Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Newcastle Disease. Show all posts
Showing posts with label Newcastle Disease. Show all posts

Thursday, 24 July 2025

Hati-Hati! Newcastle Disease Bisa Tersamar Seperti Penyakit Lain — Ini Cara Membedakannya dan Mencegah Kerugian Besar!

 



Pencegahan dan Pengendalian Newcastle Disease (ND) pada Unggas

(Bagian II)

 

Hati-Hati Salah Diagnosis: ND Mirip dengan Penyakit Lain!

 

Newcastle Disease (ND) kerap kali menimbulkan gejala yang menyerupai penyakit unggas lainnya, sehingga rawan salah diagnosis. Peternak perlu tahu bahwa ND bisa terlihat mirip dengan kolera ayam (fowl cholera), flu burung yang sangat ganas (highly pathogenic avian influenza), laryngotracheitis, bahkan cacar ayam bentuk difterik. Pada burung peliharaan seperti nuri dan beo, ND bisa disalahartikan sebagai psittacosis, salmonellosis, atau infeksi virus lainnya. Gangguan manajemen kandang seperti kekurangan air, nutrisi buruk, dan ventilasi yang tidak memadai juga bisa menimbulkan gejala yang mirip ND.

 

Diagnosis Akurat Harus Lewat Uji Laboratorium

Karena gejalanya bisa tumpang tindih dengan berbagai penyakit lain, konfirmasi ND harus dilakukan di laboratorium. Sampel diambil dari ayam yang baru mati atau hampir mati. Organ seperti paru-paru, ginjal, usus, limpa, otak, dan hati bisa diuji untuk memastikan keberadaan virus. Pada ayam hidup, swab dari tenggorokan dan kloaka digunakan. Peternak yang tidak punya akses ke laboratorium hewan bisa meminta bantuan dinas peternakan setempat agar sampel dikirim ke laboratorium rujukan nasional atau internasional.

 

Berbagai Metode Diagnosis ND

Untuk memastikan keberadaan virus, laboratorium menggunakan berbagai metode, mulai dari isolasi virus di telur ayam bebas penyakit hingga tes molekuler modern. Teknik hemaglutinasi dan penghambatannya (HI test) umum digunakan untuk mendeteksi antibodi. Tes ELISA juga banyak dipakai, terutama untuk mengevaluasi efektivitas vaksinasi. Teknologi terbaru bahkan bisa menentukan asal-usul virus melalui studi filogenetik, sehingga kita bisa tahu dari mana virus berasal dan bagaimana penyebarannya.

 

Pencegahan adalah Senjata Utama: Tidak Ada Obat untuk ND!

Yang perlu diingat oleh semua peternak: tidak ada obat untuk ND. Jika ayam sudah terinfeksi, peluang penyembuhannya sangat kecil. Karena itu, pencegahan dan pengendalian menjadi satu-satunya jalan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menerapkan profilaksis sanitasi, yaitu menjaga kebersihan dan biosekuriti kandang secara ketat.

 

Pastikan kandang tertutup rapat dari masuknya burung liar. Air minum dan pakan harus bersih dan terlindung. Kotoran ayam dibersihkan secara rutin dan bangkai dibuang dengan cara yang aman. Pengendalian hama seperti tikus dan serangga juga penting karena bisa membawa virus. Jangan sembarangan memasukkan ayam baru ke kandang tanpa karantina. Bahkan manusia dan kendaraan yang masuk kandang bisa jadi pembawa virus, sehingga wajib didesinfeksi.

 

Tindakan Khusus Saat Terjadi Wabah

Jika terjadi wabah, langkah-langkah pengendalian harus lebih ketat. Semua ayam yang terinfeksi atau diduga terpapar harus dimusnahkan. Setelah itu, kandang harus dikosongkan minimal 21 hari sebelum mulai beternak kembali. Selama masa itu, dilakukan pembersihan dan disinfeksi menyeluruh terhadap kandang dan seluruh peralatan.

 

Vaksinasi: Perlindungan Efektif tapi Bukan Segalanya

Vaksinasi adalah senjata penting dalam mencegah ND. Namun, vaksin bukan berarti membuat ayam kebal total. Virus masih bisa beredar di antara ayam yang sudah divaksin, meskipun gejalanya lebih ringan. Oleh karena itu, vaksinasi harus disertai dengan manajemen kandang yang baik.

 

Terdapat dua jenis utama vaksin ND: vaksin hidup dan vaksin inaktif. Vaksin hidup biasanya diberikan lewat air minum, semprotan, atau tetes ke mata dan hidung. Contohnya adalah vaksin La Sota atau Hitchner-B1. Vaksin ini murah dan mudah diberikan, tetapi bisa menimbulkan reaksi ringan pada ayam. Ada juga vaksin mesogenik seperti Mukteswar, yang lebih kuat tetapi harus diberikan dengan hati-hati karena bisa memicu gejala.

 

Sementara itu, vaksin inaktif diberikan lewat suntikan satu per satu ke setiap ayam. Jenis ini lebih mahal dan membutuhkan tenaga ekstra, tapi tidak menyebabkan penularan ke ayam lain. Vaksin inaktif sangat cocok digunakan di daerah dengan risiko tinggi atau pada peternakan pembibitan.

 

Vaksin Rekombinan: Harapan Baru di Masa Depan

Teknologi vaksin terus berkembang. Kini tersedia vaksin rekombinan yang memanfaatkan virus lain seperti fowlpox atau turkey herpesvirus sebagai pembawa gen virus ND. Vaksin ini lebih aman dan spesifik, serta berpotensi meningkatkan kekebalan dengan efek samping minimal. Meski masih dalam tahap pengembangan dan terbatas penggunaannya, vaksin jenis ini menjanjikan masa depan pengendalian ND yang lebih efektif.

 

Kesimpulan: Jangan Tunggu Serangan, Cegah dari Sekarang!

Newcastle Disease adalah penyakit unggas yang sangat merugikan, tapi bisa dicegah jika kita waspada dan disiplin. Peternak perlu mengenali gejala, memahami cara penyebarannya, dan menjalankan protokol biosekuriti serta vaksinasi dengan serius. Ingat, mencegah selalu lebih baik dan lebih murah daripada mengobati. Dengan pengelolaan yang baik, peternak bisa menjaga ayam tetap sehat, produktif, dan menghindari kerugian besar akibat serangan ND.

Waspada! Newcastle Disease Bisa Menghancurkan Kandang Anda—Begini Cara Mencegahnya!



Pencegahan dan Pengendalian Newcastle Disease (ND) pada Unggas

(Bagian I)

 

Apa itu Newcastle Disease?

Newcastle Disease (ND) adalah penyakit menular yang sangat berbahaya bagi unggas, terutama ayam. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari keluarga Paramyxoviridae, genus Avulavirus. Virus penyebab ND dikenal sebagai Newcastle Disease Virus (NDV) dan termasuk dalam kelompok APMV-1 dari sepuluh jenis virus paramyxovirus yang menyerang unggas.

 

NDV dapat menimbulkan berbagai tingkat keparahan gejala, mulai dari yang ringan hingga yang mematikan, tergantung jenis virusnya. Virus ini dibagi menjadi lima tipe (patotipe), yaitu tipe yang menyerang saluran pencernaan (velogenik viscerotropik), sistem saraf (velogenik neurotropik), menimbulkan gejala sedang (mesogenik), gejala ringan seperti batuk (lentogenik), dan yang tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik).

 

Virus yang Tangguh, Tapi Bisa Dimatikan

NDV tergolong virus yang cukup kuat. Ia bisa bertahan cukup lama di lingkungan, terutama dalam kotoran unggas. Namun, virus ini bisa dimatikan dengan cara yang tepat. Suhu tinggi seperti 56 °C selama 3 jam atau 60 °C selama 30 menit bisa menghancurkan virus. Virus ini juga tidak tahan terhadap lingkungan yang sangat asam (pH ≤ 2) dan mudah dinonaktifkan oleh bahan disinfektan seperti formalin, fenol, Virkon®, klorheksidin, atau cairan pemutih (natrium hipoklorit 6%).

 

Siapa yang Bisa Terkena ND?


Unggas dan Burung Liar

ND bukan hanya menyerang ayam. Banyak spesies burung lain juga bisa terinfeksi, mulai dari kalkun, merpati, burung puyuh, ayam hutan, hingga burung eksotis seperti kakaktua dan burung beo. Beberapa burung liar seperti camar, burung hantu, bahkan penguin juga pernah dilaporkan tertular ND. Ayam adalah yang paling rentan, sementara kalkun cenderung tidak menunjukkan gejala parah.

 

Manusia Juga Bisa Terinfeksi

Walaupun jarang dan tidak berbahaya, manusia yang terpapar NDV bisa mengalami iritasi mata seperti mata merah, berair, dan bengkak. Namun, gejala ini bersifat sementara dan biasanya sembuh tanpa pengobatan.

 

Bagaimana ND Menyebar?

ND menyebar terutama melalui kontak langsung dengan burung yang terinfeksi, baik melalui kotoran maupun udara pernapasan. Virus ini juga bisa menempel pada benda-benda seperti pakan, air minum, peralatan kandang, sepatu, pakaian, bahkan kemasan telur. Anak ayam juga bisa tertular dari induknya melalui telur, meskipun ini jarang terjadi untuk virus yang sangat ganas. Burung liar dan unggas air bisa membawa virus tanpa terlihat sakit, sehingga menjadi sumber infeksi tersembunyi.

 

Gejala ND yang Perlu Diwaspadai

Masa inkubasi ND adalah sekitar 2–15 hari setelah terpapar virus. Pada ayam, gejalanya bisa sangat bervariasi tergantung pada jenis virus, usia ayam, dan kondisi lingkungan. Ayam bisa menunjukkan tanda-tanda seperti lemas, bulu kusut, diare kehijauan, sesak napas, bengkak pada kepala, hingga kejang dan lumpuh. Produksi telur bisa menurun drastis, dan telur yang dihasilkan sering kali tampak cacat. Dalam kasus yang parah, ayam bisa mati mendadak tanpa gejala sebelumnya. Tanpa vaksinasi, angka kematian bisa mencapai hampir 100%.

 

Lesi yang Ditemukan pada Ayam Terinfeksi

Saat dilakukan bedah bangkai (nekropsi), beberapa perubahan pada organ tubuh bisa menjadi petunjuk infeksi ND, terutama pada infeksi berat (strain velogenik). Misalnya, ditemukan pembengkakan kepala, perdarahan di saluran pencernaan dan pernapasan, perubahan pada limpa, pankreas, dan organ reproduksi seperti ovarium. Namun, untuk memastikan diagnosis, tetap diperlukan uji laboratorium untuk mendeteksi keberadaan virus.

 

Pencegahan Adalah Kunci

Mengingat dampaknya yang serius, pencegahan ND sangat penting. Berikut langkah-langkah penting yang bisa dilakukan peternak:

1.Vaksinasi: Vaksin ND tersedia dan sangat efektif dalam mencegah infeksi. Ikuti jadwal vaksinasi yang dianjurkan oleh dinas kesehatan hewan setempat.

2.Biosekuriti: Batasi akses orang luar ke kandang, bersihkan peralatan secara rutin, dan ganti pakaian serta sepatu saat masuk kandang.

3.Sanitasi Lingkungan: Bersihkan kotoran unggas secara rutin, buang bangkai unggas dengan benar, dan jaga kebersihan tempat pakan dan air minum.

4.Pantau Kesehatan Unggas: Perhatikan perubahan perilaku atau penurunan produksi telur. Segera laporkan ke petugas jika ditemukan tanda-tanda penyakit.

 

Penutup

Newcastle Disease adalah ancaman nyata bagi usaha peternakan unggas. Penyakit ini bisa menyebar cepat dan menyebabkan kerugian besar. Namun, dengan pengetahuan yang cukup, vaksinasi yang tepat, serta penerapan biosekuriti dan sanitasi yang baik, ND bisa dicegah dan dikendalikan. Mari kita jaga kesehatan unggas kita, demi keberlangsungan usaha dan ketahanan pangan masyarakat.


#NewcastleDisease 

#PenyakitUnggas 

#Biosekuriti 

#VaksinUnggas 

#KetahananPangan

Friday, 9 April 2021

Inilah Syarat Ketat untuk Diakui Bebas Newcastle Disease—Banyak Negara Belum Lolos!

Persyaratan Negara, Zona, atau Kompartemen Bebas Newcastle Disease



Suatu negara, zona atau kompartemen dapat dianggap bebas dari Newcastle Disease (ND) jika telah terbukti bahwa infeksi NDV pada unggas tidak ada di negara, zona atau kompartemen tersebut selama 12 bulan terakhir, berdasarkan surveilans sesuai yang dipersyaratkan WOAH.

 

Jika infeksi telah terjadi pada unggas di negara, zona atau kompartemen yang sebelumnya bebas, status bebas ND dapat diperoleh kembali tiga bulan setelah kebijakan stamping-out (termasuk disinfeksi semua tempat yang terkena dampak) diterapkan, asalkan surveilans tersebut sesuai dengan persyaratan OIE yang telah dilakukan selama periode tiga bulan.

 

Surveilans ND diperumit karena adanya kejadian infeksi APMV-1 yang diketahui pada banyak spesies burung, baik domestik maupun liar, dan penggunaan vaksin ND yang meluas pada unggas peliharaan.

 

Dampak dan epidemiologi ND sangat berbeda di berbagai wilayah di dunia dan oleh karena itu tidak mungkin memberikan rekomendasi khusus untuk semua situasi. Oleh karena itu, strategi surveilans yang digunakan untuk menunjukkan kebebasan dari ND pada tingkat kepercayaan yang dapat diterima harus disesuaikan dengan situasi lokal. Variabel seperti frekuensi kontak unggas dengan burung liar, tingkat biosekuriti yang berbeda, sistem produksi dan percampuran spesies rentan yang berbeda memerlukan strategi surveilans khusus untuk menangani setiap situasi tertentu.

 

Merupakan kewajiban Negara Anggota untuk memberikan data ilmiah yang menjelaskan epidemiologi ND di wilayah terkait dan juga menunjukkan bagaimana semua faktor risiko dikelola. Oleh karena itu, terdapat banyak ruang gerak yang tersedia bagi Negara-negara Anggota untuk memberikan argumen yang beralasan untuk membuktikan bebas dari infeksi NDV.

 

Surveilans ND harus dalam bentuk program berkelanjutan yang dirancang untuk menetapkan bahwa negara, zona atau kompartemen tempat aplikasi dibuat bebas dari infeksi NDV.

 

Kondisi umum dan metode surveilans


1) Sistem surveilans harus berada di bawah tanggung jawab Otoritas Veteriner. 

Secara khusus harus terdapat tiga yaitu: a) sistem formal dan berkelanjutan untuk mendeteksi dan menyelidiki wabah penyakit atau infeksi NDV; b) prosedur pengumpulan dan pengangkutan cepat sampel dari kasus terduga ND ke laboratorium untuk diagnosis ND; c) sistem untuk merekam, mengelola dan menganalisis data diagnostik dan surveilans.

 

2) Program surveilans ND harus:

a) Memasukkan sistem peringatan dini di seluruh rantai produksi, pemasaran dan pemrosesan untuk melaporkan kasus yang mencurigakan.

Peternak dan pekerja, yang melakukan kontak sehari-hari dengan unggas, serta ahli diagnosa, harus segera melaporkan setiap kecurigaan ND kepada Otoritas Veteriner. Mereka harus didukung secara langsung atau tidak langsung (misalnya melalui dokter hewan swasta atau paramedik veteriner) oleh program informasi pemerintah dan Otoritas Veteriner. Semua kasus ND yang dicurigai harus segera diselidiki. Karena kecurigaan tidak dapat diselesaikan dengan penyelidikan epidemiologi dan klinis saja, sampel harus diambil dan diserahkan ke laboratorium untuk pengujian yang sesuai. Ini mensyaratkan bahwa kit pengambilan sampel dan peralatan lain tersedia bagi mereka yang bertanggung jawab untuk surveilans. Personil yang bertanggung jawab atas surveilans harus dapat meminta bantuan dari tim pakar yang memiliki keahlian dalam diagnosis dan pengendalian ND;

b) Menerapkan (bila relevan) surveilans klinis, virologi dan serologis yang sering dan teratur terhadap kelompok unggas berisiko tinggi dalam populasi sasaran (misalnya yang berdekatan dengan negara, zona, kompartemen yang tertular ND, tempat bercampurnya unggas dan unggas yang berbeda asal-usulnya , atau sumber NDV lainnya).

 

Sistem surveilans yang efektif dapat mengidentifikasi kasus mencurigakan yang memerlukan tindak lanjut dan penyelidikan untuk mengonfirmasi atau mengecualikan bahwa penyebab kondisi tersebut adalah karena infeksi NDV. Tingkat kemungkinan terjadinya kasus yang mencurigakan akan berbeda antara situasi epidemiologis dan oleh karena itu tidak dapat diprediksi dengan andal. Permohonan bebas dari infeksi NDV harus memberikan rincian kejadian kasus yang mencurigakan dan bagaimana kasus tersebut diinvestigasi dan ditangani. Ini harus mencakup hasil pengujian laboratorium dan tindakan pengendalian yang dilakukan oleh hewan yang bersangkutan selama penyelidikan untuk diisolasi (dikarantinakan) dan stand-still (diam di tempat, tidak dilalu-lintaskan).

 

Strategi surveilans


1. Introduksi


Setiap program surveilans membutuhkan masukan dari para profesional yang kompeten dan berpengalaman di bidang ini dan harus didokumentasikan secara menyeluruh. Rancangan program surveilans untuk membuktikan tidak adanya infeksi atau sirkulasi NDV harus diikuti dengan hati-hati untuk menghindari hasil yang tidak dapat diandalkan, atau terlalu mahal dan rumit secara logistik.

Jika Negara Anggota ingin menyatakan bebas dari infeksi NDV di suatu negara, zona atau kompartemen, subpopulasi yang digunakan untuk surveilans penyakit dan infeksi harus mewakili semua unggas di dalam negara, zona atau kompartemen tersebut. Berbagai metode surveilans harus digunakan secara bersamaan untuk secara akurat menentukan status ND sebenarnya dari populasi unggas. Surveilans aktif dan pasif untuk ND harus dilakukan dengan frekuensi surveilans aktif yang sesuai dengan situasi penyakit di negara tersebut.

Surveilans harus terdiri dari pendekatan acak atau terarah, tergantung pada situasi epidemiologi lokal dan menggunakan metode klinis, virologi dan serologis. Jika pengujian alternatif digunakan, pengujian tersebut harus divalidasi sebagai cocok untuk tujuan sesuai dengan standar OIE. Negara Anggota harus menjustifikasi strategi surveilans yang dipilih cukup untuk mendeteksi keberadaan infeksi NDV sesuai situasi epidemiologi yang berlaku.

 

Dalam survei, ukuran sampel yang dipilih untuk pengujian harus dibenarkan secara statistik untuk mendeteksi infeksi pada prevalensi target yang telah ditentukan sebelumnya. Ukuran sampel dan prevalensi yang diharapkan menentukan tingkat kepercayaan pada hasil survei. Rancangan survei dan frekuensi pengambilan sampel harus bergantung pada situasi epidemiologi lokal historis dan terkini. Negara Anggota harus menjustifikasi pilihan desain survei dan tingkat kepercayaan berdasarkan tujuan surveilans dan situasi epidemiologi.

 

Surveilans yang ditargetkan (misalnya berdasarkan kemungkinan peningkatan infeksi dalam suatu populasi) dapat menjadi strategi yang tepat.

 

Misalnya, mungkin tepat untuk menargetkan surveilans klinis pada spesies tertentu yang mungkin menunjukkan tanda-tanda klinis yang jelas (misalnya ayam yang tidak divaksinasi). Demikian pula, pengujian virologi dan serologis dapat menargetkan spesies yang mungkin tidak menunjukkan tanda klinis ND dan tidak divaksinasi secara rutin (misalnya itik). Surveilans juga dapat menargetkan populasi unggas pada risiko tertentu, misalnya kontak langsung atau tidak langsung dengan burung liar, ternak beragam usia, pola perdagangan lokal termasuk pasar unggas hidup, keberadaan lebih dari satu spesies di kandang dan tindakan biosekuriti yang buruk. Dalam situasi di mana burung liar telah terbukti memainkan peran dalam epidemiologi lokal ND, surveilans burung liar mungkin berguna untuk mengingatkan Layanan Veteriner tentang kemungkinan paparan unggas dan, khususnya, unggas yang dibudidayakan secara bebas.

 

Mungkin tidak, atau gejala klinis ringan, terutama jika sudah divaksinasi. Setiap unit pengambilan sampel di mana hewan yang mencurigakan terdeteksi harus dianggap terinfeksi sampai bukti yang bertentangan dihasilkan.

 

Identifikasi unggas yang terinfeksi sangat penting untuk mengidentifikasi sumber NDV. Diagnosis dugaan ND klinis pada populasi yang dicurigai terinfeksi harus selalu dikonfirmasi dengan pengujian virologi di laboratorium. Ini akan memungkinkan karakteristik molekuler, antigenik dan biologi lainnya dari virus untuk ditentukan. Isolat NDV diharapkan segera dikirim ke Laboratorium Referensi OIE untuk pengarsipan dan karakterisasi lebih lanjut jika diperlukan.

 

Sensitivitas dan spesifisitas uji diagnostik merupakan faktor kunci dalam pemilihan desain survei, yang dapat mengantisipasi terjadinya reaksi positif palsu dan negatif palsu. Idealnya, sensitivitas dan spesifisitas tes yang digunakan harus divalidasi untuk vaksinasi dan riwayat infeksi dan untuk spesies yang berbeda dalam populasi target.

 

Jika karakteristik sistem pengujian diketahui, laju reaksi palsu yang mungkin terjadi dapat dihitung sebelumnya. Harus ada prosedur yang efektif untuk menindaklanjuti positif untuk akhirnya menentukan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, apakah itu indikasi infeksi atau tidak. Ini harus melibatkan tes tambahan dan investigasi lanjutan untuk mengumpulkan bahan diagnostik dari unit pengambilan sampel asli serta kelompok unggas yang mungkin terkait secara epidemiologi dengannya.

 

Hasil surveilans aktif dan pasif penting untuk memberikan bukti yang dapat dipercaya bahwa tidak ada infeksi NDV di suatu negara, zona atau kompartemen.

 

2. Surveilans klinis


Surveilans klinis bertujuan untuk mendeteksi tanda-tanda klinis yang menunjukkan ND pada tingkat flok dan tidak boleh dianggap remeh sebagai indikasi awal infeksi. Pemantauan parameter produksi (misalnya penurunan pakan atau konsumsi air atau produksi telur) penting untuk deteksi dini infeksi NDV pada beberapa populasi, karena mungkin tidak ada, atau tanda klinis ringan, terutama jika mereka divaksinasi. Setiap unit pengambilan sampel di mana hewan yang mencurigakan terdeteksi harus dianggap terinfeksi sampai bukti yang bertentangan dihasilkan.

 

Identifikasi unggas yang terinfeksi sangat penting untuk mengidentifikasi sumber NDV. Diagnosis dugaan ND klinis pada populasi yang dicurigai terinfeksi harus selalu dikonfirmasi dengan pengujian virologi di laboratorium. Ini akan memungkinkan karakteristik molekuler, antigenik dan biologi lainnya dari virus untuk ditentukan. Isolat NDV diharapkan segera dikirim ke Laboratorium Referensi OIE untuk pengarsipan dan karakterisasi lebih lanjut jika diperlukan.

 

3. Surveilans virologi


Surveilans virologi dilakukan untuk:

a) memantau populasi berisiko;

b) mengkonfirmasi kasus klinis yang dicurigai;

c) menindaklanjuti hasil serologis positif pada populasi yang tidak divaksinasi atau burung sentinel;

d) menguji kematian harian 'normal' (jika dibenarkan oleh peningkatan risiko misalnya infeksi saat menghadapi vaksinasi atau di tempat-tempat yang secara epidemiologis terkait dengan wabah).

 

4. Surveilans serologis


Jika vaksinasi dilakukan, surveilans serologis memiliki nilai yang terbatas. Surveilans serologis tidak dapat digunakan untuk membedakan antara NDV dan APMV-1 lainnya. Hasil tes antibodi NDV positif dapat memiliki lima kemungkinan penyebab:

a) infeksi alami dengan APMV-1;

b) vaksinasi terhadap ND;

c) paparan virus vaksin;

d) antibodi maternal yang berasal dari induknya yang divaksinasi atau terinfeksi biasanya ditemukan di kuning telur dan dapat bertahan dalam keturunannya hingga empat minggu;

e) reaksi uji non-spesifik. Serum yang dikumpulkan dapat digunakan untuk keperluan survei lain untuk surveilans ND.

 

Namun, prinsip desain survei yang dijelaskan dalam rekomendasi ini dan persyaratan untuk survei yang valid secara statistik untuk keberadaan NDV tidak boleh dikompromikan.

 

Penemuan flok yang seropositif dan tidak divaksinasi harus diselidiki lebih lanjut dengan melakukan investigasi epidemiologi yang menyeluruh. Karena hasil seropositif tidak selalu menunjukkan infeksi, metode virologi harus digunakan untuk mengkonfirmasi keberadaan NDV pada populasi tersebut. Sampai strategi dan alat yang divalidasi untuk membedakan hewan yang divaksinasi dari hewan yang terinfeksi APMV-1 lapangan tersedia, perangkat serologis tidak boleh digunakan untuk mengidentifikasi infeksi NDV pada populasi yang divaksinasi.

 

5. Penggunaan Unggas Sentinel


Ada berbagai aplikasi penggunaan unggas sentinel sebagai alat surveilans untuk mendeteksi peredaran virus. Unggas sentinel ini dapat digunakan untuk memantau populasi atau spesies yang divaksinasi yang kurang rentan terhadap perkembangan penyakit klinis untuk peredaran virus. Unggas sentinel harus naif secara imunologis dan boleh digunakan dalam ternak yang divaksinasi. Dalam kasus penggunaan unggas sentinel, struktur dan organisasi sektor unggas, jenis vaksin yang digunakan dan faktor epidemiologi lokal akan menentukan jenis sistem produksi di mana sentinel harus ditempatkan, frekuensi penempatan dan pemantauan sentinel.

 

Unggas sentinel harus berhubungan dekat populasi sasaran tetapi harus diidentifikasi agar dapat dibedakan dengan jelas dari populasi sasaran. Unggas sentinel harus diamati secara teratur untuk bukti penyakit klinis dan setiap insiden penyakit yang diselidiki dengan pengujian laboratorium segera. Spesies yang akan digunakan sebagai penjaga harus terbukti sangat rentan terhadap infeksi dan idealnya mengembangkan tanda-tanda penyakit klinis yang jelas.

 

Jika unggas sentinel tidak selalu mengembangkan penyakit klinis yang nyata, program pengujian aktif secara teratur dengan uji virologi dan serologis harus digunakan (perkembangan penyakit klinis mungkin tergantung pada spesies sentinel yang digunakan atau penggunaan vaksin hidup pada populasi sasaran yang mungkin menginfeksi unggas sentinel). Cara pengujian dan interpretasi hasil akan tergantung pada jenis vaksin yang digunakan pada populasi sasaran. Burung penjaga harus digunakan hanya jika tidak ada prosedur laboratorium yang sesuai.

 

Persyaratan Surveilans Tambahan untuk Deklarasi Bebas ND

Persyaratan suatu negara, zona, atau kompartemen untuk dideklarasikan kebebasan dari ND diberikan dalam Pasal 10.9.3. Suatu Negara Anggota yang menyatakan kebebasan suatu negara, zona atau kompartemen (dengan atau tanpa vaksinasi) harus melaporkan hasil program surveilans di mana populasi unggas yang rentan ND menjalani surveilans rutin yang direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan metode umum yang dijelaskan rekomendasi di sini.

 

1. Negara Anggota yang menyatakan bebas dari Newcastle Disease untuk negara, zona atau kompartemen Selain kondisi umum yang dijelaskan dalam WOAH Terrestrial Code, Negara Anggota yang menyatakan bebas dari ND untuk seluruh negara, atau zona atau kompartemen harus memberikan bukti untuk adanya program surveilans yang efektif. Program surveilans harus direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi umum dan metode yang dijelaskan dalam WOAH Terrestrial Code untuk menunjukkan tidak adanya infeksi NDV pada unggas selama 12 bulan sebelumnya.

 

2. Persyaratan tambahan untuk negara, zona atau kompartemen yang mempraktikkan vaksinasi

Vaksinasi terhadap ND dapat digunakan sebagai komponen program pencegahan dan pengendalian penyakit. Pada populasi yang divaksinasi perlu dilakukan surveilans untuk memastikan tidak adanya sirkulasi NDV. Penggunaan unggas sentinel dapat memberikan keyakinan lebih lanjut tentang tidak adanya sirkulasi virus. Surveilans harus diulang setidaknya setiap enam bulan atau dengan interval yang lebih pendek sesuai dengan risiko di negara, zona atau kompartemen, atau bukti untuk menunjukkan efektivitas program vaksinasi diberikan secara teratur.

 

Persyaratan Surveilans Tambahan untuk Mendapatkan Kembali Bebas ND

Negara Anggota yang mendapatkan kembali kebebasan negara, zona atau kompartemen dari ND harus menunjukkan bukti program surveilans aktif tergantung pada keadaan epidemiologis wabah untuk menunjukkan tidak adanya infeksi.

 

Suatu Negara Anggota yang menyatakan kebebasan suatu negara, zona atau kompartemen setelah wabah ND (dengan atau tanpa vaksinasi) harus melaporkan hasil program surveilans di mana populasi unggas yang rentan ND menjalani surveilans rutin yang direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi umum dan metode yang dijelaskan dalam rekomendasi.

 

Referensi:

Newcastle Disease.  Chapter 10.9. WOAH Terrestrial Animal Code


#NewcastleDisease 

#SurveilansND 

#Biosekuriti 

#WOAHStandar 

#PenyakitUnggas

Waspada Newcastle Disease: Virus Mematikan Unggas yang Bisa Picu Wabah Kapan Saja!"



Waspada Newcastle Disease, Ancaman Mematikan Unggas Dunia!


Fakta-fakta Kunci


Penyakit ini ditemukan di Indonesia pada tahun 1926, tetapi dinamai Newcastle-on Tyne, Inggris, di mana terjadi pada tahun 1927. Disebut juga ranikhet, hama pseudofowl, dan avian pneumoencephalitis.

 

Karena ancaman terus-menerus masuknya virus dari burung liar, biosekuriti di peternakan unggas sangat penting.

 

Karena virus berkembang biak lebih cepat dalam sel kanker manusia daripada kebanyakan sel manusia normal, dan karena dapat membunuh sel inang ini, virus ND secara eksperimental digunakan sebagai pengobatan untuk kanker.

 

Pedoman OIE untuk surveilans dan pemberantasan penyakit telah digunakan untuk menghilangkan ND dari banyak negara.

 

Apa itu penyakit Newcastle?


Penyakit Newcastle (ND) adalah penyakit yang sangat menular dan seringkali parah yang ditemukan di seluruh dunia yang menyerang burung termasuk unggas peliharaan. Ini disebabkan oleh virus dalam keluarga paramyxovirus.

 

Penyakit ini muncul dalam tiga bentuk: lentogenic atau ringan, mesogenic atau sedang dan velogenic atau sangat virulen, juga disebut penyakit Newcastle eksotis. Strain lentogenik sangat tersebar luas, tetapi hanya menyebabkan sedikit wabah penyakit.

Biasanya muncul sebagai penyakit pernapasan, depresi, gejala saraf, atau diare dapat merupakan bentuk klinis yang dominan.

 

ND, dalam bentuknya yang sangat patogen, adalah penyakit yang terdaftar dalam OIE Terrestrial Animal Health Code dan harus dilaporkan ke OIE (OIE Terrestrial Animal Health Code).

 

Penularan dan penyebaran


ND paling sering ditularkan melalui kontak langsung dengan unggas yang sakit atau pembawa penyakit. Unggas yang terinfeksi dapat menularkan virus melalui kotorannya, mencemari lingkungan. Penularan kemudian dapat terjadi melalui kontak langsung dengan kotoran dan kotoran pernapasan atau oleh makanan, air, peralatan, dan pakaian manusia yang terkontaminasi. Virus penyakit ND dapat bertahan hidup selama beberapa minggu di lingkungan terutama pada cuaca yang sejuk.

 

Umumnya, virus dilepaskan selama masa inkubasi dan untuk waktu yang singkat selama pemulihan. Burung dalam keluarga merpati dapat menularkan virus sesekali selama satu tahun atau lebih. Burung liar lainnya seperti burung pantai cormorant juga telah terbukti menyebabkan wabah pada unggas peliharaan.


Virus ada di semua bagian bangkai unggas yang terinfeksi.  Penyakitnya sangat menular. Ketika virus masuk ke dalam kawanan yang rentan, hampir semua unggas akan tertular dalam dua hingga enam hari.

 

Risiko Kesehatan Masyarakat


Penyakit Newcastle merupakan zoonosis minor (penyakit hewan yang juga dapat menginfeksi manusia) dan dapat menyebabkan konjungtivitis pada manusia, namun kondisi tersebut umumnya sangat ringan dan dapat sembuh sendiri.

 

Tanda klinis


Tanda-tanda klinis sangat bervariasi dan bergantung pada faktor-faktor seperti: jenis virus, spesies burung yang terinfeksi, umur inang (burung muda yang paling rentan), infeksi bersamaan dengan organisme lain, tekanan lingkungan dan status kekebalan. Dalam beberapa keadaan, infeksi strain virus yang sangat ganas dapat mengakibatkan sejumlah besar unggas ditemukan mati dengan gejala klinis yang relatif sedikit. Penyakit ini timbul dengan cepat dengan gejala yang muncul antara dua dan dua belas hari setelah terpapar, dan menyebar dengan cepat melalui kawanan.

Beberapa strain virus menyerang sistem saraf, yang lain ke sistem pernapasan, atau pencernaan.

 

Tanda-tanda klinis meliputi:


• tanda-tanda pernapasan - terengah-engah, batuk, bersin, dan batuk;

• tanda-tanda saraf - tremor, sayap dan kaki lumpuh, leher bengkok, berputar-putar, kejang, dan kelumpuhan;

• tanda-tanda pencernaan, diare;

• penurunan produksi telur sebagian atau seluruhnya dapat terjadi. Telur mungkin tidak normal dalam warna, bentuk, atau permukaan, dan memiliki albumen encer;

• mortalitas bervariasi tetapi bisa mencapai 100%.

 

Diagnosis


ND dapat memberikan gambaran klinis yang sangat mirip dengan flu burung, sehingga pengujian laboratorium penting untuk memastikan diagnosisnya.

Metode diagnosis yang disukai adalah isolasi virus dan karakterisasi selanjutnya. Manual OIE untuk tes diagnostik dan vaksin untuk hewan darat berisi panduan prosedur laboratorium untuk mengisolasi virus. Beberapa metode dijelaskan, baik dengan pengujian molekuler maupun in vivo untuk menentukan apakah virus sangat patogen dan oleh karena itu dapat dilaporkan ke OIE.

 

Pencegahan dan pengendalian


Vaksinasi profilaksis dilakukan di semua unggas kecuali beberapa negara yang memproduksi unggas dalam skala komersial. Agar suatu negara dapat menunjukkan bahwa negaranya bebas dari ND, diperlukan pengawasan dengan mengikuti pedoman OIE Terrestrial Animal Health Code. Terakhir, produsen unggas harus menerapkan prosedur biosekuriti yang efektif untuk mencegah masuknya penyakit seperti yang dijelaskan dalam OIE Terrestrial Animal Health Code.

 

Ketika penyakit muncul di daerah yang sebelumnya bebas penyakit, kebijakan pemberantasan penyakit diterapkan di sebagian besar negara.  Kebijakan tersebut meliputi:

• isolasi ketat atau karantina wabah;

• pemusnahan yang manusiawi terhadap semua unggas yang tertular dan terpapar (OIE Terrestrial Animal Health Code);

• pembersihan dan desinfeksi tempat secara menyeluruh;

• pembuangan bangkai yang benar (OIE Terrestrial Animal Health Code);

• pengendalian hama pada ternak;

• depopulasi diikuti dengan 21 hari tanpa unggas sebelum restocking;

• menghindari kontak dengan unggas yang status kesehatannya tidak diketahui;

• kontrol akses ke peternakan unggas.

 

Distribusi geografis


ND ditemukan di seluruh dunia, penyakit ini telah dikendalikan di Kanada, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa Barat. Ini berlanjut di beberapa bagian Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Namun, karena burung liar terkadang dapat membawa virus tanpa menjadi sakit, wabah dapat terjadi di mana pun unggas dipelihara.


#NewcastleDisease 

#PenyakitUnggas 

#Biosekuriti 

#VirusUnggas 

#KesehatanHewan


Thursday, 2 July 2020

Waspada Newcastle Disease: Ancaman Senyap yang Mematikan pada Unggas


Newcastle Disease (ND) merupakan salah satu penyakit unggas paling merugikan di dunia. Penyakit ini tidak hanya menyebabkan kematian tinggi pada ayam, tetapi juga berdampak besar terhadap ekonomi peternakan dan ketahanan pangan. Dengan tingkat penularan yang cepat dan gejala yang beragam, ND menjadi ancaman serius yang memerlukan kewaspadaan dan pengendalian terpadu.

 

Apa Itu Newcastle Disease?

Newcastle Disease disebabkan oleh virus dari keluarga Paramyxoviridae, yaitu Newcastle Disease Virus (NDV) yang termasuk dalam kelompok Avian Paramyxovirus tipe-1 (APMV-1). Virus ini memiliki beberapa tingkat keganasan (patotipe), mulai dari yang ringan hingga sangat mematikan.

Secara umum, NDV dibagi menjadi lima patotipe:

  • Velogenik (sangat ganas, mematikan)
  • Neurogenik (menyerang sistem saraf)
  • Mesogenik (keganasan sedang)
  • Lentogenik (ringan, sering subklinis)
  • Asimptomatik (tanpa gejala)

Menariknya, batas antar kelompok ini tidak selalu jelas di lapangan, sehingga diagnosis memerlukan pendekatan laboratorium.

Virus ND cukup tahan di lingkungan, terutama dalam kotoran unggas. Namun, virus ini dapat diinaktivasi dengan pemanasan (misalnya 60°C selama 30 menit) serta desinfektan seperti formalin, klorin, dan oksidator kuat.

 

Siapa Saja yang Rentan?

ND tidak hanya menyerang ayam. Berbagai jenis burung dapat terinfeksi, baik domestik maupun liar. Ayam merupakan spesies paling rentan, sementara burung lain seperti kalkun, burung puyuh, burung beo, hingga burung liar dapat menjadi pembawa virus tanpa menunjukkan gejala.

Burung air dan burung liar bahkan berperan sebagai “reservoir alami” virus, yang dapat sewaktu-waktu menularkan ke unggas domestik. Dalam beberapa kasus, virus yang awalnya ringan dapat bermutasi menjadi lebih ganas setelah beredar di populasi unggas.

Meskipun jarang, manusia juga dapat terinfeksi. Namun gejalanya ringan, umumnya berupa konjungtivitis (radang mata).

 

Bagaimana Penyakit Ini Menyebar?

Penularan ND terjadi sangat mudah dan cepat. Virus menyebar melalui:

  • Kontak langsung dengan unggas terinfeksi
  • Udara (inhalasi)
  • Pakan, air, dan peralatan yang terkontaminasi
  • Kotoran unggas
  • Pakaian dan sepatu manusia (fomites)

Dalam beberapa kasus, penularan juga dapat terjadi melalui telur, meskipun relatif jarang pada strain yang sangat ganas.

Faktor biosekuriti yang lemah menjadi penyebab utama masuk dan menyebarnya penyakit ini di peternakan.

 

Gejala: Dari Ringan hingga Mematikan

Salah satu tantangan dalam mengendalikan ND adalah variasi gejalanya. Pada infeksi ringan (lentogenik), gejala mungkin hanya berupa gangguan pernapasan ringan seperti batuk dan bersin.

Namun pada infeksi yang lebih ganas (mesogenik hingga velogenik), gejala dapat berkembang menjadi:

  • Kelesuan dan penurunan nafsu makan
  • Diare kehijauan
  • Gangguan pernapasan (sesak napas)
  • Pembengkakan kepala dan leher
  • Gangguan saraf seperti kejang, kelumpuhan, dan tortikolis (leher terpuntir)

Produksi telur juga dapat turun drastis, dengan kualitas telur yang buruk (cangkang tipis dan bentuk abnormal).

Pada kasus berat, kematian dapat terjadi secara mendadak tanpa gejala yang jelas, dengan tingkat kematian mendekati 100% pada populasi yang tidak divaksin.

 

Mengapa Diagnosis Tidak Mudah?

Gejala ND sering kali mirip dengan penyakit unggas lainnya seperti flu burung (avian influenza), kolera unggas, atau bronkitis infeksius. Oleh karena itu, diagnosis tidak dapat hanya berdasarkan gejala klinis.

Pemeriksaan laboratorium menjadi kunci, melalui:

  • Isolasi virus pada telur ayam bebas patogen (SPF)
  • Uji hemaglutinasi (HA) dan hambatannya (HI)
  • Teknik molekuler seperti PCR
  • Uji serologi seperti ELISA

Pendekatan ini penting untuk memastikan diagnosis yang akurat dan menentukan tingkat keganasan virus.

 

Tidak Ada Obat, Pencegahan adalah Kunci

Hingga saat ini, tidak ada pengobatan spesifik untuk Newcastle Disease. Oleh karena itu, strategi utama adalah pencegahan melalui biosekuriti dan vaksinasi.

1. Biosekuriti yang Ketat

Langkah-langkah penting meliputi:

  • Menjaga kandang tertutup dari burung liar
  • Mengontrol lalu lintas manusia dan kendaraan
  • Membersihkan dan mendesinfeksi peralatan secara rutin
  • Mengelola limbah dan bangkai dengan benar
  • Menerapkan sistem “all-in all-out”

Saat terjadi wabah, tindakan drastis seperti karantina dan pemusnahan unggas terinfeksi sering kali diperlukan.

 

2. Vaksinasi sebagai Perlindungan Utama

Vaksinasi merupakan strategi paling efektif untuk mengurangi dampak ND. Terdapat beberapa jenis vaksin:

  • Vaksin hidup (lentogenik dan mesogenik):
    Mudah diberikan melalui air minum, semprot, atau tetes mata, tetapi dapat menimbulkan reaksi ringan.
  • Vaksin inaktif:
    Lebih aman dan stabil, tetapi memerlukan injeksi per individu dan biaya lebih tinggi.
  • Vaksin rekombinan:
    Teknologi terbaru yang menggunakan virus vektor untuk mengekspresikan protein NDV, memberikan perlindungan yang lebih spesifik.

Namun penting dipahami bahwa vaksinasi tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya, melainkan mengurangi keparahan penyakit dan kerugian ekonomi.

 

Ancaman Global yang Masih Nyata

Newcastle Disease masih bersifat endemik di banyak wilayah dunia, termasuk Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Mobilitas unggas, perdagangan, dan interaksi dengan burung liar membuat penyakit ini sulit diberantas sepenuhnya.

Dalam konteks modern, pengendalian ND memerlukan pendekatan terpadu berbasis One Health, yang melibatkan kolaborasi antara sektor peternakan, kesehatan hewan, lingkungan, dan masyarakat.

 

Penutup

Newcastle Disease adalah contoh nyata bagaimana penyakit hewan dapat berdampak luas, tidak hanya pada kesehatan ternak tetapi juga ekonomi dan ketahanan pangan. Dengan pemahaman yang baik tentang penyebab, penularan, dan pencegahannya, kita dapat mengurangi risiko dan melindungi industri perunggasan.

Kunci utama tetap pada biosekuriti yang disiplin dan vaksinasi yang tepat. Tanpa itu, ND akan terus menjadi “ancaman senyap” yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan kerugian besar.

 

REFERENSI


·Brown C. & Torres A., Eds. (2008). - USAHA Foreign Animal Diseases, Seventh Edition. Committee of Foreign and Emerging Diseases of the US Animal Health Association. Boca Publications Group, Inc.


·Coetzer J.A.W. & Tustin R.C. Eds. (2004). - Infectious Diseases of Livestock, 2nd Edition. Oxford University Press.


·Fauquet C., Fauquet M. & Mayo M.A. (2005). - Virus Taxonomy: VIII Report of the International Committee on Taxonomy of Viruses. Academic Press.


·Kahn C.M., Ed. (2005). - Merck Veterinary Manual. Merck & Co. Inc. and Merial Ltd.


·Spickler A.R. & Roth J.A. Iowa State University, College of Veterinary Medicine - http://www.cfsph.iastate.edu/DiseaseInfo/factsheets.htm


·World Organisation for Animal Health (2012). - Terrestrial Animal Health Code. OIE, Paris.


·World Organisation for Animal Health (2012). - Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals. OIE, Paris.


#NewcastleDisease 
#PenyakitUnggas 
#VaksinasiUnggas 
#Biosekuriti 
#KesehatanHewan