Berdiri di mimbar dengan lantang, ia berkata,
“Jika ada yang
bisa membuktikan Yesus bukan Tuhan, aku akan masuk Islam saat itu juga.”
Namun, ketika ucapannya benar-benar terbukti keliru, imannya runtuh, hidupnya berubah total, dan dunia seakan berguncang. Apa yang sebenarnya terjadi di balik momen itu? Bacalah sampai akhir.
Suasana Minggu pagi di sebuah kota kecil di negara bagian Carolina Utara selalu ramai. Mobil-mobil berderet rapi di sepanjang jalan menuju sebuah bangunan besar dengan menara salib di puncaknya. Gereja itu bernama Holy Trinity, salah satu gereja paling terkenal di wilayah Selatan Amerika.
Di dalamnya, ratusan jemaat telah duduk rapi menunggu sosok yang selalu mereka nantikan setiap pekan. Pintu ruang utama terbuka. Seorang pria tinggi berambut pirang, mengenakan jas hitam dan dasi biru tua, melangkah masuk dengan penuh wibawa. Dialah Pastor Stewart, pria yang selama hampir 20 tahun dianggap sebagai simbol kebangkitan iman Kristen di wilayah itu.
Langkahnya
tenang, matanya tajam, dan suaranya berat penuh keyakinan. Bagi jemaat, ia
bukan sekadar pendeta. Ia adalah pemimpin rohani, panutan, bahkan dianggap
sebagai wakil Tuhan di atas mimbar.
Setiap kali ia
naik ke mimbar, seluruh ruangan menjadi hening. Ia menatap jemaatnya,
mengangkat tangan tinggi-tinggi, lalu berseru lantang,
“Haleluya!”
Serentak seluruh
ruangan menjawab,
“Amin!”
Ia lalu membuka Alkitab dan mulai berbicara dengan nada tegas.
“Saudara-saudaraku,”
katanya dengan suara menggelegar, “di dunia ini hanya ada satu jalan menuju
keselamatan. Hanya satu nama di bawah langit yang membawa kita pada hidup yang
kekal, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Jemaat bertepuk tangan. Beberapa meneteskan air mata.
Namun kemudian ia
melanjutkan dengan nada menantang:
“Saya telah berdebat dengan banyak orang dari berbagai
agama. Mereka semua gagal menjawab. Tidak ada satu pun yang bisa membuktikan
bahwa Yesus bukan Tuhan. Dan saya
bersumpah di hadapan kalian semua, jika ada satu orang saja yang bisa
membuktikannya, maka saya akan meninggalkan iman ini. Saya akan masuk Islam
seketika itu juga.”
Kata-kata itu
diucapkan dengan penuh keyakinan. Jemaat bersorak. Beberapa bahkan
berdiri sambil bertepuk tangan. Mereka menganggap Pastor Stewart sebagai
pahlawan iman—sosok yang berani dan teguh membela keyakinannya.
Namun, di balik tepuk tangan itu, tak seorang pun menyadari bahwa kesombongan perlahan tumbuh di dalam hatinya.
Seusai kebaktian, Stewart turun dari mimbar dengan wajah
puas. Seorang jemaat muda mendekat
dan menyalaminya.
“Pastor, khotbah
Anda hari ini luar biasa. Saya merasa iman saya semakin kuat.”
Stewart menepuk bahunya sambil tersenyum tipis.
“Teruslah percaya, anak muda. Jangan pernah ragu. Mereka di
luar sana—para penyembah berhala dan pengikut nabi palsu—hanya menunggu waktu
untuk binasa.”
Kata-kata itu terdengar kasar, namun ia mengucapkannya tanpa ragu sedikit pun.
Ia lalu berjalan
ke ruang belakang gereja, tempat para pelayan dan staf menunggu. Duduk di kursi
besar, ia menyeruput kopi hangat sambil membahas jadwal ke depan.
“Minggu depan,
saya ingin khotbah ini disiarkan langsung di internet,” ujarnya.
“Biarkan dunia
tahu bahwa tidak ada satu pun agama yang bisa menandingi kebenaran Kristen.”
Semua yang hadir mengangguk. Tidak ada yang berani menentang. Stewart adalah figur yang berkuasa—disegani sekaligus ditakuti.
Di luar gereja, suasana sangat berbeda. Banyak orang nonjemaat—Muslim, Yahudi, bahkan ateis—merasa terganggu dengan gaya khotbah Stewart yang ofensif. Ia kerap menyebut agama lain sebagai ajaran sesat dan menyebut ulama Islam dengan istilah merendahkan.
Namun bagi
Stewart, semua itu bukan penghinaan, melainkan “pembelaan kebenaran”.
Dalam sebuah
wawancara televisi lokal, seorang jurnalis bertanya,
“Pastor Stewart, Anda sering mengatakan akan masuk Islam jika seseorang bisa membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan. Apakah itu tidak terlalu berani?”
Ia tersenyum
percaya diri.
“Tidak. Itu
keyakinan. Karena saya tahu tidak akan pernah ada yang bisa membuktikannya.
Mereka boleh datang dengan kitab dan logika mereka. Saya punya Roh Kudus di
pihak saya.”
Pernyataan itu viral. Banyak yang mengaguminya, tetapi tak sedikit pula yang menilainya sombong dan menantang Tuhan.
Namun Stewart menikmati sorotan kamera, tepuk tangan, dan undangan wawancara. Dalam pikirannya, semakin terkenal namanya, semakin besar pengaruhnya—dan itu ia anggap sebagai kemuliaan Tuhan. Padahal, yang ia kejar sebenarnya adalah pengakuan manusia.
Di rumah besarnya di pinggiran kota, Stewart hidup dalam kemewahan bersama istrinya, Martha, dan dua anak laki-lakinya yang sudah remaja. Martha adalah wanita lembut dan setia, tetapi akhir-akhir ini ia mulai khawatir.
Suatu malam saat makan bersama, Martha bertanya dengan
hati-hati,
“Kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat berbeda? Kamu sering
berbicara dengan nada marah di mimbar. Bukankah tugasmu membawa kedamaian,
bukan tantangan?”
Stewart menatap istrinya dingin.
“Martha, dunia ini sedang rusak. Jika aku tidak berbicara keras, siapa lagi yang
akan melawan kebohongan mereka?”
“Tapi bukankah
Yesus mengajarkan kasih?” tanya Martha lirih.
“Kasih tidak
berarti lemah!” bentaknya.
“Terkadang Tuhan ingin kita menjadi pedang, bukan pelukan.”
Sejak malam itu, Martha jarang lagi membahas urusan rohani. Ia tahu suaminya telah berubah.
Beberapa bulan kemudian, Stewart diundang ke konferensi
dialog lintas agama internasional di Texas. Ia menjadi pembicara utama. Namun
panitia juga mengundang seorang ustaz muda dari Indonesia bernama Ustaz Malik,
yang dikenal dengan pendekatan dialogis, tenang, dan rasional.
Nama itu terdengar asing bagi Stewart.
“Aku akan
pastikan dia pulang dengan malu,” katanya pada asistennya.
Ia bahkan
mempelajari Islam—bukan untuk memahami, melainkan untuk menyerang.
Di buku
catatannya ia menulis:
“Islam adalah agama salah tafsir. Mereka menyembah Tuhan yang jauh dan tidak
mengenal kasih. Aku akan tunjukkan bahwa kasih hanya ada dalam Kristus.”
Sementara itu, di belahan dunia lain, Ustaz Malik bersiap dengan cara berbeda. Ia tidak menyiapkan serangan, tidak pula berniat menang debat. Ia hanya berdoa agar diberi ketenangan dan hikmah.
Keesokan harinya, ratusan orang memenuhi aula besar tempat
konferensi Faith and Logic: Global Interfaith Dialogue diselenggarakan.
Tokoh-tokoh agama dari berbagai negara hadir—pendeta, pastor, rabi, biksu, dan
ulama.
Di sisi kanan panggung duduk Pastor Stewart, mengenakan jas
abu-abu gelap, dasi merah menyala, dan salib besar di lehernya. Di sisi kiri,
duduk seorang pria muda berusia sekitar 30 tahun, berjanggut tipis, bermata
teduh—Ustaz Malik.
Moderator, seorang profesor teologi asal Kanada, membuka
acara.
“Baik, kita mulai
dengan pernyataan pembuka.”
Stewart berdiri
terlebih dahulu.
“Saya berdiri di
sini bukan untuk berdebat, tetapi membela kebenaran iman kami. Di dunia ini
hanya ada satu jalan menuju keselamatan, yaitu Yesus Kristus. Dan saya
tegaskan, jika ada satu orang saja yang bisa membuktikan bahwa Yesus bukan
Tuhan, maka saya akan masuk Islam saat itu juga.”
Sorak sorai menggema. Stewart duduk dengan senyum puas.
Giliran Ustaz
Malik berdiri. Suaranya lembut, namun jelas.
“Saya tidak
datang untuk menyerang keyakinan siapa pun. Kebenaran tidak perlu diteriakkan,
cukup dijelaskan dengan jujur.”
Ia membuka kitab
tebal—Alkitab.
“Saya akan
menggunakan kitab yang diyakini Pastor Stewart, agar tidak ada prasangka.”
Ia membaca dengan tenang:
Yohanes 17:3…
Lalu berkata
lembut,
“Jika Yesus
adalah Tuhan, mengapa ia menyebut Allah lain sebagai satu-satunya yang benar?”
Ia melanjutkan:
Markus 13:32…
“Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin ia tidak
mengetahui sesuatu yang hanya diketahui oleh Tuhan?”
Ruangan mulai sunyi. Beberapa hadirin saling berpandangan.
Stewart terdiam. Wajahnya tegang.
“Saya tidak menafsirkan, Pastor,” ujar Malik tenang.
“Saya hanya membaca apa yang tertulis.”
Dan pada saat
itulah, retakan pertama dalam kesombongan itu mulai terlihat.
“Apakah Yesus
Pernah Berkata: Aku adalah Tuhan, Sembahlah Aku?”
Stewart terdiam.
Matanya bergerak cepat, seolah sedang mengingat sesuatu yang jauh di dalam
pikirannya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab,
“Ayat-ayat
tentang ketuhanan Yesus sangat banyak.”
Malik mengangguk pelan.
“Benar, Pastor. Tetapi saya bertanya sesuatu yang spesifik.
Adakah kalimat langsung dari mulut Yesus sendiri yang menyatakan bahwa ia
adalah Tuhan dan memerintahkan manusia untuk menyembahnya?”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Stewart tidak menjawab. Ia membuka-buka Alkitab di
hadapannya, membalik halaman demi halaman, mencari ayat yang bisa ia bacakan.
Namun, tidak satu pun ia temukan. Beberapa penonton menunduk. Sebagian lain
menatap layar besar di belakang panggung yang masih menampilkan ayat-ayat yang
sebelumnya dibacakan Malik.
Suara moderator terdengar lirih, mencoba meredakan suasana.
“Mungkin Pastor Stewart ingin
menanggapi nanti. Untuk saat ini, kita beri kesempatan Ustaz Malik menyampaikan
pernyataan penutup.”
Malik menatap ke
arah kamera. Nada suaranya tetap tenang, tanpa sedikit pun kesan menghakimi.
“Saudara-saudaraku,”
katanya, “Islam tidak menolak Yesus. Kami menyebutnya Isa Al-Masih, seorang
nabi besar yang diutus membawa petunjuk dan kebenaran. Kami mencintainya. Namun
kami tidak menyembahnya, karena beliau sendiri menyembah Allah.”
Ia menundukkan
kepala dengan hormat, lalu kembali duduk.
Ruangan hening
beberapa detik. Kemudian tepuk tangan panjang bergema. Bukan karena penonton
berpihak, melainkan karena ketenangan dan keberanian yang ditunjukkan Malik di
hadapan salah satu pendeta paling berpengaruh di Amerika.
Stewart mencoba
tersenyum. Namun suaranya terdengar serak ketika ia berbicara ke mikrofon.
“Anak muda itu
pandai memainkan kata-kata. Tuhan tidak bisa dijelaskan dengan logika.”
Moderator kembali berusaha menenangkan suasana, tetapi banyak orang telah menyadari satu hal: Pastor Stewart kalah dalam argumen—bukan dengan hinaan, bukan dengan debat panas, melainkan dengan ayat-ayat dari kitab yang ia yakini sendiri.
Awal Retaknya Keyakinan
Setelah acara berakhir, Stewart berjalan cepat menuju ruang
ganti. Napasnya berat, wajahnya tegang. Ia menolak wawancara media dan langsung
masuk ke mobil hitamnya.
Di dalam mobil, ia terdiam. Kata-kata Malik terus bergema di kepalanya:
“Apakah Yesus
pernah berkata: Aku Tuhan, sembahlah Aku?”
Ia menutup mata,
berusaha mengusir pertanyaan itu. Namun semakin ia menolak, semakin dalam
kalimat itu tertancap di benaknya.
Malam itu, video debat mereka diunggah ke internet dan
langsung viral. Judul-judul sensasional bermunculan:
“Pastor Tersudut oleh Ustaz Muda Muslim di Forum Dunia.”
Ribuan komentar
membanjiri media sosial. Untuk pertama kalinya dalam karier panjangnya, Pastor
Stewart tidak tahu harus berkata apa.
Ia duduk sendirian di kamar hotel. Lampu redup. Alkitab
terbuka di depannya. Namun pikirannya tak lagi tenang. Ayat-ayat yang selama
ini ia gunakan sebagai pembenaran iman kini terasa seperti teka-teki yang
mengguncang fondasi keyakinannya.
Malam itu ia tidak tidur. Ia hanya duduk menatap salib di
atas meja dan bergumam pelan,
“Ya Tuhan… apakah aku telah salah selama ini?”
Hari itu menjadi awal dari retaknya iman seorang pendeta yang sombong—bukan karena kalah debat, melainkan karena hatinya mulai melihat sesuatu yang selama ini tertutup oleh kesombongan.
Malam Panjang di Kamar Hotel
Di kamar hotel lantai sepuluh, suasana benar-benar sunyi.
Hanya suara pendingin udara yang berdesir pelan. Di luar jendela, lampu-lampu
kota berkelip, tetapi bagi Stewart semuanya tampak suram.
Ia duduk di tepi
ranjang, Alkitab terbuka di pangkuannya. Sudah lebih dari dua puluh tahun ia
berkhotbah, mengajar, bahkan menantang siapa pun yang meragukan imannya. Namun
malam itu, untuk pertama kalinya, ia benar-benar ragu.
Pertanyaan
sederhana itu kembali menghantam hatinya:
Apakah Yesus
pernah berkata: Aku Tuhan?
Ia membalik
halaman demi halaman. Yohanes pasal pertama. Roma pasal sepuluh. Filipi pasal
dua. Ayat-ayat yang biasa ia gunakan untuk menjelaskan ketuhanan Yesus. Namun
kini, setiap kali ia membaca, hatinya justru menolak.
Matanya terhenti
pada Matius 26:39.
“Yesus maju
sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya: ‘Ya Bapa-Ku, jika sekiranya mungkin,
biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku…’”
Ia menutup kitab itu cepat-cepat.
“Tidak… ini pasti
penafsiran yang salah. Ini hanya ujian iman.”
Namun semakin ia
menolak, semakin kuat rasa sesak di dadanya.
Teleponnya berdering. Nama Pastor Greg, sahabat lamanya
sekaligus pendeta senior di Dallas, muncul di layar.
“Apa yang terjadi di sana?” suara Greg terdengar tajam.
“Kau jadi bahan
tertawaan internet. Semua media membicarakanmu.”
“Aku tahu,” jawab
Stewart lirih.
“Itu hanya
kesalahpahaman.”
“Kau harus
membuat klarifikasi besok pagi,” kata Greg tegas.
“Jangan biarkan
orang berpikir kau kalah.”
Stewart menatap kosong ke arah jendela.
“Aku tidak peduli siapa yang kalah atau menang,” ucapnya
lemah.
“Aku hanya… tidak
bisa berhenti memikirkan apa yang dia katakan.”
Telepon ditutup. Niat baik Greg justru membuat hatinya semakin kacau. Ia bukan takut kehilangan reputasi atau gereja. Ia takut menemukan bahwa selama ini ia mungkin salah.
Kehampaan
Seorang Pendeta
Pukul dua dini
hari, Stewart masih terjaga. Ia berdiri di depan cermin besar. Wajahnya
tampak lelah, matanya merah.
“Siapa sebenarnya Tuhan?” gumamnya.
“Apakah aku benar-benar mengenal-Nya, atau hanya mengenal
apa yang diajarkan orang lain tentang-Nya?”
Doa yang biasanya
mengalir lancar kini terasa hampa.
“Ya Tuhan,
kuatkan imanku,” bisiknya.
Namun kalimat itu berhenti di tenggorokannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu kepada siapa ia berbicara.
Kejatuhan di Hadapan Jemaat
Keesokan paginya, wartawan telah menunggu di depan hotel.
“Pastor Stewart, apakah Anda menyesal?”
“Apakah Anda akan
menepati janji masuk Islam?”
Pertanyaan bertubi-tubi. Stewart hanya menunduk dan berjalan
cepat menuju mobil.
Dalam perjalanan
menuju bandara, sopirnya bertanya pelan,
“Pastor, apakah Anda baik-baik saja?”
Stewart
menggeleng.
“Saya tidak tahu…
apakah saya masih orang yang sama seperti kemarin.”
Beberapa hari
kemudian, ia kembali ke Carolina Utara. Jemaat memenuhi gereja, menunggu
klarifikasi. Namun Stewart tidak muncul. Ia mengurung diri di rumah, bahkan
tidak menghadiri kebaktian Minggu.
Martha, istrinya,
masuk ke ruang kerja. Ruangan itu berantakan—buku-buku teologi berserakan,
catatan robek di mana-mana. Stewart duduk dengan wajah pucat.
“Martha,” katanya
pelan,
“aku rasa… aku
tidak tahu siapa Tuhan itu.”
Martha terdiam.
“Jangan bicara begitu. Kau hanya lelah. Tuhan sedang mengujimu.”
Stewart menatapnya dengan mata bergetar.
“Jika ini ujian, kenapa aku melihat hal-hal yang tak bisa kubantah?”
Awal
Perjalanan Baru
Suatu malam, ia
menonton ulang debat itu. Kali ini bukan sebagai pembela iman, melainkan
sebagai pencari kebenaran. Ia memperhatikan Malik—tenang, tulus, tanpa
kesombongan.
Di akhir rekaman,
Malik berkata,
“Tuhan tidak
butuh disembah melalui perantara. Dia dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher
kita.”
Air mata Stewart
jatuh. Namun kali ini bukan karena malu, melainkan karena ia mulai mengerti
sesuatu—sesuatu yang selama ini tak pernah ia temukan di atas mimbar.
Malam itu ia
berdoa lirih,
“Ya Tuhan, jika
Engkau benar-benar ada, tunjukkanlah jalan menuju-Mu. Aku hanya ingin
mengenal-Mu tanpa kebohongan.”
Dan di situlah perjalanan baru itu dimulai.
Tuhan yang
dulu aku sembah dari jauh, kini terasa sangat dekat.
Stewart berhenti menulis. Tangannya gemetar. Ia menatap kalimat terakhir itu lama sekali,
seolah baru menyadari maknanya. Selama ini ia berbicara tentang Tuhan dengan
suara lantang, di mimbar megah, di hadapan ribuan orang. Namun baru sekarang ia
merasa sedang berbicara kepada Tuhan—bukan tentang Tuhan.
Malam itu ia tidak langsung tidur. Ia membuka kembali terjemahan Al-Qur’an dan
membaca perlahan, tanpa target, tanpa niat membuktikan apa pun. Ia membaca
seolah-olah sedang mendengarkan.
Ayat demi ayat
terasa seperti berbicara langsung kepadanya—tentang keikhlasan, tentang
kesabaran, tentang manusia yang rapuh tetapi dicintai Tuhan. Tidak ada ancaman,
tidak ada paksaan. Hanya pengingat bahwa manusia diciptakan untuk mengenal dan
menyembah Tuhan yang Maha Esa.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berdoa tanpa merasa perlu membela apa pun.
Percakapan yang Mengubah Segalanya
Beberapa hari kemudian, Stewart kembali bertemu Malik. Kali ini bukan di kedai kopi, melainkan
berjalan kaki menyusuri taman kota yang sepi. Daun-daun gugur menutupi jalan
setapak. Udara dingin, tetapi menenangkan.
“Apa yang paling
menakutkan bagimu sekarang?” tanya Malik pelan.
Stewart terdiam
sejenak.
“Bukan kehilangan
gereja,” jawabnya akhirnya.
“Bukan kehilangan
reputasi. Yang paling aku takuti… adalah jika suatu hari nanti aku tahu
kebenaran, tetapi memilih menolaknya.”
Malik mengangguk.
“Itu ketakutan
yang sehat.”
Stewart berhenti
melangkah. Ia menatap Malik dengan mata berkaca-kaca.
“Aku merasa
seperti telah menghabiskan hidupku berbicara atas nama Tuhan, tetapi tidak
pernah benar-benar mendengarkan-Nya.”
Malik tersenyum
lembut.
“Kadang Tuhan membiarkan kita berjalan jauh, agar saat kita kembali, kita datang dengan rendah hati.”
Retaknya Rumah
Tangga
Namun perjalanan
itu tidak berjalan tanpa luka.
Di rumah, suasana
semakin tegang. Martha semakin sering diam. Anak-anak mereka mulai mendengar
bisikan di sekolah, membaca berita di ponsel mereka.
Suatu malam,
putra sulungnya memberanikan diri bertanya,
“Ayah… apakah
Ayah masih percaya kepada Yesus?”
Pertanyaan itu
menghantam lebih keras daripada kritik media mana pun.
Stewart menarik
napas panjang.
“Ayah masih
percaya kepada Tuhan,” jawabnya jujur.
“Ayah sedang berusaha mengenal-Nya dengan jujur.”
Anaknya tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan pergi ke kamarnya.
Malam itu Stewart menangis sendirian. Bukan karena ragu pada jalan yang ia tempuh, tetapi karena sadar bahwa kebenaran sering kali menuntut pengorbanan yang paling mahal.
Titik Balik
Beberapa minggu
kemudian, Stewart menerima pesan singkat dari Malik:
“Jika suatu
hari hatimu siap, aku akan menemanimu. Tidak ada paksaan. Tidak ada saksi.
Hanya kejujuran.”
Pesan itu
sederhana, tetapi berat.
Malam itu Stewart
kembali ke masjid kecil di pinggiran kota. Kali ini ia tidak bersembunyi. Ia
masuk dengan langkah perlahan, duduk di saf paling belakang. Tidak ada yang
mengenalnya. Tidak ada yang memperhatikannya.
Ketika imam
mengucapkan takbir, Stewart menutup mata. Ia tidak menghafal bacaan salat,
tetapi ia mengikuti gerakan dengan hati. Saat dahi menyentuh lantai, ia
merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya—bukan iman, melainkan kesombongan.
Dalam sujud itu, ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menangis.
Kesaksian yang Jujur
Beberapa hari kemudian, di ruang tamu rumah Malik yang
sederhana, Stewart duduk dengan tubuh gemetar. Tidak ada kamera. Tidak ada
mimbar. Tidak ada tepuk tangan.
Hanya dua orang, dan sebuah keputusan.
“Aku siap,”
katanya lirih.
Malik menatapnya,
memastikan.
“Ini bukan pelarian. Ini bukan pemberontakan. Ini adalah kesaksian antara
engkau dan Tuhan.”
Stewart
mengangguk. Air mata mengalir tanpa ia sadari.
Dengan suara
bergetar, ia mengucapkan kata demi kata—perlahan, jujur, tanpa drama.
Ketika kalimat
itu selesai, ruangan hening.
Tidak ada cahaya
turun dari langit. Tidak ada suara guntur. Tidak ada keajaiban visual.
Namun Stewart
merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya:
kelegaan yang dalam, dan kedamaian yang utuh.
Epilog Fase ini
Ia tidak langsung mengumumkan apa pun. Tidak membuat
konferensi pers. Tidak menulis pernyataan sensasional. Ia memilih diam,
belajar, dan merendah.
Di buku catatan kecilnya, ia menulis kalimat terakhir:
Aku dulu
mencari Tuhan di atas mimbar.
Hari ini aku
menemukannya saat aku bersujud sebagai hamba.
Dan untuk pertama
kalinya dalam hidupnya,
ia tidak lagi berbicara tentang Tuhan dengan suara lantang—
ia mendengarkan-Nya dengan hati yang tenang.
“Apa benar semua yang orang-orang bilang?”
Suara Emily di ujung telepon bergetar, bercampur marah dan
takut
“Kau sudah meninggalkan gereja? Kau membaca kitab agama
lain?”
Store terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang.
“Ya, Emily,”
jawabnya pelan. “Ayah sedang belajar. Ayah ingin mengenal Tuhan lebih
dalam.”
“Lebih dalam?” suara Emily meninggi.
“Kau sudah jadi
pendeta selama dua puluh tahun! Apa lagi yang belum kau pahami?”
Stewart menutup mata.
“Justru itu, Nak. Ayah baru sadar betapa sedikit yang
benar-benar Ayah pahami.”
“Dad, semua orang
menertawakan kita di kampus!”
Nada suara Emily
pecah. “Teman-temanku bilang Ayah gila. Mereka bilang Ayah mengkhianati
iman.”
“Emily, tolong dengarkan Ayah—”
“Tidak!”
Tangisnya
meledak. “Kau mempermalukan keluarga kita!”
Telepon terputus.
Store menatap layar ponsel yang kini gelap. Lama. Sangat lama.
Ia menunduk,
menutup wajah dengan kedua tangan. Air matanya mengalir—bukan karena marah,
melainkan karena sedih yang dalam.
“Ya Tuhan,”
bisiknya lirih,
“Aku tidak ingin kehilangan mereka. Tapi aku juga tidak bisa kembali menjadi orang yang buta.”
Belajar Bersujud
Hari-hari berikutnya ia semakin tenggelam dalam pencarian.
Ia belajar wudhu.
Belajar salat. Menghafal surat-surat pendek dengan bimbingan Malik.
Setiap malam, ia
mempraktikkan gerakan sujud sendirian di kamarnya.
Awalnya ragu.
Kaku. Asing.
Namun perlahan,
ada sesuatu yang berubah.
Sujud itu…
membuat dadanya lega.
Suatu malam,
setelah menirukan bacaan salat dengan suara terbata-bata, ia menatap langit
dari balik jendela dan berbisik,
“Ya Allah…
Aku tidak tahu
apakah aku sudah pantas menyebut-Mu dengan nama itu.
Tapi aku merasa
Engkau mendengarkan setiap bisikanku.”
Hatinya bergetar.
Air mata jatuh. Kepalanya tertunduk.
Untuk pertama
kalinya dalam hidupnya,
ia berdoa bukan
karena kewajiban—
melainkan karena cinta.
Badai Datang
Namun ujian belum selesai.
Suatu pagi, ia
menemukan halaman depan surat kabar lokal memuat fotonya dengan judul besar:
PASTOR TERKENAL DIDUGA MASUK ISLAM — GEREJA TERKEJUT
Berita itu
menyebar ke seluruh Amerika.
Wartawan berkumpul di depan rumah. Kamera dan mikrofon
berjajar di pagar.
Martha berdiri gemetar di dekat jendela.
“Kau lihat ini?”
suaranya hampir menjerit.
“Sekarang semua
orang tahu! Apa yang akan kita katakan pada tetangga?”
Store menatap kerumunan di luar dengan tenang.
“Aku tidak perlu
menjelaskan apa pun. Aku tidak berbuat jahat.”
“Ini
pengkhianatan!”
Martha berteriak.
“Kau sadar apa yang kau lakukan?”
Ia menatap istrinya dalam-dalam.
“Aku tidak meninggalkan Yesus, Martha. Aku baru benar-benar
mengenalnya.”
“Apa maksudmu?”
“Yesus tidak pernah menyuruh orang menyembah dirinya,” jawab
Store lembut.
“Dia menyuruh
mereka menyembah Tuhan yang ia sembah. Aku hanya mengikuti ajaran Yesus
yang sebenarnya.”
Wajah Martha runtuh.
“Aku tidak mengenalmu lagi,” katanya pelan, lalu berbalik dan pergi.
Malam Keputusan
Malam itu Store duduk sendirian di ruang tamu yang gelap.
Salib di dinding memantulkan bayangan panjang di bawah
cahaya lampu—
seperti beban masa lalu yang menggantung.
Ia berdiri.
Mendekat. Menyentuh salib itu.
Perlahan ia menurunkannya dari paku dan meletakkannya di meja.
Ia menatapnya
lama.
“Terima kasih,”
katanya pelan.
“Kau telah
menuntunku sejauh ini. Tapi sekarang aku harus melanjutkan perjalananku
sendiri.”
Ia menutup mata.
Menarik napas dalam.
Bibirnya bergetar
mengucapkan kata-kata yang selama ini ia tahan:
“Aku bersaksi
bahwa tiada Tuhan selain Allah…
dan Muhammad
adalah utusan Allah.”
Air mata jatuh
deras.
Tidak ada musik.
Tidak ada upacara.
Hanya kesunyian—
dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Setelah Keputusan
Keesokan paginya ia bangun dengan senyum kecil.
Udara terasa
lebih segar. Matahari lebih hangat. Langkahnya lebih ringan.
Ia tahu hidupnya
tidak akan mudah.
Dunia mungkin
akan menolaknya.
Namun hatinya
telah memilih.
Di buku
catatannya ia menulis:
Dulu aku
berdiri di mimbar untuk menunjukkan keyakinanku.
Kini aku
bersujud di lantai untuk menunjukkan kerendahan hatiku.
Dan di sanalah
aku menemukan Tuhan.
Namun perjalanan barunya baru saja dimulai.
Surat Itu
Beberapa hari
kemudian, ia menemukan sepucuk surat di meja.
Aku
mencintaimu.
Tapi aku tidak
bisa hidup dengan seseorang yang menolak Tuhan yang kusembah.
Maaf. Aku harus pergi.
Aku harap
suatu hari kau menemukan apa yang kau cari—meski itu bukan bersama kami.
Ia membaca surat
itu berulang kali.
Dulu ia selalu
menangis.
Kali ini, tidak.
Ia hanya menatap
ke arah jendela dan berbisik,
“Ya Allah… jika kehilangan ini adalah harga untuk mengenal-Mu, aku menerimanya.”
Masjid Kecil di Pinggiran Kota
Ia kembali ke masjid kecil tempat Malik mengajar.
Langit cerah.
Anak-anak berlarian di halaman. Tawa mereka sederhana—dan tulus.
Seorang pria tua
menghampirinya.
“Maaf, Tuan. Anda
mencari seseorang?”
“Saya mencari
Ustaz Malik.”
Tak lama Malik
keluar, tersenyum hangat.
“Saudaraku.”
Mereka berjabat tangan. Genggaman Store kuat dan mantap.
“Ustaz,” katanya
pelan,
“aku sudah
mengucapkan syahadat. Tapi aku tidak tahu bagaimana melangkah
selanjutnya.”
Malik menepuk bahunya.
“Kau sudah melangkah. Langkah pertamamu adalah keikhlasan. Sekarang kita belajar berjalan bersama Allah.”
Diterima
Hari-hari berlalu.
Ia belajar salat dengan sungguh-sungguh. Bacaan masih kaku,
tapi hatinya selalu bergetar saat sujud.
Suatu Jumat, ia
ikut salat di Masjid Besar Kota.
Saat sujud
terakhir, air matanya jatuh ke lantai masjid.
Ia tidak peduli
siapa yang melihat.
Setelah salat,
seorang jamaah menyalaminya.
“Saudara baru.
Selamat datang. Kau tidak sendiri di sini.”
Kalimat sederhana
itu hampir membuatnya menangis.
Ia merasa seperti seseorang yang akhirnya pulang.
Cahaya yang Kembali
Suatu malam, sebuah email masuk.
Dari Emily.
Aku menonton
wawancaramu.
Aku marah… tapi aku juga menangis.
Entah kenapa aku merasa kau bukan kehilangan iman—kau justru menemukan
kedamaian.
Aku tidak mengerti Islam, tapi aku ingin tahu.
Bolehkah aku
datang?
Stewart menatap
layar lama sekali.
Matanya basah.
Senyum perlahan muncul.
“Ya Allah,”
bisiknya,
“Engkau mengambil
sesuatu dariku… dan mengembalikannya dengan cara yang lebih indah.”
Namun kisah ini belum berakhir.
Di sebuah gereja besar di pinggiran kota, jemaat berkumpul
lebih banyak dari biasanya.
Bukan untuk kebaktian.
Melainkan untuk mendengar sebuah pengumuman—yang kelak akan
mengguncang lebih banyak hati daripada yang pernah mereka bayangkan.
Ahmad mengangguk pelan.
“Benar, Ustaz. Allah
punya cara yang luar biasa untuk menundukkan hati manusia.”
Ia kembali
menatap langit senja yang memerah. Awan bergerak perlahan, seolah waktu pun
berjalan lebih pelan di tempat itu. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun,
ia tidak merasa dikejar oleh siapa pun—bukan jemaat, bukan kamera, bukan
tuntutan untuk selalu benar.
“Dulu,” katanya
lirih,
“aku hidup dari
tepuk tangan. Dari pujian. Dari rasa ‘dibutuhkan’. Tapi hatiku kosong.”
Ustaz muda itu
duduk di sampingnya.
“Sekarang?”
“Sekarang aku
tidak dikenal siapa-siapa,” Ahmad tersenyum tipis.
“Dan justru di situlah aku merasa dikenal oleh Allah.”
Hidup yang
Baru
Hari-hari Ahmad
berjalan sederhana.
Ia tinggal di sebuah kamar kecil di belakang masjid.
Kasurnya tipis, mejanya kecil, dan lemari kayunya sudah tua. Namun setiap sudut
ruang itu dipenuhi ketenangan.
Setiap subuh, ia bangun sebelum azan.
Berwudhu dengan air dingin.
Berdiri menghadap kiblat dengan bacaan yang masih
terbata-bata.
Namun setiap kali ia mengucap Allahu Akbar, dadanya
terasa lapang—seakan beban puluhan tahun dilepaskan satu per satu.
Kadang ia salah
baca. Kadang ia lupa urutan rakaat.
Ia tersenyum pada dirinya sendiri.
“Ya Allah,”
doanya suatu pagi,
“aku bukan hamba yang pintar. Tapi aku ingin menjadi hamba yang jujur.”
Ujian yang Sunyi
Namun ujian tidak selalu datang dengan suara keras.
Sebagian datang dalam kesunyian.
Pada malam-malam tertentu, ketika masjid telah sepi, Ahmad
duduk sendiri.
Kenangan lama datang tanpa diundang:
wajah Martha, tawa anak-anak, suara Emily saat kecil
memanggilnya Ayah.
Dadanya sesak.
“Apakah aku egois?”
pertanyaan itu sering muncul di benaknya.
Ia membuka Al-Qur’an, membaca ayat yang telah ia tandai
dengan tinta biru:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya.
Air matanya jatuh
perlahan.
“Jika ini
ujian-Mu, ya Allah,” bisiknya,
“maka kuatkan aku untuk menjalaninya dengan sabar.”
Pertemuan Tak Terduga
Suatu sore, seorang pria paruh baya datang ke masjid.
Wajahnya asing. Pakaiannya rapi, namun matanya tampak lelah.
“Maaf,” katanya
pelan.
“Apakah benar di
sini ada seorang mantan pendeta… yang kini menjadi Muslim?”
Ahmad terdiam sejenak, lalu berdiri.
“Saya Ahmad,”
katanya sederhana.
Pria itu
menunduk.
“Aku… tidak datang untuk berdebat. Aku hanya ingin
bertanya.”
Mereka duduk di teras masjid. Tidak ada argumen. Tidak ada
dalil yang saling ditimpakan.
Hanya dua manusia yang berbicara tentang kegelisahan.
Ketika pria itu pergi, ia menggenggam tangan Ahmad erat.
“Terima kasih. Aku belum siap berubah,” katanya jujur,
“tapi hari ini
aku merasa didengar.”
Ahmad menatap punggungnya yang menjauh.
Ia tersenyum kecil.
“Dulu aku berbicara untuk mengubah orang,” gumamnya.
“Sekarang aku cukup hadir.”
Cahaya yang Pelan
Bulan berganti bulan.
Nama Ahmad Stewart tidak lagi sering muncul di media. Dunia
menemukan sensasi baru. Namun di lingkar kecil itu—masjid sederhana, anak-anak
yang belajar mengaji, para mualaf yang masih ragu—ia menemukan makna hidup yang
tidak pernah ia temukan di panggung mana pun.
Suatu malam,
Ustaz muda itu berkata,
“Ahmad, kau sadar
tidak? Allah tidak hanya mengubah keyakinanmu. Dia mengubah caramu mencintai.”
Ahmad terdiam.
“Dulu kau
mencintai Tuhan dengan ego,” lanjut sang ustaz.
“Sekarang kau
mencintai-Nya dengan kerendahan.”
Ahmad tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Mungkin… itulah
iman yang selama ini kucari.”
Epilog Fase Ini
Di buku catatan kecilnya, Ahmad menulis:
Aku pernah berdiri di mimbar untuk menghakimi dunia.
Kini aku duduk di lantai masjid untuk belajar mengenal
diriku sendiri.
Aku kehilangan
banyak hal, tetapi aku menemukan Allah.
Dan itu cukup.
Ia menutup buku
itu perlahan.
Di luar, azan Isya berkumandang.
Ahmad berdiri, melangkah ke dalam masjid.
Bukan sebagai
pendeta.
Bukan sebagai
tokoh.
Hanya sebagai seorang hamba—yang akhirnya pulang.
Dulu aku mengira
iman adalah soal kemenangan dalam perdebatan.
Sekarang aku
tahu, iman sejati adalah ketika hati menyerah tanpa perlu menang.
Beberapa bulan
kemudian, sebuah stasiun televisi lokal mengundangnya kembali. Bukan untuk
berdebat, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk berbagi kisah. Awalnya
Ahmad ragu. Ia takut perjalanannya kembali dijadikan sensasi murahan. Namun
setelah berpikir panjang, ia menerima undangan itu dengan satu syarat
sederhana:
“Aku tidak ingin
memojokkan siapa pun. Aku hanya ingin berbicara tentang perjalanan mencari
Tuhan.”
Acara itu
ditayangkan langsung. Ribuan pasang mata menyaksikan sosok yang dulu dikenal
sebagai pendeta keras kepala, kini duduk dengan wajah tenang dan suara lembut.
Pembawa acara
bertanya,
“Ahmad, mengapa
Anda sampai meninggalkan iman lama Anda? Bukankah dulu Anda sangat
meyakininya?”
Ahmad tersenyum
pelan.
“Saya tidak
meninggalkan iman saya,” jawabnya.
“Saya justru
menemukannya.”
Studio terdiam.
“Saya menemukan
Tuhan yang tidak membutuhkan pembelaan,” lanjutnya tenang.
“Tuhan yang tidak
harus menjelma menjadi manusia untuk menunjukkan kasih-Nya. Tuhan Yang Esa,
sempurna, dan tidak dibatasi ruang serta waktu.”
Ruangan itu
hening. Kamera seolah lupa bergerak.
Ahmad menatap
langsung ke lensa.
“Saya tidak ingin
memaksa siapa pun mengikuti jalan saya. Tapi bagi siapa pun yang sedang mencari
kebenaran—carilah dengan hati, bukan dengan warisan, bukan dengan tradisi.
Tuhan tidak jauh dari kita. Yang sering menjauhkan hanyalah kesombongan kita
sendiri.”
Siaran itu menjadi viral.
Ada yang tersentuh. Ada yang marah. Ada yang mencemooh.
Namun bagi Ahmad,
semua itu tak lagi penting.
Ia telah mengatakan apa yang perlu dikatakan.
Tahun-tahun berlalu.
Ahmad Stewart—atau Ahmad saja, seperti yang ia
sukai—menghabiskan hidupnya untuk dakwah damai. Ia mengunjungi universitas,
forum lintas iman, bahkan gereja-gereja kecil. Bukan untuk berdebat, bukan
untuk membuktikan siapa benar dan siapa salah, melainkan untuk berbagi
pengalaman.
Ia selalu memulai
dengan kalimat yang sama:
“Saya pernah sombong.
Saya pernah menantang Tuhan.
Dan justru di
saat itulah Tuhan menunjukkan betapa kecilnya saya.”
Di akhir setiap
sesi, ia selalu menunduk dan berkata,
“Jangan ulangi
kesalahan saya.
Belajarlah dengan hati yang terbuka.
Karena kebenaran tidak datang kepada mereka yang merasa sudah tahu segalanya.”
Suatu pagi, setelah salat Subuh, Ahmad duduk sendirian di
masjid yang masih sepi. Udara dingin menyentuh kulitnya, tetapi hatinya hangat.
Ia menatap sajadahnya yang sudah mulai lusuh—satu-satunya benda yang selalu ia
bawa ke mana pun pergi.
“Ya Allah,” bisiknya lirih,
“aku kehilangan banyak hal di dunia ini.
Tapi Engkau menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih
besar:
kedamaian di dalam hati.”
Air mata mengalir pelan di pipinya.
Ia tersenyum.
Ia teringat dirinya yang dulu—berdiri di mimbar, berbicara
lantang dengan nada menantang, merasa paling benar.
Kini, tanpa suara
keras, tanpa debat, hatinya telah hancur dan dibangun kembali oleh cahaya
Allah.
Lā ilāha
illallāh.
Kalimat yang dulu
ia ragukan.
Kini menjadi pusat hidupnya.
Beberapa tahun kemudian, dunia mengenal Ahmad sebagai salah
satu mualaf paling berpengaruh di Amerika. Bukan karena masa lalunya sebagai pendeta, melainkan karena ketulusan
kisahnya.
Ia tak pernah
mengaku suci.
Ia selalu
berkata,
“Saya bukan orang
suci. Saya hanya orang yang pernah salah arah—lalu dituntun pulang.”
Dan di setiap akhir ceramah, ia selalu mengulang satu
kalimat yang menjadi inti seluruh perjalanannya:
“Kesombongan
menjauhkan manusia dari kebenaran.
Kerendahan hati membuka jalan menuju Tuhan.”
Langit sore di
atas masjid hari itu tampak indah, memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Angin
berhembus pelan, seolah mengamini doanya.
Ahmad menutup matanya.
Tersenyum damai.
Lalu berbisik,
“Alhamdulillah… akhirnya aku pulang.”
— TAMAT. —
#PastorMasukIslam
#DebatIslamKristen
#MualafAmerika
#KisahHidayah
#DialogLintasAgama