Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, 22 January 2026

Penyakit Kuru: Misteri Mematikan dari Papua yang Menggemparkan Dunia Medis dan Antropologi!

 


Penyakit Kuru: Perspektif Epidemiologi, Biomedis, dan Sosio-Kultural

 

1. Pendahuluan

 

Penyakit kuru merupakan salah satu penyakit prion yang paling terkenal dalam sejarah kedokteran dan antropologi medis. Penyakit ini pernah menjadi endemik di kalangan suku Fore di Papua Nugini pada pertengahan abad ke-20 dan menjadi perhatian dunia internasional karena mekanisme penularannya yang unik, yakni melalui kanibalisme ritual dalam upacara pemakaman. Penelitian tentang kuru memberikan kontribusi besar dalam memahami prion sebagai agen infeksi non-konvensional yang tidak memiliki DNA atau RNA, tetapi mampu menyebabkan kerusakan saraf progresif yang fatal (Gajdusek, 1977; Collinge, 2008).

 

Kuru kemudian menjadi model penting dalam memahami penyakit prion lain seperti Creutzfeldt–Jakob Disease (CJD), Variant CJD (vCJD), Gerstmann–Sträussler–Scheinker syndrome (GSS), dan Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE). Oleh karena itu, kajian terhadap kuru tidak hanya bersifat historis, tetapi juga relevan dalam konteks kesehatan masyarakat modern dan One Health.

 

2. Sejarah Epidemiologi Kuru

 

2.1 Awal Kejadian dan Penyebaran

Kejadian kuru pertama kali terdokumentasi pada awal abad ke-20, tetapi mencapai puncaknya pada 1940–1950-an. Dalam kurun waktu tersebut, penyakit ini menyebabkan tingkat kematian yang luar biasa tinggi, terutama di desa-desa suku Fore. Beberapa laporan lapangan menyebutkan bahwa dalam satu generasi, hampir seluruh perempuan dewasa di beberapa komunitas meninggal akibat kuru (Zigas & Gajdusek, 1959).

 

2.2 Penurunan Kasus

Penurunan kasus terjadi setelah otoritas Australia secara resmi melarang praktik kanibalisme pada akhir 1950-an. Karena prion ditularkan melalui konsumsi jaringan saraf manusia, penghentian ritual tersebut menghentikan jalur transmisi secara efektif. Namun, kasus kuru tetap dilaporkan hingga tahun 1990-an karena prion memiliki masa inkubasi sangat panjang (hingga 50 tahun atau lebih) (Collinge, 2008).

 

3. Etiologi dan Patogenesis

 

3.1 Prion sebagai Agen Penyakit

Kuru disebabkan oleh prion, yaitu protein prion abnormal PrPSc yang mengalami misfolding dan memicu perubahan pada protein prion normal PrpC. Prion menumpuk dalam sistem saraf pusat dan menimbulkan degenerasi pada jaringan otak dengan karakteristik spongiform encephalopathy (Prusiner, 1998).


Keunikan prion antara lain:

  • tidak memiliki materi genetik,
  • resisten terhadap panas, radiasi, dan disinfektan,
  • replikasi melalui konversi protein, bukan mekanisme biologis klasik.

 

3.2 Jalur Penularan

Penularan kuru erat kaitannya dengan kanibalisme ritual, khususnya konsumsi otak kerabat yang meninggal. Perempuan dan anak-anak lebih sering terinfeksi karena merekalah yang mempersiapkan dan mengonsumsi jaringan otak dalam ritual pemakaman (Alodokter, 2023). Prion kemudian masuk melalui mukosa oral, limfoid, dan akhirnya bermigrasi ke sistem saraf pusat.

 

4. Gambaran Klinis

 

4.1 Tahap Awal

  • gangguan koordinasi,
  • ataksia berjalan,
  • tremor ringan,
  • nyeri kepala dan sendi.

 

4.2 Tahap Ataksia

  • tidak mampu berjalan,
  • tremor hebat dan gerakan koreiform,
  • perubahan emosional seperti euforia atau depresi,
  • gangguan bicara (disartria).

 

4.3 Tahap Terminal

  • imobilisasi total,
  • disfagia dan kehilangan kemampuan bicara,
  • demensia,
  • malnutrisi,
  • kematian dalam 6–12 bulan setelah onset.

 

Kata “kuru” dalam bahasa Fore berarti menggigil karena takut, mencerminkan gejala tremor dan kejang otot yang menonjol.

 

5. Implikasi Ilmiah dan Kontribusi terhadap Ilmu Pengetahuan

 

Penelitian kuru, terutama oleh D. Carleton Gajdusek, yang kemudian meraih Hadiah Nobel 1976, membuktikan bahwa agen infeksi dapat berupa protein abnormal, bukan hanya virus atau bakteri. Temuan ini menjadi fondasi bagi konsep “protein misfolding diseases” yang kini diketahui berperan pada Alzheimer, Parkinson, dan Huntington’s disease.

Penelitian kuru juga membuka wawasan baru dalam:

  • epidemiologi berbasis perilaku budaya,
  • hubungan antropologi dan penyakit menular,
  • dinamika penularan penyakit dengan masa inkubasi panjang.

 

6. Pencegahan

 

6.1 Penghapusan Praktik Kanibalisme

Ini merupakan langkah paling efektif dan menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis budaya dapat menghentikan epidemi pada tingkat populasi.

 

6.2 Pengawasan Produk Hewani

Pencegahan penularan penyakit prion pada hewan dan manusia dilakukan melalui:

  • pelarangan pakan ternak berbasis jaringan ruminansia,
  • pengawasan ketat rumah potong hewan,
  • kontrol ketat produk hewani impor.

 

6.3 Peningkatan Biosekuriti Laboratorium

Laboratorium yang menangani jaringan otak harus mengikuti protokol inaktivasi prion, termasuk sterilisasi suhu tinggi dan denaturasi kimia khusus.

 

6.4 Edukasi Budaya dan Kesehatan

Edukasi dilakukan dengan pendekatan antropologis untuk menghormati nilai budaya lokal tanpa mengabaikan keselamatan kesehatan masyarakat.

 

7. Pengobatan

 

Hingga saat ini tidak ada terapi yang dapat menghentikan atau membalikkan efek prion. Seluruh penyakit prion bersifat progresif dan fatal. Penanganan hanya bersifat suportif, meliputi:

  • perawatan nutrisi,
  • bantuan mobilisasi,
  • pencegahan infeksi sekunder,
  • terapi paliatif,
  • pendampingan psikososial keluarga.

 

Keterbatasan terapi disebabkan oleh:

1.     prion sangat resisten,

2.     protein abnormal sulit ditargetkan oleh obat,

3.     kerusakan otak yang terjadi bersifat permanen,

4.     hambatan penetrasi obat ke sistem saraf pusat.

 

8. Relevansi dan Rekomendasi bagi Indonesia

 

Fenomena penyakit kuru memberikan pelajaran penting bagi kebijakan kesehatan nasional dan One Health.

 

8.1 Memperkuat Surveilans Penyakit Prion

Indonesia perlu membangun sistem pelaporan untuk:

  • CJD,
  • penyakit prion hewan seperti BSE,
  • gangguan neurologis progresif yang tidak dikenal.

 

8.2 Penguatan Kebijakan Keamanan Pangan Hewan

Pemerintah perlu memastikan:

  • tidak ada pakan ternak berbahan limbah tulang/otak ruminansia,
  • pemantauan ketat impor hewan dan produknya,
  • peningkatan kapasitas uji laboratorium veteriner.

 

8.3 Pengembangan Riset Nasional tentang Prion

Perlu mendorong:

  • penelitian molekuler prion,
  • studi etnoantropologi terkait kebiasaan berisiko,
  • integrasi prion dalam kurikulum kedokteran, kedokteran hewan, dan kesehatan masyarakat.

 

8.4 Memperkuat Pendekatan One Health

Koordinasi lintas sektor antara Kemenkes, Kementan, KLHK, BRIN, dan pemerintah daerah sangat diperlukan karena penyakit prion berada pada persimpangan manusia-hewan-lingkungan.

 

9. Kesimpulan

 

Kuru merupakan contoh klasik hubungan kompleks antara budaya, biologi, dan kesehatan masyarakat. Penyakit ini menegaskan bahwa perilaku budaya dapat memiliki dampak epidemiologis besar dan bahwa agen infeksi non-konvensional seperti prion mampu menyebabkan epidemi mematikan. Pembelajaran dari kuru harus menjadi bahan refleksi bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk memperkuat sistem kesehatan, keamanan pangan, dan edukasi budaya melalui pendekatan ilmiah dan One Health.

 

Daftar Pustaka

 

1.     Alodokter. (2023). Penyakit Kuru, Penyakit Akibat Makan Otak Manusia.

2.     Alodokter. (2023). Penyakit Kuru, Karena Memakan Otak Manusia.

3.     Collinge, J. (2008). Cultural factors that affected the spatial and temporal epidemiology of kuru.

4.     Prusiner, S. B. (1998). Prions. Proceedings of the National Academy of Sciences.

5.     StatPearls. (2023). Kuru - StatPearls - NCBI Bookshelf.

6.     Wikipedia. (2023). Kuru (penyakit).

7.     Zigas, V., & Gajdusek, D. C. (1959). Kuru in the Eastern Highlands of New Guinea.

 

#kuru 

#penyakitprion 

#PapuaNugini 

#antropologimedis #OneHealth

No comments: