Sidang Umum WOAH ke-93 Tahun 2026: Menjawab
Kesenjangan Pendanaan Kesehatan Hewan Global melalui Investasi, Vaksinasi, dan
Reformasi Tata Kelola.
PENDAHULUAN
Sidang Umum (General Session) ke-93 Majelis Delegasi
Dunia Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau World Organisation for Animal
Health (WOAH) yang berlangsung di Paris, Prancis, pada 18–22 Mei 2026 menjadi
salah satu pertemuan internasional paling penting dalam bidang kesehatan hewan
global tahun ini. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 183 negara anggota WOAH,
organisasi internasional, mitra pembangunan, kalangan akademisi, sektor swasta,
dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk membahas tantangan kesehatan
hewan yang semakin kompleks di tengah meningkatnya ancaman penyakit lintas
batas, perubahan iklim, gangguan rantai pasok pangan, serta risiko zoonosis
yang dapat berdampak pada kesehatan manusia (WOAH, 2026a).
Tema
utama Sidang Umum ke-93 adalah “Investing in Animal Health to Secure
Everyone’s Future” atau “Berinvestasi dalam Kesehatan Hewan untuk
Menjamin Masa Depan Semua Orang”. Tema tersebut menegaskan bahwa kesehatan
hewan bukan lagi isu sektoral yang terbatas pada peternakan, melainkan komponen
strategis dalam ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, perdagangan
internasional, dan stabilitas ekonomi global (WOAH, 2026b).
KESENJANGAN PENDANAAN KESEHATAN HEWAN GLOBAL YANG
MENGKHAWATIRKAN
Pembukaan
Sidang Umum WOAH ke-93 ditandai dengan peluncuran laporan tahunan The State
of the World’s Animal Health 2026. Laporan tersebut memberikan gambaran
komprehensif mengenai kondisi kesehatan hewan dunia dan berbagai tantangan yang
dihadapi sistem kesehatan hewan global saat ini (WOAH, 2026c).
Temuan
paling mencolok dalam laporan tersebut adalah bahwa sektor kesehatan hewan
hanya menerima sekitar 0,6% dari total pengeluaran kesehatan global. Kondisi
ini terjadi di tengah meningkatnya ancaman penyakit hewan menular lintas batas,
penyakit zoonosis, resistensi antimikroba, serta gangguan terhadap sistem
pangan dunia (WOAH, 2026d).
Laporan
tersebut juga menunjukkan bahwa penyakit hewan menyebabkan kehilangan lebih
dari 20% produksi hewan global setiap tahun. Dampak tersebut terutama dirasakan
oleh negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang sangat bergantung
pada sektor peternakan sebagai sumber pangan, pendapatan, dan lapangan kerja
(WOAH, 2026d).
Direktur
Jenderal WOAH, Dr. Emmanuelle Soubeyran, menegaskan bahwa kesehatan hewan tidak
boleh dipandang sebagai biaya tambahan yang dapat ditunda. Sebaliknya,
investasi pada kesehatan hewan merupakan langkah strategis yang mampu
mengurangi risiko krisis pangan, memperkuat kesehatan masyarakat, meningkatkan
kesejahteraan peternak, dan menjaga stabilitas ekonomi global (WOAH, 2026e).
Sebagai
tindak lanjut, para menteri dan pejabat tinggi yang hadir dalam sidang tersebut
mengadopsi Ministerial Statement yang menyerukan peningkatan investasi
nasional dan internasional dalam sistem kesehatan hewan. Pernyataan bersama
tersebut juga mendorong lahirnya model pembiayaan inovatif yang melibatkan
pemerintah, lembaga keuangan internasional, organisasi pembangunan, dan sektor
swasta (WOAH, 2026e).
PELUNCURAN
FORUM PREVENT: BABAK BARU PENCEGAHAN PENYAKIT MELALUI VAKSINASI
Salah
satu capaian paling penting dari Sidang Umum WOAH ke-93 adalah peluncuran resmi
Forum PREVENT (Prevention through Vaccination and Enabling New Technologies),
yaitu mekanisme dialog publik-swasta yang dirancang untuk mempercepat
pencegahan penyakit hewan melalui vaksinasi dan inovasi teknologi (WOAH,
2026a).
Forum
ini dikembangkan melalui kerja sama antara WOAH dan HealthforAnimals untuk
mengatasi berbagai hambatan yang selama ini membatasi pemanfaatan vaksin secara
optimal dalam pengendalian penyakit hewan.
PREVENT
dibangun berdasarkan tujuh pilar utama yang dirangkum dalam akronim PREVENT:
- Planning (Perencanaan);
- Regulatory Pathways (Jalur Regulasi);
- Economic Evidence (Bukti Ekonomi);
- Vaccine Access (Akses terhadap Vaksin);
- Equity (Kesetaraan);
- National Strategies (Strategi Nasional);
- Trade (Perdagangan).
Melalui
forum ini, WOAH berupaya mendorong harmonisasi regulasi, peningkatan akses
vaksin, penguatan bukti ekonomi manfaat vaksinasi, serta pengurangan hambatan
perdagangan yang selama ini muncul akibat perbedaan kebijakan vaksinasi
antarnegara (WOAH, 2026a).
Peluncuran
PREVENT memiliki relevansi yang sangat tinggi terhadap tantangan penyakit
global saat ini, khususnya Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) atau flu
burung ganas. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak negara yang
mempertimbangkan vaksinasi sebagai strategi pengendalian HPAI. Namun demikian, penerapan vaksinasi sering kali
menimbulkan kekhawatiran terkait perdagangan internasional produk unggas.
Melalui PREVENT, negara-negara anggota mulai
mendiskusikan pendekatan baru yang memungkinkan produk unggas dari populasi
yang divaksinasi tetap dapat diterima dalam perdagangan internasional dengan
dukungan sistem surveilans, biosekuriti, dan teknologi DIVA (Differentiating
Infected from Vaccinated Animals) yang memadai.
PENGUATAN
STRATEGI GLOBAL PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA
Resistensi
antimikroba (Antimicrobial Resistance atau AMR) tetap menjadi salah satu
ancaman kesehatan global terbesar yang dibahas dalam Sidang Umum WOAH ke-93.
Majelis
Delegasi Dunia secara resmi mengadopsi pembaruan Global Action Plan on
Antimicrobial Resistance (GAP-AMR) 2026–2036 sebagai kerangka kerja
internasional selama sepuluh tahun ke depan untuk mengendalikan AMR pada
manusia, hewan, tumbuhan, pangan, dan lingkungan (WOAH, 2026f).
Strategi
baru tersebut disusun melalui kolaborasi Quadripartite yang terdiri atas
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan
Bangsa-Bangsa (FAO), Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), dan
WOAH (WHO, 2026).
Pendekatan
yang digunakan tetap mengedepankan konsep One Health dengan fokus pada:
- penggunaan antimikroba yang
bertanggung jawab;
- penguatan surveilans
resistensi antimikroba;
- peningkatan
vaksinasi untuk mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik;
- pengembangan alternatif
antimikroba;
- peningkatan
kapasitas laboratorium dan sistem kesehatan.
Pengesahan GAP-AMR 2026–2036 menunjukkan komitmen kuat
komunitas internasional untuk menghadapi ancaman resistensi antimikroba yang
diperkirakan akan menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kerugian
ekonomi global pada dekade mendatang.
PEMBARUAN STANDAR INTERNASIONAL KESEHATAN HEWAN
Selain isu pembiayaan dan vaksinasi, Sidang Umum WOAH
ke-93 juga menghasilkan pembaruan berbagai standar internasional yang menjadi
acuan perdagangan hewan dan produk hewan dunia.
Sebanyak
51 standar internasional baru maupun revisi standar disahkan oleh para delegasi
negara anggota (WOAH, 2026a). Standar tersebut mencakup:
- pengendalian penyakit hewan
darat;
- pengendalian penyakit hewan
akuatik;
- kesejahteraan hewan;
- metode diagnostik;
- mutu vaksin;
- penguatan biosekuriti.
Revisi
terhadap Terrestrial Animal Health Code dan Aquatic Animal Health
Code bertujuan meningkatkan efektivitas pencegahan dan pengendalian
penyakit lintas batas sekaligus menjaga keamanan perdagangan internasional yang
berbasis risiko ilmiah.
REFORMASI TATA KELOLA WOAH MENUJU ORGANISASI YANG
LEBIH TRANSPARAN
Sidang Umum WOAH ke-93 juga menandai kemajuan penting
dalam reformasi tata kelola organisasi.
Komite Peninjau Tata Kelola (Governance Review
Committee/GRC) mempresentasikan serangkaian rekomendasi untuk meningkatkan
transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi organisasi (WOAH, 2026g).
Beberapa rekomendasi utama yang mendapat dukungan negara
anggota meliputi:
- peningkatan transparansi
kontribusi keuangan negara anggota;
- pengembangan
mekanisme pemantauan tunggakan iuran;
- modernisasi fungsi komisi
regional;
- penguatan mekanisme
pengambilan keputusan;
- penyempurnaan sistem
pengawasan keuangan.
Salah
satu langkah yang banyak mendapat perhatian adalah pengembangan sistem
pelaporan dan dashboard finansial yang memungkinkan anggota memantau kontribusi
keuangan dan penggunaan anggaran organisasi secara lebih transparan.
Reformasi
ini diharapkan mampu memperkuat legitimasi WOAH sebagai organisasi standar
internasional kesehatan hewan yang responsif terhadap tantangan abad ke-21.
IMPLIKASI
BAGI KAWASAN ASIA PASIFIK
Hasil
Sidang Umum WOAH ke-93 memiliki arti strategis bagi kawasan Asia Pasifik yang
saat ini merupakan salah satu pusat pertumbuhan peternakan dan akuakultur
dunia.
Implementasi
berbagai keputusan sidang ini memperkuat mandat yang telah dihasilkan dalam 34th
Conference of the Regional Commission for Asia and the Pacific yang
diselenggarakan di Jakarta pada September 2025.
Kawasan
Asia Pasifik menghadapi berbagai ancaman penyakit hewan yang signifikan, antara
lain:
- Flu Burung Ganas (HPAI);
- African Swine Fever (ASF);
- Penyakit
Mulut dan Kuku (PMK);
- penyakit-penyakit
akuatik yang memengaruhi sektor perikanan dan akuakultur.
MENURUT PERWAKILAN DELEGASI KOMISI REGIONAL WOAH
UNTUK ASIA DAN PASIFIK
“Kesenjangan pendanaan di Asia Pasifik sangat kontras
dengan risiko ancaman penyakit yang kita hadapi sehari-hari. Forum PREVENT
memberikan kerangka kerja yang realistis agar sektor swasta dan publik di
kawasan ini dapat bekerja sama menurunkan hambatan regulasi vaksin demi
ketahanan pangan nasional.”
Pernyataan tersebut mencerminkan kebutuhan mendesak untuk
meningkatkan investasi kesehatan hewan di kawasan yang menjadi rumah bagi lebih
dari separuh populasi dunia.
RELEVANSI STRATEGIS BAGI INDONESIA
Bagi Indonesia, hasil Sidang Umum WOAH ke-93 memberikan
sejumlah peluang strategis dalam memperkuat sistem kesehatan hewan nasional.
Pertama, Forum PREVENT dapat menjadi katalis bagi
peningkatan investasi vaksinasi dan penguatan kerja sama lintas sektor antara
Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dunia usaha,
dan lembaga penelitian.
Kedua, penguatan pendekatan One Health akan mendukung
peningkatan kapasitas deteksi dini dan pengendalian penyakit zoonosis yang
berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.
Ketiga, pembahasan mengenai penerimaan perdagangan
internasional terhadap produk unggas yang berasal dari populasi tervaksinasi
dapat membuka peluang baru bagi stabilitas industri perunggasan nasional yang
selama ini menghadapi tantangan HPAI.
Keempat, pembaruan Aquatic Animal Health Code
memiliki implikasi langsung terhadap daya saing komoditas ekspor perikanan
Indonesia, termasuk udang dan tilapia, yang harus memenuhi standar biosekuriti
internasional yang semakin ketat.
Perwakilan
otoritas veteriner Indonesia menyampaikan:
“Indonesia
menyambut baik disahkannya aksi bersama ini. Sebagai tindak lanjut dari
komitmen kita saat menjadi tuan rumah konferensi regional di Jakarta, penguatan
biosekuriti dan standardisasi vaksinasi terintegrasi menjadi kunci utama agar
produk peternakan kita tidak hanya aman di dalam negeri, tetapi juga diakui di
pasar ekspor.”
PENUTUP
Sidang Umum WOAH ke-93 tahun 2026 menandai perubahan
paradigma penting dalam tata kelola kesehatan hewan global. Fokus utama tidak
lagi sekadar merespons wabah ketika terjadi, tetapi beralih pada investasi
preventif yang berkelanjutan melalui penguatan layanan veteriner, vaksinasi,
biosekuriti, dan kolaborasi lintas sektor.
Peluncuran Forum PREVENT, pengesahan GAP-AMR 2026–2036,
pembaruan standar internasional kesehatan hewan, serta reformasi tata kelola
WOAH menunjukkan bahwa komunitas internasional semakin menyadari bahwa
kesehatan hewan merupakan fondasi penting bagi kesehatan manusia, ketahanan
pangan, stabilitas perdagangan, dan pembangunan ekonomi global.
Bagi Indonesia dan kawasan Asia Pasifik, hasil Sidang
Umum WOAH ke-93 memberikan momentum yang kuat untuk mempercepat implementasi
pendekatan One Health, memperkuat sistem kesehatan hewan nasional, dan
meningkatkan daya saing sektor peternakan serta akuakultur di pasar global.
DAFTAR
REFERENSI
WHO.
2026. The World Health Assembly Adopts Updated Global Action Plan on
Antimicrobial Resistance (2026–2036). World Health Organization, Geneva.
WOAH.
2026a. 93rd General Session of the World Assembly of Delegates: Key Figures
and Outcomes. World Organisation for Animal Health, Paris.
WOAH.
2026b. Animal Health Forum 2026: Investing in Animal Health to Secure
Everyone’s Future. World Organisation for Animal Health, Paris.
WOAH.
2026c. The State of the World's Animal Health 2026. World Organisation
for Animal Health, Paris.
WOAH.
2026d. Animal Health Receives as Little as 0.6 Percent of Global Health
Spending Despite Mounting Disease Crises. Press Release, World Organisation
for Animal Health, Paris.
WOAH.
2026e. Ministers from Around the World Unite Behind Global Push to Invest in
Animal Health as New WOAH Report Warns of Dangerous Funding Gap. Press
Release, World Organisation for Animal Health, Paris.
WOAH.
2026f. Final Resolutions of the 93rd General Session: Global Action Plan on
Antimicrobial Resistance (GAP-AMR) 2026–2036. World Organisation for Animal
Health, Paris.
WOAH.
2026g. Report of the Governance Review Committee to the World Assembly of
Delegates – 93rd General Session (2026). World Organisation for Animal
Health, Paris.
#WOAH2026
#KesehatanHewanGlobal
#OneHealth
#VaksinasiHewan
#KetahananPangan
