Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Demografi Jepang. Show all posts
Showing posts with label Demografi Jepang. Show all posts

Wednesday, 14 January 2026

Krisis Pemuda Dewasa di Jepang: Angka Terendah Kedua Sepanjang Sejarah Ungkap Fakta Mengejutkan!

 


Jumlah Pemuda Dewasa Jepang Turun Menjadi Terendah Kedua Sepanjang Sejarah — Optimisme dan Kekhawatiran Berjalan Beriringan

 

Di Jepang, Hari Kedewasaan selalu menjadi momen istimewa. Setiap tahun, para pemuda yang resmi beranjak menjadi orang dewasa berkumpul dengan pakaian terbaik, senyum cerah, dan harapan besar tentang masa depan. Namun tahun ini, di balik kemeriahan upacara di berbagai daerah, ada kenyataan lain yang menyentuh: jumlah pemuda yang menginjak usia dewasa kembali berada di titik sangat rendah, bahkan menjadi yang terendah kedua sepanjang sejarah negara tersebut.

 

Menurut data pemerintah, hanya sekitar 1,09 juta pemuda yang mencapai usia dewasa per 1 Januari—560.000 laki-laki dan 530.000 perempuan—angka yang nyaris menyamai titik terendah sepanjang pencatatan, yaitu 1,06 juta pada tahun 2024. Ini termasuk warga asing yang tinggal di Jepang lebih dari tiga bulan. Jika menengok ke belakang, perbandingannya terasa dramatis: pada 1970, di era baby boom pascaperang, jumlahnya mencapai 2,46 juta, lebih dari dua kali lipat kondisi saat ini.

 

Beberapa dekade terakhir menunjukkan tren jangka panjang yang konsisten—penurunan jumlah pemuda yang memasuki usia dewasa, meski pernah naik sebentar menjadi 2,07 juta pada 1994. Struktur demografi Jepang terus menua, dan tahun ini hanya mempertegas kenyataan tersebut.

 

Upacara Tetap Meriah, Meski Angkanya Menipis

 

Sejak 2022, Jepang menurunkan batas usia legal dewasa dari 20 menjadi 18 tahun. Namun, tradisi tetap tradisi: banyak pemerintah daerah masih menggelar upacara Hari Kedewasaan untuk mereka yang berusia 20 tahun. Generasi muda tetap datang, tetap tersenyum, dan tetap merayakan momen penting dalam hidup mereka.

 

Menariknya, meski jumlah mereka menurun, optimisme justru meningkat. Survei yang dilakukan Macromill pada Desember 2025 terhadap 500 calon peserta upacara tahun 2026 menemukan bahwa 56,6% responden memiliki harapan besar terhadap masa depan politik Jepang—angka yang melonjak hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Sekitar 45% juga percaya masa depan Jepang akan cerah, banyak di antaranya menaruh harapan pada pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

 

Optimisme yang Hangat, Kecemasan yang Nyata

 

Di balik senyum dan harapan, tetap ada kekhawatiran yang menghantui.
Remi Kaneko, pemuda Tokyo yang baru memasuki usia dewasa, mengaku optimistis terhadap arah perubahan di Jepang. Ia percaya negara akan berkembang dalam hal kesetaraan gender, upah yang lebih adil, dan keseimbangan hidup–kerja yang lebih sehat. Namun ia juga tak menampik bahwa situasi global—ketegangan politik hingga konflik di berbagai belahan dunia—membuatnya sulit merancang masa depan dengan pasti.

 

Kecemasan serupa dirasakan Ayumi Matsui, mahasiswa tahun kedua di Yokohama. Beban ekonomi dan ketidakpastian karier menjadi pertimbangan berat. Ayumi bermimpi menjadi guru dan menularkan kecintaan membaca kepada generasi berikutnya, terlebih ketika teknologi digital perlahan menggeser kebiasaan membaca dan menulis. Meski begitu, inflasi yang meningkat dan perubahan sosial membuatnya bertanya-tanya: apakah generasinya akan memiliki kekuatan untuk bertahan di tengah perubahan besar yang terus bergulir?

 

Sementara itu, Chisa Adachi, mahasiswa tahun pertama di Prefektur Aichi, menyebut usia 20 tahun sebagai titik balik. Meski secara hukum dewasa dimulai pada usia 18, baginya usia 20 adalah momen simbolis—tanda bahwa ia harus melangkah lebih mantap sebagai individu yang mandiri.

 

Antara Harapan dan Tanggung Jawab

 

Beberapa pemuda tak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga ingin berkontribusi bagi masyarakat. Rei Asafuji, asal Kawasaki, berharap bisa bekerja di pemerintahan daerah dan memperkuat kesiapsiagaan bencana. Namun ia juga takut: apakah ia dapat melangkah lebih jauh dari sekadar memahami masalah menuju kemampuan menyelesaikannya?

 

Kisah-kisah ini menggambarkan sebuah generasi yang hidup di persimpangan—di satu sisi penuh harapan, di sisi lain dibayangi ketidakpastian. Jumlah mereka mungkin berkurang, tetapi suara mereka semakin jelas: mereka ingin masa depan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih aman. Mereka ingin menjadi bagian dari perubahan, meski jalan menuju sana tidak selalu mudah ditebak.

 

Di tengah tantangan demografi yang terus menekan Jepang, harapan anak-anak muda ini terasa seperti cahaya kecil yang tetap menyala—rapuh, tetapi penting. Harapan yang mungkin, suatu hari nanti, menjadi pijakan bagi masa depan Jepang yang lebih kuat.

 

SUMBER:

Jessica Speed. Number of young people in Japan becoming adults drops to second-lowest ever. the Japan Times, 12 Januari 2026.


#Jepang 

#Demografi 

#Pemuda 

#KrisisPopulasi 

#HariKedewasaan