Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, 25 January 2026

8 Rahasia Menjaga Keikhlasan Beramal yang Jarang Diketahui Umat Islam!

 


8 Tips Menjaga Keikhlasan dalam Beramal

 

Keikhlasan adalah salah satu syarat utama diterimanya amal seorang hamba. Tanpa keikhlasan, ibadah yang dilakukan dengan susah payah dapat hilang nilainya di sisi Allah. Karena itu, menjaga hati agar tetap ikhlas merupakan perjuangan sepanjang hidup seorang mukmin.

 

Allah mencontohkan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam bagaimana orang yang ikhlas akan dijaga dari keburukan. Dalam QS. Yusuf ayat 24 Allah menjelaskan bahwa Yusuf termasuk hamba yang ikhlas sehingga Allah melindunginya dari perbuatan buruk. Dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan bahwa siapa pun yang memanjangkan umur dalam ketaatan sambil terus mengharap keridaan Allah, maka derajat dan kemuliaannya akan terus ditingkatkan.

 

Keikhlasan juga membuat jiwa tenang. Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan bahwa siapa yang memahami hakikat manusia–bahwa mereka tidak dapat memberi manfaat atau mudarat tanpa izin Allah–maka ia tidak akan sibuk mencari perhatian dan pujian manusia.

 

Namun, mengikhlaskan amal bukan perkara mudah. Sejak dahulu, hingga kiamat nanti, manusia selalu digoda oleh Iblis untuk merusak niat. Karena itu, seorang mukmin perlu usaha sungguh-sungguh untuk menjaga hatinya. Syekh Abdul Muhsin Al-Qasim memberikan delapan cara untuk menjaga keikhlasan.

 

1. Memperbanyak doa

Keikhlasan adalah hidayah, dan hidayah berada sepenuhnya di tangan Allah. Hati manusia berada di antara dua jari Allah, sehingga Allah bisa membolak-balikkan hati dalam sekejap. Karena itu, mintalah pada Allah agar setiap amal kita bernilai ikhlas. Umar bin Khattab sering berdoa agar amalnya menjadi baik, bersih, dan tidak tercampur oleh kepentingan siapa pun selain Allah.

 

2. Menyembunyikan amal

Semakin tersembunyi sebuah amalan, semakin besar kemungkinan ia diterima Allah. Nabi menyebutkan salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah adalah orang yang bersedekah secara diam-diam hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Para ulama juga menasihati agar amal baik disembunyikan sebagaimana kita menyembunyikan kesalahan.

 

Karena itu, banyak ibadah sunah dianjurkan dilakukan secara sembunyi, seperti salat malam atau istigfar di waktu sahur. Ibadah-ibadah ini lebih mudah dilakukan jauh dari pandangan manusia, sehingga lebih dekat kepada keikhlasan.

 

3. Mencontoh orang yang lebih mulia

Saat beramal, jangan menggunakan manusia di sekitar kita sebagai ukuran, apalagi jika kualitas ibadah mereka lebih rendah. Allah memerintahkan agar kita menjadikan para nabi sebagai teladan. Membaca sirah dan kisah para salihin dapat menguatkan iman dan memperbaiki niat, karena kita terdorong mengikuti keteladanan mereka.

 

4. Merasa kecil atas amal yang dilakukan

Perasaan bangga dan kagum pada diri sendiri dapat menghapus keikhlasan dan bahkan menggugurkan pahala. Said bin Jubair menjelaskan bahwa seseorang bisa masuk surga karena kemaksiatan yang membuat ia takut kepada Allah, sementara ada pula yang masuk neraka karena amal baik yang ia banggakan. Artinya, yang terpenting bukan besar atau kecilnya amal, melainkan hati yang rendah dan takut tidak diterima oleh Allah.

 

5. Takut amal tidak diterima

Aisyah pernah bertanya tentang orang-orang yang disebut dalam QS. Al-Mukminun ayat 60, yaitu mereka yang beramal namun hatinya penuh rasa takut. Nabi menjelaskan bahwa mereka bukan para pelaku maksiat, tetapi orang yang shalat, berpuasa, dan bersedekah namun takut amalnya tidak diterima. Inilah sifat seorang hamba yang ikhlas: ia tidak pernah merasa puas, dan selalu khawatir amalnya tidak cukup untuk kembali menghadap Allah Swt.

 

6. Tidak terpengaruh ucapan manusia

Ibnu Al-Jauzi menekankan bahwa sangat sedikit orang yang benar-benar beramal ikhlas karena banyak yang senang menampilkan ibadah mereka. Ia mengingatkan bahwa meninggalkan penilaian manusia, tidak mencari gengsi, dan tidak peduli pada pujian atau komentar orang lain adalah ciri orang yang memiliki derajat tinggi. Ucapan manusia tidak akan menambah atau mengurangi nilai amal di sisi Allah.

 

7. Yakin bahwa manusia tidak menentukan surga dan neraka

Tidak seorang pun manusia yang mampu menjamin dirinya masuk surga, apalagi menjamin orang lain. Tidak ada manusia yang mampu mengeluarkan seseorang dari neraka. Karena itu, mengapa harus mengejar penilaian manusia dalam beramal? Ibnu Rajab berkata bahwa apabila seseorang beribadah untuk keuntungan dunia, maka amalnya tidak membawa manfaat bahkan menjadi dosa.

 

8. Mengingat bahwa kita akan sendirian di kubur

Saat berada di alam kubur, kita sendirian tanpa teman, keluarga, atau sanjungan manusia. Yang menemani hanyalah amal baik yang ikhlas. Ibnu Al-Qayyim menyatakan bahwa orang yang siap bertemu Allah akan melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia dan fokus pada apa yang benar-benar menyelamatkannya.

 

Keikhlasan adalah perjuangan mulai dari sebelum beramal, saat beramal, hingga setelahnya. Namun siapa yang bersungguh-sungguh, Allah akan memudahkan jalannya. Semoga Allah menjaga hati kita agar selalu ikhlas.

 

Wallahu a’lam.

 

#keikhlasan 

#amalsholeh 

#nawaitulillah 

#ibadahikhlas 

#islamicguidance

No comments: