1. PENDAHULUAN
Kitosan merupakan
polisakarida kationik hasil deasetilasi kitin yang tersusun atas unit β-(1→4)-D-glukosamin dan
N-asetil-D-glukosamin. Karena memiliki gugus amina bebas (–NH₂), kitosan
bersifat reaktif dan mudah dimodifikasi secara kimia maupun fisik. Dalam skala nano, nanokitosan menunjukkan
peningkatan luas permukaan, muatan permukaan, kemampuan penetrasi biologis,
serta aktivitas antimikroba dibandingkan bentuk bulk-nya. Oleh karena itu,
nanokitosan banyak diaplikasikan dalam bidang biomedis, farmasi, pangan, dan
akuakultur.
Berbagai metode
telah dikembangkan untuk menghasilkan nanokitosan dengan ukuran partikel 10–500
nm, distribusi ukuran sempit, serta stabilitas koloid yang baik.
2. METODE
PEMBUATAN NANOKITOSAN
2.1. Metode Gelasi Ionik (Ionic Gelation Method)
Metode gelasi
ionik merupakan teknik yang paling banyak digunakan karena sederhana, tidak
memerlukan pelarut organik, dan berlangsung pada suhu kamar.
Prinsip
Nanokitosan
terbentuk melalui interaksi elektrostatik antara gugus amina bermuatan positif
(–NH₃⁺) pada kitosan dan polianion seperti sodium tripolifosfat (TPP).
Interaksi ini menghasilkan ikatan silang (crosslinking) yang membentuk
nanopartikel secara spontan.
Prosedur Umum
- Kitosan dilarutkan dalam larutan asam
asetat 1% (v/v) hingga konsentrasi 0,1–1,0% (b/v).
- pH
disesuaikan pada 4,5–5,5.
- Larutan
TPP (0,1–0,5% b/v) disiapkan dalam akuades.
- Larutan
TPP ditambahkan tetes demi tetes ke dalam larutan kitosan sambil diaduk
magnetik.
- Nanopartikel
terbentuk secara spontan melalui proses self-assembly.
- Suspensi
disentrifugasi untuk pemurnian dan kemudian dapat dikeringkan menggunakan
freeze-drying.
Parameter Kritis
- Rasio
kitosan:TPP
- Berat
molekul kitosan
- Derajat
deasetilasi
- Kecepatan
pengadukan
- pH
larutan
Ukuran partikel
yang dihasilkan umumnya 50–300 nm.
Referensi utama:
Calvo et al., 1997; Journal of Applied Polymer Science
Fan et al., 2012; Carbohydrate Polymers
2.2. Metode Emulsifikasi dan Crosslinking
Prinsip
Kitosan dilarutkan dalam fase air, kemudian diemulsikan ke
dalam fase minyak membentuk emulsi air-dalam-minyak (W/O). Agen pengikat silang
seperti glutaraldehida ditambahkan untuk membentuk nanopartikel stabil.
Tahapan
- Larutan
kitosan dibuat dalam asam asetat.
- Ditambahkan
ke dalam fase minyak (misalnya parafin cair) dengan surfaktan (Span 80).
- Emulsifikasi dilakukan menggunakan
homogenizer berkecepatan tinggi.
- Agen
crosslinker ditambahkan.
- Nanopartikel
dipisahkan dengan sentrifugasi dan dicuci dengan pelarut organik.
Ukuran partikel biasanya 100–500 nm.
Kelebihan
- Struktur
partikel lebih kuat.
- Cocok untuk enkapsulasi obat
hidrofobik.
Kekurangan
- Menggunakan
pelarut organik.
- Potensi
residu crosslinker toksik.
Referensi:
Bodmeier et al., 1989; International Journal of Pharmaceutics
2.3. Metode Reverse Micelle
Prinsip
Kitosan ditempatkan dalam sistem micelle terbalik dalam
pelarut organik. Reaksi crosslinking terjadi di dalam inti micelle.
Ciri
- Kontrol
ukuran sangat baik.
- Memerlukan surfaktan dan pelarut
organik.
- Cocok untuk aplikasi farmasi presisi.
Ukuran partikel: 20–200 nm.
Referensi:
Mao et al., 2001; Journal of Controlled Release
2.4. Metode
Nanopresipitasi
Prinsip
Nanokitosan
terbentuk melalui presipitasi spontan akibat perubahan kelarutan ketika larutan
kitosan dicampurkan dengan pelarut non-solven.
Prosedur
- Larutan kitosan disiapkan dalam asam
asetat.
- Larutan
diteteskan ke dalam pelarut non-solven (etanol) di bawah pengadukan cepat.
- Partikel
nano terbentuk akibat supersaturasi dan presipitasi instan.
Ukuran partikel umumnya <200 nm.
Referensi:
Fessi et al., 1989; International Journal of Pharmaceutics
2.5. Metode Ultrasonikasi
Prinsip
Gelombang ultrasonik memecah partikel kitosan menjadi ukuran
nano melalui efek kavitasi.
Tahapan
- Larutan
kitosan disiapkan.
- Diproses
menggunakan probe sonicator (20–40 kHz).
- Waktu sonikasi dan amplitudo
menentukan ukuran partikel.
Ukuran partikel:
50–300 nm.
Metode ini sering
dikombinasikan dengan gelasi ionik untuk meningkatkan homogenitas.
Referensi:
Qi et al., 2004; Carbohydrate Research
3.
Karakterisasi Nanokitosan
Setelah sintesis,
dilakukan karakterisasi meliputi:
- Ukuran
partikel dan distribusi (Dynamic Light Scattering/DLS)
- Morfologi
(SEM atau TEM)
- Zeta
potential
- FTIR
untuk konfirmasi interaksi ionik
- Efisiensi enkapsulasi (jika digunakan
sebagai carrier)
4. Perbandingan Metode
|
Metode |
Ukuran (nm) |
Pelarut Organik |
Kompleksitas |
Stabilitas |
|
Gelasi ionik |
50–300 |
Tidak |
Rendah |
Baik |
|
Emulsifikasi |
100–500 |
Ya |
Sedang |
Sangat baik |
|
Reverse micelle |
20–200 |
Ya |
Tinggi |
Baik |
|
Nanopresipitasi |
<200 |
Ya |
Sedang |
Baik |
|
Ultrasonikasi |
50–300 |
Tidak |
Rendah |
Sedang |
5. KESIMPULAN
Metode gelasi ionik merupakan teknik paling populer dan
ramah lingkungan untuk produksi nanokitosan, terutama untuk aplikasi biomedis
dan pangan. Namun, pemilihan metode
harus disesuaikan dengan tujuan aplikasi, kebutuhan ukuran partikel,
stabilitas, serta regulasi keamanan.
DAFTAR REFERENSI
- Calvo,
P., et al. (1997). Novel hydrophilic chitosan–polyethylene oxide
nanoparticles as protein carriers. Journal of Applied Polymer Science.
- Fan,
W., et al. (2012). Preparation and characterization of chitosan
nanoparticles. Carbohydrate Polymers.
- Bodmeier,
R., et al. (1989). Preparation and characterization of chitosan
microparticles. International Journal of Pharmaceutics.
- Mao,
S., et al. (2001). Chitosan-based formulations for drug delivery. Journal
of Controlled Release.
- Qi,
L., et al. (2004). Preparation and antibacterial activity of chitosan
nanoparticles. Carbohydrate Research.
