Spirulina adalah mikroalga biru-hijau yang secara ilmiah dikenal sebagai Arthrospira platensis (sering disebut Spirulina). Bahan ini banyak dimanfaatkan sebagai suplemen pakan ikan karena kandungan nutrisinya yang sangat kaya dan sifat imunostimulator alaminya (Belay et al., 1993; Watanuki et al., 2006).
Salah satu target penting dalam budidaya ikan
adalah pencegahan infeksi bakteri dari genus Aeromonas, terutama Aeromonas
hydrophila, yang menyebabkan penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) atau
borok pada ikan air tawar seperti lele, nila, dan gurame (Austin & Austin,
2012).
1. Kandungan Bioaktif Spirulina yang Berperan
dalam Imunitas
Spirulina mengandung berbagai komponen yang
mendukung sistem imun ikan:
- Protein tinggi (60–70%)
Mendukung pertumbuhan dan regenerasi jaringan, termasuk sel-sel imun (Belay et al., 1993). - Fikosianin
(phycocyanin)
Pigmen biru dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang kuat (Romay et al., 2003). - Polisakarida
sulfat
Berperan sebagai imunostimulator dengan mengaktifkan sel fagosit dan meningkatkan respons imun non-spesifik (Hayashi et al., 1994). - Vitamin (A, C, E) dan mineral (Fe, Zn, Se)
Mendukung fungsi enzim antioksidan dan respons imun non-spesifik (Watanuki et al., 2006). - Asam lemak esensial (GLA)
Membantu modulasi respons inflamasi dan memperbaiki keseimbangan imun (Belay et al., 1993).
2. Mekanisme Peningkatan Imunitas terhadap Aeromonas
hydrophila
Pemberian Spirulina dalam pakan ikan dapat meningkatkan imunitas melalui
beberapa mekanisme:
a. Meningkatkan Imunitas Non-Spesifik
- Meningkatkan aktivitas fagositosis leukosit.
- Meningkatkan aktivitas enzim lisozim.
- Meningkatkan respiratory burst activity
(kemampuan membunuh patogen).
Respons imun non-spesifik ini sangat penting karena merupakan garis
pertahanan pertama terhadap infeksi Aeromonas (Watanuki et al., 2006;
Ragap et al., 2012).
b. Meningkatkan Aktivitas Antioksidan
Infeksi Aeromonas hydrophila menyebabkan stres oksidatif pada
jaringan ikan. Spirulina meningkatkan aktivitas enzim
antioksidan seperti:
- Superoxide dismutase (SOD)
- Catalase
- Glutathione peroxidase
Dengan demikian, kerusakan jaringan akibat
radikal bebas dapat ditekan (Romay et al., 2003; Abdel-Tawwab & Ahmad,
2009).
c. Meningkatkan Ketahanan dan Survival Rate
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan mengandung
2–5% Spirulina:
- Memiliki
tingkat kelangsungan hidup (survival rate) lebih tinggi setelah uji
tantang Aeromonas hydrophila.
- Menunjukkan
penurunan gejala klinis seperti hemoragi dan ulserasi (Watanuki et al.,
2006; Ragap et al., 2012).
3. Dosis dan Aplikasi dalam Pakan
Umumnya Spirulina ditambahkan dalam pakan
dengan konsentrasi:
- 1–2%
→ untuk peningkatan performa pertumbuhan.
- 2–5%
→ untuk tujuan imunostimulasi dan pencegahan penyakit.
Pemberian biasanya dilakukan selama 2–4 minggu sebelum periode risiko
tinggi (misalnya perubahan musim atau kepadatan tinggi) (Abdel-Tawwab &
Ahmad, 2009).
4. Keunggulan Dibanding Antibiotik
Penggunaan Spirulina memiliki beberapa
keuntungan:
- Tidak menyebabkan resistensi antimikroba.
- Tidak
meninggalkan residu pada produk ikan.
- Mendukung pendekatan budidaya berkelanjutan dan
ramah lingkungan.
- Selaras dengan prinsip pengurangan penggunaan
antibiotik dalam akuakultur (FAO, 2020).
5. Kesimpulan
Spirulina merupakan bahan pakan fungsional
yang efektif untuk meningkatkan sistem imun ikan terhadap infeksi Aeromonas,
terutama Aeromonas hydrophila. Mekanismenya meliputi peningkatan imunitas non-spesifik, aktivitas
antioksidan, dan daya tahan tubuh secara keseluruhan.
Penggunaannya sebagai imunostimulan alami sangat direkomendasikan dalam
strategi pencegahan penyakit pada budidaya ikan air tawar, khususnya dalam
sistem intensif dengan risiko tinggi infeksi bakteri, serta sejalan dengan
upaya pengendalian resistensi antimikroba (AMR).
Daftar Referensi
Abdel-Tawwab, M., & Ahmad, M. H. (2009).
Live spirulina (Arthrospira platensis) as a growth and immunity promoter
for Nile tilapia. Aquaculture Research, 40, 1–9.
Austin, B., & Austin, D. A. (2012). Bacterial
Fish Pathogens: Disease of Farmed and Wild Fish. Springer.
Belay, A., Ota, Y., Miyakawa, K., &
Shimamatsu, H. (1993). Current knowledge on potential health benefits of
Spirulina. Journal of Applied Phycology, 5, 235–241.
FAO. (2020). The State of World Fisheries
and Aquaculture (SOFIA). Food and Agriculture Organization of the United
Nations.
Hayashi, O., Katoh, T., & Okuwaki, Y.
(1994). Enhancement of antibody production in mice by dietary Spirulina. Journal
of Nutritional Science and Vitaminology, 40, 431–441.
Ragap, H. M., Khalil, R. H., & Mutawie,
H. H. (2012). Immunostimulatory effects of Spirulina on Nile tilapia challenged
with Aeromonas hydrophila. Fish & Shellfish Immunology, 33,
104–110.
Romay, C., González, R., Ledón, N., Remirez,
D., & Rimbau, V. (2003). C-phycocyanin: A biliprotein with antioxidant and
anti-inflammatory properties. Journal of Medicinal Food, 6, 1–10.
Watanuki, H., Ota, K., Malina, A. C., &
Tassakka, A. C. (2006). Dietary Spirulina enhances immune response and
resistance against Aeromonas hydrophila in fish. Fish & Shellfish
Immunology, 21, 70–81.
#SpirulinaPakanIkan
#ImunitasIkan
#AeromonasHydrophila
#KesehatanIkan
#AkuakulturBerkelanjutan
