Negara dengan Sektor Pertanian Terbaik di Dunia
Sektor pertanian dunia terus mengalami
transformasi seiring dengan kemajuan teknologi, perubahan iklim, serta dinamika
kebijakan agraria. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Pangan Dunia (FAO)
dan indeks Total Factor Productivity
(TFP) USDA 2022, berikut negara dengan sektor pertanian terbaik tidak hanya
unggul dalam volume produksi, tetapi juga dalam efisiensi dan inovasi.
Amerika
Serikat, Raksasa Produksi dan Inovasi
Amerika Serikat merupakan salah satu negara
dengan produksi pertanian terbesar, terutama di sektor sereal dan daging. FAO
mencatat bahwa pada 2023, AS menghasilkan 103 juta ton susu sapi dan 42% dari
total produksi jagung global. Selain itu, negara ini juga termasuk dalam
jajaran pemimpin dalam teknologi pertanian, dengan tingkat adopsi precision
farming yang tinggi.
China,
Terdepan dalam Produksi Pangan
Sebagai negara dengan populasi terbesar,
China memiliki output pertanian yang mengesankan. Produksi beras dan gandum
mencapai lebih dari 1,6 miliar ton pada 2023, menjadikannya salah satu produsen
utama pangan dunia. Di sektor peternakan, produksi telur Tiongkok menyumbang
64% dari total produksi global.
Brasil,
Kekuatan Agribisnis Amerika Latin
Brasil adalah pemain utama dalam produksi
kedelai dan tebu. Pada 2023, Brasil menghasilkan lebih dari 409 juta ton minyak
sawit dan 39% dari produksi global tebu. Keberhasilan Brasil sebagian besar
didukung oleh kebijakan ekspansi lahan dan peningkatan efisiensi di sektor
pertanian.
India,
Dominasi dalam Produksi Susu dan Serealia
India menjadi produsen susu terbesar di
dunia, dengan output mencapai 127 juta ton pada 2023. Selain itu, produksi
gandum dan beras India menyumbang 26% dari total global. Kenaikan produktivitas
India juga didorong oleh penerapan sistem irigasi yang lebih efisien.
Uni Eropa,
Efisiensi dalam Produksi Pangan
Uni Eropa secara kolektif memiliki sektor
pertanian yang sangat maju, dengan Jerman, Prancis, dan Belanda sebagai pemain
utama. Eropa menjadi produsen utama gula bit (188 juta ton pada 2023) serta
susu sapi, dengan Jerman mencatatkan produksi sebesar 34 juta ton.
Indonesia,
Raja Minyak Sawit dan Kakao
Indonesia adalah pemimpin dunia dalam
produksi kelapa sawit dengan output 409 juta ton pada 2023. Selain itu, sektor
kakao dan kopi juga menjadi komoditas ekspor utama. Pertanian di Indonesia
semakin berkembang dengan adanya program digitalisasi dan mekanisasi.
Australia,
Teknologi Pertanian di Wilayah Kering
Dengan iklim yang menantang, Australia tetap
menjadi eksportir utama gandum dan daging sapi. Inovasi dalam teknologi irigasi
dan pertanian kering memungkinkan Australia mempertahankan posisinya di pasar
global.
Rusia,
Dominasi dalam Produksi Gandum
Rusia adalah eksportir gandum terbesar dengan
produksi mencapai 11% dari total global pada 2023. Keunggulan Rusia dalam
produksi sereal didukung oleh luasnya lahan pertanian dan kebijakan ekspor yang
agresif.
Meningkatkan produksi pangan tanpa semakin
menguras sumber daya alam hanya bisa dicapai jika sektor pertanian lebih
efisien. Di sinilah Total Factor Productivity (TFP) memainkan peran utama.
TFP mengukur peningkatan hasil pertanian yang
berasal dari kemajuan teknologi, peningkatan keterampilan manajemen, dan
perbaikan struktur produksi-bukan dari penggunaan input yang lebih banyak
seperti lahan, air, atau pupuk.
Dengan kata lain, negara dengan TFP tinggi
mampu menghasilkan lebih banyak pangan tanpa harus memperluas lahan pertanian
atau mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan.
Inilah yang menjelaskan mengapa negara
seperti Arab Saudi, meskipun berada di wilayah yang kurang subur, tetap
memiliki TFP yang tinggi melalui investasi besar dalam teknologi pertanian
modern (European Commission, 2016).
Sayangnya, meskipun penelitian dan inovasi di
bidang pertanian terbukti sangat menguntungkan dengan tingkat pengembalian
investasi antara 30% hingga 75% banyak negara berpendapatan rendah masih
mengabaikannya.
Di banyak negara berkembang, riset pertanian
masih dikuasai sektor publik, sehingga perkembangannya sangat bergantung pada
alokasi anggaran pemerintah. Agar sektor swasta lebih aktif berinvestasi dalam
inovasi pertanian, perlu ada kebijakan yang melindungi hak kekayaan intelektual
tanpa menghalangi petani kecil untuk mengakses teknologi baru.
TFP sendiri bukan sekadar angka, tetapi
cerminan dari seberapa efisien sebuah negara memanfaatkan tenaga kerja, modal,
dan lahan untuk menghasilkan pangan. Semakin tinggi TFP, semakin baik sebuah
negara dalam memaksimalkan sumber dayanya. Inilah sebabnya TFP menjadi
indikator penting bagi pembuat kebijakan dan investor dalam memahami
efektivitas sistem pertanian suatu negara serta membandingkan kinerjanya dengan
negara lain (FAO, 2010; IFPRI, 2019).
Arab
Saudi, Efisiensi Tertinggi dalam TFP Index
Menurut USDA, Arab Saudi memiliki indeks TFP
sebesar 175,38, salah satu yang tertinggi di dunia. Keberhasilannya didorong
oleh investasi besar dalam teknologi pertanian vertikal dan irigasi hemat air.
Kazakhstan,
Kekuatan Baru di Pertanian Eurasia
Kazakhstan menjadi pemain utama dalam
produksi gandum dan biji-bijian lainnya, dengan indeks TFP mencapai 131,59.
Dengan lahan yang luas dan inovasi dalam pertanian berkelanjutan, Kazakhstan
semakin berperan dalam rantai pasok global.
Keunggulan sektor pertanian tidak hanya
diukur dari volume produksi, tetapi juga dari efisiensi dan inovasi.
Negara-negara dengan TFP tinggi, seperti Arab Saudi dan Kazakhstan, menunjukkan
bahwa pertanian masa depan tidak selalu bergantung pada luas lahan, melainkan
pada teknologi dan efisiensi produksi.
SUMBER:
Emanuella Bungasmara Ega Tirta. 10 Negara dengan
Sektor Pertanian Terbaik di Dunia; AS - Indonesia CNB Indonesia 12 Februari
2025.