Pemanfaatan Ekstrak Mangrove dalam Sintesis Nanopartikel
Hijau untuk Aplikasi Biomedis dan Kesehatan
ABSTRAK
Ekosistem mangrove merupakan sumber bahan alam yang kaya
metabolit sekunder, antara lain polifenol, flavonoid, tanin, terpenoid,
alkaloid, steroid, dan senyawa fenolik lainnya. Keragaman fitokimia tersebut
memberikan peluang untuk mengintegrasikan sumber daya mangrove dengan teknologi
nanomaterial melalui pendekatan sintesis hijau (green synthesis).
Artikel ini bertujuan mengkaji secara kritis pemanfaatan ekstrak tanaman
mangrove sebagai agen bioreduktor, capping agent, dan penstabil dalam
sintesis nanopartikel untuk aplikasi biomedis dan kesehatan. Studi literatur
dilakukan dengan menelusuri publikasi ilmiah mengenai fitokimia mangrove,
sintesis nanopartikel berbasis ekstrak tanaman, mekanisme biosintesis,
karakterisasi nanomaterial, serta aktivitas biologisnya. Literatur menunjukkan
bahwa ekstrak Rhizophora mucronata, Avicennia marina, dan Sonneratia
alba mampu digunakan dalam sintesis nanopartikel logam dan oksida logam. R.
mucronata telah dilaporkan menghasilkan nanopartikel perak (AgNPs)
berukuran nanometer dengan aktivitas antimikroba, sedangkan A. marina
dapat digunakan dalam sintesis AgNPs dan ZnO-NPs yang menunjukkan aktivitas
antimikroba, antioksidan, dan sitotoksik terhadap sel kanker pada model in
vitro. Sementara itu, ZnO-NPs berbasis ekstrak S. alba dilaporkan
mempunyai aktivitas antibakteri, antioksidan, dan anti-inflamasi. Secara
mekanistik, senyawa fenolik, flavonoid, tanin, terpenoid, protein, gula
pereduksi, dan biomolekul lainnya berperan dalam reduksi prekursor serta
stabilisasi permukaan nanopartikel. Meskipun demikian, bukti yang tersedia
masih didominasi penelitian in vitro, sehingga istilah “superior” atau
“biokompatibel” perlu digunakan secara hati-hati sampai tersedia data
toksikologi dan in vivo yang memadai. Standardisasi bahan baku,
komposisi ekstrak, ukuran partikel, morfologi, muatan permukaan, stabilitas,
toksisitas sistemik, dan reproduktibilitas proses merupakan tantangan utama
menuju translasi klinis. Sintesis hijau berbasis mangrove berpotensi menjadi
platform berkelanjutan untuk pengembangan material antimikroba, antioksidan,
anti-inflamasi, dan sistem penghantaran obat, tetapi masih membutuhkan validasi
praklinis dan standardisasi yang kuat.
Kata kunci: mangrove;
sintesis hijau; nanopartikel; AgNPs; ZnO-NPs; fitokimia; nanomedisin; biomedis.
1. PENDAHULUAN
Nanoteknologi telah berkembang menjadi salah satu bidang
strategis dalam ilmu kesehatan karena material pada skala nano dapat memiliki
karakteristik fisikokimia yang berbeda dibandingkan material dalam bentuk bulk.
Luas permukaan spesifik yang tinggi, kemampuan berinteraksi dengan biomolekul,
sifat optik yang khas, serta kemungkinan modifikasi permukaan menjadikan
nanopartikel menarik untuk dikembangkan sebagai agen antimikroba, sistem
penghantaran obat, material diagnostik, dan kandidat terapi kanker. Dalam
konteks biomedis, karakteristik nanopartikel sangat ditentukan oleh ukuran,
bentuk, komposisi, kristalinitas, muatan permukaan, dan biomolekul yang berada
pada permukaannya (El-Seedi et al., 2019; Singh et al., 2023).
Meskipun demikian, metode fisik dan kimia konvensional
untuk menghasilkan nanopartikel dapat membutuhkan temperatur atau tekanan
tinggi, pelarut organik, agen pereduksi, dan bahan penstabil tertentu. Beberapa
proses juga menghasilkan produk samping yang perlu dipisahkan sebelum material
digunakan dalam sistem biologis. Kondisi tersebut mendorong perkembangan
sintesis biologis atau sintesis hijau yang menggunakan organisme, biomolekul,
atau ekstrak tumbuhan sebagai bagian dari proses pembentukan nanopartikel.
Sintesis nanopartikel berbasis ekstrak tanaman mempunyai
keunggulan karena metabolit sekunder tanaman dapat menjalankan lebih dari satu
fungsi dalam proses sintesis. Senyawa fenolik, flavonoid, terpenoid, gula
pereduksi, protein, asam amino, dan biomolekul lain dapat berperan sebagai
donor elektron untuk mereduksi ion logam sekaligus berinteraksi dengan
permukaan nanopartikel yang terbentuk. Dengan demikian, ekstrak tanaman dapat
berfungsi sebagai agen pereduksi dan capping/stabilizing agent secara
bersamaan (El-Seedi et al., 2019; Singh et al., 2023).
Mangrove merupakan kelompok tumbuhan halofitik yang mampu
hidup pada lingkungan pesisir dengan tekanan salinitas, genangan, oksidatif,
dan kondisi lingkungan yang relatif ekstrem. Adaptasi tersebut berkaitan dengan
produksi berbagai metabolit sekunder yang mempunyai fungsi perlindungan
biologis. Kajian fitokimia menunjukkan bahwa mangrove mengandung flavonoid,
tanin, terpenoid, steroid, alkaloid, saponin, dan senyawa fenolik dalam
berbagai bagian tanaman (Bandaranayake, 2002; Salem et al., 2019).
Rhizophora mucronata, Avicennia
marina, dan Sonneratia alba merupakan tiga spesies mangrove yang
menarik dalam konteks ini. R. mucronata dilaporkan mengandung alkaloid,
flavonoid, fenolik, tanin, steroid, saponin, dan terpenoid, sedangkan A.
marina mempunyai spektrum fitokimia yang luas termasuk flavonoid, fenolik,
tannin, terpenoid, steroid, alkaloid, dan berbagai turunannya. S. alba
juga diketahui mengandung terpenoid/triterpenoid, alkaloid, flavonoid, fenolik,
saponin, dan steroid (Witoyo & Utoro, 2023; Mairing & Ariantari, 2022).
Keberadaan senyawa tersebut memberikan dasar ilmiah untuk
memanfaatkan ekstrak mangrove dalam sintesis nanomaterial. Salah satu bukti
awal yang penting adalah sintesis AgNPs menggunakan ekstrak tunas daun R.
mucronata. Nanopartikel yang diperoleh menunjukkan struktur kristalin face-centered
cubic dengan ukuran sekitar 4–26 nm dan aktivitas antimikroba terhadap
beberapa patogen (Umashankari et al., 2012).
Perkembangan penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa
pendekatan tersebut tidak hanya berlaku untuk nanopartikel perak. Ekstrak A.
marina telah digunakan untuk menghasilkan AgNPs dan ZnO-NPs, sedangkan
ekstrak daun S. alba telah digunakan dalam sintesis ZnO-NPs dengan
karakteristik dan aktivitas biologis tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahwa
mangrove berpotensi menjadi sumber biomassa untuk menghasilkan berbagai jenis
nanomaterial.
Namun, terdapat kesenjangan penting
antara keberhasilan sintesis pada skala laboratorium dan pemanfaatannya dalam
bidang kesehatan. Aktivitas antibakteri atau sitotoksik in vitro tidak
secara otomatis menunjukkan keamanan atau efektivitas klinis. Variasi lokasi
tumbuh, umur tanaman, bagian tanaman, metode ekstraksi, jenis pelarut,
konsentrasi prekursor, pH, temperatur, waktu reaksi, serta komposisi fitokimia
dapat mengubah karakteristik nanopartikel yang dihasilkan. Kajian terbaru
mengenai nanopartikel berbasis tanaman juga menempatkan standardisasi,
reproduktibilitas, toksisitas, dan scale-up sebagai tantangan utama
translasi (Mobarak et al., 2026; Khan et al., 2025).
Oleh karena itu, artikel ini
bertujuan mengkaji hubungan antara fitokimia mangrove, mekanisme sintesis hijau
nanopartikel, karakteristik nanomaterial yang dihasilkan, serta potensi
aplikasinya dalam bidang biomedis dan kesehatan.
2. METODOLOGI
2.1 Desain studi
Artikel ini merupakan studi literatur naratif-kritis yang
mengintegrasikan informasi mengenai fitokimia mangrove, mekanisme sintesis
hijau nanopartikel, karakterisasi nanomaterial, serta aplikasi biomedisnya.
Pendekatan naratif dipilih karena literatur mengenai nanopartikel berbasis
mangrove masih heterogen dalam spesies tanaman, bagian tanaman, metode
ekstraksi, prekursor, kondisi sintesis, ukuran partikel, dan model uji
biologis.
2.2 Strategi penelusuran literatur
Penelusuran literatur dilakukan melalui sumber ilmiah
seperti PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, Wiley Online Library, RSC
Publishing, dan jurnal ilmiah nasional yang relevan. Kata kunci yang digunakan
mencakup kombinasi:
- “mangrove
extract”;
- “green
synthesis nanoparticles”;
- “Rhizophora
mucronata nanoparticles”;
- “Avicennia
marina nanoparticles”;
- “Sonneratia
alba nanoparticles”;
- “silver
nanoparticles mangrove”;
- “gold
nanoparticles mangrove”;
- “zinc oxide
nanoparticles mangrove”;
- “plant-mediated
nanoparticle synthesis”;
- “biomedical
application”;
- “antibacterial”;
- “anticancer”;
- “antioxidant”;
dan
- “anti-inflammatory”.
Literatur yang diprioritaskan meliputi artikel penelitian
primer, artikel ulasan, dan publikasi terbaru yang memberikan informasi
mengenai mekanisme, karakterisasi, aktivitas biologis, keamanan, serta
tantangan translasi.
2.3 Kriteria inklusi
Literatur dipertimbangkan apabila
memenuhi satu atau lebih kriteria berikut:
- membahas
spesies mangrove dan kandungan fitokimianya;
- melaporkan
sintesis nanopartikel menggunakan ekstrak mangrove;
- menjelaskan mekanisme reduksi atau stabilisasi
nanopartikel oleh biomolekul tanaman;
- melaporkan
karakterisasi nanopartikel;
- mengevaluasi
aktivitas biologis nanopartikel; atau
- membahas
keamanan, standardisasi, reproduktibilitas, dan prospek translasi
nanopartikel hijau.
Literatur yang hanya membahas nanopartikel tanpa hubungan
dengan ekstrak tumbuhan atau mangrove digunakan terutama sebagai pembanding
konseptual.
2.4 Analisis literatur
Informasi yang diperoleh
dikelompokkan menjadi lima tema utama, yaitu:
- potensi
fitokimia mangrove;
- mekanisme
sintesis hijau;
- karakteristik
fisikokimia nanopartikel;
- aktivitas
biomedis; dan
- tantangan keamanan dan translasi klinis.
Selanjutnya dilakukan analisis
komparatif untuk mengidentifikasi hubungan antara spesies mangrove, jenis
nanopartikel, fitokimia yang berpotensi terlibat, serta aktivitas biologis yang
dilaporkan.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Kekayaan fitokimia mangrove sebagai sumber
bioreduktor
Mangrove mempunyai sistem pertahanan biokimia yang
kompleks sebagai respons terhadap lingkungan pesisir yang memiliki salinitas
tinggi, paparan radiasi, perubahan oksidatif, dan tekanan biotik. Kondisi
tersebut berkaitan dengan keberadaan metabolit sekunder yang beragam.
Secara umum, kelompok metabolit yang ditemukan pada
mangrove meliputi fenolik, flavonoid, tanin, terpenoid, steroid, alkaloid,
saponin, glikosida, dan berbagai senyawa turunan lainnya. Senyawa-senyawa
tersebut memiliki gugus fungsional seperti hidroksil, karbonil, karboksil, dan
amina yang secara kimia memungkinkan terjadinya interaksi dengan ion logam
(Bandaranayake, 2002; Salem et al., 2019).
Pada R. mucronata, sejumlah penelitian telah
mengidentifikasi sekitar 60 senyawa atau lebih dari berbagai bagian tanaman,
dengan alkaloid, steroid, tanin, dan flavonoid sebagai kelompok penting.
Aktivitas farmakologis ekstrak R. mucronata yang dilaporkan mencakup
aktivitas antimikroba, anti-inflamasi, antioksidan, dan sitotoksik pada
berbagai model penelitian (Kumar et al., 2023).
Sementara itu, A. marina memiliki keragaman
metabolit yang lebih kompleks, termasuk flavonoid, fenolik, tanin, terpenoid,
steroid, alkaloid, dan senyawa turunan naftokuinon. Keanekaragaman tersebut
menjadi salah satu dasar potensi spesies ini sebagai sumber biomolekul untuk
sintesis nanomaterial sekaligus memberikan fungsi biologis tambahan pada
permukaan nanopartikel (Witoyo & Utoro, 2023).
Pada S. alba, berbagai metabolit sekunder seperti
terpenoid, alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan steroid telah dilaporkan.
Ekstrak spesies ini juga menunjukkan aktivitas antibakteri dan antioksidan
sehingga secara teoritis menarik sebagai sumber biomolekul untuk sintesis
nanomaterial multifungsi (Mairing & Ariantari, 2022).
3.2 Mekanisme sintesis hijau nanopartikel menggunakan
ekstrak mangrove
Mekanisme sintesis hijau menggunakan ekstrak tanaman pada
dasarnya terdiri atas beberapa tahap: reduksi ion prekursor, nukleasi,
pertumbuhan partikel, dan stabilisasi permukaan.
Pada sintesis AgNPs, misalnya, ion Ag⁺ dari AgNO₃
berinteraksi dengan metabolit dalam ekstrak. Molekul donor elektron dapat
mentransfer elektron sehingga Ag⁺ direduksi menjadi Ag⁰. Atom Ag⁰ kemudian
mengalami agregasi terkontrol dan membentuk inti nanopartikel. Selanjutnya
terjadi pertumbuhan partikel sampai mencapai kondisi relatif stabil.
Secara sederhana, proses reduksi dapat digambarkan
sebagai:
Ag⁺ + e⁻ → Ag⁰
Sementara pada sintesis oksida logam seperti ZnO,
prosesnya lebih kompleks karena melibatkan pembentukan spesies prekursor seng,
hidrolisis/oksidasi, nukleasi, dan pembentukan fase ZnO melalui proses
pengeringan atau kalsinasi tergantung metode yang digunakan.
Metabolit tanaman tidak hanya berperan sebagai donor
elektron. Gugus –OH, –COOH, –NH₂, karbonil, dan gugus fungsional lainnya dapat
berinteraksi dengan permukaan nanopartikel. Interaksi tersebut menghasilkan
lapisan organik yang dapat menghambat pertumbuhan partikel secara berlebihan
dan mengurangi aglomerasi. Oleh sebab itu, ekstrak tanaman sering kali dapat
menjalankan fungsi sebagai reducing agent sekaligus capping/stabilizing agent (El-Seedi
et al., 2019; Singh et al., 2023).
Namun, mekanisme tersebut tidak boleh dianggap identik
untuk semua spesies mangrove. Komposisi ekstrak sangat tergantung pada spesies,
lokasi, musim, bagian tanaman, metode pengeringan, dan pelarut yang digunakan.
Karena itu, dua ekstrak dari spesies yang sama dapat menghasilkan nanopartikel
dengan ukuran dan morfologi berbeda.
3.3 Faktor yang menentukan karakteristik nanopartikel
Karakteristik nanopartikel hasil
sintesis hijau sangat dipengaruhi oleh kondisi reaksi. Faktor penting meliputi:
a. Jenis dan konsentrasi ekstrak
Peningkatan konsentrasi ekstrak dapat meningkatkan jumlah
molekul reduktor dan capping agent. Namun, konsentrasi yang terlalu
tinggi juga dapat meningkatkan kandungan bahan organik pada permukaan
nanopartikel atau menyebabkan pembentukan agregat.
b. Konsentrasi prekursor
Konsentrasi AgNO₃, garam emas, atau prekursor seng dapat
memengaruhi laju nukleasi dan pertumbuhan. Rasio ekstrak terhadap prekursor
harus dioptimalkan untuk memperoleh distribusi ukuran yang konsisten.
c. pH
pH memengaruhi ionisasi gugus fenolik dan karboksilat
serta kemampuan biomolekul dalam mereduksi ion logam. Perubahan pH juga dapat
mengubah ukuran dan bentuk nanopartikel.
d. Temperatur
Peningkatan temperatur umumnya mempercepat reaksi reduksi
dan nukleasi. Akan tetapi, temperatur yang terlalu tinggi dapat mengubah atau
merusak sebagian senyawa organik yang berperan dalam stabilisasi.
e. Waktu reaksi
Perubahan warna larutan sering digunakan sebagai
indikator awal pembentukan nanopartikel, tetapi perubahan warna tidak cukup
untuk membuktikan keberhasilan sintesis. Konfirmasi harus dilakukan menggunakan teknik
karakterisasi seperti UV–Vis, FTIR, XRD, SEM, TEM, DLS, dan pengukuran
potensial zeta. Literatur terbaru menegaskan bahwa pH, temperatur, konsentrasi
prekursor, waktu reaksi, dan komposisi ekstrak merupakan parameter utama yang
menentukan ukuran, morfologi, dan stabilitas nanopartikel berbasis tanaman.
3.4 Karakterisasi nanopartikel berbasis mangrove
Karakterisasi multidimensional diperlukan karena
keberhasilan sintesis tidak cukup dinilai hanya berdasarkan perubahan warna
atau spektrum UV–Vis.
UV–Vis spectroscopy digunakan
untuk mendeteksi karakteristik optik nanopartikel. AgNPs umumnya menunjukkan surface
plasmon resonance pada wilayah sekitar 400–500 nm, tergantung ukuran dan
bentuk partikel. Pada studi R.
mucronata, AgNPs menunjukkan puncak sekitar 426 nm (Umashankari et al.,
2012).
FTIR digunakan untuk
mengidentifikasi gugus fungsi yang berpotensi berinteraksi dengan nanopartikel.
Pergeseran atau perubahan intensitas pita dapat memberikan indikasi
keterlibatan gugus hidroksil, karbonil, amina, dan gugus lainnya.
XRD digunakan untuk menentukan fase
kristalin. AgNPs yang dihasilkan menggunakan R. mucronata menunjukkan
struktur face-centered cubic, sedangkan ZnO-NPs berbasis S. alba
dilaporkan mempunyai struktur kristal wurtzite (Umashankari et al., 2012; Khan
et al., 2022).
SEM/TEM memberikan
informasi morfologi dan ukuran partikel. DLS memberikan ukuran hidrodinamik dan
PDI, sedangkan zeta potential memberikan informasi mengenai stabilitas koloid.
Pendekatan karakterisasi yang lebih modern juga dapat
memasukkan XPS, LC-MS/LC-HRMS, NMR, TGA, dan analisis proteomik/metabolomik.
Integrasi teknik tersebut penting untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
senyawa mangrove apa yang sebenarnya bertanggung jawab terhadap pembentukan dan
stabilisasi nanopartikel? Penelitian terbaru menekankan bahwa kurangnya
karakterisasi metabolit menjadi salah satu penyebab utama rendahnya
reproduktibilitas sintesis nanopartikel berbasis tanaman.
3.5 Sintesis AgNPs menggunakan Rhizophora mucronata
Salah satu bukti paling jelas mengenai pemanfaatan
mangrove untuk sintesis hijau adalah penggunaan ekstrak tunas daun R.
mucronata untuk menghasilkan AgNPs. Umashankari et al. (2012) melaporkan
pembentukan AgNPs yang stabil dengan ukuran 4–26 nm dan puncak UV–Vis sekitar
426 nm. Analisis XRD menunjukkan struktur kristalin face-centered cubic.
AgNPs tersebut memperlihatkan aktivitas antimikroba
terhadap sejumlah patogen akuatik. Temuan tersebut memberikan bukti bahwa
kombinasi antara ukuran nano dan karakteristik permukaan hasil capping
biomolekul dapat menghasilkan aktivitas biologis yang relevan.
Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian yang lebih baru
menggunakan ekstrak daun R. mucronata. Studi tahun 2026 melaporkan AgNPs
berbentuk dominan sferis dengan ukuran rata-rata sekitar 27,47 nm dan potensial
zeta sekitar −47,4 mV. Profil LC-HRMS mengidentifikasi beberapa metabolit,
termasuk senyawa fenolik, yang diduga berkontribusi terhadap reduksi Ag⁺ dan
stabilisasi nanopartikel. AgNPs tersebut
menunjukkan aktivitas terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus (2026).
Hasil tersebut penting karena menunjukkan perkembangan
metodologi dari sekadar membuktikan “ekstrak tanaman dapat menghasilkan
nanopartikel” menuju pendekatan yang menghubungkan profil metabolit → proses
sintesis → karakteristik permukaan → aktivitas biologis.
3.6 Avicennia marina sebagai sumber nanomaterial
A. marina merupakan salah satu mangrove yang
paling banyak dipelajari dari aspek fitokimia dan aktivitas biologis. Ekstraknya mengandung berbagai kelompok metabolit,
termasuk flavonoid, fenolik, tanin, terpenoid, steroid, dan alkaloid (Witoyo
& Utoro, 2023).
Ekstrak daun A. marina telah digunakan dalam
sintesis AgNPs. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa AgNPs berbasis A.
marina mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker paru A549. Efek
biologis tersebut dikaitkan dengan peningkatan pembentukan reactive oxygen
species (ROS) dan gangguan fungsi mitokondria (Sivalingam et al., 2020).
Penelitian lain melaporkan sintesis ZnO-NPs berbasis
ekstrak A. marina. Material tersebut menunjukkan ukuran sekitar 20 nm,
potensial zeta sekitar −32,14 mV, serta aktivitas antioksidan dan antimikroba.
Penelitian tersebut juga melaporkan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker
payudara MCF-7 pada model in vitro, tetapi pada konsentrasi lebih tinggi
juga ditemukan indikasi kerusakan DNA sehingga aspek dosis dan toksisitas tetap
menjadi pertimbangan penting (Sivalingam et al., 2026).
Dengan demikian, penggunaan A. marina memberikan
ilustrasi penting bahwa aktivitas biologis nanopartikel bukan hanya ditentukan
oleh jenis logam atau oksida logam, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh corona
organik yang berasal dari metabolit ekstrak.
3.7 Sonneratia alba sebagai sumber ZnO-NPs
S. alba merupakan
salah satu mangrove yang banyak ditemukan di Indonesia dan mempunyai kandungan
metabolit sekunder yang beragam. Kajian literatur menunjukkan adanya
terpenoid/triterpenoid, alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan steroid pada
berbagai bagian tanaman (Mairing & Ariantari, 2022).
Khan et al. (2022) melaporkan sintesis ZnO-NPs
menggunakan ekstrak daun S. alba melalui pendekatan berbasis ultrasonik.
Hasil karakterisasi menunjukkan struktur kristal wurtzite dan morfologi sferis.
Nanopartikel tersebut juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri
Gram-positif dan Gram-negatif, selain aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi.
Temuan tersebut memberikan dasar untuk mempertimbangkan
ZnO-NPs berbasis S. alba sebagai material multifungsi. Akan tetapi,
klaim mengenai penggunaannya sebagai tabir surya biologis perlu dibedakan dari
bukti langsung mengenai aktivitas anti-UV pada formulasi kosmetik. Sifat optik
ZnO memang secara umum mendukung aplikasi proteksi UV, tetapi klaim aplikasi
manusia memerlukan pengujian khusus mengenai SPF, fotostabilitas, penetrasi kulit,
iritasi, dan toksisitas.
3.8 Ringkasan bukti nanopartikel berbasis mangrove
|
Spesies
mangrove |
Jenis
nanopartikel |
Bukti
sintesis |
Aktivitas
biologis yang dilaporkan |
Model
penelitian |
|
Rhizophora
mucronata |
AgNPs |
4–26 nm pada penelitian awal; penelitian lebih baru
sekitar 27 nm rata-rata |
Antimikroba |
In
vitro |
|
Avicennia
marina |
AgNPs |
AgNPs
berhasil disintesis menggunakan ekstrak daun |
Antikanker, induksi ROS dan gangguan mitokondria |
Sel
A549, in vitro |
|
Avicennia
marina |
ZnO-NPs |
±20 nm
pada studi terbaru |
Antioksidan, antimikroba, sitotoksik terhadap MCF-7 |
In
vitro |
|
Sonneratia
alba |
ZnO-NPs |
Struktur
wurtzite, morfologi sferis |
Antibakteri,
antioksidan, anti-inflamasi |
In
vitro |
|
Avicennia
marina |
AuNPs
dan AgNPs |
Sintesis
keduanya telah dilaporkan |
Aktivitas
biologis/biomedis masih memerlukan validasi lebih lanjut |
In
vitro dan eksperimental |
Secara keseluruhan, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa
AgNPs dan ZnO-NPs merupakan dua platform yang paling jelas terdokumentasi pada
spesies mangrove yang dikaji dalam artikel ini. Bukti untuk AuNPs juga
tersedia, tetapi masih lebih terbatas untuk menghubungkan secara spesifik
nanopartikel emas berbasis mangrove dengan aplikasi terapi kanker. Oleh karena
itu, penelitian berikutnya perlu membedakan antara bukti “berhasil disintesis”
dan bukti “telah terbukti efektif secara terapeutik”.
3.9 Mekanisme aktivitas antibakteri
Aktivitas antibakteri nanopartikel berbasis mangrove
dapat berasal dari kombinasi beberapa mekanisme.
Pertama, nanopartikel dapat berinteraksi langsung dengan
membran sel bakteri. Ukurannya yang kecil meningkatkan luas permukaan kontak
sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dengan komponen membran.
Kedua, nanopartikel tertentu dapat memicu pembentukan
ROS. Peningkatan stres
oksidatif dapat menyebabkan kerusakan lipid membran, protein, dan materi
genetik.
Ketiga, pada AgNPs, pelepasan ion
Ag⁺ dapat memberikan kontribusi terhadap efek antimikroba. Ion tersebut dapat
berinteraksi dengan kelompok fungsional pada protein dan komponen seluler.
Keempat, biomolekul mangrove yang
berada pada permukaan nanopartikel dapat menghasilkan efek tambahan melalui
aktivitas antioksidan atau interaksi dengan membran.
Dengan demikian, aktivitas biologis
nanopartikel berbasis mangrove sebaiknya dipahami sebagai hasil interaksi
antara inti nanopartikel, ukuran, morfologi, muatan permukaan, ion yang
dilepaskan, dan corona biomolekul.
3.10 Potensi antioksidan dan anti-inflamasi
Ekstrak mangrove sendiri telah dilaporkan mengandung
senyawa fenolik dan flavonoid yang mempunyai kapasitas penangkap radikal.
Ketika senyawa tersebut menjadi bagian dari lapisan permukaan nanopartikel,
aktivitas biologisnya berpotensi berinteraksi dengan karakteristik intrinsik
nanopartikel.
Pada ZnO-NPs berbasis S. alba, misalnya,
penelitian melaporkan aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi bersama dengan
aktivitas antibakteri (Khan et al., 2022).
Namun, peningkatan aktivitas
biologis tidak boleh secara otomatis dianggap sebagai peningkatan keamanan.
Nanopartikel dapat mempunyai efek biologis yang menguntungkan sekaligus
menimbulkan stres oksidatif pada konsentrasi tertentu. Oleh sebab itu, penelitian
nanomedisin harus mempertimbangkan hubungan dose–response, bukan hanya
keberadaan aktivitas biologis.
3.11 Potensi antikanker
Potensi antikanker nanopartikel berbasis mangrove menjadi
salah satu area yang paling menarik. Pada AgNPs yang disintesis menggunakan A.
marina, aktivitas terhadap sel A549 dikaitkan dengan peningkatan ROS,
perubahan potensial membran mitokondria, dan induksi apoptosis (Sivalingam et
al., 2020).
Pada ZnO-NPs berbasis A. marina,
penelitian terbaru juga menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap MCF-7. Namun,
penelitian tersebut menemukan bahwa efek genotoksik meningkat pada konsentrasi
tertentu. Hal ini menegaskan bahwa hasil sitotoksisitas terhadap sel kanker
belum dapat diterjemahkan langsung menjadi klaim keamanan terapeutik.
Untuk pengembangan antikanker, penelitian berikutnya
perlu membandingkan:
- IC₅₀ terhadap
sel kanker;
- IC₅₀ terhadap
sel normal;
- selectivity
index;
- mekanisme
apoptosis;
- perubahan
ROS;
- kerusakan
DNA;
- efek terhadap
siklus sel;
- internalisasi
nanopartikel; dan
- biodistribusi
in vivo.
3.12 Prospek nanopartikel mangrove sebagai sistem
penghantaran obat
Salah satu prospek paling menarik bukan sekadar
menggunakan nanopartikel sebagai agen antimikroba atau sitotoksik, tetapi
mengembangkan nanopartikel sebagai platform penghantaran obat.
Nanopartikel dapat direkayasa dengan:
- ukuran
tertentu;
- muatan
permukaan tertentu;
- ligan
penarget;
- polimer
biokompatibel;
- molekul obat;
- peptida atau
protein;
- serta lapisan
biomolekul yang berasal dari ekstrak mangrove.
Permukaan nanopartikel yang telah
dilapisi metabolit tanaman juga berpotensi memberikan fungsi biologis tambahan.
Konsep tersebut dapat diarahkan menjadi sistem dual-function, yaitu
nanopartikel berfungsi sebagai pembawa obat sekaligus memberikan aktivitas
biologis intrinsik.
Kajian terbaru mengenai nanopartikel
berbasis tanaman menunjukkan potensi aplikasinya dalam antimikroba, terapi
kanker, penyembuhan luka, dan drug delivery. Namun, standardisasi dan
reproduktibilitas masih menjadi hambatan utama sebelum dapat diterapkan secara
klinis (Mobarak et al., 2026).
3.13 Aspek keamanan dan biokompatibilitas
Istilah “green synthesis” tidak identik dengan “aman”.
Ini merupakan aspek penting yang perlu ditekankan dalam pengembangan
nanopartikel mangrove.
Meskipun proses sintesis menggunakan bahan alam dan dapat
mengurangi penggunaan bahan kimia tertentu, nanopartikel yang terbentuk tetap
merupakan material aktif secara biologis. Aktivitas tersebut dapat memberikan
efek terapeutik tetapi juga berpotensi menimbulkan toksisitas.
Karena itu, evaluasi keamanan
sebaiknya meliputi:
- sitotoksisitas
terhadap sel normal;
- hemolisis;
- genotoksisitas;
- imunotoksisitas;
- toksisitas
hati;
- toksisitas
ginjal;
- biodistribusi;
- eliminasi;
- bioakumulasi;
- toksisitas
reproduksi;
- dan
toksisitas jangka panjang.
Hal tersebut semakin penting karena kandungan ekstrak
tanaman dapat berubah antarbatch. Variasi tersebut dapat menyebabkan perubahan protein
corona, muatan permukaan, ukuran hidrodinamik, serta respons biologis.
3.14 Tantangan standardisasi
Tantangan terbesar dalam komersialisasi nanopartikel
berbasis mangrove adalah reproduksibilitas. Komposisi daun mangrove yang
dikumpulkan dari lokasi A dapat berbeda dari tanaman yang dikumpulkan dari
lokasi B. Faktor salinitas, nutrisi, musim, umur daun, paparan logam berat, dan
kondisi lingkungan dapat mengubah profil metabolit.
Oleh karena itu, standardisasi
sebaiknya dilakukan pada tiga tingkatan:
Tingkat pertama: bahan tanaman
Identitas botani, bagian tanaman,
umur, lokasi, musim panen, kondisi pengeringan, dan kadar air perlu dikontrol.
Tingkat kedua: ekstrak
Ekstrak perlu distandardisasi
berdasarkan total fenolik, total flavonoid, profil LC-MS/LC-HRMS, kadar senyawa
penanda, pH, dan dry residue.
Tingkat ketiga: nanopartikel
Produk akhir perlu dikontrol berdasarkan:
- ukuran
primer;
- ukuran
hidrodinamik;
- PDI;
- zeta
potential;
- morfologi;
- kristalinitas;
- komposisi
unsur;
- kandungan
bahan organik permukaan;
- konsentrasi
nanopartikel;
- stabilitas
penyimpanan; dan
- profil
pelepasan ion.
Pendekatan ini akan menggeser sintesis hijau dari proses
empiris menuju Quality by Design (QbD) dan produksi nanomaterial yang lebih
konsisten.
3.15 Arah penelitian masa depan
Berdasarkan literatur yang dikaji, terdapat beberapa
agenda penelitian penting.
Pertama, perlu dilakukan metabolomik terintegrasi dengan
sintesis nanopartikel untuk mengidentifikasi senyawa yang benar-benar berperan
sebagai reduktor dan capping agent.
Kedua, diperlukan pendekatan design of experiment
untuk mengoptimalkan pH, konsentrasi ekstrak, konsentrasi prekursor,
temperatur, dan waktu reaksi.
Ketiga, karakterisasi nanopartikel perlu dikombinasikan
dengan pengujian biologis sehingga hubungan antara ukuran, bentuk, muatan
permukaan, dan aktivitas biologis dapat dianalisis secara kuantitatif.
Keempat, perlu dikembangkan model structure–activity
relationship untuk memahami bagaimana komponen ekstrak mangrove memengaruhi
aktivitas nanopartikel.
Kelima, penelitian harus bergerak dari uji in vitro
menuju model in vivo yang memenuhi prinsip Good Laboratory Practice
sebelum diarahkan ke pengembangan klinis.
Keenam, aspek keberlanjutan juga
harus diperhatikan. Pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku tidak boleh
mengakibatkan eksploitasi ekosistem. Penggunaan daun atau limbah biomassa hasil
pemangkasan dan pengolahan dapat menjadi salah satu pendekatan yang lebih
berkelanjutan dibandingkan pengambilan akar atau kulit batang secara
berlebihan.
4. KESIMPULAN
Ekstrak tanaman mangrove memiliki potensi besar sebagai
sumber bioreduktor dan capping/stabilizing agent dalam sintesis hijau
nanopartikel. Kekayaan metabolit sekunder berupa polifenol, flavonoid, tanin,
terpenoid, alkaloid, steroid, dan senyawa fenolik memberikan dasar kimia bagi
proses reduksi ion prekursor, nukleasi, pertumbuhan, dan stabilisasi nanopartikel.
Rhizophora mucronata
telah menunjukkan bukti yang kuat dalam sintesis AgNPs dengan aktivitas
antimikroba. Avicennia marina memiliki potensi lebih luas melalui
sintesis AgNPs dan ZnO-NPs yang telah menunjukkan aktivitas antimikroba,
antioksidan, dan sitotoksik terhadap model sel kanker. Sementara itu, Sonneratia alba
telah digunakan untuk sintesis ZnO-NPs yang menunjukkan aktivitas antibakteri,
antioksidan, dan anti-inflamasi.
Keunggulan utama pendekatan ini
terletak pada integrasi antara biokimia tanaman dan rekayasa nanomaterial.
Biomolekul mangrove tidak hanya membantu pembentukan nanopartikel, tetapi juga
dapat membentuk lapisan permukaan yang memengaruhi interaksi material dengan
sistem biologis. Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan nanomaterial
multifungsi untuk antimikroba, terapi kanker, antioksidan, anti-inflamasi,
penyembuhan luka, dan sistem penghantaran obat.
Namun, hasil penelitian yang tersedia masih didominasi
studi laboratorium dan in vitro. Oleh karena itu, istilah “aman”,
“biokompatibel”, atau “superior” perlu digunakan secara hati-hati sampai
tersedia bukti toksikologi, farmakokinetik, biodistribusi, dan efektivitas in
vivo yang memadai. Tantangan utama selanjutnya mencakup standardisasi
ekstrak, identifikasi biomolekul aktif, pengendalian ukuran dan morfologi
nanopartikel, reproduktibilitas antarbatch, stabilitas, toksisitas jangka
panjang, scale-up, dan pemenuhan persyaratan regulatori.
Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan mangrove untuk
sintesis hijau nanopartikel berpotensi berkembang dari sekadar metode
alternatif sintesis menjadi platform nanobioteknologi berkelanjutan berbasis
biodiversitas pesisir. Pengembangan lebih lanjut sebaiknya mengintegrasikan
metabolomik, machine learning, Quality by Design, nanotoxicology,
dan studi in vivo untuk mempercepat transisi dari bukti eksperimental
menuju aplikasi biomedis yang terstandar.
5. DAFTAR PUSTAKA
Bandaranayake, W. M. (2002). Bioactivities, bioactive
compounds and chemical constituents of mangrove plants. Wetlands Ecology and
Management, 10, 421–452.
El-Seedi, H. R., El-Shabasy, R. M., Khalifa, S. A. M.,
Saeed, A., Shah, A., Shah, R., Iftikhar, F. J., Abdel-Daim, M. M., Omri, A.,
Hajrah, N. H., Sabir, J. S. M., Zou, X., Halabi, M. F., Sarhan, W., & Guo,
W. (2019). Metal nanoparticles fabricated by green chemistry using natural
extracts: Biosynthesis, mechanisms, and applications. RSC Advances, 9,
24539–24559. https://doi.org/10.1039/C9RA02225B
Khan, M. S., Dhavan, P. P., Ratna, D., & Shimpi, N.
G. (2022). Ultrasonic-assisted biosynthesis of ZnO nanoparticles using Sonneratia
alba leaf extract and investigation of its photocatalytic and biological
activities. Journal of Cluster Science, 33, 1007–1023. https://doi.org/10.1007/s10876-021-02036-1
Kumar, S., et al. (2023). A detailed assessment of the
traditional applications, bioactive content, pharmacology, and toxicity of Rhizophora
mucronata. Journal of Ethnopharmacology.
Mairing, P. P., & Ariantari, N. P. (2022). Review:
Metabolit sekunder dan aktivitas farmakologi tanaman mangrove Sonneratia
alba. Jurnal Farmasi Udayana, 11(1), 1–7. https://doi.org/10.24843/JFU.2022.v11.i01.p01
Mobarak, M., et al. (2026). Advances of green-synthesized
nanoparticles for biomedical applications. BioMed Research International,
2026, Article 9207147. https://doi.org/10.1155/bmri/9207147
Salem, M. M., et al. (2019). Ethnopharmacology,
phytochemistry, and global distribution of mangroves—A comprehensive review. Marine
Drugs, 17.
Singh, H., Desimone, M. F., Pandya, S., Jasani, S.,
George, N., Adnan, M., Aldarhami, A., Bazaid, A. S., & Alderhami, S. A.
(2023). Revisiting the green synthesis of nanoparticles: Uncovering influences
of plant extracts as reducing agents for enhanced synthesis efficiency and its
biomedical applications. International Journal of Nanomedicine. https://doi.org/10.2147/IJN.S419369
Sivalingam, A. M., et al. (2026). Green synthesis of Avicennia
marina-derived ZnO nanoparticles: In vitro antioxidant and antimicrobial
activity, drug genotoxic effects on MCF-7 cells. Inorganic Chemistry
Communications, 183, 115767. https://doi.org/10.1016/j.inoche.2025.115767
Sivalingam, A. M., et al. (2020). Anti-cancer activity of
biosynthesized silver nanoparticles using Avicennia marina against A549
lung cancer cells through ROS/mitochondrial damages. Saudi Journal of
Biological Sciences, 27(11), 3018–3024. https://doi.org/10.1016/j.sjbs.2020.08.029
Umashankari, J., Inbakandan, D.,
Ajithkumar, T. T., & Balasubramanian, T. (2012). Mangrove plant, Rhizophora mucronata (Lamk, 1804)
mediated one pot green synthesis of silver nanoparticles and its antibacterial
activity against aquatic pathogens. Journal of Nanobiotechnology, 10,
11. https://doi.org/10.1186/1477-3155-10-11
Witoyo, J. E., & Utoro, P. A. R. (2023).
Phytochemicals—Bioactivity of Avicennia marina leaves extract, and its
application in food products: A brief literature review. Rona Teknik
Pertanian, 16(2).
#Mangrove
#Nanopartikel
#SintesisHijau
#Nanomedisin
#Biomedis
