Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Pemuda Petani Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Pemuda Petani Indonesia. Show all posts

Wednesday, 6 May 2009

Pemuda Petani Indonesia Tembus Jepang: Siap Menjadi Pemimpin Pertanian Masa Depan

Oleh
*Muhamad Nasrul Pradana

Pada hari Kamis (4/23), bertempat di National Olympics Memorial Youth Center (NYC), Shibuya Ward, Tokyo telah diadakan upacara penerimaan trainee yang berasal dari Indonesia, Thailand, Malaysia dan Filipina untuk mengikuti pelatihan kepemimpian di Jepang selama satu hingga tiga tahun ke depan. Program pelatihan ini terselenggara atas dukungan dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) sebagai bentuk realisasi atas bantuan dana yang diberikan Jepang untuk pembangunan sosial ekonomi di Indonesia yang berupa “Bantuan Pembangunan Pemerintah (Official Development Assistance, ODA)”. Adapun pelaksana program utama pelatihan ini adalah Japan Agricultural Exchange Council (JAEC), disamping JICA (Japan International Cooperation Agency) yang telah lama memberikan bantuan dalam proyek kerjasama teknik untuk pengembangan Sumber Daya Manusia di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.

Para peserta trainee yang datang ke Jepang ini, sebelumnya telah mengikuti proses seleksi yang sangat ketat di negara mereka masing-masing selama kurang lebih satu tahun. Untuk trainee Indonesia dikoordinir oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Departemen Pertanian, RI. Kemudian, mereka juga telah belajar bahasa Jepang selama kurang lebih 1 (satu) sampai 2 (dua) bulan sebelum berangkat ke Jepang agar dapat berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mereka datang ke Jepang, mereka langsung diberikan pembekalan ilmu-ilmu dasar pertanian di Jepang yang sangat berguna selama kegiatan pelatihan berlangsung.

Mereka juga diikutsertakan kembali dalam pembelajaran khusus bahasa Jepang dengan para guru dan pelatih yang siap membantu mereka sebelum ditempatkan di berbagai daerah, antara lain: Prefektur Chiba, Aichi, Wakayama, Nara, Nagano, Niigata, Kumamoto, Gifu, Miyagi dan lain sebagainya . Namun karena singkatnya waktu belajar, hanya sekitar tiga minggu, mereka masih memiliki banyak kendala dalam berkomunikasi dengan orang Jepang. Disinilah, para trainee perlu berusaha keras untuk selalu belajar dan menggunakan bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari sambil bekerja di lapangan nantinya, ungkap salah seorang staf JAEC, Mr. Sakamoto. Tidak ada jalan lain selain belajar keras untuk dapat menerima segala ilmu yang akan diajarkan oleh para induk semang (petani) selama di Jepang.

Peserta trainee ini sengaja dikirimkan dari Indonesia ke Jepang untuk menuntut ilmu pertanian, terutama mengenai teknik bercocok tanam, teknologi pertanian, manajemen pertanian sampai dengan pemasaran produk di sentra-sentra penjualan. Atase Pertanian, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo – Jepang, Bapak Pudjiatmoko, PhD melalui sambutan tertulis karena berhalangan hadir pada upacara pembukaan ini, menyampaikan bahwa tidak hanya ilmu bertani saja yang akan mereka pelajari, namun budaya kerja keras, disiplin dan kerjasama yang kuat perlu juga dipelajari untuk kemudian diterapkan dalam membangun pertanian negara Indonesia. Hasil pelatihan yang didapat oleh para peserta trainee diharapkan dapat berguna dalam melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik “change for the better (kaizen)” dan membangun pertanian di daerah masing-masing setelah kembali ke Indonesia serta menjadi bekal dimasa depan untuk menjadi petani yang tangguh dan teladan.

Diharapkan melalui program pelatihan kepemimpinan petani ini, hubungan persahabatan Indonesia – Jepang dapat semakin meningkat terutama dalam hal pengembangan sumber daya manusia serta “transfer of technology” yang dimiliki oleh petani Jepang kepada para petani Indonesia.

Ketigabelas peserta trainee dari Indonesia ini akan berusaha keras dalam mempelajari teknik pertanian Jepang yang dimulai dari proses produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Beberapa trainee mengungkapkan permasalahan utama Pertanian Indonesia saat ini lebih terletak pada proses penentuan harga yang tidak seimbang (terkadang berat sebelah) antara para petani dan tengkulak. Selain itu, dari segi strategi pemasaran juga masih terdapat berbagai kendala bagi petani-petani kecil yang salah satunya disebabkan oleh daya beli masyarakat yang rendah sehingga para petani juga terpaksa menjual produknya dengan harga rendah agar masyarakat kecil dapat mengkonsumsi produk mereka.

Di sela-sela waktu diskusi, salah satu peserta trainee menceritakan pengalamannya dalam menjual produk beras. Para petani menginginkan harga beras tersebut dapat dijual cukup tinggi di pasaran. Namun, jika dijual dengan harga tinggi maka rata-rata karyawan pabrik tidak mampu untuk membeli karena upah yang terlalu minim, sehingga memungkinkan terjadinya masalah kelaparan di suatu daerah. Masalah lainnya, para petani harus siap bersaing dengan hasil produk pertanian murah yang diimpor dari negara-negara tetangga, seperti China dan Thailand. Akibat persaingan harga di pasar setempat, para petani harus menurunkan harga produknya untuk dapat bersaing dengan harga produk impor. Hal ini membuat para petani merasa dirugikan karena terkadang hasil penjualan produk pertanian mereka tidak mampu menutupi biaya produksinya. Permasalahan ini merupakan suatu dilema bagi para petani terutama dalam mencari jalan keluar yang terbaik.

Untuk memecahkan masalah-masalah pertanian Indonesia yang ada saat ini, para peserta trainee bertekad untuk berusaha menemukan jawabannya

Petani teladan selama mengikuti kegiatan program pelatihan ini yang akan memakan waktu sekitar 1 (satu) hingga 3 (tiga) tahun ke depan di Jepang ini. Para petani juga mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah untuk dapat selalu mendukung usaha bisnis pertanian mereka sepulang dari Jepang nantinya. Tanpa dukungan dari pemerintah, para petani tidak dapat berbuat banyak karena terbentur dengan kebijakan perdagangan produk pertanian yang berbelit serta modal yang sangat terbatas. Ketigabelas petani juga mengajak seluruh penduduk Indonesia untuk dapat “mencintai produk dalam negeri” dan mereka akan selalu berusaha memproduksi produk pertanian yang berkulitas agar dapat bersaing dengan produk impor.

Mr. Sakamoto-san dari JAEC juga menambahkan, jika rekan-rekan ingin melakukan perubahan terhadap pertanian Indonesia, hal-hal yang harus dilakukan oleh para peserta trainee adalah selalu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan selalu berpikir maju ke depan dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia. Sakamoto-san juga mengharapkan kepada para trainee agar memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat dalam mengikuti program pelatihan ini dengan baik, sehingga para induk semang (petani Jepang) merasa sangat senang dan bangga atas jerih payah yang dilakukan oleh rekan-rekan trainee sekalian selama di lapangan nantinya. Satu hal penting yang harus ditanamkan adalah jagalah nama baik bangsa negara Indonesia selama tinggal di negeri Sakura ini. Ditambahkan pula bahwa para trainee diharapkan “banyak belajar, banyak bekerja dan banyak makan” selama program pelatihan ini berlangsung.

Akhir kata, hal sekecil apapun yang kita pelajari pasti mempunyai makna dan arti, sehingga kita tetap harus terus belajar dan berkarya secara positif untuk menjadi petani kebanggaan bangsa Indonesia.

Minasan, Ganbatte kudasai!!!

*Sekretaris Umum IASA (Indonesian Agricultural Sciences Association) /
Interpreter JAEC (Japan Agricultural Exchange Council)
Tokyo University of Agriculture, Graduate School of Agriculture, Department of International Bio-Business (MSc. Candidate)
3-9-37, Sakuragaoka, Setagaya-ku, Tokyo 156-0054

Sumber: IASA, 26 April 2009


#PemudaPetani
#BelajarDiJepang
#PertanianIndonesia
#PetaniMuda
#KerjaSamaIndonesiaJepang

Monday, 5 January 2009

Libur Tahun Baru Jadi Diplomasi! Kisah Tak Terduga Diplomasi Total Indonesia di Jepang 2009

Pada Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, Indonesia mencanangkan kembali diplomasi total. Menurut Menlu Hasan Wirayuda, Diplomasi total ialah diplomasi yang melibatkan semua komponen bangsa dalam suatu sinergi dan memandang substansi permasalahan secara integratif.

Diplomasi tersebut dilakukan antara pemerintah dengan pemerintah, swasta dengan swasta, NGO dengan NGO, masyarkat dengan masyarakat dan komponen bangsa lainnya atau kombinasinya. Dengan diplomasi total terdapat banyak langkah kreatif dan inovatif yang perlu dikembangkan oleh semua komponen bangsa.

Pada tanggal 1 Januari 2009, di pagi buta selepas subuh kami meluncur ke arah timur menuju Prefektur Ibaraki yang jaraknya 120 km dari Gotanda, Tokyo. Bersama Ketua Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) wilayah Sulawesi Selatan, Syamsari, S.Pt.MM. dan seorang mahasiswa S3 IPB yang sedang melakukan penelitian di Tokyo Marine Science University Sdri. Irma, kami bermaksud melakukan diplomasi people to people di Prefektur Ibaraki melalui partisipasi lomba lari marathon.

Pukul 08:00 tiba di Kantor Asosiasi Hortikultura dan Pertanian di Obata, Ibarakimachi, Prefektur Ibaraki. Kami melakukan persiapan dengan Mr. Syozo Fujita Pimpinan Asosiasi tersebut yang mengelola trainee bidang pertanian. Kami bersama 17 trainee bidang pertanian yang sedang berlatih di Prefektur Ibaraki membaur dengan masyarakat Mitoshi mengikuti lomba Gantan Marathon ke 34 di Mitoshi.


Meskipun udara dingin, suhu sekitar 0 derajat C, para trainee tetap bersemangat melakukan pemanasan sebelum berlomba. Lomba lari Marathon ini diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Mitoshi bertempat di taman Kairakuen di Prefektur Ibaraki.















Masyarakat Jepang biasa menyebut Marathon untuk lari selain lari cepat 100 m. Meskipun lomba ini hanya berjarak 3000 m, mereka menyebutnya lomba lari marathon. Lomba lari Marathon ini yang diselenggarakan untuk umum dari anak SD hingga dewasa, diikuti oleh 2.500 orang dimulai pukul 08.30. Setiap peserta lari mengelilingi Mizumi (danau kecil) bernama Senbakou yang kelilingnya 3 km. Tampak pada gambar suasana pendaftaran ulang sebelum lomba dimulai.










Danau mungil ini indah dihiasi pepohonan yang sudah gugur daunnya (gambar atas), dipadu kebebasan itik dan angsa berenang serta kilauan pantulan sinar mentari di permukaan air nan jernih.
















Tujuan kami berpartisipasi dalam lomba ini yaitu dalam rangka menjalin silaturahmi dengan warga di Mitoshi. Kami ingin tunjukan kepada mereka bahwa trainee dari Indonesia sehat, sportif, dan siap berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan positif yang diselenggarakan oleh masyarakat di Prefektur Ibaraki.













Tampak gambar saat lomba marathon 3000 m dimulai. Di antara waktu lomba telah dilakukan silaturahmi dengan Mr. Tachi anggota DPRD Prefektur Ibaraki. Menurut Mr. Fujita Ketua Asosiasi Hortikultura bahwa beliau menyampaikan terimakasih atas partisipasi para trainee asal Indonesia dalam kegiatan masyarakat Prefektur Ibaraki dan beliau berharap hubungan Indonesia dengan Jepang semakin erat, para trainee bisa berlatih pertanian di Ibaraki dengan sukses.










Dengan berpartisipasi dalam event penting ini, masyarakat Mitoshi dapat mengenal orang Indonesia dan mereka bersimpati terhadap masyarakat Indonesia. Salah satu buah silaturahim ini terdapat sekeluarga Jepang yang ingin mempelajari tentang Indonesia dan ingin belajar bahasa Indonesia kepada para trainee.













Pada kesempatan itu Syamsari Ketua PPNSI Wilayah Sulawesi Selatan mengajak para trainee yang berasal dari Sulawesi Selatan, ”Setelah kembali ke Sulawesi Selatan para trainee akan diajak bekerjasama membangun pertanian daerahnya, Sulawesi Selatan masih mempunyai lahan sekitar 130 ha yang siap untuk dikembangkan untuk tanaman pangan termasuk kedelai”.

Pada kesempatan yang baik ini tidak kami sia-siakan, kami tanamkan kepada para trainee bahwa profesi petani sangat mulia. Petani berjasa banyak karena telah bekerja keras memproduksi bahan makanan yang merupakan kebutuhan pokok umat manusia. Petani telah andil dalam pemenuhan gizi anak-anak pada masa pertumbuhan sehingga anak-anak tumbuh dan berkembang sehat, cerdas dan pintar. Anak-anak ini di kemudian hari kelak menjadi Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri dan Presiden yang pandai dan bijaksana yang akan membawa Negara kita menjadi adil, makmur, sejahtera, aman sentosa”.


#DiplomasiTotal 
#IndonesiaJapan 
#PeopleToPeople 
#SoftPower 
#KisahInspiratif

Tuesday, 9 December 2008

Tekad Petani Muda Indonesia Magang di Jepang: Pulang Membawa Ilmu, Siap Bangun Pertanian Daerah

Pada akhir November 2008, tujuh orang Pemuda Petani Indonesia telah selesai menuntut Ilmu Pertanian selama delapan bulan di Prefektur Niigata, Jepang. Gambar disebelah adalah tujuh pemuda petani yang telah sukses berjuang melakukan magang pertanian di Jepang. Adapun nama-namanya adalah sebagai berikut:

1. Mawardi Suhaimi asal Propinsi Bangka Belitung telah belajar bercocok tanam padi, sayuran dan memelihara ternak sapi di Pertanian milik Mr. Nobutoshi Ikezu dengan alamat 1783 Oubaden Machi, Nagaoka-shi, Niigata-ken.
2. Suriyanto dari Daerah Khusus Yogyakarta telah belajar bercocok tanam padi, sayuran dan beternak sapi ptong di pertanian milik Mr. Yoshio Watanabe di 3129 Nishinagara, Shibata-shi, Niigata-ken 957-0004
3. Dani Frimansyah asal Jember, Propinsi Jawa Timur telah belajar pertanian padi dan sayuran di pertanian milik Mr. Kiyonari Saito di 498-1 Koda, Shibata-shi, Niigata-ken 957-0202
4. Sofyan dari Propinsi Jambi telah belajar pertanian padi dan sayuran di pertanian milik Mr. Kentarou Miyazawa dengan alamat 1499-1 Kogurosawa, Tokamachi-shi, Nigata-ken 949-8527
5. Edi Ayeng asal Bangkayang, Propinsi Kalimantan Selatan telah belajar bertani padi dan sayuran serta beternak babi di pertanian milik Mr. Yoshinori Shimada dengan alamat 1499-1 Kamigoumiyanohara, Tsunan-machi, Nakanauma-gun, Niiggata-ken 494-8125
6. Sahid Badari dari Klaten, Propinsi Jawa Tengah telabh belajar bertani padi dan sayuran di pertanian milik Mr. Noboru Iguchi di 348 Myougasawa, Minamiuonuma-shi, Niigata-ken 949-7231
7. Eko Prasetyo Winarto asal Propinsi Bengkulu, sebagai ketua kelompok telah belajar pertanian padi, bunga potong dan Tembako di pertanian milik Mr. Jyouchi Kawakami di 1631 Kitanarita, Tanai-shi, Niigata-ken 959-2724

Pemuda Petani yang gagah-berani ini, mempunyai cita-cita mulia yaitu mengembangkan pertanian di daerahnya masing-masing. Dengan senyuman Pemuda Petani yang telah memperoleh sertifikat magang ini menyambut masa depan dengan semangat kerja tinggi seperti etos kerja petani Jepang yang telah memproduksi hasil pertanian berkwalitas baik. Pemuda Petani ini tidak hanya telah terlatih baik ketrampilan bertani maupun memiliki semangat juang yang tinggi, mereka juga telah semakin terbuka wawasannya dalam pengembangan agrobisnis. Mereka tinggal di rumah petani Jepang sehingga mereka telah dapat menjalin hubungan erat dengan keluarga petani Jepang, seperti tampak gambar sebelah Sdr. Eko diantar oleh seluruh anggota Mr. Kawakami dalam acara pesta perpisahan.

Kami dari Jepang menghimbau kepada para Kepala Pemerintahan Daerah beserta aparat yang terkait dalam peningkatan pertanian untuk memanfaatkan SDM bagaikan berlian ini. Ingin bukti ? Silahkan meneliti karya dan kerja para pendahulu mereka yang tergabung dalam IKAMAJA (Ikatan Alumni Magang Pertanian dari Jepang). Banyak Alumni magang pertanian dari Jepang yang berhasil menjadi petani teladan sebagai penggerak petani di daerahnya masing-masing, memproduksi hasil pertanian yang dapat menembus pasar swalayan dan bahkan ekspor ke manca Negara termasuk ke negeri guru mereka, Jepang.

Bapak-Ibu Gubernur, Bupati, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan serta pihak terkait lainnya tolong ulurkan tangan untuk memperhatikan usaha Pemuda Petani ini, bimbing mereka dan ajak kerja sama mereka dalam memajukan pembangunan pertanian di wilayah mereka masing-masing. Dengan demikian Bapak-Ibu dapat ikut berpartisipasi mengukir prestasi Negara agraris tercinta ini menjadi Negara yang ikut andil dalam menangani krisis pangan dunia melalui peningkatan produksi pertanian.

#PetaniMuda
#MagangJepang
#PertanianIndonesia
#PemudaTani
#AgrobisnisModern

Thursday, 28 August 2008

Dari Desa Tanpa Listrik ke Kampus Jepang: Kisah Nyata Petani Muda Indonesia Menembus Pascasarjana Negeri Sakura

oleh HERI KURNIANTA
Mahasiswa Pascasarjana Program Ekonomi Pertanian Universitas Shinshu, Jepang

You are what you think you are. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan.

Terlahir 29 tahun yang lalu di desa kecil di ujung bagian timur Propinsi DIY, tepatnya di Dusun Karangwuni, Desa Karangwuni, Rongkop, Gunung-kidul,Yogyakarta. Gunungkidul terkenal sebagai daerah kritis dan langganan kekeringan. Begitupun di desaku, tanpa ada sumber air selain hujan, air bagaikan berlian yang hanya bagian dari impian penduduknya sampai sekarang ini juga, walaupun pipa air telah merentang beberapa tahun lalu, tapi tetesan air tak kunjung ada.
Bapakku seorang pekerja magang di kecamatan Rongkop waktu itu, yang selanjutnya menjadi PNS sebagai Mantri Hewan ketika aku telah pertengahan SD. Ibuku seorang petani.

Belajar dalam gelap tanpa listrik, berjalan dalam lumpur ketika hujan dan panas berdebu ketika kemarau adalah keseharian yang menghiasi perjalananku menuju bangunan tempat aku mencari ilmu (SD Karangwuni II, 1 km, SMPN Semugih, 3 km). Alhamdullillah listrik telah bisa aku nikmati ketika kelas 2 SMP dan jalan itu sekarang telah berblockcor, walaupun aspal yang kami harapkan (yang juga pernah kami mengajukan proposal bersama dengan mahasiswa-mahasiswa sekampung ketika aku S1) belum terealisasi. Mungkin masih banyak hal yang lebih penting untuk dibiayai. Tetapi seperti apa yang terucap sebagai doa, semoga pemangku jabatan itu selalu bijaksana dalam keputusannya, amiien.

Setelah lulus SMP aku meneruskan ke SMU 2 Wonosari, di ibukota kabupaten Gunungkidul, yang berjarak 30 km dari rumahku. 3 km harus aku lalui dengan jalan kaki sampai di jalan besar, selanjutnya angkutan yang akan membawaku sampai di wonosari dengan Rp 300,-.Di dalam keterbatasan disitulah terdapat kekuatan yang luar biasa.

Keterbatasan biaya ternyata tidak menyurutkan semangat orangtuaku untuk tetap menyekolahkan aku di perguruan tinggi. Walau tidak diterima di perguruan tinggi negeri(karena memang bodoh?!!, dan sesuatu yang tidak memungkinkan saya diterima), aku meneruskan ke universitas swasta (Universitas Wangsa Manggala yang sekarang menjadi Universitas Mercu Buana Yogyakarta). Kalau kita menyadari, sesungguhnya keputusan Allah adalah keputusan terbaik dan terindah untuk kita, hanya kadang kita yang tidak bisa menerima kenyataan, tidak ridho, padahal kita belum mengetahui rahasia besar dibalik keputusan-Nya.

Aku selesaikan kuliahku pada tahun 2001, dan aku sebenarnya diterima bekerja di peternakan sapi di Bekasi (seleksi sebelum lulus kuliah). Tapi bapak ibuku tidak mengijinkannya.

Ada semangat yang besar untuk melanjutkan sekolah keluar negeri walaupun waktu itu tidak punya biaya sama sekali. Aku bercita-cita melanjutkan S2 di Australia atau Selandia Baru. Dengan penuh semangat aku mengikuti kursus TOEFL di laboratorium bahasa inggris di Universitas Wangsa Manggala sampai akhirnya aku menjadi asisten untuk English Conversation sekalian mencari informasi beasiswa keluar negeri. Tapi predikat pengangguran tanpa uang memaksaku berpikir mencari penghasilan.
Kuhubungi temen-temenku yang pengusaha peternakan ayam. Kutanya harga jagung untuk pakan ayamnya. Kumulai lobi untuk mensuplai jagung dengan harga bibawah harga pasar dengan cara memutus rantai pemasaran (kebetulan ditempatku sedang musim panen jagung). Pengiriman 1 rit truk (5 ton) untuk setiap pengiriman dengan uang dimuka. 5 ton adalah kebutuhan untuk 1 bulan, berarti pengiriman aku lakukan setiap bulan sampai musim jagung di tempatku habis. Bisnis awal ini berjalan lancar dan sukses karena biaya kirim dapat ditutupi dengan menjual pasir yang dibawa truk sekembalinya dari kirim jagung.

Selanjutnya aku juga mensuplai ayam-ayam siap telur ( umur 3 bulan) dengan model yang sama, uang muka sebagian untuk membeli DOC, dan selanjunya perminggu aku ambil lagi untuk membeli pakannya. Kandangpun aku memimjam kandang milik teman yang sedang kosong sekalian untuk memeliharanya dengan sistem bagi hasil. Ini adalah awal usahaku yang benar-benar tanpa modal uang. Untuk memulai menjadi entrepreneur(wiraswasta) tidak harus bermodal uang tetapi bermodal semangat yang kuat untuk maju, waktu yang tersedia gratis ini adalah modal utama untuk mencari banyak ilmu, pengalaman dan relasi.

Bisnisku masih berlanjut, dengan tambahan uang 5 juta hasil hutang ke BRI dengan jaminan tanah simbah(kakek), aku buat kandang ayam, kemudian kubuat lagi satu kandang untuk puyuh dengan system kemitraan, sampai akhirnya aku bisa membeli mobil pick-up. Tetapi aku lebih banyak di jogja,membantu mengelola bisnis temanku, sementara peternakan diurusi anak kandang. Untuk memberdayakan mobil pick-up, aku mengambil barang kebutuhan pokok dari toko grosir di yogyakarta, telur dari kulonprogro, kelapa dari purworejo dan kulonprogo untuk dijual ke toko-toko di wilayahku dengan mengambil tenaga sales dari tetangga, sementara aku bertugas belanja barang dan aku kirim pakai mobil teman dari jogja. Aku juga merambah bisnis penjualan kayu dan meubel. Dan dengan uang hasil hutangan dari BMT dengan jaminan BPKB mobil (hutang di BRI sudah lunas) aku juga membuat warung bakso dan mie ayam sampai 2 tempat, dan produksi bakpia (tapi sampai sekarang aku tidak bisa membuat bakso, mie ayam apalagi bakpia). Walaupun tidak semua bisnis yang aku jalankan menguntungkan secara finansial, tetapi banyak pengalaman dan pelajaran yang aku dapatkan. Kegagalan juga merupakan kesuksesan, yaitu sukses mengetahui penyabab kegagalan, disana kita bisa introspeksi memperbaiki kesalahan.

Di tahun 2004 dengan informasi dari paman saya yang anggota KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Gunungkidul, aku ikut seleksi program magang Jepang mewakili pemuda tani Gunungkidul. Setelah tahapan seleksi kabupaten dan propinsi selesai, aku dinyatakan lulus sebagai calon peserta magang mewakili DIY. Aku tinggalkan semua bisnisku menunggu keberangkatanku ke Jepang. Aku yakin ini jalan
Allah menuju kehidupannku yang lebih baik.

Aku berangkat ke Jepang awal bulan april 2005, tanpa kemampuan bahasa jepang, bahkan belum hafal katakana hiragana. Kuinjakkan kakiku di Jepang dengan semangat “aku harus bisa bahasa Jepang, dan aku harus berubah”. Setelah pembekalan di Propinsi Ibaraki aku mendapat jatah magang di peternakan ayam di Propinsi Wakayama, sebuah propinsi di dekat Osaka. Disinilah aku menjalani kehidupan yang paling pahit yang pernah aku alami sebagai manusia, disinilah tetesan airmataku kering terkuras.
Banyak surat surat simpatik dari teman-teman kenshusei(peserta magang) yang aku terima sebagai penghibur lara. Satu yang paling mengesankan, yaitu nasehat dari temanku yang sedang magang di kebun mikan (jeruk): Jeruk yang paling kecut dimasa mudanya adalah jeruk yang akan menjadi paling manis dimasa tuanya..

Setelah bertahan 6 bulan di Wakayama, aku dijemput pihak penyelenggara (JAEC) untuk rencana dipulangkan ke Indonesia. Hati ini terasa tentram sekaligus gelisah karena belum mendapatkan apa yang saya harapkan di Jepang. Dengan berbagai argument aku berusaha untuk sementara bertahan di Jepang. Setelah 10 hari menunggu di Tokyo (3 hari di Saitama), dan atas kerja keras pihak penyelenggara (JAEC), aku mendapat induk semang yang baru di kebun bunga pot di Nagano.

Aku akan menyelesaikan sisa waktu magangku selama 4 bulan di tempat yang baru tersebut. Selama awal kedatanganku di rumah induk semangku yang baru, kurasakan banyak aura positif, tanggapan yang hangat luar biasa. Perkembangan bahasa jepangku meningkat cepat berkat bantuan dan bimbingan semua anggota keluarga. Mereka sibuk mencarikan buku, majalah dan lain lain untuk mendukungku belajar bahasa jepang. Bahkan aku disambungkan internet sampai dikamarku.

Berawal dari pertanyaan keluarga induk semang tentang keinginanku setelah selesai magang, kujawab dengan penuh pengharapan bahwa aku punya keinginan untuk melanjutkan S2 dan kalau bisa di Jepang. Ternyata pertanyaan yang aku anggap basa-basi dan jawaban apa adanya dengan keterbatasan bahasa jepangku, ditanggapi serius oleh semua anggota keluarga. Sisa waktu 2 bulan masa magangku waktu itu disibukkan dengan mencari berbagai informasi, karena kami semua masih buta tentang proses perekrutan mahasiswa asing untuk bisa kuliah di Jepang. Semua anggota keluarga saling bahu membahu mencari berbagai informasi dengan berbagai cara: menelepon ke berbagai instansi, mencari di internet sampai memanggil mahasiswa asing(1 orang Indonesia dan 1 orang Mongolia) untuk di”korek” informasinya.

Akhirnya perjuangan itu tidak sia-sia, 2 minggu sebelum kepulangannku ke Indonesia, aku dites oleh salah satu professor di Universitas Shinshu (Prof. Takasi sasaki) dan dinyatakan diterima di laboratoriumnya sebagai mahasiswa peneliti. Tetapi karena tidak mendapat izin dari pihak penyelenggara untuk mengubah visa sebelum terlebihdahulu pulang ke Indonesia, akhirnya aku hanya berjanji segera ke Jepang lagi secepatnya dengan visa wisata untuk mengurus administrasi di kampus.
Beberapa minggu setelah aku di Indonesia, datanglah dokumen-dokumen yang aku minta dari induk semangku di Jepang sebagai penjaminku untuk pembuatan visa. Tetapi mengurus visa ke Jepang waktu itu sangat sulit dan sangat melelahkan. Dengan pengorbanan yang luar biasa, akhirnya pengajuan visaku dinyatakan ditolak. Walau tidak tau lagi jalannya, dalam hati kecil ini yakin aku bisa ke Jepang lagi, hanya Allah sedang mencarikan waktu keberangkatanku yang paling tepat. Karena terlalu percaya dirinya aku akan keyakinanku itu. sampai-sampai aku tidak berpikir untuk mulai berbisnis lagi atau bekerja. There is always door on every wall (selalu ada pintu di setiap dinding :selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahan)
Beberapa hari sebelum bulan puasa tahun 2006, dokumen untuk pembuatan visa dikirimkan lagi untuk yang kedua kalinya dari induk semangku di Jepang. Walau sampai 4 kali kedatanganku ke Kedubes Jepang di Indonesia akhirnya visa wisataku diterima dengan masa waktu 1 bulan. Setelah menghabiskan waktu selama 7 bulan di Indonesia, bakda lebaran 2006 aku berangkat lagi ke Jepang dengan uang hasil hutang ke teman sesama magang dulu.

Setelah kedatanganku di Jepang, segera aku selesaikan administrasi di kampus dan segera merubah status visa menjadi visa pelajar. Tetapi ternyata merubah visa membutuhkan waktu sampai 3 bulan, sedangkan waktu tinggalku hanya 1 bulan. Selain itu juga uang masuk sebesar 80.000 yen dan uang spp 1 semester sebesar 180.000 yen harus segera dibayar setelah aku masuk kuliah. Dan aku tidak punya uang waktu itu, aku hanya berharap untuk berhutang sebesar kebutuhan kuliah saja yaitu sebesar 260.000 yen kepada induk semangku. Tetapi (terima kasih ya Allah) ternyata induk semangku telah memasukkan 500.000 yen di rekeningku untuk keperluan awal kuliahku.
Tetapi karena masa berlaku visa wisataku telah habis, akhirnya saya pulang lagi ke Indonesia dan menunggu lagi di Indonesia selama 2 bulan. Ketika Letter of Eligibility telah dikirimkan oleh induk semangku dari jepang segera aku urus visa pelajar ke kedubes Jepang di Jakarta. Selanjutnya aku segera pergi ke Jepang lagi dengan uang hutang ke paman (Karna aku pulang hanya boleh menbawa uang cukup untuk transportasi sampai rumah saja, dan tiket keberangkatanku nanti akan dikirimkan dari Jepang. Tetapi karena saya anggap terlalu rumit, aku putuskan untuk berhutang lagi dulu)

Saya sampai di Jepang lagi awal februari 2007, tetapi aku tidak langsung kuliah, karena kampus di Jepang sedang libur, dan akhirnya aku mulai kuliahku sebagai mahasiswa peneliti dari tanggal 1 april 2007. Hari-hariku kuhabiskan dengan arubaito(kerja sambilan) di rumah induk semang dan kuliah. Hasil dari arubaito inilah yang aku gunakan untuk hidup sehari-hari karena aku telah menyewa apartemen (apato) sendiri di dekat kampus. Tetapi untuk membayar spp yang kedua aku masih meminta(hutang) lagi ke induk semang (kebetulan tidak ada beasiswa ataupun pengurangan spp untuk mahasiswa peneliti)

Pada waktu sebagai mahasiswa peneliti, aku mengikuti ujian masuk S2 dan alhamdullillah diterima (karema ada teman yang tidak diterima ). Setelah masuk sebagai mahasiswa S2 mulai 1 april 2008, aku berjanji untuk tidak merepotkan lagi keluarga induk (semangku terutama masalah uang. Padahal spp 1 semester 270.000 dan uang masuk 280.000 dan aku tidak punya simpanan uang. Tetapi Allah memang maha sempurna akan rencana-rencananya. Betapa tidak ternyata aku mendapat keringanan uang masuk 50% dan selanjutnya keringanan spp 100%, praktis aku cuma membayar 140.000 yen, dan cukup bermodalkan lebih gambatte (berusaha keras) dalam arubaito (kerja sambilan) uang segitu insya Allah bisa didapatkan. Tetapi baroqah Allah tidak sampai disitu, ketika aku sedang “gambattearubaito, ternyata ada pengumuman yang menyatakan aku lolos mendapatkan beasiswa sebesar 70.000 yen per bulan selama setahun dari JASSO. Dan akhirnya akan kuhabiskan waktuku di Universitas Shinshu Insya Allah sampai S3, dan dengan rezeki Allah saya ingin menyempatkan lebaran di Indonesia dan akan merupakan kepulangan saya yang kedua untuk tahun ini (2008).

Saudaraku, setiap kita adalah orang-orang yang luar biasa, tiada diantara kita yang terlahir bodoh, bukan kita yang bodoh tetapi kita hanya belum tahu. Kita semua terlahir cerdas, hanya kadang kita kurang memberdayakannya (your brain is just like a sleeping giant: pikiranmu bagai raksasa yang sedang tidur). Dan kunci sukses ternyata cukup dengan selalu berusaha berbuat baik, selalu berfikir posif, sabar dan syukur.

(Shinshu, 17 Agustus 2008)

#KisahInspiratif
#AnakDesaBerprestasi
#KuliahDiJepang
#PerjuanganHidup
#MimpiTanpaBatas

Friday, 25 April 2008

Belajar Jadi Peternak Kelas Dunia! Petani Muda Indonesia Magang Sapi di Gunma, Jepang

Pada tanggal 25 April 2008 telah dilakukan acara penerimaan 11 petani muda magang asal Indonesia melakukan pelatihan di Gunma Prefecture. Salah satu petani muda tersebut I Ketut Suartika yang berasal dari Sangeh, Bali akan menimba teknik peternakan sapi di Gunma sejak April 2008. Baru selesai mengikuti pembekalan selama 10 hari di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Gunma Sdr. Ketut memperoleh kesempatan rileks sejenak di Taman Bunga Misato Shibazakura Koen yang letaknya tidak jauh dari SPMA Gunma (Gambar sebelah). Taman ini menyajikan pemandangan indah berupa hamparan aneka warna bunga Shibazakura yang dapat bertahan hidup selama sebulan. Taman dibuka untuk umum dari tanggal 5 April sampai dengan 6 Mei 2008.




Selama setahun Sdr. Ketut akan menimba teknik bertani ala Jepang, belajar beternak sapi di peternakan milik Mr. Morita. Sapi jenis ini setelah berumur 20 bulan berat-badannya bisa mencapai rata-rata 800 kg per ekor, harganya sekitar 450-500 yen per kg berat hidup. Sapi yang dipelihara sekarang tinggal separuhnya yaitu 150 ekor. Mr. Morita sengaja menurunkan jumlah sapi yang dipelihara karena harga makanan sekarang sangat tinggi, terutama jagung sebagai salah satu bahan makanan utamanya. Dia menduga harga jagung yang meningkat ini disebabkan jagung juga diserap pasar sebagai bahan pembuatan biofuel.








Fasilitas di kandang sapi
1.Tempat pemberian makanan sapi
2.Tempat minum sapi secara otomatis.
3.Terlihat Bahan makanan sapi dari jerami.
4.Tempat penyimpanan makanan.
5.Terlihat makanan dengan bahan pokok berasal dari jagung.
6.Tempat pengolahan kotoran menjadi kompos.
7.Bahan alas kandang sapi dari gergajian kayu.
8.Terlihat sapi berumur 8 bulan (gambar tengah)
9.Sapi berumur 20 bulan (gambar bawah) dengan berat 800 kg per ekor siap untuk dijual.


#PetaniMuda
#MagangJepang
#PeternakanSapi
#PertanianModern
#GunmaJapan

Wednesday, 27 February 2008

Anggota Ikamaja baru kembali dari Jepang


Setelah selama kurang lebih satu tahun magang di Jepang Petani Muda Indonesia kemabli ke tanah air bercita-cita mengembangkan pertanian di Nusantara.

Sulasmono:"Aku bercita-cita menjadi peternak sapi yang sukses melalui pengembangan pakan ternak menggunakan rumput bermutu unggul"





Gungun Imat Rohmat:"Selain menjadi Dai, aku berhasrat kuat mengembangkan padi organik dan melon yang bermutu unggul".





Kamarudin:"Aku ingin mengembangkan pemibibitan sapi di Jawa Timur dengan memanfaatkan sumber daya alam yang bagus di Bondowoso"

Friday, 20 July 2007

Petani ASEAN–Jepang Bersatu di Palembang! Dari Alih Teknologi hingga Ekspor Global

Tujuh petani Jepang datang ke Palembang menghadiri Dialogue of ASEAN Farmer di Hotel Aston pada tanggal 18 Juli 2007. Sedangkan peserta dialog dari negara ASEAN sebanyak 15 petani yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Vietnam, dan Kamboja. Acara dibuka oleh Ibu Ir. Yusni Emilia Harahap, MM. Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Departemen Pertanian.

Tujuh petani Jepang yang telah datang pada acara tersebut yaitu Mr. Yochihide Morita dan Mrs. Ishako Morita dari Hiroshima, Mr. Keiichiro Mizuta berasal dari Nara, Mr. Toshiro Ichinose dari Kumamoto, Mr. Zengo Gomi dari Yamanashi, Mr. Takao Otake dan Mr. Yuichi Ishikawa dari Gunma. Mereka merupakan sebagian petani Jepang yang telah melatih petani muda Indonesia yang mengikuti program magang petani muda yang diselenggarakan oleh Departemen Pertanian.

Tujuh petani senior dari Jepang ini berantusias datang pada dialog ini karena mereka ingin lebih meningkatkan lagi hubungan bisnis dengan para alumni magang petani yang telah kembali ke Indonesia. Mereka merasa bangga banyak diantara alumni magang petani yang dulu pernah mereka latih sekarang telah menjadi petani sukses yang mampu mengekspor produk pertaniannya ke Jepang.

Sebagai contoh Sdr. Yudi Kurniawan seorang petani dari Malang Jawa Timur yang pernah magang di pertanian Mr. Takao Otake di Gunma, Jepang sekarang telah menjadi eksportir Teh Ashitaba ke Jepang. Teh tersebut terkenal di Jepang karena mengandung antioksidan dan berkhasiat menjadi anti kanker.

Selain itu mereka bahagia karena pada sehari sebelum acara diolog petani ASEAN mereka mendapat kesempatan menghadiri PENAS KTNA XII yang merupakan pertemuan besar Petani-Nelayan seluruh Indonesia yang dihadiri oleh 26.000 petani-nelayan dari 33 Propinsi.

Di lubuk hati mereka, jauh hari sebelum datang ke Indonesia mereka berharap dapat bertatap muka dengan Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudoyono Doktor Pertanian lulusan IPB, yang membuka acara PENAS KTNA XII.

Pada acara dialog petani ASEAN setiap negara menyampaikan permasalahan dan perkembangan pertanian di negaranya masing-masing dan memberikan pandangannya tentang rencana kerjasama petani di kawasan Asia Tenggara. Perwakilan dari Vietnam sangat berantusias memamerkan sertifikat standar internasional yang mereka kontongi sebagai persyaratan untuk ekspor produk pertaniannya termasuk sertifikat halal.

Petani Jepang mengharap kerjasama petani ASEAN dan Jepang dapat ditingkatkan lagi baik dalam bidang alih teknologi maupun agribisnis.

Perwakilan IRRI menyampaikan laporan perkembangan bantuan IRRI yang telah dilaksanakan dengan baik kepada beberapa negara di kawasan ASEAN termasuk Indonesia.

Dialog ini telah mencatat tiga hal yang telah dirumuskan bersama yaitu permasalahan yang sedang dihadapi oleh para petani di Asia Tenggara, cara pemecahan masalahnya dan langkah tindak lanjut yang diperlukan seperti yang tertulis pada 3 hal sebagai berikut:

1. Permasalahan yang sedang dihadapi oleh para petani ASEAN yaitu:
a.Harga produk pertanian yang tidak stabil,
b.Resiko tinggi dalam bercocok tanam,
c.Posisi tawar yang rendah terhadap pedagang,
d.Infrastruktur kurang memadai,
f.Akses memperoleh pinjaman bank yang rendah,
g.Limbah pertanian yang menumpuk,
h.Kurangnya minat pemuda menjadi petani .


2. Untuk memecahkan masalah ini disarankan agar melakukan:
a.Pengembangan sistem pertanian terpadu,
b.Peningkatkan pengetahuan dan tehnik bertani serta penyebarankannya,
c.Penentukan standar internasional makanan dan mengembangkan brand untuk dapat masuk akses pasar,
d.Kerjasama antar petani untuk meningkatkan posisi tawar,
e.Penigkatan peran pemerintah dalam pembangunan infrastruktur dan akses Bank,
f.Pengembangan istitusi dan organisasi pertanian,
g.Pengembangan pusat-pusat pelatiahan pertanian.


3. Tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah meneruskan transformasi informasi dan teknologi serta berbagi pengalaman diantara semua petani ASEAN dengan pembentukan suatu forum petani ASEAN.

Acara yang telah berjalan dengan lancar penuh keakraban ini ditutup oleh Bapak Ir. Heri Suliyanto MBA, Kepala Pusat Pengembangan Pelatihan Pertanian, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Departemen Pertanian RI.


#PetaniASEAN
#DialogPertanian
#KerjaSamaJepang
#AgribisnisGlobal
#PetaniMuda

Thursday, 26 April 2007

Ratusan Alumni Magang Jepang Bersatu! Inilah Strategi Baru Bangun Pertanian Indonesia

Program Magang bagi Pemudatani Indonesia di Jepang sampai dengan saat ini telah meluluskan 935 orang (XXIII angkatan) yang berasal dari berbagai propinsi/kabupaten di tanah air. Hasil dari kegiatan magang dipandang cukup berhasil dalam mengembangkan pembangunan pertanian di tanah air. Beberapa di antaranya bahkan sudah berhasil mengembangkan kemitraan usaha dengan pengusaha besar. Dasar pelaksanaan kegiatan Pertemuan Tahunan ini adalah Nota Kesepakatan Bersama (MOU) yang ditandatangani oleh pihak Departemen Pertanian cq. Badan Pengembangan SDM Pertanian (Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian) dengan Japan Agricultural Exchange Council/JAEC-Tokyo (Director The Japan Agricultural Exchange Council) pada tanggal 23 Januari 2003.

Dasar pelaksanaan kegiatan Pertemuan Tahunan ini adalah Nota Kesepakatan Bersama (MOU) yang ditandatangani oleh pihak Departemen Pertanian cq. Badan Pengembangan SDM Pertanian (Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian) dengan Japan Agricultural Exchange Council /JAEC-Tokyo (Director The Japan Agricultural Exchange Council) pada tanggal 23 Januari 2003. Hasil Pertemuan Tahunan 2006 yang dilaksanakan di Bangkok Thailand disepakati bahwa kegiatan Pertemuan Tahunan 2007 (The Joint Annual Meeting of ASEAN Country on 2007) dilaksanakan di Indonesia paling lambat minggu pertama Februari 2007. Pertemuan Tahunan (Annual Meeting) dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 6 s.d. 9 Februari 2007.

Pertemuan bertujuan untuk :

(1) Menyatukan pemahaman dan pandangan yang sama antara pihak Indonesia dalam hal ini Badan Pengembangan SDM Pertanian dengan pihak Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) dalam pelaksanaan kegiatan program magang dalam jangka waktu tertentu sebagaimana yang tuangkan dalam Nota Kesepakatan (MOU);

(2) Mendapatkan informasi dari delegasi negara peserta untuk perkembangan permagangan dan pemecahan masalah yang dihadapi. Hasil dari pertemuan ini adalah tercapainya kesepakatan bersama antara Badan Pengembangan SDM Pertanian dan pihak Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) mengenai Program Magang bagi Pemudatani Indonesia di Jepang dalam jangka waktu tertentu sebagaimana yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU).

Peserta Joint Annual Meeting berasal dari Indonesia, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Dari Indonesia dihadiri oleh Kepala Badan SDM Pertanian DR. Ato Suprapto, Kapusbanglatan, Ir. Heri Suliyanto MBA, Atase Pertanian RI di KBRI Tokyo, DR. Pudjiatmoko, para pejabat terkait dari Pusbanglatan, pejabat Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat, dan pengurus IKAMAJA.

Selain itu undangan yang hadir selama Joint Annual Meeting terdiri dari:
1. Kepala BBDAH Kayuambon Lembang;
2. Ketua KTNA Nasional;
3. Pengurus IKAMAJA Nasional;
4. Staf Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Pertanian;
5. Anggota IKAMAJA.

Kegiatan ini telah berhasil memfasilitasi Joint Annual Meeting 2007 untuk mencapai tujuannya yakni menyamakan persepsi tentang pelaksanaan magang Jepang tahun 2006 terhadap permasalahan yang terjadi dan memperoleh masukan dari pengalaman negara peserta lainnya dalam melaksanakan program magang yang sama. Kegiatan ini berhasil memulai tekad meningkatkan pelaksanaan program magang Jepang baik dari pihak Indonesia maupun dari pihak JAEC.

LAPORAN MASING-MASING NEGARA

1. INDONESIA

Masalah yang timbul dan pemecahan yang sedang dan akan diambil untuk memperbaiki kelancaran program magang. Problem-problem yang timbul dalam pelaksanaan magang Jepang adalah:

a. Proses seleksi calon peserta dinilai belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Syarat bahwa calon peserta magang haruslah seorang petani sering dilanggar. Monitoring evaluasi dari petugas pusat terhadap pelaksanaan seleksi di daerah tidak dapat dilakukan terhadap semua daerah. Hal ini disebabkan oleh jumlah petugas dan dana yang terbatas.

b. Pelatihan orientasi dan persiapan keberangkatan dinilai kurang berhasil menempa mental dan disiplin calon peserta magang. Iklim selama pelatihan dinilai terlalu lembek dan longgar jika dibandingkan dengan keadaan ril yang akan mereka hadapi di Jepang. Akibatnya, sesampai di Jepang peserta magang merasa kaget dan stress sehingga muncul pikiran bahwa mereka diperlakukan sebagai tenaga kerja paksa.

c. Kemampuan bahasa sering menjadi hambatan dalam kelancaran interaksi antara peserta magang dengan induk semang. Masalah seperti tidak tersedianya waktu untuk melaksanakan sholat dan sulitnya memperoleh makanan halal hanya terjadi di sebagian kecil induk semang. Jika kemampuan bahasa Jepang memadai, hal ini akan dapat dihindari.

d. Persepsi induk semang dan peserta magang tentang magang sangat berbeda. Induk semang menganggap bahwa magang itu kerja penuh. Sedangkan peserta menganggap magang itu belajar, diskusi, pendampingan, dan bekerja. Perbedaan persepsi ini menjadi penghalang semangat kerja.

e. Waktu kerja peserta magang sering melebihi waktu yang disepakati antara JAEC dengan AAHRD yaitu 50 jam per minggu. Kerja lembur tidak pernah diatur secara jelas.

f. Uang saku yang diperoleh peserta Magang Jepang relative lebih kecil dibanding dengan program magang yang dikelola oleh instansi lain dari Indonesia. Keadaan ini tidak jarang menimbulkan ketidaknyamanan bagi peserta magang.

g. Ketidaksesuaian antara usahatani yang dikelola di tanah air dengan yang ditemui di Jepang menjadi kendala pada awal kegiatan magang dan pada saat magang berakhir. Peserta magang tidak tahu harus mengembangkan usahatani apa di kampung halaman karena yang dialami selama magang sangat berbeda jauh dengan usahatani orangtuanya atau usahataninya.

Sehubungan dengan permasalahan di atas, Indonesia mengajukan beberapa rekomendasi yaitu:

a. Sampai dengan berakhirnya MOU antara JAEC dan Badan Pengembangan SDM Pertanian tahun 2008, proses seleksi dan pelatihan akan melibatkan IKAMAJA. Dengan pengalamannya selama magang di Jepang, diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas seleksi dan materi pelatihan.

b. Memperbaiki sebagian isi MMU sehingga sesuai dengan harapan peserta magang. Hal-hal yang telah diatur dengan jelas akan disosialisasikan kepada peserta magang maupun induk semang. Sedangkan hal-hal yang dapat menimbulkan persepsi yang berbeda akan diusulkan untuk diperbaiki MMU nya.

c. Setelah MOU antara JAEC dan Badan Pengembangan SDM Pertanian berakhir tahun 2008, maka diusulkan MOU baru akan dibuat antara IKAMAJA dengan JAEC. Badan Pengembangan SDM Pertanian bertindak sebagai fasilitator dan evaluator.

2. FILIPINA

Filipina yang diwakili oleh Ms. Solidad B. Fernando menyajikan program kerja yang sedang dilaksanakan bagi para peserta magang. Para peserta magang yang telah kembali akan menerima bantuan untuk memulai atau memperluas usaha tani mereka. Proyek ini membantu peserta magang mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan yang mereka dapatkan selama di Jepang. JAECAAP (perkumpulan alumni magang Jepang Filipina) yang telah tersebar di 16 daerah memonitor pelaksanaan hal tersebut. Filipina juga menjelaskan beberapa persoalan yang sedang dihadapi oleh mereka.

Seperti minimnya pendanaan untuk orientasi calon peserta magang sehingga kadang-kadang peserta harus mencari sendiri sumber pembiayaan dari lembaga-lembaga non pemerintah. Juga karena topan yang melanda Filipina baru-baru ini, lemahnya sistem monitoring yang dilakukan pimpinan daerah dan JAECAAP, dan keharusan mempunyai kontrak penjualan dengan pembeli prospektif menyebabkan pembayaran kembali bantuan yang telah diterima para eks magang agak tersendat.

Kerja yang dilakukan pemerintah Filipina sekarang adalah mengadakan pertemuan rutin antara pengurus JAECAAP dan pemimpin daerah untuk pengumpulan pembayaran bantuan yang telah diterima, mendorong anggota JAECAAP menjadi anggota Dewan Pertanian dan Perikanan. Pada level nasional, JAECAAP diharapkan lebih memperkuat monitoring bantuan yang telah diberikan dan rencana bekerjasama dengan organisasi sosial dan nirlaba untuk mencari sumber pendanaan untuk kegiatan-kegiatan JAECAAP seperti Rotary Club, Lions, Kiwanis, Philippine Jaycees.

3. THAILAND

Ms. Ratana sebagai Kepala Perwakilan Delegasi Thailand menerangkan keadaan negerinya yang terkenal sebagai negara yang berbasis pertanian tetapi walau demikian sumbangan bagi Pendapatan Nasional Bruto hanya 8,6 % dari total keseluruhan dan jumlah petani mengalami penurunan karena harga yang tidak stabil dan kecilnya keuntungan. Maka dari itu para petani muda adalah target dari pembangunan ilmu dan kemampuan sebagai penerus masa depan pertanian. Banyak langkah yang telah dan sedang dilakukan untuk memfokuskan target itu.

Salah satu langkah yang telah lama dilakukan adalah kerjasama dengan JAEC sejak tahun 1983 untuk mendidik petani muda belajar di luar negeri khususnya Jepang. Kemampuan bahasa, adaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, dan lemahnya peran asosiasi alumni magang adalah masalah yang kini dihadapi oleh Thailand. Walaupun demikian manfaat yang diperoleh sangat besar seperti pendidikan manajemen pertanian yang sama sekali baru, transfer ilmu dari alumni ke komunitas mereka, dan banyak alumni sukses membangun pertanian mereka.

4. MALAYSIA

Malaysia yang diwakili oleh Mohd. Hussin Bin Yunus dalam country report-nya menjelaskan latar belakang kerjasama antara Malaysia dan JAEC. Sejak awal mula diadakannya kerjasama, tujuan, orientasi peserta hingga seleksi kandidat petani yang akan dikirim. Mr. Hussin juga menjelaskan sistem pengawasan yang dilakukan berjenjang oleh pemerintah hingga kunjungan langsung ke tempat para pemuda magang melakukan aktivitasnya di Jepang. Malaysia tidak melepaskan begitu saja para pemuda magang yang baru kembali, tetapi menyediakan dan memberikan dukungan untuk para petani demi mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapat.

Pemerintah Malaysia untuk tahun 2007 ini sebelum memberangkatkan para pemuda akan lebih meningkatkan lagi kualitas peserta seperti pemantapan di tempat para alumni selama sebulan, cara penggunaan mesin-mesin pertanian, lebih memperkenalkan budaya Jepang agar mereka lebih mudah beradaptasi. Pihak Malaysia juga mengharapkan pengertian yang mendalam dari host farmer tentang budaya dan agama yang dianut pemuda Malaysia. JAEC juga diharapkan agar memberitahukan host farmer agar tetap komit pada MOU. Penyediaan penerjemah yang tidak hanya pandai berbahasa Melayu, tetapi juga paham tentang budaya dan adat para peserta.

DISKUSI JAEC DENGAN DELEGASI PESERTA

Rapat antara JAEC dengan delegasi Indonesia berlangsung di Ruang Eksekutif Hotel Grand Aquila pada tanggal 7 Februari 2007. Rapat yang berlangsung dari pukul 09.00 s.d. 12.00 tersebut dihadiri oleh dari pihak Indonesia: Kepala Pusat Pengembangan Pelatihan Pertanian, Kepala Bidang Pelatihan Non-Aparatur, Kepala Subbidang Permagangan Petani, Kepala Subbidang Agribisnis, Ketua IKAMAJA Nasional, dan Atase Pertanian Jepang, dari JAEC dihadiri oleh Direktur Executif dan Chief International Cooperation Section.

Rapat difasilitasi seorang penerjemah Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia. Rapat membahas hal-hal yang disampaikan pada country report sewaktu sidang hari pertama tanggal 6 Februari 2007 yaitu mengenai proses seleksi calon peserta magang, pelatihan orientasi dan persiapan menjelang keberangkatan ke Jepang, kemampuan bahasa dan komunikasi Bahasa Jepang, persepsi induk semang, waktu kerja, uang saku, dan ketidak sesuaian antara usahatani peserta magang di tempat asalnya dengan kegiatan magang di Jepang.

Berdasarkan rapat yang sangat alot tersebut disepakati beberapa hal sebagai berikut:

1. Indonesia akan memperbaiki sistem seleksi dan meningkatkan kontrol terhadap pelaksanaan seleksi tersebut. Pusabanglatan diminta lebih aktif mensosialisasikan pedoman seleksi kepada pemerintah daerah (Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten).

2. Sesuai dengan latarbelakang diadakannya magang Jepang ini, bahwa peserta magang haruslah mereka yang telah menjadi petani dan mempunyai prospek menjadi pemimpin pertanian di lingkungannya. Pihak JAEC sangat menyayangkan jika peserta yang dikirim tersebut tidak banyak tahu tentang pertanian.

3. Demikian juga sistem pelatihan orientasi hendaknya mampu memberikan kondisi yang mirip dengan kondisi yang akan dihadapi oleh peserta magang di Jepang. Kondisi dimaksud antara lain disiplin, pekerjaan yang menuntut kerja pagi hingga malam hari untuk waktu-waktu panen dan tertentu.

4. Kedepan, pelatihan orientasi dan pemantapan akan mengikutsertakan IKAMAJA secara aktif, sehingga pengalaman alumni magang dapat disampaikan kepada calon magang. Berdasarkan pengalaman mereka selama di Jepang, akan membantu melihat siapa diantara calon tersebut yang tidak akan kuat menghadapi situasi magang di Jepang.

5. Magang tidak boleh disamakan dengan program kerja yang mempeoleh bayaran lebih tinggi. Allowance (uang saku) tidak diartikan sebagai bayaran. Peserta magang harus mengerti bahwa mereka pergi ke Jepang untuk mencari ilmu, pengetahuan, pengalaman, belajar pertanian, budaya dan kebiasaan orang Jepang.

6. Masalah keterbatasan bahasa Jepang hendaknya dilihat dari dua sisi. Dari sisi peserta mereka hendaknya terus meningkatkan keterampilan berbahasa Jepang dengan cara mencoba kalimat yang sangat sederhana, belajar melalui photo, bermain dengan anak-anak di Jepang dsb. Dari pihak induk semang diminta pengertiannya bahwa belajar bahasa Jepang bagi anak-anak peserta magang tidaklah mudah. Jangan diartikan bahwa mereka melawan atau membangkang tetapi semata-mata karena kurang mengerti saja.

7. Bekerja melebihi waktu 50 jam kerja seminggu juga dibahas. Pihak JAEC menjelaskan bahwa terkadang pada hari-hari tertentu jam kerja melebih 8 jam kerja, hal itu hanya karena sifat dari pekerjaan di pertanian yang tidak bisa dibuat seperti jam kantor. Ada juga saatnya para peserta magang bekerja kurang dari 8 jam per hari. JAEC tetap memperhatikan saran agar otosan tidak memberikan pekerjaan yang terlalu berat bagi peserta magang.

8. Kesesuaian antara komoditas yang diinginkan dengan yang dialami di Jepang disepakati bahwa pihak JAEC berusaha seoptimal mungkin menyesuaian antara pilihan pertama, kedua, dan ketiga. Dimohon agar peserta menyusun pilihannya secara benar dan tidak mengadakan perubahan setelah dokumen dikirim.

9. Secara umum kedua belah pihak (JAEC dan Indonesia) setuju tetap meneruskan program magang ini dengan terus mengadakan perbaikan dari masing-masing pihak.

10. Untuk program tahun 2007, JAEC dan Indonesia menyetujui pengiriman magang sebanyak 12 orang. Dokumen detail item, telah disepakati antara kedua belah pihak dengan sedikit perbaikan. Sebelumnya detail item ditandatangani oleh Kepala Badan PSDMP sekarang boleh ditandatangani oleh Kepala Pusat Pengembangan Pelatihan Pertanian.


#MagangJepang
#PetaniMuda
#IKAMAJA
#SDMPertanian
#KerjaSamaInternasional

Wednesday, 25 April 2007

Di Balik Sukses Magang Petani ke Jepang: Inilah Mitra Strategis yang Membentuk Petani Muda Indonesia

1. The Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) Tokyo

Profile organisasi
Fungsi organisasi ini adalah menyelenggarakan program The Asian Young Leaders Training Program sejak tahun 1983. Jumlah anggotanya 387 orang.

Nama Ketua : Shinichiro Asao
Nama Sekretaris : Hisaki Horiuchi
Alamat : Meiji-Seimei-Kamata-Ekimae Building 6F 39-2, Kamata 4-chome, Ota-ku, Tokyo 144-0052
Telpon : 03-5703-0251
Fax : 03-5703-0255
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut :
Organisasi cukup profesional dalam mengelola program petani magang. Setiap tahun dilakukan evaluasi memalui pertemuan annual meeting yang dilaksanakan di negara pengirim trainee secara bergiliran. Peserta pertemuan adalah Pengurus JAEC dan pejabat kementerian Pertanian negara pengirim trainee.

Anggaran tahun ini menurun sehingga diharapkan sejak tahun 2007 negara pengirim trainee dihimbau untuk menyiapkan dana tiket trainee pulang-pergi ke Jepang. Sementara yang ikut dalam program ini adalah Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand. Ada negara lain yang berminat untuk mengikuti program ini adalah Vietnam, Myanmar dan Laos. Indonesia harus siap untuk berbenah diri.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah Petani muda Indonesia telah mengikuti program petani magang ini sejak tahun 1990 Yang jumlah pesertanya sekitar 15 orang per tahun.

2. The Japan Agricultural Exchange Council Fukui Prefecture

Profile organisasi
Fungsi organisasi ini adalah menyelenggarakan program petani magang sejak tahun 1990. Anggota organisasi ini terdapat 118 orang.

Nama Ketua : Hisaichi Shirasaki
Nama Sekretaris : Shingi Minami
Alamat : 14-22 Gojoho, Ono-shi, Fukui Pref. 912-0421
Telpon : 0779-64-1501
Fax : 0779-64-1219
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut
Pada tahun 2006 organisasi ini masih melakukan kerjasama dengan Badan SDM Departemen Pertanian dalam program petani magang di Propinsi Fukui. Orang tua angkat petani magang mengharapkan para trainee dapat berkomunikasi dengan semua anggota keluarga Host Familinya.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah telah terjalin kerjasama program petani magang Indonesia Jepang dimana jumlah pesertanya sekitar 2-7 orang per tahun..

3. The Niigata Agricultural Exchange Council (NAEC)

Profile organisasi
Organisasi ini telah menyelenggarakan program Petani magang sejak tahun 1995, dimana jumlah anggotanya terdapat 79 orang.

Nama Ketua : Toshiharu Morohashi
Nama Sekretaris : Joichi Kawakami, Nobutoshi Ikegu
Alamat : Kenshinren No.2 Bunshitsu, 1-86 Higashinakadori, Niigata-shi, Niigata Pref. 951-8116
Telpon : 025-223-2186
Fax : 025-223-2401
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut
Pada tahun 2006 organisasi ini masih melakukan kerjasama dengan Badan SDM Departemen Pertanian dalam program petani magang di Propinsi Niigata. Orang tua angkat petani magang mengharapkan para trainee mempunyai kemauan belajar dalam bidang pertanian.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah petani muda Indonesia telah mengikuti program petani dengan jumlah peserta sekitar 7 orang per tahun..

4. The Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) of Gunma

Profile organisasi
Fungsi organisasi ini adalah menyelenggarakan program petani magang sejak tahun 1996, Jumlah anggota organisasi ini sebanyak 199 orang.

Nama Ketua : Takao Otake
Nama Sekretaris : Eiichi Noguchi
Alamat : Gardenhills 2-105,
674-1 Hisanaga, Fujimi-mura, Seta-gun, Gunma Pref. 371-0116
Telpon : 027-288-2902
Fax : 027-288-8524
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut
Pada tahun 2006 organisasi ini masih melakukan kerjasama dengan Badan SDM Departemen Pertanian dalam program petani magang di Propinsi Gunma. Orang tua angkat petani magang mengharapkan para trainee mempunyai kemauan belajar dalam bidang pertanian dan dapat berkomunikasi dengan baik.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah petani muda Indonesia telah mengikuti program petani magang sejak tahun 1999 dengan jumlah pesertanya sekitar 15 orang per tahun.

5. Kumamoto Agricultural Exchange Association (KIA)

Profile organisasi :
Fungsi organisasi ini adalah menyelenggarakan program Petani magang sejak tahun 1997. Jumlah anggotanya terdapat 90 orang.

Nama Ketua : Tsumoru Aoki
Nama Sekretaris : Daisaku Tojiri, Kenichi Takehara
Alamat : 17-15 Suigenji 3-chome, Kumamoto-shi, Kumamoto Pref. 862-0950
Telpon : 096-387-1122
Fax : 096-383-7630
Email : -
Website : -

Analisa organisasi tersebut
Pada tahun 2006 organisasi ini masih melakukan kerjasama dengan Badan SDM Departemen Pertanian dalam program petani magang di Propinsi Gunma. Orang tua angkat petani magang mengharapkan para trainee dapat berkomunikasi dengan baik dan mengikuti peraturan pemerintah Jepang.

Kepentingan Indonesia
Hubungannya dengan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya adalah petani muda Indonesia telah mengikuti program petani magang dengan jumlah pesertanya sekitar 5-10 orang per tahun.

#MagangPetani
#JAECJepang
#PetaniMudaIndonesia
#KerjaSamaInternasional
#SDMPertanian