Di
sebuah rumah tua yang tenang, di kawasan Ciwaringin, Bogor, Andi Hakim Nasution
seperti selalu kembali ke masa lalu. Di rumah itu, ayahnya, Anwar Nasoetion
Gelar Mangaraja Pidoli—seorang dokter hewan pada zaman Belanda—membesarkan Andi
Hakim. Di antara ruang-ruang rumah yang penuh kenangan, Andi seperti tak henti
menyimak kembali ajaran-ajaran ayahnya yang adalah juga seorang peneliti. Salah
satu wasiat Anwar kepada Andi adalah: tekunilah ilmu pertanian agar cepat
mendapat kerja. Anak sulung dari lima
bersaudara itu menjalankan wasiat sang ayah dengan patuh. Hasilnya? Ia bukan
cuma cepat bekerja selepas kuliah. Lebih dari itu, “ilmu pertanian” ternyata
mengantarkan Andi ke tingkat kemasyhuran yang layak diperoleh seorang cendekiawan.
Pria yang lahir pada 30 Maret 1932 ini melewatkan masa
kanak-kanaknya di Bogor. Di sana pula ia meraih gelar insinyur pertanian dari
IPB pada 1958 dengan predikat cum laude. Sedangkan gelar doktor diraihnya dari
North Carolina State University, AS, pada 1964. Setahun kemudian, Andi kembali
ke Tanah Air dan resmi menjadi dosen IPB justru ketika kampusnya sedang
bergolak gara-gara perang ideologi—menjelang peristiwa berdarah G30S. Pada
1965, Andi diangkat menjadi dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB hingga 1969.
Ayah tiga anak ini sempat menjadi direktur pendidikan
sarjana (1971) dan direktur sekolah pascasarjana di kampus tersebut sebelum
menjadi rektor IPB selama dua periode (1978-1987). Sebagai dosen,
keberhasilannya tak diragukan lagi. Namun, yang mengangkat nama Andi Hakim
begitu tinggi adalah karirnya sebagai guru besar statistika dan genetika
kuantitatif—dua ilmu yang selalu ada dalam pikirannya dan karya-karya
ilmiahnya.
Ia adalah satu dari amat sedikit ahli statistika dan
matematika yang hebat di negeri ini. Ia mendesain dan merintis pengajaran
statistika dan matematika dengan cara yang seharusnya: membuat orang berpikir
logis, bukan sekadar memahami perihal hitung-menghitung. Tulisan
ilmiahnya tersebar di berbagai buku dan artikel, antara lain Daun-Daun
Berserakan, Reaching The Best, Landasan Matematik, Aljabar Matrik, dan Teori
Statistika. Metode Statistika ditulisnya dalam edisi Indonesia dan Inggris.
Menulis memang bukan hal baru baginya. Pada usia 18 tahun, ia menulis buku
fiksi berjudul Anak-Anak Bintang Pari.
Dalam usia 67, kegiatan Andi masih padat. Ia kini
menjabat rektor Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung dan masih mengajar di
IPB. Ia juga tetap menulis artikel dan buku, termasuk sebuah buku dakwah. Salah
satu keunggulan Andi Hakim adalah ingatannya yang numerik dan kognitif. Ia
lektor luar biasa pertama IPB untuk matematika. Tak mengherankan, guru besar
ini masih menjadi Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja sejak 23
tahun lalu, serta membimbing anggota Tim Olimpiade Matematika Indonesia.
Namanya juga mengingatkan orang pada berbagai inovasi
dalam dunia pendidikan, seperti pembagian pendidikan tinggi dalam tiga strata
dan seleksi masuk ke universitas tanpa melalui ujian masuk.
Dua pekan lalu, di rumah tua yang penuh jejak masa lalu
itu, Andi Hakim, yang tampak sehat dan awet muda, menerima wartawan TEMPO I
Gusti Gede M.S. Adi untuk sebuah wawancara khusus.
Petikannya:
Anda merintis penerimaan mahasiswa tanpa tes di IPB sejak
1976. Bagaimana awal lahirnya ide tersebut?
Ide
itu sudah ada sebelumnya. Tapi calon mahasiswa yang dikirim memakai rekomendasi
dari mana-mana, seperti gubernur. Ini berbahaya karena
bisa menumbuhkan kolusi. Ketika itu saya diangkat menjadi ketua program
penerimaan mahasiswa baru IPB 1975. Rektor IPB ketika itu memerintahkan agar
IPB menerima seribu mahasiswa untuk tahun ajaran baru.
Kenapa jumlahnya sedemikian melonjak? Kan, IPB biasanya
hanya menerima 200 mahasiswa.
Itu permintaan DPR. Menurut mereka, menerima 200 orang
tidak seimbang dengan subsidi pemerintah. Tapi saya bilang kepada rektor, calon
itu tidak bisa diambil begitu saja karena kita akan menjadi tempat sampah. Tapi
rektornya ngotot: pokoknya harus seribu. Akhirnya, saya ajukan kenaikan
bertahap, 500 orang tahun pertama dan terus naik sampai 1.000 orang. Saya minta
otoritas untuk mengerjakan semua itu menurut cara saya.
Bagaimana
menentukan SMA yang layak mengirim siswa terbaik?
Begini.
Setiap ujian, mahasiswa saya minta mencantumkan asal dan alamat sekolah di
bagian bawah kertas ujian. Kalau sampai ke tingkat empat mahasiswa itu nilainya
bagus terus, saya tinggal mengundang sekolah itu untuk mencalonkan siswanya ke
IPB—dengan harapan para siswa itu mengikuti jejak kakak-kakaknya. Metode ini
berkembang sampai sekarang.
Jika
dibandingkan dengan calon yang masuk lewat Sipenmaru (Sistem Penerimaan
Mahasiswa Baru), bagaimana prestasi mereka?
Kalau di IPB, rata-rata lebih bagus. Dari data, kita bisa
melihat bahwa siswa yang masuk tanpa tes biasanya dari ibu kota kecamatan.
Sedangkan para siswi berasal dari kota-kota besar. Rupanya, di kota kecamatan,
menyekolahkan anak perempuan belum jadi prioritas utama.
Apakah ada pejabat yang pernah menitipkan anaknya di IPB
melalui program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan, program masuk tanpa tes)
kepada Anda?
Ada. Tapi saya lihat dulu. Kalau nilainya bagus, ya,
boleh masuk. Terus terang, pernah ada peristiwa di Akademi Pertanian Ciawi yang
melahirkan ide program masuk tanpa tes ke IPB. Sekali waktu, saya mendapat
surat dari bupati Kabupaten Curup, Bengkulu. Dalam surat itu, ia mengajukan
calon yang katanya satu-satunya calon terbaik kabupaten. Ternyata, nilai anak
itu jelek sekali. Sehari sesudah penutupan, seorang siswa berbaju lusuh menemui
saya. Ia ingin melamar ke Akademi Pertanian. Pendaftaran sudah tutup. Tapi saya
sempatkan melihat rapornya. Bagus. Dan anak ini berasal dari Kabupaten Curup,
Bengkulu.
Ha-ha-ha…, jadi bupati itu ternyata “keliru”
merekomendasi. Lalu apa yang Anda lakukan pada siswa berbaju lusuh itu?
Saya
bilang ke dia supaya melamar dengan mencantumkan tanggal sebelum penutupan.
Saya suruh dia agar mengotori sedikit amplopnya dan saya beri catatan surat itu
diterima dalam keadaan rusak. Untung, ia mau berbohong dan akhirnya diterima.
Jadi,
Anda berdua sama-sama berbohong?
Ya, saya juga berbohong. Dan Anda tahu siapa
anak itu? Profesor Mahfuddin Syakhranie. Sekarang ia guru besar kelautan di
Universitas Diponegoro, Semarang.
Apakah
Anda kerap mengalami kejadian seperti ini?
Ada saja. Peristiwa lain terjadi saat ujian saringan
masuk IPB pada 1974. Seseorang datang kepada saya dan bilang, “Pak, saya ini
orang jauh dan tidak bermaksud jadi mahasiswa. Bapak saya pensiunan kepala SD,
ibu saya pensiunan guru SD. Jadi, mereka tidak akan kuat membiayai saya. Saya
cuma ingin tahu apakah otak saya termasuk kelas yang bisa masuk IPB. Saya
membiayai sendiri pendaftaran dari tabungan hasil menulis di majalah berbahasa
daerah.”
Apa jawab Anda?
Saya pikir, kalau karangannya sudah pernah dimuat di
majalah, berarti anak ini punya pikiran yang runtun dan logikanya bagus. Saya
buka-buka dokumen yang dia bawa. Ternyata dia seorang pelajar teladan dari Jawa
Barat. Saya lantas meminta rektor membebaskan SPP-nya. Lalu saya tulis surat ke
bupatinya agar membiayai perjalanan siswa tersebut ke Bogor serta memberikan
biaya selama 3 bulan pertama. Selanjutnya, IPB yang akan mencarikan beasiswa
buat dia.
Bagaimana hasilnya?
Dia lulus cum laude dalam waktu empat tahun. Setelah
itu, ia mengambil gelar master di Amerika. Tadinya, saya pikir dia tidak ingat
saya lagi. Ternyata, begitu selesai program doktor, ia datang ke saya sembari
membawakan disertasinya. Sekarang anak ini menjadi eselon satu di salah satu
departemen dan menjadi pejabat tinggi termuda yang pernah diangkat departemen.
Mengapa
Anda berani “potong kompas” untuk menolong anak-anak cerdas seperti ini?
Ini
cara saya membayar utang kepada profesor dan dosen-dosen saya. Profesor
Boudoin, misalnya, adalah salah satu guru saya. Dulu, ia tukang kebun yang
bekerja di Hugo de Vreis, peraih Hadiah Nobel biologi dari Utrecht, Belanda.
Sewaktu De Vreis mengajar, si Boudoin mengintip setiap hari dan ikut mencatat
di luar jendela. Catatan tukang kebun yang cuma lulus SD itu ternyata lebih
rapi ketimbang catatan para mahasiswa. Akhirnya, De Vreis mendidiknya secara
pribadi hingga mencapai guru besar.
Mamiek
Soeharto, putri mantan presiden Soeharto, barangkali model “kasus” yang lain.
Dia masuk Jurusan Statistika IPB—saat Anda masih menjabat rektor—padahal ada
pendapat, kemampuannya sangat tidak layak masuk statistika. Apa komentar Anda?
Ha-ha-ha…,
yang saya tahu, Mamiek biasanya tidak akan menyelesaikan soal-soal ujian
berhitungnya. Tapi logika berpikirnya tetap bagus. Ia menulis skripsi yang
membandingkan anatomi tungkai kaki orang Irian, Pengalengan, dan Siantar,
memakai metode statistika.
Anda menerima tawaran menjadi rektor IPB pada 1978.
Apakah ini juga cara “membalas jasa” kepada para guru besar?
Begini ceritanya. Suatu ketika, menjelang pemilihan
rektor, saya dipanggil Daoed Joesoef (Menteri P dan K 1978-1983). Ia meminta
saya menjadi kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di P dan K,
bukan rektor IPB.
Dan Anda menolak?
Saya bilang, banyak yang bisa jadi kepala Bagian Litbang
tapi tidak banyak yang bisa jadi guru besar statistika. Saat itu, saya
satu-satunya guru besar statistika. Kalau tidak jadi rektor pun, tidak apa-apa.
Anda,
toh, tetap dicalonkan dan berhasil menjadi rektor IPB, bahkan dalam dua
periode.
Ya.
Saya tidak melihat prosesnya karena sedang mengantar anak saya ke dokter gigi
ketika pemilihan itu berlangsung. Sjarifudin Baharsjah (Menteri Pertanian
1993-1998) yang pertama menyalami saya karena terpilih sebagai rektor IPB.
Bukankah
Anda menang dengan suara telak?
Kemenangan
saya sangat besar, 250 : 40 suara. Lama-lama saya tahu apa alasannya. Ketika itu keadaan sedang kacau. Mereka
mengangkat saya sebagai rektor saat dunia kampus Indonesia bergolak karena
program NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan)
1978-79 yang mensterilkan kampus dari politik. Jadi, ini seperti tahun 1966,
saat saya diangkat sebagai dekan Faperta, selepas ribut-ribut G30S-PKI.
Sebagai rektor IPB, apa sikap Anda terhadap penerapan
NKK/BKK?
Saya katakan pada mahasiswa-mahasiswa itu, silakan
ngomong apa saja tapi yang bisa diterima logika. Kalau enggak ada logikanya,
buat apa? Saya harus keras sama mereka dan jangan sampai “membakar rumah
sendiri”.
Maksud Anda?
Kalau IPB ditutup, mereka mau apa? Banyak yang protes.
Dalam acara pelantikan sarjana, mereka mengusung keranda bertuliskan “Demokrasi
Sudah Mati di Kampus Ini.” Saya katakan kepada mereka, demokrasi sudah mati di
Indonesia, bukan di kampus ini. Kampus tidak lagi bisa menjadi suaka di
tengah-tengah keadaan seperti itu.
Anda juga melarang mahasiswa memakai cat kuning di kampus
IPB. Apa karena jengkel dengan Golkar?
Waktu itu, Lawalata IPB (kelompok mahasiswa pencinta
alam) memang saya larang pakai warna kuning karena asosiasinya, kan, Golkar.
Pokoknya, pada zaman saya, semua partai politik tidak boleh masuk ke kampus.
Jadi, Anda
berusaha agar kegiatan akademis tetap berlangsung. Tapi, apakah tidak ada yang
protes?
Tentu ada. Suatu ketika, ada yang datang kepada saya dan
menanyakan, setelah sekian lama menjadi birokrat, apakah saya masih seorang
ilmuwan. Saya jawab, soal ilmuwan atau tidak itu orang lain yang menilai. Tapi
menjaga agar kegiatan akademis tetap berlangsung secara optimal adalah tugas
saya sebagai rektor.
Tampaknya, itu
memang periode yang kacau. Bagaimana menurut Anda?
Memang. Suatu siang seorang menteri—lulusan IPB—menelepon
ke kantor saya. Mula-mula ia memuji melulu sehingga saya langsung waspada. Eh,
benar. Buntutnya, dia menyuruh saya agar menekan Aunu Rauf, seorang dosen di
Faperta, agar tidak bicara soal hama kutu loncat lagi. Waktu itu Aunu
diwawancarai Kompas soal kutu loncat.
Anda mengabulkan permintaannya?
Tentu tidak. Saya katakan kepadanya, dosen itu hanya
menjalankan kewajibannya sebagai ilmuwan. Dan kalau ia terus memaksakan
kehendak, mau dikemanakan integritas akademik almamaternya? Akhirnya, ia minta
maaf.
Mengapa menteri itu sedemikian memaksa?
Masalahnya, wereng cokelat itu kan dibawa ke Indonesia
oleh mantan Presiden Soeharto tanpa vektornya dan tanpa karantina. Ketika
terjadi wabah, kita tidak tahu apa obatnya.
Omong-omong soal menteri, benarkah Anda dicalonkan
menggantikan almarhum Nugroho Notosusanto (Menteri P dan K 1983- 1985), tapi
ditolak karena punya friksi dengan penguasa saat itu?
Tidak. Tapi, kalau Anda punya musuh besar dan ingin ia
tersiksa di dunia, doakanlah dia menjadi menteri pendidikan.
Kenapa begitu?
Sebab, siapa pun yang jadi menteri, pasti tidak akan bisa
berbuat apa-apa. Kondisi pendidikan kita sudah seperti benang kusut yang kita
tidak tahu lagi harus diurai dari mana. Kita ini menganggap orang Indonesia
paling pintar di dunia, jadi semuanya harus masuk ke perguruan tinggi.
Mengapa? Karena kita tidak pernah mengajarkan alternatif
lain di luar perguruan tinggi?
Persis. Di Vietnam saja, hanya lulusan SMU yang nilainya
baik yang boleh masuk perguruan tinggi. Sebagai gantinya, mereka menyediakan
sekolah kejuruan yang bagus sehingga keluar dari situ bisa bekerja. Contoh lain
adalah Amerika. Masuk perguruan tinggi bukan lagi jadi cita-cita utama. Banyak
juga yang ingin menjadi manajer pompa bensin atau sopir bus.
Mengapa anak-anak muda Amerika tertarik dengan “pekerjaan
kasar”?
Untuk apa dia capek-capek kuliah kalau penghasilannya
sama dengan orang sekolahan? Pada 1964, misalnya, gaji seorang sopir trailer
adalah US$ 30 ribu per tahun tapi naiknya agak lambat. Sedangkan gaji permulaan
seorang doktor US$ 10 ribu per tahun dengan dua bulan libur dan naiknya cepat,
tergantung juga proyek yang mereka kerjakan. Kalau keduanya kita integralkan,
gaji total selama hidup keduanya akan sama.
Tapi ini bukan tanpa akibat jelek: bukankah mahasiswa
yang pintar di AS sekarang adalah orang-orang asing?
Betul. Tapi lihat juga akibat dari tidak adanya
pendidikan alternatif. Di Indonesia, bus akan disopiri orang yang tidak
mengerti fisika. Sudah jelas kecepatan maksimumnya 100 kilometer per
jam—artinya jarak amannya 100 kilometer—tetap saja ia mengebut. Atau,
ketika pesawat mendarat, orang Indonesia sudah berdiri ambil koper, walau tanda
sabuk pengaman masih menyala. Kalau kita tahu kaidah
fisika, kita akan paham massa kita relatif kecil dan velositasnya besar. Dan
semua akan terpelanting kalau pilot mengerem kendati pesawatnya berjalan
lambat.
Tentang pengajaran matematika. Pernah terjadi perdebatan
di DPR agar matematika tidak boleh diajarkan di SD dan hanya berhitung. Apa
pendapat Anda?
Ada dua kesalahan dalam pemikiran itu. Pertama, berhitung
adalah bagian dari matematika. Kedua, mereka menganggap berhitung bagian dari
pengajaran kemampuan penilaian kuantitatif. Itu tidak benar. Karena kemampuan
kuantitatif adalah kemampuan menafsirkan apa yang ada di balik angka. Jadi,
guru harus tahu apa yang mereka ajarkan.
Seburuk apa pengalaman Anda dalam mengajar matematika?
Saya kasih Anda satu contoh. Sekali waktu, saya
memberikan materi matematika untuk para dosen fakultas pertanian di sebuah
universitas negeri di Malang. Saya ajukan pertanyaan, “Satu dibagi nol hasilnya
berapa?” Semuanya menjawab, “Tak terhingga.” Bayangkan, mereka dosen tapi tidak
tahu satu dibagi nol jawabannya adalah tidak didefinisikan. Itu teori dasar
matematika tetapi tak ada yang tahu.
Sebetulnya, apa perlunya memahami matematika?
Dengan matematika, orang bisa diajak berpikir logis. Dan,
karena berpikir logis, orang tidak akan menjadi papan selancar politik, tidak
akan bisa dijadikan massa mengambang oleh pihak lain.
Minat Anda pada matematika begitu besar. Tapi, tatkala
belajar ke Amerika pada 1961, mengapa justru memilih statistika?
Kalau saya ambil matematika, itu artinya matematika
murni. Mau ngapain saya di Bogor kalau jadi dosen matematika murni? Matematika
saya pelajari untuk memberikan landasan pemikiran dan analisa kuantitatif.
Jadi, bidang yang saya pilih di North Carolina University adalah statistika
untuk pemuliaan tanaman. Dengan statistika, saya bisa mendidik orang menjadi
ahli matematika. Itu terjadi pada angkatan di bawah saya. Sarjana statistika
ternyata relatif mudah meraih gelar doktornya di luar negeri.
Adakah materi kuliah di IPB yang Anda ubah setelah masuk
ke lembaga itu pada 1965?
Saya mengubah pengajaran matematika yang tadinya hanya
terdiri dari kalkulus. Ilmu kalkulus itu hanya matematika yang mengabdi kepada
perhitungan. Padahal, matematika seharusnya mendidik cara berpikir yang betul.
Perubahan yang Anda lakukan itu apakah tidak ditentang?
La, cuma saya sendiri yang ahli statistika waktu itu.
Tapi memang ada yang bilang IPB tidak usah ada matematikanya. Saya diam saja
tapi saya tetap mengajarkan matematika kepada mahasiswa saya. Di tingkat dua,
mereka belajar statistika, perancangan percobaan, dan aljabar matriks. Di
tingkat tiga, saat mau mengadakan penelitian, para mahasiswa itu mulai
mengkritik kesalahan yang diajarkan dosen-dosennya. Lalu datanglah para dosen
itu kepada saya, minta diajarkan statistika. Kursus-kursus bersertifikat itulah
awal progam pascasarjana di IPB.
Bidang matematika apa lagi yang Anda ajarkan?
Pra-kalkulus. Namanya landasan matematika, yang
mengajarkan matematika bukan sebagai alat hitung, tapi alat berpikir
kuantitatif. Landasan matematika dapat dipakai untuk membuktikan kebenaran
sebuah pernyataan.
Benarkah model- model pengajaran matematika di atas
adalah ciptaan Anda sendiri?
Saya mengadopsi ilmu itu dari pencipta bahasa pemrograman
komputer Basic. Saya bikin dua macam: matematika untuk
berpikir atau queen of science dan matematika untuk melayani perhitungan
semata-mata atau the servant of science. Dengan model itu, IPB yang pertama mengajarkan matematika itu di tingkat
satu.
Sampai sekarang Anda masih mengajar di IPB. Tapi mengapa
memilih mengajar tingkat satu?
Sebab, di tingkat satu, kita mengajarkan dasar-dasar. Di
Massachusetts Institute of Technology, dosen biologi tingkat satu adalah
pemenang hadiah Nobel biologi, Salvador Lorea. Lalu Linus Pauling, pemenang
Nobel kimia, pernah mengajar kimia di tingkat satu di Berkeley. Menurut saya,
harus lebih banyak lagi guru besar yang mengajar di tingkat satu.
Dulu
Anda rektor IPB, kini rektor Sekolah Tinggi Telkom Bandung. Kok, suka benar
jadi rektor?
Terus
terang saja, saya butuh tambahan penghasilan. Salah seorang anak saya diputus
beasiswanya, jadi harus dibantu. Di IPB saya merasa sudah
tidak dipakai lagi, mungkin karena sudah terlalu tua.
Apa kegiatan Anda di luar urusan akademis?
Kalau
Minggu, saya masih menyempatkan jalan kaki bersama Istri keliling Kota
Bogor—sembari hunting foto dengan kamera Olympus kesayangan saya. Memotret segala sesuatu, terutama tanaman dengan
lensa mikro. Di luar itu mengasuh cucu. Memandang dan memiliki mereka adalah
kebahagiaan paling besar.
Sumber: Wawancara Andi Hakim Nasution: Dengan Matematika Orang Tak Jadi Papan Selancar Politik, Majalah Tempo Senin 3 Januari 2000
#AndiHakim
#IPB
#Pendidikan
#Inspirasi
#Statistika
