Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Dakwah Inspiratif Islam. Show all posts
Showing posts with label Dakwah Inspiratif Islam. Show all posts

Tuesday, 28 April 2026

Di Tengah Rapat Penting di Jepang, Saya Tinggalkan Segalanya Demi Azan Jumat—Apa yang Terjadi Setelah Itu Menggetarkan Hati

 

Menuju Rumah Allah, Tinggalkan Dulu Perniagaan Duniawi

 

Di saat banyak orang mengejar kesempatan emas dan enggan melewatkan momen penting dalam karier, sebuah keputusan tak biasa justru diambil di tengah hiruk-pikuk akademik di Jepang. Ketika rapat perdana dengan profesor berlangsung serius dan penuh harapan masa depan, panggilan azan Jumat tiba—menghadirkan dilema yang nyata antara urusan dunia dan panggilan Ilahi. Keputusan untuk “meninggalkan sejenak perniagaan duniawi” bukan hanya mengubah arah langkah hari itu, tetapi juga membuka sebuah pengalaman spiritual yang dalam—tentang janji Allah, tentang petunjuk-Nya, dan tentang bagaimana setiap langkah menuju rumah-Nya tak pernah sia-sia.


Cahaya matahari siang itu terasa menyengat di Nagoya, menembus kaca-kaca besar gedung asrama mahasiswa asing dan memantul di wajah-wajah penuh harap. Di dalam ruangan, suasana terasa khidmat sekaligus menegangkan. Para penerima beasiswa Monbushou (Kementerian Pendidikan dan Olahraga Jepang) duduk rapi, mengikuti pertemuan perdana dengan profesor pembimbing—sebuah momen yang bukan sekadar formalitas, melainkan penentu arah perjalanan akademik mereka ke depan. Beasiswa ini bukan hadiah yang datang dengan mudah; ia adalah buah dari perjuangan panjang, seleksi ketat, doa yang tak putus, serta pengorbanan besar di negeri masing-masing. Karena itu, setiap detik dalam pertemuan ini terasa begitu berharga. Percakapan berlangsung serius, sarat makna, dan dipenuhi harapan akan masa depan gemilang. Namun di tengah pentingnya momen itu, hadir satu panggilan yang jauh lebih tinggi—panggilan yang tidak hanya mengatur masa depan dunia, tetapi juga menentukan keselamatan akhirat.Hari itu adalah Jumat.


Bagi seorang Muslim, Jumat bukan sekadar hari biasa. Ia adalah hari panggilan, hari di mana langit seakan menyeru, mengingatkan setiap jiwa beriman untuk kembali kepada Rabb-nya. 

Firman Allah begitu tegas dan penuh makna:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)


Di ruangan itu, diskusi masih berlangsung. Semua tampak tenggelam dalam percakapan akademik. Namun hati ini tidak bisa diam. Ada kegelisahan yang sulit dijelaskan—rindu untuk bersujud, rindu untuk memenuhi panggilan Ilahi. Dengan langkah pelan, saya menghampiri satu per satu teman Muslim, mengajak mereka bergegas menuju masjid. Namun kebanyakan menggeleng. Dunia seakan lebih menarik untuk dituntaskan saat itu.


Hingga akhirnya, satu tangan terulur—Ahmad, sahabat baru dari Bangladesh. Tanpa banyak kata, kami sepakat: panggilan Allah harus didahulukan. Kami pun meminta izin dengan santun, lalu melangkah keluar. Dunia Jepang yang teratur dan cepat segera menyambut. Di Stasiun Motoyama, ribuan manusia bergerak seperti arus yang tak pernah berhenti. Langkah-langkah cepat, wajah-wajah serius, dan waktu yang terasa begitu berharga. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, kami membawa satu keyakinan: siapa yang melangkah menuju Allah, tidak akan pernah tersesat.

Firman Allah menguatkan langkah kami:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” (QS. Al-‘Ankabut: 69)


Perjalanan itu bukan tanpa ujian. Kami harus berpindah jalur, memahami sistem subway yang rumit, dan berhadapan dengan kerumunan yang asing. Di Stasiun Honjin, sempat muncul keraguan. Namun doa tak pernah putus. Hati terus berbisik, memohon petunjuk dari Yang Maha Mengetahui jalan.


Dan benar saja, seakan ada tangan tak terlihat yang menuntun langkah kami. Satu demi satu jejak kaki mengarah dengan pasti, hingga akhirnya tanda masjid itu tampak samar di kejauhan. Hati pun bergetar, dada dipenuhi haru, dan syukur meluap tanpa tertahan. Kami tiba di masjid yang pada Jumat sebelumnya menjadi tempat sujud kami—satu-satunya masjid di kota Nagoya saat itu—yang kini terasa begitu dekat, bukan hanya di mata, tetapi juga di hati.


Di sanalah kami merasakan kebenaran janji Allah dan kelembutan kasih-Nya. 

Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis qudsi:

“Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta… dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari & Muslim)


Namun perjalanan tidak berhenti di situ.

Sepulang dari masjid, tanpa tekanan waktu salat, kewaspadaan kami justru melemah. Kami tersesat berkali-kali di labirin jalanan Nagoya. Rasa lelah dan bingung mulai terasa. Saat itulah sebuah pelajaran besar menancap dalam hati: ketika tujuan kita adalah Allah, Dia sendiri yang menjadi penunjuk arah. Namun ketika niat itu mengendur, kita dibiarkan merasakan betapa lemahnya diri ini tanpa bimbingan-Nya.


Saudaraku,

Kisah ini bukan sekadar perjalanan menuju masjid di negeri asing. Ini adalah cermin kehidupan kita. Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan: memenuhi panggilan Allah atau menunda demi urusan dunia. Kita sering berkata, “sebentar lagi,” hingga waktu berlalu tanpa keberkahan.

Padahal, Allah telah memberi petunjuk yang jelas—tinggalkan sejenak perniagaan dunia, datanglah kepada-Nya. Bukan karena Allah membutuhkan kita, tetapi karena kita yang sangat membutuhkan-Nya.

Apa arti kesuksesan dunia jika kita kehilangan arah menuju akhirat? Apa arti pertemuan penting jika kita melewatkan panggilan Rabb semesta alam?


Ketahuilah, setiap langkah menuju Allah tidak akan sia-sia. Bahkan langkah itu akan dibalas dengan pertolongan yang tak terduga, jalan yang dimudahkan, dan hati yang ditenangkan.

Maka, ketika azan Jumat berkumandang, atau ketika panggilan salat terdengar, jangan ragu. Tinggalkan sejenak segala urusan dunia. Langkahkan kaki menuju rumah Allah.

Karena sejatinya, bukan kita yang mencari jalan ke masjid—tetapi Allah yang sedang mengundang kita untuk kembali kepada-Nya.


#AzanJumat 

#HijrahHati 

#DakwahIslam 

#KisahInspiratif 

#Keimanan