Telomer dan Telomerase sebagai Target Terapi
Kanker: Dari Panjang Telomer hingga Plastisitas Sel Punca Kanker
Pendahuluan
Perkembangan penelitian kanker dalam beberapa dekade
terakhir menunjukkan bahwa telomer dan telomerase memegang peranan penting
dalam proses pembentukan, perkembangan, dan ketahanan sel kanker (Blackburn,
2001; Shay & Wright, 2019). Telomer merupakan struktur khusus yang berada
pada ujung kromosom dan berfungsi melindungi materi genetik dari kerusakan
selama proses replikasi DNA (de Lange, 2005). Pada sel normal, telomer akan
memendek setiap kali sel membelah hingga akhirnya mencapai panjang kritis yang
memicu penuaan sel (senescence) atau kematian sel (apoptosis)
(Harley et al., 1990). Sebaliknya, sebagian besar sel kanker mampu
mempertahankan panjang telomernya melalui aktivasi enzim telomerase, sehingga
memperoleh kemampuan untuk membelah tanpa batas dan menjadi
"immortal" (Kim et al., 1994; Shay & Bacchetti, 1997).
Skema di atas menggambarkan berbagai hubungan antara
panjang telomer, aktivitas telomerase, struktur G-quadruplex, modifikasi
poli(ADP-ribosil)asi, serta plastisitas sel punca kanker yang saat ini menjadi
fokus utama dalam pengembangan terapi kanker modern.
Hubungan antara Kanker dan Panjang Telomer
Telomer tersusun atas urutan DNA berulang yang berfungsi sebagai pelindung ujung kromosom. Pada setiap siklus pembelahan sel, sebagian kecil telomer akan hilang akibat keterbatasan mekanisme replikasi DNA yang dikenal sebagai end-replication problem (Olovnikov, 1973; Blackburn, 2001). Pada sel normal, pemendekan telomer yang terus-menerus menyebabkan:
- Penghentian siklus sel (senescence).
- Aktivasi jalur kerusakan DNA.
- Kematian sel terprogram (apoptosis)
(d’Adda di Fagagna et al., 2003).
Namun, pada sel kanker terjadi aktivasi kembali telomerase sehingga panjang telomer dapat dipertahankan. Telomerase menambahkan kembali urutan DNA telomerik yang hilang sehingga sel kanker dapat terus melakukan proliferasi tanpa batas (Kim et al., 1994; Shay & Wright, 2019). Skema di atas menunjukkan bahwa ketika telomer terus memendek, sel akan mengalami senescence dan kematian. Sebaliknya, aktivasi telomerase memungkinkan pemeliharaan telomer dan mendukung keberlangsungan hidup sel kanker.
Kompleks Telomer: Peran TRF1 dan TERRA
Fungsi telomer tidak hanya ditentukan oleh panjangnya,
tetapi juga oleh berbagai protein dan molekul RNA yang berinteraksi dengannya
(de Lange, 2005).
TRF1
(Telomeric Repeat-Binding Factor 1)
TRF1 merupakan protein penting dalam kompleks shelterin yang mengatur stabilitas dan panjang telomer (Palm & de Lange, 2008). Protein ini berfungsi mengontrol akses telomerase ke ujung kromosom dan menjaga integritas struktur telomer. Gangguan pada fungsi TRF1 dapat menyebabkan:
- Ketidakstabilan kromosom.
- Aktivasi respons kerusakan
DNA.
- Perubahan
proliferasi sel kanker (Martínez et al., 2009).
Karena itu, TRF1 mulai dipertimbangkan sebagai target
terapi antikanker yang potensial.
TERRA
(Telomeric Repeat-Containing RNA)
TERRA adalah RNA non-koding yang ditranskripsi dari
daerah telomer (Azzalin et al., 2007). Molekul ini berperan dalam:
- Regulasi panjang telomer.
- Pembentukan struktur kromatin
telomer.
- Pengaturan aktivitas
telomerase (Azzalin & Lingner, 2015).
Penelitian
terbaru menunjukkan bahwa perubahan ekspresi TERRA dapat memengaruhi
perkembangan berbagai jenis kanker dan berpotensi digunakan sebagai biomarker
maupun target terapi (Cusanelli & Chartrand, 2015).
Dari
“Panjang” Menjadi “Bentuk”: Target G-Quadruplex
Paradigma penelitian telomer kini tidak hanya berfokus pada panjang telomer, tetapi juga pada bentuk atau struktur tiga dimensi DNA telomerik. Salah satu struktur yang mendapat perhatian besar adalah G-quadruplex, yaitu struktur DNA sekunder yang terbentuk pada daerah kaya guanin (G) (Neidle & Balasubramanian, 2006).
Pembentukan
G-quadruplex dapat:
- Menghambat aktivitas
telomerase.
- Mengganggu
replikasi DNA pada sel kanker.
- Mengaktifkan sinyal kerusakan
DNA.
- Menghambat proliferasi tumor
(Mergny & Sen, 2019).
Karena
sebagian besar sel kanker bergantung pada telomerase, stabilisasi struktur
G-quadruplex menggunakan molekul kecil menjadi strategi terapi yang sangat
menjanjikan (Neidle, 2017). Pendekatan ini memungkinkan penghambatan
pertumbuhan kanker secara lebih spesifik dibandingkan kemoterapi konvensional.
Poli
(ADP-ribosil)asi dan Tankyrase sebagai Target Baru
Skema di atas juga menyoroti pentingnya proses
poli(ADP-ribosil)asi dalam regulasi telomer dan jalur sinyal kanker (Lehtiö et
al., 2013).
Protein utama yang terlibat adalah Tankyrase, suatu enzim
anggota keluarga PARP (Poly ADP-ribose Polymerase) (Smith et al., 1998).
1. Regulasi Telomer
Tankyrase memodifikasi protein telomer melalui proses
poli (ADP-ribosil)asi sehingga memengaruhi akses telomerase terhadap ujung
kromosom (Cook et al., 2002).
Aktivitas
tankyrase yang tinggi dapat:
- Meningkatkan pemanjangan
telomer.
- Mendukung imortalitas sel
kanker.
- Memfasilitasi
pertumbuhan tumor (Seimiya et al., 2005).
2. Regulasi Jalur Wnt/β-catenin
Tankyrase juga berperan dalam mengatur protein Axin,
suatu komponen penting dalam jalur sinyal Wnt (Huang et al., 2009).
Ketika
tankyrase aktif:
- Axin mengalami degradasi.
- β-catenin menjadi stabil.
- Jalur Wnt teraktivasi.
- Proliferasi
sel kanker meningkat (Lau et al., 2013).
Oleh karena itu, pengembangan inhibitor tankyrase
diharapkan mampu memberikan efek ganda, yaitu menghambat pemeliharaan telomer
sekaligus menekan jalur pertumbuhan tumor yang dimediasi oleh Wnt/β-catenin.
Plastisitas
dan Heterogenitas Tumor
Salah
satu tantangan terbesar dalam terapi kanker adalah keberadaan sel punca kanker
(cancer stem cells, CSCs) (Batlle & Clevers, 2017).
Sel punca kanker memiliki kemampuan:
- Memperbarui diri (self-renewal).
- Berdiferensiasi menjadi
berbagai tipe sel tumor.
- Bertahan
terhadap kemoterapi dan radioterapi.
- Memicu
kekambuhan kanker setelah pengobatan (Reya et al., 2001).
Skema di atas menunjukkan hubungan antara telomerase dan
kemampuan pembaruan diri (self-renewal) sel punca kanker. Aktivitas
telomerase yang tinggi membantu mempertahankan kapasitas regeneratif CSCs
sehingga populasi sel kanker dapat terus bertahan (Flores et al., 2008).
Resistensi Obat dan Kekambuhan
Meskipun terapi antikanker mampu membunuh sebagian besar
sel tumor, sejumlah kecil CSCs sering kali tetap bertahan. Sel-sel ini kemudian
berkembang kembali menjadi tumor baru yang lebih resisten terhadap pengobatan
(Batlle & Clevers, 2017).
Fenomena
ini dikenal sebagai:
- Drug resistance (resistensi obat).
- Tumor recurrence (kekambuhan tumor).
- Tumor heterogeneity (heterogenitas tumor)
(Meacham & Morrison, 2013).
Karena
itu, identifikasi target molekuler yang spesifik pada CSCs menjadi fokus utama
pengembangan terapi kanker generasi berikutnya.
Integrasi
Berbagai Target Terapi Telomer
Terdapat
tiga arah utama pengembangan terapi berbasis telomer:
1.
Menargetkan Struktur G-Quadruplex
- Menghambat aktivitas
telomerase.
- Mengganggu replikasi DNA
kanker.
- Memicu kematian sel tumor.
2.
Menghambat Tankyrase dan Poli(ADP-ribosil)asi
- Mengurangi pemanjangan
telomer.
- Menekan
jalur Wnt/β-catenin.
- Menghambat proliferasi kanker.
3.
Menargetkan Sel Punca Kanker
- Mengurangi kemampuan self-renewal.
- Menekan resistensi obat.
- Mencegah kekambuhan tumor.
Pendekatan
multimodal ini diharapkan mampu menghasilkan terapi yang lebih efektif
dibandingkan strategi konvensional yang hanya menargetkan proliferasi sel tumor
(Shay & Wright, 2019).
KESIMPULAN
Telomer
dan telomerase merupakan komponen kunci dalam biologi kanker dan telah
berkembang menjadi salah satu target terapi yang paling menjanjikan (Blackburn,
2001; Shay & Wright, 2019). Penelitian modern tidak lagi hanya berfokus
pada panjang telomer, tetapi juga pada struktur G-quadruplex, regulasi oleh
TERRA dan TRF1, aktivitas tankyrase, serta keterkaitannya dengan sel punca
kanker. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme ini membuka peluang
pengembangan terapi antikanker yang lebih spesifik, efektif, dan minim efek
samping. Di masa depan, kombinasi inhibitor telomerase, stabilisator
G-quadruplex, inhibitor tankyrase, dan terapi yang menargetkan sel punca kanker
berpotensi menjadi strategi penting dalam mengatasi resistensi obat dan
mencegah kekambuhan kanker.
DAFTAR PUSTAKA
Azzalin, C.M., Reichenbach, P., Khoriauli, L., Giulotto, E., & Lingner, J. (2007). Telomeric repeat-containing RNA and RNA surveillance factors at mammalian chromosome ends. Science, 318(5851), 798–801.
Azzalin,
C.M., & Lingner, J. (2015). Telomeres: the silence is broken. Cell Cycle,
14(7), 998–1000.
Batlle,
E., & Clevers, H. (2017). Cancer stem cells revisited. Nature Medicine,
23(10), 1124–1134.
Blackburn,
E.H. (2001). Switching and signaling at the telomere. Cell, 106(6),
661–673.
Cook,
B.D., Dynek, J.N., Chang, W., Shostak, G., & Smith, S. (2002). Role for the
related poly(ADP-ribose) polymerases tankyrase 1 and 2 at human telomeres. Molecular
and Cellular Biology, 22(1), 332–342.
Cusanelli,
E., & Chartrand, P. (2015). Telomeric noncoding RNA: Telomeric
repeat-containing RNA in telomere biology. Wiley Interdisciplinary Reviews
RNA, 6(4), 407–419.
d’Adda
di Fagagna, F., Reaper, P.M., Clay-Farrace, L., et al. (2003). A DNA damage
checkpoint response in telomere-initiated senescence. Nature, 426,
194–198.
de
Lange, T. (2005). Shelterin: the protein complex that shapes and safeguards
human telomeres. Genes & Development, 19(18), 2100–2110.
Flores,
I., Cayuela, M.L., & Blasco, M.A. (2008). Effects of telomerase and
telomere length on epidermal stem cell behavior. Science, 309(5738),
1253–1256.
Harley,
C.B., Futcher, A.B., & Greider, C.W. (1990). Telomeres shorten during
ageing of human fibroblasts. Nature, 345, 458–460.
Huang,
S.M.A., Mishina, Y.M., Liu, S., et al. (2009). Tankyrase inhibition stabilizes
Axin and antagonizes Wnt signalling. Nature, 461, 614–620.
Kim,
N.W., Piatyszek, M.A., Prowse, K.R., et al. (1994). Specific association of
human telomerase activity with immortal cells and cancer. Science,
266(5193), 2011–2015.
Lau,
T., Chan, E., Callow, M., et al. (2013). A novel tankyrase small-molecule
inhibitor suppresses APC mutation-driven colorectal tumor growth. Cancer
Research, 73(10), 3132–3144.
Lehtiö,
L., Collins, R., van den Berg, S., et al. (2013). Tankyrases: structure,
function and therapeutic implications in cancer. Current Pharmaceutical
Design, 19(23), 6472–6488.
Martínez,
P., Thanasoula, M., Muñoz, P., et al. (2009). Increased telomere fragility and
fusions resulting from TRF1 deficiency. EMBO Journal, 28(13), 1819–1830.
Meacham,
C.E., & Morrison, S.J. (2013). Tumour heterogeneity and cancer cell
plasticity. Nature, 501, 328–337.
Mergny,
J.L., & Sen, D. (2019). DNA quadruple helices in nanotechnology. Chemical
Reviews, 119(10), 6290–6325.
Neidle,
S. (2017). Quadruplex nucleic acids as targets for anticancer therapeutics. Nature
Reviews Chemistry, 1, 0041.
Neidle,
S., & Balasubramanian, S. (2006). Quadruplex Nucleic Acids.
Cambridge: Royal Society of Chemistry.
Olovnikov,
A.M. (1973). A theory of marginotomy. Journal of Theoretical Biology,
41(1), 181–190.
Palm,
W., & de Lange, T. (2008). How shelterin protects mammalian telomeres. Annual
Review of Genetics, 42, 301–334.
Reya,
T., Morrison, S.J., Clarke, M.F., & Weissman, I.L. (2001). Stem cells,
cancer, and cancer stem cells. Nature, 414, 105–111.
Seimiya,
H., Muramatsu, Y., Ohishi, T., & Tsuruo, T. (2005). Tankyrase 1 as a target
for telomere-directed molecular cancer therapeutics. Cancer Cell, 7(1),
25–37.
Shay,
J.W., & Bacchetti, S. (1997). A survey of telomerase activity in human
cancer. European Journal of Cancer, 33(5), 787–791.
Shay,
J.W., & Wright, W.E. (2019). Telomeres and telomerase: three decades of
progress. Nature Reviews Genetics, 20(5), 299–309.
#Telomerase
#TerapiKanker
#Telomer
#CancerStemCells
#BiologiKanker
