Strategi Pengembangan Nanoadjuvan Berbasis Polimer untuk Peningkatan Respons Imun pada Vaksin Veteriner
ABSTRAK
Penyakit infeksius pada hewan ternak ruminansia dan
unggas terus menjadi ancaman besar bagi ketahanan pangan, kesehatan hewan, dan
ekonomi global. Berbagai penyakit strategis seperti Penyakit Mulut dan Kuku
(PMK), Newcastle Disease (ND), dan Avian Influenza (AI) menyebabkan kerugian
ekonomi yang signifikan akibat penurunan produktivitas, peningkatan mortalitas,
serta hambatan perdagangan internasional. Penggunaan vaksin konvensional sering
kali dibatasi oleh rendahnya stabilitas antigen, kebutuhan vaksinasi ulang yang
berulang, serta kemampuan yang terbatas dalam menginduksi respons imun seluler
yang kuat. Nanoadjuvan hadir sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan
imunogenisitas vaksin melalui perlindungan antigen dari degradasi biologis,
peningkatan pengambilan antigen oleh sel penyaji antigen (Antigen Presenting
Cells/APC), serta sistem pelepasan antigen secara terkendali (controlled
release).
Artikel ini mengulas metode pembuatan nanoadjuvan
berbasis polimer alam dan biopolimer yang banyak digunakan dalam bidang
veteriner, khususnya kitosan dan poly(lactic-co-glycolic acid) (PLGA), serta
aplikasinya pada vaksin hewan ruminansia dan unggas. Metode sintesis utama yang
dibahas meliputi gelasi ionik (ionic gelation) dan emulsi–evaporasi pelarut
(double emulsion solvent evaporation). Hasil berbagai penelitian menunjukkan
bahwa nanoadjuvan mampu menghasilkan ukuran partikel yang ideal untuk internalisasi
seluler, meningkatkan efisiensi enkapsulasi antigen, memperpanjang retensi
antigen di lokasi injeksi, serta memicu respons imun humoral dan seluler yang
lebih kuat dibandingkan adjuvan konvensional. Pada unggas, nanoadjuvan kitosan
meningkatkan produksi imunoglobulin Y (IgY) dan imunoglobulin A (IgA) mukosal,
sedangkan pada ruminansia, nanoadjuvan PLGA mampu mempertahankan pelepasan
antigen selama lebih dari 30 hari sehingga meningkatkan titer antibodi IgG dan
respons limfosit T. Standardisasi ukuran partikel (100–500 nm), indeks
polidispersitas rendah (<0,3), serta muatan permukaan positif menjadi faktor
penting dalam keberhasilan formulasi vaksin berbasis nanoteknologi.
Pengembangan nanoadjuvan berpotensi menjadi platform generasi baru untuk meningkatkan
efektivitas vaksin veteriner yang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Kata kunci: nanoadjuvan, kitosan, PLGA, vaksin
veteriner, ruminansia, unggas, imunogenisitas.
1.
PENDAHULUAN
Sektor peternakan ruminansia dan
unggas merupakan salah satu pilar utama dalam penyediaan protein hewani bagi
populasi dunia yang terus meningkat. Organisasi
Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan bahwa kebutuhan protein hewani
akan meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang seiring
pertumbuhan populasi dan peningkatan pendapatan masyarakat. Namun, peningkatan
intensitas produksi ternak juga diikuti oleh meningkatnya risiko penyebaran
penyakit infeksius yang dapat menimbulkan dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan
masyarakat yang luas.
Pada ternak ruminansia, penyakit seperti Penyakit Mulut
dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), Peste des Petits Ruminants (PPR), dan
Brucellosis masih menjadi tantangan utama dalam sistem produksi peternakan.
Sementara itu, pada unggas, penyakit Newcastle Disease (ND), Avian Influenza
(AI), Infectious Bronchitis (IB), dan Gumboro Disease terus menyebabkan
kerugian besar akibat tingginya angka morbiditas dan mortalitas.
Vaksinasi merupakan strategi
pencegahan yang paling efektif dan ekonomis untuk mengendalikan penyakit
tersebut. Namun, efektivitas vaksin konvensional sering kali masih menghadapi
berbagai keterbatasan. Vaksin inaktif maupun vaksin subunit umumnya memiliki
imunogenisitas yang rendah sehingga memerlukan penggunaan adjuvan untuk
meningkatkan respons imun. Adjuvan konvensional seperti aluminium hidroksida
(alum), emulsi minyak mineral, dan saponin telah digunakan secara luas, tetapi
memiliki beberapa kelemahan, antara lain kemampuan terbatas dalam menginduksi
respons imun seluler, risiko reaksi inflamasi lokal, serta kebutuhan dosis
booster yang berulang.
Perkembangan nanoteknologi telah
membuka peluang baru dalam pengembangan sistem penghantaran vaksin. Nanoadjuvan
merupakan sistem penghantaran berukuran nano (10–1000 nm) yang berfungsi
sebagai pembawa antigen sekaligus penguat respons imun. Ukuran partikelnya yang
kecil memungkinkan penetrasi jaringan yang lebih baik, peningkatan penyerapan
oleh APC, serta perlindungan antigen terhadap degradasi enzimatik sebelum
mencapai target imunologis.
Di antara berbagai material yang
digunakan, kitosan dan poly(lactic-co-glycolic acid) (PLGA) menjadi dua polimer
yang paling banyak diteliti dalam pengembangan vaksin veteriner. Kitosan
memiliki sifat mukoadhesif dan imunostimulator alami, sedangkan PLGA menawarkan
kemampuan pelepasan antigen secara bertahap serta stabilitas formulasi yang
tinggi. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan mengulas secara komprehensif
metode pembuatan nanoadjuvan berbasis kitosan dan PLGA, karakteristik
fisikokimianya, serta potensinya dalam meningkatkan efikasi vaksin pada hewan
ternak ruminansia dan unggas.
2. METODOLOGI
2.1 Metode Gelasi Ionik untuk
Nanoadjuvan Kitosan
Metode gelasi ionik merupakan teknik
yang paling umum digunakan untuk menghasilkan nanopartikel kitosan karena
sederhana, tidak memerlukan pelarut organik beracun, dan mampu mempertahankan
integritas antigen biologis.
Prinsip metode ini didasarkan pada
interaksi elektrostatik antara gugus amina bermuatan positif (-NH₃⁺) pada
kitosan dan gugus fosfat bermuatan negatif pada natrium tripolifosfat (TPP).
Persiapan Larutan
Kitosan dengan derajat deasetilasi
≥85% dilarutkan dalam larutan asam asetat 1% (v/v) hingga mencapai
konsentrasi 0,2–0,5% (b/v). pH larutan kemudian disesuaikan menjadi 4,5–5,5
menggunakan larutan NaOH 0,1 M.
Inkorporasi Antigen
Antigen vaksin, seperti protein
rekombinan virus PMK atau ND, dicampurkan secara perlahan ke dalam larutan
kitosan sambil diaduk pada suhu ruang untuk memperoleh distribusi homogen.
Pembentukan Nanopartikel
Larutan TPP 0,1–0,3% (b/v)
ditambahkan tetes demi tetes ke dalam larutan kitosan menggunakan syringe pump.
Proses dilakukan pada kecepatan pengadukan 800–1200 rpm menggunakan
magnetic stirrer selama 30–60 menit pada suhu ruang (25°C).
Terbentuknya nanopartikel ditandai
dengan perubahan larutan menjadi suspensi opalesen akibat terbentuknya jaringan
polielektrolit antara kitosan dan TPP.
2.2 Metode Emulsi–Evaporasi Pelarut
untuk Nanoadjuvan PLGA
PLGA merupakan polimer hidrofobik
yang umumnya diformulasikan menggunakan teknik emulsi ganda atau water-in-oil-in-water
(W/O/W).
Emulsi Primer (W/O)
Antigen yang dilarutkan dalam fase
air internal (W₁) didispersikan ke dalam larutan PLGA yang dilarutkan dalam
diklorometana (DCM) sebagai fase organik (O). Emulsifikasi dilakukan
menggunakan probe sonicator pada amplitudo 30–40% selama 30–60 detik.
Emulsi Sekunder (W/O/W)
Emulsi primer kemudian ditambahkan
ke dalam larutan polivinil alkohol (PVA) 1–2% (b/v) sebagai fase air
eksternal (W₂). Campuran disonikasi kembali selama 1–2 menit untuk
membentuk emulsi ganda yang stabil.
Evaporasi Pelarut
Suspensi emulsi diaduk secara
kontinu selama 12–18 jam untuk menguapkan DCM. Nanopartikel PLGA yang terbentuk
dipisahkan menggunakan sentrifugasi berkecepatan 15.000–20.000 × g selama
20–30 menit, dicuci dengan akuades steril, kemudian dikeringbekukan
(freeze-dried) menggunakan krioprotektan seperti trehalosa atau manitol.
2.3 Karakterisasi Fisikokimia
Ukuran dan Distribusi Partikel
Ukuran partikel dan indeks polidispersitas
(Polydispersity Index/PDI) diukur menggunakan Dynamic Light Scattering (DLS).
Potensial Zeta
Muatan permukaan nanopartikel dianalisis menggunakan
teknik electrophoretic light scattering. Potensial zeta yang tinggi secara
absolut (> ±20 mV) menunjukkan stabilitas suspensi yang baik.
Efisiensi Enkapsulasi (EE%)
Efisiensi enkapsulasi dihitung
menggunakan persamaan:
Morfologi Partikel
Morfologi nanopartikel diamati menggunakan Scanning
Electron Microscopy (SEM) atau Transmission Electron Microscopy (TEM).
Profil Pelepasan Antigen
Pelepasan antigen dianalisis secara in vitro menggunakan
media phosphate-buffered saline (PBS) pH 7,4 pada suhu 37°C selama 1–60 hari.
3. HASIL DAN DISKUSI
3.1 Karakteristik Fisikokimia
Nanoadjuvan
Nanopartikel kitosan yang dihasilkan
melalui metode gelasi ionik memiliki ukuran rata-rata 150–300 nm dengan
indeks polidispersitas (PDI) 0,15–0,30, menunjukkan distribusi ukuran
yang relatif homogen.
Potensial zeta berada pada rentang +20
hingga +45 mV, yang memberikan stabilitas koloid yang baik sekaligus
meningkatkan interaksi dengan membran sel APC yang bermuatan negatif.
Sebaliknya, nanopartikel PLGA yang
diperoleh melalui metode emulsi ganda memiliki ukuran partikel 200–500 nm
dengan potensial zeta berkisar antara −5 hingga −25 mV. Meskipun
bermuatan negatif, nanopartikel PLGA menunjukkan stabilitas struktural yang
tinggi serta kemampuan pelepasan antigen secara bertahap.
Efisiensi enkapsulasi antigen pada
nanopartikel PLGA umumnya mencapai 70–90%, lebih tinggi dibandingkan
nanopartikel kitosan yang berkisar 50–80%. Tingginya efisiensi
enkapsulasi ini sangat penting untuk mengurangi kehilangan antigen selama
proses formulasi.
3.2 Mekanisme Imunostimulasi
Nanoadjuvan
Nanoadjuvan meningkatkan respons
imun melalui beberapa mekanisme utama:
- Melindungi antigen dari degradasi enzimatik.
- Meningkatkan pengambilan antigen oleh makrofag dan
sel dendritik.
- Memfasilitasi presentasi antigen melalui jalur MHC-I
dan MHC-II.
- Merangsang produksi sitokin proinflamasi seperti
IL-2, IFN-γ, dan TNF-α.
- Menginduksi
diferensiasi sel T helper tipe 1 (Th1) dan tipe 2 (Th2).
Ukuran nanopartikel yang menyerupai ukuran patogen alami
memungkinkan pengenalan yang lebih efisien oleh sistem imun bawaan sehingga
meningkatkan kualitas respons imun adaptif.
3.3 Imunogenisitas pada Hewan Ruminansia
Pada sapi, kerbau, kambing, dan domba, penggunaan
nanoadjuvan PLGA menunjukkan peningkatan signifikan pada titer antibodi IgG
spesifik antigen dibandingkan vaksin konvensional.
Pelepasan antigen secara perlahan selama lebih dari 30–45
hari menghasilkan stimulasi berkelanjutan terhadap sel dendritik dan
limfosit B. Selain meningkatkan produksi antibodi, nanopartikel PLGA juga
meningkatkan proliferasi limfosit T CD4⁺ dan CD8⁺ yang berperan dalam
pembentukan memori imunologis jangka panjang.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vaksin DNA PMK yang
dienkapsulasi dalam nanopartikel PLGA menghasilkan respons antibodi netralisasi
yang lebih tinggi dibandingkan vaksin DNA tanpa pembawa nanopartikel.
3.4 Imunogenisitas pada Unggas
Pada unggas, terutama ayam pedaging dan ayam petelur,
kitosan menunjukkan keunggulan karena sifat mukoadhesifnya yang tinggi. Kitosan
mampu berikatan dengan mukus dan memperpanjang waktu kontak antigen dengan
jaringan limfoid mukosa.
Selain itu, kitosan dapat membuka
sementara struktur tight junction pada epitel saluran pernapasan sehingga
meningkatkan penetrasi antigen ke jaringan limfoid terkait mukosa (MALT).
Penelitian menunjukkan bahwa vaksin
ND berbasis nanopartikel kitosan mampu meningkatkan:
- Titer
antibodi IgY serum.
- Produksi IgA
sekretori mukosa.
- Ekspresi IFN-γ dan IL-4.
- Aktivitas sel
limfosit T.
Kombinasi respons imun sistemik dan mukosal tersebut
memberikan perlindungan yang lebih komprehensif terhadap infeksi lapangan
dibandingkan vaksin konvensional.
3.5 Tantangan dan Prospek Pengembangan
Meskipun menjanjikan, implementasi nanoadjuvan dalam
industri vaksin veteriner masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain:
- Variabilitas
ukuran partikel antar-batch produksi.
- Biaya
produksi yang relatif lebih tinggi dibanding adjuvan konvensional.
- Kebutuhan
standardisasi metode karakterisasi.
- Regulasi
keamanan nanopartikel dalam produk veteriner.
- Skalabilitas
produksi industri.
Perkembangan teknologi mikrofluida, spray drying, dan
kecerdasan buatan untuk optimasi formulasi diperkirakan akan mempercepat
komersialisasi vaksin berbasis nanoadjuvan pada masa mendatang.
4. KESIMPULAN
Teknologi nanoadjuvan berbasis
kitosan dan PLGA menawarkan pendekatan inovatif untuk meningkatkan efektivitas
vaksin veteriner pada hewan ruminansia dan unggas. Metode gelasi ionik
menghasilkan nanopartikel kitosan berukuran kecil, bermuatan positif, dan
memiliki sifat mukoadhesif yang sangat sesuai untuk vaksinasi mukosal pada
unggas. Sebaliknya, metode emulsi ganda PLGA menghasilkan sistem penghantaran
antigen dengan efisiensi enkapsulasi tinggi dan pelepasan terkendali yang ideal
untuk vaksinasi sistemik pada ruminansia.
Karakteristik fisikokimia yang
optimal meliputi ukuran partikel 100–500 nm, indeks polidispersitas <0,3,
potensial zeta >|20| mV, serta efisiensi enkapsulasi >70%. Parameter tersebut berkontribusi terhadap peningkatan
respons imun humoral maupun seluler.
Berdasarkan berbagai hasil penelitian, nanoadjuvan
berbasis polimer berpotensi menjadi platform generasi baru dalam pengembangan
vaksin veteriner yang lebih efektif, aman, stabil, dan berkelanjutan untuk
mendukung ketahanan pangan global.
Metode gelasi ionik berbasis kitosan dan metode emulsi
ganda berbasis PLGA mampu menghasilkan nanoadjuvan dengan ukuran optimal 100–500
nm yang terbukti meningkatkan respons imun humoral dan seluler secara
signifikan pada hewan ruminansia maupun unggas. Pengembangan lebih lanjut
menuju produksi skala industri dan standardisasi mutu diharapkan dapat
mempercepat pemanfaatan teknologi ini dalam program vaksinasi veteriner modern.
DAFTAR
REFERENSI
Awaad, M. H., Amer, A. F., El-Hamid, M. I. A., Ibrahim,
H. H., Ibrahim, A., & Alzahrani, A. M. (2019). Evaluation of chitosan
nanoparticles as a carrier for Newcastle disease virus vaccine in chickens. Veterinary
World, 12(11), 1722–1728.
De Geest, B. G., Willart, M. A., Lambrecht, B. N., &
Pollard, C. (2017). Polymeric nanoparticles as vaccine adjuvants. Advanced
Drug Delivery Reviews, 114, 21–32.
Gupta, N. K., Tomar, P., Sharma, V., & Dixit, V. K.
(2020). Technological advancements in ruminant vaccination using polymeric
nanocarriers. Journal of Controlled Release, 321, 450–467.
Sari, N. P., & Budiman, A.
(2021). Aplikasi teknologi nano pada sistem penghantaran vaksin veteriner di
Indonesia: Sebuah ulasan. Jurnal Ilmu
Peternakan dan Veteriner, 26(2), 89–99.
Zhao, K., Zhang, Y., Zhang, X., Shi, C., Wang, X., Wang,
X., Jin, Z., Cui, B., Li, Y., & He, Q. (2018). Preparation and efficacy of
PLGA nanoparticles loaded with Foot-and-Mouth Disease virus DNA vaccine. Vaccine,
36(5), 677–684.
Danhier, F., Ansorena, E., Silva, J. M., Coco, R., Le
Breton, A., & Préat, V. (2012). PLGA-based nanoparticles: An overview of
biomedical applications. Journal of Controlled Release, 161(2), 505–522.
Smith, D. M., Simon, J. K., & Baker, J. R. (2013).
Applications of nanotechnology for immunology. Nature Reviews Immunology,
13(8), 592–605.
Gregory, A. E., Titball, R., & Williamson, D. (2013).
Vaccine delivery using nanoparticles. Frontiers in Cellular and Infection
Microbiology, 3, 13.
Perrie, Y., Mohammed, A. R., Kirby, D. J., McNeil, S. E.,
& Bramwell, V. W. (2008). Vaccine adjuvant systems: Enhancing the efficacy
of sub-unit protein antigens. International Journal of Pharmaceutics,
364(2), 272–280.
Borges, O., Cordeiro-da-Silva, A., Romeijn, S. G., Amidi,
M., de Sousa, A., Borchard, G., & Junginger, H. E. (2006). Uptake studies
in rat Peyer's patches using biodegradable nanoparticles. Journal of
Controlled Release, 114(3), 348–358.
#Nanoadjuvan
#VaksinVeteriner
#KitosanPLGA
#KesehatanTernak
#InovasiPeternakan
