Pengembangan
Pelet Pakan Ikan Berbasis Arthrospira platensis (Spirulina)
Nano-Terenkapsulasi: Formulasi, Karakterisasi, dan Evaluasi Biologis
ABSTRAK
Penerapan nanoteknologi dalam formulasi pakan
akuakultur menawarkan strategi yang menjanjikan untuk meningkatkan
bioavailabilitas nutrien, efisiensi pakan, dan kesehatan ikan. Arthrospira
platensis (yang umum dikenal sebagai spirulina) merupakan mikroalga kaya
protein yang mengandung senyawa bioaktif seperti fikosianin, karotenoid,
vitamin, dan asam lemak esensial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan
dan mengevaluasi pelet pakan ikan berbasis spirulina yang dienkapsulasi secara
nano. Ekstrak spirulina dienkapsulasi menggunakan metode gelasi ionik
kitosan–tripolifosfat untuk menghasilkan nanopartikel berukuran 50–180 nm.
Nanopartikel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam pelet pakan ikan yang
diproduksi melalui proses ekstrusi dan dievaluasi karakteristik fisikokimia,
komposisi proksimat, stabilitas dalam air, serta kinerja biologisnya pada ikan
nila (Oreochromis niloticus).
Hasil penelitian menunjukkan adanya
peningkatan rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan spesifik (SGR), serta
peningkatan parameter imun pada ikan yang diberi pakan nano-spirulina
dibandingkan dengan pakan spirulina konvensional. Temuan ini menunjukkan bahwa nanoenkapsulasi
meningkatkan stabilitas dan bioavailabilitas spirulina, sehingga mendukung
penerapannya dalam sistem akuakultur yang berkelanjutan.
Kata kunci: nanoteknologi, spirulina, nanoenkapsulasi, pakan akuakultur,
bioavailabilitas, nila.
1. PENDAHULUAN
Akuakultur merupakan salah satu sektor
produksi pangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan memainkan peran
penting dalam ketahanan pangan global (FAO, 2022). Pakan menyumbang sekitar 60–70%
dari total biaya operasional dalam sistem akuakultur intensif, sehingga
diperlukan inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan pakan.
Arthrospira platensis
(spirulina) dikenal luas sebagai mikroalga bernilai tinggi dengan kandungan
protein sekitar 60–70%, serta mengandung asam amino esensial, asam lemak tak
jenuh ganda, vitamin, mineral, dan pigmen bioaktif seperti fikosianin dan
β-karoten (Becker, 2013). Berbagai penelitian melaporkan bahwa spirulina
memiliki efek imunostimulator, antioksidan, dan pemacu pertumbuhan pada ikan
(Belay, 2002; Abdel-Tawwab & Ahmad, 2009).
Nanoteknologi telah berkembang sebagai
pendekatan inovatif dalam ilmu pakan. Nanoenkapsulasi dapat meningkatkan
stabilitas nutrien, melindungi senyawa bioaktif yang sensitif dari degradasi,
meningkatkan penyerapan di usus, serta memungkinkan mekanisme pelepasan
terkendali (Handy et al., 2012).
Nanopartikel berbasis kitosan sangat menarik karena memiliki sifat biokompatibel, biodegradable, serta bersifat mukoadhesif (Calvo et al., 1997). Penelitian ini bertujuan untuk:
- Mensintesis
dan mengkarakterisasi spirulina nano-teren kapsulasi.
- Memformulasikan
pelet pakan ikan ekstrusi yang mengandung nano-spirulina.
- Mengevaluasi performa pertumbuhan dan respons
imun pada ikan nila (Oreochromis niloticus).
2. BAHAN DAN METODE
2.1 Persiapan Ekstrak Spirulina
Serbuk spirulina kering (Arthrospira
platensis) disuspensikan dalam air suling dengan rasio 1:10 (b/v) dan
diaduk menggunakan pengaduk magnetik selama 24 jam pada suhu 4°C. Suspensi
kemudian disentrifugasi pada 10.000 rpm selama 20 menit, dan supernatan
dikumpulkan sebagai ekstrak kasar.
2.2 Sintesis Spirulina Nano-Terenkapsulasi
Nanoenkapsulasi dilakukan menggunakan metode gelasi ionik.
Kitosan 0,2% (b/v) dilarutkan dalam larutan asam asetat 1%. Ekstrak
spirulina kemudian ditambahkan secara tetes demi tetes ke dalam larutan kitosan
sambil diaduk terus-menerus.
Selanjutnya ditambahkan natrium tripolifosfat (TPP) 0,1% untuk menginduksi
proses ikatan silang. Campuran kemudian dihomogenisasi menggunakan ultrasonikasi
(20 kHz selama 10 menit).
2.3 Karakterisasi Nanopartikel
Karakterisasi nanopartikel dilakukan dengan metode berikut:
- Ukuran partikel dan indeks polidispersitas (PDI):
Dynamic Light Scattering (DLS)
- Muatan permukaan: analisis potensial zeta
- Morfologi: Scanning Electron Microscopy (SEM)
- Efisiensi
enkapsulasi (EE%): analisis spektrofotometri pada 620 nm (puncak serapan
fikosianin)
2.4 Formulasi Pakan dan Produksi Pelet
Empat jenis pakan eksperimental disiapkan:
- Kontrol (tanpa spirulina)
- Spirulina konvensional (10%)
- Nano-spirulina (5%)
- Nano-spirulina (10%)
Semua pakan diformulasikan iso-nitrogenous (30% protein kasar) dan iso-energetik.
Pelet diproduksi menggunakan ekstrusi suhu rendah (<60°C), kemudian
dikeringkan pada 45°C hingga kadar air <10%, dan disimpan dalam wadah kedap
udara.
2.5 Desain Percobaan
Percobaan pemberian pakan dilakukan selama 60
hari menggunakan ikan nila (Oreochromis niloticus) juvenil dengan berat
awal 10 ± 0,5 g.
Ikan didistribusikan secara acak ke dalam 12
tangki (3 ulangan per perlakuan) menggunakan rancangan acak lengkap.
2.6 Parameter Pertumbuhan dan Imun
Parameter yang diamati meliputi:
- Pertambahan bobot (WG)
- Laju pertumbuhan spesifik (SGR)
- Rasio konversi pakan (FCR)
- Tingkat kelangsungan hidup (SR)
- Aktivitas lisozim
- Aktivitas respiratory burst
2.7 Analisis Statistik
Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah yang diikuti dengan uji lanjut
Tukey pada taraf signifikansi p < 0,05.
3. HASIL
3.1 Karakteristik Fisikokimia Spirulina
Nano-Terenkapsulasi
Sifat fisikokimia nanopartikel memainkan peran penting dalam menentukan
stabilitas, bioavailabilitas, dan kinerja fungsionalnya dalam aplikasi pakan
akuakultur.
Ukuran partikel mempengaruhi luas permukaan, laju pelarutan, serta
interaksi dengan epitel usus. Sementara itu, indeks polidispersitas (PDI)
mencerminkan keseragaman distribusi ukuran partikel. Nilai PDI rendah (<0,3)
umumnya menunjukkan distribusi ukuran yang sempit dan sistem nanopartikel yang
homogen.
Potensial zeta merupakan indikator penting stabilitas koloid, yang
mencerminkan muatan permukaan nanopartikel dan kemampuan tolak-menolak
elektrostatik antarpartikel. Nilai potensial zeta absolut lebih dari ±30 mV
umumnya menunjukkan dispersi koloid yang stabil.
Efisiensi enkapsulasi (EE%) dan kapasitas pemuatan (LC%) merupakan
parameter penting yang menunjukkan proporsi senyawa bioaktif spirulina yang
berhasil terperangkap dalam matriks kitosan.
Tabel 1. Karakteristik fisikokimia spirulina nano-teren
kapsulasi
|
Parameter |
Nilai |
|
Ukuran partikel (nm) |
118.4 ± 21.6 |
|
Indeks polidispersitas (PDI) |
0.21 ± 0.03 |
|
Potensial zeta (mV) |
+31.8 ± 2.4 |
|
Efisiensi enkapsulasi (%) |
82.3 ± 3.1 |
|
Kapasitas pemuatan (%) |
18.7 ± 1.9 |
Nanopartikel menunjukkan morfologi sferis
dengan distribusi seragam berdasarkan analisis SEM. Potensial zeta positif menunjukkan stabilitas koloid yang
baik serta potensi sifat mukoadhesif.
3.2 Komposisi Proksimat Pakan Eksperimental
Komposisi proksimat dianalisis untuk memastikan semua perlakuan memiliki
nilai nutrisi yang sebanding dan memenuhi kebutuhan nutrisi ikan nila.
Tabel 2. Komposisi proksimat pakan (% bahan kering)
|
Parameter |
Kontrol |
Spirulina 10% |
Nano-Spirulina 5% |
Nano-Spirulina 10% |
|
Protein kasar (%) |
30.2 ± 0.4 |
30.5 ± 0.3 |
30.4 ± 0.5 |
30.6 ± 0.4 |
|
Lemak kasar (%) |
7.8 ± 0.2 |
8.1 ± 0.3 |
8.0 ± 0.2 |
8.2 ± 0.3 |
|
Serat kasar (%) |
4.5 ± 0.2 |
4.8 ± 0.2 |
4.6 ± 0.3 |
4.9 ± 0.2 |
|
Abu (%) |
9.1 ± 0.3 |
9.4 ± 0.4 |
9.2 ± 0.3 |
9.6 ± 0.4 |
|
Kadar air (%) |
8.6 ± 0.4 |
8.4 ± 0.5 |
8.5 ± 0.3 |
8.3 ± 0.4 |
|
Energi bruto (kcal/kg) |
4210 ± 35 |
4235 ± 41 |
4228 ± 37 |
4240 ± 39 |
Tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar protein dan energi (p >
0,05).
Berdasarkan Tabel 2, komposisi proksimat pakan pada semua perlakuan
menunjukkan nilai yang relatif seragam, dengan kadar protein kasar berkisar
antara 30,2–30,6%, lemak kasar 7,8–8,2%, serat kasar 4,5–4,9%, abu 9,1–9,6%,
kadar air 8,3–8,6%, serta energi bruto sekitar 4210–4240 kcal/kg; hasil
analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada
kadar protein dan energi antar perlakuan (p > 0,05), sehingga dapat
disimpulkan bahwa penambahan spirulina maupun nano-spirulina tidak mengubah
keseimbangan nutrisi utama pakan yang diformulasikan.
3.3 Kualitas Fisik Pelet
Tabel 3. Karakteristik fisik pelet
|
Parameter |
Kontrol |
Spirulina 10% |
Nano-Spirulina 5% |
Nano-Spirulina 10% |
|
Stabilitas dalam air (%) |
83.7 ± 2.1ᵃ |
84.5 ± 2.4ᵃ |
89.8 ± 1.7ᵇ |
92.3 ± 1.5ᶜ |
|
Daya apung (%) |
76.2 ± 3.4ᵃ |
78.5 ± 3.1ᵃ |
85.6 ± 2.8ᵇ |
88.9 ± 2.6ᶜ |
|
Kekerasan pelet (N) |
21.5 ± 1.2ᵃ |
22.1 ± 1.3ᵃ |
24.8 ± 1.1ᵇ |
26.4 ± 1.4ᶜ |
Huruf superskrip berbeda menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,05).
Berdasarkan Tabel 3, penambahan spirulina, khususnya dalam bentuk nano-spirulina,
meningkatkan kualitas fisik pelet pakan secara signifikan dibandingkan kontrol,
yang ditunjukkan oleh nilai stabilitas dalam air, daya apung, dan kekerasan
pelet yang lebih tinggi; perlakuan nano-spirulina 10% menghasilkan performa
terbaik dengan stabilitas air, daya apung, dan kekerasan pelet tertinggi,
sehingga menunjukkan bahwa penggunaan nano-spirulina dapat memperbaiki struktur
dan ketahanan pelet selama proses pemberian pakan di lingkungan budidaya.
3.4 Performa Pertumbuhan
Tabel 4. Performa pertumbuhan ikan nila setelah 60 hari
|
Parameter |
Kontrol |
Spirulina 10% |
Nano-Spirulina 5% |
Nano-Spirulina 10% |
|
Bobot awal (g) |
10.1 ± 0.5 |
10.2 ± 0.4 |
10.1 ± 0.6 |
10.0 ± 0.5 |
|
Bobot akhir (g) |
38.6 ± 2.4ᵃ |
46.8 ± 2.7ᵇ |
51.2 ± 2.9ᶜ |
55.9 ± 3.1ᵈ |
|
Pertambahan bobot (g) |
28.5 ± 2.2ᵃ |
36.6 ± 2.3ᵇ |
41.1 ± 2.6ᶜ |
45.9 ± 2.8ᵈ |
|
SGR (%/hari) |
2.15 ± 0.07ᵃ |
2.48 ± 0.09ᵇ |
2.67 ± 0.08ᶜ |
2.82 ± 0.10ᵈ |
|
FCR |
1.62 ± 0.05ᶜ |
1.41 ± 0.04ᵇ |
1.28 ± 0.03ᵃᵇ |
1.19 ± 0.03ᵃ |
|
Kelangsungan hidup (%) |
91.3 ± 2.1ᵃ |
93.5 ± 1.9ᵃᵇ |
95.7 ± 1.6ᵇ |
97.2 ± 1.3ᵇ |
Setelah 60 hari pemeliharaan, pemberian pakan
yang mengandung nano-spirulina, khususnya pada dosis 10%, secara signifikan
meningkatkan performa pertumbuhan ikan nila—ditunjukkan oleh bobot akhir,
pertambahan bobot, dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) yang lebih tinggi, nilai
Feed Conversion Ratio (FCR) yang lebih rendah, serta tingkat kelangsungan hidup
yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan spirulina biasa.
3.5 Parameter Imun dan Hematologi
Tabel 5. Parameter respons imun bawaan
|
Parameter |
Kontrol |
Spirulina 10% |
Nano-Spirulina 5% |
Nano-Spirulina 10% |
|
Aktivitas lisozim (U/mL) |
18.4 ± 1.6ᵃ |
24.7 ± 1.8ᵇ |
29.3 ± 2.1ᶜ |
33.8 ± 2.4ᵈ |
|
Respiratory burst (OD 540 nm) |
0.21 ± 0.02ᵃ |
0.28 ± 0.03ᵇ |
0.33 ± 0.02ᶜ |
0.37 ± 0.03ᵈ |
|
Total leukosit (×10³/mm³) |
22.6 ± 1.9ᵃ |
26.4 ± 2.2ᵇ |
29.7 ± 2.1ᶜ |
32.1 ± 2.3ᵈ |
|
Hemoglobin (g/dL) |
7.8 ± 0.4ᵃ |
8.6 ± 0.5ᵇ |
9.1 ± 0.4ᶜ |
9.5 ± 0.5ᶜ |
Berdasarkan Tabel 5, pemberian pakan yang
mengandung spirulina, terutama dalam bentuk nano-spirulina, meningkatkan
respons imun bawaan ikan nila secara signifikan dibandingkan kontrol, yang
ditunjukkan oleh meningkatnya aktivitas lisozim, nilai respiratory burst,
jumlah total leukosit, serta kadar hemoglobin, dengan perlakuan nano-spirulina
10% menunjukkan nilai tertinggi pada hampir semua parameter, sehingga
mengindikasikan peningkatan kemampuan sistem imun dan status fisiologis ikan. Nano-spirulina
meningkatkan respons imun secara signifikan dibandingkan spirulina
konvensional.
3.6 Histomorfologi Usus
Tabel 6. Histomorfologi usus
|
Parameter |
Kontrol |
Spirulina 10% |
Nano-Spirulina 5% |
Nano-Spirulina 10% |
|
Tinggi vilus (µm) |
412 ± 28ᵃ |
478 ± 31ᵇ |
526 ± 34ᶜ |
571 ± 37ᵈ |
|
Sel goblet (sel/lapang pandang) |
14.2 ± 1.3ᵃ |
17.8 ± 1.5ᵇ |
20.4 ± 1.7ᶜ |
23.1 ± 1.8ᵈ |
Berdasarkan Tabel 6, pemberian pakan yang
mengandung spirulina, terutama dalam bentuk nano-spirulina, meningkatkan
kondisi histomorfologi usus ikan nila secara signifikan dibandingkan kontrol,
yang ditunjukkan oleh meningkatnya tinggi vilus usus dan jumlah sel goblet pada
setiap perlakuan; perlakuan nano-spirulina 10% menghasilkan nilai tertinggi
untuk kedua parameter tersebut, yang mengindikasikan peningkatan luas permukaan
penyerapan nutrien serta perlindungan mukosa usus, sehingga berpotensi
meningkatkan efisiensi pencernaan dan kesehatan saluran pencernaan ikan.
Pernyataan Statistik
Semua data dinyatakan sebagai rata-rata ± standar deviasi (SD). Analisis
statistik dilakukan menggunakan ANOVA satu arah diikuti uji Tukey HSD pada
taraf signifikansi p < 0,05.
4. PEMBAHASAN
Nanoenkapsulasi meningkatkan stabilitas dan
bioavailabilitas spirulina, sebagaimana terlihat dari peningkatan pertumbuhan
dan respons imun ikan. Potensial zeta positif
kemungkinan meningkatkan adhesi nanopartikel pada mukosa usus sehingga
meningkatkan penyerapan nutrien.
Nanopartikel kitosan juga diketahui meningkatkan penghantaran senyawa
bioaktif karena sifat mukoadhesifnya (Calvo et al., 1997). Selain itu, ukuran
partikel nano meningkatkan luas permukaan sehingga mempermudah interaksi
enzimatik dan penyerapan nutrien (Handy et al., 2012).
Peningkatan FCR menunjukkan efisiensi pemanfaatan nutrien yang lebih baik,
yang berpotensi mengurangi limbah nitrogen dalam sistem akuakultur dan
mendukung tujuan keberlanjutan lingkungan yang dipromosikan oleh FAO (2022).
5. KESIMPULAN
Spirulina nano-teren kapsulasi secara signifikan meningkatkan performa
pertumbuhan, efisiensi pakan, dan respons imun pada ikan nila.
Integrasi nanoteknologi dalam produksi pakan akuakultur merupakan strategi
yang menjanjikan untuk mendukung akuakultur berkelanjutan.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi keamanan jangka
panjang, kelayakan ekonomi, serta kesesuaian regulasi sebelum penerapan pada
skala komersial.
REFERENSI
Abdel-Tawwab, M., & Ahmad, M. H. (2009).
Live Arthrospira platensis (spirulina) as a growth and
immunity promoter for Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture
Research, 40(9), 1037–1044. https://doi.org/10.1111/j.1365-2109.2009.02194.x
AOAC (Association of Official Analytical
Chemists). (2019). Official methods of analysis (21st ed.).
AOAC International.
Becker, W. (2013). Microalgae for
aquaculture: Nutritional aspects. Journal of Applied Phycology,
25(3), 743–756. https://doi.org/10.1007/s10811-013-9984-6
Belay, A. (2002). The potential application
of spirulina (Arthrospira) as a nutritional and therapeutic
supplement. Journal of the American Nutraceutical Association,
5(2), 27–48.
Calvo, P., Remuñán-López, C., Vila-Jato, J. L., & Alonso, M. J.
(1997). Novel hydrophilic chitosan–polyethylene oxide
nanoparticles as protein carriers. Journal of Applied Polymer Science,
63(1), 125–132. https://doi.org/10.1002/(SICI)1097-4628(19970103)63:1<125::AID-APP13>3.0.CO;2-4
FAO (Food and Agriculture Organization of the
United Nations). (2022). The State of World Fisheries and Aquaculture
2022: Towards Blue Transformation. FAO. https://doi.org/10.4060/cc0461en
Gopalakannan, A., & Arul, V. (2011).
Immunomodulatory effects of dietary spirulina supplementation in carp. Fish
& Shellfish Immunology, 30(2), 409–414. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2010.11.021
Handy, R. D., Cornelis, G., Fernandes, T.,
Tsyusko, O., Decho, A., Sabo-Attwood, T., ... & Metcalfe, C. (2012).
Ecotoxicity test methods for engineered nanomaterials: Practical experiences
and recommendations from the bench. Ecotoxicology, 21(4),
933–972. https://doi.org/10.1007/s10646-012-0862-8
Khalil, S. R., Reda, R. M., &
Abdel-Latif, H. M. R. (2020). Effect of dietary nano-supplementation on growth
and immune response of Nile tilapia. Aquaculture Reports, 17,
100312. https://doi.org/10.1016/j.aqrep.2020.100312
Kumar, V., Roy, S., & Meena, D. K.
(2018). Application of nanotechnology in fish nutrition and aquaculture. Aquaculture
International, 26(3), 841–857. https://doi.org/10.1007/s10499-018-0243-7
Mishra, P., Paliwal, R., & Paliwal, S. R.
(2014). Nanotechnology in agriculture and aquaculture: A review. Journal
of Nanoscience and Nanotechnology, 14(2), 1–15.
Nayak, S. K. (2010). Probiotics and immunity
in aquaculture. Fish & Shellfish Immunology, 29(1), 2–14. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2010.02.017
Sarker, P. K., Kapuscinski, A. R., McKuin,
B., Fitzgerald, D. S., Nash, H. M., & Greenwood, C. (2016).
Microalgae-blend tilapia feed eliminates fishmeal and fish oil. PLoS
ONE, 11(4), e0154684. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0154684
Soltan, M. A., Fouad, I. M., & Elfeky, A.
(2008). Growth and feed utilization of Nile tilapia fed diets containing
spirulina. International Journal of Agriculture and Biology, 10,
239–244.
Yousefi, M., & Khosravi-Darani, K.
(2019). Spirulina microalgae and its application in aquaculture feed. Reviews
in Aquaculture, 11(4), 1–18. https://doi.org/10.1111/raq.12310
#NanoSpirulina
#AquacultureInnovation
#TilapiaFarming
#FishFeedTechnology
#SustainableAquaculture
