Potensi Senyawa Aktif Tanaman Ciplukan (Physalis
angulata L.) sebagai Kandidat Agen Antidiabetes melalui Interaksi dengan
Reseptor PPAR-γ: Pendekatan Molecular Docking In Silico
Abstrak
Diabetes melitus tipe 2 merupakan
gangguan metabolik kronis yang ditandai terutama oleh resistensi insulin,
gangguan sekresi insulin, dan hiperglikemia persisten. Meningkatnya beban diabetes secara global mendorong
pencarian kandidat terapi baru, termasuk senyawa bioaktif yang berasal dari
tanaman obat. Ciplukan (Physalis angulata L.) merupakan tanaman obat
tropis yang diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder, termasuk
flavonoid, withanolide, dan physalin, serta telah dilaporkan mempunyai berbagai
aktivitas biologis, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan metabolisme glukosa.
Salah satu target molekuler penting dalam pengembangan agen insulin-sensitizer
adalah peroxisome proliferator-activated receptor gamma (PPAR-γ), suatu
reseptor nuklir yang mengatur transkripsi sejumlah gen yang berhubungan dengan
metabolisme glukosa dan lipid. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi secara in
silico potensi senyawa aktif P. angulata, khususnya Physagulin-F,
melalui pendekatan molecular docking terhadap PPAR-γ. Analisis
didasarkan pada hasil docking yang menggunakan AutoDock 4.2.6 dan membandingkan
beberapa senyawa ciplukan dengan ligan pembanding golongan thiazolidinedione.
Hasil menunjukkan bahwa 4,7-didehydrophysalin B, Physagulin-F, Physordinose B,
dan rutin masing-masing menghasilkan energi bebas pengikatan sebesar -6,39;
-10,10; -5,92; dan -6,97 kcal/mol. Physagulin-F memberikan skor paling negatif,
sedangkan ligan pembanding thiazolidinedione menghasilkan -7,99 kcal/mol.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa Physagulin-F mempunyai prediksi afinitas
interaksi yang kuat terhadap kantung pengikatan PPAR-γ dan layak
dipertimbangkan sebagai hit awal dalam penemuan kandidat antidiabetes
berbasis bahan alam. Namun demikian, skor docking tidak identik dengan afinitas
eksperimental maupun aktivitas agonis fungsional. Oleh karena itu, validasi
lebih lanjut melalui redocking, analisis interaksi residu, molecular
dynamics, estimasi binding free energy, uji transaktivasi PPAR-γ,
pengujian seluler, studi farmakokinetik, toksikologi, dan akhirnya uji
praklinis serta klinis diperlukan sebelum Physagulin-F dapat dipertimbangkan
sebagai kandidat obat atau fitofarmaka.
Kata kunci: diabetes
melitus tipe 2; Physalis angulata; ciplukan; Physagulin-F; PPAR-γ; molecular
docking; bahan alam; antidiabetes.
1. Pendahuluan
Diabetes melitus (DM) merupakan
salah satu penyakit metabolik kronis yang terus mengalami peningkatan secara
global. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa jumlah orang dewasa yang
hidup dengan diabetes meningkat secara substansial, dari sekitar 200 juta pada
tahun 1990 menjadi 830 juta pada tahun 2022. Peningkatan tersebut terutama
terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Diabetes yang tidak
terkontrol dapat menyebabkan kerusakan progresif pada pembuluh darah dan saraf
serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gagal ginjal, gangguan
penglihatan, dan amputasi ekstremitas.
Di antara berbagai bentuk diabetes,
diabetes melitus tipe 2 (DMT2) mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
resistensi insulin. Kondisi tersebut menyebabkan jaringan
perifer, terutama jaringan adiposa dan otot, tidak memberikan respons optimal
terhadap insulin. Akibatnya, homeostasis glukosa terganggu dan kadar glukosa
darah meningkat. Dalam perjalanan penyakit, resistensi insulin dapat disertai
penurunan fungsi sel β pankreas sehingga kemampuan tubuh mempertahankan
normoglikemia semakin berkurang.
Salah satu target molekuler yang telah lama mendapatkan
perhatian dalam terapi DMT2 adalah peroxisome proliferator-activated
receptor gamma (PPAR-γ). PPAR-γ merupakan faktor transkripsi yang termasuk
dalam keluarga reseptor nuklir dan berperan penting dalam diferensiasi adiposit
serta regulasi metabolisme lipid dan glukosa. Aktivasi PPAR-γ oleh ligan
tertentu dapat mengubah ekspresi berbagai gen yang berkaitan dengan
sensitivitas insulin dan metabolisme energi.
Relevansi PPAR-γ sebagai target antidiabetes terlihat
jelas dari mekanisme kerja kelompok obat thiazolidinedione (TZD). TZD merupakan insulin sensitizer
yang bekerja terutama melalui agonisme PPAR-γ. Aktivasi reseptor tersebut
memengaruhi ekspresi sejumlah gen metabolik, termasuk gen yang berhubungan
dengan GLUT4, adiponectin, metabolisme asam lemak, serta homeostasis glukosa.
Namun demikian, aktivitas
farmakologis TZD juga perlu dipertimbangkan dalam konteks profil keamanan dan
tolerabilitas. Oleh sebab itu, strategi pengembangan ligan PPAR-γ baru tidak hanya diarahkan untuk memperoleh afinitas tinggi, tetapi juga
untuk mendapatkan profil agonisme yang lebih selektif dan menguntungkan secara
metabolik.
Dalam konteks tersebut, tanaman obat
menjadi salah satu sumber penting untuk eksplorasi kandidat molekul bioaktif.
Ciplukan (Physalis angulata L.) merupakan tanaman dari famili Solanaceae
yang tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis. Tanaman ini telah digunakan sebagai pangan dan obat
tradisional di berbagai negara. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa P. angulata
mengandung kelompok senyawa bioaktif yang beragam, termasuk physalin,
withanolide, flavonoid, dan berbagai metabolit sekunder lainnya. Bukti
eksperimental yang tersedia menunjukkan adanya aktivitas antibakteri,
antikanker, antiparasit, antiinflamasi, antifibrotik, dan antidiabetes,
meskipun kekuatan bukti berbeda-beda untuk setiap aktivitas.
Menariknya, studi molecular docking terhadap senyawa
ciplukan yang dipublikasikan sebelumnya melaporkan bahwa Physagulin-F mempunyai
energi bebas pengikatan sebesar -10,10 kcal/mol terhadap PPAR-γ, lebih negatif
dibandingkan nilai -7,99 kcal/mol yang dilaporkan untuk ligan pembanding
golongan thiazolidinedione. Senyawa lain, yaitu 4,7-didehydrophysalin B,
Physordinose B, dan rutin, masing-masing memberikan nilai -6,39, -5,92, dan
-6,97 kcal/mol.
Physagulin-F sendiri telah diidentifikasi sebagai suatu withanolide
dengan rumus molekul C₃₀H₄₀O₉ dan massa molekul sekitar 544,6 g/mol. Struktur
kimianya tersedia dalam basis data PubChem, sehingga secara prinsip
memungkinkan dilakukan rekonstruksi dan validasi komputasional secara
independen.
Meskipun demikian, interpretasi hasil docking perlu
dilakukan secara hati-hati. Nilai energi bebas pengikatan yang lebih negatif
menunjukkan skor prediksi yang lebih menguntungkan dalam sistem dan fungsi skor
tertentu, tetapi tidak secara otomatis membuktikan bahwa senyawa tersebut
merupakan agonis PPAR-γ, mempunyai potensi biologis lebih tinggi daripada obat
pembanding, atau aman digunakan pada manusia.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini
bertujuan mengevaluasi potensi Physagulin-F dan beberapa senyawa bioaktif P.
angulata sebagai kandidat ligan PPAR-γ melalui pendekatan molecular
docking. Analisis diarahkan untuk mengidentifikasi senyawa dengan prediksi
afinitas terbaik dan membahas relevansi biologisnya sebagai titik awal
pengembangan kandidat antidiabetes berbasis bahan alam.
2. METODOLOGI
2.1. Desain penelitian
Penelitian ini merupakan studi in silico berbasis molecular
docking. Pendekatan docking
digunakan untuk memprediksi orientasi ligan pada kantung pengikatan protein dan
memperkirakan energi interaksi antara ligan dan reseptor. Molecular docking
secara luas digunakan sebagai salah satu tahapan awal dalam structure-based
drug discovery dan virtual screening karena memungkinkan sejumlah
kandidat senyawa diseleksi sebelum dilakukan pengujian biologis yang lebih
mahal dan kompleks.
Dalam penyusunan naskah ini, angka
energi docking -10,10 kcal/mol untuk Physagulin-F dan -7,99 kcal/mol untuk
ligan pembanding diperlakukan sebagai hasil docking yang telah dilaporkan
sebelumnya, bukan sebagai hasil eksperimen baru yang dilakukan ulang dalam
naskah ini. Studi sumber menggunakan AutoDock 4.2.6.
Pendekatan ini penting untuk menjaga
keterlacakan ilmiah dan mencegah penyajian data sekunder sebagai hasil
eksperimen baru.
2.2. Pemilihan target protein
Target molekuler yang digunakan
adalah PPAR-γ. Protein ini dipilih karena merupakan reseptor nuklir
yang mempunyai peran penting dalam regulasi diferensiasi adiposit, metabolisme
lipid, dan sensitivitas insulin.
Struktur kristal PPAR-γ telah tersedia di Protein Data
Bank (PDB). Sebagai contoh, struktur PPAR-γ yang berikatan dengan rosiglitazone
tersedia dalam beberapa struktur kristal, termasuk PDB 5YCP, sedangkan struktur
PPAR-γ dengan pioglitazone tersedia pada PDB 5Y2O. Struktur PPAR-γ dengan
rosiglitazone dan asam oleat juga tersedia pada PDB 6MD4.
Dalam studi docking yang dapat direplikasi, pemilihan
struktur protein perlu mempertimbangkan resolusi kristalografi, keberadaan
ligan ko-kristal, mutasi protein, kondisi kristal, serta kesesuaian kantung
pengikatan.
2.3. Preparasi reseptor
Preparasi reseptor idealnya mencakup:
- pengunduhan
struktur PPAR-γ dari PDB;
- pemilihan rantai protein yang sesuai;
- penghilangan
molekul air yang tidak diperlukan;
- penghilangan
ligan ko-kristal untuk docking ligan uji;
- penambahan
atom hidrogen;
- penentuan
muatan parsial;
- pemeriksaan residu dan struktur protein;
- konversi
format protein sesuai kebutuhan perangkat lunak docking.
Apabila AutoDock4 digunakan, protein dan ligan dikonversi
ke format yang kompatibel dengan AutoDock serta parameter atom yang diperlukan
ditetapkan melalui AutoDockTools. AutoDock4 menggunakan pendekatan empirical
free-energy force field dan algoritma pencarian berbasis Lamarckian
Genetic Algorithm.
2.4. Preparasi ligan
Ligan uji terdiri atas senyawa aktif P. angulata yang
telah dilaporkan berpotensi mempunyai aktivitas biologis, terutama:
- 4,7-didehydrophysalin
B;
- Physagulin-F;
- Physordinose
B;
- rutin.
Physagulin-F dipilih sebagai senyawa utama karena
memberikan skor docking paling negatif dalam studi terdahulu. Struktur kimia
Physagulin-F dapat diperoleh dari PubChem dengan PubChem CID 74820162.
Preparasi ligan meliputi:
- pemeriksaan
struktur kimia;
- optimasi
geometri;
- penentuan
atom hidrogen;
- penentuan
muatan;
- penentuan
rotatable bonds;
- konversi ke
format yang kompatibel dengan perangkat lunak docking.
2.5. Ligan pembanding
Ligan pembanding berasal dari kelompok thiazolidinedione
(TZD), yaitu kelompok insulin sensitizer yang bekerja melalui PPAR-γ.
Struktur PPAR-γ dengan ligan TZD telah banyak dikarakterisasi secara
kristalografi. Misalnya, PDB 5YCP memuat kompleks PPAR-γ dengan rosiglitazone,
sedangkan PDB 5Y2O memuat kompleks PPAR-γ dengan pioglitazone.
Pemilihan ligan pembanding bertujuan memberikan referensi
relatif terhadap prediksi interaksi senyawa ciplukan.
2.6. Molecular docking
Docking dilakukan dengan perangkat lunak AutoDock. Secara
umum, algoritma docking mencari berbagai kemungkinan konformasi dan orientasi
ligan dalam kantung pengikatan protein, kemudian memberikan skor berdasarkan
fungsi penilaian interaksi.
Pada studi sumber, docking dilakukan menggunakan AutoDock
4.2.6 dan menghasilkan nilai energi bebas pengikatan untuk beberapa senyawa P.
angulata.
Untuk penelitian lanjutan yang bertujuan menghasilkan
data baru, parameter berikut harus dilaporkan secara eksplisit:
- koordinat
pusat grid;
- ukuran grid;
- ukuran
langkah grid;
- jumlah genetic
algorithm runs;
- ukuran
populasi;
- jumlah
evaluasi energi;
- exhaustiveness apabila
menggunakan AutoDock Vina;
- random seed;
- jumlah pose
yang disimpan;
- kriteria
clustering.
Pelaporan parameter tersebut penting agar penelitian
dapat direplikasi.
2.7. Validasi protokol docking
Validasi docking sebaiknya dilakukan melalui redocking
ligan ko-kristal pada kantung pengikatan PPAR-γ. Parameter yang umum digunakan
adalah root mean square deviation (RMSD) antara pose hasil redocking dan
pose eksperimental.
Selain itu, dapat dilakukan:
- cross-docking;
- pengujian
beberapa struktur PPAR-γ;
- konsensus
docking;
- analisis
interaksi residu;
- molecular
dynamics;
- perhitungan MM-PBSA/MM-GBSA.
Validasi diperlukan karena skor
docking sangat bergantung pada struktur protein, fungsi skor, parameter
pencarian, dan konfigurasi sistem.
2.8. Analisis data
Parameter utama yang dianalisis adalah:
dengan interpretasi bahwa nilai yang lebih negatif
menunjukkan prediksi interaksi yang lebih menguntungkan menurut fungsi skor
yang digunakan.
Namun, nilai tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai
nilai eksperimental termodinamika absolut. Oleh karena itu, interpretasi juga
mempertimbangkan:
- jenis
interaksi hidrogen;
- interaksi
hidrofobik;
- π–π
interaction;
- van der Waals
interaction;
- posisi ligan
terhadap heliks 12;
- residu
penting pada kantung PPAR-γ;
- kesamaan mode
pengikatan dengan ligan agonis yang telah diketahui.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Profil senyawa bioaktif Physalis angulata
Ciplukan (P. angulata) merupakan
tanaman yang menarik untuk dikembangkan sebagai sumber kandidat senyawa
bioaktif karena mempunyai keragaman metabolit sekunder yang relatif tinggi.
Kajian komprehensif terhadap tanaman ini menunjukkan keberadaan berbagai
physalin, withanolide, flavonoid, dan metabolit lain dengan aktivitas biologis
yang beragam. Beberapa senyawa bahkan telah dilaporkan berhubungan dengan
aktivitas antidiabetes.
Dalam konteks penelitian ini, keberadaan withanolide
menjadi menarik karena Physagulin-F termasuk kelompok senyawa tersebut. PubChem
mengidentifikasi Physagulin-F sebagai withanolide dengan rumus molekul
C₃₀H₄₀O₉ dan massa molekul 544,6 g/mol.
Karakteristik struktural tersebut memberikan kemungkinan
terjadinya interaksi multipoint dengan kantung ligan PPAR-γ melalui kombinasi
interaksi polar dan hidrofobik.
3.2. Hasil molecular docking
Hasil docking yang dilaporkan pada penelitian terdahulu
menunjukkan perbedaan afinitas prediktif antara beberapa senyawa aktif P.
angulata terhadap PPAR-γ.
Tabel 1. Hasil molecular docking senyawa Physalis
angulata terhadap PPAR-γ
|
No. |
Senyawa |
Energi bebas
pengikatan (kcal/mol) |
Interpretasi relatif |
|
1 |
4,7-Didehydrophysalin B |
-6,39 |
Sedang |
|
2 |
Physagulin-F |
-10,10 |
Paling kuat |
|
3 |
Physordinose B |
-5,92 |
Relatif lebih lemah |
|
4 |
Rutin |
-6,97 |
Lebih baik dibanding dua senyawa di atas |
|
5 |
Thiazolidinedione |
-7,99 |
Ligan pembanding |
Sumber angka docking: Pratiwi, 2021.
Physagulin-F menunjukkan nilai energi bebas pengikatan
paling negatif, yaitu -10,10 kcal/mol. Nilai tersebut lebih negatif
daripada nilai yang dilaporkan untuk ligan pembanding thiazolidinedione sebesar
-7,99 kcal/mol. Selisih skor tersebut adalah sekitar 2,11 kcal/mol.
Secara komputasional, hasil tersebut menunjukkan bahwa
Physagulin-F mempunyai predicted binding affinity yang lebih
menguntungkan dalam konfigurasi docking tersebut. Temuan ini menjadikan
Physagulin-F sebagai kandidat hit yang menarik untuk studi lanjutan.
Namun, perbedaan skor tersebut tidak dapat langsung
diterjemahkan sebagai "Physagulin-F lebih kuat atau lebih efektif daripada
thiazolidinedione pada manusia." Fungsi skor docking merupakan
pendekatan estimatif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk
fleksibilitas protein, solvasi, entropi, protonasi, serta konfigurasi algoritma
pencarian.
3.3. Perbandingan Physagulin-F dengan senyawa lain
Dibandingkan dengan senyawa lain, Physagulin-F
menunjukkan perbedaan skor yang cukup besar.
Rutin mempunyai skor -6,97 kcal/mol, sedangkan
4,7-didehydrophysalin B dan Physordinose B masing-masing memberikan -6,39 dan
-5,92 kcal/mol. Dengan demikian, Physagulin-F merupakan kandidat yang paling
menonjol berdasarkan parameter skor docking.
Hasil tersebut konsisten dengan penelitian terdahulu yang
secara khusus mengevaluasi senyawa ciplukan terhadap PPAR-γ. Studi tersebut
menggunakan AutoDock 4.2.6 dan mengidentifikasi Physagulin-F sebagai senyawa
dengan skor terbaik.
Secara konseptual, temuan ini
memperlihatkan bahwa komposisi metabolit sekunder tanaman tidak serta-merta
berkorelasi dengan potensi molekuler. Senyawa dengan struktur yang berbeda
dapat menunjukkan orientasi dan energi interaksi yang sangat berbeda pada
target protein yang sama.
3.4. Relevansi PPAR-γ terhadap mekanisme antidiabetes
PPAR-γ mempunyai peran penting dalam pengaturan
sensitivitas insulin. Aktivasi reseptor oleh ligan tertentu dapat menyebabkan
perubahan konformasi protein dan memengaruhi interaksi reseptor dengan protein
koaktivator serta regulasi transkripsi gen target.
Pada struktur PPAR-γ, kantung pengikatan ligan berukuran
relatif besar dan mampu mengakomodasi ligan dengan keragaman struktur yang
tinggi. Struktur kristal PPAR-γ dengan rosiglitazone menunjukkan adanya residu
penting seperti Ser289, His323, Tyr327, His449, dan Tyr473 pada wilayah kantung
ligan.
Heliks 12 atau activation function-2 (AF-2) mempunyai
arti penting dalam aktivasi transkripsional PPAR-γ. Ligan agonis tertentu dapat
menstabilkan konfigurasi reseptor yang mendukung perekrutan koaktivator dan
selanjutnya memengaruhi transkripsi gen target.
Oleh karena itu, untuk mengembangkan Physagulin-F sebagai
kandidat agonis PPAR-γ, penelitian selanjutnya tidak cukup hanya menunjukkan
skor docking yang rendah. Posisi Physagulin-F harus dibandingkan dengan pose
ligan agonis yang telah tervalidasi dan dianalisis apakah interaksinya mampu
menstabilkan konformasi aktif reseptor.
3.5. Hubungan PPAR-γ dengan GLUT4 dan sensitivitas
insulin
Aktivasi PPAR-γ oleh TZD telah dikaitkan dengan
peningkatan sensitivitas insulin melalui regulasi jaringan adiposa dan
perubahan ekspresi berbagai gen metabolik. Literatur menunjukkan bahwa agonisme
PPAR-γ dapat meningkatkan adiponectin dan ekspresi GLUT4 serta memperbaiki
pengambilan glukosa yang bergantung pada insulin.
Namun, mekanisme tersebut tidak
boleh disederhanakan menjadi:
Physagulin-F → PPAR-γ → GLUT4 → pasti menurunkan glukosa darah.
Hubungan tersebut masih merupakan hipotesis mekanistik
berdasarkan hasil docking dan pengetahuan biologis tentang PPAR-γ.
Untuk membuktikannya, diperlukan
pengujian berjenjang, misalnya:
Physagulin-F → binding PPAR-γ → perubahan konformasi PPAR-γ → transaktivasi PPAR-γ → ekspresi gen target → peningkatan sensitivitas insulin
→ peningkatan uptake glukosa.
Dengan demikian, molecular docking
hanya menjelaskan tahap pertama dari rangkaian mekanistik tersebut.
3.6. Keunggulan dan keterbatasan hasil docking
Keunggulan utama pendekatan molecular docking adalah
kemampuannya melakukan penyaringan awal kandidat molekul secara cepat dan
relatif murah. AutoDock dan AutoDock Vina telah digunakan secara luas dalam
studi structure-based drug discovery. AutoDock Vina dikembangkan untuk
meningkatkan efisiensi pencarian dan akurasi prediksi mode pengikatan
dibandingkan pendekatan AutoDock sebelumnya.
Dalam penelitian ciplukan, hasil -10,10 kcal/mol
memberikan sinyal awal yang kuat bahwa Physagulin-F layak diprioritaskan untuk
penelitian berikutnya. Akan tetapi, docking mempunyai beberapa keterbatasan
mendasar.
Pertama, protein sering diperlakukan relatif kaku
sehingga perubahan konformasi protein selama proses pengikatan tidak sepenuhnya
direpresentasikan.
Kedua, fungsi skor docking tidak selalu memperhitungkan
seluruh komponen termodinamika, khususnya kontribusi pelarut, entropi, dan
perubahan konformasi secara akurat.
Ketiga, skor docking bukan pengganti nilai Kd, Ki,
EC50, atau IC50 hasil eksperimen.
Keempat, skor yang lebih negatif juga tidak secara
otomatis menunjukkan agonisme. Suatu molekul dapat mempunyai prediksi interaksi kuat
tetapi tidak menghasilkan perubahan konformasi yang diperlukan untuk aktivasi
reseptor.
Dengan demikian, interpretasi ilmiah
yang tepat adalah bahwa Physagulin-F merupakan kandidat ligan PPAR-γ yang menjanjikan berdasarkan prediksi docking, bukan bahwa Physagulin-F telah
terbukti sebagai obat antidiabetes.
3.7. Perbandingan dengan thiazolidinedione
TZD merupakan kelompok obat yang relevan untuk dijadikan
pembanding karena mekanisme farmakologinya memang berhubungan langsung dengan
PPAR-γ. TZD meningkatkan sensitivitas insulin melalui agonisme PPAR-γ dan
mengubah ekspresi berbagai gen yang berhubungan dengan metabolisme glukosa dan
lipid.
Struktur PPAR-γ dengan rosiglitazone dan pioglitazone
juga telah tersedia dalam PDB sehingga memungkinkan dilakukan validasi berbasis
struktur. PDB 5YCP, misalnya, menunjukkan kompleks PPAR-γ dengan rosiglitazone,
sedangkan PDB 5Y2O menunjukkan kompleks dengan pioglitazone.
Temuan bahwa Physagulin-F memiliki skor docking -10,10
kcal/mol dibandingkan -7,99 kcal/mol pada studi sumber memberikan hipotesis
bahwa senyawa tersebut mungkin mempunyai interaksi yang menguntungkan dengan
PPAR-γ.
Akan tetapi, karena perbedaan skor dapat dipengaruhi oleh
konfigurasi docking, perbandingan yang paling kuat secara metodologis harus
dilakukan pada satu protokol docking yang sama, menggunakan struktur
protein yang sama, grid yang sama, parameter pencarian yang sama, serta
validasi terhadap ligan ko-kristal.
3.8. Implikasi untuk pengembangan fitofarmaka
Potensi Physagulin-F mempunyai arti penting dalam konteks
pengembangan obat berbasis sumber daya hayati Indonesia. Ciplukan relatif mudah
ditemukan dan telah mempunyai sejarah pemanfaatan sebagai tanaman obat.
Namun, pengembangan dari tanaman obat menuju fitofarmaka
memerlukan standardisasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menunjukkan
aktivitas in silico. Tahap pengembangan harus mencakup:
- autentikasi
botani;
- standardisasi
bahan baku;
- ekstraksi dan
fraksinasi;
- identifikasi serta kuantifikasi Physagulin-F;
- penentuan
kemurnian;
- pengujian
aktivitas PPAR-γ;
- pengujian
antidiabetes seluler;
- pengujian
farmakokinetik;
- toksisitas
akut dan kronis;
- pengujian
praklinis;
- uji klinis;
- standardisasi
produk akhir.
Kajian terbaru mengenai P. angulata menunjukkan
bahwa meskipun terdapat banyak laporan mengenai aktivitas farmakologisnya,
bukti klinis pada manusia masih sangat terbatas. Dengan demikian, perjalanan
Physagulin-F menuju kandidat fitofarmaka masih panjang.
4. KESIMPULAN
Studi in silico terhadap senyawa aktif Physalis
angulata L. menunjukkan bahwa tanaman ciplukan mempunyai prospek sebagai
sumber kandidat molekul antidiabetes yang bekerja melalui target molekuler
PPAR-γ. Di antara senyawa yang dievaluasi, Physagulin-F menunjukkan prediksi
afinitas pengikatan paling tinggi dengan nilai energi bebas pengikatan sebesar -10,10
kcal/mol, dibandingkan 4,7-didehydrophysalin B sebesar -6,39 kcal/mol,
Physordinose B sebesar -5,92 kcal/mol, dan rutin sebesar -6,97 kcal/mol. Nilai
Physagulin-F juga lebih negatif dibandingkan nilai -7,99 kcal/mol yang
dilaporkan untuk ligan pembanding thiazolidinedione.
Hasil tersebut menempatkan Physagulin-F sebagai kandidat
hit yang menarik untuk pengembangan lebih lanjut, khususnya dalam
strategi pencarian ligan alami yang berpotensi memodulasi PPAR-γ. Secara
biologis, relevansi target tersebut didukung oleh peran PPAR-γ dalam regulasi
metabolisme lipid, sensitivitas insulin, adipogenesis, dan ekspresi sejumlah
gen yang berkaitan dengan homeostasis glukosa.
Meskipun demikian, skor molecular docking tidak dapat
dipersamakan dengan bukti afinitas eksperimental maupun aktivitas agonistik.
Oleh karena itu, temuan ini belum cukup untuk menyatakan bahwa Physagulin-F
lebih efektif daripada obat thiazolidinedione atau telah terbukti sebagai agen
antidiabetes.
Tahap penelitian berikutnya sebaiknya mencakup redocking
terhadap struktur PPAR-γ dengan ligan ko-kristal, analisis interaksi residu
secara komprehensif, molecular dynamics, perhitungan MM-PBSA/MM-GBSA,
prediksi ADMET, serta pengujian eksperimental terhadap aktivitas PPAR-γ.
Setelah diperoleh bukti molekuler yang memadai, penelitian dapat dilanjutkan
dengan uji in vitro menggunakan adiposit atau sel yang relevan,
pengukuran GLUT4 dan adiponectin, uji in vivo pada model DMT2, studi
farmakokinetik dan toksikologi, serta evaluasi klinis.
Dengan pendekatan bertahap tersebut, ciplukan berpotensi
dikembangkan bukan hanya sebagai tanaman obat tradisional, tetapi sebagai sumber
senyawa penuntun (lead compounds) untuk pengembangan obat antidiabetes
berbasis bahan alam yang lebih terstandar dan berbasis bukti.
5. DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association Professional Practice
Committee. (2023). 9. Pharmacologic approaches to glycemic treatment:
Standards of Care in Diabetes—2023. Diabetes Care, 46(Supplement_1),
S140–S157.
Hauner, H. (2002). The mode of action of
thiazolidinediones. Diabetes/Metabolism Research and Reviews, 18(S2),
S10–S15. https://doi.org/10.1002/dmrr.249
Kitchen, D. B., Decornez, H., Furr, J. R., & Bajorath,
J. (2004). Docking and scoring in virtual screening for drug discovery: Methods
and applications. Nature Reviews Drug Discovery, 3(11), 935–949.
Lazar, M. A. (2014). Thiazolidinediones and the promise
of insulin sensitization in type 2 diabetes. Cell Metabolism, 20(4),
573–575. https://doi.org/10.1016/j.cmet.2014.08.005
Liberato, M. V., Nascimento, A. S., Ayers, S. D., Lin, J.
Z., Cvoro, A., Silveira, R. L., ... Skaf, M. S. (2012). Medium chain fatty
acids are selective peroxisome proliferator activated receptor γ activators and
differentially modulate corepressor recruitment. Journal of Biological
Chemistry, 287(37), 31268–31277.
Morris, G. M., Huey, R., Lindstrom, W., Sanner, M. F.,
Belew, R. K., Goodsell, D. S., & Olson, A. J. (2009). AutoDock4 and
AutoDockTools4: Automated docking with selective receptor flexibility. Journal
of Computational Chemistry, 30(16), 2785–2791. https://doi.org/10.1002/jcc.21256
Novitasari, A., Rohmawaty, E., &
Rosdianto, A. M. (2024). Physalis angulata Linn. as a medicinal plant (Review). Biomedical
Reports, 20(3), 47. https://doi.org/10.3892/br.2024.1735
Poojari, S., & Mamidala, E. (2015). Anti-diabetic
activity of Physagulin-F isolated from Physalis angulata fruits. The
American Journal of Science and Medical Research, 1(1), 53–60.
Pratiwi, D. (2021). Studi molecular docking senyawa dari
tanaman ciplukan (Physalis angulata Linn.) sebagai antidiabetes pada
reseptor PPAR-γ. Jurnal Farmagazine, 8(1). https://doi.org/10.47653/farm.v8i1.533
Trott, O., & Olson, A. J. (2010). AutoDock Vina:
Improving the speed and accuracy of docking with a new scoring function,
efficient optimization, and multithreading. Journal of Computational
Chemistry, 31(2), 455–461. https://doi.org/10.1002/jcc.21334
Tyagi, S., Gupta, P., Saini, A. S., Kaushal, C., &
Sharma, S. (2011). The peroxisome proliferator-activated receptor: A family of
nuclear receptors role in various diseases. Journal of Advanced
Pharmaceutical Technology & Research, 2(4), 236–240.
Vasudevan, A. R., & Balasubramanyam, A. (2004).
Thiazolidinediones: A review of their mechanisms of insulin sensitization,
therapeutic potential, clinical efficacy, and tolerability. Diabetes
Technology & Therapeutics, 6(6), 850–863.
https://doi.org/10.1089/dia.2004.6.850
World Health Organization. (2024). Diabetes. World
Health Organization.
#Ciplukan
#PhysagulinF
#PPARgamma
#Antidiabetes
#MolecularDocking

