Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Penyakit Hewan. Show all posts
Showing posts with label Penyakit Hewan. Show all posts

Tuesday, 10 July 2012

Surra


1.  Etilogik
Trypanosomiasis yang umum disebut Surra.  Surra disebabkan oleh parasit darah yaitu Trypanosoma evansi. Tempat predileksi parasit ini adalah darah, limpa, dan cairan serebrospinal.
2.  Penularan  

Penyakit ini ditularkan secara mekanik murni oleh vektor, secara congenital lewat induk atau plasma, mukosa kelamin, mukosa usus, dan bisa melalui luka terbuka. Di dalam tubuh lalat parasit hidup bertahan selama kurang lebih 6-12 jam.

3. Patogenesis

Vektor utama adalah lalat dan nyamuk Stomoxys calcitrans, Lyperosia, Glossina dan Tabanus. Trypanosoma evansi diketahui hanya berbentuk tunggal (monomorfik) berbeda dengan spesies lain yang berbentuk ganda (pleomorfik). Dalam keadaan tertentu, protozoa ini tidak dapat tertangkap saat dilakukan pemeriksaan karena dapat bersembunyi di dalam kelenjar limfe.

Penyakit Tripanosomiasis ditularkan secara mekanik melalui gigitan vektor ketika menghisap darah penderita, baik pada hewan ternak maupun anjing. Setelah memasuki peredaran darah, trypanosoma segera memperbanyak diri dengan pembelahan secara biner.

Dalam waktu singkat penderita mengalami parasitemia dan suhu tubuh biasanya meningkat. Sel darah merah penderita yang tersensitisasi oleh parasit segera dikenali oleh makrofag dan dimakan oleh sel darah putih tersebut. Bila sel darah merah yang dimakan makrofag cukup banyak anjing penderita segera mengalami anemia normositik dan normokromik. Sebagai akibat anemia, penderita tampak lesu, malas bergerak, bulu kusam, nafsu makan menurun dan mungkin juga terjadi oedem di bawah kulit maupun serosa.

Jenis Trypanosoma yang dalam siklus hidupnya hanya terdapat satu stadium, contoh T. Equiperdum dan T. Evansi, disebut monomorf, dan memperbanyak diri dengan cara pembelahan biner. Trypanosoma yang dalam hidupnya terdapat 2 atau lebih stadium, disebut polimorf, sebagai contohnya T. Gambiense, T. Rhodesiense, dan T. Brucei.

Di dalam tubuh vertebrata, stadium terakhirnya adalah Trypanosoma. Jika bersama darah stadium tadi ditelan oleh serangga, dalam saluran pencernaan parasit itu mengalami perubahan bentuk melalui satu stadium atau lebih, yaitu stadium Leishmania, Leptomonas, atau Chritidia. Tiga macam stadium itu tidak infektif bagi vertebrata. Stadium yang infektif adalah tripanosoma metasiklik. Parasit bentuk infektif ini dikeluarkan bersama tinja serangga, dan penularan terjadi bila tinja yang mengandung tripanosoma metasiklik itu kontak langsung dengan kulit inang vertebrata. Masuknya parasit bentuk infektif ke dalam tubuh inang dipermudah oleh luka karena gigitan serangga atau karena luka goresan atau garukan.

4. Gejala Klinis
Suhu badan naik, demam bersalang-seling,
nemia, muka pucat
Nafsu makan berkurang,
Sapi menjadi kurus, berat badan menurun
Penderita tak mampu bekerja karena letih
Bulu rontok, kelihatan kotor, kering seperti sisik
Gerakan berputar-putar tanpa arah (bila parasit menyerang otak atau syaraf)
5. Differential Diagnosa
T. equiperdum
Parasit ini terdapat di seluruh dunia, menyerang pada kuda, sapi, keledai yang menimbulkan penyakit Dourine.  Parasit ini ditemukan pada darah dan limfe, menyerupai T. evansi, tetapi parasit ini menyebabkan penyakit kelamin yang ditularkan melalui coitus (kawin).
Pada Jantan menimbulkan peradangan pada penis, praeputium dan organ genital lain akhirnya bisa menjadi ulcer.
Pada betina menyebabkan vaginitis disertai demam. Pada stadium sekunder timbul urtikaria, reaksi dermatologis dan hemoragi kulit. Pada stadium tertier timbul gangguan sistem saraf pusat, paralisa, refleks extremitas menurun dan gangguan beberapa nervus mata/muka. Pada Dourine menciri pada sekresi cairan genital, infeksi kulit.
Diagnosa immunologis dilakukan dengan CBR.
6. Diagnosa
Penentuan diagnosa didasarkan pada ditemukannya parasit dalam pemeriksan darah natif atau dengan pengecatan HE atau dengan trypan-blue. Pada stadium akut atau awal dari penyakit ini, tripanosoma dapat ditemukan di dalam aliran darah perifer. Usapan darah tebal lebih baik dipakai daripada usapan darah tipis pada pemeriksaaan ini. Protozoa ini lebih banyak ditemukan di dalam kelenjar limfa. Parasit ini juga dapat ditemukan di dalam usapan cairan yang diperoleh dari tusukan kelenjar limfa yang segar atau yang telah diwarnai. Pada stadium lebih lanjut dapat ditemui pada cairan serebrospinal.

7. Prognosa
Sebagian besar hewan yang terkena penyakit tripanosomiasis ini mengalami kematian. Penyakit ini lebih menahun pada sapi dan banyak yang menjadi sembuh. Pada kuda, bagal, dan keledai sangat rentan, begitu juga domba, kambing, dan onta sangat rentan yang tanda-tandanya sangat mirip dengan kuda.

8.  Penanganan
Tindakan preventif terhadap tripanosomiasis ditujukan penyelamatan ternak dengan cara mengendalikan reservoir , menghindarkan kontaminasi mekanis yang tidak disengaja, pengelolaan tanah, dan pengendalian biologik.
Dilakukan surveilans yang berkelanjutan; pengobatan secara masal dan berkala pada semua hewan; atau penyembelihan semua hewan yang terserang.
Menghilangkan tempat berkembangbiak lalat secara besar-besaran karena lalat berkembang biak di bawah semak-semak sepanjang sungai atau di lokasi-lokasi lain yang bersemak.
Pelepasan lalat jantan steril untuk mengendalikan populasi lalat dan penyemprotan tanah dengan insektisida.
Untuk menyembuhkan infeksi T. evansi pada kuda dan anjing dianjurkan penggunaan kuinapiramin diberikan secara subkutan; Suramin diberukan secara Intra Vena; Diminazene aceturat, dan Isometamedium diberikan secara intra muskuler.

Monday, 6 February 2012

OIE Listed Diseases


Multiple species diseases

  • Anthrax
  • Aujeszky's disease
  • Bluetongue
  • Brucellosis (Brucella abortus)
  • Brucellosis (Brucella melitensis)
  • Brucellosis (Brucella suis)
  • Crimean Congo haemorrhagic fever
  • Echinococcosis/hydatidosis
  • Epizootic haemorrhagic disease
  • Equine encephalomyelitis (Eastern)
  • Foot and mouth disease
  • Heartwater
  • Japanese encephalitis
  • New world screwworm (Cochliomyia hominivorax)
  • Old world screwworm (Chrysomya bezziana)
  • Paratuberculosis
  • Q fever
  • Rabies
  • Rift Valley fever
  • Rinderpest
  • Surra (Trypanosoma evansi)
  • Trichinellosis
  • Tularemia
  • Vesicular stomatitis
  • West Nile fever

Cattle diseases

  • Bovine anaplasmosis
  • Bovine babesiosis
  • Bovine genital campylobacteriosis
  • Bovine spongiform encephalopathy
  • Bovine tuberculosis
  • Bovine viral diarrhoea
  • Contagious bovine pleuropneumonia
  • Enzootic bovine leukosis
  • Haemorrhagic septicaemia
  • Infectious bovine rhinotracheitis/infectious pustular vulvovaginitis
  • Lumpky skin disease
  • Theileriosis
  • Trichomonosis
  • Trypanosomosis (tsetse-transmitted)

Sheep and goat diseases

  • Caprine arthritis/encephalitis
  • Contagious agalactia
  • Contagious caprine pleuropneumonia
  • Enzootic abortion of ewes (ovine chlamydiosis)
  • Maedi-visna
  • Nairobi sheep disease
  • Ovine epididymitis (Brucella ovis)
  • Peste des petits ruminants
  • Salmonellosis (S. abortusovis)
  • Scrapie
  • Sheep pox and goat pox

Equine diseases

  • African horse sickness
  • Contagious equine metritis
  • Dourine
  • Equine encephalomyelitis (Western)
  • Equine infectious anaemia
  • Equine influenza
  • Equine piroplasmosis
  • Equine rhinopneumonitis
  • Equine viral arteritis
  • Glanders
  • Venezuelan equine encephalomyelitis

Swine diseases

  • African swine fever
  • Classical swine fever
  • Nipah virus encephalitis
  • Porcine cysticercosis
  • Porcine reproductive and respiratory syndrome
  • Swine vesicular disease
  • Transmissible gastroenteritis

Avian diseases

  • Avian chlamydiosis
  • Avian infectious bronchitis
  • Avian infectious laryngotracheitis
  • Avian mycoplasmosis (M. gallisepticum)
  • Avian mycoplasmosis (M. synoviae)
  • Duck virus hepatitis
  • Fowl typhoid
  • Highly pathogenic avian influenza and low pathogenic avian influenza in poultry as per Chapter 10.4. of the Terrestrial Animal Health Code
  • Infectious bursal disease (Gumboro disease)
  • Newcastle disease
  • Pullorum disease
  • Turkey rhinotracheitis

Lagomorph diseases

  • Myxomatosis
  • Rabbit haemorrhagic disease

Bee diseases

  • Acarapisosis of honey bees
  • American foulbrood of honey bees
  • European foulbrood of honey bees
  • Small hive beetle infestation (Aethina tumida)
  • Tropilaelaps infestation of honey bees
  • Varroosis of honey bees

Fish diseases

  • Epizootic haematopoietic necrosis
  • Epizootic ulcerative syndrome
  • Infection with Gyrodactylus salaris
  • Infectious haematopoietic necrosis
  • Infectious salmon anaemia
  • Koi herpesvirus disease
  • Red sea bream iridoviral disease
  • Spring viraemia of carp
  • Viral haemorrhagic septicaemia

Mollusc diseases

  • Infection with abalone herpes-like virus
  • Infection with Bonamia exitiosa
  • Infection with Bonamia ostreae
  • Infection with Marteilia refringens
  • Infection with Perkinsus marinus
  • Infection with Perkinsus olseni
  • Infection with Xenohaliotis californiensis

Crustacean diseases

  • Crayfish plague (Aphanomyces astaci)
  • Infectious hypodermal and haematopoietic necrosis
  • Infectious myonecrosis
  • Necrotising hepatopancreatitis
  • Taura syndrome
  • White spot disease
  • White tail disease
  • Yellowhead disease

Amphibians

  • Infection with Batrachochytrium dendrobatidis
  • Infection with ranavirus

Other diseases

  • Camelpox
  • Leishmaniosis

Friday, 3 February 2012

Penetapan Empat Propinsi Bebas Brucellosis

 
 Propinsi Sumsel, Bengkulu, Lampung dan Babel Bebas Brucellosis
 
 
Menteri Pertanian Suswono telah menetapkan empat Propinsi di wilayah kerja BPPV Regional III Lampung sebagai Propinsi bebas Penyakit Brucellosis. Surat Keputusan menteri Pertanian tertanggal 30 Desember 2011.


Sebagai penghargaan atas prestasi yang diraih oleh ke empat propinsi tersebut diserahkan piagam penghargaan Menteri Pertanian kepada Gubernur Sumatera Selatan, Gubernur Bengkulu, Gubernur Lampung dan Gubernur Bangka Belitung atas kerja kerasnya dalam mempersiapkan pembebasan penyakit Brucellosis selama 5 tahun.


Penghargaan Menteri Pertanian diberikan juga kepada Kepala BPPV Lampung Drh. Syamsul Ma'arif atas kerja keras dalam memimpin BPPV Lampung melaksanakan Surveilans Penyakit Brucellosis.


Penyerahan Penghargaan dilaksanakan pada tanggal 3 Pebruari 2012 di Dining Hall Wisma Atlit Jakabaring Sport City, Palembang. Ikut menyaksikan penyerahan penghargaan tersebut Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktur Kesehatan Hewan, dan para Pejabat Eselon 1 lingkup Kementerian Pertanian.


Dengan meningkatnya status kesehatan hewan ini merupakan suatu prestasi dalam mendukung program swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2014.


Sapi yang masuk daerah bebas Brucellosis ini harus berasal dari Zona bebas Brucellosis atau kelompok bebas Brucellosis, tidak divaksinasi Brucellosis.





Friday, 22 May 2009

Prevalence of Antibodies to JE Virus

 
 
 Prevalence of Antibodies to Japanese Encephalitis Virus among Inhabitants in Java Island, Indonesia, with a Small Pig Population
 
 
Eiji Konishi*, Yohei Sakai, Yoko Kitai, AND Atsushi Yamanaka
Department of International Health, Kobe University Graduate School of Health Sciences, Kobe, Japan; Department of Microbiology and Infectious Diseases, Kobe University Graduate School of Medicine, Kobe, Japan; International Center for Medical Research and Treatment, Kobe University School of Medicine, Kobe, Japan; Indonesia-Japan Collaborative Research Center for Emerging and Re-emerging Infectious Diseases, Institute of Tropical Disease, Airlangga University, Surabaya, Indonesia

Japanese encephalitis virus (JEV) is maintained through a transmission cycle between amplifier swine and vector mosquitoes in a peridomestic environment. Thus, studies on natural JEV activities in an environment with a small size of pig population have been limited. Here, we surveyed antibodies against JEV in inhabitants of Jakarta and Surabaya located in Java Island (Indonesia), which has a small swine population. Overall, 2.2% of 1,211 sera collected in Jakarta and 1.8% of 1,751 sera collected in Surabaya had neutralizing antibody titers of 1:160 (90% plaque reduction). All the samples with titers of 1:160 against JEV were also examined for neutralizing antibodies against each of four dengue viruses to confirm that JEV antibody prevalences obtained in the present survey were not attributable to serologic cross-reactivities among flaviviruses distributed in Java. These results indicated that people in Java Island are exposed to natural JEV infections despite a small swine population.
_____________________________________________________________________________________________

Received May 19, 2008. Accepted for publication February 2, 2009.
_____________________________________________________________________________________________

Acknowledgments: We thank Dr. Pudjiatmoko of the Indonesian Embassy in Tokyo, Japan and Mr. Kris Cahyo Mulyatno of Institute of Tropical Disease, Airlangga University, Indonesia for their assistance in collecting information about sizes of human and pig populations in Indonesia.
_____________________________________________________________________________________________

Financial support: This work was supported in part by a grant-in-aid through the Program of Founding Research Centers for Emerging and Reemerging Infectious Diseases, the Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT), Japan, and through Research on Emerging and Re-emerging Infectious Diseases, the Ministry of Health and Welfare of Japan.
_____________________________________________________________________________________________

* Address correspondence to Eiji Konishi, Department of International Health, Kobe University Graduate School of Health Sciences, 7-10-2, Tomogaoka, Suma-ku, Kobe 654-0412, Japan. E-mail: ekon@kobe-u.ac.jp
Authors’ addresses: Eiji Konishi, Yohei Sakai, and Yoko Kitai, Department of International Health, Kobe University Graduate School of Health Sciences, 7-10-2, Tomogaoka, Suma-ku, Kobe 654-0412, Japan, Tel/Fax: 81-78-796-4594, E-mails: ekon@kobe-u.ac.jp, sakatom2002@yahoo.co.jp, and sunbaby_spring5nw9@yahoo.co.jp. Atsushi Yamanaka, Indonesia-Japan Collaborative Research Center for Emerging and Re-emerging Infectious Diseases, Institute of Tropical Disease, Airlangga University, Kampus C, UNAIR, Jl. Mulyorejo, Surabaya 60115, Indonesia, Tel/Fax: 62-31-599-2445, E-mail: paradios99@yahoo.co.jp.
_____________________________________________________________________________________________

Source:

Am. J. Trop. Med. Hyg., 80(5), 2009, pp. 856-861

Tuesday, 7 April 2009

Vaksinasi Rabies Secara Serempak di Meguro, Tokyo

Populasi anjing kesayangan di Jepang pada tahun 2008 sekitar 9.650.000 (www.mapsoftworld). Dalam satu keluarga Jepang tidak jarang yang memiliki anjing kesayangan lebih dari seekor. Mereka selain memelihara dengan menyiapkan tempat, peralatan dan makanan yang tidak sedikit biayanya, mereka juga terbiasa meluangkan waktunya disela-sela kesibukannya berjalan bersama anjing kesayangannya di pagi hari atau di petang hari.

Jepang salah satu Negara yang bebas penyakit Rabies, tetapi Jepang tetap melaksanakan program vaksinasi Rabies. Di Jepang terdapat peraturan yang mewajibkan setiap pemilik hewan kesayangan anjing mendaftarkan anjingnya sekali dalam seumur hidup anjing dan memvaksin anjingnya terhadap penyakit anjing gila (Rabies) antara bulan April dan Juni sekali dalam setahun. Jika penduduk memiliki anjing berumur lebih dari 90 hari, diwajibkan untuk memvaksinkan anjingnya tehadap penyakit rabies sekali dalam setahun dan menyimpan sertifikat vaksinasi yang diterima.

Untuk di kota Meguro, Tokyo akan diselenggarakan vaksinasi secara serempak yang akan dilakukan pada tanggal 13 – 17 April 2009 bertempat di 24 rumah sakit hewan yang tersebar di kota Meguro yang tergabung dalam asosiasi dokter hewan Meguro. Vaksinasi serempak terhadap rabies untuk anjing ini dilaksanakan oleh pemerintahan daerah kota Meguro, Tokyo. Selama lima hari tersebut penduduk Meguro dapat memperoleh pelayanan vaksinasi Rabies untuk anjingnya dan pada saat itu juga langsung memperoleh sertikat vaksinasi.

Bagi mereka yang telah mendaftarkan anjingnya pada bulan Pebruari,pada rumah sakit hewan ditempat lain diharapkan mendaftar ulang untuk memperoleh sertifikat lagi dengan membawa sertifikat vaksinasi rabies yang diterbitkan oleh rumah sakit hewan lain dan membayar biaya penerbitan sertifikat 550 yen. Pendaftaran dilakukan di Pusat Kesenahatan Masyarakat Himonya, atau di Tempat Pelayanan Chiku daerah masing-masing.

Sebelum anjing dibawa ke rumah sakit untuk divaksinasi, anjing disiapkan dalam keadaan bersih dan dibawakan tas untuk menyimpan kotoran apabila anjingnya buang kotoran diperjalanan. Bagi mereka yang dapat membawa anjingnya dengan mudah diharuskan membawa anjingnya ke rumah sakit hewan. Apabila anjingnya tempak sakit, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter hewan terlebih dahulu sebelum anjingnya divaksinasi.

Penduduk Meguro yang mengikuti vaksinasi serempak ini cukup mempersiapkan uang sebanyak 3.000 yen untuk biaya vaksinasi dan 550 yen untuk biaya penerbitan sertifikat vaksinasi.

Menurut salah satu dokter hewan Jepang senior Itoh Osamu, DVM., bahwa ada tiga program penting yang perlu tetap dilaksanakan untuk mempertahankan negara atau wilayah berstatus bebas terhadap penyakit Rabies yaitu : 1) terus melaksanakan pendaftaran / pendataan semua anjing kesayangan; 2) melaksanakan program vaksinasi Rabies secara rutin; dan 3) melaksanakan program pengendalian hewan kesayangan anjing yang tidak bertuan. Memang tampak sederhana tetapi hal ini merupakan tindakan yang sangat penting untuk dilaksanakan. Mari kita bersama-sama mempertahankan daerah bebas Rabies yang kita miliki untuk kesehatan dan kesejahteraan kita bersama.

Saturday, 30 August 2008

Japan to evaluate foreign flu vaccine

Clinical trials of prepandemic flu vaccine developed by GlaxoSmithKline (GSK) PLC will start in Japan next month, the company’s Japan unit said Thursday.

GSK K.K. plans to file an application with the health, Labor and Welfare Ministry possibly next year, for the vaccine’s adoption for the government’s stockpiling program.

Currently, all prepandemic vaccines stockpiled by the government are domestically developed. GSK’s vaccine would be the first foreign-made one to be stockpiled in Japan if approved.

The government has stored prepandemic flu vaccines for a bout 20 million people and plans to add vaccines for another 10 million.

Like domestically produced vaccines GSK’s vaccines was made from the H5N1 strain of bird flu virus, which has been spreading in Asia. But its vaccine has a unique immunity enhancing agent, GSK said.

The vaccine uses only a small amount of antigens, the company said, adding it has proved effective against viruses in other countries.

The European Union has already approved GSK’s vaccine, prompting some of its 27 member countries to stockpile it as a prepandemic vaccine.

The health ministry decided Wednesday to designate the vaccine as a pharmaceutical product for rare diseases, which are eligible for priority screening for government approval and development subsidies.

Source: Japan Times, August 29, 2008

Monday, 25 February 2008

Jangan Salahkan Burung



Wahai manusia ....
Perhatikan kami, kami sehat berkembangbiak dengan aman

Kami tetap sehat meskipun tinggal dekat dengan manusia
Kami tetap sehat meskipun kami terbang menjauh dari manusia
Kami tetap sehat meskipun dikambinghitamkan sebagai penyebar H5N1

Kami tetap hidup meskipun harus cari makan sendiri
Kami tetap hidup meskipun manusia tidak kasih makan kami
Kami tetap hidup meskipun manusia sibuk mempelajari arah terbang kami

Kami prihatin keluarga kami ayam banyak menjadi korban karena tidak tahan H5N1

Mengapa manusia tega paksa mereka hidup dalam tempat yang sempit
Mengapa manusia tega paksa mereka hidup dalam tempat yang pengap
Mengapa manusia tega paksa mereka hidup dengan makanan yang tidak enak
Mengapa manusia tega paksa mereka hidup tanpa makan seharian
Mengapa manusia tega paksa mereka hidup dengan makan berlebihan
Mengapa manusia tega paksa mereka hidup dengan sinar berlebihan

Karena paksaan itu mereka menjadi amat sangat lemah sekali
Pinta kami kasih-sayangilah mereka dan bebaskanlah hidup mereka

Sunday, 13 May 2007

Indonesia is a FMD Free Country Since 1990

Indonesian Policy on the Prevention of Foot and Mouth Disease (FMD)

INDONESIA IS A FMD FREE COUNTRY

The first outbreak of FMD in Indonesia occurred in East Java in 1887 which spread out to many parts of the country. The second outbreak in 1962 occurred in Bali and was reported sporadically up to 1966. Since then no cases was reported for at least 10 (ten) years. In 1973 there was an outbreak in Jembrana, Bali due to illegal movement of buffalo from Banyuwangi, East Java. The last out break occurred in Blora, Central Java in 1983 and within 2 (two) weeks the whole provinces in Java became infected.

In 1986 Indonesia was stated as FMD free country and officially recognized by Office International des Epizooties (OIE) in 1990.

FMD OUTBREAK IN EUROPE AND SOUTH AMERICA IN 2001
At the end of February and March 2001 an outbreak of FMD was erupted in some European countries and South America preceded by FMD outbreak in the United Kingdom followed by outbreaks in France, the Netherlands and Republic of Ireland, Argentina, Uruguay and Brazil. The outbreak of FMD in Europe and South America has caused an importation ban on some commodities by other countries.

PREVENTIVE ACTION TAKEN BY INDONESIA
Considering the FMD outbreak in 2001 which occurred in Europe and South America, in order to safeguard the free status of FMD, Indonesia has implemented some actions as follows :

1. Strict restriction on importation of animal, animal products and related products from FMD infected countries through a Circular Letter from the Minister of Agriculture No. TN 510/94/A/IV/2001 concerning Refusal and Preventive Actions on the Introduction of Foot and Mouth Disease (FMD) (attached) which regulates the following criteria:

• total ban for some commodities from countries where the outbreak still exist.
• temporary ban for certain commodities from certain countries where outbreaks are under controlled
• total ban lifting, where the country has been officially declared as free of FMD by Office International des Epizooties (OIE).
The implementation of importation ban will be evaluated bi-weekly which focused on the progress of disease situation and control conducted by infected countries.

2. Conducting serological surveillance every year by Center for Biologic Products and field monitoring conducted by 7 (seven) Disease Investigation Center (DIC). Field monitoring is also done by diagnostic laboratories in the provinces and districts level particularly in the border areas with infected countries such as Malaysia and the Philippines, whereby the results are always negative.

3. Strict control on visitor movement who come from FMD outbreak countries at international airports and seaports. Obligation for passengers to declare on carrying belongings of animal origin and disinfections of passenger’s footwear. Disposal of garbage of aircraft and ship in port area are also implemented properly.

4. Public Awareness Campaign are conducted through electronic mass media and newspapers and distribution of leaflets and brochures for passengers from abroad, posters at airports and sea ports, extension for farmers, stakeholders and consumers related to the hazard of FMD.

5. Develop "Emergency Center for FMD" which coordinates communication between institution concerned and private sectors/stakeholders either in Indonesia or with other countries.

Friday, 11 May 2007

Jepang Bebas Penyakit CSF per 1 April 2007

 

 Jepang Bebas Penyakit Classical Swine Fever 1 April 2007

 

Menurut berita mingguan dari Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang no. 664 20 April 2007, Jepang telah menjadi negara bebas dari penyakit classical swine fever pada tanggal 1 April 2007 setelah memenuhi persyaratan dari OIE code.

Classical swine fever merupakan penyakit menular akut pada babi yang pernah menyebar diseluruh Jepang akan tetapi wabah penyakit ini telah menurun tajam setelah dilakukan pengendalian penyakit ini dan penggunakan vaksin hidup yang dimulai tahun 1969.

Sejak tahun 1992 sudah tidak terdapat wabah penyakit ini. Dalam beberapa kesempatan, program pemberantasan telah diperkenalkan secara bertahap sejak tahun 1996 untuk menetapkan tindakan pengendalian tanpa vaksinasi sehingga dilakukan pemberantasan penyakit ini secara penuh dengan cara bekerjasama dengan pemerintah propinsi dan kabupaten, produser dan semua organisasi terkait.

Sebagai salah satu rangkaian tindakan yang telah dilakukan yaitu pelarangan vaksinasi sejak 1 April 2006 dan diikuti pengamatan penyakit ini. Setahun kemudian dilaporkan hasil program pemberantasan penyakit tersebut kepada organisasi dunia Office International des Epizooties (OIE). Jepang telah menjadi negara bebas dari penyakit classical swine fever pada tanggal 1 April 2007 setelah memenuhi persyaratan dari OIE code.

Bagaimana kalau kita ikuti langkah Jepang ini. Atau kita hanya ingin bernostalgia saja bagaimana beratnya usaha kita membebaskan penyakit foot and mouth disease di Indonesia.

The history of classical swine fever in Japan including its countermeasures

1888 The disease whose main symptom was infectious pneumonia and enteritis broke out in Hokkaido.
In the following year it was confirmed as the first occurrence of classical swine fever in Japan. It had occurred almost every year since then.

1920 The inactivated vaccine with carbolic acid glycerin was implemented and improved step by step.

1932 The greatest number of animals was affected in Japan. (41,018 heads)

1966 The greatest number of animals was affected in Japan following World War II. (24,406 heads)

1969 National Institute of Animal Health had developed inactivated live vaccine and implemented. Through the organizational vaccination campaign, the outbreak was sharply decreased.

1992 The last outbreak of classical swine fever in Japan had observed in Kumamoto Prefecture

1996 Classical swine fever eradication program began. Watching the disease, through-going vaccination, confirmation of eradication after stopping vaccination, and the reinforcement of import quarantine were planned.

1999 Vaccination had stopped in 3 prefectures (Tottori, Okayama, and Kagawa).
32 prefectures had stopped vaccination until April 2000.

2000 Except with the approval of governor of prefectural government, all vaccines were stopped in principle on October 1st. The importation of pork etc. from countries and areas using vaccines was halted.

2006 The guidelines on control measures for specific domestic animals infectious disease with classical swine fever was established in late March. All vaccinations were completely banned from April.

2007 On April 1st, according to the OIE code, Japan became a classical swine fever free country.