Menjaga Lisan dan Tulisan di Era
Media Sosial: Ketika Jari-Jemari Menjadi Wakil Lisan di Hadapan Allah SWT
Era Digital dan Perubahan Makna
Lisan
Kita hidup pada zaman ketika manusia
dapat berbicara kepada ribuan, bahkan jutaan orang, hanya dengan beberapa
sentuhan jari. Sebuah kalimat yang dahulu mungkin hanya terdengar oleh
orang-orang di sekitar kita, kini dapat tersebar dalam hitungan detik melalui
WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, X, YouTube, dan berbagai platform media
sosial lainnya.
Perubahan teknologi ini membawa
banyak kemudahan. Kita dapat menyampaikan ilmu, berbagi pengalaman,
mengingatkan dalam kebaikan, menyambung silaturahmi, memberikan dukungan kepada
orang lain, bahkan membantu seseorang yang sedang menghadapi kesulitan. Namun,
di balik kemudahan tersebut terdapat sebuah tanggung jawab besar yang sering
kali kita lupakan: setiap kata yang kita keluarkan dan setiap tulisan yang
kita sebarkan tetap memiliki konsekuensi moral dan agama.
Dahulu, lisan identik dengan suara
yang keluar dari mulut. Sekarang, dalam kehidupan digital, "lisan"
manusia dapat hadir dalam berbagai bentuk: ketikan, komentar, status, unggahan,
caption, pesan pribadi, meme, video, hingga emoji yang kita gunakan untuk
menyindir seseorang.
Karena itu, seorang Muslim perlu
menyadari bahwa jari-jemari yang mengetik pada layar ponsel juga harus
dikendalikan oleh iman sebagaimana lidah dikendalikan oleh akhlak.
Apa yang kita tuliskan di dunia maya
mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk dibuat. Namun, dampaknya
dapat bertahan jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan.
"Berkata Baik atau Diam"
Islam memberikan prinsip yang sangat
sederhana, tetapi memiliki kedalaman luar biasa dalam mengatur komunikasi
manusia. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini tidak hanya relevan ketika
kita sedang berbicara secara langsung dengan orang lain. Prinsipnya juga sangat
relevan dalam kehidupan digital.
Ketika hendak menulis komentar,
tanyakan kepada diri sendiri: apakah ini termasuk perkataan yang baik? Ketika
hendak membagikan sebuah berita, tanyakan: apakah informasi ini benar dan
bermanfaat? Ketika ingin membalas komentar yang menyakitkan, tanyakan: apakah
balasan saya akan menyelesaikan masalah atau justru memperpanjang permusuhan?
Jika jawabannya tidak jelas, maka diam
sering kali menjadi pilihan yang jauh lebih selamat.
Diam bukan berarti lemah. Diam juga bukan berarti tidak
mempunyai pendapat. Dalam banyak keadaan, diam justru merupakan bentuk
pengendalian diri. Seorang Muslim tidak harus menjawab semua komentar, membalas
semua kritik, atau memenangkan semua perdebatan.
Ada kalanya kemenangan yang sesungguhnya bukan ketika
kita berhasil mengalahkan orang lain dalam perdebatan, tetapi ketika kita
berhasil mengalahkan ego dalam diri sendiri.
Tulisanmu Adalah Tanggung Jawabmu
Di era media sosial, kita perlu
memahami bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian huruf. Tulisan dapat memengaruhi
pikiran, perasaan, reputasi, bahkan kehidupan seseorang.
Sebuah komentar yang kita anggap
sebagai candaan mungkin membuat orang lain merasa dipermalukan. Sebuah tuduhan
yang kita tulis tanpa bukti dapat merusak nama baik seseorang. Sebuah berita
yang kita sebarkan tanpa verifikasi dapat menimbulkan kepanikan. Bahkan sebuah
kalimat pendek yang bernada merendahkan dapat meninggalkan luka yang tidak
terlihat.
Dalam tradisi fikih dan etika Islam,
tulisan pada prinsipnya dapat memiliki konsekuensi hukum dan moral sebagaimana
komunikasi lisan ketika tulisan tersebut mengandung suatu pernyataan, tuduhan,
penghinaan, atau bentuk komunikasi yang memiliki dampak nyata. Karena itu,
jangan menganggap bahwa dosa menjadi ringan hanya karena dilakukan melalui
layar ponsel.
Allah SWT berfirman:
"Tiada suatu ucapan pun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu
hadir."
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini secara langsung berbicara
mengenai perkataan manusia. Dalam konteks kehidupan modern, pesan moralnya
dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh merasa bebas dari pengawasan
Allah hanya karena komunikasi dilakukan melalui media digital.
Ketika jari kita mengetik, hati kita
tetap harus mengingat Allah.
Ketika kita menekan tombol send,
kita tetap harus mempertimbangkan pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Teknologi mungkin mengubah cara
manusia berkomunikasi, tetapi teknologi tidak mengubah prinsip
pertanggungjawaban manusia kepada Allah SWT.
Jari-Jemari yang Akan Dimintai
Pertanggungjawaban
Al-Qur'an mengingatkan bahwa pada
hari akhirat manusia akan berhadapan dengan kesaksian anggota tubuhnya sendiri.
Allah SWT berfirman:
"Pada hari ini Kami tutup mulut
mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi
kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
(QS. Yasin: 65)
Ayat ini memberikan sebuah renungan
yang sangat kuat.
Tangan yang hari ini kita gunakan
untuk mengetik komentar, menyebarkan informasi, membuat unggahan, mengirim
pesan, atau meneruskan sebuah video adalah bagian dari anggota tubuh yang harus
kita pertanggungjawabkan penggunaannya.
Karena itu, sebelum jari bergerak,
hati perlu berhenti sejenak.
Tidak semua yang kita pikirkan harus
ditulis. Tidak semua yang kita ketahui harus diumumkan. Tidak semua kesalahan
orang lain harus kita sebarkan. Dan tidak semua provokasi harus kita jawab.
Kemampuan untuk menahan diri
merupakan bagian dari kedewasaan iman.
Ketika Media Sosial Menjadi Ruang
Ghibah Digital
Salah satu persoalan yang semakin
mudah ditemukan di media sosial adalah ghibah.
Ghibah bukan hanya terjadi ketika
seseorang duduk bersama teman-temannya kemudian membicarakan keburukan orang
lain. Ghibah dapat mengambil bentuk baru di ruang digital: membuat unggahan
sindiran, membicarakan seseorang dalam grup percakapan, mengunggah foto atau
video yang mempermalukan orang lain, membagikan cerita tentang aib seseorang,
atau menulis komentar yang membuat orang lain mengetahui keburukan seseorang.
Allah SWT memberikan peringatan yang
sangat tegas:
"Janganlah sebagian kamu
menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik."
(QS. Al-Hujurat: 12)
Perumpamaan tersebut sangat keras karena Islam ingin menunjukkan betapa buruknya ghibah. Di dunia digital, persoalan menjadi semakin serius karena sebuah pembicaraan yang dahulu hanya didengar oleh beberapa orang kini dapat direkam, disalin, dibagikan, dan disebarluaskan kepada ribuan orang.
Aib yang seharusnya tertutup dapat menjadi konsumsi publik. Karena itu, seorang Muslim perlu memiliki prinsip: jangan membuka aib orang lain hanya karena kita memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Hoaks dan Kewajiban Tabayyun
Persoalan lain yang sangat serius
adalah penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya.
Sebuah pesan masuk ke grup. Judulnya mengejutkan. Isinya membuat
marah. Kita merasa perlu segera membagikannya. Tanpa membaca sampai selesai,
tanpa memeriksa sumbernya, tanpa mencari informasi pembanding, kita langsung
menekan tombol forward.
Beberapa detik kemudian, berita tersebut sudah tersebar
ke banyak orang.
Padahal, Islam mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu
memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mengambil sikap.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang
fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar
kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu
menyesali perbuatanmu itu."
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini sangat relevan dengan
kehidupan media sosial.
Jangan menjadikan tombol share
sebagai jalan pintas untuk menyebarkan sesuatu yang belum kita pastikan
kebenarannya.
Cepat menyebarkan belum tentu cepat berbuat baik.
Terkadang, menunda beberapa menit
untuk melakukan verifikasi justru merupakan bentuk ketakwaan.
Cyberbullying
dan Luka yang Tidak Terlihat
Media sosial juga menghadirkan persoalan lain, yaitu cyberbullying
atau perundungan digital.
Ada orang yang merasa bebas menghina karena berada di
balik layar. Mereka menulis komentar yang mungkin tidak akan pernah berani
mereka ucapkan ketika berhadapan langsung dengan orang yang menjadi sasaran.
Wajah korban tidak terlihat. Air matanya tidak terlihat. Kekecewaannya tidak terlihat. Karena
itu, empati sering kali ikut menghilang.
Padahal, di balik sebuah akun media
sosial terdapat manusia yang memiliki perasaan, keluarga, kehormatan, dan harga
diri.
Kita mungkin menganggap satu
komentar sebagai sesuatu yang sepele. Namun, orang yang menerimanya mungkin
membacanya berulang kali dan membawanya dalam pikiran sepanjang hari.
Karena itu, jangan pernah merasa
bahwa kata-kata kasar menjadi halal hanya karena ditulis melalui layar.
Jangan membuat seseorang menangis
hanya karena kita ingin terlihat lucu di hadapan orang lain.
Jangan merendahkan orang lain demi
mendapatkan likes.
Jangan menghancurkan reputasi
seseorang demi mendapatkan views.
Dan jangan menjadikan penderitaan
orang lain sebagai bahan hiburan.
Kritik Boleh, Menghina Jangan
Islam tidak melarang manusia
memberikan kritik. Bahkan, saling menasihati dalam kebenaran merupakan bagian
penting dari kehidupan seorang Muslim.
Namun, kritik dan penghinaan adalah
dua hal yang berbeda.
Kritik berusaha memperbaiki
kesalahan. Penghinaan berusaha merendahkan manusia.
Kritik dapat disampaikan dengan
argumentasi. Penghinaan biasanya disertai cacian dan serangan terhadap pribadi.
Jika seseorang melakukan kesalahan,
kita boleh mengingatkannya. Tetapi cara menyampaikan nasihat juga merupakan
bagian dari akhlak.
Tidak semua kesalahan harus
diumumkan di hadapan publik.
Tidak semua nasihat harus
disampaikan di kolom komentar.
Tidak semua perbedaan pendapat harus berakhir dengan
permusuhan.
Terkadang, pesan pribadi yang santun jauh lebih efektif
daripada komentar panjang yang mempermalukan seseorang di hadapan ribuan
pengikutnya.
Tujuan dakwah adalah mengajak kepada kebaikan, bukan
memenangkan ego.
Jangan Terjebak dalam Perdebatan yang Tidak Berujung
Media sosial membuat manusia mudah masuk ke dalam
perdebatan.
Satu komentar dibalas. Balasan tersebut dibalas lagi.
Kemudian muncul komentar lain. Seseorang membawa persoalan pribadi. Orang lain
mulai menyerang karakter. Akhirnya, pembicaraan yang awalnya membahas sebuah
masalah berubah menjadi saling mencaci.
Dalam situasi seperti ini, seorang
Muslim perlu mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus meninggalkan
perdebatan.
Allah SWT berfirman mengenai sifat hamba-hamba Ar-Rahman:
"Dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik."
(QS. Al-Furqan: 63)
Tidak semua provokasi membutuhkan
respons.
Tidak semua tuduhan harus dibalas.
Tidak semua orang harus diyakinkan
bahwa kita benar.
Ada saatnya kita cukup mengatakan
dalam hati, "Allah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," kemudian
meninggalkan perdebatan tersebut.
Menjauh dari pertengkaran yang tidak
bermanfaat bukan kekalahan. Itu bisa menjadi kemenangan atas hawa nafsu.
Saring Sebelum Sharing
Sebelum membagikan sesuatu, seorang
Muslim dapat menggunakan beberapa pertanyaan sederhana.
Pertama, apakah informasi ini benar?
Jika belum yakin, jangan langsung
membagikannya.
Kedua, apakah informasi ini
bermanfaat?
Tidak semua informasi yang benar harus disebarkan. Ada
informasi yang benar tetapi tidak memiliki manfaat ketika disebarluaskan.
Ketiga, apakah informasi ini dapat
menyakiti atau merugikan orang lain?
Jika sebuah unggahan dapat
mempermalukan, memfitnah, atau menimbulkan kerugian yang tidak perlu, sebaiknya
kita berhenti sejenak.
Keempat, apakah saya siap
mempertanggungjawabkan tulisan ini di hadapan Allah?
Pertanyaan terakhir mungkin yang paling penting. Jika kita merasa ragu untuk menunjukkan tulisan tersebut kepada orang tua, guru, pasangan, anak, atau orang yang kita hormati, maka mungkin kita juga perlu bertanya apakah tulisan tersebut layak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Gunakan Media Sosial untuk Menanam Pahala
Media sosial sebenarnya bukan musuh
umat Islam.
Teknologi hanyalah alat. Baik
buruknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Satu unggahan dapat menjadi sumber
dosa. Tetapi satu unggahan juga dapat menjadi sumber pahala.
Kita dapat menggunakan media sosial
untuk membagikan ayat Al-Qur'an, hadis yang sahih, ilmu pengetahuan, pengalaman
yang bermanfaat, informasi kemanusiaan, motivasi, edukasi, dan pesan-pesan yang
menguatkan orang lain.
Kita dapat menghibur seseorang yang sedang sedih.
Kita dapat memberikan semangat kepada orang yang sedang
berjuang.
Kita dapat membantu menyebarkan informasi tentang
kegiatan sosial.
Kita dapat menyambung silaturahmi dengan keluarga dan
sahabat yang jauh.
Kita bahkan dapat menggunakan teknologi untuk berdakwah
kepada orang-orang yang tidak pernah kita temui.
Inilah kesempatan besar yang
diberikan oleh zaman kepada kita.
Dahulu seorang ustaz mungkin hanya
berbicara kepada ratusan orang di sebuah masjid. Kini, satu nasihat yang baik
dapat menjangkau jutaan manusia.
Namun, semakin luas jangkauan sebuah
pesan, semakin besar pula tanggung jawab moral di baliknya.
Jadikan Jejak Digital sebagai Jejak
Kebaikan
Setiap orang meninggalkan jejak di
dunia digital.
Foto, tulisan, komentar, video, dan
pesan yang kita buat dapat bertahan jauh lebih lama daripada yang kita
bayangkan. Karena itu, seorang Muslim hendaknya berpikir panjang sebelum
meninggalkan jejak digital.
Bayangkan suatu hari nanti anak-anak
kita membaca kembali tulisan kita.
Bayangkan keluarga kita melihat
kembali komentar yang pernah kita tulis.
Bayangkan orang-orang yang mengenal
kita menemukan kembali unggahan kita bertahun-tahun kemudian.
Lebih jauh lagi, bayangkan ketika
semua itu menjadi bagian dari catatan amal kita.
Pertanyaannya bukan hanya, "Apakah tulisan ini akan viral?"
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
"Apakah tulisan ini akan bernilai di hadapan
Allah?"
Sebab ukuran keberhasilan seorang Muslim bukanlah jumlah likes,
followers, views, atau shares.
Ukuran keberhasilan yang
sesungguhnya adalah apakah apa yang kita lakukan mendekatkan kita kepada ridha
Allah SWT.
Ketika Tidak Tahu Harus Menulis Apa,
Pilihlah Kebaikan
Tidak semua orang harus menjadi
pembicara. Tidak semua orang harus menjadi penulis. Tidak semua orang harus
selalu memberikan pendapat.
Namun, setiap Muslim dapat memilih
untuk tidak menyakiti orang lain.
Jika tidak mampu memberikan nasihat,
setidaknya jangan menghina.
Jika tidak mampu memberikan solusi,
setidaknya jangan memperkeruh masalah.
Jika tidak mampu membuat orang lain
bahagia, setidaknya jangan membuatnya semakin sedih.
Jika tidak mengetahui kebenaran
sebuah berita, jangan menyebarkannya.
Jika sedang marah, jangan mengetik.
Jika hati sedang penuh emosi, jangan
langsung menekan tombol send.
Tunggu.
Tarik napas.
Baca kembali.
Kemudian tanyakan kepada diri
sendiri:
"Apakah ini benar?"
"Apakah ini baik?"
"Apakah ini perlu?"
Jika jawabannya tidak, maka hapuslah.
Sebab terkadang satu-satunya tulisan
yang tidak pernah kita sesali adalah tulisan yang tidak pernah kita kirimkan.
Menjadikan Media Sosial sebagai
Ladang Amal
Pada akhirnya, media sosial adalah
sebuah pilihan.
Ia dapat menjadi tempat kita
menumpuk dosa atau tempat kita menanam pahala.
Ia dapat menjadi ruang untuk
menyebarkan kebencian atau ruang untuk menebarkan kasih sayang.
Ia dapat digunakan untuk membuka aib
atau menjaga kehormatan.
Ia dapat menjadi tempat pertengkaran
atau sarana silaturahmi.
Semuanya kembali kepada hati dan
jari-jemari kita.
Maka, mari kita mulai membangun
kebiasaan baru dalam bermedia sosial. Jangan hanya berpikir sebelum berbicara,
tetapi berpikirlah sebelum
mengetik. Jangan hanya menjaga lidah ketika
berada di hadapan manusia, tetapi jagalah pula jari-jemari ketika sendirian di
depan layar.
Sebab Allah melihat apa yang kita
lakukan ketika tidak ada manusia yang melihat.
Mari kita jadikan setiap tulisan
sebagai bagian dari amal yang ingin kita bawa menghadap Allah.
Jika kita dapat menulis sesuatu yang
bermanfaat, tulislah.
Jika kita dapat menguatkan
seseorang, kuatkanlah.
Jika kita dapat menyebarkan ilmu
yang benar, sebarkanlah.
Jika kita dapat menyambung
silaturahmi, lakukanlah.
Jika kita dapat membela orang yang
dizalimi dengan cara yang benar, lakukanlah.
Tetapi jika yang akan kita tulis
hanya akan menambah kebencian, mempermalukan seseorang, menyebarkan kabar yang
belum jelas, atau memperpanjang pertengkaran, maka berhentilah.
Tahan jari.
Tutup kolom komentar.
Letakkan ponsel.
Dan ingat kembali pesan Rasulullah
SAW:
"Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Di era ketika satu sentuhan jari
dapat menjangkau seluruh dunia, pesan ini terasa semakin penting.
Jagalah lisan. Jagalah tulisan.
Jagalah jari-jemari.
Sebab suatu hari nanti, semuanya
akan kembali kepada kita sebagai pertanggungjawaban.
Mari kita jadikan media sosial bukan
sebagai tempat meninggalkan luka, tetapi sebagai tempat meninggalkan kebaikan.
Bukan sebagai ruang untuk mencari
musuh, tetapi sebagai sarana menyambung persaudaraan.
Bukan sebagai tempat mempertontonkan
kesombongan, tetapi sebagai jalan untuk berbagi manfaat.
Dan bukan sekadar tempat mencari
perhatian manusia, tetapi sebagai salah satu jalan untuk mencari ridha Allah
SWT.
Ketik yang baik, atau diam.
Karena di balik setiap huruf ada tanggung jawab, di balik
setiap unggahan ada konsekuensi, dan di balik setiap jejak digital ada catatan
amal yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
#DakwahIslam
#AkhlakMuslim
#MediaSosial
#JagaLisan
#JejakDigital
