Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Sidang Umum WOAH 2026. Show all posts
Showing posts with label Sidang Umum WOAH 2026. Show all posts

Wednesday, 17 June 2026

Sidang Umum WOAH 2026 Ungkap Fakta Mengejutkan: Kesehatan Hewan Hanya Dibiayai 0,6% dari Belanja Kesehatan Global


Sidang Umum WOAH ke-93 Tahun 2026: Menjawab Kesenjangan Pendanaan Kesehatan Hewan Global melalui Investasi, Vaksinasi, dan Reformasi Tata Kelola.

 

PENDAHULUAN

 

Sidang Umum (General Session) ke-93 Majelis Delegasi Dunia Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau World Organisation for Animal Health (WOAH) yang berlangsung di Paris, Prancis, pada 18–22 Mei 2026 menjadi salah satu pertemuan internasional paling penting dalam bidang kesehatan hewan global tahun ini. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 183 negara anggota WOAH, organisasi internasional, mitra pembangunan, kalangan akademisi, sektor swasta, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk membahas tantangan kesehatan hewan yang semakin kompleks di tengah meningkatnya ancaman penyakit lintas batas, perubahan iklim, gangguan rantai pasok pangan, serta risiko zoonosis yang dapat berdampak pada kesehatan manusia (WOAH, 2026a).

 

Tema utama Sidang Umum ke-93 adalah “Investing in Animal Health to Secure Everyone’s Future” atau “Berinvestasi dalam Kesehatan Hewan untuk Menjamin Masa Depan Semua Orang”. Tema tersebut menegaskan bahwa kesehatan hewan bukan lagi isu sektoral yang terbatas pada peternakan, melainkan komponen strategis dalam ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, perdagangan internasional, dan stabilitas ekonomi global (WOAH, 2026b).

 

KESENJANGAN PENDANAAN KESEHATAN HEWAN GLOBAL YANG MENGKHAWATIRKAN

 

Pembukaan Sidang Umum WOAH ke-93 ditandai dengan peluncuran laporan tahunan The State of the World’s Animal Health 2026. Laporan tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi kesehatan hewan dunia dan berbagai tantangan yang dihadapi sistem kesehatan hewan global saat ini (WOAH, 2026c).

 

Temuan paling mencolok dalam laporan tersebut adalah bahwa sektor kesehatan hewan hanya menerima sekitar 0,6% dari total pengeluaran kesehatan global. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya ancaman penyakit hewan menular lintas batas, penyakit zoonosis, resistensi antimikroba, serta gangguan terhadap sistem pangan dunia (WOAH, 2026d).

 

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa penyakit hewan menyebabkan kehilangan lebih dari 20% produksi hewan global setiap tahun. Dampak tersebut terutama dirasakan oleh negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang sangat bergantung pada sektor peternakan sebagai sumber pangan, pendapatan, dan lapangan kerja (WOAH, 2026d).

 

Direktur Jenderal WOAH, Dr. Emmanuelle Soubeyran, menegaskan bahwa kesehatan hewan tidak boleh dipandang sebagai biaya tambahan yang dapat ditunda. Sebaliknya, investasi pada kesehatan hewan merupakan langkah strategis yang mampu mengurangi risiko krisis pangan, memperkuat kesehatan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan peternak, dan menjaga stabilitas ekonomi global (WOAH, 2026e).

 

Sebagai tindak lanjut, para menteri dan pejabat tinggi yang hadir dalam sidang tersebut mengadopsi Ministerial Statement yang menyerukan peningkatan investasi nasional dan internasional dalam sistem kesehatan hewan. Pernyataan bersama tersebut juga mendorong lahirnya model pembiayaan inovatif yang melibatkan pemerintah, lembaga keuangan internasional, organisasi pembangunan, dan sektor swasta (WOAH, 2026e).

 

PELUNCURAN FORUM PREVENT: BABAK BARU PENCEGAHAN PENYAKIT MELALUI VAKSINASI

 

Salah satu capaian paling penting dari Sidang Umum WOAH ke-93 adalah peluncuran resmi Forum PREVENT (Prevention through Vaccination and Enabling New Technologies), yaitu mekanisme dialog publik-swasta yang dirancang untuk mempercepat pencegahan penyakit hewan melalui vaksinasi dan inovasi teknologi (WOAH, 2026a).

 

Forum ini dikembangkan melalui kerja sama antara WOAH dan HealthforAnimals untuk mengatasi berbagai hambatan yang selama ini membatasi pemanfaatan vaksin secara optimal dalam pengendalian penyakit hewan.

 

PREVENT dibangun berdasarkan tujuh pilar utama yang dirangkum dalam akronim PREVENT:

  1. Planning (Perencanaan);
  2. Regulatory Pathways (Jalur Regulasi);
  3. Economic Evidence (Bukti Ekonomi);
  4. Vaccine Access (Akses terhadap Vaksin);
  5. Equity (Kesetaraan);
  6. National Strategies (Strategi Nasional);
  7. Trade (Perdagangan).

 

Melalui forum ini, WOAH berupaya mendorong harmonisasi regulasi, peningkatan akses vaksin, penguatan bukti ekonomi manfaat vaksinasi, serta pengurangan hambatan perdagangan yang selama ini muncul akibat perbedaan kebijakan vaksinasi antarnegara (WOAH, 2026a).

 

Peluncuran PREVENT memiliki relevansi yang sangat tinggi terhadap tantangan penyakit global saat ini, khususnya Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) atau flu burung ganas. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak negara yang mempertimbangkan vaksinasi sebagai strategi pengendalian HPAI. Namun demikian, penerapan vaksinasi sering kali menimbulkan kekhawatiran terkait perdagangan internasional produk unggas.

 

Melalui PREVENT, negara-negara anggota mulai mendiskusikan pendekatan baru yang memungkinkan produk unggas dari populasi yang divaksinasi tetap dapat diterima dalam perdagangan internasional dengan dukungan sistem surveilans, biosekuriti, dan teknologi DIVA (Differentiating Infected from Vaccinated Animals) yang memadai.

 

PENGUATAN STRATEGI GLOBAL PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA

 

Resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance atau AMR) tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan global terbesar yang dibahas dalam Sidang Umum WOAH ke-93.

Majelis Delegasi Dunia secara resmi mengadopsi pembaruan Global Action Plan on Antimicrobial Resistance (GAP-AMR) 2026–2036 sebagai kerangka kerja internasional selama sepuluh tahun ke depan untuk mengendalikan AMR pada manusia, hewan, tumbuhan, pangan, dan lingkungan (WOAH, 2026f).

 

Strategi baru tersebut disusun melalui kolaborasi Quadripartite yang terdiri atas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), dan WOAH (WHO, 2026).

 

Pendekatan yang digunakan tetap mengedepankan konsep One Health dengan fokus pada:

  • penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab;
  • penguatan surveilans resistensi antimikroba;
  • peningkatan vaksinasi untuk mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik;
  • pengembangan alternatif antimikroba;
  • peningkatan kapasitas laboratorium dan sistem kesehatan.

 

Pengesahan GAP-AMR 2026–2036 menunjukkan komitmen kuat komunitas internasional untuk menghadapi ancaman resistensi antimikroba yang diperkirakan akan menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kerugian ekonomi global pada dekade mendatang.

 

PEMBARUAN STANDAR INTERNASIONAL KESEHATAN HEWAN

 

Selain isu pembiayaan dan vaksinasi, Sidang Umum WOAH ke-93 juga menghasilkan pembaruan berbagai standar internasional yang menjadi acuan perdagangan hewan dan produk hewan dunia.

Sebanyak 51 standar internasional baru maupun revisi standar disahkan oleh para delegasi negara anggota (WOAH, 2026a). Standar tersebut mencakup:

  • pengendalian penyakit hewan darat;
  • pengendalian penyakit hewan akuatik;
  • kesejahteraan hewan;
  • metode diagnostik;
  • mutu vaksin;
  • penguatan biosekuriti.

Revisi terhadap Terrestrial Animal Health Code dan Aquatic Animal Health Code bertujuan meningkatkan efektivitas pencegahan dan pengendalian penyakit lintas batas sekaligus menjaga keamanan perdagangan internasional yang berbasis risiko ilmiah.

 

REFORMASI TATA KELOLA WOAH MENUJU ORGANISASI YANG LEBIH TRANSPARAN

 

Sidang Umum WOAH ke-93 juga menandai kemajuan penting dalam reformasi tata kelola organisasi.

Komite Peninjau Tata Kelola (Governance Review Committee/GRC) mempresentasikan serangkaian rekomendasi untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi organisasi (WOAH, 2026g).

 

Beberapa rekomendasi utama yang mendapat dukungan negara anggota meliputi:

  • peningkatan transparansi kontribusi keuangan negara anggota;
  • pengembangan mekanisme pemantauan tunggakan iuran;
  • modernisasi fungsi komisi regional;
  • penguatan mekanisme pengambilan keputusan;
  • penyempurnaan sistem pengawasan keuangan.

 

Salah satu langkah yang banyak mendapat perhatian adalah pengembangan sistem pelaporan dan dashboard finansial yang memungkinkan anggota memantau kontribusi keuangan dan penggunaan anggaran organisasi secara lebih transparan.

Reformasi ini diharapkan mampu memperkuat legitimasi WOAH sebagai organisasi standar internasional kesehatan hewan yang responsif terhadap tantangan abad ke-21.

 

IMPLIKASI BAGI KAWASAN ASIA PASIFIK

 

Hasil Sidang Umum WOAH ke-93 memiliki arti strategis bagi kawasan Asia Pasifik yang saat ini merupakan salah satu pusat pertumbuhan peternakan dan akuakultur dunia.

Implementasi berbagai keputusan sidang ini memperkuat mandat yang telah dihasilkan dalam 34th Conference of the Regional Commission for Asia and the Pacific yang diselenggarakan di Jakarta pada September 2025.

 

Kawasan Asia Pasifik menghadapi berbagai ancaman penyakit hewan yang signifikan, antara lain:

  • Flu Burung Ganas (HPAI);
  • African Swine Fever (ASF);
  • Penyakit Mulut dan Kuku (PMK);
  • penyakit-penyakit akuatik yang memengaruhi sektor perikanan dan akuakultur.

 

MENURUT PERWAKILAN DELEGASI KOMISI REGIONAL WOAH UNTUK ASIA DAN PASIFIK

 

“Kesenjangan pendanaan di Asia Pasifik sangat kontras dengan risiko ancaman penyakit yang kita hadapi sehari-hari. Forum PREVENT memberikan kerangka kerja yang realistis agar sektor swasta dan publik di kawasan ini dapat bekerja sama menurunkan hambatan regulasi vaksin demi ketahanan pangan nasional.”

 

Pernyataan tersebut mencerminkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan investasi kesehatan hewan di kawasan yang menjadi rumah bagi lebih dari separuh populasi dunia.

 

RELEVANSI STRATEGIS BAGI INDONESIA

 

Bagi Indonesia, hasil Sidang Umum WOAH ke-93 memberikan sejumlah peluang strategis dalam memperkuat sistem kesehatan hewan nasional.

 

Pertama, Forum PREVENT dapat menjadi katalis bagi peningkatan investasi vaksinasi dan penguatan kerja sama lintas sektor antara Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga penelitian.

 

Kedua, penguatan pendekatan One Health akan mendukung peningkatan kapasitas deteksi dini dan pengendalian penyakit zoonosis yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.

 

Ketiga, pembahasan mengenai penerimaan perdagangan internasional terhadap produk unggas yang berasal dari populasi tervaksinasi dapat membuka peluang baru bagi stabilitas industri perunggasan nasional yang selama ini menghadapi tantangan HPAI.

 

Keempat, pembaruan Aquatic Animal Health Code memiliki implikasi langsung terhadap daya saing komoditas ekspor perikanan Indonesia, termasuk udang dan tilapia, yang harus memenuhi standar biosekuriti internasional yang semakin ketat.

 

Perwakilan otoritas veteriner Indonesia menyampaikan:

“Indonesia menyambut baik disahkannya aksi bersama ini. Sebagai tindak lanjut dari komitmen kita saat menjadi tuan rumah konferensi regional di Jakarta, penguatan biosekuriti dan standardisasi vaksinasi terintegrasi menjadi kunci utama agar produk peternakan kita tidak hanya aman di dalam negeri, tetapi juga diakui di pasar ekspor.”

 

PENUTUP

 

Sidang Umum WOAH ke-93 tahun 2026 menandai perubahan paradigma penting dalam tata kelola kesehatan hewan global. Fokus utama tidak lagi sekadar merespons wabah ketika terjadi, tetapi beralih pada investasi preventif yang berkelanjutan melalui penguatan layanan veteriner, vaksinasi, biosekuriti, dan kolaborasi lintas sektor.

 

Peluncuran Forum PREVENT, pengesahan GAP-AMR 2026–2036, pembaruan standar internasional kesehatan hewan, serta reformasi tata kelola WOAH menunjukkan bahwa komunitas internasional semakin menyadari bahwa kesehatan hewan merupakan fondasi penting bagi kesehatan manusia, ketahanan pangan, stabilitas perdagangan, dan pembangunan ekonomi global.

 

Bagi Indonesia dan kawasan Asia Pasifik, hasil Sidang Umum WOAH ke-93 memberikan momentum yang kuat untuk mempercepat implementasi pendekatan One Health, memperkuat sistem kesehatan hewan nasional, dan meningkatkan daya saing sektor peternakan serta akuakultur di pasar global.

 

DAFTAR REFERENSI

 

WHO. 2026. The World Health Assembly Adopts Updated Global Action Plan on Antimicrobial Resistance (2026–2036). World Health Organization, Geneva.

 

WOAH. 2026a. 93rd General Session of the World Assembly of Delegates: Key Figures and Outcomes. World Organisation for Animal Health, Paris.

 

WOAH. 2026b. Animal Health Forum 2026: Investing in Animal Health to Secure Everyone’s Future. World Organisation for Animal Health, Paris.

 

WOAH. 2026c. The State of the World's Animal Health 2026. World Organisation for Animal Health, Paris.

 

WOAH. 2026d. Animal Health Receives as Little as 0.6 Percent of Global Health Spending Despite Mounting Disease Crises. Press Release, World Organisation for Animal Health, Paris.

 

WOAH. 2026e. Ministers from Around the World Unite Behind Global Push to Invest in Animal Health as New WOAH Report Warns of Dangerous Funding Gap. Press Release, World Organisation for Animal Health, Paris.

 

WOAH. 2026f. Final Resolutions of the 93rd General Session: Global Action Plan on Antimicrobial Resistance (GAP-AMR) 2026–2036. World Organisation for Animal Health, Paris.

 

WOAH. 2026g. Report of the Governance Review Committee to the World Assembly of Delegates – 93rd General Session (2026). World Organisation for Animal Health, Paris.

 

#WOAH2026
#KesehatanHewanGlobal
#OneHealth
#VaksinasiHewan
#KetahananPangan