Pendahuluan
Dalam praktik budidaya akuakultur modern yang
bersifat komersial dan menggunakan kepadatan tebar tinggi, pemberian pakan
memegang peranan sentral dalam menentukan pertumbuhan, efisiensi pakan,
kesehatan, dan tingkat kelangsungan hidup organisme budidaya. Formulasi pakan
akuakultur (aquafeed) saat ini dirancang dengan keseimbangan nutrien yang
presisi untuk mendukung performa fisiologis ikan dan udang secara optimal.
Dalam konteks ini, mikroalga Spirulina—yang secara taksonomi dikenal
sebagai Arthrospira platensis—telah banyak diteliti dan diaplikasikan sebagai
bahan pakan fungsional dengan nilai nutrisi dan bioaktivitas yang tinggi
(Becker, 2007; Belay, 2002).
Spirulina termasuk dalam kelompok
cyanobacteria (alga biru-hijau) dari filum Cyanobacteria, famili
Oscillatoriaceae. Dua spesies yang paling banyak dibudidayakan dan dimanfaatkan
adalah Arthrospira platensis dan Arthrospira maxima. Kandungan protein tinggi,
asam amino esensial lengkap, pigmen bioaktif, vitamin, mineral, serta senyawa
imunomodulator menjadikan Spirulina sebagai kandidat “superfood” alami dalam
pakan ikan dan udang.
Komposisi Nutrisi dan Nilai Biologis
1. Protein dan Asam Amino
Spirulina mengandung protein sebesar 60–70% dari berat kering,
menjadikannya salah satu sumber protein alami tertinggi dibandingkan bahan
nabati lainnya (Becker, 2007). Sekitar 47% dari total proteinnya terdiri atas
asam amino esensial, termasuk lisin, metionin, leusin, isoleusin, valin,
fenilalanin, treonin, dan triptofan.
Dalam akuakultur, asam amino esensial
berperan penting dalam:
- Sintesis
protein otot dan pertumbuhan jaringan
- Regulasi metabolisme nitrogen
- Sintesis enzim dan hormon
- Peningkatan respons imun
Penambahan Spirulina dalam pakan telah
terbukti meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi konversi pakan (FCR) pada
berbagai spesies ikan dan udang (Olvera-Novoa et al., 1998).
2. Karbohidrat dan Polisakarida Bioaktif
Spirulina mengandung 15–21% karbohidrat dalam
bentuk gula sederhana dan polisakarida kompleks. Polisakarida sulfatnya
diketahui memiliki efek imunostimulan dan antiviral melalui peningkatan
aktivitas makrofag dan fagositosis (Belay, 2002).
Senyawa kalsium-spirulan dilaporkan mampu
menghambat penetrasi virus beramplop ke dalam sel inang (Hayashi et al., 1996),
yang relevan dalam pencegahan penyakit viral pada sistem budidaya intensif.
3. Asam Lemak Esensial
Meskipun kandungan lipid total Spirulina
relatif rendah (1,5–2%), mikroalga ini kaya akan asam lemak tak jenuh ganda
(PUFA), seperti:
- Gamma-linolenic acid (GLA)
- Linoleic acid (LA)
- Stearidonic acid (SDA)
- Eicosapentaenoic acid (EPA)
- Docosahexaenoic acid (DHA)
- Arachidonic acid (AA)
Asam lemak tersebut berperan dalam menjaga
integritas membran sel, meningkatkan respons imun, dan mendukung pertumbuhan
optimal organisme akuatik (Becker, 2007).
4. Vitamin dan Mineral
Spirulina merupakan sumber vitamin B kompleks
(B1, B2, B3, B6, B9, B12), vitamin C, D, dan E, serta β-karoten sebagai
prekursor vitamin A. Selain itu, Spirulina kaya mineral seperti Fe, Mg, Ca, Zn,
Se, dan K.
Kandungan zat besi dan fikosianin berperan
dalam stimulasi hematopoiesis (pembentukan sel darah merah), mendukung
transport oksigen dan vitalitas organisme budidaya (Belay, 2002).
Fungsi Fisiologis dan Imunologis dalam
Akuakultur
1. Imunomodulator dan Antioksidan
Fikosianin dalam Spirulina memiliki aktivitas
antioksidan kuat dengan menstimulasi enzim superoksida dismutase (SOD) dan
mengurangi stres oksidatif (Romay et al., 2003).
Dalam budidaya ikan dan udang, suplementasi
Spirulina dilaporkan:
- Meningkatkan aktivitas fagositik makrofag
- Meningkatkan kadar imunoglobulin
- Mengurangi mortalitas akibat infeksi bakteri
2. Aktivitas Antimikroba dan Detoksifikasi
Spirulina memiliki kemampuan chelating
terhadap logam berat seperti arsenik dan kadmium (Maeda & Sakaguchi, 1990;
Okamura & Aoyama, 1994). Sifat ini penting dalam sistem budidaya yang
berisiko terpapar kontaminan lingkungan.
Ekstrak Spirulina juga menunjukkan aktivitas
antimikroba terhadap bakteri patogen seperti Bacillus spp. dan Streptococcus
spp., sehingga berpotensi mengurangi ketergantungan pada antibiotik.
3. Peningkat Warna Alami
Pigmen karotenoid seperti β-karoten dan
zeaxanthin dalam Spirulina berfungsi sebagai prekursor astaxanthin—pigmen merah
penting pada udang dan ikan hias (Britton et al., 1981).
Pada spesies seperti Penaeus monodon,
suplementasi Spirulina sebelum panen terbukti meningkatkan intensitas warna dan
nilai pasar (Howell & Matthews, 1991).
4. Reproduksi dan Kelangsungan Hidup Larva
Spirulina meningkatkan:
- Kematangan gonad
- Fekunditas
- Tingkat penetasan telur
- Kelangsungan hidup larva
Britz (1996) melaporkan bahwa penggunaan
Spirulina dalam pakan larva meningkatkan pertumbuhan dan sintasan secara
signifikan dibandingkan pakan konvensional.
Potensi sebagai Pengganti Protein Konvensional
Tepung ikan (fish meal) merupakan komponen mahal dalam pakan akuakultur. Spirulina
berpotensi menjadi sumber protein alternatif yang berkelanjutan dan lebih ramah
lingkungan.
Selain mudah dibudidayakan pada kondisi
alkali tinggi, Spirulina memiliki efisiensi produksi biomassa yang tinggi dan
jejak lingkungan relatif rendah dibandingkan bahan pakan hewani konvensional
(Becker, 2007).
Kesimpulan
Spirulina merupakan superfood alami dengan
kandungan protein tinggi, asam amino esensial lengkap, PUFA, vitamin, mineral,
serta pigmen bioaktif yang mendukung pertumbuhan, imunitas, reproduksi, dan
kualitas warna ikan serta udang.
Penggunaannya dalam akuakultur modern tidak
hanya meningkatkan performa produksi, tetapi juga berkontribusi pada sistem
budidaya yang lebih berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan.
Dengan pengembangan teknologi formulasi
seperti mikrokapsulasi dan bioenkapsulasi, potensi Spirulina sebagai bahan
pakan fungsional di masa depan diperkirakan akan semakin signifikan dalam
mendukung ketahanan pangan sektor perikanan global.
Daftar Referensi
Becker, E.W. (2007). Micro-algae as a source
of protein. Biotechnology Advances, 25(2), 207–210.
Belay, A. (2002). The potential application
of Spirulina (Arthrospira) as a nutritional and therapeutic supplement. Journal
of the American Nutraceutical Association, 5(2), 27–48.
Britton, G., Liaaen-Jensen, S., &
Pfander, H. (1981). Carotenoids. Birkhäuser Verlag.
Britz, P.J. (1996). Effect of Spirulina on
growth and survival of fish larvae. Aquaculture, 140, 277–282.
Hayashi, T., Hayashi, K., & Maeda, M.
(1996). Calcium spirulan, an inhibitor of enveloped virus replication from
Spirulina platensis. Journal of Natural Products, 59, 83–87.
Howell, B.R., & Matthews, A.D. (1991).
The carotenoid composition of wild and farmed fish. Comparative Biochemistry
and Physiology, 99A, 385–390.
Maeda, H., & Sakaguchi, M. (1990).
Accumulation and detoxification of heavy metals by Spirulina. Journal of
Applied Phycology, 2, 171–178.
Okamura, H., & Aoyama, I. (1994).
Detoxification of arsenic compounds by Spirulina. Environmental Toxicology
and Chemistry, 13, 129–133.
Olvera-Novoa, M.A., et al. (1998).
Substitution of fish meal by Spirulina in tilapia diets. Aquaculture
Research, 29, 709–715.
Romay, C., et al. (2003). Antioxidant and
anti-inflammatory properties of phycocyanin from Spirulina. Inflammation
Research, 52, 293–298.
#SpirulinaSuperfood
#PakanIkanUdang
#AkuakulturModern
#ImunitasIkan
#NutrisiPerikanan
