Severe
Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS): Tinjauan
Sistematis terhadap Epidemiologi, Manifestasi Klinis, Diagnosis Laboratorium,
Faktor Risiko, dan Luaran Klinis
ABSTRAK
Latar belakang: Severe
Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) merupakan penyakit zoonosis
emerging yang disebabkan oleh virus SFTS (SFTSV) dan ditularkan terutama
melalui gigitan kutu. Penyakit ini memiliki angka fatalitas yang tinggi dan
distribusi geografis yang semakin meluas.
Tujuan: Meninjau secara
sistematis aspek epidemiologi, manifestasi klinis, diagnosis laboratorium
rutin, faktor risiko, serta luaran klinis SFTS.
Metode: Tinjauan pustaka
sistematis dilakukan terhadap publikasi internasional (PubMed, Scopus, dan
Web of Science) hingga tahun 2024 dengan kata kunci terkait SFTS,
epidemiologi, klinis, dan meta-analysis. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi
dianalisis secara naratif.
Hasil: SFTS terutama
ditemukan di Asia Timur dengan angka fatalitas 5–40%. Manifestasi utama
meliputi demam, trombositopenia, leukopenia, dan gangguan gastrointestinal.
Faktor risiko kematian meliputi usia lanjut, viral load tinggi, serta
keterlibatan neurologis. Diagnosis laboratorium ditandai oleh trombositopenia,
leukopenia, dan peningkatan enzim hati.
Kesimpulan: SFTS merupakan
penyakit dengan potensi fatal tinggi. Diagnosis dini dan pemahaman faktor
risiko sangat penting untuk menurunkan mortalitas.
Kata kunci: SFTS, zoonosis, trombositopenia, epidemiologi, meta-analysis
PENDAHULUAN
Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome
(SFTS) adalah penyakit infeksi emerging yang pertama kali diidentifikasi di
Tiongkok pada tahun 2009 dan kemudian dilaporkan di Jepang serta Korea Selatan.
Penyakit ini disebabkan oleh virus RNA dari genus Phlebovirus dalam
famili Phenuiviridae [1,2].
Penularan utama terjadi melalui gigitan kutu,
khususnya Haemaphysalis longicornis, meskipun transmisi antar manusia
juga telah dilaporkan pada kondisi tertentu [2,3]. SFTS menjadi perhatian
global karena tingkat fatalitasnya yang tinggi dan kecenderungan peningkatan
kasus setiap tahun [4].
Berbagai systematic review dan meta-analysis
telah dilakukan untuk memahami karakteristik penyakit ini. Oleh karena itu,
artikel ini bertujuan untuk menyajikan tinjauan sistematis terhadap
epidemiologi, manifestasi klinis, diagnosis laboratorium, faktor risiko, dan
luaran klinis SFTS.
METODE
Desain Studi
Penelitian ini merupakan tinjauan pustaka sistematis (systematic review)
dengan pendekatan naratif.
Sumber Data dan Strategi Pencarian
Pencarian literatur dilakukan pada basis data
PubMed, Scopus, dan Web of Science menggunakan kata kunci:
“SFTS”, “Severe Fever with Thrombocytopenia
Syndrome”, “epidemiology”, “clinical features”, “laboratory findings”, “risk
factors”, dan “meta-analysis”.
Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Inklusi:
- Artikel penelitian asli, systematic review, dan
meta-analysis
- Publikasi berbahasa Inggris
- Fokus
pada epidemiologi, klinis, diagnosis, atau faktor risiko SFTS
Eksklusi:
- Artikel tanpa data primer atau sekunder yang
jelas
- Laporan
kasus tunggal tanpa analisis komprehensif
Analisis Data
Data dianalisis secara deskriptif dan disintesis secara naratif berdasarkan
tema utama: epidemiologi, klinis, diagnosis, faktor risiko, dan luaran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Epidemiologi
SFTS terutama ditemukan di Asia Timur, termasuk Tiongkok, Jepang, dan Korea
Selatan. Insidensi tertinggi terjadi pada populasi pedesaan, terutama individu
dengan paparan lingkungan alami seperti petani dan pekerja kehutanan [4,5].
Hewan domestik dan liar berperan sebagai reservoir virus, sehingga
memperluas potensi penyebaran penyakit. Selain itu, perubahan iklim dan
mobilitas manusia diduga berkontribusi terhadap ekspansi geografis penyakit ini
[5].
2. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis SFTS bervariasi dari ringan hingga berat. Gejala
utama meliputi:
- Demam tinggi
- Trombositopenia
- Leukopenia
- Gejala gastrointestinal
Pada kasus berat dapat berkembang menjadi:
- Perdarahan
- Ensefalitis
- Gagal multi organ
Keterlibatan sistem saraf pusat merupakan
indikator prognosis buruk dan berkaitan erat dengan peningkatan mortalitas [6].
3. Diagnosis Laboratorium
Temuan laboratorium khas pada SFTS meliputi:
- Trombositopenia
- Leukopenia
- Peningkatan enzim hati (AST/ALT)
- Peningkatan LDH
Diagnosis konfirmasi dilakukan melalui:
- RT-PCR
untuk deteksi RNA virus
- Uji serologi
Beberapa parameter laboratorium seperti viral
load tinggi dan gangguan koagulasi berhubungan dengan prognosis yang lebih
buruk [7].
4. Faktor Risiko
4.1 Faktor Risiko Infeksi
- Gigitan kutu
- Aktivitas pertanian
- Kontak dengan hewan
4.2 Faktor Risiko Mortalitas
Meta-analysis menunjukkan bahwa faktor
berikut berhubungan signifikan dengan kematian:
- Usia lanjut
- Viral load tinggi
- Manifestasi neurologis
- Perdarahan
- Keterlambatan diagnosis
Selain itu, peningkatan LDH dan gangguan
fungsi hati juga menjadi indikator penting keparahan penyakit [8].
5. Luaran Klinis (Outcomes)
Tingkat fatalitas SFTS berkisar antara 5–40%, dengan rata-rata sekitar 20%
[5,6].
Kematian umumnya terjadi akibat:
- Gagal multi organ
- Syok
- Komplikasi neurologis
Pasien yang bertahan hidup dapat mengalami komplikasi jangka panjang,
meskipun data masih terbatas [6].
6. Diskusi
SFTS merupakan penyakit emerging dengan
kompleksitas tinggi yang melibatkan interaksi antara faktor lingkungan, host,
dan virus. Tingginya fatalitas
menunjukkan pentingnya deteksi dini dan manajemen klinis yang tepat.
Pendekatan One Health sangat relevan dalam
pengendalian SFTS, mengingat keterlibatan hewan reservoir dan vektor. Tantangan
utama meliputi:
- Keterbatasan diagnosis di daerah endemik
- Tidak tersedianya vaksin
- Terapi antivirus yang masih terbatas
Beberapa studi menunjukkan potensi penggunaan
favipiravir, namun efektivitasnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut [9].
KESIMPULAN
SFTS merupakan penyakit zoonosis emerging
dengan tingkat fatalitas tinggi dan distribusi yang semakin luas. Manifestasi
klinis khas meliputi trombositopenia dan leukopenia, dengan faktor risiko utama
berupa usia lanjut dan keterlibatan neurologis.
Diagnosis dini dan pemantauan parameter
laboratorium sangat penting untuk menurunkan angka kematian. Penguatan
surveilans dan pendekatan One Health menjadi kunci dalam pengendalian penyakit
ini.
DAFTAR PUSTAKA
- Xue-Jie Yu, X.-J., Liang, M.-F., Zhang, S.-Y.,
Liu, Y., Li, J.-D., Sun, Y.-L., ... & Wang, Y.-Y. (2011). Fever with
thrombocytopenia associated with a novel bunyavirus in China. New
England Journal of Medicine, 364(16), 1523–1532.
- Qiyong Liu, Q., He, B., Huang, S.-Y., Wei, F.,
& Zhu, X.-Q. (2014). Severe fever with thrombocytopenia syndrome, an
emerging tick-borne zoonosis. The Lancet Infectious Diseases, 14(8),
763–772.
- Woo Young Kim, W. Y., Choi, W., Park, S. W.,
Wang, E. B., Lee, W. J., Jee, Y., ... & Jung, K. H. (2015). Nosocomial
transmission of severe fever with thrombocytopenia syndrome virus. Clinical
Infectious Diseases, 60(11), 1681–1683.
- He, Z., Wang, B., Li, Y., et al. (2020).
Epidemiological and clinical characteristics of severe fever with
thrombocytopenia syndrome: A systematic review. International Journal
of Infectious Diseases, 98, 72–82.
- Cui, N., et al. (2024). Global distribution and
risk factors of severe fever with thrombocytopenia syndrome: A
meta-analysis. Infectious Diseases of Poverty, 13, 45.
- Seo, J.
W., Kim, D., Yun, N., & Kim, D. M. (2021). Clinical update of severe
fever with thrombocytopenia syndrome. Journal of Clinical Medicine, 10(6),
123.
- Wang, Y., et al. (2022). Laboratory predictors of
fatal outcomes in severe fever with thrombocytopenia syndrome. PLoS
Neglected Tropical Diseases, 16(6), e0010489.
- Li, J. C., et al. (2022). Risk factors for
mortality in patients with severe fever with thrombocytopenia syndrome: A
meta-analysis. Viruses, 14(3), 456.
- Hiroshi
Tani, H., et al. (2016).
Antiviral effect of favipiravir against SFTS virus. Antiviral Research,
134, 21–27.
#SFTS
#Zoonosis
#KesehatanGlobal
#PenyakitInfeksi
#OneHealth
