Di Pulau Okinawa, Jepang, terdapat sekelompok desa yang
menghasilkan begitu banyak penduduk berusia lebih dari 100 tahun sehingga para
peneliti mempelajari pola makan mereka selama puluhan tahun dan akhirnya
mengaitkan sebagian pengaruh tersebut dengan ubi jalar yang memasok sekitar 60
persen kebutuhan kalori harian selama paruh pertama abad ke-20.
Selama sebagian besar abad ke-20, ubi jalar memasok
sekitar 60 persen kalori harian penduduk desa-desa Okinawa yang menghasilkan
salah satu konsentrasi penduduk berusia seratus tahun tertinggi di dunia. Inilah yang dapat dan tidak dapat
dijelaskan oleh data mengenai alasan mereka berumur panjang.
Pada tahun 1949, otoritas pendudukan
Amerika melakukan survei asupan makanan di seluruh Okinawa dan mencatat sesuatu
yang kemudian menarik perhatian para ahli gizi selama lima puluh tahun
berikutnya: penduduk pulau tersebut memperoleh sekitar 69 persen kalori mereka
dari satu jenis tanaman umbi, dengan total asupan sekitar 1.785 kalori per
hari. Tanaman tersebut adalah ubi jalar, yang
secara lokal disebut imo. Sementara itu, semua jenis pangan
hewani—daging babi, ikan, telur, dan produk susu—secara keseluruhan menyumbang
kurang dari empat persen.
Selama beberapa dekade pula, desa-desa yang mengonsumsi imo
dalam jumlah paling banyak menghasilkan konsentrasi penduduk berusia seratus
tahun tertinggi yang pernah didokumentasikan dalam sebuah penelitian populasi
yang ditinjau sejawat (peer-reviewed).
Namun, kisah sebenarnya jauh lebih kompleks—dan bukti
ilmiahnya lebih rapuh—daripada versi populer yang selama ini beredar.
Apa yang sebenarnya dimakan oleh penduduk desa Okinawa?
Rekonstruksi pola makan tersebut berasal dari arsip masa
perang dan pascaperang, yang digunakan untuk menggambarkan pola konsumsi
masyarakat Okinawa yang lahir pada tahun 1890-an hingga awal 1900-an. Selain
umbi-umbian tersebut, makanan mereka terdiri atas sayuran berdaun hijau,
kedelai, rumput laut, pare, dan sesekali daging babi. Ikan ternyata dikonsumsi
lebih jarang daripada yang mungkin dibayangkan berdasarkan stereotip tentang
masyarakat kepulauan Jepang. Beras merupakan makanan yang tergolong mewah dan biasanya
dikonsumsi pada saat festival atau perayaan. Daging mungkin hanya dikonsumsi
beberapa kali dalam sebulan.
Analisis yang dipublikasikan
terhadap catatan tersebut—oleh Willcox dan rekan-rekannya dalam Journal of
the American College of Nutrition—memperkirakan komposisi makronutrien
sekitar 85 persen karbohidrat, 9 persen protein, dan 6 persen lemak. Studi Willcox
dan kolega di PubMed Rasio tersebut, yang mendekati sepuluh bagian
karbohidrat untuk setiap satu bagian protein, kemudian menarik perhatian para
peneliti penuaan dan menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai sejarah pola
makan Okinawa. BBC Future
tentang pola makan Okinawa dan umur panjang Pola tersebut sangat
berbeda dari hampir semua pola makan tinggi protein yang populer selama tiga
puluh tahun terakhir.
Namun, ada satu detail yang sering disederhanakan dalam
berbagai kisah populer mengenai Okinawa. Beni-imo yang kini sering
muncul dalam menu wisatawan merupakan ubi berwarna ungu hingga ke bagian
dalamnya. Warna tersebut berasal dari antosianin, yaitu kelompok pigmen yang
juga memberikan warna gelap pada blueberry dan kubis merah. Akan tetapi, tanaman pangan pokok
yang dikonsumsi secara historis sebenarnya terdiri atas berbagai varietas.
Analisis Willcox menggambarkan tanaman sumber kalori tersebut sebagai kelompok
umbi-umbian yang tidak hanya berwarna ungu, tetapi juga banyak yang berwarna
jingga hingga kuning. Dengan demikian, gambaran ubi ungu yang sangat mencolok
sebagian merupakan citra modern yang diterapkan kembali pada tanaman pangan
ladang yang pada masa itu jauh lebih beragam dan sederhana.
Dalam penelitian laboratorium,
ekstrak ubi jalar ungu menunjukkan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Namun, apakah temuan tersebut benar-benar menghasilkan pengaruh yang dapat
diukur terhadap umur manusia merupakan pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab.
Penelitian mengenai Okinawa sendiri tidak pernah memberikan jawaban yang
sepenuhnya meyakinkan mengenai hal tersebut.
Ubi jalar bukanlah satu-satunya
jawaban. Bahkan, mungkin bukan faktor yang paling menentukan. Namun, ubi jalar
merupakan fondasi sumber kalori yang menopang keseluruhan pola makan masyarakat
Okinawa pada masa itu.
SUMBER:
Space Daily. https://share.google/pN3jGxBwc0sxFhh6N
#Okinawa
#Longevity
#SweetPotato
#HealthyDiet
#Aging
