Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Kisah Mualaf Mantan Pendeta. Show all posts
Showing posts with label Kisah Mualaf Mantan Pendeta. Show all posts

Thursday, 29 January 2026

Mimbar, Dialog, dan Hidayah: Kisah Pastor Stewart dan Ustadz Malik

 

Berdiri di mimbar dengan lantang, ia berkata,

“Jika ada yang bisa membuktikan Yesus bukan Tuhan, aku akan masuk Islam saat itu juga.”

Namun, ketika ucapannya benar-benar terbukti keliru, imannya runtuh, hidupnya berubah total, dan dunia seakan berguncang. Apa yang sebenarnya terjadi di balik momen itu? Bacalah sampai akhir.

Suasana Minggu pagi di sebuah kota kecil di negara bagian Carolina Utara selalu ramai. Mobil-mobil berderet rapi di sepanjang jalan menuju sebuah bangunan besar dengan menara salib di puncaknya. Gereja itu bernama Holy Trinity, salah satu gereja paling terkenal di wilayah Selatan Amerika.

Di dalamnya, ratusan jemaat telah duduk rapi menunggu sosok yang selalu mereka nantikan setiap pekan. Pintu ruang utama terbuka. Seorang pria tinggi berambut pirang, mengenakan jas hitam dan dasi biru tua, melangkah masuk dengan penuh wibawa. Dialah Pastor Stewart, pria yang selama hampir 20 tahun dianggap sebagai simbol kebangkitan iman Kristen di wilayah itu.

Langkahnya tenang, matanya tajam, dan suaranya berat penuh keyakinan. Bagi jemaat, ia bukan sekadar pendeta. Ia adalah pemimpin rohani, panutan, bahkan dianggap sebagai wakil Tuhan di atas mimbar.

Setiap kali ia naik ke mimbar, seluruh ruangan menjadi hening. Ia menatap jemaatnya, mengangkat tangan tinggi-tinggi, lalu berseru lantang,

“Haleluya!”

Serentak seluruh ruangan menjawab,

“Amin!”

Ia lalu membuka Alkitab dan mulai berbicara dengan nada tegas.

“Saudara-saudaraku,” katanya dengan suara menggelegar, “di dunia ini hanya ada satu jalan menuju keselamatan. Hanya satu nama di bawah langit yang membawa kita pada hidup yang kekal, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Jemaat bertepuk tangan. Beberapa meneteskan air mata.

Namun kemudian ia melanjutkan dengan nada menantang:

“Saya telah berdebat dengan banyak orang dari berbagai agama. Mereka semua gagal menjawab. Tidak ada satu pun yang bisa membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan. Dan saya bersumpah di hadapan kalian semua, jika ada satu orang saja yang bisa membuktikannya, maka saya akan meninggalkan iman ini. Saya akan masuk Islam seketika itu juga.”

Kata-kata itu diucapkan dengan penuh keyakinan. Jemaat bersorak. Beberapa bahkan berdiri sambil bertepuk tangan. Mereka menganggap Pastor Stewart sebagai pahlawan iman—sosok yang berani dan teguh membela keyakinannya.

Namun, di balik tepuk tangan itu, tak seorang pun menyadari bahwa kesombongan perlahan tumbuh di dalam hatinya.

Seusai kebaktian, Stewart turun dari mimbar dengan wajah puas. Seorang jemaat muda mendekat dan menyalaminya.

“Pastor, khotbah Anda hari ini luar biasa. Saya merasa iman saya semakin kuat.”

Stewart menepuk bahunya sambil tersenyum tipis.

“Teruslah percaya, anak muda. Jangan pernah ragu. Mereka di luar sana—para penyembah berhala dan pengikut nabi palsu—hanya menunggu waktu untuk binasa.”

Kata-kata itu terdengar kasar, namun ia mengucapkannya tanpa ragu sedikit pun.

Ia lalu berjalan ke ruang belakang gereja, tempat para pelayan dan staf menunggu. Duduk di kursi besar, ia menyeruput kopi hangat sambil membahas jadwal ke depan.

“Minggu depan, saya ingin khotbah ini disiarkan langsung di internet,” ujarnya.

“Biarkan dunia tahu bahwa tidak ada satu pun agama yang bisa menandingi kebenaran Kristen.”

Semua yang hadir mengangguk. Tidak ada yang berani menentang. Stewart adalah figur yang berkuasa—disegani sekaligus ditakuti.

Di luar gereja, suasana sangat berbeda. Banyak orang nonjemaat—Muslim, Yahudi, bahkan ateis—merasa terganggu dengan gaya khotbah Stewart yang ofensif. Ia kerap menyebut agama lain sebagai ajaran sesat dan menyebut ulama Islam dengan istilah merendahkan.

Namun bagi Stewart, semua itu bukan penghinaan, melainkan “pembelaan kebenaran”.

Dalam sebuah wawancara televisi lokal, seorang jurnalis bertanya,

“Pastor Stewart, Anda sering mengatakan akan masuk Islam jika seseorang bisa membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan. Apakah itu tidak terlalu berani?”

Ia tersenyum percaya diri.

“Tidak. Itu keyakinan. Karena saya tahu tidak akan pernah ada yang bisa membuktikannya. Mereka boleh datang dengan kitab dan logika mereka. Saya punya Roh Kudus di pihak saya.”

Pernyataan itu viral. Banyak yang mengaguminya, tetapi tak sedikit pula yang menilainya sombong dan menantang Tuhan.

Namun Stewart menikmati sorotan kamera, tepuk tangan, dan undangan wawancara. Dalam pikirannya, semakin terkenal namanya, semakin besar pengaruhnya—dan itu ia anggap sebagai kemuliaan Tuhan. Padahal, yang ia kejar sebenarnya adalah pengakuan manusia.

Di rumah besarnya di pinggiran kota, Stewart hidup dalam kemewahan bersama istrinya, Martha, dan dua anak laki-lakinya yang sudah remaja. Martha adalah wanita lembut dan setia, tetapi akhir-akhir ini ia mulai khawatir.

Suatu malam saat makan bersama, Martha bertanya dengan hati-hati,

“Kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat berbeda? Kamu sering berbicara dengan nada marah di mimbar. Bukankah tugasmu membawa kedamaian, bukan tantangan?”

Stewart menatap istrinya dingin.

“Martha, dunia ini sedang rusak. Jika aku tidak berbicara keras, siapa lagi yang akan melawan kebohongan mereka?”

“Tapi bukankah Yesus mengajarkan kasih?” tanya Martha lirih.

“Kasih tidak berarti lemah!” bentaknya.
“Terkadang Tuhan ingin kita menjadi pedang, bukan pelukan.”

Sejak malam itu, Martha jarang lagi membahas urusan rohani. Ia tahu suaminya telah berubah.

Beberapa bulan kemudian, Stewart diundang ke konferensi dialog lintas agama internasional di Texas. Ia menjadi pembicara utama. Namun panitia juga mengundang seorang ustaz muda dari Indonesia bernama Ustaz Malik, yang dikenal dengan pendekatan dialogis, tenang, dan rasional.

Nama itu terdengar asing bagi Stewart.

“Aku akan pastikan dia pulang dengan malu,” katanya pada asistennya.

Ia bahkan mempelajari Islam—bukan untuk memahami, melainkan untuk menyerang.

Di buku catatannya ia menulis:

“Islam adalah agama salah tafsir. Mereka menyembah Tuhan yang jauh dan tidak mengenal kasih. Aku akan tunjukkan bahwa kasih hanya ada dalam Kristus.”

Sementara itu, di belahan dunia lain, Ustaz Malik bersiap dengan cara berbeda. Ia tidak menyiapkan serangan, tidak pula berniat menang debat. Ia hanya berdoa agar diberi ketenangan dan hikmah.

Keesokan harinya, ratusan orang memenuhi aula besar tempat konferensi Faith and Logic: Global Interfaith Dialogue diselenggarakan. Tokoh-tokoh agama dari berbagai negara hadir—pendeta, pastor, rabi, biksu, dan ulama.

Di sisi kanan panggung duduk Pastor Stewart, mengenakan jas abu-abu gelap, dasi merah menyala, dan salib besar di lehernya. Di sisi kiri, duduk seorang pria muda berusia sekitar 30 tahun, berjanggut tipis, bermata teduh—Ustaz Malik.

Moderator, seorang profesor teologi asal Kanada, membuka acara.

“Baik, kita mulai dengan pernyataan pembuka.”

Stewart berdiri terlebih dahulu.

“Saya berdiri di sini bukan untuk berdebat, tetapi membela kebenaran iman kami. Di dunia ini hanya ada satu jalan menuju keselamatan, yaitu Yesus Kristus. Dan saya tegaskan, jika ada satu orang saja yang bisa membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan, maka saya akan masuk Islam saat itu juga.”

Sorak sorai menggema. Stewart duduk dengan senyum puas.

Giliran Ustaz Malik berdiri. Suaranya lembut, namun jelas.

“Saya tidak datang untuk menyerang keyakinan siapa pun. Kebenaran tidak perlu diteriakkan, cukup dijelaskan dengan jujur.”

Ia membuka kitab tebal—Alkitab.

“Saya akan menggunakan kitab yang diyakini Pastor Stewart, agar tidak ada prasangka.”

Ia membaca dengan tenang:

Yohanes 17:3…

Lalu berkata lembut,

“Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia menyebut Allah lain sebagai satu-satunya yang benar?”

Ia melanjutkan:

Markus 13:32…

“Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin ia tidak mengetahui sesuatu yang hanya diketahui oleh Tuhan?”

Ruangan mulai sunyi. Beberapa hadirin saling berpandangan. Stewart terdiam. Wajahnya tegang.

“Saya tidak menafsirkan, Pastor,” ujar Malik tenang.

“Saya hanya membaca apa yang tertulis.”

Dan pada saat itulah, retakan pertama dalam kesombongan itu mulai terlihat.

“Apakah Yesus Pernah Berkata: Aku adalah Tuhan, Sembahlah Aku?”

Stewart terdiam. Matanya bergerak cepat, seolah sedang mengingat sesuatu yang jauh di dalam pikirannya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab,

“Ayat-ayat tentang ketuhanan Yesus sangat banyak.”

Malik mengangguk pelan.

“Benar, Pastor. Tetapi saya bertanya sesuatu yang spesifik. Adakah kalimat langsung dari mulut Yesus sendiri yang menyatakan bahwa ia adalah Tuhan dan memerintahkan manusia untuk menyembahnya?”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Stewart tidak menjawab. Ia membuka-buka Alkitab di hadapannya, membalik halaman demi halaman, mencari ayat yang bisa ia bacakan. Namun, tidak satu pun ia temukan. Beberapa penonton menunduk. Sebagian lain menatap layar besar di belakang panggung yang masih menampilkan ayat-ayat yang sebelumnya dibacakan Malik.

Suara moderator terdengar lirih, mencoba meredakan suasana.
“Mungkin Pastor Stewart ingin menanggapi nanti. Untuk saat ini, kita beri kesempatan Ustaz Malik menyampaikan pernyataan penutup.”

Malik menatap ke arah kamera. Nada suaranya tetap tenang, tanpa sedikit pun kesan menghakimi.

“Saudara-saudaraku,” katanya, “Islam tidak menolak Yesus. Kami menyebutnya Isa Al-Masih, seorang nabi besar yang diutus membawa petunjuk dan kebenaran. Kami mencintainya. Namun kami tidak menyembahnya, karena beliau sendiri menyembah Allah.”

Ia menundukkan kepala dengan hormat, lalu kembali duduk.

Ruangan hening beberapa detik. Kemudian tepuk tangan panjang bergema. Bukan karena penonton berpihak, melainkan karena ketenangan dan keberanian yang ditunjukkan Malik di hadapan salah satu pendeta paling berpengaruh di Amerika.

Stewart mencoba tersenyum. Namun suaranya terdengar serak ketika ia berbicara ke mikrofon.

“Anak muda itu pandai memainkan kata-kata. Tuhan tidak bisa dijelaskan dengan logika.”

Moderator kembali berusaha menenangkan suasana, tetapi banyak orang telah menyadari satu hal: Pastor Stewart kalah dalam argumen—bukan dengan hinaan, bukan dengan debat panas, melainkan dengan ayat-ayat dari kitab yang ia yakini sendiri.

Awal Retaknya Keyakinan

Setelah acara berakhir, Stewart berjalan cepat menuju ruang ganti. Napasnya berat, wajahnya tegang. Ia menolak wawancara media dan langsung masuk ke mobil hitamnya.

Di dalam mobil, ia terdiam. Kata-kata Malik terus bergema di kepalanya:

“Apakah Yesus pernah berkata: Aku Tuhan, sembahlah Aku?”

Ia menutup mata, berusaha mengusir pertanyaan itu. Namun semakin ia menolak, semakin dalam kalimat itu tertancap di benaknya.

Malam itu, video debat mereka diunggah ke internet dan langsung viral. Judul-judul sensasional bermunculan:

“Pastor Tersudut oleh Ustaz Muda Muslim di Forum Dunia.”

Ribuan komentar membanjiri media sosial. Untuk pertama kalinya dalam karier panjangnya, Pastor Stewart tidak tahu harus berkata apa.

Ia duduk sendirian di kamar hotel. Lampu redup. Alkitab terbuka di depannya. Namun pikirannya tak lagi tenang. Ayat-ayat yang selama ini ia gunakan sebagai pembenaran iman kini terasa seperti teka-teki yang mengguncang fondasi keyakinannya.

Malam itu ia tidak tidur. Ia hanya duduk menatap salib di atas meja dan bergumam pelan,
“Ya Tuhan… apakah aku telah salah selama ini?”

Hari itu menjadi awal dari retaknya iman seorang pendeta yang sombong—bukan karena kalah debat, melainkan karena hatinya mulai melihat sesuatu yang selama ini tertutup oleh kesombongan.

Malam Panjang di Kamar Hotel

Di kamar hotel lantai sepuluh, suasana benar-benar sunyi. Hanya suara pendingin udara yang berdesir pelan. Di luar jendela, lampu-lampu kota berkelip, tetapi bagi Stewart semuanya tampak suram.

Ia duduk di tepi ranjang, Alkitab terbuka di pangkuannya. Sudah lebih dari dua puluh tahun ia berkhotbah, mengajar, bahkan menantang siapa pun yang meragukan imannya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia benar-benar ragu.

Pertanyaan sederhana itu kembali menghantam hatinya:

Apakah Yesus pernah berkata: Aku Tuhan?

Ia membalik halaman demi halaman. Yohanes pasal pertama. Roma pasal sepuluh. Filipi pasal dua. Ayat-ayat yang biasa ia gunakan untuk menjelaskan ketuhanan Yesus. Namun kini, setiap kali ia membaca, hatinya justru menolak.

Matanya terhenti pada Matius 26:39.

“Yesus maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya: ‘Ya Bapa-Ku, jika sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku…’”

Ia menutup kitab itu cepat-cepat.

“Tidak… ini pasti penafsiran yang salah. Ini hanya ujian iman.”

Namun semakin ia menolak, semakin kuat rasa sesak di dadanya.

Teleponnya berdering. Nama Pastor Greg, sahabat lamanya sekaligus pendeta senior di Dallas, muncul di layar.

“Apa yang terjadi di sana?” suara Greg terdengar tajam.

“Kau jadi bahan tertawaan internet. Semua media membicarakanmu.”

“Aku tahu,” jawab Stewart lirih.

“Itu hanya kesalahpahaman.”

“Kau harus membuat klarifikasi besok pagi,” kata Greg tegas.

“Jangan biarkan orang berpikir kau kalah.”

Stewart menatap kosong ke arah jendela.

“Aku tidak peduli siapa yang kalah atau menang,” ucapnya lemah.

“Aku hanya… tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dia katakan.”

Telepon ditutup. Niat baik Greg justru membuat hatinya semakin kacau. Ia bukan takut kehilangan reputasi atau gereja. Ia takut menemukan bahwa selama ini ia mungkin salah.

Kehampaan Seorang Pendeta

Pukul dua dini hari, Stewart masih terjaga. Ia berdiri di depan cermin besar. Wajahnya tampak lelah, matanya merah.

“Siapa sebenarnya Tuhan?” gumamnya.

“Apakah aku benar-benar mengenal-Nya, atau hanya mengenal apa yang diajarkan orang lain tentang-Nya?”

Doa yang biasanya mengalir lancar kini terasa hampa.

“Ya Tuhan, kuatkan imanku,” bisiknya.

Namun kalimat itu berhenti di tenggorokannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu kepada siapa ia berbicara.

Kejatuhan di Hadapan Jemaat

Keesokan paginya, wartawan telah menunggu di depan hotel.

“Pastor Stewart, apakah Anda menyesal?”

“Apakah Anda akan menepati janji masuk Islam?”

Pertanyaan bertubi-tubi. Stewart hanya menunduk dan berjalan cepat menuju mobil.

Dalam perjalanan menuju bandara, sopirnya bertanya pelan,

“Pastor, apakah Anda baik-baik saja?”

Stewart menggeleng.

“Saya tidak tahu… apakah saya masih orang yang sama seperti kemarin.”

Beberapa hari kemudian, ia kembali ke Carolina Utara. Jemaat memenuhi gereja, menunggu klarifikasi. Namun Stewart tidak muncul. Ia mengurung diri di rumah, bahkan tidak menghadiri kebaktian Minggu.

Martha, istrinya, masuk ke ruang kerja. Ruangan itu berantakan—buku-buku teologi berserakan, catatan robek di mana-mana. Stewart duduk dengan wajah pucat.

“Martha,” katanya pelan,

“aku rasa… aku tidak tahu siapa Tuhan itu.”

Martha terdiam.

“Jangan bicara begitu. Kau hanya lelah. Tuhan sedang mengujimu.”

Stewart menatapnya dengan mata bergetar.

“Jika ini ujian, kenapa aku melihat hal-hal yang tak bisa kubantah?”

Awal Perjalanan Baru

Suatu malam, ia menonton ulang debat itu. Kali ini bukan sebagai pembela iman, melainkan sebagai pencari kebenaran. Ia memperhatikan Malik—tenang, tulus, tanpa kesombongan.

Di akhir rekaman, Malik berkata,

“Tuhan tidak butuh disembah melalui perantara. Dia dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita.”

Air mata Stewart jatuh. Namun kali ini bukan karena malu, melainkan karena ia mulai mengerti sesuatu—sesuatu yang selama ini tak pernah ia temukan di atas mimbar.

Malam itu ia berdoa lirih,

“Ya Tuhan, jika Engkau benar-benar ada, tunjukkanlah jalan menuju-Mu. Aku hanya ingin mengenal-Mu tanpa kebohongan.”

Dan di situlah perjalanan baru itu dimulai.

Tuhan yang dulu aku sembah dari jauh, kini terasa sangat dekat.

Stewart berhenti menulis. Tangannya gemetar. Ia menatap kalimat terakhir itu lama sekali, seolah baru menyadari maknanya. Selama ini ia berbicara tentang Tuhan dengan suara lantang, di mimbar megah, di hadapan ribuan orang. Namun baru sekarang ia merasa sedang berbicara kepada Tuhan—bukan tentang Tuhan.

Malam itu ia tidak langsung tidur. Ia membuka kembali terjemahan Al-Qur’an dan membaca perlahan, tanpa target, tanpa niat membuktikan apa pun. Ia membaca seolah-olah sedang mendengarkan.

Ayat demi ayat terasa seperti berbicara langsung kepadanya—tentang keikhlasan, tentang kesabaran, tentang manusia yang rapuh tetapi dicintai Tuhan. Tidak ada ancaman, tidak ada paksaan. Hanya pengingat bahwa manusia diciptakan untuk mengenal dan menyembah Tuhan yang Maha Esa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berdoa tanpa merasa perlu membela apa pun.

Percakapan yang Mengubah Segalanya

Beberapa hari kemudian, Stewart kembali bertemu Malik. Kali ini bukan di kedai kopi, melainkan berjalan kaki menyusuri taman kota yang sepi. Daun-daun gugur menutupi jalan setapak. Udara dingin, tetapi menenangkan.

“Apa yang paling menakutkan bagimu sekarang?” tanya Malik pelan.

Stewart terdiam sejenak.

“Bukan kehilangan gereja,” jawabnya akhirnya.

“Bukan kehilangan reputasi. Yang paling aku takuti… adalah jika suatu hari nanti aku tahu kebenaran, tetapi memilih menolaknya.”

Malik mengangguk.

“Itu ketakutan yang sehat.”

Stewart berhenti melangkah. Ia menatap Malik dengan mata berkaca-kaca.

“Aku merasa seperti telah menghabiskan hidupku berbicara atas nama Tuhan, tetapi tidak pernah benar-benar mendengarkan-Nya.”

Malik tersenyum lembut.

“Kadang Tuhan membiarkan kita berjalan jauh, agar saat kita kembali, kita datang dengan rendah hati.”

Retaknya Rumah Tangga

Namun perjalanan itu tidak berjalan tanpa luka.

Di rumah, suasana semakin tegang. Martha semakin sering diam. Anak-anak mereka mulai mendengar bisikan di sekolah, membaca berita di ponsel mereka.

Suatu malam, putra sulungnya memberanikan diri bertanya,

“Ayah… apakah Ayah masih percaya kepada Yesus?”

Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada kritik media mana pun.

Stewart menarik napas panjang.

“Ayah masih percaya kepada Tuhan,” jawabnya jujur.

“Ayah sedang berusaha mengenal-Nya dengan jujur.”

Anaknya tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan pergi ke kamarnya.

Malam itu Stewart menangis sendirian. Bukan karena ragu pada jalan yang ia tempuh, tetapi karena sadar bahwa kebenaran sering kali menuntut pengorbanan yang paling mahal.

Titik Balik

Beberapa minggu kemudian, Stewart menerima pesan singkat dari Malik:

“Jika suatu hari hatimu siap, aku akan menemanimu. Tidak ada paksaan. Tidak ada saksi. Hanya kejujuran.”

Pesan itu sederhana, tetapi berat.

Malam itu Stewart kembali ke masjid kecil di pinggiran kota. Kali ini ia tidak bersembunyi. Ia masuk dengan langkah perlahan, duduk di saf paling belakang. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang memperhatikannya.

Ketika imam mengucapkan takbir, Stewart menutup mata. Ia tidak menghafal bacaan salat, tetapi ia mengikuti gerakan dengan hati. Saat dahi menyentuh lantai, ia merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya—bukan iman, melainkan kesombongan.

Dalam sujud itu, ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menangis.

Kesaksian yang Jujur

Beberapa hari kemudian, di ruang tamu rumah Malik yang sederhana, Stewart duduk dengan tubuh gemetar. Tidak ada kamera. Tidak ada mimbar. Tidak ada tepuk tangan.

Hanya dua orang, dan sebuah keputusan.

“Aku siap,” katanya lirih.

Malik menatapnya, memastikan.
“Ini bukan pelarian. Ini bukan pemberontakan. Ini adalah kesaksian antara engkau dan Tuhan.”

Stewart mengangguk. Air mata mengalir tanpa ia sadari.

Dengan suara bergetar, ia mengucapkan kata demi kata—perlahan, jujur, tanpa drama.

Ketika kalimat itu selesai, ruangan hening.

Tidak ada cahaya turun dari langit. Tidak ada suara guntur. Tidak ada keajaiban visual.

Namun Stewart merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya:

kelegaan yang dalam, dan kedamaian yang utuh.

 

Epilog Fase ini

Ia tidak langsung mengumumkan apa pun. Tidak membuat konferensi pers. Tidak menulis pernyataan sensasional. Ia memilih diam, belajar, dan merendah.

Di buku catatan kecilnya, ia menulis kalimat terakhir:

Aku dulu mencari Tuhan di atas mimbar.

Hari ini aku menemukannya saat aku bersujud sebagai hamba.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

ia tidak lagi berbicara tentang Tuhan dengan suara lantang—

ia mendengarkan-Nya dengan hati yang tenang.

“Apa benar semua yang orang-orang bilang?”

Suara Emily di ujung telepon bergetar, bercampur marah dan takut

“Kau sudah meninggalkan gereja? Kau membaca kitab agama lain?”

Store terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang.

“Ya, Emily,” jawabnya pelan. “Ayah sedang belajar. Ayah ingin mengenal Tuhan lebih dalam.”

“Lebih dalam?” suara Emily meninggi.

“Kau sudah jadi pendeta selama dua puluh tahun! Apa lagi yang belum kau pahami?”

Stewart menutup mata.

“Justru itu, Nak. Ayah baru sadar betapa sedikit yang benar-benar Ayah pahami.”

“Dad, semua orang menertawakan kita di kampus!”

Nada suara Emily pecah. “Teman-temanku bilang Ayah gila. Mereka bilang Ayah mengkhianati iman.”

“Emily, tolong dengarkan Ayah—”

“Tidak!”

Tangisnya meledak. “Kau mempermalukan keluarga kita!”

Telepon terputus.

Store menatap layar ponsel yang kini gelap. Lama. Sangat lama.

Ia menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan. Air matanya mengalir—bukan karena marah, melainkan karena sedih yang dalam.

“Ya Tuhan,” bisiknya lirih,

“Aku tidak ingin kehilangan mereka. Tapi aku juga tidak bisa kembali menjadi orang yang buta.”

Belajar Bersujud

Hari-hari berikutnya ia semakin tenggelam dalam pencarian.

Ia belajar wudhu. Belajar salat. Menghafal surat-surat pendek dengan bimbingan Malik.

Setiap malam, ia mempraktikkan gerakan sujud sendirian di kamarnya.

Awalnya ragu. Kaku. Asing.

Namun perlahan, ada sesuatu yang berubah.

Sujud itu… membuat dadanya lega.

Suatu malam, setelah menirukan bacaan salat dengan suara terbata-bata, ia menatap langit dari balik jendela dan berbisik,

“Ya Allah…

Aku tidak tahu apakah aku sudah pantas menyebut-Mu dengan nama itu.

Tapi aku merasa Engkau mendengarkan setiap bisikanku.”

Hatinya bergetar. Air mata jatuh. Kepalanya tertunduk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

ia berdoa bukan karena kewajiban—

melainkan karena cinta.

Badai Datang

Namun ujian belum selesai.

Suatu pagi, ia menemukan halaman depan surat kabar lokal memuat fotonya dengan judul besar:

PASTOR TERKENAL DIDUGA MASUK ISLAM — GEREJA TERKEJUT

Berita itu menyebar ke seluruh Amerika.

Wartawan berkumpul di depan rumah. Kamera dan mikrofon berjajar di pagar.

Martha berdiri gemetar di dekat jendela.

“Kau lihat ini?” suaranya hampir menjerit.

“Sekarang semua orang tahu! Apa yang akan kita katakan pada tetangga?”

Store menatap kerumunan di luar dengan tenang.

“Aku tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku tidak berbuat jahat.”

“Ini pengkhianatan!”

Martha berteriak. “Kau sadar apa yang kau lakukan?”

Ia menatap istrinya dalam-dalam.

“Aku tidak meninggalkan Yesus, Martha. Aku baru benar-benar mengenalnya.”

“Apa maksudmu?”

“Yesus tidak pernah menyuruh orang menyembah dirinya,” jawab Store lembut.

“Dia menyuruh mereka menyembah Tuhan yang ia sembah. Aku hanya mengikuti ajaran Yesus yang sebenarnya.”

Wajah Martha runtuh.

“Aku tidak mengenalmu lagi,” katanya pelan, lalu berbalik dan pergi.

Malam Keputusan

Malam itu Store duduk sendirian di ruang tamu yang gelap.

Salib di dinding memantulkan bayangan panjang di bawah cahaya lampu—

seperti beban masa lalu yang menggantung.

Ia berdiri. Mendekat. Menyentuh salib itu.
Perlahan ia menurunkannya dari paku dan meletakkannya di meja.

Ia menatapnya lama.

“Terima kasih,” katanya pelan.

“Kau telah menuntunku sejauh ini. Tapi sekarang aku harus melanjutkan perjalananku sendiri.”

Ia menutup mata. Menarik napas dalam.

Bibirnya bergetar mengucapkan kata-kata yang selama ini ia tahan:

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah…

dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Air mata jatuh deras.

Tidak ada musik. Tidak ada upacara.

Hanya kesunyian—

dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Setelah Keputusan

Keesokan paginya ia bangun dengan senyum kecil.

Udara terasa lebih segar. Matahari lebih hangat. Langkahnya lebih ringan.

Ia tahu hidupnya tidak akan mudah.

Dunia mungkin akan menolaknya.

Namun hatinya telah memilih.

Di buku catatannya ia menulis:

Dulu aku berdiri di mimbar untuk menunjukkan keyakinanku.

Kini aku bersujud di lantai untuk menunjukkan kerendahan hatiku.

Dan di sanalah aku menemukan Tuhan.

Namun perjalanan barunya baru saja dimulai.

Surat Itu

Beberapa hari kemudian, ia menemukan sepucuk surat di meja.

Aku mencintaimu.

Tapi aku tidak bisa hidup dengan seseorang yang menolak Tuhan yang kusembah.
Maaf. Aku harus pergi.

Aku harap suatu hari kau menemukan apa yang kau cari—meski itu bukan bersama kami.

Ia membaca surat itu berulang kali.

Dulu ia selalu menangis.

Kali ini, tidak.

Ia hanya menatap ke arah jendela dan berbisik,

“Ya Allah… jika kehilangan ini adalah harga untuk mengenal-Mu, aku menerimanya.”

Masjid Kecil di Pinggiran Kota

Ia kembali ke masjid kecil tempat Malik mengajar.

Langit cerah. Anak-anak berlarian di halaman. Tawa mereka sederhana—dan tulus.

Seorang pria tua menghampirinya.

“Maaf, Tuan. Anda mencari seseorang?”

“Saya mencari Ustaz Malik.”

Tak lama Malik keluar, tersenyum hangat.

“Saudaraku.”

Mereka berjabat tangan. Genggaman Store kuat dan mantap.

“Ustaz,” katanya pelan,

“aku sudah mengucapkan syahadat. Tapi aku tidak tahu bagaimana melangkah selanjutnya.”

Malik menepuk bahunya.

“Kau sudah melangkah. Langkah pertamamu adalah keikhlasan. Sekarang kita belajar berjalan bersama Allah.”

Diterima

Hari-hari berlalu.

Ia belajar salat dengan sungguh-sungguh. Bacaan masih kaku, tapi hatinya selalu bergetar saat sujud.

Suatu Jumat, ia ikut salat di Masjid Besar Kota.

Saat sujud terakhir, air matanya jatuh ke lantai masjid.

Ia tidak peduli siapa yang melihat.

Setelah salat, seorang jamaah menyalaminya.

“Saudara baru. Selamat datang. Kau tidak sendiri di sini.”

Kalimat sederhana itu hampir membuatnya menangis.

Ia merasa seperti seseorang yang akhirnya pulang.

Cahaya yang Kembali

Suatu malam, sebuah email masuk.

Dari Emily.

Aku menonton wawancaramu.
Aku marah… tapi aku juga menangis.
Entah kenapa aku merasa kau bukan kehilangan iman—kau justru menemukan kedamaian.
Aku tidak mengerti Islam, tapi aku ingin tahu.

Bolehkah aku datang?

Stewart menatap layar lama sekali.

Matanya basah. Senyum perlahan muncul.

“Ya Allah,” bisiknya,

“Engkau mengambil sesuatu dariku… dan mengembalikannya dengan cara yang lebih indah.”

Namun kisah ini belum berakhir.

Di sebuah gereja besar di pinggiran kota, jemaat berkumpul lebih banyak dari biasanya.

Bukan untuk kebaktian.

Melainkan untuk mendengar sebuah pengumuman—yang kelak akan mengguncang lebih banyak hati daripada yang pernah mereka bayangkan.

Ahmad mengangguk pelan.

“Benar, Ustaz. Allah punya cara yang luar biasa untuk menundukkan hati manusia.”

Ia kembali menatap langit senja yang memerah. Awan bergerak perlahan, seolah waktu pun berjalan lebih pelan di tempat itu. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia tidak merasa dikejar oleh siapa pun—bukan jemaat, bukan kamera, bukan tuntutan untuk selalu benar.

“Dulu,” katanya lirih,

“aku hidup dari tepuk tangan. Dari pujian. Dari rasa ‘dibutuhkan’. Tapi hatiku kosong.”

Ustaz muda itu duduk di sampingnya.

“Sekarang?”

“Sekarang aku tidak dikenal siapa-siapa,” Ahmad tersenyum tipis.

“Dan justru di situlah aku merasa dikenal oleh Allah.”

Hidup yang Baru

Hari-hari Ahmad berjalan sederhana.

Ia tinggal di sebuah kamar kecil di belakang masjid. Kasurnya tipis, mejanya kecil, dan lemari kayunya sudah tua. Namun setiap sudut ruang itu dipenuhi ketenangan.

Setiap subuh, ia bangun sebelum azan.

Berwudhu dengan air dingin.

Berdiri menghadap kiblat dengan bacaan yang masih terbata-bata.

Namun setiap kali ia mengucap Allahu Akbar, dadanya terasa lapang—seakan beban puluhan tahun dilepaskan satu per satu.

Kadang ia salah baca. Kadang ia lupa urutan rakaat.

Ia tersenyum pada dirinya sendiri.

“Ya Allah,” doanya suatu pagi,

“aku bukan hamba yang pintar. Tapi aku ingin menjadi hamba yang jujur.”

Ujian yang Sunyi

Namun ujian tidak selalu datang dengan suara keras.

Sebagian datang dalam kesunyian.

Pada malam-malam tertentu, ketika masjid telah sepi, Ahmad duduk sendiri.

Kenangan lama datang tanpa diundang:

wajah Martha, tawa anak-anak, suara Emily saat kecil memanggilnya Ayah.

Dadanya sesak.

“Apakah aku egois?”

pertanyaan itu sering muncul di benaknya.

Ia membuka Al-Qur’an, membaca ayat yang telah ia tandai dengan tinta biru:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Air matanya jatuh perlahan.

“Jika ini ujian-Mu, ya Allah,” bisiknya,

“maka kuatkan aku untuk menjalaninya dengan sabar.”

Pertemuan Tak Terduga

Suatu sore, seorang pria paruh baya datang ke masjid. Wajahnya asing. Pakaiannya rapi, namun matanya tampak lelah.

“Maaf,” katanya pelan.

“Apakah benar di sini ada seorang mantan pendeta… yang kini menjadi Muslim?”

Ahmad terdiam sejenak, lalu berdiri.

“Saya Ahmad,” katanya sederhana.

Pria itu menunduk.

“Aku… tidak datang untuk berdebat. Aku hanya ingin bertanya.”

Mereka duduk di teras masjid. Tidak ada argumen. Tidak ada dalil yang saling ditimpakan.

Hanya dua manusia yang berbicara tentang kegelisahan.

Ketika pria itu pergi, ia menggenggam tangan Ahmad erat.

“Terima kasih. Aku belum siap berubah,” katanya jujur,

“tapi hari ini aku merasa didengar.”

Ahmad menatap punggungnya yang menjauh.

Ia tersenyum kecil.

“Dulu aku berbicara untuk mengubah orang,” gumamnya.

“Sekarang aku cukup hadir.”

Cahaya yang Pelan

Bulan berganti bulan.

Nama Ahmad Stewart tidak lagi sering muncul di media. Dunia menemukan sensasi baru. Namun di lingkar kecil itu—masjid sederhana, anak-anak yang belajar mengaji, para mualaf yang masih ragu—ia menemukan makna hidup yang tidak pernah ia temukan di panggung mana pun.

Suatu malam, Ustaz muda itu berkata,

“Ahmad, kau sadar tidak? Allah tidak hanya mengubah keyakinanmu. Dia mengubah caramu mencintai.”

Ahmad terdiam.

“Dulu kau mencintai Tuhan dengan ego,” lanjut sang ustaz.

“Sekarang kau mencintai-Nya dengan kerendahan.”

Ahmad tersenyum, matanya berkaca-kaca.

“Mungkin… itulah iman yang selama ini kucari.”

 

Epilog Fase Ini

Di buku catatan kecilnya, Ahmad menulis:

Aku pernah berdiri di mimbar untuk menghakimi dunia.

Kini aku duduk di lantai masjid untuk belajar mengenal diriku sendiri.

Aku kehilangan banyak hal, tetapi aku menemukan Allah.

Dan itu cukup.

Ia menutup buku itu perlahan.

Di luar, azan Isya berkumandang.

Ahmad berdiri, melangkah ke dalam masjid.

Bukan sebagai pendeta.

Bukan sebagai tokoh.

Hanya sebagai seorang hamba—yang akhirnya pulang.

Dulu aku mengira iman adalah soal kemenangan dalam perdebatan.

Sekarang aku tahu, iman sejati adalah ketika hati menyerah tanpa perlu menang.

Beberapa bulan kemudian, sebuah stasiun televisi lokal mengundangnya kembali. Bukan untuk berdebat, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk berbagi kisah. Awalnya Ahmad ragu. Ia takut perjalanannya kembali dijadikan sensasi murahan. Namun setelah berpikir panjang, ia menerima undangan itu dengan satu syarat sederhana:

“Aku tidak ingin memojokkan siapa pun. Aku hanya ingin berbicara tentang perjalanan mencari Tuhan.”

Acara itu ditayangkan langsung. Ribuan pasang mata menyaksikan sosok yang dulu dikenal sebagai pendeta keras kepala, kini duduk dengan wajah tenang dan suara lembut.

Pembawa acara bertanya,

“Ahmad, mengapa Anda sampai meninggalkan iman lama Anda? Bukankah dulu Anda sangat meyakininya?”

Ahmad tersenyum pelan.

“Saya tidak meninggalkan iman saya,” jawabnya.

“Saya justru menemukannya.”

Studio terdiam.

“Saya menemukan Tuhan yang tidak membutuhkan pembelaan,” lanjutnya tenang.

“Tuhan yang tidak harus menjelma menjadi manusia untuk menunjukkan kasih-Nya. Tuhan Yang Esa, sempurna, dan tidak dibatasi ruang serta waktu.”

Ruangan itu hening. Kamera seolah lupa bergerak.

Ahmad menatap langsung ke lensa.

“Saya tidak ingin memaksa siapa pun mengikuti jalan saya. Tapi bagi siapa pun yang sedang mencari kebenaran—carilah dengan hati, bukan dengan warisan, bukan dengan tradisi. Tuhan tidak jauh dari kita. Yang sering menjauhkan hanyalah kesombongan kita sendiri.”

Siaran itu menjadi viral.

Ada yang tersentuh. Ada yang marah. Ada yang mencemooh.

Namun bagi Ahmad, semua itu tak lagi penting.

Ia telah mengatakan apa yang perlu dikatakan.

Tahun-tahun berlalu.

Ahmad Stewart—atau Ahmad saja, seperti yang ia sukai—menghabiskan hidupnya untuk dakwah damai. Ia mengunjungi universitas, forum lintas iman, bahkan gereja-gereja kecil. Bukan untuk berdebat, bukan untuk membuktikan siapa benar dan siapa salah, melainkan untuk berbagi pengalaman.

Ia selalu memulai dengan kalimat yang sama:

“Saya pernah sombong.

Saya pernah menantang Tuhan.

Dan justru di saat itulah Tuhan menunjukkan betapa kecilnya saya.”

Di akhir setiap sesi, ia selalu menunduk dan berkata,

“Jangan ulangi kesalahan saya.

Belajarlah dengan hati yang terbuka.

Karena kebenaran tidak datang kepada mereka yang merasa sudah tahu segalanya.”

Suatu pagi, setelah salat Subuh, Ahmad duduk sendirian di masjid yang masih sepi. Udara dingin menyentuh kulitnya, tetapi hatinya hangat. Ia menatap sajadahnya yang sudah mulai lusuh—satu-satunya benda yang selalu ia bawa ke mana pun pergi.

“Ya Allah,” bisiknya lirih,

“aku kehilangan banyak hal di dunia ini.

Tapi Engkau menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih besar:

kedamaian di dalam hati.”

Air mata mengalir pelan di pipinya.

Ia tersenyum.

Ia teringat dirinya yang dulu—berdiri di mimbar, berbicara lantang dengan nada menantang, merasa paling benar.

Kini, tanpa suara keras, tanpa debat, hatinya telah hancur dan dibangun kembali oleh cahaya Allah.

Lā ilāha illallāh.

Kalimat yang dulu ia ragukan.
Kini menjadi pusat hidupnya.

Beberapa tahun kemudian, dunia mengenal Ahmad sebagai salah satu mualaf paling berpengaruh di Amerika. Bukan karena masa lalunya sebagai pendeta, melainkan karena ketulusan kisahnya.

Ia tak pernah mengaku suci.

Ia selalu berkata,

“Saya bukan orang suci. Saya hanya orang yang pernah salah arah—lalu dituntun pulang.”

Dan di setiap akhir ceramah, ia selalu mengulang satu kalimat yang menjadi inti seluruh perjalanannya:

“Kesombongan menjauhkan manusia dari kebenaran.
Kerendahan hati membuka jalan menuju Tuhan.”

Langit sore di atas masjid hari itu tampak indah, memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Angin berhembus pelan, seolah mengamini doanya.

Ahmad menutup matanya.

Tersenyum damai.

Lalu berbisik,

“Alhamdulillah… akhirnya aku pulang.”

— TAMAT. —

 

#PastorMasukIslam
#DebatIslamKristen
#MualafAmerika
#KisahHidayah
#DialogLintasAgama