Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi spirulina terhadap pertumbuhan, akumulasi lemak, serta kelayakan ekonomi budidaya ikan nila. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama di Costa Rican Institute of Fisheries and Aquaculture (INCOPESCA) dan tahap kedua di sebuah tambak di Buenos Aires, Puntarenas, Kosta Rika. Pakan yang digunakan mengandung spirulina sebesar 9% hingga 25% sebagai pengganti pakan dasar. Pertumbuhan ikan di lingkungan luar dimodelkan menggunakan kurva pertumbuhan Pearl, sedangkan rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) dianalisis untuk menilai efisiensi pakan. Kandungan mineral, rasio efisiensi protein, serta profil lipid dianalisis menggunakan metode standar.
Substitusi spirulina sebesar 9% terbukti mempercepat pertumbuhan ikan nila dengan mengurangi waktu mencapai bobot panen sebesar 1,9 bulan. Ikan yang diberi pakan mengandung spirulina menunjukkan kandungan lemak yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Meskipun biaya pakan meningkat sedikit akibat penambahan spirulina, penghematan waktu dan tenaga kerja menghasilkan keuntungan ekonomi bersih sekitar 220 dolar AS per 100 ekor ikan. Efisiensi produksi yang meningkat serta penghematan operasional tersebut mampu mengimbangi tambahan biaya spirulina, sehingga menunjukkan kelayakan ekonominya. Temuan ini mengindikasikan bahwa suplementasi spirulina merupakan praktik yang menguntungkan bagi pelaku budidaya perikanan, baik dari aspek ekonomi maupun nutrisi.
Kata kunci: Akuakultur, Pakan Akuakultur, Mikroalga, Spirulina, Pertumbuhan
PENDAHULUAN
Akuakultur merupakan sektor yang semakin penting secara global sebagai penyedia sumber protein berkelanjutan bagi konsumsi manusia (Kassem et al., 2021). Di antara berbagai spesies yang dibudidayakan, Oreochromis spp. (nila) menonjol karena pertumbuhannya yang cepat dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Saat ini, terdapat peningkatan minat dalam optimalisasi formulasi pakan nila untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan, dengan sianobakteri Arthrospira spp. sebagai salah satu suplemen pakan yang menjanjikan (Al-Deriny et al., 2020; Allen, 2016; Mahmoud et al., 2018; Sarker et al., 2020).
Sianobakteri Arthrospira maxima, yang dikenal sebagai spirulina, merupakan alga hijau-biru yang kaya akan protein, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral (Nuhu, 2013; Whitton, 2012). Penambahan A. maxima dalam pakan Oreochromis spp. dapat memberikan dampak positif terhadap laju pertumbuhan, efisiensi konversi pakan, serta fungsi sistem imun (Al-Deriny et al., 2020; El-Murr et al., 2014; Sarker et al., 2020; Trevi et al., 2023; Velasquez et al., 2016). Selain itu, penggunaan A. maxima sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, karena budidayanya dalam sistem tertutup dapat mengurangi pencucian nutrien dan meminimalkan dampak lingkungan dari pakan ikan konvensional (Naylor et al., 2021).
Arthrospira maxima juga dikenal sebagai sumber alami zat besi yang mudah diserap (bioavailable iron), yang berperan penting dalam pertumbuhan dan fungsi imun ikan. Suplementasi zat besi dalam pakan terbukti meningkatkan pertumbuhan, parameter hematologi, serta respons imun-antioksidan pada Oreochromis niloticus (Elabd et al., 2022), sehingga menunjukkan bahwa penambahan A. maxima dalam pakan berpotensi memberikan efek fisiologis yang serupa.
Modulasi ekspresi gen terkait sistem imun juga telah dilaporkan pada nila yang diberi berbagai senyawa bioaktif, seperti Leucas aspera, oksisiklodekstrin, dan bentonit (Kurian et al., 2021). Selain itu, antioksidan dalam pakan berperan penting dalam mengurangi stres oksidatif akibat kontaminan lingkungan. Senyawa allicin yang berasal dari bawang putih diketahui mampu meningkatkan mekanisme pertahanan antioksidan pada O. niloticus yang terpapar karbofuran (Hamed et al., 2021). Mengingat A. maxima mengandung fikosianin dan molekul antioksidan lainnya, penggunaannya dalam pakan berpotensi memberikan efek protektif serupa, sehingga memperkuat perannya sebagai bahan fungsional dalam pakan akuakultur.
Namun demikian, potensi penuh A. maxima sebagai sumber pakan untuk Oreochromis spp. masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Beberapa aspek penting yang perlu dikaji meliputi efek jangka panjang terhadap kesehatan ikan, pengembangan metode budidaya dan panen yang ekonomis, serta penerimaan konsumen terhadap ikan nila yang dibesarkan dengan pakan berbasis sianobakteri (Trevi et al., 2023).
Industri akuakultur, khususnya di wilayah seperti Kosta Rika, menghadapi tantangan signifikan terkait ketersediaan benih dan produksi pakan dalam pasar yang kompetitif. Produsen ikan seperti nila, trout, dan pangasius perlu mengadopsi teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan. Tantangan seperti peningkatan impor pakan, fluktuasi nilai tukar dolar, penangkapan ikan berlebih, perubahan iklim, dan pencemaran semakin menyulitkan produsen lokal untuk bersaing di pasar internasional (INCOPESCA, 2019).
Salah satu aspek krusial adalah kualitas pakan akuakultur. Saat ini belum tersedia pakan khusus untuk induk ikan (broodstock), sehingga diperlukan pakan berkadar protein tinggi yang meningkatkan biaya produksi. Penambahan mikroalga dalam pakan ikan diketahui dapat meningkatkan kualitas telur dan interval pemijahan (Lu & Takeuchi, 2004).
Manfaat fungsional spirulina terhadap kesejahteraan ikan dan keberlanjutan akuakultur juga telah dibuktikan, di mana suplementasi spirulina mampu menormalkan parameter darah dan serum yang terganggu akibat paparan CdCl₂ serta mengurangi stres oksidatif (Banaee et al., 2022). Dalam konteks ini, mikroalga Arthrospira sp. merupakan alternatif yang layak karena menyediakan sumber nutrien yang kaya sekaligus efek fungsional, dengan praktik budidaya berkelanjutan menggunakan limbah agroindustri, serta berkontribusi terhadap penyerapan CO₂ dan produksi oksigen (Habib et al., 2008).
Institut Teknologi Kosta Rika (Instituto Tecnológico de Costa Rica, ITCR) telah mengembangkan teknologi produksi mikroalga skala semi-massal dengan memanfaatkan limbah agroindustri sebagai substrat. Pendekatan ekonomi sirkular ini tidak hanya menghasilkan mikroalga berkualitas tinggi, tetapi juga meningkatkan kualitas air dan mengurangi jejak lingkungan (Poveda-Víquez et al., 2023; Villalta-Romero et al., 2019). Hal ini sejalan dengan tantangan global di bidang pangan, pertanian, dan kesehatan, serta berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Barkia et al., 2019).
Pemanfaatan biomassa A. maxima memberikan peluang yang menarik untuk meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi produksi pangan, sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ketahanan pangan global (Gouveia et al., 2008).
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh A. maxima sebagai substituen pakan pada Oreochromis niloticus, dengan fokus pada kinerja pertumbuhan pada stadia larva dan benih (fry dan fingerlings), efisiensi konversi pakan, tingkat kelangsungan hidup, indeks patologis, serta komposisi nutrisi fillet.
METODOLOGI
Kultivasi dan Skala Produksi A. Maxima
Mikroalga Arthrospira maxima diperoleh dari koleksi strain di Laboratorium Bioenergi dan Mikroalga, Institut Teknologi Kosta Rika (ITCR). Proses kultivasi dilakukan mengacu pada metode yang dijelaskan oleh Rojas-Villalta et al. (2024). Secara ringkas, A. maxima (strain MT27) awalnya dikultur dalam medium cair Zarrouk, kemudian dipindahkan ke media agar untuk menghasilkan inokulan aksenik. Selanjutnya, kultur ditingkatkan skalanya secara bertahap ke dalam media cair menggunakan labu Erlenmeyer, diikuti oleh bioreaktor berkapasitas 18 L, dan akhirnya ke dalam tangki berkapasitas 1000 L dengan volume kerja 800 L.
Biomassa dipanen pada kecepatan 4200 rpm menggunakan separator Westfalia (SSD 606 007, GEA, Düsseldorf, Jerman) dengan interval pembuangan setiap 25 menit dan laju alir 1000 L/jam. Pasta biomassa yang dihasilkan (kadar air 85–90%) kemudian dikeringkan menggunakan metode spray drying dengan atomizer bertekanan (SPF-1500, Tiongkok) pada suhu 150 °C, sehingga diperoleh serbuk berwarna hijau dengan ukuran partikel sekitar 150 µm.
Komposisi Bahan dan Persiapan Pakan
Biomassa mikroalga dianalisis kandungan nutrisinya (Tabel 1). Formulasi pakan pada uji tahap pertama menggunakan pakan komersial sebagai kontrol (T0) serta empat perlakuan dengan tingkat substitusi A. maxima masing-masing sebesar 9% (T9), 15% (T15), 20% (T20), dan 25% (T25). Pakan disajikan dalam bentuk serbuk (ukuran sekitar 1,2–1,5 mm) setelah proses pencampuran. Produksi pakan komersial dilakukan di BELINA S.A, Kosta Rika, dalam kondisi terkontrol.
Pada uji tahap kedua (lanjutan), formulasi pakan disusun berdasarkan hasil awal uji tahap pertama, dengan mempertimbangkan komposisi proksimat mikroalga dan pakan dasar (Tabel 2), sehingga diperoleh pakan dengan kandungan protein (iso-proteik) dan lemak (iso-lipidik) yang setara.
Tabel 1. Komposisi nutrisi biomassa Arthrospira platensis berdasarkan bahan kering serta komposisi utama minyaknya
Nutrien | Nilai |
Protein (Nx6,25) (g/100 g) | 60,8 ± 3,5 |
Karbohidrat total (g/100 g) | 25,7 ± 4,9 |
Kadar air (g/100 g) | 6,13 ± 0,87 |
Lemak kasar (g/100 g) | 0,915 ± 0,077 |
Lemak tak jenuh ganda (g/100 g) | 24,9 ± 2,4 |
Lemak jenuh (g/100 g) | 69,7 ± 6,6 |
Lemak tak jenuh tunggal (g/100 g) | 5,40 ± 0,41 |
Abu (g/100 g) | 6,43 ± 0,47 |
Kalsium (mg/100 g) | 84 ± 14 |
Kalium (mg/100 g) | 807 ± 120 |
Besi (mg/100 g) | 52,3 ± 9,5 |
Fosfor (mg/100 g) | 1017 ± 174 |
Tembaga (mg/100 g) | 0,71 ± 0,17 |
Seng (mg/100 g) | 4,74 ± 0,20 |
Natrium (mg/100 g) | 617 ± 81 |
Nilai energi total (kJ/100 g) | 1,484 |
Total karotenoid (ekuivalen β-karoten) (g/100 g) | 0,211 ± 0,021 |
Total fikosianin (g/100 g) | 9,20 ± 2,88 |
Ekuivalen vitamin A (mg/100 g) | 17,62 |
Vitamin C (HPLC) (mg/100 g) | 56,1 ± 5,1 |
Asam undekanoat C11:0 (g/100 g minyak) | 43,2 ± 7,3 |
Asam palmitat C16:0 (g/100 g minyak) | 23,5 ± 4,0 |
Asam palmitoleat C16:1 (g/100 g minyak) | 1,63 ± 0,28 |
Asam stearat C18:0 (g/100 g minyak) | 2,96 ± 0,50 |
Asam oleat C18:1 (g/100 g minyak) | 3,77 ± 0,64 |
Asam linoleat C18:2 (omega-6) (g/100 g minyak) | 12,2 ± 2,1 |
Asam gamma-linolenat C18:3 (omega-6) (g/100 g minyak) | 12,7 ± 2,2 |
Keterangan:
Vitamin K, E, dan D tidak terdeteksi (<0,06 mg/100 g).
Tabel 2. Komposisi nutrisi pakan iso-proteik dan iso-lipidik untuk percobaan ikan nila pada kultur luar ruang. Pakan kontrol (T0) dan pakan substitusi dengan 9% spirulina (T9)
Nutrien | T0 | T9 |
Protein (Nx6,25) (g/100 g) | 36,2 ± 2,14 | 38,34 ± 2,26 |
Karbohidrat total (g/100 g) | 40,2 ± 7,7 | 38,90 ± 7,45 |
Kadar air (g/100 g) | 6,58 ± 0,96 | 6,54 ± 0,95 |
Lemak kasar (g/100 g) | 8,85 ± 0,72 | 8,14 ± 0,66 |
Abu (g/100 g) | 9,70 ± 0,71 | 9,41 ± 0,69 |
Kalsium (mg/100 g) | 1760,01 ± 0,30 | 1609,16 ± 1,53 |
Kalium (mg/100 g) | 1080,00 ± 0,16 | 1055,43 ± 10,95 |
Besi (mg/100 g) | 25,0 ± 4,50 | 27,46 ± 4,95 |
Fosfor (mg/100 g) | 1220 ± 210 | 1110 ± 207 |
Tembaga (mg/100 g) | 1,27 ± 0,30 | 1,22 ± 0,29 |
Seng (mg/100 g) | 7,99 ± 0,34 | 7,70 ± 0,33 |
Natrium (mg/100 g) | 590,00 ± 78,00 | 592,43 ± 78,27 |
Nilai energi total (kJ/100 g) | 1600 | 1589,56 |
Total karotenoid (mg/100 g)¹ | 0,40 ± 0,01 | 19,36 ± 1,90 |
Keterangan:
¹ Karotenoid dinyatakan sebagai ekuivalen β-karoten.
Uji Pakan
Uji pakan dilakukan dalam dua percobaan terpisah dengan kondisi dan lokasi yang berbeda. Ikan nila (Oreochromis niloticus) hasil pembalikan kelamin (sex-reversed) yang diproduksi di stasiun percobaan masing-masing lokasi digunakan dalam penelitian ini. Pakan dicampur dengan hormon 17-alfa-metiltestosteron dan alkohol, kemudian diberikan selama 27 hari. Setelah itu, pemberian pakan dihentikan selama 24 jam sebelum ikan dipindahkan ke unit percobaan.
Percobaan pertama bersifat pendahuluan untuk menentukan formulasi pakan pada percobaan kedua. Perlakuan pakan yang diuji meliputi T0, T15, T20, dan T25. Uji pakan pertama dilakukan di Stasiun Percobaan Los Diamantes, Institut Perikanan dan Akuakultur Kosta Rika (INCOPESCA), pada koordinat (10.2607, −83.7743). Percobaan dilaksanakan dalam sistem resirkulasi air tawar di dalam ruangan yang terdiri atas empat bak semen, masing-masing diperuntukkan bagi perlakuan tertentu.
Setiap perlakuan terdiri atas empat ulangan, sehingga total terdapat 12 unit percobaan. Setiap unit berupa keramba jaring (happa) berukuran 0,64 m³ yang terbuat dari jaring anti-afid (lubang 2 mm), dengan kepadatan 83 ekor ikan per bak. Air berasal dari mata air alami di Los Diamantes, Guápiles. Bobot awal larva ikan nila sekitar 0,02 g pada awal percobaan. Ikan diberi pakan uji secara manual tiga kali sehari hingga kenyang (apparent satiety) selama 60 hari. Pembuangan feses dilakukan secara kontinu sepanjang hari melalui proses pergantian air yang berlangsung terus-menerus.
Percobaan kedua (percobaan lapang) dilakukan di Finca Flores, Buenos Aires, Puntarenas, pada koordinat (9.2541, −83.2986). Pakan yang digunakan terdiri atas pakan kontrol (T0) dan pakan perlakuan dengan substitusi spirulina sebesar 9% (T9). Pakan T9 diformulasikan berdasarkan hasil percobaan sebelumnya dan dirancang agar kedua perlakuan memiliki kandungan protein dan lemak yang setara (isoproteik dan isolipidik).
Air dialirkan dari mata air alami di lokasi menuju dua kolam buatan terbuka dengan volume kerja 13 m³ (2 × 10 × 0,65 m) dan kemiringan 0,5% menuju saluran pembuangan. Pada setiap kolam diterapkan satu jenis perlakuan pakan, dengan tiga unit happa (200 × 3000 × 60 cm) yang dibuat dari jaring anti-afid sebagai unit percobaan. Setiap happa diisi 100 ekor benih ikan nila (unit percobaan) dengan bobot awal sekitar 0,8 g.
Percobaan berlangsung selama 120 hari, dari September hingga Desember 2023. Setelah 50 hari, jaring diganti dengan ukuran lubang 2 cm untuk memungkinkan pembuangan limbah yang lebih besar seiring pertumbuhan ikan. Aerasi dilakukan melalui sistem aliran air bertingkat (cascading water) pada setiap keramba. Untuk mencegah predasi dan menghindari ikan meloncat keluar, kolam ditutup menggunakan jaring insang (gill net) berukuran 1 inci. Pemantauan rutin terhadap kualitas air, meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, dan nitrogen, dilakukan sepanjang percobaan.
Pengambilan Sampel dan Analisis
Pada akhir percobaan kedua, sebanyak 10 ekor ikan per happa dimatikan secara humanis menggunakan metode kejutan air dingin, sesuai dengan protokol yang disetujui oleh Institutional Animal Care and Use Committee di Universitas Kosta Rika (CICUA-049–2022). Bagian usus proksimal (±5 cm dari lambung) diambil dan difiksasi dalam formalin 10% kualitas histologis.
Setelah fiksasi, preparat usus diamati menggunakan mikroskop cahaya, dan lipatan usus (3 lipatan per sampel) diukur menggunakan perangkat lunak analisis citra (ImageJ). Untuk analisis komposisi karkas (mineral), digunakan metode AOAC, yaitu natrium (985.35), kalsium (991.25), kalium (985.35), dan besi (999.11).
Analisis protein dilakukan dengan metode Bradford. Sampel jaringan diliofilisasi dan dilarutkan dalam 5 mL air suling. Selanjutnya, 0,5 mL larutan diencerkan sebanyak 10 kali. Tiga alikuot masing-masing 50 μL (larutan stok terencerkan, blanko/larutan ekstraksi, dan ekstrak) dimasukkan ke dalam mikrotabung 1 mL. Kemudian ditambahkan 250 μL reagen Bradford (Sigma Aldrich), dan dilakukan pengukuran secara spektrofotometri.
Untuk analisis profil lipid, digunakan sampel komposit dari tiga ulangan yang dianalisis melalui hidrolisis asam dan ekstraksi eter. Analisis dilakukan menggunakan kromatografi gas (GC-FID) berdasarkan metode AOCS 996.06 dan AOAC Ce 1e-91 (P-SA-MQ-034).
Prosedur Analitik dan Perhitungan
Teknik analisis standar digunakan untuk mengolah sampel yang dikumpulkan. Kandungan protein, lipid, kadar air, dan abu pada sampel karkas ditentukan menggunakan metode baku. Hasil ini digunakan untuk menghitung komposisi nutrisi pakan percobaan serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan.
Parameter pertumbuhan, seperti pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup, dihitung menggunakan rumus standar (Suhaimi et al., 2022). Berdasarkan data bobot ikan, dilakukan pemodelan untuk memprediksi pertumbuhan menggunakan persamaan kurva pertumbuhan Pearl. Nilai parameter diestimasi menggunakan metode kuadrat terkecil nonlinier (nonlinear least squares) dengan bantuan perangkat lunak Excel 18.0.
dimana:
L: merepresentasikan bobot maksimum yang diharapkan (600 g),
a: parameter model yang menyesuaikan kurva terhadap data pertumbuhan ikan (b sebagai parameter perlambatan pertumbuhan),
Periode: mencerminkan umur ikan dalam bulan.
Analisis statistik dilakukan untuk menguji signifikansi perbedaan antarperlakuan dengan membandingkan parameter produksi menggunakan analisis varians (ANOVA) melalui perangkat lunak Minitab versi 21.1.0.
Analisis Biaya Produksi Ikan Nila dengan Substitusi Spirulina 9%
Waktu yang diproyeksikan untuk mencapai bobot target 450 g ditentukan menggunakan persamaan kurva Pearl yang telah disesuaikan dengan pola pertumbuhan ikan nila pada kondisi nutrisi yang berbeda. Analisis ini didasarkan pada data yang diperoleh dari INCOPESCA dan distributor pakan ikan nila lokal (Tabel 3).
Perhitungan dilakukan menggunakan mata uang lokal (kolon), dengan nilai konversi sebesar 550 kolon per 1 dolar Amerika Serikat (USD).
Tabel 3. Data dan asumsi untuk analisis biaya produksi ikan nila dengan substitusi pakan mengandung 9% spirulina
Parameter | Nilai (CRC/USD) |
Harga jual ikan nila | 4.000 kolon/kg (7,27 USD) |
Harga spirulina kering murni | 13.000 kolon/kg (23,64 USD) |
Biaya spirulina 9% dalam pakan | 1.170 kolon/kg (2,13 USD) |
Total konsumsi pakan dalam 40 minggu | 97,02 kg untuk 100 ekor ikan |
Rincian biaya pakan | |
− 50 hari pertama (0 × 0 mm, protein 40%) | 34.000 kolon per 30 kg (61,82 USD) |
− Hari ke-51 hingga 115 (2 × 2 mm, protein 38%) | 30.000 kolon per 30 kg (54,55 USD) |
− Hari ke-116 hingga 185 (4 × 4 mm, protein 32%) | 29.800 kolon per 30 kg (54,18 USD) |
− Hari ke-186 hingga 322 (6 × 6 mm, protein 28%) | 21.050 kolon per 30 kg (38,27 USD) |
Tingkat kelangsungan hidup dengan spirulina (T9) | 100% |
Tingkat kelangsungan hidup tanpa spirulina | 88% |
Biaya tenaga kerja | 12.000 kolon per hari untuk 3 jam (21,82 USD) |
HASIL
Percobaan pertama pemberian pakan pada benih ikan nila yang dilakukan di dalam ruangan dipertahankan pada suhu 26 °C selama periode 60 hari. Analisis varians (ANOVA) terhadap rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p > 0,1). Namun demikian, terdapat kecenderungan penurunan nilai FCR dengan penambahan mikroalga dalam pakan.
Inklusi mikroalga juga menghasilkan tingkat mortalitas yang lebih rendah, di mana pakan dengan kandungan 15% mikroalga menunjukkan tingkat mortalitas terendah (p > 0,001) (Tabel 4). Hasil ini menjadi dasar penentuan tingkat inklusi spirulina pada percobaan kedua.
Percobaan sebelumnya dengan penambahan mikroalga hingga 3% dalam pakan juga dilaporkan mampu menurunkan mortalitas benih ikan nila (O. niloticus) selama 30 hari pertama pemeliharaan (data tidak ditampilkan).
Tabel 4. Parameter produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) pada kondisi pemeliharaan dalam ruangan, umur 0–60 hari
Parameter | T0 | T15 | T20 | T25 |
Bobot awal (g/ekor) | 0,02 ± 0,01 | 0,02 ± 0,01 | 0,02 ± 0,01 | 0,02 ± 0,01 |
Bobot akhir (g/ekor) | 9,73 ± 1,98 | 12,11 ± 1,02 | 11,31 ± 0,72 | 12,93 ± 6,58 |
Pertambahan bobot (g/ekor) | 8,07 ± 1,98 | 12,07 ± 1,02 | 11,29 ± 0,72 | 12,91 ± 6,58 |
Rasio konversi pakan (FCR) | 1,69 ± 0,36 | 1,32 ± 0,12 | 1,41 ± 0,09 | 1,54 ± 0,86 |
Kelangsungan hidup (%)ᵃ | 63,45 ± 15,58ᵇ | 82,68 ± 11,55ᵃ | 58,15 ± 6,08ᵇ | 47,15 ± 1,90ᵇ |
Keterangan:
ᵃ Huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan antarperlakuan (p < 0,05).
Pada percobaan kedua yang dilakukan pada kondisi luar ruang, parameter kualitas air dalam sistem budidaya semi-intensif ikan nila (Oreochromis niloticus) menunjukkan kondisi termal yang stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh suhu yang relatif konsisten antara kelompok kontrol (T0) dan kelompok pakan substitusi (T9).
Tidak ditemukan perbedaan pada nilai pH maupun kadar oksigen terlarut, yang tetap relatif stabil pada kedua kelompok perlakuan. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi pH dan tingkat oksigenasi berada pada kisaran yang memadai untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhan organisme akuatik (Tabel 5).
Tabel 5. Kualitas air pada sistem budidaya semi-intensif ikan nila (Oreochromis niloticus) selama empat bulan (September–Desember) percobaan pakan. Pakan kontrol (T0) dan pakan substitusi dengan 9% spirulina (T9)
Variabel | T0 | T9 |
Suhu (°C) | 25,27 ± 1,25 | 25,34 ± 1,34 |
pH | 6,73 ± 0,31 | 6,48 ± 0,39 |
Oksigen terlarut (mg L⁻¹) | 8,3 ± 3,6 | 8,0 ± 3,5 |
Amonium (mg L⁻¹) | 1,3 ± 0,5 | 1,7 ± 0,5 |
Nitrat (mg L⁻¹) | <10 ± 0,5 | <10 ± 0,5 |
Hasil
Analisis rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) menunjukkan bahwa pada pakan kontrol, laju pertumbuhan relatif terhadap konsumsi pakan lebih rendah selama periode percobaan 120 hari (Gambar 1).
Pada perlakuan spirulina, untuk menghasilkan 1 kg biomassa ikan nila utuh pada umur 160 hari (40 hari fase prapembesaran benih dan 120 hari fase percobaan pakan), diperlukan pakan sebesar 1,59 kg. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan pakan kontrol yang membutuhkan 2,22 kg pakan.
Namun demikian, perbedaan ini tidak menunjukkan signifikansi statistik pada tingkat kepercayaan 95% (p > 0,05) (Tabel 6).
Gambar 1. Kurva pertumbuhan bobot ikan nila (Oreochromis niloticus) berdasarkan model logistik Pearl, yang diproyeksikan hingga bobot target 600 g. Garis penuh merepresentasikan bobot hasil proyeksi, sedangkan penanda menunjukkan data hasil percobaan ± simpangan baku (SD) (n = 90).
Tabel 6. Parameter produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) pada kondisi pemeliharaan luar ruang, umur 0–160 hari. Pakan kontrol (T0) dan pakan substitusi dengan 9% spirulina (T9)
Parameter | T0 | T9 |
Bobot awal (g/ekor) | 0,8 ± 0,05 | 0,8 ± 0,05 |
Bobot akhir (g/ekor) | 50,38 ± 18,48 | 69,70 ± 22,73 |
Pertambahan bobot (g/ekor) | 49,58 ± 10,26 | 69,17 ± 12,70 |
Rasio konversi pakan (FCR) | 2,22 ± 0,41 | 1,59 ± 0,31 |
Kelangsungan hidup (%)ᵃ | 88 ± 5,29ᵇ | 100 ± 0,00ᵃ |
Panjang lipatan usus proksimal (µm) | 611,70 ± 107,07 | 600,03 ± 105,34 |
Keterangan:
ᵃ Huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan antarperlakuan (p < 0,05).
Pertumbuhan ikan diproyeksikan menggunakan bobot sebagai variabel dalam model logistik Pearl. Perlakuan spirulina (T9) menunjukkan bahwa bobot populasi ikan lebih cepat mendekati batas maksimum dibandingkan dengan kelompok kontrol (T0).
Pengaruh spirulina terhadap pertumbuhan terlihat lebih nyata pada fase awal, namun kemudian mengalami perlambatan (deceleration) yang lebih cepat dibandingkan dengan kelompok kontrol (Tabel 7).
Tabel 7. Parameter, estimasi, dan galat baku model Pearl untuk pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus)
Pakan | L (g) | aᶜ | bᶜ | SSE | R² |
T0 | 600 | 169,7430 | 0,5214 | 745.786,70 | 0,78 |
T9 | 600 | 177,4267 | 0,6242 | 1.262.279,27 | 0,88 |
Keterangan:
ᶜ Parameter a dan b merupakan parameter dalam fungsi pertumbuhan.
Lebih lanjut, nilai jumlah kuadrat galat (sum of squares due to error, SSE) lebih besar pada perlakuan pakan mikroalga (T9), yang menunjukkan adanya variabilitas yang tidak terjelaskan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Meskipun demikian, nilai koefisien determinasi (R²) pada perlakuan T9 lebih tinggi, yang mengindikasikan bahwa model memberikan kecocokan (fit) yang lebih baik terhadap data pada perlakuan spirulina dibandingkan dengan data pada kelompok kontrol.
Kandungan protein pada ikan nila tanpa isi perut (eviscerated) menunjukkan persentase yang relatif serupa pada kedua perlakuan pakan, tanpa perbedaan yang signifikan secara statistik (p > 0,05) pada tingkat kepercayaan 95%.
Sementara itu, berdasarkan konsentrasi ekstrak hasil hidrolisis asam, perlakuan spirulina menghasilkan akumulasi lemak yang lebih rendah pada daging ikan nila dibandingkan dengan kelompok kontrol (p < 0,05), tanpa memengaruhi profil lipid (Tabel 8).
Tabel 8. Kandungan protein, lemak, dan mineral pada daging ikan nila (umur 160 hari): pakan kontrol (T0) vs. pakan substitusi spirulina 9% (T9)
Nutrien | T0 | T9 |
Protein (g/100 g) | 16,42 ± 0,35 | 17,57 ± 0,48 |
Lemak (g/100 g)ᵃ | 7,67 ± 0,31ᵃ | 6,24 ± 0,20ᵇ |
Lemak tak jenuh ganda (g/100 g dalam lemak) | 17,07 ± 1,93 | 17,82 ± 1,77 |
Lemak tak jenuh tunggal (g/100 g dalam lemak) | 47,85 ± 4,49 | 47,51 ± 3,69 |
Lemak jenuh (g/100 g dalam lemak) | 35,07 ± 4,17 | 34,67 ± 3,21 |
Natrium (mg/100 g) | 90 ± 18 | 91 ± 18 |
Kalsium (mg/100 g) | 526 ± 54 | 562 ± 58 |
Kalium (mg/100 g) | 224 ± 25 | 221 ± 24 |
Besi (mg/100 g) | 1,51 ± 0,21 | 1,54 ± 0,21 |
Keterangan:
ᵃ Huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang signifikan antarperlakuan (p < 0,05).
Analisis ester lipid tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara perlakuan pakan. Asam lemak yang paling dominan adalah asam oleat (C18:1), asam palmitat (C16:0), dan asam linoleat (C18:2), yang secara bersama-sama menyumbang sekitar 78% dari total komposisi minyak.
Asam alfa-linolenat (ALA, C18:3) merupakan satu-satunya asam lemak omega-3 yang terdeteksi dalam profil tersebut, dengan konsentrasi sekitar 1% (Gambar 2).
Gambar 2. Komposisi persentase asam lemak dari ekstrak hasil hidrolisis asam pada daging ikan nila (Oreochromis niloticus) umur 160 hari, yang diberi pakan kontrol (T0) dan pakan substitusi dengan 9% spirulina (T9).
Proyeksi Analisis Biaya Produksi Ikan Nila dengan Substitusi Spirulina 9%
Analisis biaya yang didasarkan pada proyeksi pertumbuhan bobot ikan nila (Oreochromis niloticus) hingga mencapai 450 g (rata-rata bobot jual) menunjukkan bahwa substitusi pakan dengan spirulina layak secara ekonomi.
Total biaya pakan untuk 100 ekor ikan tanpa spirulina selama 40 minggu adalah sekitar 476.104 CRC (864,74 USD), sedangkan penambahan spirulina (9% dalam pakan) sedikit meningkatkan biaya menjadi 476.218 CRC (864,96 USD). Hal ini menunjukkan adanya tambahan biaya sebesar 1.170 CRC (2,13 USD) per kilogram pakan dengan kandungan mikroalga 9%.
Meskipun demikian, penggunaan spirulina mampu mengurangi waktu yang dibutuhkan ikan nila untuk mencapai bobot panen (450 g) sebesar 1,9 bulan, yaitu dari 12 bulan pada perlakuan kontrol menjadi 10,1 bulan pada perlakuan dengan spirulina.
Pengurangan waktu pemeliharaan ini menghasilkan penghematan yang signifikan dalam biaya operasional dan tenaga kerja:
- Penghematan biaya pakan dasar: sebesar 20.683,73 CRC (37,61 USD) sebagai akibat dari pemendekan periode pertumbuhan.
- Penghematan biaya tenaga kerja: sebesar 177.876 CRC (323,41 USD).
- Nilai tambahan dari peningkatan tingkat kelangsungan hidup: sebesar 36.000 CRC (65,45 USD) akibat peningkatan jumlah ikan yang bertahan hidup.
Analisis ekonomi pada skala produksi 100 ekor ikan nila menunjukkan keuntungan bersih sekitar 121.046,33 CRC (220,08 USD), dengan mempertimbangkan tambahan biaya spirulina, penghematan pakan dan tenaga kerja, serta peningkatan pendapatan akibat tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Untuk menutupi tambahan biaya spirulina sebesar 113.513,40 CRC (206,39 USD), diperlukan sekitar 94 ekor ikan agar investasi spirulina menjadi menguntungkan dalam kondisi yang diasumsikan. Dengan demikian, penggunaan spirulina dalam pakan dapat dinyatakan layak secara ekonomi, bahkan untuk pembudidaya skala kecil, selama manfaat tambahan dan penghematan yang dihitung tetap konsisten.
PEMBAHASAN
Biomassa Arthrospira platensis yang digunakan dalam penelitian ini memiliki komposisi nutrisi yang masih berada dalam kisaran normal sebagaimana dilaporkan sebelumnya (Allen, 2016; Poveda-Víquez et al., 2023). Namun demikian, kandungan protein tercatat lebih dari 60%, sementara kadar lemak tetap di bawah 1%, berbeda dengan beberapa studi serupa (Abo El-Ward et al., 2016; Al Mahrouqi et al., 2023; Madkour et al., 2012). Pakan dasar (kontrol) telah memenuhi proporsi nutrisi yang direkomendasikan untuk benih ikan nila (Montanhini Neto & Ostrensky, 2015). Substitusi spirulina sebesar 9% tidak memberikan dampak negatif terhadap kandungan protein kasar, lipid, kadar air, maupun abu dalam pakan, namun secara nyata meningkatkan kandungan total karotenoid.
Tingkat substitusi yang lebih tinggi, bahkan hingga 30%, tidak menyebabkan penurunan kandungan nutrien dalam pakan (Velasquez et al., 2016). Akan tetapi, diperkirakan bahwa substitusi di atas 40% dapat menurunkan kadar asam amino esensial seperti metionin dan lisin, yang masing-masing dibutuhkan sekitar 0,5% dan 1,5% dalam pakan (Balakamatchi et al., 2022; Torres-Novoa & Hurtado-Nery, 2012). Hal ini dapat terjadi meskipun biomassa mikroalga mengandung kedua asam amino tersebut dalam jumlah yang memadai (Poveda-Víquez et al., 2023), dan berpotensi memengaruhi pertumbuhan ikan.
Pada percobaan pertama, kinerja produksi dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila meningkat ketika A. maxima ditambahkan sebesar 15% dalam pakan. Namun, tingkat kelangsungan hidup menurun secara signifikan pada tingkat inklusi mikroalga yang lebih tinggi. Inklusi di atas 30% menunjukkan tren negatif terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan (Rincón et al., 2012; Velasquez et al., 2016). Hasil ini dibandingkan dengan penelitian Abo El-Ward et al. (2016) yang menggunakan ikan nila juvenil dengan umur yang sama selama 57 hari. Dalam penelitian ini, nilai rasio konversi pakan (FCR) lebih rendah (yang menunjukkan produktivitas lebih baik), kemungkinan disebabkan oleh kandungan protein pakan yang lebih tinggi (sekitar 7%) dibandingkan dengan penelitian tersebut.
Hasil produktivitas (FCR) pada percobaan kedua menunjukkan pola yang serupa dengan percobaan pertama. Penurunan kadar biomassa mikroalga sebesar 6% (dari 15% menjadi 9%) tidak mengubah tren peningkatan produktivitas yang diamati pada percobaan pendahuluan.
Penurunan tingkat mortalitas juga diamati pada kelompok ikan yang diberi pakan mengandung spirulina. Efek ini diduga berkaitan dengan kandungan molekul fungsional seperti karotenoid dan fikosianin yang terdapat dalam konsentrasi tinggi pada biomassa A. maxima. Berbagai strain nila merah dan spesies ikan lainnya menunjukkan peningkatan pertumbuhan, pigmentasi, dan tingkat kelangsungan hidup ketika diberi ekstrak karotenoid (Judan Cruz et al., 2021; Rashidian et al., 2021; Velasco et al., 2018). Selain itu, Rashidian et al. (2021) juga menunjukkan bahwa variasi dosis karotenoid dan sumber cahaya memengaruhi pertumbuhan serta performa reproduksi ikan pedang (Xiphophorus helleri), yang menegaskan pentingnya karotenoid dalam fisiologi ikan.
Penurunan kandungan lemak pada daging ikan yang diberi pakan dengan inklusi A. maxima juga berkaitan dengan kandungan polifenol dalam mikroalga tersebut (Velasquez et al., 2016). Beberapa polifenol, seperti fikosianin, diketahui meningkatkan aktivitas lipolitik serta enzim pencernaan usus, termasuk kimotripsin, tripsin, lipase, dan amilase, ketika ditambahkan dalam pakan (50 mg/kg) (Hassaan et al., 2021). Perbaikan struktur histologis usus dan hati pada O. niloticus juga telah dilaporkan pada ikan yang diberi pakan dengan tambahan 0,15% fikosianin (El-Araby et al., 2022), dan tinggi vili usus (panjang lipatan usus) yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya sejalan dengan hasil penelitian ini (El-Araby et al., 2022; Margaret et al., 2021).
Model Pearl yang digunakan dalam penelitian ini mampu memprediksi produktivitas O. niloticus (bobot ikan terhadap waktu) dengan baik (Fuentes-Andraca et al., 2023; Lugert et al., 2016; Oliveira Zardin et al., 2019; Santos et al., 2019; Santos et al., 2013; Sun & Wang, 2024), yang menunjukkan bahwa model logistik tersebut memiliki kecocokan yang baik. Meskipun data eksperimental juga dapat mengikuti kurva eksponensial, model tersebut memiliki keterbatasan dalam memprediksi pertumbuhan jangka panjang. Oleh karena itu, model eksponensial lebih sesuai untuk menggambarkan pertumbuhan jangka pendek dibandingkan keseluruhan siklus pertumbuhan (Santos et al., 2013).
Bobot akhir benih ikan nila setelah 7 minggu pemberian pakan dalam kondisi budidaya lapang sejalan dengan penelitian sebelumnya (rata-rata 32,67 ± 3,02 g) (Maghawri et al., 2023). Namun, jika dibandingkan dengan standar komersial lokal berdasarkan model logistik termodifikasi (model Gompertz) dengan parameter umum (W = 900 g, k = 0,12, t₀ = 4 bulan), ikan nila jantan hasil pembalikan kelamin dapat mencapai bobot 450 g dalam waktu sekitar 7,05 bulan (Lugert et al., 2016; Oliveira Zardin et al., 2019).
Waktu yang lebih lama dalam penelitian ini diduga disebabkan oleh sistem pemeliharaan dalam happa dengan kepadatan tebar tertentu, yang ditunjukkan oleh penurunan tingkat kelangsungan hidup dan bobot rata-rata akhir seiring meningkatnya biomassa per unit. Hasil ini mendukung perlunya periode pemeliharaan yang lebih panjang, hingga sekitar 10 bulan dibandingkan 7 bulan, untuk mencapai bobot target rata-rata 450 g per ekor (Fuentes-Andraca et al., 2023; Yi & Kwei Lin, 2001).
Analisis biaya menunjukkan bahwa pembudidaya skala kecil dapat menerapkan pakan yang dikaji dalam penelitian ini secara ekonomis untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan keuntungan bersih dalam kegiatan akuakultur selama periode 10 bulan. Substitusi 20% protein dengan tepung A. platensis dalam pakan ikan nila terbukti efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan lebih efisien secara biaya pada benih ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam kondisi percobaan, dengan harga pakan formulasi yang lebih rendah yaitu sekitar 0,07 USD/kg (Abo El-Ward et al., 2016), dibandingkan dengan 3,94 USD/kg pada penelitian ini.
KESIMPULAN
Pengembangan dan validasi pakan alternatif untuk ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan mengintegrasikan spirulina sebagai substituen parsial pakan berbasis hewani merupakan langkah penting dalam mendorong keberlanjutan industri akuakultur.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut layak secara teknis maupun ekonomis, serta memberikan manfaat langsung berupa penurunan dampak lingkungan dan potensi peningkatan kesehatan serta pertumbuhan ikan.
Ke depan, adopsi teknologi ini berpotensi berkontribusi terhadap penurunan jejak karbon dalam produksi ikan nila secara jangka panjang, sekaligus meningkatkan profitabilitas bagi pembudidaya skala kecil dan mendorong penerapan praktik budidaya yang lebih berkelanjutan secara luas di industri akuakultur.
REFERENSI
- Abo El-Ward, A., Eid, A.E., Mohamed,
K.A., Abd-elfattah, B., & Hasan, M.A. (2016). Growth performance of
Nile tilapia (Oreochromis niloticus) fingerlings fed diet
supplemented with different levels of Spirulina platensis. Egyptian
Journal of Animal Production, 53(3), 181–190. https://doi.org/10.21608/ejap.2016.93305
- Al Mahrouqi, H., Dobretsov, S., &
Abdala-Daz, R.T. (2023). The effect of Spirulina (Arthrospira
platensis) feed supplement on proteins, lipids, carbohydrates, and
microbiota of juvenile Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Applied
Environmental Biotechnology, 8(1), 1–8. https://doi.org/10.26789/AEB.2023.01.001
- Al-Deriny, S.H., Dawood, M.A.O.,
Zaid, A.A.A., El-Tras, W.F., Paray, B.A., Van Doan, H., & Mohamed,
R.A. (2020). The synergistic effects of Spirulina platensis and Bacillus
amyloliquefaciens on growth performance, intestinal histomorphology,
and immune response of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture
Reports. https://doi.org/10.1016/j.aqrep.2020.100390
- Allen, K. (2016). Evaluating
Spirulina as a protein source in Nile tilapia (Oreochromis niloticus)
grow-out diets. http://hdl.handle.net/1974/14452
- Balakamatchi, T., Aparna, S.M.T.,
& Ramabhai, V. (2022). Nutritional requirement of Nile tilapia (Oreochromis
niloticus) in a commercial farm: A review. International Journal of
Zoological Investigations, 8(2). https://doi.org/10.33745/ijzi.2022.v08i02.006
- Banaee, M., Impellitteri, F.,
Evaz-Zadeh Samani, H., Piccione, G., & Faggio, C. (2022). Dietary Arthrospira
platensis in rainbow trout (Oncorhynchus mykiss): A means to
reduce threats caused by CdCl₂ exposure? Toxics, 10(12), 731. https://doi.org/10.3390/toxics10120731
- Barkia, I.,
Saari, N., & Manning, S.R. (2019). Microalgae for high-value products
towards human health and nutrition. Marine Drugs, 17(5), 304. https://doi.org/10.3390/md17050304
- Costa Rican Institute of Fishery and
Aquaculture. (2019). Strategic Plan for Aquaculture INCOPESCA 2019–2023.
INCOPESCA. https://www.infoagro.go.cr/Documents/Plan_Estrategico_Acuicultura_Costa_Rica_2019-2023.pdf
- Elabd, H., Youssuf, H., Mahboub,
H.H., Salem, S.M.R., Husseiny, W.A., Khalid, A., El-Desouky, H.S., &
Faggio, C. (2022). Growth, hemato-biochemical, immune-antioxidant
response, and gene expression in Nile tilapia (Oreochromis niloticus)
receiving nano iron oxide-incorporated diets. Fish & Shellfish
Immunology, 128, 574–581. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2022.07.051
- El-Araby, D.A., Amer, S.A., Attia,
G.A., Osman, A., Fahmy, E.M., Altohamy, D.E., Alkafafy, M., Elakkad, H.A.,
& Tolba, S.A. (2022). Dietary Spirulina platensis phycocyanin
improves growth, tissue histoarchitecture, and immune responses in Nile
tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture, 546, 737413. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2021.737413
- El-Murr, A., Elhakim, A., &
El-Sayed, M. (2014). Effect of spirulina-enriched diet on growth and
health of Oreochromis niloticus and protection against Aeromonas
hydrophila. Abbassa International Journal of Aquaculture, 7(2),
475–489.
- Fuentes-Andraca, V.H.,
Araneda-Padilla, M.E., Domínguez-May, R., Gullian-Klanian, M.,
Marin-Coria, E.J., Quintana-Casares, J.C., Peñalosa-Martinell, D., &
Ponce-Díaz, G. (2023). Modeling Nile tilapia heterogeneous growth under
different stocking densities. Aquaculture Research, 2023, 1–18. https://doi.org/10.1155/2023/9347654
- Gouveia, L., Batista, A.P., Sousa,
I., Raymundo, A., & Bandarra, N.M. (2008). Microalgae in novel food
products. In K.N. Papadopoulos (Ed.), Food Chemistry Research
Developments (pp. 75–112). Nova Science Publishers Inc.
- Habib, M.A.B., Parvin, M.,
Huntington, T.C., & Hasan, M.R. (2008). A review of culture,
production and use of Spirulina as food for humans and feeds for domestic
animals and fish. FAO Fisheries and Aquaculture Circular No. 1034.
FAO.
- Hamed, H.S., Ismail, S.M., &
Faggio, C. (2021). Effect of allicin on antioxidant defense system and
immune response after carbofuran exposure in Nile tilapia (Oreochromis
niloticus). Comparative Biochemistry and Physiology Part C:
Toxicology & Pharmacology, 240, 108919. https://doi.org/10.1016/j.cbpc.2020.108919
- Hassaan, M.S., Mohammady, E.Y.,
Soaudy, M.R., Sabae, S.A., Mahmoud, A.M.A., & El-Haroun, E.R. (2021).
Comparative study on dietary β-carotene and phycocyanin from Spirulina
platensis in Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Fish
& Shellfish Immunology, 108, 63–72. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2020.11.012
- Judan Cruz, K.G., Landingin, E.P.,
Gajeton, M.B., Fernando, S.I.D., & Watanabe, K. (2021). Carotenoid
coloration and gene expression in red tilapia (Oreochromis sp.). BMC
Veterinary Research, 17(1), 1–9. https://doi.org/10.1186/s12917-021-03006-5
- Kassem, T., Shahrour, I., El
Khattabi, J., & Raslan, A. (2021). Smart and sustainable aquaculture
farms. Sustainability, 13(19), 10685. https://doi.org/10.3390/su131910685
- Kurian, A., Lakshmi, S., Fawole,
F.J., Faggio, C., & Elumalai, P. (2021). Combined effects of plant
extracts and additives on Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Turkish
Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 21(3), 147–158. https://doi.org/10.4194/1303-2712-V21_3_05
- Lu, J., & Takeuchi, T. (2004).
Spawning and egg quality of Nile tilapia fed Spirulina across generations.
Aquaculture, 234(1–4), 625–640. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2003.12.027
- Lugert, V., Thaller, G., Tetens, J.,
Schulz, C., & Krieter, J. (2016). Fish growth calculation methods in
aquaculture. Reviews in Aquaculture, 8(1), 30–42. https://doi.org/10.1111/raq.12071
- Madkour, F.F., Kamil, A.-E.-W., &
Nasr, H.S. (2012). Production and nutritive value of Spirulina
platensis. Egyptian Journal of Aquatic Research, 38(1), 51–57. https://doi.org/10.1016/j.ejar.2012.09.003
- Maghawri, A., Marzouk, S.S., Ezz
El-Din, H.M., & Nashaat, M. (2023). Brown algae as dietary supplement
in Nile tilapia culture. Egyptian Journal of Aquatic Research,
49(3), 379–385. https://doi.org/10.1016/j.ejar.2023.03.001
- Mahmoud, M.M.A., El-Lamie, M.M.M.,
Kilany, O.E., & Dessouki, A.A. (2018). Spirulina
supplementation improves growth and immunity in Nile tilapia. Fish
& Shellfish Immunology, 72, 291–300. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2017.11.006
- Margaret, A., Euglance, G.M., &
Racheal, N. (2021). Effects of phytogenic additives on intestinal
histomorphology of Nile tilapia. Scientific African, 12, e00750. https://doi.org/10.1016/j.sciaf.2021.e00750
- Montanhini Neto, R., & Ostrensky,
A. (2015). Evaluation of commercial feeds for Nile tilapia production. Aquaculture
Nutrition, 21(3), 311–320. https://doi.org/10.1111/anu.12154
- Naylor, R.L., Hardy, R.W., Buschmann,
A.H., Bush, S.R., Cao, L., Klinger, D.H., Little, D.C., Lubchenco, J.,
Shumway, S.E., & Troell, M. (2021). A 20-year review of global
aquaculture. Nature, 591(7851). https://doi.org/10.1038/s41586-021-03308-6
- Nuhu, A.A. (2013). Spirulina
(Arthrospira) as a source of nutritional and medicinal compounds. Journal
of Marine Biology, 2013. https://doi.org/10.1155/2013/325636
- Oliveira Zardin, A.M.S., de Oliveira,
C.A.L., de Oliveira, S.N., Yoshida, G.M., de Albuquerque, D.T., de Campos,
C.M., & Ribeiro, R.P. (2019). Growth curves of Nile tilapia using
Gompertz model. Aquaculture, 511, 734243. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2019.734243
- Poveda-Víquez, G., Villalta-Romero,
F., Murillo-Vega, F., Guerrero-Barrantes, M., & Salas-Durán, C.
(2023). Effects of Arthrospira maxima in poultry diets. Brazilian
Journal of Poultry Science, 25(4). https://doi.org/10.1590/1806-9061-2022-1753
- Rashidian, G., Rainis, S., Prokić,
M.D., & Faggio, C. (2021). Effects of carotenoids and light on fish
growth and reproduction. Natural Product Research, 35(21),
3675–3686. https://doi.org/10.1080/14786419.2020.1723091
- Rincón, D.D., Velásquez, H.A.,
Dávila, M.J., Semprun, A.M., Morales, E.D., & Hernández, J.L. (2012).
Replacement of fish meal with Arthrospira maxima in tilapia diets. Revista
Colombiana de Ciencias Pecuarias, 25(3), 430–437.
- Rojas-Villalta, D., Gómez-Espinoza,
O., Guillén-Watson, R., Murillo-Vega, F., Villalta-Romero, F.,
Vaquerano-Pineda, F., Chicas, M., Guerrero, M., & Núñez-Montero, K.
(2024). Impact of Arthrospira maxima on tilapia gut microbiota. Fishes,
9(10), 374. https://doi.org/10.3390/fishes9100374
- Santos, V.B., Mareco, E.A., &
Silva, M.D.P. (2013). Growth curves of Nile tilapia under different
temperatures. Acta Scientiarum. Animal Sciences, 35(3), 235–242. https://doi.org/10.4025/actascianimsci.v35i3.19443
- Santos, J.F., Assis, C.R.D., Soares,
K.L.S., Rafael, R.E.Q., Oliveira, V.M., Vasconcelos Filho, J.E., França,
R.C.P., Lemos, D., & Bezerra, R.S. (2019). Growth parameters of Nile
tilapia in different culture systems. Aquaculture, 503. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2018.12.044
- Sarker, P.K., Kapuscinski, A.R.,
McKuin, B., Fitzgerald, D.S., Nash, H.M., & Greenwood, C. (2020).
Microalgae-based feed improves tilapia growth. Scientific Reports,
10(1). https://doi.org/10.1038/s41598-020-75289-x
- Suhaimi, H., Yuslan, A., Azani, N.,
Habib, A., Liew, H.J., & Rasdi, N.W. (2022). Effects of enhanced Moina
macrocopa diet on tilapia fry. Egyptian Journal of Aquatic Research,
48(1), 67–73. https://doi.org/10.1016/j.ejar.2021.08.004
- Sun, X., & Wang, Y. (2024).
Growth models in aquaculture for groupers. Aquaculture, 578. https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2023.740026
- Torres-Novoa, D.M., &
Hurtado-Nery, V.L. (2012). Nutritional requirements of Nile tilapia. Orinoquia,
16(1). https://doi.org/10.22579/20112629.266
- Trevi, S., Uren Webster, T.,
Consuegra, S., & Garcia de Leaniz, C. (2023). Benefits of microalgae
in fish nutrition: A meta-analysis. Scientific Reports, 13(1). https://doi.org/10.1038/s41598-023-29183-x
- Velasco, R.R., Dandan, R.R., Tomas,
P.A.G., Torres, J.C., Galvan, J.A., Fernando, S.I.D., & Bartolome,
R.M. (2018). Skin pigmentation in tilapia fed carotenoid-rich plants. International
Journal of Biology, Pharmacy and Allied Sciences, 7(8), 1601–1615. https://doi.org/10.31032/IJBPAS/2018/7.8.4519
- Velasquez, S.F., Chan, M.A., Abisado,
R.G., Traifalgar, R.F.M., Tayamen, M.M., Maliwat, G.C.F., & Ragaza,
J.A. (2016). Dietary Spirulina improves performance of Nile tilapia
juveniles. Journal of Applied Phycology, 28(2). https://doi.org/10.1007/s10811-015-0661-y
- Villalta-Romero, F., Murillo-Vega,
F., Martínez-Gutiérrez, B., Valverde-Cerdas, J., Sánchez-Kopper, A., &
Guerrero-Barrantes, M. (2019). Microalgal biotechnology in Costa Rica. Revista
Tecnología en Marcha, 32(SI), 85–93. https://doi.org/10.18845/tm.v32i9.4634
- Whitton, B.A. (2012). Ecology of
cyanobacteria II. In B.A. Whitton (Ed.), Ecology of Cyanobacteria II:
Their Diversity in Space and Time. Springer. https://doi.org/10.1007/978-94-007-3855-3
- Yi, Y., &
Kwei Lin, C. (2001). Effects of biomass and aeration on Nile tilapia
growth in integrated systems. Aquaculture, 195(3–4), 253–267. https://doi.org/10.1016/S0044-8486(00)00558-5
SUMBER:
Francinie Murillo Vega, Mauricio Chicas Romero, Olga Vargas Jiménez, Maritza Guerrero Barrantes. Enhanced growth and reduced fat accumulation in Nile tilapia (Oreochromis niloticus) through spirulina supplementation: a cost-benefit analysis. Egyptian Journal of Aquatic Research. Volume 51, Issue 3, September 2025, Pages 415-422