Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts

Tuesday, 23 September 2025

8 Pahlawan Alam, Inspirasi Selamatkan Bumi

Di tengah ancaman perubahan iklim, hilangnya habitat, dan kepunahan spesies, muncul sosok-sosok luar biasa yang memilih berdiri di garis depan perjuangan menyelamatkan bumi. Mereka bukan selebritas atau tokoh politik besar, melainkan individu penuh dedikasi yang dengan caranya masing-masing melindungi kehidupan—baik melalui hutan tropis, sabana, gurun, hingga garis pantai. Kisah mereka membuktikan satu hal penting: bahkan seorang individu pun mampu membawa perubahan nyata bagi planet ini.

 

Dari Sumatra hingga Afrika, dari padang gurun Amerika hingga hutan bakau Mumbai, para pahlawan konservasi ini menjadi cahaya harapan di tengah tantangan global. Dengan keberanian, ilmu pengetahuan, dan kepedulian, mereka menjaga keseimbangan alam sekaligus mengajarkan kita arti tanggung jawab terhadap bumi yang kita huni bersama.

 

Farwiza Farhan: Penjaga Hutan Leuser

Di Aceh, Farwiza Farhan mendirikan HAkA (Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh) untuk melindungi Ekosistem Leuser—rumah bagi gajah, orangutan, dan harimau Sumatra. Bersama timnya, ia menantang korporasi besar, memenangkan gugatan terhadap perusahaan sawit, dan mengamankan dana pemulihan hutan senilai jutaan dolar. Penghargaan internasional pun datang, termasuk pengakuan dari majalah TIME. Namun yang terpenting, perjuangannya telah menginspirasi masyarakat Aceh untuk mengambil peran dalam menjaga rumah besar mereka: hutan.

Farwiza Farhan (dari Indonesia)


El Hadji Salifou Ouédraogo: Penanam Hutan Baobab

Di Burkina Faso, Ouédraogo menanam lebih dari 3.000 pohon baobab selama 47 tahun. Hasilnya kini berupa hutan seluas 14 hektare yang menjadi sumber makanan, obat, dan habitat bagi manusia serta satwa liar. Buah baobab yang kaya vitamin bukan hanya menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menghidupkan kembali kearifan lokal dalam menjaga alam. Ia membuktikan bahwa kesabaran menanam satu pohon demi satu pohon mampu menciptakan warisan ekologi lintas generasi.

El Hadji Salifou Ouédraogo (dari Burkina Faso)

 

David Parsons: Sang Penyelamat Serigala

Sebagai ahli biologi satwa liar, David Parsons mendedikasikan hidupnya untuk serigala abu-abu Meksiko yang hampir punah. Ia memimpin program pemulihan di Amerika Serikat dan kini bersama Project Coyote memperjuangkan perlindungan hukum bagi spesies ini. Dedikasinya menunjukkan betapa pentingnya predator puncak bagi ekosistem, karena tanpa mereka, keseimbangan rantai makanan bisa runtuh.

David Parsons (dari Negara Begian New Mexico, AS)

 

Rose Piccinini: Peneliti Lanskap Gersang yang Kaya Kehidupan

Rose Piccinini menemukan keajaiban di balik lanskap semak-stepa Washington yang tampak tandus. Ia membuktikan bahwa wilayah ini sebenarnya menyimpan kehidupan unik: dari kelinci kerdil hingga lynx Kanada. Bersama komunitas adat, ia menjalankan program reintroduksi lynx yang mengembalikan spesies langka ini ke habitat aslinya. Pekerjaannya mengajarkan kita untuk tidak menilai sebuah lahan dari “tampilan luar” semata, karena kehidupan tersembunyi bisa jadi sangat berharga.

Rose Piccinini (dari Negara Bagian Woshington, AS)

 

Dr. Laurie Marker: Sahabat Cheetah Afrika

Cheetah adalah kucing tercepat di dunia, tetapi populasinya kian terancam. Dr. Laurie Marker mendirikan Cheetah Conservation Fund (CCF) di Namibia, membangun pendekatan unik dengan melibatkan petani. Ia memperkenalkan anjing penjaga ternak agar konflik manusia-cheetah berkurang. Pendekatan ini tak hanya melindungi satwa liar, tetapi juga menumbuhkan rasa saling menghargai antara manusia dan predator.

Dr. Laurie Marker (dari Namibia)

 

Thai Van Nguyen: Penyelamat Trenggiling

Trenggiling adalah mamalia paling banyak diperdagangkan di dunia. Thai Van Nguyen mendirikan Save Vietnam’s Wildlife (SVW), pusat rehabilitasi pertama untuk trenggiling di Asia. Ia dan timnya berhasil melepasliarkan ratusan trenggiling kembali ke alam. Usahanya bahkan mendorong lahirnya larangan perdagangan trenggiling secara internasional. Dedikasi Nguyen adalah bukti nyata bahwa edukasi masyarakat bisa menghentikan mitos berbahaya dan menyelamatkan spesies yang hampir punah.

Thai Van Nguyen (dari Vietnam)

 

Dr. Augustin Basabose: Penjaga Gorila di Kongo

Di Republik Demokratik Kongo, Dr. Augustin Basabose memimpin upaya konservasi gorila Grauer. Ia mendirikan Primate Expertise dan menjalankan proyek Ape Trees™, yakni menanam pohon dari biji yang dikumpulkan melalui kotoran kera. Program ini bukan hanya memulihkan hutan yang rusak, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar taman nasional. Basabose menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat bersinergi dengan kearifan lokal untuk menyelamatkan primata terbesar di dunia.

Dr. Augustin Basabose (dari Republik Demokaratik Kongo)

 

Seema Adgaonkar: Perempuan Penjaga Bakau Mumbai

Di tengah hiruk-pikuk Mumbai, Seema Adgaonkar menjaga hutan bakau yang vital bagi perlindungan pesisir. Sebagai satu-satunya petugas perempuan di Unit Konservasi Bakau Mumbai, ia memimpin penanaman jutaan bibit bakau dan menindak pelanggaran perusakan lahan. Bakau bukan hanya pelindung garis pantai dari banjir, tetapi juga benteng alami menghadapi perubahan iklim. Dedikasi Adgaonkar adalah simbol bahwa konservasi bisa berakar di kota besar sekalipun.

Seema Adgaonkar (dari Mumbai)

 

Kesimpulan: Satu Orang Bisa Menyelamatkan Dunia


Kisah kedelapan pahlawan konservasi ini mengingatkan kita bahwa perjuangan melestarikan bumi bukanlah tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama. Mereka telah membuktikan, dari menanam pohon hingga menyelamatkan satwa, dari menjaga hutan hingga melindungi bakau, setiap langkah kecil bisa membawa perubahan besar.

 

Bumi kita sedang menunggu lebih banyak pahlawan—bukan dengan jubah atau pedang, melainkan dengan hati, ilmu, dan kepedulian. Pertanyaannya kini: beranikah kita mengambil langkah sederhana hari ini untuk ikut menjaga kehidupan.


SUMBER

Lindsey Jean Schueman. Meet eight conservation heroes saving our planet, one species at a time.

https://www.oneearth.org/meet-eight-conservation-heroes-saving-our-planet-one-species-at-a-time/

Wednesday, 14 May 2025

Makhluk Laut Sekarat karena Plastik

 

Darrell Blatchley, pendiri sekaligus direktur D' Bone Collector Museum menunjukkan sampah plastik yang ditemukan di dalam perut bangkai paus Cuvier's beaked di Davao, Filipina.


Tahukah kamu bahwa banyak hewan laut tidak mampu membedakan antara plastik dan makanan alami? Mereka sering kali mengira potongan plastik sebagai makanan favorit mereka. Akibatnya, plastik yang tidak dapat dicerna itu masuk ke tubuh mereka dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga hambatan pertumbuhan.

 

Bahkan, beberapa burung laut diketahui memberi makan anak-anaknya dengan plastik yang mereka temukan di permukaan laut. Mereka mengira itu adalah makanan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: anak-anak burung tersebut mengalami gangguan pertumbuhan karena perut mereka sudah penuh dengan benda yang tidak bisa dicerna.

 

Mikroplastik: Ancaman yang Lebih Halus tapi Mematikan

Tak hanya plastik berukuran besar, plastik yang sangat kecil atau dikenal sebagai mikroplastik juga menjadi ancaman serius. Karena ukurannya yang mikroskopis, mikroplastik mudah tertelan oleh plankton, ikan kecil, dan hewan laut lainnya. Partikel-partikel ini lalu masuk ke dalam rantai makanan laut—dan pada akhirnya, bisa sampai ke meja makan kita.

 

Mikroplastik berasal dari berbagai sumber, seperti serpihan botol plastik, kosmetik, dan pakaian sintetis. Meski tak terlihat, dampaknya sangat nyata dan berbahaya bagi ekosistem laut.

 

Kisah Tragis dari Samudra Filipina

Salah satu contoh paling mengejutkan datang dari Samudra Filipina, ketika seekor paus ditemukan mati dengan lebih dari 40 kg sampah plastik di dalam perutnya. Di antara sampah tersebut terdapat kantong beras, tas belanja, bahkan kemasan makanan. Paus tersebut mengalami gangguan pencernaan parah dan akhirnya mati karena perutnya penuh dengan benda yang tidak bisa diurai.

 

Kisah ini menggambarkan betapa besar dampak aktivitas manusia terhadap kehidupan laut, bahkan bagi spesies besar yang hidup jauh dari pantauan manusia.

 

Perangkap Plastik di Lautan

Tak hanya sampah plastik, alat-alat tangkap ikan yang ditinggalkan atau tidak dikelola dengan baik—seperti jaring dan tali-temali—juga menjadi "hantu laut" yang mematikan. Banyak hewan laut, seperti penyu dan lumba-lumba, terperangkap secara tidak sengaja. Jaring-jaring ini bisa membatasi gerakan mereka, membuat mereka terluka, bahkan menyebabkan kematian karena tidak bisa naik ke permukaan untuk bernapas.

 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  • Kurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti sedotan, kantong plastik, dan botol air.

  • Daur ulang sampah plastik dengan benar.

  • Dukung kampanye dan kebijakan pengurangan plastik di tingkat lokal maupun global.

  • Sebarkan informasi ini agar lebih banyak orang peduli terhadap laut dan isinya.

 

Laut bukanlah tempat sampah. Setiap tindakan kecil dari kita bisa berdampak besar bagi kelestarian kehidupan laut.

Friday, 14 March 2025

Ekosistem Sehat, Senjata Rahasia Lawan Pandemi

 



Dalam tiga dekade terakhir, dunia diguncang oleh kemunculan penyakit menular baru yang menyebar lintas spesies dan wilayah, mematikan ribuan orang, sekaligus mengguncang ekonomi global. Dari Ebola hingga SARS, dari HIV/AIDS hingga flu burung, ancaman ini kian nyata dan tak mengenal batas negara. Fakta mengejutkan menunjukkan bahwa hampir tiga perempat penyakit menular baru berasal dari hewan, terutama satwa liar. Di tengah ancaman yang terus berkembang, muncul pendekatan baru yang menjanjikan: medik konservasi, sebuah paradigma yang memadukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. Pendekatan inilah yang mulai dilirik sebagai kunci untuk melindungi dunia dari pandemi berikutnya.


Pendahuluan

 

Dalam tiga dekade terakhir, penyakit menular baru muncul (emerging infectious diseases) telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia. Penyakit-penyakit ini seringkali menyebar ke wilayah yang lebih luas, berpindah dari satu spesies ke spesies lain, meningkat dalam keparahan, atau bahkan mengalami perubahan pada cara mereka menyebabkan penyakit. Patogen penyebab penyakit ini juga bisa beradaptasi atau berevolusi, menciptakan tantangan baru dalam pengendaliannya.

 

Beberapa penyakit menular baru yang muncul, meskipun relatif hanya menyerang sebagian kecil populasi, menimbulkan ancaman besar karena tingkat fatalitas yang tinggi dan belum ada vaksin atau terapi yang efektif. Penyakit seperti Ebola, encephalitis Nipah, atau demam Lassa telah menyebabkan kematian yang signifikan. Di sisi lain, HIV/AIDS dan virus influenza telah menjadi pandemi besar, menyebabkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

 

Yang lebih mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa hampir 75% dari penyakit menular baru muncul bersifat zoonosis, yang berarti penyakit ini ditularkan dari hewan ke manusia. Upaya untuk melawan kemunculan penyakit-penyakit ini telah menjadi fokus penting dalam kesehatan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global. Namun, tantangan besar tetap ada, terutama karena banyaknya patogen yang belum teridentifikasi atau muncul dengan cara yang tak terduga.

 

Data global menunjukkan bahwa ada sekitar 50.000 spesies vertebrata, masing-masing dengan sekitar 20 jenis virus yang bersifat endemik. Dari hampir satu juta virus yang ada, 99,8% di antaranya masih menunggu untuk ditemukan. Potensi patogen ini bisa memicu zoonosis baru di masa mendatang. Setiap tahun, wabah baru yang disebabkan oleh patogen zoonotik terus bermunculan dengan dampak besar terhadap kesehatan manusia dan ekonomi global. Sebagai contoh, pada 2003, virus SARS yang berasal dari satwa liar menewaskan sekitar 700 orang dan menyebabkan kerugian ekonomi global hingga 50 milyar dolar.

 

Faktor-faktor sosio-ekonomi, lingkungan, dan ekologi dianggap sebagai pendorong utama kemunculan penyakit-penyakit ini. Meskipun belum ada penelitian komparatif yang mendalam tentang hubungan antara faktor-faktor ini, analisis terhadap 335 penyakit menular baru yang muncul antara tahun 1940 hingga 2004 menunjukkan bahwa penyebaran penyakit ini terjadi secara acak, tanpa pola yang jelas. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi wilayah-wilayah dunia yang sering menjadi sumber munculnya penyakit baru, yang sering disebut sebagai "hotspot." Ironisnya, meskipun wilayah-wilayah ini menjadi sumber penyakit, upaya pengawasan dan pelaporan di daerah tersebut seringkali sangat kurang.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian para peneliti juga semakin berkembang pada penyakit menular baru yang ditularkan oleh satwa liar, baik yang hidup di darat maupun laut, serta penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk. Penyakit menular yang ditularkan oleh satwa liar, yang tercatat meningkat pesat sejak tahun 1980-an, kini menjadi salah satu ancaman terbesar. Statistik menunjukkan bahwa 61,4% penyakit menular baru muncul ditularkan oleh hewan, dan 75,3% dari jumlah tersebut berasal dari satwa liar.

 

Proses perubahan yang terjadi pada penyakit-penyakit ini melibatkan banyak faktor, mulai dari peningkatan insidensi penyakit, perluasan wilayah geografis penyebaran, hingga perubahan virulensi patogen. Semua ini dipicu oleh perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia, seperti deforestasi, pertanian, urbanisasi, dan perubahan perilaku manusia. Perubahan ini menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi patogen untuk berkembang dan menyebar.

 

Oleh karena itu, pendekatan baru dalam penelitian penyakit menular baru muncul sangat dibutuhkan. Para peneliti kini semakin fokus pada pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang mendasari kemunculan penyakit ini, serta mengembangkan model-model yang dapat memprediksi penyebarannya. Salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan adalah medik konservasi, yang memadukan ilmu kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mengatasi gangguan kesehatan yang disebabkan oleh degradasi ekosistem.

 

Agenda Baru dan Perspektif Ke Depan

 

Konsep medik konservasi semakin diterima di kalangan ilmuwan dan praktisi kesehatan global, sebagai respon terhadap krisis biodiversitas dan perubahan iklim yang memengaruhi kesehatan manusia dan hewan. Disiplin ini melihat hubungan yang erat antara kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. Medik konservasi menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman kesehatan global yang semakin kompleks.

 

Selain itu, konsep ecohealth, yang muncul pada akhir 1970-an, juga mulai diperkenalkan dalam penelitian kesehatan hewan. Ecohealth melihat bagaimana perubahan dalam ekosistem dapat memengaruhi kesehatan manusia dan hewan. Pendekatan ini menggabungkan berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran hewan, ekologi, ekonomi, dan ilmu sosial, untuk memahami dampak perubahan ekosistem terhadap kesehatan.

 

Dengan memasukkan medik konservasi dan ecohealth ke dalam penelitian dan kurikulum pendidikan kedokteran hewan, para dokter hewan akan lebih siap menghadapi tantangan penyakit menular baru yang muncul. Pendekatan ini membantu dokter hewan untuk memahami lebih dalam tentang kesehatan ekosistem dan dampak perubahan lingkungan terhadap penyebaran penyakit. Sebagai hasilnya, para profesional veteriner dapat berperan lebih aktif dalam melindungi kesehatan global melalui pendekatan yang lebih holistik dan transdisipliner.

 

Melihat perkembangan ini, sudah saatnya profesi dokter hewan mempersiapkan diri untuk memahami lebih dalam tentang paradigma kesehatan ekosistem dan dampak perubahan lingkungan. Pemahaman ini akan memberikan mereka alat yang lebih efektif dalam menghadapi ancaman penyakit menular baru, sekaligus mengintegrasikan prinsip-prinsip dasar kesehatan ekosistem dalam penelitian dan pendidikan kedokteran hewan. Dengan demikian, kita dapat memastikan masa depan yang lebih sehat dan aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan.

 

REFERENSI:

 

1.Daszak P., Tabor G.M., Kilpatrick A.M., Epstein J., and Plowright R. (2004). Conservation Medicine and a New Agenda for Emerging Diseases. Ann. N.Y. Acad. Sci. 1026, 1-11.

 

2.Aguirre A.A. and Gomez A. (2009). Essential veterinary education in conservation medicine and ecosystem health: a global perspective. Rev. sci. tech. Off. Int. Epiz., 28(2), 597-603.

 

3.Jones K.E., Patel N.G., Levy M.A., Storeygard A., Balk D., Gittleman J.L. and Daszak P. (2008). Global trends in emerging infectious diseases. Nature 451, 990-993.

 

4.Bazzani R., Noronha L. and Sanchez A. (2009). An Ecosystem Approach to Human Health: Building a transdisciplinary and participatory research framework for the prevention of communicable diseases. http://www.globalforumhealth.org/forum8/forum8-cdrom/OralPre- sentations/Sanchez%20Bain20%%20F8-165.doc

 

5.Walter-Toews D. (2009). Commentary. Eco-Health: A primer for veterinarians. Can. Vet. J., Vol. 50, 519-521.

 

6.Walter-Toews D. (2009). Food, Global Environmental Change and Health: EcoHealth to the Rescue? McGill Journal of Medicine, 12(1), 85-89.

 

SUMBER

Blogvet. 5 Januari 2011