
Keistimewaan Marmer Yunani di Pelataran Ka'bah: Perpaduan Teknologi,
Keindahan Arsitektur, dan Hikmah Kebesaran Allah SWT.
Pelataran Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, merupakan salah satu kawasan
paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Setiap tahun, jutaan jamaah
dari berbagai negara berkumpul di tempat suci ini untuk melaksanakan ibadah
haji dan umrah. Di kawasan tersebut, umat Islam melaksanakan tawaf, berdoa,
berzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di balik kemegahan dan keindahan pelataran Masjidil Haram, terdapat
teknologi konstruksi yang menarik untuk dikaji, salah satunya adalah penggunaan
batu marmer putih khusus yang didatangkan dari pegunungan Yunani. Material alam
ini bukan sekadar unsur dekoratif untuk memperindah kawasan suci, melainkan
juga memiliki karakteristik fisik yang mendukung kenyamanan jamaah, terutama
ketika menghadapi suhu udara yang sangat panas di kawasan Arab Saudi.
Penggunaan marmer tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi pertambangan, rekayasa material, dan arsitektur modern
dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan ibadah. Dari perspektif dakwah
Islam, fenomena ini juga mengajak manusia untuk merenungkan kebesaran Allah SWT
melalui kekayaan alam, sekaligus memahami pentingnya ilmu pengetahuan dalam
memberikan kemaslahatan bagi umat manusia.
1. MENGENAL MARMER THASSOS, BATU PUTIH
ISTIMEWA DARI YUNANI


Batu marmer yang digunakan
untuk melapisi sejumlah kawasan pelataran Masjidil Haram dikenal dengan nama Thassos
Marble. Nama tersebut berasal dari Pulau Thassos, sebuah pulau di wilayah
utara Yunani yang terkenal sebagai salah satu penghasil marmer putih
berkualitas tinggi.
Pulau Thassos berada
di kawasan Laut Aegea, tidak jauh dari daratan utama Yunani. Wilayah ini
memiliki sumber daya geologi berupa batuan marmer yang terbentuk melalui proses
alam selama jutaan tahun. Melalui tekanan dan perubahan kondisi geologi di dalam
bumi, batuan karbonat mengalami proses metamorfisme sehingga membentuk struktur
kristal yang khas.
Keistimewaan marmer
Thassos terletak pada warna putihnya yang sangat cerah, struktur kristal yang
rapat, serta karakteristik fisik yang membuatnya memiliki nilai tinggi dalam
industri konstruksi dan arsitektur. Batu ini juga dikenal dalam perdagangan internasional
sebagai salah satu jenis marmer putih premium.
Menurut penelitian
yang diterbitkan dalam jurnal Construction and Building Materials pada
2021, marmer Thassos telah digunakan secara luas sebagai material lantai,
dinding, dan bagian atap di Masjidil Haram. Penelitian tersebut juga
menjelaskan bahwa material ini didatangkan dari Pulau Thassos, Yunani.
Penggunaan batu alam
dari negara yang jauh tersebut memperlihatkan betapa pentingnya pemilihan
material konstruksi berdasarkan kualitas, ketahanan, dan kesesuaiannya dengan
kondisi lingkungan.
2. MENGAPA
MARMER YUNANI DIPILIH UNTUK PELATARAN KA'BAH?

Salah satu tantangan
terbesar dalam pembangunan dan pengembangan Masjidil Haram adalah kondisi iklim
Kota Makkah. Wilayah ini memiliki karakteristik iklim gurun dengan intensitas
sinar matahari yang tinggi dan suhu udara yang dapat meningkat tajam, terutama
pada musim panas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena jamaah melaksanakan
tawaf dengan berjalan kaki tanpa alas kaki. Apabila lantai menggunakan material
yang mudah menyerap dan menyimpan panas, permukaannya dapat menjadi sangat
panas sehingga mengganggu kenyamanan dan berpotensi membahayakan jamaah.
Oleh sebab itu, pemilihan marmer Thassos bukan hanya didasarkan pada
keindahan warnanya, tetapi juga pada kemampuan material tersebut dalam
mengelola panas matahari.
Ada beberapa keunggulan penting yang menjadikan marmer ini sesuai untuk
kawasan pelataran Masjidil Haram.
Pertama, kemampuan memantulkan sinar matahari.
Warna putih kristal pada marmer Thassos memiliki tingkat reflektivitas
matahari yang tinggi. Artinya, sebagian besar energi radiasi matahari
dipantulkan kembali sehingga penyerapan panas pada permukaan dapat dikurangi
dibandingkan material yang lebih gelap.
Kedua, kemampuan menghantarkan dan melepaskan panas.
Karakteristik termal marmer memungkinkan panas yang diterima permukaan
disalurkan dan didisipasikan. Dengan demikian, material ini tidak mudah
mempertahankan panas seperti sejumlah material konstruksi konvensional.
Ketiga, karakteristik struktur kristalnya.
Komposisi mineral dan susunan kristal marmer berpengaruh terhadap kemampuan
material dalam menghantarkan panas. Penelitian ilmiah tahun 2018 yang
diterbitkan dalam Arabian Journal of Geosciences menemukan bahwa marmer
Masjidil Haram memiliki reflektivitas matahari dan konduktivitas termal yang
tinggi dibandingkan marmer putih biasa yang menjadi pembanding penelitian
tersebut.
Keempat, ketebalan dan teknik pemasangan.
Menurut keterangan otoritas pengelola Masjidil Haram, marmer Thassos yang
digunakan memiliki ketebalan sekitar 5 sentimeter. Ketebalan serta teknik
pemasangan merupakan bagian dari pertimbangan rekayasa untuk menghasilkan
permukaan lantai yang kuat dan sesuai dengan kebutuhan kawasan yang dilalui
jutaan jamaah.
Keunggulan-keunggulan tersebut menjadikan marmer Thassos bukan sekadar batu
hias, melainkan material konstruksi yang mempunyai fungsi teknis penting dalam
mendukung kenyamanan ibadah.
3. RAHASIA
LANTAI MARMER TETAP SEJUK DI TENGAH PANAS GURUN

Salah satu hal yang
sering membuat jamaah haji dan umrah merasa takjub adalah kondisi lantai putih
di sekitar Ka'bah yang relatif sejuk ketika diinjak, meskipun matahari Makkah
sedang bersinar terik.
Fenomena tersebut kerap menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin lantai
batu alam tetap terasa sejuk ketika suhu udara di sekitarnya sangat tinggi?
Jawabannya dapat dijelaskan melalui ilmu fisika material dan perpindahan
panas.
Secara ilmiah, kemampuan suatu material mempertahankan suhu permukaan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain reflektivitas matahari,
konduktivitas termal, kapasitas panas, ketebalan material, serta kondisi
lingkungan.
Marmer Thassos memiliki kombinasi karakteristik yang mendukung pengendalian
suhu permukaan. Warna putihnya membantu memantulkan radiasi matahari, sedangkan
kemampuan menghantarkan panas membantu mengurangi penumpukan panas pada
permukaan.
Selain itu, keterangan resmi pengelola Masjidil Haram menjelaskan bahwa
pori-pori halus pada marmer dapat menyerap kelembapan pada malam hari dan
melepaskannya pada siang hari. Mekanisme ini turut mendukung kondisi permukaan
yang lebih sejuk.
Penelitian ilmiah yang dipublikasikan pada 2021 juga melakukan pemodelan
suhu permukaan marmer berdasarkan kondisi cuaca Makkah. Hasilnya menunjukkan
bahwa marmer putih tersebut mampu mempertahankan suhu permukaan yang relatif
lebih nyaman untuk kontak langsung dengan kaki manusia, bahkan pada periode
musim panas.
Penelitian itu juga
membandingkannya dengan beton dan aspal. Kedua material tersebut diperkirakan
menghasilkan suhu permukaan yang jauh lebih tinggi dalam kondisi cuaca dan
lingkungan yang sama.
Dengan demikian,
kesejukan lantai Masjidil Haram bukanlah sesuatu yang harus dijelaskan melalui
anggapan adanya pendingin udara di bawah seluruh lantai. Pemilihan material alam dan karakteristik termalnya merupakan bagian
penting dari penjelasan ilmiahnya.
Perlu dipahami pula bahwa marmer bukan pendingin yang menghasilkan suhu
dingin tanpa batas. Suhu permukaannya tetap dipengaruhi kondisi cuaca, radiasi
matahari, aliran udara, dan teknik konstruksi.
4. PROSES PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN
MARMER DARI PEGUNUNGAN YUNANI



Untuk menghasilkan
lantai marmer berkualitas tinggi, prosesnya dimulai jauh sebelum batu tersebut
tiba di Kota Makkah.
Di kawasan
pertambangan Pulau Thassos, batuan marmer dieksplorasi dan ditambang melalui
prosedur pertambangan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Penambangan dilakukan
dengan mempertimbangkan struktur batuan, kualitas mineral, serta ukuran blok
yang dapat dipisahkan dari lapisan batuan induknya.
Proses pengolahan secara umum meliputi beberapa tahapan.
Pertama, Eksplorasi dan pemilihan lokasi tambang
Tahap pertama adalah penelitian geologi untuk mengetahui persebaran lapisan
marmer, kualitas batuan, struktur kristal, dan kemungkinan adanya retakan.
Pemilihan lokasi yang tepat menentukan kualitas material yang dihasilkan.
Kedua, Pemotongan blok marmer
Setelah lokasi ditentukan, batuan dipotong menggunakan peralatan
pertambangan khusus, seperti mesin pemotong kawat berlian. Teknik ini
memungkinkan pemisahan blok marmer berukuran besar dengan tingkat ketelitian
yang baik.
Ketiga, Pengangkatan dan pengangkutan
Blok-blok marmer yang telah dipisahkan kemudian diangkat menggunakan alat
berat. Material tersebut selanjutnya dibawa menuju fasilitas pengolahan untuk
melalui proses pemotongan lebih lanjut.
Keempat, Pemotongan menjadi lembaran
Di pabrik pengolahan,
bongkahan marmer dipotong menjadi lembaran dengan ketebalan dan ukuran
tertentu. Untuk kebutuhan Masjidil Haram, pemilihan dimensi
harus memperhatikan kekuatan, keseragaman, dan spesifikasi teknis pemasangan.
Kelima, Pemolesan dan pemeriksaan kualitas
Permukaan marmer dipoles untuk menghasilkan warna putih kristal yang bersih
dan tampilan yang seragam. Pemeriksaan kualitas juga dilakukan untuk memastikan
material memenuhi persyaratan konstruksi.
Keenam, Pengiriman menuju Arab Saudi
Setelah memenuhi spesifikasi, material dikemas dan dikirim melalui jalur
transportasi internasional menuju Arab Saudi. Di negara tujuan, marmer kemudian
dipersiapkan untuk proses konstruksi dan pemasangan.
Perjalanan marmer dari kawasan pegunungan Yunani hingga menjadi lantai di
sekitar Ka'bah merupakan gambaran panjangnya rantai teknologi dan kerja sama
manusia lintas negara.
5.
PEMASANGAN MARMER DI PELATARAN KA'BAH: KETELITIAN ARSITEKTUR DAN REKAYASA
KONSTRUKSI



Pemasangan marmer di pelataran Ka'bah merupakan pekerjaan konstruksi
berskala besar yang membutuhkan perencanaan teknis, ketelitian, dan pengawasan
kualitas.
Kawasan Mataf, yaitu area yang mengelilingi Ka'bah dan menjadi tempat
pelaksanaan tawaf, memiliki karakteristik penggunaan yang sangat berbeda dari
lantai bangunan pada umumnya. Setiap hari, kawasan ini dilalui jamaah dari
berbagai negara dengan jumlah yang sangat besar.
Karena itu, pemasangan lantai marmer harus memperhatikan sejumlah aspek
penting.
Pertama, kerataan permukaan lantai. Setiap keping marmer harus dipasang dengan tingkat kerataan yang baik
agar tidak menimbulkan perbedaan ketinggian yang dapat mengganggu langkah
jamaah.
Kedua, kekuatan dan ketahanan material. Lantai harus mampu menahan beban manusia dalam jumlah besar serta aktivitas
pembersihan dan pemeliharaan yang dilakukan secara rutin.
Ketiga, keseragaman
warna dan pola. Marmer putih dipasang dengan memperhatikan susunan dan
keselarasan visual sehingga menghasilkan tampilan kawasan yang bersih, luas,
dan indah.
Keempat, pemeliharaan secara berkelanjutan. Permukaan marmer harus dibersihkan, dipoles, diperiksa, dan diperbaiki
apabila ditemukan kerusakan. Pemeliharaan tersebut penting untuk menjaga
kebersihan, keamanan, dan karakteristik material.
Berdasarkan keterangan yang dimuat Arab News pada April 2023, marmer
Thassos didatangkan dalam bentuk blok-blok besar dari Yunani dan selanjutnya
diproses di fasilitas pengolahan di Arab Saudi. Proses pemasangan serta
pemeliharaannya melibatkan tenaga ahli, teknisi, dan pekerja konstruksi.
Hal ini menunjukkan bahwa kemegahan Masjidil Haram bukan hanya hasil
rancangan arsitektur, melainkan juga buah dari perencanaan, ilmu pengetahuan,
keterampilan, dan kerja keras banyak manusia.
6. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENGGUNAAN
MARMER DI MASJIDIL HARAM

Penggunaan marmer di
kawasan Masjidil Haram bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru. Sepanjang
sejarah, kawasan sekitar Ka'bah mengalami berbagai tahap pengembangan untuk
menyesuaikan kebutuhan jamaah yang terus meningkat.
Pada masa-masa awal, kawasan tawaf memiliki permukaan yang lebih sederhana.
Seiring perkembangan pemerintahan Islam dan bertambahnya jumlah jamaah,
dilakukan berbagai pembenahan terhadap lingkungan Masjidil Haram, termasuk
peningkatan kualitas permukaan lantai.
Pada masa modern, perhatian terhadap pemilihan material semakin besar.
Pemerintah Arab Saudi melakukan berbagai perluasan dan renovasi untuk
meningkatkan kapasitas, kenyamanan, dan keselamatan jamaah.
Salah satu perkembangan penting adalah penggunaan marmer putih khusus yang
memiliki kemampuan termal sesuai dengan kondisi iklim Makkah.
Keterangan resmi pengelola Masjidil Haram menyebutkan bahwa penggunaan
marmer Thassos pada kawasan Mataf berkaitan dengan proyek perluasan pada masa
Raja Khalid pada dekade 1970-an. Selanjutnya, penggunaan marmer putih juga
dikembangkan dalam proyek perluasan berikutnya.
Pengembangan tersebut memperlihatkan bahwa pemeliharaan rumah ibadah tidak
hanya berkaitan dengan keindahan bangunan, tetapi juga dengan tanggung jawab
menyediakan fasilitas yang aman dan nyaman bagi umat Islam.
7. PERSEPTIF DAKWAH ISLAM: KEKAYAAN ALAM SEBAGAI TANDA KEBESARAN ALLAH SWT

Jika ditinjau dari
perspektif dakwah Islam, penggunaan marmer dari Yunani untuk pembangunan dan
pengembangan Masjidil Haram menyimpan pelajaran yang sangat menarik.
Allah SWT telah
menciptakan bumi beserta seluruh sumber daya alam yang terkandung di dalamnya.
Pegunungan, bebatuan, mineral, air, tumbuhan, dan berbagai kekayaan alam
lainnya merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.
Manusia diberikan
akal dan kemampuan berpikir untuk mempelajari, mengelola, serta memanfaatkan
sumber daya tersebut secara bertanggung jawab.
Dalam Al-Qur'an,
Allah SWT berfirman:
Artinya:
"Dan Dia
menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya
(sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir."
(QS. Al-Jatsiyah:
13).
Ayat tersebut
mengajarkan bahwa alam semesta dan segala sumber dayanya merupakan karunia
Allah SWT yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan manusia.
Marmer putih yang
berasal dari pegunungan Yunani merupakan salah satu contoh kekayaan geologi
bumi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Melalui penelitian
ilmiah, manusia dapat mengetahui karakteristik mineral, struktur kristal,
kemampuan memantulkan cahaya, serta sifat penghantaran panas suatu batuan.
Pengetahuan tersebut kemudian dapat diterapkan dalam pembangunan fasilitas
ibadah.
Dengan demikian, ilmu
pengetahuan dan teknologi bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai
Islam. Sebaliknya, keduanya dapat menjadi sarana untuk mewujudkan kemaslahatan
umat apabila digunakan secara benar.
8. MENUNTUT ILMU DAN MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI SEBAGAI BAGIAN DARI PERADABAN ISLAM
Islam memberikan
perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Wahyu pertama yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca.
Allah SWT berfirman:
Artinya:
"Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan."
(QS. Al-'Alaq: 1).
Perintah membaca
tersebut memiliki makna luas. Manusia didorong untuk mempelajari kehidupan,
memahami alam semesta, mengembangkan pengetahuan, dan mengambil pelajaran dari
berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya.
Dalam konteks
pembangunan Masjidil Haram, pemanfaatan marmer Thassos memperlihatkan bagaimana
pengetahuan geologi, fisika, teknik sipil, arsitektur, dan teknologi
pertambangan dapat saling melengkapi.
Para ahli geologi mempelajari karakteristik batuan. Para ilmuwan material
meneliti kemampuan fisiknya. Insinyur konstruksi merancang metode pemasangan.
Sementara itu, tenaga ahli dan pekerja lapangan memastikan material dapat
dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Semua bidang keahlian tersebut memiliki kontribusi terhadap satu tujuan
besar, yaitu menyediakan lingkungan ibadah yang lebih baik bagi umat Islam.
Fenomena ini memberikan pelajaran bahwa umat Islam perlu terus meningkatkan
kualitas pendidikan, penelitian, penguasaan teknologi, dan kemampuan mengelola
sumber daya alam.
Peradaban yang maju tidak hanya ditandai oleh bangunan yang megah, tetapi
juga oleh kemampuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan untuk memberikan
manfaat bagi kehidupan.
9. AMANAH MENJAGA LINGKUNGAN DAN MEMANFAATKAN KEKAYAAN ALAM
Di balik manfaat marmer sebagai material konstruksi, terdapat tanggung
jawab lingkungan yang tidak boleh diabaikan.
Kegiatan pertambangan dapat memberikan manfaat ekonomi, membuka lapangan
pekerjaan, dan menyediakan bahan baku pembangunan. Namun, apabila tidak
dikelola secara bertanggung jawab, aktivitas tersebut juga dapat menimbulkan
kerusakan lingkungan.
Penambangan batu alam perlu memperhatikan pengelolaan limbah, penggunaan
air, pengendalian debu, pemulihan lahan, serta perlindungan ekosistem di
sekitar kawasan pertambangan.
Dalam Islam, manusia
diberikan amanah sebagai khalifah di bumi. Amanah tersebut mengandung kewajiban
untuk menjaga keseimbangan alam dan tidak melakukan kerusakan.
Allah SWT berfirman:
Artinya:
"Dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik."
(QS. Al-A'raf: 56).
Ayat tersebut
mengingatkan bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara
bijaksana.
Oleh karena itu,
penggunaan marmer dari Yunani untuk kepentingan pembangunan Masjidil Haram juga
dapat menjadi momentum untuk mengingat pentingnya pertambangan berkelanjutan.
Kemajuan teknologi
hendaknya tidak hanya menghasilkan bangunan yang indah dan kuat, tetapi juga
tetap memperhatikan kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.
10. HIKMAH SOSIAL DAN KEMANUSIAAN DI BALIK PEMBANGUNAN MASJIDIL HARAM

Masjidil Haram
merupakan tempat berkumpulnya umat Islam dari berbagai bangsa, bahasa, budaya,
dan latar belakang sosial.
Setiap tahun, jutaan manusia datang ke Makkah untuk memenuhi panggilan
Allah SWT. Mereka melaksanakan ibadah dengan tujuan yang sama, yaitu
mengharapkan rida dan ampunan-Nya.
Dalam kondisi seperti itu, kenyamanan dan keselamatan jamaah menjadi
tanggung jawab yang sangat penting.
Penggunaan marmer berkualitas tinggi merupakan salah satu bentuk penerapan
teknologi konstruksi untuk mendukung kebutuhan tersebut. Lantai yang relatif
sejuk, kuat, dan mudah dirawat memberikan manfaat bagi jamaah yang melaksanakan
tawaf maupun aktivitas ibadah lainnya.
Dari sudut pandang kemanusiaan, pembangunan fasilitas ibadah yang
memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pengunjung merupakan bagian dari
pelayanan kepada sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia
lainnya."
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Awsath
dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama.
Pesan moralnya sangat
relevan dengan pembangunan fasilitas publik, termasuk Masjidil Haram. Ilmu
pengetahuan, keahlian profesional, dan kemajuan teknologi hendaknya diarahkan
untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia.
KESIMPULAN:
MARMER THASSOS, BUKTI PERPADUAN KEINDAHAN ALAM, ILMU PENGETAHUAAN DAN PELAYANAN UMAT
Pemasangan marmer putih Thassos yang didatangkan dari Pulau Thassos,
Yunani, di pelataran Masjidil Haram merupakan salah satu contoh menarik
perpaduan antara kekayaan alam dan kemajuan teknologi manusia.
Batu marmer yang terbentuk melalui proses geologi selama jutaan tahun
tersebut memiliki karakteristik fisik yang istimewa. Warna putih kristalnya
membantu memantulkan sinar matahari, sedangkan sifat termalnya mendukung
pengendalian suhu permukaan lantai.
Keunggulan tersebut menjadikan marmer Thassos sangat sesuai untuk kawasan
Mataf dan sejumlah area Masjidil Haram yang membutuhkan material berkualitas
tinggi, tahan lama, dan nyaman digunakan oleh jamaah.
Lebih jauh, fenomena ini memberikan pelajaran dakwah Islam bahwa alam
semesta merupakan karunia Allah SWT yang perlu dipelajari, dimanfaatkan, dan
dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Kita dapat mengambil hikmah bahwa kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi,
pertambangan, dan arsitektur dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kepada umat manusia.
Kemegahan Masjidil Haram bukan semata-mata terletak pada keindahan
bangunannya, tetapi juga pada bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi
dimanfaatkan untuk memberikan kenyamanan kepada jutaan manusia yang datang
memenuhi panggilan Allah SWT.
Pada akhirnya, marmer putih dari pegunungan Yunani tersebut mengingatkan
kita bahwa di balik setiap keindahan alam terdapat tanda-tanda kebesaran Sang
Pencipta. Tugas manusia adalah mempelajarinya, mensyukurinya, serta
memanfaatkannya untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.
REFERENSI DAN SUMBER BACAAN
1. Alghamdy, S.,
Alleman, J. E., & Alowaibdi, T. S. (2021). Cool White Marble Pavement
Thermophysical Assessment at Al Masjid Al-Haram, Makkah City, Saudi Arabia.
Construction and Building Materials, 285, 122831. Baca
penelitian ilmiah.
2. Aal, A. A.,
Shoukry, H., Sayed, M. A., & Ghramh, H. A. (2018). Physical
Characteristics of Heat-Dissipating Smart Marble at Al Masjid Al-Haram, Makkah
City, Saudi Arabia. Arabian Journal of Geosciences, 11, 159. Baca
ringkasan penelitian.
3. Otoritas Pengelola
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. The Marble Floors in the Grand Mosque.
Sumber
resmi mengenai marmer Masjidil Haram.
4. ANTARA News
(2019). Rahasia Lantai Masjidil Haram Tetap Dingin dari Marmer Thassos
Yunani. Baca
laporan ANTARA.
5. Arab News (2023). Why
the Marble Flooring of Saudi Arabia's Two Holy Mosques Remains Cool Even in
Summer. Baca
laporan Arab News.
#MarmerThassos
#MasjidilHaram
#Kaabah
#TeknologiArsitektur
#DakwahIslam