Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Ekonomi Jepang. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi Jepang. Show all posts

Tuesday, 12 November 2019

Sentimen Ekonomi Jepang Anjlok ke Level Terendah 8 Tahun, Apa yang Terjadi Setelah Pajak Naik?

 

Sentimen Pengamat Ekonomi Jepang pada Oktober Turun ke Level Terendah dalam 8 Tahun setelah Kenaikan Pajak
 

Sentimen bisnis di kalangan pekerja yang pekerjaannya sensitif terhadap tren ekonomi menurun ke level terendah dalam delapan tahun pada bulan Oktober akibat penurunan penjualan setelah kenaikan pajak konsumsi di awal bulan tersebut, menurut data pemerintah yang dirilis pada hari Senin.

 

Indeks difusi kepercayaan di antara "pengamat ekonomi" seperti pengemudi taksi dan staf restoran turun 10,0 poin dari September menjadi 36,7, level terendah sejak Mei 2011 ketika konsumsi masih melemah pasca gempa bumi besar dan tsunami yang melanda wilayah timur laut Jepang pada Maret tahun tersebut.

 

Besarnya penurunan ini adalah yang paling tajam sejak April 2014, ketika indeks turun 15,7 poin setelah penyesuaian musiman menyusul kenaikan pajak konsumsi dari 5 persen menjadi 8 persen. Tarif pajak kemudian dinaikkan lagi menjadi 10 persen pada Oktober tahun ini.

 

Sentimen bisnis, yang turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, juga melemah akibat dampak serangkaian bencana alam yang melanda Jepang pada Oktober, termasuk Topan Hagibis, menurut seorang pejabat pemerintah.

 

Angka di bawah 50 menunjukkan bahwa lebih banyak responden melaporkan kondisi yang memburuk dibandingkan yang melaporkan perbaikan dalam tiga bulan terakhir.

 

Meskipun indeks turun tajam, Kantor Kabinet mempertahankan penilaiannya bahwa "Ekonomi menunjukkan pergerakan lemah dalam pemulihannya," dengan pejabat tersebut menggambarkan dampak kenaikan pajak dan bencana sebagai "faktor sementara."

 

Dalam survei tersebut, seorang pegawai di toko peralatan rumah tangga di wilayah Koshinetsu, Jepang tengah, mengatakan jumlah pelanggan menurun setelah periode peningkatan permintaan menjelang kenaikan pajak.

 

Sementara itu, indeks difusi yang mengukur prospek ekonomi dalam beberapa bulan mendatang naik 6,8 poin menjadi 43,7 karena banyak responden memperkirakan dampak negatif dari kenaikan tarif pajak kemungkinan akan berkurang dalam waktu dekat.

 

Seorang pekerja di sebuah department store di wilayah Kanto selatan, Jepang timur, mengatakan bahwa pemulihan ekonomi kemungkinan akan terjadi lebih cepat dibandingkan setelah kenaikan pajak sebelumnya, karena musim belanja akhir tahun semakin dekat.

 

Survei ini melibatkan 2.050 orang dari tanggal 25 hingga 31 Oktober, dengan 1.830 orang atau 89,3 persen memberikan tanggapan.

 

SUMBER

The Mainichi, 12 November 2019


#EkonomiJepang 

#PajakKonsumsi 

#SentimenEkonomi 

#BisnisJepang 

#EkonomiGlobal

Saturday, 9 August 2008

Mengapa Jepang Bisa Menjadi Raksasa Ekonomi Dunia? Rahasia Keiretsu, Teknologi, dan Disiplin Kerja yang Mengubah Negeri Sakura!




Ekonomi pasar bebas dan industri Jepang merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Tiongkok dilihat dari segi paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan dengan perdagangan internasional, tapi produktivitas lebih rendah di bidang agriklutur, distribusi, dan pelayanan.

Kerjasama di antara pemerintahan dan perindustrian, etika kerja yang sehat, penguasaan teknologi, penekanan terhadap pendidikan dan alokasi yang kecil untuk pertahanan (1% dari PDB) merupakan antara faktor-faktor yang memungkinkan Jepang berkembang pesat sehingga menjadi salah satu negara yang setanding dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa dari segi penguasaan ekonomi.

Ciri-ciri khas ekonomi Jepang di antaranya adalah kerja sama yang erat di antara perusahaan yang bergerak di bidang pengilangan, perbekalan, pengedaran, dan bank (kelompok kerja sama ini disebut keiretsu); negosiasi upah antara perusahaan swasta dengan serikat buruh (shunto); hubungan baik dengan birokrasi pemerintahan, dan jaminan karir sepanjang hayat (shushin koyo) untuk hampir sepertiga tenaga kerja di kota, dan jaminan kontrak kerja bagi buruh. Perusahaan kecil dan sederhana, wanita, dan pekerja asing biasanya tidak mempunyai fasilitas seperti itu. Bagaimanapun, kebanyakan ciri tersebut semakin terkikis, dan keadaan ekonomi kini sedang berhadapan dengan stagnasi.

Perindustrian merupakan sektor ekonomi yang paling utama buat Jepang yang amat bergantung pada impor bahan mentah dan minyak. Pertanian yang merupakan sektor ekonomi yang kecil mempunyai subsidi yang tinggi dan merupakan satu sektor yang dilindungi.

Ini dapat dilihat dengan jelas pada pertanian yang melibatkan beras. Beras yang diimpor dikenakan pajak sebanyak 490% dan pemerintahan hanya membolehkan kuota sebanyak 3% jumlah beras yang ada di pasaran beras. Selain melindungi pasaran beras, Jepang juga mengadakan usaha untuk menciptakan buah-buahan dan sayur-sayuran yang berkualitas tinggi dan enak namun mahal. Biasanya Jepang mampu menampung keperluan beras rakyatnya sendiri (kecuali beras yang dipakai untuk membuat makanan ringan dan makanan olahan), namun negara ini perlu mengimpor kira-kira 50% kebutuhan serealia dan makanan ternak.

Jepang mempunyai salah satu industri perikanan yang terbesar di dunia yang mencakup hampir 15% penangkapan ikan seluruh dunia, mendorong pada dugaan bahwa perikanan Jepang sedang mengakibatkan jumlah ikan di laut yang berkurang secara drastis, khususnya ikan tuna.

Secara keseluruhan, selama tiga dekade, pertumbuhan ekonomi sebenarnya amat mengagumkan: rata-rata 10% pada dekade 1960-an, rata-rata 5% pada 1970-an, dan rata-rata 4% pada 1980-an. Pertumbuhan ini namun mulai melesu pada dekade 1990-an, terutamanya disebabkan dampak sampingan perburuhan secara berlebihan selepas tahun 1980-an dan dasar-dasar ekonomi pengurangan inflasi yang bertujuan membebaskan diri dari kelebihan spekulasi pasaran saham dan harga penjualan tanah. Usaha-usaha pemerintah untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi kurang berhasil dan terus terjepit pada tahun 2000-2001. Pada tahun 2000 GDP Jepang 3,15 trilyun USD, GDP Real growth rate 1,3%, GDP per capita 49,900 USD. Sedangkan GDP berasal dari sektor pertanian 2%, industri 35% dan Jasa 63% (1999).

Pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal pertama 2008 tumbuh 3,3 persen. Persentase ini muncul lebih cepat dari perkiraan para ekonom, yang disurvei Bloomberg, yang mematok angka 2,5 persen. Keberhasilan Jepang ini disebabkan oleh kegiatan ekspor dan juga bermunculannya pasar-pasar potensial yang baru. Ini membuat atmosfer ekonomi Jepang tertolong dalam menghadapi perlambatan ekonomi AS yang dikhawatirkan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi banyak negara.

PM Junichiro Koizumi mengesahkan atau meluluskan (tetapi adakalanya gagal) undang-undang perburuhan asing dan swastanisasi secara besar-besaran yang dipercaya dapat membantu merangsang kembali ekonomi Jepang. Sejauh ini undang-undang tersebut kelihatan menunjukkan hasil dalam berbagai aspek seperti perburuhan asing, namun sejauh ini belum dapat membantu ekonomi Jepang untuk tumbuh kembali. Perdana Menteri Koizumi berhasil meluluskan rancangan swastanisasi besar termasuk swastanisasi semua kantor pos Jepang.

Kepadatan penduduk yang tinggi dan usia mayoritas penduduk yang semakin tua mengakibatkan penurunan jumlah penduduk. Hal ini mengakibatkan peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan yang harus ditanggung pemerintah. Di masa depan, industri robot diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi yang amat penting. Sejumlah 410.000 dari 720.000 buah robot yang beroperasi di seluruh dunia berada di Jepang.

Sektor pertanian
Hasil utama pertanian Negara Jepang adalah bahan pangan. Walaupun hanya 16% dari luas daratan di Jepang yang dipergunakan untuk pertanian, namun hasilnya termasuk memuaskan. Besarnya hasil pertanian didukung oleh kesuburan lahan pertaniannya karena tanahnya mengandung abu vulkanis. Di samping itu, penggarapan lahan pertanian dilakukan secara intensif dengan didukung teknologi maju. Hasil pertanian berupa padi, kentang, jagung, gandum, kacang, kedelai, dan teh. Hasil peternakan berupa babi, ayam, telur, sapi dan susu. Sayur-sayuran berupa lobak, kubis, ketimun, tomat, wortel, bayam, dan selada. Sedangkan buah-buahan yang banyak ditanam adalah jeruk dan apel.

Sektor perikanan
Jepang menempati urutan ke-2 di dunia di belakang RRC dalam tonase penangkapan ikan (tahun 1989: 11,9 juta ton), turun pelan-pelan dari 11,1 juta ton pada tahun 1980. Setelah terjadi krisis energi tahun 1973, perikanan laut dalam di Jepang menurun. Pada tahun 1980-an, jumlah tangkapan ikan per tahun rata-rata 2 juta ton. Perikanan lepas pantai 50 % dari penangkapan ikan total negeri itu pada akhir 1980-an meski beberapa kali mengalami kenaikan dan penurunan.
Perikanan pesisir dilakukan dengan perahu kecil, jala, atau teknik campuran terhitung sekitar sepertiga produksi total industri perikanan Jepang, Sementara itu perikanan pesisir laut dengan kapal ukuran menengah terhitung sekitar lebih dari separuh produksi total. Di antara spesies ikan yang ditangkap misalnya: sarden, tuna, kepiting, udang, salmon, dan makerel.
Jepang mempertahankan armada perikanan terbesar di dunia dan terhitung sekitar 15% penangkapan global, memunculkan sejumlah pernyataan bahwa perikanan Jepang sedang menimbulkan pengurangan stok ikan seperti tuna. Jepang juga menebarkan kontroversi dengan mendukung perburuan ikan paus.

Sektor industri
Industri ekspor utama Jepang adalah otomotif, elektronik konsumen (lihat industri elektronik konsumen Jepang), komputer, semikonduktor, besi, dan baja.
Industri penting lain dalam ekonomi Jepang adalah petrokimia, farmasi, bioindustri, galangan kapal, dirgantara, tekstil, dan makanan yang diproses. Industri manufaktur Jepang banyak bergantung pada impor bahan mentah dan BBM.

Sektor pertambangan
Pertambangan adalah industri yang sedang menurun di Jepang sejak tahun 1980-an. Produksi batu bara dalam negeri anjlok dari puncaknya 55 juta ton pada 1960 ke hampir lebih dari 16 juta ton pada 1985, sedangkan impor batu bara naik hingga sekitar 91 juta ton pada 1987. Perusahaan pertambangan batu bara dalam negeri harus bersaing dengan batu bara murah hasil impor dan biaya produksi batu bara dalam negeri yang tinggi. Puncaknya adalah defisit cadangan batu bara pada tahun 1980-an. Pada tahun 1980-an, hampir sekitar 1 juta ton cadangan batu bara Jepang sebagian besar digunakan untuk batu arang. Sebagian besar batu bara yang dikonsumsi Jepang merupakan bahan bakar bagi pembangkit listrik.

Sektor jasa
Sejumlah tiga perempat dari total penghasilan ekonomi Jepang berasal dari sektor jasa. Industri utama sektor jasa di Jepang berupa bank, asuransi, real estat, transportasi, dan telekomunikasi. Mitsubishi UFJ, Mizuho, NTT, TEPCO, Nomura, Mitsubishi Estate, Tokio Marine, Japan Railway, Seven & I, ANA telah menjadi perusahaan besar dunia. Enam keiretsu utama terdiri dari grup Mitsubishi, Sumitomo, Fuyo, Mitsui, Dai-Ichi Kangyo, dan Sanwa. Sejumlah 326 perusahaan yang berada dalam daftar Forbes Global 2000 (16,3%) berada di Jepang.

SUMBER UTAMA : http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang#Sektor_pertanian

#EkonomiJepang 
#IndustriJepang 
#TeknologiJepang 
#Keiretsu 
#NegeriSakura