Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Teknologi Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Pertanian. Show all posts

Saturday, 28 June 2025

Energi Panas Bumi untuk Pertanian

 


Panen Melimpah Tanpa BBM! Inilah Rahasia Baru Pertanian Ramah Lingkungan

 

Bayangkan ladang yang selalu hijau sepanjang tahun, kandang ternak yang hangat meski cuaca ekstrem, dan irigasi berjalan lancar tanpa biaya listrik membengkak. Semua ini bisa terwujud berkat energi panas bumi, sumber daya alam yang kini mulai dilirik sebagai solusi masa depan pertanian yang berkelanjutan dan efisien. Tak hanya ramah lingkungan, teknologi ini juga mampu meningkatkan hasil panen dan menekan biaya operasional.

 

Salah satu manfaat nyata energi panas bumi adalah untuk memanaskan rumah kaca, memungkinkan budidaya tanaman berlangsung sepanjang tahun. Suhu ideal yang stabil membuat pertumbuhan tanaman lebih optimal, sehingga produktivitas pertanian pun meningkat secara signifikan.

 

Tak hanya itu, sistem pemanasan tanah dengan energi panas bumi juga terbukti efektif untuk mempercepat musim tanam. Tanah yang hangat mendorong akar tumbuh lebih kuat dan tanaman lebih sehat, sekaligus memperpanjang periode produksi.

 

Dalam sektor peternakan, energi panas bumi mampu memanaskan kandang dan air minum ternak, menciptakan lingkungan yang nyaman bagi hewan. Hasilnya, kesehatan dan produktivitas ternak pun meningkat.

 

Bahkan untuk sistem irigasi, energi panas bumi bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan pompa sekaligus memanaskan air, yang berkontribusi pada pertumbuhan tanaman yang lebih baik dan biaya energi yang lebih hemat.

 

Dari sisi lingkungan, penggunaan energi panas bumi terbukti mengurangi emisi gas rumah kaca dibandingkan sistem berbasis bahan bakar fosil. Selain itu, energi ini lebih stabil dan tidak bergantung pada cuaca, sehingga bisa menjadi sumber energi jangka panjang yang andal.

 

Meski begitu, tantangan tetap ada. Biaya awal instalasi cukup tinggi dan ketersediaan sumber panas bumi belum merata di semua wilayah. Namun, dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, tantangan ini bukan halangan besar.

 

Pemanfaatan energi panas bumi dalam pertanian bukan sekadar tren, melainkan langkah strategis menuju masa depan yang hijau, hemat, dan produktif. Sudah saatnya para petani dan pemangku kebijakan membuka mata terhadap potensi besar ini.

Thursday, 27 February 2025

Mengejutkan! Indonesia Masuk 6 Besar Teknologi Pertanian Dunia

 



Sektor pertanian memainkan peran krusial dalam ketahanan pangan dan perekonomian global. Seiring dengan meningkatnya tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan dunia, pengukuran efisiensi dalam produksi pertanian menjadi semakin penting. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi dan perkembangan sektor pertanian adalah Indeks Total Factor Productivity (TFP). TFP ini mengukur sejauh mana sektor pertanian dapat meningkatkan output dengan jumlah input yang sama atau bahkan lebih sedikit, yang mencerminkan kemajuan teknologi, peningkatan efisiensi, dan inovasi dalam produksi.

 

Apa itu Indeks TFP?

Indeks TFP mengukur efisiensi sektor pertanian dalam menggunakan berbagai faktor produksi—seperti tenaga kerja, modal, dan sumber daya alam—untuk menghasilkan output. Sebagai contoh, dengan adanya kemajuan teknologi, seperti benih unggul, alat pertanian modern, dan teknik pertanian yang lebih efisien, sektor pertanian dapat menghasilkan lebih banyak produk meskipun dengan penggunaan input yang lebih sedikit.

 

Angka TFP yang tinggi menunjukkan bahwa sektor pertanian di negara tersebut berhasil meningkatkan produktivitas dengan cara yang lebih efisien, sementara angka TFP yang rendah bisa menandakan kurangnya kemajuan dalam hal efisiensi atau teknologi.

 

Indeks TFP Sektor Pertanian di Beberapa Negara

Berdasarkan data dari USDA 2022, berikut ini adalah beberapa negara dengan Indeks TFP tertinggi dalam sektor pertanian:

 

1.       Arab Saudi (175.382)

Arab Saudi menonjol dengan penerapan pertanian vertikal yang inovatif. Meskipun tidak ada data produksi spesifik, negara ini menunjukkan efisiensi luar biasa dalam sektor pertanian vertikal, di mana teknologi canggih digunakan untuk menghasilkan hasil pertanian dengan meminimalkan penggunaan lahan dan air.

 

2.       Kazakhstan (131.592)

Kazakhstan, sebagai salah satu produsen gandum terbesar, berhasil meningkatkan efisiensinya melalui inovasi dalam teknik budidaya bijian dan perbaikan infrastruktur pertanian. Dengan Indeks TFP yang tinggi, negara ini mampu memaksimalkan hasil produksinya meskipun menghadapi tantangan iklim yang signifikan.

 

3.       Tiongkok (113.777)

Tiongkok, sebagai produsen utama beras, gandum, dan telur, memiliki produksi beras dan gandum yang sangat besar, serta kontribusi signifikan terhadap produksi telur global (64%). Negara ini menunjukkan penerapan teknologi pertanian yang berkembang pesat. Dengan Indeks TFP yang tinggi, Tiongkok terus berupaya meningkatkan efisiensi sektor pertaniannya untuk memenuhi permintaan baik domestik maupun global.

 

4.       Rusia (113.150)

Rusia, yang berperan penting dalam pasar gandum global (sekitar 11% dari total produksi), telah meningkatkan efisiensinya melalui penerapan teknologi pertanian modern. Meskipun memiliki luas lahan pertanian yang sangat besar, TFP negara ini menunjukkan bahwa mereka berhasil meningkatkan hasil produksi dengan lebih efisien.

 

5.       India (112.342)

Sebagai salah satu produsen utama beras, gandum, dan susu sapi terbesar di dunia, India menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan produktivitas di tengah pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat. Namun, dengan penerapan teknologi pertanian yang lebih baik dan perbaikan dalam teknik budidaya, India berhasil mencapai efisiensi yang signifikan.

 

6.       Indonesia (107.352)

Indonesia, dengan produksi minyak sawit yang sangat besar (409 juta ton) serta kontribusi penting dalam produksi kakao dan kopi, terus berupaya meningkatkan efisiensi sektor pertaniannya. Meskipun tantangan lingkungan dan isu keberlanjutan menjadi perhatian utama, sektor pertanian Indonesia menunjukkan kemajuan dalam penerapan teknologi pertanian yang lebih efisien.

 

7.       Australia (103.689)

Australia, sebagai eksportir utama gandum dan daging sapi, telah berhasil meningkatkan TFP-nya melalui penerapan teknologi canggih dalam budidaya dan pemeliharaan ternak. Sektor pertanian Australia terus beradaptasi dengan perubahan iklim dan tuntutan pasar internasional.

 

8.       Amerika Serikat (100.609)

Amerika Serikat, sebagai produsen utama jagung, susu sapi, dan daging sapi, berkontribusi besar dalam produksi susu sapi (103 juta ton) dan daging sapi (1,2 miliar ton). Negara ini menunjukkan TFP yang sangat baik, dengan teknologi pertanian yang terus berkembang, fokus pada efisiensi, dan keberlanjutan dalam produksi pangan.

 

9.       Brasil (96.594)

Brasil, yang memiliki peranan penting dalam produksi minyak sawit, kedelai, dan 39% produksi tebu global, terus memperbaiki sektor pertaniannya melalui adopsi teknologi yang lebih efisien. Dengan TFP yang terus meningkat, Brasil menjadi salah satu kekuatan utama dalam pertanian dunia.

 

10.  Uni Eropa

Uni Eropa, terutama negara-negara seperti Jerman, yang merupakan produsen susu sapi terbesar di kawasan ini, serta Prancis dengan produksi gula bitnya, menunjukkan perkembangan TFP yang mengesankan. Meskipun data untuk indeks TFP tidak lengkap, sektor pertanian di Uni Eropa terus menunjukkan kemajuan dalam efisiensi dan penerapan teknologi baru.

 

Menilai Perkembangan TFP dalam Konteks Global

 

Pengukuran TFP di sektor pertanian memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana negara-negara dapat memaksimalkan hasil produksi mereka dengan sumber daya yang terbatas. Meskipun faktor-faktor seperti iklim dan kebijakan pemerintah memainkan peran penting, penerapan teknologi baru dan peningkatan efisiensi dalam sektor pertanian menjadi kunci utama untuk menghadapi tantangan pangan global di masa depan.

 

Indeks TFP juga menunjukkan pentingnya riset dan pengembangan, pelatihan petani, serta kebijakan yang mendukung inovasi dalam sektor pertanian. Negara-negara dengan TFP yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi perubahan iklim, fluktuasi pasar, dan tantangan ketahanan pangan global.

 

Dalam dunia yang semakin terhubung dan berkembang, pengukuran efisiensi sektor pertanian melalui Indeks TFP menjadi sangat penting untuk memastikan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam yang semakin terbatas.


#PertanianIndonesia 

#IndeksTFP 

#TeknologiPertanian 

#KetahananPangan 

#InovasiAgrikultur

Thursday, 13 February 2025

Indonesia Masuk 10 Negara Terbaik Pertaniannya

 

 

Negara dengan Sektor Pertanian Terbaik di Dunia

 

Sektor pertanian dunia terus mengalami transformasi seiring dengan kemajuan teknologi, perubahan iklim, serta dinamika kebijakan agraria. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Pangan Dunia (FAO) dan indeks Total Factor Productivity (TFP) USDA 2022, berikut negara dengan sektor pertanian terbaik tidak hanya unggul dalam volume produksi, tetapi juga dalam efisiensi dan inovasi.

 

Amerika Serikat, Raksasa Produksi dan Inovasi

Amerika Serikat merupakan salah satu negara dengan produksi pertanian terbesar, terutama di sektor sereal dan daging. FAO mencatat bahwa pada 2023, AS menghasilkan 103 juta ton susu sapi dan 42% dari total produksi jagung global. Selain itu, negara ini juga termasuk dalam jajaran pemimpin dalam teknologi pertanian, dengan tingkat adopsi precision farming yang tinggi.

 

China, Terdepan dalam Produksi Pangan

Sebagai negara dengan populasi terbesar, China memiliki output pertanian yang mengesankan. Produksi beras dan gandum mencapai lebih dari 1,6 miliar ton pada 2023, menjadikannya salah satu produsen utama pangan dunia. Di sektor peternakan, produksi telur Tiongkok menyumbang 64% dari total produksi global.

 

 

Brasil, Kekuatan Agribisnis Amerika Latin

Brasil adalah pemain utama dalam produksi kedelai dan tebu. Pada 2023, Brasil menghasilkan lebih dari 409 juta ton minyak sawit dan 39% dari produksi global tebu. Keberhasilan Brasil sebagian besar didukung oleh kebijakan ekspansi lahan dan peningkatan efisiensi di sektor pertanian.

 

India, Dominasi dalam Produksi Susu dan Serealia

India menjadi produsen susu terbesar di dunia, dengan output mencapai 127 juta ton pada 2023. Selain itu, produksi gandum dan beras India menyumbang 26% dari total global. Kenaikan produktivitas India juga didorong oleh penerapan sistem irigasi yang lebih efisien.

 

Uni Eropa, Efisiensi dalam Produksi Pangan

Uni Eropa secara kolektif memiliki sektor pertanian yang sangat maju, dengan Jerman, Prancis, dan Belanda sebagai pemain utama. Eropa menjadi produsen utama gula bit (188 juta ton pada 2023) serta susu sapi, dengan Jerman mencatatkan produksi sebesar 34 juta ton.

 

Indonesia, Raja Minyak Sawit dan Kakao

Indonesia adalah pemimpin dunia dalam produksi kelapa sawit dengan output 409 juta ton pada 2023. Selain itu, sektor kakao dan kopi juga menjadi komoditas ekspor utama. Pertanian di Indonesia semakin berkembang dengan adanya program digitalisasi dan mekanisasi.

 

Australia, Teknologi Pertanian di Wilayah Kering

Dengan iklim yang menantang, Australia tetap menjadi eksportir utama gandum dan daging sapi. Inovasi dalam teknologi irigasi dan pertanian kering memungkinkan Australia mempertahankan posisinya di pasar global.

 

Rusia, Dominasi dalam Produksi Gandum

Rusia adalah eksportir gandum terbesar dengan produksi mencapai 11% dari total global pada 2023. Keunggulan Rusia dalam produksi sereal didukung oleh luasnya lahan pertanian dan kebijakan ekspor yang agresif.

 

Meningkatkan produksi pangan tanpa semakin menguras sumber daya alam hanya bisa dicapai jika sektor pertanian lebih efisien. Di sinilah Total Factor Productivity (TFP) memainkan peran utama.

 

TFP mengukur peningkatan hasil pertanian yang berasal dari kemajuan teknologi, peningkatan keterampilan manajemen, dan perbaikan struktur produksi-bukan dari penggunaan input yang lebih banyak seperti lahan, air, atau pupuk.

 

Dengan kata lain, negara dengan TFP tinggi mampu menghasilkan lebih banyak pangan tanpa harus memperluas lahan pertanian atau mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan.

 

Inilah yang menjelaskan mengapa negara seperti Arab Saudi, meskipun berada di wilayah yang kurang subur, tetap memiliki TFP yang tinggi melalui investasi besar dalam teknologi pertanian modern (European Commission, 2016).

 

Sayangnya, meskipun penelitian dan inovasi di bidang pertanian terbukti sangat menguntungkan dengan tingkat pengembalian investasi antara 30% hingga 75% banyak negara berpendapatan rendah masih mengabaikannya.

 

Di banyak negara berkembang, riset pertanian masih dikuasai sektor publik, sehingga perkembangannya sangat bergantung pada alokasi anggaran pemerintah. Agar sektor swasta lebih aktif berinvestasi dalam inovasi pertanian, perlu ada kebijakan yang melindungi hak kekayaan intelektual tanpa menghalangi petani kecil untuk mengakses teknologi baru.

 

TFP sendiri bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari seberapa efisien sebuah negara memanfaatkan tenaga kerja, modal, dan lahan untuk menghasilkan pangan. Semakin tinggi TFP, semakin baik sebuah negara dalam memaksimalkan sumber dayanya. Inilah sebabnya TFP menjadi indikator penting bagi pembuat kebijakan dan investor dalam memahami efektivitas sistem pertanian suatu negara serta membandingkan kinerjanya dengan negara lain (FAO, 2010; IFPRI, 2019).

 

Arab Saudi, Efisiensi Tertinggi dalam TFP Index

Menurut USDA, Arab Saudi memiliki indeks TFP sebesar 175,38, salah satu yang tertinggi di dunia. Keberhasilannya didorong oleh investasi besar dalam teknologi pertanian vertikal dan irigasi hemat air.

 

Kazakhstan, Kekuatan Baru di Pertanian Eurasia

Kazakhstan menjadi pemain utama dalam produksi gandum dan biji-bijian lainnya, dengan indeks TFP mencapai 131,59. Dengan lahan yang luas dan inovasi dalam pertanian berkelanjutan, Kazakhstan semakin berperan dalam rantai pasok global.

 

Keunggulan sektor pertanian tidak hanya diukur dari volume produksi, tetapi juga dari efisiensi dan inovasi. Negara-negara dengan TFP tinggi, seperti Arab Saudi dan Kazakhstan, menunjukkan bahwa pertanian masa depan tidak selalu bergantung pada luas lahan, melainkan pada teknologi dan efisiensi produksi.

 

SUMBER:

Emanuella Bungasmara Ega Tirta. 10 Negara dengan Sektor Pertanian Terbaik di Dunia; AS - Indonesia CNB Indonesia 12 Februari 2025.

Friday, 9 July 2021

Pasukan Rol Robot Tiongkok: Ketika AI, 5G, dan Mesin Otonom Membangun Infrastruktur Masa Depan



Pasukan rol robot Tiongkok membuka jalan menuju infrastruktur masa depan


Beberapa yang terbesar infrastruktur proyek yang sedang dibangun di Tiongkok sudah mulai menggunakan robot.


Proyek-proyek tersebut termasuk proyek pengalihan air yang paling menantang di dunia, bendungan tertingginya, satu kota futuristik baru, dan bagian dari jalan tol yang diharapkan oleh pemerintah Tiongkok daratan akan menghubungkan Beijing ke Taipei.


Sebagai catatan awal bahwa kecerdasan buatan atau artificial Intelligece (AI) memungkinkan mesin untuk belajar dari pengalaman, menyesuaikan input-input baru dan melaksanakan tugas seperti manusia. Sebagian besar contoh AI yang ada dewasa ini – mulai dari komputer yang bermain catur hingga mobil yang mengendarai sendiri – sangat mengandalkan pembelajaran mendalam dan pemrosesan bahasa alamiah. Dengan menggunakan teknologi ini, komputer dapat dilatih untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu dengan memproses sejumlah besar data dan mengenali pola dalam data.


Kecerdasan buatan atau artificial Intelligece (AI) telah digunakan secara luas dalam ledakan infrastruktur Tiongkok, termasuk dalam pembangunan Baihetan, bendungan pembangkit listrik tenaga air terbesar kedua di dunia, yang dibangun dalam waktu empat tahun. Tetapi tujuan utama dari teknologi adalah untuk mengkoordinasikan aktivitas pekerja manusia. Selama beberapa dekade, robot di industri konstruksi kebanyakan hanya dibicarakan saja. Namun, didorong oleh teknologi yang mengganggu seperti 5G, investasi besar dalam infrastruktur dan kenaikan biaya tenaga kerja, pasukan robot konstruksi yang kecil namun berkembang pesat telah muncul di Cina.


Penggunaan robot mengubah sektor konstruksi Tiongkok “dari industri padat karya menjadi industri teknologi tinggi berbasis pengetahuan”, kata Yan Junle, seorang insinyur sipil senior di proyek pengalihan air lembah sungai Hanjiang-ke-Weihe, dalam sebuah makalah yang diterbitkan bulan ini di jurnal dalam negeri Teknologi dan Manajemen Mesin Konstruksi.


Tim Yan adalah pengguna pertama robot konstruksi dalam proyek infrastruktur besar Tiongkok. Pada tahun 2018, mereka membangun armada rol otonom bekerja sama dengan peneliti dari Universitas Tsinghua dan pendanaan dari pemerintah.


Proyek pengalihan air Han-Wei dirancang untuk menyalurkan 1,5 miliar meter kubik (400 miliar galon) air per tahun dari wilayah Sungai Yangtze ke wilayah Sungai Kuning yang haus di provinsi barat laut Shaanxi – titik awal Sabuk dan Jalan Inisiatif di darat.


Proyek ini melibatkan dua bendungan besar dan terowongan air sepanjang 100 km (62 mil) melalui Pegunungan Qinling. Tanpa rol robot, tim proyek akan berjuang untuk menyelesaikan konstruksi pada tenggat waktu mereka tahun ini, menurut Yan.


Pengemudi manusia harus sering istirahat karena "rol menghasilkan getaran kuat yang dapat menggangu kesehatan", Yan dan rekan mengatakan di koran. Robot juga meningkatkan kualitas konstruksi, kata mereka.


“Penggulungan tradisional oleh manusia tidak dapat memperoleh data konstruksi, dan ada banyak masalah seperti kompresi yang tidak merata, underpressure, overpressure yang sangat mengancam kualitas,” tulis mereka.


Tim proyek infrastruktur lainnya, seperti yang membangun bendungan baru di Tibet dan "kota masa depan" Xiongan di selatan Beijing, mengadopsi teknologi serupa.


Mereka menghadapi beberapa masalah. Sebuah situs konstruksi bisa sangat kompleks, terutama bila menggunakan lebih banyak rol, menurut makalah penelitian yang diterbitkan oleh para ilmuwan yang terlibat dalam proyek ini. Beberapa area kerja, misalnya, bentuknya tidak beraturan, dan memiliki hambatan yang harus dihindari.


Gerakan perencanaan dan koordinasi dapat menimbulkan tantangan bagi teknologi AI, sementara perangkat komunikasi sering rusak di daerah dataran tinggi yang dingin seperti Tibet.


Terlepas dari tantangan seperti itu, proyek pembangkit listrik tenaga air Shuangjiangkou di sungai Dadu di Sichuan membawa penggunaan robot ke tingkat yang baru. Bendungan senilai 20 miliar yuan (US$3 miliar) seharusnya setinggi 312 meter (1.024 kaki) ketika selesai pada 2024.


Tidak seperti proyek pengalihan air Han-Wei, yang menggunakan Sistem Pemosisian Global yang dikembangkan AS, dan radio gelombang mikro untuk komunikasi, robot yang bekerja di bendungan Shuangjiangkou menggunakan sistem navigasi BeiDou baru Tiongkok dan teknologi komunikasi 5G baru.


Rol pintar dihubungkan ke sensor yang ditempatkan di sekitar lokasi konstruksi, dan dilengkapi untuk belajar dari data yang dikumpulkan cara meningkatkan kinerjanya. Drone, sementara itu, digunakan untuk mendeteksi potensi bahaya lingkungan.


Mesin pintar ini terhubung ke komputer pusat yang dilengkapii dengan teknologi AI untuk mengoordinasikan interaksi antara manusia dan mesin, menurut informasi di situs web pemerintah provinsi Sichuan.


Tahun lalu, otoritas transportasi di provinsi Zhejiang menyetujui penggunaan pertama robot dalam pemeliharaan jalan.


Sementara sebagian besar robot konstruksi sejauh ini adalah roller, robot pemelihara di jalan Beijing-Taipei yang diusulkan dapat mengelola berbagai tugas yang lebih luas, seperti mengaspal jalan dengan aspal.


Pihak berwenang menyimpulkan bahwa mesin akan membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja, meningkatkan presisi kerja hingga 50 persen, mengurangi waktu hingga seperempat dan memotong biaya sebesar 15 persen.


Seorang kontraktor swasta pada proyek infrastruktur pemerintah di Guangdong mengatakan robot telah menjadi kata kunci. Mereka mungkin terlihat kikuk, katanya, tetapi mereka dapat merevolusi industri mereka “mirip lokomotif uap awal”.


"Saya akan melakukan apa saja untuk mengganti pekerja dengan mesin," katanya, meminta untuk tidak disebutkan namanya karena ini masalah yang sangat sensitif.


Kebanyakan anak muda tidak mau bekerja di lokasi konstruksi, katanya, seraya menambahkan bahwa keterampilan bervariasi dari satu orang ke orang lain, sedangkan “Robot bagus untuk kontrol kualitas,” katanya.


Beberapa ahli telah memperingatkan bahwa peningkatan penggunaan robot dapat berdampak negatif pada masyarakat.


Sebuah studi yang dipimpin oleh University of Nottingham Ningbo Tiongkok bulan ini menemukan bahwa penggunaan robot tidak membantu meningkatkan pendapatan sebanyak yang diharapkan, dan tidak meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.


Studi lain yang diterbitkan bulan ini oleh para peneliti Universitas Teknologi Guangdong menemukan bahwa di Delta Sungai Pearl, salah satu daerah paling maju di  Tiongkok, transisi dari tenaga kerja manusia ke robot telah meningkatkan pengangguran dan mengurangi gaji rata-rata pekerja.


Penerapan robot dalam skala besar dapat "merangsang pertumbuhan ekonomi tetapi menghancurkan lapangan kerja", kata para peneliti.


Sebuah tim peneliti di Tiongkok telah meluncurkan drone bawah air yang dapat mengenali, mengikuti, dan menyerang kapal selam musuh tanpa instruksi manusia.


Proyek rahasia, yang didanai oleh militer, sebagian dideklasifikasi minggu lalu dengan penerbitan makalah yang memberikan pandangan langka tentang uji lapangan kendaraan bawah air tak berawak atau unmanned underwater vehicle (UUV), yang tampaknya berada di Selat Taiwan, lebih dari satu dekade lalu.


Sumber:

https://www.scmp.com/news/Tiongkok/military/article/3140220/Tiongkok-reveals-secret-programme-unmanned-drone-submarines-dating

diunduh 9 Juli 2021 jam 07:00 WIB.

 

#RobotKonstruksi 

#AIChina 

#InfrastrukturMasaDepan 

#Teknologi5G 

#RevolusiIndustri