ABSTRAK
Akuakultur merupakan sektor strategis dalam penyediaan
protein hewani global, namun efisiensi dan keberlanjutannya sangat dipengaruhi
oleh ketersediaan pakan yang ekonomis dan bernutrisi seimbang. Ketergantungan terhadap tepung ikan sebagai sumber
protein utama meningkatkan biaya produksi serta menimbulkan tekanan terhadap
sumber daya perikanan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan pakan ikan
berbasis Spirulina sp. yang dikombinasikan dengan limbah agro-industri
sebagai bahan alternatif berkelanjutan. Spirulina sp. dibudidayakan
dalam fotobioreaktor 50 L, dipanen melalui dekantasi, dan dikeringkan sebelum
analisis proksimat. Formulasi pakan untuk pembesaran Nile tilapia terdiri atas
20% Spirulina sp., 50% tepung daun singkong, 20% tepung daun gamal (Gliricidia),
dan 10% tepung sekam padi. Pelet diproduksi menggunakan metode ekstrusi dan
diuji karakteristik fisiknya. Hasil menunjukkan kandungan protein Spirulina
sp. sebesar 66,88%, lemak 5,50%, dan kadar air 6,79%. Uji flotasi
menunjukkan 60% pelet mengapung >40 menit dan 80% mempertahankan bentuk
hingga 4 jam. Pelet memiliki kapasitas penyerapan air tinggi dan tingkat
disintegrasi rendah. Hasil ini menunjukkan potensi formulasi berbasis Spirulina
sebagai solusi pakan berkelanjutan dalam akuakultur.
Kata kunci: Spirulina, pakan ikan, ekstrusi, limbah
agro-industri, akuakultur berkelanjutan
ABSTRACT
Aquaculture plays a strategic role in global animal protein
supply; however, its sustainability depends largely on feed efficiency and
nutritional balance. The high cost of fishmeal and pressure on marine resources
necessitate alternative protein sources. This study aimed to develop fish feed
pellets based on Spirulina sp. combined with agro-industrial waste
materials. Spirulina sp. was cultivated in a 50 L photobioreactor,
harvested by decantation, and dried prior to proximate analysis. The feed
formulation for grow-out Nile tilapia consisted of 20% Spirulina sp.,
50% cassava leaf meal, 20% Gliricidia leaf meal, and 10% rice husk meal.
Pellets were produced using extrusion and evaluated for physical properties.
Results indicated that Spirulina sp. contained 66.88% protein, 5.50%
lipid, and 6.79% moisture. Floatability tests showed that 60% of pellets
floated for more than 40 minutes and 80% maintained structural integrity up to
4 hours. The pellets exhibited high water absorption capacity and low
disintegration rate. These findings demonstrate the potential of Spirulina-based
feed as a sustainable alternative for aquaculture production.
Keywords: Spirulina, fish feed, extrusion,
agro-industrial waste, sustainable aquaculture
1. INTRODUKSI
Akuakultur
berkembang pesat sebagai penyedia protein hewani dunia. Namun, biaya
pakan yang mencapai 60–70% dari total biaya produksi menjadi tantangan utama
dalam sistem budidaya. Ketergantungan terhadap tepung ikan sebagai sumber
protein utama tidak hanya meningkatkan biaya, tetapi juga berdampak pada
keberlanjutan sumber daya laut.
Spirulina sp. merupakan mikroalga dengan kandungan
protein tinggi (60–70%), asam amino esensial lengkap, serta vitamin dan mineral
penting. Produksinya dapat dilakukan secara terkontrol menggunakan
fotobioreaktor sehingga relatif efisien dan berkelanjutan. Selain itu,
pemanfaatan limbah agro-industri seperti daun singkong, daun gamal (Gliricidia),
dan sekam padi dapat mendukung pendekatan ekonomi sirkular.
Penelitian ini bertujuan untuk:
- Menganalisis
karakteristik proksimat Spirulina sp. hasil budidaya.
- Mengembangkan
formulasi pakan berbasis Spirulina dan limbah agro-industri.
- Mengevaluasi karakteristik fisik
pelet hasil ekstrusi.
2. MATERIAL DAN METODE
2.1. Cultivation and Proximate Analysis
Spirulina sp. dibudidayakan dalam fotobioreaktor 50 L
dengan aerasi kontinu. Biomassa
dipanen melalui dekantasi dan dikeringkan pada suhu terkendali. Analisis
proksimat meliputi kadar protein (metode Kjeldahl), lemak (Soxhlet), dan kadar
air (gravimetri).
2.2. Preparation of Agro-Industrial Waste
Daun singkong, daun gamal (Gliricidia), dan sekam
padi dikeringkan dan digiling menjadi tepung. Sifat kohesi dan elastisitas diuji untuk memastikan kompatibilitas dalam
proses ekstrusi.
2.3. Feed Formulation and Extrusion
Formulasi pakan (% berat):
- Spirulina
sp.: 20%
- Tepung
daun singkong: 50%
- Tepung
daun gamal: 20%
- Tepung
sekam padi: 10%
Campuran ditambahkan air (30%) dan diproses menggunakan
ekstruder ulir tunggal pada suhu ±100°C. Pelet dikeringkan hingga kadar air
±10%.
2.4. Physical Quality Evaluation
Parameter yang diuji:
- Floatability
(uji apung 40 menit)
- Water
absorption capacity
- Disintegration
rate
- Structural
stability (hingga 4 jam perendaman)
Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif.
3. HASIL
3.1. Proximate Composition
Spirulina sp. menunjukkan kandungan protein 66,88%,
lemak 5,50%, dan kadar air 6,79%. Kandungan protein yang tinggi menunjukkan
potensi sebagai sumber protein alternatif pengganti tepung ikan.
3.2. Pellet Physical Properties
Sebanyak 60% pelet mengapung selama >40 menit. Sebanyak
80% pelet mempertahankan integritas struktural hingga 4 jam. Pelet menunjukkan kapasitas penyerapan air tinggi
dan tingkat disintegrasi rendah.
4. DISKUSI
Kandungan protein
tinggi pada Spirulina sp. sejalan dengan laporan literatur yang
menyebutkan kisaran protein 60–70%. Karakteristik fisik pelet menunjukkan bahwa
kombinasi bahan dan metode ekstrusi mampu menghasilkan struktur poros yang
mendukung daya apung.
Pemanfaatan
limbah agro-industri menurunkan ketergantungan pada tepung ikan sekaligus
meningkatkan nilai tambah limbah pertanian. Inovasi ini mendukung prinsip
keberlanjutan dan efisiensi biaya dalam sistem akuakultur.
5. KESIMPULAN
Formulasi pakan berbasis Spirulina sp. dan limbah
agro-industri berpotensi sebagai alternatif berkelanjutan pengganti tepung
ikan. Pelet hasil ekstrusi menunjukkan karakteristik fisik yang memenuhi
standar pakan terapung dan mendukung efisiensi penggunaan pakan dalam budidaya Nile
tilapia.
Penelitian lanjutan disarankan untuk uji performa
pertumbuhan dan feed conversion ratio (FCR) pada skala budidaya.
DAFTAR REFERENSI
Association of Official Analytical Chemists (AOAC). (2005). Official
methods of analysis (18th ed.). AOAC International.
Becker, E. W. (2007). Micro-algae as a source of protein. Biotechnology
Advances, 25(2), 207–210. https://doi.org/10.1016/j.biotechadv.2006.11.002
FAO. (2022). The state of world fisheries and aquaculture
2022. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Habib, M. A. B., Parvin, M., Huntington, T. C., & Hasan,
M. R. (2008). A review on culture, production and use of spirulina as food
for humans and feeds for domestic animals. FAO Fisheries and Aquaculture
Circular No. 1034.
Naylor, R. L., et al. (2009). Feeding aquaculture in an era
of finite resources. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(36),
15103–15110.