Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Obat Herbal. Show all posts
Showing posts with label Obat Herbal. Show all posts

Wednesday, 29 January 2025

Dokter Jerman Bongkar Praktik Dukun

 


Dokter Jerman yang Membongkar Praktik Dukun di Hindia Belanda


Pada masa lalu, sebelum ilmu kedokteran berkembang pesat seperti sekarang, masyarakat lebih mengandalkan dukun untuk menangani berbagai masalah kesehatan. Bagi banyak orang, terutama di daerah pedesaan, dukun adalah sosok yang dipercaya karena dianggap memiliki kemampuan supranatural serta keahlian meracik obat-obatan herbal. Namun, di kota-kota besar, seiring dengan masuknya pengaruh Barat, praktik perdukunan mulai dipandang sebagai sesuatu yang tidak ilmiah dan tidak teruji kebenarannya.

 

Salah satu tokoh yang tertarik mengkaji praktik dukun di Hindia Belanda adalah seorang dokter asal Jerman bernama Friedrich August Carl. Pada tahun 1823, Carl dikirim oleh Departemen Kesehatan Hindia Belanda untuk bertugas di Semarang. Saat tiba di sana, ia mendapati sebuah fenomena menarik: banyak warga, baik pribumi maupun orang Eropa, lebih memilih berobat ke dukun dibandingkan ke dokter. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sembuh setelah menjalani pengobatan tradisional tersebut.

 

Sebagai seorang dokter yang mengandalkan ilmu medis modern, Carl merasa penasaran. Bagaimana mungkin pengobatan yang tidak berbasis ilmu kedokteran tetap bisa memberikan hasil yang baik? Ia juga menyadari bahwa di Hindia Belanda saat itu, akses terhadap obat-obatan modern masih sangat terbatas, berbeda dengan di Eropa. Hal ini semakin memotivasinya untuk meneliti lebih lanjut praktik pengobatan tradisional yang dilakukan oleh para dukun.

 

Ternyata, rasa penasaran Carl juga dirasakan oleh banyak dokter Eropa lainnya. Dalam bukunya Merawat Bangsa (2018), sejarawan Hans Pols menjelaskan bahwa sejak lama para dokter Eropa merasa tersaingi oleh dukun. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan akses layanan kesehatan modern di Hindia Belanda. Para dokter umumnya hanya bertugas di kota-kota besar, sementara mayoritas penduduk tinggal di pedesaan. Selain itu, biaya pengobatan medis juga tergolong mahal bagi masyarakat umum. Ditambah lagi, masyarakat masih merasa asing dan takut dengan metode pengobatan modern. Faktor-faktor ini membuat dukun tetap menjadi pilihan utama bagi banyak orang.

 

Keinginan untuk memahami lebih dalam praktik perdukunan mendorong Carl untuk mengamati dan meneliti langsung cara kerja para dukun. Dalam penelitiannya yang dikutip oleh Hans Pols dalam artikel European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation (2008), Carl menemukan bahwa para dukun sebenarnya memiliki metode tersendiri dalam mendiagnosis penyakit. Mereka mengamati gejala yang dialami pasien, kemudian merapalkan mantra dan memberikan ramuan herbal sebagai obat.

 

Setelah melakukan berbagai observasi, Carl sampai pada kesimpulan bahwa kekuatan utama dari pengobatan dukun bukan terletak pada mantranya, melainkan pada penggunaan tanaman herbal. Meskipun tidak didasarkan pada ilmu medis modern, ramuan herbal yang diberikan sering kali efektif dalam meredakan penyakit. Namun, Carl juga menyadari bahwa pengobatan ini hanya berdasarkan pengalaman turun-temurun dan belum divalidasi secara ilmiah. Oleh karena itu, ia mulai melakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan khasiat obat-obatan herbal tersebut secara medis.

 

Dengan penuh dedikasi, Carl mulai menggali informasi tentang pengobatan herbal dari berbagai sumber. Ia mewawancarai masyarakat, pedagang obat, pasien, bahkan istrinya sendiri. Tak hanya itu, ia juga melakukan uji coba langsung terhadap dirinya sendiri serta pasien-pasiennya untuk membuktikan efektivitas ramuan yang digunakan oleh dukun. Usaha kerasnya ini akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.

 

Hasil penelitian Carl kemudian dibukukan dalam sebuah karya berjudul “Pratische Waarnemingen Over Eenige Javaansche Geneesmiddelen” atau “Pengamatan Praktis Beberapa Obat Jawa”. Dalam buku ini, ia mencatat berbagai jenis obat herbal yang digunakan di Jawa, lalu membandingkannya dengan obat-obatan modern yang tersedia saat itu. Carl juga mengelompokkan ramuan-ramuan tersebut berdasarkan jenis penyakit yang dapat diobati, sesuai dengan pendekatan medis modern.

 

Penemuan Carl membawa dampak besar dalam dunia kedokteran di Hindia Belanda. Banyak dokter Eropa mulai menerima dan mengadopsi penggunaan obat herbal sebagai bagian dari pengobatan medis. Dengan adanya katalog obat herbal yang disusun oleh Carl, para dokter pun lebih mudah menemukan alternatif pengobatan bagi pasien mereka, terutama di daerah yang sulit dijangkau oleh obat-obatan modern.

 

Popularitas Carl pun meningkat pesat pada akhir abad ke-19. Ia diakui sebagai dokter pertama yang secara sistematis meneliti dan mengembangkan pedoman pengobatan berbasis herbal di Hindia Belanda. Karyanya tidak hanya membuka mata banyak dokter tentang manfaat tanaman obat, tetapi juga menjadi salah satu pijakan awal bagi perkembangan ilmu farmasi di Indonesia.

 

Kisah Friedrich August Carl menjadi bukti bahwa pendekatan ilmiah dalam memahami praktik tradisional dapat menghasilkan manfaat yang besar bagi dunia kesehatan. Dengan mengombinasikan pengetahuan lokal dan metode ilmiah, ia berhasil mengangkat pengobatan herbal dari sekadar praktik turun-temurun menjadi bagian dari ilmu medis yang lebih sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan. Hingga kini, warisannya masih terasa dalam perkembangan pengobatan berbasis herbal di Indonesia dan dunia.

 

SUMBER:

CNBC Indonesia, 27 Januari 2025

 

Friday, 22 March 2024

Pengembangan Obat Herbal untuk Hewan

 

Peluang Pengembangan Obat Herbal untuk Hewan di Indonesia

 

Obat herbal semakin banyak digunakan dalam pengobatan baik untuk manusia maupun hewan dalam mencegah dan menyembuhkan penyakit. Obat herbal sangat mendukung pengobatan konvensional dan modern. Telah banyak ditemukan senyawa aktif yang terdapat pada tanaman. Ini memberi peluang khasiat tanaman obat digunakan untuk pengobatan herbal. Seringkali kemanjuran terapeutik senyawa aktif dari tanaman setara dengan obat sintetik. Dengan demikian, obat herbal jenis ini dapat digunakan sebagai antibakteri, antimikotik, antiparasit, desinfektan, dan imunostimulan.

 

Standar kualitas farmasi, keamanan, kemurnian dan konsistensinya harus ditetapkan. Standar ini diberlakukan terhadap seluruh proses produksi dan formulasi obat. Hasil dari penelitian bentuk sediaan alami menunjukkan harapan besar bagi masa depan sistem penghantaran obat herbal untuk hewan. Sistem penghantaran obat merupakan suatu sistem untuk mengirimkan zat terapeutik atau obat yang telah digunakan secara klinis dan pra-klinis dalam pengobatan suatu penyakit.

 

Untuk mengenali obat herbal untuk hewan disarikan dari studi Yedi Herdiana dkk dari Universitas Pajajaran dan IPB University berjudul Veterinary Drug Development from Indonesian Herbal Origin: Challenges and Opportunities, IDJP (2021), dan studi Erlia Anggrainy Sianipar dari Universitas Katolik Atmajaya berjudul The potential of Indonesian traditional herbal medicine as immunomodulatory agents: a review, IJPSR (2021).

 

Tujuan penggunaan obat herbal

 

Sama seperti manusia, hewan diberi obat herbal juga untuk menjaga kesehatan. Tujuan menggunakan obat herbal untuk hewan sama dengan untuk manusia, yaitu memberikan tindakan pengobatan yang efektif dan aman. Selain itu peternak atau pemilik hewan mampu menggunakannya dengan mudah.

 

Implementasi pengobatan hewan di masyarakat pedesaan didasarkan pada praktik etnomedisin kedokteran hewan. Studi etnomedisin merupakan salah satu cara ilmiah untuk mendokumentasikan pemanfaatan tanaman sebagai bahan obat oleh berbagai etnis dengan kearifan lokalnya. Terutama ketika memperoleh produk kedokteran hewan modern sulit atau terlalu mahal.

 

Biaya penggunaan obat hewan menyumbangkan lebih dari 50% dari seluruh biaya pengobatan untuk kesehatan. Selain itu obat hewan sintetik dapat menimbulkan efek samping yang merugikan, seperti resistensi obat dan peningkatan toksisitas pada hewan akibat dosis yang berlebihan.

 

Efek samping obat sintetik, seperti residu antibiotik dapat menimbulkan resistensi antibiotik pada manusia. Selain itu hasil zat berbahaya tetap ada di dalam daging. Produk samping obat sintetik ini menjadi perhatian penggunaannya dalam jangka panjang. Permasalahan seperti ini mendorong pencarian alternatif seperti obat herbal, karena murah dan aman dibandingkan dengan cara pengobatan modern.

 

Secara farmakologis obat herbal mengandung berbagai senyawa aktif, dan setiap ramuan mempunyai kombinasi dan khasiat yang unik. Obat herbal hewan dapat digunakan untuk terapi, profilaksis, atau diagnostik dalam pelayanan kesehatan hewan. Penggunaan obat herbal dinilai tidak menimbulkan efek samping atau efek samping ringan; produk non-narkotika; tersedia cepat dan harga terjangkau.

 

Ilmu kedokteran hewan tradisional terdiri dari keyakinan dan praktik tentang kesehatan hewan yang memanfaatkan sumber daya alam. Permintaan obat herbal meningkat baik untuk pengobatan manusia maupun hewan. Pengobatan alternatif menjadi populer di seluruh dunia. Pengobatan herbal telah menjadi salah satu bentuk terapi alternatif dan terapi komplementer. Obat herbal dapat menjadi suplemen yang paling umum untuk mendukung pengobatan modern.

 

Potensi sumber daya alam

 

Indonesia memiliki tidak kurang dari 30.000 spesies tumbuhan yang terdapat di hutan tropis. Dari jumlah tersebut sekitar 9.600 spesies yang diketahui memiliki khasiat obat. Dalam bidang etnofarmakologi, banyak tumbuhan yang umum dimanfaatkan sebagai obat pada hewan. Peluang pengembangan herbal di bidang kedokteran hewan sangat terbuka lebar, sebagaimana diatur dalam regulasi obat alami untuk Hewan. Regulasi pemerintah mengatur bahwa pengobatan hewan dengan menggunakan obat herbal harus terstandar melalui suatu penelitian. Setelah lolos penelitian dan pengujian ilmiah, obat herbal harus mendapat persetujuan Kementerian Pertanian untuk mendapatkan nomor registrasi.

 

Penyakit ternak merupakan salah satu kendala terbesar dalam peningkatan mutu produksi ternak. Peternak membutuhkan obat terbaik untuk mengobati penyakit yang menyerang ternaknya. Seperti halnya obat pada manusia, dokter hewan dan apoteker diharapkan menegakkan sistem dalam merancang, memproduksi, dan menghantarkan obat hewan. Perancangan dan penyiapan sistem penghantaran obat hewan memerlukan pertimbangan lebih cermat dibandingkan penyiapan untuk obat manusia.

 

Tanaman obat herbal

 

Obat herbal yang biasa digunakan dalam praktek manusia seringkali dimanfaatkan pada hewan miliknya, terutama oleh pemilik yang menggunakan pengobatan tersebut untuk dirinya sendiri. Obat herbal tersebut diberikan kepada hewan miliknya untuk mengobati gangguan pernapasan, kulit, saluran kemih, pencernaan, dan kardiovaskular serta untuk mengurangi stres.

 

Selain itu, obat ini juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit kronis untuk menghindari efek samping obat konvensional yang terkadang dapat terjadi akibat penggunaan obat sintetik dalam jangka panjang. Dan fitoterapi (proses pencegahan, pemeliharaan kesehatan dan pengobatan penyakit menggunakan tanaman obat) dapat memberikan dukungan cukup berharga terhadap terapi konvensional pada kasus penyakit parah. Meskipun masih sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk mengevaluasi kemanjuran terapeutik pengobatan herbal pada hewan kesayangan, banyak penelitian telah menemukan penggunaan bahan tanaman untuk obat hewan ternak.

 

Prinsip umum sediaan obat hewan

 

Sifat umum suatu obat hewan yaitu tidak mudah diprediksi respon positif setelah tubuh berinteraksi dengan obat hewan. Dampak lanjutan dari sifat ini pada akhirnya akan mempunyai implikasi seperti: (1) menimbulkan respon yang baik seperti yang diharapkan; (2) munculnya penyakit baru pada hewan yang terinfeksi akibat pemberian obat hewan; (3) menimbulkan bahaya sisa obat pada produk olahan asal hewan; dan (4) menimbulkan pencemaran pada habitat hewan yang tertular.

 

Jika dampaknya berupa respon yang menguntungkan sesuai rencana, ini yang menjadi harapan kita semua. Namun apabila berdampak negatif seperti timbul penyakit baru akibat obat-obatan, dan/atau residu obat hewan dan pencemaran habitat hewan, ini akan merugikan bagi kehidupan manusia. Sebagai jalan keluar dari permasalahan ini, sudah saatnya kita mengubah orientasi strategi pengelolaan ke arah yang logis dan bertanggung jawab.

 

Beberapa tanaman herbal untuk obat hewan

 

(1) daun serai dapur dimanfaatkan untuk antelmintik (obat cacing) unggas; (2) rimpang jahe untuk antibakterial dan fitobiotik pada unggas serta pengobatan luka pada tikus; (3) rimpang lengkuas sebagai antibakterial dan fitobiotik pada unggas serta antifungal untuk anjing; (4) daun sambiloto sebagai antibakterial dan imunomodulator untuk unggas serta antibakterial untuk sapi, juga untuk hepatoprotektor (melindungi hati) tikus; (5) rimpang temulawak sebagai antelmintik untuk kambing dan hepatoprotektor unggas; (6) rimpang kencur membantu peningkatan berat badan sapi; (7) buah cabe jawa untuk meningkatkan libido tikus; (8) rempah kumis kucing sebagai antiinflamasi dan diuretik pada sapi; (9) umbi bawang putih membantu peningkatan berat badan unggas dan antibakterial sapi; (10) biji buah pepaya untuk antelmintik unggas; (11) daun tapak dara untuk pengobatan luka pada tikus; (12) daun rosela untuk immunostimulan tikus; (13) buah mengkudu untuk meningkatkan respon imun humoral dan seluler; (14) buah asam jawa untuk meningkatkan fagositik, penghambatan proliferasi sel dan penghambatan migrasi leukosit; (15) batang brotowali untuk merangsang aktivasi makrofag dan meningkatkan fagositosis.

 

Bentuk sediaan obat hewan herbal

 

Pertimbangan dalam pembuatan bentuk sediaan pada hewan, mempunyai beberapa prinsip farmasi yang sama. Faktor yang sama memengaruhi proses pengembangan bentuk sediaan dan pertimbangan pengendalian mutu obat. Faktor-faktor ini meliputi: (1) Sifat fisika, kimia, dan farmasi senyawa aktif; (2) Tujuan penggunaan bentuk sediaan; (3) Formulasi mencakup senyawa aktif dan bahan tambahan obat yang dilakukan oleh ahli farmakologi atau ahli klinis; dan (4) Cara pembuatan berdasarkan karakteristik obat dan bentuk sediaan yang diinginkan.

 

Prinsip farmasi menekankan perspektif desain sistem penghantaran dan formulasi obat serta variabel manufaktur yang memengaruhi kinerja produk in vivo dan in vitro, dan pemahaman dalam memastikan bentuk sediaan obat efektif, aman, dan stabil.

 

Kesimpulan

 

Kemajuan obat herbal untuk hewan akan menjadi solusi baru untuk mengatasi tantangan resistensi antibiotik untuk meningkatkan hasil produksi dan reproduksi ternak secara berkelanjutan. Dalam beberapa kasus, obat herbal untuk hewan juga dapat meningkatkan profitabilitas produksi daging dan memenuhi kriteria keamanan terkait residu obat hewan.

 

Kedokteran hewan berperan dalam meningkatkan status kesehatan hewan akan berdampak pada kesejahteraan manusia. Untuk mengembangkan sediaan obat tradisional diperlukan ilmu kefarmasian terkini, agar dapat membuat sediaan obat herbal untuk hewan yang efektif dan efisien.

 

Pengembangan obat herbal untuk hewan memerlukan pertimbangan bijak dalam melakukan penerapan ilmu kedokteran hewan mutakhir. Untuk mendukung kemajuan dan pengembangan aplikasi obat herbal hewan diperlukan upaya kerjasama pemerintah, peneliti, dan dunia usaha.

 

SUMBER:

Pudnjiatmoko. Peluang Pengembangan Obat Herbal untuk Hewan di Indonesia PanganNews. 25 Desember 2024.

https://pangannews.id/berita/1703521185/peluang-pengembangan-obat-herbal-untuk-hewan-di-indonesia.

Monday, 12 December 2022

Pengobatan Herbal dan Kanker



Obat herbal merupakan terapi pelengkap yang digunakan beberapa penderita kanker untuk meredakan gejala kanker dan menghilangkan efek samping pengobatan. Pasien mesothelioma harus mendiskusikan pengobatan herbal dengan dokter mereka untuk menghindari interaksi obat dan konsekuensi pengobatan yang negatif.

 

1. APAKAH OBAT HERBAL AMAN ?

 

Apakah Obat Herbal Aman untuk Penderita Kanker?

Herbal mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi terkadang dapat mengganggu pengobatan kanker.

Misalnya, beberapa herbal dapat mencegah kemoterapi dan terapi radiasi membunuh sel kanker. Jamu tertentu meningkatkan efek kemoterapi dengan cara beracun yang menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.  Dokter menyarankan pasien menghindari herbal selama pengobatan. Itu tidak akan aman sampai penelitian dapat mengidentifikasi ramuan mana yang aman untuk dikombinasikan dengan pengobatan kanker.

 

Uji klinis yang menggabungkan obat herbal dengan terapi kanker relatif baru di Amerika Serikat. China telah melakukan uji coba semacam itu sejak awal 1900-an.  Dokter kanker mengandalkan uji klinis untuk merekomendasikan pengobatan yang terbukti efektif. Kurangnya uji klinis pada obat-obatan herbal telah membatasi apa yang dapat direkomendasikan oleh dokter dengan aman.  Orang dengan kanker harus mendapatkan persetujuan dari ahli onkologi mereka terlebih dahulu sebelum mereka meminum obat herbal apa pun karena beberapa herbal dapat berdampak negatif pada hasil pengobatan kanker.

 

2. EFEKTIVITAS DALAM PERAWATAN KANKER

 

Apakah Obat Herbal Efektif untuk Pengobatan Kanker?

Penelitian dalam bidang kedokteran yang sedang dikembangkan yang dikenal sebagai onkologi integratif mencoba untuk memahami terapi komplementer mana, termasuk obat-obatan herbal, yang aman dan efektif untuk dikombinasikan dengan perawatan kanker konvensional.  Beberapa obat kanker konvensional mengandung bahan herbal aktif. Misalnya, obat kemoterapi mesothelioma Taxol (paclitaxel) berasal dari kulit pohon yew. Namun, mengonsumsi suplemen herbal kulit pohon yew tidak menghasilkan efek yang sama dengan Taxol.

 

Secara umum, obat herbal tidak seefektif obat resep konvensional. Sementara beberapa orang merasa reda dengan obat herbal untuk gejala ringan atau efek samping, banyak orang mendapatkan lebih banyak keredaan daripada obat resep.  Obat resep mungkin datang dengan efek samping yang tidak diinginkan, dan efek samping ini dapat memotivasi orang untuk mempertimbangkan pengobatan herbal. Obat-obatan herbal seringkali memiliki risiko efek samping yang lebih rendah daripada obat terapi standar. Ini sebagian karena mereka kurang kuat dibandingkan obat-obatan.  Misalnya, pasien yang menggunakan pengobatan alami untuk insomnia lebih kecil kemungkinannya mengalami pusing, tremor, atau kejang dibandingkan pasien yang menggunakan pil resep seperti benzodiazepin.

 

Efek samping yang terjadi dengan pengobatan herbal biasanya ringan. Sembelit adalah yang paling umum. Kemungkinan ketergantungan juga lebih rendah untuk pengobatan herbal.  Badan Pengawas Obat dan Makanan A.S. menetapkan sebagian besar jamu sebagai GRAS, atau secara umum dianggap aman. Namun pasien harus ingat obat herbal tetaplah sejenis obat. Pastikan untuk mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari ahli onkologi Anda.  Obat herbal bisa datang dalam bentuk tablet atau kapsul, krim, teh atau tincture (konsentrat berbahan dasar alkohol).

 

Penelitian tentang obat dari tumbuh-tumbuhan menunjukkan bahwa mereka dapat membantu untuk:

·         Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

·         Meringankan gejala kanker

·         Mengurangi efek samping pengobatan

·         Penyebaran kanker lambat (metastasis)

·         Serang sel kanker

 

Penelitian tidak menunjukkan bahwa obat herbal dapat menggantikan pengobatan kanker konvensional. Tidak ada herbal yang terbukti mengendalikan atau menyembuhkan segala jenis kanker.  Sebagian besar penelitian telah dilakukan dalam studi tabung reaksi atau studi tikus. Beberapa penelitian yang melibatkan manusia telah dilakukan, tetapi tidak ada uji klinis terkontrol double-blind besar yang dilakukan di A.S.

 

3. PENELITIAN

 

Penelitian Pengobatan Herbal dan Kanker

Penelitian menunjukkan bahwa beberapa herbal dapat membantu pasien kanker mengatasi gejala kanker dan efek samping pengobatan kanker. Studi yang dilakukan di tabung reaksi dan hewan telah menunjukkan beberapa efek anti kanker dari berbagai tanaman herbal, namun hasil ini belum direplikasi dalam percobaan manusia.

 

Astragalus

Penelitian tentang astragalus menunjukkan bahwa astragalus dapat mengurangi efek samping agen kemoterapi berbasis platinum seperti cisplatin dan carboplatin. Ini adalah dua obat kemoterapi paling efektif untuk mesothelioma.  Sebuah studi Cina 2012 yang diterbitkan dalam Onkologi Medis menemukan peningkatan kualitas hidup di antara pasien kanker paru-paru yang menerima suntikan kombinasi astragalus, cisplatin dan vinorelbine dibandingkan dengan pasien yang hanya menerima cisplatin dan vinorelbine. Pasien yang menerima astragalus memiliki fungsi fisik yang lebih baik, nafsu makan meningkat, dan mereka mengalami lebih sedikit kelelahan, nyeri, mual dan muntah.  Pastikan Anda mendiskusikan astragalus dengan ahli onkologi Anda karena ini adalah ramuan yang manjur. Itu dapat mengubah cara tubuh Anda memproses kemoterapi dengan cara yang dapat membantu atau menyakiti tergantung pada pasien.

 

Dong Quai

Pengobatan Tradisional Cina menggunakan ramuan dong quai untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan. Ramuan tersebut mungkin menawarkan manfaat tambahan untuk pasien kanker yang menerima doxorubicin, yang merupakan obat kemoterapi yang digunakan dalam pengobatan mesothelioma.  Sebuah studi tahun 2007 yang diterbitkan dalam Farmakologi dan Toksikologi Dasar dan Klinis menemukan dong quai dapat melindungi dari kerusakan jantung yang disebabkan oleh doxorubicin. Sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam Laporan Onkologi menemukan dong quai dapat melindungi dari peradangan paru-paru yang disebabkan oleh terapi radiasi.

 

Akar Burdock

Tinjauan tahun 2011 yang diterbitkan di Inflammofarmakologi membahas studi laboratorium tentang akar burdock yang menunjukkan ramuan tersebut memiliki sifat anti-inflamasi, antibakteri, anti-kanker, dan pelindung hati. Belum terbukti untuk mengobati kanker pada manusia, tetapi dapat mengurangi peradangan dan membantu pasien pulih dari kerusakan hati setelah pengobatan kanker.  Perlu dicatat bahwa jenis teh akar burdock yang tersedia secara komersial ditemukan terkontaminasi atropin pada tahun 1970-an. Atropin adalah bahan kimia yang menyebabkan detak jantung tidak teratur dan penglihatan kabur. Pasien kanker harus memantau dengan cermat efek ramuan apa pun yang mereka coba.

 

Teh Essiac

Campuran teh herbal yang dikenal sebagai teh Essiac mengandung herbal yang dikenal memiliki efek meningkatkan kekebalan tubuh, termasuk akar burdock. Penelitian menunjukkan teh Essiac tidak menyembuhkan kanker, tetapi mengandung lebih banyak antioksidan daripada anggur merah atau teh hijau.  Pusat Kanker Memorial Sloan Kettering melakukan sekitar 18 studi tentang Essiac pada 1970-an dan 1980-an. Studi ini menemukan Essiac tidak meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau membunuh sel kanker.

 

Hypericin

Senyawa ini ditemukan di St. John's Wort dan dapat membantu membunuh sel kanker. Menurut sebuah penelitian tahun 2000 yang diterbitkan dalam Medical Journal of Australia, hypericin membuat sel kanker tertentu lebih mungkin mati setelah terapi fotodinamik, yang merupakan pengobatan eksperimental untuk mesothelioma.

 

Jahe

Ramuan ini menunjukkan efek anti-inflamasi dan anti-kanker dalam penelitian laboratorium. Itu juga dapat mengurangi mual dan muntah akibat kemoterapi, menurut ulasan tahun 2000 yang diterbitkan dalam British Journal of Anesthesia. Tapi jahe harus benar-benar dihindari sebelum dan sesudah operasi. Ramuan ini mendorong perdarahan sehingga harus dihindari oleh pasien dengan jumlah trombosit rendah.

 

Lidah buaya

Sebuah tinjauan tahun 2011 yang diterbitkan dalam Ulasan Sistematik Database Cochrane melaporkan bahwa mengonsumsi lidah buaya selama kemoterapi membantu mencegah sariawan pada beberapa pasien.

 

Ekstrak Mistletoe

Juga dikenal sebagai Iscador, penelitian yang dilakukan pada manusia menunjukkan bahwa mistletoe mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Sebuah studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam European Journal of Cancer menemukan bahwa mistletoe mengurangi efek samping kemoterapi pada pasien kanker paru-paru.  Sebuah studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam Pengobatan Alternatif Pelengkap Berbasis Bukti menemukan bahwa pasien kanker dengan tumor stadium lanjut dapat mentolerir gemcitabine dosis tinggi (obat kemoterapi yang digunakan untuk mengobati mesothelioma) dengan tambahan mistletoe.

 

Kunyit

Tanaman ini mengandung senyawa yang dikenal sebagai kurkumin. Sebuah studi tahun 2011 yang diterbitkan dalam Cancer Chemotherapy and Pharmacology menunjukkan bahwa ekstrak kurkumin mungkin aman untuk digabungkan dengan kemoterapi gemcitabine pada pasien kanker pankreas.  Kunyit digunakan sebagai anti inflamasi. Ini dapat mengurangi memar pada pasien operasi bila dikombinasikan dengan bromelain (ekstrak dari nanas) dan arnica (tanaman herba).

 

Pohon Kelor

Satu studi dalam tabung reaksi tahun 2006 yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Therapeutics in Oncology menemukan senyawa dalam pohon kelor efektif membunuh sel kanker ovarium. Penelitian lain menunjukkan itu dapat membantu gejala kanker termasuk kesulitan bernapas, batuk, sakit tenggorokan, demam dan nyeri sendi.

 

4. MENGURANGI EFEK SAMPING PENGOBATAN

 

Herbal Yang Dapat Membantu Mengobati Efek Samping

Beberapa herbal dapat membantu mengendalikan efek samping dari pengobatan kanker konvensional. Namun, dokter tidak menganjurkan pasien kanker untuk mengonsumsi obat herbal selama menjalani pengobatan kanker. Jika Anda ingin mencoba obat herbal selama pengobatan kanker, bicarakan dengan ahli kanker Anda tentang hal itu sehingga mereka dapat memantau respons Anda dan memperingatkan Anda tentang potensi interaksi obat.  Beberapa ramuan ini mungkin aman dikonsumsi setelah pengobatan kanker selesai, tetapi Anda harus mendapatkan persetujuan dari ahli onkologi Anda terlebih dahulu.

 

Efek Samping Pengobatan Kanker

Obat Herbal

Mual atau muntah

Jahe, Ganja, Biji Anggur, Peppermint, Roman Chamomile

Kehilangan nafsu makan

Ganja, Dandelion, Cakar Setan, Balsem Lemon, Ginseng Siberia

Diare

Bilberry, Daun Blackberry, Chamomile, Huanglian, Akar Marshmallow

Sembelit

Aloe Vera, Fenugreek, Ragweed, Senna, Psyllium

Kelelahan

Astragalus, Chlorella, Ginkgo Biloba, Pegagan

Iritasi kulit

Calendula, Holy Basil, Milk Thistle, Ginseng Panax

 

Studi tinjauan yang dilakukan tahun 2022, melihat efek obat herbal pada mucositis oral yang disebabkan oleh pengobatan kanker menemukan beberapa herbal efektif untuk memperbaiki pembengkakan jaringan di mulut. Misalnya, kurkumin, madu, dan kamomil dilaporkan efektif mencegah dan mengobati jaringan bengkak dan luka di mulut.

 

5. MEREDAKAN GEJALA KANKER

 

Herbal Yang Dapat Membantu Menurunkan Gejala Kanker

Obat-obatan herbal tertentu dapat membantu menurunkan gejala kanker mesothelioma seperti nyeri dan kesulitan bernapas. Beberapa ramuan ini telah dipelajari pada pasien kanker, dan beberapa di antaranya belum.

Gejala

Obat Herbal

Rasa sakit

Ganja, Boswellia, Kurkumin/Kunyit, Kulit Pohon Willow Putih, Arnica

Sesak napas

Hawthorn, Eucalyptus, Lobelia, White Pine Bark

Batuk

Black Cohosh, Slippery Elm Bark, White / Western Yarrow

Kecemasan atau stres

Kava, Bunga Gairah, Magnolia Bark

Depresi

St. John’s Wort, Valerian

Susah tidur atau insomnia

Bunga gairah, Valerian, Chamomile

 

6. PENCEGAHAN

 

Tindakan Pencegahan untuk Menggunakan Obat Herbal

Obat-obatan herbal mungkin lebih kecil kemungkinannya menyebabkan efek samping daripada obat-obatan tradisional. Namun pasien tetap bisa mengalami komplikasi. Beberapa herbal dapat menyebabkan interaksi negatif dengan obat kemoterapi. Orang lain mungkin mencegah darah membeku dengan benar setelah operasi.  Pantau dengan cermat bagaimana perasaan Anda sebelum dan sesudah minum obat herbal. Pasien harus selalu berkonsultasi dengan dokter mereka sebelum mencoba herbal untuk menghindari komplikasi.

 

Suplemen makanan tidak harus menjalani pengujian FDA sebelum mencapai pasar. Beberapa pasien tanpa sadar telah membeli suplemen yang terkontaminasi arsenik, timbal, dan merkuri.  Untuk menghindari jamu yang terkontaminasi, pasien hanya boleh membeli produk dari perusahaan terkemuka dengan label United States Pharmacopeia (USP).  Pasien juga dapat mencari satu atau lebih label kualitas berikut pada suplemen herbal mereka:

·         GAP (Good Agricultural Practice)

·         GLP (Good Laboratory Practice)

·         GSP (Good Supply Practice)

·         GMP (Good Manufacturing Practice)

Meskipun beberapa herbal dapat memperlambat pertumbuhan kanker, pasien harus menghindari obat-obatan herbal yang dipasarkan sebagai obat kanker. Pengobatan ini sering diproduksi tanpa bukti ilmiah untuk mendukung klaim pabrikan.

 

7. KONSULTASIKAN DENGAN DOKTER ANDA

 

Konsultasikan dengan Ahli Onkologi Anda

Pentingnya mendiskusikan pengobatan herbal dengan ahli onkologi Anda sebelum membeli atau mencobanya.  Terlalu sering pasien menyembunyikan suplemen dan jamu yang ingin mereka minum dari dokter mereka. Ahli onkologi Anda mengutamakan kepentingan Anda dan hanya ingin melindungi Anda dari interaksi yang berpotensi berbahaya.

 

Dalam banyak kasus, dokter Anda akan memberikan persetujuan untuk mengambil pengobatan herbal setelah Anda menyelesaikan pengobatan. Anda juga dapat menanyakan tentang bergabung dengan uji klinis yang sedang menyelidiki herbal yang dikombinasikan dengan pengobatan kanker. Uji coba ini tidak umum, tetapi mereka memantau pasien dengan cermat untuk interaksi yang berbahaya. Mereka mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan seperti menguji herbal untuk kontaminan sebelum pemberian.  

 

Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa produk alami tidak berbahaya atau selalu aman untuk digabungkan dengan obat-obatan farmasi.  Banyak zat alami, seperti arsenik dan tembakau, beracun dan bersifat karsinogenik. Efek herbal dapat berkisar dari ringan hingga kuat tergantung pada orang yang meminumnya dan obat yang mereka gunakan.  Hendaknya Anda meneliti ramuan yang ingin Anda coba secara menyeluruh dan membawa penelitian Anda ke ahli onkologi Anda. Dengan cara ini memungkinkan dokter Anda memberi informasi kepada Anda sebanyak mungkin.

 

SUMBER

Michelle Whitmer. Herbal Medicine and Cancer.

https://www.asbestos.com/treatment/alternative/herbal-medicine/