Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Sains dan Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Sains dan Al-Qur'an. Show all posts

Wednesday, 18 February 2026

Ilmuwan Prancis Ini Mengguncang Dunia: Apa yang Ditemukan Maurice Bucaille tentang Al-Qur’an dan Mumi Firaun?

 


Di tengah arus modernitas dan kemajuan ilmu pengetahuan, banyak orang bertanya: adakah titik temu antara wahyu dan sains? Pertanyaan inilah yang membawa nama Maurice Bucaille dikenal luas di dunia Islam dan Barat. Ia adalah seorang ahli bedah asal Prancis yang menorehkan sejarah melalui karya monumentalnya, The Bible, The Qur'an and Science, sebuah buku yang mengundang diskusi global tentang relasi antara kitab suci dan ilmu pengetahuan modern.


Namun, sebelum melangkah lebih jauh, penting bagi kita—terutama para mu’allaf dan pencari kebenaran—untuk memahami fakta sejarah secara jernih. Berbeda dengan narasi populer di media sosial, tidak terdapat bukti resmi bahwa Maurice Bucaille pernah menyatakan masuk Islam. Hingga wafatnya pada tahun 1998, ia tetap dikenal sebagai seorang Katolik. Ia tidak pernah mengucapkan syahadat secara publik, tidak mengubah namanya, dan tidak dimakamkan secara Islam. Keluarga dan koleganya pun tetap menganggapnya sebagai penganut Kristen.

Lalu, mengapa namanya begitu lekat dengan dakwah Islam?


Ketika Sains Menyentuh Ayat Suci


Bucaille bukanlah seorang dai, melainkan ilmuwan. Ia memosisikan dirinya sebagai peneliti yang mengagumi kesesuaian Al-Qur’an dengan temuan ilmiah modern. Dalam penelitiannya terhadap mumi Firaun di Museum Kairo pada pertengahan 1970-an, ia melakukan analisis medis forensik yang mendalam terhadap mumi yang diidentifikasi sebagai Merneptah, putra Ramses II.


Menurut kajiannya, terdapat kandungan kristal garam laut yang meresap ke dalam jaringan tubuh mumi tersebut—berbeda dengan natron yang biasa digunakan dalam proses mumifikasi. Ia juga mencatat adanya trauma fisik berupa patah tulang dan cedera yang konsisten dengan hantaman gelombang air besar. Temuan ini membuatnya teringat pada firman Allah dalam Al-Qur’an:

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu…” (QS. Yunus: 92)

Ayat ini secara eksplisit menyebut penyelamatan jasad Firaun sebagai tanda bagi generasi setelahnya—sebuah detail yang tidak ditemukan dalam narasi Alkitab. Bagi Bucaille, hal ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin Al-Qur’an yang turun 1.400 tahun lalu memuat informasi yang baru terungkap secara arkeologis pada abad ke-19, ketika mumi tersebut ditemukan oleh Victor Loret pada tahun 1898?


Perbandingan Narasi: Al-Qur’an dan Alkitab


Dalam penelitiannya, Bucaille menyoroti beberapa perbedaan mendasar antara Al-Qur’an dan Alkitab:

  1. Nasib jasad Firaun
    Al-Qur’an menyebut jasadnya diselamatkan. Alkitab menyatakan Firaun dan pasukannya tenggelam tanpa sisa.
  2. Upaya pertobatan di detik terakhir
    Al-Qur’an mencatat pengakuan iman Firaun saat sakaratul maut, namun ditolak.
    Alkitab tidak menyebutkan hal ini.
  3. Istilah penguasa Mesir
    Al-Qur’an menggunakan istilah “Raja” pada masa Nabi Yusuf dan “Firaun” pada masa Nabi Musa—selaras dengan perkembangan sejarah gelar kerajaan Mesir. Alkitab menggunakan istilah “Firaun” secara umum di semua periode.

Bucaille memandang konsistensi terminologi dan detail tersebut sebagai indikasi kuat bahwa Al-Qur’an tidak bertentangan dengan fakta sejarah maupun sains modern.


Reaksi di Mesir dan Lahirnya “Bucaillisme”


Saat temuan itu dipresentasikan di Kairo pada 1975, suasana akademik bercampur antara kekaguman ilmiah dan resonansi religius. Penelitian ini mendapat dukungan dari Presiden Anwar Sadat, yang melihatnya sebagai jembatan antara sejarah Mesir Kuno dan warisan Islam.


Dari sinilah lahir istilah “Bucaillisme”, sebuah pendekatan yang mencoba membaca ayat-ayat Al-Qur’an dalam cahaya temuan ilmiah modern. Gerakan ini turut menginspirasi berkembangnya kajian I’jaz Ilmi (mukjizat ilmiah Al-Qur’an) di dunia Muslim.


Meski demikian, sebagian akademisi sekuler tetap bersikap hati-hati. Mereka menilai bahwa keberadaan garam laut dan trauma fisik masih membuka ruang interpretasi lain, seperti kemungkinan penyakit kronis yang memang diderita Merneptah. Perdebatan ini menunjukkan bahwa dialog antara iman dan sains harus terus berjalan dengan integritas metodologis.


Pelajaran bagi Para Mu’allaf


Bagi para mu’allaf, kisah Maurice Bucaille bukan sekadar cerita sensasional tentang “ilmuwan Barat yang masuk Islam”—karena faktanya ia tidak pernah menyatakan konversi. Justru di sinilah pelajaran pentingnya: kekaguman terhadap kebenaran Islam bisa lahir dari kejujuran intelektual.


Islam tidak menuntut kita memusuhi sains. Sebaliknya, Islam mendorong pencarian ilmu. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan meneliti alam semesta. Kisah Bucaille menunjukkan bahwa ketika penelitian dilakukan dengan objektif, Al-Qur’an tidak goyah—ia justru semakin relevan.


Namun, dakwah yang matang harus dibangun di atas fakta yang akurat, bukan klaim berlebihan. Mengatakan Bucaille masuk Islam tanpa bukti justru dapat merugikan kredibilitas dakwah itu sendiri. Kejujuran adalah bagian dari akhlak Islam.


Iman yang Berakar pada Ilmu


Kebenaran Islam tidak bergantung pada siapa yang memeluknya, tetapi pada wahyu yang terjaga dan rasionalitas ajarannya. Jika seorang ilmuwan non-Muslim saja mengakui keselarasan Al-Qur’an dengan sains, maka betapa beruntungnya kita yang telah diberi hidayah untuk beriman kepadanya.


Bagi para mu’allaf, perjalanan iman mungkin dimulai dari rasa ingin tahu, dari pertanyaan-pertanyaan ilmiah, atau dari kegelisahan intelektual. Namun pada akhirnya, Islam bukan hanya tentang data dan argumen—ia adalah tentang ketundukan hati kepada Allah, tentang syahadat yang lahir dari keyakinan yang jernih.


Semoga kisah Maurice Bucaille menjadi penguat bahwa Islam tidak anti-ilmu, tidak takut pada penelitian, dan tidak goyah oleh waktu. Justru, semakin manusia meneliti, semakin tampak tanda-tanda kebesaran Allah Swt.


Dan mungkin, di situlah letak misi sejati seorang ilmuwan: membuka pintu tafakur, agar manusia tidak hanya memahami alam, tetapi juga mengenal Penciptanya.

 

#MauriceBucaille 

#MukjizatIlmiah 

#MumiFiraun 

#DakwahSains 

#IslamDanIlmu