembobotan SRI memerlukan validasi melalui studi round robin
internasional sebelum dapat diadopsi sebagai bagian dari standar.
Tahap 7. Validasi Antar Laboratorium
Tahapan terakhir merupakan komponen yang sangat penting
namun sering diabaikan.
Sebelum standar diadopsi secara internasional, seluruh
prosedur harus divalidasi melalui:
- studi round
robin,
- interlaboratory
comparison,
- proficiency
testing.
Laboratorium dari berbagai kawasan geografis menggunakan:
- material
identik,
- virus
identik,
- prosedur
identik,
- instrumen
yang telah dikalibrasi.
Parameter yang dievaluasi meliputi:
- repeatability,
- reproducibility,
- measurement
uncertainty,
- coefficient
of variation,
- robustness
metode.
Validasi tersebut akan menghasilkan dasar ilmiah yang
kuat bagi transformasi ISO/PWI menjadi ISO/TS maupun ISO Standard.
3.4.3 Roadmap Implementasi Menuju Standar ISO yang Siap
Diadopsi Secara Global
Agar implementasi SLRF dapat dilakukan secara realistis,
penelitian ini mengusulkan roadmap pengembangan bertahap.
Tahap I: Penyempurnaan Konsep
(Jangka Pendek)
Fokus utama adalah penyempurnaan
dokumen ISO/PWI melalui:
- penambahan
simulasi environmental weathering,
- integrasi Multi-Panel
Virus Framework,
- integrasi
evaluasi nanoparticle leaching,
- harmonisasi
terminologi dengan ISO 80004 dan ISO/TS 23302.
Tahap II: Validasi Metodologi
(Jangka Menengah)
Tahap ini mencakup:
- studi antar
laboratorium,
- harmonisasi
prosedur analisis,
- evaluasi
ketidakpastian pengukuran,
- penyusunan
dokumen panduan implementasi.
Kolaborasi dengan laboratorium nasional metrologi,
lembaga standardisasi, dan pusat penelitian nanoteknologi menjadi faktor kunci
pada fase ini.
Tahap III: Harmonisasi Internasional
(Jangka Menengah–Panjang)
Setelah metodologi tervalidasi,
dilakukan harmonisasi dengan:
- ISO 21702,
- ISO/TC 229,
- OECD Working
Party on Manufactured Nanomaterials (WPMN),
- WHO,
- ASTM
International,
- serta
organisasi standardisasi regional lainnya.
Tahap ini bertujuan meningkatkan
interoperabilitas dan mengurangi duplikasi metode pengujian.
Tahap IV: Implementasi Global (Jangka Panjang)
Tahap akhir mencakup adopsi luas oleh industri,
laboratorium pengujian, regulator, dan lembaga sertifikasi.
Pada fase ini, kerangka SLRF diharapkan menjadi dasar
bagi:
- sertifikasi
pelapis nano antivirus,
- evaluasi mutu
produk,
- penilaian
klaim komersial,
- pengawasan
pascapasar (post-market surveillance),
- pembaruan berkala sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan.
Dengan pendekatan tersebut, ISO/PWI
TS 25402 tidak lagi sekadar menjadi standar pengukuran aktivitas antivirus,
tetapi berkembang menjadi kerangka evaluasi reliabilitas yang komprehensif,
berbasis bukti ilmiah, selaras dengan prinsip life-cycle assessment,
mendukung konsep Safe and Sustainable by Design, serta mampu menjawab
kebutuhan harmonisasi regulasi global. Integrasi karakterisasi material,
simulasi accelerated weathering, panel virus multirepresentatif,
evaluasi nanoparticle leaching, analisis statistik, dan validasi antar
laboratorium akan menghasilkan standar yang lebih robust, adaptif, dan kredibel
dalam mendukung pengembangan pelapis nano antivirus yang aman, efektif, dan
berkelanjutan.
IV. KESIMPULAN DAN OUTLOOK
4.1 Kesimpulan
Perkembangan pesat nanoteknologi
telah membuka peluang baru dalam pengembangan permukaan fungsional (functional
surfaces) yang mampu menghambat transmisi virus melalui kontak (fomite
transmission). Pelapis nano antivirus berbasis nanopartikel logam, oksida
logam, material fotokatalitik, maupun nanomaterial karbon telah menunjukkan
efektivitas yang menjanjikan terhadap berbagai virus patogen melalui beragam
mekanisme, seperti pelepasan ion logam, pembentukan reactive oxygen species
(ROS), kerusakan membran virus, denaturasi protein, dan degradasi materi
genetik. Aplikasi teknologi ini berkembang luas pada fasilitas pelayanan
kesehatan, transportasi publik, industri pangan, fasilitas pendidikan, ruang
komersial, hingga infrastruktur perkotaan sebagai bagian dari strategi
pengendalian penyakit menular.
Meningkatnya penggunaan pelapis nano
antivirus secara global menjadikan keberadaan standar internasional sebagai
kebutuhan yang sangat mendesak. Standar tidak hanya berfungsi sebagai pedoman
teknis dalam pengujian performa material, tetapi juga sebagai instrumen
harmonisasi regulasi, perlindungan konsumen, peningkatan daya saing industri,
serta dasar ilmiah bagi pengambilan keputusan regulator. Dalam konteks
tersebut, inisiatif ISO/TC 229 untuk mengembangkan ISO/PWI TS 25402 merupakan
langkah strategis dalam mengisi kekosongan metodologis mengenai evaluasi
keandalan (reliability evaluation) aktivitas antivirus pada permukaan
berlapis nano non-poros.
Namun demikian, hasil analisis
kritis dalam artikel ini menunjukkan bahwa rancangan ISO/PWI TS 25402 masih
menghadapi sejumlah tantangan konseptual dan metodologis yang perlu
disempurnakan sebelum berkembang menjadi Technical Specification (TS)
yang matang. Kelemahan utama pertama adalah belum diintegrasikannya simulasi environmental
weathering sebagai bagian dari evaluasi keandalan. Padahal, pelapis nano
dalam penggunaan nyata selalu mengalami kombinasi paparan radiasi ultraviolet,
fluktuasi suhu, kelembapan, abrasi mekanis, bahan disinfektan, dan kontaminan
lingkungan yang secara bertahap mengubah struktur fisikokimia permukaan. Evaluasi yang hanya dilakukan pada material baru (as-prepared
surface) tidak cukup untuk memprediksi performa jangka panjang selama masa
pakai (service life). Oleh karena itu, reliabilitas harus dipahami
sebagai kemampuan material mempertahankan fungsi antivirus setelah mengalami
degradasi yang merepresentasikan kondisi lapangan.
Temuan penting kedua berkaitan
dengan keterbatasan penggunaan virus surrogate dalam evaluasi aktivitas
antivirus. Pendekatan yang hanya menggunakan satu jenis virus atau bakteriofag
berpotensi menghasilkan interpretasi efikasi yang tidak mewakili keragaman
biologis virus patogen. Perbedaan mendasar antara virus beramplop dan virus
tanpa amplop, variasi sensitivitas terhadap mekanisme inaktivasi, serta
dinamika evolusi dan mutasi virus menunjukkan bahwa strategi evaluasi berbasis single-surrogate
virus tidak lagi memadai untuk mendukung klaim performa material yang
bersifat umum. Oleh sebab itu, artikel ini mengusulkan pendekatan Multi-Panel
Virus Evaluation Framework, yang mengintegrasikan virus beramplop, virus
tanpa amplop, bakteriofag, serta virus target spesifik sesuai konteks aplikasi.
Pendekatan ini diharapkan meningkatkan validitas biologis, memperluas cakupan
evaluasi, dan memperkuat reproduksibilitas antar laboratorium.
Aspek ketiga yang memerlukan
perhatian serius adalah belum terintegrasinya evaluasi nanoparticle leaching
dan prinsip Environmental Health and Safety (EHS) ke dalam
kerangka reliabilitas. Aktivitas antivirus yang tinggi tidak boleh dicapai
dengan mengorbankan keselamatan manusia maupun lingkungan. Degradasi pelapis
selama masa pakai dapat menyebabkan pelepasan nano-objek atau ion logam ke
lingkungan, yang berpotensi memengaruhi kualitas ekosistem maupun paparan
terhadap pengguna. Oleh karena itu, evaluasi pelepasan nano-objek melalui
kombinasi teknik analitik seperti ICP–MS, spICP–MS, TEM, SEM–EDS, dan Nanoparticle
Tracking Analysis (NTA) perlu menjadi bagian integral dari metodologi
pengujian. Integrasi tersebut sejalan dengan pendekatan life-cycle
assessment, prinsip Safe and Sustainable by Design (SSbD),
serta rekomendasi OECD Working Party on Manufactured Nanomaterials (WPMN)
mengenai penilaian risiko nanomaterial.
Berdasarkan keseluruhan hasil kajian, artikel ini
mengusulkan suatu paradigma baru yang disebut Surface Life-Cycle Reliability
Framework (SLRF). Kerangka ini memperluas definisi reliabilitas dari
sekadar kemampuan menginaktivasi virus pada kondisi awal menjadi kemampuan
mempertahankan aktivitas antivirus secara konsisten selama seluruh siklus hidup
material. SLRF mengintegrasikan tujuh komponen utama, yaitu: (1) karakterisasi
fisikokimia awal material; (2) simulasi accelerated environmental weathering;
(3) karakterisasi ulang pasca-weathering; (4) evaluasi aktivitas
antivirus menggunakan panel virus multirepresentatif; (5) kuantifikasi nanoparticle
leaching; (6) analisis statistik dan pemodelan reliabilitas; serta (7)
validasi antar laboratorium melalui studi round robin dan proficiency
testing. Integrasi ketujuh komponen tersebut menghasilkan pendekatan
evaluasi yang lebih komprehensif, mekanistik, dan selaras dengan perkembangan
ilmu material modern.
Dari perspektif standardisasi
internasional, usulan kerangka ini juga memperkuat hubungan antara ISO/PWI TS
25402 dengan berbagai dokumen ISO lainnya, termasuk ISO 21702 mengenai
aktivitas antivirus pada permukaan non-poros, ISO/TS 23302 mengenai karakterisasi
nano-objek, ISO/TS 12025 mengenai kuantifikasi pelepasan nano-objek, serta seri
ISO 80004 mengenai terminologi nanoteknologi. Harmonisasi tersebut akan
meningkatkan konsistensi metodologis, memperkuat keterlacakan (traceability)
pengukuran, dan mempermudah implementasi standar oleh laboratorium pengujian di
berbagai negara.
Secara keseluruhan, artikel ini
menegaskan bahwa revisi ISO/PWI TS 25402 bukan sekadar penyempurnaan teknis,
melainkan merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa standar yang
dihasilkan benar-benar mampu menjawab tantangan ilmiah, industri, dan kesehatan
masyarakat pada era pascapandemi. Standar yang hanya mengukur efikasi awal
tanpa mempertimbangkan degradasi material, keragaman biologis virus, dan aspek
keselamatan lingkungan berisiko menghasilkan klaim performa yang tidak
sepenuhnya mencerminkan kondisi penggunaan nyata. Sebaliknya, standar yang
mengintegrasikan seluruh dimensi tersebut akan menjadi fondasi ilmiah yang
lebih kuat bagi pengembangan pelapis nano antivirus generasi berikutnya.
4.2 Outlook dan Arah Pengembangan di Masa Depan
Masa depan standardisasi nanoteknologi tidak lagi cukup
berorientasi pada harmonisasi prosedur pengujian semata, tetapi harus bergerak
menuju pengembangan standar adaptif (adaptive standards) yang mampu
mengikuti dinamika ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat global. Pengalaman
pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa ancaman penyakit infeksi dapat berubah
dengan sangat cepat akibat munculnya virus baru maupun varian baru. Oleh karena itu, standar
internasional yang bersifat statis akan semakin sulit mempertahankan
relevansinya dalam jangka panjang.
Salah satu arah pengembangan yang
paling penting adalah penerapan dynamic standardization, yaitu mekanisme
pembaruan berkala terhadap parameter pengujian, panel virus, serta metode
karakterisasi berdasarkan bukti ilmiah terbaru. Pendekatan ini memungkinkan
ISO/PWI TS 25402 tetap relevan terhadap perkembangan virologi, kemajuan
material nano, serta perubahan kebutuhan industri tanpa harus melakukan revisi
total setiap kali muncul teknologi baru.
Selain itu, perkembangan kecerdasan
buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pembelajaran mesin (Machine
Learning/ML) membuka peluang untuk mengembangkan sistem prediksi
reliabilitas pelapis nano berbasis data. Integrasi data karakterisasi material,
parameter weathering, hasil uji aktivitas antivirus, serta data
pelepasan nano-objek ke dalam model prediktif memungkinkan estimasi umur fungsi
(functional lifetime) material tanpa harus melakukan seluruh pengujian
eksperimental yang memerlukan waktu panjang. Pendekatan berbasis AI juga
berpotensi mempercepat proses optimasi formulasi pelapis nano yang memiliki
keseimbangan terbaik antara efikasi, durabilitas, dan keselamatan.
Dari sisi metrologi, diperlukan pengembangan reference
materials, reference virus panels, dan certified reference surfaces
yang dapat digunakan sebagai acuan bersama dalam studi antar laboratorium.
Ketersediaan bahan acuan bersertifikat akan meningkatkan keterbandingan (comparability)
hasil pengujian di berbagai negara serta mendukung penerapan prinsip global
mutual recognition.
Komunitas ilmiah juga perlu
memperkuat penelitian mengenai hubungan mekanistik antara perubahan sifat
fisikokimia pelapis dengan dinamika inaktivasi virus. Sebagian besar penelitian
saat ini masih melaporkan nilai reduksi virus sebagai parameter akhir tanpa
menjelaskan secara rinci mekanisme yang mendasarinya. Penelitian multidisiplin
yang menggabungkan ilmu material, virologi, biofisika permukaan, toksikologi,
dan pemodelan komputasi akan menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam
sehingga standar di masa depan dapat dibangun berdasarkan bukti mekanistik yang
kuat.
Dalam konteks kebijakan, kolaborasi antara ISO/TC 229, OECD
WPMN, WHO, ASTM International, regulator nasional, lembaga metrologi, serta
industri menjadi prasyarat penting untuk mempercepat harmonisasi standar
global. Sinergi tersebut tidak hanya akan meningkatkan kualitas metodologi
pengujian, tetapi juga mempercepat pengakuan lintas negara terhadap hasil
evaluasi, mengurangi hambatan perdagangan, dan mendorong inovasi produk
nanoteknologi yang aman serta berkelanjutan.
Bagi industri, penerapan kerangka Surface Life-Cycle
Reliability Framework memberikan peluang untuk mengembangkan produk yang
tidak hanya unggul dalam uji laboratorium, tetapi juga memiliki performa yang
konsisten sepanjang masa pakai. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan pengguna,
memperkuat daya saing produk di pasar internasional, serta mengurangi risiko
kegagalan produk akibat penurunan fungsi setelah penggunaan jangka panjang.
Pada akhirnya, evolusi ISO/PWI TS 25402 menuju standar
internasional yang matang harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi
ekosistem inovasi nanoteknologi global. Standar yang dibangun di atas prinsip
reliabilitas siklus hidup, representasi biologis yang komprehensif, keselamatan
lingkungan, validasi metrologi, dan harmonisasi internasional akan menjadi
fondasi penting bagi pengembangan pelapis nano antivirus yang efektif, aman,
berkelanjutan, dan mampu memberikan perlindungan nyata terhadap ancaman
penyakit infeksi di masa depan. Dengan demikian, revisi ISO/PWI TS 25402 bukan
hanya akan meningkatkan kualitas suatu dokumen standardisasi, tetapi juga
berkontribusi terhadap penguatan kesiapsiagaan global menghadapi pandemi
berikutnya serta mendukung terwujudnya inovasi nanoteknologi yang bertanggung
jawab bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
V. DAFTAR PUSTAKA
- ASTM
International. (2015). ASTM E1053-11(2015): Standard test method to
assess virucidal activity of chemicals intended for disinfection of
inanimate, nonporous environmental surfaces. ASTM International.
- Buzea, C.,
Pacheco, I. I., & Robbie, K. (2007). Nanomaterials and nanoparticles:
Sources and toxicity. Biointerphases, 2(4), MR17–MR71. https://doi.org/10.1116/1.2815690
- Chen, N.,
Zhou, M., Dong, X., Qu, J., Gong, F., Han, Y., Qiu, Y., Wang, J., Liu, Y.,
Wei, Y., Xia, J., Yu, T., Zhang, X., & Zhang, L. (2020).
Epidemiological and clinical characteristics of 99 cases of 2019 novel
coronavirus pneumonia in Wuhan, China. The Lancet, 395(10223),
507–513. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30211-7
- Choi, H.,
Chatterjee, P., Coppin, J. D., Martel, J. A., Hwang, M., Jinadatha, C.,
Sharma, V. K., & others. (2021). Current advances in the development
of antiviral surfaces. Journal of Hospital Infection, 108, 38–45.
- European
Commission. (2022). Safe and Sustainable by Design Framework for
Chemicals and Materials. Publications Office of the European Union.
- Frontiers
review: Nano-antivirals: A comprehensive review. (2022). Frontiers in
Nanotechnology, 4, Article 1064615. https://doi.org/10.3389/fnano.2022.1064615
- Ghosh, S.,
Malik, J. A., & Goyal, S. M. (2022). Nanotechnology-based antiviral
coatings: Current developments and future perspectives. Journal of
Nanobiotechnology, 20, Article 340.
- Grass, G.,
Rensing, C., & Solioz, M. (2011). Metallic copper as an antimicrobial
surface. Applied and Environmental Microbiology, 77(5), 1541–1547. https://doi.org/10.1128/AEM.02766-10
- Hasan, J.,
Pyke, A., Nair, N., Yarlagadda, T., Will, G., Spann, K., & Yarlagadda,
P. K. D. V. (2020). Antiviral nanostructured surfaces. Nanoscale, 12(47),
24499–24516. https://doi.org/10.1039/D0NR05255E
- Hodek, J.,
Zajícová, V., Lovětinská-Šlamborová, I., Stibor, I., Müllerová, J., &
Weber, J. (2016). Protective hybrid coating containing silver, copper and
zinc cations effective against human immunodeficiency virus and other
enveloped viruses. BMC Microbiology, 16, 56.
- Ikner, L. A.,
Soto-Beltran, M., & Bright, K. R. (2012). New method using a
bacteriophage surrogate to evaluate virucidal efficacy. Applied and
Environmental Microbiology, 78(2), 404–410.
- International
Organization for Standardization. (2019). ISO 21702:2019. Measurement
of antiviral activity on plastics and other non-porous surfaces. ISO.
- International
Organization for Standardization. (2021). ISO/TS 12025:2021.
Nanomaterials—Quantification of nano-object release from powders by
generation of aerosols. ISO.
- International
Organization for Standardization. (2021). ISO/TS 23302:2021.
Nanotechnologies—Requirements and recommendations for the identification
of measurands that characterise nano-objects and materials that contain
them. ISO.
- International
Organization for Standardization. (2023). ISO 80004-1:2023.
Nanotechnologies—Vocabulary—Part 1: Core terms. ISO.
- International
Organization for Standardization. (2024). ISO/TS 19590:2024.
Nanotechnologies—Characterization of nano-objects using single particle
inductively coupled plasma mass spectrometry. ISO.
- ISO Technical
Committee 229 (Nanotechnologies). (2025). Work programme overview.
ISO.
- Jones, N.,
Ray, B., Ranjit, K. T., & Manna, A. C. (2008). Antibacterial activity
of ZnO nanoparticle suspensions. FEMS Microbiology Letters, 279(1),
71–76.
- Kampf, G.,
Todt, D., Pfaender, S., & Steinmann, E. (2020). Persistence of
coronaviruses on inanimate surfaces and their inactivation with biocidal
agents. Journal of Hospital Infection, 104(3), 246–251. https://doi.org/10.1016/j.jhin.2020.01.022
- Kim, J.,
Yeom, M., Lee, T., Kim, H. O., Na, W., Kang, A., Lim, J. W., Park, G.,
Park, C., Song, D., & others. (2020). Porous gold nanoparticles for
antiviral applications. Nature Biomedical Engineering, 4, 604–614.
- Li, Y.,
Leung, G. M., Tang, J. W., Yang, X., Chao, C. Y. H., Lin, J. Z., Lu, J.
W., Nielsen, P. V., Niu, J., Qian, H., Sleigh, A. C., Su, H.-J. J.,
Sundell, J., Wong, T. W., & Yuen, P. L. (2007). Role of ventilation in
airborne transmission of infectious agents. Indoor Air, 17(1),
2–18. https://doi.org/10.1111/j.1600-0668.2006.00445.x
- Lin, Q., Lim,
J. Y. C., Xue, K., Yew, P. Y. M., Owh, C., Chee, P. L., & Loh, X. J.
(2021). Sanitizing agents for virus inactivation and disinfection. View,
2(1), 20200187.
- Malayeri, A.
H., Mohseni, M., Cairns, B., Bolton, J. R., Chevrefils, G., Caron, E.,
Barbeau, B., Wright, H., Linden, K. G., & others. (2016). Fluence (UV
dose) required to achieve incremental log inactivation of bacteria,
protozoa, viruses and algae. IUVA News, 18(3), 4–6.
- Nakano, R., Hara, M., Ishiguro, H., Yao, Y., Ochiai,
T., Nakata, K., Murakami, T., Kajioka, J., Sunada, K., Hashimoto, K.,
& Fujishima, A. (2012). Broad spectrum microbicidal activity
of photocatalysis by TiO₂. Catalysts, 3(1), 310–323.
- Nowack, B.,
& Bucheli, T. D. (2007). Occurrence, behavior and effects of
nanoparticles in the environment. Environmental Pollution, 150(1),
5–22. https://doi.org/10.1016/j.envpol.2007.06.006
- OECD. (2022).
Important Issues on Risk Assessment of Manufactured Nanomaterials.
OECD Publishing.
- OECD. (2023).
Developments in Delegations on the Safety of Manufactured Nanomaterials.
OECD Publishing.
- OECD Working
Party on Manufactured Nanomaterials (WPMN). (2023). Programme
activities and guidance documents.
- Palmieri, V.,
& Papi, M. (2020). Can graphene take part in the fight against
COVID-19? Nano Today, 33, 100883. https://doi.org/10.1016/j.nantod.2020.100883
- Rai, M.,
Deshmukh, S. D., Ingle, A. P., Gupta, I. R., Galdiero, M., & Galdiero,
S. (2016). Metal nanoparticles: The protective nanoshield against virus
infection. Critical Reviews in Microbiology, 42(1), 46–56.
- Sportelli, M. C., Izzi, M., Kukushkina, E. A.,
Hossain, S. I., Picca, R. A., Ditaranto, N., & Cioffi, N. (2020). Can
nanotechnology and materials science help the fight against SARS-CoV-2? Nanomaterials,
10(4), 802. https://doi.org/10.3390/nano10040802
- United States
Environmental Protection Agency. (2023). Framework for Evaluating the
Environmental Fate and Exposure of Engineered Nanomaterials. U.S. EPA.
- World Health
Organization. (2020). Cleaning and disinfection of environmental
surfaces in the context of COVID-19. WHO.
- World Health
Organization. (2021). WHO global strategy for infection prevention and
control. WHO.
- World Health
Organization. (2023). Global strategic preparedness and response plan
for respiratory pathogens with epidemic and pandemic potential. WHO.
- World Health
Organization (WHO) Infection Prevention and Control. WHO.
- Ye, Q., Chen,
J., Qin, G., & Shi, Q. (2022). Antiviral nanomaterials and antiviral
coatings: Recent advances and future perspectives. Advanced Functional
Materials.
- Zhang, H.,
Li, Y., & Liu, Y. (2021). Engineered antiviral nanomaterials for
environmental and biomedical applications. ACS Applied Materials &
Interfaces.
- Zhang, X.,
Xiao, K., Cheng, L., & Liu,Y. (2022). Surface engineering strategies
for antiviral nanocoatings. Chemical Engineering Journal.
- Zhou, J., Hu,
Z., Zabihi, F., Chen, Z., & Zhu, M. (2020). Progress and perspective
of antiviral protective materials. Advanced Fiber Materials, 2(3),
123–139.
